You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

Kanker rongga hidung dan sinus paranasal adalah tumor ganas yang dimulai
dari dalam rongga hidung atau sinus paranasal di sekitar hidung. Rongga hidung
merupakan sebuah ruang di belakang hidung di mana udara yang melewatinya
masuk ke tenggorokan. Sinus paranasal adalah daerah yang dipenuhi udara yang
mengelilingi rongga hidung pada pipi (sinus maksila), di atas dan di antara mata
(sinus etmoid dan sinus frontal), dan di belakang etmoid (sinus sfenoid). Kanker
sinus maksila merupakan tipe paling sering kanker sinus paranasal.
Tumor jinak pada hidung dan sinus paranasal sering ditemukan, tetapi tumor
yang ganas termasuk jarang, hanya 3% dari tumor kepala dan leher atau kurang dari
1% seluruh tumor ganas.
Gejala-gejala dan tanda klinis semua tumor hidung dan sinus paranasal
hampir mirip, sehingga seringkali hanya pemeriksaan histopatologi saja yang dapat
menentukan jenisnya.
Hidung dan sinus paranasal merupakan rongga yang saling berhubungan dan
seringkali tumor ditemukan pertamakali pada stadium yang sudah lanjut, sehingga
tidak dapat ditentukan lagi asal tumor primernya. Tumor ganas hidung dan sinus
paranasal termasuk tumor yang sukar diobati secara tuntas dan angka
kesembuhannya masih sangat rendah.
Rongga hidung dikelilingi oleh 7 sampai 8 rongga sinus paranasal yaitu sinus
maksila, etmoid anterior dan posterior, frontal dan sfenoid. Kedelapan sinus ini
bermuara ke meatus medius rongga hidung. Oleh sebab itu pembicaraan mengenai
tumor ganas hidung tidak dapat dipisahkan dari tumor ganas sinus paranasal karena
keduanya saling mempengaruhi kecuali jika ditemukan masing-masing dalam
keadaan dini.
Faktor resiko, yang jika muncul, dapat meningkatkan resiko antara lain:
tembakau, infeksi, imunitas rendah, riwayat kanker, terhirup sebuk gergaji. Gejala
dan tanda yang paling umum adalah: obstruksi hidung, masalah pernafasan, nyeri
lokal, pembengkakan leher dan wajah, masalah persarafan, dan tanda metastasis.

| Bagian/SMF Radiologi

1

Langkah umum dalam evaluasi dugaan kanker rongga hidung termasuk:
pemeriksaan fisik, pemeriksaan endoskopi, tes urin dan darah, tes pencitraan, dan
biopsi.

2

| Bagian/SMF Radiologi

Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os nasalis) dan prosesus frontalis maksila. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Lubang bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkannya dengan nasofaring.1 ANATOMI HIDUNG Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagian seperti puncak hidung. dorsum nasi. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang. (3) krista nasalis maksila dan (4) krista nasalis os palatum. (2) vomer. sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian dari rongga hidung yang letaknya sesuai dengan ala nasi. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit.BAB II PEMBAHASAN 2. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang (vibrissae). dinding lateral. dinding inferior dan dinding superior. Tiap rongga hidung mempunyai 4 buah dinding. disebut vestibulum. Rongga Hidung (Kavum Nasi) Rongga hidung mempunyai bentuk sebagai sebuah terowongan dari depan ke belakang dan di tengah-tengah dipisahkan oleh septum nasi. | Bagian/SMF Radiologi 3 . tepat dibelakang nares anterior. Bagian tulang adalah (1) lamina perpendikularis tulang etmoid. Bagian tulang rawan adalah (1) kartilago septum (lamina kuadran-gularis) dan (2) kolumela. yaitu dinding medial. sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa buah tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung. jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. pangkal hidung (bridge). kolumela. Dinding medial Dinding medial hidung adalah septum nasi. ala nasi dan lubang hidung (nares anterior).

Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan dinding lateral rongga hidung terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.Dinding lateral Bagian depan dari dinding lateral hidung licin. yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka yang merupakan bagian terbesar dari dinding lateral hidung. sedangkan yang paling kecill disebut konka suprema. superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. lebih kecil lagi ialah konka superior. Terdapat 4 buah konka didalam hidung. Yang terbesar ialah konka inferior. kemudian yang lebih kecil ialah konka media. Meatus media ialah ruang yang terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid. 4 | Bagian/SMF Radiologi . Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka media. Ruang yang terletak diantara konka inferior dan dinding lateral rongga hidung disebut meatus inferior. Di sekitar hiatus semilunaris yang merupakan celah terdapat muara sinus frontal. Konka inferior merupakan tulang tersendiri dan melekat pada maksila dan labirin etmoid. yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. prosesus unsinatus. Dinding inferior Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis. hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis.

Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma. disamping memberikan persarafan sensoris. sfenopalatina dan ujung a. Yang penting ialah a. karotis interna. nasosiliaris. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. petrosis profundus. fasialis. V-2). berupa invaginasi dari mukosa rongga hidung. Rongga hidung lainnya. serabut parasimpatis dari n. V-1). a. sinus etmoid dan sinus sfenoid kiri dan kanan. labialis superior dan a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. ya berasal dari n. yang merupakan cabang dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Sinus paranasal berbentuk rongga didalam tulang yang sesuai dengan namanya dan semuanya mempunyai muara (ostium) didalam rongga hidung. yaitu sinus maksila. palatina mayor. dan hanya sinus ini yang | Bagian/SMF Radiologi 5 . Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. yang disebut pleksus Kiesselbach (Little¶s area). juga memberikan persarafan vasomotor atau autonom pada mukosa hidung. oftalmikus. sinus frontal. ng oftalmikus (n. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada pada waktu anak lahir. SINUS PARANASAL Ada empat pasang sinus paranasal. sfenopalatina. sedangkan a. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit diatas dari ujung posterior konka media. oftalmikus berasal dari a. maksila (n. Perkembangan dimulai pada fetus yang berusia 3-4 bulan (kecuali sinus frontal dan sinus sfenoid). etmoid anterior. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n. PERSARAFAN Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.PENDARAHAN Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a. maksila interna. etmoid anterior. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. sehingga sering menjadi sumber epistaksis. Ganglion sfenopalatinum. a. sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. palatina mayor.

A B C D 6 Gambar 1: Anatomi sinus paranasal posisi (A) Water . (B) Caldwell. Sinus frontal mulai berkembang dari sinus etmoid anterior pada usia kurang lebi 8 tahun. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. (C) lateral dan (D) Axial ¢ ¡¨©¨¢§ ¦ ¥ £ ¢ ¡  ¤ |B S F .dapat t ai i pada anak. Pseumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero -superior rongga hidung.

Studi pendahuluan mempelihatkan bahwa peningkatan ekspresi dari epidermal growth factor reseptor (EGFR) dan transforming growth factor-alpha (TGF-alpha) mungkin berhubungan dengan paparan awal karsinogen yang menyebabkan papilloma inverting. Rifki mengemukakan data yang dikumpulkannya dari rumah sakit umum di 10 kota besar di Indonesia bahwa frekuensi tumor hidung dan sinus adalah 9. Dari kelompok keganasan hidung dan sinus paranasal ini ± 20% merupakan keganasan sinus maksila (di Jepang lebih tinggi lagi yaitu 91. isopropil oil.2. multifaktorial dan agak kontroversial.3% dari keganasan THT dan berada di peringkat kedua setelah tumor ganas nasofaring. Infeksi virus dan hubungannya terhadap keganasan merupakan hal yang menarik tetapi belum cukup diteliti. diklorodietil sulfida. 2.325. Hidung dan Tenggorokan di mana nasofaring merupakan keganasan terbanyak dengan 57%.4%). gas mustard. Riwayat sosial dan pekerjaan harus ditanyakan pada pasien -pasien yang mempunyai gejala yang mengarah ke keganasan pada sinus paranasal. thorotrast.3 ETIOLOGI Faktor resiko untuk keganasan pada sinus paranasal sudah lama diteliti. ± 24% keganasan hidung dan sinus etmoid. Penyebabnya rumit. Diperkirakan penyebab squamous cell carcinoma dan adenocarcinoma pada suatu daerah berhubungan paparan debu nikel.2 EPIDEMIOLOGI Di Indonesia keganasan hidung dan sinus paranasal merupakan 1. Paparan debu kayu khususnya dapat meningkatkan resiko squamous cell carcinoma 21 kali dan adenocarcinoma 874 kali. Keganasan pada hidung dan sinus paranasal ini lebih sering ditemukan pada laki laki dibanding perempuan dengan perbandingan 2 : 1.76% dari seluruh keganasan organ manusia atau 10% dari seluruh keganasan Telinga. Banyak dari faktor-faktor ini ditemukan pada industri furnitur. dan industri tekstil. industri pengolahan kulit hewan. Infeksi Human papilloma virus (HPV) dan Epstein-Barr virus (EBV) mungkin juga merupakan awal | Bagian/SMF Radiologi 7 . sedangkan keganasan sinus sfenoid dan frontal hanya 1%.

dan sisa 10% muncul dari etmoid. Gambaran kecil ini disebabkan drainase limfatik sinus paranasal ke | Bagian/SMF Radiologi 8 . Jenis histologis yang paling umum adalah karsinoma sel skuamosa. Karsinogen eksogen sekunder bekerja secara tidak langsung melalui suatu mekanisme sekunder dan merubah beberapa bahan normal sel atau cairan jaringan yang berakibat pertumbuhan kanker.dari proses panjang yang menyebabkan perubahan papilloma inverting menjadi ganas. Pada kanker sinus akibat kerja yang berhubungan dengan nikel. Tumor primer frontal dan sfenoid sangat jarang. Karsinogen eksogen primer yang bekerja langsung sebagai persenyawaan semula atau metabolit atau konjugat terhadap substrat seluler atau mengganggu aktivitas enzim atau bersenyawa dengan putih telur serta membentuk alergen. Mayoritas (60%) tumor tampaknya berasal dari antrum. 30% muncul dalam rongga hidung. kemudian rongga hidung (30 %) dan sinus etmoid (10 %).4 PATOLOGI Berbagai jenis tipe tumor berbeda telah dijelaskan terdapat pada rahang atas. 2. mewakili sekitar 80% kasus. nikel berperan sebagai karsinogen eksogen sekunder. Dalam hal ini. Lokasi primer tidak selalu mudah untuk ditentukan dengan sejumlah sinus berbeda yang secara umum terlibat seiring waktu munculnya pasien. Limfadenopati servikal teraba muncul pada sekitar 15% pasien pada presentasi. belum didapatkan data mengenai lokasi yang tersering dijumpai. Jarang sekali tumor primer berasal dari sinus frontal dan sfenoid. Golongan karsinogen yang merubah fungsi kualitatif dan kuantitatif organorgan tertentu yang berakibat sekresi organ-organ tersebut mengandung bahanbahan karsinogen. Karsinogen di tempat kerja tidak menyebabkan gambaran histopatologi kanker yang khusus. demikian juga dengan kanker nasal yang secara histopatologik rumor epitel yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa. Lokasi tumor sinus primer yang terbanyak berasal dari sinus maksila (60 %).

