You are on page 1of 12

35

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Diagnosis dan Intervensi Komunitas
Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk menentukan
adanya suatu masalah kesehatan di komunitas atau masyarakat dengan cara
pengumpulan data di lapangan dan kemudian melakukan intervensi sesuai dengan
permasalahan yang ada. Diagnosis dan intervensi komunitas merupakan suatu
prosedur atau keterampilan dari ilmu kedokteran komunitas. Dalam melaksanakan
kegiatan diagnosis dan intervensi komunitas perlu disadari bahwa yang menjadi
sasaran adalah komunitas atau sekelompok orang sehingga dalam melaksanakan
diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh pengetahuan ilmu kesehatan masyarakat
(epidemiologi, biostatistik, metode penelitian, manajemen kesehatan, promosi
kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan gizi) (Duarsa,
2012.)

2.2. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan terjadi melalui
pancaindra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan
raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo,
2007.)
Proses yang didasari oleh pengetahuan kesadaran dan sikap yang positif,
maka perilaku tersebut akan bersikap langgeng. Sebaliknya apabila perilaku
tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung
lama (Notoatmodjo, 2007)
Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu adalah tingkat pengetahuan yang paling
36
rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan.
(Notoatmodjo, 2007)
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan benar tentang objek
yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang
yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan
menyebutkan cotoh menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari, misalnya dapat menjelaskan mengapa harus datang ke Posyandu
(Notoatmodjo, 2003.)
3. Analisis (Analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih
ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan, memisahkan, mengelompokkan (Notoatmodjo, 2007).
4. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan prinsip
(Notoatmodjo, 2007)
5. Sintesis (Synthesis).
Sintesis menunujuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan bagian-bagian di
dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
Misalnya: dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat
menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada (Notoatmodjo,
2007).
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu
37
kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria yang ada (Notoatmodjo,
2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007)
adalah:
1. Umur
Umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian
epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan.
Umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak
dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu
atau pengetahuan yang dimiliki karena pengetahuan seseorang diperoleh dari
pengalaman sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain.
2. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan
perilaku manusia melalui pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu
dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses
belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
persepsi seseorang atau lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi. Pendidikan
meliputi peranan penting dalam menentukan kualitas manusia. Dengan pendidikan
manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan implikasinya. Semakin tinggi
pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas karena pendidikan yang
tinggi akan membuahkan pengetahuan yang baik yang menjadikan hidup yang
berkualitas.
3. Paparan media massa
Melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik maka berbagai ini
berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang
lebih sering terpapar media massa akan memperoleh informasi yang lebih banyak
dan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki.
4. Sosial ekonomi (pendapatan)
Dalam memenuhi kebutuhan primer, maupun skunder keluarga, status ekonomi
yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding orang dengan status ekonomi
rendah, semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang semakin mudah dalam
mendapatkan pengetahuan, sehingga menjadikan hidup lebih berkualitas.
5. Hubungan sosial
38
Faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan
untuk menerima pesan menurut model komunikasi media. Apabila hubungan
sosial seseorang dengan individu baik, maka pengetahuan yang dimiliki juga
akan bertambah.
6. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali
pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada
masa yang lalu. Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal biasanya
diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses pengembangan misalnya sering
mengikuti organisasi.
Menurut Istiarti (2000), pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari
berbagai macam sumber, misalnya media masa, media elektronik, buku petunjuk,
petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat, dan sebagainya. Sumber pengalaman
dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli
agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2003).

