You are on page 1of 3

Antibiotika topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus di bidang kulit.

Antibiotika
topikal adalah obat yang paling sering diresepkan oleh spesialis kulit untuk menangani akne vulgaris ringan
sampai sedang serta merupakan terapi adjunctive dengan obat oral. Untuk infeksi superfisial dengan area
yang terbatas, seperti impetigo, penggunaan bahan topikal dapat mengurangi kebutuhan akan obat oral, problem
kepatuhan, efek samping pada saluran pencernaan, dan potensi terjadinya interaksi obat. Sel anjutnya,
antibiotika topikal seringkali diresepkan sebagai bahan profilaksis setelah tindakan bedah minor atau tindakan
kosmetik (dermabrasi, laser resurfacing) untuk mengurangi resiko infeksi setelah operasi dan mempercepat
penyembuhan luka. Akhir-akhir ini kegunaan antibiotika topikal untuk profilaksis setelah tindakan minor
dipertanyakan dan akan didiskusikan lebih lanjut di bawah ini.
BAHAN YANG DINGUNAKAN PADA PENGOBATAN TOPIKAL UNTUK AKNE
Efikasi antibiotika topikal pada pengobatan akne vulgaris dan rosasea berhubungan langsung dengan
efek antibiotika, dan diduga beberapa antibiotika topikal memiliki efek anti-inflamasi dengan menekan neutrophil
chemotactic factoratau melalui mekanisme lain. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih
antibiotika topikal untuk akne vulgaris karena meningkatnya resistensi terhadap antibiotika yang sering
digunakan. Ini menyebabkan para ahli mencari kemungkinan terapi kombinasi untuk akne vulgaris yang dapat
mengurangi terjadinya resistensi.
Eritromisin
Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid dan efektif baik untuk kuman gram positif maupun gram
negatif. Antibiotika ini dihasilkan oleh Streptomyces erythreus dan digunakan untuk pengobatan akne. Eritromisin
berikatan dengan ribosom 50S bakteri dan menghalangi translokasi molekul peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak
donor, bersamaan dengan pembentukan rantai polipepetida dan menghambat sintesis protein. Eritromisin juga
memiliki efek anti-inflamasi yang membuatnya memiliki kegunaan khusus dalam pengobatan akne.
Eritromisin tersedia dalam sediaan solusio, gel, pledgets dan salep 1,5 %- 2% sebagai bahan tunggal. Juga
tersedia dalam sediaan kombinasi dengan benzoil peroksida, yang dapat menghambat resistensi antibiotika
terhadap eritromisin. Kombinasi zinc asetat 1,2% dengan eritromisin 4% lebih efektif daripada dengan
Clindamisin.
Clindamisin
Clindamisin adalah antibiotika linkosamid semisintetik yang diturunkan dari linkomisin. Mekanisme kerja
antibiotika ini serupa dengan eritromisin, dengan mengikat ribosom 50S dan menekan sintesis protein bakteri.
Clindamisin digunakan secara topikal dalam sediaan gel, solusio, dan suspensi (lotio) 1% serta terutama untuk
pengobatan akne. Juga tersedia dalam kombinasi dengan benzoil peroksida yang dapat menghambat resistensi
antibiotika terhadap clindamisin. Efek samping berupa kolitis pseudomembran jarang dilaporkan pada pemakaian
clindamisin secara topikal.
Metronidazol
Metronidazol, suatu topikal nitroimidazol, saat ini tersedia dalam bentuk gel, lotio, dan krim 0,75%, serta sebagai
krim 1% untuk pengobatan topikal pada rosasea. Pada konsentrasi ringan, obat dipakai 2 kali sehari, sedangkan
pada konsentrasi yang lebih tinggi obat dipakai sekali sehari. Metronidazol oral memiliki aktifitasbroad-
spectrum untuk berbagai organisme protozoa dan organisme anaerob. Mekanisme kerja metronidazol topikal di
kulit belum diketahui; diduga efek antirosasea berhubungan dengan kemampuan obat sebagai antibiotika,
antioksidan dan anti-inflamasi.
