You are on page 1of 31

MAKALAH

EKONOMI PEMBANGUNAN
KEMI SKI NAN
Dosen Pembimbing : Sudarti, SE, M.Si










Oleh : Kelompok 1
WIDYA WULANDARI 201110160311320
RUSMIN 201110160311336
TIARA ILMA ISLAMI 201110160311556
ONGKY HANDIKA 201110160311338
ANDIKA HARI P. 201110160311350



JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
TAHUN AJARAN 2012 / 2013
i

KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr.Wb.
Syukur alhamdulilah kita haturkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat,
taufik dan hidayahnya, kita selalu di beri kesehatan sampai pada saat ini. Shalawat dan salam
kita haturkan selalu kepada junjungan Nabi kita yaitu Rosululloh SAW, beliaulah Guru dari
segala Guru yang mengajarkan kita tentang Ilmu yang bermanfaat Dunia dan Akhirat. Dan
dengan adanya izin dari Allah SWT kami selaku Pemakalah dapat menyelesaikan tugas kami
yang berjudul “ KEMISKINAN“
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu tujuan untuk menambah wawasan
kita tentang ilmu ekonomi pembangunan, dan untuk memudahkan kita dalam ujian semester
nanti, amin Ya Rabbal Alamin.
Dalam proses penyusunan hingga terselesaikannya makalah ini, kami sebagai
pemakalah sangat banyak mendapat bantuan, doa, motivasi, dan bimbingan dari berbagai
pihak, dan kami ingin mengucapkan banyak Terima Kasih kepada :
1. Kedua orang tua kami
2. Ibu Sudarti, SE, M.Si selaku pembimbing kami.
3. Semua pihak yang telah membantu kami.
Dalam penyusunan makalah ini, kami selaku penulis dapat menyadari masih banyak
terdapat kekurangan-kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak, dengan ini harapan kami semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak.
Wassalamualaikum Wr.Wb

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
1.2. Identifikasi Masalah .............................................................. 2
1.2. Tujuan Penulisan Makalah .................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN KEMISKINAN
2.1 Pengertian Kemiskinan .......................................................... 3
2.2 Kondisi Kemiskinan Di Indonesia ......................................... 4
2.2.1 Terbatasnya Kecukupan dan Mutu Pangan ................... 5
2.2.2 Terbatasnya dan Rendahnya Mutu Kesehatan .............. 5
2.2.3 Terbatasnya dan Rendahnya Mutu Pendidikan ............. 5
2.3 Faktor – Faktor Penyebab Kemiskinan .................................. 7
2.4 Dampak Kemiskinan Terhadap Suatu Negara ....................... 9
BAB III PENANGGULANGAN KEMISKINAN
3.1 Penanggulangan Kemiskinan Dengan
Pemberdayaan Masyarakat................................................... 14
3.2 Sembilan Langkah Menaklukkan Kemiskinan ...................... 14
3.2.1 Peningkatan Fasilitas Jalan & Listrik Di Pedesaan ...... 15
3.2.2 Perbaikan Tingkat Kesehatan Melalui Fasilitas Sanitasi 16
3.2.3 Pembatasan Pajak dan Retribusi Daerah ..................... 17
3.2.4 Pemberian Hak Penggunaan Tanah Bagi Penduduk Miskin 18
3.2.5 Membangun Lembaga Pembiyaan Mikro yang Memberi
Manfaat Pada Penduduk Miskin ................................. 19
3.2.6 Perbaikan Kualitas Pendidikan dan Penyediaan Pendidikan
Transisi Untuk Sekolah Menengah ............................. 20
iii

3.2.7 Mengurangi Tingkat Kematian Ibu Pada Saat Persalinan 20
3.2.8 Menyediakan Lebih Banyak Danan Untuk Daerah Miskin 21
3.2.9 Merancang Perlindungan Sosial yang Lebih Tepat Sasaran 22
BAB IV STUDI KASUS
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ........................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA























iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 :Grafik Perkembangan Kemiskinan Di Indonesia ................ 6
Gambar 2 : Grafik Siswa Putus Sekolah Di Indonesia ........................... 10
Gambar 3 : Grafik Kemiskinan Di Indonesia ......................................... 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Sesungguhnya, kemiskinan bukanlah persoalan baru di negeri ini. Sekitar seabad
sebelum kemerdekaan, pemerintah kolonial Belanda mulai resah atas kemiskinan yang terjadi
di Indonesia (Pulau Jawa). Pada saat itu, indikator kemiskinan hanya dilihat dari pertambahan
penduduk yang pesat (Soejadmoko, 1980).
Kini, di Indonesia, jerat kemiskinan itu makin akut! Jumlah kemiskinan di Indonesia
pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen (www.bps.go.id). Kemiskinan
tidak hanya terjadi di perdesaan tapi juga di kota-kota besar seperti di Jakarta. Kemiskinan
juga tidak semata-mata persoalan ekonomi, melainkan kemiskinan kultural dan struktural.
Meski kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang setua peradaban manusia, tetapi
pemahaman kita terhadapnya dan upaya-upaya untuk mengentaskannya belum menunjukan hasil
yang menggembirakan. Para pengamat ekonomi pada awalnya melihat masalah kemiskinan
sebagai “sesuatu” yang hanya selalu dikaitkan dengan faktor-faktor ekonomi.
Hari Susanto (2006) mengatakan, umumnya instrumen yang digunakan untuk
menentukan apakah seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat tersebut miskin atau
tidak, bisa dipantau dengan memakai ukuran peningkatan pendapatan, atau tingkat konsumsi
seseorang atau sekelompok orang. Padahal, hakikat kemiskinan dapat dilihat dari berbagai faktor,
apakah itu sosial-budaya, ekonomi, politik maupun hukum.
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena menyangkut berbagai macam
aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan
sebagainya. Agar kemiskinan di Indonesia dapat menurun diperlukan dukungan dan kerja
sama dari pihak masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.
Melihat kondisi negara Indonesia yang masih memiliki angka kemiskinan tinggi, penulis
tertarik untuk mengangkat masalah kemiskinan di Indonesia dan penanggulangannya. Penulis
berharap dengan karya tulis ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka
mengentaskan kemiskinan dari Negara tercinta ini.

2

1.2 Identifikasi Masalah
Mengingat betapa pentingnya pengaruh kemiskinan terhadap pembangunan
ekonomi nasioanl. Maka kita selaku masyarakat perlu mengetahui beberapa hal yang
berkaitan dengan kemiskinan. Baik itu berupa faktor penyebab kemiskinan maupun
solusi untuk mengatasi kemiskinan ini.
Dengan demikan kita perlu mengetahui, mempelajari dan memahami apa itu
kemiskinan?. Dalam mempelajari kemiskinan, kita tidak akan terlepas oleh teori-teori
yang berkaitan dengan apa itu kemiskinan dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, dalam penulisan makalah ini kelompok kami berusaha untuk
memudahkan pembahasan, supaya lebih mudah dalam penyampaiannya. Maka, kami
hanya memaparkan masalah-masalah sebagai berikut :
- Apa itu pengertian kemiskinan?
- Bagaimana kondisi kemiskinan di Indonesia?
- Faktor apa saja yang mampu menyebabkan kemiskinan?
- Bagaimana cara menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia??
Dengan pengidentifikasian beberapa masalah diatas kami juga memberikan
beberapa contoh yang nyata serta mudah dipahami.

