You are on page 1of 29

17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA

i


17 Tahun Partai Rakyat Demokratik: Sumbangsih
Pemikiran Untuk Indonesia

Penyusun dan Editor: Ulfa Ilyas
Cetakan Pertama, Juli 2013
Lay out : Lukman Hakim




Diterbitkan oleh

Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD)
Jln. Tebet Dalam II G No. 1
Tebet, Jakarta Selatan
Telp/Fax: 021 835 4513
Email: kppprd@yahoo.com
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
ii



17 Tahun Partai Rakyat Demokratik:
SUMBANGSIH PEMIKIRAN
UNTUK INDONESIA




Jakarta, Juli 2013
Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik
(KPP-PRD)

17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
iii


Daftar Isi

Kata Sambutan Politik
Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Agus “Jabo” Priyono
Prakata
Deputi Bidang Kajian dan Bacaan Komite Pimpinan Pusat
Partai Rakyat Demokratik

BAB I
POLITIK
1. Pidato Deklarasi Partai Rakyat Demokratik #2
Budiman Sudjatmiko

2. Mencermati Struktur Organisasi PRD # 13
Arbi Sanit

3. PRD dan Gerakan Komunis # 18
Olle Tornquist

4. Partai Rakyat Demokratik (PRD) #24
YB Mangunwijaya

5. Budiman Berbanding Soekarno # 31
Ariel Heryanto
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
iv

6. Kekuasaan Bisa Berada Di Mana-mana? #35
Edy Haryadi dan Kiswondo

7. Legitimasi Dan Stabilisasi Rezim Transisi # 41
Nezar Patria

8. Gerakan Mahasiswa Kini
*Bersama Rakyat Tuntaskan Reformasi Total # 48
Budiman Sudjatmiko

9. Gerakan Mahasiswa Sebagai “The Rallying Point” # 58
Budiman Sudjatmiko

10. Sisa Orde Baru Dan Reformasi Gadungan # 64
Budiman Sudjatmiko

11. Kinerja MPR/DPR Jauh Dari Semangat Reformasi Total # 68
Budiman Sudjatmiko

12. Pembubaran Parlemen, Lapangkan Reformasi Total # 75
Budiman Sudjatmiko

13. Bahaya Fasisme, Mitos Atau Realitas? # 81
Budiman Sudjatmiko

14. Korupsi, Berhulu Ekonomi, Berhilir Politik # 90
Dita Indah Sari
15. “Common Platform” Gerakan Perempuan # 95
Dita Indah Sari

16. KAA 2005: NEFo Jadi OEFo #101
Dita Indah Sari


17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
v

17. Kibarkan 6 Panji Kemenangan Rakyat! # 107
Dita Indah Sari

18. Kibarkan Panji-Panji Perjuangan Rakyat, Bersama Rakyat
Kita Rebut Kemerdekaan! # 118
Agus “Jabo” Priyono

19. Bukan Sekedar Koreksi Yuridis # 124
Dita Indah Sari

20. Mengobarkan Kembali Perang Kemerdekaan # 128
AJ. Susmana

21. Agus “Jabo” Priyono: Nasionalisme Kita, Berpijak Pada
Rakyat dan Anti Imperialisme # 133
Wawancara Ulfa Ilyas (Redaksi Berdikari Online) dengan
Agus “Jabo” Priyono

22. Enam Puluh Tahun Pasca Revolusi # 140
Dita Indah Sari

23. Kekalahan Para Perempuan di Gelanggang Pemilihan
Kepala Daerah # 144
Ulfa Ilyas

24. Gerakan Mahasiswa Dan Hak Angket # 148
Rudi Hartono

25. Golput Bukan Ancaman # 152
AJ. Susmana

26. Yang Dikorupsi dari Reformasi # 155
AJ. Susmana

17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
vi

27. Membangun Kembali Persatuan Nasional # 160
Dominggus Oktavianus

28. Reformasi Birokrasi Bukan Birokratisasi Reformasi # 170
Dita Indah Sari

29. Militer Sebagai Alat Demokrasi # 175
Dita Indah Sari

BAB II
EKONOMI
30. Negara Dan Utang Luar Negeri # 182
Coen Husein Pontoh
31. Reformasi Agraria Dan Kesejahteraan Petani # 188
Budiman Sudjatmiko
32. Industrialisasi Nasional dan Cita-cita Kemakmuran # 197
Dominggus Oktavianus

