You are on page 1of 8

KETRAMPILAN PENGOPERASIAN WATER TREATMENT PLANT PADA PROSES

DEMINERALISASI DI PT. PJB UNIT PEMBANGKITAN
GRESIK – JAWA TIMUR
(Ir. Apriani Kusumawardhani, MSc, Soraya Rizqimufidah 2411 031 002)
Program Studi D3 Metrologi & Instrumentasi Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kampus ITS Keputih Sukolilo - Surabaya 60111

ABSTRAK
Air merupakan salah satu komponen lingkungan yang mempunyai peran yang cukup besar
dalam kehidupan. Bagi manusia, air berperan dalam kegiatan pertanian, industri, dan pemenuhan
kebutuhan rumah tangga. Air yang digunakan harus memenuhi syarat dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Kualitas air dapat ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologi. Kualitas air yang baik
tidak selamanya tersedia di alam. Perkembangan industri dan pemukiman dapat mengancam
kelestarian air bersih. Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan cara-cara
tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan sesuai kebutuhan. Water Treatment
Plant adalah sebuah sistem yang difungsikan untuk mengolah air dari kualitas air baku (influent)
yang kurang bagus agar mendapatkan kualitas air pengolahan (effluent) standar yang di
inginkan/ditentukan atau siap untuk dikonsumsi atau diproses.
Kata kunci : Water Treatment Plant, Pengolahan kualitas air

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat ini perkembangan teknologi di
Indonesia cukup pesat. Dan disamping itu
dengan adanya perguruan tinggi yang
menghasilkan sumber daya manusia yang
berkualitas dengan berbagai kemampuan
intelektual dan merasa telah terpanggil untuk
semakin meningkatkan mutu output-nya.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap
(PLTGU) merupakan suatu sistem
terintegrasi untuk membangkitkan listrik
dengan uap air dan gas (thermal –
mechanics). PT. PJB UP Gresik merupakan
perusahaan yang bergerak dalam bidang
pemasok sumber listrik di daerah Jawa
Timur dan dibawah naungan PLN. PT. PJB
UP, Gresik mengoperasikan 4 unit PLTG, 4
unit PLTU dan 3 blok PLTGU dan dengan
total daya 2160MW
[1]
yang dihasilkan oleh
unit 3. Peralatan utama pada PLTU Gresik
adalah Boiler, Turbin, dan Generator dan
peralatan bantunya seperti desalinasion
plant dan water treatment. Pada PLTGU
Gresik ini berbahan bakar MFO (Marine
Fuel Oil ) dan Gas Alam. Selama setahun,
UP Gresik membutuhkan bahan bakar
gas 108.739.449 MMBTU, MFO 80.617
kiloliter, HSD 500.000 kiloliter, air
penambahan boiler 360.000 Ton, dan air
servis berasal dari proses distilasi air laut
atau bisa juga menggunakan air PDAM.
Sebelumnya, pada tahun 2011, Ahmad
F
.[2]
melakukan kerja praktek dengan
melakukan Penerapan Fault Tree Analysis,
Ratih D.
[3]
melakukan kerja praktek dengan
melakukan PID pada Boiler. Selain itu,
Rizka W
.[4]
melakukan kerja praktek dengan
melakukan Preventive Maintenance Leak
Oil, Rizal Rifaldi
[5]
melakukan kerja praktek
dengan melakukan ketrampilan
pengoperasian multi stage flash dengan
metode pengendalian laju aliran air.
Secara umum fungsi dari Water
Treatment Plant tersebut adalah pengolahan
dari sumber air menjadi air bersih, terutama
pada hal ini perubahan atau pengurangan
mineral atau zat garam pada air laut. Dari
water treatment perubahan air garam yang
berasal dari air laut dirubah menjadi air
murni. Permasalahan yang akan dibahas dan
dijadikan sebagai topik pembahasan adalah
mengenai bagaimana cara pengoperasian
Water Treatment Plant, oleh karena itu,
kami mengambil topik tentang ketrampilan
pengoperasian Water Treatment yang
dinaungi oleh unit PLTGU PT. PJB Gresik.
Penentuan topik ini dikarenakan peranan
Water Ttreatment tersebut sangat penting
untuk menunjang pengoperasian boiler
tersebut sehingga unit dapat beroperasi
dengan baik.

