You are on page 1of 3

EVALUASI SEDIAAN TABLET

Ø Uji waktu hancur
Uji waktu hancur dilakukan pada 6 tablet dan menggunakan disintegratin tester (disentegrator).
Uji waktu hancur sesuai dengan persyaratan FI adalah kecuali dinyatakan lain, semua tablet
harus tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk
tablet salut gula/salut selaput. Apabila, tablet/2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian
dengan 12 tablet lainnya, tidak kurang 16 dari 18 yang diuji harus hancur sempurna (Dirjen
POM, 1995, 1087). Dirjen POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope
Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Prosedur kerja uji waktu hancur (Dirjen POM, 1976:6) Dirjen POM Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. (1976). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
1. Dimasukkan satu tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, lalu masukkan
satu cakram pada tiap tabung dan alat dijalankan menggunakan air bersuhu 37
0
± 2
0
C
sebagai media kecuali dinyatakan lain dalam monografi.
2. Pada akhir batas waktu yang tertera pada monografi, keranjang diangkat

Ø Uji keseragaman bobot
Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet satu persatu dan dihitung bobot
rata-ratanya. Hasilnya, tidak lebih dari dua tablet yang mempunyai penyiampangan lebih besar
dari kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang mempunyai penyimpangan bobot lebih
besar dari kolom B. (Dirjen POM, 1979:6) Dirjen POM Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. (1976). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Tabel persyaratan penyimpangan bobot tablet.
Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata
A B
25 mg atau kurang 15% 30%
26 mg-150 mg 10% 20%
151 mg-300 mg 7,5% 15%
Lebih dari 300 mg 5% 10%

Ø Uji keseragaman ukuran
Ketebalan berhubungan dengan kekerasan tablet. Selam percetakan, perubahan ketebalan
merupakn indikasi adanya masalah pada aliran massacetak atau pada pengisian granul ke dalam
die. Alat yang digunakan pada uji keseragaman ukuran adalah jangka sorong.

Prosedur kerja uji keseragaman ukuran adalah sebagai berikut (Dirjen POM, 1976:6) Dirjen
POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1976). Farmakope Indonesia. Edisi III.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
1. Diambil 10 tablet
2. Tablet yang baik mempunyai diameter tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari
1
1/3
tebal tablet.

Ø Uji kekerasan
Kekerasan menggambarkan kekuatan tablet untuk menahan tekanan pada saat proses produksi,
pengemasan, dan pengangkutan. Prinsip pengukurannya adalah memberikan tekanan pada tablet
sampai tablet retak atau pecah, kekuatan minimum untuk tablet adalah sebesar 4 kg/cm
3
. Alat
yang digunakan pada uji kekerasan adalah hardness tester. (Ansel, 1989:255) Ansel, C.H.
(1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta: UI Press.
Prosedur kerja uji kekerasan :
1. Tablet diletakkan diantara pegas penekan, kemudian alat dihidupkan.
2. Jarum petunjuk tekanan akan bergerak sesuai tekanan yang diberikan pada tablet.
3. Saat tablet retak atau pecah, jarum akan berhenti pada suatu angka sebagai penunjuk
kekerasan tablet yang dinyatakan dalam satuan kilogram.

Ø Uji kerapuhan
Uji kerapuhan merupakan uji ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialami oleh
tablet sewaktu pengemasan, pengiriman, dan penyimpanan. Prinsip pengukurannya adalah
penetapan presentase bobot tablet yang hilang dari 20 atau 40 tablet selama diputar dalam waktu
tertentu. Alat yang digunakan pada uji kerapuhan adalah friablator test (Lachman, 1994:654)
Lachman, L, Lieberman, H, A, dkk, 1994 Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi III, Penerbit
Universitas Indonesia, UI - Press, Jakarta
Prosedur kerja uji kerapuhan :
1. Tablet dibersihkan dari debu dengan cara memakai kuas kecil
2. Ditimbang bobot 20 tablet (tablet besar) atau 40 tablet (tablet kecil) = Wo
3. Tablet dimasukkan ke dalam alat, kemudian alat dijalankan selama 4 menit dengan kecepatan
25 rpm
4. Tablet dikeluarkan lalu dibersihkan dari debu dengan memakai kuas kecil
5. Ditimbang bobot tablet = Wf
6. Indeks kerapuhan dihitung dengan memakai rumus :
F = Wo – Wf x 100%
Wo
Ket : F = indeks kerapuhan
Wo= bobot awal
Wf= bobot akhir
Ø Uji disolusi
Disolusi adalah suatu proses larutnya zat aktif dari suatu sediaan
dalam medium. Hal ini berlaku untuk obat-obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padat
seperti tablet. Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui banyaknya zat aktif yang terabsorbsi dan
memberikan efek terapi di dalam tubuh (Ansel, 1989). Ansel, C.H. (1989). Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta: UI Press.
Prosedur:
Masukkan sejumlah volume media disolusi seperti yang tertera pada masing-masing monografi
ke dalam wadah, pasang alat, biarkan media disolusi hingga suhu 37
o
± 0,5
o
, dan angkat
thermometer. Masukkan satu tablet ke dalam alat, hilangkan gelembung udara dari permukaan
sediaan yang diuji dan segera jalankan alat pada laju kecepatan seperti yang tertera pada masing-
masing monografi. Dalam interval waktu yang ditetapkan atau pada tiap waktu yang dinyatakan,
ambil cuplikan pada daerah pertengahan antara permukaan media disolusi dan bagian atas dari
keranjang berputar atau daun dari alat dayung, tidak kurang 1 cm dari dinding wadah. Lakuakan
penetapan seperti yang tertera dalam masing-masing monografi (Dirjen POM, 1995). Dirjen
POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.