You are on page 1of 22

KASUS UROLITIASIS PADA ANJING DAN KUCING

MARIYANI
B04050321









FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009



ABSTRACT
Mariyani. B04050321. Cases of Urolithiasis in Dogs and Cats. Under the supervision of
Prof. drh. Dondin Sajuthi, MST, PhD, dan drh. Sukamto
The purpose of this study is to know the amount of urolithiasis cases in dogs and cats.
Data of those cases is obtained from medical records in Rumah Sakit Hewan Jakarta, Rumah
Sakit Hewan IPB, and clinic PDHB drh. Cucu K, dkk 24 hours from 2007 until 2008. The
study shows that urolithiasis cases increased in 2008. It is higher in male compared with
female. The incidence in dogs is higher compared with cats. Urolithiasis in dogs was most
common appeared at 7 years old dogs and the type of stone were 42% calcium oxalate and
33% struvite, the rest were silica 17% and cystine 8%. Pomeranian and mixed breed dogs
predominated. Persian cats predominated with the most common appeared at 5 years old
cats.
Based on laboratories examination from six stones samples, each stone had different
physical appearance and consist of many crystals.
Keywords: cases, urolithiasis, dogs, cats















RINGKASAN
Mariyani. B04050321. Kasus Urolitiasis pada Anjing dan Kucing. dibawah bimbingan Prof.
drh. Dondin Sajuthi, MST, PhD dan drh. Sukamto.
Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui banyaknya kejadian kasus urolitiasis
pada anjing dan kucing. Data kasus diperoleh melalui data rekam medis Rumah Sakit Hewan
Jakarta, Rumah Sakit Hewan IPB, dan Klinik PDHB 24 jam drh. Cucu Kartini S., dkk pada
tahun 2007-2008. Hasil studi menunjukkan kasus urolitiasis meningkat di tahun 2008. Kasus
pada jantan lebih banyak daripada betina. Begitu pula kasus pada anjing lebih banyak
daripada kucing. Kejadian urolitiasis pada anjing paling banyak didapatkan pada anjing
berumur 7 tahun dan jenis batu yang didapatkan adalah kalsium oksalat 42%, struvite 33%
dan sisanya adalah silica 17% serta cystine 8%. Ras anjing yang mendominasi adalah
Pomeranian dan ras campuran. Ras kucing yang mendominasi adalah ras Persia dan paling
banyak terjadi pada umur 5 tahun.
Berdasarkan permeriksaan laboratorium dari enam buah sampel, diketahui bahwa
masing-masing batu memiliki penampilan fisik yang berbeda serta tersusun dari banyak jenis
kristal.
Kata kunci: kasus, urolitiasis, anjing, kucing



















© Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor,
sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan
sebagainya












KASUS UROLITIASIS PADA ANJING DAN KUCING





MARIYANI
B04050321




Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan







FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Meningkatnya taraf hidup masyarakat berpengaruh terhadap gaya hidup
bermasyarakat. Salah satu diantaranya adalah meningkatnya pemilik anjing dan kucing
sebagai hewan kesayangan. Seringkali anjing dan kucing dianggap sebagai bagian dari
keluarga mereka. Kecintaan yang berlebih terhadap anjing dan kucing menyebabkan pemilik
memberikan makanan yang sama dengan makanan yang dikonsumsinya, selain pet food yang
dijual di pasaran dengan berbagai macam merek. Komposisi yang tidak sehat dapat
menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi. Dry cat food tertentu juga merupakan faktor resiko
terjadinya feline lower urinary tract disease (Buffington et al. 1997). Selain itu, pola
pemberian pakan juga dapat merubah pH urin, volume urin, dan solute concentration yang
dapat menyebabkan terbentuknya presipitasi mineral, seperti urolit yang terdiri dari berbagai
mineral dan terjadinya urethral plugs.
Urolitiasis merupakan salah satu penyebab feline lower urinary tract disease selain
idiopathic cystitis. The Ohio State University Veterinary Hospital mengevaluasi 109 ekor
kucing dengan gejala klinis stranguria dan 15 ekor diantaranya mengalami urolitiasis
(Buffington 2001). Selain itu, kejadian kasus baru feline lower urinary tract disease
dilaporkan mencapai 0,5-1% per tahun pada populasi kucing di Eropa dan Amerika Selatan
(Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Kejadian urolitiasis pada anjing dan kucing di
Indonesia kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya data mengenai
kasus ini sehingga perlu dilakukan pengumpulan data untuk mengetahui frekuensi kejadian
urolitiasis di klinik dan rumah sakit hewan di Jakarta dan Bogor.

Rumusan Masalah
Resiko terbentuknya kristalisasi urolit sangat tergantung kepada tingkat supersaturasi
di urin (Robertson & Markwell 1999). Jika pembentukkan kristal dapat dicegah maka
urolitiasis dan pembentukkan komponen mineral dari urethral plugs tidak muncul. Hal ini
merupakan faktor penting dalam mencegah proses terbentuknya urolit pada kucing ataupun
anjing yang memiliki predisposisi. Keberadaan kristal dapat mengindikasikan terbentuknya
urolit, namun adanya kristal tidak selalu mengindikasikan terjadinya urolit (Chew et al.
2004). Hasil ini harus diikuti dengan pemeriksaan parameter urin yang lain seperti pH dan
specific gravity. pH urin yang asam atau basa akan membentuk tipe urolitnya tersendiri.
Selain itu, anjing ataupun kucing ras tertentu juga memiliki predisposisi terhadap satu jenis
urolit.
Kucing cenderung memiliki pH urin >6,5 sehingga cenderung mengalami
pembentukkan struvite urolit. Adapun ras kucing yang paling banyak dilaporkan membentuk
struvite urolit adalah Himalayan dan Persian (Houston 2007) . Bentuk urolit lain sangat
jarang pada kucing. Pada anjing, struvite dan kalsium oksalat merupakan tipe urolit yang
paling sering terbentuk. Kalsium oksalat sering terjadi pada ras anjing berukuran kecil sampai
medium, seperti Miniature Schnauzer, Lhasa Apso, Yorkshire Terrier, Miniature Poodle,
Shih Tzu, dan Bichon Frise (Chew et al. 2004). Selain itu, anjing Dalmatian merupakan ras
anjing yang memiliki predisposisi terhadap terjadinya urate urolit.