1.2 Permasalahan
Dalam Pelaksanaan Kerja Praktek ini
melakukan pengamatan secara umum
sebagai berikut :
1 Bagaimana proses pengoperasian Water
Treatment pada proses demineralisasi?
2 Bagaimana parameter kualitas air yang
dihasilkan dari proses tersebut?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari dilakukannya kerja
praktek ini adalah sebagai berikut :
1 Untuk memahami proses kerja PLTU
secara umum terutama pada bagian
turbin.
2 Untuk mengetahui parameter kualitas air
yang dihasilkan dari proses Water
Treatment.

1.4 Sistematika Laporan.
Sistematika penulisan laporan kerja
praktek ini adalah halaman judul, lembar
pengesahan perusahaan, lembar pengesahan
jurusan, abstrak, abstract, kata pengantar,
daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, lima
bab, daftar pustaka dan lampiran. Bab I
berisi pendahuluan yang terdiri dari latar
belakang, permasalahan, tujuan, dan
sistematika laporan. Bab II berisi tinjauan
umum PT. PJB UP Gresik yang meliputi
struktur organisasi, instansi yang menaungi
dan lain sebagainya yang menyangkut
tentang PT. PJB UP Gresik. Bab III berisi
materi tentang pengoperasian water
treatment dan bagian-bagian dari mesin
tersebut yang terdapat di PT. PJB UP Gresik.
Bab terakhir adalah Bab IV berisi penutup,
terdiri dari kesimpulan yang merupakan
ringkasan dari laporan ini dan saran dari
kerja praktek yang telah dilakukan.

Tinjauan Umum
2.1 Profil PT. Indonesia Power Perak
Grati Sub Unit Perak
UP PT PJB ini merupakan anak
perusahaan dari Perusahaan Listrik Negara,
PT PLN (Persero), yang dibangun diatas
tanah seluas sekitar 78 ha. PT PJB ini
terletak di lokasi desa Sidorukun, Jalan
Harun Tohir nomor 1, Kota Gresik, Propinsi
Jawa Timur atau sekitar 20 km arah barat
laut kota Surabaya. Berikut letak lokasi UP
PT PJB Gresik
Sebagai salah unit pembangkit, PT PJB
Unit Pembangkit Gresik mengoprasikan tiga
jenis mesin pembangkit yaitu sebagai
berikut:
1. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)
kapasitas 600 MW
2. PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas)
kapasitas 103 MW
3. PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga
Gas – Uap) kapasitas 1578 MW

Total kapasitas 2280 MW (terdiri dari 21
Generator).
Dalam proses penyaluran daya listrik
yang dihasilkan, PT PJB menggunakan
sistem interkoneksi dengan Unit unit
Pembangkit yang ada di Jawa – Bali dengan
tujuan memenuhi kebutuhan konsumen yang
ada. Adapun strukturnya dapat dilihat di
bagan di bawah ini:

Gambar 2.1 Struktur PLN

2.1.1 Struktur PT. PJB Unit Pembangkitan
Gresik
Pimpinan tetinggi di PT PJB UP
Gresik adalah seorang General Manager.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya seorang
General Manager dibantu oleh beberapa
Manger yang diantaranya adalah sebagai
berikut:
 Manager Engineering & Quality
Assurance
 Manager Operasi
 Manager Pemeliharaan
 Manager Logistik
 Manager Kuangan & Administrasi

GENERAL MANAJER
UP GRESIK
1. MANAJER ENVIRING & QUALITY
ASSURANCE
2. MANAJER PEMELIHARAAN
3. MANAJER LOGISTIK
4. MANAJER KEUANGAN &
ADMINISTRASI
MANAJER OPERASI
SPV Senior
Rendal Operasi PLTGU,
PLTU
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. PJB
UP Gresik

Dalam pelaksanaan tugasnya,
Manager membawahi beberapa Supervisor
yang membatu proses pelaksanaan, berikut
bagan struktur organisasi PT PJB UP Gresik
dapat dilihat pada gambar diatas.

