SISTEM TERNER / SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN

Citra Chairunnisa Aziz
1112016200023


Kelompok : Nina Afria, Amelia Rakhmawati
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2014


ABSTRAK
Fasa adalah bagian sistem dengan komposisi
kimia dan sifat – sifat fisik seragam, yang
terpisah dari bagian sistem lain oleh suatu
bidang batas. Jumlah fasa dalam sistem zat cair
tiga kompoen tergantung pada daya saling larut
antar zat cair tersebut. Untuk campuran yang
terdiri atas tiga komponen, komposisi
(perbandingan masing-masing komponen)
dapat digambarkan di dalam suatu diagram
segitiga sama sisi yangdisebut dengan Diagram
Terner. Pada salah satu sisinya ditentukan
kedua titik yang menggambarkan jumlah kadar
zat dari masing-masing zat yang menduduki
sudut pada kedua ujung sisi itu. Dari dua titik ini
ditarik garis yang sejajar dengan sisi yang
dihadapinya, titik dimana kedua garis itu
menyilang, menggambarkan jumlah kadar
masing-masing.
PENDAHULUAN
Berdasarkan hukum fasa Gibbs, jumlah terkecil
variabel bebas yang diperlukan untuk
menyatakan keadaan suatu sistem dengan
tepat pada kesetimbangan dilengkapkan
sebagai :
V = C – P + 2
dimana,
V = jumlah derajat kebebasan
C = jumlah komponen
P = jumlah fasa.
(Atastina, 2003)

Dalam ungkapan di atas, kesetimbangan
mempengaruhi suhu, tekanan, dan komposisi
sistem.
Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga
komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat
dinyatakan sebagai :
V = 3 – P
Jika dalam sistem hanya terdapat satu
fasa, maka V = 2. Berarti, untuk menyatakan
keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan
konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan
bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam
kesetimbangan V = 1; berarti hanya satu
komponen yang harus ditentukan
konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang
lain sudah tentu berdasarkan diagram fasa
untuk sistem tersebut. Oleh karena itu, sistem
tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap
mempunyai jumlah derajat kebebasan
maksimum = 2 (jumlah fasa minimum = 1),
maka diagram fasa ini dapat digambarkan
dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga
sama sisi yang disebut diagram terner. Tiap
sudut segitiga tersebut menggambarkan suatu
komponen murni. Prinsip penggambaran
komposisi dalam diagram terner dapat dilihat
pada gambar di bawah ini :




Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner
(C = 3) sesuai dengan X
A
+ X
B
+ Xc = 1.
Titik pada sisi
AB : campuran biner A dan B
BC : campuran biner B dan C
AC : campuran biner A dan C
(FKIP Unlam, 2008)
Analisis diagram ini menjelaskan perubahan
komposisi yang terjadi pada
pembekuan/pencairan larutan padat terner (R.
E. Smallman, 2000)

Kesetimbangan fasa antara cairan dan uap
terjadi ketika kedua proses yang berlawanan itu
berlangsung dengan laju yang tepat sama (Hugh
D, 2002). Asam asetat , asam etanoat atau asam
cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa aroma dalam
makanan. Asam cuka memilih rumus empiris
C
2
H
4
O
2
. Rumus ini seringkali ditulis dalam
bentuk CH
3
-COOH,CH
3
COOH atau CH
3
CO
2
H.
Asam asetat merupakan salah satu asam
karboksilat paling sederhana, setelah asam
formal. Asam asetat lebih suka pada air
dibandingkan kepada kloroform oleh karenanya
bertambahnya kelarutan kloroform dalam air
lebih cepat dibandingkan kelarutan air dalam
kloroform. Penambahan asam asetat berlebih
lebih lanjut akan membawa sistem bergerak
kedaerah satu fase (fase tunggal)
(Endang,2008).

