You are on page 1of 35

Skizofrenia Paranoid

Andy Santoso Hioe
102011314
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara no.6 - Jakarta Barat
selfoneria@gmail.com
Pendahuluan
Skizofrenia merupakan sebuah sindorm klinis psikopatologi yang menyangkut
kognisi, emosi, persepsi, dan aspek lain dari perilaku. Ekspresi dari manifestasi ini bervariasi
pada pasien dan waktu, tetapi efek penyakit selalu parah dan biasanya bertahan lama.
Gangguan biasanya mulai sebelum umur dua puluh lima tahun, menetap dalam kehidupan,
dan mempengaruhi individu dalam berbagai tingkat. Pasien dan keluarganya sering menderita
dari pelayanan yang buruk dan pengucilan masyarakat karena penolakan terhadap gangguan
ini. Meskipun skizofrenia dibicarakan sebagai satu penyakit, skizofrenia mungkin terdiri dari
sekelompok gangguan dengan etiologi berbagai macam., dan termasuk pasien dengan
manifestasi klinik, penatalaksanaan, respons bervariasi. Klinisi harus menghargai bahwa
diagnosis skizofrenia didasarkan sepenuhnya pada anamnesis psikiatri dan pemeriksaan
status mental.
1

Anamnesis
Data khusus psikiatrik yang dihasilkan dari suatu pemeriksaan psikiatrik ialah data
perihal fungsi kejiwaan, yang diperoleh melalui observasi penampilan dan perilaku pasien,
pengamatan interaksi antara dokter dan pasien, pengamatan interaksi antara pasien dan
lingkungannya, dan pemahaman humanistic sang dokter mengenai pasiennya. ―Alat
pemeriksaan‖ psikiatrik adalah kepribadian dokter sendiri. Pemeriksaan ini diarahkan, dan
data diungkapkan dalam pembicaraan antara dokter dan pasien, yang disebut wawancara
psikiatrik.
1-3

Wawancara merupakan wadah utama pemeriksaan psikiatrik. Secara teknis sukar
dipisahkan, misalnya antara anamnesis dan pemeriksaan khusus psikik, dan antara bidang-
bidang khusus pemeriksaan psikik. Sambil membicarakan keluhan-keluhannya, pasien akan
berbicara dengan nada emosiaonal tertentu, mengutarakan pikiran-pikiran tertentu, dan
memperlihatkan perilaku motorik tertentu pula. Dari satu pernyataan dapat diperoleh respons
pasien atau data pada beberapa bidang sekaligus, juga dari isi pernyataan itu dan cara
menyatakannya.
1-3

Perilaku pasien di hadapan dokter sebagian besar merupakan respons terhadap apa
yang dikatakan oleh dokter dan bagaimana dokter mengatakan itu, sikap dokter, dan
bagaimana pendapat pasien mengenai perilaku dan kepribadian dokter. Agar wawancara
dapat mengahasilkan data yang dapat diandalkan hendaknya senantiasa diusahakan untuk
menciptakan dan memelihara hubungan yang optimal antara dokter dengan pasien.
Kepentingan memelihara hubungan ini mendahului kepentingan memroleh data, karena
bagaimanapun data mengenai kejiwaan yang diperoleh tanoa hubungan yang optimal, dapat
mengelirukan kesan-kesan klinis tentang pasien. Jika kita ingin bertanya tentang gejala
pasien, senantiasa harus dipertimbangkan bilamana dan bagaimana kita akan menanyakan itu
kepada pasien. Jika konteksnya kurang tepat, misalnya jika pasien dipermalukan atau
tersinggung oleh pertanyaan itu dari pihak dokter (nyata tau tidak nyata), ia mungkin akan
menolak atau menyangkal, atau akan membuat-buat jawabannya.
1-3

Wawancara selalu mengandung tanggung jawab baik diagnostic maupun terapeutik.
Berhadapan dengan pasien, dokter memngaruhi pasiennya dengan sikap dan perkataannya,
dari saat ke saat membuat pasien lebih tenang atau lebih tegang, membuatnya lebih terbuka
atau lebih tertutup, membuatnya lebih percaya atau lebih curiga. Selalu ada pengaruh
terapeutik atau kontraterapeutik dalam proses wawancara, tidak pernah netral.
1-3

Wawancara merupakan teknik yang diterapkan oleh dokter terhadap pasien untuk
tujuan diagnmostik dan/atau terapeutik, tidak hanya menghasilkan pengaruh dokter terhadap
pasien melainkan juga sebaliknya. Disadari atau tidak, seorang dokter akan terpengaruh pula
oleh sikap dan perkataan pasien; hal ini akan tercemin dalam sikap, perkataan dan perasaan
dokter. Dipicu oleh sikap dan kelakuan pasien-apsien terhadapnya (belum lagi dipicu oleh
kehidupan fantasinya sendiri)m dokter dapat menjadi tegang, tenang, kuatir, santai, tertutup,
terbuka, bosan, kesal, sedih, malu, terangsang, dll, yang turut menentukan apa yang dikatakan
seorang dokter terhadap pasiennya (atau tidak dikatakannya), dan bagaimana dokter
mengatakannya. Dokter perlu belajar untuk memantau perasaan-perasaan reaktif tersebut,
agar ucapan-ucapannya kepada pasien sedapat-dapatnya beralasan professional dan sesedikit
mungkin tercampur dengan unsur-unsur yang berasal dari respons emosional subjektifnya
sendiri.
1-3

Pada umumnya wawancara akan efektif jika berlangsung dengan ―alamiah‖, dengan
nada yang mirip ―percakapan biasa‖, tidak kaku atau seperti pertanyaan gaya kuesioner yang
―ditembakkan‖ kepada pasien. Wawancara akan lebih efektif bila tidak memberi kesan bahwa
dokter ―memburu‖ gejala, rajin berusaha menemukan dan mengumpulkan sifat-sifat
psikopatologik saja pada pasiennya, bahkan kadang-kadang dengan mencoba
―memprovokasi‖ gejala-gejala itu.
1-3

Riwayat psikiatrik adalah catatan tentang riwayat penyakit, gangguan jiwa, dan
riwayat hidup pasien yang diperlukan untuk memahami siapa pasiennya, darimana pasiennya
berasal dan kira-kira akan ke arah mana pasien selanjutnya pada masa mendatang. Riwayat
ini didapatkan selama wawancara psikiatrik, diceritakan oleh pasien dari sudut pandang
pasien sendiri. Kadangkala diperlukan keterangan tambahan dari sumber lain seperti orang
tua atau pasangan hidup pasien.
1-3

Hal-hal yang ditelusuri dalam pengumpulan keterangan tentang riwayat penyakit
adalah data konkret tentang kronologi gejala atau gangguan yang dialami pasien, riwayat
tentang gangguan psikiatrik dan medis, ciri-ciri kepribadian termasuk kekuatan dan
kelemahan pasien, hubungan pasien dengan orang-orang yang dekat dengan dirinya di masa
sekarang dan masa lampau, serta riwayat perkembangan pasien.
1-3

Teknik yang paling penting dalam melakukan wawancara psikiatrik adalah dengan
perkataannya sendiri, sesuai dengan urutan yang dirasakannya penting. Terapis perlu cukup
sensitive untuk mendeteksi hal-hal bermakna yang ingin disampaikan pasien. Terpis harus
terampil untuk bertanya-tanya dan menelusuri lebih lanjut tentang hal-hal bermakna yang
diungkapkan pasien baik yang tersurat ataupun yang tersirat dalam mencertiakan riwayat
psikiatrik dan status mentalnya.
1-3

Pemeriksaan psikiatrik dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai
pasien sebagai pribadi, jiwa dan raga yang tak terpisahkan, bukan semata-mata untuk
menentukan ―keadaan jiwanya‖ atau ―apa penyakit jiwanya‖. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan oleh seorang pemeriksa agar dapat memberikan penatalaksanaan psikiatrik
adalah:
1. Memiliki pengertian yang jelas mengenai data-data mana yang diperlukan untuk
memahami kasus yang dihadapi.
1-3

2. Sanggup melaksanakan pemeriksaan secara berkesinambungan dan berarah tujuan.
1-3

3. Menghadapi pasien dengan keikhlasan dan minat untuk menolong.
1-3

4. Kesediaann untuk mencurahkan waktu dan tenaga yang diperlukan untuk meletakkan
hubungan yang baik demi penanggulangan persoalan yang dihadapi pasien (demi
keberhasilan terapi).
1-3

Pemeriksa membuka percakapan wawancara dengan perkenalan yang dilanjutkan
dengan pengambilan anamnesis yang terdiri atas keluhan utama, hal mengenai penyakit saat
ini, riwayat lampau, dan riwayat keluarga. Garis besar riwayat psikiatrik yang perlu
didapatkan dalam pemeriksaan adalah:
1-3

I. Data Pribadi
Perlu dikumpulkan data demografi pasien berupa nama, alamat, umur, jenis
kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, dan agama, dan
data lainnya yang berhubungan dengan kehidupan pasien saat ini. Catat pula
tempat dan situasi saat dilakukan wawancara terhadap pasien, sumber informasi,
dan apakah gangguan yang dialami pasien adalah gangguan yang pertama kali
dialami pasien. Perlu pula diketahui apakah pasien datang sendiri, dibawa oleh
anggota keluarganya, atau dikonsultasikan oleh sejawatnya.
1-3

II. Keluhan Utama
Pertanyaan pembuka dapat diberikan seperti: ―Bagaimana saya bias menolong
saudara?‖, ―Gangguan apa yang saudara alami?‖. Pada umumnya pembukaan
seperti ini akan memicu pasien untuk bercakap bebas yang mengahsilkan
keterangan yang jauh lebih bermakna disbanding dengan suatu prosedur Tanya
jawab yang formal. Pasien dibiarkan untuk menceritakan segalanya dengan gaya
dan caranya sendiri. Kekurangan dan perincian data dapat dilengkapi dan diisi
kemudian dengan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut.
1-3

Keluahn utama dapat bersifat kabur seperti: ―perasaan tegang, ragu, firasat
yang aneh‖, serta dapat pula tegas dan menyolok, misalnya: pasien menyatakan
bahwa ada orang-orang jahat berkomplot untuk membunuhnya. Seringkali pasien
mengemukakan sejumlah gejala somatic, sakit kepala, sakit pinggang, mual,
muntah, sesak nafas. Pada saat itu pemeriksa tentu tidak dapat mengetahui sampai
dimana gejala-gejala ini berhubungan dengan kelainan organic atau merupakan
reaksi atas situasi hidup, atau berakar pada konflik emosional yang mendalam di
masa awal kehidupannya. Ada pula pasien yang tidak mengemukakan keluhan
tertentu atau mengaku tidak menderita apa-apa, rupanya ia puas dengan kehidupan
fantasinya, tetapi keluhan datang dari pihak keluarga, sahabat, kerabat lain yang
kuati tentang perilaku pasien. Bila pasien tidak berbicara, deskripsikan keadaan
yang dijumpai pada saat wawancara.
1-3

