You are on page 1of 25

Portofolio

KEJANG DEMAM SEDERHANA
Disusun Oleh:
dr. Avida Arma Rosswantari
SI : !!"#!$$%#&'(&
em)im)in* :
dr. Silas +ist,owati
ro*ram Internshi- Do.ter Indonesia
Ka)u-aten Gunun*.idul
/o*,a.arta
eriode Januari0A-ril &'(1
1
2A2 I
ENDAH3+3AN
(.( endahuluan
Kejang demam merupakan penyakit kejang yang paling sering dijumpai di
bidang neurologi khususnya anak. Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan
bagi orang tua, sehingga bagi dokter kita wajib mengatasi kejang demam dengan tepat
dan cepat. Kejang demam pada umumnya dianggap tidak berbahaya dan sering tidak
menimbulkan gejala sisa; akan tetapi bila kejang berlangsung lama sehingga
menimbulkan hipoksia pada jaringan Susunan Saraf Pusat (SSP), dapat menyebabkan
adanya gejala sisa di kemudian hari.
rekuensi dan lamanya kejang sangat penting untuk diagnosa serta tata laksana
kejang, ditanyakan kapan kejang terjadi, apakah kejang itu baru pertama kali terjadi atau
sudah pernah sebelumnya, bila sudah pernah berapa kali dan waktu anak berumur
berapa . Sifat kejang perlu ditanyakan, apakah kejang bersifat klonik, tonik, umum atau
fokal. !itanya pula lama serangan, kesadaran pada waktu kejang dan pasca kejang.
"ejala lain yang menyertai diteliti, termasuk demam, muntah, lumpuh, penurunan
kesadaran atau kemunduran kepandaian. Pada neonatus perlu diteliti riwayat kehamilan
ibu serta kelahiran bayi.
#
Kejang demam jarang terjadi pada epilepsi, dan kejang demam ini secara spontan
sembuh tanpa terapi tertentu. Kejang demam ini merupakan gangguan kejang yang paling
la$im pada masa anak, dengan pragnosa baik secara seragam.
%
&umlah penderita kejang
demam diperkirakan mencapai % ' () dari jumlah penduduk di *S, *merika Selatan,
dan +ropa ,arat. -amun di *sia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar %.) di
antara jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani secara
lebih teliti. ,ila dilihat jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak
menyerang anak laki/laki.
0
2
2A2 II
4INJA3AN 3S4AKA
&.( De5inisi
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai
pada anak yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan oleh kelainan
ekstrakranial.
0
!erajat tinggi suhu yang dianggap cukup untuk diagnosa kejang demam
adalah 01 derajat celcius di atas suhu rektal atau lebih. *nak yang pernah mengalami
kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang
demam. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan
kejang berulang tanpa demam. *nak yang pernah mengalami kejang tanpa demam
kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.
(
&.& E-idemiolo*i
0,2
3nsiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 4 bulan
sampai ( tahun. 5ampir 0 ) dari anak yang berumur di bawah 2 tahun pernah menderita
kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki/laki daripada
perempuan. 5al tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral
yang lebih cepat dibandingkan laki/laki.
,erdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab.6S7 3lmu Kesehatan *nak
8S9! !r. Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang
demam. Pada tahun #::: ditemukan pasien kejang demam sebanyak 10 orang dan tidak
didapatkan angka kematian (. )). Pada tahun %... ditemukan pasien kejang demam #0%
orang dan tidak didapatkan angka kematian (. )). !ari data di atas menunjukkan adanya
peningkatan insiden kejadian sebesar 0;).
&umlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai % ' () dari jumlah
penduduk di *S, *merika Selatan, dan +ropa ,arat. -amun di *sia dilaporkan
penderitanya lebih tinggi. Sekitar %.) di antara jumlah penderita mengalami kejang
demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. ,ila dilihat jenis kelamin
penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki/laki.
3
&.1 Etiolo*i
+tiologi dan pathogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan
tetapi umur anak, tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang.
aktor hereditas juga mempunyai peran yaitu 1/%%) anak yang mengalami kejang
demam mempunyai orang tua dengan riwayat kejang demam pasa masa kecilnya.
0
Semua jenis infeksi bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan
demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan
kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan atas terutama tonsillitis dan faringitis,
otitis media akut(cairan telinga yang tidak segera dibersihkan akan merembes ke saraf di
kepala pada otak akan menyebabkan kejang demam), gastroenteritis akut, e<antema
subitum dan infeksi saluran kemih. Selain itu, imunisasi !P= (pertusis) dan campak
(morbili) juga dapat menyebabkan kejang demam.