X
B

X
A
X
C

C
A
B
METODE PENELITIAN
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan
ini adalah labu Erlenmeyer sebanyak 3 buah,
gelas ukur, pipet tetes, corong, statif dan klem.
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini
adalah air, kloroform (CHCl
3
) dan asam atetat
glacial (CH
3
COOH)
Prosedur Kerja
Labu Erlenmeyer diisi dengan kloroform (CHCl
3
)
3 ml kemudian ditambahkan air sebanyak 5 ml.
Larutan di dalam labu Erlenmeyer kemudian
dititrasi menggunakan larutan asam atetat
glacial (CH
3
COOH). Volume yang dihasilkan
pada proses titrasi kemudian dicatat. Langkah
tersebut kemudian diulangi sebanyak 3 kali
dengan menggunakan labu Erlenmeyer yang
berisi air dan kloroform (CHCl
3
) 4 ml dan 5 ml.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Prinsip dasar dari percobaan ini adalah
pemisahan suatu campuran dengan ekstraksi
yang terdiri dari dua komponen cair yang saling
larut dengan sempurna. Pemisahan dapat
dilakukan dengan menggunakan pelarut yang
tidak larut dengan sempurna terhadap
campuran, tetapi dapat melarutkan salah satu
komponen (solute) dalam campuran tersebut.
Cairan yang digunakan dalam percobaan ini
adalah air (aquadest), kloroform (CHCl
3
), dan
asam asetat. Metode titrasi ini digunakan CHCl
3

dan asam asetat yang saling melarut yang
kemudian dititrasi dengan zat yang tidak larut
dengan campuran tersebut yaitu air
(Endang,2008). Jumlah fasa dalam zat cair tiga
komponen tergantung pada daya saling larut
antar zat cair tersebut dan suhu percobaan
(Atastina, 2003).

Setiap fasa adalah stabil hanya pada rentang
suhu dan tekanan tertentu. Perubahan dari satu
fasa ke fasa lain umumnya berlangsung pada
kondisi kesetimbangna fasa (phase equilibrium)
antara dua fasa, dan untuk tekanan tertentu ini
terjadi pada hanya satu suhu tertentu (Hugh D,
2002).

Perlakuan Pengamatan
Labu Erlenmeyer diisi dengan kloroform (CHCl
3
)
sebanyak masing-masing 3 ml, 4 ml dan 6 ml

Larutan terbentuk 2 fasa
Larutan kemudian dititrasi menggunakan larutan
asam atetat glacial (CH
3
COOH)

Larutan terbentuk menjadi 1 fasa


Pada percobaan ini dilakukan perbandingan
volume yang berbeda-beda pada tiap
Erlenmeyer. Hal ini bertujuan untuk mengamati
besarnya pengaruh kloroform terhadap
banyaknya volume asam asetat glasial
(CH
3
COOH) yang dibutuhkan sehingga
terbentuk dua fasa. Pembentukan 2 fasa ini
disebabkan adanya perbedaan kepolaran yakni
kloroform bersifat nonpolar sedangkan air
bersifat polar.
Ketika titrasi dilakukan, terjadi pemisahan
diantara campuran kloroform (CHCl
3
) dengan
asam asetat glasial (CH
3
COOH), hal ini
dikarenakan asam asetat glasial (CH
3
COOH)
membentuk ikatan hidrogen yang lebih kuat
dengan molekul air pada bagian –OH dari gugus
–COOH asam asetatnya. Oleh karena itu, asam
asetat glasial (CH
3
COOH) yang awalnya
berikatan dengan kloroform (CHCl
3
) akan
terpisahkan dan berikatan dengan air. Hal ini
disebabkan karena sifat kloroform (CHCl
3
) yang
tidak melarut dengan air sehingga kloroform
(CHCl
3
) yang mulanya berikatan dengan
CH
3
COOH akan terlepas dan terpisah
membentuk 2 larutan terner terkonjugasi yang
ditandai dengan terbentuknya larutan yang
keruh. Karena kemampuannya yang dapat
melarut dengan air dan juga kloroform (CHCl
3
),
maka asam asetat glasial (CH
3
COOH) dikenal
sebagai pelarut yang bersifat semi-polar.
Campuran asam asetat glasial (CH
3
COOH) dan
air dititrasi dengan kloroform dan membentuk
satu fasa. Hal ini disebabkan asam asetat glasial
(CH
3
COOH) bersifat semipolar sehingga dapat
larut sebagian dalam air dan sebagiannya lagi
dalam kloroform (CHCl
3
). Disinilah penerapan
dari sistem tiga komponen sistem terner yang
bercampur sebagian.