hilangnya fungsi | Bagian/SMF Radiologi 9 . Tumor etmoid juga muncul dengan gejala hidung.5 GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis masing-masing pasien tertentu bergantung pada lokasi primer dan arah dan perluasan penyebaran. dengan diplopia menjadi gejala akhir. Penyebaran posterior kedalam fossa infratemporal dan basis cranii bisa menyebabkan simtomatologi kurang jelas. sifat sebenarnya bergantung pada dinding tertentu yang terkikis. Ketika tumor melanggar dinding antral. namun radiografi sinus terbaik ditunda selama 7-14 hari untuk memberi resolusi inflamasi apapun sehubungan dengan pembungkusan hidung atau masih lebih baik CT-scan harus diperoleh. dengan demikian penting untuk memeriksa secara histologis semua bahan yang diangkat dari hidung. Penyebaran inferior melibatkan palatum dan alveolus dapat mengakibatkan presentasi ke dokter gigi baik dengan gigi tiruan atau gigi ompong.nodus retrofaring dan dari sana ke rantai servikal dalam bawah. gangguan sensasi dan nyeri lebih sering. Invasi ke rongga hidung menyebabkan obstruksi hidung dan epistaksis dan tumor selalu terlihat jelas. Tumor didalam rongga antrum tidak mungkin muncul dini kecuali secara kebetulan melibatkan nervus infraorbita memberi perubahan pada sensasi wajah. Tumor sinus frontalis cenderung muncul semata-mata dengam gejala orbita. Tumor rongga hidung muncul dengan gejala hidung berupa obstruksi dan epiataksis. Ulserasi palatum frank merupakan gejala akhir. Penyebaran anterolateral kedalam jaringan lunak wajah dapat mengakibatkan epifora dengan melibatkan sakus lakrimalis. namun juga bisa memiliki gejala orbita seperti proptosis dan epifora. Tumor sinus sfenoid umumnya muncul terlambat pada spesialis neurologi dengan gejala neurologis. Pembengkakan wajah. nodus yang terlibat diawal tidak mudah dipalpasi di bagian leher manapun. tumor menyebabkan poliposis etmoid dan tampaknya polip nasal normal terlihat. Jarang. tanda-tanda dan gejala pasti menjadi lebih jelas. atau perdarahan secara alternatif menimbulkan epistaksis. Epistaksis apapun pada pasien dewasa yang tidak hipertensif membutuhkan investigasi radiologis. Sebagai akibatnya. Merupakan sebuah instruktif untuk melihat presentasi potensial tumor antrum. 2. Penyebaran anterior lebih mungkin mengakibatkan limfadenopati servikal teraba.

Mencakup juga karsinoma verrucous. rinorrhea. neuripati. ethmoidal. epistaxis. Seluruh bentukan lesi biasanya tidak dapat ditentukan dengan imaging radiografik. seorang ahli bedah harus memiliki indeks data yang tinggi untuk papilloma. Rata-rata 10% dari papilloma merupakan bentuk dari squamos cell carcinoma. meskipun dapat juga tumbuh di sinus maxilla. dapat juga menjadi ganas pada beberapa kasus. basaloid squamous cell carcinoma. kapan pun seorang ahli bedah memeriksa pasien dengan massa polipoid unilateral. atau nyeri. Biopsy amat sangat dianjurkan. Bisa juga terjadi | Bagian/SMF Radiologi 10 .6 JENIS TUMOR Papilloma Meski pun papilloma merupakan suatu lesi yang jinak pada kebanyakan kasus. 2. Penyebaran superior ke orbita menyebabkan proptosis dini dengan meningkatkan volume isi orbita. Lesi ini dapat membedakan gambaran wajah yang dapat dideteksi menyebabkan ketidaksimetrisan atau proptosis. Pemeriksaan histologis menunjukkan hiperplasi multilayer epitel skuamous ke kolumnar dengan atau tanpa atipia. spindle cell carcinoma. Squamous cell carcinoma Squamous cell carcinoma merupakan 80% dari seluruh keganasan yang ada di cavum nasi dan sinus paranasal. Gambaran yang tampak sangat variatif dan dapat mencakup massa nasal atau obstruksi. keterlibatan langsung saraf dan otot terjadi lambat. Penyebaran ke nasofaring dapat mengkibatkan tuli sebagai akibat dari disfungsi tuba eustachius. papilloma ini biasanya unilateral. frontal. Lebih dari 90% dari papiloma menyatu dengan dinding lateral. Terminologi dari squamous cell carcinoma digunakan untuk menunjukkan keganasan yang merupakan gambaran standar yang diketahui untuk mewakili keadaan ini. Berlawanan dengan suatu polip yang reaktif. Sering juga terjadi gangguan penglihatan dan parestesia. dan transitional atau cylindrical cell carcinoma. atau. Jadi.trigeminal dan trismus terjadi akibat keterlibatan otot pterigoid. pemerikasaan fisik menunjukkan massa berwarna merah kehitam-hitaman pada cavum nasi.

Pada tahap lanjut dapat ditemukan ditemukan ulkus yang besar. Penentuan ketiga subtype ini adalah sangat penting karena bentuk solid mempunyai prognosis yang lebih jelek jika dibandingkan dengan bentuk kribriform atau tubular. Walau pun tidak ada penelitian spesifik yang meneliti radioterapi sinar neutron untuk ACC region sinunasal. Kelangsungan hidup selama 5 tahun keseluruhan adalah 60-64%. Rekuren lambat dan metastasis jauh sering terjadi dapat terjadi berdekad-dekad setelah presentasi awal. Karsinoma Kista Adenoid Karsinoma Kista Adenoid (ACC) berasal dari kelenjar ludah dan merupakan keganasan sinonasal kedua yang paling sering. Prognosis menjadi semakin baik pada pasien dengan kanker yang berasal dari etmoid. tepi yang menebal. Nodus limfe jarang terlibat dan diseksi leher elektif tidak diindikasikan pada kebanyakan kasus.fenomena maloklusi dengan massa yang timbul dari dasar maksila dan palatum durum. gejala dan penampakan SCCA. penelitian yang melibatkan | Bagian/SMF Radiologi 11 . Awalnya hanya sebatas massa yang kecil atau ulkus kecil. nekrosis. Terdapat tiga subtype histologi yang berdasarkan pada pola pertumbuhan: tubular. melibatkan sebanyak 10% dari total kasus. Biopsi diperlukan untuk mengklasifikasikan lesi. lesi awal yang diterapi dengan radiasi dan pembedahan dan pada pasien dengan rawayat inverted papilloma. Kemoterapi tidak memainkan peran dalam terapi. Tidak seperti SCCA kepala dan leher yang lain. sel polyhedral atau sel bulat ke oval individual dengan derajat keratinisasi yang bervariasi. Pemeriksaan histology dapat menunjukkan lembaran. Invasi perineural adalah sangat sering dan didapatkan pada 40 60% kasus. dan invasi ke tulang dan jaringan lunak. penglibatan perineural atau ditemukannya batas-batas. Granulomatosis Wegener danenyakit nonneoplastik lainnya dapat juga memberikan tanda. keterlibatan nodus limfatikus adalah sangat jarang dan tidak dianjurkan untuk melakukan diseksi nodus limfatikus selektif. kribriform dan solid. Operasi merupakan terapi utama dan radiasi biasanya untuk stadium lanjut. pita dan sel skuamous. Pada evaluasi klinis. penampakan menentukan stadium tumor.

dan ulkus di rongga mulut lebih sering ditemikan pada grade yang berat. sedangkan adenocarcinoma dengan grade ringan memiliki 5 tahun survival rate dengan rerata 80% Melanoma Malignan Melanaoma maligna merupakan suatu gangguan di cavum nasi dan mukosa sinus paranasal yang jarang terjadi. Adencarcinoma grade berat dilaporkan memiliki survival rate sekurang-kurangnya 35% dalam 3 tahun. bahkan pada tumor yang sudah sangat berat. Kadar kelangsungan hidup 5 tahun spesifik penyakit keseluruhan adalah 63% dan menurut pengalaman MD Anderson adalah 70%. Metastasis melalui nodus limfe servikal jarang terjadi. Maka jika terjadi. Metastase dari tipe ini jarang terjadi. melanoma mukosa dari kepala dan leher sebesar 55% dari seluruh melanoma mukosa. atau epistaxis. Terapinya adalah eksisi surgical dengan batasan luas dam radioterapi post operatif untuk penyakit yang sudah berat atau batasan yang jelas. Adenocarcinoma. paru-paru. Tidak ada manfaat kelangsungan hidup keseluruhan yang ditunjukkan. Prognose dari adenocarcinoma grade ringan jauh lebih baik dari pada grade yang berat pada area sinonasal. terjadi pada hingga 55% kasus. Tanpa mempertimbangkan grade yang ada. dan tulang merupakan tempat yang paling sering terkena. Melanoma jarang | Bagian/SMF Radiologi 12 . rinorea.ACC pada area kepala dan leher yang lain menunjukkan adanya perbaikan kada pengaturan local berbanding radiasi tradisional. Umumnya. liver. Rekure sering kali terjadi. Namun. Adenocarcinoma dan variannya Adenokarsinoma pada cavum nasi dan sinus paranasal sangat lah penting dan berhubungan dengan factor resiok tertentu termasuk paparan terhadap debu. 80% ditemukan didalam cavum nasi dan 20% didalam sinus. Kejarangan dari metastase melalui nodus limfe menyebabkan disesksi pada leher tidak harus dilakukan. Kurang dari 1% dari seluruh keganasan dan kurang dari 4% dari seluruh keganasan yang terjadi di nasal. parestesis. dan materi organic lainnya. destruksi local pada orbita dan basis kranii sering terlihat. baik yang grade ringan maupun berat dan menyebabkan gejala obstruktif. nyeri.