III. Riwayat Gangguan Sekarang
Apabila pasien cukup kooperatif hendaknya diceritakan oleh pasien menurut
caranya sendiri, dan baru kemudian dilengkapi dan diatur kronologiknya dengan
pertanyaan-pertanyaan khusus. Penting ditanyakan keterangan mengenai sifat dan
awitan timbulnya penyakit. Pada umumnya prognosis lebih baik bagi kelainan
yang akut dan dramatic, dibandingkan dengan kelainan yang berkembang lambat
laun atau kelainan yang pada awalnya hampir tidak ketahuan. Prognosis juga
relative lebih baik apabila awal bertepatan dengan kejadian nyata yang dahsyat di
lingkungan, dan tidak begitu baik apabila timbulnya seolah-olah tanpa kaitan jelas
dengan sesuatu kejadian di lingkungan. Keterangan perihal penyakit sekarang
hendaknya memberi kepada pemeriksa suatu gambaran tentang awal dan
perkembangan penyakitnya, riwayat keluhannya sekarang secara kronologis dan
menyeluruh, awitan dan faktor presipitasi, alasan berobat. Perlu pula dinilai faktor
lingkungan hidup menjelang awitan gejala/perubahan perilaku, perkembangan
gejala, termasuk gejala yang tidak ada, latar belakang kepribadian, presipitasi di
masa lampau. Dapatkan data-data mengenai dampak gangguan terhadap
kehidupan pasien sekarang, sifat disfungsinya. Eksplorasi pula kemungkinan
adanya gejala psikofisiologis, kaitan timbale balik antara gejala/faktor psikologis
dan gejala fisik, keuntungan sekunder, serta kecemasan dan sifatnya.
1-3

IV. Riwayat Gangguan Sebelumnya
Ini Merupakan keterangan mengenai segala kejadian yang pernah dialami pasien
dari lingkungan luar maupun dari dalam dirinya, dan reaksi-reaksi terhadapnya.
Sambil bertambahnya keterangan riwayat pasien, muncullah suatu gambaran
keseluruhan mengenai karakteristik kehidupan pasien, mengenai kepribadiannya,
dan pola raksinya terhadap peristiwa-peristiwa yang dihadapinya. Benih
psikop[atologi sering dapat dilacak dan ditemukan dalam fase-fase dini kehidupan
pasien, sehingga pemeriksa senantiasa harus mengusahakan mendapat keterangan
sejak masa anak.
1-3

Riwayat masa lampau meliputi: kelahiran dan tumbuh kembang; riwayat
kesehatan; riwayat sekolah atau pendidikan; riwayat pekerjaan, minat, kebiasaan;
kejadian penyakit seperti ini sebelumnya; perkembangan aseksual; perkawinan.
1-3

- Riwayat gangguan psikiatrik : Episode terdahulu gejala, derajat disfungsi,
terapi, lama gangguan, kepatuhan terapi perhatian khusus pada episode pertama
1-3
.
- Riwayat gangguan medik : Penyakit medic, bedah, trauma, yang
memerlukan perawatan trauma kepala, penyakit neurologis, tumor, kejang,
gangguan kesadaran, HIV, sifilis, gangguan psikosomatik.
1-3

- Penggunaan zat psikoaktif : Stimulan, alkohol, morfin, dll.
1-3

V. Riwayat Hidup
Data yang perlu diacatat adalah kehamilan direncanakan atau tidak, bagaimana
proses kelahiran, cedera lahir, kesehatan ibu selama kehamilan, kondisi emosi ibu
sewaktu melahirkan, dan penggunaan obat oleh ibu sewaktu kehamilan.
1-3

- Riwayat pekerjaan
Jenis pekerjaan, konflik, ambisis perasaan terhadap pekerjaan, sikap terhadap
teman sejawat, atasan, riwayat pekerjaan.
1-3

- Riwayat perkawinan
Lamanya, sifat, konflik, perceraian, keakraban, cekcok, harapan terhadap
pasangan, aspek positif dan negate dari perkwainannya, kegagalan perkawinan
masa lalu, keberhasilannya, sikap terhadp kemampuannya.
1-3

- Agama
Latar belakang agama, pendidikan, sikap terhadap agamanya dan agama lain,
konflik terhadap pendidikan agama, aktivitas keagamaan, pandangan agamanya
terhadap gangguan jiwa, bunuh diri, moral keagamaan.
1-3

Apakah ia seorang ―moralis‖, yaitu orang yang menjalankan nilai agamamnya
sesuai keyakinannya, ataukah ia seorang ―moralizer’, yaitu orang yang
menggunakan nilai agama atau perilaku orang lain (seringkali disertai rasa diri
sendiri yang paling benar/suci).
1-3

- Aktivitas sosial
Hubungan sosial dan sifat, perkawanan dengan lawan jenis dan sejenis, apa yang
dicari dalam perkawanan, sifat terasing, antisosial, rasa takut, cemas bergaul,
teman akrab.
1-3

- Situasi kehidupan sekarang
Rumah tangga, tetangga, siapa yang tinggal serumah, pengaturan tempat tidur,
privasi, sumber keuangan, dana bila pasien dirawat, siapa yang menjaga anak.
1-3

- Riwayat hukum
- Pernah ditangkap, tindak kejahatan, sikap terhadap hokum, riwayat tindak
kekerasan.
1-3

- Riwayat psikoseksual
Awal pengetahuan tentang seks, sikap orang tua, riwayat pencederaan / pelecehan
seks, awitan pubertas, persaannya, masturbasi, sikap terhadap seks, orientasi
seksual, problem seksual, paraphilia, sikap terhadp pelbagai atau cara aktivitas
seks, hubungan seks di luar pernikahan, kontrasepsi dan pandangannya, penyakit
akibat hubungan seks, promiskuitas
1-3

- Riwayat Keluarga
Keluarga dan kenalan pasien suka memberi arti yang berlebih pada faktor
keturunan dan adanya kejadian penyakit jiwa dalam keluarga dan pada generasi
sebelumnya. Memang, data dan keterangan perihal anggota-anggota keluarga
turunan dan kolateral adalah penting, dan pemeriksa hendaknya memperhatikan
dengan saksama adanya kejadian psikosis, neurosis, bunuh diri, retardasi mental,
epilepsy, ketergantungan obat dan alkohol, dll. Kadang dapat diduga keras adanya
sifat herediter namun lebih sering Nampak kehidupan dan suasana keluarga
sebagai pengaruh lingkungan yang memainkan peranan penting dalam terjadinya
gangguan kejiwaan individu; misalnya anak-anak dapat meniru manifestasi
psikotik dan neurotic pada anggota-anggota keluarga. Riwwayat keluarga
semestinya juga meliputi data mengenai hal-hal seperti hubungan antar-anggota
keluarga, antar keluarga dengan kesukaan, ketidaksukaan, ketegangan, loyalitas,
ketergantungan, atau sengketa yang terjadi. Perlu dicatat pula penyakit dalam
keluarga, sifat nanggota keluarga, mertua, latar belakang keluarga, sikap keluarga
terhadap penyakit pasien.
1-3

VI. Mimpi, Fantasi dan Nilai-Nilai
Tanyakan kepada pasien tentang mimpi buruk berulang, fantasi, khayalan tentang
masa depan, nilai pribadi tentang moral.
1-3


Anamnesis tidak pernah dapat dianggap selesai dan selalu harus dibiarkan terbuka
untuk menampung data tambahan yang sewaktu-waktu akan terungkap.
1-3

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang kita lakukan bertujuan untuk mengetahui penyebab dari
gangguan psikiatri tersebut serta untuk menyingkirkan differential diagnosis.
1,2
1. General: Mood, tingkat perkembangan, ras dan jenis kelamin. Tulis jika kondisi
pasien distres atau dalam posisi yang tidak biasa misal duduk dengan bersandar ke
depan (posisi yang umum terlihat pada pasien PPOK eksaserbasi akut atau
pericarditis). Catat jika pasien tampak lebih tua atau muda dari umur sebenarnya.
1-5

2. Tanda Vital: Suhu (oral, rektal, axila atau telinga), nadi, respirasi, tekanan darah
(mencakup lengan kanan, lengan kiri, berbaring, duduk, berdiri), berat badan, tinggi
badan dan BMI. Selalu mencakup tekanan darah dan denyut jantung posisi supine dan
setelah pasien berdiri selama 1 menit jika terjadi penurunan volume darah (perdarahan
gastrointestinal, pankreatitis, diare atau muntah) atau jika dicurigai insufisiensi
autonomik terutama pada pasien yang dilaporkan pusing atau sinkop.
1-5

3. Kulit: Ruam, erupsi, skar, tato, tahi lalat, pola rambut.
1-5

4. Nodi lymphatika: Lokasi (kepala dan leher, supraclavicula, epitrochlear, axilla,
inguinal, ukuran, nyeri tekan, motilitas, konsistensi.
1-5

5. Kepala: bentuk dan ukuran, nyeri tekan, trauma, bruit. Pasien pediatrik: ubun-ubun,
sutura.
1-5

6. Mata: Konjungtiva, sklera, kelopak, posisi mata pada orbit, ukuran, bentuk, reaksi
pupil, gerakah otot extraocular mata, visus, medan penglihatan, fundus (warna,
ukuran, margin, cuppong, pulsasi vena mata, perdarahan, eksudat, rasio A – V, takik).

1-5

7. Telinga: Tes pendengaran, nyeri tekan, discharge, kanal eksternal, membran timpani
(intak, tumpul atau berkilau, bulging, motilitas, cairan atau darah, injeksi).
1-5

8. Hidung: Simetris, palpasi diatas sinus frontalis, maxilla dan ethmoid, inspeksi
sumbatan, lesi, eksudat, inflamasi. Pasien pediatrik: bunyi sengau (nasal flaring),
mendengkur (grunting)
1-5

9. Tenggorokan: Bibir, gigi, gusi, lidah, pharing (lesi, eritema, eksudat, ukuran tonsil,
kripta).
1-5

10. Leher: Gerakan (Range of Motion), nyeri tekan, tekanan vena jugularis, nodi
limfatika, pemeriksaan thyroid, lokasi laring, bruit carotid, HJR. Catat tekanan vena
jugulasi dalam centimeter diatas atau di bawah sudut sternum, misal ―1 cm di atas
sudut sternum‖ dari pada ―tidak ada peningkatan tekanan vena jugularis‖.
1-5

11. Thorax: Simetri gerakan respirasi, retraksi intercostal, palpasi nyeri tekan, fremitus
dan pelebaran dinding dada, perkusi (mencakup pergerakan diafragma diantara
pernapasan inspitasi tidal dan penuh, suara nafas, suara nafas tambahan (rale, ronki,
whezing, krepitasi). Jika indikasi: vokal fremitus, whispered pectoriloquy, egophony
(ditemukan dengan konsolidasi).
1-5

12. Jantung: detak, inspeksi dan palpasi precordium pada titik dengan impulse maksimal,
impulse apical dan thrill, auskultasi apex, LLSB dan pada kanan dan kiri SIC 2
dengan diafragma dan apex dan LLSB dengan bell. Juga pada apex dengan bell pada
pasien dengan posisi decubitis lateral kiri dan pada SIC ketiga dan keempat dengan
diafragma pada posisi pasien duduk, disandarkan kedepan dan ekhalasi penuh.
1-5

13. Payudara: Inspeksi discharge pada putting,inversi, eksoriasi dan fissura dan skin
dimpling atau pendataran kontur, palpasi massa, nyeri tekan, ginekomastia pada laki-
laki.
1-5

14. Abdomen: Bentuk (scaphoid, flat, distensi, obesitas), pemeriksaan skar, auskultasi
suara usus dan bruit,perkusi timpani dan massa, ukuran hepar (dari garis
midclavikular), nyeri tekan sudut costo vertebral, palpasi nyeri tekan (jika ada, check
rebound tenderness), ascites, hepatomegali, splenomegal, guarding, adenopathy
inguinal.
1-5

15. Genitalia pria: inspeksi lesi penis, pembengkakan scrotum, testis (ukuran, nyeri tekan,
massa, varicocel) dan hernia, transluminasi massa testikular.
1-5

16. Rektum: Inspeksi dan palpasi hemoroid, fissura, skin tags, tonus sphinter, massa,
terdapatnya feses atau tidak, pemeriksaan feses untuk perdarahan tersembunya. Pada
pria ukuran prostat dari ukuran kecil (1+) dan sangat besar (4+), nodul, nyeri tekan.
1-5

17. Muskuloskeletal: Amputasi, deformitas, pembengkakan sendi dan range of motion,
palpasi pembengkakan sendi, nyeri tekan dan kehangatan.
18. Pembuluh darah vaskular: Pola rambut, perubahan warna pada kulit, varicositis,
sianonis, clubbing, palpasi pada pulsasi pada radial, ulnar, brachial, femoral, poplitea,
posterior tibia, dorsalis pedis, pulsasi simultan radial, calf tenderness, Homans sign,
edema, auskultasi bruit femoral.
1-5

19. Neurologis: Terdapat 12 nervus kranial, fungsinya sebagai berikut:
1

 1 Olfactorius – pencium
 2 Optikus – Visus, medan penglihatan dan fundus, respon pupil afferen
 3,4,6 Oculamotorius, trochlear, abducen – respon pupil efferent, ptosis,
pergerakan mata volitional, pergerakan mata pursuit.
 5 Trigeminal – refleks kornea (afferent), sensasi facial, tes otot masseter dan
temporalis dengan cara pasien menggigit.
 7 Fasialis - menaikan alir, menutup mata, menunjukan gigi, senyum atau
bersiul, refleks kornea (efferent)
 8 Akustikus - mendengar, diperiksa dengan cara detak jam, gosokan jari, tes
Weber – Rinne. Jika terdapat gangguan pendengaran tulis pada riwayat atau
pada pemeriksaan.
 9, 10 glosopharingeal dan vagus – refleks gag, berbicara. Palatum bergerak
keatas pada garis tengah.
 11 Accesorius spinal, mengangkat bahu, dorong kepala melawan tekanan.
 12 Hypoglosus – gerakan lidah. Tes kekuatannya dengan menekan lidah
pasien dengan mukosa bucal pada tiap sisi saat anda menekankan jari pada
pipi pasien. Observasi jika ada fasikulasi.
20. Motorik: Periksa kekuatan pada ekstremitas atas dan bawah, bagian proksimal dan
distal (Derajat kekuatan: 5: gerakan aktif kuat dalam melawan tahanan yang kuat, 4,
gerakan aktif dalam melawan tahanan, 3 gerakan aktif melawan gravitasi, 2 gerakan
aktif tanpa melawan gravitasi, sedikit gerakan, 0 tidak ada gerakan sama sekali).
1-5

21. Cerebellum: Tes Romberg, tes tunjuk hidung.
1-5

22. Sensorik: Nyeri (tajam) atau suhu ekstremitas atas dan bawah distal dan proksimal,
getaran menggunakan garputala frekuensi 128 atah 256 Hz atau sensasi posisi pada
ekstremitas atas dan bawah bagian distal dan streognosis atau graphesthesia.
Identifikasi menggunakan dermatol dan diagram inervasi kutaneus.
1-5

23. Reflek: Brachioradialis dan biceps C5-6, triseps C7-8, abdominal (atas T8-10, bawah
T10-12), quadricep (lutut) L3-5, ankle S1-2 (4+ hiperaktif dengan klonus, 3+ aktif
dibanding yang umum, 2+ normal, 1+ terjadi penurunan atau kurang dari normal, 0
tidak ada). Periksa juga refleks patologis seperti Babinsku, Hofman, snout dan yang
lainnya. Pasien pediatrik: refleks moro, refleks menghisap.
1-5

Bentuk keluhan pasien merupakan hal penting dalam menetukan apakah sebuah
pemeriksaan fisik lengkap diperlukan atau tidak. Keluhan dibagi mejadi tiga kategori yaitu
tubuh, jiwa, dan interaksi sosial. Gejala fisik (contohnya sakit kepala dan palpitasi)
membutuhkan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk menentukan bagian mana, jika ada, dari
proses somatic yang menyebabkan distress. Hal yang sama dapat dilakukan pada gejala
mental seperti depresi, cemas, halusinasi, dan waham penyiksaan, dimana dapat menjadi
ekspresi dari proses somatic. Jika masalah secara jelas dibatasi pada masalah sosial
(contohnya kesulitan berinteraksi dengan guru, atasan, orang tua, atau pasangan hidup dalam
waktu yang lama), mungkin tidak terdapat indikasi khusus untuk pemeriksaan fisik.
Bagaimanapun, perubahan kepribadian dapat menjadi hasil dari kelainan medis (contohnya
penyakit Alzheimer) dan menyebabkan konflik interpersonal.
1-5

Bahkan pemeriksaan fisik yang rutin dikerjakan mungkin dapat menyebabkan reaksi
berlawanan; instrument, prosedur, dan runagan pemeriksaan mungkin dapat menyeramkan.
Sebuah penjelasan mudah akan apa yang akan dilakukan dapat mencegah kecemasan yang
tidak perlu. Lagipula, jika pasien secara konsisten diperingatkan tentang apa yang akan
dilakukan, ketakutan akan kejutan yang tiba-tiba dan menyakitkan akan berkurang. Perkataan
seperti ―Tidak ada apa-apa‖ dan ―Anda tidak perlu takut karena ini tidak akan menyakitkan‖
membuat pasien curiga dan tidak yakin daripada perkataan tentang apa yang sebenarnya akan
dilakukan nanti.
1-5

Meskipun pemeriksaan fisik terlihat menimbulkan atau menguatkan reaksi dari
kecemasan, hal ini dapat juga membangkitkan perasaan seksual. Beberapa wanita dengan
ketakutan atau fantasi yang merangsang dapat menyalahartikan sebuah gerakan biasa dalam
pemeriksaan fisik sebagai pendekatan seksual. Sama seperti hal tadi, pria yang mempunyai
waham dengan ketakutan homoseksual mungkin menganggap digital rectal examination
sebagai pelecehan seksual. Pemeriksaan yang bertele-tele pada organ tertenu karena variasi
normal yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu klinisi seperti mencari perhatian pada
pasien. Reaksi-reaksi apapun mungkin dapat bermakna –ada pasien cemas dan
hipokondriasis.
1-5

Pemeriksaan fisik kadang-kadang dapat berfungsi sebagai terapi psikoterapeutik.
Pasien cemas dapat menjadi lega karena, alih-alih gejala yang mengerikan, tidak ada bukti
yang ditemukan yang menunjukkan penyakit yang mereka takutkan. Dewasa muda yang
mengeluh sakit dada dan yakin bahwa sakit itu disebabkan oleh serangan jantung biasanya
dapat diyakinkan oleh laporan penemuan normal setelah pemeriksaan fisik dan EKG.
Keyakinan tersebut hanya melegakan kecemasan yang ditimbulkan oleh episode yang akut.
Meskipun terapi psikiatri sukses dalam menangani determinan dari reaksi, episode rekuren
dapat terjadi.
1-5




Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien tersebut sebaiknya
menyingkirkan penyakit organic yang ada baru dapat masuk menuju diagnosis jiwa. Berikut
pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
2-4
a) CT-Scan
Atrofi kortikal pada 10-35% pasien; pembesaran ventrikel III dan lateral pada 10-15%
pasien; atrofi vermis serebral dan turunnya radiodensitas parenkim otak. Mungkin ada
korelasi antara CT scan abnormal dan adanya gejala negatif ( misal, afek datar,
withdrawal sosial, retardasi psikomotor, kurang motivasi ), gangguan neuropsikiatrik,
naiknya frekuensi gejala ekstrapiramid akibat obat antipsikotik, dan riwayat premorbid
lebih buruk.
2-4

b) Positron emision tomography ( PET )
Pada sebagian, turunnya metabolisme lobus frontal dan parietal, metabolisme posterior
relatif tinggi, dan lateralitas abnormal.
2-4

c) Aliran darah serebral ( CBF = cerebral blood flow )
Pada sebagian, kadar istirahat frontal turun, aliran darah parietal naik, dan alran darah
otak keseluruhan turun. Bila studi PET dan CBF digabungkan dengan CT-Scan,
disfungsi lobus frontal paling jelas terlibat. Disfungsi lobus frontal mungkin sekunder
terhadap patologi tempat lain di otak.
2-4

d) EEG
Umumnya pasien skizofren memiliki EEG normal, tapi sebagian menunjukkan turunnya
aktivitas alfa dan naiknya aktivitas teta dann delta gangguan paroksismal dan naiknya
kepekaan terhadap prosedur aktivasi, misal deprivasi tidur.
2-4

Diagnosis
Working Diagnosis
Skizofrenia Paranoid
Perjalanan penyakit pada skizofrenia tipe paranoid agak konstan. Jarang terjadi
hendaya dalam kemampuan fungsi sehari-hari apabila isi waham tidak disentuh. Biasanya
fungsi intelektual dan pekerjaan dapat dipertahankan walaupun gangguan tersebut bersifat
kronik. Fungsi sosial dan kehidupan perkawinannya pada umumnya cukup terganggu.
4
Pada skizofrenia paranoid gambaran utama yang menonjol adalah:
1
 Waham kejar atau waham kebesaran, misalnya kelahiran luar biasa (excited birth),
urusan penyelamat bangsa, dunia dan agama, seperti misalnya kenabian atau mesias,
perubahan tubuh atau halusinasi yang mengandung isi kerajaan/kebesaran.
 Sebagai tambahan, waham cemburu dapat pula ditemukan.
Gambaran penyertanya meliputi:
1-4
 Kecemasan tak berfokus.
 Kemarahan.
 Suka bertengkar/berdebat.
 Melakukan kekerasan.
 Kadang ditemukan kebingungan tentang identitas jenis atau ketakutan bahwa dirinya
diduga oleh orang lain sebagai orang-orang homoseksual.
Onset tipe ini cenderung timbul dalam usia yang lebih lanjut dibandingkan dengan
tipe lainnya, dan ciri-cirinya lebih stabil dalam jangka panjang. Apabila seseorang penderita
skizofrenia tipe paranoid mempunyai keluarga yang menderita skizofrenia biasanya anggota
keluarganya menderita skizofrenia tipe paranoid.
2-4

Kriteria Diagnostik Skizofrenia Paranoid
a. Waham kejar.
b. Waham besar.
c. Waham cemburu.
d. Halusinasi yang berisi kejaran atau kebesaran.
Diagnosis skizofrenia paranoid diberikan kepada sejumlah besar pasien yang akhir-
akhir ini dirawat di rumah sakit jiwa. Kunci diagnosis ini adalah adanya waham. Waham
kejaran adalah yang paling umum, namun pasien dapat mengalami waham kebesaran, di
mana mereka memiliki rasa yang berlebihan mengenai pentingnya, kekuasaan, pengetahuan,
atau identitas diri mereka. Beberapa pasien terjangkit waham cemburu, suatu keyakinan yang
tidak herdasar bahwa pasangan seksual mereka tidak setia. Waham lain yang disebutkan
terdahulu, seperti merasa dikejar atau dimata-matai, juga dapat terlihat jelas.
5
Halusinasi pendengaran yang jelas dan nyata dapat rnenyertai waham. Para pasien
yang menderita skizofrenia paranoid sering kali mengalami ideas of reference; mereka
memasukkan berbagai peristiwa yang tidak penting ke dalam kerangka waham dan
mengalihkan kepentingan pribadi mereka ke dalam aktivitas tidak berarti yang dilakukan
orang lain. Contohnya, mereka mengira bahwa potongan percakapan yang tidak sengaja
mereka dengar adalah percakapan tentang diri mereka, bahwa sering munculnya orang yang
sama di suatu jalan yang biasa mereka lalui berarti mereka sedang diawasi, dan bahwa apa
yang mereka lihat di televisi atau baca di majalah dengan satu atau lain cara merujuk pada
mereka. Para individu yang mengalami skizofrenia paranoid selalu cemas„.argumentatif,
marah, dan kadang kasar. Secara emosional mereka responsive, meskipun mereka kaku,
formal, dan intens kepada oranglain. Mereka juga lebih sadar dan verbal disbanding para
pasien skizofrenia tipe lain. Bahasa yang mereka gunakan meskipun penuh rujukan pada
delusi, tidak mengalamai disorganisasi. Bila ada pasien skizofrenia yang mengalami masalah
hukum, biasanya mereka dari kelompok yang menderita subtipe paranoid.
5
Differential Diagnosis
Gangguan Waham
Waham adalah keyakinan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan yang tetap
dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal
dari pemikiran orang tersebut yang sudah kehilangan kontrol.
5
Faktor yang mempengaruhi terjadinya waham adalah:
5

1. Gagal melalui tahapan perkembangan dengan sehat
2. Disingkirkan oleh orang lain dan merasa kesepian
3. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang lain
4. Perpisahan dengan orang yang dicintainya
5. Kegagalan yang sering dialami
6. Keturunan, paling sering pada kembar satu telur
7. Sering menggunakan penyelesaian masalah yang tidak sehat, misalnya menyalahkan
orang lain.
Terdapat beberapa jenis waham antara lain:
5
1. Waham Agama yaitu keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan.
2. Waham Kebesaran yaitu keyakinan klien yang berlebihan tentang kebesaran dirinya
atau kekuasaan.
3. Waham Somatik yaitu klien yakin bahwa bagian tubuhnya tergannggu, terserang
penyakit atau didalam tubuhnya terdapat binatang.
4. Waham Curiga yitu klien yakin bahwa ada orang atau kelompok orang yang sedang
mengancam dirinya.
5. Waham Nihilistik yaitu klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di dunia atau
sudah meninggal dunia.
6. Waham Sisip pikir yaitu klien yakin bahwa ada pikiran orang lain yang
disisipkan/dimasukan kedalam pikirannya.
7. Waham Siar pikir yaitu klien yakin bahwa orang lain megetahui isi pikiranya, padahal
dia tidak pernah menyatakan pikiranya kepada orang tersebut.
8. Waham Kontrol pikir yaitu klien yakin bahwa pikiranya dikontrol oleh kekuatan dari
luar.
Gejala Klinis
1. Kognitif
• Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
• Individu sangat percaya pada keyakinannya
• Sulit berfikir realita
• Tidak mampu mengambil keputusan

2. Afektif
• Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
• Afek tumpul
3. Prilaku dan Hubungan Sosial
• Hipersensitif
• Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
• Depresif
• Ragu-ragu
• Mengancam secara verbal
• Aktifitas tidak tepat
• Streotif
• Impulsive
• Curiga
4. Fisik
• Higiene kurang
• Muka pucat
• Sering menguap
• BB menurun
• Nafsu makan berkurang dan sulit tidur
Psikotik Akut
Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu
menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku
kacau/aneh. Gangguan psikotik singkat/akut didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan
yang terjadi selama 1 hari sampai kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan dapat
kembali ke tingkat fungsional premorbid.
6
Gangguan psikosis akut dan sementara adalah sekelompok gangguan jiwa yang
meliputi:
2

• Onsetnya akut ( 2 minggu dari keadaan premorbid yang normal)
• Sindrom polimorfik
• Ada stresor yang jelas
• Tidak memenuhi kriteria episode manik atau depresif
• Tidak ada penyebab organik
Beberapa pembagian dalam Gangguan Jiwa Gangguan Psikosis Akut dan Sementara:
5
1. Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa Gejala Skizofrenia
- Onset harus akut (dari suatu keadaan non psikotik sampai keadaan psikotik yang
jelas dalam kurun waktu 2 minggu atau kurang);
- Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah dalam jenis dan
intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama ;
- Harus ada keadaan emosional yang beranekaragamnya
- Walaupun gejala-gejalanya beraneka ragam, tidak satupun dari gejala itu ada secara
cukup konsisten dapat memenuhi kriteria skizofrenia atau episode manik atau
episode depresif.
2. Gangguan Psikotik Polimorfik Akut dengan Gejala Skizofrenia
- Memenuhi kriteria yang khas untuk gangguan psikotik polimorfik akut.
- Disertai gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk diagnosis Skizofrenia yang
harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis
psikotik itu secara jelas.
- Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka diagnosis
harus diubah menjadi skizofrenia.
3. Gangguan Psikotik Lir – Skizofrenia Akut
Suatu gangguan psikotik akut dengan gejala yang stabil dan memenuhi kriteria
skizofrenia, tetapi hanya berlangsung kurang dari satu bulan lamanya. Pedoman
diagnosis pada gangguan psikotik lir ini adalah dengan onset psikotik yang akut yaitu
kurang atau dua minggu, memenuhi criteria skizofrenia tetapi masih kurang dari 1
bulan, dan tidak memenuhi criteria psikosis polimorfik akut.
4. Gangguan Psikotik Akut Lainnya dengan Predominan Waham
Gambaran klinis berupa waham dan halusinasi yang cukup stabil, tetapi tidak
memenuhi skizofrenia. Sering berupa waham kejar dan waham rujuk, dan halusinasi
pendengaran.

Etiologi


Etiologi dari skizofrenia masih belum ditemukan. Ada beberapa hasil penelitian yang
dilaporkan saat ini:
5-7

1. Biologi
Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang patognomonik ditemukan pada
penderita skizofrenia. Meskipun demikian beberapa gangguan organik dapat
terlihat (telah direplika dan dibandingkan) pada subpopulasi pasien. Gangguan
yang paling banyak dijumpai yaitu pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang stabil
yang kadang-kadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit, atrofi bilateral lobus
temporalis medial dan lebih spesifik yaitu gyrus parahppocampalis, hippocampus
dan amigdala, disorientasi spasial sel pyramid hipokampus, dan penurunan
volume korteks prefrontal dorsolateral. Beberapa penelitian melaporkan bahwa
semua perubahan ini tampaknya statis dan telah dibawa sejak lahir (tidak ada
gliosis), dan pada beberapa kasus perjalanannya progresif. Lokasinya
menunjukkan gangguan perilaku yang ditemui pada skizofrenia; misalnya,
gangguan hipokampus dikaitkan dengan gangguan memori dan atrofi lobus
frontalis dihubungkan dengan gejala negatif skizofrenia. Penemuan lain yaitu
adanya antibody cytomegalovirus dalam cairan serebrospinal, limfosit atipikal tipe
P (terstimulasi), gangguan fungsi hemisfer kiri, gangguan transmisi dan
pengurangan ukuran korpus kalosum, pengecilan vermis cerebri, penuluran aliran
darah dan metabolisme glukosa di lobus frontal, kelainan EEG, sulit memusatkan
perhatian, dan perlambatan waktu reaksi, serta berkurangnya kemampuan
menamakan benda.
5-7

Pada individu yang berkembang menjadi skizofrenia terdapat peningkatan
insiden komplikasi persalinan, lebih besar kecenderungan lahir pada akhir musim
dingin atau awal musim panas, dan terdapat gangguan neurologi minor.
Kemaknaan penemuan-penemuan ini belum diketahui. Bagaimanapun, ini
menunjukkan adanya dasar biologic dan heterogenitas skizofrenia.
5-7

2. Biokimia
Etiologi biokimia skizofrenia belum diketahui. Hipotesis yang paling banyak yaitu
adanya gangguan neurotransmitter sentral yaitu terjadinya peningkatan aktivitas
dopamine sentral (hipotesis dopamine). Hipotesis ini dibuat berdasarkan tiga
penemuan utama:
5-7

- Efektivitas obat-obat neuroleptic (misalnya fenotiazin) pada skizofrenia, ia
bekerja memblok reseptor dopamine pasca sinaps (tipe D2).
5-7

- Terjadinya psikosis akibat penggunaan amfetamin. Psikosis yang terjadi sukar
dibedakan, secara klinis, dengan psikosis skizofrenia paranoid akut. Amfetamin
melepaskan dopamine sentral. Selain itu, amfetamin juga memperburuk
skizofrenia.
5-7

- Adanya peningkatan jumlah reseptor D2 di nucleus kaudatus, nucleus akumben,
dan putamen pada skizofrenia.
5-7

Penelitian mengenai reseptor D1, D4, dan D5, saat ini, tidak banyak memberikan
hasil. Teori lain yaitu peningkatan serotonin di susunan saraf pusat (terutama 5-
HT2a) dan kelebihan NE di forebrain limbic (terjadi pada beberapa penderita
skizofrenia). Setelah pemberian obat yang bersifat antagonis terhadap
neurotransmitter tersebut terjadi perbaikan klinis skizofrenia.
5-7

3. Genetika
Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara bermakna, kompleks
dan poligen. Sesuai dengan penelitian hubungan darah (konsanguinitas),
skizofrenia adalah gangguan yang bersifat familial. Semakin dekat hubungan
kekerabatan semakin tinggi risiko. Pada penelitian anak kembar, kembar
monozigot mempunyai risiko 4-6 kali lebih sering menjadi sakit bila dibandingkan
dengan kembar dizigot. Pada penelitian adopsi, anak yang mempunyai orang tua
skizofrenia diadopsi, waktu lahir, oleh keluarga normal, peningkatan angka
sakitnya sama dengan bila anak-anak tersebut diasuh sendiri oleh orang tuanya
yang skizofrenia. Frekuensi kejadian gangguan non psikotik meningkat pada
keluarga skziofrenia dan secara genetik dikaitkan dengan gangguan kepribadian
ambang dan skizotipal (gangguan spektrum skizofrenia), gangguan obsesif
kompulsif, dan kemungkinan dihubungkan dengan gangguan kepribadian
paranoid dan antisosial.
5-7

4. Faktor keluarga
Kekacauan dan dinamika keluargga memegang peranan penting dalam
menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi. Pasien yang pulang ke
rumah sering relaps pada tahun berikutnya bila dibandingkan dengan pasien yang
ditempatkan di panti penitipan. Pasien yang berisiko adalah pasien yang tinggal
bersama keluarga yang hostil, memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, sangat
protektif terhadp pasien, terlalu ikut campur, sangat pengeritik (disebut ekspresi
emosi tinggi). Pasien skizofrenia sering tidak dibebaskan oleh keluarganya.
5-7

Beberapa peneliti mengidentifikasi suatu cara komunikasi yang patologis dan
aneh pada keluarga-keluarga skizofrenia. Komunkasi sering samar-samar atau
tidak jelas dan sedikit tidak logis. Pada tahun 1956, Betson menggambarkan suatu
karakteristik ―ikatan ganda‖ yaitu pasien sering diminta oleh anggota keluarga
untuk merespons pesan yang bentuknya kontradiktif sehingga membingungkan.
Penelitian terbaru menyatakan bahwa pola komunikasi keluarga tersebut mungkin
disebabkan oleh dampak memiliki anak skizofrenia.
5-7

Epidemiologi
Sekitar satu persen penduduk dunia akan mengidap skizofrenia pada suatu waktu dalam
hidupnya. Di Indonesia diperkirakan satu sampai dua persen penduduk atau sekitar dua
sampai empat juta jiwa akan terkena penyakit ini. Bahkan sekitar sepertiga dari sekitar satu
sampai dua juta yang terjangkit penyakit skizofrenia ini atau sekitar 700 ribu hingga 1,4 juta
jiwa kini sedang mengidap skizofrenia.
1-3

Perbandingan antara laki-laki dan perempuan sama besar dan kebanyakan terjadi pada
usia antara 15-35 tahun dan sangat jarang pada usia kurang dari 10 tahun atau lebih dari 40
tahun. Tiga per empat dari jumlah pasien skizofrenia umumnya dimulai pada usia 10 sampai
25 tahun pada laki-laki. Pada kaum perempuan, skizofrenia biasanya mulai diidap pada usia
25 hingga 35 tahun. Penyakit yang satu ini cenderung menyebar di antara anggota keluarga
sedarah.
7
Manifestasi Klinik
Skizofrenia merupakan penyakit kronik dimana sebagian kecil dari kehidupan mereka
berada dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama (bertahun-tahun)
dalam fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama
periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan ―aneh‖. Gejala-gejala
penyakit biasanya terlihat jelas oleh orang lain.
1-5

Pasien dapat kehilangan pekerjaan dan teman karena ia tidak berminat dan tidak
mampu berbuat sesuatu atau karena sikapnya yang aneh. Pemikiran dan pembicaraan mereka
samar-samar sehingga kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Mereka mungkin mempunyai
keyakinan yang salah yang tidak dapat dikoreksi. Misalnya, mereka meyakini bahwa mereka
mempunyai suatu kekuatan dan sensitivitas khusus dan mempunyai pengalaman ―mistik‖.
1-5

Penampilan dan kebiasaan-kebiasaan mereka mengalami kemunduran serta afek
mereka terlihat tumpul. Meskipun mereka dapat mempertahankan intelegensia yang
mendekati normal, sebagian performa uji kognitifnya buruk.
1-5

Pasien dapat mengalami anhedonia yaitu ketidakmampuan merasakan rasa senang.
Pasien juga mengalami deteriorasi yaitu perburukan yang terjadi secara berangsur-angsur.
Episode pertama psikotik sering didahului oleh suatu periode misalnya perilaku dan pikiran
eksentrik (fase prodromal).
1-5

Kepribadian prepsikotik; dapat ditemui pada beberapa pasien skizofrenia yang
ditandai dengan penarikan diri dan terlalu kaku secara social, sangat pemalu, dan serung
mengalami kesulitan di sekolah meskipun IQ-nya normal. Suatu pola yang sering ditemui
yaitu keterlibatan dalam aktivitas anti-sosial ringan dalam satu atau dua tahun sebelum
episode psikotik. Beberapa pasien, sebelum didiagnosis sebagai skizofrenia, mempunyai
gangguan kepribadian skizoid, ambang, antisosial, atau skizotipal. Skizofrenia sering
memperlihatkan berbagai campuran gejala-gejala, tetapi dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu gejala primer dan sekunder.
1-5

Gejala-gejala primer skizofrenia terdiri dari gangguan proses pikiran, gangguan afek
dan emosi, gangguan kemauan, dan gejala psikomotor. Penjelasan mengenai gejala-gejala
primer dibahas di bawah ini:
1-5

1. Gangguan pikiran
Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran. Yang terganggu
terutama adalah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah
timbul ide lain. Atau terdapat pemindahan maksud, sebagai contoh yang dimaksud
―tani‖ tetapi dikatakan sawah. Selain itu, terdapat pula tanda-tanda gangguan proses
piker pada skizofrenia, antara lain asosiasi longgar, pemasukan berlebihan,
neologisme, terhambat, clang association, ekolalia, konkritisasi, dan alogia.
1-5

Tidak jarang pula digunakan arti simbolik, seperti dikatakan ―merah‖ bila
dimaksudkan ―berani‖. Clang association pada skizofrenia terjadi karena pikiran
sering tidak mempunyai tujuan tertentu, sebagai contoh piring-miring. Semua ini
menyebabkan bahwa jalan pikiran pada skizofrenia sukar atau tidak dapat diikuti dan
dimengerti. Hal ini dinamakan inkoherensi. Jalan pikiran mudah dibelokkan dan hal
ini menambah inkoherensinya.
1-5

Terkadang pikiran seorang skizofrenia terhambat (blocking), tidak timbul ide
lagi. Biasanya berlangsung beberapa detik saja, tetapi kadang-kadang sampai
beberapa hari.
1-5

Beberapa penderita mengalami seperti ada sesuatu yang lain di dalam dirinya
yang berpikir, timbul ide-ide yang tidak dikehendaki: tekanan pikiran (pressure of
thoughts); pemasukan berlebihan. Bila suatu ide berulang-ulang timbul dan diutarakan
olehnya dinamakan preservasi atau stereotipi pikiran.
1-5

Dalam gangguan isi pikir, pasien skizofrenia mengalami penurunan derajat
tilikan. Biasanya pasien tidak menyadari penyakitnya serta kebutuhannya terhadap
pengobatan, meskipun gangguan yang ada pada dirinya dapat dilihat oleh orang lain.

1-5

2. Gangguan afek dan emosi
Pasien skizofrenia dapat memperlihatkan berbagai emosi dan dapat berpindah dari
satu emosi ke emosi lain dalam jangka waktu singkat. Ada tiga afek dasar yang sering
(tetapi tidak patognomonik):
1-5

 Afek tumpul atau datar:
Ekspresi emosi pasien sangat sedikit bahkan ketika afek tersebut seharusnya
diekspresikan. Contohnya yaitu penderita menjadi acuh-tak-acuh terhadap hal-
hal yang penting untuk dirinya sendiri seperti keadaan keluarganya dan masa
depannya. Pasien tidak menunjukkan kehangatan dan perasaan halus sudah
hilang.
1-5

 Afek tak serasi:
Afeknya mungkin bersemangat atau kuat tetapi tidak sesuai dengan pikiran
dan pembicaraan pasien. Bentuknya berupa parathimi dan paramimi.
Parathimi merupakan afek pada keadaan dimana seharusnya menimbulkan
rasa senang dan gembira, pada penderita akan timbul rasa sedih atau marah;
sedangakan paramimi merupakan sebaliknya.
1-5

 Afek labil:
Dalam jangka pendek terjadi perubahan afek yang jelas.
1-5

3. Gangguan kemauan
1-5

Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak
dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindakdalam suatu keadaan. Mereka
selalu memberikan alasan, meskipun alasan itu tidak jelas atau tepat, sebagai contoh
bila ditanyai mengapa tidak maju dengan pekerjaan atau mengapa terus tiduran saja,
atau mereka menganggap hal itu biasa saja dan tidak perlu diterangkan.
1-5

Kadang-kadang penderita melamun berhari-hari lamanya, bahkan berbulan-bulan.
Perilaku demikian erat hubungannya dengan otisme dan stupor katatonik.
1-5

Pasien juga dapat mengalami negativisme dan ambivalensi kemauan. Negativisme
merupakan sikap atau perbuatan yang negatif atau berlawanan terhadap suatu
permintaan. Sedangkan ambivalensi kemuan adalah menghendaki dua hal yang
berlawanan pada waktu yang sama.
1-5

4. Gangguan psikomotor dan perilaku
Terdapat gejala-gejala katatonik pada pasien skizofrenia. Sebenarnya gejala katatonik
sering mencerminkan gangguan kemauan. Bila gangguan ringan maka dapat dilihat
gerakan-gerakan yang kurang luwes atau yang agak kaku. Penderita dalam keadaan
stupor tidak menunjukkan pergerakan sama sekali. Stupor ini dapat berlangsung
berhari-hari, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun lamanya pada skizofrenia
yang sudah menahun. Mungkin penderita mutistik. Mutisme dapat disebabkan oleh
waham, ada sesuatu yang melarang ia berbicara. Mungkin juga oleh karena sikapnya
yang negativistic atau karena hubungan penderita dengan dunia luar sudah hilang
sama sekali sehingga ia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.
1-5

Sebaliknya tidak jarang penderita dalam keadaan katatoni menunjukkan hiperkinesa,
ia terus bergerak saja dan sangat gelisah. Bila penderita terus menerus berbicara saja,
maka keaddaan ini dinamakan logorea. Kadang-kadang penderita mengalami
neologisme dan stereotipi.
1-5

Selain gangguan psikomotor, terlihat pula gangguan perilaku yang secara
nyata terlihat pada pasien skizofrenia. Berbagai perilaku tak sesuai atau aneh dapat
terlihat sebagai gerakan tubuh yang aneh, wajah dan menyeringai, perilaku ritual,
sangat ketolol-tololan, agresif, dan perilaku seksual yang tidak pantas. Kebanyakn
pasien mengalami kekambuhan, dalam bentuk episode aktif, secara periodic, dalam
kehidupannya, secara khas dengan jarak beberapa bulan atau tahun. Selama masa
pengobatan, pasien biasanya memperlihatkan gejala residual (sering dengan derajat
keparahan yang meningkat setelah beberapa tahun. Walaupun demikian, ada sebagian
kecil pasien yang mengalami remisi.
1-5

Sebagian besar pasien-pasien skizofrenia yang dalam keadaan remisi dapat
memperlihatkan tanda-tanda kekambuhan. Tanda-tanda awal tersebut meliputi
peningkatan kegelisahan dan ketegangan, penurunan nafsu makan, depresi ringan dan
anhedonia, tidak bias tidur, dan konsentrasi terganggu.
1-5

Gejala sekunder dari skizofrenia terdiri dari waham, tilikan, ilusi dan halusinasi. Di
bawah ini akan dijelaskan gejala-gejala sekunder dari skizofrenia.
1-5

1. Waham (delusi)
Waham adalah suatu kepercayaan palsu yang menetap yang tak sesuai dengan fakta
dan kepercayaan tersebut mugnkin ―aneh‖ (misalnya; mata saya adalah computer
yang dapat mengontrol dunia) atau bisa pula ―tidak aneh‖ (hanya sangat tidak
mungkin, misalnya; FBI mengikuti saya) dan tetap dipertahankan meskipun telah
diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. Waham sering ditemui
pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering
ditemukan pada pasien skizofrenia. Semakin akut skizofrenia semakin sering
ditemukan waham disorganisasi atau waham tidak sistematis:
1-5

- Waham kejar
- Waham kebesaran
- Waham rujukan
- Waham penyiaran pikiran
- Waham penyisipan pikiran
2. Tilikan (insight)
Kebanyakan pasien skizofrenia mengalami pengurangan tilikan yaitu pasien tidak
menyadari penyakitnya serta kebutuhannya terhadap pengobatan, meskipun gangguan
yang ada pada dirinya dapat dilihat oleh orang lain.
1-5

3. Ilusi dan depersonalisasi
Pasien juga dapat mengalami ilusi atau depersonalisasi. Ilusi yaitu adanya
misinterpretasi panca indra terhadap objek. Depersonalisasi yaitu adanya perasaan
asing terhadap diri sendiri. Derealisasi yaitu adanya perasaan asing terhadap
lingkungan sekitarnya misalnya dunia terlihat tidak nyata.
1-5

4. Halusinasi
Halusinasi paling sering ditemui, biasanya berbentuk pendengaran tetapi bias juga
berbentuk penglihatan, penciuman, dan perabaan. Pada skizofrenia, halusinasi timbul
tanpa penurunan kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak
dijumpai pada keadaan lain. Paling sering pada skizofrenia adalah halusinasi
pendengaran dalam bentuk suara manusia, bunyi barang atau siulan. Halusinasi
pendengaran berupa suara manusia dapat berbentuk halusinasi komando, dimana
pasien mendengar suara ancaman atau perintah-perintah yang ditujukan kepada
pasien, dapat pula berupa komentar-komentar terhadap pasien atau lingkungannya.
Biasanya suara diterima pasien dari luar kepala pasien dan kadang-kadang pasien
dapat mendengar pikiran-pikiran mereka sendiri berbicara keras.
1-5


Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Biologik
1. Terapi Kejut
Pertemuan umum para pasien di rumah rumah sakii jiwa di awal abad ke-20,
ditambah minimnya staf profesional, menciptakan sualu iklim yang memungkinkan, atau
mungkin bahkan didorong secara halus, eksperimentasi berbagai intervensi biologis yang
radikal. Di awal tahun 1930-an praktik menimbulkan koma dengan memberikan insulin
dalam dosis tinggi diperkenalkan. oleh Sakel (1938), yang mengklaim bahwa 3/4 dari para
pasien skizofrenia yang ditanganinya menunjukkan perbaikan signifikan. Berbagai temuan
terkemudian oleh para peneliti lain kurang mendukung hal itu, dan terapi koma-insulinyang
berisiko serius terhadap kesehatan, termasuk koma yang tidak dapat disadarkan dan
kematian—secara bertahap ditinggalkan.
5,6
2. Perawatan di rumah sakit
Pada umumnya pasien dengan gangguan delusional dapat diobati dengan rawat jalan,
tetapi ada alasan tertentu dimana diperlukan perawatan di rumah sakit , yaitu :
Pertama diperlukan pemeriksaan medis dan neurologis yang lengkap menunjukkan
kondisi medis nonpsikiatris yang menyebabkan gangguan delusional. Kedua jika
pasien tidak mampu mengendalikan impulsnya, sehingga dapat melakukan tindakan-
tindakan kekerasan. Ketiga jika perilaku pasien tentang waham telah mempengaruhi
fungsi kehidupannya, sehingga kemampuannya untuk dapat berfungsi dalam keluarga
dan masyarakat berkurang. Dengan demikian memerlukan intervensi profesional
untuk menstabilkan hubungan sosial atau pekerjaan.
5
Jika dokter yakin bahwa pasien akan baik jika diobati di rumah sakit, harus
diusahakan untuk membujuk pasien supaya menerima perawatan di rumah sakit; jika
hal tersebut gagal, komitmen hukum mungkin diindikasikan. Seringkali, jika dokter
meyakinkan pasien bahwa perawatan di rumah sakit adalah diperlukan, pasien secara
sukarela masuk ke rumah sakit untuk rnenghindari komitmen hukum.
6
3. Psikofarmakologi
Skizofrenia diobati dengan antipsikotik. Obat ini dibagi dalam dua kelompok,
berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu dopamine receptor antagonist (DRA) atau
antipiskotik generasi pertama (APG-I). Obat APG-I disebut juga antipsikotika konvensional.

1-5

Sebaiknya skizofrenia diobati dengan SDA dengan kisaran dosis ekivalen
klorpromazin 300-600 mg per hari atau kadang-kadang mungkin lebih. Pemeliharaan denga
dosis rendah antipsikotik diperlukan, setelah kekambuhan pertama. Dosis pemeliharaan
sebaiknya diteruskan untuk beberapa tahun.
1-5

Obat DRA berguna terutama untuk mengontrol gejala-gejala positif sedangkan untuk
gejala negatif hampir tidak bermanfaat. Obat SDA bermanfaat baik untuk gejala positif
ataupun negatif.
1-5

Standar emas baru adalah SDA. Meskipun harganya mahal tetapi bermanfaat sangat
besar. Pilihlah SDA yang efektif dan efek samping yang lebih ringan dan dapat digunakan
secara aman tanpa memerlukan pemantauan jumlah sel darah putih setiap minggu.
Gunakanlah SDA yang aman yang anda tidak harus memantaunya secara ketat.
1-5

Obat golongan APG-I disubklasifikasikan lagi sesuai dengan struktur kimia dan efek
klinis. Cara lain untuk mengklasifikasikannya yaitu sesuai potensinya. Sesuai dengan
potensinya, APG-I diklasifikasikan sebagai berpotensi rendah, sedang, dan tinggi. Pembagian
ini berguna bagi klinisi karena ia dapat memberikan informasi tentang banyak obat yang
dibutuhkan untuk mendapatkan efek klinik dan perkiraan efek samping yang akan terjadi.
1-5

Golongan obat APG-I yang akan dibahas adalah fenotiazin, tioxantin, butirofenon,
dibenzoxazepine, dihidronidol, dan difenilbutil piperidin. Akan dibahas pula mekanisme
kerja dan efek samping dari obat ini.
1-5

Semua fenotiazin mempunyai struktur yang sama yaitu tiga cincin. Perbedaannya
terletak pada rantai samping atom nitrogen cincin tengah. Fenotiazin terdiri dari tiga jenis,
berdasarkan substitusi pada posisi sepuluh. Substitusi ini memberikan pengaruh penting
terhadap karakteristik farmakologi fenotiazin.
1-5

Substitusi pada rantai alifatik, seperti klorpromazin, menyebabkan turunnya potensi
antipsikotik. Obat ini cenderung menyebabkan sedasi, hipotensi, dan efek antikolinergik,
pada dosis terapeutiknya. Klorpromazin mempunyai atom klorin pada posisi dua. Apabila
atom klorin dibuang, akan dihasilkan promazin yaitu suatu antipsikotik lemah. Mensubstitusi
piperidin pada posisi sepuluh dapat menghasilkan kelompok antipsikotik seperti tioridazine.
Obat ini mempunyai potensi dan profil efek samping yang sama dengan fenotiazin alifatik.
Flufenazin dan trifluoperazin merupakan anti psikotik dengan kelompok piperazin yang
disubstitusi pada posisi sepuluh.
1-5

Piperazin memiliki efek otonom dan antikolinergik lebih rendah tetapi memiliki
afinitas yang tinggi terhadap D2 sehingga efek samping ekstrapiramidalnya tinggi. Beberapa
fenotiazine piperazin diesterifikasi pada kelompok hidroksil bebas dengan etanoat dan asam
dekanoat sehingga terbentuk antipsikotik depo APG-I jangka panjang.
1-5

Tioxantin mempun. Apabila atom klorin dibuang, akan dihasilkan promazin yaitu
suatu antipsikotik lemah. Mensubstitusi piperidin pada posisi sepuluh dapat menghasilkan
kelompok antipsikotik seperti tioridazine. Obat ini mempunyai potensi dan profil efek
samping yang sama dengan fenotiazin alifatik. Flufenazin dan trifluoperazi merupakan anti
psikotik dengan kelompok piperazin yang disubstitusi pada posisi sepuluh.
1-5

Piperazin memiliki efek otonom dan antikolinergik lebih rendah tetapi memiliki
afinitas yang tinggi terhadap D2 sehingga efek samping ekstrapiramidalnya tinggi. Beberapa
fenotiazine piperazin diesterifikasi pada kelompok hidroksil bebas dengan etanoat dan asam
dekanoat sehingga terbentuk antipsikotik depo APG-I jangka panjang.
1-5

Tioxantin mempunyai persamaan struktur cinicn tiga dengan fenotiazin tetapi
nitrogen padda posisi sepuluh disubstitusi dengan atom karbon. Klorprotixine merupakan
tioxantin alifatik potensi rendah dengan profil efek samping sama dengan klorpromazin.
1-5

Butirofenon mempunyai cincin piperidin yang melekat pada kelompok amino tertier.
Haloperidol merupakan antipsikotik yang termasuk kelompok ini. Haloperidol dan
butirofenon lain bersidat antagonis D2 yang sangat poten. Efek terhadap sistem otonom dan
efek antikolinergiknya sangat minimal. Haloperidol merupakan piperidin yang paling sering
digunakan.
1-5

Dibenzoxazepin mempunyai struktur cincin-3 dengan tujuh cincin pusat. Loxapine
adalah satu-satunya obat dari kelompok ini yang tersedia saat ini di Amerika Serikat.
Clozapine, dibenzodiazepine, berbeda dengan loxapine yaitu adanya nitrogen sebagai
pengganti atom oksigen di cincin tengah dan juga berbeda dalam rantai samping.
1-5