33. Efektifkah Bipartit Sebagai Mekanisme Penyelesaian
Konflik # 211
Dita Indah Sari
34. Bangsa Kuli Dan Feminisme Kemiskinan # 218
Dita Indah Sari

35. Propasar atau Propublik # 223
Dita Indah Sari

36. Janji Presiden, Buruh, Dan Investasi # 228
Dita Indah Sari
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
vii


37. Merumuskan Kembali Model Pembangunan Indonesia
# 232
Rudi Hartono

38. Demokrasi Membutuhkan Keadilan Sosial # 257
Ulfa Ilyas

39. Alternatif Anti-Neoliberal di Amerika Latin # 263
Dominggus Oktavianus

BAB III
SOSIAL BUDAYA

40. Sambutan Pramoedya Pada Pendirian KEPAL PRD
# 273
Pramoedya Ananta Toer

41. Angkatan Muda Sekarang # 277
Pramoedya Ananta Toer

42. Pemerintahan Bersih, Ada Syaratnya [Catatan
untuk Andre H Pareira] # 283
Petrus Bima Anugerah

43. Demokrasi Yang Terancam # 289
AJ. Susmana

44. Membangun Gerakan Demokrasi Berbasis Korban
# 294
AJ. Susmana

17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
viii

45. Amuk Di Pengadilan Agama Sidoarjo # 302
AJ. Susmana

46. Di Manakah Ruang Kebudayaan # 307
AJ. Susmana

47. “Merayakan Perubahan” Dalam Festival Tanda Kota
# 312
AJ. Susmana

48. Hati-hati Dengan Kata-kata # 318
Dita Indah Sari

49. Berbagi dan Terima kasih # 323
Dominggus Oktavianus

50. Pembunuh Sadis Itu Bernama Kemiskinan # 327
Dita Indah Sari

51. Akumulasi Kapital dan Human Capital
*Demi cita-cita apa pendidikan Indonesia
mengabdi? # 334
Dominggus Oktavianus

52. Esensi Kemerdekaan Bagi Perempuan # 345
Ulfa Ilyas


Daftar Penulis
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
ix



Kata Sambutan Politik


KEDIKTATORAN Orde Baru telah melahirkan
kekuatan baru yang berlawan. Bangkitnya kaum muda
Indonesia, mengorganisir kekuatan, membangun wadah-
wadah perlawanan, baik sektoral maupun wadah politik,
dari organisasi lokal menjadi organisasi nasional.
Di bawah tekanan, gerakan kaum muda ini meluncur
bagaikan anak panah, menerobos kemandegan sistemik.
Tidak ada demokrasi di Indonesia, itulah posisi
politik PRD masa itu, dengan mengusung program umum
perjuangan Demokrasi multi partai kerakyatan, diturunkan
menjadi program tuntutan, Pencabutan 5 Paket UU Politik
dan Dwifungsi ABRI, dua hal pokok sebagai pilar
kediktatoran militer kapitalistik Orde Baru.
Dalam manifesto yang dideklarasikan 22 Juli 1996
itu, menandai lahirnya kekuatan politik baru di tanah air,
Partai Rakyat Demokratik, berdiri sebagai wadah perjuangan
politik kaum muda dan rakyat Indonesia.
Pada bulan Mei 1998, gerakan kaum muda ini
menemukan momentumnya. Menjadi sumbu yang
meledakkan amunisi pergerakan di seluruh tanah air. Simbol
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
x

kediktatoran, Jendral Soeharto lengser, pilar utama
penyangga kekuasaan, 5 Paket UU Politik dan Dwifungsi
ABRI ikut runtuh.
Terjadilah gelombang perubahan. Namun perubahan
yang diharapkan menjadi jembatan emas bagi rakyat
Indonesia untuk memenangkan kembali cita-cita Proklamasi
17 Agustus 1945, agar menjadi tuan di negeri sendiri,
mengatur rumah tangga sendiri untuk melindungi segenap
bangsa serta tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
serta melaksanakan ketertiban dunia, telah diboncengi oleh
kekuatan komprador modal asing.
Reformasi telah menjadi pintu gerbang bagi modal
asing untuk mengkonsolidasikan liberalisasi di semua sektor
kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia memasuki
babak baru, hidup di bawah penjajahan baru. Tahap demi
tahap, secara sistematis, kedaulatan, kemandirian serta
kepribadian, sebagai sendi-sendi pokok kehidupan
berbangsa dan bernegara runtuh.
Jika Orde Baru menyelewengkan cita-cita Proklamasi
17 Agustus 1945, maka reformasi membongkar habis
sampai ke akar-akarnya.
Melalui amandemen UUD 1945 dimulailah
pembongkaran filosofi dan konstitusi. Dengan dukungan
penuh lembaga-lembaga asing, Word Bank, ADB dan USAID,
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xi

terjadilah kudeta konstitusional terhadap kemerdekaan
serta kedaulatan bangsa Indonesia. Selanjutnya UU yang
mengatur sektor-sektor strategis, minyak dan gas, mineral
dan batubara, perbankan, pertanian, sarana umum,
diliberalisasi.
Indonesia kembali dikuasai neokolonialisme dan
imperialisme!
Bung Karno sudah mengingatkan, bahwa
imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan
negeri atau bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga nafsu
atau sistem yang mempengaruhi ekonomi negeri dan
bangsa lain. Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil
atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa perluasan
daerah negeri dengan kekerasan senjata, tetapi dengan tipu
muslihat, dengan cara-cara demokratis, mengubah UU dan
haluan negara.
Imperialisme menjadikan Indonesia sebagai tempat
untuk mengambil bahan baku, sasaran ekspansi kapital,
sebagai pasar bagi berbagai produk kapitalisme.
Modal asing menguasai minyak dan gas (80-90%),
perbankan (50.6%), telekomunikasi (70%), kebun sawit
(50%), pelayaran barang (94%), pendidikan (49%), dan lain-
lain.
Penguasaan dan perampasan tanah oleh modal
asing untuk perkebunan, pertambangan dan Hutan
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xii

Tanaman Industri (HTI) dengan menggusur Petani
dilegalisasi oleh penguasa lokal maupun nasional hampir
diseluruh wilayah Indonesia.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham
Samad mengungkapkan, sekitar 60 persen perusahaan
tambang di Indonesia tak membayar pajak dan royalti
kepada negara. Indonesia kehilangan pemasukan sebesar
Rp 15.000 triliun setiap tahun dari hasil sumber daya alam.
Bila dibagi rata, maka setiap warga negara Indonesia akan
mendapatkan Rp 20 juta setiap bulan.
Perizinan pengelolaan 150 juta hektar hutan di
Indonesia ini, hanya 11 persen yang memiliki izin sesuai
dengan peruntukkannya. Sekitar 89 persen hutan kita
dirambah oleh para pemodal, tanpa izin, seperti yang
diumumkan KPK tanggal 27 Februari 2013 lalu.
Badan Pertanahan Nasional (BPN), mencatat
konsentrasi kepemilikan aset juga meningkat: 0,2 persen
penduduk menguasai 56 persen aset di tanah air. Artinya,
aset nasional bangsa ini hanya dikuasai oleh 440 ribu orang.
Dari 52% tersebut, 87% adalah tanah (Kompas.com, 26 April
2012).
Padahal dalam Pasal 33 UUD 1945, UU nomor 5
tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
(UUPA), TAP MPR IX/2001, sudah ditegaskan bahwa tanah
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xiii

harus digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Apakah kita mau Indonesia Merdeka yang kaum
kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyat sejahtera,
yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam
kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang
cukup memberi sandang pangan?
Imperialisme bersama sistem ideologi dan politiknya,
termasuk para pendukungnya yaitu kaum komprador,
golongan-golongan reformis gadungan, golongan kepala
batu, golongan bunglon dan cecunguk, menjadi rintangan
utama bagi bangsa Indonesia untuk maju dan berkembang.
“Kamu tahu, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad
soal modal asing ini? Soal bagaimana perkebunan-
perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak
hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan
dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia,
saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken
dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri,
bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala
bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah
regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan
minyak,” itulah penegasan Bung Karno.
Maka dari itu, PRD bersama kekuatan anti imperialis
kembali mengemban tugas sejarahnya berjuang
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xiv

menghentikan serangan imperialisme di dalam negeri. Maka
kemudian disusunlah Tiga Program Perjuangan :
Nasionalisasi Perusahaan Tambang Asing, Penghapusan
Hutang Luar Negeri dan Pembangunan Industri Nasional
(Pabrik), yang kemudian populer dengan istilah Tri Panji
Persatuan Nasional.
Dominasi imperialisme sudah masuk ke seluruh
sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam cengkeraman imperialisme kesadaran massa
terbagi menjadi beberapa tingkatan, massa yang tahu
keadaan dan ingin mengubahnya, ada massa yang tahu
keadaan tapi tidak tahu cara mengubah keadaan, dan ada
massa yang tidak tahu keadaan dan tidak percaya dengan
kekuatannya.
Dengan kerja keras, militansi serta disiplin tinggi,
PRD akan membangkitkan kesadaran massa itu, untuk
merebut kembali martabat hidup sebagai sebuah bangsa,
yang sudah direndahkan oleh imperialisme bersama para
kompradornya. Di tengah kuatnya pengaruh media
mainstream yang menjadi alat kapital, agitasi propaganda
akan pentingnya kedaulatan serta kemandirian nasional
sebagai jalan menuju masyarakat adil dan makmur haruslah
terus digalakkan.
Kerja politik untuk menggalang kekuatan anti
imperialis, baik di atas dalam bentuk Persatuan Nasional,
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xv

maupun di tingkat basis melalui rapat-rapat akbar, aksi
massa juga terus dijalankan. Kerja rekruitmen anggota,
kader, dengan mengintegrasikan dalam wadah-wadah
perjuangan massa juga terus dijalankan, demikian juga
dengan pembangunan sekretariat-sekretariat ataupun
posko-posko di basis-basis massa.
Bung Karno, selalu mengatakan bahwa imperialisme
dan kolonialisme adalah musuh bersama dari bangsa
Indonesia dan sejak awal meyakini hanya dengan Persatuan
Nasional, dengan bergotong royong, bangsa Indonesia
memiliki daya utama untuk menghadapi kekuatan besar
tersebut, apapun alirannya dan ideologinya, maka untuk
mengkonsentrasikan program serta kekuatan, PRD
mendeklarasikan Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945.
PRD telah kembali menemukan garis perjuangannya,
menyimpulkan masalah yang dihadapi rakyat Indonesia,
bagaimana jalan keluarnya, siapa sesungguhnya yang
menjadi musuh bersama, bagaimana cara melawannya dan
siapa sekutu bagi perjuangan pembebasan segenap rakyat
Indonesia itu.
"Menuju Masyarakat Adil Makmur, Tanpa
Penindasan Manusia Atas Manusia dan Bangsa Atas
Bangsa", itulah Manifesto Politik PRD sekarang. Sebagai
garis perjuangan serta jalan baru bagi rakyat Indonesia
untuk mengusir musuh-musuhnya serta membangun
bangsanya.
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xvi

“Ekonomi Indonesia akan bersifat Indonesia, sistem politik
Indonesia akan bersifat Indonesia masyarakat kami akan
bersifat Indonesia, dan semuanya itu akan didasarkan kokoh
kuat atas warisan kultur dan spiritual bangsa kami. Warisan
itu dapat dipupuk dengan bantuan dari luar, dari seberang
lautan, akan tetapi bunganya dan buahnya akan memiliki
sifat-sifat kami. Maka janganlah tuan tuan mengharapkan,
bahwa setiap bentuk bantuan yang tuan berikan akan
menghasilkan cerminan dari diri tuan-tuan,” itulah sikap
Bung Karno.
Dan inilah sikap PRD, tanpa ekonomi nasional yang
kuat dan mandiri, tidak mungkin satu bangsa bisa berdaulat,
tidak mungkin mendirikan satu Negara yang merdeka dan
tidak mungkin rakyat Indonesia bisa hidup sejahtera.
Selama kedaulatan bangsa belum bisa kita rebut,
dan rakyat Indonesia belum berkuasa sepenuhnya,
masyarakat yang adil dan makmur dalam satu bingkai
bangsa yang besar serta bermartabat tidak akan pernah
terwujud di atas bumi pertiwi ini. Selama parlemen dan
pemerintahannya di dalam demokrasi liberal dikuasai oleh
kepentingan kaki tangan imperialis, maka selama itu pula
rakyat akan ditindas.
“Kita hendak mendirikan satu bangsa semua buat semua.
Bukan satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan
bangsawan maupun golongan orang kaya, tetapi semua
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xvii

buat semua,” penegasan Bung Karno dalam Pidato 1 Juni
1945 di depan sidang BPUPKI.
Pidato yang melahirkan Pancasila, digali oleh Bung
Karno dari peradaban bangsa Indonesia yang sudah berurat
akar, yang kemudian disepakati sebagai filosofi bangsa,
dasar negara Indonesia Merdeka.
Pancasila adalah Sosio-nasionalisme, Sosio-
demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila adalah
Gotong-royong.
Bung Karno mengatakan, cita-cita sosio-nasionalisme
adalah memperbaiki keadaan-keadaan di dalam
masyarakat, sehingga masyarakat yang kini pincang akibat
dari imperialisme dan kapitalisme itu menjadi keadaan yang
sempurna, tidak ada lagi kaum tertindas, tidak ada kaum
yang celaka dan tidak ada lagi kaum yang papa sengsara.
Sedangkan sosio-demokrasi adalah antithesa dari
demokrasi liberal model barat. Sistem demokrasi yang tidak
sesuai dengan budaya bangsa Indonesia, hanya melahirkan
lingkungan politik yang tidak stabil dan memicu perpecahan
bangsa. Demokrasi yang hanya memberikan kebebasan atau
persamaan di lapangan politik semata, tetapi tidak ada
persamaan di lapangan ekonomi.
Yang akan unggul dan selalu menang adalah para
pemilik modal, yang menguasai semua alat propaganda,
seperti lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, media
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xviii

massa, universitas, dan lain-lain. Dengan kekuasaan
modalnya, mereka bisa membeli panitia pemilihan, bahkan
bisa membeli suara rakyat yang terjepit kemiskinan.
Sekalipun setiap warga negara dianggap punya hak
yang sama di lapangan politik, tetapi pada kenyataannya
hampir semua lembaga politik dikontrol kaum pemilik
modal, termasuk di dalamnya adalah penyusunan undang-
undang.
Sosio-demokrasi, tidak hanya sebatas demokrasi
politik saja, tetapi juga menegakkan demokrasi ekonomi, di
tengah-tengah rakyat. Sosio-demokrasi adalah
pengejawantahan demokrasi politik sekaligus demokrasi
ekonomi.
Itulah Pancasila, azas perjuangan PRD dalam
menghadapi imperialisme! Agar paham apa itu Pancasila,
semua orang harus belajar serta memahami ajaran Bung
Karno.
Tiada revolusi apabila tidak menjalankan konfrontasi
terus menerus, dan tiada revolusi apabila tidak berupa satu
disiplin yang hidup di bawah satu pimpinan. Hari depan kita
adalah sosialisme, tidak ada toleransi terhadap keinginan,
konsepsi, dan tindakan yang serba menuju kapitalisme,
tetapi juga tidak bisa langsung melompat ke sosialisme
tanpa melalui perjuangan nasional demokrasi dengan
melenyapkan lebih dulu sisa-sisa imperialisme dan
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xix

feodalisme. Dengan menegakkan prinsip gotong-royong,
membanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama,
perjuangan bantu membantu bersama, maka hari depan
bangsa Indonesia yang gilang gemilang akan terwujud.
Untuk itu PRD membutuhkan tenaga-tenaga yang
handal, tahu keadaan dan paham teori perjuangan, kursus-
kursus menjadi hal yang pokok, agar perjuangan punya arah
dan tidak asal hantam kromo. Bagi Bung Karno kursus serta
pendalaman teori perjuangan adalah hal yang sangat
penting.
Seperti yang diajarkan Bung Karno, PRD harus
melaksanakan tigal hal pokok dalam membangun Partai,
pembangunan kekuatan, kursus, dan aksi. Tiga hal inilah
yang menjadi rumus Bung Karno untuk menghadirkan partai
progressif berbasis massa di Indonesia.
Massa aksi tanpa kursus-kursus politik, tanpa brosur
dan majalah, adalah massa aksi yang tidak hidup dan tak
bernyawa.
Dalam perjuangan melawan imperialisme,
membutuhkan konsentrasi kekuatan, untuk itu PRD
bersama kekuatan anti imperialis, harus mampu
membangun gerakan massa yang sehebat-hebatnya, suatu
massa aksi, yang membangkitkan ribuan, jutaan kaum
rakyat, tua muda, laki perempuan, pandai bodoh. Hanya
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xx

dengan massa aksi yang demikian itulah, menurut Bung
Karno pembentukan kekuasaan, bisa menjadi sempurna.
Partai harus menjalankan machtvorming pembuatan
tenaga, pembuatan kuasa.
Tugas mendesak PRD sekarang ini adalah
menggalang serta mengkonsentrasikan kekuatan yang
berlawan itu, baik dalam wadah-wadah persatuan maupun
dalam badan Partai, hanya dengan kekuatan itu
imperialisme bisa disingkirkan, kedaulatan bangsa bisa
ditegakkan, kemandirian ekonomi nasional bisa dibangun
dan kepribadian bangsa Indonesia yang berwatak gotong-
royong bisa terbentuk, itulah landasan menuju masyarakat
adil makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta
raharja, tiada lagi penindasan manusia atas manusia dan
penindasan bangsa atas bangsa.
Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita
tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi
jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini
syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari
pada makan bistik tetapi budak.
Indonesia Mercusuar Dunia!
Salam Gotong Royong
Agus “Jabo” Priyono
Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxi



Prakata


TAHUN 1996, dalam sebuah wawancara dengan TEMPO,
Kepala Staf Sosial Politik ABRI Letjend TNI Syarwan Hamid
mengatakan: “Tindakan yang dilakukan anggota PRD itu bukan
kriminal, tapi gerakan pemikiran. Kalau kriminal, kan bukan
ancaman untuk bangsa.” Pendek kata, bagi Syarwan Hamid, salah
satu yang paling berbahaya dari PRD adalah gerakan
pemikirannya.
PRD, yang sebagian besar anggotanya anak muda, belum
menjelma sebagai kekuatan besar. Namun, seperti dikatakan
Pram, PRD sudah punya konsep-konsep dan sudah bepraktek di
lapangan. Daniel Dhakidae sendiri, seorang Doktor lulusan
Universitas Cornell, menempatkan intelektual-intelektual PRD
dalam kategori intelektual profetik [berpandangan jauh ke
depan]. Manifesto PRD tahun 1996 merupakan manifesto politik
termaju dan paling konkret menjawab problem bangsa pada
jamannya. Inilah yang membuat penguasa orde baru saat itu
ketar-ketir.
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxii

Tahun ini, tepatnya 22 Juli 2013, PRD akan menginjak usia
17 tahun. Dalam rentang waktu itu, tentu tidak sedikit gagasan
dan pemikiran yang sudah disumbangsihkan oleh PRD dan kader-
kadernya bagi kemajuan bangsa ini. Bahkan, tak sedikit
sumbangsih pemikiran itu telah mewarnai gagasan-gagasan
ekonomi, politik, dan sosial-budaya dominan saat ini.
Karena itulah, pada peringatan HUT ke-17 ini, Komite
Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) menerbitkan
sebagian tulisan-tulisan kader PRD, terutama yang pernah
terpublikasi di media massa, untuk diterbitkan dalam sebuah
buku. Buku tersebut kami beri judul “17 Tahun Partai Rakyat
Demokratik: Sumbangsih Pemikiran Untuk Indonesia.”
Penerbitan buku ini sendiri dilakukan karena beberapa
alasan. Pertama, pengumpulan dan penerbitan tulisan-tulisan
kader PRD itu merupakan salah satu bentuk “pengarsipan”
terhadap karya dan pemikiran PRD yang selama ini masih
berserak. Kedua, sebagian dari tulisan-tulisan itu masih cukup
relevan untuk menjawab persoalan-persoalan kebangsaan saat
ini. Ketiga, tulisan-tulisan kader PRD tersebut bisa jadi rujukan
untuk melihat pergulatan pemikiran anak-anak bangsa,
setidaknya dalam 17 tahun terakhir, tentang bagaimana
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxiii

membawa bangsa ini menuju ke masa depan yang lebih baik dan
bermartabat.
Buku ini sendiri dibagi menjadi tiga sub-tema, yakni
politik, ekonomi, dan sosial budaya. Pemilahan menjadi tiga sub-
tema ini senafas dengan cita-cita kebangsaan Bung Karno yang
terangkum dalam Trisakti: berdaulat di bidang politik, berdikari di
bidang ekonomi, dan berkepribadian di lapangan budaya. Dan
bagi PRD, konsep Trisakti Bung Karno ini sangat relevan
mengatasi persoalan bangsa saat ini dan sekaligus memberi arah
mengenai cita-cita nasional tertinggi kita: masyarakat adil dan
makmur.
Di buku ini terhimpun sebanyak 52 artikel. Sebanyak 48
artikel merupakan buah tangan kader-kader dan anggota PRD. Itu
sudah termasuk dua pidato dari sastrawan besar Indonesia,
Pramoedya Ananta Toer, dalam acara deklarasi PRD dan sebuah
acara seremoni PRD. Untuk diketahui, Pram sendiri sudah dilantik
menjadi anggota PRD pada tanggal 22 Maret 1999. Namun, selain
tulisan kader dan anggota PRD, kami juga memasukkan 4 artikel
dari pihak di luar PRD, yakni Arbi Sanit, Olle Tornquist, Romo YB
Mangunwijaya (almarhum), dan Ariel Heryanto, yang mewakili
pandangan intelektual, rohaniawan, dan budayawan mengenai
PRD.
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxiv

Sebagian besar artikel atau pidato dalam buku ini diambil
dari kurun waktu antara 1996 hingga 2012 lalu. Dalam kurun
waktu yang panjang itu, PRD secara ideologi, politik, organisasi
mengalami dinamika internal/subjektif sesuai dengan tuntutan
situasi objektif yang juga berubah. Termasuk dinamika analisa
PRD terhadap perkembangan situasi objektif: dalam kurun waktu
1996-2000-an, PRD banyak berbicara tentang agenda
demokratisasi; dari 2000-an hingga 2006, PRD mulai mengeritik
neoliberalisme dan eksesnya; dan dari 2006 hingga sekarang, PRD
makin intensif mengupas neo-kolonialisme di Indonesia.
Dalam melihat perkembangan ekonomi-politik terbaru,
PRD menyimpulkan bahwa problem pokok bangsa Indonesia saat
ini adalah neo-kolonialisme dan imperialisme. Manifesto terbaru
PRD, yang disusun tahun 2010 lalu, telah menegaskan perlunya
menuntaskan Revolusi Nasional Indonesia yang belum tuntas.
Dengan demikian, analisa dan kesimpulan PRD di atas telah
mengembalikan konteks Revolusi Nasional yang belum tuntas
dalam diskursus politik Indonesia mutakhir.
Apakah itu temuan baru bagi PRD? Rasanya tidak juga.
Ketika memberi sambutan di acara pendirian Komite Persiapan
Legalisasi Partai Rakyat Demokratik, 14 Juli 1998, di kantor YLBHI,
Jakarta, Bung Pram mencatat sebagai berikut: “Sudah sejak
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxv

kalimat pertama, saya gunakan kata demokratik dan modern,
karena dua kata tersebut menjadi cita-cita dan sekaligus tujuan
para pejuang kita sudah sejak tahun belasan, baik di tanah air
maupun di Eropa dalam rangka studi mau pun pembuangan
(externiran). Jadi bila angkatan muda, di sini PRD, berjuang,
berupaya menjadikannya kenyataan, itu bukan saja hak PRD
untuk menentukan sendiri hidupnya sekarang dan hari depannya,
juga karena melakukan misi sejarah para pejuang yang telah
mendahului kita.”
Dalam pandangan Bung Pram, penuntasan revolusi
nasional sangat lah penting untuk menyelesaikan masalah-
masalah sosial, ekonomi dan budaya. Revolusi Agustus yang
berkobar sejak 17 Agustus 1945 hingga tahun 1950-an, juga
mobilisasi massa kaum progressif di tahun 1950-an hingga 1960-
an, belum berhasil menuntaskan Revolusi Nasional itu. Di bawah
slogan barunya “Hentikan Neoliberalisme, Rebut (Kembali)
Kedaulatan Nasional”, PRD telah meneguhkan kembali cita-cita
pendiri bangsa, yakni kemerdekaan nasional dalam bentuk
kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan kebudayaan yang
berkarater nasional. Ini sejalan dengan cita-cita Trisakti Bung
Karno.
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxvi

Jadi, pada tahun 1996 hingga sekarang, PRD telah
mengembalikan dua hal penting warisan dari revolusi nasional:
satu, Aksi Massa sebagai senjata penting Revolusi Nasional. Dua,
pergulatan pemikiran dan kesimpulan-kesimpulan analisa situasi
nasional PRD telah menghidupkan kembali ideologi dan gagasan-
gagasan Revolusi Nasional: Trisakti, Anti-kolonialisme, Anti-
imperialisme, Masyarakat Adil dan Makmur, dan lain-lain.
Sebetulnya, apa yang dipublikasikan di buku ini hanyalah
sebagian dari gagasan dan pemikiran kader-kader PRD. Sebagian
besar artikel di buku ini hanya yang berasal dari artikel yang
terpublikasi luas, terutama dari KOMPAS dan Media Indonesia.
Sebagian lagi adalah pidato-pidato resmi dan wawancara Ketua
Umum PRD di sejumlah kegiatan partai. Namun, pemikiran dan
analisa-analisa PRD yang terangkum di koran resmi partai,
terutama Pembebasan, belum tercakup di buku ini. Belum lagi
analisa periodik PRD terhadap perkembangan situasi yang disebut
analisa “Situasi Nasional (Sitnas)”.
Memang, penerbitan buku ini sangat mendadak. Waktu
mempersiapkannya hanya kurang lebih tiga bulanan. Namun
demikian, terlepas dari kekurangan, kehadiran buku ini menandai
satu hal: kelahiran sebuah Partai Politik dengan sumbangsih
pemikirannya yang kaya untuk negerinya. PRD adalah antitesa
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxvii

dari Partai-Partai Politik bentukan era Orde Baru maupun pasca
reformasi yang kering gagasan dan pemikiran.
Akhir kata, izinkanlah saya, atas nama kader dan anggota
PRD, menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak-
pihak yang telah membantu penerbitan buku ini: Benny Sitorus,
yang meluncurkan ide untuk mengumpulkan tulisan ini; Harian
KOMPAS; Arbi Sanit, Olle Tornquist, Romo YB Mangunwijaya
(Almarhum), dan Ariel Heryanto; Pramoedya Ananta Toer
(Almarhum); kader dan mantan kader PRD yang telah
mengkontribusikan artikelnya di buku ini (Budiman Sudjatmiko,
Dita Indah Sari, Coen Husein Pontoh, Nezar Patria, Petrus Bima
Anugerah (Almarhum), Edy Haryadi dan Kiswondo, Agus Jabo
Priyono, AJ Susmana, Dominggus Oktavianus, Rudi Hartono, dan
Ulfa Ilyas).
Buku ini juga dipersembahkan untuk kawan-kawan PRD
yang telah mendarmabaktikan hidupnya bagi pembebasan Rakyat
dari segala bentuk penindasan dan ekspoitasi: Wiji Thukul, Petrus
Bima Anugerah, Suyat, Herman Hendrawan, Gilang, Yusuf Rizal,
Andi Munajat, Saddam Husein, dan lain-lain.
Kami, kader dan anggota PRD, juga menghaturkan terima
kasih sebesar-besarnya kepada Rakyat Indonesia. PRD lahir dan
berjuang karena satu hal: mewujudkan masyarakat adil dan
17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxviii

makmur tanpa penindasan manusia atas manusia dan penindasan
bangsa atas bangsa. Sebagaimana terangkum dalam sebait lirik
lagu John Tobing, mantan anggota PRD, yang berjudul “Api
Kesaksian”: Untuk Indonesia/ Kami tumpahkan/ Keringat dan
darah/ untuk membebaskan/ rakyat yang ditindas dan sengsara.
Hidup PRD! Hidup Rakyat Indonesia!
Rudi Hartono
Deputi Bidang Kajian dan Bacaan Komite Pimpinan Pusat Partai
Rakyat Demokratik
****











17 TAHUN PRD : SUMBANGSIH PEMIKIRAN UNTUK INDONESIA
xxix


PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : LAWAN !

(Solo,1986)

(Oleh : Wiji Thukul, Lahir di kampung Sorogenen,
26 Agustus 1963 – Dihilangkan Rezim sampai
sekarang)