You are on page 1of 41

FILARIASIS PADA KEHAMILAN

(F.3)

Oleh:
dr. Oktania Putri Kusnawan

Anggota:
dr. Rizki Trya Permata
dr. Merry Susanti
dr. Syifa Andini Suparman
dr. Astri Kania

Pendamping:
dr. Dorlina Panjaitan

PROGRAM DOKTER INTERNSIP
PPSDM KEMENTRIAN KESEHATAN RI
DAN KOMITE INTERNSIP DOKTER INDONESIA
PUSKESMAS GUNUNG ALAM
KABUPATEN ARGAMAKMUR BENGKULU UTARA
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat,
taufik dan hidayah-Nya penulisan laporan ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun sebagai
laporan tugas Puskesmas Formula 3 dokter internship.
Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak baik berupa bimbingan, hasil diskusi kelompok, buku-buku referensi serta hal
lainnya. Oleh karena itu penulis berdoa mudah-mudahan segala bantuan yang telah diberikan
selama ini akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada yang terhormat pendamping kami yang telah banyak memberikan bimbingan. Penulis
juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman yang telah
banyak membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik membangun agar dapat memberikan yang lebih
baik di kemudian hari. Akhir kata, mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang memerlukan.

Arga Makmur, Mei 2014




BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Filariasis adalah kelompok penyakit yang mengenai manusia dan binatang yang
disebabkan oleh parasit kelompok nematode yang disebut filaridae, umumnya disebut
filaria. Parasit filarial terklasifikasikan berdasarkan habitat cacing dewasa dalam
“vertebral host” kelompok kutaneus termasuk Loa loa, Onchocerca volvulus, dan
Mansonella streptocerca. Kelompok limfatik termasuk Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori. Kelompok kavitas tubuh termasuk Mansonella
perstans dan Mansonella ozzardi.
Filariasis limfatik mengenai lebih dari 90 juta orang di seluruh dunia dan ditemukan
di daerah tropik dan subtropik. Sedikitnya 21 juta orang terinfeksi oleh Onchocerca
volvulus di seperempat bagian Afrika dan berpusat di Amerika Tengah dan Selatan.
Sekitar 3 juta orang di Afrika Tengah terinfeksi dengan Loa loa. Pada tahun 1997, World
Health Organization (WHO) mencanangkan program secara global untuk mengeliminasi
filariasis limfatik sebagai masalah kesehatan umum.
Penyakit filarial jarang menjadi fatal, tetapi konsekuensi dari infeksi dapat
menyebabkan persoalan perseorangan dan sosial ekonomi yang cukup signifikan bagi
mereka yang terkena. WHO telah mengidentifikasikan filariasis limfatik sebagai
penyebab kedua dari kecacatan yang lama dan permanen di dunia setelah lepra. Angka
kejadian filariasis pada manusia utamanya akibat dari respon hospes terhadap mikrofilaria
atau cacing dewasa di bagian tubuh yang berbeda.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur dan tidak terdapat perbedaan antara jenis
kelamin laki-laki maupun perempuan. Begitupun bisa mengenai ibu hamil dan anak-anak.
Selain itu penyakit filariasis ini dapat ditemukan pada semua ras, tidak ada predileksi ras
tertentu.
Sampai saat ini Filariasis masih merupakan problem kesehatan di Indonesia, distribusi
infeksinya luas tetapi prevalensi dan intensitas infeksi berbeda dari satu tempat ke tempat
yang lain, bahkan di beberapa daerah merupakan endemis. Di daerah endemis biasanya
banyak terdapat tempat berkembang biaknya nyamuk yang berdekatan dengan habitat
manusia, sehingga manusia dapat berulang kali digigit oleh nyamuk dan infeksi terjadi
secara bertahap, namun demukian tidak berarti dapat selalu menyebabkan gejala klinik.
Faktor yang terpenting dalam penularan adalah densitas populasi nyamuk dan jumlah
mikrofilaria dalam darah, sehinnga di daerah hipoendemis, nyamuk sangat sedikit
membawa larva infektif dengan sendirinya penularan filaria sangat berkurang.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN IDENTIFIKASI MASALAH