Satu gambaran yang penting pada verrucous karsinoma adalah keadaan kepala dan leher biasanya berhubungan dengan sinkoronous atau metakronous tumor. kurang dimengerti. dengan nilai rerata sebesat 37%. terapi biasanya dilakukan dengan radiasi dan kemoterapi. Membentuk suatu keganasan epitel atau premalignansi pada traktus aerodigestivus bagian atas. Setelah tipe dari tumor ini ditegakkan. controversial dan ekstensif. Pada pemeriksaan lebih lanjut. Rinorea dan epsistaxis juga dapat tampak. LAD positif ditemukan pada lebih dari 26% dari pasien dengan gejala ini. neoplasma maligna ringan ini terdiri dari sell yang berdiferensiasi. Lymphoma Kategori dari neoplasma malignan pada sinus dan cavum nasi ini sangat membingungkan. Umumnya. Prognosis umumnya bervariasi untuk pasien degan lymphoma non- | Bagian/SMF Radiologi 13 . Verrucous carcinoma menyebabkan kerusakan dengan invasi local tetapi tidak bermetastase jika tidak memiliki komponen dari karsinoma sel skuamous. lymphoma non-hodgkins ditemukan secara primer pada pasien dengan usia 60an sampai 70an dan bermanifestasi dengan gejala ubstruksi. pencarian klinis dibutuhkan untuk meniadakan penyakit metastase. Hubungan ini haru selalu dipertimbangkan selama pemeriksaan lanjut terhadapo pasien dengan verrucous karsinoma. namun. Verrucous carcinoma Verucous carcinoma merupakan salah satu dari tipe skuamous karsinoma yang digambarkan dengan gambaran jamur dengan kompleks papiler. Hal yang penting yang berhubungan dengan progessivitas dari verrucous carcinoma menjadi karsinoma sel skuamous yang tradisional dan agresif.bermetastase pada region anantomisnya. Laju dari invasi local juga lebih lambat dibandingkan dengan yang biasanya terlihat pada skuamous sel karsinoma. Pada pemerikasaan histologist. dengan mengikuti protocol yang tersedia. 20% dari lesi ini menggambarkan karsinoma sel skuamous yang klasik paling kurang pada salah satu area. epitel skuamous yang terkeratinisasi dengan gambaran hiperplastik dan abundan.

7 DIAGNOSIS A. Memiliki beragam nama dalam perjalanan penyakitnya. Terapi mencakup radiasi dengan atau tanpa kemoterapi. doxorubicin. Tumor ini merupakan lesi sinonasal yang destruktif yang berhubungan dengan gejala obstruksif. Tipe malignansi tumor limphoid lainnya yang masih controversial adalah sel T/natural killer-cell lymphoma. bergantung pada tipe dan stadium. vincristine. gerakan bola mata dan pemeriksaan fungsi nervus kranial. pemeriksaan visus. dan Tcell/natural cell lymphoma. 2. tulang dan destruksi jaringan lunak.hodgkins dan. diplopia Telinga : pendengaran menurun. prognosis masih dianggap buruk. Sekarang. Pangetahuan terkini. GEJALA KLINIS Gallagher dan Boies yang dikutip oleh Gasal membagi gambaran gejalanya sebagai berikut : Hidung : obstruksi nasal kronis. median dari survival rate nya mulai dari 1 tahun hingga 5 tahun. epistaksis Muka : pembengkakan pipi. dan 5 tahun survival rate kurang dari 70%. Pemeriksaan radiologi dengan memakai foto biasa hasilnya kurang memuaskan. rinotea. lymphomas granulomatosis. termasuk lethal midline granuloma. midline malignant reticulosis. parestesia Rongga mulut : bombans palatum. Pemeriksaan dengan alat-alat CT scan dan MRI (Magnetic Resonance | Bagian/SMF Radiologi 14 . Karena sangat membingungkan untuk mengelompokkan penyakit ini. dan prednisone. dan perdarahan. dengan usia pasien berkisar antara 13-80 tahun. gigi goyah atau tanggal Mata : epifora. pembengkakan kelenjar leher Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis terhadap keluhan disertai pemeriksaan THT yang teliti. lesi ini mungkin dikategorikan sebagai T-cell/natural killer-cell carcinoma. Regimen kemoterapi sering menyertakan kombinasi dari cyclophosphamide. otalgia Lain-lain : trismus. proptosis. angiocentric lymphoproliferatif lesions. Diyakini sangat erat kaitannya dengan Epstein-barr virus dan sering terjadi di asia dan amerika latin. data saentifik untuk memastika prognose tidak tersedia.

tetapi secara garis besar tulang tulang tersebut mengalami rekalsifikasi lagi. kelainan jaringan lunak. jaringan lunak dan orbita dapat dievaluasi. tetapi secara patologis prognosisnya sangat jelek. esthesioneuroblastoma. Ada sekelompok tumor dengan tanda-tanda radiologik yang khas. 15 | Bagian/SMF Radiologi . Kelompok tumor ini adalah papiloma. Pemeriksaan ini dari sudut biaya cukup ekonomis dan pasien hanya mendapat radiasi yang minimal. ekstramedulariplasmasitoma. Karena banyaknya unsur-unsur tulang dan jaringan lunak yang tumpang tindih pada daerah sinus paranasal. melanosarkoma. yaitu adanya ekspansi aktif meliputi seluruh rongga sinus.Imaging) dapat memberikan hasil yang memuaskan dimana struktur tulang disekitar sinus maksila. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsi. sehingga sering tumor dianggap jinak. dan rhabdomiosarkoma. erosi tulang kadang sulit di evaluasi. PEMERIKSAAN RADIOLOGI X-Ray Konvensional Pemeriksaan foto polos kepala adalah pemeriksaan yang paling baik dan paling utama untuk mengevaluasi sinus paranasal. Tanda-tanda radiologi pada foto polos kepala adalah adanya masa pada sinus maksilaris disertai dekstruksi tulang aktif. dekstruksi tulang dinding pada sinus yang diserang. tumor kelenjer saliva minor termasuk adenokarsinoma. Biopsi dapat dilakukan secara transnasal baik langsung maupun dengan alat endoskopi B.

