You are on page 1of 34

REFERAT

RADIOLOGI

MOLA HYDATIDOSA










Disusun oleh :
Arpian Herponi J500090046
Annisaa Rizqiyana J500090056


Pembimbing :
dr. Hardianto, Sp.Rad




KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI
RSUD KARANGANYAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Yang disebut penyakit trofoblas adalah penyakit yang mengenai sel
sel trofoblas. Di dalam tubuh wanita sel trofoblas hanya ditemukan bila wanita itu
hamil. Di luar kehamilan, sel trofoblas dapat ditemukan pada teratoma dari
ovarium, karena itu penyakit trofoblas dalam kehamilan disebut Gestational
Trophoblastic Disease dan yang berasal dari teratoma disebut Non Gestational
Trophoblastic Disease.
1
Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang
sempurna. Tapi dalam kenyataannya tidak selalu demikian, seringkali
perkembangan kehamilan dapat mendapat gangguan. Tergantung dari tahap di
mana gangguan itu terjadi, maka hasil kehamilan dapat berupa keguguran,
kehamilan ektopik, prematuritas, kematian janin dalam rahim atau kelainan
kongenital. Kesemuanya merupakan kegagalan fungsi reproduksi.
1
Demikian pula dengan penyakit trofoblas, pada hakekatnya merupakan
kegagalan reproduksi. Pada penyakit yang dikenal dengan nama kehamilan
anggur atau mola hidatidosa ini, kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang
sempurna, melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada
minggu minggu pertama kehamilan. Sel telur yang harusnya berkembang menjadi
janin justru terhenti perkembanganya, yang terus berkembang justru sel sel
trofoblas yaitu berupa degenerasi hidropik dari jonjot korion sehingga menyerupai
gelembung gelembung berisi cairan, mirip anggur. Ukuran gelembung ini pun
bervariasi. Ada yang berdiameter 1 milimeter sampai 1-2 sentimeter. Jika dilihat
melalui mikroskop, ditemukan edema stroma villi, tidak ada pembuluh darah pada
villi, dan proliferasi sel-sel trofoblas (jumlah selnya bertambah).
1,2
Pada umumnya penderita mola hidatidosa akan menjadi baik kembali,
tetapi ada kalanya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan berupa
koriokarsinoma. Jadi yang termasuk penyakit trofoblas adalah mola hidatidosa
yang jinak dan koriokarsinoma yang ganas.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Adalah suatu neoplasma jinak dari sel trofoblas, yang disertai kegagalan
pembentukan plasenta atau fetus, dengan terjadinya vili yang menggelembung
sehingga menyerupai bentukan seperti buah anggur. Janin biasanya meninggal
meninggal tapi villus villus yang membesar dan edematous itu hidup dan tumbuh
terus.
3
Merupakan salah satu dari penyakit karena kelainan plasenta yang meliputi
mola hidatidosa komplet dan parsial, tumor placenta situs trofoblas,
koriokarsinoma dan mola invasif.
4

Kehamilan mola secara histologis ditandai oleh kelainan vili korionik yang
terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus
dan mengeluarkan hormon, yakni Human chorionic gonadrotropin (HCG) dalam
jumlah yang lebih besar daripada kehamilan biasa.
1
Mola biasanya terletak di
rongga uterus; namun kadang-kadang terletak di tuba fallopii dan bahkan
ovarium. Ada tidaknya janin atau unsur embrionik pernah digunakan untuk
mengklasifikasikan mola menjadi mola sempurna ( complete ) dan parsial.
5


Gambar 1. Gambaran mola hidatidosa sempurna

Walaupun penyakit ini sudah dikenal sejak abad keenam tapi sampai
sekarang belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Berbagai teori telah
dianjurkan misalnya teori infeksi, defisiensi makanan terutama protein tinggi dan
teori kebangsaan. Ada pula teori consanguinity. Teori yang paling cocok dengan
keadaan adalah teori dari Acosta Sison, yaitu defisiensi protein, karena kenyataan
membuktikan bahwa penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita dari
golongan sosial ekonomi rendah. Akhir akhir ini dianggap bahwa kelainan
tersebut terjadi karena pembuahan sebuah sel telur di mana intinya telah hilang
atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel sperma yang mengandung 23 X (Haploid)
kromosom, kemudian membelah menjadi 46 XX sehingga mola hidatidosa
bersifat homozygote, wanita dan androgenesis. Kadang kadang terjadi pembuahan
dari 2 sperma sehingga terjadi 46 XX atau 47 XY.
1
Sekarang mulai
dikembangkan teori mola akibat kekurangan lemak hewani dan karoten sebagai
faktor resiko.
4