2.1. Filariasis
2.1.1 Definisi
Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah
tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah infeksi oleh sekelompok cacing nematoda parasit
yang tergabung dalam superfamilia Filarioidea. Filariasis biasanya dikelompokkan menjadi
tiga macam, berdasarkan bagian tubuh atau jaringan yang menjadi tempat bersarangnya:
filariasis limfatik, filariasis kutaneous dan filariasis rongga serosa (serous cavity).
Filariasis limfatik disebabkan Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia
timori. W. bancrofti dapat menyerang tungkai dada, serta alat kelamin. Filariasis kutaneous
disebabkan oleh Loa loa (cacing mata Afrika), Mansonella streptocerca, Onchocerca
volvulus, dan Dracunculus medinensis. Gejala elefantiasis (penebalan kulit dan jaringan-
jaringan di bawahnya) sebenarnya hanya disebabkan oleh filariasis limfatik ini. Brugia
timori diketahui jarang menyerang (cacing guinea). Mereka menghuni lapisan lemak yang
ada di bawah lapisan kulit. Jenis filariasis yang terakhir disebabkan oleh Mansonella
perstans dan Mansonella ozzardi, yang menghuni rongga perut. Semua parasit ini disebarkan
melalui nyamuk atau lalat pengisap darah.
Penyakit ini disebabkan oleh superfamilia filariodea, berikut daftar nama dan penyakit
yang ditimbulkan oleh parasite tersebut:
a. Wuchereria bancrofti, adalah penyebab dari Bancroftian filariasis yang menimbulkan
kelainan limfopatologik seperti elephantiasis. Cacing ini ditularkan oleh nyamuk Anopheles
sp, Culex sp dan Aedes sp.
b. Brugia Malayi, merupakan penyebab Malayan filariasis yang menimbulkan penyakit
dengan gejala menyerupai Bancroftian filariasis. Cacing ini ditularkan melalui Mansonia sp,
Aedes sp dan Anopheles sp.
c. Brugia timor adalah penyebab Timorian filariasis yang ditularkan melalui Anopheles sp.
Gejala menyerupai Bancroftian filariasis.
d. Loa loa, yang ditularkan melalui Chrysops atau deerfly menyebabkan penyakit khas yang
dinamakan loasis atau Calabar swelling. Gejala yang ditimbulkan berupa bengkak pada kulit,
lesi pada mata, manifestasi alergi lainnya.
e. Onchocerca volvulus, sering dinamakan Blinding filariaI, yang menyebabkan kebutaan,
cacing ini juga dapat menimbulkan kelainan kulit yang menyebabkan perubahan bentuk
wajah penderita. Cacing ini ditularkan terutama oleh Simulium sp atau Blackflies.
f. Mansonella ozzardi, menyebabkan penyakit yang dinamakan, mansonellosis yang dianggap
ada kaitannya dengan adanya perdangan sendi( arthritis). Cacing ini ditularkan melalui
Simulium sp atau Culicoides.
g. Mansonella perstans, ditularkan melalui Culicoides dapat menimbulkan sindrom alergi
yang khas.
h. Mansonella streptocerca, penyebab streptocerciasis yang menimbulkan kelainan kulit
tetapi tanpa menimbulkan kebutaan atau elephantiasis.
2.1.2 Epidemiologi
Umumnya penyakit filariasis yang sering terjadi adalah yang diakibatkan oleh
Wuchereria bancrofti. Yang memiliki prevalensi di afrika bagian ekuator, subbenua india,
Asia Tenggara dan Amerika Tengah dan Selatan. Prevalensi dari mikrofilaria meningkat
bersama dengan umur pada anak-anak dan meningkat antara usia 20-30 tahun. Pada saat usia
pertumbuhan, serta lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan.
2.1.3 Patogenesis
Lingkaran hidup filarial meliputi, (1) pengisapan mikrofilaria dari darah atau jaringan
oleh seranggap penghisap darah, (2) Metamorfosis mikrofilaria di dalam hospes perantara
serangga, dimana mula-mula membentuk larva rabditiform lalu membentuk larva filariform
yang aktif, (3) penularan larva infektif ke dalam kulit hospes baru, melalui probosis serangga
yang menggigit, dan kemudian pertumbuhan larva setelah masuk ke dalam luka gigitan
sehingga menjadi cacing dewasa.
Tubuh yang sudah terinfeksi dari cacing filaria akan menyerang organ tertentu sesuai
dengan daerah predarannya. Jadi telah dikenal 3 bentuk daerah utama parasit menginfeksi
manusia, bisa pada limfatik yang akan berdampak pada system saluran limfenya,
onkoserkiasis yang akan menginfeksi sekitar bagian wajah dan bahkan dapat menimbulkan
kebutaan, Loiasis daerah tempat infeksi yang berada dalam jaringan. Biasanya mikrofilaria
dapat hidup hingga 3 bulan-3 tahun, sedangkan parasite dewasa bisa hidup hingga beberapa
tahun.

2.1.4 Siklus Hidup
Semua parasit filarial yang hidup dalam tubuh manusia mempunyai siklus hidup yang
sama yaitu 5 tingkat perkembangan larva, tiga pada hospes perantara yaitu nyamuk dan dua
pada manusia. Masing –masing tingkat perkembangan ditandai dengan adanya pertumbuhan
dan pertukaran kulit. Cacing betina dewasa dapat menghasilkan 50.000 mikrofilaria setiap
hari. Apabila mikrofilaria termakan oleh nyamuk yang cocok, mereka dengan cepat mencapai
sel akan menembus dinding lambung nyamuk dan berpindah melalui jaringan sehingga yang
cocok untuk perkembangannya. Seperti larva W. bancrofti, hanya akan berkembang pada otot
dada nyamuk. Dalam waktu 12 hari, terbentuk mikrofilaria yang halus dengan panjang
250 mm, kemudian berubah menjadi larva tingkat tiga yang infektif dengan panjang
1500 mm. Pada saat ini nyamuk menjadi infektif dan bila menggigit manusia, larva yang
infeksius secara aktif akan menembus kulit ditempat gigitan dan dengan cepat akan sampai
ke saluran limfe, dalam beberapa bulan akan mengalami dua kali penggantian kulit sebelum
menjadi dewasa.
Tidak ada multiplikasi cacing filarial pada manusia, sehingga banyaknya cacing dan
beratnya infeksi secara proporsional bergantung kepada banyaknya larva yang infektif,
Keadaan ini biasanya terjadi dalam waktu yang lama. Jadi kronisitas dan komplikasi
elephantiasis pada lymphatic filariasis dan kebutaan pada onchocerciasis hanya terlihat pada
orang yang tinggal di daerah endemic dalam waktu yang lama.
2.1.6 Diagnosis
Pengujian yang dilakukan terhadap pasien adalah usaha untuk menemukan atau
memperoleh jaringan atau cairan tubuh untuk mendeteksi langsung organisme pathogen
untuk membuktikan ada tidaknya infeksi. Hasil dari pengujian ini sangat penting untuk
memandu pemilihan antibiotic untuk terapi dan sasaran yang tepat.
Cacing dewasa sulit untuk ditemukan, sehingga yang paling mudah digunakan untuk
menegakan diagnosa adalah larvanya yang disebut sebagai mikrofilaria. Yang digunakan
untuk mendeteksi mikrofilaria di dalam darah adalah :
a. Ada tidaknya selubung(Sheath) pada mikrofilaria tadi, spesies yang memiliki sheath adalah
Wuchereria brancrofti, Brugia sp dan Loa loa, sedangkan yang tidak memiliki sheath adalah,
Onchocerca volvulus dan Mansonella sp.
b. Jumlah dan penyebaran body nuclei( nucleus yang banyak ditemukan pada bagian tubuh
mikrofilaria, serta letak dari body nuclei tadi berjajar atau berkelompok.
c. Ada tidaknya serta ukuran cephalic space yaitu rongga yang terdapat pada di bagian
anterior tubuh yang tidak tertutupi oleh body nuclei.
d. Adanya bagian yang dinamakan inner body yaitu bagian tubuh yang pada perwarnaannya
Nampak lebih berwarna merah.
e. Letak dari nerve ring, excretory apparatus dan anus.
f. Letak dan ukuran genital cell( g sell).

