You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduknya sebagian besar muslim. Bahkan,
negara kita ini termasuk negara muslim terbesar di dunia. Apabila seluruh penduduk muslim di
Timur Tengah dikumpulkan menjadi satu, jumlahnya masih lebih banyak Indonesia. Namun
dengan jumlah muslim yang besar ini, kebanyakan dari mereka belum memahami benar agama
yang dianutnya sendiri. Kebanyakan masih kurang memahami apa itu Islam, bahkan tidak
memahami dua kalimat syahadatain, kalimat yang sangat penting dalam agama ini.
Kalimah syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita
senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimah syahadatain
sering diucapkan oleh ummat Islam dalam berbagai keadaan. Memang kita menghafal kalimah
syahadah dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun demikian sejauh manakah berkesan
kalimah syahadatain ini difahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ummat Islam?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan realiti yang ada. Tingkah laku ummat Islam
yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup Barat yang memberi gambaran bahawa
syahadah tidak memberi kesan lainnya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara-
perkara larangan dan yang meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan dan taat bukan
kepada Islam, dan mengingkari rezki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan kepada
dirinya. Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadah yang
dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadah tersebut.
Sebagai seorang muslim, sangat diperlukan sekali untuk mengetahui makna
syahadatain. Kita sebagai seorang muslim sejak lahir, jarang yang mengerti makna syahadatain
(dua kalimat syahadah), biasanya langsung ke sholat yang merupakan rukun Islam yang kedua.
Padahal sudah jelas bahwa rukun Islam yang pertama adalah Syahadatain. Laa ilaha illa
Allah dan Muhammadun Rasulullah. Sebagai orang Indonesia, mungkin terkesan biasa saja
untuk mengartikan Syahadatain ini. Tiada Tuhan selaih Allah dan Muhammad adalah Rasul
Allah. Just that. hanya itu..
Berbeda sekali dengan orang Arab di zaman Rasulillah saw ketika mendengar
Syahadatain. Sampai-sampai ada yang langsung bilang celaka engkau Muhammad, seluruh
jazirah Arab akan memerangi engkau. Karena begitu kagetnya ia dengan Syahadatain yang
Rasulullah saw bawa.

























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Syahadatain
Syahadatain merupakan fondasi atau asas dari bangunan keislaman seorang muslim.
Jika fondasinya tidak kuat maka rumahnya pun tidak akan kuat bertahan.
Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh,
inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena
terdiri dari 2 kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua
kalimat syahadat itu adalah:



 Kalimat pertama :
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah




 Kalimat kedua :
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.

2.2 Pentingnya Syahadatain
Syahadatain (dua kalimat syahadat) menjadi penting karena merupakan asas dan dasar
bagi rukun Islam lainnya, dan menjadi tiang untuk rukun iman dan dien. Syahadatain
merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Oleh karena itu syahadah menjadi
sangat penting. Lebih detailnya lagi, ada beberapa hal yang menyebabkannya menjadi penting,
yaitu karena:

1. Pintu masuk ke dalam Islam
Sahnya iman seseorang adalah dengan menyatakan syahadatain. Tanpa mengucapkan
kalimat ini, maka amal yang dikerjakana bagaikan abu, atau fatamorgana yang terlihat tapi tidak
ada. Dalam Al Qur'an Allah menyebutkannya bagaikan debu yang berterbangan, walaupun amal
yang dilakukan adalah amal yang baik sekalipun, namun tidak didasari oleh syahadat.
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al Furqan[25]: 23)
Allah menjadikan amal mereka bagaikan debu yang berterbangan karena mereka tidak
beriman. Dengan demikian jelaslah bahwa syahadatain ini menjadi pembeda manusia, mana
yang muslim dan mana yang kafir.