Tujuan
Tujuan dilakukannya studi kasus ini adalah untuk mengetahui banyaknya kejadian
kasus urolitiasis pada anjing dan kucing di Rumah Sakit Hewan Jakarta, Rumah Sakit Hewan
Institut Pertanian Bogor, dan Klinik Praktek Dokter Hewan Bersama 24 jam drh. Cucu
Kartini S., dkk.

Manfaat
Diharapkan dalam kegiatan studi kasus ini akan diketahui hubungan frekuensi
kejadian urolitiasis dengan ras, umur, dan diet/pakan apa yang dapat menyebabkan
pembentukkan urolit.




TINJAUAN PUSTAKA
Urolitiasis
Urolitiasis dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana terdapat mineralisasi
makroskopik, urolit, didalam sistem urinari (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Urolit
memiliki ukuran yang bermacam-macam, mulai dari partikel seperti pasir sampai berukuran
lebih besar yang terlihat bila dilakukan radiografi. Urolit ini merupakan perwujudan
polycrystalline yang terdiri dari satu atau lebih mineral. Urolit atau disebut juga bladder stone
merupakan batu yang terbentuk akibat supersaturasi di urin dengan kandungan mineral-
mineral tertentu.

Gambar 1 Lapisan-lapisan urolit
Sumber : Veterinary Focus vol 17 No 1/2007 hal : 23
Kejadian terbentuknya urolit pada vesica urinaria biasa terjadi pada hewan, terutama
pada hewan domestik seperti anjing dan kucing. Urolit ini terbentuk di dalam vesica urinaria
dalam berbagai bentuk dan jumlah tergantung pada infeksi, pengaruh diet/konsumsi, dan
genetik (Wikipedia 2008). Urolit dapat terbentuk pada bagian manapun dari traktus urinari
anjing dan kucing. Urolit dengan berbagai komposisi mineral telah ditemukan pada kucing,
termasuk struvite, kalsium oksalat, kalsium fosfat, uric acid/urate, dan cystine. Pada anjing,
urolit dengan berbagai komposisi mineral juga telah ditemukan seperti struvite, kalsium
oksalat, kalsium fosfat, urate, cystine, silica, dan xanthine (Vogt 2002). Biasanya
diidentifikasi oleh mineral yang menyusun 70% atau lebih dari komposisinya.
Urolit ini membentuk nidus disekelilingnya, yang dapat terdiri dari leukosit, bakteri,
dan matrix organik bercampur dengan kristal, atau hanya kristalnya saja. Nidus menyusun
sekitar 10-20% dari total massa urolit. Hal ini memungkinkan nidus dibentuk dari berbagai
tipe kristal daripada bagian lainnya, yang biasa dikenal sebagai epitaxial growth. Struvite dan
kalsium oksalat adalah yang paling banyak ditemukan pada kasus klinik (Buffington 2001) .

Struvite
Struvite atau dikenal dengan magnesium ammonium fosfat heksahidrat dengan
komposisi kimia MgNH
4
PO
4
· 6H
2
0. Struvite merupakan tipe urolit yang paling sering
terbentuk yaitu sekitar 50% untuk analisa urolit pada anjing (Ling et al. 1998a). Namun pada
kucing berkisar sekitar 30% (Warrak 2006). Biasanya diikuti dengan adanya kalsium fosfat
dan terbentuk pada pH urin netral-basa.
Infeksi bakteri dapat meningkatkan pembentukan struvite urolit karena bakteri yang
menginfeksi memproduksi urease sehingga akan meningkatkan pH urin menjadi basa. Urease
merupakan enzim yang dalam keberadaannya di air akan menghidrolisis urea dan
menghasilkan ion ammonia dan karbonat sehingga konsentrasi kedua ion tersebut meningkat
(Houston et al. 2004). Ammonia bergabung dengan air atau ion hidrogen untuk membentuk
ion ammonium. Ion ammonium di urin akan menyebabkan pH urin yang tinggi. Ketika pH
urin basa, fosfat menjadi lebih tersedia untuk pembentukan kristal struvite dan struvite
menjadi kurang larut. Selain itu, pH urin yang tinggi akan menurunkan solubilitas
magnesium ammonium fosfat dan meningkatkan terbentuknya presipitasi kristal struvite.
Ketika konsentrasi fosfat, magnesium, dan ammonium meningkat di urin, supersaturasi
terjadi dan membentuk kristal dan urolit (Rinkardt & Houston 2004).



Gambar 2 Batu struvite dengan nidus berupa ammonium urate pada kucing.
Sumber : Veterinary Focus vol 17 No 1/2007 hal : 23
Lebih dari 95% anjing dengan struvite urolit ada kaitannya dengan urinary tract
infection akibat bakteri yang menghasilkan urease, seperti Staphylococus spp., Proteus spp,
dll (Chew et al. 2004). Urinary tract infection akibat bakteri penghasil urease mendahului
perkembangan terbentuknya struvite urolit pada anjing (Ling et al. 1998b). Namun struvite
urolit pada kucing biasanya terbentuk dalam urin yang steril, tanpa adanya infeksi bakteri
(Houston 2007). Hal ini dikarenakan pH urin kucing lebih basa daripada anjing yaitu >6,5
sehingga struvite urolit mudah terbentuk. Telah diperkirakan bahwa urin dengan pH sekitar
6,4 sama dengan solubility product dari struvite dan urin dengan pH 7 sama dengan
formation product dari struvite (Buffington 1988).
Ras anjing tertentu terpredisposisi dengan struvite, termasuk Miniature
Schnauzer, Bichon Frise, dan Cocker Spaniel. Anjing dengan struvite urolitiasis lebih
banyak terjadi pada anjing betina (85%) dan berumur 2-9 tahun (Ling et al. 1998c).
Adapun ras kucing yang paling banyak dilaporkan menderita struvite urolitiasis adalah
jenis Himalayan, Persian, dan kucing lokal Amerika dengan umur rata-rata 5-7 tahun
(Houston 2007).

