You are on page 1of 20

Asuhan Keperawatan Peritonitis

1


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen
dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada
palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat
mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat atau sistemik dengan
syok sepsis.
Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder
(berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier (infeksi
rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen
dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi
peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya.
Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati
kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis, perforasi ulkus
peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan
strangulasi kolon ascendens.
Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk
pancreas, saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan
operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis.


B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian peritonitis?
2. Apa Etiologi peritonitis itu?
3. Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ?
4. Bagaimana klasifikasi peritonitis?
5. Bagaimana tanda dan gejala peritonitis itu ?
6. Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis?






Asuhan Keperawatan Peritonitis



2


C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian
2. Untuk mengetaui Etiologi peritonitis
3. Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis.
4. Untuk mengetahui klasifikasi peritonitis.
5. Utuktanda dan gejala peritonitis.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan peritonitis.
Asuhan Keperawatan Peritonitis



3

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus
visera dalam rongga perut. Peritonitis adalah suatu respon inflamasi atau supuratif
dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri.

B. ANATOMI
Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks.
Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga,
dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri dari berbagai
lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis,
lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ), kemudian ketiga otot
dinding perut m. obliquus abdominis eksterna, m. obliquus abdominis internus dan
m. transversum abdominis, dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium, yaitu
fascia transversalis, lemak preperitonial dan peritonium. Otot di bagian depan
tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis
tengah dipisahkan oleh linea alba.
Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut.
Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk
mencegah terjadilah hernia bawaan, dapatan, maupun iatrogenik. Fungsi lain otot
dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air
besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal.
Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kraniodorsal
diperoleh perdarahan dari cabang aa. Intercostalis VI – XII dan a. epigastrika
superior. Dari kaudal terdapat a. iliaca a. sircumfleksa superfisialis, a. pudenda
eksterna dan a. epigastrika inferior. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan
sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan.
Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n.thorakalis VI – XII
dan n. lumbalis.
Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.
Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom.
Asuhan Keperawatan Peritonitis



4

Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron.
Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm, dorsal dan
ventral usus saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi
peritonium.
Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika serosa).
2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.
3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis.

C. ETIOLOGI
Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa
inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis, perforasi tukak lambung,
perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi
organ berongga karena trauma abdomen.
a. Bakterial : Bacteroides, E.Coli, Streptococus, Pneumococus, proteus, kelompok
Enterobacter-Klebsiella, Mycobacterium Tuberculosa.
b. Kimiawi : getah lambung,dan pankreas, empedu, darah, urin, benda asing (talk,
tepung).
Area sumber Penyebab
a. Esofagus Keganasan
b. Trauma
c. Iatrogenik, dll
Peritonitis biasanya disebabkan oleh :
1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.
Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung
empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi.
Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis,
dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati.
2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan
seksual
3. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa
jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia)
Asuhan Keperawatan Peritonitis



5

4. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites)
dan mengalami infeksi
5. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan.
6. Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama
pembedahan
dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama
pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
7. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis.
Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di
dalam perut.
8. Iritasi tanpa infeksi. Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau
bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan
peritonitis tanpa infeksi

D. PATOFISIOLOGI
Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen
(meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin
dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan
mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini akan terikat
bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin.
Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme
tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri
untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah kuman yang
sangat banyak, tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha
mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen-kompartemen
yang kita kenal sebagai abses. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal
dari berbagai sumber. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat
penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.
Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga
abdomen, peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi
hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil.
Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain
atau jamur, misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi Bacteroides fragilis dan
Asuhan Keperawatan Peritonitis



6

bakteri gram negatif, terutama E. coli. Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis
menunjukkan jumlah Candida albicans yang relatif tinggi, sehingga dengan
menggunakan skor APACHE II (acute physiology and cronic health evaluation)
diperoleh mortalitas tinggi, 52%, akibat kandidosis tersebut. Saat ini peritonitis juga
diteliti lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga
mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ
failure (MOF).