4
&.! ato5isiolo*i
;
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
>?
%
dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid
dan permukaan luar yaitu ionik. !alam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui
dengan mudah oleh ion kalium (K
@
) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (-a
@
) dan
elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (>l
/
). *kibatnya konsentrasi ion K
@
dalam sel
neuron tinggi dan konsentrasi -a
@
rendah, sedang di luar sel neuron terdapat keadaan
sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka
terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron.
9ntuk menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan en$im
-a/K *=P/ase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh A
• Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
• 8angsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran
listrik dari sekitarnya
• Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu #
o
> akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal #./#2 ) dan kebutuhan oksigen akan meningkat %.). Pada anak 0 tahun sirkulasi
otak mencapai 42 ) dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya
#2 ). ?leh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran
sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion
4
natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Bepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan
CneurotransmitterD dan terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari
#2 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk
kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat
disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang
tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas
otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.
&." Klasi5i.asi
7enurut 3katan !okter *nak 3ndonesia, membagi kejang demam menjadi dua
(
#. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)
/ ,erlangsung singkat
/ 9mumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu E #2 menit
/ ,angkitan kejang tonik, tonik/klonik tanpa gerakan fokal
/ =idak berulang dalam waktu %( jam
%. Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut)
/ Kejang berlangsung lama, lebih dari #2 menit
/ Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan
kejang parsial
/ Kejang berulang % kali atau lebih dalam %( jam, anak sadar kembali di antara
bangkitan kejang.
&.$ Mani5estasi Klinis
1
=erjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan
saraf pusat, otitis media akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain/lain. Serangan kejang
biasanya terjadi dalam %( jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat
5
bangkitan dapat berbentuk tonik/klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. 9mumnya
kejang berhenti sendiri. -amun anak akan terbangun dan sadar kembali setelah beberapa
detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik.
"ejala yang timbul saat anak mengalami kejang demam antara lain A anak
mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara
tiba/tiba), kejang tonik/klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 0. detik/
2 menit (hampir selalu terjadi pada anak/anak yang mengalami kejang demam). Kejang
dapat dimulai dengan kontraksi yang tiba/tiba pada otot kedua sisi tubuh anak. Kontraksi
pada umumnya terjadi pada otot wajah, badan, tangan dan kaki. *nak dapat menangis
atau merintih akibat kekuatan kontaksi otot. *nak akan jatuh apabila dalam keadaan
berdiri.
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya
berlangsung selama #./%. detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat
dan berirama, biasanya berlangsung selama #/% menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi
atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar
kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.
Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam gejala seperti A
#. *nak hilang kesadaran
%. =angan dan kaki kaku atau tersentak/sentak
0. Sulit bernapas
(. ,usa di mulut
2. Fajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan
4. 7ata berputar/putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat.
&.6 Dia*nosis
$7%7('
!iagnosis kejang demam dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyakit/
penyakit lain yang dapat menyebabkan kejang, di antaranyaA infeksi susunan saraf pusat,
perubahan akut pada keseimbangan homeostasis, air dan elektrolit dan adanya lesi
structural pada system saraf, misalnya epilepsi. !iperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik,
6
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang yang menyeluruh untuk
menegakkan diagnosis ini.
#. *namnesis
/ waktu terjadi kejang, durasi, frekuensi, interGal antara % serangan kejang
/ sifat kejang (fokal atau umum)
/ ,entuk kejang (tonik, klonik, tonik/klonik)
/ Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosis
meningoensefalitis)
/ 8iwayat demam ( sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau
naik turun)
/ 7enentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (3SP*, ?7*, "+)
/ 8iwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai
demam atau epilepsi)
/ 8iwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
/ 8iwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
/ =rauma kepala
%. Pemeriksaan fisik
/ =anda Gital terutama suhu
/ 7anifestasi kejang yang terjadi, misal A pada kejang multifokal yang berpindah/
pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur
otak.
/ Kesadaran tiba/tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoGentilasi,
henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif,
dan terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan
intraGentikular.
7
/ Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang
disebabkan oleh trauma. 9bun 'ubun besar yang tegang dan membenjol
menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh
pendarahan sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran
menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel
enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.
/ =erdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang
mungkin disertai gangguan perkembangan korte< serebri.
/ =ransluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan
subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
/ Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam
(3SP*, ?7*, "+)
/ Pemeriksaan refleks patologis
/ Pemeriksaan tanda rangsang meningeal (menyingkirkan diagnosis
meningoensefalitis)
0. Pemeriksaan laboratorium
/ !arah tepi lengkap
/ +lektrolit, glukosa darah. !iare, muntah, hal lain yang dpt mengganggu
keseimbangan elektrolit atau gula darah.
/ Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal untuk mendeteksi gangguan metabolisme
/ Kadar =- alfa, 3B/# alfa H 3B/4 pada >SS, jika meningkat dapat dicurigai
+nsefalitis akut 6 +nsefalopati.
(. Pemeriksaan penunjang
/ Bumbal Pungsi jika dicurigai adanya meningitis, umur kurang dari #% bulan
sangat dianjurkan, dan umur di antara #%/#1 bulan dianjurkan.
8
/ ++", tidak dapat mengidentifikasi kelainan yang spesifik maupun memprediksi
terjadinya kejang yang berulang, tapi dapat dipertimbangkan pada K!K. =etapi
beberapa ahli berpendapat ++" tidak sensitif pada anak E 0 tahun.
/ >=/scan atau 783 hanya dilakukan jika ada indikasi, misalnyaA kelainan
neurologi fokal yang menetap (hemiparesis) atau terdapat tanda peningkatan
tekanan intrakranial.
&.8 Dia*nosis 2andin*
1
7enghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus
dipikirkan apakah penyebab kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat. Kelainan
di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak, dan
lain/lain.oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan
organis di otak.
7enegakkan diagnosa meningitis tidak selalu mudah terutama pada bayi dan
anak yang masih muda. Pada kelompok ini gejala meningitis sering tidak khas dan
gangguan neurologisnya kurang nyata. ?leh karena itu agar tidak terjadi kekhilafan yang
berakibat fatal dapat dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal yang umumnya diambil
melalui pungsi lumbal.
,aru setelah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang
demam atau epilepsi yang dproGokasi oleh demam.
=abel !iagnosa ,anding
No Kriteri 2andin* Ke9an* Demam E-ile-si Menin*itis
Ense5alitis
#. Kejang Pencetusnya
demam
=idak berkaitan
dengan demam
Salah satu gejalanya
demam
%. Kelainan ?tak :0; :<; :<;
0. Kejang berulang :<; :<; :<;
(. Penurunan kesadaran :<; :0; :<;
&.% enatala.sanaan
!7('
!alam penanggulangan kejang demam ada ( faktor yang perlu dikerjakan, yaitu A
9
#. 7engatasi kejang secepat mungkin
,iasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu datang, kejang sudah
berhenti. *pabila pasien dating dalam keadaan kejang, obat paling cepat untuk
menghentikan kejang adalah dia$epam yang diberikan secara intraGena dengan dosis .,0/
.,2 mm6kg,, perlahan/lahan dengan kecepatan #/%mg.menit atau dalam waktu 0/2
menit. ?bat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua di rumah atau yang sering
digunakan di rumah sakit adalah dia$epam rektal. !osis dia$epam rektal adalah .,2/.,;2
mg6kg,, atau dia$epam rektal 2 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari #. kg,
dan #. mg untuk berat badan lebih dari #.kg. atau dia$epam rektal dengan dosis 2 mg
untuk anak di bawah usia 0 tahun atau ;,2 mg mg untuk anak diatas usia 0 tahun.
&ika kejang masih berlanjut A
#. Pemberian dia$epam .,% mg6kg,, per infus diulangi. &ika belum terpasang
selang infus, .,2 mg6kg per rektal
%. Pengawasan tanda/tanda depresi pernapasan
&ika kejang masih berlanjut A
#. Pemberian fenobarbital %./0. mg6kg,, per infus dalam 0. menit
%. Pemberian fenitoin #./%.mg6kg,, per infus dalam 0. menit dengan kecepatan #
mg6kg,,6menit atau kurang dari 2.mg6menit.
&ika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang
perawatan intensif dengan thiopentone dan alat bantu pernapasan. ,ila kejang telah
berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam sederhana atau
kompleks dan faktor risikonya.
%. Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang dapat dilakukan dengan memonitor jalan nafas,
pernafasan, sirkulasi dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sebaiknya semua pakaian
ketat dibuka, posisi kepala dimiringkan untuk mencegah aspirasi lambung. Penting sekali
mengusahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi terjamin, kalau perlu dilakukan
intubasi atau trakeostomi. Pengisapan lender dilakukan secara teratur dan pengobatan
ditambah dengan pemberian oksigen. >airan intaGena sebaiknya diberikan dan dimonitor
10
sekiranya terdapat kelainan metabolik atau elektrolit. ungsi Gital seperti kesadaran, suhu,
tekanan darah, pernafasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat.