pada beberapa contoh dapat menjadi suatu karakteristik. mukokel dan perluasan lesi lainnya pada sinus.Gambar 2: Foto Water¶s menunjukkan kista yang normalnya sinus maxilla tersebut berisi udara COMPUTER ZE TOMOGR (CT CT scanning penting sebagai tambahan terhadap pemeriksaan radiologi dari sinus paranasal. CT memiliki manfaat untuk menunjukkan baik itu dekstruksi tulang dan perluasan jaringan lunak dari penyakit. Pada penyakit ganas ini memberikan metode yang akurat bagi penetapan stadium tumor sebelum radioterapi atau pembedahan dan ini penting secara postoperative untuk menunjukkan rekurensi tumor. ini telah memperluas kemungkinan dari diagnose banding patologi sinus. tetapi dengan demonstrasi yang lebih sensitive dari kalsifikasi tumor. dan sebenarnya telah menggantikan tomografi konvensional sebagai cara penilaian tumor. Sebagai tambahan. tidak hanya menunjukkan pola jaringan lunak dari penyakit. Medium kontras Nilai penting pada kontras atenuasi CT secara umum bisa berupa jaringan normal dan abnormal menunjukkan peningkatan setelah pemberian medium kontras       |B S F 16 .

intravena. Disini harus dikerjakan injeksi bolus atau infuse drip dan scanning dikerjakan selama pemberian yang sesungguhnya dari bahan kontras untuk bisa menangkap fase vasc lar u dari peninggian tumor. (A) Foto CT pasien dengan kanker sinus maxilla menunjukkan penghancuran tulang (anak panah) yang merupakan tanda utama keganasan. Pasien dengan dugaan penyebaran tumor kedalam fossa cranial anterior atau medial. yaitu dimana barier darah otak terlibat. Secara umum. medium kontras intravena harus dicadangkan untuk pasien dengan kategori berikut: 1. Gambar 3 . Pasien dengan tumor vascular seperti angiofibroma. Tumor kemudian digambarkan berlawanan dengan gambaran otak yang tidak enhance. 2. 17 " !()("' & % # " ! $ |B S F . tetapi juga mempertimbangkan variasi dalam tipe-tipe tumor dengan histology yang sama. Pada neoplasia sinus tidak hanya mengerjakan variasi peninggian derajat dengan tumor yang berbeda-beda dengan histology.

5 cm hingga kedalaman 12 cm. seperti malignansi leher. 2 18982706 5 302 10 4 |B S F 18 . ini menyediakan pencakupan total dari kepala dan leher dan membolehkan identifikasi penyakit yang bersamaan dari tempat primer di sinus. A tumo fills @ D A @ A B BB @ A E @ B BB @A A B @ EB B A@ B MAGNET (op th A A i f io o ital fissu DD @A c a ial fossa ( lack a ows) a l A D @ i th si us with sp a i to th mi a ow). Manfaat dari tomografi magnetic resonansi melebihi metode metode lainnya adalah dengan fasilitas multi slice yang berstandar pada mesin terbaru.@ A @ C B Gambar 3. Ini membolehkan potongan multiple untuk diperoleh secara simultan dengan menggunakan slice yang letaknya berdekatan 1 cm atau 0. RE ONANSI IMAGING Fasilitas multi-slice. Hal ini secara jelas sebagai onkolog (ahli kanker) dalam merencanakan pengobatan dan ini mewakili secara mayoritas lebih maju dibandingkan CT scan. Th tumo tumo fills i th @ B l -shap A D cavity. Gabungan antara penggunaan head koil (gulungan utama) dan pencitraan 3 dimensi. A spi asal A C T a sv s s ctio th ou h th @A A D comput papilloma ± B tumo . B B E Gam a 4 (C) Squamous c ll ca ci oma @ A B @ B B BC tomo aphy T a sv s s ctio @ A A A B D A D comput C B th ou h th sph oi si us. (B) i v ti BC tomo aphy th A @A A BB B A @A A A @ C B ED D A @ A B B D D A@ m ial wall of th maxilla y t withi th polypoi A @ @A@ a t compo suspicious fo D i A st oy B @ A C B @ @ C amali D fossa (a ow) a B B si us is s i to th @ D @ @ post io a xt A A B A @ D A A pt y opalati B @ asal cavity.

dimana yang ditunjukkan oleh retained secretion tanpa kecuali selalu homogeny. Pada kontras. Gambar 4: MRI kanker sinus maxilla dengan jelas dapat membedakaan tumor yang membatasi sinus maxilla. Hal itu terlihat sebagai area dengan sinyal negative atau kosong dan saat menunjukan diagnose secara total. Gambaran tambahan adala sinyal yang diberikan oleh tumor yang heterogen.Secara umum. tumor malignan y ang berasal dari sinus. Pada tumor jinak ini pembuluh darah besar dapat diidentifikasi baik pada tumor dan otot di sekitarnya. Perbedaan antara tumor dan sekresi yang tertahan terutama ditemukan pada gambaran T2 weighted. 19 H GTUTHSFR Q IFH GF P |B S F . menghasilkan sinyal dengan intensitas medium pada rangkaian T1 weighted spin-echo dan sinyal medium hingga kuat pada gambaran T2. Vaskularisasi dari tumor memiliki kontribusi terhadap pengurangan sinyal homogeny yang terlihat pada angiofibroma juvenile. baik itu epithelial atau mesenkimal. retained secretion selalu memberikan sinyal yang lebih kuat daripada tumor. retained secretion menghasilkan sinyal tinggi pada rangkaian spin echo.

