You are on page 1of 39

Nama : Rizal Taufiqurrohman

N R P : 3713100010
Tgl. Prak. : 17 Maret 2014
Nama Asst. : Nasrullah
2

Panas yang Ditimbulkan Oleh Arus Listrik
Rizal Taufiqurrohman
3713100010

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA


ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan panas yang ditimbulkan oleh arus listrik dengan
tujuan menentukan panas yang disebabkan oleh arus listrik, membuktikan hukum
joule, dan menentukan harga dari 1 Joule. Percobaan ini dilakukan dengan
menggunakan 2 macam rangkaian yang digunakan untuk menghitung waktu tiap
kenaikan 1
0
C. Percobaan memanfaatkan hukum Joule dan Asas Black. Dari
percobaan yang telah dilakukan diperoleh data rangkaian pertama yaitu 1 Joule =
0,3008 Kalori, sedangkan rangkaian kedua yaitu 1 Joule = 0,3598 Kalori.
Kata Kunci : Suhu, Kalor, Asas Black, Hukum Joule, Hambatan dan Arus Listrik

3

Daftar Isi

HALAMAN JUDUL ......................................................................... 1
ABSTRAK ........................................................................................ 2
DAFTAR ISI ..................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 4
BAB II DASAR TEORI ................................................................... 5
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ......................................... 11
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ........................ 13
BAB V KESIMPULAN .................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 27
LAMPIRAN ...................................................................................... 28

4

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sampai sekarang kita tahu bahwa fenomena kelistrikan adalah mengalirnya
elektron dalam suatu kawat penghantar. Fenomena kelistrikan ini tidak terlepas dari
arus listrik yang mengalir di dalamnya, arus ini mengandung muatan yang mengalir
dari suatu tempat ke tempat lain.
Apabila pada kelistrikan ini ada arus yang mengalir di dalamnya maka akan
terjadi pula perpindahan energi potensial listrik dalam rangkaian tersebut, sehingga
energi tersebut bisa berubah bentuk sesuai hukum kekekalan energi menjadi suara,
panas, atau dingin.

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang muncul pada percobaan ini adalah bagaimana cara
menentukan panas yang disebabkan oleh arus listrik dan membuktikan adanya
hukum joule serta menentukan harga dari 1 Joule.

1.3 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan panas yang ditimbulkan
oleh arus listrik dan membuktikan adanya hukum joule serta menentukan harga dari
1 Joule.

5

BAB II
DASAR TEORI


2.1 Arus Listrik
Suatu daerah pada gejala kelistrikan dapat dibilang ada arus apabila terdapat
aliran neto muatan melewati daerah tersebut. Aliran neto disini dapat diperjelas
dengan sebuah contoh yaitu apabila kita memiliki selang yang berisi air dan tidak
terdapat penggerak atau pompa air, maka air tidak akan bergerak. Ini dapat kita
bandingkan dengan apabila kita memiliki kabel yang tidak memiliki baterai atau
tidak terhubung ke power supply, sebenarnya pada kabel tersebut ada muatan
positif dan negatif didalamnya, akan tetapi tidak bergerak. Akan tetapi bila kita
memberi pompa air pada selang tersebut atau kita memberi baterai pada kabel
tersebut maka yang terjadi adalah berpindahnya atau transpor neto muatan karena
adanya jumlah eletron yang bergerak dalam arah yang sama. (Zemansky,2002)
Sehingga apabila ada sejumlah muatan dq yang melewati kabel tersebut dan
dalam waktu dt tertentu, maka terdapat arus i yang melalui bidang tersebut
didefinisikan sebagai berikut
i =
dq

....................................................................... (2.1)
Sehingga dengan memanfaatkan proses integrasi dari waktu ke 0 sampai t kita
dapat mencari muatan yang melewati suatu bidang kabel tersebut
q=∫ dq=∫

0
dt ....................................................................... (2.2)
dimana arus i dapat berubah-ubah tiap waktu.
Arus listrik diukur dalam coloumb per detik, satuan internasional untuk arus
listrik adalah Ampere (disingkat amp atau A), satuan ini diambil dari nama
fisikawan yang bernama Perancis Andre Ampere untuk menghormati jasanya. Pada
rangkaian tunggal, arus pada setiap saat dan satu titi adalah sama sesuai dengan
kekalan muatan listrik yang berkata bahwa muatan tidak hilang. (Giancolli,2001)
Apabila kita memiliki kawat penghantar yang dialiri muatan listrik dengan
luas A dan n adalah jumlah partikel pembawa muatan tiap satuan volume dan tiap
6

partikel membawa muatan q serta bergerak dengan kecepatan v. Dalam waktu ∆t
semua partikel dalam volume Av∆t, daerah yang melalui elemen luasan kawat
penghantar. Maka muatan total yang mengalir adalah
I = nqAv∆t ............................................................................. (2.3)
(Halliday,2010)

2.2 Arah Arus
Berdasarkan konvensi, arah arus listrik dianggap searah dengan aliran muatan
positif. Konvensi ini berbunyi : “panah arus digambar dengan pergerakan pembawa
muatan positif, bahkan jika pembawa muatan sebenarnya adalah negatif dan
bergerak dalam arah berlawanan.” Konvensi ini ditetapkan sebelum diketahuinya
bahwa elektron-elektron bergerak bebas, yang muatannya negatif yang mana
partikel-partikel ini sebenarnya bergerak dan akibatnya menhasilkan arus pada
kawat penghantar. Elektron ini bergerak berlawanan dengan arah muatan positif
sehingga elektron-elektron tersebut bergerak dalam arah yang berlawanan dengan
arus listrik.
Namun sebenarnya pembawa muatan di loop yang berasal dari baterai adalah
elektron yang mana elektron-elektron tersebut arahnya dari terminal negatif menuju
terminal positif yang dipaksa bergerak oleh medan listrik. Akan tetapi untuk alasan
sejarah dan menghormati konvensi maka kita tetap mengikuti konvens tersebut.
(Halliday,2010)

