You are on page 1of 29

12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Sectio Caesaria
a. Pengertian Sectio Caesaria (SC)
Sectio caesaria (SC) adalah suatu tindakan untuk melahirkan
bayi per abdominal dengan melalui insisi pada dinding abdomen dan
dinding uterus interior, biasanya yang sering dilakukan insisi segmen
bawah tranversal (Farrer, 21).
SC adalah melahirkan !anin melalui insisi pada dinding
abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histeretomi). "ndikasi SC
antara lain # disproporsi !anin$panggul, gawat !anin, plasenta previa,
riwayat SC, kelainan letak, partus tak ma!u, kehamilan dengan resiko
tinggi, pre$eklampsia dan hipertensi (Cunningham, 2%).
b. &ipe$tipe Sectio Caesaria
'enurut Farrer (21), tipe ( tipe sectio caesaria adalah #
1) Segmen bawah # insisi melintang
Pada bagian segmen bawah uterus dibuat insisi melintang yang
ke)il, luka ini dilebarkan ke samping dengan !ari$!ari tangan dan
berhenti didekat daerah pembuluh$pembuluh darah uterus. *epala
1+
!anin yang pada sebagian besar kasus terletak dibalik insisi
diekstraksi atau didorong, diikuti oleh bagian tubuh lainnya dan
kemudian plasenta serta selaput ketuban.
2) Segmen ,awah # "nsisi 'embu!ur
Cara membuka abdomen dan menyingkapkan uterus sama seperti
pada insisi melintang. "nsisi membu!ur dibuat dengan skapel dan
dilebarkan dengan gunting tumpul untuk menghindari )idera pada
bayi.
+) Sectio Caesaria klasik
"nsisi longitudinal digaris tengah dibuat dengan skapel ke dalam
dinding anterior uterus dan dilebarkan ke atas serta ke bawah
dengan gunting beru!ung tumpul. -iperlukan luka insisi yang
lebar karena bayi dilahirkan dengan presentasi bokong dahulu,
!anin atau plasenta dikeluarkan dan uterus ditutup dengan !ahitan
tiga lapis.
.) Sectio Caesaria /kstra Peritoneal
Pembedahan ekstra peritoneal diker!akan untuk menghindari
perlunya histerektomi pada kasus$kasus yang mengalmi in0eksi
luas dengan men)egah peritonitis generalisasi yang sering bersi0at
0atal.
1.
). *omplikasi Sectio Caesaria
*omplikasi Sectio Caesaria 'enurut Farrer (21) adalah #
1. 1yeri pada daerah insisi,
2. Perdarahan primer sebagai akibat kegagalan men)apai
homeostatis karena insisi rahim atau akibat atonia uteri yang
dapat ter!adi setelah peman!angan masa persalinan,
+. Sepsis setelah pembedahan, 0rekuensi dari komplikasi ini lebih
besar bila sectio caesaria dilaksanakan selama persalinan atau
bila terdapat in0eksi dalam rahim,
.. Cidera pada sekeliling struktur usus besar, kandung kemih yang
lebar dan ureter,
2. "n0eksi akibat luka pas)a operasi,
%. ,engkak pada ekstremitas bawah,
3. 4angguan laktasi,
5. Penurunan elastisitas otot perut dan otot dasar panggul, dan
6. Potensi ter!adinya penurunan kemampuan 0ungsional.
d. 1yeri pada "bu Post 7perasi SC
Pada proses operasi digunakan anastesi agar pasien tidak
merasakan nyeri pada saat dibedah. 1amun setelah operasi selesai dan
pasien mulai sadar dan e0ek anestesi habis bereaksi, pasien akan
merasakan nyeri pada bagian tubuh yang mengalami pembedahan.
,anyak ibu yang mengeluhkan rasa nyeri dibekas !ahitan, keluhan ini
12
sebetulnya wa!ar karena tubuh tengah mengalami luka dan
penyembuhannya tidak bisa sempurna, apalagi !ika luka tersebut
tergolong pan!ang dan dalam. Pada operasi SC ada 3 lapisan perut
yang harus disayat. Sementara saat proses penutupan luka, 3 lapisan
tersebut di!ahit satu demi satu menggunakan beberapa ma)am benang
!ahit. 8asa nyeri di daerah sayatan yang membuat sangat terganggu
dan pasien merasa tidak nyaman (9alley, 25).
Toxonomi Comitte of The International Assocation
mende0inisikan nyeri post operasi sebagai sensori yang tidak
menyenangkan dan pengalaman emosi yang berhubungan dengan
kerusakan !aringan potensial nyata atau menggambarkan terminologi
suatu kerusakan. 1yeri post operasi akan meningkatkan stres post
operasi dan memiliki pengaruh negati0 pada penyembuhan nyeri.