1.3 Tejuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini tidak lain untuk memberikan wawasan dan
pemahaman tentang ilmu ekonomi pembangunan yang membahas kemiskinan di
Indonesia. Selain itu, tujuan pembuatan makalah ini ialah:
1. Mengerti apa itu kemiskinan
2. Mengetahui kondisi kemiskinan di Indonesia
3. Mengetahui factor penyebab terjadinya kemiskinan
4. Mengetahui cara menanggulangi kemiskinan

3

BAB II
PEMBAHASAN KEMISKINAN

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Kemiskinan, terlebih dahulu kita
mengetahui apa itu kemiskinan, baik itu penyebabnya, seluk beluknya dan juga dampaknya
bagi perkembangan suatu negara. Dalam perkembangannya, kemiskinan menjadi masalah
yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Secara harfiah, kemiskinan berasal dari kata dasar miskin yang artinya tidak berharta-
benda (Poerwadarminta, 1976). Dalam pengertian yang lebih luas, kemiskinan dapat
dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga, maupun
kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial yang lain.
Pembahasan dan penjelasan yang lebih rinci bisa dilihat di sub-sub bab dalam bab
pembahasan ini.
2.1 Pengertian Kemiskinan
Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta
yang ada tidak mencukupi kebutuhan). BAPPENAS (2004) mendefinisikan kemiskinan
sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak
mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan
kehidupan yang bermartabat.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga macam:
1. Kemiskinan Absolute
Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya
berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif
Seseorang yang tergolong miskin relatif apabila mempunyai pendapatan di
atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat
sekitarnya.


4

3. Kemiskinan Kultural
Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau
sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat
kehidupannya, sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Dari penjabaran penggolongan tingkat kemiskinan diatas, kita bisa menarik
kesimpulan bahwa tolok ukur atau indikator kemiskinan mencakup beberapa unsur.
Unsur Indikator yang dijadikan tolok ukur untuk menentukan orang ini miskin atau tidak
meliputi :
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan
papan).
2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,
pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan
dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang
berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita
korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).

2.2 Kondisi Kemiskinan Di Indonesia

Setelah kita mengentahui apa itu pengertian dan penggolongan dari kemiskinan.
Sudah saatnya kita menelisik lebih jauh lagi, mengenai kondisi kemiskinan di tanah air
Indonesia. Hingga kita mengetahui sampai mana kondisi kemiskinan di Indonesia,
apakah sudah kronis atau sudah mulai membaik.
Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di dalam kondisi kekurangan sandang,
pangan, dan papan. Akan tetapi, kemiskinan juga berarti akses yang rendah dalam
5

sumber daya dan aset produktif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup, antara
lain: ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, dan modal.
Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal antara lain
rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan,
terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu
layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi
kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan,
perluasan kesempatan kerja dan sebagainya.
2.2.1. Terbatasnya Kecukupan dan Mutu Pangan
Hal ini berkaitan dengan rendahnya daya beli, ketersediaan pangan yang tidak
merata, dan kurangnya dukungan pemerintah bagi petani untuk memproduksi
beras sedangkan masyarakat Indonesia sangat tergantung pada beras.
Permasalahan kecukupan pangan antara lain terlihat dari rendahnya asupan
kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita, dan ibu.
2.2.2 Terbatasnya dan Rendahnya Mutu Kesehatan
Hal ini mengakibatkan rendahnya daya tahan dan kesehatan masyarakat
miskin untuk bekerja dan mencari nafkah, terbatasnya kemampuan anak dari
keluarga untuk tumbuh kembang, dan rendahnya kesehatan para ibu. Salah satu
indikator dari terbatasnya akses layanan kesehatan adalah angka kematian bayi.
Data Susenas (Survai Sosial Ekonomi Nasional) menunjukan bahwa angka
kematian bayi pada kelompok pengeluaran terendah masih di atas 50 per 1.000
kelahiran hidup.
2.2.3 Terbatasnya dan Rendahnya Mutu Pendidikan
Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pendidikan, terbatasnya kesediaan
sarana pendidikan, terbatasnya jumlah guru bermutu di daerah, dan terbatasnya
jumlah sekolah yang layak untuk proses belajar-mengajar. Pendidikan formal
belum dapat menjangkau secara merata seluruh lapisan masyarakat sehingga
terjadi perbedaan antara penduduk kaya dan penduduk miskin dalam masalah
pendidikan.
6

54.2
43.2
35
30
27.2
25.9
22.5
34.5
47.9
38.4
37.4
36.1
0
10
20
30
40
50
60
1
9
7
6
1
9
8
0
1
9
8
4
1
9
8
7
1
9
9
0
1
9
9
3
1
9
9
6
1
9
9
6
1
9
9
9
2
0
0
2
2
0
0
3
2
0
0
4
Jumlah penduduk miskin (juta)
Berbagai upaya tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin
dari 54,2 juta (40.1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996.
Namun, dengan terjadinya krisis ekonomi sejak Juli 1997, juga berbagai bencana alam
seperti gempa bumi dan tsunami pada Desember 2004. membawa dampak negatif bagi
kehidupan masyarakat, yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan
kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi sarana umum sehingga
mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin menjadi 47,9 juta (23.4%) pada
tahun 1999. Kemudian pada 5 tahun terakhir terlihat penurunan tingkat kemiskinan
secara terus menerus dan perlahan-lahan sampai mencapai 36,1 juta (16.7%) di tahun
2004 seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini (catatan: terjadi revisi metode di
tahun 1996).
GRAFIK PERKEMBANGAN
KEMISKINAN DI INDONESIA








Gambar 1.1: Grafik Perkembangan kemiskinan di Indonesia dari tahun 1976 – 2004
Jika dilihat dari pergerakan kemiskinan pada Gambar 1.1, boleh dikatakan
tingkat kemiskinan di Indonessia setiap tahunnya mulai menurun, terkecuali pada tahun
1990an yang angkanya melonjak sangat tajam.
Kenaikan jumlah ini dikarenakan krisis global yang menjerat dunia yang
berakibat ketidaksetabilan perekonomian dalam negeri. Akhirnya pengangguran
7

bertambah, lapangan kerja semakin sempit dan investor-investor pada takut
menanamkam modalnya
Dilihat dari jumlah rakyat indonesia yang miskin, Indonesiaa boleh dikatakan
sebagai negara yang bersetatus negara berpenduduk miskin banyak. Mengingat jumlah
angka yang begitu besar yaitu mencapai 36,1 juta lebih pada tahun 2004. Indonesia
masuk menjadi salah satu kategori negara yang memiliki penduduk miskin terbanyak.
Jadi, tidak perlu menyangkal atau menyombangkan diri. Tetapi, yang perlu
diperlakukan adalah mencari jalan keluar yang baik, cepat dan efisien dalam
menghadapi permasalahan ini.

