You are on page 1of 4

Presiden Megawati Soekarnoputri

:
Kabinet Demisioner

Jakarta, Kompas

Presiden Megawati Soekarnoputri
mengatakan, Kabinet Persatuan Nasional
yang bertugas saat ini, beserta para
menteri yang berada di dalamnya,
dinyatakan dalam status demisioner
terhitung hari Selasa (24/7) pukul 00.00.
Para menteri tidak dibenarkan mengambil
kebijakan dan keputusan yang bersifat
prinsipiil sampai susunan kabinet baru
terbentuk.Menurut Presiden, penetapan
para menteri yang akan menjadi anggota
kabinet akan segera diumumkan dalam
beberapa hari mendatang. "Pada saat
Kompas/agus susanto yang sama, nantinya akan saya umumkan
pula program kerja kabinet tersebut," kata Presiden dalam jumpa pers di Istana Wakil Presiden
(Wapres) Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin sore.

Dalam jumpa pers itu tidak diadakan acara tanya jawab. Kepala Negara hanya membacakan
Keterangan Presiden RI. Usai memberikan keterangan, Presiden langsung meninggalkan
ruangan meski sejumlah wartawan berusaha untuk bertanya kepada Presiden.

Sebelum acara dimulai, bagian protokol sudah memberitahukan, Presiden Megawati tidak akan
mengadakan acara tanya jawab dengan wartawan.

Segera setelah Megawati ditetapkan menjadi Presiden RI oleh Sidang Istimewa (SI) MPR,
kiriman karangan bunga mengalir ke kediaman Presiden di Jalan Teuku Umar. Semula, staf
rumah tangga mengatakan bahwa Presiden Megawati tidak menerima tamu. Akan tetapi,
Presiden yang tiba di kediaman sekitar pukul 19.45 itu langsung memasuki ruangan keluarga. Di
rumah itu juga lalu diadakan acara syukuran.

Megawati kemudian keluar bersama suaminya, Taufik Kiemas, dan menerima ucapan selamat
dari tamu-tamu yang datang yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang. Dalam berbagai
perbincangan di antara para tamu malam itu, nama Laksamana Sukardi disebut-sebut akan
menjadi Kepala Staf Kepresidenan, sedangkan nama HS Dillon disebut-sebut untuk nominasi
Menteri Pertanian.

Sementara itu, di antara lobi-lobi kaum profesional, pada umumnya mereka menginginkan agar
tokoh militer tidak memimpin departemen teknis. Namun, untuk jabatan menko, pertahanan
maupun departemen dalam negeri, mereka tidak keberatan dipimpin militer.

Kemarin malam, sederetan taksi dari perusahaan Blue Bird dan sejumlah kelompok massa PDI-P
melewati kediaman Presiden dan mengelu-elukan Megawati. Empat kendaraan berlapis baja
berada di sekitar rumah Presiden. Itu adalah bagian dari prosedur standar pengamanan Presiden
RI.

Layanan masyarakat
Dalam keterangan persnya, Presiden Megawati menjelaskan, status demisioner tersebut
diberlakukan untuk memelihara kelancaran jalannya pemerintahan, khususnya untuk menjaga
kelangsungan penyelenggaraan fungsi layanan masyarakat dan pembangunan. Hal itu sesuai
dengan konvensi dalam ketatanegaraan serta ketatapemerintahan.

Dalam status demisioner tersebut, Presiden meminta dua hal kepada kabinet dan para menteri
yang menjadi anggota Kabinet Kersatuan Nasional. Pertama, tetap melaksanakan tugas dan
tanggung jawab masing-masing.

Kedua, tidak mengambil keputusan dan kebijakan yang bersifat prinsipiil, yang akan besar
pengaruhnya terhadap jalannya penyelenggaraan pemerintahan negara, terhadap masyarakat
atau terhadap susunan organisasi dan personalia di departemen atau kementerian masing-
masing.

"Sampai dengan terbentuknya kabinet yang baru, para menteri kabinet yang telah saya nyatakan
demisioner, melaporkan kebijakan yang ada dan keputusan yang telah atau akan diambilnya,
langsung kepada saya," demikian perintah Presiden Megawati.