*ontrol nyeri sangat penting dilakukan sesudah pembedahan. 1yeri
yang dibebaskan dapat mengurangi ke)emasan, berna0as lebih mudah
dan dalam, dapat mentoleransi mobilisasi yang )epat. Pengka!ian
nyeri dan kesesuaian analgesik harus digunakan untuk memastikan
bahwa nyeri pasien post operasi dapat dibebaskan (Potter dan Perry,
2%).
8asa nyeri akan menimbulkan berbagai masalah, salah
satunya masalah laktasi. 'enurut :illan (1662) dalam ;nggorowati
(23) bahwa %5< ibu post SC mengalami kesulitan dengan
perawatan bayi, bergerak naik turun dari tempat tidur dan mengatur
1%
posisi yang nyaman selama menyusui akibat adanya nyeri. 8asa nyeri
akan menyebabkan pasien menunda pemberian ;S" se!ak awal pada
bayinya, karena rasa tidak nyaman selama proses menyusui
berlangsung atau peningkatan intensitas nyeri setelah operasi
(,atubara dkk, 25).
Pemberian ;S" yang tertunda dan kurangnya perawatan bayi
yang dilakukan oleh ibu men!adi dampak terhadap bayi. 'enurut
"ndiarti (26), tertundanya pemberian ;S" se!ak awal menyebabkan
pemberian nutrisi untuk bayi berkurang, sehingga bisa menyebabkan
gangguan respiratorik dan turunnya daya tahan tubuh bayi. ;S"
sebagai makanan terbaik bagi bayi dan mempunyai banyak man0aat
bagi bayi maupun ibu tidak didapat se)ara optimal karena respon ibu
dalam memberikan ;S" kurang.
2. Nyeri
a. Pengertian 1yeri
1yeri merupakan suatu kondisi perasaan yang tidak nyaman
disebabkan oleh stimulus tertentu. Stimulus nyeri dapat berupa
stimulus yang bersi0at 0isik, maupun mental. 1yeri bersi0at sub!ekti0,
sehingga respon setiap orang tidak sama saat merasakan nyeri. 1yeri
tidak dapat diukur se)ara ob!ekti0, misalnya dengan menggunakan
pemeriksaan darah. 7rang yang merasakan nyeri yang dapat
mengukur tingkatan nyeri yang dialaminya (Potter = Perry, 2%).
13
1yeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan
akibat ter!adinya rangsangan 0isik maupun dari serabut sara0 dalam
tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi 0isik, 0isiologis, maupun
emosional (;limul, 25).
1yeri merupakan sensasi tidak menyenangkan yang
terlokalisasi pada suatu bagian tubuh. 1yeri sering di!elaskan dalam
istilah proses destrukti0 !aringan (misalnya seperti ditusuk$tusuk,
panas terbakar, melilit, seperti disobek$sobek, seperti diremas$remas)
dan>atau suatu reaksi badan atau emosi yang tidak stabil (misalnya
perasaan takut, mual). 1yeri dengan intensitas sedang sampai kuat
dapat disertai oleh rasa )emas (ansietas) dan keinginan kuat untuk
melepaskan diri dan atau meniadakan perasaan nyeri tersebut. 1yeri
bersi0at akut, se)ara karakteristik berhubungan dengan perubahan
tingkah laku dan respons stres yang terdiri dari meningkatnya tekanan
darah, denyut nadi, diameter pupil, dan kadar kortisol plasma
("sselba)her, 1666).
1yeri merupakan mekanisme 0isiologis yang bertu!uan untuk
melindungi diri. ;pabila seseorang sedang merasakan nyeri, akan
ter!adi perubahan perilaku pada orang tersebut. 'isalnya, seseorang
yang kakinya terkilir akan menghindari aktivitas mengangkat barang
yang memberi beban pada kakinya untuk men)egah )edera yang lebih
berat. 1yeri dapat mengganggu hubungan personal dan
mempengaruhi makna kehidupan (Potter = Perry, 2%).
15
b. Fisiologi 1yeri
'enurut Potter = Perry (2%), mun)ulnya nyeri berkaitan
dengan reseptor dan adanya rangsangan. 8eseptor nyeri yang
dimaksud adalah nociceptor. nociceptor merupakan u!ung$ u!ung sara0
sangat bebas yang memiliki sedikit mielin yang tersebar pada kulit
dan mukosa, khususnya visera, persendian, dinding arteri, hati, dan
kantong empedu.
8eseptor nyeri dapat memberikan respons akibat adanya
stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa kimiawi,
termal, listrik atau mekanis. Selan!utnya, stimulasi yang diterima oleh
reseptor tersebut ditransmisikan berupa impuls$impuls nyeri ke
sumsum tulang belakang oleh dua !enis serabut, yaitu serabut ;
(delta) yang bermielin rapat dan serabut lamban (serabut C).