2. Intisari ajaran Islam
Syahadah juga merupakan intisari dari ajaran Islam. Artinya, pemahaman seorang
muslim terhadap agamanya (Islam), tergantung kepada pemahaman dia tentang syahadatain
itu sendiri. Paling tidak ada tiga prinsip dalam kalimat syahadatain ini:
 Pernyataan Laa ilaaha ilallah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada
Allah SWT saja. Melaksanakan minhajillah (sistem/aturan Allah SWT) merupakan ibadah
kepada-Nya.
 Menyebut "Muhammad Rasulullah" merupakan dasar bahwa penerimaan cara
penghambaan itu dari Muhammad SAW. Jadi, Rasulullah merupakan teladan dan ikutan
dalam mengikuti minhajillah.
 Penghambaan kepada Allah SWT meliputi segala aspek kehidupan. Ia mengatur
hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan dirinya sendiri, dan dengan
masyarakatnya.

3. Dasar-dasar Perubahan Total
Syahadatain merupakan dasar yang dapat merubah seorang manusia dalam aspek
keyakinannya, pemikirannya, maupun jalan hidupnya. Perubahan di sini meliputi berbagai
aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat. Umat terdahulu langsung berubah
ketika menerima kalimat syahadatain ini. Sehingga mereka yang tadinya bodoh (jahiliyah)
menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang sesat mendapat hidayah, dsb. Artinya,
syahadatain selain dapat merubah individu, juga mampu merubah sebuah masyarakat,
misalnya yang tadinya saling bermusuhan dapat berubah menjadi masyarakat yang bersaudara
di jalan Allah.
Contohnya adalah masyarakat Mekkah ketika zaman Rasulullah. Ketika sebelum
diutusnya Rasulullah SAW, masyarakat Mekkah ketika itu adalah masyarakat yang jahil, banyak
melakukan maksiat, suka mengkubur hidup-hidup anak perempuan mereka, menyembah
berhala, dsb. Namun ketika Rasulullah diutus membawa risalah dengan syahadatainnya, maka
masyarakat Mekkah dapat berubah menjadi masyarakat yang penuh hidayah, menjauhi
maksiat, tidak menyembah berhala, dll.

4. Hakikat Da'wah Para Rasul
Syahadah juga merupakan hakikat da'wah para Rasul. Setiap Rasul semenjak nabi Adam
AS hingga nabi Muhammad SAW, membawa misi da'wah yang sama, yaitu Laa ilaaha ilallah
(syahadah). Da'wah mereka senantiasa membawa dan mengarahkan umatnya kepada
pengabdian kepada Allah SWT saja.

5. Keutamaan yang Besar
Yang terakhir yang menyebabkan syahadah itu penting adalah karena syahadah itu
sendiri merupakan keutamaan yang besar. Banyak ganjaran dan pahala yang diberikan oleh
Allah SWT dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan syahadah ini sendiri dapat
menghindarkan kita dari neraka. Dalam Hadits dikatakan,
"Allah SWT akan menghindarkan neraka bagi mereka yang menyebut kalimat
syahadah."
Atau dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,
"Dua perkara yang pasti, kata Rasulullah SAW. Maka seorang sahabat bertanya, "Apakah
perkara itu ya Rasulullah?" Rasulullah SAW menjawab, "Barangsiapa yang mati dalam keadaan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia tetap masuk surga." (HR. Ahmad).
Demikianlah kelima hal yang menyebabkan syahadatain ini menjadi sangat penting.
Semoga setelah memahami hal ini, kita semakin termotivasi untuk lebih jauh memahami apa
itu Syahadatain, apa itu Islam. Yang pada akhirnya, memudahkan kita dalam beribadah kepada
Allah SWT. Amin.(hdn)

