You are on page 1of 15

1

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA


NO. PERCOBAAN : 2
NAMA : CANDRATAMA INDAR SEPTIANTO
NIM : 4301411055
KELOMPOK : 14
JURUSAN : Kimia
PRODI : P.Kimia
TANGGAL PERCOBAAN :
DOSEN PENGAMPU : Ir. Sri Wahyuni. M.Si
TEMAN KELOMPOK :












2

ISOTERM ADSORPSI CARBON AKTIF








A. TUJUAN
Menentukan isoterm adsorpsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi asam asetat pada
arang.

B. LATAR BELAKANG TEORI
Adsorbsi secara umum adalah proses penggumpalan subtansi terlarut (soluble) yang
ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan
kimia fisika antara subtansi dengan penyerapannya. Adsorbsi dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu ;
a. Adsorbsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan suatu
proses bolak – balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih
besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan
diadsorbsi pada permukaan adsorben.
b. Adsorbsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang teradsorbsi.
Kekuatan interaksi adsorbat dengan adsorben dipengaruhi oleh sifat dari adsorbat
maupun adsorbennya. Gejala yang umum dipakai untuk meramalkan komponen mana
yang diadsorpsi lebih kuat adalah kepolaran adsorben dengan adsorbatnya. Apabila
3

adsorbennya bersifat polar, maka komponen yang bersifat polar akan terikat lebih kuat
dibandingkan dengan komponen yang kurang polar. Kekuatan interaksi juga dipengaruhi
oleh sifat keras-lemahnya dari adsorbat maupun adsorben. Sifat keras untuk kation
dihubungkan dengan istilah polarizing power cation, yaitu kemampuan suatu kation untuk
mempolarisasi anion dalam suatu ikatan. Kation yang mempunyai polarizing power cation
besar cenderung bersifat keras. Sifat polarizing power cation yang besar dimiliki oleh ion-
ion logam dengan ukuran (jari-jari) kecil dan muatan yang besar. Sebaliknya sifat
polarizing power cation yang rendah dimiliki oleh ion-ion logam dengan ukuran besar
namun muatannya kecil, sehingga diklasifikasikan ion lemah.
Sedangkan pengertian keras untuk anion dihubungkan dengan istilah
polarisabilitas anion yaitu, kemampuan suatu anion untuk mengalami polarisasi akibat
medan listrik dari kation. Anion bersifat keras adalah anion berukuran kecil, muatan besar
dan elektronegativitas tinggi, sebaliknya anion lemah dimiliki oleh anion dengan ukuran
besar, muatan kecil dan elektronegatifitas yang rendah. Ion logam keras berikatan kuat
dengan anion keras dan ion logam lemah berikatan kuat dengan anion lemah (Atkins at al.
,1990).
Jumlah zat yang diadsorpsi pada permukaan adsorben merupakan proses
berkesetimbangan, sebab laju peristiwa adsorpsi disertai dengan terjadinya desorpsi. Pada
awal reaksi, peristiwa adsorpsi lebih dominan dibandingkan dengan peristiwa desorpsi,
sehingga adsorpsi berlangsung cepat. Pada waktu tertentu peristiwa adsorpsi cenderung
berlangsung lambat, dan sebaliknya laju desorpsi cendrung meningkat. Waktu ketika laju
adsorpsi adalah sama dengan laju desorpsi sering disebut sebagai keadaan
berkesetimbangan. Pada keadaan kesetimbangan tidak teramati perubahan secara
makroskopis. Waktu tercapainya keadaan setimbang pada proses adsorpsi adalah berbeda-
beda, Hal ini dipengaruhi oleh jenis interaksi yang terjadi antara adsorben dengan
adsorbat. Secara umum waktu tercapainya kesetimbangan adsorpsi melalui mekanisme
fisika (fisisorpsi) lebih cepat dibandingkan dengan melalui mekanisme kimia atau
kemisorpsi (Castellans 1982).
Suatu permukaan padatan yang bersentuhan dengan larutan akan menyebabkan
molekul-molekul terlarut terserap/ adsorp pada permukaan padatan. Adsorbsi molekul
digambarkan sebagai berikut :
4