"mpuls$impuls yang ditransmisikan oleh serabut delta ;
mempunyai si0at inhibitor yang ditransmisikan ke serabut C, serabut$
serabut a0eren masuk ke spinal melalui akar dorsal (dorsal root) serta
sinaps pada dorsal horn. Dorsal horn terdiri dari beberapa lapisan
atau lamina yang saling berikatan. -i antara lapisan dua dan tiga
membentuk substantia gelatinosa yang merupakan saluran utama
impuls.
*emudian, impuls nyeri menyeberangi sumsum tulang
belakang pada interneuron dan bersambung ke !alur spinal asendens
yang paling utama, yaitu !alur spinothalamic tract (S&&) atau !alur
16
spinothalamus dan spinoreticular tract (S8&) yang membawa
in0ormasi mengenai si0at dan lokasi nyeri. -ari proses transmisi
terdapat dua !alur mekanisme ter!adinya nyeri, yaitu !alur opiate dan
!alur nonopiate. ?alur opiate ditandai oleh pertemuan reseptor pada
otak yang terdiri atas !alur spinal desendens dari talamus, yang
melalui otak tengah dan medula, ke tanduk dorsal sumsum tulang
belakang yang berkonduksi dengan nociceptor impuls supresi0.
Serotonin merupakan neurotransmiter dalam impuls supresi0.
Sistem supresi0 lebih mengakti0kan stimulasi nociceptor yang
ditansmisikan oleh serabut ;. ?alur nonopiate merupakan !alur
desenden yang tidak memberikan respons terhadap naloxone yang
kurang diketahui mekanismenya.
). 8espon 1yeri
8eaksi terhadap nyeri merupakan respon 0isiologis dan
perilaku yang ter!adi setelah mempersepsikan nyeri #
1) 8espon 0isiologis
8espon 0isiologis dihasilkan oleh stimulasi pada )abang
sara0 simpatis dan sistem sara0 otonom. :al ini ter!adi karena pada
saat impuls nyeri naik ke medula spinalis menu!u ke batang otak
dan talamus, sistem sara0 otonom men!adi terstimulasi sebagai
bagian dari respon stress. ;pabila nyeri berlangsung terus$menerus,
berat atau dalam, dan se)ara tipikal melibatkan organ$organ viseral
2
(misalnya, nyeri pada in0ark miokard), sistem sara0 parasimpatis
akan menghasilkan suatu aksi (Potter = Perry, 2%).
2) 8espon perilaku
Pada saat nyeri dirasakan, saat itu !uga dimulai suatu siklus,
yang apabila nyeri tidak diobati atau tidak dilakukan upaya untuk
menghilangkannya, dapat mengubah kualitas kehidupan se)ara
nyata. 1yeri dapat memiliki si0at yang mendominasi, yang
mengganggu kemampuan individu berhubungan dengan orang lain
dan merawat diri sendiri. 8espon perilaku terhadap rasa nyeri
menurut ,erman, Snyder, *o@ier, = /rb, (26) dalam 9idiyanto
(212), adalah sebagai berikut #
a) 4igi mengatup
b) 'enutup mata dengan rapat
)) 'enggigit bibir bawah
d) 9a!ah meringis
e) 'erintih dan mengerang
0) 'erengek
g) 'enangis
h) 'en!erit
i) "mobilisasi tubuh
!) 4elisah, melempar benda, berbalik
k) Pergerakan tubuh berirama
l) 'enggosok bagian tubuh
21
m) 'enyangga bagian tubuh yang sakit
d. *lasi0ikasi 1yeri
*lasi0ikasi nyeri se)ara umum dibagi men!adi dua, yakni nyeri
akut dan kronis. 1yeri akut merupakan nyeri yang timbul se)ara
mendadak dan )epat menghilang, tidak melebihi enam bulan, serta
ditandai dengan adanya peningkatan tegangan otot. 1yeri kronis
merupakan nyeri yang timbul se)ara perlahan$lahan. Contoh dari nyeri
kronis adalah nyeri pada penyakit terminal, dan nyeri psikosomatis
(;limul, 25).
e. Faktor $ Faktor Aang 'empengaruhi 1yeri
1yeri merupakan sesuatu yang kompleks, banyak 0aktor
yang mempengaruhi pengalaman nyeri. 'enurut Potter = Perry
(2%), 0aktor$ 0aktor yang mempengaruhi nyeri, antara lain#
1) Bsia
Bsia merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri.
Perbedaan perkembangan yang ditemukan di antara kedua
kelompok usia dapat mempengaruhi )ara bereaksi terhadap nyeri
(misalnya, anak$anak dan lansia).