E. KLASIFIKASI
Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Peritonitis bakterial primer
Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen
pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen.
Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau
Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Spesifik : misalnya Tuberculosis
b. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis.
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi,
keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi.
Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal
kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites.
2. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi
gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya organisme tunggal tidak
akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme
dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Bakterii anaerob, khususnya spesies
Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan
infeksi.
Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat
suatu peritonitis. Kuman dapat berasal dari:
 Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam
cavum peritoneal.
Asuhan Keperawatan Peritonitis



7

 Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang
disebabkan oleh bahan kimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari
usus.
 Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya
appendisitis.
3. Peritonitis tersier, misalnya:
 Peritonitis yang disebabkan oleh jamur
 Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan.
Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii
misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine.
4. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis:
 Aseptik/steril peritonitis
 Granulomatous peritonitis
 Hiperlipidemik peritonitis
 Talkum peritonitis

F. MANIFESTASI KLINIS
 Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberapa
penderita peritonitis umum
 Demam
 Distensi abdomen
 Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum,
tergantung pada perluasan iritasi peritonitis
 Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada
daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya
 Nausea
 Vomiting
 Penurunan peristaltik.





Asuhan Keperawatan Peritonitis



8

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis,
pemeriksaan laboratorium dan X-Ray.
1. Gambaran klinis
Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis, berat peritonitis dan jenis
organisme yang bertanggung jawab. Peritonitis dapat lokal, menyebar, atau
umum. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu
adanya nyeri abdomen, demam, nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun
atau menghilang. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder
yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. Nyeri ini tiba-tiba, hebat, dan pada
penderita perforasi (misal perforasi ulkus), nyerinya menjadi menyebar
keseluruh bagian abdomen. Pada keadaan lain (misal apendisitis), nyerinya
mula-mula dikarenakan penyebab utamanya, dan kemudian menyebar secara
gradual dari fokus infeksi. Selain nyeri, pasien biasanya menunjukkan gejala dan
tanda lain yaitu nausea, vomitus, syok (hipovolemik, septik, dan neurogenik),
demam, distensi abdominal, nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus
atau umum, dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. Gambaran
klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial.
Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya
keringat malam, kelemahan, penurunan berat badan, dan distensi abdominal;
sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen
yang hebat, demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2
minggu pasca bedah.
2. Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang
meningkat dan asidosis metabolik. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal
mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit;
basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau
secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan
merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat.
3. Pemeriksaan X-Ray
Asuhan Keperawatan Peritonitis



9

Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus
besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi.
Meconium peritonitis - “ Abdominal x-ray and CT scan

H. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder, dimana
komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu:
1. Komplikasi dini
 Septikemia dan syok septic
 Syok hipovolemik
 Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan
kegagalan multi system
 Abses residual intraperitoneal
 Portal Pyemia (misal abses hepar)
2. Komplikasi lanjut
 Adhesi
 Obstruksi intestinal rekuren

I. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
Penatalaksanaan peritonitis secara kausal ialah eradikasi kuman yang menyebabkan
radang di peritoneum. Secara noninvasif dapat dilakukan drainase abses dan
endoskopi perkutan, namun yang lebih umum dilakukan ialah laparotomi eksplorasi
rongga peritoneum. Rongga ini merupakan membran serosa yang kompleks dan
terbesar di tubuh manusia. Bentuknya menyerupai kantong yang meliputi organ-
organ dalam perut sehingga membentuk peritoneum parietal di dinding perut
anterior dan lateral, diafragma, serta membentuk peritoneum viseral di organ-organ
dalam perut dan pelvis bagian inferior sehingga membentuk rongga potensial di
antara dua lapisan tersebut, dikenal sebagai rongga peritoneal.
Rongga inilah yang menjadi translokasi bakteri dan tempat terjadinya peritonitis
ataupun abses. Untuk menanganinya, sebenarnya bisa dilakukan terapi
medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik, terapi hemodinamik untuk
paru dan ginjal, terapi nutrisi dan metabolik, dan terapi modulasi respon
peradangan. Terapi-terapi ini sebenarnya logis dikerjakan, namun perkembangannya
Asuhan Keperawatan Peritonitis



10

tidak terlalu signifikan, apalagi untuk kasus dengan banyak komplikasi, sehingga
dibutuhkan terapi lain berupa drainase atau pembedahan.
Akhir-akhir ini drainase dengan panduan CT-scan dan USG merupakan pilihan
tindakan nonoperatif yang mulai gencar dilakukan karena tidak terlalu invasif,
namun terapi ini lebih bersifat komplementer, bukan kompetitif dibanding
laparoskopi, karena seringkali letak luka atau abses tidak terlalu jelas sehingga
hasilnya tidak optimal. Sebaliknya, pembedahan memungkinkan lokalisasi
peradangan yang jelas, kemudian dilakukan eliminasi kuman dan inokulum
peradangan tersebut, hingga rongga perut benar-benar bersih dari kuman.
Komplikasi pembedahan dengan laparotomi eksplorasi memang tidak sedikit.
Secara bedah dapat terjadi trauma di peritoneum, fistula enterokutan, kematian di
meja operasi, atau peritonitis berulang jika pembersihan kuman tidak adekuat.
Namun secara medis, penderita yang mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi
membutuhkan narkose dan perawatan intensif yang lebih lama. Perawatan inilah
yang sering menimbulkan komplikasi, bisa berupa pneumonia akibat pemasangan
ventilator, sepsis, hingga kegagalan reanimasi dari status narkose penderita
pascaoperasi. Dengan demikian, edukasi untuk menghindari keadaan atau penyakit
yang dapat menyebabkan peritonitis mutlak dilakukan, mengingat prosedur
diagnostik dan terapinya relatif tidak mudah dikerjakan.














