You are on page 1of 20

REFERAT

AMBLYOPIA
Oleh
Gressi Dwitasari
Pembimbing :
Dr. Diantinia S.M
SMF MATA RS!D SOREA"G
FA#!LTAS #EDO#TERA" !"I$ERSITAS YARSI
%&'(
ANATOMI
1.1. Kelopak mata
Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan
sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra merupakan alat
menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan
pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang
di bagian belakang ditutupi selaput lender tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.
Gangguan penutupan kelopak akan mengakibatkan keringnya permukaan mata sehingga
terjadi keratitis et lagoftalmos. Pada kelopak terdapat bagian-bagian:
 Kelenjar seperti: kelenjar sebasea, kelenjar moll, atau kelenjar keringat, kelenjar zeis pada
pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus.
 tot seperti: !. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan
ba"ah, dan terletak di ba"ah kulit kelopak. !. orbikularis berfungsi menutup bola mata yang
dipersarafi #. fasial. !. levator palpebra, yang berorigo pada annulus foramen orbita dan
berinsersi pada tarsus atas dengan sebagian menembus !. orbikularis okuli menuju kulit
kelopak bagian tengah. tot ini di persarafi oleh n $$$, yang berfungsi untuk mengangkat
kelopak mata atau membuka mata.
• %i dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di
dalamnya atau kelenjar meibom yang bermuara pada margo palpebra.
• &eptum orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita merupakan
pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
• 'arsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh
lingkaran pembukaan rongga orbita. 'arsus (terdiri atas jaringan ikat yang merupakan
jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar meibom ()* buah di kelopak atas dan +*
pada kelopak ba"ah,.
• Pembuluh darah yang memperdarahi adalah a. palpebra
• Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari rumus frontal n.-, sedang
kelopak ba"ah oleh .abang ke $$ saraf ke -.
Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat dilihat dengan m"elakukan
eversi kelopak. Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang mempunyai sel goblet yang
menghasilkan musin.
1.2. Sistem lakrimal
&ystem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. &ystem
ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus
nasolakrimal, meatus inferior. &ystem lakrimal terdiri atas + bagian, yaitu:
/. &istem produksi atau glandula lakrimal. Glandula lakrimal terletak di temporo antero
superior rongga orbita.
+. &istem ekskresi, yang terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus
lakrimal dan duktus nasolakrimal. &akus lakrimal terletak di bagian depan rongga
orbita. 0ir mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di dalam
meatus inferior.
1.3. Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membrane yang menutup s.lera dan kelopak bagian
belakang. 1erma.am-ma.am obat mata daoat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva
mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. !usin bersifat membasahi bola
mata terutama kornea.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu:
• Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari
tarsus.
• Konjungtiva bulbi menutupi s.lera dan mudah digerakkan dari s.lera di ba"ahnya.
• Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva tarsal yang merupakan tempat
peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
1.4. Bola mata
1ola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal +) mm. bola mata di bagian
depan (kornea, mempunyai kelengkungan yang lebih tajan sehingga terdapat bentuk dengan
+ kelengkungan yang berbeda. 1ola mata dibungkus oleh 2 lapis jaringan, yaitu:
/. &.lera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata,
merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. 1agian terdepan s.lera disebut kornea
yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan
kornea lebih besar disbanding s.lera.
+. 3aringan uvea merupakan jaringan vas.ular. 3aringan s.lera dan uvea dibatasi oleh ruang
yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut
perdarahan suprakoroid. 3aringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris
didapatkan pupil yang oleh 2 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola
mata. tot dilatator dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar di
persarafi oleh saraf parasimpatis. tot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk
lensa untuk kebutuhan akomodasi. 1adan siliar yang terletak dibelakang iris menghasilkan
.airan bilik mata (a4uos humor,, yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada
pangkal iris di batas konea dan s.lera.
2. 5apis ketiga bola mata adalah rretina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan
lapis sebanyak /* lapis yang merupakan lapis membrane neurosensoris yang akan merubah
sinar menjadi rangsangan pada saraf opti. dan diteruskan ke otak. 'erdapat rongga yang
potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut
ablasi retina.
Gbr 1. Anatomi Mata
1.. Kornea
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus .ahaya,
merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis:
/. 6pitel
+. !embrane bo"man
2. &troma, terdapat keratosit yang merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast
terletak di antara serat kolagen stroma. %iduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat
kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
). !embrane des.ement
7. 6ndotel.
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke - saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma
kornea, menembus membrane bo"man melepaskan selubung s.h"annya. &eluruh lapis epitel
dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf.
1.!. "vea
5apis vas.ular did lam bola mata yang terdiri atas iris, badan siliar dan koroid.