2) ?enis *elamin
Se)ara umum, pria dan wanita tidak berbeda dalam berespons
terhadap nyeri. ,eberapa kebudayaan menganggap bahwa
22
seorang anak laki$laki harus berani dan tidak boleh menangis,
sedangkan seorang anak perempuan boleh menangis dalam situasi
yang sama. &oleransi terhadap nyeri dipengaruhi oleh 0aktor$
0aktor biokimia dan merupakan hal unik yang ter!adi pada setiap
individu, tanpa memperhatikan !enis kelamin.
+) *ebudayaan
*eyakinan dan nilai$nilai budaya mempengaruhi )ara individu
mengatasi nyeri. "ndividu mempela!ari apa yang diharapkan dan
apa yang diterima oleh kebudayaannya. ;da perbedaan makna
dan sikap yang dikaitkan dengan nyeri di berbagai kelompok
budaya. Cara individu mengekspresikan nyeri merupakan si0at
kebudayaan yang lain. ,eberapa kebudayaan yakin bahwa
memperlihatkan nyeri adalah sesuatu yang alamiah. *ebudayaan
yang lain )enderung untuk melatih perilaku yang tertutup. Suatu
pemahaman tentang nyeri dari segi makna dan budaya akan
membantu perawat dalam meran)ang asuhan keperawatan yang
relevan untuk pasien yang mengalami nyeri.
.) 'akna nyeri
'akna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri mempengaruhi
pengalaman nyeri dan )ara seseorang beradaptasi terhadap nyeri.
"ndividu akan mempersepsikan nyeri dengan )ara berbeda$beda,
apabila nyeri tersebut memberi kesan an)aman, suatu kehilangan,
2+
hukuman dan tantangan. -era!at dan kualitas nyeri yang
dipersepsikan klien berhubungan dengan makna nyeri.
2) Perhatian
&ingkat seseorang klien mem0okuskan perhatiannya pada nyeri
dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat
dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya
pengalihan dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.
-engan adanya upaya pengalihan, klien akan mem0okuskan
perhatian dan konsentrasinya pada stimulus yang lain.
%) ;nsietas
1yeri dan ansietas bersi0at kompleks, sehingga keberadaanya
tidak terpisahkan. ;nsietas meningkatkan persepsi nyeri, tetapi
nyeri !uga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. ;pabila
rasa )emas tidak mendapatkan perhatian, maka rasa )emas
tersebut akan menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri
yang serius.
3) *eletihan
*eletihan meningkatkan persepsi nyeri. 8asa keletihan
menyebabkan sensasi nyeri semakin intensi0 dan menurunkan
kemampuan koping.
5) Pengalaman sebelumnya
Setiap individu bela!ar dari pengalaman nyeri. Pengalaman nyeri
sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu akan menerima
2.
nyeri dengan lebih mudah pada masa mendatang. ;da dua
kemungkinan yang ter!adi ketika individu mengalami nyeri di
masa mendatang, yaitu individu akan lebih siap untuk melakukan
tindakan $ tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan nyeri
dan individu akan lebih mudah menginterpretasikan nyeri atau
individu akan mengalami ansietas bahkan rasa takut ketika
mengalami nyeri di masa mendatang.
6) 4aya *oping
4aya koping mempengaruhi individu dalam mengatasi nyeri.
1yeri dapat menyebabkan ketidakmampuan, baik sebagian
ataupun keseluruhan. "ndividu akan menemukan berbagai )ara
untuk mengembangkan koping terhadap e0ek 0isik dan psikologis
nyeri.
0. Penilaian *linis 1yeri
1) Numeric ating Scale (18S)
18S digunakan untuk menilai intensitas atau dera!at
keparahan nyeri dan memberi kesempatan kepada klien untuk
mengidenti0ikasi keparahan nyeri yang dirasakan (Potter = Perry,
2%). 'enurut Strong, et al (22) dalam -atak (25), 18S
merupakan skala nyeri yang paling sering dan lebih banyak
digunakan di klinik, khususnya pada kondisi akut, 18S
digunakan untuk mengukur intensitas nyeri sebelum dan sesudah
22
intervensi teraupetik. 18S mudah digunakan dan
didokumentasikan.
Gambar 2.1 Numeric rating scale (NRS)
2) !erbal espon Scale (C8S)
C8S adalah )ara pengukuran nyeri dengan menanyakan
respon klien terhadap nyeri se)ara verbal dengan memberikan 2
pilihan yaitu tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, nyeri berat,
dan nyeri luar biasa yang tidak tertahankan. Skala pada C8S
merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata
yang tersusun dengan !arak yang sama di sepan!ang garis. Skala
ini diurutkan dari tidak terasa nyeri sampai dengan nyeri yang
tidak tertahankan. Pada penggunaannya, perawat akan
menun!ukkan kepada klien tentang skala tersebut dan meminta
klien untuk memilih skala nyeri berdasarkan intensitas nyeri yang
dirasakannya. C8S akan membantu klien untuk memilih sebuah
kategori untuk mendeskripsikan rasa nyeri yang dirasakannya
(Potter = Perry, 2%).