2.2 Unit PLTGU PT. PJB UP Gresik
Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap
(PLTGU) adalah pembangkit siklus ganda
(combined cycle) yang peralatan utamanya
terdiri dari turbin dengan generatornya,
HRSG (Heat Recovery Steam Generator),
turbin uap dengan generatornya dan alat
pendukung lainnya.



a. Turbin Gas
Turbin gas berfungsi sebagai pembangkit
listrik tahap pertama yang mempunyai
peralatan utama kompresor, ruang
pembakaran (combuser), turbin dan
generator serta penggerak mula (starting
device). Proses pembangkitan diawalai
dengan menjalan motor starter sebagai
penggerak mula sampai udara masuk ke
ruang kompresor dan mengalami proses
pemampatan sehingga menjadi udara
bertekanan. Bersamaan dengan proses
pemampatan udara, pada ruang bakar
diinjeksikan bahan bakar. Setelah udara
bertekanan dan bahan bakar masuk,
kemudian dinyalakan dengan igniter yang
berfungsi seperti busi, sehingga terjadilah
pembakaran yang mengakibatkan kenaikan
temperature dan tekanan dalam ruang bakar.
Tekanan ini akan menekan sudu-sudu turbin
gas, sehingga timbullah energy mekanik
yang menggerakkan sudu turbin dan
memutar turbin. Lalu energy mekanik ini
dikopel ke generator, menimbulkan fluks
listrik, sehingga mengubah enrgi mekanik
menjadi energy listrik. Sedangkan motor
starter secara otomatis akan mati pada
putaran 2100 rpm. Setelah gas hasil
pembakaran mampu memutar turbin,
kompresor, dan generator. Sementara itu,
putaran kompresor turbin terus naik sampai
3000 rpm (full speed no load), pada putaran
ini generator diberikan arus, maka generator
akan membangkitkan energy listrik yang
bertegangan 10,15 KV kemudian dinaikkan
menjadi 150 KV atau 500 KV melalui trafo
utama yang kemudian diteruskan dengan
jaringan interkoneksi Jawa-Bali.

b. HRSG
Gas buang pembakaran dari turbin
dilewatkan dalam HRSG untuk
menghasilkan uap tekanan tinggi (High
Pressure / HP) dan tekanan rendah (Low
Pressure / LP), ketel ini tanpa pembakaran,
jadi murni dari gas buang pembakaran dari
turbin gas.

c. Turbin Uap
Uap hasil produksi dari HRSG digunakan
untuk menggerakkan turbin uap. Turbin uap
ini adalah jenis compound tandem yang
terdiri dari turbin tekanan tinggi dan turbin
tekanan rendah. Uap dari saluran tekanan
tinggi masuk ke turbin tekanan tinggi,
selanjutnya bersama-sama uap dari tekanan
rendah dikondensasikan dikondensor, air
kondensasi dipanaskan kembali ke ketel
(HRSG) sehingga kembali terbentuk uap
untuk memutar turbin. Energy mekanik
turbin digunakan memutar generator yang
kemudian dihasilkan energy listrik dan
diparalelkan dengan jaringan interkoneksi
Jawa-Bali.