Ciri khas dari kehidupan cacing terutama mikrofilarianya adalah periodisitas densitas
mikrofilaria dalam darah yang mempunyai gambaran tertentu selama 24 jam atau dengan kata
lain mikrofilaria muncul pada sel darah tepi pada jumlah banyak pada waktu-waktu tertentu.
Sesuai dengan periodisitas mikrofilaria dikenal beberapa strain pada spesies ini, yaitu:
a. Strain Nonperiodic. Mikrofilaria strain ini selalu ada dalam jumlah tetap di darah tepi
(Mansonella perstant, Dirofilaria witei pada burung dan Brugia patei di pulau pate).
b. Strain Subperiodic. Mikrofilaria strain ini selalu ada dalam darah tepi, namun pada saat-
saat tertentu jumlahnya bisa meningkat dari biasanya.
 Strain nocturnal subperiodic. Mikrofilaria selalu ada dalam darah tepi, namun
jumlahnya bertambah pada malam hari (Wuchereria bancrofti di Thailand dan
Filipina, Brugia malayi dan Brugia pahagi pada kera).
 Strain diurnal subperiodic. Mikrofilaria selalu ada di dalam darah tepi, tetapi jumlah
bertambah pada siang hari (Wuchereria bancrofti di pasifik, Brugia pahagi pada kera)
c. Strain Periodic. Pada saat tertentu saja mikrofilaria ini dapat ditemukan pada sel darah tepi.
 Strain nocturnal periodic. Bila mikrofilarianya ditemukan banyak di darah tepi pada
malam hari (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia patei, Dirofilaria aethiops
pada kera Loa loa pada Baboon).
 Strain diurnal periodic. Bils mikrofilarianya ditemukan banyak di darah tepi pada
siang hari (Loa loa pada manusia).

2.1.5 Klasifikasi
2.1.5.1 Filariasis Limfatik
a. Filariasis Bancrofti, Wuchereriasis, Elephantiasis
Filariasis bancrofti adalah infeksi yang disebakan oleh Wechereria bancrofti. Cacing
dewasa hidup di dalam kelenjar dan saluran limfe, sedangkan mikrofilaria ditemukan di
dalam darah. Secara klinis, infeksi biasa terjadi tanpa gejala atau manifestasinya berupa
peradangan dan sumbatan saluran limfe. Manusia merupakan satu-satunya hospes yang
diketahui. Wuchereria bancrofti akan mencapai kematangan seksual di kelenjar dan saluran
limfe. Cacing dewasa berwarna putih, kecil seperti benang. Cacing jantan berukuran 40 mm x
0,2 mm, sedangkan cacing betina berukuran dua kali cacing jantan yaitu 80-100 mm x 0.2-0.3
mm.


Gambar Cacing Wuchereria bancrofti

Epidemiologi
W. bancrofti terutama ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Dilaporkan bahwa
penyakit ini telah menyerang lebih dari 1 juta orang pada lebih dari 80 negara. Diperkirakan
bahwa 250 juta orang di dunia telah terinfeksi dengan parasit ini, terutama di Asia Selatan
dan sub-Sahara Afrika. Di Asia, parasit ini endemik di daerah rural dan urban seperti India,
Srilanka dan Myanmar; ditemukan sedikit di daerah pedesaan di Thailand dan Vietnam. Di
daerah endemik sekitar 10-50% laki-laki dan 10% wanita terinfeksi oleh penyakit ini.
Di Indonesia, penyakit ini ditemukan dengan prevalensi rendah di Sumatra,
Kalimantan, Sulawesi dan Lombok. Nyamuk Anopheles dan Culex merupakan vektor yang
menggigit pada malam hari untuk tipe W. bracofti periodik nokturna, sedangkan galur yang
subperiodik ditukarkan oleh nyamuk Aedes yang menggigit pada siang hari. Di daerah
endemik, pemaparan dimulai pada masa anak – anak, angka mikrofilaria meningkat bersama
dengan meningkatnya umur, meskipun infeksi tidak disertai dengan gejala klinis yang nyata.

Siklus Hidup
Larva yang infektif (larva tingkat tiga) dilepaskan melalui proboscis (labela) nyamuk
sewaktu menggigit manusia. Larva kemudian bermigrasi dalam saluran limfe dan kelenjar
limfe kemudian mereka akan tumbuh menjadi dewasa betina dan jantan. Mikrofilaria pertama
sekali ditemukan didaerah perifer 6 bulan – 1 tahun setelah infeksi, dan jika tidak terjadi
reinfeksi, mikrofilaria ini dapat bertahan 5 – 10 tahun. Penjamu perantara mendapatkan
infeksi dengan menghisap darah yang mengandung mikrofilaria. Mikrofilaria akan
melepaskan sarungnya didalam lambung nyamuk. Larva akan bermigrasi ke otot – otot dada
dan berkembang menjadi larva yang infektif dalam waktu 10 – 14 hari.

Gambar Siklus Hidup Wuchereria bancrofti

Respon Imunologis
Infeksi parasit filaria ditandai dengan induksi respon tipe alergi, terlihat peningkatan jumlah
eosinofil pada darah tepi dan peningkatan IgE spesifik, IgG4 dan IL-4. Respons imunitas
selular juga berkembang pada orang yang tinggal di daerah endemik filariasis , sehingga
keadaan ini berperan untuk menekan timbulnya gejala klinis pada sebagian orang.

Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala filariasis bancrofti sangat berbeda dari satu daerah endemik dengan
daerah endemik lainnya. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan intensitas
paparan terhadap vektor yang infektif diantara daerah endemik tersebut.
Asymptomatic amicrofilaremia, adalah suatu keadaan yang terjadi apabila seseorang
yang terinfeksi mengandung cacing dewasa, namun tidak ditemukan mikriofilaria didalam
darah, atau karena microfilaremia sangat rendah sehingga tidak terdeteksi dengan prosedur
laboratorium yang biasa. Asymptomatic microfilaremia, pasien mengandung microfilaremia
yang berat tetapi tanpa gejala sama sekali.
Manifestasi akut, berupa demam tinggi (demam filarial atau elefantoid), menggigil
dan lesu, limfangitis dan limfadenitis yang berlangsung 3-15 hari, dan dapat terjadi beberapa
kali dalam setahun. Pada banyak kasus, demam filarial tidak menunjukan microfilaremia.
Limfangitis akan meluas kedaerah distal dari kelenjar yang terkena tempat cacing ini tinggal.
Limfangitis dan limfadenitis berkembang lebih sering di ekstremitas bawah dari pada atas.
Selain pada tungkai, dapat mengenai alat kelamin, (tanda khas infeksi W.bancrofti) dan
payudara.