2.3 Resistor/ Hambatan
Apabila kita memiliki sebuah kawat penghantar yang memiliki potensial
sama pada tiap ujungnya, maka kita bisa mendapatkan besar arus yang berbeda-
beda. Hal ini dikarenakan adanya hambatan pada kawat sendiri maupun disebabkan
oleh resistor (konduktor yang berfungsi memberikan resistansi tertentu) yang ada.
Hambatan dari sebuah penghantar yang sering dinamakan tahanan sama dengan
resistor diantara dua titik dengan memakai sebuah perbedaan potensial diantara dua
titik tersebut, dengan mengukur arus I dan melakukan pembagian terhadapnya yaitu
sebagai berikut
7

R=

........................................................................................ (2.4)
V dinyatakan dalam satuan volt, I dinyatakan dalam satuan ampere dan R atau
hambatan dinyatakan dalam satuan ohm. (Halliday,2011)
Persamaan 2.4 sering kita kenal dengan sebutan hukum ohm, yaitu hukum
yang mendefinisikan hambatan pada suatu konduktor logam adalah sebanding
dengan perbandingan antara V dengan I. R disini konstan untuk konduktor logam
tertentu karena nilainya adalah berupa hasil perbandingan dan apabila kita
menambahkan tegangannya maka arusnya juga akan bertambah pula. Akan tetapi
ada pula bahan-bahan yang tidak berlakunya hukum ohm ini seperti dioda,
transistor dan tabung hampa udara. (Giancolli.2001). Hal ini dikarenakan pada
hukum ohm hanya mengatur/ berlaku ketika resistansi peranti ini tidak bergantung
pada magnitudo dan beda potensial yang diterapkan. (Halliday,2010)

2.4 Resistivitas/ Hambatan Jenis
Apabila kita memberikan suatu tegangan pada suatu kawat penghantar dan
kita mengukurnya, maka kita akan dapat melihat berapa hambatan yang ada
didalamnya karena perbedaan nilai dari yang kita pikirkan pertama kali, sehingga
kita dapat membuat beberapa hipotesa apakah kawat penghantar tersebut memiliki
hambatan yang sama untuk tiap kawat penghantar atau tidak. Kita dapat mengira
apakah hal tersebut dipengaruhi oleh panjang kawat, luat penampang, beratnya,
volumenya maupun massa jenisnya.
Apabila kita membicarakan tentang resistansi maka kita juga akan berurusan
dengan resistivitas ρ dari kawat penghantar, panjang L dan luas penampang A,
sehingga didapatkan rumus untuk hambatan R adalah
R= ρ

.................................................................................... (2.5)
Dimana ρ adalah konstanta pembanding yang disebut hambatan jenis yang berbeda-
beda tiap jenis kawat penghantar yang digunakan dalam percobaan dan memiliki
satuan Ωm sesuai dengan perhitungan satuannya. (Giancolli,2001)


8

2.5 Resistivitas Karena Panas
Nilai-nilai dari kebanyakan properti fisik/ resistansi bervariasi sesuai dengan
temperatur dan resistivitas tidak terkecuali. Hubungan antara temperatur dengan
resistivitas dari tembaga adalah mendekati konstan. Sehingga dengan menuliskan
pendekatan empiris dari hubungan tersebut kita dapat menuliskan kebanyakan
hungan tersebut dengan persamaan

0
=
0
∝ ( −
0
) ....................................................... (2.6)
Dengan
0
dan
0
adalah keadaan awal yaitu resistivitas pada keadaan awal
dan suhu pada keadaan awal. Sedangkan dan T adalah pada keadaan yang kita
cari nantinya dan ∝ adalah koeffisien temperatur dari resistivitas untuk logam
tersebut. Temperatu disini menggunakan satuan K, tetapi karena kita hanya
membutuhkan selisihnya saja maka kita dapat menggunakan
0
C untuk dimasukkan
pada rumus karena mengingat perbandingan skala antara K dan
0
C adalah 1:1.
(Halliday,2010)
2.6 Daya dalam Rangkaian Listrik
Apabila kita memiliki suatu rangkaian yang terdiri dari baterai dan resistor
ataupun piranti yang belum ditentukan, dan resistansi pada rangkaian tersebut kita
abaikan dan terdapat terminal A dan B pada motor penggerak. Dan baterai
mempertahankan beda potensial magnitudo V diantara 2 terminal dengan potensial
di A lebih besar dari B. Dan karena ada potensial yang dipertahankan dan adanya
lintasan konduksi eksternal pada kedua terminal maka akan terbentuk arus tunak i
yang diarahkan dari A ke B. Jumlah muatan yang bergerak dalam interval watu
tertentu pada kedua terminal adalah di dengan menurunnya potensial bermagnitudo
V maka sejumlah penurunan ini disertai dengan konservasi energi ke bentuk yang
lain yaitu pada piranti yang belum ditentukan.
Prinsip konservasi energi yang terjadi karena adanya penurunan potensial
magnitudo ini terkait dengan daya P yang berpindah dan disebut dengan laju
transfer dU/dt, yang merupakan
9