+) !isual Analogue Scale (C;S)
C;S merupakan suatu garis lurus yang mewakili
intensitas nyeri dan memiliki alat keterangan verbal pada setiap
2%
u!ungnya. Skala ini memberi kebebasan klien untuk
mengidenti0ikasi keparahan nyeri. C;S merupakan pengukur
intensitas nyeri yang lebih sensiti0, karena klien dapat
mengidenti0ikasi setiap titik pada rangkain dari pada dipaksa
memilih satu kata atau satu angka (Potter = Perry, 2%). Skala
ini menggunakan angka sampai 1 untuk menggambarkan
tingkat nyeri. Pengukuran dikatakan sebagai nyeri ringan pada
nilai di bawah ., nyeri sedang bila nilai antara .$3 dikatakan
sebagai nyeri hebat apabila nilai di atas 3. (Sudoyo, Setiyohadi,
;lwi, *, = Setiati, 26).
Gambar 2.2 Visual analogue scale (VAS)
.) "ace Pain Scale (FPS)
FPS merupakan pengukuran nyeri dengan menggunakan
3 ma)am gambar ekspresi wa!ah. 1ilai berkisar antara sampai
dengan %. 1ilai mengindikasikan tidak nyeri, %
mengindikasikan sangat nyeri (nyeri yang buruk). FPS biasa
digunakan untuk mengka!i intensitas nyeri pada anak$anak
(9ong, 1665).
23
1 2 + . 2 %
Gambar 2. Face pain scale (!PS)
. Pena"a#a$sanaan Nyeri
'enurut Potter = Perry (2%), pentalaksanaan nyeri dibagi
men!adi dua, yaitu #
a. Penatalaksanaan 1yeri Se)ara Farmakologis
Penatalaksanaan nyeri se)ara 0armakologis e0ekti0 untuk nyeri sedang
dan berat. Penanganan yang sering digunakan untuk menurunkan nyeri
biasanya menggunakan obat analgesik yang terbagi men!adi dua
golongan yaitu analgesik non narkotik dan analgesik narkotik.
Penalaksanaan nyeri dengan 0armakologis yaitu dengan menggunakan
obat$obat analgesik narkotik baik se)ara intravena maupun
intramuskuler. Pemberian se)ara intravena maupun intramuskuler
misalnya dengan meperidin 32$1mg atau dengan mor0in sul0at 1$
12mg, namun penggunaan analgesik yang se)ara terus menerus dapat
mengakibatkan ketagihan obat (Cunningham et al, 2%).
1amun demikian pemberian 0armakologis tidak bertu!uan untuk
meningkatkan kemampuan pasien sendiri untuk mengontrol nyerinya
(Can *ooten 1666 dalam ;nggorowati dkk, 23).
25
b. Penatalaksanaan 1yeri Se)ara 1on$Farmakologis
*ombinasi penatalaksanaan nyeri 0armakologis dan penatalaksanaan
nyeri se)ara non$0armakologis dapat digunakan untuk mengontrol nyeri
agar sensasi nyeri dapat berkurang serta masa pemulihan tidak
meman!ang (,obak, 2.). 'etode non$0armakologis bukan
merupakan pengganti obat$obatan, tindakan ini diperlukan untuk
mempersingkat episode nyeri yang berlangsung hanya beberapa detik
atau menit. -alam hal ini, terutama saat nyeri hebat yang berlangsung
selama ber!am$!am atau berhari$hari, mengkombinasikan metode non
0armakologis dengan obat$obatan merupakan )ara yang paling e0ekti0
untuk mengontrol nyeri. Pengendalian nyeri non$0armakologis men!adi
lebih murah, mudah, e0ekti0 dan tanpa e0ek yang merugikan (Potter =
Perry, 22).
'enurut ,are = Smelt@er (21) penanganan nyeri se)ara non$
0armakologis terdiri dari #
1) 'asase kutaneus
'asase adalah stimulus kutaneus tubuh se)ara umum, sering
dipusatkan pada punggung dan bahu. 'asase dapat membuat pasien
lebih nyaman karena masase membuat relaksasi otot.
2) &erapi panas
&erapi panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah
ke suatu area dan kemungkinan dapat menurunkan nyeri dengan
memper)epat penyembuhan.
26
+) Transecutaneus #le$trical Ner%e Stimulaton (&/1S)
&/1S dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak
nyeri (non$nosiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut
yang menstransmisikan nyeri. &/1S menggunakan unit yang
di!alankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada kulit
untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung
pada area nyeri.