Pada demam, pembuluh darah besar akan mengalami Gasodilatasi, manakala
pembuluh darah perifer akan mengalami Gasokontrisksi. Kompres es dan alkohol tidak
lagi digunakan karena pembuluh darah perifer bisa mengalami Gasokontriksi yang
berlebihan sehingga menyebabkan proses penguapan panas dari tubuh pasien menjadi
lebih terganggu. Kompres hangat juga tidak digunakan karena walaupun bisa
menyebabkan Gasodilatasi pada pembuluh darah perifer, tetapi sepanjang waktu anak
dikompres, anak menjadi tidak selesa karena dirasakan tubuh menjadi semakin panas,
anak menjadi semakin rewel dan gelisah. 7enurut penelitian, apabila suhu penderita
tinggi (hiperpireksi), diberikan kompres air biasa. !engan ini, proses penguapan bisa
terjadi dan suhu tubuh akan menurun perlahan/lahan. =idak ditemukan bukti bahwa
penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang demam, namun para ahli di
3ndonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. !osis parasetamol yang
digunakan adalah #. ' #2 mg6kg,,6kali diberikan ( kali sehari dan tidak lebih dari 2
kali. !osis ibuprofen 2 ' #. mg6kg,,6kali, 0 ' ( kali sehari.
0. 7emberikan pengobatan rumat
Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara
mengirim penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. Kejang
demam kompleks merupakan salah satu indikasi seorang pasien untuk dirawat di rumah
sakit selain adanya hiperpireksia, pasien E 4 bulan, kejang demam yang pertama kali, dan
terdapat kelainan neurologis. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaituA
• Profilaksis intermitten
9ntuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam
diberikan obat campuran anti konGulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada
anak selama episode demam. *ntipiretik yang diberikan adalah paracetamol dengan dosis
#./#2mg6kg6kali diberikan ( kali sehari atau ibuprofen dengan dosis 2/#.mg6kg6kali, 0/(
kali sehari. *ntikonGulsan yang ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah
terulangnya kejang demam ialah dia$epam, baik diberikan secara rectal dengan dosis 2
mg pada anak dengan berat di bawah #.kg dan #. mg pada anak dengan berat di atas
#.kg, maupun oral dengan dosis .,0 mg6kg setiap 1 jam pada saat tubuh I 01,2
.
>.
11
Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk
menderita kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur ( tahun.
enobarbital, karbama$epin dan fenition pada saat demam tidak berguna untuk mencegah
kejang demam.
• Profilaksis jangka panjang
Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik
yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di
kemudian hari. Pengobatan jangka panjang dapat dipertimbangan jika terjadi hal berikutA
#. Kejang demam I % kali dalam %( jam
%. Kejang demam terjadi pada umur E #% bulan
0. Kejang demam I ( kali per tahun
?bat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialahA
#). enobarbital
!osis (/2 mg6kg,,6hari. +fek samping dari pemakaian fenobarbital jangka
panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan kadang/
kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur.
%). Sodium Galproat 6 asam Galproat
!osisnya ialah %./0. mg6kg,,6hari dibagi dalam 0 dosis selama #/% tahun dan
dihentikan secara bertahap selama #/% bulan. +fek samping yang dapat terjadi adalah
gejala toksik berupa rasa mual, kerusakan hepar, pankreatitis.
0). enitoin
!iberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat
berupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. 5asilnya tidak atau kurang memuaskan.
Pemberian antikonGulsan pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurang/
12
kurangnya 0 tahun seperti mengobati epilepsi. 7enghentikan pemberian antikonGulsi
kelak harus perlahan/lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 0 atau 4 bulan.
(. 7encari dan mengobati penyebab
Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi
traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat
dan kuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut. Secara akademis pada anak dengan
kejang demam yang datang untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi
lumbal. 5al ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya
meningitis. *pabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang
intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya gula
darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.
&. (' ro*nosis
$7((
#. Kematian. !engan penanganan kejang yang cepat dan tepat, prognosa biasanya
baik, tidak sampai terjadi kematian. !alam penelitian ditemukan angka kematian
K!S .,(4 ) s6d .,;( ).
%. =erulangnya Kejang. Kemungkinan terjadinya ulangan kejang kurang lebih %2
s6d 2. ) pada 4 bulan pertama dari serangan pertama.
0. +pilepsi. *ngka kejadian +pilepsi ditemukan %,: ) dari K!S dan :; ) dari
kejang demam kompleks. 8esiko menjadi +pilepsi yang akan dihadapi oleh
seorang anak sesudah menderita K!S tergantung kepada faktor A
a. riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
b. kelainan dalam perkembangan atau kelainan sebelum anak menderita K!S
c. kejang berlangsung lama atau kejang fokal.