Gambar 3 Batu struvite dengan nidus berupa oksalat pada anjing
Sumber : Veterinary Focus vol 17 No 1/2007 hal : 23
Pengobatan disolusi dengan menggunakan calculolytic diet yang spesifik telah
terbukti efektif pada kasus struvite urolit pada anjing yang terkait dengan infeksi bakteri
ataupun tidak (Abdullahi et al. 1984). Disolusi dari struvite tergantung dari keasaman urin
melalui diet/pakan atau urinary acidifier. Maka dari itu, mengubah pH urin menjadi asam
merupakan salah satu kunci dalam mengurangi resiko terbentuknya struvite urolit, terutama
pada kucing. Diet/pakan khusus untuk disolusi juga harus mengurangi kadar protein,
fosfor dan magnesium, menambahkan acidifying serta meningkatkan penggunaan garam.
Penurunan kadar protein dalam diet diharapkan akan mengurangi pembentukan urea.
Penurunan kadar mineral seperti fosfor dan magnesium diperuntukkan agar terjadi
derajat saturasi yang lebih rendah dari urin dengan ion yang dapat membentuk struvite
(Chew et al. 2004). Penggunaan acidifying diharapkan akan membentuk urin yang asam dan
penggunaan garam akan meningkatkan konsumsi air untuk merangsang urinasi yang lebih
banyak sehingga mengurangi terjadinya presipitasi mineral di urin.
Diet/pakan harus diberikan secara eksklusif, tapi hanya dapat diberikan untuk
beberapa bulan karena terkait dengan efek samping yang dapat ditimbulkan. Efek samping
yang ditimbulkan terkait dengan penurunan kadar protein dalam diet. Konsekuensi yang
terjadi akibat penurunan kadar protein dalam diet adalah berkurangnya urea dan albumin
dalam serum anjing, serta adanya peningkatan aktivitas hepatic alkaline phosphatase dalam
serum anjing. Akibat diet rendah protein, terjadi degenerasi hidropis dari hepatosit (Houston
et al. 2004). Kontraindikasi untuk diet/pakan ini adalah gagal jantung, gagal hati, gagal
ginjal, pankreatitis, hipertensi, dan hipoalbuminemia.
Disolusi struvite pada anjing lebih sulit dibandingkan pada kucing (Houston et al.
2004). Hal ini dikarenakan beberapa hal yaitu, pembentukkan struvite pada anjing lebih
disebabkan oleh infeksi bakteri, dan adanya kejadian terbentuknya kalsium karbonat atau
kalsium fosfat pada anjing yang mengalami struvite urolit.
Pembentukkan kalsium fosfat atau kalsium karbonat pada kejadian struvite urolit
dapat terjadi akibat pH urin yang meningkat (Houston et al. 2004). Akibatnya, urin menjadi
bersifat basa secara progresif akibat aktivitas hidrolisis urea dari mikroba dan adanya
disosiasi dari H
2
P0
4

menjadi HP0
4
2-
dan P0
4
3−
mengakibatkan peningkatan konsentrasi ion
HP0
4
2-
, dan adanya ion P0
4
3−
. Pada akhirnya, akan bergabung dengan kalsium yang
dieksresikan didalam urin. Dengan adanya hidrolisis urea oleh bakteri, akan terbentuk CO
2

yang akan bergabung dengan air dan membentuk asam karbonat (H
2
CO
3
). Asam karbonat
(H
2
CO
3
) akan berdisosiasi menjadi HCO
3
-
dan ion H
+
. Pada urin yang sangat basa, HC0
3
-

akan kehilangan protonnya dan menjadi CO
3
2-
. Anion CO
3
2-
ini dapat menggantikan anion
PO
4
3-
dan membentuk kristal karbonat.

Kalsium Oksalat
Kalsium oksalat urolit terbentuk dalam suasana urin yang asam sampai netral. Studi
epidemiologi menyatakan bahwa diet yang menghasilkan urin dengan pH 5,8 – 6,3
berhubungan dengan adanya resiko pembentukan kalsium oksalat di traktus urinari (Kirk et
al. 1995). Ada dua tipe yang biasanya terbentuk yaitu kalsium oksalat monohidrat/whewellite
(CaC
2
O
4
.H
2
O) dan kalsium oksalat dihidrat/weddellite (CaC
2
O
4
.2H
2
O). Kalsium oksalat
urolit ini dapat berupa single atau multiple, dengan bentuk dihidrat biasanya berspikula
dengan tepi yang bergerigi tajam sedangkan bentuk monohidrat cenderung halus, kecil, dan
bundar (Chew et al. 2004).
Kalsium oksalat urolit lebih sering terbentuk pada hewan dengan kondisi
hiperkalsemia (Houston et al. 2004). Penyakit-penyakit yang berperan yang menye-babkan
hiperkalsemia seperti lymphoma, primary hyper-parathyroidism atau Cushing’s syndrome,
defective nephrocalcin, dan Addison’s disease. Faktor resiko lain yang dapat menginduksi
terbentuknya kalsium oksalat urolit adalah hiperkalsiuria, hiperoksaluria, hipositraturia,
hipomagnesemia, asidosis, penurunan macromolecular inhibitors, dan volume urin (Elliot
2003). Selain itu, pembentukkan kalsium oksalat urolit dapat disebabkan oleh penggunaan
diet disolusi untuk mengatur struvite urolit secara tidak hati-hati.