2.3 Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk
menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti
keseimbangan O
2
yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O
2
di dalam rumah yang berarti
kadar CO
2
yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Di samping itu
tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik
karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban
ini merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (bakteri¬bakteri
penyebab penyakit) (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Fungsi kedua dari pada ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan
dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara
yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi
lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap di dalam kelembaban
( humidity) yang optimum (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF,
2001).
39
Terdapat 2 macam ventilasi, yakni:
a. Ventilasi alamiah, di mana aliran udara di dalam ruangan tersebut terjadi
secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada dinding dan
sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan, karena juga
merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga lainnya ke dalam rumah. Untuk itu
harus ada usaha-usaha lain untuk melindungi kita dari ganguan-ganguan tersebut.
usaha mendapatkan ventilasi alamiah bisa diperoleh
(http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
b. Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk
mengalirkan udara tersebut, misalnya mesin pengisap udara. Tetapi jelas alat ini tidak
cocok dengan kondisi rumah di pedesaan. Perlu diperhatikan disini bahwa sistem
pembuatan ventilasi harus dijaga agar udara tidak berhenti atau membalik lagi,
intinya harus mengalir. Artinya di dalam ruangan rumah harus ada jalan masuk dan
keluarnya udara (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Ada beberapa indikator yang dapat menentukan satu rumah sudah memiliki tata
udara yang cukup bagus atau belum. Salah satunya dengan memperhatikan temperatur
ruang yang dirasakan penghuni. Aman biasanya memiliki temperatur udara berkisar
22–30 derajat Celsius. Selain itu, kecepatan dan volume angin yang masuk ke dalam
rumah juga turut menentukan. Cara perhitungannya adalah dengan menganalisis
besaran inlet atau banyaknya ventilasi udara masuk, serta outlet yakni ventilasi
bukaan udara keluar. Indikator kedua yaitu lokasi rumah dan lingkungan. Dua
indikator tersebut merupakan faktor penentu untuk mengetahui letak ventilasi yang
tepat pada sebuah rumah (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF,
2001).
Lalu, untuk perhitungan tata udara secara buatan dilakukan dengan perhitungan
volume ruang dan konversi terhadap jenis kegiatan dalam ruangan tersebut. Tiap
ruang memiliki karakter dan kebutuhan masing-masing terhadap udara. Namun, yang
paling penting diperhatikan dan menjadi faktor utama adalah manusia atau penghuni
itu sendiri. Statistik bisa menentukan standardisasi kenyaman thermal dan kebutuhan
intensitas cahaya dalam ruang. Namun, pengalaman ruang yang dirasakan dan yang
diinginkan penghuni adalah hal yang paling utama
(http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
40
Prinsip membuat ventilasi rumah sehat adalah bagaimana membuat lebih mudah
bergerak dari luar ke dalam maupun sebaliknya. Oleh karenanya peletakan bukaan
ventilasi menjadi faktor penting. Agar angin yang masuk bisa mengalir dengan lancar
maka penempatan bukaan ventilasi dilakukan secara berhadapan (cross ventilation).
Kondisi ini mempermudah aliran udara untuk saling bertukar, satu bagian menjadi
tempat masuknya udara bagian yang berhadapan menjadi tempat pengeluarannya
begitu pula sebaliknya. Namun yang perlu diingat agar aliran udara bisa mengalir
melintang di seluruh ruang maka ketinggian lubang ventilasi yang saling berhadapan
sebaiknya dibuat tidak sama (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF,
2001).
Selain bergerak secara horizontal, aliran udara di dalam rumah juga bergerak
secara vertikal. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar bahwa udara mengalir dari area
bertekanan tinggi (dingin) ke area bertekanan rendah (panas). Bagian atas rumah
cenderung lebih panas dari bagian bawah hal ini disebabkan karena adanya
pemanasan bangunan oleh sinar matahari (pada bagian atap bangunan). Kondisi ini
menyebabkan udara bergerak dari area bawah ke atas. Agar udara panas ini dapat
keluar, dan terjadi aliran maka perlu ditempatkan lubang angin di bagian atas rumah.
Dengan demikian, udara panas bisa terbuang digantikan udara yang lebih dingin dari
bagian bawah rumah (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Ventilasi yang baik dalam ruangan harus mempunyai syarat lainnya, di
antaranya: Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan.
Sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5%.
Jumlah keduanya menjadi 10% dikali luas lantai ruangan. Ukuran luas ini diatur
sedemikian rupa sehingga udara yang masuk tidak terlalu deras dan tidak terlalu
sedikit. Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh asap dari sampah
atau dari pabrik, dari knalpot kendaraan, debu dan lain-lain. Aliran udara diusahakan
ventilasi silang dengan menempatkan lubang hawa berhadapan antara 2 dinding
ruangan. Aliran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang-barang besar misalnya
almari, dinding sekat dan lain-lain
(http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Sistem ventilasi rumah yang ideal/sehat menurut Standar Nasional Indonesia
(SNI) minimal 20 % dari luas lantai ruangan. Proporsi volume udara yang dibutuhkan
dari masing-masing ruang memiliki nilai yang berbeda-beda. Hal ini disesuaikan
41
dengan fungsi ruang tersebut. Kamar mandi yang memiliki kelembaban tinggi, maka
membutuhkan pergantian udara sebanyak enam kali volume ruangnya (volume
dihitung dari luas ruang x tinggi ruang). Misal kamar mandi berukuran 3×3 m dengan
tinggi 3 m, membutuhkan pergantian udara sebanyak (3x3x3)x6 = 162 m
2
/jam.
Sedangkan kamar tidur membutuhkan pergantian udara sebesar 2/3 volume ruang tiap
jamnya (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Untuk ruangan yang berada di tengah-tengah dan tidak terdapat area bukaan
untuk mengalirkan udara, perlu dilakukan pendekatan yang berbeda. Kita bisa
menggunakan alat untuk membantu sirkulasi udara, misal exhaust fan atau ventilating
fan (penyedot udara). Di pasaran ada berbagai jenis exhaust fan, diantaranya wall
mount (dipasang di dinding), ceiling mount (dipasang di plafond/langit-langit) serta
window mount (dipasang di jendela). Prinsip peletakan exhaust fan adalah bersilangan
dengan bukaan depan. Hal ini bertujuan agar perputaran udara dapat berjalan secara
maksimal (http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Perencanaan sistem ventilasi yang baik banyak member keuntungan. Di tengah
maraknya isu penghematan energi, sebuah rumah yang didesain dengan sistem
ventilasi yang baik, turut pula mendukung program ini. Pengaturan sistem
penghawaan yang baik akan menghemat penggunaan pengkondisi ruang (AC). Di sisi
lain, bukaan ventilasi berfungsi pula memasukkan terang langit sekaligus mendukung
sistem pencahayaan alami di dalam rumah. Sehingga pada waktu siang hari,
penggunaan lampu bisa diminimalkan sekaligus menghemat penggunaan listrik
(http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001).
Ventilasi memiliki fungsi sebagai saluran masuknya udara segar ke dalam
ruangan dan pengeluaran udara kotor dari dimana bila pada suatu rungan air ganti
tidak tersedia ventilasi yang baik akan dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan
di dalam ruangan tersebut karena terjadinya kontaminasi oleh bakteri maupun zat
kimia. Selain itu bila pertukaran udara tidak berlangsung dengan baik akibat ventilasi
yang kurang baik dapat mengakibatkan rumah menjadi lembab dan merupakan tempat
yang subur bagi perkembangan mikroorganisme pathogen yang menimbulkan
beberapa penyakit seperti ISPA.gfhfytytfyghgyutuytytytgyfyffyryryfytytytytytytytry.
(http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/doc/sni/SNI_VENTI.PDF, 2001)