Dalam awal keterangannya, Presiden Megawati mengatakan, dengan Ketetapan (Tap) MPR
Nomor III/MPR/2001, tanggal 23 Juli 2001, MPR telah menetapkan pengangkatan dirinya
sebagai Presiden RI. "Dalam rangka pengangkatan tersebut, pada hari Senin tanggal 23 Juli
2001, pukul 17.30, saya telah mengucapkan sumpah jabatan Presiden RI dengan masa jabatan
hingga tahun 2004," katanya.

Lebih lanjut Megawati mengatakan, mengingat keseluruhan mekanisme pengangkatan tersebut
berlangsung dalam proses yang konstitusional dan demokratis, dan karenanya sah berdasarkan
UUD 1945 serta peraturan perundang-undangan yang mengatur pengangkatan Presiden, maka
selaku Presiden, dirinya berkewajiban untuk segera menetapkan susunan pemerintahan dan
para menteri, yang semuanya akan bertugas sebagai pembantu Presiden.

Terserah Mega

Mengenai soal penyusunan kabinet, Ketua DPR Akbar Tandjung menyerahkan sepenuhnya
kepada Megawati karena hal itu hak prerogatif Presiden. Namun, apa yang disampaikan
Megawati tentang kompetensi, kemampuan, dan akseptabilitas harus benar-benar diwujudkan.

"Faktor itu sangat dibutuhkan agar secara politik pemerintahan Megawati mendapat dukungan
kuat sampai 2004. Dengan demikian, kabinet mampu menjalankan tugas-tugas pemerintahan
secara baik dan efektif," ujar Tandjung.

Tentang pencalonan dirinya menjadi Wakil Presiden, Akbar Tandjung mengatakan harap tunggu
saja. Tandjung juga menegaskan bahwa dia merasa dapat bekerja sama dengan Megawati.

Menurut Ketua DPP Partai Golkar Marzuki Darusman, pengajuan Akbar Tandjung bukan hanya
wacana lagi, tetapi sudah menjadi "kesimpulan politik" Golkar. Dilihat dari aspek penguatan
demokrasi berdasarkan kenyataan politik di parlemen, katanya, kehadiran Akbar Tandjung di
kursi Wapres akan menguntungkan PDI Perjuangan.

"Selain akan ditandai penguatan secara demokrasi, corak kepemimpinan PDI-P dan Golkar juga
bisa memperlancar pemerintahan, mengingat kekuatan Golkar di jalur birokrasi," kata Marzuki.
Namun, di sisi lain, Marzuki juga mengakui bahwa tampilnya Tandjung itu bagi Golkar sendiri
juga penting karena hal itu dapat mengurangi berbagai macam tekanan terhadap Partai Golkar,
untuk kepentingan masa depannya.

Secara terpisah, Sekjen Partai Amanat Nasional Hatta Radjasa mengharapkan dalam
pencalonan Wapres, Poros Tengah akan mengeluarkan satu nama. Namun, kalaupun tidak bisa,
tidak masalah bila setiap fraksi mencalonkan satu nama. "Jadi, kita lihat saja besok. Sekarang
kita lihat dulu di permukaan nama-nama yang muncul. Kalau saya sebenarnya lebih baik
bicarakan bagaimana platform negara ini ke depan," ujar Radjasa.

Mengenai waktu pemilihan Wakil Presiden, Wakil Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Pramono Anung mengatakan, lebih baik diselesaikan pada sidang istimewa kali ini. Menurut dia,
penundaan pemilihan Wapres justru tidak akan menguntungkan Megawati pada hari-hari awal
pemerintahannya.

"Kita tidak ingin menunda persoalan Wapres dua bulan ke depan. 100 hari pemerintahan akan
diributkan persoalan Wapres kalau kita menunda sampai sidang tahunan mendatang. Dalam
persoalan ini, PDI-P tidak akan menyebutkan nama Wapres," ujarnya.

Secara terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Mahadi Sinambela kepada wartawan, kemarin,
mengatakan, partai-partai besar, yaitu PDI-P, Partai Golkar, PPP, Partai Amanat Nasional (PAN),
Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Keadilan, selama dua bulan sudah mendiskusikan soal
pembentukan kabinet.

"Kami sudah punya formula, tetapi tidak bisa diungkapkan di sini. Kami yakin kalau formula itu
disepakati masing-masing ketua umum, akan memberikan gambaran sama dan sebangun
kekuatan di DPR," katanya.