3.1.1 Unit-unit pendukungnya
Sebagai unit penunjang pusat listrik
baik PLTU, PLTG, maupun PLTGU Gresik
terdapat beberapa peralatan penting antara
lain sebagai berikut:
a. Pelabuhan / J etty
Sebagai sarana penerimaan BBM dari
Pertamina
b. Gas Station
Suatu peralatan kelengkapan penerimaan
BBG dari Pertamina
c. Desalination Plant
Suatau peralatan desalinasi air laut
menjadi air tawar dengan sistem
evaporator sebagai pengisi ketel yang
harus diolah lagi melalui peralatan water
treatment.
d. Water Treatment
Suatu unit pengolahan air pengisi ketel
(HRSG) yang prosesnya dengan sistem
penukar anion dan kation sampai air
pengisi ketel (HRSG) tersebut memenuhi
syarat.
e. Waste Water Treatment Plant
Suatu pengolahan air limbah yang
merupakan upaya mengatasi terjadinya
pencemaran air limbah dengan indikator
ikan hidup.
f. Clorination Plant
Suatau alat yang memproduksi clor untuk
injeksi pada air laut sebagai media
pendingin kondensor agar zat-zat renik
tidak menempel pada saluran pipa
pendingin.
g. Fuel / Oil Treatment Plant
Unit pengolahan minyak untuk
mendapatkan kondisi BBM/HSD yang
berkualitas baik dan memenuhi syarat.
h. Gas H
2
Hydrogen Plant
Suatu unit pengolahan untuk
memproduksi gas H2 melalui proses
elektrolisa dengan media pendingin
generator.
i. Sistem Pembinaan
Pembinaan diluar kedinasan oleh
Bakorsiroh dan Persatuan Ibu-Ibu sub
unit PT. PJB Unit Pembangkitan Gresik,
seperti pembinaan mental spiritual,
olahraga dan lain-lain.



3.1 Pengoperasian Water Treatment
dalam Proses Demineralisasi

Gambar 3.1 Water System PLTGU Gresik
Secara teoritis, air di dalam siklus
PLTGU akan terus bersirkulasi tanpa terjadi
pengurangan massa air sehingga tidak
memerlukan penambah dari luar siklus.
Tetapi pada prakteknya, banyak terjadi
kehilangan massa air yang antara lain
disebabkan oleh adanya kebocoran-
kebocoran di dalam sistem, spray
(Tempering) dan pembuangan gas yang
masih mengandung air oleh karena itu harus
ada tambahan air.
Sistem air penambah berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan akan tambahan fluida
kerja tersebut. Mengingat bahwa kualitas air
penambah harus sama baiknya dengan
kualitas air yang telah berada dalam siklus
tersebut, maka sistem air penambah
dilengkapi dengan unit pengolahan air
(water treatment plant) yang berfungsi untuk
mengolah air sumber (raw water tank)
menjadi air penambah (make up water).

3.2 Water Treatment Plant

Gambar 3.2 Control Diagram Water
Treatment System
Water Treatment Plant merupakan
instalasi yang berfungsi untuk mengurangi
kadar garam (conductivity) dan total
dissolved solid (TDS) dari air. Air yang
diproses di instalasi water treatment plant
berasal dari Raw Water Tank yang
merupakan hasil desalinasi dari Desalination
Plant. Air dari desalinasi ini masih memiliki
kandungan elektrolit yang cukup tinggi
sehingga perlu di-treatment terlebih dahulu
oleh instalasi water treatment.

3.2.1 Parameter Air Murni dari Water
Treatment
Pada umumnya gangguan terhadap
suatu peralatan/ sistem yang bermedia air
disebabkan oleh zat-zat pengotor dalam air
yang disebut kontaminan. Kontaminan
tersebut dapat berbentuk gas, cair, padatan,
dan mikroorganisme.
Table 3.1 Parameter Kadar Murni Air yang
Dibutuhkan
Parameter Konsentrasi (mg/L)
COD 100 – 300
BOD 50 – 150
Minyak Nabati 5 – 10
Minyak Mineral 10 – 50
Zat padat tersupensi
(TSS)
200 – 400
pH 6.0 – 9.0
Temperatur 38 – 40 [°C]
Ammonia bebas
(NH
3
)
1.0 – 5.0
Nitrat (NO
3
-N] 20 – 30
Senyawa aktif biru
metilen
5.0 – 10
Sulfida (H
2
S) 0.05 – 0.1
Fenol 0.5 – 1.0
Sianida (CN) 0.05 – 0.5