Gambar Elephantiasis pada tungkai bawah

Gambar Penderita limfedema pada lengan.
Manifestasi kronik, disebabkan oleh berkurangnya fungsi saluran limfe terjadi
beberapa bulan sampai bertahun-tahun dari episode akut. Gejala klinis bervariasi mulai dari
ringan sampai berat yang diikuti dengan perjalanan penyakit obstruksi yang kronis. Tanda
klinis utama yaitu hydrocele, limfedema, elefantiasis dan chyluria, meningkat sesuai
bertambahnya usia.
Pada sebagian besar daerah dengan manifestasi genital, gambaran kronis yang terjadi
adalah hydrocele. Selain itu dapat dijumpai epididimitis kronis, funikulitis, edem karena
penebalan kulit skrotum, sedangkan pada perempuan bisa dijumpai limfedema vulva.
Limfedema dan elefantiasis ekstremitas, episode limfedema pada ekstremitas akan
menyebabkan elefantiasis di daerah saluran limfe yang terkena dalam waktu bertahun-tahun.
Lebih sering terkena ekstremitas bawah. Pada W.bancrofti, infeksi di daerah paha dan
ekstremitas bawah sama seringnya, berbeda dengan B.malayi yang hanya mengenai
ekstremitas bawah saja.


Gambar Hydrocele bilateral, pembesaran testis dan limfadenopati inguinal pada
seorang pria yang terinfeksi Wuchereria bancrofti dengan mikrofilaremik.

Gambar Limfedema Payudara

Progresivitas filarial limfedema dibagi atas 3 derajat (WHO) :
Derajat 1 : Limfedema umumnya bersifat pitting oedema, hilang dengan spontan bila kaki
dinaikan.
Derajat 2 : Limfedema umumnya non pitting oedema, tidak secara spontan hilang dengan
menaikan kaki.
Derajat 3 : Limfedema (elefantiasis),volume non pitting oedema bertambah dengan
dermatosclerosis dan lesi papillomatous.

Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan leukositosis dengan eosinofilia sampai 10-
30%. Cacing filaria dapat ditemukan dengan pengambilan darah tebal atau tipis pada waktu
malam hari antara jam 10 malam sampai 2 pagi yang dipulas dengan pewarnaan Giemsa atau
Wright.

Gambar Mikrofilaria dari Wuchereria bancrofti pada pemeriksaan darah perifer
Diagnosa
Diagnosa filariasis didasarkan atas anamnesis yang berhubungan dengan nyamuk di
daerah endemik, disertai dengan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan darah pada waktu
malam hari.
Biopsi kelenjar dilakukan bila mikrofilaria tidak ditemukan di dalam darah, hal
tersebut hanya dilakukan pada kelenjar limfe ekstrimitas, dan di sini mungkin akan
ditemukan cacing dewasa. Biopsi ini dapat pula menimbulkan gangguan drainase saluran
limfe. Suntikan intradermal dengan antigen filaria, reaksi ikatan komlemen, hemaglutinasi
dan flokulasi penting untuk diagnosis bila mikrofilaria tidak dapat ditemukan dalam darah.
Dengan pemeriksaan antigen filaria dapat ditemukan adanya antigen filarial di dalam
darah perifer, dengan atau tanpa mikrofilaria. Pemeriksaan ini sekarang dipertimbangkan
sebagai diagnosis yang paten infeksi filarial dan dipakai untuk memonitor efektivitas
pengobatan.
Jika dicurigai filariasis limfatik, urine harus diperiksa secara makroskopis untuk
menemukan adanya chyluria. Pada pemeriksaan Immunoglobulin serum, kadar IgE serum
yang meningkat ditemukan pada pasien dengan penyakit filaria aktif.
Tes provokasi DEC bermanfaat untuk menemukan adanya mikrofilaria pada darah
tepi yang diambil pada waktu siang hari, dimana sebenarnya mikrofilaria bersifat nokturnal.
Diberikan DEC 2 mg/kgBB dan darah diambil 45-50 menit setelah pemberian obat. Selain itu
dapat pula dilakukan penghitungan jumlah mikrofilaria. Mikrofilaria dihitung dengan
mengambil 0,25 ml darah yang diencerkan dengan asetat 3% sampai menjadi 0,5 cc dan
dilihat dibawah mikroskop dengan menggunakan Sedgwick Refler counting Cell, dimana
didapatkan :
- Densitas tinggi : 50mf/ml darah
- Densitas rendah : 1-49mf/ml darah
- Densitas sangat rendah : 1-10 mf/ml darah
Pemeriksaan limfografi dengan gambaran adanya obstruksi, atresia atau dilatasi
disertai bentuk saluran yang berliku-liku dan adanya aliran balik ke kulit dapat membantu
diagnosis penyakit ini.



Diagnosa Banding
Infeksi bakteri, tromboflebitis atau trauma dapat mengacaukan Filarial
Adenolimfadenitis Akut, Tuberkulosis, Lepra, Sarkoidosis dan penyakit sistemik
granulomatous lainnya.
Pengobatan
a. Perawatan umum :
- Istirahat di tempat tidur, pindah tempat ke daerah dingin akan mengurangi derajat
serangan akut.
- Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses
- Pengikatan di daerah pembendungan akan mengurangi edema
b. Pengobatan Spesifik
Pemberian Dietilkarbamazin dengan dosis DEC perkali makan pada pengobatan
massal saat ini berada dalam kisaran dosis yang dianjurkan yaitu 3-6mg/ kg BB. Mekanisme
kerja DEC terhadap mikrofilaria adalah melumpuhkan otot sehingga mikrofilaria tidak dapat
bertahan ditempat (dislokasi), juga mengubah komposisi dinding sehingga akan dihancurkan
oleh host.
Albendazol pada dosis tunggal 400 mg membunuh filarial dan juga cacing usus
lainnya termasuk cacing tambang. Ini merupakan keuntungan tambahan memberikan
albendazol mengingat angka kecacingan di Indonesia masih tinggi. Albendazol bersifat
teratogenik dan embriotoksik pada hewan, oleh karena itu tidak boleh digunakan pada wanita
hamil. Juga tidak boleh pada cirrhosis hepatis dan anak berusia di bawah 2 tahun karena
belum diketahui keamanannya pada anak.
Kejadian ikutan pasca pengobatan filariasis yang pernah dilaporkan di seluruh dunia
sehingga mungkin dapat terjadi juga di Indonesia seperti yang dipaparkan di dalam tabel
berikut:

Kejadian ikutan paska pengobatan filariasis dapat di klasifikasikan sebagai berikut:


c. Pengobatan Pembedahan
Pembedahan untuk elephantiasis skrotum, vulva dan mammae mudah dilakukan
dengan hasil yang memuaskan. Perbaikan tungkai yang membesar dengan anastomosis antara
saluran limfe yang letaknya dalam dengan yang perifer tidak terlalu memuaskan.
Prognosis
Prognosis penyakit ini tergantung dari jumlah cacing dewasa dan mikrofilaria dalam
tubuh penderita, potensi cacing untuk berkembang biak, kesempatan untuk infeksi ulang dan
aktivitas RES. Pada kasus-kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien pindah
dari daerah endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat dilakukan dengan
pemberian obat, serta pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan
edema pada tungkai, prognosis lebih buruk.