2.3 Makna Syahadatain
 Makna Syahadat “Laa ilaaha illallah”
Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan
menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, menta’ati hal terse-but dan
mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun
orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.
Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang
hak selain Allah”. Khabar “Laa ” harus ditaqdirkan “bi haqqi” (yang hak), tidak boleh
ditaqdirkan dengan “maujud ” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab
tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah
tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.
Kalimat “Laa ilaaha illallah” telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil,
antara lain:
*1+. “Laa ilaaha illallah” artinya:
“Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, Ini adalah batil, karena maknanya:
Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah
Allah.
*2+. “Laa ilaaha illallah” artinya:
“Tidak ada pencipta selain Allah” . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut.
Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid
rububiyah saja, dan itu belum cukup.
*3+. “Laa ilaaha illallah” artinya:
“Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian dari makna
kalimat.
Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup. Semua
tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu
ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf
dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah)
seperti tersebut di atas.
 Makna Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan
RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan
konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi
larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

2.4 Hakikat Iman
Keimanan itu bukanlah angan-angan, tetapi mencakup 3 hal:
 Dikatakan dengan lisan (al-Qaul)
Syahadah diucapkan dengan lisan dengan penuh keyakinan. Semua perkataan
yang keluar dari lisan mukmin senantiasa baik dan mengandung hikmah.
 Dibenarkan dengan hati (at-tashdiiq)
Hati adalah lahan menyemai benih-benih keimanan. Semua yang keluar dari lisan
digerakkan oleh hati. Apa yang ada dalam hati akan dicerminkan dalam perkataan dan
perbuatan. Dalam hadits Bukhari digambar oleh Nabi SAW bahwa: “Ilmu (hidayah) yang
Aku bawa ibarat air hujan, ada jenis tanah yang subur menumbuhkan tanaman, ada
tanah yang tidak menumbuhkan hanya menampung air, ada jenis tanah yang gersang,
tidak menumbuhkan juga tidak menampung”.
Allah, dalam al-Qur’an, membagi hati manusia menjadi tiga, yaitu hati orang
mukmin (QS 26: 89), hati orang kafir (QS 2: 7) dan hati orang munafik (QS 2: 10). Hati
orang kafir yang tertutup dan hati munafik yang berpenyakit takkan mampu
membenarkan keimanan (at-tashdiiqu bil qalb). Sedangkan hati orang mukmin itulah
yang dimaksud Rasulullah SAW sebagai tanah yang subur yang dapat menumbuhkan
pohon keimanan yang baik. Akar keyakinannya menjulang kuat ke tanah, serta buah
nilai-nilai ihsannya dapat bermanfaat untuk manusia yang lain.
 Perbuatan (al-‘Amal)
Perbuatan (amal) digerakkan atau termotivasi dari hati yang ikhlas dan
pembenaran iman dalam hati. Seseorang yang hanya bisa mengucapkan dan
mengamalkan tanpa membenarkan di hati, tidak akan diterima amalnya. Sifat seperti itu
dikategorikan sebagai orang munafik, yang selalu bicara dengan lisannya bukan dengan
hatinya. Karena munafik memiliki tiga tanda: bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia
ingkar, bila diberi amanah ia berkhianat.
Perkataan, pembenaran di hati dan amal perbuatan adalah satu kesatuan yang
utuh. Ketiganya akan melahirkan sifat istiqamah, tetap, teguh dan konsisten.
Sebagaimana dijelaskan dalam QS 41:30, sikap istiqamah merupakan proses yang terus
berjalan bersama keimanan. Mukmin mustaqim akan mendapatkan karunia dari Allah
berupa:
Keberanian (asy-Syajaa’ah), yang lahir dari keyakinan kepada Allah. Berani
menghadapi resiko tantangan hidup, siap berjuang meskipun akan mendapatkan
siksaan. Lawan keberanian adalah sifat pengecut.
Ketenangan (al-Ithmi’naan), yang lahir dari keyakinan bahwa Allah akan selalu
membela hamba-Nya yang mustaqim secara lahir batin. Lawannya adalah sifat bersedih
hati.
Optimis (at-Tafaa’ul), lahir dari keyakinan terhadap perlindungan Allah dan
ganjaran Allah yang Maha sempurna. Orang yang optimis akan tenteram akan
kemenangan hakiki, yaitu mendapatkan keridhaan Allah (mardhatillah).