42
2.4. Pencahayaan
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak
terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama
cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang
baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak
cahaya di dalam rumah akan menyebabkan silau, dan akhirnya dapat merusakkan
mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni:
a. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena dapat
membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh
karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup.
Seyogyanya jalan masuk cahaya luasnya sekurang¬kurangnya 15 % sampai 20% dari
luas lantai yang terdapat di dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan di dalam
membuat jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam
ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini, di samping sebagai
ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus
diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan
menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding
(tembok). Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.
Genteng kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan melubangi genteng
biasa waktu pembuatannya,kemudian menutupnya dengan pecahan kaca.
memperhitungkan besar cahaya yang masuk melalui bukaan atau jendela dapat
dilakukan dengan dua metode, yakni cara direktorat penyelidikan masalah bangunan
(DPMB) dan building coverage ratio (BCR). Rumah yang sehat memerlukan cahaya
yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke
dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga
merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit
penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya di dalam rumah akan menyebabkan panas
dan silau akhirnya dapat merusakkan mata (Notoatmodjo, 2003).
b. Cahaya buatan yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti
lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya. Kualitas dari cahaya buatan
tergantung dari terangnya sumber cahaya (brightness of the source). Pencahayaan
buatan bisa terjadi dengan 3 cara, yaitu direct, indirect, semi direct atau general
diffusing (Notoatmodjo, 2003).
43
Secara umum pengukuran pencahayaan terhadap sinar matahari adalah dengan
menggunakan lux meter, yang diukur ditengah-tengah ruangan, pada tempat setinggi
< 84 cm dari lantai, dengan ketentuan tidak memenuhi syarat kesehatan bila < 50 lux
atau > 300 lux, dan memenuhi syarat kesehatan bila pencahayaan rumah antara 50-
300 lux. Menurut Lubis dan Notoatmodjo (2003), cahaya matahari mempunyai sifat
membunuh bakteri, terutama kuman Mycobacterium tuberculosis. Menurut Depkes RI
(2002), kuman tuberkulosis hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh
sebab itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh
terhadap kejadian tuberkulosis. Menurut Atmosukarto dan Soeswati (2000), kuman
tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab dan gelap tanpa
sinar matahari sampai bertahun-tahun lamannya, dan mati bila terkena sinar matahari,
sabun, lisol, karbol dan panas api.
Kentungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari ventilasi dan pencahayaan
yang baik adalah efisiensi terhadap penggunaan listrik, lingkungan akan menjadi
sehat karena dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik dapat membunuh kuman
yang berbahaya bagi kesehatan dan juga dapat memaksimalkan potensi alam
(Notoatmodjo, 2003).
2.5. Kerangka Teori
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) :