P=i.V (laju transfer energi listrik) ........................................ (2.7)
Selain itu, daya P ini juga merupakan laju transfer energi listri dari baterai ke
piranti yang belum ditentukan tadi. Apabila piranti tersebut baterai penyimpan yang
sedang diisi maka energi akan ditransfer ke energi simpanan di dalam penyimpanan
baterai tersebut. Dan apabila peranti tersebut adalah resistor maka energi akan
ditransfer menjadi energi termal internal yang cenderung meningkatkan suhu dari
resistor.
Apabila pada peranti tersebut adalah konduktor maka akan terjadi perubahan
energi menjadi energi panas. Ketika muatan positif mengalir dalam konduktor maka
muatan ini akan mengalir dari potensial tinggi ke rendah atau dari terminal A ke B.
Terjadi perubahan energi potensial mejadi energi kinetik pembawa muatan yang
hanya sesaat yang kemudian ditransfer ke material penghantar oleh tumbukan ion
sehingga menurunnya potensial magnitudo tersebut menyebabkan kenaikan energi
termal konduktor.(Halliday,2010)

2.7 Kalor
Kalor merupakan salah satu bentuk energi seperti halnya energi potensial,
sehingga satuan dari energi adalah Joule/ J maupun kilojoule/kJ. Teori kalor
pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli kimia berkebangsaa perancis yang
bernama Antonie Laurent Lavoiser, berdasarkan teorinya (teori kalorik) maka
satuan kalor sebelumnya dikenal dengan nama kalori (kal) ataupun kilokalori
(kkal). Apabila dikonversikan pada joule maka harga dari 1 kalori (kal) sebanding
dengan 4,2 Joule atau 1 Joule sebanding dengan 0,24 kalori (kal). Satuan kalori
sekarang sudah jarang digunakan pada ilmu fisika, akan tetapi masih sering
digunakan dalam menyatakan kandungan energi pada makanan.
Teori kalorik mengatakan bahwa benda yang bersuhu lebih tinggi meiliki
kalorik lebih banyak dibanding dengan benda yang bersuhu rendah. Apabila ada 2
benda yang bersuhu berbeda/ kaloriknya berbeda maka apabila kita tempelkan
kedua benda tersebut maka benda dengan kalorik lebih banyak akan kehilangan
kaloriknya yang diberikan pada benda berkalorik rendah, berpindahnya kalorik
pada kedua benda ini hingga terjadi suatu keadaan yang disebut kesetimbangan
10

termal. Dan teori inilah yang nantinya berguna dalam membuktikan bagaimana
penghantaran kalor pada kalorimeter. 1 kalori didefinisikan dengan kalor yang
dibutuhkan untuk menaikkan temperatur 1 gram air sebesar satu derajat celcius,
sehingga apabila 1 kilokalori adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan
temperatur 1 kg air sebesar 1 derajat celcius. (Giancolli,2001)

2.8 Kapasitas Kalor
Tiap benda memiliki sifat, massa jenis, kerapatan, dll yang berbeda-beda,
maka setiap benda memiliki kemampuan tenaga yang diberikan untuk menaikkan
suhu benda sebanyak satu derajat. Kata “kapasitas” disini bukan berarti energi yang
dapat disimpan atau dimuat suatu benda tetapi tenaga yang harus diberikan untuk
merubah suhu. Perbandingan banyaknya tenaga kalor ∆Q yang diberikan kepada
sebuah benda untuk menaikkan temperaturnya sebanyak ∆T dinamakan kapasitas
kalor C sesuai dengan persamaan
C =


................................................................................... (2.8)
(Halliday,2011)


11

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan kali ini adalah 1 set kalorimeter, 1 buah
thermometer, 1 buah adaptor, 1 buah stopwatch, 1 buah tahanan geser/ Rg, 1 buah
amperemeter, dan 1 buah voltmeter.

3.2 Cara Kerja
Gambar 3.1 Rangkaian I
Gambar 3.2 Rangkaian II

Dibuat rangkaian seperti pada gambar 3.1 dan 3.2, kemudian dihubungkan
kabel dengan sumber tegangan PLN dengan seijin asisten. Diisi kalorimeter K
dengan air kemudian dicatat massa air dalam kalorimeter tersebut. Kemudian diberi
- +
A
- +
V
E
-
+ Thermometer
K
(a)
_
+
V
Thermometer
+
_
A
V
(b)
E
-
+
K
12

beda potensial selama 10 menit dan diatur tegangan geser Rg supaya arus yang
mengalir konstan. Setelah itu dicatat kenaikan suhu pada air tiap 30 detik selama
10 menit.

13

BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 4.1 Data Percobaan I Rangkaian Pertama dengan Arus 0,5 A dan massa air 130 g
No Massa
(g)
Beda Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 130 12,5 13 0
2. 130 12,5 14 1.10,76
3. 130 12,5 15 1.04,91
4. 130 12,5 16 1.18,76
5. 130 12,5 17 1.23,45
6. 130 12,5 18 1.20,31
7. 130 12,5 19 1.08,21
8. 130 12,5 20 1.43,40
9. 130 12,5 21 1.26,90
10. 130 12,5 22 1.32,89
11. 130 12,5 23 1.56,21
12. 130 12,5 24 1.36,88
13. 130 12,5 25 1.38,68
14. 130 12,5 26 1.43,96
15. 130 12,5 27 1.39,65
16. 130 12,5 28 1.52,59
17. 130 12,5 29 1.58,64
14

18. 130 12,5 30 1.15,88
19. 130 12,5 31 2.05,40
20. 130 12,5 32 1.56,81
21. 130 12,5 33 1.44,66

Tabel 4.2 Data Percobaan II Rangkaian Pertama dengan Arus 0,5 A dan Massa Air 150 g
No. Massa
(g)
Beda Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 150 12,5 8 0
2. 150 12,5 9 1.16,11
3. 150 12,5 10 1.12,00
4. 150 12,5 11 1.26,43
5. 150 12,5 12 1.43,51
6. 150 12,5 13 1.22,73
7. 150 12,5 14 1.36,78
8. 150 12,5 15 1.36,90
9. 150 12,5 16 1.52,84
10. 150 12,0 17 1.28,28
11. 150 12,0 18 1.42,94
12. 150 12,0 19 1.55,06
13. 150 12,0 20 1.37,83
14. 150 12,0 21 1.39,38
15. 150 12,0 22 1.55,36
16. 150 12,0 23 1.48,68
15

17. 150 12,0 24 2.02,24
18. 150 12,0 25 1.11,38
19. 150 12,0 26 2.16,85
20. 150 12,0 27 1.55,00
21. 150 12,0 28 2.07,91

Tabel 4.3 Data Percobaan III Rangkaian Kedua dengan Arus 0,5 dan Massa Air 130 g
No. Massa
(g)
Beda Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 130 12,0 10 0
2. 130 12,0 11 1.09,23
3. 130 12,0 12 1.13,37
4. 130 12,0 13 1.05,90
5. 130 12,0 14 1.11,24
6. 130 12,0 15 1.16,44
7. 130 12,0 16 1.25,10
8. 130 12,0 17 1.08,52
9. 130 12,0 18 1.21,77
10. 130 12,0 19 1.28,14
11. 130 12,0 20 1.20,59
12. 130 12,0 21 1.25,95
13. 130 12,0 22 1.28,31
14. 130 12,0 23 1.27,98
15. 130 12,0 24 1.41,58
16

16. 130 12,0 25 1.30,28

Tabel 4.4 Data Percobaan IV Rangkaian Kedua dengan Arus 0,5 A dan Massa Air 150 g
No. Massa
(g)
Beda Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 150 12,0 6 0
2. 150 12,0 7 1.00,00
3. 150 12,0 8 0.58,05
4. 150 12,0 9 1.03,57
5. 150 12,0 10 1.17,96
6. 150 12,0 11 1.36,51
7. 150 12,0 12 1.24,55
8. 150 12,0 13 1.37,33
9. 150 12,0 14 1.31,11
10. 150 12,0 15 1.35,71
11. 150 12,0 16 1.35,39
12. 150 12,0 17 1.46,42
13. 150 12,0 18 1.23,40
14. 150 12,0 19 1.30,10
15. 150 12,0 20 1.45,19
16. 150 12,0 21 1.31,02


17

4.2 Perhitungan
Setelah didapatkan data seperti diatas maka besarnya nilai H dan Q dapat
dicari sebagai berikut
Percobaan I
Diketahui pada data 1 rangkaian menggunakan :
V : 12,5 Volt , I : 0,5 A , WAir : 130 g , t : 70,6 detik , T = 1 ºC
Sehingga, H = V.i.t Q1 = Wair . (T)
H = 12,5.0,5.70,6 Q1 = 130 Kalori
H = 442,25 Joule Q2 = 0,26.Wk.T
Q2 = 33,8 Kalori
Sehingga dengan menggunakan Asas Black
H = Q1+Q2
442,25 Joule = 163,8 Kalori
1 Joule = 0,3704 Kalori
Dengan cara yang sama maka didapatkan tabel 4.5
Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Percobaan I
Temperatur ( C)
Tegangan
(V)
Waktu (s)
H
(Joule)
Q
(Kalori)
Harga 1 Joule
(Kalori)
13 12,5
14 12,5 70,76 442,25 163,8 0,3703
15 12,5 64,91 405,688 163,8 0,4037
16 12,5 78,76 492,25 163,8 0,3327
17 12,5 83,45 521,563 163,8 0,3140
18 12,5 80,31 501,938 163,8 0,3263
19 12,5 68,21 426,313 163,8 0,3842
20 12,5 103,4 646,25 163,8 0,2534
21 12,5 86,9 543,125 163,8 0,3015
18

22 12,5 92,89 580,563 163,8 0,2821
23 12,5 116,21 726,313 163,8 0,2255
24 12,5 96,88 605,5 163,8 0,2705
25 12,5 98,68 616,75 163,8 0,2655
26 12,5 103,96 649,75 163,8 0,2520
27 12,5
99,65 622,813 163,8 0,2630
28 12,5 112,59 703,688 163,8 0,2327
29 12,5 118,64 741,5 163,8 0,2209
30 12,5 75,88 474,25 163,8 0,3453
31 12,5 125,4 783,75 163,8 0,2089
32 12,5
116,81 730,063 163,8 0,2243
33 12,5 104,66 654,125 163,8 0,2504