Kelima. Menegakkan diagnosis dengan biopsi dan pemeriksaan histopatologi.8 PENATALAKSANAAN Yang penting dalam penatalaksanaan tumor ialah. karena sangat jarang. Sistem TNM yang dibuat ini hanya berlaku untuk karsinoma sel skuamosa dan baru ada untuk tumor sinus maksila saja. untuk keseragaman informasi antra sentra sedunia. Ketiga merencanakan terapi. Kedua. Rencana terapi dibuat berdasarkan diagnosis histopatologi dan stadium tumor. Sudah banyak pakar dari berbagai sentra yang mengajukan usul sistem TNM. untuk meramalkan prognosisnya. rupanya agak sukar bagi tumor ganas hidung dan sinus paranasal karena susunan anatominya yang rumit dan penyakitnya seringkali ditemukan sudah dalam stadium lanjut. | Bagian/SMF Radiologi . Klasifikasi dan cara menentukan stadium tumor ganas Untuk membuat suatu sistem klasifikasi tumor ganas yang dapat diterima oleh seluruh negara di dunia. sampai dimana perluasannya. Ketiga. Biasanya klasifikasi untuk menentukan stadium tumor ganas dipakai sistem TNM. kelenjar limfe regional yang terkena dan M = Metastasis. untuk membantu penelitian mengenai tumor ganas. yaitu T = Tumor. tetapi selama ini belum ada yang diterima secara menyeluruh. untuk mengevaluasi hasil pengobatan. Sub bagian onkologi di bagian THT FK-UI/RSCM biasanya mengikuti penentuan stadium TNM yang dibuat oleh Sakai dari Jepang. Kedua menentukan batas-batas tumor. Untuk hidung dan sinus etmoid masih harus dipelajari lagi sedangkan untuk sinus frontal dan sinus sfenoid 20 tidak perlu. N = Nodul. Sistem TNM ini pernah diajukan pada rapat gabungan UICC dan AJCC pada tahun 1925 dan rupanya usulan tersebut dapat diterima karena pada tahun 1927 UICC dan AJCC telah sepakat akan meresmikan satu sistem yang dapat diterima semua pihak dan sistem ini sama dengan yang diajukan oleh Sakai.2. Pembuatan sistem klasifikasi gunanya adalah pertama. sedangkan untuk menentukan batas tumor dengan pemeriksaan radiologis. pertama menegakkan diagnosis. untuk merencanakan terapi. Keempat.

21 dasar orbita atau sinus etmoid anterior. Bidang itu membagi rahang atas menjadi struktur supero-posterior (= suprastruktur) dan struktur inferoanterior (= infrastruktur). sinus etmoid posterior atau sfenoid. Yang termasuk suprastruktur adalah dind tulang sinus ing maksila bagian posterior dan separuh bagian posterior dinding atas. T4 : Tumor mengenai isi orbita dan/atau invasi ke suprastruktur.GARIS OHNGR N Ohngren pada tahun 1933 membuat teori tentang adanya suatu bidang imaginer yang melalui kantus medius dan angulus mandibula. termasuk tulang. Tumor di daerah infrastruktur mempunyai prognosis yang jauh lebih baik daripada tumor di suprastruktur. Sisanya termasuk infrastruktur. salah satu dari: lamina kribriformis. X WdedXcVb a YVX WV ` |B S F . dinding belakang sinus maksila. T3 : Tumor meluas sampai ke kulit pipi. Gambar 5: Garis Ohngren Dibawah ini adalah klasifikasi TNM untuk karsinoma sinus maksila: Kategori T untuk karsinoma sinus maksila T1 : Tumor terbatas pada mukosa antrum tanpa erosi atau destruksi T2 : Tumor dengan erosi atau destruksi pada infrastruktur. palatum durum dan/atau meatus medius.

N2a : Metastasis tunggal pada kelenjar ipsilateral dengan diameter terbesar lebih dari 3 cm tetapi tidak lebih dari 6 cm. dasar tengkorak. N0 atau N1. Hal ini antara lain karena kasusnya jarang sehingga belum ada yang berpengalaman untuk dapat membuat ketentuan yang dapat diikuti. Kategori M untuk karsinoma sinus maksila Mx : Adanya metastasis jauh tidak dapat dinilai. fosa pterigomaksila atau temporal. T2 atau T3. M0 Stadium II : T2. Kategori N untuk karsinoma sinus maksila N0 : Tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional. Sampai sekarang belum ada parameter pengobatan untuk tumor ganas hidung dan sinus paranasal. M1 : Ada metastasis jauh. M1 Pengobatan Rencana pengobatan dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi dan stadium tumor bila tumor ganas. N1 : Metastasis tunggal pada kelenjar limfe ipsilateral dengan diameter terbesar 3 cm atau kurang. N0. M0 Stadium IV : T4. N3 : Metastasis ke kelenjar limfe yang diameternya lebih dari 6 cm. N0. | Bagian/SMF Radiologi 22 . palatum mole. N0. N2b : Metastasis ganda kelenjar ipsilateral. M0 atau : semua T. semua dengan diameter terbesar tidak lebih dari 6 cm. N2c : Metastasis kelenjar limfe bilateral atau kontralateral. M0 atau : semua T.nasofaring. Penentuan stadium karsinoma sinus maksila Stadium I : T1. N2 atau N3. M0 atau : T1. N1. M0 : Tidak ada metastasis jauh. semua N. semua dengan diameter terbesar tidak lebih dari 6 cm. M0 Stadium III : T3.