%iperdarahi oleh + buah arteri siliar posterior longus dan 8 buah arteri siliar anterio. 0rteri
siliar anterior dan posterior ini bergabung menjadi satu membentuk arteri sirkularis mayor
pada badan siliar. 9vea posterior mendapat perdarahan dari /7-+* buah arteri siliar posterior
brevis yang menmbus s.lera. Persarafan uvea didapatkan dari ganglion siliar yang terletak
antara bola mata dengan otot rektus lateral, yang menerima 2 akar saraf di bagian posterior
yaitu:
/. &araf sensoris, yang berasal dari saraf nasosiliar yang mengandung serabut sensoris untuk
kornea, iris, dan badan siliar.
+. &araf simpatis yang membuat pupil berdilatasi, yang berasal dari saraf simpatis yang
melingkari arteri karotis: mempersarafi pembuluh darah uvea dan untuk dilatasi pupil.
2. 0kar saraf motor yang akan memberikan saraf parasimpatis untuk menge.ilakan pupil
1.#. $upil
Pupil anak-anak berukuran ke.il akibat belum berkembangnya saraf simpatis. rang
de"asa ukuran pupil adalah sedang, dan orang tua pupil menge.il akibat rasa silau yang
dibangkitkan oleh lensa yang sklerosis.
Pupil "aktu tidur ke.il, hal ini dipakai sebagai ukuran tidur, simulasi, koma, dan tidur
sesungguhnya. Pupil ke.il "aktu tidur akibat dari:
/. 1erkurangnya rangsangan simpatis
+. Kurang rangsangan hambatan miosis
;ungsi menge.ilnya pupil untuk men.egah aberasi kromatis pada akomodasi dan
memperdalam fo.us seperti pada kamera foto yang difragmanya dike.ilkan.
1.%. Su&ut 'ilik mata &epan
&udut bilik mata yang dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada
bagian ini terjadi pengaliran keluar .airan bilik mata. 1ila terdapat hambatan pengaliran
keluar .airan mata akan terjadi penimbunan .airan bilik mata di dalam bola mata sehingga
tekanan bola mata meninggi atau glau.oma. 1erdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan
trabekulum, kanal s.helmm, baji s.lera, garis s.h"albe dan jonjot iris.
1.(. )ensa mata
3aringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam bola
mata dan bersifat bening. 5ensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan terdiri dari
zat tembus .ahaya (transparan, berbentuk seperti .akram yang dapat menebal dan menipis
pada saat terjadinya akomodasi.
&e.ara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:
- Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk
menjadi .embung
- 3ernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan,
- 'erletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior .hamber dan vitreous body dan
berada di sumbu mata.
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa:
 'idak kenyal pada orang de"asa yang mengakibatkan presbiopia,
 Keruh atau apa yang disebut katarak,
 'idak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi
1.1*. Ba&an ka+a
1adan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. &truktur ini merupakan gel
transparan yang terdiri atas air (lebih kurang <<=,, sedikit kolagen, dan molekul asam
hialuronat yang sangat terhidrasi. 1adan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang
menyintesis kolagen dan asam hialuronat. Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar
dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh
darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan
memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskop. -itreous humor penting
untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis.
1.11. ,etina
>etina atau selaput jala, merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang
menerima rangsangan .ahaya. >etina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina,
dan terdiri atas lapisan:
/. 5apis fotoreseptor, terdiri atas sel batang dan sel keru.ut.
+. !embrane limitan eksterna
2. 5apis nu.leus luar
). 5apis pleksiform luar
7. 5apis nu.leus dalam
?. 5apis pleksiform dalam
8. 5apis sel ganglion
@. 5apis serabut saraf
<. !embrane limitan interna
Aarna retina biasanya jingga dan kadang-kadang pu.at pada anemia dan iskemia dan merah
pada hyperemia.
1.12. Sara- optik
&araf opti. yang keluar dari polus posterior bola mata memba"a + jenis serabut saraf,
yaitu: saraf penglihat dan serabut pupilomotor. Kelainan saraf opti. menggambarkan
gangguan yang diakibatkan tekanan langsung atau tidak langsung terhadap saraf opti.
ataupun perubahan toksik dan anoksik yang mempengaruhi penyaluran aliran listrik.
1.13. S+lera
1agian putih bola mata bersama-sama dengan kornea merupakan ppembungkus dan
pelindung isi bola mata. &.lera berjalan dari papil saraf opti. sampai kornea.
1.14. ,ongga or'ita
>ongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 8 tulang yang
membentuk dinding orbita yaitu: lakrimal, etmoid, sphenoid, frontal, dan dasar yang terutama
terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan zigomatikus.