Pencegahan
WHO telah merencanakan eradikasi filariasis didunia pada 10 tahun mendatang.
Pengobatan masal pada populasi yang menderita filariasis dengan DEC atau pengulangan
ivermectin sekali pertahun, secara nyata mereduksi mikrofilaremia. Secara teoritis
pengobatan sekali setahun efektif bila diberikan minimal 5 tahun.
DEC tidak bersifat toksik oleh karena itu dapat ditambahkan ke dalam garam atau
bahan makanan lainnya. Keberhasilan tergantung dari kerja sama yang baik, sosioekonomi
dan kebiasaan. Dosis yang dianjurkan adalah 6 mg/kgBB/bulan selama 12 bulan. Sedangkan
pada penduduk yang idak kooperatif diberikan 6 mg/kgBB/minggu dengan total dosis 36
mg/kgBB.

b. Filariasis Malayi
Penyebab Filariasis Malayi adalah filaria Brugia malayi. Cacing dewasa jenis ini memiliki
ukuran panjang 13-33 mm dengan diaameter 70-80 mikrometer. Sedangkan cacing betinanya
berukuran panjang 43-55 mm dan berdiameter 130-170 mikrometer.

Gambar Brugia malayi

Epidemiologi
Penyebaran geografis parasit ini luas meliputi Srilangka, Indonesia, Filipina, India
Selatan, Asia, Tiongkok, Korea dan sebagian kecil Jepang. Didaerah penyebarannya terdapat
di daerah dataran sesuai dengan tempat hidup nyamuk Mansonia. Nyamuk terdapat di daerah
rendah dngan banyak kolam yang bertanaman pistia (suatu tumbuhan air). Penyakit ini
terdapat di luar kota bila vektornya adalah Mansonia, dan bila vektornya Anopheles maka
terdapat di daerah kota dan sekitarnya.
Lingkaran Hidup
Manusia merupakan hopes definitif. Periodisitas nokturnal mikrofilaria yang
bersarung dan berbentuk khas ini, tidak senyata periodisitas W. Bancrofti. Sebagai hospes
perantara adalah Mansonia, Anopheles dan Amigeres. Dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria
tumbuh menjadi larva infektif dalam waktu 6-12 hari.
Patogenesis dan Gejala Klinik
Gejala klinik dari Brugia malayi, Brugia timori, Wuchereria bancrofti adalah sama.
Manifestasi dari infeksi akut adalah limfadenitis rekuren dan limfangitis. Pada filariasis
kronik terjadi terjadi obstruksi limfatik yang menyebabkan hidrokel dan elefantiasis. Brugia
malayi berbeda dengan Wuchereria bancrofti dalam hal pasien dengan gejala filariasis yaitu
mempunyai jumlah mikrofilaria yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak
menunjukkan gejala. Di Malaysia dengan perbandingan samapai 5 kali. Filariasis Malayi
khas dengan adanya limfadenopati superfisial dan eosinofilia yang tinggi (7-70%)
Diagnosis
Diagnosis dilakukan dengan memeriksa adanya mikrofilaria di dalam darah dengan
tetesan darah tebal atau tipis.



Pengobatan
Sama dengan pengobatan Wuchereria bancrofti. Pencegahan terhadap vektor ini
dengan cara memberantas vektor nyamuk tersebut dan menyingkirkan tanaman pistia.
Stratiotes dengan Fenoxoilen 30 gram merupakan obat murah dan memuaskan terhadap
tumbuh-tumbuhan air ini.
c. Filariasis Timori
Penyakit ini adalah filaria tipe Brugia timori. Cacing jantan berukuran panjang 20 mm
dengan diameter 70-80 mikrometer. Sedangkan yang betina berukuran panjang 30 mm
dengan diameter 100 mikrometer. Filaria tipe ini terdapat di daerah Timor, pulau Rote, Flores
dan beberapa pulau sekitarnya.
Cacing dewasa hidup di dalam saluran dan kelenjar limfe. Vektornya adalah
Anopheles barbirostis. Mikrofilarianya menyerupai mikrofilaria Brugia Malayi, yaitu lekuk
badannya patah-patah dan susunan intinya tidak teratur, perbedaannya terletak di dalam hal :
1. Panjang kepala sama dengan 3x lebar kepala.
2. Ekornya mempunyai 2 inti tambahan, yang ukurannya lebih kecil daripada inti-inti
lainnya dan letaknya lebih berjauhan bila dibandingkan dengan letak inti tambahan
Brugia malayi.
3. Sarungnya tidak mengambil warna pulasan Giemsa.
4. Ukurannya lebih panjang daripada mikrofilaria Brugia malayi. Mikrofilaria bersifat
periodik nokturnal.
Gejala klinis dan pengobatannya menyerupai Brugia malayi.

Gambar Brugia timori
Tropical Pulmonary Eosinophilia
Keberadaan dari mikrofilaria di dalam tubuh manusia dapat menyebabkan
terjadinya tropical pulmonary eosinophilia, yaitu suatu sindroma yang disebabkan
mikrofilaria yang berada di dalam paru-paru dan kelenjar limfe dengan gejala-gejala
seperti paroxysmal nocturnal cough dengan disertai sesak nafas, demam, penurunan berat
badan dan lemas. Ronki dan rales didapatkan pada auskultasi dinding dada. Pada
pemeriksaan radiologi di dapatkan corakan bronkovaskular yang bertambah. Episode
yang berulang-ulang dapat menyebabkan fibrosis interstitial dan gangguan pernafasan
kronik. Hepatosplenomegali dan limfadenopati generalisata sering ditemukan pada anak-
anak.
Diagnosis ditegakkan melalui riwayat tinggal di daerah endemik, eosinophilia
(>2000/µL), gejala klinik yang khas, peningkatan serum IgE (>1000IU/Ml) dan
peningkatan titer dari antibodi antimikrofilarial. Walaupun mikrofilaria dapat ditemukan
pada jaringan paru dan kelenjar limfe, biopsi dari jaringan tidak dilakukan. Respon klinik
terhadap pemberian dietilkarbamazin (5mg/kg/hari P.O.).



