You are on page 1of 2

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013

BIDANG PERTANAHAN

Tanah merupakan salah satu unsur vital yang selalu melekat dalam kehidupan
sehari-hari umat manusia. Dengan demikian, tanah harus dimanfaatkan sebesar-
besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana telah diamanatkan
UUD 1945 terutama Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa “bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Pengaturan pertanahan Indonesia tertuang dalam Undang-undang Nomor 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (atau dikenal dengan UUPA)
yang memberikan wewenang hak menguasai kepada negara untuk mengatur dan
menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air
dan ruang angkasa; menentukan dan mengatur hubungan hukum antara manusia
dengan bumi, air dan ruang angkasa; dan menentukan dan mengatur hubungan hukum
antara orang dan perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa. Hak
menguasai negara tersebut ditujukan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran
dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut di atas, pada periode 5 (lima) tahun ke
depan pemerintah telah menjabarkan kebijakan, strategi, program dan kegiatan
pengelolaan pertanahan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2010-2014. Tahun 2013 merupakan tahun ketiga pelaksanaan RPJMN 2010-
2014.
Arah kebijakan prioritas Bidang Reforma Agraria sebagaimana tertuang dalam Rencana
Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2013 adalah meningkatkan efektivitas pengelolaan
pertanahan melalui strategi (i) peningkatan penyediaan peta pertanahan; (ii)
percepatan legalisasi aset tanah dan (iii) penertiban tanah terindikasi terlantar.
Diharapkan ketiga strategi ini dapat mningkatkan jaminan kepastian hukum hak atas
tanah masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Beberapa capaian bidang pertanahan sampai dengan tahun 2013 antara lain:
 Jumlah peta dasar pertanahan mencapai 25,43 juta hektar (13,31%) dari total luas
wilayah nasional sekitar 191,09 juta hektar.
 Jumlah bidang tanah yang telah bersertifikat mencapai 40-45 juta bidang (50%) dari
total bidang tanah nasional sekitar 86 juta bidang. Dari jumlah tersebut sekitar 32
juta bidang diantaranya (37,21%) telah terkomputerisasi di BPN pusat.
 Total kasus pertanahan pada tahun 2013 mencapai 4.652 kasus dan sebanyak 2.771
kasus telah selesai sedangkan sisanya 1.927 kasus belum terselesaikan.

Melanjutkan upaya yang telah dilakukan pada tahun 2013, direncanakan pada tahun
2014 akan dilaksanakan kegiatan:
1. Peningkatan penyediaan peta pertanahan mencakup luasan 2,8 juta hektar.
2. Percepatan legalisasi aset tanah, yang ditargetkan sebanyak 865.316 bidang
sehingga diharapkan 52,82 persen dari total bidang tanah di Indonesia telah
disertipikatkan di akhir tahun 2014.
3. Penertiban tanah terindikasi terlantar, yang ditargetkan pelaksanaan inventarisasi
dan identifikasi tanah terindikasi terlantar mencapai luasan 466 SP atau 233.000
hektar.
4. Penataan pemilikan, penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T)
ditargetkan sebesar 182.300 bidang dan untuk kegiatan redistribusi tanah
ditargetkan sebesar 154.075 bidang.

Disiapkan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas