You are on page 1of 9

A.

Definisi
Chancroid adalah penyakit infeksi pada alat kelamin akut, setempat disebabkan oleh
streptobacillus ducrey (Haemophilus ducreyi) dengan gejala klinis yang khas berupa ulkus
nekrotik yang nyeri pada tempaat inokulasi, dan sering disertai pernanahan kelenjar getah
bening regional. Biasanya disebut soft chancre, ulkus mole, soft sore.
B. Faktor Risiko
 Keadaan imunokompromise (HIV/AIDS, kortikosteroid, terapi kanker)
 Tidak sirkumsisi.
Pengaruh Sirkumsisi terhadap pengurangan risiko chancroid dibuktikan dengan 7
penelitian dari 5145 peserta, dengan hasil enam dari tujuh studi menemukan
penurunan risiko chancroid antara laki-laki disunat, dengan empat dari studi ini
melaporkan hasil secara statistik signifikan.Sementara bukti kuat diperlukan dari
desain penelitian lebih ketat, bukti terbaik yang tersedia saat ini mendukung promosi
sunat untuk laki-laki sebagai strategi untuk mengurangi risiko chancroid, dan harus
dipromosikan terutama di daerah di mana prevalensi HIV dan infeksi menular seksual
tinggi. Akan tetapi, satu penelitian menetapkan chancroid serologis tidak menemukan
hubungan dengan sunat.
 Paramedis.
Selain penularan chancroid melalui hubungan seksual, secara kebetulan juga dapat
mengenai jari dokter atau perawat.
 Pekerja seks komersial
 Homoseksual atau heteroseksual
C. Patogenesis dan Imunokimia
H. ducreyi menghasilkan toksin sitoletal, faktor virulensi penting pada patogenesis
ulkus mole. Diduga toksin ini yang meyebabkan prognosis ulkus pada genitalia sulit untuk
sembuh. Penyebaran ulkus mole melalui virus yang menyerang sistem imun manusia yang
menurun. Reseptor berupa sitokin CCR5 dan CXCR4 yang termasuk kelas 7 transmembran
G-protein-reseptor, dan ikatan alami yang menyerang sel imun pada satu tempat dan
terbentuk inflamasi. CCR5 dan 2 co-reseptor penting, esensial keluar menjadi HIV.

H.
ducreyi memfasilitasi penularan HIV dengan menyediakan entri portal diakses,
mempromosikan pelepasan virus, merekrut makrofag dan sel-sel CD4 pada kulit.

Haemophilus Ducreyi Di Bawah Mikroskop Elektron
Dimana makrofag yang terdapat di dalam lesi dari cancroid berpeluang besar
meningkatkan ekspresi dari CCR5 dan CXCR4 bersama dengan sel darah perifer, sel CD4 T
berpeluang menurunkan regulasi dari CCR5.Beta-simokin RANTES (mengaktifkan regulasi,
sel T normal dan sekretnya) dalam ikatan yang penting untuk CCR5.RANTES menimbukan
papul dan pustul dari infeksi ulkus mole tetapi tidak menyebabkan infeksi pada kulit.
Bersama dengan mukosa dan barier kulit, muncul sel dengan regulasi yang menurun dari
HIV-1 co-reseptor dalam lesi infeksi H ducreyi dengan lingkungan yang fasilitasnya buruk
dan menyebabkan infeksi HIV-1.

Pengobatan yang mudah dan efektif dari ulserasi genital, dan ulkus mole dari partikuler,
bagian yang penting dari beberapa strategi untuk mengontrol perkembangan dari infeksi HIV
di negara-negara tropis.

Pada pemeriksaan biopsi dari ulkus mole dikalsifikasikan menjadi 3 daerah inflamasi
dibawah ulkus.Daerah pertama terdiri dari daerah yang nekrotik, fibrin, dan neutropil. Daerah
tengah adalah daerah dengan jaringan granulasi dan zona yang paling bawah terdiri dari
limfosit dan plasma sel. Gram-negatif dari basil hanya daapt ditemukan dengan menggunakan
pewarnaan Gram atau Giemsa dan dapat dilhat baik dengan Smears.

Awalnya, mikroorganisme melakukan penetrasi pada defek pertahanan
epidermis.Bakteri yang masuk memberi rangsangan inflamasi sehingga terjadi infiltrasi
limfosit, makrofag, granulosit dengan mediator utama TH-1 sebagai respon imun dan
inflamasi pyogenik. Perkembangan ulkus mole disertai juga limfadenitis akibat inflamasi
pyogenik.
Sebagai contoh adanya trauma atau abrasi, penting untuk organisme melakukan
penetrasi epidermis. Jumlah inoculum untuk menimbulkan infeksi tidak diketahui. Pada lesi,
organisme terdapat dalam makrofag dan neutrophil atau bebas berkelompok (mengumpul)
dalam jaringan interstisial.

Pada percobaan kelinci, seperti pada manusia, beberapa galur H. ducreyi diketahui
virulen, sedangkan yang lain kelihatannya avirulen. Beberapa penyelidik menyatakan bahwa
virulensi menyatakan bahwa virulensi dapat hilang dengan kultivasi serial sehingga kuman
kehilangan kemampuan untuk menimbulkan lesi pada kulit. Organisme yang avirulen
dilaporkan lebih rentan terhadap antimikroba terutama polimiksin.

Limfadenitas yang terjadi pada infeksi H. Ducreyi diikuti dengan respons inflamasi
sehingga terjadi supurasi.Kemungkinan terdapat sifat-sifat H. Ducreyi yang tidak diketahui
dan unik dan menimbulkan bubo supuratif.Respons imun yang berhubungan dengan
pathogenesis dan kerentangan penyakit tidak diketahui.Penyelidikan sebelumnya menemukan
respons hipersensitivitas lambat dan respons antibody pada penderita dengan chancroid dan
pada binatang percobaan. Antibodi ditemukan dengan cara fiksasi komplikasi komplemen,
aglutinasi, presipitasi, dan tes fluoresens antibodi indirek. Reaktivitas silang antara antisera
yang dihasilkan terhadap antigen H. Ducreyi murni dan ekstrak antigen dari spesies
Haemophilus lain telah ditemukan.

D. Gejala Klinis
Masa inkubasi berkisar antara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari atau 4-7
hari. Lesi kebanyakan multiple, jarang soliter, biasanya pada daerah genital, jarang pada
daerah ekstragenital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul, kemudian menjadi vesiko-
pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.









Gejala Ulkus Mole (chancroid)
Ulkus; kecil, lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan, pinggir
tidak rata, sering bergaung dan di kelilingi halo yang eritematosa dan mengalami ulserasi
dalam 24 jam. Ulkus sering tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasi
yang mudah berdarah, ditutupi oleh eksudat abu-abu kuning berserat yang pirulen dan
limpodenopati, dan pada perabaan terasa nyeri, biasanya lebih nyeri pada laki-laki daripada
perempuan.

Inguinal Limpodenopati
Tempat predileksi pada laki-laki ialah permukaan mukosa preputium, sulkus
koronarius, frenulum penis, dan batang penis. Dapat juga timbul lesi di dalam uretra,
scrotum, perineum,atau anus. Pada wanita ialah labia, klitoris, Fourchette, vestivuli, anus, dan
serviks.




Lesi Chancroid Kecil Pada Labia Majora
Kebanyakan gejala pada wanita asimptomatik walaupun kadang munculgejala yang
kurang jelas, seperti disuria, dispareunia, sekret vagina, nyeri defekasi, atau perdarahan
rektal.Gejala konstitusi seperti malaise dan demam ringan kadang-kadang terlihat.
Lesi ekstragenital terdapat pada lidah, jari tangan, bibir, payudara, umbilicus dan
konjungtiva.Karena adanya inokulasi sendiri, dengan cepat dapat timbul lesi yang multiple,
dengan ini dapat timbul lesi di daerah pubis, abdomen, dan paha.Gejala sistemik jarang
timbul, kalau ada hanya demam sedikit atau malese ringan.

E. Jenis-Jenis Bentuk Klinis
1. Ulkus Mole Folikularis
Timbul pada folikel rambut, pada permukaannya menyerupai folikulitis yang
disebabkan oleh kokus, tetapi cepat menjadi ulkus. Lesi seperti ini dapat timbul pada vulva
dan pada daerah berambut di sekitar genitalia dan sangat superfisial.
2. Dwarf chancroid
Lesi sangat kecil dan menyerupai erosi pada herpes genitalis, tetapi dasarnya tidak
teratur dan tepi berdarah.

3. Transient chancroid (Chancre mou valant)
Lesi kecil, sembuh dalam beberapa hari, tetapi 2-3 minggu kemudian diikuti timbulnya
bubo yang meradang pada daerah inguinal. Gambaran ini menyerupai limfogranuloma
venerum.

4. Papular Chancroid (ulkus mole elevatum)
Dimulai dengan ulkus yang kemudian menimbul terutama pada tepinya. Gambarannya
menyerupai kondilomata lata pada sifilis stadium II.
5. Giant Chancroid
Mula-mula timbul ulkus kecil, tetapi meluas dengan cepat dan menutupi satu daerah,
sering mengikuti abses inguinal yang pecah, dan dapat meluas ke daerah suprapubis bahkan
daerah paha dengan cara autoinokulasi.

6. Phagedenic chancroid
Lesi kecil menjadi besar dan destruktif dengan jaringan nekrotik yang luas. Genitalia
eksterna dapat hancur, pada beberapa kasus disertai infeksi organisme Vincent.
7. Tipe serpiginosa
Lesi membesar karena perluasan atau autoinokulasi dari lesi pertama ke daerah lipat
paha atau paha. Ulkus jarang menyembuh, dapat menetap berbulan-bulan atau bertahun-
tahun.
Bubo adalahAdenitas daerah inguinal timbul pada tengah kasus ulkus mole.Sifatnya
unilateral, eritematosa, membesar, dan nyeri.Timbul beberapa hari sampai 2 minggu setelah
lesi primer.lebih daripada setengah kasus adenitis sembuh tanpa supurasi.
F. Diagnosis
Berdasarkan gambaran klinis dapat disingkirkan penyakit kelamin yang lain. Harus
dipikirkan juga kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan serelogik untuk menyingkirkan
sifilis juga harus dikerjakan. Sebagai penyokong diagnosis adalah:
1. Pemeriksaan sediaan hapus
Diambil bahan pemeriksaan (spesimen) dari tepi ulkus yang tergaung dengan
menggunakan apusan kapas, di buat hapusan pada gelas alas, Pemeriksaan
langsung ini dapat dilakukan dengan pewarnaan gram, giemsa atau mikroskop
elektron.Identifikasi yang cepat dapat dengan pewarnaan methylgreenpyronine
pappenheim dan Unna, juga dapat dilaksanakan dengan pewarnaan blue dan
wright.Namun pemeriksaan langsung tersebut dapat menyesatkan oleh karena
banyaknya flora
polimikrobial ulkus genital.Hanya pada 30-50% kasus ditemukan basil
berkelompok atau berderet seperti rantai.
1

2. Biakan kuman
H. ducreyi merupakan mikroorganisme yang sulit dikultur.Untuk mengkultur
bakteri tersebut diperlukan teknik dan keterampilan khusus. Pemeriksaan kultur
merupakan gold standard untuk mendeteksi H. ducreyi.(6,16) H. Ducreyi tumbuh
pada suhu terbaik 33
o
C kelembaban atmosfer yang mengandung karbondioksida
5%.(14) Untuk mendapatkan sensitivitas yang tinggi pada isolasi primer,
dirokemendasikan penggunaan 2 media sekaligus yang ditambahkan dengan
hemoglobin dan serum.
1
Bahan diambil dari pus bubo atau lesi kemudian ditanam pada perbenihan atau
pelat agar khusus( Chocolate Agar) yang ditambahkan darah kelinci yang sudah
didefibrinasi. Akhir-akhir ini ditemukan bahwa perbenihan yang mengandung
serum darah penderita sendiri yang sudah diinaktifkan memberikan hasil yang
memuaskan.Inkubasi membutuhkan waktu 48 jam. Medium yang mengandung
gonococcal madium base, ditambah dengan hemoglobin 1%, iso-witalex 1 %, dan
vankomisin 3 mcg/ml akan mengurangi kontaminasi yang timbul. Pada biakan
nampak koloni kecil, non mukoid, abu-abu kuning, semi opak atau translusen dapat
digeser pada permukaan agar dalam keadaan utuh, nampak 2-4 hari, tetapi biasa 7
hari setelah inokulasi.
1

3. Teknik imunofluoresens untuk menemukan antibody.
4. Biopsi
Biopsi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis. Pada gambaran
histopatologik ditemukan:
a. Daerah superfisial pada dasar ulkus : neutrophil, fibrin, eritrosit, dan jaringan
nekrotik.
b. Daerah tengah : pembuluh-pembuluh darah kapiler baru dengan proliferasi sel-
sel endotel sehingga lumen tersumbat dan menimbulkan thrombosis. Terjadi
perubahan degeneratif pada dinding pembuluh-pembuluh darah.
c. Daerah sebelah dalam : infiltrat padat terdiri atas sel-sel plasma dan sel-sel
limfoid.
5. Tes kulit ito-reenstierna
Sekarang tidak dipakai lagi karena tidak spesifik. Vaksin yang dipakai
(Dmelcos)terdiri atas 225 juta kuman mati/ml. Disuntikkan intradermal 0,1 ml
pada lengan bawah bagian fleksor, sebagai control disuntikkan cairan pelarut
intradermal pada sisi lain.
Tes dinilai positif kalau timbul infiltrate berdiameter minimal 0,5 cm setelah 48
jam, sedangkan kontrol negatif. Tes ini menjadi positif 6-11 setelah hari timbul
ulkus mole, dan tetap positif sampai beberapa tahun bahkan seumur hidup.
1

6. Autoinokulasi
Bahan diambil dari lesi yang tersangka, diinokulasi pada kulit sehat daerah
lengan bawah atau paha penderita yang digores lebih dahulu. Pada tempat tersebut
akan timbul ulkus mole. Sekarang cara ini tidak dipakai lagi.
1

G. Komplikasi
1. Mixed chancre
Kalau disertai sifilis stadium 1. Mula-mula lesi khas ulkus mole, tetapi setelah 15-20
hari menjadi manifes, terutama jika di obati dengan sulfonamide.

Dapat terjadipada bagian
ataspenis dan kelenjar inguinal kanan.

Fase Akhir Dari Penyakit Sifilis dan Infeksi chancroid

2. Abses kelenjar inguinal
Bila tidak diobati dapat memecah menimbulkan sinus yang kemudian menjadi ulkus.
Ulkus kemudian membesar membentuk giant chancroid.




Kelenjar Getah Bening Inguinal Meledak Akibat Chancroid
3.Fimosis parafimosis
Kalau lesi mengenai preputium.

4.Fistula uretra
Timbulnya karena ulkus pada glans penis yang bersifat dekstruktif. Dapat
mengakibatkan nyeri pada waktu buang air kecil dan pada keadaan lanjut dapat menjadi
stiktura uretra.








Ulkus Glans Penis
5. Infeksi campuran

Dapat disertai infeksi organisme Vincent sehingga ulkus makin parah dan bersifat
destruktif. Di samping itu juga dapat disertai penyakit limfogranuloma venereum atau
granuloma inguinale.