%inding orbita terdiri atas tulang:
/. 0tap atau superior: os frontal
+. 5ateral: os frontal, os zigomatikus, ala magna os sphenoid
2. $nferior: os zigomatikus, os maksila, os palatine
). #asal: os maksila, os lakrimal, os etmoid
1.1. $erkem'angan visus
Perkembangan visus menurut milestones
0ge -isual
*-+ months
 Pupilary respone
 &poradi. fiB and follo"
 3erk sa..adi. eye movement
 0lignment: eBodeviations .ommons, but
esodeviations rare
+-? months
 Central fiB and follo" (mother fa.e,
 0..urate bino.ular smooth persuit
 0lignment: orthotropia "ith fe"
eBodeviations and no esodeviations
?months-+ years
 Central fiBations, rea.hes for toys and
food
 0..urate and smooth persuit eye
movement
 0lignment: orthotropia
2-7years
 +*D)* and not more than + snellen line
differen.e
E7 years
 +*D2* and not more than + snellen line
differen.e
Pada ambliopia terjadi kerusakan penglihatan sentral, sedangkan daerah penglihatan
perifer tetap normal. &tudi eksperimental pada he"an serta studi klinis pada bayi dan balita,
mendukung konsep adanya suatu periode kritis yang peka dalam berkembangnya keadaan
ambliopia. Periode kritis ini sesuai dengan perkembangan system penglihatan anak yang
peka. &e.ara umum periode kritis untuk ambliopia terjadi lebih .epat dibandingkan
strabismus maupun anisometropia.
Aaktu yang dibutuhkan untuk terjadinya ambliopia saat periode kritis lebih singkat
pada rangsang deprivasi dibandingkan strabismus ataupun anisometropia.
Periode keadaan kritis tersebut adalah:
/. Perkembanga tajam penglihatan dari +*D+** (?D?*, hingga +*D+* (?D?, yaitu pada saat lahir
sampai usia 2 sampai 7 tahun.
+. Periode yang beresiko sangat tinggi untuk terjadinya ambliopia deprivasi, yaittu diusia
beberapa bulan hingga usia 8 sampai @ tahun.
2. Periode dimana kesembuhan ambliopia masih dapat di.apai, yaitu sejak terjadinya
deprivasi sampai usia remaja atau bahkan terkadang usia de"asa.
Pemeriksaan visus pada bayi
- 9sia ? bulan
Periksa fiksasi mata dan gerakan mata. Cari adanya strabismus.
- 9sia ) tahun
Periksa ketajaman penglihatan dengan grafik F6G buta huruf atau optotipe pen.o.okan
H'-,dan stereopsis dengan uji F6G titik a.ak atau uji stereotitmus. Ketajaman harus
normal +*D2*-+*D2*
- 9sia 7-/? tahun
Periksa ketajaman penglihatan pada usia 7 tahun. 0pabila normal, periksa ketajaman
penglihatan dengan grafik snellen setiap + tahun sampai usia /? tahun. Penglihatan "arna
harus diperiksa pada usia @-/+ tahun. 'idak diperlukan pemeriksaan mata rutin lainnya
(misalnya ofthalmoskop, apabila ketajaman penglihatan normal dan mata tampak normal
pada inspeksi.
AMB)IO$IA
./0INISI
0mbliopia adalah berkurangnya tajam penglihatan yang terjadi karena tidak
normalnya perkembangan visus yang dialami sejak usia dini, yaitu sejak lahir hingga usia /*
tahun. Kepekaan perkembangan yang abnormal dari visus terutama terjadi pada usia beberapa
bulan dan menurun sesudahnya, dapat mengenai / ata + mata, pada umumnya disebabkan
oleh pengenalan kurang terhadap bayangan-bayangan detail terfokus.
2.1. /$I./MIO)O1I .AN /TIO)O1I
Prevalensi ambliopia di 0merika &erikat sulit untuk ditaksir dan berbeda pada tiap
literatur, berkisar antara / I 2,7 = pada anak yang sehat sampai ) I 7,2 = pada anak dengan
problema mata. Hampir seluruh data mengatakan sekitar + = dari keseluruhan populasi
menderita ambliopia. %i Cina, menurut data bulan %esember tahun +**7 yang lalu, sekitar 2
I 7 = atau < hingga 7 juta anak menderita ambliopia. 3enis kelamin dan ras tampaknya tidak
ada perbedaan. 9sia terjadinya ambliopia yaitu pada periode kritis dari perkembangan mata.
>esiko meningkat pada anak yang perkembangannya terlambat, prematur dan atau dijumpai
adanya ri"ayat keluarga ambliopia.
Penyebab ambliopia adalah
/. &trabismus adalah penyebab tersering ambliopia dimana satu mata digunakan terus
menerus untuk fiksasi, sedangakan mata yang lain tidak digunakan. Pada strabismus yang
alternating, biasanya tidak ditemukan ambliopia.
+. Gangguan refraksi (anisometropia, tinggi, adalah penyebab tersering kedua, apabila
gangguan refraksi ini tidak dikoreksi dengan lensa ka.a mata.
2. Kelainan fiksasi juga menjadi penyebab ambliopia misalnya nistagmus pada usia dini.
Ketiga kelompok tersebut diatas disebut ambliopia fungsional yaitu se.ara anatomis tidak
terlihat kelainan pada msing-masing mata tetapi didapati gangguan fungsi penglihatan
bino.ular.
). Kekeruahan pada media lintasan visual, misalnya kataka pada bayi adalah penyebab
ambliopia yang sering tidak terlihat sampai timbulnya strabismus.
Hal yang sama dapat terjadi bila kita melakukan oklusi total pada slah satu mata
misalnya karena adda ulkus kornea pada anak usia diba"ah ? tahun. Kelompok ini
digolongklan pada ambliopia eB-anopsia yaitu adanya gangguan penusuran sinar pada media
lintasan visual, baik gangguan organi. maupun gangguan karena penutupan total terlalu lam
pada anak usia dini.
Pada kelompok ambliopia fungsional dan eB-anopsia keduanya dapat di.egah dan atau
diobati, misalnya dilakukan koreksi strabismus pada usia dini, koreksi ka.amata pada anak
usia diba"ah ? tahun, operasi katarak pada usia sedini mungkin, serta tidak melakukan oklusi
total mata pada anak usia kurang dari ? tahun.
7. Kelompok lain ambliopia adalah ambliopia toksik, oleh Karena obat-obatan atau meminum
minuman keras yang mengandung metal al.ohol. 0mbliopia pada keadaan ini adalah
permanent hingga timbul kebutaan
2.2. 1/2A)A K)INIK
0nak-anak dengan ambliopia jarang sekali dapat menjelaskan gejala dan bahkan terlihat
sehat. 0nak-anak ini mungkin mengedipkan mata, menutup satu mata dengan tangan, atau
mempunyai satu mata yang tidak melihat arah yang sama dengan mata yang lainnya,
semuanya dapat menunjukkan masalah bah"a memerlukan pemeriksaan. 3ika salah satu mata
melihat baik dan yang lain tidak maka anak mengimbangi penglihatannya dengan baik.
2.3..IA1NOSIS
Anamnesis
1ila menemui pasien amblyopia, ada ) pertanyaan penting yang harus kita tanyakan dan
harus dija"ab dengan lengkap, yaitu :
/. Kapan pertama kali dijumpai kelainan amblyogenik J (seperti strabismus, anisometropia,
dll,
+. Kapan penatalaksanaan pertama kali dilakukan J
2. 'erdiri dari apa saja penatalaksanaan itu J
). 1agaimana kedisiplinan pasien terhadap penatalaksanaan ituJ
3a"aban dari keempat pertanyaan tersebut akan membantu kita dalam membuat
prognosisnya.
'abel. +. ;a.tor primer yang berhubungan dengan prognosis ambliopia
3elek sDd sedang &edang sDd baik 1aik sDd sempurna
nset anomaly
amblyiogenik
5ahir sDd usia + tahun + sDd ) tahun ) sDd 8 tahun
nset terapi minus
onset anomaly
E2 tahun / sDd 2 tahun K/ tahun
1entuk dan
keberhasilan dari
terapi a"al
Koreksi optikal
kemajuan -0 (visus
a.uty, minimal
Koreksi optikal dan
pat.hing kemajuan
-0 (visus a.uty,
sedang (moderat,
Koreksi optikal
penuh pat.hing
kemajuan -0
signifikan.
5atihan akomodasi,
koordinasi mata-
tangan dan fiksasi
adanya streopsis dan
alternasi
Kepatuhan 'idak sDd kurang 5umayan sDd sedang CukupDsangat patuh
&ebagai tambahan, penting juga ditanyakan ri"ayat keluarga yang menderita strabismus atau
kelainan mata lainnya, karena hal tersebut merupakan predisposisi seorang anak menderita
amblyopia. &trabismus dijumpai sekitar )= dari keseluruhan populasi. ;rekuensi strabismus
yang Gdi"ariskanG berkisar antara ++= - ??=. ;rekuensi esotropia diantara saudara
sekandung, dimana pada orang tua tidak dijumpai kelainan tersebut, adalah /7=. 3ika salah
satu orang tuanya esotropia, frekuensi meningkat hingga )*=. ($nformasi ini tidak
mempengaruhi prognosis, tapi penting untuk keturunannya,
Pemeriksaan fisik
- Tajam pengli3atan
Penderita amblyopia kurang mampu untuk memba.a bentuk D huruf yang rapat dan mengenali
pola apa yang dibentuk oleh gambar atau huruf tersebut. 'ajam penglihatan yang dinilai
dengan .ara konvensional, yang berdasar kepada kedua fungsi tadi, selalu subnormal. 'elah
diketahui bah"a penderita amblyopia sulit untuk mengidentifikasi huruf yang tersusun linear
(sebaris, dibandingkan dengan huruf yang terisolasi, maka dapat kita lakukan dengan
meletakkan balok disekitar huruf tunggal. Hal ini disebut GCro"ding PhenomenonG.