3.2.2 Komponen-komponen Water
Treatment
Pada proses water treatment perlu
diketahui bahwa pada sistem
pengoperasiannya ada komponen-komponen
pendukung untuk melengkapi jalannya
pengoperasian yaitu sebagai berikut:
a. Water Treatment Supply Pump
Pompa ini digunakan untuk
menyalurkan air dari raw water tank
yang kemudian dimaksukkan ke dalam
proses water treatment yang selanjutnya
hasil dari proses tersebut dimasukkan ke
dalam Make up water tank.

b. Prefilter

Gambar 3.3 Prefilter
Merupakan komponen dari water
treatment yang berfungsi untuk atau
menyaring partikel padat yang masih
terkandung dalam raw water, prefilter
ini dibutuhkan untuk mencegah
terjadinya endapan pada elemen penukar
ion yang ada didalam mixed bed
polisher.

c. Mixed Bed Polisher
Untuk menghilangkan total
kandungan padat terlarut (TDS) yang
terkandung dalam air dengan
menggunakan penukar ion resin untuk
mendapatkan hasil air demineralisasi

d. Conductivity Meter

Gambar 3.4 Comductivity Meter
Untuk mengukur konduktivitas dari
air yang di-treatment. Konduktivitas
dari air bebas mineral tertinggi yang
diperingatkan 1,0 µsiemens/cm. jadi
apabila konduktivitas dari air bebas air
mineral gyang dihasilkan pada water
treatment palnt melebihi 1,0
µsiemens/cm, maka produk water
treatment plant tersebut tidak masuk ke
dalam tangki make up water.

e. NaOH Storage Tank

Gambar 3.5 NaOH Storage Tank
Tangki ini digunakan untuk
memberikan NaOH terkonsentrasi setiap
satu minggu untuk dimasukkan ke
dalam NaOH metering tank.

f. HCl Storage Tank

Gambar 3.6 HCl Storage Tank
Tangki ini digunakan untuk
memberikan HCl terkonsentrasi setiap
satu minggu untuk dimasukkan ke
dalam HCl metering tank.

g. Sump Pump
Merupakan pompa yang digunakan
untuk memompakan keluar air hasil
regenerasi menuju ke waste water
treatment plant.

3.2.3 Proses Kerja Water Treatment Plant
Raw water merupakan hasil dari
desalinasi sebelum diproses di dalam mixed
bed polisher terlebih dahulu dilewatkan
menuju prefilter. Dimana prefilter ini berisi
serat-serat propilin yang berfungsi
menghilangkan partikel-partikel padatan
yang masih terlarut dalam raw water yang
dapat mengotori resin di dalam mixed bed
polisher.
Mixed bed polisher berisi resin asam
(RH) dan resin basa (ROH). Resin asam
berfungsi untuk mengikat ion-ion
positif/kation (misalnya: Mg
+
, Mg
++
, Ca
+
,
Ca
++
, Na
+
dan resin basa berfungsi untuk
mengikat ion-ion negatif, misalnya: SO
4
-
, Cl
-
). Selama proses pertukaran ion, air yang
diolah akan memliki ion-ion hydrogen (H
+
)
dan hidro oksida (OH
-
) yang akan berikatan
membentuk H
2
O (air murni). Semakin murni
air yg dihasilkan, total dissolved solids &
conductivity-nya semakin rendah.
Sistem kontrol pada water treatment
secara umum yaitu pada debit air yang
dihasilkan atau pada perbedaan tekanan yang
cukup tinggi antara sisi masuk dan
keluarnya, ketika hal itu terjadi, maka ada
kemungkinan prefilter kotor atau terjadi
kejenuhan pada resin di dalam mixed bed
polisher. Jika prefilter kotor maka catridge
filter harus diganti dan disarankan dilakukan
regenerasi. Adapun regenerasi untuk resin
kation digunakan asam hidroklorit (HCl),
sedangkan untuk resin kation digunakan
caustic soda (NaOH).
Air buangan regenerasi akan ditampung
dalam neutralizing sump (diambil sample
untuk mengetahui tingkat keasamannya/pH).
Setelah itu air buangan ini dipompakan ke
unit Neutralizing Regenerator Waste. Pada
unit pengolahan air ini dilengkapi dengan
suatu unit control panel untuk mengontrol
motor-motor seuruh sistem. Sistem control
proses pengolahan ini menggunakan
progamable logic diagram sebagai
pengganti sistem control Normal
Electromechanical relay dan Switch.
Adapun syarat make up water sebagai
produk dari water treatment plant ini adalah
sebagai berikut:
- Konduktivitas :<1 µSiemens/cm
2