Partai yang tidak berkoalisi, kata Sinambela, mungkin nanti akan kebagian di saat ada "belas
kasihan" atau "tanda cinta". Ketika seorang wartawan menyeletuk apakah itu mantan Ketua
Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Matori Abdul Djalil, Sinambela melanjutkan, "Ya, itulah
harapan kita. Kita harus bayar pada dia yang capek itu, kan. Tetapi TNI dan Polri itu, kan, given,"
ujarnya.

Mengenai sikap keras mantan Presiden Abdurrahman Wahid, PDI-P menurut Pramono Anung
pasti akan mengambil sikap yang konstitusional. Apalagi, hubungan Abdurrahman Wahid dengan
Megawati merupakan saudara kakak beradik yang diyakininya tidak akan rusak karena
kekuasaan saja. "Saya yakin itu," ujar Pramono.

Tak ringan

Saat menyampaikan pidato pertama beberapa saat setelah ditetapkan Majelis sebagai Presiden
ke-5, Megawati menyadari bahwa tugas dan tantangan yang akan diembannya sebagai Presiden
tidaklah ringan. Diperlukan upaya untuk sesegera dan secepat mungkin keluar dari keterpurukan
yang beberapa tahun terakhir melanda hampir setiap relung kehidupan. Presiden merasakan
adanya keprihatinan nasional yang mendalam berkenaan dengan kondisi itu sebagaimana
dirasakan seluruh rakyat Indonesia.

"Saya menangkap adanya rasa lelah bahkan kian melunturnya kepercayaan terhadap
kemampuan pemerintahan negara menyelesaikan semua kemelut ini. Dalam keyakinan saya, di
tengah kondisi itu tidak satu kelompok atau golongan mana pun yang mampu menyelesaikan
sendiri masalah besar yang saat ini sedang kita
hadapi," katanya. Megawati mengajak semua pihak untuk menerima hasil proses demokrasi
dengan ikhlas, dengan legowo.
"Saya juga menyimak dengan saksama proses demokrasi dan konstitusi yang berlangsung
menjelang dan selama sidang majelis yang mulia ini, serta pelajaran yang begitu berharga
tentang arti aspirasi, tentang makna amanah, mandat, dan bahkan konsekuensi jabatan yang
harus dihadapi terhadap pengingkarannya. Betapapun, demokrasi pada ujungnya juga menuntut
ketulusan, keikhlasan, dan ketaatan pada aturan permainan," katanya.

Tak terbendung

Penetapan putri mantan Presiden Soekarno ini tidak terbendung lagi menyusul jejak ayahnya
sebagai Presiden setelah sembilan fraksi MPR dalam pemandangan umumnya menyatakan
Presiden Abdurrahman Wahid harus diberhentikan karena telah melanggar haluan negara, salah
satunya mengeluarkan maklumat atau dekrit tentang pembekuan MPR/DPR, pembekuan Partai
Golkar, dan percepatan pemilu. MPR sekaligus menetapkan Wapres Megawati sebagai
Presiden.

Penetapan Megawati semakin kukuh setelah dalam pendapat akhir fraksi-fraksi MPR dapat
menyetujui hasil kerja Panitia Ad Hoc (PAH) MPR yang diketuai Jacob Tobing yang membahas
empat Rancangan Ketetapan (Rantap). Keempat Rantap itu ialah Rantap tentang sikap MPR
terhadap maklumat Presiden RI tanggal 23 Juli 2001, Rantap tentang Pertanggungjawaban
Presiden, Rantap tentang Penetapan Wapres Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden, dan
Rantap tentang pengangkatan Wapres.

Megawati tersenyum setelah mendengar kepastian dirinya sebagai Presiden. Saat keluar
ruangan, Presiden ke-5 ini disambut salam hangat sejumlah pimpinan Majelis, termasuk Ketua
MPR Amien Rais. Suami Megawati, Taufik Kiemas, memeluk dan mencium istrinya. "Dengan
segala kerendahan hati, saya menyatakan kesediaan dan menerima sebagai amanah rakyat
Indonesia," katanya disambut tepuk tangan meriah. (gun/ag/sah/bur/p07/tra/pep/vik)