Asuhan Keperawatan Peritonitis



11


ASUHAN KEPERAWATAN
PERITONITIS
A. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas pasien
Nama : Nn. M
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 17 Tahun
Pekerjaan : -
Suku/bangsa : Jawa, Indonesia
Pendidikan : mahasiswa
Tgl MRS : -


2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : klien datang kerumah sakit dengan diantar keluarganya dengan
keluhan pingsan, keluarga mengatakan nyeri diseluruh perutnya.
b. Riwayat kesehatan sekarang : Pasien mengalami peritonitis
c. Riwayat kesehatan dahulu : sebelum klien mempunyai apendisitis yang diobati
sendiri dengan antibiotic dari salinan resep dokter 3 bulan terakhir.
d. Riwayat kesehatan keluarga : -

3. Pengkajian pola fungsional :-
4. Pemeriksaan fisik
a. keadaan Umum: somnolen
Asuhan Keperawatan Peritonitis



12

b. Pemeriksaan dari :
 B1 (breathing) : RR 16x/menit,
 B2 (blood) : TD : 90/60 mmHg, nadi: 84x/menit, suhu: 36,7 0C.
 B3 (brain) : Somnolen
 B4 (bladder): -
 B5 (bowel): sulit buang air besar
 B6 (bone) : -

5. Analisa Data :
NO SYMPTOM ETIOLOGI MASALAH
1. DS :
keluarga
klien mengatakan nyeri
diseluruh perutnya.
DO :
· k/u somnolent
· T/d : 90/60 mmHg
· RR : 16x/mnt
· N : 96x/mnt
· Temp : 36,7c
-Kompresi jaringan
-Lambung tertekan
-Distensi abdomen
-Akumulasi rongga abdomen
-Nyeri
Nyeri

2. DS :
Sebelumnya klien
mempunyai appendicitis
yang diobati sendiri
dengan antibiotic dari
salinan resep dokter 3
-Inflamasi
-Peradangan
-Penumpukan cairan dalam rongga
peritoneum





Asuhan Keperawatan Peritonitis



13

bulan terakhir
DO : -
-Kebocoran isi dari organ dalam
abdomen masuk ke rongga
peritoneum
-hypertermi



Hypertermi




3. DS :
· Pasien sulit buang
air besar
DO :
· Tubuh pasien lemas
-Kontaminasi bakteri
-Peristaltic
-Konstipasi


Konstipasi
4. DS :
· Keluarga
mengatakan klien
mengeluh mual,
sering muntah,
nafsu makan
menurun
DO :
· Klien pusing
· Klien kekurangan
vitamin dan mineral
-Usus mengalami paralisis
-Anorexia, mual, muntah
-Kurang vitamin dan mineral
-Kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi
-Nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
Nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
Asuhan Keperawatan Peritonitis



14


B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen
2. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan
3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan denagan
anoreksia, mual muntah.

C. Intervensi
NO
Hari/tgl/
Jam
Diagnosa
Tujuan dan
kriteria hasil
Intervensi Rasional
1. Nyeri
berhubungan
dengan
akumulasi
cairan dalam
rongga
abdomen
Tujuan :
setelah dilakukan
perawatan
selama 3 x 24
jam diharapkan
nyeri hilang /
terkontrol

Kriteria hasil :
-pasien
menyatakan
nyeri terkontrol /
hilang

1. Kaji derajat
nyeri
2. Ajarkan
teknik
distraksi dan
relaksasi
3. Kolaborasi
pemberian
analgetik
4. Berikan
tindakan
kenyamanan

1. membandin
gkan
derajat
nyeri pada
kondisi
sebelumnya
2. untuk
mengontrol
keluhan
nyeri
3. untuk
memberika
n
keuntungan
emosional,
mengurangi
nyeri

Asuhan Keperawatan Peritonitis



15

4. untuk
menghilang
kan nyeri

2. Hipertermi
berhubungn
dengan
proses
peradangan


Tujuan :
setelah dilakukn
prawatan 3 x 24
jam, diharapkan
hipertermi pasien
dapat teratasi.