2.3 Faktor – Faktor Penyebab Kemiskinan
Faktor penyebab kemiskinan sangat banyak kita jumpai di suatu negara dan yang
paling dekat adalah dimasyarakat. Jika didata akan mencapai ratusan bahkan ribuan
faktor yang mampu menjadikan sebuah masyarakat itu menjadi miskin. Tetapi dari
begitu banyaknya faktor penyebab kemiskinan, bisa disederhanakan menjadi dua
kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi. Apa saja itu? Berikut
penyederhanaan faktor penyebab kemiskinan:
1. Kemiskinan alamiah.
Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan
teknologi yang rendah, dan bencana alam.
2. Kemiskinan buatan.
Kemiskinan ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat
sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan
berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga mereka tetap miskin.
Bila kedua faktor penyebab kemiskinan tersebut dihubungkan dengan masalah
mutu pangan, kesehatan, pendidikan dan lapangan pekerjaan, maka dapat disimpulkan
beberapa faktor penyebab kemiskinan antara lain:
1. Kurang tersedianya sarana yang dapat dipakai keluarga miskin secara layak
misalnya puskesmas, sekolah, tanah yang dapat dikelola untuk bertani.
8

2. Kurangnya dukungan pemerintah sehingga keluarga miskin tidak dapat menjalani
dan mendapatkan haknya atas pendidikan dan kesehatan yang layak dikarenakan
biaya yang tinggi
3. Rendahnya minat masyarakat miskin untuk berjuang mencapai haknya karena
mereka kurang mendapat pengetahuan mengenai pentingnya memliki pendidikan
tinggi dan kesehatan yang baik.
4. Kurangnya dukungan pemerintah dalam memberikan keahlian agar masyarakat
miskin dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak.
5. Wilayah Indonesia yang sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah untuk
menjangkau seluruh wilayah dengan perhatian yang sama. Hal ini menyebabkan
terjadi perbedaan masalah kesehatan, mutu pangan dan pendidikan antara wilayah
perkotaan dengan wilayah yang tertinggal jauh dari perkotaan.
6. Kurangnya lapangan pekerjaan dan sulitnya mendirikan usaha, sehingga
banyaknya pengangguran terhadap penduduk.
Selain diatas, terdapat juga faktor lain yang dapat menyebabkan kemiskinan tetapi
sulit untuk dicari penyebabnya. Faktor itu seperti :
 Tingkat dan laju pertumbuhan output
 Tingkat upah neto
 Distribusi pendapatan
 Kesempatan kerja
 Tingkat inflasi
 Pajak dan subsidi
 Investasi
 Alokasi serta kualitas SDA
 Ketersediaan fasilitas umum
 Penggunaan teknologi
 Tingkat dan jenis pendidikan
 Kondisi fisik dan alam
 Politik
 Bencana alam
 Peperangan
 Etos Kerja dan Motivasi Pekerja


9

2.4 Dampak Kemiskinan Terhadap Suatu Negara
Kemiskinan membawa dampak sangat berbahaya bagi pembangunan suatu
negara. Dampaknya bisa menghambat, bisa menghilangkan dan yang paling parah bisa
memperburuk suatu negara. Hal ini tidak perlu susah – susah untuk melihat dampak
nyata darri kemiskinan. Tidak seperti kita mengatasi dan menanggulangi kemiskinan
yang membutuhkan berbagai macam teori dan metode yang paling efisien.
Cobalah kita berkunjung kedesa- desa yang notabenya desa tertinggal dan
miskin. Lihatlah perkembangan pembangunan didesa tersebut, apakah pembangunan
yang ada didesa tersebut baik pembangunan fasilitas umum sangat cepat, sangat lambat
atau bahkan tidak ada pembangunan sama sekali?. Karena kebutuhan orang-orang yang
menyandang status miskin, sangat banyak yang belum tercukupi. Logikannya, jika
orang tersebut mendapatkan sebuah rejeki, maka langsung dibelikan kebutuhan-
kebutuhan itu. Tidak untuk memikirkan pembangunan desa dan lainnya.
Dari sepintas gambaran dampak kemiskinan diatas, berikut pemaparan
dampak kemiskinan di suatu negara:
a. Terhadap Pengangguran
Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja,
sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis,” mengingat krisis
multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Dengan banyaknya
pengangguran, berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak
bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan, mereka tidak
mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah
menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Akibatnya berdampak langsung
terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.

b. Terhadap Moral Suatu Bangsa
Moral suatu Bangsa sangat banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah
satunya tidak lain ialah tingkat kemiskinan. Kemrosotan Moral dalam negara yang
awalnya menjadi ramah, aman, tenang dan makmur, bisa berubah menjadi garang,
kejam, gemuruh dan ramai. Hal ini dikarenakan, pada dasarnya kekerasan yang
marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran dan kemiskinan.
10

Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar
dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga
keberlangsungan hidupnya, maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya merampok,
menodong, mencuri, atau menipu (dengan cara mengintimidasi orang lain) di atas
kendaraan umum dengan berpura-pura sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh
biaya besar untuk operasi, dan sebagainya.
c. Terhadap Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa
ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi
menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas, mereka tak dapat menjangkau
dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin.
Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Bagaimana seorang
penarik becak misalnya, yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari
kemiskinan, ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher?
Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-
perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi,
sesungguhnya negara sudah melakukan “pemiskinan struktural” terhadap
rakyatnya.
Akhirnya, kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam.
Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan
seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan
pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran
akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di
segala bidang.








Gambar 1.2: Grafik Siswa Putus Sekolah di Indonesia dari tahun 2004
11



d. Terhadap Kessehatan
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap
klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif/ongkos
pengobatan yang biayanya melangit. Akibatnya, biayanya tak terjangkau oleh
kalangan miskin

e. Terhadap Hak-Hak Rakyat
Dampak kemiskinan tidak berdampak pada negara saja. Tetapi berdampak
pula pada orang yang menyandang miskin. Salah satu dampak dari kemiskinan
yang membatasi hak rakyat untuk:
1. Memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan;
2. Memperoleh perlindungan hukum;
3. Memperoleh rasa aman;
4. Memperoleh akses atas kebutuhan hidup (sandang, pangan, dan papan)
yang terjangkau;
5. Memperoleh akses atas kebutuhan pendidikan;
6. Memperoleh akses atas kebutuhan kesehatan;
7. Memperoleh keadilan;
8. Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik dan pemerintahan;
9. Berinovasi;
10. Menjalankan hubungan spiritualnya dengan Tuhan; dan
11. Berpartisipasi dalam menata dan mengelola pemerintahan dengan baik.