,ila terdapat paling sedikit % dari 0 faktor di atas, maka kemungkinan
mengalami serangan kejang tanpa demam adalah #0 ), dibanding bila hanya
didapat satu atau tidak sama sekali faktor di atas.
(. 5emiparesis. ,iasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama
(berlangsung lebih dari setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun
kejang fokal. Kejang fokal yang terjadi sesuai dengan kelumpuhannya. 7ula/
mula kelumpuhan bersifat flacid, sesudah % minggu timbul keadaan spastisitas.
!iperkirakan @ .,% ) K!S mengalami hemiparese sesudah kejang lama.
13
2. 8etardasi 7ental. !itemuan dari (0# penderita dengan K!S tidak mengalami
kelainan 3J, sedang kejang demam pada anak yang sebelumnya mengalami
gangguan perkembangan atau kelainan neurologik ditemukan 3J yang lebih
rendah. *pabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam,
kemungkinan menjadi retardasi mental adalah 2< lebih besar.
RESEN4ASI OR4O=O+IO
ROGRAM IN4ERNSHI DOK4ER INDONESIA
RS3D >ONOSARI
Identitas -asien
-ama Pasien A *n 8* 6 %:1:%:
9mur A % tahun # bulan
&enis Kelamin A Perempuan
*gama A 3slam
Suku A &awa
=anggal masuk 8S A #16.06%.#0
*lamat A Selang, Selang, Fonosari
14
Anamnesis
Di)eri.an Oleh A 3bu kandung pasien
Keluhan 3tama
Kejang saat #6% jam S78S
Riwa,at en,a.it Se.aran*
• Sejak # hari S78S, pasien mengalami demam yang mendadak tinggi. !i rumah
sudah diberi paracetamol syrup oleh ibu pasien, demam turun tetapi kemudian
naik kembali, demam tidak pernah turun menjadi normal. Selain demam, ibu
pasien mengeluhkan anaknya juga batuk, batuk berdahak. Pilek (/), sesak nafas
(/), mencret (/), muntah (/), bintik/bintik merah dikulit (/), nyeri pada telinga6
keluar sekret dari telinga (/).
• #6% jam S78S pasien mengalami kejang disertai demam. Kejang dimulai dari
tangan dan kaki pasien yang tampak menegang dan kaku, lalu kedua mata tampak
melirik ke atas, dan seluruh badan tampak kaku. Bama kejang menurut ibu pasien
K # menit. Selama bangkitan kejang, pasien tidak menoleh saat dipanggil oleh
ibunya. Setelah kejang selesai, pasien sadar kembali dan menangis kuat.
Kemudian pasien segera dibawa ibunya ke 3"! 8S9! F-? untuk
memeriksakan keadaan pasien. !i 3"!, pasien tidak mengalami kejang tetapi
masih demam (0:
o
>).
Riwa,at en,a.it Dahulu
• =rauma kepala (/)
• 8iwayat kejang saat demam disangkal
• 8iwayat kejang saat tidak demam6 epilepsi (/)
Riwa,at en,a.it Keluar*a
• =idak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien.
• 8iwayat epilepsi (/).
Riwa,at Kehamilan
15
• Pasien lahir cukup bulan, secara spontan ditolong oleh bidan ,,B 0.2.. gram,
lahir langsung menangis kuat.
• 3bu pasien rutin memriksakan kehamilan ke bidan
• 8iwayat ibu mengkonsumsi alkohol (/), obat/obatan (/), merokok (/), jamu/
jamuan (/),
• =idak ada riwayat demam selama kehamilan.
Riwa,at Ma.an Dan Minum
• . ' 4 bln A *S3
• 4/#. bln A *S3 @ P*S3 (bubur tepung)
• #. bulan/# thn A susu formula @ nasi tim
• # thn/ sekarang A nasi lauk sayur 0 < sehari @ susu formula
Riwa,at Imunisasi
• 3munisasi lengkap hingga usia : bulan.
Riwa,at -ertum)uhan 5isi.
• 7erangkak usia 1 bulan
• ,erusaha berdiri usia : bulan
• ,erjalan sendiri usia # tahun.
KesanA pertumbuhan fisik sesuai umur
Riwa,at ertum)uhan Mental
• Senyum spontan usia 0 bulan
• 7enolah saat di panggil namanya saat usia # tahun
KesanA pertumbuhan mental sesuai umur
EMERIKSAAN =ISIK
Status Generalis
• Keadaan umum A tampak sakit
• Kesadaran A Komposmentis
• Lital Sign A
16
 -adi A #..<6mnt reguler, cukup
 -afas A 01<6mnt, reguler
 Suhu A 0;,1
o
>
• ,, A #. kg
• Status gi$i A kesan baik
• Kulit A Pucat (/), sianosis (/), ikterik (/)
• Kepala A 99, sudah menutup, normosefal.