Gambar 4 Kalsium oksalat pada kucing.
Sumber : Veterinary Focus vol 17 No 1/2007 hal : 23
Faktor resiko lain yang mengakibatkan terbentuknya kalsium oksalat termasuk diet
yang berlebih kalsium, vitamin D atau vitamin C, serta diet yang mengandung jumlah derivat
asam oksalat yang tinggi seperti bayam, ubi, kacang-kacangan (Abdulahhi et al. 1984).
Dalam tubuh anjing dan kucing, vitamin C dimetabolisme menjadi asam oksalat dan
diekskresikan ke dalam urin.
Anjing yang sering diberikan hati ayam memiliki resiko terbentuknya kalsium oksalat
urolit. Hati ayam mengandung taurin yang tinggi. Taurin (2-aminoethanesulfonic acid)
berbeda dengan asam amino umum karena mempunyai rantai sulfonic acid yang
menggantikan rantai asam karboksilat dan tidak tergabung kedalam asam amino. Taurin
disintesis di jaringan hati dari metionin dan cysteine. Sintesis ini memerlukan pyridoxal-5’-
phosphate, koenzim aktif dari vitamin B
6
(pyridoxine). Pyridoxine meningkatkan
transaminasi glioksilat, prekursor dari asam oksalat, menjadi glisin. Maka dari itu, defisiensi
pyridoxine akan menyebabkan peningkatan produksi endogenous dan ekskresi oksalat (Elliot
2003).
Taurin terdiri dari 50% lebih total asam amino bebas di jantung. Taurin memiliki aksi
positif inotropik pada jaringan jantung. Efek kardiak dari taurin berkaitan dengan
kemampuannya melindungi jantung dari adverse effect akibat kelebihan ataupun kekurangan
kalsium. Akibat dari kelebihan kalsium adalah terjadinya akumulasi kalsium intrasel yang
akan menyebabkan kematian sel. Taurin dapat secara langsung maupun tidak langsung
membantu mengatur kadar ion Ca
2+
intrasel dengan memodulasi aktivitas Ca
2+
channel.
Selain itu, pengaturan dapat dilakukan dengan mengatur Na-channel (Birdsall 1998). Taurin
juga berperan sebagai transporter. Selain itu, pada salah satu studi menyatakan bahwa taurin
berfungsi sebagai membrane stabilizer karena mampu menghambat tekanan dari loncatan
membran/membrane-bound NaK ATPase (Birdsall 1998). Taurin akan diekskresikan melalui
urin atau empedu.
Penyakit ginjal berkaitan dengan adanya kalsium oksalat urolit. Apakah penyakit
ginjal merupakan penyebab atau apakah merupakan akibat dari adanya kalsium oksalat
urolit? Keadaan hiperoksaluria dapat menjelaskannya. Hipotesis menduga bahwa kelebihan
oksalat dalam tubuh akan merusak tubuli ginjal. Tubuli ginjal yang rusak ini akan
termineralisasi, lokasinya disebut Randall's Plaques, dan menjadi nidus bagi presipitasi
kalsium oksalat. Dengan peningkatan saturasi urin, hiperoksaluria memungkinkan terjadinya
presipitasi kalsium. Sebagai akibatnya, kalsium oksalat urolit dapat menyumbat ureter dan
menyebabkan gagal ginjal.
Supersaturasi kalsium dan oksalat dalam urin merupakan syarat terbentuknya kalsium
oksalat. Kekurangan zat yang menghambat agregasi kristal akan menyebabkan interaksi yang
lebih besar antara ion kalsium dan oksalat. Sitrat merupakan zat penghambat agregasi
kalsium dengan oksalat (Chew et al. 2004). Sitrat dapat membentuk kompleks yang soluble
dengan oksalat. Defisiensi sitrat dapat disebabkan oleh adanya defek turunan atau akibat
asidosis, yang meningkatkan penggunaan sitrat di tubuli ginjal (Elliot 2003).
Selain itu, sitrat mengurangi absorpsi oksalat di usus sehingga urin yang diproduksi
akan bersifat basa. Namun pH urin tidaklah sepenting interaksi fisiko-kimia antara kalsium
dan oksalat didalam urin. Walaupun demikian, pH urin menggambarkan keseimbangan
sistemik asam-basa. Anjing dengan urin yang asam cenderung membentuk kalsium oksalat
urolit. Ini memungkinkan bahwa urin yang asam adalah gambaran dari kompensasi terhadap
asidifikasi kronis akibat diet.
Diet yang mengandung acidifying yang terus menerus dimakan dapat menyebabkan
pelepasan kalsium dari tulang sebagai respon keseimbangan terhadap adanya penambahan
ion hidrogen (H
+
) (Chew et al. 2004). Ginjal kemudian akan menyaring kelebihan kalsium ke
dalam urin sebagai usaha agar konsentrasi ion kalsium tetap normal. Hiperkalsiuria ini
kemudian akan menjadi faktor resiko terhadap pembentukkan kalsium urolit. Hiperkalsiuria
dapat terjadi melalui dua/(2) mekanisme yaitu penyerapan kalsium berlebih oleh usus dan
reabsorpsi kalsium yang berkurang di ginjal.
Salah satu penyebab terjadinya kalsium oksalat urolit adalah ketidakcermatan
penggunaan diet disolusi untuk struvite. Diet disolusi untuk struvite membuat urin menjadi
asam, untuk meningkatkan kelarutan kristal struvite dalam urin. Asiduria ini menaikkan
mobilisasi karbonat dan fosfat dari tulang untuk menyeimbangkan ion hidrogen (H+).
Mobilisasi kalsium dari tulang secara bersamaan akan menyebabkan hiperkalsiuria. Sebagai
tambahan, asidosis metabolis pada anjing berakibat pada terjadinya hipositraturia.
Tidak ada diet khusus untuk disolusi kalsium oksalat. Komponen kalsium tidak
berubah terhadap diet disolusi. Maka dari itu sangat dianjurkan untuk melakukan tindakan
operasi untuk membuang kalsium oksalat urolit karena diet disolusi tidak memungkinkan
(Chew et al. 2004) . Namun, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengubah
komposisi diet untuk mengurangi resiko terbentuknya kembali kalsium oksalat urolit.
Kebanyakan kalsium oksalat urolit dapat muncul kembali (Elliot 2003). Angka kejadian
kalsium oksalat yang muncul lagi pada anjing setelah dibuang berkisar antara 25-48% (Chew
et al. 2004).
Sebenarnya penggunaan magnesium dapat digunakan untuk menangani kejadian
kalsium oksalat urolit tetapi hal ini tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan
resiko terbentuknya struvite urolit. Berdasarkan pemahaman terhadap kecenderungan
perkembangan kalsium oksalat urolit maka perubahan diet dengan membatasi protein dan
penggunaan alkalinizing dalam pakan direkomendasikan (Chew, DJ et al. 2004). Namun
apakah kalsium sebaiknya ditambahkan atau dibatasi dalam pakan masih membingungkan
(Chew et al. 2004). Diet dengan kalsium yang tinggi dapat berakibat pada sedikitnya jumlah
kalsium dan oksalat yang diserap. Namun bila jumlah kalsium diturunkan maka tubuh akan
menyeimbangkan jumlah kalsium dengan mengambil kalsium dari tulang.
Pada anjing, diet tidak boleh ditambahkan dengan natrium karena dapat meningkatkan
ekskresi kalsium. Absorpsi kalsium di tubuli ginjal berkurang sehingga terjadi hiperkalsiuria.
Keadaan ini akan meningkatkan resiko terbentuknya kalsium oksalat urolit (Hawthorne &
Markwell 2004). Jumlah fosfor dalam diet juga tidak boleh dibatasi. Hipofosfatemia
menstimulasi produksi vitamin D (Elliot 2003). Bila fosfor dalam serum menurun maka akan
terjadi peningkatan aktivasi vitamin D3 menjadi calcitriol oleh 1-α-hydroxylase pada ginjal
dibawah pengaturan hormon paratiroid (Westropp 2007). Hal ini akan meningkatkan
penyerapan kalsium dan ekskresi kalsium ke dalam urin sehingga akan menyebabkan kondisi
hiperkalsiuria. Pembatasan penggunaan oksalat dalam diet direkomendasikan
(Lekcharoensuk et al. 2002b). Diet juga direkomendasikan untuk meningkatkan kadar
kelembaban untuk menurunkan konsentrasi urin dari prekursor mineral (Westropp 2007).
Kejadian kalsium oksalat urolit mencapai 35% pada anjing sedangkan pada
kucing mencapai 50-70% (Warrak 2006). Ras anjing yang cenderung terkena kalsium oksalat
urolit adalah Miniature Schnauzer, Lhasa Apso, Yorkshire Terrier, Miniature Poodle, Shih
Tzu, dan Bichon Frise. Anjing jantan beresiko lebih tinggi mengalami kalsium oksalat urolit
dibandingkan dengan anjing betina (Houston et al. 2004). Resiko tertinggi muncul pada
anjing yang berumur antara 8-12 tahun, dengan umur rata-rata 8-9 tahun (Ling et al. 1998b).
Adapun ras kucing yang cenderung mengalami kalsium oksalat urolitiasis adalah Burmese,
Himalayan, dan Persian (Elliot 2003).