12

BAB III
PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Upaya dalam mengatasi kemiskemiskinan tidaklah semudah membalikkan telapak
tangan semata. Perlu upaya yang serius dan membutuhkan berbagai teori agar kemiskinan di
dunia terutama di Indonesia bisa berkurang. Dibutuhkan semua elemen masyarakat untuk
berperan aktif untuk memerangi kemiskinan, tidak harus terpaku pada pemerintahan saja.
Indoneisa dalam memberantas kemiskinan boleh dibilang berhasil, dalam bebrbagai
survai yang dilakukan Bank Dunia maupun lembaga LSM menyimpulkan, Negara Indonesia
telah berhasil dalam menurunkan tingkat kemiskinan sejak tahun 1960-an dan juga telah
berhasil mengurangi efek dari krisis. Tetapi Indonesia masih harus menghadapi tiga masalah
mendasar dalam upaya mengangkat sebagaian penduduk yang masih terhimpit kemiskinan
dan kepapaan yaitu:
1. Mempercepat pertumbuhan Ekonomi.
Jumlah penduduk miskin tidak akan dapat dikurangi secara signifikan tanpa
adanya pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat bagi orang miskin. Pada periode
setelah krisis, berkurangnya penduduk miskin lebih banyak disebabkan karena
membaiknya stabilitas ekonomi dan turunnya harga bahan makanan. Untuk
menurunkan tingkat kemiskinan lebih jauh lagi, pertumbuhan ekonomi yang lebih
tinggi merupakan suatu keharusan.

2. Peningkatan Pelayanan Sosial Bagi Masyarakat Miskin
Indonesia harus dapat menyelesaikan masalah dalam bidang pelayanan sosial
agar manfaat dari pembangunan lebih dirasakan. Peningkatan dalam efektifitas dan
efisiensi pemberian pelayanan sosial, dapat dicapai dengan mengusahakan perbaikan
dalam sistem kelembagaan dan kerangka hukum, termasuk dalam aspek-aspek yang
terkait dengan desentralisasi. Hal ini akan membuat penyedia jasa mengenali
tanggung jawab mereka dalam menjaga kualitas pelayanan yang diberikan, disamping
memberikan kesempatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengawasi aktifitas
tersebut

13


3. Perlidungan Bagi si Miskin.
Kebanyakan penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Hampir 40
persen dari penduduk, hidup hanya sedikit di atas garis kemiskinan nasional dan
mempunyai pendapatan kurang dari US$2 per hari. Perubahan sedikit saja dalam
tingkat harga, pendapatan dan kondisi kesehatan, dapat menyebabkan mereka berada
dalam kemiskinan, setidaknya untuk sementara waktu. Program perlidungan sosial
yang ada tidaklah mencukupi dalam menurunkan tingkat resiko bagi keluarga miskin,
walaupun memberikan manfaat pada keluarga yang lebih berada. Kondisi ini dapat
diperbaiki dengan menyediakan program perlindungan sosial yang lebih bermanfaat
bagi penduduk miskin serta masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan.











Gambar 1.3: Grafik Kemiskinan di Indonesia dari Februari 2004-September 2011
Tiga hal pokok permasalahan diatas, mampu kita simpulkan bahwa di Indonesia
kemiskinan tidak akan sirna jika tidak ada keseriusan dari pemerintah dan semua kalangan
untuk memerangi problem satu ini. Banyak sekali program – program pemeerintah yang
sudah diterapkan dalam menghadapi masalah kemiskininan. Namun, program – program
pemerintah ini terasa seperti angin yang berlalu, tiada dampak yang mengejutkan. Apa yang
harus dilakukan jika sudah seperti ini?. Di bawah ini akan di paparkan upaya dan strategi
penanggulangan kemiskinan di Indonesia.


14


3.1 Penanggulangan Kemiskinan Dengan Pemberdayaan Masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat adalah proses pembangunan dimana masyarakat
berinisiatif untuk memulai prosees kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi
didi sendiri. Pemberdayaan masyarakat bisa terwujud apabila warganya ikut
berpartisipasi. Tolok ukur keberhasilan program “Pemberdayaan Masyarakat” apabila
suatu kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau
yang dikenal juga sebagai subyek. Disini Subyek merupakan motor penggerak bukan
penerima manfaat semata.
Dari masyarakat yang tidak berdaya menjadi masyarakat berdaya. Melalui
proses pembelajaran masyarakat diajak untuk menemukenali masalah yang terjadi lewat
refleksi kemiskinan dan pemetaan swadaya dan menemukenali pemecahan masalah
melalui proses pengembangan lembaga (BKM), PJM Pronangkis dan pembangunan
KSM dan gerakan bersama dalam penanggulangan kemiskinan. Diharapkan dengan
proses ini masyarakat yang terpinggirkan (kaum miskin dan perempuan) bisa mempunyai
daya untuk menggapai kebutuhan hidupnya ; di sisi lain melalui refleksi dan gerakkan
bersama masyarakat umum dapat mempunyai daya untuk menolong, perduli dan terlibat
dalam penanggulangan kemiskinan.
Dari masyarakat berdaya menjadi masyarakat mandiri, yaitu dimana
masyarakat bisa menolong dirinya secara mandiri, dengan tidak lagi bergantung kepada
pihak lain termasuk kepada fasilitator (PNPM Mandiri Perktoaan). Ketika berhubungan
dengan pihak lain, adalah untuk bekerjasama dalam kesetaraan. Artinya baik masyarakat
maupun pihak lain saling membutuhkan, jadi ada kesalingbergantungan.
3.2 Sembilan Langkah Menaklukkan Kemiskinan
Penanganan berbagai masalah di atas memerlukan strategi penanggulangan
kemiskinan yang jelas. Pemerintah Indonesia dan berbagai pihak terkait lainnya patut
mendapat acungan jempol atas berbagai usaha yang telah dijalankan dalam membentuk
strategi penanggulangan kemiskinan. Hal pertama yang dapat dilakukan oleh
pemerintahan baru adalah menyelesaikan dan mengadaptasikan rancangan strategi
penanggulangan kemiskinan yang telah berjalan. Kemudian hal ini dapat dilanjutkan
15