(pada 25°C)
- Kandungan benda padat : 0,1 ppm
sebagai CaCO
3

- Kandungan Silika : 0,2 ppm
sebagai SiO
2


3.2.4 Proses Regenerasi
Regenerasi bertujuan untuk
menjadikan resin yang berada di dalam
mixed bed polisher yang telah jenuh menjadi
aktif lagi.
Urutan dari proses regenerasi adalah
sebagai berikut:
a. Backwash
Polisher di-backwash untuk
memisahkan resin kation dan anion,
dengan resin anion berada di lapisan
atas. Pada proses ini juga berfungsi
untuk membuang partikel padat yang
terperangkapn pada resin.
b. Settle
Resin kation dan anion dibiarkan
terpencar dan terpisah sebelum menuju
proses selanjutnya. Pemisahan ini
didasarkan pada perbedaan berat jenis
(specific gravity) antara kation dan
anion.
c. Chemical Injection
Regenerasi resin menggunakan HCl
dan NaOH yang telah ditentukan
konsentrasinya. Dimana sebelum
diinjeksikan pada ion exchanger,
bahan kimia ini diencerkan dan
dilakukan pemanasan pada NaOH agar
lebih efisien menghilangkan silica.
Sisa dari regenerasi kemudian
dikumpulkan pada bagian header dan
dialirkan menuju neutalisation sump.
d. Slow Rinse
Chemical metering pump di-stop,
tetapi di-lution water dijaga tetap
mengalir dari step sebelumnya, air
dilewatkan melalui polisher pada arah
yang sama dengan regenerant untuk
memindahkan bahan kimia dari
polisher.
e. Drain Down
Air dikurangi dari polisher hingga
100mm diatas level resin. Drain down
dilakukan untuk mencegah resin keluar
dari polisher selama air mix step.
f. Air Mix
Udara ditiupkan dari bawah untuk
mengaduk-aduk resin dan mencampur
kedua resin tersebut.
g. Refill
Air dimasukkan kembali ke dalam
mixed bed polisher melalui bagian
atas, sementara udara dikeluarkan dari
mixed bed polisher.
h. Final Rinse
Polisher akhirnya dibilas hingga
mencapai kualitas air yang diingikan.

3.2.5 Instruments dan Set Values
Adanya sistem control pada instalasi
water treatment sangat berguna dalam
mengoptimalkan kinerja dari instalasi ini.
Komponen instrumentasi yang digunakan
adalah sebagai berikut:
1. Regeneration Timer
Digunakan untuk setting lamanya waktu
yang digunakan dalam proses regenerasi
resin yang telah jenuh di dalam mixed
bed polisher.
2. Conductivity Meter
Merupakan sensor yang digunakan
untuk mengukur nilai konduktivitas air
yang telah dilakukan proses treatment.
Besarnya kandungan konduktivitas
dinyatakan dengan satuan µ/cm.
3. Flow Recorder
Flow Recorder merupakan komponen
yang digunakan untuk merekam atau
mencatat jumlah kapasitas yang telah
dihasilkan oleh instalasi water
treatment.
4. Temperatus Indicating Controller Alarm
Merupakan sensor temperature
digunakan untuk mengetahui suhu air
yang diproses, sehingga apabila suhu air
tidak sesuai dengan yang di-setting,
maka alarm akan berbunyi.
5. Level Indicator
Merupakan sensor ketinggian yang
ditempatkan pada Raw Water Tank,
dimana sensor ini berguna untuk
menunjukkan ketinggian air pada kedua
tank tersebut.
Set Value :
a. Kualitas/Konduktivitas air hasil
pengolahan
Set Value 1 µ/cm
Normal Value < 1 µ/cm
b. Pressure
Differential Pressure pada Pre Filter
Set Value 0,7 kg/cm
2