• 8ambut A 5itam, ikal, tidak mudah dicabut.
• 7ata
/ KonjungtiGa A *nemis (/6/)
/ Sclera A =idak ikterik
/ Pupil A ,ulat, isokhor 0 mm6 0 mm Ɵ
/ 8eflek cahaya A @6@
• =elinga A Sekret /6/
• 5idung A Sekret /6/, tidak ada tanda/tanda perdarahan
• 7ulut
/ ,ibir A ,asah
/ Selaput lendir A ,asah
/ Palatum A 9tuh
/ Bidah A =idak kotor
/ "igi A =idak ada karies
/ =onsil A =#/=#, hiperemis (/)
/ aring A hiperemis (/)
• Pemeriksaan leher A
/ pembesaran K", tidak ada
/ Kaku kuduk tidak ditemukan.
• Pemeriksaan =horaks A
/ Paru A 3nspeksi gerakan dada simetris kiri dan kanan,retraksi(K)
Palpasi  fremitus kananMkiri
Perkusi sonor seluruh lapangan paru
*uskultasi bronkhoGesikuler, ronki@6@, whee$ing /6/
/ &antung A 3nspeksi ictus cordis tidak terlihat
*uskultasi bunyi jantung normal, bising jantung (/).
17
• Pemeriksaan *bdomen A
/ 3nspeksi datar, distensi (/), Genektasi (/)
/ Palpasi  supel, organomegali (/)
/ Perkusi  tympani
/ *uskultasi bising usus (@), normal.
• Pemeriksaan +kstremitas A 8>= E % detik, akral hangat.
• S=*=9S -+8?B?"3S
=anda 8angsang meningeal A kaku kuduk (/), burd$inski 3 (/), burd$inski 33 (/),
kerniNue (/), laseNue (/)
8efleks Patologis A babinski (/)
?penheim (/)
8efleks fisiologis A refleks biseps @6@
8efleks triseps @6@
8efleks patella @6@
8efleks achilles @6@
Hasil -emeri.saan la)oratorium
:(8 maret &'(1;
Darah Rutin
5bA #%,: gr6dl
Beukosit A;.%.. 6mm
K+!6,,S A %.6(.
=rombosit A (0%....6mm
5t A 0; )
5emogram A .6.6#64#6046%
"ol darah A ?
"!SA #%( mg6dl
:&' maret &'(1;
*= A 0......
5mt A 0()
:&& maret &'(1;
5bA ##,4 gr6dl
Beukosit A 2.4..6mm
18
=rombosit A %.(....6mm
5t A 0( )
5emogram A .6.6#6;06%26%
Fidal A S typi ?M @ #6#%1.
Hal0hal entin* dari Anamnesis
• #6% jam S78S pasien mengalami kejang disertai demam.
• Kejang dimulai dari tangan dan kaki pasien yang tampak menegang dan kaku,
lalu kedua mata tampak melirik ke atas, dan seluruh badan tampak kaku.
• Bama kejang K # menit.
• Selama bangkitan kejang, pasien tidak menoleh saat dipanggil oleh ibunya.
• Setelah kejang selesai, pasien sadar kembali dan menangis kuat.
• 8iwayat demam yang mendadak tinggi sejak # hari S78S.
• !i rumah sudah diberi paracetamol syrup oleh ibu pasien, demam turun tetapi
kemudian naik kembali, demam tidak pernah turun menjadi normal.
• Selain demam, ibu pasien mengeluhkan anaknya juga batuk produktif.
Hal0hal entin* dari emeri.saan =isi.
Kesadaran composmentis, suhuA 0;,1
.
>, 88A 01<6mnt, rhonki basah paru de< et sn (@),
rangsang meningeal (/), refleks fisiologis (@), refleks patologis (/).
Hal0 hal ,an* -entin* la) rutin.
5emogram A .6.6#6;06%26%
Fidal A S typi ?M @ #6#%1.
Dia*nosis Ker9a:
Kejang demam sederhana e.c bronchopnemoni et thypus abdominalis
Dia*nosis Gi?i :
"i$i baik
Dia*nosis 2andin* :
+pilepsi
7eningoensepalitis
19
Ren@ana emeri.saan +an9utan
+lektrolit darah
Pungsi Bumbal
enatala.sanaan
?% % lpm
3L! K*+- 0* #% tpm
Paracetamol syrup #%. mgA (<# cth
*mo<ycillin 0 < O tab
Salbutamol 0 < # mg
Stesolid #. mg per rectal k6p
!ia$epam % mg t
o
P 01
o
ro*nosis
Auo ad vitam : dubia ad bonam
Auo ad 5un*sionam : dubia ad bonam
=ollow u-
(8 Maret &'(1
S A !emam (@) naik turun, nafsu makan menurun, batuk berdahak (@), kejang (/)
? A -adi A #%.<6mnt
Suhu A 0:,1
.