dengan tahap pelaksanaan. Berikut ini dijabarkan sepuluh langkah yang dapat diambil
dalam mengimplementasikan strategi pengentasan kemiskinan tersebut
3.2.1 Peningkatan Fasilitas Jalan & Listrik Di Pedesaan.
Berbagai pengalaman di China, Vietnam dan juga di Indonesia sendiri
menunjukkan bahwa pembangunan jalan di area pedesaan merupakan cara yang efektif
dalam mengurangi kemiskinan. Jalan nasional dan jalan provinsi di Indonesia relatif
dalam keadaan yang baik. Tetapi, setengah dari jalan kabupaten berada dalam kondisi
yang buruk. Sementara itu lima persen dari populasi, yang berarti sekitar 11 juta orang,
tidak mendapatkan akses jalan untuk setahun penuh. Hal yang sama dapat terlihat pada
penyediaan listrik. Saat ini masih ada sekitar 6000 desa, dengan populasi sekitar 90 juta
orang belum menikmati tenaga listrik.
Walaupun berbagai masalah di atas terlihat rumit dalam pelaksanaannya,
solusinya dapat terlihat dengan jelas.
1. Menjalankan program skala besar untuk membangun jalan pedesaan dan di tingkat
kabupaten. Program pembangunan jalan tersebut juga dapat meningkatkan
penghasilan bagi masyarakat miskin dan mengurangi pengeluaran mereka,
disamping memberikan stimulasi pertumbuhan pada umumnya.
2. Membiayai program di atas melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana
pembangunan harus ditargetkan pada daerah-daerah yang mempunyai kondisi
buruk, terutama dalam masalah kemiskinan. Peta lokasi kemiskinan, bersama
dengan peta kondisi jalan, dapat digunakan untuk mengidentifikasi daerah-daerah
tersebut. Masyarakat miskin setempat juga harus dilibatkan agar hasilnya dapat
sesuai dengan kebutuhan mereka, serta menjamin tersedianya pemeliharaan secara
lebih baik.
3. Menjalankan program pekerjaan umum yang bersifat padat karya. Pro- gram seperti
ini dapat menjadi cara yang efektif untuk menyediakan fasilitas jalan di pedesaan
disamping sebagai bentuk perlindungan sosial. Untuk daerah yang terisolir,
program ini bahkan dapat mengurangi biaya pembangunan.
4. Menjalankan strategi pembangunan fasilitas listrik pada desa-desa yang belum
menikmati tenaga listrik. Kompetisi pada sektor kelistrikan harus ditingkatkan
16

dengan memperbolehkan perusahaan penyedia jasa kelistrikan untuk menjual
tenaga listrik yang mereka hasilkan kepada PLN. Akses pada jaringan yang
dimiliki PLN juga patut dibuka dalam rangka meningkatkan kompetisi tersebut.
Penyusunan rencana pelaksanaan dengan lebih terinci atas dua skema subsidi yang
ada sangatlah diperlukan, untuk menjamin subsidi tersebut tidak menghambat
penyediaan listrik secara lebih luas.
3.2.2 Perbaikan Tingkat Kesehatan Melalui Fasilitas Sanitasi.
Indonesia sedang mengalami krisis penyediaan fasilitas sanitasi. Hanya kurang
dari satu persen limbah rumah tangga di Indonesia yang menjadi bagian dari sistem
pembuangan. Penyediaan fasilitas limbah lokal tidak dibarengi dengan penyediaan
fasilitas pengumpulan, pengolahan dan pembuangan akhir. Pada tahun 2002,
pemerintah hanya menyediakan anggaran untuk perbaikan sanitasi sebesar 1/1000 dari
anggaran yang disediakan untuk penyediaan air. Akibatnya, penduduk miskin
cenderung menggunakan air dari sungai yang telah tercemar. Tempat tinggal mereka
juga sering berada di dekat tempat pembuangan limbah.
Hal ini membuat penduduk miskin cenderung menjadi lebih mudah sakit dan
tidak produktif. Pada tahun 2001, kerugian ekonomi yang timbul akibat masalah
sanitasi diperkirakan mencapai Rp 100.000,- per rumah tangga setiap bulannya.
Untuk mengatasi hal tersebut ada dua hal yang dapat dilakukan:
Pada sisi permintaan, pemerintah dapat menjalankan kampanye publik secara
nasional untuk meningkatkan kesadaran dalam penggunaan fasilitas sanitasi yang
lebih baik. Biaya yang diperlukan untuk kampanye tersebut tidaklah terlalu tinggi,
sementara menjanjikan hasil yang cukup baik.
Pada sisi penawaran, tentu saja penyediaan sanitasi harus diperbaiki. Aspek
terpenting adalah membiayai investasi di bidang sanitasi yang akan terus meningkat.
Dua pilihan yang dapat dilakukan adalah: (i) mengadakan kesepakatan nasional untuk
membahas masalah pembiayaan fasilitas sanitasi dan (ii) mendorong pemerintah lokal
untuk membangun fasilitas sanitasi pada tingkat daerah dan kota; misalnya dengan
menyediakan DAK untuk pembiayaan sanitasi ataupun dengan menyusun standar
pelayanan minimum.

17

3.2.3 Pembatasan Pajak dan Retribusi Daerah
Salah satu sumber penghasilan terpenting bagi penduduk miskin di daerah
pedesaan adalah wiraswasta dan usaha pendukung pertanian. Setengah dari penghasilan
masyarakat petani miskin berasal dari usaha pendukung pertanian. Untuk meningkatkan
penghasilan tersebut, terutama yang berasal dari usaha kecil dan menengah, perlu
dibangun iklim usaha yang lebih kondusif. Sayangnya, sejak proses desentralisasi
dijalankan, pemerintah daerah berlomba-lomba meningkatkan pendapatan mereka
dengan cara mengenakan pajak dan pungutan daerah yang lebih tinggi.
Usahawan pada saat ini harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk
mengurus berbagai izin yang sebelumnya dapat mereka peroleh secara cuma-cuma.
Belum lagi beban dari berbagai pungutan liar yang harus dibayarkan untuk menjamin
pengangkutan barang berjalan secara lancar dan aman. Berbagai biaya ini menghambat
pertumbuhan usaha di tingkat lokal dan menurunkan harga jual yang diperoleh
penduduk miskin atas barang yang mereka produksi. Oleh karena itu pemerintah dapat
berusaha menurunkan beban yang ditanggung oleh penduduk miskin dengan cara:
1. Menggantikan sistem pajak daerah yang berlaku dengan mengeluarkan daftar
sumber penghasilan yang boleh dipungut oleh pemerintah daerah. Daftar tersebut
harus mencakup sumber penghasilan yang dapat meningkatkan penghasilan
daerah secara signifikan, misalnya sumber penghasilan dari pajak bumi dan
bangunan.
2. Menghentikan pungutan pajak dan retribusi daerah yang tidak diperlukan, dengan
mengharuskan pemerintah daerah untuk mengadakan pengkajian dampak suatu
peraturan sebelum mengeluarkan pungutan baru. Pungutan yang akan diambil itu
juga harus diumumkan di berbagai media, untuk memberikan kesempatan pada
pengusaha dan sektor swasta lainnya mengajukan masukan dan komentar.
3. Menciptakan dan memperbaiki sistem pelayanan satu atap dan meningkatkan
kemampuan serta pemberian insentif pada berbagai elemen pemerintahan daerah.
Cara ini dapat meningkatkan efisiensi dalam pemberian pelayanan.
4. Membentuk sebuah komisi dalam mengawasi pungutan-pungutan liar dan
pembayaran yang dilindungi. Penanggulangan masalah ini merupakan suatu hal
yang sulit dilakukan, tetapi sangat penting untuk memperbaiki iklim investasi.
18

