You are on page 1of 3

Coba dicek lagi yaa, silakan ditambahin kalo ada yg perlu ditambahin~

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan uji disolusi dari tablet Ranitidin 150 mg. Adapun tujuan
dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui waktu pelepasan obat dalam bentuk zat
terlarut. Dalam pengujian disolusi, tablet yang digunakan sebanyak 6 buah. Pertama, disiapkan
terlebih dahulu alat dan bahan yang digunakan. Kemudian aquadest dipanaskan hingga suhunya
mencapai 37oC yang merupakan suhu rata-rata tubuh manusia dalam keadaan normal. Hal ini
dilakukan karena pada pengujian disolusi ini diperlukan kondisi yang mirip dengan kondisi
sebenarnya jika tablet masuk ke dalam tubuh. Setelah itu, disiapkan vial sebanyak 30 buah untuk
6 pengujian tablet dimana masing-masing tabletnya dilakukan dalam 5 waktu. Yaitu pada menit
ke- 5, menit ke- 10, menit ke-15, menit ke-30, dan menit ke-45. Dan masing-masing vial diberi
label agar tidak tertukar.
Sebanyak 6 buah tabung disolusi disiapkan. Ke dalam masing-masing tabung disolusi
dimasukkan aquadest yang telah dipanaskan tadi sebanyak 900 mL. Ukur suhu masing-masing
aquadest pada setiap tabung agar suhunya 37oC. Setelah dicapai suhu 37oC, segera masukkan
keenam tabung disolusi ke dalam alat pengujian disolusi yang telah di-setting agar suhunya tetap
konstan di 37oC. Kemudian, tablet Ranitidin diletakkan di tempat penyimpanan tablet pada alat
disolusi. Setelah semua tablet diletakkan, dorong tombol pada alat disolusi untuk menjatuhkan
tablet ke dalam tabung disolusi yang berisi aquadest dengan suhu 37oC. Atur banyaknya putaran
per menit (rpm) yang diinginkan. Lalu, masukkan selang yang tersambung dengan syiringe yang
digunakan untuk mengambil larutan sampel. Setelah itu, tekan tombol untuk menyalakan baling-
baling pengaduk pada alat disolusi. Ketika baling-baling pengaduk dinyalakan maka waktu untuk
pengujian tablet dimulai.
Pada menit ke-5, larutan disolusi diambil menggunakan syiringe sebanyak 5 mL dan
segera dimasukkan ke dalam vial. Lalu larutan yang hilang tadi digantikan dengan penginjeksian
sebanyak 5 mL aquadest. Hal tersebut dilakukan terhadap kelima talet yang lainya dalam 5
variasi waktu.
Menurut farmakope Indonesia edisi IV, alat yang digunakan untuk pengujian adalah alat tipe 2
yaitu yang berbentuk dayung………..cara alat bekerja…kenapa ga pake alat tipe 1
(basket)…karena….
Pembahasan hasil
Setelah didapatkan volume larutan disolusi dari tablet Ranitidin yang diletakkan ke dalam
vial, dilakukan pengukuran absorbansi terhadap larutan tadi menggunakan spektrofotometri UV-
Visible. Pertama, dibuat terlebih dahulu kurva baku Ranitidin. Sebanyak 5 mg Ranitidin BPFI
dilarutkan dengan aquadest dalam labu ukur 50 mL sehingga didapatkan konsentrasi baku
sebesar 100 ppm. Dari 100 pm dibuat 5 variasi konsentrasi yaitu 30, 35, 40, 45, dan 50 ppm.
Kemudian dilakukan pengukuran absorbansi dengan spektrofotometri UV-Visible. Berdasarkan
literatur, absorbansi diukur pada panjang gelombang sekitar 314 nm. Didapatkan nilai absorbansi
secara berurutan 0,280; 0,3277; 0,3724; 0,4251; dan 0,4865. Dari kurva baku, didapatkan
persamaan y = 0,010088x – 0,02458. Selanjutnya, dilakukan pengukuran absrbansi dari masing-
masing larutan pada masing-masing vial.
Waktu
(menit)
Absorbansi Tablet ke- Rata-Rata
Absorbansi I II III IV V VI
5 0,2086 0,2235 0,2127 0,2144 0,2476 0,2234 0,22170
10 0,2587 0,2417 0,2775 0,2639 0,2776 0,2831 0,26708
15 0,3475 0,3775 0,3515 0,3589 0,3859 0,3767 0,36688
30 0,4107 0,3915 0,4001 0,4256 0,4012 0,4512 0,41338
45 0,6675 0,6015 0,5815 0,5786 0,5881 0,6001 0,60288
Nilai absorbansi yang didapat, dimasukkan ke dalam persamaan regresi linear sebagai Y.
Maka dari persamaan tadi, dapat ditentukan nilai konsentrasi dari masing-masing vial.
Konsentrasi pada saat menit ke-5, 10, 15, 30, 45 secara berurutan adalah 24,4132; 28,9116;
38,8045; 43,4138; 62,1987 ppm. Dari konsentrasi tersebut, dapat diketahui massa zat terlarut
dalam media disolusi pada masing-masing waktu dengan rumus:

Sehingga didapatkan massa zat terlarut pada menit ke-5, 10, 15, 30, 45 secara berurutan adalah
21,97; 26,02; 34,92; 39,07; 55,98 mg. Kemudian % disolusi dihitung dngan rumus:




Nilai % disolusi pada menit ke-5, 10, 15, 30, 45 secara berurutan adalah 14,65; 17,35; 23,29;
26,05; 37,32 %.
Dalam literatur disebutkan bahwa dalam waktu 45 menit, tidak kurang dari 80% zat dari
jumlah ranitin yang tertera pada etiket harus larut dalam media disolusi. Namun, dari data yang
didapatkan, pada menit ke-45 jumlah Ranitidin yang terlarut adalah 55,98 mg dari 150 mg
Ranitidin dalam tablet atau sama dengan 37,32 %. Hal ini berarti % disolusi yang didapat tidak
memenuhi persyaratan dalam Farmakope Indonesia edisi IV. Kesalahan ini mungkin
dikarenakan ketidaktepatan waktu pengambilan larutan sampel di setiap menitnya.ketidaktepatan
waktu pengambilan membuat konsentrasi zat terlarut dapat lebih banyak atau lebih sedikit dari
konsentrasi yang seharusnya. Waktu pengukuran larutan sampel juga dapat mempengaruhi.
Semakin lama larutan sampel tersebut akan diukur maka kemungkinan konsentrasi dalam larutan
akan berkurang sedikit demi sedikit.