Urate
Uric acid/urate adalah senyawa organik dari karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen
dengan rumus C
5
H
4
N
4
O
3
. Uric acid/urate merupakan produk akhir dari katabolisme purin
(Molecule of The Day 2006). Urate urolit yang terbentuk biasanya berupa ammonium urate
(NH
4
· C
5
H
4
N
4
O
3
) atau sodium urate monohydrate (Na· C
5
H
4
N
4
O
3
×H
2
O) dalam keadaan urin
asam sampai netral. Biasanya urate urolit berukuran kecil, halus, dan berwarna kuning
kecoklatan. Pembentukkan urate urolit terjadi karena peningkatan ekskresi asam urat di urin.
Dalmatian, terutama jantan, dan English Bulldog secara genetik terpredisposisi
pembentukkan urate urolit karena adanya perubahan metabolisme purin (Buffington 2004).
Dalmatian kurang memiliki kemampuan untuk mengkon-versi hasil metabolit purin yang
berupa urate menjadi senyawa yang lebih larut dalam air yaitu allantoin (Rusconi 2003).
Purin Dalmatian memiliki rataan urate hepatic transport yang rendah, sekitar 30-40%
konversi urate menjadi allantoin dibandingkan dengan ras lain yang hampir 90%. Selain itu
peningkatan ekskresi asam urat dalam urin juga terjadi bila hewan dalam keadaan
portosystemic shunts atau endstage liver disease. Hal ini berakibat pada menurunnya
perubahan asam urat menjadi allantoin, dan ammonia menjadi urea sehingga terjadilah
hiperammonemia. Kasus urate urolit terjadi sekitar 6% dari keseluruhan bentuk batu pada
kucing (Houston 2007). Ras kucing yang telah dilaporkan di Kanada yang mengalami urate
urolitiasis adalah Siamese dan Egyptian Maus.
Diet menggunakan hati ayam akan meningkatkan resiko terbentuknya urate urolit.
Hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Urate urolit dapat didisolusi dengan diet
yang rendah purin sehingga membuat urin menjadi basa. Allopurinol digunakan pada anjing
dengan perubahan purin metabolisme untuk mencegah pembentukkan asam urat.

Cystine
Cystine ((SCH
2
CHNH
2
COOH)
2
) merupakan salah satu asam amino yang tidak larut
dalam air. Cystine urolit terbentuk dalam keadaan urin asam sampai netral. Biasanya
berbentuk bundar dan halus. Terbentuknya cystine urolit disebabkan oleh adanya peningkatan
ekskresi cystine di urin.
Pada anjing maupun kucing, pembentukkan cystine urolit terkait dengan kondisi
cystinuria akibat defek kongenital turunan pada tubulus proksimalis ginjal yang tidak mampu
mereabsorpsi asam amino tertentu seperti cystine dan asam amino lainnya seperti ornitin,
lisin, dan arginin (Bush 1979).
Ras anjing yang terpredisposisi terhadap cystine urolit adalah Welsh Corgi, Bulldog,
Dachshund, Basset Hound, Chihuahua, Yorkshire Terrier, Irish Terrier, dan Basenji (Bush
1979). Selain itu, English bulldog, Newfoundland, Dachshund, Mastiff, Bullmastiff,
Australian cattle dog, serta Scottish deerhound juga merupakan ras anjing yang
terperedisposisi (Houston et al. 2004).
Pada kucing, tidak ada predisposisi terhadap ras ataupun jenis kelamin tertentu.
Namun telah dilaporkan bahwa Siamese memiliki resiko terhadap pembentukkan cystine
urolit (Houston 2007).
Pencegahan terhadap pembentukkan cystine urolit adalah dengan menurunkan kadar
potein dalam pakan dan alkalinisasi urin. Medikasi seperti D-penicillamine yang
mengandung thiol dengan dosis 2,5 mg/kgBB, dapat membentuk komplek soluble dengan
cystine di urin (Bush 1979). Selain itu medikasi dengan menggunakan 2-
mercaptopropionylglycine (2MPG) juga dapat membentuk komplek yang lebih larut dengan
cystine sehingga konsentrasi cystine di urin lebih rendah. Penggunaan D-penicillamine
menimbulkan efek samping seperti muntah (Hoppe 1994).