Komisi ini harus dapat menghasilkan pro- posal untuk menanggulangi masalah
pungutan liar tersebut dalam waktu enam bulan setelah dibentuk.
3.2.4 Pemberian Hak Penggunaan Tanah Bagi Penduduk Miskin.
Adanya kepastian dalam kepemilikan tanah merupakan faktor penting untuk
meningkatkan investasi dan produktifitas pertanian. Pemberian hak atas tanah juga
membuka akses penduduk miskin pada kredit dan pinjaman. Dengan memiliki
sertifikat kepemilikan mereka dapat meminjam uang, menginvestasikannya dan
mendapatkan hasil yang lebih tinggi dari aktifitas mereka1. Sayangnya, hanya 25
persen pemilik tanah di pedesaan yang memiliki bukti legal kepemilikan tanah
mereka.
Ini sangat jauh dari kondisi di Cina dan Vietnam, dimana sertifikat hak guna
tanah dimiliki oleh hampir seluruh penduduk. Program pemutihan sertifikat tanah di
Indonesia berjalan sangat lambat. Dengan program pemutihan yang sekarang ini
dijalankan, dimana satu juta sertifikat dikeluarkan sejak 1997, dibutuhkan waktu
seratus tahun lagi untuk menyelesaikan proses tersebut.
Disamping itu, kepemilikan atas 64 persen tanah di Indonesia tidaklah
dimungkinkan, karena termasuk dalam klasifikasi area hutan. Walaupun pada
kenyataannya, di area tersebut terdapat lahan pertanian, pemukiman, bahkan daerah
perkotaan. Agar masyarakat miskin dapat menikmati adanya kepastian atas
kepemilikan tanah mereka, hal-hal di bawah ini patut mendapat pertimbangan:
1. Mempercepat program sertifikasi tanah secara dramatis agar setidaknya
mencapai tingkatan yang sama dengan rata-rata negara Asia Timur lainnya.
2. Mengkaji ulang dan memperbaiki undang-undang pertanahan,
3. kehutanan dan juga pertanian.
4. Mengkaji kemungkinan redistiribusi tanah milik perusahan negara yang
5. tidak digunakan kepada masyarakat miskin yang tidak memiliki tanah.
6. Mengakomodasi kepemilikan komunal atas tanah sebagai salah satu bentuk
kepemilikan. Prinsip yang terpenting adalah kepastian dalam
7. penggunaan tanah, bukan hanya pada kepemilikan secara pribadi.
8. Mendukung adanya penyelesaian masalah pertanahan secara kekeluargaan,
disamping membentuk peradilan khusus mengenai
19

9. masalah pertanahan.
10. Mempersiapkan peraturan yang menjamin kepastian hukum bagi
11. masyarakat miskin yang tinggal di area perhutanan.
3.2.5 Membangun Lembaga Pembiayaan Mikro yang Memberi Manfaat Pada
Penduduk Miskin.
Sekitar 50 persen rumah tangga tidak memiliki akses yang baik terhadap
lembaga pembiayaan, sementara hanya 40 persen yang memiliki rekening tabungan.
Kondisi ini terlihat lebih parah di daerah pedesaan. Solusinya bukanlah dengan
memberikan pinjaman bersubsidi. Program pemberian pinjaman bersubsidi tidak dapat
dipungkiri telah memberi manfaat kepada penerimannya. Tetapi program ini juga
melumpuhkan perkembangan lembaga pembiayaan mikro (LPM) yang beroperasi
secara komersial.
Padahal, lembaga-lembaga semacam inilah yang dapat diandalkan untuk
melayani masyarakat miskin secara lebih luas. Solusi yang lebih tepat adalah
memanfaaatkan dan mendorong pemberian kredit dari bank-bank komersial kepada
lembaga-lembaga pembiayaan mikro tersebut. Berbagai langkah penting yang dapat
diambil untuk meningkatkan akses penduduk miskin atas kredit pembiayaan adalah:
1. Menyelesaikan rancangan undang-undang mengenai LPM yang memberikan
dasar hukum dan kerangka kelembagaan bagi lembaga pembiayaan mikro
untuk menghimpun dan menyalurkan dana bagi penduduk miskin.
2. Membangun hubungan antara sektor perbankan dengan LPM, misalnya
dengan memberikan kesempatan bagi BKD untuk menjadi agen untuk bank-
bank komersial dalam menghimpun dan menyalurkan dana.
3. Menghentikan penyaluran bantuan modal dan skema pinjaman yang disubsidi.
Dana sebanyak tiga trilliun rupiah yang selama ini disalurkan, dapat digunakan
untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan lembaga pembiayaan mikro,
baik yang formal maupun yang berasal dari inisiatif masyarakat setempat,
untuk dapat mengjangkau kalangan yang lebih luas.
4. Mengesahkan revisi Undang-Undang Koperasi guna memberikan kerangka
hukum yanglebih baik untuk pengembangan pembiayaan
5. mikro, termasuk mewajibkan adanya audit dan pengawasan eksternal bagi
koperasi simpan pinjam.
20