'erkadang mata amblyopia dengan tajam penglihatan +*D+* (?D?, pada huruf isolasi dapat
turun hingga +*D/** (?D2*, bila ada interaksi bentuk (.ountour intera.tion,. Perbedaan yang
besar ini terkadang mun.ul juga se"aktu pasien yang sedang diobati kontrol, dimana tajam
penglihatannya jauh lebih baik pada huruf isolasi daripada huruf linear. leh karena itu,
amblyopia belum dikatakan sembuh hingga tajam penglihatan linear kembali normal.
!enentukan tajam penglihatan mata amblyopia pada anak adalah pemeriksaan yang paling
penting. Aalaupun untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang dapat diper.aya sulit pada
pasien anak I anak, tapi untungnya penatalaksanaan amblyopia sangat efektif dan efisien
pada anakI anak.
0nak yang sudah mengetahui huruf balok dapat di tes dengan karta &nellen standar.
9ntuk #onverbal &nellen, yang banyak digunakan adalah tes G6G dan tes GH'-G. 'es lain
adalah dengan simbol 560. 1entuk ini mudah bagi anak usia L / tahun (todler,, dan mirip
dengan konfigurasi huruf &nellen. Caranya sama dengan tes H'-
Menentukan si-at -iksasi
Pada pasien amblyopia, sifat fiksasi haruslah ditentukan. Penglihatan sentral terletak pada
foveal: pada fiksasi eksentrik, yang digunakan untuk melihat adalah daerah retina parafoveal
I hal ini sering dijumpai pada pasien dengan strabismik amblyopia daripada anisometropik
amblyopia. ;iksasi eksentrik ditandai dengan tajam penglihatan +*D+** (?D?*, atau lebih
buruk lagi. 'idak .ukup kiranya menentukan sifat fiksasi hanya pada posisi refleks .ahaya
korneal. ;iksasi didiagnosis dengan menggunakan visuskop dan dapat didokumentasi dengan
kamera fundus Meiss. 'es lain dapat dengan tes tutup alternat untuk fiksasi eksentrik bilateral.
4isuskop
-isuskop adalah oftalmoskop yang telah dimodifikasi yang memproyeksikan target
fiksasi ke fundus. !ata yang tidak diuji ditutup. Pemeriksa memproyeksikan target fiksasi ke
dekat makula, dan pasien mengarahkann pandagannya ke tanda bintik hitam.
Posisi tanda asterisk di fundus pasien di.atat. Pengujian ini diulang beberapa kali untuk
menentukan ukuran daerah fiksasi eksentrik. Pada fiksasi sentral, tanda asterisk terletak di
fovea. Pada fiksasi eksentrik, mata akan bergeser sehingga asterisk bergerak ke daerah
ekstrafoveal dari fiksasi retina.
-
5Alternat 6over Test7 untuk 0iksasi /ksentrik Bilateral
;iksasi eksentrik bilateral adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai dan terjadi pada
pasien I pasien dengan amblyopia kongenital keduabelah mata dan dalam hal ini pada
penyakit makula bilateral dalam jangka lama. !isalnya bila kedua mata ekstropia atau
esotropia, maka bila mata
kontralateral ditutup, mata yang satunya tetap pada posisi semula, tidak ada usaha untuk
refiksasi bayangan. 'es visuskop akan menunjukkan adanya fiksasi eksentrik pada kedua
belah mata
K)ASI0IKASI AMB)IO$IA
0mbliopia dibagi kedalam beberapa bagian sesuai dengan gangguan atau kelainan yang
menjadi penyebabnya:
Ambliopia strabismus
&ebagian besar ambliopia berkembanga dengan terjadinya deviasi mata pada anak-anak yang
terus menerus dan tidak sejajar. 3enis esodeviasi adalah sebagian besar menyebabkan
ambliopia yang signifikan. 0mbliopia strabismus adalah hasil interaksi kompetitif atau
inhibisi diantara + neuron yang memba"a input dari kedua mata, dengan peran penting dari
dominasi pusat kortikal penglihatan dengan fiksasi mata dan pengurangan respon pada mata
yang tidak terfiksasi.