Normal Value < 0,7 kg/cm
2

c. Instrument air Pressure
Set Value 5 kg/cm
2

Normal Value 5,6 – 7 kg/cm
2

d. Temperature
Temperature NaOH terlarut
Set Value 50°C
Normal Value 40°C

3.2.6 Sistem Instrumentasi
Ketika dalam proses operasi, maka
pompa akan ON dan pompa ini akan
beroperasi selama 148 jam. Pada saat setelah
pompa on maka air dari raw water tank
mulai dipompakan menuju proses
pengolahan air dan valve pada prefilter akan
secara otomatis membuka sehingga air dapat
mengalir melewati prefilter untuk
dihilangkan kandungan padatan yang masih
terkandung dalam air tersebut. Pada saat
yang bersamaan juga valve pada mixed bed
polisher akan membuka, dimana dalam
mixed bed polisher ini nilai konduktivitas
dari air akan dikurangi lagi menjadi kurang
dari 1 µ/cm. setelah air diproses pada mixed
bed polisher, maka nilai konduktivitas dari
air akan diukur oleh conductivity meter
untuk diukur apakah air telah layak untuk
ditampung dalam make up water tank atau
tidak.

3.2.7 Maintenance dan Troubleshooting
Perlu adanya proses maintenance dan
troubleshooting yang terjadwal sehingga
kondisi peralatan selalu terpantau sehingga
dapat mendeteksi adanya kerusakan dini
pada suatu peralatan.
a. Jadwal Pengecekan
Tabel 3.2 Jadwal Pengecekan / Control
Schedule
ITEM CHECK FREKUE
NSI
Pompa
Tekanan
pemompaan,
temperature
motor, suara,
vibrasi, level oli
1x /hari
Chemical
Tank
Level,
kebocoran
1x /hari

Raw
Water
Konduktivitas
Full Analysis
1x /hari
1x /bulan
Treated
Water
Konduktivitas,
SiO
2
PH
1x /hari
Resin
Amount
Ketinggian
Packed Resin
1x /bulan
Resin
tower
Pressure
Tekanan Inlet
dan Outlet
1x selama
regenerasi
Instrumen
ts
Adjustment 1x /6bulan
Resin
Perhitungan
kapasitas
pengisian ulang
Lebih dari
6 bulan
Painting
Karat, goresan,
dll
1x /tahun

b. Penyesuaian Musim
Karena temperature dari Raw water
bervariasi tergantung dari musim,
penyesuaian ulang (readjustment) harus
dilakukan. Penyesuaian ulang ini
dilakukan pada saat operasi backwash.
Apabila tidak dilakukan re-adjustment
maka resin akan habis pada saat operasi
backwash.

c. Inspeksi Kapasitas Resin
Ketika menggunakan ion exchange
resin akan terjadi penurun kemampuan
dari resin untuk mengikat ion yang
terkandung dari Raw Water atau tercemar
dengan kandungan padat yang terbawa
dari Raw Water, menyebabkan tidak
memungkinkan mandapatkan hasil yang
maksimal. Sehingga perlu dilakukan
performance confirmation test dan
pengambilan sample dari resin setiap 6
bulan sekali.

d. Troubleshooting
Setelah regenerasi,
konduktivitas tidak berubah
Mengecek pandangan
luar dari resin bed
Memvariasikan aliran
pada detector dari
conductivity meter
Hancurnya
resin
Tidak
berubah
Konsentrasi regenerasi
yang terlalu tinggi
Rusaknya conductivity
meter