3.2.6 Perbaikan Kualitas Pendidikan Dan Penyediaan Pendidikan Transisi Untuk
Sekolah Menengah.
Indonesia telah mencapai hasil yang memuaskan dalam meningkatkan
partisipasi di tingkat pendidikan dasar. Hanya saja, banyak anak-anak dari keluarga
miskin yang tidak dapat melanjutkan pendidikan dan terpaksa keluar dari sekolah dasar
sebelum dapat menamatkannya (lihat gambar dibawah). Hal ini terkait erat dengan
masalah utama pendidikan di Indonesia, yaitu buruknya kualitas pendidikan.
Pemerintah dapat memperbaiki kualitas pendidikan dan mencegah terputusnya
pendidikan masyarakat miskin dengan cara:
1. Membantu pengembangan manajemen dan pembiayaan pendidikan yang
bertumpu pada peran sekolah. Pemerintah di tingkat kabupaten dan kota perlu
didorong untuk menyediakan dana bagi sekolah dalam bentuk block grants.
Dengan begitu transparansi dan pengawasan masyarakat akan dapat
ditingkatkan. Dana sekolah tersebut harus disusun sesuai prinsip transparansi
dan prosedur yang jelas. Dengan meningkatnya akuntabilitas sekolah kepada
masyarakat, kualitas pendidikan akan dapat ditingkatkan.
2. Menyediakan dana bantuan pendidikan bagi masyarakat miskin.
3. Mengubah beasiswa Jaring Pengaman Sosial menjadi program beasiswa untuk
membantu siswa dari kalangan miskin dalam masa transisi dari sekolah dasar ke
sekolah lanjutan.
3.2.7 Mengurangi Tingkat Kematian Ibu Pada Saat Persalinan.
Hampir 310 wanita di Indonesia meninggal dunia pada setiap 10.000 kelahiran
hidup. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Tingkat kematian
menjadi tinggi terkait dengan dua sebab. Pertama karena ibu yang melahirkan sering
terlambat dalam mencari bantuan medis. Sering terjadi juga bantuan medis yang
dibutuhkan tersebut tidak tersedia. Kedua karena kebanyakan ibu yang melahirkan
lebih memilih untuk meminta bantuan bidan tradisional daripada fasilitas medis yang
tersedia. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka
kematian tersebut, yaitu:
21

1. Meluncurkan kampanye nasional untuk meningkatkan kesadaran atas manfaat
penanganan medis professional pada saat persalinan, serta periode sebelum dan
sesudahnya.
2. Menyediakan bantuan persalinan gratis bagi penduduk miskin, baik di klinik
kesehatan maupun dengan bantuan bidan desa. Lebih jauh lagi, pemerintah dapat
menyediakan bantuan transportasi pada klinik kesehatan setempat. Bantuan ini
dapat dikelola melalui sistem kartu kesehatan yang telah ada.
3. Meningkatkan pelatihan bagi bidan desa, baik secara formal maupun dengan
melibatkan mereka pada pelayanan medis. Berbagai usaha untuk memperluas
jangkauan pelayanan bidan desa di daerah-daerah terisolir juga patut mendapat
perhatian.
3.2.8 Menyediakan Lebih Banyak Dana Untuk Daerah Miskin.
Kesenjangan fiskal antar daerah di Indonesia sangatlah terasa. Pemerintah
daerah terkaya di Indonesia mempunyai pendapatan per penduduk 46 kali lebih tinggi
dari pemerintah di daerah termiskin. Akibatnya pemerintah daerah yang miskin sering
tidak dapat menyediakan pelayanan yang mencukupi, baik dari segi kuantitas maupun
kualitas. Pemberian dana yang terarah dengan baik dapat membantu masalah ini. Untuk
memecahkan masalah tersebut, pemerintah dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
1. Memperbaiki formulasi Dana Alokasi Umum (DAU) agar memungkinkan
pemerintah daerah dapat menyediakan pelayanan dasar yang cukup baik. DAU
dimaksudkan untuk membantu kesenjangan keuangan antar daerah berdasarkan
formula yang memperhitungkan tingkat kemiskinan, luas wilayah, jumlah
penduduk, biaya hidup dan kapasitas fiskal. Tetapi pada kenyataannya, dana ini
masih dialokasikan berdasar pola pengeluaran pada tahun-tahun sebelumnya.
Untuk itu penetapan besar DAU harus lebih banyak didasarkan formula di atas,
bahkan dengan memberikan porsi yang lebih besar pada tingkat kemiskinan.
2. Meningkatkan pemberian DAK untuk menunjang target program nasional
pengentasan kemiskinan. Dana Alokasi Khusus dapat menjadi insentif bagi
pemerintah daerah untuk memenuhi target penurunan tingkat kemiskinan. Oleh
karena itu DAK harus ditingkatkan fungsinya dan dikaitkan dengan program
pengentasan kemiskinan, termasuk infrastruktur di daerah pedesaan, kesehatan,
pendidikan, serta penyediaan air bersih dan sanitasi. Daerah yang lebih miskin
22

harus dapat menerima DAK yang lebih besar, mengingat DAU belum dapat
memperkecil kesenjangan pembiayaan antar daerah. Peningkatan DAK dapat
dilakukan dengan memotong anggaran pemerintah pusat di daerah melalui
departemen teknis, yang selama ini dikenal sebagai Daftar Isian Proyek (DIP).
3.2.9 Merancang Perlindungan Sosial Yang Lebih Tepat Sasaran.
Program perlindungan yang tersedia saat ini, seperti beras untuk orang miskin
serta subsidi bahan bakar dan listrik, dapat dikatakan belum mencapai sasaran dengan
baik. Pada tahun 2004, pemerintah Indonesia mengeluarkan Rp 74 trilliun untuk
perlindungan sosial. Angka ini lebih besar dari pengeluaran di bidang kesehatan dan
pendidikan. Sayangnya, hanya 10 persen yang dapat dinikmati oleh penduduk miskin,
sementara sekitar Rp60 trilliun lebih banyak dinikmati oleh masyarakat mampu. Secara
rata-rata, rumah tangga miskin hanya memperoleh subsidi sebesar Rp12.000 untuk
beras dan Rp 9.000 untuk minyak tanah setiap bulannya. Pemerintah dapat
meningkatkan bantuan pada masyarakat miskin disamping mengadakan penghematan
dengan cara:
1. Mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM). Sebagian besar BBM
digunakan untuk keperluan kendaraan bermotor, yang lebih banyak dinikmati
oleh golongan menengah dan kaya. Pemotongan subsidi BBM dalam anggaran
2005 dapat menghemat Rp 15 trilliun. Jika harga solar dapat dinaikkan ke harga
tertinggi yang ditetapkan oleh Keppres, maka akan didapat tambahan
penghematan sebesar Rp 12 trilliun.
2. Menggunakan tabungan pemerintah yang ada untuk mengembangkan program
perlindungan sosial, termasuk memperluas aktifitas program tersebut, tetapi
dengan sasaran yang lebih tepat.
3. Memperbaiki penetapan sasaran agar dapat menyentuh lebih banyak penduduk
miskin.