2.5 Rukun Syahadatain
 Rukun “Laa ilaaha illallah”
Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:
An-Nafyu atau peniadaan: “Laa ilaha” membatalkan syirik dengan segala
bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.
Al-Itsbat (penetapan): “illallah” menetapkan bahwa tidak ada yang berhak
disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.
Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala
“Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man
kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat
…” *Al-Baqarah: 256]
Firman Allah, “siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari “Laa
ilaha” rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah
makna dari rukun kedua, “illallah”. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :
“Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah,
tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. *Az-Zukhruf: 26-27]
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah
makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku
menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun
kedua.
 Rukun Syahadat “Muhammad Rasulullah”
Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat “‘abduhu wa rasuluh ”
hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith
(meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba
dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia
ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang
diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku
atasnya apa yang berlaku atas orang lain.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Artinya : Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti
kamu, …’.” *Al-Kahfi : 110]
Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya,
dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memujinya:
“Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.” *Az-
Zumar: 36]
“Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-
Kitab (Al-Qur’an) …”*Al-Kahfi: 1]
“Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu
malam dari Al-Masjidil Haram …” *Al-Isra': 1]
Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi
dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi
peringatan).
Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua sifat ini
meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena
banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya
hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah
(penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka ber-istighatsah
(minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.
Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah,
seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian
orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung
kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam
mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

2.6 Syarat Syahadatain
Syarat syahadat adalah sesuatu yang tanpa keberadaannya maka yang disyaratkannya
itu tidak sempurna. Jadi jika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa memenuhi
syarat-syaratnya, bisa dikatakan syahadatnya itu tidak sah.
 Syarat Syahadat “Laa ilaha illallah”
1. Pengetahuan
Seseorang yang bersyahadat harus memiliki pengetahuan tentang syahadatnya. Dia
wajib memahami isi dari dua kalimat yang dia nyatakan itu, serta bersedia
menerima konsekuensi ucapannya.
2. Keyakinan
Seseorang yang bersyahadat mesti mengetahui dengan sempurna makna dari
syahadat tanpa sedikitpun keraguan terhadap makna tersebut.
3. Keikhlasan
Ikhlas berarti bersihnya hati dari segala sesuatu yang bertentangan dengan makna
syahadat. Ucapan syahadat yang bercampur dengan riya atau kecenderungan
tertentu tidak akan diterima oleh Allah SWT.
4. Kejujuran
Kejujuran adalah kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Mengucapkan kalimat
ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi
hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.
5. Kecintaan
Kecintaan berarti mencintai Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman.
Cinta juga harus disertai dengan amarah yaitu kemarahan terhadap segala sesuatu
yang bertentangan dengan syahadat, atau dengan kata lain, semua ilmu dan amal
yang menyalahi sunnah Rasulullah SAW.
6. Penerimaan
Penerimaan berarti penerimaan hati terhadap segala sesuatu yang datang dari Allah
dan Rasul-Nya. Dan hal ini harus membuahkan ketaatan dan ibadah kepada Allah
SWT, dengan jalan meyakini bahwa tak ada yang dapat menunjuki dan
menyelamatkannya kecuali ajaran yang datang dari syariat Islam. Artinya, bagi
seorang muslim tidak ada pilihan lain kecuali Al Qur'an dan Sunnah Rasul.
7. Ketundukan
Ketundukan yaitu tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya secara
lahiriyah. Artinya, seorang muslim yang bersyahadat harus mengamalkan semua
perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Perbedaan antara
penerimaan dengan ketundukan yaitu bahwa penerimaan dilakukan dengan hati,
sedangkan ketundukan dilakukan dengan fisik.Oleh karena itu, setiap muslim yang
bersyahadat selalu siap melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupannya.

 Syarat Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta
meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.
4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah
lewat maupun yang akan datang.
5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta
seluruh umat manusia.
6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta
mengamalkan sunnahnya.