.) -istraksi
-istraksi adalah pengalihan perhatian dari hal yang menyebabkan
nyeri, )ontoh # menyanyi, berdoa, men)eritakan gambar atau 0oto
dengan kertas, mendengar musik dan bermain satu permainan.
2) 8elaksasi
8elaksasi merupakan teknik pengendoran atau pelepasan
ketegangan, )ontoh# na0as dalam dan pelan.
%) "ma!inasi
"ma!inasi merupakan khayalan atau membayangkan hal yang
lebih baik khususnya dari rasa nyeri yang dirasakan.
%. Te$ni$ Re#a$sasi A&"o'eni$
a. Pengertian &eknik 8elaksasi ;utogenik
8elaksasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang
merasakan bebas mental dan 0isik dari ketegangan dan stres. &eknik
relaksasi bertu!uan agar individu dapat mengontrol diri ketika ter!adi
+
rasa ketegangan dan stres yang membuat individu merasa dalam
kondisi yang tidak nyaman (Potter = Perry, 22). 8elaksasi
psikologis yang mendalam memiliki man0aat bagi kesehatan yang
memungkinkan tubuh menyalurkan energi untuk perbaikan dan
pemulihan, serta memberikan kelonggaran bagi ketegangan akibat
pola$pola kebiasaan (4oldbert, 23).
;utogenik memiliki makna pengaturan sendiri. ;utogenik
merupakan salah satu )ontoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan
konsentrasi pasi0 dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya,
tangan merasa hangat dan berat) yang di0asilitasi oleh sugesti diri
sendiri (Stetter, 22). 'enurut ;ryanti (23) dalam Pratiwi (212),
relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri
sendiri dengan menggunakan kata$kata atau kalimat pendek yang bisa
membuat pikiran men!adi tenang. 9idyastuti (2.) menambahkan
bahwa relaksasi autogenik membantu individu untuk dapat
mengendalikan beberapa 0ungsi tubuh seperti tekanan darah, 0rekuensi
!antung dan aliran darah. Duthe (16%6) dalam *ang et al (26)
mende0inisikan relaksasi autogenik sebagai teknik atau usaha yang
disenga!a diarahkan pada kehidupan individu baik psikologis maupun
somatik menyebabkan perubahan dalam kesadaran melalui autosugesti
sehingga ter)apailah keadaan rileks.
+1
b. 'an0aat &eknik 8elaksasi ;utogenik
'enurut Pratiwi (212), seseorang dikatakan sedang dalam
keadaan baik atau tidak, bisa ditentukan oleh perubahan kondisi yang
semula tegang men!adi rileks. *ondisi psikologis individu akan
tampak pada saat individu mengalami tekanan baik bersi0at 0isik
maupun mental. Potter = Perry (22) mengatakan bahwa setiap
individu memiliki respon yang berbeda terhadap tekanan, tekanan
dapat berimbas buruk pada respon 0isik, psikologis serta kehidupan
sosial seorang individu.
&eknik relaksasi dikatakan e0ekti0 apabila setiap individu
dapat merasakan perubahan pada respon 0isiologis tubuh seperti
penurunan tekanan darah, penurunan ketegangan otot, denyut nadi
menurun, perubahan kadar lemak dalam tubuh, serta penurunan proses
in0lamasi. &eknik relaksasi memiliki man0aat bagi pikiran kita, salah
satunya untuk meningkatkan gelombang al0a (E) di otak sehingga
ter)apailah keadaan rileks, peningkatan konsentrasi serta peningkatan
rasa bugar dalam tubuh (Potter = Perry, 22).
&eknik relaksasi autogenik menga)u pada konsep baru.
Selama ini, 0ungsi$0ungsi tubuh yang spesi0ik dianggap ber!alan se)ara
terpisah dari pikiran yang tertu!u pada diri sendiri. &eknik relaksasi ini
membantu individu dalam mengalihkan se)ara sadar perintah dari diri
individu tersebut. :al ini dapat membantu melawan e0ek akibat stres
yang berbahaya bagi tubuh. &eknik relaksasi autogenik memiliki ide
+2
dasar yakni untuk mempela!ari )ara mengalihkan pikiran berdasarkan
an!uran sehingga individu dapat menyingkirkan respon stres yang
mengganggu pikiran (9idyastuti, 2.).
). Pengaruh &eknik 8elaksasi ;utogenik ,agi &ubuh
-alam relaksasi autogenik, hal yang men!adi an!uran pokok
adalah penyerahan pada diri sendiri sehingga memungkinkan berbagai
daerah di dalam tubuh (lengan, tangan, tungkai dan kaki) men!adi
hangat dan berat. Sensasi hangat dan berat ini disebabkan oleh
peralihan aliran darah (dari pusat tubuh ke daerah tubuh yang
diinginkan), yang bertindak seperti pesan internal, menye!ukkan dan
merelaksasikan otot$otot di sekitarnya (9idyastuti, 2.).