A + B —> A.B
Dimana :
A = adsorbat
B = adsorbent
A.B = jumlah bahan yang terjerap
Energi yang dihasilkan seperti ikatan hidrogen dan gaya Van Der Waals menyebabkan
bahan yang teradsorp berkumpul pada permukaan penserap. Bila reaksi dibalik, molekul
yang terjerap akan terus berkumpul pada permukaan karbon aktif sehingga jumlah zat
diruas kanan reaksi sama dengan jumlah zat pada ruas kiri. Apabila kesetimbangan telah
tercapai, maka proses adsorpsi telah selesai. (Arifin, 2008)
Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukan distribusi adsorbent antara
fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengn fasa ruah saat kesetimbangan pada suhu
tertentu. Dibawah ini adalah beberapa contoh isoterm yang biasa digunakan dalam
adsorpsi :

log x/m x/m





a Log C b C
Gambar 1. (a) kurva Freundlich; (b) kurva Langmuir

Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich didasarkan atas terbentuknya lapisan
monolayer dari molekul-molekul adsorbat pada permukaan adsorben. Namun pada
adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen.
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut.
Log (x/m) = log k + 1/n log c............................................................................ ..(1),
sedangkan kurva isoterm adsorpsinya disajikan pada Gambar 1.(a)
5

Isoterm adsorpsi Langmuir didasarkan atas beberapa asumsi, yaitu (a) adsorpsi
hanya terjadi pada lapisan tunggal (monolayer), (b) panas adsorpsi tidak tergantung pada
penutupan permukaan, dan (c) semua situs dan permukaannya bersifat homogen (Oscik J
,1994). Persamaan isoterm adsorpsi Langmuir dapat diturunkan secara teoritis dengan
menganggap terjadinya kesetimbangan antara molekul-molekul zat yang diadsorpsi pada
permukaan adsorben dengan molekul molekul zat yang tidak teradsorpsi. Persamaan
isoterm adsorpsi Langmuir dapat dituliskan sebagai berikut (Day, R. A. dan Underwood,
A. L., 2002):.

C merupakan konsentrasi adsorbat dalam larutan, x/m adalah konsentrasi adsorbat yang
terjerap per gram adsorben, k adalah konstanta yang berhubungan dengan afinitas
adsorpsi dan (x/m)mak adalah kapasitas adsorpsi maksimum dari adsorben. Kurva isoterm
adsorpsi Langmuir dapat disajikan seperti pada Gambar 1 (b).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Cawan porselin 1 buah
2. Labu takar bertutup 250 ml 12 buah
3. Labu Erlenmeyer 150 ml 6 buah
4. Gelas ukur 5 ml 1 buah
5. Gelas ukur 10 ml 1 buah
6. Gelas ukur 25 ml 1 buah
7. Corong kaca 6 buah
8. Buret 50 ml 1 buah
9. Stativ dan penyangga 1 buah
10. Pembakar spiritus 1 buah
11. Kasa 1 buah
12. Neraca analitik 1 buah
13. Spatula 1 buah
14. Thermometer 1 buah
6

15. Kertas saring 6 buah
16. Botol 6 buah
17. Beaker glass 1 buah



Bahan :
1. Larutan asam asetat 0,5 N; 0,25 N; 0,125N; 0,0625N; 0,0313N; 0,0156N
2. Adsorben Arang
3. Larutan NaOH 0,25 N
4. Indicator phenolphthalein (PP)




D. CARA KERJA


 Titrasi juga dilakukan pada sisa asam
7



E. DATA PENGAMATAN
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh data yang disajikan pada table 1 dan 2.
Suhu kamar : 27
0
C
Table 1. Data Pengamatan
Konsentrasi
CH
3
COOH
Volume NaOH 0,1 M
Awal (ml) Akhir (ml)
0,5 N 23,9 24,2 19,5 19,9
0,25 N 10,75 11,2 10 9,7
0,125 N 10,5 11,3 4,5 4,2
0,0625 N 6 6 2,7 2,5
0,0313 N 3 3 2,2 2,2
0,0156 N 1,8 1,5 1 1

Tabel 2. Data Hasil Perhitungan
No
M CH
3
COOH
x (gram) x/m log x/m
log C
Awal Akhir
Yang
teradsor
psi (C)
1. 0,2405
0,197 0.0435
0,263
0.263 -0.58 -1.36
2. 0,1097
0,0985 0.0112
0,067
0.067 -1.174 -1.951
3. 0,0436
0,0174 0.0262
0,157
0.157 -0.804 -1.582
4. 0,012
5,2x10
-3
0.0068
0,041
0.041 -1.387 -2.167
5. 6x10
-3

4,4x10
-3
0.0016
9,61x10
-3

0.00961 -2.017 -2.795
6. 3,3x10
-3

2x10
-3
0.0013
7,81x10
-3

0.00781 -2.107 -2.886

8

F. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan didapatkan grafik antara x/m Vs C
dan log x/m Vs C sebagai berikut :