pada ambliopia strabismus, dimana kemampuan ketajaman pengliahatn dideteksi pola
komposisi dari bentuk ruang sertta penurunan ketajaman pengliahatn dengan pemeriksaan
snellen .hart
6..entri. fiBation komplikasi terus menerus di daerah nonfoveal dari retina untuk
penglihatan dengan satu mata ambliopia, derajat yang ke.il dari e..entri. fiBation, dideteksi
hanya dengan test khusus yaitu visus.poy, dimana banyak pasien-pasien melihat dengan
ambliopia strabismus dan relative ringan kehilangan ketejaman penglihatan. -isu.opy
meneliti target dengan membuka pusat area dengan + lingkaran konsentris di dalam retina,
dan pasien disuruh untuk melakuakan fiksasi pada target. 1anyak ahli mata melengkapi
dengan visu.opy. &e.ara klinis e..entri. fiBation, dideteksi dengan observasi posisi
non.entral dari refleB kornea dari mata ambliopia saat fiksasi .ahay dengan mata yang
dominan ditutup dan umumnya ketajaman adalah +*D+** atau lebih buruk.
Ambliopia anisometropia
0mbliopia anisometropia adalah kelainan refraksi dari kedua mata yang menyebabkan
gambaran di satu retina menjadi fo.us berlangsung lama. Kondisi ini menghasilakan efek
langsung dari kompetisi intrao.ular atau mirip inhibisi (tetapi tidak serupa, respon strabismi.
ambliopia. Hyperopi. ringan atau astigmati. anisometropia (/-+%, dapat menyebabkan
ambliopia yang ringan. !yopi. anisometropia ringan (kurang-2 %, biasanya tidak
menyebabkan ambliopia, tetapi myopia yang tinggi pada unilateral (-?% atau lebih besar,
menghasilkan ambliopia.
Ambliopia ametropia
0mbliopia ametropik, penurunan ketajaman penglihatan bilateral yang biasanya relative
ringan, yang umumnya diakibatkan tidak terkoreksinya keslahan refraksi di kedua mata pad
anak-anak masih ke.il. !ekanisme meliputi efek dari gambaran tunggal retina yang kabur.
Hyperopia melebihi 7 % dan myopia melebihi dari /* % beresiko menginduksi ambliopia
bilateral. 'idak tterkoreksinya astigmatisme bilateral se.ara dini pada anak-anak
menghasilkan kehilangan kemampuan sampai dengan garis meridian tampak
kaburberlangsung kronik (meridional amblyopia,.
Ambliopia Deprivasi
0mbliopia deprivasi disebabkan oleh kurangnya stimulasi pada retina bisa unilateral atau
bilateral. Pada umumnya penyebabnya adalah katarak .ongenital, kekeruhan kornea dan
perdarahan vitreus mungkin bisa juga terlibat. 0mbliopia deprivasi ditemukan sedikit namun
sulit untuk dilakukan terapi.
0nak-anak ke.il sampai ? tahun dengan katarak .ongenital yang terletak disentral dengan
ketebalan 2 mm atau lebih dari lensa mampu menyebabkan ambliopia. Kekeruhan lensa yang
didapat setelah umur ? tahun se.ara umum jarang mengalami ambliopia
2.4. $/NATA)AKSANAAN
0mblyopia, pada kebanyakan kasus, dapat ditatalaksana dengan efektif selama satu
de.ade pertama. 5ebih .epat tindakan terapeutik dilakukan, maka akan semakin besar pula
peluang keberhasilannya. 1ila pada a"al terapi sudah berhasil, hal ini tidak menjamin
penglihatan optimal akan tetap bertahan, maka para klinisi harus tetap "aspada dan bersiap
untuk melanjutkan penatalaksanaan hingga penglihatan GmatangG (sekitar umur /* tahun,.
Penatalaksanaan amblyopia meliputi langkah I langkah berikut :
 !enghilangkan (bila mungkin, semua penghalang penglihatan seperti katarak
 Koreksi kelainan refraksi
 !engaktifkan penggunaan mata ambliopia dengan membatasi penggunaan
mata yang lebih baik
- $engangkatan Katarak
Katarak yang dapat menyebabkan amblyopia harus segera dioperasi, tidak perlu
ditundaItunda. Pengangkatan katarak kongenital pada usia +-2 bulan pertama kehidupan,
sangat penting dilakukan agar penglihatan kembali pulih dengan optimal. Pada kasus katarak
bilateral, interval operasi pada mata yang pertama dan kedua sebaiknya tidak lebih dari /-+
minggu. 'erbentuknya katarak traumatika berat dan akut pada anak diba"ah umur ? tahun
harus diangkat dalam beberapa minggu setelah kejadian trauma, bila memungkinkan. Nang
mana katarak traumatika itu sangat bersifat amblyopiogenik. Kegagalan dalam
GmenjernihkanG media, memperbaiki optikal, dan penggunaan regular mata yang terluka,
akan mengakibatkan amblyopia berat dalam beberapa bulan, selambatIlambatnya pada usia ?
hingga @ tahun.