8elaksasi autogenik akan membantu tubuh untuk membawa
perintah melalui autosugesti untuk rileks sehingga dapat
mengendalikan perna0asan, tekanan darah, denyut !antung serta suhu
tubuh. "ma!inasi visual dan mantra$mantra verbal yang membuat
tubuh merasa hangat, berat dan santai merupakan standar latihan
relaksasi autogenik (Carvogli, 211).
Sensasi tenang, ringan dan hangat yang menyebar ke seluruh
tubuh merupakan e0ek yang bisa dirasakan dari relaksasi autogenik.
&ubuh merasakan kehangatan, merupakan akibat dari arteri peri0er
yang mengalami vasodilatasi, sedangkan ketegangan otot tubuh yang
menurun mengakibatkan mun)ulnya sensasi ringan. Perubahan$
++
perubahan yang ter!adi selama maupun setelah relaksasi
mempengaruhi ker!a sara0 otonom. 8espon emosi dan e0ek
menenangkan yang ditimbulkan oleh relaksasi ini mengubah 0isiologi
dominan simpatis men!adi dominan sistem parasimpatis (7berg,
26).
d. &ahapan *er!a &eknik 8elaksasi ;utogenik
'enurut 9idyastuti (2.) dalam Pratiwi (212), teknik
relaksasi autogenik menggunakan konsep Fkonsentrasi pasi0G pada
daerah tertentu di tubuh tiap individu. Praktisi teknik relaksasi
autogenik mengulangi ungkapan kepada diri sendiri seperti ungkapan
kehangatan, ungkapan lamunan maupun ungkapan pengakti0an.
Bngkapan kehangatan yang dipakai dalam relaksasi ini seperti Faku
merasa hening, kedua tanganku, lenganku terasa hangat dan beratG.
Bngkapan lamunan yang digunakan pada teknik relaksasi ini seperti
F!auh di dalam pikiranku, aku merasakan kedamaian dan keheningan
yang menenangkanG. Bngkapan pengakti0an yang dapat digunakan
dalam relaksasi autogenik seperti F aku merasa kehidupan dan energi
mengalir melalui dada, kedua lengan, dan kedua tangankuG
:adibroto (2%) menyatakan latihan$latihan untuk
menghadirkan relaksasi pasi0 di seluruh bagian tubuh yang dibagi
men!adi enam tahap merupakan program teknik relaksasi autogenik.
/nam tahap autogenik terdiri dari yaitu merasa berat diseluruh
+.
anggota tubuh, merasa hangat ditangan dan kaki, menenangkan denyut
!antung, mengatur perna0asan, menghangatkan daerah sekitar !antung,
serta mendinginkan dahi. menyatakan 'enurut :adibroto (2%),
9idyastuti (2.) dan Siswantoyo (25) berikut akan dipaparkan
langkah$langkah dari teknik relaksasi autogenik yaitu #
1) 'engatur posisi tubuh, posisi berbaring maupun bersandar
ditempat duduk merupakan posisi tubuh terbaik saat melakukan
teknik relaksasi autogenik. Sebaiknya individu berbaring di karpet
atau di tempat tidur, kedua tangan di samping tubuh, telapak
tangan menghadap ke atas, tungkai lurus sehingga tumit dapat
menapak di permukaan lantai. ,antal yang tipis dapat diletakkan
di bawah kepala atau lutut untuk menyangga, asalkan tubuh tetap
nyaman dan posisi tubuh tetap lurus. ;pabila posisi berbaring
tidak mungkin untuk dilakukan, posisi dapat diubah men!adi
bersandar>duduk tegak pada kursi. Saat duduk !aga agar kepala
tetap se!a!ar dengan tubuh dan letakkan kedua tangan di pangkuan
atau di sandaran kursi. Calon penerima terapi harus melepaskan
!am tangan, )in)in, kalung dan perhiasan yang mengikat lainnya
serta longgarkan pakaian yang ketat.
+2
Gambar 2.% Posisi "id&ran "e$ni$ re#a$sasi a&"o'eni$
Gambar 2.( Posisi d&d&$ "e$ni$ re#a$sasi a&"o'eni$
2) *onsentrasi dan kewaspadaan, pernapasan dalam sambil dihitung
1 hingga 3 dilakukan guna meyakinkan. 4erakan ini dilakukan
sebanyak % kali. Selan!utnya adalah tarikan dan hembusan napas
dengan hitungan 1 hingga 6, yang dilakukan sebanyak % kali.
*etika menghembuskan napas perlu dirasakan kondisi yang
semakin rileks dan seolah$olah tenggelam dalam ketenangan.