Grafik 2. Grafik Isoterm Adsorpsi Langmuir

Grafik 2. Grafik Isotherm Adsorpsi Freundlich

Grafik merupakan Grafik Isoterm Adsorpsi Freundlich. Dari persamaan grafik
tersebut jika dianalogikan dengan persamaan Freundlich maka akan didapat nilai k dan
n. Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut.
y = 6.0385x - 0.0003
R² = 1
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05
x
/
m

c
Grafik antara x/m Vs c
x/m
Linear (x/m)
y = 1.0003x + 0.7792
R² = 1
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
-4 -3 -2 -1 0
l
o
g

x
/
m

log c
Grafik antara log x/m Vs log c
log x/m
Linear (log x/m)
9

Log (x/m) = log k + 1/n log c sedangkan persamaan grafik Isotherm Adsorpsi
Freundlich adalah y = 1x + 0,779, sehingga didapat nilai Log k = 0,779 dan 1/n = 1.
Maka nilai k adalah 6,038 dan nilai n adalah 1.
Adsorpsi karbon membuat konsentrasi asam asetat mengalami penurunan. Pada
data diatas penyerapan tiap percobaan terjadi ketidaksamaan antara data 1 sampai 6
dapat dilihat dari X gram ( jumlah zat yang teradsorpsi) kurang stabil. Hal ini terjadi
karena dalam adsorpsi terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi hasil
adsorpsi.
Menurut M.T. Sembiring dkk, 2003 bahwa karbon aktif yang baik mempunyai
persyaratan seperti yang tercantum pada SII No.0258 -79. Sifat karbon aktif yang
paling penting adalah daya serap. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap
adsorpsi, yaitu :
1. Sifat Serapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh karbon aktif, tetapi kemampuannya
untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing- masing senyawa. Adsorpsi akan
bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari sturktur
yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi,
posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.
2. Temperatur/ suhu.
Dalam pemakaian karbon aktif dianjurkan untuk menyelidiki suhu pada saat
berlangsungnya proses. Karena tidak ada peraturan umum yang bisa diberikan
mengenai suhu yang digunakan dalam adsorpsi. Faktor yang mempengaruhi suhu
proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan. Jika
pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan
warna mau dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk
senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada suhu kamar atau bila memungkinkan pada
suhu yang lebih kecil.
3. pH (Derajat Keasaman).
Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu
dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam
mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam
10

organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai
akibat terbentuknya garam.
4. Waktu Singgung
Bila karbon aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk
mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah
arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis karbon aktif, pengadukan juga
mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan
pada partikel karbon aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk
larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih
lama.





G. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Isoterm yang terjadi pada percobaan ini adalah isotherm adsorbsi Freundlich,
dimana adsorben mengadsorbsi larutan organic yang sangat bagus dengan situs-
situs heterogen seperti situs Freundlich
2. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi daya adsorpsinya dan semakin
banyak pula zat yang teradsorpsi demikin juga sebaliknya.
3. Semakin luas permukaan adsorben, maka semakin tinggi daya adsorpsinya pada
zat terlarut.
4. Dari perhitungan di peroleh harga n = 1 dan k = 6,038
2. Saran
Dari hasil percobaan masih banyak terjadi kesalahan, oleh karena itu kami
menyarankan bahwa:
1. Penggunaan alat yang terbatas membuat praktikum lebih lama
2. Sebelum praktikum , praktikan harus paham materi supaya tidak terjadi kesalahan
11


H. DAFTAR PUSTAKA.

Castellan. 1983. Physical Chemistry. Edisi ketiga. Addison-Wesley Publishing
Company
Day, R.A, Underwood, A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima.
Jakarta : Erlangga
Dwi, Vallentinus. 2009. Studi Adsorpsiion Cu (Ii) Dalam Larutan Tembaga
Menggunakan Komposit Serbuk Cangkang Kupang Khitosanterikatsilang.
Surabaya: Skripsi FMIPA ITS.
Fitryana, Rizka.2012. Isoterm Adsorpsi.
http://berburudggema.blogspot.com/2012/01/percobaan-isoterm-
adsorbsi.html diakses 29 Maret 2012
Sembiring, dkk. 2003. Isoterm Adsorpsi ion Cr3+ oleh abu sekam padi varietas
IR 64. Skripsi. Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Undiksha.
Suardana, Nyoman. 2009. Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion
Kromium (III). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains &
Humaniora, 17-23 diakses tanggal 28 Maret 2012.
Wahyuni, Sri. 2012. Diktat petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang: Jurusan
Kimia FMIPA UNNES.