Radioterapi dapat dilakukan sebelum atau sesudah operasi. Bila tumor di sinus maksila dan infrastruktur dilakukan maksilektomi parsial. Untuk tumor yang sangat besar. Bila sinus sfenoid terkena dilakukan operasi kranio-fasial dengan bantuan ahli bedah saraf. ginggivo-alveolaris dan palatum durum. Bila tumor sudah memenuhi maksila dilakukan maksilektomi radikal. Di bagian THT FK-UI/RSCM pengobatan tumor ganas hidung dan sinus paranasal adalah kombinasi operasi dan radiasi. Tetapi bila telah dilakukan radiasi dulu. Operasi maksilektomi memerlukan prostesis untuk mengganti kedudukan maksila yang dibuang. Sekarang lebih disukai radiasi paska operasi. Kebanyakan pakar berpendapat bahwa satu macam cara pengobatan saja hasilnya buruk.juga karena standar klasifikasi dan penentuan stadium belum resmi ada. yaitu mengangkat seluruh isi rongga sinus maksila. kecuali untuk pasien yang sudah ³inoperable´ atau menolak tindakan operasi. radioterapi dilakukan lebih dulu untuk mengecilkan tumornya dan mengurangi pembuluh darah sehingga operasi akan lebih mudah. Bila tumor sudah meluas ke nasofaring dan fosa pterigopalatina kita anggap sudah ³inoperable´ dan hanya diberikan penyinaran saja. Luasnya operasi tergantung pada sampai dimana batas tumornya. sesudah selesai banyak pasien yang kemudian tidak kembali untuk operasi karena merasa tumornya sudah mengecil atau ada yang tidak mau operasi karena efek samping radioterapi yang berkepanjangan. Untuk pasien ini diberikan radioterapi sesudah dibuatkan antrostomi. Masing -masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. radioterapi dan kemoterapi. Protesis ini dikerjakan oleh dokter gigi dan harus dipersiapkan sebelum operasi dan langsung dipasang pada waktu operasi karena | Bagian/SMF Radiologi 23 . Bila tumor sudah sampai ke mata dilakukan eksenterasi orbita. Untuk membuat rencana pengobatan harus dinilai kasus demi kasus karena respon tiap jenis tumor tidak sama terhadap suatu cara pengobatan dan juga harus dilihat sampai dimana perluasan tumornya. karena sekaligus dimaksudkan untuk memberantas mikrometastasis yang terjadi atau bila masih ada sisa tumor yang tidak terangkat pada waktu operasi. sehingga mereka mengajukan cara terapi kombinasi antara operasi.

untuk penanganan tumor ganas hidung dan sinus. Pada eksenterasi orbita. ahli radiologi. akan terjadi kontraksi jaringan yang akan sulit diperbaiki kemudian. 24 h gtuthsfr q ifh gf p |B S F .kalau tidak. yaitu ahli bedah THT. juga diperlukan protesis bola mata. Jadi. ahli bedah plastik dan dokter gigi. ahli bedah saraf. diperlukan kerja sama yang baik antar berbagai disiplin ilmu. ahli patologi. Pada kebanyakan operasi tumor hidung dan sinus. sesudah operasi sering diperlukan perbaikan wajah dengan bedah plastik. ahli bedah mata.

25 | Bagian/SMF Radiologi . Jenis histologis yang paling umum adalah karsinoma sel skuamosa. sehingga mereka mengajukan cara terapi kombinasi antara operasi. Kebanyakan pakar berpendapat bahwa satu macam cara pengobatan saja hasilnya buruk. radioterapi dan kemoterapi. mewakili sekitar 80% kasus.BAB III PENUTUP Kanker rongga hidung atau sinus paranasal adalah sebuah kondisi yang sangat mematikan dan terutama tidak nyaman dengan pembawaannya yang jelas baik bagi pasien maupun bagi keluarganya. Pekerja nikel memiliki peningkatan 100-870 kali angka normal karsinoma sel skuamosa. Diagnosis suatu tumor dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi biopsi tumor. Pada umumnya prognosis kurang baik. Keganasan pada hidung dan sinus paranasal ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan 2 : 1. obstruksi hidung dan epistaksis. Etiologi diakibatkan pemaparan terhadap lingkungan pekerjaan. Gejala klinis yang paling sering.

Diunduh tanggal 6 Juni 2010 Rasad. Sjahriar. Diunduh tanggal 8 juni 2010 Halinda Sari Lubis. Christopher. Balai penerbit FKUI: Jakarta. Mancuso. Kanker sinus Nasal Pada Pekerja Yang Terpajan Terhadap Nikel.com.wordpress. http://ningrumwahyuni.com. USU digital library Larsson. http://www. 2010. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Kelima. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua.medyclopaedia.com. and. 2009. Klem.DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Sven G. 2005. Iskandar N. paranasal sinuses and the facial skeleton. Diunduh tanggal 6 juni 2010. Malignant tumors of the sinuses. The nose. Tumor Ganas Hidung.emedicine.medscape. 26 | Bagian/SMF Radiologi . Anthony A. 2001. http://www. Soepardi EA. 2004. 2010. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.