2.7 Konsekuensi Syahdatain
 Konsekuensi “Laa ilaha illallah”
Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala ma-cam yang
dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah . Dan beribadah
kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan illallah.
Banyak orang yang mengikrarkan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga
mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk,
kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya.
Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid’ah. Mereka menolak para da’i
yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah
semata.
 Konsekuensi Syahadat “Muhammad Rasulullah”
Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarangnya,
mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari
hal-hal bid’ah dan muhdatsat (baru), serta mendahulukan sabdanya di atas segala
pendapat orang.

2.8 Yang Membatalkan Syahadatain
Yaitu hal-hal yang membatalkan Islam, karena dua kalimat syahadat itulah yang
membuat seseorang masuk dalam Islam. Mengucap-kan keduanya adalah pengakuan terhadap
kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syi’ar-syi’ar
Islam. Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah
diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.
Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha’ dalam kitab-kitab fiqih telah
menulis bab khusus yang diberi judul “Bab Riddah (kemurtadan)”. Dan yang terpenting adalah
sepuluh hal, yaitu:
1. Mengadakan persekutuan (syirik) dalam beribadah kepada Allah ta’ala (Q.S; An Nisa:
116). Termasuk dalam hal ini, meminta pertolongan dan berdoa kepada orang mati
serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.
2. Siapa yang menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara kepada Allah,
memohon kepada mereka syafaat, serta sikap berserah diri kepada mereka, maka
berdasarkan ijma’ dia telah kafir.
3. Siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran
mereka, bahkan membenarkan ajaran mereka, maka dia telah kafir.
4. Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu
`alaihi wa sallam lebih sempurna dan lebih baik. Meyakini ada suatu hukum atau
undang-undang yang lebih baik dibandingkan syariat Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam, serta lebih mengutamakan hukum taghut (buatan manusia) dibandingkan
ketetapan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.
5. Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam,
meskipun dia mengamalkannya. (Q.S; Muhammad: 9).
6. Siapa yang mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah shallallahu `alaihi
wa sallam, misalnya; mengolok-olokan pahala atau balasan yang akan diterima maka dia
telah kafir. (Q.S; At-Taubah: 65-66)
7. Melakukan sihir, diantaranya “As-sharf” (mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi
benci kepada istrinya) dan “Al Athaf” (Menjadikan seseorang senang terhadap apa yang
sebelumnya dia benci) atas bantuan syaitan.
Siapa yang melakukan kegiatan sihir atau ridha dengannya maka dia kafir. (Q.S; Al
Baqarah: 102)
8. Mengutamakan orang kafir serta memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang
musyrik lebih dari pada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum
muslimin. (Q.S; Al Maidah: 5)
9. Beranggapan bahwa manusia bisa leluasa keluar dari syariat Muhammad shallallahu
`alaihi wa sallam. (Q.S; Ali Imran: 85)
10. Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena tidak
mau mengamalkannya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala. (Q.S; As-Sajadah: 22).










BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada akhirnya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, makna LAA ILAAHA ILLALLAH
yang pada intinya adalah pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah
ta'ala semata.
Syahadatain merupakan fondasi atau asas dari bangunan keislaman seorang muslim.
Jika fondasinya tidak kuat maka rumahnya pun tidak akan kuat bertahan.
Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh,
inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena
terdiri dari 2 kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat).
Kalimat pertama menunjukkan pengakuan tauhid. Artinya, seorang muslim hanya
mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang
menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan kalimat pertama,
seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allâh sebagai tujuan, motivasi, dan
jalan hidup.
Kalimat kedua menunjukkan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh.
Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran
Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti misalnya meyakini hadist-
hadis Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai klaim kerasulan
setelah Muhammad saw.

3.2 Saran
 Memberikan penjelasan yang dapat dengan mudah dimengerti
 Tidak terburu-buru memberikan penjelasannya agar mudah dipahami