You are on page 1of 10

PROSES PEMBENTUKAN SEDIMENTASI LAUT

OLEH:

JUMSURIZAL































PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kata sedimen banyak sekali pengertiannya disini
diterangkan tentang beberapa pengertian sedimen dan sedimentasi. Dalam kaitannya
dengan sedimen dan sedimentasi beberapa ahli mendefinisikan sedimen dalam beberapa
pengertian.
Sedimen adalah pecahan, mineral, atau material organik yang ditransforkan dari
berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara, angin, es, atau oleh air dan juga
termasuk didalamnya material yang diendapakan dari material yang melayang dalam air
atau dalam bentuk larutan kimia.
Sedimen laut sebagai akumulasi dari mineral-mineral dan pecahan-pecahan batuan
yang bercampur dengan hancuran cangkang dan tulang dari organisme laut serta beberapa
partikel lain yang terbentuk lewat proses kimia yang terjadi di laut.
Sedimentasi sebagai proses pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang
diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau asalnya pada suatu tempat
yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta,
estuaria, laut dangkal sampai laut dalam.
Sedimen yaitu lepasnya puing-puing endapan padat pada permukaan bumi yang
dapat terkandung di dalam udara, air, atau es dibawah kondisi normal. Sedimentasi adalah
proses yang meliputi pelapukan, transportasi, dan pengendapan. Batuan sedimen adalah
batuan yang dibentuk oleh sedimen. Tekstur sedimen yaitu hubungan bersama antara
ukuran butir dalam batuan dan pada umumnya ukuran butir ini dapat diamati dengan
menggunakan mikroskop. Komposisi sedimen merupakan acuan terhadap mineral-mineral
dan struktur kimia dalam batuan. Batuan klastik adalah batuan dimana material penyusun
utamanya berupa material detrital (misalnya batupasir dan serpihan). Batuan nonklastik
adalah batuan dimana material penyusun utamanya berupa material organik dan unsur
kimia (misalnya batugamping terumbu, halit, dan dolomit).
Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber yang
dibedakan menjadi empat yaitu :
1. Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil
erosi daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui proses mekanik,
yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika energi
tertransforkan telah melemah.
2. Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup
seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami
dekomposisi.
3. Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di
dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan
tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit,
phosphorit dan glaukonit.
4. Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke
laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar
angkasa, aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin. Material
yang berasal dari luar angkasa merupakan sisa-sisa meteorik yang meledak di atmosfir
dan jatuh di laut. Sedimen yang berasal dari letusan gunung berapi dapat berukuran
halus berupa debu volkanik, atau berupa fragmen-fragmen aglomerat. Sedangkan
sedimen yang berasal dari partikel di darat dan terbawa angin banyak terjadi pada
daerah kering dimana proses eolian dominan namun demikian dapat juga terjadi pada
daerah subtropis saat musim kering dan angin bertiup kuat. Dalam hal ini umumnya
sedimen tidak dalam jumlah yang dominan dibandingkan sumber-sumber yang lain.

Transpor Sedimen
Transpor sedimen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu transpor sedimen menuju dan
meninggalkan pantai (onshore - offshore transport) yang memiliki arah rata-rata tegak lurus
pantai dan transpor sepanjang pantai (longshore transport) yang memiliki arah rata-rata
sejajar pantai.

Transport sedimen tegak lurus pantai dapat dilihat pada kemiringan pantai dan
bentuk dasar lautnya. Proses transpor sedimen tegak lurus biasanya terjadi pada daerah
teluk dan pantai – pantai yang memiliki gelombang yang relatif tenang. Pada saat musim
ombak, energi yang terdapat pada gelombang akan menggerus bibir pantai dan
menimbulkan erosi yang ditandai dengan adanya dinding pantai, seperti gambar di bawah
ini :


Gambar 1. Erosi akibat transpor sedimen tegak lurus pantai

Penggerusan tersebut akan menimbulkan lembah (trough) namun hal itu juga akan
dibarengi dengan terbentuknya punggungan (bar) di samping lembah tersebut akibat
adanya hukum kekekalan massa. Adanya punggungan tersebut akan mengakibatkan
perubahan posisi gelombang pecah karena pada umumnya gelombang akan pecah
sebelum mencapai punggungan.


