You are on page 1of 11

Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.

Pertamedika
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram (berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah
lahir).
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah : bayi baru lahir yang berat
badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus
dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram
disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants
( BBLR).
Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah
dapat dibagi menjadi 2 golongan :
a. Prematuritas murni
Prematuritas murni adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan kurang
dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan
untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan–Sesuai Masa
Kehamilan ( NKB- SMK).
b. Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm,
term, dan post term. Dismatur ini dapat juga digolongkan : Neonatus
Kurang Bulan–Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus
Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NCB-KMK), dan Neonatus Lebih
Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK).
Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah
dibedakan dalam:
a. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), beratlahir 1500-2499 gram.
b. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram.
c. Bayi Berat Lahir Ekstrim rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gram.



Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika
Berdasarkan berat badan menurut usia kehamilan dapat digolongkan:
a. Kecil Masa Kehamilan (KMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB dibawah
persentil ke-10 kurva pertumbuhan janin.
b. Sesuai Masa Kehamilan (SMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB diantara
persentil ke-10 dan ke-90 kurva pertumbuhan janin.
c. Besar Masa Kehamilan (BMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB diatas
persentil ke-90 pada kurvapertumbuhan janin.

2. Etiologi
a. Faktor Ibu :
1) Paritas
2) Infertilitas
3) Abortus spontan sebelumnya
4) Bahan teratogonik (alkohol, radiasi, obat)
5) Penyakit kronis
6) Keadaan penyebab Infusifiensi plasenta (penyakit jantung, ginjal,
paru, hipertensi, dll)
b. Faktor Plasenta
1) Penyakit Vaskuler
2) Kehamilan ganda
3) Malformasi
4) Tumor
c. Faktor Janin
1) Kelainan kromosom
2) Malformasi
3) Infeksi kongenital (misal: rubella)
4) Kehamilan ganda
3. Tanda dan Gejala
Gambaran klinis menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh
dengan keadaannya lemah :
a. Fisik
1) Bayi kecil
2) Pergerakan kurang dan masih lemah
3) Kepala lebih besar daripada badan
4) Berat badan < 2500 gram
5) Panjang kurang dari 45 cm
6) Lingkar dada kurang dari 30 cm
7) Lingkar kepala kurang dari 33 cm
Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika

b. Kulit dan kelamin
1) Kulit tipis dan transparan
2) Lanugo banyak
3) Rambut halus dan tipis
4) Genitalia belum sempurna

c. Sistem syaraf
1) Refleks moro
2) Refleks menghisap, menelan, batuk belum sempurna

d. Sistem muskuloskeletal
1) Axifikasi tengkorak sedikit
2) Ubun-ubun dan sutura lebar
3) Tulang rawan elastis kurang
4) Otot-otot masih hipotonik
5) Tungkai abduksi
6) Sendi lutut dan kaki fleksi
7) Kepala menghadap satu arah

e. Sistem pernafasan
1) Pernafasan belum teratur sering apneu
2) Frekuensi nafas bervariasi









Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika


4. Patofisiologi














Etiologi
Faktor Plasenta
BBLR/BLSR
Faktor Ibu
Faktor Janin
Faktor Plasenta
Prematuritas
Jaringan lemak
sub kutan lebih tipis
Permukaan tubuh
Relatif lebih luas
Penguapan
berlebih
Pemaparan
dengan suhu luar
Kehilangan
cairan
Kehilangan
panas
Dehidrasi Hipotermia
Kehilangan panas
melalui kulit
Kekurangan
cadangan energi
Malnutrisi
Hipoglikemi
Penurunan
daya tahan
Risiko infeksi
Hati Usus Ginjal Otak Mata Kulit
Konjugasi
bilirubin blm
baik
Hiper
bilirubin
Ikterus
Dinding
lambung
lunak
Periltastik
belum
sempurna
Mudah
kembung
Pengosongan
lambung
belum baik
Imaturitas
Ginjal
Tak mampu
mempertahankan
keseimbanagn
cairan elektrolit
Imaturitas
sentrum2
Vital
-Imaturitas
Lensa mata
-Sekunder Regulasi
Pernafasan
Pernafasan
Periodic
Pernafasan
Biot
Retrolentral
Fibroplasia
Retinopaty
Halus
mudah lecet
Paru
-Pertumbuhan ddg
dada blm sempurna
-Vaskuler Paru imatur
Insuf.
Pernafasan
Defesiensi
surfaktan
Fungsi organ-organ belum baik
Pola nafas
tidak efektif
Reflek menelan
blm sempurna
Risiko ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
System imun
belum sempurna
Imaturitas
jari.kulit
Ventilasi
alveolar kurang
Kerusakan
pertukaran gas
Risiko kerusakan
integritas kulit
Gangguan
keseimbangan cairan
dan elektrolit
Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-
24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).
b. Hematokrit (Ht) : 43%-61 % (peningkatan sampai 65 % atau lebih
menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragic prenatal/perinatal).
c. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan
anemia atau hemolisis berlebihan).
d. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan
12 mg/dl pada 3-5 hari.
e. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran
rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.
f. Pemantauan elektrolit (Na, K, Cl) : biasanya dalam batas normal pada
awalnya.
g. Pemeriksaan Analisa gas darah.

6. Penatalaksanaan
a. Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin prematur bayi, maka semakin besar
perawatan yang diperlukan karena kemungkinan terjadi serangan sianosis
lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam inkubator.
b. Pengaturan suhu tubuh
Bayi dengan berat lahir rendah mempunyai kesulitan dalam mempertahankan
suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan jika suhu rektal
dipertahankan antara 35,5
0
c s/d 37
0
c.
Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu
normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolik yang minimal. Bayi
berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka juga memerlukan
pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25
0

C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram dan sampai 30
0
C untuk bayi
dengan berat kurang dari 2000 gram.

Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika
c. Penggunaan inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah harus dirawat didalam inkubator.
Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“.
Sebelum memasukkan bayi kedalam inkubator, terlebih dahulu dihangatkan
sampai suhu sekitar 29,4
0
C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,2
0
C
untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini
memungkinkan pernafasan yang adekuat bayi dapat bergerak tanpa dibatasi
pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.
d. Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm
BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O
2
yang
diberikan sekitar 30-35% dengan menggunakan head box, konsentrasi O
2

yang tinggi terlalu lama menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi
yang dapat menimbulkan kebutaan.
e. Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah mempunyai sistem imunologi yang kurang
berkembang, mereka mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan
terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun
khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi.
f. Pemberian nutrisi
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah
terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama,
dapat diberikan melalui kateter (sonde), terutama pada bayi yang reflek hisap
dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relatif memerlukan
lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.
Petunjuk untuk volume susu yang diperlukan
Umur/hari Jmlh ml/kg BB
1 50- 65
2 100
3 125
4 150
5 160
6 175
7 200
Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika
14 225
21 175
28 150

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian dasar neonates
a. Aktivitas/ istirahat
Bayi sadar mungkin 2-3 jam, beberapa hari pertama tidur sehari rata-rata 20
jam.
b. Pernafasan
Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria atau
presentasi bokong.
Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan
abdomen, perhatikan adanya sekret yang mengganggu pernafasan, mengorok,
pernafasan cuping hidung,
c. Makanan/cairan
Berat badan rata-rata 2500-4000 gram, kurang dari 2500gr menunjukkan kecil
untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan
dehidrasi harus diberi infus. Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena
refleks menelan BBLR belum sempurna, kebutuhan cairan untuk bayi baru
lahir 120-150ml/kg BB/ hari.
d. Berat badan
Kurang dari 2500 gram
e. Suhu
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus
dipertahankan.
f. Integumen
Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan
kering.

Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru
b. Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap
defisiensi surfaktan
c. Resiko ketidakseimbangan volume cairan b/d ketidakmampuan ginjal
mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya
persediaan zat besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang
adekuat
e. Hipotermia b/d imaturitas fungsi termoregulasi atau perubahan suhu
lingkungan
f. Resiko infeksi b/d imaturitas fungsi imunologik
g. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d imaturitas struktur kulit





Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan
1.




2.

Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya
ekspansi paru



Kerusakan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi
alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan

Pola nafas efektif
Kriteria :
 Kebutuhan oksigen menurun
 Nafas spontan, adekuat
 Tidak sesak.

Pertukaran gas adekuat
Kriteria :
 Tidak sianosis.
 Analisa gas darah normal
 Saturasi oksigen normal.

 Berikan posisi kepala sedikit ekstensi
 Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
 Observasi irama, kedalaman dan frekuensi
pernafasan

 Lakukan isap lendir kalau perlu
 Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
 Observasi warna kulit
 Ukur saturasi oksigen
 Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
 Lapor dokter apabila terdapat tanda-tanda
perburukan pernafasan
 Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas
darah
 Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan

3.






4.






5.
Resiko ketidakseimbangan volume cairan b/d
ketidakmampuan ginjal mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit




Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d tidak adekuatnya persediaan zat besi,
kalsium, metabolisme yang tinggi, intake yang
kurang adekuat



Hipotermia b /d imaturitas fungsi termoregulasi
atau perubahan suhu lingkungan
Hidrasi baik
Kriteria:
 Turgor kulit elastik
 Tidak ada edema
 Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam
 Elektrolit darah dalam batas normal

Nutrisi adekuat
Kriteria :
 Berat badan naik 10-30 gram / hari
 Tidak ada edema
 Protein dan albumin darah dalam batas
normal

Suhu bayi stabil
 Suhu 36,5
0
C -37,2
0
C
 Observasi turgor kulit.
 Catat intake dan output
 Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena
dan elektrolit
 Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah


 Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat
 Observasi dan catat toleransi minum
 Timbang berat badan setiap hari
 Catat intake dan output
 Kolaborasi dalam pemberian total parenteral
nutrisi kalau perlu

 Rawat bayi dengan suhu lingkungan sesuai
 Hindarkan bayi kontak langsung dengan
Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika




6.










7.










Resiko infeksi b/d imaturitas fungsi imunologik










Resiko kerusakan integritas kulit b/d imaturitas
struktur kulit




 Akral hangat



Bayi tidak terinfeksi
Kriteria :
 Suhu 36,5
0
C -37,2
0
C
 Darah rutin normal







Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Kriteria :
 Tidak ada rash
 Tidak ada iritasi
 Tidak phlebitis


benda sebagai sumber dingin/panas
 Ukur suhu bayi setiap 3 jam atau kalau perlu
 Ganti popok bila basah

 Observasi tanda-tanda vital
 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
dengan bayi
 Hindari bayi dari orang-orang yang terinfeksi
kalau perlu rawat dalam inkubator
 Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik bila
melakukan prosedur invasif
 Lakukan perawatan tali pusat
 Kolaborasi pemeriksaan darah rutin
 Kolaborasi pemberian antibiotika

 Kaji kulit bayi dari tanda-tanda kemerahan,
iritasi, rash, lesi dan lecet pada daerah yang
tertekan
 Gunakan plester non alergi dan seminimal
mungkin
Ubah posisi bayi dan pemasangan elektrode

Laporan pendahuluan keperawatan anak/2012/S.Pertamedika