- Koreksi re-raksi
1ila amblyopia disebabkan kelainan refraksi atau anisometropia, maka dapat diterapi
dengan ka.amata atau lensa kontak. 9kuran ka.a mata untuk mata amblyopia diberi dengan
koreksi penuh dengan penggunaan sikloplegia. 1ila dijumpai myopia tinggi unilateral, lensa
kontak merupakan pilihan, karena bila memakai ka.amata akan terasa berat dan
penampilannya (estetika, buruk.
kemampuan mata amblyopia untuk mengatur akomodasi .enderung menurun, sehingga ia
tidak dapat mengkompensasi hyperopia yang tidak dikoreksi seperti pada mata anak normal.
Koreksi aphakia pada anak dilakukan segera mungkin untuk menghindarkan terjadinya
deprivasi penglihatan akibat keruhnya lensa menjadi defisit optikal berat. 0mblyopia
anisometropik dan amblyopia isometropik akan sangat membaik "alau hanya dengan koreksi
ka.amata selama beberapa bulan
- Oklusi &an &egra&asi optikal
1. Oklusi
'erapi oklusi sudah dilakukan sejak abad ke-/@ dan merupakan terapi pilihan, yang
keberhasilannya baik dan .epat, dapat dilakukan oklusi penuh "aktu (full time, atau paruh
"aktu (part-time,.
A. Oklusi Full Time
Pengertian oklusi full- time pada mata yang lebih baik adalah oklusi untuk semua atau setiap
saat ke.uali / jam "aktu berjaga.(..lusion for all or all but one "aking hour, hal ini sangat
penting dalam pentalaksanaan amblyopia dengan .ara penggunaan mata yang GrusakG.
1iasanya penutup mata yang digunakan adalah penutup adesif (adhesive pat.hes, yang
tersedia se.ara komersial.
Penutup (pat.h, dapat dibiarkan terpasang pada malam hari atau dibuka se"aktu tidur.
Ka.amata okluder (spe.ta.le mounted o.luder, atau lensa kontak opak, atau 0nnisaOs ;un
Pat.hes dapat juga menjadi alternatif full-time pat.hing bila terjadi iritasi kulit atau perekat
pat.h-nya kurang lengket. ;ull-time pat.hing baru dilaksanakan hanya bila strabismus
konstan menghambat penglihatan binokular, karena full-time pat.hing mempunyai sedikit
resiko, yaitu bingung dalam hal penglihatan binokular.
0da suatu aturan D standar mengatakan full-time pat.hing diberi selama / minggu untuk
setiap tahun usia, misalnya penderita amblyopia pada mata kanan berusia 2 tahun harus
memakai full-time pat.h selama 2 minggu, lalu dievaluasi kembali. Hal ini untuk
menghindarkan terjadinya amblyopia pada mata yang baik.
B. Oklusi Part-time
klusi part-time adalah oklusi selama /-? jam per hari, akan memberi hasil sama dengan
oklusi full-time. %urasi interval buka dan tutup pat.h-nya tergantung dari derajat amblyopia.
0mblyopia 'reatment &tudies (0'&, telah membantu dalam penjelasan peranan full-time
pat.hing dibanding part-time. &tudi tersebut menunjukkan, pasien usia 2-8 tahun dengan
amblyopia berat (tajam penglihatan antara +*D/** P ?D2* dan +*D)** P ?D/+* ,, full-time
pat.hing memberi efek sama dengan penutupan selama ? jam per hari. %alam studi lain,
pat.hing + jamDhari menunjukkan kemajuan tajam penglihatan hampir sama dengan pat.hing
?jamDhari pada amblyopia sedang D moderate (tajam penglihatan lebih baik dari +*D/**,
pasien usia 2 I 8 tahun. %alam studi ini, pat.hing dikombinasi dengan aktivitas melihat dekat
selama / jamD hari.2
$dealnya, terapi amblyopia diteruskan hingga terjadi fiksasi alternat atau tajam penglihatan
dengan &nellen linear +*D+* (?D?, pada masing I masing mata. Hasil ini tidak selalu dapat
di.apai. &epanjang terapi terus menunjukkan kemajuan, maka penatalaksanaan harus tetap
diteruskan
2. .egra&asi Optikal
!etode lain untuk penatalaksanaan amblyopia adalah dengan menurunkan kualitas bayangan
(degradasi optikal, pada mata yang lebih baik hingga menjadi lebih buruk dari mata yang
amblyopia, sering juga disebut penalisasi (penalization,. &ikloplegik (biasanya atropine tetes
/= atau homatropine tetes 7=, diberi satu kali dalam sehari pada mata yang lebih baik
sehingga tidak dapat berakomodasi dan kabur bila melihat dekat.