Gambar 2. Proses transpor sedimen tegak lurus pantai

Hukum kekekalan massa berlaku pada transpor sedimen tegak lurus pantai. Hukum
kekekalan massa menyatakan bahwa sedimen tidak dapat hilang namun hanya dapat
berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Dari gambar terlihat timbulnya erosi
pada daerah bibir pantai akan diikuti dengan proses sedimentasi di laut.


Transpor sedimen sejajar pantai (longshore transport) terjadi pada daerah pantai
yang langsung berbatasan dengan samudera. Transpor sedimen jenis ini dapat lebih mudah
terlihat karena transpor sedimen jenis ini memberi pengaruh terhadap bangunan –
bangunan pantai yang menjorok ke laut. Akibat adanya transpor sedimen sejajar pantai
maka pada bangunan pantai yang menjorok ke laut akan terlihat perbedaan pada kedua sisi
bangunan pantai tersebut. Pada satu sisi bangunan tersebut akan di jumpai proses
sedimentasi sedangkan pada sisi lainnya terjadi proses erosi. Oleh karena itu dalam
perencanaan untuk mendirikan bangunan pantai harus diperkirakan seberapa besar
pengaruh dari transpor sedimen sebagai fungsi dari gelombang dan arus. Hal itu harus
dilakukan untuk mencegah kerusakan pada daerah pantai.


Gambar 3. Sedimentasi dan erosi akibat pembangunan jetty

Efek lain yang terjadi pada daerah pantai akibat adanya transpor sedimen sejajar
pantai adalah terbentuknya daratan antara suatu pulau dengan daratan utama. Efek ini
biasa di kenal dengan nama tombolo.

Sifat-sifat sedimen pantai dapat mempengaruhi laju transpor sedimen di sepanjang
pantai. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju sedimen antara lain :
  Karakteristik material sedimen (distribusi dan gradasi butir, kohesifitas factor
bentuk, ukuran, rapat massa, dan sebagainya)
  Karakteristik gelombang dan arus (arah dan kecepatan angin, posisi
pembangkitan gelombang, pasang surut, dan kondisi topografi pantai yang
bersangkutan).

Transpor sedimen sepanjang pantai, terbagi dalam 2 kondisi :
  Transpor sedimen dasar, yaitu angkutan sedimen dimana bahan sedimen bergerk
menggelinding, menggeser atau meloncat di dasar atau dekat sekali di atas
dasar.
  Transpor sedimen suspensi, yaitu angkutan sedimen yang terjadi ketika bahan
sedimen yang telah terangkat terbawa bersama – sama dengan massa air yang
bergerak dan selalu terjaga di atas dasar oleh turbulensi air.
Distribusi Sedimen Laut
Sedimen yang masuk ke dalam laut dapat terdistribusi pada :
1. Daerah perairan dangkal, seperti endapan yang terjadi pada paparan benua (Continental
Shelf) dan lereng benua (Continental Slope).

Continental Shelf’ adalah suatu daerah yang mempunyai lereng landai kurang lebih
0,4% dan berbatasan langsung dengan daerah daratan, lebar dari pantai 50 – 70 km,
kedalaman maksimum dari lautan yang ada di atasnya di antara 100 – 200 meter.
Continental Slope’ adalah daerah yang mempunyai lereng lebih terjal dari continental shelf,
kemiringannya anatara 3 – 6 %.

Endapan Sedimen pada Perairan Dangkal
Pada umumnya ‘Glacial Continental Shelf’ dicirikan dengan susunan utamanya campuran
antara pasir, kerikil, dan batu kerikil. Sedangkan ‘Non Glacial Continental Shelf’’
endapannya biasanya mengandung lumpur yang berasal dari sungai. Di tempat lain
(continental shelf) dimana pada dasar laut gelombang dan arus cukup kuat, sehingga
material batuan kasar dan kerikil biasanya akan diendapkan.
Sebagian besar pada ‘Continental slope’ kemiringannya lebih terjal sehingga
sedimen tidak akan terendapkan dengan ketebalan yang cukup tebal. Daerah yang miring
pada permukaannya dicirikan berupa batuan dasar (bedrock) dan dilapisi dengan lapisan
lanau halus dan lumpur. Kadang permukaan batuan dasarnya tertutupi juga oleh kerikil dan
pasir.