Diagram 3.1 Regenerasi 1

Sedikitnya air yang didapat
setelah proses pengolahan
Melihat ketinggian resin
Melihat ketinggian resin
Sedikit
Banyak
Mengecek kadar kation
yang digunakan
Sedikitnya resin yang
digunakan
meningkat
Tingginya kandungan
kation pada raw water
Terlalu banyak resin
yang digunakan

Diagram 3.2 Regenerasi 2
Aliran ketika servis kecil
Mengecek tekanan
pompa
Cek vibrasi pada pompa
Terlalu
tinggi
Timbul
vibrasi,
serta panas
Cek tekanan udara pada
saat operasi
Clogging pada service
system
Tekanan
rendah
Rendahnya tekanan
udara kerja
Trouble pompa
Mengecek apakah
adanya kapur atau
adanya endapan dari
subtansi padat atau tidak
Adanya
partikel
padat
Penyaluran resin bed
yang menonjol

Diagram 3.3 Regenerasi 3


3.2.8 Sistem K3 pada area Water
Treatment Plant
Instalasi water treatment termasuk
dalam instalasi outdoor atau diluar lapangan.
Pada instalasi ini minim sekali adanya kabel-
kabel listrik yang melintang ataupun ruang
gerak yang sempit. Meskipun begitu, bekerja
pada instalasi ini harus memiliki tingkat
kewaspadaan yang tinggi, dikarenakan pada
instalasi ini terdapat bahan kimia yang
sangat berbahay bagi manusia dan juga
mudah terbakar. Oleh karena itu, penting
adanya sistem K3 dalam bekerja pada area
instalasi ini.
Lambang-lambang peringatan yang
perlu diperhatikan pada area ini adalah
sebagai berikut:
i. Zat Kimia Korosif
Simbol zat kimia korosif pada area
water treatment diperlukan karena terdapat
HCl NaOH yang berupa asam kuat dan basa
kuat. Kedua zat ini dapat melukai dan
merusak jaringan tubuh apabila terjadi
kontak secara fisik.bau dari kedua zat
tersebut zat kimia ini sangat tajam hingga
dapat menyebabkan tidak sadarkan sendiri.


Gambar 3.7 Simbol Korosi
ii. Zat Karsiogenik
Bahan kimia ini menyebabkan
karsiogenik yaitu penyebab sel kanker,
tetragenik yaitu bahan yang dapat
mempengaruhi pembentukan dan
pertumbuhan embrio, mutagenic yaitu sifat
bahan yang menyebabkan perubahan
kromosom yang berarti dapat merubah
genetika.

Gambar 3.8 Simbol Karsiogenik

iii. Zat Beracun/Toxic
Bahan kimia dengan simbol ini dapat
menyebabkan keracunan atau sakit yang
serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui
pernafasan, kulit atau mulut.


Gambar 3.9 Simbol zat beracun

Oleh karena bekerja pada lingkungan
water treatment begitu berbahaya akan
kontaminasi zat kimia, maka perlu adanya
kewajiban menggunakan alat pelindung diri
bagi siapa saja yang berada disekitar lokasi
tersebut.
Alat safety yang wajib digunakan
adalah:
1. Baju Safety
2. Sepatu safety
3. Safety helm
4. Kacamata safety
5. Masker
6. Sarung tangan
Alat pelindung diri diatas dapat
meminimalisir adanya kontak langsung
dengan zat kimia berbahaya, sehingga
kecelakaan kerja dapat dihindari.

KESIMPULAN
Berdasarkan pada penjelasan yang
sudah dijelaskan mengenai pengoperasian
water treatment plant, didapatkan
permasalahan tentang hasil produksi berupa
air murni yang terkadang menyisakan
limbah berupa hewan-hewan mikroba yang
sering menyumbat pipa penyaluran awal air
dari air laut. Penyelesaian dari permasalahan
tersebut hanya seringnya pengecekan di
setiap pertemuan pipa untuk memastikan
tidak ada lagi penyumbatan oleh hewan
mikroba yang dikarenakan lolos dari
penyaringan.