Kalsium Fosfat
Kalsium fosfat (Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
) urolit terbentuk dalam keadaan urin netral sampai
basa. Biasanya berbentuk bundar dan halus. Kalsium fosfat biasanya merupakan komponen
dari struvite atau kalsium oksalat. Pembentukkan lebih sering terjadi pada yang menderita
hiperkalsemia. Kalsium fosfat urolit jarang terjadi pada kucing dibandingkan dengan anjing
(Houston 2007). Ras anjing yang predisposisi terhadap kalsium fosfat adalah Yorkshire
Terrier, Miniature Schnauzer, dan Cocker Spaniel.


Silica
Silica (SiO2) urolit terbentuk dalam keadaaan urin asam sampai netral dan biasanya
berupa jackstone. Namun silica urolitiasis jarang terjadi. Kemungkinan terjadi karena
pemberian pakan yang kaya akan corn gluten dan soybean hulls. Berdasarkan jumlah yang
terbatas, pada kucing tidak ada predisposisi terhadap ras, umur, ataupun jenis kelamin
walaupun kejadian pada jantan sedikit lebih tinggi daripada betina (Houston et al. 2004).
Namun pada anjing, ras yang predisposisi terhadap pembentukkan silica urolit adalah
German Shepherd, Golden Retriever, Labrador Retriever, dan Miniature Schnauzer.

Xanthine
Xanthine urolit jarang terjadi dan kemungkinan terkait dengan kelainan metabolisme
purin bawaan atau mekanisme pengambilan allopurinol. Pada banyak kasus, tidak ada
identifying risk factor yang ditinjau. Tidak ada prediposisi breed, umur, dan jenis kelamin
yang dilaporkan (White 1997).

Dried Solidified Blood Calculi (DSBC)
Dried Solidified Blood Calculi umumnya tidak mengandung material dari kristal dan
kebanyakan bersifat radiolucent. Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui. Kejadian ini
pernah dilaporkan terjadi pada kucing North American (Houston 2007).

Compound Urolith
Compound urolith terdiri dari nidus dengan satu tipe mineral dan batu/shell dari
mineral tipe lain. Hal ini terbentuk karena faktor yang meningkatkan terjadinya pengendapan
dari satu tipe urolit menggantikan faktor sebelumnya dari mineral tipe lain. Beberapa tipe
mineral mungkin juga berfungsi sebagai nidus untuk deposisi mineral tipe lain. Sebagai
contoh, seluruh tipe urolit memiliki kecenderungan terhadap infeksi traktus urinari yang
dapat menyebabkan pengendapan sekunder dari struvite.
Mekanisme Terjadinya Urolit
Faktor utama yang mengatur kristalisasi mineral dan pembentukkan urolit adalah
derajat saturasi urin dengan mineral-mineral tertentu. Faktor penyebab lainnya
adalah diet/makanan, frekuensi urinasi, genetik, dan adanya infeksi traktus urinari. Saturasi
memberikan energi bebas untuk terbentuknya kristalisasi. Semakin tinggi derajat saturasinya,
semakin besar kemungkinan terjadinya kristalisasi dan perkembangan kristal (Waltham
Centre for Pet Nutrition 1999). Oversaturasi urine dengan kristal merupakan faktor
pembentukkan urolit tertinggi. Oversaturasi ini dapat disebabkan oleh peningkatan ekskresi
kristal oleh ginjal, reabsorpsi air oleh tubuli renalis yang mengakibatkan perubahan
konsentrasi dan pH urin yang mempengaruhi kristalisasi.
Saturasi ditentukan oleh produk dari konsentrasi aktif yang terlarut dalam urin,
misalnya kalsium dan oksalat, yang ditentukan dari konsentrasi absolut, interaksinya dengan
substansi lain di urin, efek dari pH urin, dan keseluruhan kekuatan afinitas ion dari larutan.
Solute activity atau yang dikenal sebagai jumlah yang bebas untuk bereaksi tidaklah sama
dengan konsentrasi dari larutan karena ion-ion yang terdapat pada masing-masing individu
dapat membentuk kompleks dengan substansi lain yang ada di larutan. Misalnya, kalsium
atau magnesium dapat membentuk kompleks dengan urate, sitrat, atau sulfat dan
menyebabkan terbentuknya kalsium oksalat atau struvite urolit. Perkembangan
pembentukkan kompleks ini dapat diprediksi berdasarkan konstanta disosiasi/known
dissociation constants, sehingga konsentrasi substansi kompleks ditentukan. Misalnya urolit
kalsium oksalat, maka reaksi konstanta disosiasi/Ksp adalah sebagai berikut :
CaC
2
O
4
Ca
2+
+ C
2
O
4
2-