2. Daerah perairan dalam, seperti endapan yang terjadi pada laut dalam.
Endapan Sedimen pada Perairan Laut Dalam
Sedimen laut dalam dapat dibagi menjadi 2 yaitu Sedimen Terigen Pelagis dan
Sedimen Biogenik Pelagis.
1. Sedimen Biogenik Pelagis
Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai
struktur halus dan kompleks. Kebanyakan sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan
zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hannya satu atau dua minggu,
terjadi suatu bentuk ‘hujan’ sisa-sisa organisme plankton yang perlahan, tetapi kontinue
di dalam kolam air untuk membentuk lapisan sedimen. Pembentukan sedimen ini
tergantung pada beberapa faktor lokal seperti kimia air dan kedalaman serta jumlah
produksi primer di permukaan air laut. Jadi, keberadan mikrofil dalam sedimen laut
dapat digunakan untuk menentukan kedalaman air dan produktifitas permukaan laut
pada zaman dulu.
2. Sedimen Terigen Pelagis
Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materi-materi yang
berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai ke lingkungan pelagis.
Pertama dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es
yaitu materi glasial yang dibawa oleh bongkahan es ke laut lepas dan mencair.
Bongkahan es besar yang mengapung, bongkahan es kecil dan pasir dapat ditemukan
pada sedimen pelagis yang berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau
tempat asalnya.

Angin merupakan alat transportasi penting untuk memindahkan materi langsung ke
laut. Lempung pelagis yang ada di laut dibawa terutama oleh tiupan angin (aeolian).

Komponen utama debu yang terbawa angin adalah kuarsa dan mineral lempung.
Pada skala global, jumlah masuknya materi Vulkanologi ke sedimen laut dalam adalah kecil.
Letusan besar dapat mengeluarkan abu dan debu dalam jumlah yang banyak dengan
ketinggian 15-50 km

Selain pengertian sedimen di atas ada pengertian lain tentang sedimen yaitu batuan
sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh proses sedimentasi. Sedangkan sedimentasi
adalah proses pengendapan sediemen oleh media air, angin, atau es pada suatu cekungan
pengendapan pada kondisi P dan T tertentu.
Dalam batuan sedimen dikenal dengan istillah tekstur dan struktur. Tekstur adalah
suatu kenampakn yang berhubungan erat dengan ukuran, bentuk butir, dan susunan
kompone mineral-mineral penyusunnya. Studi tekstur paling bagus dilakukan pada contoh
batuan yang kecil atau asahan tipis.

Struktur merupakan suatu kenampakan yang diakibatkan oleh proses pengendapan
dan keadaan energi pembentuknya. Pembentukannya dapat pada waktu atau sesaat
setelah pengendapan. Struktur berhubungan dengan kenampakan batuan yang lebih besar,
paling bagus diamati di lapangan misal pada perlapisan batuan.

Sedimentasi yang dimanfaatkan dalam Dunia penangkapan (Upwelling)

Fenomena upwelling salah satunya dipengaruhi oleh angin dan adanya proses
divergensi ekman. Angin yang mendorong lapisan air permukaan menyebabkan
kekosongan di bagian atas, sehingga air yang berasal dari bawah menggantikan
kekosongan yang berada di atas. Oleh karena itu suhu air yang dari dasar perairan belum
terkena atmosfer sehingga suhu dan oksigennya masih rendah. Daerah upwelling biasanya
banyak terdapat ikan karena arus ini mengandung larutan nutrien seperti nitrat dan fosfat,
sehingga cenderung banyak mengandung fitoplankton sebagai pakan alami ikan.