>
* A Kejang !emam Sederhana
?bs. ebris h/%
,ronkopnemonia
P A ?% % lpm
3L! K*+- 0* #. tpm makro
Paracetamol syrup #%. mgA (<# cth
!umin6 paracetamol supp #.. mg bila t
o
P 01,2
o
>
Stesolid #. mg per rectal k6p
!ia$epam 0 < % mg bila t
o
P 01
o
>
*mbro<ol 0 < Q cth
&ika *B P #....., injeksi Giccilin ( < %#. mg (skin test)
20
(% Maret &'(1
S A !emam (@) naik turun, kejang (/),
? A -adi A #..<6mnt
Suhu A 0;,;
.
>
* A Kejang !emam Sederhana
?bs. ebris hari ke 0
,ronkopnemonia
P A =< lanjut
&' Maret &'(1
S A !emam (@) naik turun, kejang (/), batuk (@) berdahak, muntah #<,
? A -adi A #..<6mnt
-afas A 0.<6mnt
Suhu A (.,2
.
>
* A Kejang !emam Sederhana
?bs febris h (
,ronkopnemonia
P A 3nf 8B #%/#( tpm
!umin supp #%2 mg64 jam
!ia$epam % <0 mg
3nj ?ndancetron 0 < #6( *mp
=< lain lanjut
&( Maret &'(1
S A !emam (@) naik turun, kejang (/), batuk (@) berdahak, mengi, muntah (/)
? A -adi A ##.<6mnt
Suhu A 0:,%
.
>
Fhee$ing @6@
* A Kejang !emam Sederhana
?bs febris h 2
,ronkopnemonia
P A =< lanjut
-ebuli$er Gentolin Q amp @ %,% cc -a>l pagi ini
Salbutamol .,1 mg @ *mbro<ol O tab 0 < #
21
>etiti$ine # < cth Q
>ek lab ulang 5b, *B, *=, 5mt, widal dan urine rutin
&& Maret &'(1
S A !emam, batuk ngikil, muntah
? A -adi A #..<6mnt
Suhu A 01,(
.
>
Krepitasi @6@
Fidal @ #6#%1.
* A Kejang !emam Sederhana
,ronkopnemonia
=hypus *bdominalis
P A ?%
3nj ?ndancetron 0 < O *mp
3nj >eftria<on % < (.. mg (skin test M alergi)
"anti 3nj. >hloramphenicol ( < %2. mg
=< lain lanjut
EM2AHASAN KAS3S
Penegakan diagnosis kejang demam sederhana dilakukan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
!ari anamnesis didapatkan, pasien mengalami kejang saat demam sebanyak # < dalam
waktu %( jam, dengan lama kejang E #2 menit yaitu K# menit dan kejang yang dialami
bersifat umum. 5al ini sesuai dengan kriteria diagnosis kejang demam sederhana yaitu A
Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)
/ ,erlangsung singkat
/ 9mumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu E #2 menit
/ ,angkitan kejang tonik, tonik/klonik tanpa gerakan fokal
Selama kejang pasien tidak sadar dan pasien sadar setelah mengalami kejang. Keadaan ini
dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosis meningoensefalitis begitu juga dengan
tidak ditemukannya tanda rangsang meningeal pada pemeriksaan fisiknya.
Selain itu pasien juga tidak mempunyai riwayat kejang pada saat tidak demam dan
riwayat kejang dalam keluarga serta riwayat gangguan neurologis untuk menyingkirkan
22
diagnosis epilepsi. 8iwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan dan trauma
kepala pun disangkal.
!ari anamnesis lainnya didapatkan bahwa selain demam pasien juga menderita
batuk yang produktif. Kemudian dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan rhonki basah
pada kedua lapang paru dan juga frekuensi nafas pasien lebih cepat dari normal sehingga
ada kemungkinan penyakit yang mendasari demam pasien adalah bronkopnemoni. =idak
adanya kaku kuduk, rangsang meningeal, refleks patologis menunjukkan penyebab
kejang demam pada pasien tidak disebabkan oleh proses intrakranial walaupun hal ini
harus dipastikan lebih lanjut dengan pemeriksaan pungsi lumbal.
!ari pemeriksaan penunjang darah rutin yang penting menunjukkan adanya
infeksi salmonella thypi ? dengan nilai sebesar #6#%1...