0'& menunjukkan metode ini memberi hasil yang sama efektifnya dengan pat.hing untuk
amblyopia sedang (tajam penglihatan lebih baik daripada +*D/**,. 0'& tersebut dilakukan
pada anak usia 2 I 8 tahun. 0'& juga memperlihatkan bah"a pemberian atropine pada akhir
minggu ("eekend, memberi perbaikan tajam penglihatan sama dengan pemberian atropine
harian yang dilakukan pada kelompok anak usia 2 I 8 tahun dengan amblyopia sedang. 0da
juga studi terbaru yang membandingkan atropine dengan pat.hing pada )/< orang anak usia
2-8 tahun, menunjukkan atropine merupakan pilihan efektif. &ehingga, ahli mata yang
tadinya masih ragu-ragu, memilih atropine sebagai pilihan pertama daripada pat.hing.
Pendekatan ini mempunyai beberapa keuntungan dibanding dengan oklusi, yaitu tidak
mengiritasi kulit dan lebih apik dilihat dari segi kosmetis. %engan atropinisasi, anak sulit
untuk GmenggagalkanG metode ini. 6valuasinya juga tidak perlu sesering oklusi.
!etode pilihan lain yang prinsipnya sama adalah dengan memberikan lensa positif dengan
ukuran tinggi (fogging, atau filter. !etode ini men.egah terjadinya efek samping
farmakologik atropine.
Keuntungan lain dari metode atropinisasi dan metode non-oklusi pada pasien dengan mata
yang lurus (tidak strabismus, adalah kedua mata dapat bekerjasama, jadi memungkinkan
penglihatan bino.ular.
2.. KOM$)IKASI .A,I $/NATA)AKSANAAN
&emua bentuk penatalaksanaan amblyopia memungkinkan untuk terjadinya amblyopia pada
mata yang baik.klusi full-time adalah yang paling beresiko tinggi dan harus dipantau
dengan ketat, terutama pada anak balita. ;ollo"-up pertama setelah pemberian oklusi
dilakukan setelah / minggu pada bayi dan / minggu per tahun usia pada anak (misalnya : )
minggu untuk anak usia ) tahun,. klusi part-time dan degradasi optikal, observasinya tidak
perlu sesering oklusi full-time, tapi follo"-up reguler tetap penting.
Hasil akhir terapi amblyopia unilateral adalah terbentuknya kembali fiksasi alternat, tajam
penglihatan dengan &nellen linear tidak berbeda lebih dari satu baris antara kedua mata.
Aaktu yang diperlukan untuk lamanya terapi tergantung pada hal berikut :
 %erajat amblyopia
 Pilihan terapeutik yang digunakan
 Kepatuhan pasien terhadap terapi yang dipilih
 9sia pasien
&emakin berat amblyopia, dan usia lebih tua membutuhkan penatalaksanaan yang lebih lama.
klusi full-time pada bayi dan balita dapat memberi perbaikan amblyopia strabismik berat
dalam / minggu atau kurang. &ebaliknya, anak yang lebih berumur yang memakai penutup
hanya seusai sekolah dan pada akhir minggu saja, membutuhkan "aktu / tahun atau lebih
untuk dapat berhasil.
2.!. $,O1NOSA
&etelah / tahun, sekitar 82= pasien menunjukkan keberhasilan setelah terapi oklusi pertama.
1ila penatalaksanaan dimulai sebelum usia 7 tahun, visus normal dapat ter.apai. Hal ini
semakin berkurang seiring dengan pertambahan usia. Hanya kesembuhan parsial yang dapat
di.apai bila usia lebih dari /* tahun.
;aktor resiko gagalnya penatalaksanaan amblyopia adalah sebagai berikut
 3enis 0mblyopia : Pasien dengan anisometropia tinggi dan pasien dengan kelainan
organik, prognosisnya paling buruk. Pasien dengan amblyopia strabismik prognosisnya
paling baik.
 9sia dimana penatalaksanaan dimulai : &emakin muda pasien maka prognosis semakin
baik.
 %alamnya amblyopia pada saat terapi dimulai : &emakin bagus tajam penglihatan a"al
pada mata amblyopia, maka prognosisnya juga semakin baik