Upwelling di Indonesia
Fenomena upwelling yang terjadi di Indonesia anatara lain disebabkan oleh keadaan
kontur dasar perairan laut Indonesia yang sangat beragam hal ini dipengaruhi karena
adanya banyak pulau, penyempitan atau pelebaran selat dan juga banyak terdapatnya sill
(dataran lembah yang mencuat) di mulut cekungan laut. Persebaran upwelling di Indonesia
bagian timur seperti laut Banda, laut Arafura dan laut Maluku. Hal ini terjadin karena pada
musim timur, massa air di lapisan atas perairan tersebut terdorong oleh angin timur sampai
ke laut Jawa, laut Natuna dan laut Cina selatan. Kekosongan air dilapisan inilah yang diisi
oleh massa air dari babwah yang kaya nutrien. Pada saat terjadi upwelling, salinitas
permukaan mencapai 34%0 dan temperatur berkisar antara 26,4
o
C-27,8
o
C, kadar plankton
dan unsur-unsur fosfat, nitrat dan silikat naik dengan mencolok, sehingga tingkat
produktivitas tinggi. Sebaliknya pada downwelling terjadi penenggelaman air permukaan
sehingga menyebabkan produktivitas menurun.


Upwelling, Proses Produksi dan Pembentukan DPI
Ada dua kelompok rantai makanan yang ada di ekosistem laut yaitu Rantai makanan
grazing (grazing food chain) dan Rantai makanan detrital (detritus food chain). Rantai
makanan grazing dimulai dari proses transfer makanan pertama kali oleh organisme
herbivora melalui proses grazing. Makanan pertama itu berupa fitoplankton dan herbivor
yang memanfatkan fitoplankton adalah zooplankton. Mata rantai pertama pada rantai
makanan ini adalah fitoplankton yang merupakan sumber pertama bagi seluruh kehidupan di
laut. Ujung dari rantai makanan ini adalah konsumer tingkat tinggi (seperti ikan dan
konsumer lainnya) yang apabila mengalami kematian akan menjadi detritus pada ekosistem
laut. Detritus menjadi awal pembentukan rantai makanan detrital yang banyak dilakukan
oleh organisme pengurai atau dekomposer. Hasil dari proses dekomposisi yang dilakukan
dekomposer adalah terbentukknya bahan anorganik maupun organik. Bahan anorganik
akan dimanfaatkan oleh organisme autotrop seperti foitplankton Bahan organik dapat
dimanfaatkan langsung oleh beberapa organisme pemakan detritus (detritus feeder).
Tingkat tropis terendah dalam proses produksi di laut adalah tumbuhan hijau
terutama fitoplankton. Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk
filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik) laut
terbuka dan lingkungan pantai. Dalam piramida makanan fitoplankton menduduki tingkat
yang paling rendah yang berarti bahwa fitoplankton merupakan penopang utama seluruh
produksi yang ada di laut. Fitoplankton menyumbangkan 90% produksi primer di laut. Posisi
terbawa dalam piramida makanan menunjukkan jumlahnya yang besar dan ukuran yang
kecil dan sebaliknya dipuncak piramida menunjukkan jumlahnya yang sedikit dengan ukuran
yang paling besar.















Gambar Piramida makanan yang menunjukkan tingkat tropik, produser dan
konsumer


REFERENSI

Sulaiman, A. dan I. Soehardi. 2008. Pendahuluan Geomorfologi Pantai Kualitatif. BPPT.
Jakarta.

Triatmojo, B. 1999. Teknik Pantai Edisi Kedua. Beta Offset. Yogyakarta.

Lonawarta (Majalah Semi Ilmiah). Mengenal Sedimen Laut. 1996. Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Puslitbang Oseanologi. Balitbang Sumberdaya Laut
Ambon.

Umi Muawanah dan Agus supangat. 1998. Pengantar Kimia dan Sedimen Dasar Laut.
Badan Riset Kelautan Dan Perikanan: Jakarta.

Mohamad Burhanudin. 2008. Sedimentasi Segara Anakan 1 Juta Meter Kubik Per Tahun.
Kompas.

Chabibul Barnabas. 2008. Imbas Sedimentasi Segara Anakan. Pusat Studi Kebijakan
Lingkungan.

Rifardi 2008. Tekstur Sedimen, Sampling dan Analisis. Pekanbaru: Unri Press.

Putra AS. 2010. Proses Sedimentasi di Muara Sungai Batang Arau, Kota Padang (skripsi).
Pekanbaru: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.