Sehingga dapat disimpulkan pasien menderita Kejang !emam Sederhana et causa
,ronkopnemoni dan =hypus *bdominalis.
Penatalaksanaan pasien ini pemberian cairan infus K*+- 0*. 5al ini untuk
memberikan kebutuhan glukosa, cairan, dan elektrolit pada pasien yang saat demam,
tidak terpenuhi asupannya. Pasien masuk keruangan bangsal dalam keadaan tidak kejang
lagi, sehingga diberikan obat anti kejang profilaksis jika suhu P01
o
> yaitu dia$epam
dengan dosis .,0mg6kg,, setiap 1 jam untuk oral atau .,2 mg6kg,, setiap 1 jam untuk
rektal. Karena ,, pasien #. kg dosis dia$epam yg diberikan adalah 0mg61 jam per oral.
Selain itu diberikan paracetamol (<#%. mg, tetapi jika suhu P 01,2
o
> diberikan
paracetamol supp untuk mencegah kejang berulang karena demam. Pada keadaan demam
kenaikan suhu #
o
> akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal #./#2 ) dan
kebutuhan oksigen akan meningkat %.). Pada anak 0 tahun sirkulasi otak mencapai 42 )
dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya #2 ). ?leh karena itu
kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam
waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya
lepas muatan listrik. Bepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas
ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan CneurotransmitterD dan
terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari #2 menit) biasanya
disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet
yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan
suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan
mengakibatkan metabolisme otak meningkat.
23
*mbro<ol diberikan sebagai mukolitik karena pasien batuk produktif dan
diberikan nebuli$er Gentolin serta salbutamol sebagai bronkodilator untuk mengurangi
sesak (whee$ing) yang dialami pasien karena bronkopnemonia.
Pada pasien juga diberikan antibiotik. *ntibiotik yang diberikan semula adalah
ceftria<on yaitu antibiotik golongan cefalosporin generasi 333. -amun pada skin test
menunjukan alergi sehingga antibiotik diganti dengan chloramhenicol. *ntibiotik ini
adalah antibiotik lini pertama pada penyakit thypus sehingga dipilih untuk pasien
menggantikan antibiotik yang pertama. !iharapkan dengan pemberian antibiotik tersebut
dapat mengatasi penyebab demam yang diderita pasien.
DA=4AR 3S4AKA
#. 5aslam 8obert 5. *. Sistem Saraf, dalam 3lmu Kesehatan *nak -elson, Lol. 0,
+disi #2. Penerbit ,uku Kedokteran +">, &akarta. %...; RRL33 A %.2: ' %.4.
24
%. 5endarto S. K. Kejang !emam. Subbagian Saraf *nak, ,agian 3lmu Kesehatan
*nak, akultas Kedokteran 9niGersitas 3ndonesia, 8S>7, &akarta. >ermin !unia
Kedokteran -o. %;. #:1% A 4 ' 1.
0. ,ehrman dkk, (e.d ,ahasa 3ndonesia), 3lmu Kesehatan *nak. +disi #2, +">,
%.... 5al %.2:/%.4;.
(. Pusponegoro 5!, Fidodo !P, Sofyan 3. Konsensus Penatalaksanaan Kejang
!emam. 9nit Kerja Koordinasi -eurologi 3katan !okter *nak 3ndonesia,
&akarta. %..4 A # ' #(.
2. Price, SylGia, *nderson. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses/Proses Penyakit.
+">, &akarta %..4.
6. Febrile Seizures: Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment. !iunduh pada
tanggal %0 *pril %.#%. !idapatkan dariA
www.medicinenet.com6febrileSsei$ures6article.htm
;. 7ary 8udolf, 7alcolm BeGene. Pediatric and Child Health. +disi ke/%.
,lackwell pulblishing; %..4. 5al ;%/:..
1. 8udolph *7. Febrile Seizures. Rudoplh Pediatrics. +disi ke/%.. *ppleton dan
Bange, %..%
:. Pudjaji *5, 5egar ,, 5andryastuti, 3dris -S, "andaputra +P, 5armoniati +!.
Pedoman pelayanan medis. 3katan !okter *nak 3ndonesia; &akarta. %.#.. h. #2./
%.
#.. 7inistry of health serGice. "uidelines and protocols febrile sei$ure. ,ritish
columbia medical association. %.#..
##. Febrile Seizures Fact Sheets: National nstitutes o! Neurology and Stro"e
!iunduh pada tanggal %0 *pril %.#%. !idapatkan dariA
www.ninds.nih.goG6disorders6febrileSsei$ures6detailSfebrileSsei$ures.htm
25