Asam Azelaic
Asam Azelaic adalah suatu asam dikarboksilik yang ditemukan pada makanan (sereal whole-grain dan hasil
hewan). Secara normal terdapat pada plasma manusia (20-80 ng/mL), dan pemakaian topikal tidak
mempengaruhi angka ini secara bermakna. Mekanisme kerja obat ini adalah menormalisasi proses keratinisasi
(menurunkan ketebalan stratum korneum, menurunkan jumlah dan ukuran granul keratohialin, dan menurunkan
jumlah filagrin. Dilaporkan bahwa secara in vitro, terdapat aktifitas terhadap Propionibacterium
acnes danStaphylococcus epidermidis, yang mungkin berhubungan dengan inhibisi sintesis protein bakteri
(tempat yang pasti sampai saat ini belum diketahui). Pada organisme aerobik terdapat inhibisi enzim
oksidoreduktif. Pada bakteri anaerobik terdapat inhibisi pada enzim oksidoreduksi (seperti tyrosinase,
mitochondrial enzymes of the respiratory chain, 5-alpha reductase, dan DNA polymerase). Pada bakteri anaerob,
terdapat gangguan proses glikolisis. Asam Azelaic digunakan terutama untuk pengobatan akne vulgaris, dan ada
yang menyarankan digunakan untuk hiperpigmentasi (misalnya melasma), meskipun FDA tidak menyetujui
indikasi ini. Asam Azelaic tersedia dalam sediaan krim 20%.
BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK TERAPI TOPIKAL PADA INFEKSI BAKTERI SUPERFISIAL
Mupirosin
Mupirosin, yang dahulu dikenal sebagai asam pseudomonik A adalah antibiotika yang diturunkan
dari Pseudomonas fluorescens. Obat ini secara reversibel mengikat sintetase isoleusil-tRNA dan menghambat
sintesis protein bakteri. Aktifitas mupirosin terbatas terhadap bakteri gram positif,
khususnyastaphylococcus dan streptococcus. Aktifitas obat ini meningkatkan suasana asam. Mupirosin sensitif
terhadap perubahan suhu, sehingga tidak boleh terpapar dengan suhu tinggi. Salep mupirosin 2% dioleskan 3
kali sehari dan terutama di-indiskasi-kan untuk pengobatan impetigo dengan lesi terbatas, yang disebabkan
oleh S. aureus dan Streptococcus pyogenes. Tetapi, pada penderitaimmunocompromised terapi yang diberikan
harus secara sistemik untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Pada tahun 1987 dilaporkan resistensi
bakteri terhadap mupirosin yang pertama kali. Setelah itu terdapat beberapa laporan resistensi mupirosin karena
pemakaian antibiotika topikal untukmethicillin-resistant S. aureus (MRSA). Penelitian terakhir di Tennessee
Veterans’ Affairs Hospital menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang salep mupirosin untuk mengontrol
MRSA, khususnya pada penderita ulkus dekubitus, meningkatkan resistensi yang bermakna. Lebih lanjut,
peneliti Jepang menemukan bahwa mupirosin konsentrasi rendah dicapai setelah aplikasi intranasal dan
dipostulasikan bahwa mungkin ini menjelaskan resistensi terhadap mupirosin pada strain S. aureus. Suatu studi
percobaan menggunakan salep antibiotika kombinasi yang mengandung basitrasin, polimiksin B, dan gramisidin
berhasil menghambat kolonisasi pada 80% (9 dari 11) penderita yang setelah di-follow-up selama 2 bulan tetap
menunjukkan dekolonisasi. Semua kasus (6 dari 6) terhadap mupirosin-sensitive MRSA dieradikasi, sedangkan
3 dari 5 kasus terhadap mupirosin-sensitive MRSA dieliminasi. Formulasi baru yang menggunakan asam kalsium
(kalsium membantu dalam stabilisasi bahan kimia) tersedia untuk penggunaan intranasal dalam bentuk salep 2%
dan krim 2%.
BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENCEGAH INFEKSI SETELAH TINDAKAN BEDAH ATAU LUKA
ATAU UNTUK PENGOBATAN DERMATITIS KRONIK
Antibiotika topikal banyak dipakai untuk mengurangi infeksi setelah tindakan bedah minor, pada
dermatitis kronik seperti dermatitis stasis dan dermatitis atopi, atau setelah abrasi ringan pada kulit. Studi terakhir
difokuskan pada insidens infeksi setelah biopsi kulit atau tindakan bedah yang diberi antibiotika topikal. Pada
beberapa kasus, antibiotika topikal tampaknyamenurunkan angka penyembuhan luka. Studi lain menunjukkan
bahwa penggunaan pembawa (vehicle) memberi hasil yang sama seperti pemberian antibiotika pada
penyembuhan luka tanpa resiko dermatitis kontak iritan atau alergi terhadap bahan antibiotika. Hasil studi yang
besar yang membandingkan basitrasin dan petrolatum pada lebih dari 1200 tindakan bedah minor dan biopsi
menunjukkan bahwa bahan aktif basitrasin tidak menurunkan angka infeksi secara bermakna, tetapi malah
berhubungan dengan dermatitis kontak alergi.