Percobaan II
Diketahui data 1 rangkaian menggunakan :
V : 12,5 Volt , I : 0,5 A , WAir : 150 g , t : 76,11 detik , T = 1 ºC
Sehingga, H = V.i.t Q1 = Wair . (T)
H = 12,5.0,5.76,11 Q1 = 150 Kalori
H = 475,69 Joule Q2 = 0,26.Wk.T
Q2 = 39 Kalori


Sehingga dengan menggunakan Asas Black
H = Q1+Q2
475,69 Joule = 189 Kalori
1 Joule = 0,3973 Kalori


19

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Percobaan II
Temperatur ( C)
Tegangan
(V)
Waktu
(s)
H
(Joule)
Q
(Kalori)
Harga 1 Joule
(Kalori)
8
12,5

9
12,5
76,11 475,688 189 0,3973
10
12,5
72 450 189 0,4200
11
12,5
86,43 540,188 189 0,3498
12
12,5
103,51 646,938 189 0,2921
13
12,5
82,73 517,063 189 0,3655
14
12,5
96,78 604,875 189 0,3124
15
12,5
96,9 605,625 189 0,3120
16
12,5
112,84 705,25 189 0,2679
17
12
88,28 529,68 189 0,3568
18
12
102,94 617,64 189 0,3060
19
12
115,06 690,36 189 0,2737
20
12
97,83 586,98 189 0,3219
21
12
99,38 596,28 189 0,3169
22
12
115,36 692,16 189 0,2730
23
12
108,68 652,08 189 0,2898
24
12
122,24 733,44 189 0,2576
25
12
71,38 428,28 189 0,4413
26
12
136,85 821,1 189 0,2301
27
12
115 690 189 0,2739
28
12
127,91 767,46 189 0,2462

Percobaan III
Diketahui data 1 rangkaian menggunakan :
V : 12 Volt , I : 0,5 A , WAir : 130 g , t : 69,23 detik , T = 1 ºC
Sehingga, H = V.i.t Q1 = Wair . (T)
H = 12.0,5.69,23 Q1 = 130 Kalori
H = 415,38 Joule Q2 = 0,26.Wk.T
Q2 = 33,8 Kalori
20



Sehingga dengan menggunakan Asas Black
H = Q1+Q2
415,38 Joule = 163,8 Kalori
1 Joule = 0,3943 Kalori
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Percobaan III
Temperatur ( C) Tegangan (V)
Waktu
(s)
H
(Joule)
Q
(Kalori)
Harga 1 Joule
(Kalori)
10 12
11 12 69,23 415,38 163,8 0,3943
12 12 73,37 440,22 163,8 0,3720
13 12 65,9 395,4 163,8 0,4142
14 12 71,24 427,44 163,8 0,3832
15 12 76,44 458,64 163,8 0,3571
16 12 85,1 510,6 163,8 0,3207
17 12 68,52 411,12 163,8 0,3984
18 12 81,77 490,62 163,8 0,3338
19 12 88,14 528,84 163,8 0,3097
20 12 80,59 483,54 163,8 0,3387
21 12 85,95 515,7 163,8 0,3176
22 12 88,31 529,86 163,8 0,3091
23 12 87,98 527,88 163,8 0,3102
24 12 101,58 609,48 163,8 0,2687
25 12 90,28 541,68 163,8 0,3023

Percobaan IV
Diketahui data 1 rangkaian menggunakan :
V : 12 Volt , I : 0,5 A , WAir : 150 g , t : 60 detik , T = 1 ºC
Sehingga, H = V.i.t Q1 = Wair . (T)
H = 12.0,5.60 Q1 = 150 Kalori
21

H = 360 Joule Q2 = 0,26.Wk.T
Q2 = 39 Kalori


Sehingga dengan menggunakan Asas Black
H = Q1+Q2
360 Joule = 189 Kalori
1 Joule = 0,5250 Kalori
Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Percobaan IV
Temperatur ( C)
Tegangan
(V)
Waktu (s)
H
(Joule)
Q
(Kalori)
Harga 1 Joule
(Kalori)
6 12
7 12 60 360 189 0,525
8 12 58,05 348,3 189 0,542635659
9 12 63,57 381,42 189 0,495516753
10 12 77,96 467,76 189 0,404053361
11 12 96,51 579,06 189 0,326391048
12 12 84,55 507,3 189 0,372560615
13 12 97,33 583,98 189 0,323641221
14 12 91,11 546,66 189 0,345735924
15 12 95,71 574,26 189 0,329119214
16 12 95,39 572,34 189 0,330223294
17 12 106,42 638,52 189 0,295996993
18 12 83,4 500,4 189 0,377697842
19 12 90,1 540,6 189 0,349611543
20 12 105,19 631,14 189 0,299458123
21 12 91,02 546,12 189 0,346077785

Dari data yang telah diperoleh maka didapatkan rata-rata harga 1 Joule yaitu 0,33
Kalori, maka nilai error dapat dihitung yaitu

22

Error = (rata-rata perhitungan-harga teori).100% /harga teori
= (0,33-0,24).100%/0,24 = 37,64%
4.3 Grafik
Dari data yang telah didapatkan dari percobaan, dapat dibuat grafik T
(Temperatur) sebagai fungsi t (waktu)
Grafik 4.1 Grafik Percobaan I dengan Rangkaian I

Grafik 4.2 Grafik Percobaan II dengan Rangkaian I

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
0
5
10
15
20
25
30
35
S
U
H
U