I. JAWABAN PERTANYAAN
1. Apakah proses adsorpsi ini merupakan adsorpsi fisik atau kimia?
Pada percobaan ini proses adsorpsi terjadi secara adsorpsi fisik yang memiliki ciri
molekul yang terikat pada adsorben oleh gaya Van Der Walls, mempunyai entalpi
reaksi dan bersifat tidak spesifik
2. Apakah perbedan antara kedua jenis adsorpsi ini? Berikan beberapa contoh dari
kedua jenis adsorpsi ini!
a. Adsorbsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan
suatu proses bolak – balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan
adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya
12

maka zat yang terlarut akan diadsorbsi pada permukaan adsorben, tidak
melibatkan energy aktivasi.
b. Adsorbsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang
teradsorbsi, terjadi pemutusan dan pembentukan ikatan kimia, panas
adsorbsinya tinggi, melibatkan energy aktivasi.
Ex: adsorpsi SDBS
 Adsorsi fisik : adsorpsi nitrogen pada besi secara fisik nitrogen cair pada -
190
0
C akan teradsorpsi pada besi
 Adsorpsi kimia: pada suhu 500
0
C nitrogen teradsorpsi cepat pada
permukaan besi.
3. Bagaimana isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat
padat? Apa pembatasannya?
Isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang baik atau
memuaskan. Hal ini terjadi karaena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada
permukaan adsorben bersifat heterogen. Gas merupakan campuran yang homogen
sehingga kurang cocok jika digunakan dalam isotherm Freundlich.
Batasannya : adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben
bersifat heterogen.

4. isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang baik untuk
memuaskan. Hal ini terjadi karena pada adsorpsi Freunddlich situs-situs aktif pada
permukaan adsorpben bersifat heterogen. Gas merupakan campuran yang
homogeny sehingga kurang cocok untuk digunakan dalam isoterm Freundlich.
Batasannya : adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan bersifat
heterogen
5. Mengapa isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat
kurang memuaskan dibandingkan dengan isoterm adsorpsi Langmuir?
Bagaimana bentuk isoterm adsorpsi yang berakhir ini?
Karena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat
heterogen, sedangkan adsorpsi pada Langmuir bersifat homogen. Ketika
13

mengadsorpsi gas yang wujudnya campuran yang homogeny, maka adsorpsi
Freundlich kurang cocok. Dari percobaan yang telah dilakukan, adsorpsi ini
berbentuk adsorpsi Langmuir.












J . LAMPIRAN
Diketahui [NaOH] = 0,1 N
Asam asetat yang diadsorpsi = 100 mL
a. Konsentrasi awal CH3COOH
1. V1 x N1 = V2 x N2
24,05 x 0,1 = 10 x N2
N2 = 0,2405 N
2. V1 x N1 = V2 x N2
10,97 x 1 = 10 x N2
N2 = 0,1097 N
3. V1 x N1 = V2 x N2
10,9 x 0.1 = 25 x N2
N2 = 0.0436 N
4. V1 x N1 = V2 x N2
6 x 0.1 = 50 x N2
N2 = 0,012 N
5. V1 x N1 = V2 x N2
3 x 0.1 = 50 x N2
N2 = 6x 10
-3
N
6. V1 x N1 = V2 x N2
1,65 x 0.25 = 50 x N2
N2 = 3,3x 10
-3
N







14



b. Konsentrasi akhir CH3COOH
1. V1 x N1 = V2 x N2
19,7 x 0.1 = 10 x N2
N2 = 0,197 N
2. V1 x N1 = V2 x N2
9,85 x 0.1 = 10 x N2
N2 = 0,0985N
3. V1 x N1 = V2 x N2
4,35 x 0.1 = 25 x N2
N2 = 0,0174 N
4. V1 x N1 = V2 x N2
2,6 x 0.1 = 50 x N2
N2 = 5,2 x10
-3
N
5. V1 x N1 = V2 x N2
2,2 x 0.1 = 50 x N2
N2 = 4,4x 10
-3
N
6. V1 x N1 = V2 x N2
1 x 0.1 = 50 x N2
N2 = 2x 10
-3
N
15


c. Jumlah zat yang teradsorbsi (x)
1. x
1
= (C
awal
-C
akhir
) x Mr x V / 1000
= (0,2405-0,197) x 60,05 x 100 / 1000
= 0,263 gram
2. x
2
= (C
awal
-C
akhir
) x Mr x V / 1000
= (0,1097-0,0985) x 60,05 x 100 / 1000
= 0,067 gram
3. x
3
= (C
awal
-C
akhir
) x Mr x V / 1000
= (0,0436-0,0174) x 60,05 x 100 / 1000
= 0,157 gram
4. x
4
= (C
awal
-C
akhir
) x Mr x V / 1000
= (0,012-5,2x10
-3
) x 60,05 x 100 / 1000
= 0,041 gram
5. x
5
= (C
awal
-C
akhir
) x Mr x V / 1000
= (6x10
-3
-4,4x10
-3
) x 60,05 x 100 / 1000
= 9,608x10
-3
gram
6. x
6
= (C
awal
-C
akhir
) x Mr x V / 1000
= (3,3x10
-3
-2x10
-3
) x 60,05 x 100 / 1000
=7,806x10
-3
gram