Basitrasin
Basitrasin adalah antibiotika polipeptida topikal yang berasal dari isolasi strainTracy-I Bacillus subtilis, yang
dikultur dari penderita dengan fraktur compound yang terkontaminasi tanah. Basi ini diturunkan dari Bacillus, dan
trasin berasal dari penderita yang mengalami fraktur compound (Tracy). Basitrasin adalah antibiotika polipeptida
siklik dengan komponen multipel (A,B dan C). Basitrasin A adalah komponen utama dari produk komersial dan
yang sering digunakan sebagai garam zinc. Basitrasin mengganggu sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat
atau menghambat .defosforilasi suatu ikatan membran lipid pirofosfat, pada kokus gram positif seperti
stafilokokus dan streptokokus. Kebanyakan organisme gram negatif dan jamur resisten terhadap obat ini.
Sediaan tersedia dalam bentuk salep basitrasin dan sebagai basitrasin zinc, mengandung 400 sampai 500 unit
per gram.
Basitrasin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial pada kulit seperti impetigo, furunkolosis, dan
pioderma. Obat ini juga sering dikombinasikan dengan polimiksin B dan neomisin sebagai salep antibiotika tripel
yang dipakai beberapa kali sehari untuk pengobatan dermatitis atopi, numularis, atau stasis yang disertai dengan
infeksi sekunder. Sayangnya, aplikasi basitrasin topikal memiliki resiko untuk timbulnya sensitisasi kontak alergi
dan meski jarang dapat menimbulkan syok anafilaktik.
Polimiksin B
Polimiksin B adalah antibiotika topikal yang diturunkan dari B.polymyxa, yang asalnya diisolasi dari contoh tanah
di Jepang. Polimiksin B adalah campuran dari polimiksin B1 dan B2, keduanya merupakan polipeptida siklik.
Fungsinya adalah sebagai detergen kationik yang berinteraksi secara kuat dengan fosfolipid membran sel
bakteri, sehingga menghambat intergritas sel membran.
Polimiksin B aktif melawan organisme gram negatif secara luas termasuk P.aeruginosa,
Enterobacter, dan Escherichia coli. Polimiksin B tersedia dalam bentuk salep (5000-10000 unit per gram) dalam
kombinasi dengan basitrasin atau neomisin. Cara pemakaiannya dioleskan sekali sampai tiga kali sehari.
AMINOGLIKOSIDA TOPIKAL, TERMASUK NEOMISIN, GENTAMISIN, DAN PAROMOMISIN
Aminoglikosida adalah kelompok antibiotika yang penting yang digunakan baik secara topikal atau pun sistemik
untuk pengobatan infeksi yang disebabkan bakteri gram negatif. Aminoglikosida memberi efek membunuh
bakteri melalui pengikatan subunit ribosomal 30S dan mengganggu sintesis protein.
Neomisin sulfat, aminoglikosida yang sering digunakan secara topical adalah hasil fermentasi Strep. faridae.
Neomisin yang tersedia di pasaran adalah campuran neomisin B dan C , sedangkan framisetin yang digunakan
di Eropa dan Canada adalah neomisin B murni. Neomisin sulfat memiliki efek mematikan bakteri gram negatif
dan sering digunakan sebagai profilaksis infeksi yang disebabkan oleh abrasi superfisial, terluka, atau luka
bakar. Tersedia dalam bentuk salep (3,5 mg/g) dan dikemas dalam bentuk kombinasi dengan antibiotika lain
seperti basitrasin, polimiksin dan gramisidin.
Bahan lain yang sering dikombinasikan dengan neomisin adalah lidokain, pramoksin, atau hidrokortison.
Neomisin tidak direkomendasikan oleh banyak ahli kulit karena dapat menyebabkan dermatitis kontak
alergi. Dermatitis kontak karena pemakaian neomisin memiliki angka prevalensi yang tinggi, dan pada 6 –8 %
penderita yang dilakukan patch test memberi hasil positif. Neomisin sulfat (20%) dalam petrolatum digunakan
untuk menilai alergi kontak.