Dihidronidol secara struktur dikaitkan dengan serotonin, melatonin, dan halusinogen
indol seperti dimetiltriptamin. Molindone satu-satunya dihidronidol yang tersedia di Amerika
serikat.
1-5

Difenilbutil piperidin sama strukturnya dengan butirofenon. Pimozide, satu-satunya
difenilbutil piperidin yang tersedia.
1-5

Obat APG-I memberikan efek antipsikotik dengan jalan menurunkan aktivitas
dopamine. Haloperidol dan klorpromazin dapat meningkatkan metabolisme dopamine pada
daerah yang kaya dopamine. Hal ini menunjukkan bahwa kedua zat ini bekerja sebagai
penghambat dopamine. Obat APG-I dapat menghambat aktivitas dopamine yang diinduksi
oleh amfetamin. Perilaku stereotipi yang dimediasi oleh menggunaan dopamine dapat
berkurang dengan pemberian APG-I.
1-5

Zat-zat seperti amfetamin, metifenidat, kokain, dapat meningkatkan aktivitas
dopamine. Efek APG-I sebagai antipsikotik dikaitkan dengan kemampuannya menurunkan
aktivitas dopamine. Obat APG-I dikaitkan dengan afinitasnya yang kuat terhadp D2. Ia
bekerja efektif, bila 80% D2 di otak dapat dihambat. Bila hambatan terhadap reseptor D2
lebih besar gejala ekstrapiramidal dapat terjadi tanpa adanya penambahan efektivitas APG-I
sebagai antipsikotik.
1-5

Semua bentuk atau tipe skizofrenia dapat mengalami perbaikan dengan APG-I. tidak
ada bukti bahwa subtype skizofrenia tertentu berespons lebih baik terhadap jenis antipsikotik
tertentu. Obat APG-I yang berpotensi rendah lebih bersifat sedasi sehingga ia lebih efektif
untuk psaien yang agitatif. Sedangkan obat berpotensi tinggi, nonsedasi, lebih efektif untuk
pasien yang menarik diri. Wanita lebih berespons dan membutuhkan dosis lebih rendah
dibandingkan dengan pria.
1-5

Efek samping yang dapat dihasilkan dari obat APG-I biasanya dapat dilihat pada kerja
motorik pasien. Dosis tinggi APG-I dapat menimbulkan sindrom imobilitas yaitu tonus otot
meningkat dan postur abnormal disebut katalepsi. ZAt ini dapat menurunkan aktivitas
motorik karena ia menginaktifkan neuron dopamine pada substansia nigra. Semua obat APG-
I dapat menimbulkan efek samping gejala ekstrapiramidal. Efek samping ini dibagi menjadi
efek akut yaitu efek yang terjadi pada hari-hari atau minggu-minggu pertama pemberian obat.
nSedangkan efek kronik yaitu efek yang terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun
menggunakan obat. Di bawah ini beberapa gejala ekstrapiramidal yang dapat dijumpai dalam
pemakaian APG-I.
1-5

1. Parkinsonisme
Parkinsonisme dikaitkan dengan blockade dopamine di ganglia basalis. Pasien dapat
mengalami semua gejala yang sama dengan penyakit Parkinson idiopatik seperti
rigiditas, bradikinesia, tremor, muka topeng, berjalan dengan mneyeret kaki, lenggang
lengan kurang atau seperti robot. Selain itu, reflex glabella positif dapat pula
ditemukan. Gejala ini sering terjadi antara 5 sampai dengan 30 hari pertama
pengobatan. Faktor risiko terjadinya parkinsonisme yaitu besarnya dosis, tuanya
umur, riwayat parkinsonisme, dan kerusakan basal ganglia.
1-5

Parkinsonisme dalam bentuk ringan dapat terlihat seperti penurunan gerakan
spontan, ekspresi wajah topeng, pembicaraan tak spontan, dan kesulitan dalam
memulai aktivitas atau disebut juga akinesia. Keadaan ini sulit untuk dibedakan
dengan gejala negatif skizofrenia. Pasien akinesia terlihat seperti depresi.
Kecenderungan pasien dengan akinetis sulit untuk menyilangkan kaki mereka dapat
membantu untuk menilai akinetis.
1-5

2. Distonia akut
Distonia akut yaitu spasme otot yang menetap atau sementara. Otot-otot yang sering
mengalami spasme yaitu otot badan, leher, dan kepala., serta menyebabkan gerakan
involunter. Keadaan ini merupakan efek samping yang paling menakutkan.
Awitannya biasanya tiba-tiba. Sekitar 10 % dystonia terjadi pada jam-jam pertama
terapi obat dan 90% terjadi dalam 3 hari pertama pengguanaan obat. Gejala yang
paling sering muncul yaitu opistotonus, rigiditas otot-otot belakang, retrocolis,
tortikolis leher, krisis okulogirik, spasme pada sebelah atau kedua mata sehingga mata
mendelik ke atas, makroglosia, protrusi lidah sehingga dapat tercekik, dan dystonia
laring. Distonia laring dan otot faring dapat menyebabkan kematian mendadak.
1-5

3. Akatisia
Akatisia merupakan gejala ekstrapiramidal akut yang paling membuat menderita.
Sekitar 41% pasien yang diobati dengan APG-I mengalami akatisia ringan dan 21%
mengalami akitisia sedang dan berat. Manifestasi klinis yang paling sering yaitu
ketidakmampuan pasien untuk dudk diam, sering mengubah-ubah posis ketika sedang
duduk, jalan di tempat, kaki tidak bias diam, dan pasien merasa gelisah secara
subjektif. Pasien akatisia selalu ingin bergerak atau berjalan. Pada kasus yang ringan,
pasien merasa gelisah tetapi tidak memperlihatkan peningkatan aktivitas motorik.
1-5

Akatisia dapat terlihat pada hari kedua atau ketiga penggunaan antipsikotik
tetapi yang paling sering terjadi yaitu pada hari kelima. Membedakan akatisia dengan
kegelisahan yang dikaitkan dengan gejala psikotik sangat sulit. Kegelisahan pada
psikotik biasanya disebabkan oleh iritabilitas dan ansietas. Pasien psikotik dengan
akatisia kadang-kadang terlihat lebih hostil. Klinisi sering salah menilai keadaan ini
yaitu psien dianggap gelisah akibat gejala psikotiknya tidak berespons pada
antipsikotik sehingga dosis obat dinaikkan. Akibatnya gejala akatisia semakin
memburuk.
1-5

Penatalaksanaan Psikologis
1. Psikoterapi
Elemen terpenting dari suatu psikoterapi adalah menjalin hubungan yang baik antar
pasien dengan ahli terapinya. Terapi individual tampaknya lebih efektif daripada terapi
kelompok. Terapi suportif berorientasi tilikan, kognitif dan perilaku seringkali efektif. Ahli
terapi tidak boleh setuju atau menantang waham pasien, walaupun ahli terapi harus
menanyakan waham untuk menegakkan diagnosis. Dokter dapat menstimulasi motivasi untuk
mendapatkan bantuan dengan menekankan kemauannya untuk membantu pasien mengatasi
kecemasan dan iritabilitasnya, tanpa menyatakan bahwa waham yang diobati. Ahli terapi
tidak boleh secara aktif mendukung gagasan bahwa waham adalah kenyataan.
4,5
Kejujuran ahli terapi sangat penting. Ahli terapi harus tepat waktu dan terjadwal,
tujuannya adalah agar tercipta suatu hubungan yang kuat dengan pasien dan pasien dapat
percaya sepenuhnya pada ahli terapinya. Kepuasan yang berlebihan malahan dapat
meningkatkan permusuhan dan kecurigaan pasien karena disadari bahwa tidak semua
kebutuhan dapat dipenuhi. Ahli terapi dapat menghindari kepuasan yang berlebihan dengan
tidak memperpanjang periode perjanjian yang telah ditentukan, dengan tidak memberikan
perjanjian ekstra kecuali mutlak diperlukan, dan tidak toleran terhadap bayaran.
5
Ahli terapi tidak boleh membuat tanda-tanda yang meremehkan waham atau gagasan
pasien, tetapi dapat secara simpatik menyatakan pada pasien bahwa keasyikan mereka dengan
wahamnya akan menegangkan diri mereka sendiri dan mengganggu kehidupannya yang
konstruktif. Jika pasien mulai ragu-ragu dengan wahamnya, ahli terapi dapat meningkatkan
tes realitas dengan meminta pasien memperjelas masalah mereka.
4
2. Terapi keluarga
Jika anggota keluarga hadir, klinisi dapat memutuskan untuk melibatkan mereka di
dalam rencana pengobatan. Tanpa menjadi terlihat berpihak pada musuh, klinisi harus
berusaha mendapatkan keluarga sebagai sekutu di dalam proses pengobatan. Sebagai
akibatnya, baik pasien dan anggota keluarganya perlu mengerti bahwa konfidensialitas
dokter-pasien akan dijaga oleh ahli terapi dan dengan demikian membantu pasien.
5
Hasil terapi yang baik tergantung pada kemampuan dokter psikiatrik untuk berespon
terhadap ketidakpercayaan pasien terhadap orang lain dan konflik interpersonal, frustasi, dan
kegagalan yang dihasilkannya. Tanda terapi yang berhasil mungkin adalah suatu kepuasan
penyesuaian sosial, bukannya menghilangkan waham pasien.
5
3. Pelatihan Keterampilan Sosial
Pelatihan keterampilan sosial dirancang untuk mengajari para penderita skizofrenia
bagaimana dapat berhasil dalam berbagai situasi interpersonal yang sangat beragam—antara
lain membahas pengobatan mereka dengan psikiater, memesan makanan di restoran, mengisi
formulir lamaran kerja dan belajar melakukan wawancara kerja (kadang disebut rehabilitasi
pekerjaan), mengatakan tidak terhadap tawaran membeli obat di pinggir jalan, belajar tentang
seks yang aman, membaca jadwal perjalanan bis—berbagai perilaku yang bagi sebagian
besar di antara kita dilakukan begitu saja dan hampir tidak pernah kita pikir-kan dalam
kehidupan sehari-hari. Bagi para penderita skizofrenia, keterampilan kehidupan tersebut
bukan hal yang dapat dilakukan begitu saja; para individu semacam itu harus berusaha keras
untuk menguasainya atau kembali menguasainya. Dengan melakukan hal-hal tersebut
memungkinkan orang yang bersangkutan mengambil bagian lebih besar dalam hal-hal positif
yang terdapat di luar tembok-tembok institusi mental sehingga meningkatkan kualitas hidup
mereka.
6