2.1.3.2 Filariasis Kutaneous
a. Onchocerciasis
Penyebab penyakit ini adalah Onchocerca volvulus. Juga dikenal sebagai hanging
groins, leopard skin, river blindness, atau sowda. Gejala klinis akibat adanya microfilaria di
kulit dan termasuk pruritus, bengkak subkutaneous, lymphadenitis, dan kebutaan. Cacing
dewasa berukuran panjang 10-42 mm dengan diameter 130-210 mikrometer. Sedangkan
cacing betina berukuran panjang 33,5-50 mm dengan diameter 270-400 mikrometer.

Gambar Onchocerca volvulus
Cacing dewasa berada dalam nodulus di jaringan subkutis atau lebih dalam, biasanya
timbul di daerah pelvis, temporal dan daerah occipital. Mikrofilarianya dapat ditemukan
didalam jaringan subkutis, darah tepi, urine dan sputum. Manson (1982) mengatakan bahwa
vektor dari penyakit ini adalah sejenis lalat betina yang disebut Black fly, yaitu
golongan Simulium sp. Diduga Onchocerciasis kronis disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas
terhadap antigen parasit, meningkatkan eosinophilia, dan mengakibatkan serum
immunoglobulin E (IgE) yang tinggi.
Manifestasi Klinik.
Trias gejala klinisnya berupa dermatitis, nodul kulit (yaitu onchocercomas), dan lesi okuler.
Ø Lesi kulit termasuk edema, pruritus, eritema, papula, erupsi scablike, perubahan
pigmen, dan likenifikasi.
Ø Nodul kulit biasanya diatas tulang prominens.
Ø Lesi pada mata biasanya berkaitan dengan durasi dan beratnya infeksi dan disebabkan
respon imun hospes yang abnormal terhadap mikrofilariae. Pada mata ditemukan
keratitis punctate, pannus, fibrosis kornea, iridocyclitis, glaucoma, choroiditis, and
atropi optik.

Gambar Lesi Okuler pada Onchocerciasis
Diagnosa
Infeksi o.volvulus didiagnosis ketika microfilaria ditemukan pada beberapa bahan
pemeriksaan kulit dari bagian tubuh yang berbeda dari kedua sisi tubuh. Pada kasus yang
dicurigai African onchocerciasis, daerah kulit yang direkomendasikan adalah gluteus dan
betis. Pada American onchocerciasis, lebih disukai pada kulit skapula dan deltoid. Sedangkan
pada pemeriksaan microfilaria di mata, mikrofilariae O. volvulus dapat ditemukan di kornea
atau mata bagian anterior dengan memakai slit-lamp
Pemeriksaan antibody filarial dengan memakai antigen rekombinan dapat digunakan
untuk mendiagnosis immunoglobulin G4 onchocerciasis (IgG4). Pada pemeriksaan
Immunoglobulin serum, IgE serum meningkat dan IgG4 mungkin ditemukan pada pasien
dengan penyakit filaria aktif. Dengan menggunakan ultrasonografi maka dapat dideteksi
adanya Onchocercoma dan perubahan vitreous di dalam mata.


B. Loaiasis
Penyebabnya adalah cacing Loa loa. Cacing jantan memiliki panjang 30-34 mm dan
lebar 0,35-0,43 mm. Sedangkan cacing betina loa-loa berukuran 40-70 mm dengan lebar 0,5
mm. Lalat buah mangga atau deerflies dari Chrysops diduga sebagai vektor dari penyakit
loaiasis. Respon infeksi Loa loa berbeda antara penduduk daerah endemis dengan pendatang.
Pendatang dengan infeksi lebih menunjukkan gejala klinis dibandingkan penduduk daerah
endemis, meskipun dengan microfilaria level rendah. Eosinofil, IgE serum, dan level
antibody juga lebih tinggi pada pendatang.

Gambar Loa loa
Gejala infeksi Loa loa biasanya berupa bengkak-bengkak di ekstremitas bagian
subkutan, nyeri lokal, pruritus, dan urtikaria. Microfilaremia biasanya
asimptomatik.Manifestasi infeksi lainnya yang jarang termasuk arthritis, kalsifikasi payudara,
meningoencephalopathy, fibrosis endomyocardial, neuropati perifer, efusi pleura, dan
retinopati. Loaiasis dapat menimbulkan penyulit berupa lokal idiopatik angioedema bila tidak
segera ditangani.
Diagnosis penyakit oleh adanya “Calabar swelling”, yaitu, edema subkutaneus yang
besar, noneritematous. Kebanyakan mengelilingi persendian. Selain itu mikrofilaria Loa loa
dapat ditemukan dalam darah. Dengan pemeriksaan antigen filaria dapat ditemukan adanya
antigen filarial di dalam darah perifer, dengan atau tanpa mikrofilaria.

Gambar Calabar Swelling pada Loaiasis
Loa loa meningoencephalopathy
Meningoencephalopathy adalah komplikasi infeksi yang berat dan sering fatal.
Sindroma biasanya berhubungan dengan pemberian diethylcarbamazine (DEC) pada
seseorang dengan densitas microfilaremia yang tinggi, tetapi hal ini mungkin terjadi tanpa
terapi obat. DEC menyeabkan influx microfilariae dalam jumlah besar ke dalam cairan
cerebrospinal, menyebabkan obstruksi kapiler, edema cerebral, hypoxia, dan koma.
Granuloma necrotizing yang terlokalisir juga muncul sebagai respon terhadap mikrofilaria.
Pengobatan
DEC dalam dosis tinggi direkomendasikan untuk pengobatan Loa loa mulai hari ke 4
sampai hari 21. Penggunaan kortikosteroid bersama-sama dengan DEC patut
dipertimbangkan untuk meminimalkan timbulnya manifestasi alergi akibat mikrofilaria,
terutama yang disebabkan oleh Onchocerca volvulus dan Loa loa. Untuk mencegah
timbulnya efek samping, maka penggunaan DEC dalam terapi Onchocerciasis dan Loaiasis
harus dimulai dari 50 mg dan dinaikkan secara bertahap.
Suramin (Germanin, Antrypol, Naganinum, Naganol) dapat pula digunakan sebagai
terapi Onchocerciasis. Namun WHO merekomendasikan agar Suramin tidak diberikan pada
penderita Onchocerciasis yang sudah tua dan lemah, pasien dengan gangguan ginjal dan hati
yang berat, anak-anak kurang dari 10 tahun, orang dengan kebutaan total dan pada wanita
hami. Untuk Onchocerciasis, nodulektomi dengan anestesi lokal merupakan terapi yang
sering digunakan untuk mengurangi komplikasi pada kulit dan mata.
2.2. Permasalahan
2.2.1 Data Administrasi Pasien
a. Nama / Umur : Ny. A / 35 tahun
b. No. register : -
c. Status pendidikan : SD
d. Status sosial : Menengah kebawah