(

0
C
)
WAKTU (S)
PERCOBAAN I
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
0
5
10
15
20
25
30
7
6
,
1
1
1
4
8
,
1
1
2
3
4
,
5
4
3
3
8
,
0
5
4
2
0
,
7
8
5
1
7
,
5
6
6
1
4
,
4
6
7
2
7
,
3
8
1
5
,
5
8
9
1
8
,
5
2
1
0
3
3
,
5
8
1
1
3
1
,
4
1
1
2
3
0
,
7
9
1
3
4
6
,
1
5
1
4
5
4
,
8
3
1
5
7
7
,
0
7
1
6
4
8
,
4
5
1
7
8
5
,
3
1
9
0
0
,
3
2
0
2
8
,
2
1
S
u
h
u

(

0
C

)
Waktu (s)
Percobaan II
23

Grafik 4.3 Grafik Percobaan III dengan Rangkaian II


Grafik 4.4 Grafik Percobaan IV dengan Rangkaian II


11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
0
5
10
15
20
25
30
S
u
h
u

(
0
C

)
Waktu (s)
Percobaan III
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
0
5
10
15
20
25
S
u
h
u

(
0
C
)
Waktu (s)
Percobaan IV
24

4.4 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan 2 rangkaian, rangkaian pertama
adalah rangkaian dengan resistor atau hambatan di belakang atau setelah
kalorimeter, sedangkan rangkaian kedua adalah rangkaian yang menggunakan
resistor atau hambatan sebelum kalorimeter.
Kalorimeter adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengubah energi listrik
menjadi kalor karena adanya elektron-elektron yang saling bertabrakan secara acak
sehingga timbul panas. Kalorimeter ini menggunakan spiral yang terbuat dari logam
yang berfungsi sebagai penghantar panas yang mengalir ke air es. Karena energi
yang dihasilkan oleh elektron tidak mungkin hilang atau sesuai dengan hukum
kekekalan energi, sehingga di kalorimeter ini terjadi dua proses perpindahan panas.
Perpindahan yang pertama adalah konduksi yang terjadi pada kawat spiral, yang
mana kawat spiral sebagai penghantar panas tidak mengalami perpindahan zat dan
sedangkan yang kedua adalah konveksi yang terjadi pada air es yang mana
perpindahan panas disini disertai dengan perpindahan zat penghantarnya juga.
Resistor disini fungsinya adalah untuk menghambat arus yang ada sehingga
praktikan dapat mengatur berapa arus yang harus digunakan untuk dapat dibuat
konstan. Dari hasil perhitungan pada percobaan I yang menggunakan rangkaian I
didapatkan harga 1 Joule adalah 0,2864 Kalori, sedangkan pada percobaan II yang
menggunakan rangkaian I didapatkan harga 1 Joule adalah 0,3152. Sedangkan pada
percobaan III yang menggunakan rangkaian II didapatkan harga 1 Joule adalah
0,3420 kalori sedangkan pada percobaan IV yang menggunakan rangkaian II
didapatkan harga 1 Joule adalah 0,3776 Kalori. Padahal apabila kita bandingkan
nilai-nilai diatas masih jauh dengan harga 1 joule yang benar yaitu 0,24 kalori.
Terlihat pula dari sini apabila kita bandingkan hasil perhitungan antara
rangkaian I dan rangkaian II, dapat kita ambil kesimpulan bahwa rangkaian I
memiliki nilai error yang lebih sedikit daripada rangkaian II. Sehingga rangkaian I
lebih menguntungkan apabila kita gunakan dalam percobaan daripada rangkaian II,
hal ini disebabkan karena letak resistor yang berbeda terhadap kalorimeter.
25

Rangkaian I menggunakannya di depan sehingga apabila kita beri hambatan di
depan maka arus yang melewati kalorimeter adalah yang sudah kita atur, akan tetapi
apabila kita mengatur hambatan setelah kalorimeter maka hal tersebut hampir sia-
sia karena dengan begitu yang kita atur arusnya adalah rangkaian setelah resistornya
bukan sebelum resistornya.
Hasil yang diperoleh dari rata-rata perhitungan adalah 0,33 Kalori tiap Joule,
sedangkan harga 1 Joule menurut teori adalah 0,24 Kalori. Dengan demikian dapat
diketahui bahwa percobaan kali ini memiliki kesalahan/ error sebesar 37,64%. Hal
ini dapat terjadi karena beberapa hal seperti pada kalori meter yang tidak tetutup
sempurna sehingga reaksi yang terjadi bukanlah reaksi tertutup. Sehingga suhu
yang ada dapat terpengaruh oleh udara luar.
Kesalahan lain yang memungkinkan error ini dapat terjadi adalah kesalahan
praktikan dalam mengambil data, karena pada saat membaca data pada
thermometer seharusnya dilihat skala dari ketinggian yang sama sehingga ketika air
raksa dalam thermometer pas pada garis dapat dibuat tepat waktu menekan
stopwatch. Akan tetapi pada percobaan ini, pengambilan data tidak seperti itu,
melainkan praktikan melihat tidak sejajar dengan garis sehingga terjadi sudut yang
menyebabkan waktu bisa saja bertambah lama apabila melihat dari pandangan lebih
atas.
Dari grafik yang dapat dibuat dari hasil perhitungan, maka dapat kita lihat
bahwa grafik yang terjadi antara kenaikan suhu dengan waktu adalah menyerupai
grafik regresi linier. Meskipun waktu yang didapatkan tidak sama tiap interval, akan
tetapi perbedaannya tidak terlalu terlihat apabila kita melihat secara keseluruhan.