4. Terapi Kognitif-Behavioral.
Kita beralih ke beberapa pendekatan kognitif-behavioral dalam penanganan
skizofrenia. Sebelumnya diasumsikan bahwa tidak ada gunanya mencoba mengubah berbagai
distorsi kognitif, termasuk delusi, pada para pasien skizofrenik. Meskipun demikian, suatu
literatur klinis dan eksperimental yang sedang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa
berbagai keyakinan maladaptif pada beberapa pasien kenyataannya dapat diubah dengan
berbagai intervensi kognitif-behavioral.
2
5. Terapi personal (Personal Therapy).
Terapi personal adalah suatu pendekatan kognitif behavioral berspektrum luas
terhadap multiplisitas masalah yang dialami pada pasien skizofrenia yang telah keluar dari
rumah sakit. Terapi individualistik ini dilakukan secara satu per satu maupun dalam
kelompok kecil (lokakarya). Satu elemen utama dalam pendekatan ini, berdasarkan temuan
dalam penelitian EE bahwa penurunan jumlah reaksi emosi para anggota keluarga
menurunkan tingkat kekambuhan setelah keluar dari rumah adalah mengajari pasien
bagaimana mengenali afek yang tidak sesuai. jika diabaikan, afek yang tidak sesuai dapat
semakin berkembang dan menyebabkan berbagai distorsi kognitif dan perilaku social yang
tidak sesuai.
5,6
Para pasien juga diajari untuk memerhatikan tanda-tanda kekambuhan meskipun
kecil, seperti penarikan diri dari kehidupan sosial atau intimidasi yang tidak pantas kepada
orang lain, dan mereka mempelajari berbagai keterampilan untuk mengurangi masalah-
masalah tersebut. Perilaku semacam itu, jika tidak terdeteksi, sangat mungkin akan
menghambat upaya pasien untuk hidup sesuai aturan sosial konvensional, termasuk bekerja
dan membangun serta mempertahankan hubungan sosial. Terapi tersebut juga mencakup
terapi perilaku rasional emotif untuk membantu pasien mencegah berbagai frustrasi dan
tantangan yang tidak terhindarkan dalam kehidupan menjadi suatu bencana dan dengan
demikian membantu mereka menurunkan kadar stres.
4
Selain itu, pasien juga sering diajari teknik-teknik relaksasi otot sebagai suatu alat
bantu untuk belajar mendeteksi kecemasan atau kemarahan yang berkembang secara perlahan
kemudian menerapkan keterampilan relaksasi untuk mengendalikan berbagai emosi tersebut
secara lebih baik. Asumsi yang berlaku adalah ketidakteraturan emosional merupakan bagian
dari berbagai diathesis biologis dalam skizofrenia dan suatu faktor yang harus diterima dan
dihadapi pasien dalam hidupnya dan bukan dihilangkan (atau disembuhkan) seluruhnya.
Namun, juga terdapat fokus kuat untuk mengajarkan keterampilan sosial spesifik serta
mendorong pasien untuk tetap meneruskan pengobatan mereka dalam roda pemeliharaan,
yaitu, dengan dosis yang umumnya lebih rendah dari dosis yang diperlukan dalam fase
penyakit yang akut dan paling parah.
5
Terapi individual Hogarty juga mencakup berbagai elemen non behavioral, ter-utama
penerimaan yang hangat dan empatik atas gangguan emosional dan kognitif pasien bersama
dengan ekspektasi yang realistik, namun optimistik bahwa hidup dapat menjadi lebih baik.
Secara umum, para pasien diajari bahwa mereka memiliki kerentanan emosional terhadap
stres, bahwa pikiran mereka tidak selalu sejernih yang seharusnya, bahwa mereka harus tetap
meneruskan pengobatan, dan bahwa mereka dapat mempelajari berbagai macam
keterampilan agar dapat menjalani hidup secara maksimal. Ini bukan penanganan jangka
pendek; penanganan ini dapat berlangsung selama 3 tahun dengan sesi terapi setiap satu atau
dua minggu sekali.
6
Perlu dicatat bahwa fokus terapi ini sebagian besar terletak pada pasien, tidak pada
keluarga. Sementara itu, fokus dalam berbagai studi keluarga adalah mengurangi tingginya
EE dalam keluarga pasien—yang merupakan suatu perubahan lingkungan dari sudut pandang
pasien—tujuan terapi pribadi adalah mengajarkan keterampilan coping internal kepada
pasien, berbagai cara baru dalam berpikir tentang dan me-ngendalikan berbagai reaksi afektif
terhadap tantangan apa pun yang terdapat di lingkungannya.
6
Terakhir, hal penting dalam terapi ini adalah apa yang disebut Hogarty dkk. sebagai
"manajemen kritisisme dan penyelesaian konflik". Istilah tersebut merujuk pada cara
menghadapi umpan balik negatif dan orang lain dan cara menyelesaikan berbagai konflik
interpersonal yang merupakan bagian tak terhindarkan dalam berhubungan dengan orang
lain. Mengajari pasien keterampilan penyelesaian masalah sosial—cara mengatasi berbagai
lantangan yang tidak terhindarkan yang dihadapi oleh setiap orang dalam berhubungan
dengan orang lain—merupakan, bagian dari elemen terapi ini (D'Zurilla & Goldfried, 1971).
Berbagai menunjukkan bahwa bentuk intervensi ini dapat membantu banyak pasien
skizofrenik tetap hidup di luar rumah sakit dan berfungsi dengan lehih baik, dengan hasil
yang paling positif dicapai oleh mereka yang dapat hidup bersama keluarga mereka sendiri.
5,6
6. Terapi Reatribusi (Reatribution Therapy).
Melalui diskusi kolaboratif (dan dalam konteks berbagai moda inter-vensi lain,
termasuk pemberian obat-obatan antipsikotik), beberapa pasien dibantu untuk memberikan
suatu makna nonpsikotik terhadap berbagai simtom paranoid sehingga mengurangi intensitas
dan karakteristiknya yang berbahaya, sama dengan yang dilakukan dalam terapi kognitif
Beck untuk depresi dan pendekatan Barlow terhadap gangguan panik. Dengan peringatan
bahwa pendekatan yang cukup intelektual ini mungkin hanya tepat bagi minoritas pasien
skizofrenia,-berikut ini adalah contoh awal pende-katan tersebut yang diambil dari salah satu
kasus kami sendiri.
4-6
Namun, penting juga meminta si pasien mempertanyakan sistem delusionalnya.
Maka, dalam sesi pertama terapis meminta pasien untuk mengulurkan tangan kanannya,
mengepalkan lengan dengan kuat, dan melengkungkan pergelangan tangannya ke bawah
sehingga kepalan tangannya menekuk ke arah dalam lengannya. Tujuannya adalah
menimbulkan rasa legang di bagian depan lengannya; hal itulah yang terjadi, dan si pasien
mengamati bahwa perasaan tersebut mirip dengan titik-titik tekanan yang dirasakannya.
5
Pelatihan relaksasi ekstensif membuat klien mulai dapat mengendalikan
kecemasannya dalam berbagai situasi di rumah sakit dan pada saat yang sama mengurangi
intensitas titik-titik tekanan. Seiring ia mampu mengendalikan perasaannya, secara bertahap
ia mampu menganggap titik-tilik tekanan tersebut sebagai suatu "sensasi," dan secara umum
pembicaraannya mulai terlepas dari nada paranoid yang terdahulu.
5
Pelatihan relaksasi tampaknya memungkinkan pasien menguji hipotesis non-paranoid
tentang titik-titik tekanan yang dirasakannya dan menemukan kebenaran hipotesis tersebut
sehingga menghapuskan keyakinan terhadap sensasi-sensasi tersebut yang telah berperan
dalam paranoid yang dideritanya.
5
Prognosis
Skizofrenia tidak fatal, kecuali jika bunuh diri. Kecenderungan umum ke arah
disintegrasi personalitas, tetapi proses ini mungkin terhenti pada satu titik, meninggalkan
suatu cacat personalitas yang mungkin tidak menarik perhatian atau nyata. Angka remisi
tanpa pengobatan sekitar 20 %, tetapi dengan pengobatan, sekitar dua per tiga penderita dapat
mengalami suatu penyembuhan sosial. Di masa lampau, dua pertiga pasien skizofrenia harus
menghabiskan waktunya di rumah sakit, saat ini hanya satu dari sepuluh bahkan lebih sedikit
kasus yang memerlukan perawatan rumah sakit permanen.
7

Faktor prognosis yang menguntungkan mencakup tidak adanya riwayat kelaurga bagi
penyakit ini, personalitas normal serta latar belakang keluarga dan catatan pekerjaan stabil.
Gamabran penyakit yang mengarah ke prognosis yang baik berupa onset akut, pencetusnya
yang nyata, retensi respons emosi yang normal, adanya gejala katatoniak, retensi dorongan
dan inisiatif. Terapi awal memberi hasil yang baik.
7

Relaps sering timbul serelah adanya peningkatan ―peristiwa hidup‖ dalam tiga
minggu terakhir dan terjadi lebih sering bila pasien menjadi sasaran permusuhan dan konflik
keluarga. Jika diberi obat pemeliharaan kemungkinan relaps berkurang tiga kali, tetapi
walaupun diberi fenotiazin dosis pemeliharaan, angka relaps 50% dalam dua tahun.
7

Komplikasi dan Pencegahan
Skizofrenia paranoid yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan
komplikasi-komplikasi sebagai berikut yaitu seperti keinginan atau usaha bunuh diri, perilaku
merusak diri sendiri, depresi, penyalahgunaan alkohol, obat-obatan terlarang, maupun obat
yang diresepkan, kemiskinan dan tuna wisma, pengurungan, misalnya oleh keluarga, konflik
keluarga, tidak mampu bekerja atau bersekolah, masalah kesehatan akibat penggunaan obat
antipsikosis, menjadi pelaku ataupun korban kejahatan, terkena penyakit jantung atau paru-
paru. Dan sampai saat ini tidak ada pencegahan pasti yang dapat dilakukan sebagai prevensi
terhadap terjadinya skizofrenia pada setiap orang.
7
Penutup
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang ditandai dengan waham kebesaran
dan halusinasi. Gangguan ini mempunyai dua gejala khas yaitu gejala positif dan gejala
negatif. Gejala positif berupa peningkatan atau distorsi dari fungsi yang normal sedangkan
gejala negatif merupakan pengurangan atau kehilangan dari fungsi normal. Dalam menangani
pasien skizofrenia, dapat dilakukan dua pendekatan, yaitu secara biologis dan psikologis.
Dalam proses penyembuhannya diperlukan keterlibatan semua pihak tidak hanya pihak
dokter, perawat ataupun psikiater tapi dibutukan juga keterlibatan anggota keluarga, kerabat
ataupun teman dekat pasien.


Daftar Pustaka
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock buku ajar psikiatri klinis. Edisi ke-2.
Jakarta: EGC.2010.h.1-37.
2. Kaplan HI, Sadock BJ. Ilmu kedokteran jiwa darurat. Jakarta: Widya Medika.
2003.h.407-13.
3. Davidson, Gerald C. Psikologi abnormal. Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada. 2006.h.134-47.
4. Silvia, HG. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2010. 138-196
5. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Ringkasan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:
PT. Nuh Jaya, 2003; 44-143.
6. Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press;
2003.
7. Morgan M.M. Segi praktis psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara. 2003. 42-52