2.2.2 Data Demografis
a. Alamat : -
b. Agama : -
c. Suku : -
d. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
e. Bahasa Ibu : -
f. Jenis Kelamin : Perempuan

2.2.3 Data Biologik
a. Tinggi Badan : 158 cm
b. Berat Badan : 62 kg
c. Habitus : Normal

2.2.4 Data Klinis
a. Anamnesis :
Keluhan utama : keluhan bengkak pada kaki sebelah kanan dan kiri
Riwayat Penyakit sekarang :
 Pasien G1P0A0 mengaku hamil 12 minggu datang dengan keluhan bengkak
pada kaki sebelah kanan dankiri mulai dari pangkal paha sampai mata kaki.
Hal ini dialami sejak 2 bulan yang lalu, awalnya pembengkakan pada mata
kaki sebelah kanan, teraba keras dan nyeri. Kemudian satu bulan selanjutnya,
kaki sebelah kiri mengalami pembengkakan.
 Ada beberapa orang disekitar tempat tinggal pasien yang mempunyai keluhan
yang sama.
b. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : terlihat sakit sedang
 Kesadaran : komposmentis
 Tanda vital
- Tekanan darah : 120/70 mmHg
- Nadi : 90 x/ menit
- Respirasi : 20 x/ menit
- Suhu : 36
o
C
2 Untuk dugaan diagnosa :
- Kepala : normocephali, rambut hitam, distribusi merata
- Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
- Mulut : dalam batas normal
- Leher : JVP tidak ada peningkatan
- Toraks :
- Pulmo : bentuk dan gerak dada simetris, VR dan VBS N ka=ki
- Cor : BJ murni, reguler, murmur (-), gallop (-)
Status Obstetrikus
- Abdomen : perut membuncit, memanjang, striae gravidarum (+).
 Palpasi :
o L1 : TFU 12 cm, ballottement (+)
o L2 : Tidak dilakukan
o L3 : Tidak dilakukan
o L4 : Tidak dilakukan
 Auskultasi : DJJ (+)
- Anogenital : tidak dilakukan
- Ekstremitas : CRT > 2 detik
Status lokalis pada ekstremitas inferior dextra dan sinistra : non pitting oedema (+),
nyeri tekan (+), hiperemis (+), dan makula hiperpigmentasi (+).

2.4.5 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
Hb : 10,8 %
Leukosit : 9530/mm3
Ht : 36,80 %
Trombosit : 423.000/mm3
Hitung jenis : eosinofil 20%, basofil 4%, neutrofil batang 40%, neutrofil segmen 20%,
limfosit 15%, monosit 1%.
Apusan darah tepi : ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor
meruncing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan Wuchereria bancrofti.

2.4.6 Diagnosis
- Ibu: G1P0A0 gravida 12-13 minggu dengan filariasis bancrofti
- Janin: janin tunggal hidup intrauterin

2.4.8 Penatalaksanaan
 Non - Farmakologi :
- Menerangkan tentang penyakit dan pengobatannya
- Istirahat teratur
- Edukasi perawatan pada kaki yang mengalami pembengkakan
- Memeriksakan kehamilan secara teratur

 Farmakologi :
 Asam folat : 1 x1
 Untuk pengobatan filariasis ditunda selama masa kehamilan dan
menyusui.

2.2.9 Prognosis
 Quo ad Vitam : ad bonam
 Quo ad Functionam : dubia ad bonam
 Quoa ad Sanationam : dubia ad bonam






BAB III
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

3.1. Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan yang dilakukan untuk mensosialisasikan tentang filariasis,
umumnya masyarakat dan pada khususnya ibu hamil dan anak-anak dan kaitannya dengan
kegiatan upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang dilakukan oleh Puskesmas, sehingga
manajemen dan pencegahan filariasis dapat ditangani. Dilakukan dengan pemberian
informasi dan memberikan permahaman, selanjutnya dilakukan diskusi 2 arah mengenai
kendala-kendala yang dihadapi.
3.2. Intervensi
 Menjelaskan kepada pasien mengenai keadaan yang dialaminya merupakan keadaan
yang sering terjadi pada wanita hamil dan hal tersebut disebabkan karena banyak
faktor.
 Menjelaskan tentang filariasis, gejala klinis, proses perjalanan penyakit, manajemen
dan pencegahan, serta dampak yang terjadi yaitu cacat yang menetap pada bagian
yang mengalami pembengkakan serta perlu diperhatikan pengobatan filariasis pada
ibu hamil, ibu menyusui dan anak –anak.
 Menjelaskan kepada masyarakat tentang Pemberian Obat Masal Pencegahan (POMP)
akan dilakukan setiap tahun sekali selama 5 tahun, sehingga dengan pemahaman
semua pihak akan mencegah berkurangnya peserta pada tahun-tahun berikutnya. Hal
penting lainnya adalah pengertian dan kesadaran petugas kesehatan dan masyarakat
bahwa kejadian ikutan yang tak enak ini jauh lebih ringan daripada efek penyakit
filariasis yang menyebabkan kecacatan dan penderitaan seumur hidup.
BAB IV
PELAKSANAAN (PROSES INTERVENSI)