Gentamisin sulfat diturunkan dari hasil fermentasi Micromonospora purpurea. Tersedia dalam bentuk topikal krim
atau salep 0,1%. Antibiotika ini banyak digunakan oleh ahli bedah kulit ketika melakukan operasi telinga ,
terutama pada penderita diabet atau keadaan immunocompromised lain, sebagai profilaksis terhadap otitis
eksterna maligna akibat P. aeruginosa.
Paromomisin berhubungan erat dengan neomisin dan memiliki efek antiparasit. Sediaan topikal terdiri dari
paramomisin sulfat dan metilbenzetonium klorida yang digunakan di Israel untuk mengobati leismaniasis
kutaneus.
ANTIBIOTIKA LAIN
Gramisidin
Gramisidin adalah antibiotika topikal yang merupakan derivat B. brevis. Gramisidin adalah peptida linier yang
membentuk stationary ion channels pada bakteri yang sesuai. Aktifitas antibiotika gramisidin terbatas pada
bakteri gram positif.
Kloramfenikol
Kloramfenikol di Amerika Serikat penggunaannya terbatas untuk pengobatan infeksi kulit yang ringan.
Kloramfenikol pertama kali diisolasi dari Strep. venezuela, tetapi saat ini disintesis karena struktur kimianya
sederhana. Mekanisme kerjanya hampir mirip dengan eritromisin dan klindamisin, yaitu menghambat ribosom
50Smemblokade translokasi peptidil tRNA dari akseptor ke penerima.
Kloramfenikol tersedia dalam krim 1 %. Obat ini jarang digunakan karena dapat menyebabkan anemia aplastik
yang fatal atau supresi sum-sum tulang.
Sulfonamida
Struktur sulfonamida mirip dengan para-aminobenzoic acid (PABA) dan bersaing dengan zat tersebut selama
sintesis asam folat. Sulfonamida jarang digunakan secara topikal, kecuali krim silver sulfadiazine (Silvaden) dan
krim mafenid asetat. Silver sulfadiazine melepas silver secara perlahan-lahan. Silver memberi efek pada
membran dan dinding sel bakteri. Mekanisme kerja mefenid tidak sama dengan sulfonamid karena tidak ada
reaksi antagonis terhadap PABA. Mafenid asetat yang digunakan untuk lesi yang luas pada kulit dapat
menyebabkan asidosis metabolik dan dapat menyebabkan rasa nyeri. Golongan ini adalah antibiotika broad-
spectrum dan digunakan untuk luka bakar. Superinfeksi olehCandida dapat terjadi karena pemakaian krim
mafenid.
Clioquinol / Iodochlorhydroxiquin
Clioquinol adalah antibakteri dan antijamur yang di-indikasi-kan untuk pengobatan kelainan kulit yang disertai
peradangan dan tinea pedis serta infeksi bakteri minor. Clioquinol adalah sintetik hydroxyquinoline yang
mekanisme kerjanya belum diketahui. Kerugian clioquinol adalah mengotori pakaian, kulit, rambut dan kuku serta
potensial menyebabkan iritasi. Clioquinol mempengaruhi penilaian fungsi tiroid (efek ini dapat berlangsung
hingga 3 bulan setelah pemakaian ). Tetapi clioquinol tidak mempengaruhi hasil tes untuk pemeriksaan T3 dan
T4.
Nitrofurazone
Nitrofurazone (Furacin) adalah derivat nitrofuran yang digunakan untuk pengobatan luka bakar. Mekanisme
kerjanya adalah inhibisi enzim bakteri pada degradasi glukosa dan piruvat secara aerob maupun anaerob.
Nitrofurazone tersedia dalam krim , solusio atau kompres soluble 0,2%, dan aktifitas spektrum obat ini
meliputistaphylococcus, streptococcus, E. coli, Clostridium perfringens, Aerobacter enterogenes, dan Proteus sp.
Asam Fusidat
Asam fusidat adalah sediaan topikal yang tidak tersedia di Amerika Serikat, tetapi terdapat di Kanada dan Eropa
sebagai antibakteri dalam bentuk krim, salep,impregnated gauze. Asam fusidat adalah antibiotika steroidal
dengan mekanisme kerja mempengaruhi fungsi faktor elongasi (EF-G) dengan menstabilkan EF-G-GDP-
ribosome complex, mencegah translokasi ribosom dan daur ulang bentuk EF-G.