Kriteria hasil :
suhu dalam batas
normal (370 C),
Tidak
mengalami
komplikasi

1. Pantau suhu
tubuh pasien
2. Berikan
kompres
hangat
3. Pantau suhu
lingkungan,
batasi /
tambahkan
linen tempat
tidur sesuai
indikasi.
4. Kolaborasi
pemberian
antipiretik

1. pening
katan suhu
diatas
38,90C
menunjukkan
penyakit
infeksius
akut.

2. dapat
membantu
mengurangi
demam

3. suhu
ruangan /
jumlah
selimut
diubah
untuk
mempertah
ankan suhu
mendekati
normal.





Asuhan Keperawatan Peritonitis



16

4. digunakan
untuk
mengurangi
demam

3. Konstipasi
berhubungn
dengan
penurunan
peristaltik
usus


Tujuan :
setelah dilakukan
perawatan 3 x 24
jam, diharapkan
tidak terjadi
perubahn pola
eliminasi klien.

Kriteria hasil :
pola BAB
normal
(1 – 2 x / hari)
Mengeluarkan
feses tanpa
mengejan





1. Kaji adanya
distensi danik
usus
2. Anjurkan
pasien untuk
melakukan
pergerakan
sesuai
kemampua
3. Jelaskan
kepada
pasien untuk
menghindari
makanan
yang
membentuk
gas
4. Kolaborasi
berikan
pelunak
feses.



1. Distensi
dan
hilangnya
peristaltik
usus
menandaka
n bahwa
fungsi
defekasi
hilang.
2. menstimula
si perstaltik
yang
memfasilita
si
terbentukny
a flatus
3. menurunka
n distres
gastrik dan
distensi
abdomen.
4. untuk
merangsang
peristaltik
dngan
perlahan /
Asuhan Keperawatan Peritonitis



17

evakuasi
feses.


4. Perubahan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan
anoreksia,
mual muntah.
Tujuan :
setelah dilakukan
perawatan
selama 3 x 24
jam, diharapkan
kebutuhan nutrisi
pasien adekuat.

Kriteria hasil:
menunjukan
peningkatan
berat badan,
menunjukan
peningkatan
nafsu makan


1. Timbang
berat badan
tiap 2 hari
sekali
2. Auskultasi
bising
3. Berikan
kebersihan
oral
4. Kolaborasi
rujuk dengan
ahli gizi


1. untuk
menunjukk
an
keefektifan
terapi.
2. Peningkata
n bising
usus
menandaka
n
kembalinya
fungsi usus.
3. mulut yang
bersih dapat
meningkatk
an rasa
makanan.
4. untuk
menentuka
n program
diet yang
tepat




Asuhan Keperawatan Peritonitis



18


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera
dalam rongga perut. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ
perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis yang terlokalisir hanya dalam rongga
pelvis disebut pelvioperitonitis.
Penyebab peritonitis antara lain : penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi,
penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual, infeksi
dari rahim dan saluran telur, kelainan hati atau gagal jantung, peritonitis dapat terjadi setelah
suatu pembedahan, dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal), iritasi tanpa infeksi.

Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Peritonitis Bakterial Primer
b. Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa)
c. Peritonitis tersier

B. Saran

Dalam makalah ini tidak menutup kemungkinan masih terdapat banyak kekurangan
baik menyangkut isi maupun penulisan. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya dan kami berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya dalam menambah
wawasan pengetahuan tentang Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang
merupakan pembungkus visera dalam rongga perut
Bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi
setiap faktor resiko terjadinya Peritonitis .







Asuhan Keperawatan Peritonitis



19


DAFTAR PUSTAKA

Silvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ECG ; Jakarta
Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : Jakarta
http://www.scribd.com/doc/82282543/Makalah-Peritonitis
http://www.dewinuryanti.com/2010/03/askep-peritonitis.html
















Asuhan Keperawatan Peritonitis



20


MAKALAH PERITONITIS


Di susun Oleh :
Annisa Intan S.
Fikih Nurtyas
Jenni Zaenal A
Jean Maharani P
Fathurohman


D3 Keperawatan 2B
Stikes Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap
2013/2014