Ksp = [Ca
2+
] [C
2
O
4
2-
], Ca
2+
dan C
2
O
4
2-
merupakan ion product.
Bila perkalian ion > Ksp maka akan terjadi presipitasi membentuk CaC
2
O
4
sampai perkalian
ion = Ksp. Namun apabila perkalian ion < Ksp maka akan terjadi disolusi.
Derajat saturasi yang meningkat akan mengakibatkan terjadinya presipitasi (Elliot
2003). Proses presipitasi mineral didalam traktus urinari dapat dijelaskan dengan dasar-dasar
fisika-kimia dan meliputi sejumlah faktor termodinamik dan kinetik. Salah satu pendekatan
yang digunakan untuk mempertimbangkan pembentukkan urolit dalam dua tahap, yaitu
proses pembentukkan kristal dan proses agregasi/perkembangan kristal yang berakibat pada
perkembangan urolit. Perkembangan kristal dipengaruhi oleh kemampuan nidus untuk tetap
berada didalam traktus urinari, durasi supersaturasi urin, serta struktur fisik dari kristal.
Kecepatan aktual dari pertumbuhan urolit bergantung pada komposisi mineral dan adanya
infeksi (Elliot 2003).
Faktor tambahan yang menyulitkan adalah pergerakan bebas ion-ion yang terdapat
pada larutan. Ionic strength ditentukan oleh konsentrasi dan valensi ion dalam sampel urin
(Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Kekuatan afinitas ion yang tinggi menurunkan
aktivitas individual ion. Produk dari aktivitas individual ion dapat dihubungkan dengan dua
nilai untuk tipe kristal yaitu solubility product dan formation product, yang memprediksi
proses kristalisasi apa yang cenderung terbentuk dalam larutan.
Solubility product adalah konstanta termodinamik dan yang menentukan titik dimana
larutan menjadi tersaturasi dengan mineral tertentu (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999).
Pembentukkan kristal secara spontan tidak mungkin terjadi didalam larutan dengan derajat
saturasi rendah dan kristal yang timbul akan diperkirakan dapat berdisolusi. Hal ini telah
didemonstrasikan pada struvite, walaupun kecepatan disolusi dari kalsium oksalat sangat
lambat.
Formation product biasanya ditentukan secara empiris dan bukanlah suatu konstanta
(Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Larutan dengan derajat saturasi yang lebih tinggi
daripada formation productnya akan berada dalam keadaan yang tidak stabil, supersaturasi
yang labil, dan menyebabkan kecenderungan terjadinya kristalisasi spontan yang homogen
dengan kecenderungan pembentukkan kristal murni dari satu jenis mineral.
Diantara formation product dan solubility product, larutan akan berada dalam keadaan
yang metastabil. Kristalisasi yang homogen tidak akan terjadi tetapi akan terjadi kristalisasi
heterogen. Kristalisasi heterogen tidak hanya terdiri dari mineral saja, tetapi terdapat pula sel
debris ataupun kristal tipe lain, terutama ketika mendekati formation product maka terjadi
aggregasi kristal yang telah terbentuk dan terjadi perkembangan kristal yang lambat
(Waltham Centre for Pet Nutrition 1999).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kasus Urolitiasis
Berdasarkan data yang diperoleh dari tiga lokasi, kasus urolitiasis pada anjing dan
kucing meningkat sebanyak tiga kasus, yaitu dari 34 kasus pada tahun 2007 menjadi 37 kasus
pada tahun 2008 (Gambar 7). Peningkatan urolitiasis ini dapat disebabkan oleh cara
pemeliharaan anjing dan kucing yang kurang baik seperti kurangnya beraktivitas dan lebih
sering berada di dalam rumah, serta penggunaan dry food sebagai pakan sehari-hari tanpa
diimbangi dengan asupan air yang cukup. Waltham Centre for Pet Nutrition (1999)
menyatakan bahwa indoor life style dan kurangnya aktivitas merupakan faktor resiko
terjadinya Lower Urinary Tract Disease. Selain itu, dry food dapat menjadi faktor resiko
terjadinya urolitiasis yang menyebabkan Lower Urinary Tract Disease (Buffington et al.
1997).
Gambar 7 Perbandingan kasus urolitiasis yang terjadi per tahun
Perbandingan Kejadian Urolitiasis pada Hewan Jantan dan Betina
Baik pada anjing maupun kucing, urolitiasis lebih banyak terjadi pada hewan
jantan daripada betina. Kasus pada hewan jantan sebanyak 38 kasus sedangkan pada hewan
betina sebanyak 33 kasus (Gambar 8). Urolitiasis pada hewan jantan mengambil proporsi
sebanyak 54% dari total kasus. Walaupun tidak terjadi perbedaan yang cukup besar, kejadian
urolitiasis pada hewan jantan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar dibandingkan
kejadian urolitiasis pada hewan betina. Hal ini dikarenakan perbedaan anatomi uretra pada
hewan jantan dan betina. Pada hewan jantan, uretra lebih panjang dan sempit daripada hewan
betina (Houston et al. 2004). Hewan jantan akan mudah mengalami urethral plugs yang akan
berakibat pada terjadinya obstruksi uretra jika mengalami urolitiasis. Uretra yang lebih
pendek dan lebar pada hewan betina akan membuatnya lebih mudah untuk membuang batu
kecil yang pada hewan jantan akan sangat mudah terperangkap (Stevenson et al. 2005).

Gambar 8 Perbandingan kasus urolitiasis yang terjadi pada hewan jantan dan
betina
Perbandingan Kasus Urolitiasis pada Anjing dan Kucing
Frekuensi urolitiasis pada anjing lebih banyak daripada kucing. Jumlah kasus
urolitiasis pada anjing mencapai 58 kasus yaitu sebesar 82% sedangkan pada kucing hanya
13 kasus yaitu sebesar 18% (Gambar 9). Hal ini dapat disebabkan oleh lebih banyak
masyarakat yang memelihara anjing daripada kucing. Pada kucing kasus Lower Urinary
Tract Disease sangat banyak (103 kasus) akan tetapi pembentukkan urolit belum terjadi, baru
memasuki tahap adanya kristaluria. Namun kondisi kristaluria ini dapat ditangani dengan
mengganti pakan yang biasa dimakan dengan prescription diet. Keberadaan kristal dalam
urin tidak selalu menyebabkan penyakit, dan kondisi kristaluria ini dapat terjadi pada hewan
sehat. Walaupun demikian, jika pembentukkan kristal dapat dicegah maka urolitiasis serta
pembentukkan komponen mineral yang dapat menyebabkan urethral plugs tidak muncul
(Waltham Centre for Pet Nutrition 1999).
Gambar 9 Perbandingan kasus urolitiasis yang terjadi pada anjing dan
kucing
Jenis Urolit yang Terbentuk pada Anjing Serta Kaitannya Dengan Umur dan Ras
Anjing
Dari data yang diperoleh, jenis urolit yang paling banyak terbentuk pada anjing
adalah kalsium oksalat 42%, kemudian struvite 33%, silica 17% dan cystine 8% (Gambar
10). Waltham Centre for Pet Nutrition (1999) menyatakan bahwa tipe urolit yang paling
sering ditemukan pada anjing adalah struvite. Ling et al. (1998a) juga menyatakan bahwa
struvite merupakan tipe urolit yang paling sering terbentuk yaitu sekitar 50% untuk analisa
urolit pada anjing. Namun pada hasil studi kasus diperoleh data bahwa kalsium oksalat adalah
tipe urolit yang paling banyak terbentuk daripada struvite. Hal ini dapat dijelaskan dengan
adanya hubungan antara pembentukkan urolit, dalam hal ini, kalsium oksalat dengan faktor
predisposisi. Beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan terbentuknya kalsium oksalat
adalah jenis kelamin, umur dan ras anjing (Stevenson et al. 2005).