Gambar 2.1 Skema Kerangka Teori Pengetahuan
PENGETAHUA
N
UMUR
PENDIDIKAN
PAPARAN
MEDIA
MASSA
SOSIAL
EKONOMI
HUBUNGAN
SOSIAL
PENGALAMAN
44
2.6. Kerangka Konsep




Gambar 2.2 Skema Kerangka Konsep Pengetahuan




























pengetahuan
kegunaan
ventilasi
ekonomi
sosial
paparan media
massa
pendidikan
45
2.7. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Cara Hasil Skala
1 Pengetahuan
tentang
ventilasi yang
baik
Pengetahuan
tentang
ventilasi
adalah
pengetahuan
tentang
ventilasi ideal
menurut SNI
yaitu
fungsinya
sebagai
pencahayaan
yang masuk
ke dalam
ruangan dan
pertukaran
udara, serta
perawatan
berupa
membersihka
n ventilasi
setiap hari,
membuka
ventilasi pagi
hari.
Dampak
ventilasi yang
buruk dapat
menyebabkan
ISPA dan
TBC.
Kuesioner
Lembar
observasi
Wawancara
terpimpin
Observasi
-Baik = ≥
median
-Buruk =
< median
Nominal
2 Pendidikan Pendidikan
formal yang
diselesaikan
dan mendapat
ijazah.
Kuesioner Wawancara
terpimpin
-Rendah =
SD dan
Sederajat
atau Tidak
Sekolah
-
Menengah
= SMP
dan
Sederajat
-Tinggi =
SMA/Sede
rajat dan
perguruan
tinggi
Ordinal
46
3 Paparan
media masa
Paparan
media masa
tentang
ventilasi
adalah
Informasi
tentang
ventilasi yang
baik dari
media
elektronik
yaitu TV dan
radio, dan
media cetak.
Kuesioner Wawancara
terpimpin
Terpapar
=
mendapat
informasi
dari media
elektronik
atau media
cetak
Tidak
terpapar =
tidap
pernah
mendapat
informasi
dari salah
satu media
sama
sekali.
Nominal
4 Hubungan
sosial
Hubungan
sosial adalah
adanya
diskusi di
rukun
tetangga
tentang
ventilasi yang
baik
Kuesioner Wawancara
terpimpin
Ada
Tidak ada
Nominal
5 Ekonomi Pendapatan
perbulan
keluarga
binaan
Kuesioner Wawancara
terpimpin
Ya = ≥
UMR
Tidak = <
UMR
(UMR =
Rp.2.200.
000,00.)
Nominal