23

BAB IV
STUDI KASUS

KEMISIKINAN STRUKTURAL DI INDONESIA
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang timbul akibat ketimpangan kondisi
struktur perekonomian di masyarakat. Kebijakan tersebut dapat berupa kebijakan ekonomi
oleh pemerintah, penguasaan faktor-faktor produksi sekelompok organsasi atau orang,
monopoli perdagangan , kolusi antara pengusaha dan pejabat dan lain-lainnya(seperti kasus
Gayus Tambunan). Kemiskinan struktural disebabkan oleh faktor-faktor buatan manusia.
Dalam hal ini yang saya mau angkat sebagai contoh adalah nelayan. Mereka dapat
dikatakan sebagai “korban” sistem ekonomi. Bagaimana tidak? Sejak zaman orde baru sistem
ekonomi yang buruk dan marak akan korupsi kolusi dan nepotisme membuat sistem ekonomi
Indonesia hancur berantakan. Utang luar negeri yang menumpuk karena kebijakan
pemerintah yang salah membuat rakyat menjadi korbannya.
Akibat pengambilan keputusan yang salah dari kebijakan luar negeri, membuat utang
yang berbunga tingi yang pada akhirnya melahirkan krisis ekonomi pada tahun 1997. Marta
uang Indonesia drop ke angka yang fantastis dari sebelumnya yang hanya terpaut seidkit dari
mata uang acuan dunia yaitu, Dollar. Bermula dari krisis inilah pada era 2000-an ini
Indonesia mengalami gejolak politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Peredaran uang atau yang kita sebut dengan inflasi sangat tinggi karena harga barang
sangat tinggi. Peredaran rupiah tidak terbendung dan membuat pihak Barat dengan mudah
melancarkan politik kotor kepada Indonesia yang membuat perekonomian kita mengalami
masa yang kelam di saat ini(bahkan sampai sekarang walaupun sudah agak membaik).
Sampai sekarang hutang negara kita mencapai Rp1.878 triliun(dikutip dari : voa-islam.com)
pada tahun 2010. Bandingkan dengan hutang Indonesia pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp
1.462 triliun ( sumber: kompas.co.id).
Dalam kurun waktu 2 tahun hutang Indonesia meningkat. Hal ini lah yang
menyebabkan segala kemarutan ekonomi di masyarakat. Hutang tersebut menjadi acuan
bahwa bangsa kita sedang dalam kondisi yang tidak baik. Semua hal ini kembali lagi ke
dasar. Subjek yang terkena dampak lagi-lagi adalah masyarakat.
Indonesia tercatat sebagai negara kepulauan dengan jumah pulau sebanyak 17.508
buah yang dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 81.000 Km dan luas laut sekitar 5,8 juta
24

kilometer persegi dengan Zona Ekonomi Eksklusif seluas 2.78 juta Km2. Ada sekitar 60 juta
Penduduk Indonesia bermukim di wilayah Pesisir dan penyumbang sekitar 22 persen dari
pendapatan brutto nasional. Bisa dikatakan seharusnya hidup para nelayan sehajtera dengan
angka tersebut. Namun, kenyataannya? Mereka masih hidup dalam kubangan kemiskinan
karena carut marut kebijakan eknomi dan politik dalam pemerintahan. Kapan kita akan
keluar? Mungkin jawabannya ada pada pembuat kebijakan yang kebanyakan menyalahkan
atau menyia-nyiakan kepentingan dan aspirasi rakyat.
Coba lihat kelakuan anggota DPR yang kedapatan menonton video asusila dari
computer tablet yang dia punya. Bayangkan lagi bahwa hal ini dilakukannya pada saat ia
sedang mengikuti sidang yang bertujuan utnuk merencanakan dan membuat kebijakan. Saya
bisa tambahkan, kemiskinan struktural juga terjadi karena kebijakan politik yang sangat
bobrok dari zaman orde baru yang masih dipertahankan sampai sekarang. Kedua, kemiskinan
ini juga terjadi karena para wakil rakyat kita banyak yang tidak kredibel, tidak goal oriented,
tidak well-organized, dan tidak religius. Kenapa saya memasukkan unsure religius di sini?
Saya mempertimbangkan bahwa di dalam diri seorang pemimpin tersebut harus terkandung
jiwa yang selalu takut terhadap sang pencipta.
Nilai religius yang berasal dari agama inilah yang menjadi pembatas antara hak dan
kewajiban dan melakukan hal yang terbaik bangsa dan negara. Seorang pemimpin yang
religius setidaknya walau tidak sepenuhnya( karena tidak ada manusia yang sempurna), harus
melakukan perbuatan yang terpuji dan lebih mementingkan kepentingan orang laian yang
menaruh kepercayaan kepadanya. Dalam hal ini, apabila terjadi kesinambungan antara skill,
religious values, dan performa kerja akan membuat rakyat Indonesia akan lebih bisa maju.
Kenapa? Dengan hal tersebut, kebijakan yang diambil sesuai dengan tujuan bangsa yaitu
untuk memakmurkan rakyat. Bagaiamana caranya? Apakah perlu dengan menambah hutang?
Tidak saya rasa. Indonesia sekarang hanya membutuhkan kemadirian ekonomi dan
kepositifan situasi politik yang sesuai dengan syariat agama.

25

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian:
1. Absolute
2. Kemiskinan Relatif
3. Kemiskinan Kultural

Faktor penyebab kemiskinan:
1. Kemiskinan alamiah.
Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan
teknologi yang rendah, dan bencana alam.
2. Kemiskinan buatan.
Kemiskinan ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat
sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai
fasilitas lain yang tersedia hingga mereka tetap miskin.
Langkah Menaklukkan Kemiskinan
1. Peningkatan Fasilitas Jalan dan Listrik Di Pedesaan.
2. Perbaikan Tingkat Kesehatan Melalui Fasilitas Sanitasi yang Lebih Baik.
3. Pembatasan Pajak dan Retribusi Daerah yang Merugikan Usaha Lokal dan
Orang Miskin.
4. Pemberian Hak Penggunaan Tanah Bagi Penduduk Miskin.
5. Membangun Lembaga-lembaga Pembiayaan Mikro yang Memberi Manfaat Pada
Penduduk Miskin.
6. Perbaikan Kualitas Pendidikan Dan Penyediaan Pendidikan Transisi Untuk
Sekolah Menengah.
7. Mengurangi Tingkat Kematian Ibu Pada Saat Persalinan.
8. Menyediakan Lebih Banyak Dana Untuk Daerah Miskin.
9. Merancang Perlindungan Sosial Yang Lebih Tepat Sasaran.

26

DAFTAR PUSTAKA


1. Mulyo, Sumedi Andono. 2005. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan.
Jakarta: Komite Penanggulangan Kemiskinan.
2. Berita Resmi Statistik No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012
3. http://camilla-zahra.blogspot.com/2012/04/tugas-5-upaya-pemerintah-mengatasi.html,
Di akses pada 17 Nopember 2012, Pukul 13.00 WIB
4. http://mutosagala.wordpress.com/2012/05/08/cara-menanggulangi-kemiskinan/ Di
akses pada 17 Nopember 2012, Pukul 13.00 WIB
5. id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan Di akses pada 17 Nopember 2012, Pukul 13.00
WIB
6. http://bangaisabe.blogspot.com/2008/11/pengangguran-di-indonesia-semakin.html Di
akses pada 17 Nopember 2012, Pukul 13.00 WIB
7. http://elektrojoss.wordpress.com/2007/06/12/tiga-faktor-mendasar-penyebab-masih-
tingginya-pengangguran-di-indonesia/
8. http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
9. http://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran
10. http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/07/21/0018.html