Volume yang dihasilkan pada saat titrasi :
Volume kloroform (CHCl
3
) Volume air (H
2
O) Volume asam atetat glacial
(CH
3
COOH)
3 ml 5 ml 9,3 ml
4 ml 5 ml 6,8 ml
6 ml 5 ml 6,7 ml





Labu erlenmeyer 1 :
n
kloroform
=

=

= 0,036 mol
n
air
=

=

= 0,2775 mol
n
asetat
=

=

= 0,1622 mol
n
total
= 0,036 + 0,2775 + 0,1622
= 0,4767 mol

X
kloroform
=

=

x 100%
= 7,5 %
X
air
=

=

x 100%
= 58,21 %
X
asetat
=

=

x 100%
= 34,025 %

Labu erlenmeyer 2 :
n
kloroform
=

=

= 0,048 mol
n
air
=

=

= 0,2775 mol
n
asetat
=

=

= 0,1186 mol
n
total
= 0,048 + 0,2775 + 0,1186
= 0,4441 mol

X
kloroform
=

=

x 100%
= 10,8 %
X
air
=

=

x 100%
= 62,486 %
X
asetat
=

=

x 100%
= 26,70 %

Labu erlenmeyer 3 :
n
kloroform
=

=

= 0,073 mol
n
air
=

=

= 0,2775 mol
n
asetat
=

=

= 0,1168 mol
n
total
= 0,073 + 0,2775 + 0,1168
= 0,4673 mol

X
kloroform
=

=


x 100%
= 15,62 %
X
air
=

=

x 100%
= 59,38 %
X
asetat
=

=

x 100%
= 24,99 %

X
kloroform rata-rata
=

=

= 11,3 %
X
air

rata-rata
=

=

= 60,025 %
X
asetat rata-rata
=

=

= 28,57 %

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh
banyaknya volume asam asetat glasial
(CH
3
COOH) yang dibutuhkan untuk menitrasi
campuran air- kloroform (CHCl
3
) berturut-turut
adalah 9,3 mL; 6,8 mL; dan 6,7 mL.

11,3
60,025





28,57
Diagram fase yang digambarkan sebagai
segitiga sama sisi menjamin dipenuhinya sifat
ini secara otomatis sebab jumlah jarak ke
sebuah titik didalam segitiga sama sisi yang
diukur sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan
panjang sisi segitiga itu yang dapat diambil
sebagai satuan panjang (FKIP Unilam, 2008). Ciri
utama diagram, adalah segitiga tiga-fasa (α + β
+ Cair ) yang muncul dari horizontal eutektik
biner atas dan kemudian menuruni tiga “tiang
penghantar” (guide rail) hingga terjadi
degenerasi dan terbentuk horizontal eutektik
biner bawah ()
Berdasarkan grafik diketahui bahwa asam
asetat lebih suka bercampur dengan air
dibandingkan kloroform. Hal ini terlihat pada
grafik yang lebih condong ke arah atas atau ke
air. Hal ini terjadi karena bertambahnya
kelarutan asam asetat glasial (CH
3
COOH) dalam
air lebih cepat dibandingkan kelarutan asam
asetat glasial (CH
3
COOH) dalam kloroform
(CHCl
3
) .

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan
maka dapat diambil kesimpulan bahwa
CH3COOH glacial dapat melarutkan larutan 2
fasa yang terbentuk dari CHCl3 dan H2O.
Kelarutan CH3COOH dalam air lebih besar dari
pada dalam CHCl3, hal ini dapat dibuktikan
dengan diagram Terner.

DAFTAR PUSTAKA
Atastina, dkk. 2003. Buku Petunjuk Praktikum
Kimia Fisika. Depok : TGP-FT UI
Endang Widjajanti LFX. 2008. Kesetimbangan
Fasa. staff.uny.ac.id/.../kesetimbangan-fasa.pdf
diakses pada 12 April 2014
FKIP Unlam . 2008. Diagram Terner.
http://alchemist08.files.wordpress.com/2012/0
5/percobaan-iii-diagram-terner.doc diakses
pada 12 April 2014
R. E. Smallman, dkk. 2000. Met. Fsk Modern &
Rekayasa Material. Jakarta : Erlangga
Young, Hugh D. 2002. Fisika Universitas Jl.1.
Jakarta : Erlangga