Gambar 10 Perbandingan jenis batu pada kasus urolitiasis anjing
Kalsium oksalat urolit muncul lebih sering pada hewan jantan dan pada hewan yang
lebih tua, berumur 5 tahun atau lebih, serta lebih sering terjadi pada ras anjing kecil
(Stevenson et al. 2005). Hasil yang didapatkan dari studi kasus urolitiasis pada anjing adalah
lebih banyak terjadi pada hewan jantan dan kurang dari 5 tahun (Gambar 11). Hal ini
dikarenakan proses pembentukkan urolit memerlukan waktu yang lama. Kejadian urolitiasis
paling banyak terjadi pada anjing yang berumur 7 tahun. Ras anjing yang paling banyak
mengalami urolitiasis adalah Pomeranian dan ras campuran (mix breed), yang salah satunya
adalah anjing campuran Pomeranian. Kemudian diikuti oleh anjing lokal, Golden Retriever,
Shih Tzu, Dachschund, Maltese, Pekingese, Mini Pincher, Yorkshire Terrier, Chihuahua,
Japanese Chin, Schnauzer, Poodle, Chow Chow, Lhasa Apso, Basset Hound, Doberman,
Cocker Spaniel, dan German Shepherd (Gambar 12). Dapat dilihat bahwa dari sekian banyak
anjing yang menderita urolitiasis, sebanyak 55% anjing merupakan anjing ras kecil.

Gambar 11 Persebaran umur terjadinya kasus urolitiasis pada anjing
Gambar 12 Ras anjing yang terkena urolitiasis
Jenis Urolit yang Terbentuk pada Kucing Serta Kaitannya Dengan Umur dan Ras
Kucing
Dari data yang diperoleh, diketahui bahwa tidak ada data mengenai jenis urolit
yang sering terbentuk pada kucing. Namun dapat diketahui bahwa ras kucing yang paling
banyak terkena urolitiasis adalah Persia (Gambar 13). Kemudian diikuti oleh kucing lokal,
Exotic, dan Domestic Short Hair. Kejadian urolitiasis pada kucing paling banyak terjadi pada
umur 5 tahun (Gambar 14).
Gambar 13 Ras kucing yang terkena urolitiasis

Gambar 14 Persebaran umur terjadinya kasus urolitiasis pada kucing
Pemeriksaan Makroskopik dan Mikroskopik Sampel
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium dari enam buah sampel batu yang
diperoleh, dapat dilihat bahwa masing-masing batu memiliki bentuk,ukuran, warna,
permukaan dan konsistensi yang berbeda-beda (Tabel 1). Penentuan komposisi kalkuli
biasanya ditentukan berdasarkan pemeriksaan visual atau makroskopik, penampakkan pada
radiograf, keberadaan kristal di urin serta penggunaan test kit komersial yang ada.
Penampilan fisik kalkuli merupakan indikasi yang baik terhadap komposisi penyusunnya,
namun belakangan diketahui bahwa semua jenis batu yang berbeda dapat membentuk
bermacam-macam ukuran, bentuk dan warna. Moore (2007) menyatakan bahwa penampilan
fisik kalkuli hampir tidak pernah memberikan indikasi terhadap komposisi penyusunnya.
Dari enam buah sampel batu yang diperiksa, diperoleh hasil seperti yang terlihat
pada Tabel 1. Setiap sampel batu tersusun dari banyak jenis kristal (Gambar 15). Struktur
kristal ini tidak menunjukkan jenis batunya. Penentuan jenis mineral hanya dapat dilakukan
dengan analisis mineral (Elliot 2003).


Gambar 15 Hasil pemeriksaan mikroskopik
A Kristal cystine dan hippuric acid
B Kristal triple phosphate
C Kristal uric acid dan kalsium oksalat
D Kristal kalsium oksalat













Tabel 1 Data pemeriksaan makroskopik sampel batu.
Jenis
Hewan Ras
Warna
Batu
Bentuk
Batu Ukuran Permukaan Konsistensi
Anjing
Golden
Retriever
putih
kekuningan bulat
diameter ±
4mm halus keras
Anjing
Golden
Retriever
putih
kekuningan bulat
diameter ±
3mm kasar keras
Anjing
Golden
Retriever
putih
kekuningan bulat
diameter ±
4mm kasar keras
Anjing Pomeranian putih
agak
kotak
panjang ±
1cm halus keras
Anjing N/A
putih
kekuningan bulat
diameter ±
3mm halus keras
Anjing N/A coklat
agak
kotak
panjang ±
2mm halus keras




















KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Kejadian urolitiasis meningkat sebanyak 3 kasus pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2007.
2. Tidak terjadi perbedaan yang terlalu besar antara kasus urolitiasis pada hewan jantan
dibandingkan hewan betina (kasus pada hewan jantan sebanyak 38 kasus sedangkan hewan
betina sebanyak 33 kasus).
3. Kasus urolitiasis pada anjing lebih banyak dibandingkan pada kucing (kasus pada anjing
sebanyak 58 kasus sedangkan pada kucing hanya 13 kasus).
4. Pada anjing, kasus urolitiasis paling banyak terjadi pada umur 7 tahun, sedangkan pada
kucing paling banyak terjadi pada umur 5 tahun.
5. Sebanyak 55% ras anjing yang paling banyak menderita urolitiasis adalah ras anjing kecil,
sedangkan untuk ras kucing, 53% merupakan kucing Persia.
6. Urolit yang paling banyak ditemukan adalah urolit yang bersifat campuran.
Saran
1. Diperlukan studi lebih lanjut mengenai Urinary Tract Infection terkait dengan urolitiasis dan
studi mengenai frekuensi urolitiasis secara kontinyu untuk mengetahui perkembangan kasus
dari tahun ke tahun.


PS : Keterangan lebih jauh, email me... :) Semoga bermanfaat...