26

BAB V
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
 Harga 1 joule berdasarkan percobaan adalah 0,33 Kalori

27

Daftar Pustaka

Giancoli C, Douglas. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Halliday David, Robert Resnick, and Jearl Walker.2011. Fundamental of Physics.
USA : John Willey and sons Inc.
Halliday David, Robert Resnick, and Jearl Walker. 2010. Fisika Dasar Edisi 7
Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Sears and Zemansky. 2002. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga


28

LAMPIRAN

Ralat Percobaan


Ralat data percobaan I dengan rangkaian I dengan Arus 0,5 A dan Massa Air 130
gram
t t-tr ( −)
2

66 -8 64
62,4 -15,6 243,36
70,8 -7,2 51,84
73,8 -4,2 17,64
72 -6 36
64,8 -13,2 174,24
85,8 7,8 60,84
75,6 -2,4 5,76
79,2 1,2 1,44
93,6 15,6 243,36
81,6 3,6 12,96
82,8 4,8 23,04
85,8 7,8 60,84
83,4 5,4 29,16
91,2 13,2 174,24
94,8 16,8 282,24
69 -9 81
123 45 2025
93,6 15,6 243,36
86,4 8,4 70,56
tr=78 ∑( −)
2
= 3842,88

Ralat Mutlak:
∆= [
∑( −)

( −)
]



= [
,

]


= ,
Ralat Nisbi:
I = / tr x 100%
= 3,18/ 78 x 100% = 4,07 %
29

Keseksamaan :
K = 100 % - I
= 100 % - 4,07 % = 95,93 %
Ralat data percobaan II rangkaian I dengan Arus 0,5 A dan Massa Air 150 gram
t t-tr ( −)
2

69,6
-18,4 338,56
67,2 -20,8 432,64
75,6 -12,4 153,76
85,8 -2,2 4,84
73,2 -14,8 219,04
81,6 -6,4 40,96
81,6 -6,4 40,96
91,2 3,2 10,24
76,8 -11,2 125,44
85,2 -2,8 7,84
93 5 25
80,4 -7,6 57,76
83,4 -4,6 21,16
93 5 25
88,8 0,8 0,64
121,2 33,2 1102,24
66,6 -21,4 457,96
129,6 41,6 1730,56
93 5 25
124,2 36,2 1310,44
tr=88 ∑( −)
2
=6130,04

Ralat Mutlak:
∆= [
∑( −)

( −)
]



= [
,

]


= ,
Ralat Nisbi:
I = / tr x 100%
= 4,02/ 88 x 100%
= 4,7 %


30

Keseksamaan :
K = 100 % - I
= 100 % - 4,7 % = 95,3 %

Ralat data percobaan III dengan rangkaian II dengan Arus 0,5 A dan Massa Air 130
gram
t t-tr ( −)
2

65,4
-6,9 47,61
67,8 -4,5 20,25
63 -9,3 86,49
66,6 -5,7 32,49
69,6 -2,7 7,29
75 2,7 7,29
64,8 -7,5 56,25
72,6 0,3 0,09
76,8 4,5 20,25
72 -0,3 009
75 2,7 7,29
76,8 4,5 20,25
76,2 3,9 15,21
84,6 12,3 151,29
78 5,7 32,49
tr=72,3 ∑( −)
2
= 504,63

Ralat Mutlak:
∆= [
∑( −)

( −)
]



= [
,

]


= ,
Ralat Nisbi:
I = / tr x 100%
= 1,56/ 72,3 x 100%
= 2,2 %



31

Keseksamaan :
K = 100 % - I
= 100 % - 2,2% = 97,8 %


Ralat data percobaan IV dengan rangkaian II dengan Arus 0,5 A dan Massa Air 150
gram
t t-tr ( −)
2

60 -14 196
34,8 -39,2 1536,64
61,8 -12,2 148,84
70,2 -3,8 14,44
81,6 7,6 57,76
74,4 0,4 0,16
82,2 8,2 67,24
78,6 4,6 21,16
81 7 49
81 7 49
87,6 13,6 184,96
73,8 -0,2 0,04
78 4 16
87 13 169
78,6 4,6 21,16
tr=74 ∑( −)
2
= 2531,46

Ralat Mutlak:
∆= [
∑( −)

( −)
]



= [
,

]


= ,
32

Ralat Nisbi:
I = / tr x 100%
= 3,5/ 74 x 100%
= 4,7 %
Keseksamaan :
K = 100 % - I
= 100 % - 4,7% = 95,3 %

33






1. Rangkaian mana yang lebih menguntungkan? Jelaskan!
2. Apa definisi resistor standar
3. Apa itu hukum joule? Pengertian apa yang diperoleh dari hukum tersebut?
4. Benarkah tahanan kawat bergantung temperatur? Jelaskan!