4.1. Strategi Penanganan Masalah
Diagnosis Klinis : Filariasis
Penanganan masalah :
 Promotif :
- Penyuluhan tentang penyakit filariasis → peningkatan pengetahuan bagi
masyarakat melalui pendekatan pengendalian lingkungan dapat dilakukan
dengan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak terjangkit nyamuk.
- Mensosialisasikan melalui penyuluhan seluruh aspek Pemberian Obat Massal
Pencegahan (POMP) Filariasis kepada seluruh lapisan masyarakat di
daerah yang akan menerima pengobatan massal. Setiap orang di daerah
tersebut harus sudah paham tentang “apa dan mengapa” kejadian ikutan
pasca pengobatan, termasuk pimpinan daerah, DPR, media massa, guru
dan orang penting/panutan dalam masyarakat dan tentu petugas kesehatan
dan para kader yang akan membantu proses pemberian obat nantinya.
 Preventif :
- Menjelaskan tentang penyakit dan pencegahan filariasis serta upaya-upaya
agar penyakit tidak terjadi dan pengoptimalan terapi.
- Melakukan Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis yang
bertujuan untuk mengeliminasi filariasis dengan cara menghilangkan
kejadian penularan dari penderita kepada calon penderita filariasis.
Penularan akan menurun atau bahkan tidak terjadi bila jumlah mikrofilaria
yang beredar dalam masyarakat sangat rendah sehingga meskipun ada
nyamuk sebagai vektor, tetapi gigitannya tidak akan mampu menularkan
filariasis karena rendahnya jumlah mikrofilaria dalam darah penderita.
- Pengobatan massal akan dilakukan setiap tahun sekali selama 5 tahun,
sehingga dengan pemahaman semua pihak akan mencegah berkurangnya
peserta pada tahun-tahun berikutnya. Khusus tentang kejadian ikutan pasca
POMP Filariasis, perlu dipahami bahwa kejadian itu akan makin
berkurang pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya karena
jumlah mikrofilaria juga akan berkurang dari tahun ketahun. Kejadian
ikutan yang tak enak ini jauh lebih ringan daripada efek penyakit filariasis
yang menyebabkan kecacatan dan penderitaan seumur hidup.
- Menjelaskan kejadian ikutan hanya terjadi paling lama 3-5 hari setelah
menelan obat, yaitu berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi/otot, gatal,
mengantuk, dermatitis, eosinofilia, lekositosis, batuk,
limfadenitis/limfangitis. Bagi orang yang sedang mengalami limfadenitis
lebih baik ditunda pengobatan massalnya karena reaksi lokal bengkak (hari
3-12) lebih mungkin terjadi. Pada orang dengan riwayat hipertensi,
penyakit jantung dan penyakit ginjal yang dicurigai tidak terkontrol
dengan baik, banyak hal dapat terjadi secara mendadak karena
penyakitnya. Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan pengobatan massal,
misal stroke, infark miocard dan lain-lain yang dapat menyebabkan
kerancuan karena mungkin akan dihubungkan dengan POMP Filariasis.
Oleh karena itu sebaiknya ditunda POMPnya pada mereka, juga bila orang
tampak tidak sehat. Dalam menghadapi kasus seperti ini sebaiknya dokter
puskesmas yang menentukan apakah seseorang patut ditunda untuk
POMP.
 Kuratif : medikamentosa
 Rehabilitatif :
- Memberitahukan perawatan terhadap penderita filariasis meliputi cara
membersihkan, perawatan luka, posisi kaki atau bagian tubuh saat istirahat
maupun saat beraktivitas, penggunaan alas kaki yang benar dan melakukan
latihan-latihan pada kaki.

Gambar Penyuluhan Filariasis










Gambar Penjelasan Mengenai Filariasis

Gambar Peran Pasien Dalam Pencegahan Filariasis



Gambar Peran Pasien Dalam Pencegahan Filariasis




Gambar Peran Petugas Kesehatan dalam Pencegahan Filariasis melalui program
POMP Filariasis dan Pengobatan Filariasis


Gambar perawatan kaki gajah

Bila ada warga yang tidak minum obat, maka orang tersebut akan menjadi sumber
penularan penyakit bagi warga lain.
Cucilah kaki dengan menggunakan
sabun dan air bersih paling sedikit
2 kali sehari.
Bila ada luka, gunakan
salep antibiotik Lakukan latihan-latihan pada kaki


Gambar perawatan kaki gajah : posisi kaki ditinggikan pada saat istirahat dan saat
beraktivitas.

Gambar perawatan kaki gajah : tidak menggunakan alas kaki yang sempit.


BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
5.1. Monitoring
Monitoring difokuskan pada aspek promotif dan preventif dengan
mewujudkan kesehatan lingkungan yang dapat mencegah timbulnya penyakit
filariasis.
Peran serta keluarga dan masyarakat merupakan syarat mutlak bagi
keberhasilan, kelangsungan dan kemandirian pembangunan kesehatan, terutama
dalam hal ini mengenai pengobatan pasien dan pencegahan penyebaran penyakit
filariasis. Peran serta keluarga dan masyarakat dalam pencegahan penyakit filariasis
diwujudkan antara lain dengan menjalankan cara hidup sehat dan penyelenggara
berbagai upaya/ pelayanan kesehatan.

5.2.Evaluasi
Upaya yang dilakukan untuk menekan angka kesakitan akibat filariasis,
yaitu melalui program pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar, antara
lain:

- Laporan kasus ke instansi kesehatan setempat
- Masyarakat diharapkan mengikuti pengobatan POMP Filariasis yang dilakukan
satu tahun sekali dalam waktu 5 tahun berturut-turut.
- Perawatan dan rehabilitasi bagi penderita bisa dilakukan di rumah.


DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson DM, Kamus Kedokteran Dorland, ed 29, Jakarta: EGC, 2002: 833-834
2. Sandjaja B, Parasitologi Kedokteran Helminthologi Kedokteran Buku 2, Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007: 145-148
3. Mandal, BK, Wilkins EGL, Dunbar EM, & Mayon-White RT, Lecture Note Penyakit
Infeksi, ed 6, Jakarta: Erlangga, 2006: 292-293
4. Sudoyo AW, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi IV. Jakarta: Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006: 2931-2936
5. Gomella LG, Haist SA, Buku Saku Dokter, Jakarta:EGC, 2011:147
6. Brunton L, Blumenthal D, Keith P, Iain B, Goodman & Gilman Manual Farmakologi
Terapi, Jakarta:EGC, 2011: 659-660; 661-669.
7. Katzung, BG. Farmakologi Dasar & Klinik, ed 10. Jakarta: EGC, 2010: 895-899