Datihan ini diulangi + kali sehingga mendapatkan konsentrasi
yang lebih baik dengan mem0okuskan pikiran pada perna0asan
serta mengabaikan distraktor yang lain. Fokus pada perna0asan
dilakukan dengan )ara mem0okuskan pandangan pada titik
ima!iner yang berada pada 2 in)i (H 2,2 )m) dari lubang hidung.
Datihan ini mempertahankan kondisi se)ara pasi0 untuk tetap
+%
berkonsentrasi dan na0as dihembuskan melewati titik tersebut.
Selama latihan tetap mempertahankan irama na0as untuk tetap
tenang, dan selalu menggunakan perna0asan perut. Sasaran utama
mempertahankan pikiran ter0okus pada perna0asan.
+) ;da lima langkah dalam relaksasi autogenik yaitu perasaan berat,
perasaan hangat, ketenangan dan kehangatan pada !antung,
perasaan dingin di dahi, dan ketenangan perna0asan. Dangkah
relaksasi dengan menggunakan basic six dan 0okus pada
pernapasan dilakukan selama I 1 menit. *emudian setelah
latihan na0as dilan!utkan dengan pengalihan kepada kalimat
FmantraG saya merasa tenang dan nyaman berada di sini.
8esponden disugestikan untuk memasukan kalimat tersebut ke
dalam pikirannya dan diintruksikan supaya tenggelam dalam
ketenangan ketika mendengar kalimat tersebut. ;khir dari
relaksasi autogenik responden merasakan hangat, berat, dingin
dan tenang. &ahap akhir dari relaksasi ini responden diharapkan
mempertahankan posisi dan men)oba menempatkan perasaan
rileks ini ke dalam memori sehingga relaksasi autogenik dapat
diingat saat merasa nyeri.
'enurut Pratiwi (212), sebuah re%ie& meta$analisis Stetter
(22) dari % pela!ar dari +2 negara, ditemukan e0ek besar pada
perbandingan untuk pre dan post intervensi teknik relaksasi autogenik,
e0ek menengah terhadap kelompok kontrol, dan tidak ada e0ek bila
+3
dibandingkan dengan terapi psikologis yang lain. 8elaksasi autogenik
e0ekti0 dilakukan selama 2 menit dan relaksasi autogenik dapat
di!adikan sebagai sumber ketenangan selama sehari (*an!i, 2%).
,erdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Setyawati (21), relaksasi
autogenik yang dilakukan sebanyak + kali memiliki pengaruh yang
signi0ikan terhadap penurunan tekanan darah dan kadar gula darah pada
klien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi.
B. Keran'$a Teori
*erangka teori dalam penelitian ini disusun dari berbagai sumber,
yaitu Potter = Perry (2%), Potter = Perry, (22), *an!i et al (2%),
:amilton (21), Fareer (21), ,atubara (25), Cunningham (2%),
9alley (25), Carvogli (211), 9idyastuti (2.) dan "ndiarti (26).
;dapun kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut #
+5
&indakan
operasi
sectio
caesarea
Kom)#i$asi
Sectio caesarea'
1. Perdarahan
2. "n0eksi
+. Sepsis
.. Cidera
2. ,engkak pada
ekstremitas
bawah
%. 4angguan
laktasi
3. 1yeri
*am)a$ ba'i ib&+
1. 'obilitas &erbatas
2. ;-D terganggu
+. ,onding atta)hment
dan "'- tidak
terpenuhi
.. 'asalah Daktasi
*am)a$ ba'i Bayi+
1. &erlambat menerima
;S"
2. *urang perawatan dari
ibu
,. Nyeri
&eknik
relaksasi
autogenik
;utosugesti
:asil dari teknik relaksasi
;utogenik
Penurunan
88, denyut
!antung,
tekanan
darah
Pen'&$&ran S$a#a Nyeri
Numeric ating Scale
(18S)
Gambar 2.- Keran'$a Teori
.. Keran'$a Konse)
*erangka konsep penelitian disusun sebagai kerangka ker!a dalam
melakukan penelitian. ;dapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut #
Cariabel "ndependen Cariabel -ependen
&eknik 8elaksasi
;utogenik
1yeri post operasi
sectio caesarea
1. Bsia
2. Pendidikan
+. Peker!aan
.. Paritas
2. 8iwayat sectio caesaria
%. *ebudayaan
3. Pengalaman sebelumnya
5. 'akna nyeri
6. Perhatian
1. 4aya koping
Cariabel yang diteliti
Cariabel yang tidak diteliti
Gambar 2., Keran'$a Konse)
*. /i)o"esis
,erdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep tersebut, maka
peneliti menggunakan rumusan hipotesis ker!a (:a) dalam penelitian yaitu #
ada pengaruh teknik relaksasi autogenik terhadap skala nyeri pada ibu post
operasi sectio caesaria (SC) di 8SB- ,anyumas.