1. Yang lebih menguntungkan adalah rangkaian I, karena pada rangaian I
hambatan atau resistor diletakkan di akhir rangkaian yang menyebabkan
arus lebih efektif hingga mengenai hambatan. Apabila pada rangkaian II,
hambatan diletakkan diawal yang menyebabkan arus yang mengalir
dihambat dahulu oleh resistor.
2. Standar resistor adalah resistor yang memiliki nilai hambatan yang dapat
diubah –ubah sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan nilai arus yang
konstan
3. Beda potensial adalah suatu kerja yang dibutuhkan untuk memindahkan satu
satuan muatan dalam medan listrik. Sehingga apabila pada suatu rangkaian
terdapat beda potensial v maka akan timbul arus I dan setiap satuan waktu
terdapat I coloumb yang dipindahkan. Kerja/daya yang dibutuhkan untuk
memindahkan muatan tersebut adalah P=V.I
Daya yang dihasilkan ini akan terkonservasi menjadi panas yang terjadi
karena perpindahan elektron karena E, sehingga elektron saling bertabrakan
dan menghasilkan temperatur pada penghantar menjadi naik. Sehingga
energi yang hilang/ berubah menjadi panas dapat didefinisikan sebagai
W=V.I.t
4. Iya, karena sesuai dengan subbab 2.5 yang menerangkan bahwa temperatur
mempengaruhi resistivitas dari suatu logam. Sehingga apabila resistivtas
logam tersebut berubah maka resistansinya juga akan berubah.
TUGAS
PENDAHULUAN

Kode Percobaan : L1
Nama : Rizal Taufiqurrohman
N R P : 3713100010
Tgl. Praktikum : 17 Maret 2014
Nama Asisten : Nasrullah
34

Sesuai persamaan R= ρ

dan −
0
=
0
∝ ( −
0
)
Dari persamaan terlihat adanya ∝ yang merupakan suatu koeffisien
temperatur pada resistivitas suatu logam tertentu. Dan apabila T naik maka
menyebabkan R naik juga.

35




1. Data Pengamatan Rangkaian Pertama dengan Arus 0,5 A dan Massa
Air 130 gram
No Massa
(g)
Beda
Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 130 12,5 13 0
2. 130 12,5 14 1.10,76
3. 130 12,5 15 1.04,91
4. 130 12,5 16 1.18,76
5. 130 12,5 17 1.23,45
6. 130 12,5 18 1.20,31
7. 130 12,5 19 1.08,21
8. 130 12,5 20 1.43,40
9. 130 12,5 21 1.26,90
10. 130 12,5 22 1.32,89
11. 130 12,5 23 1.56,21
12. 130 12,5 24 1.36,88
13. 130 12,5 25 1.38,68
14. 130 12,5 26 1.43,96
15. 130 12,5 27 1.39,65
16. 130 12,5 28 1.52,59
LAPORAN
SEMENTARA
Kode Percobaan : L1
Nama : Rizal Taufiqurrohman
N R P : 3713100010
Tgl. Prak. : 17 Maret 2014
Nama Asst. : Nasrulloh
36

17. 130 12,5 29 1.58,64
18. 130 12,5 30 1.15,88
19. 130 12,5 31 2.05,40
20. 130 12,5 32 1.56,81
21. 130 12,5 33 1.44,66

2. Data Pengamatan Rangkaian Pertama dengan Arus 0,5 A dan Massa
Air 150 gram
No. Massa
(g)
Beda
Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 150 12,5 8 0
2. 150 12,5 9 1.16,11
3. 150 12,5 10 1.12,00
4. 150 12,5 11 1.26,43
5. 150 12,5 12 1.43,51
6. 150 12,5 13 1.22,73
7. 150 12,5 14 1.36,78
8. 150 12,5 15 1.36,90
9. 150 12,5 16 1.52,84
10. 150 12,0 17 1.28,28
11. 150 12,0 18 1.42,94
12. 150 12,0 19 1.55,06
13. 150 12,0 20 1.37,83
37

14. 150 12,0 21 1.39,38
15. 150 12,0 22 1.55,36
16. 150 12,0 23 1.48,68
17. 150 12,0 24 2.02,24
18. 150 12,0 25 1.11,38
19. 150 12,0 26 2.16,85
20. 150 12,0 27 1.55,00
21. 150 12,0 28 2.07,91

3. Data Pengamatan Rangkaian Kedua dengan Arus 0,5 A dan Massa
Air 130 gram
No. Massa
(g)
Beda
Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 130 12,0 10 0
2. 130 12,0 11 1.09,23
3. 130 12,0 12 1.13,37
4. 130 12,0 13 1.05,90
5. 130 12,0 14 1.11,24
6. 130 12,0 15 1.16,44
7. 130 12,0 16 1.25,10
8. 130 12,0 17 1.08,52
9. 130 12,0 18 1.21,77
38

10. 130 12,0 19 1.28,14
11. 130 12,0 20 1.20,59
12. 130 12,0 21 1.25,95
13. 130 12,0 22 1.28,31
14. 130 12,0 23 1.27,98
15. 130 12,0 24 1.41,58
16. 130 12,0 25 1.30,28

4. Data Pengamatan Rangkaian Kedua dengan Arus 0,5 A dan Massa
Air 150 gram
No. Massa
(g)
Beda
Potensial
(V)
Temperatur
(°C)
Waktu
(menit)
1. 150 12,0 6 0
2. 150 12,0 7 1.00,00
3. 150 12,0 8 0.58,05
4. 150 12,0 9 1.03,57
5. 150 12,0 10 1.17,96
6. 150 12,0 11 1.36,51
7. 150 12,0 12 1.24,55
8. 150 12,0 13 1.37,33
9. 150 12,0 14 1.31,11
10. 150 12,0 15 1.35,71
11. 150 12,0 16 1.35,39
39

12. 150 12,0 17 1.46,42
13. 150 12,0 18 1.23,40
14. 150 12,0 19 1.30,10
15. 150 12,0 20 1.45,19
16. 150 12,0 21 1.31,02