B. PATOFISIOLOGI
Penyebab mola sampai sekarang belum dapat dipahami dengan lengkap.
Faktor resiko mungkin meliputi defek pada ovum, abnormalitas uterus, atau
kekurangan nutirisi. Wanita di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun memiliki
resiko lebih tinggi. Faktor resiko lain karena diet nya rendah protein, asam folat
dan karoten.
6
Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan pathogenesis dari
penyakit trofoblas. Pertama teori missed abortion. Janin mati pada kehamilan 3-5
minggu (missed abortion). Karena itu terjadilah gangguan peredaran darah
sehingga terjadilah penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dan villi dan
akhirnya terbentuklah gelembung gelembung. Menurut Reynolds, kematian
mudigah itu disebabkan karena kekurangan gizi berupa asam folat dan histidine
pada kehamilan hari ke 13 dan 21. Hal ini menyebabkan gangguan angiogenesis.
1

Kedua, teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal
adalah sel sel trofoblas yang mempunyai fungsi abnormal pula, di mana terjadi
resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung. Hal ini
menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian janin.
1

C. EPIDEMOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Penyakit ini baik dalam bentuk jinak atau ganas, banyak ditemukan di
negara Asia dan Mexico, sedangakan di negara Barat lebih jarang.
1
Di Amerika,
dari study yang dilakukan terhadap terminasi kehamilan, mola hidatidosa
ditemukan pada 1 dari 1200 kehamilan.
4
Angka di Indonesia pada umumnya
berupa angka rumah sakit, untuk mola hidatidosa berkisar antara 1 : 50 sampai 1 :
141 kehamilan, sedangkan untuk koriokarsinoma 1 : 297 sampai 1 : 1035
kehamilan. Laksmi Sintari dan kawan kawan melakukan penelitian berdasar
populasi di Malang dan menemukan angka untuk mola hidatidosa 1 : 405.
1

Angka ini jauh lebih tinggi pada negara negara Barat dipengaruhi oleh faktor
sosial ekonomi dan nutrisi. Didapatkan laporan bahwa rendahnya konsumsi
karoten (prekusor vitamin A) berpengaruh terhadap tingginya insiden mola (Level
of Evidence C).
7
Pada beberapa negara tampaknya ada kecenderungan untuk
meningkat seperti di Indonesia, Boston dan Seoul.
1
Wanita yang memiliki faktor resiko tinggi adalah :
1. Wanita keturunan Asia atau Hispanic, defisiensi folat dan vitamin A dapat
meningkatkan resiko.
7

2. Wanita dengan riwayat Gestational Trophoblastic Disease (GTD)
sebelumnya memiliki tingkat resiko berulang 2%.
7
Dalam suatu kajian
terhadap penelitian yang total mencangkup hampir 5000 pelahiran,
frekuensi mola rekuren adalah 1,3 persen. Kim dkk ( 1998) mendapatkan
angka kekambuhan 4,3 persen pada 115 wanita yang ditindaklanjuti di
seoul, korea. Dalam suatu ulasan tentang mola hidatidosa berulang tapi
dari pasangan berbeda, tuncer dkk ( 1999) menyimpulkan bahwa mungkin
terdapat “masalah oosit primer”.
5

3. Resiko meningkat pada usia maternal yang ekstrim ( > 45 tahun atau < 20
tahun). Pada wanita usia > 40 tahun resikonya meningkat empat kali lipat
dibanding wanita muda. Ovum dari wanita yang lebih tua lebih rentan
terhadap fertilisasi yang abnormal.
7

4. Wanita dengan riwayat abortus atau infertil.
7


D. KLASIFIKASI
Dalam kepustakaan dunia, ada berbagai macam klasifikasi, antara lain :
1. Menurut IUAC (International Union Against Cancer)
8

 Ada hubungan dengan kehamilan (GTD)
 Tidak ada hubungan dengan kehamilan (NGTD)
2. Menurut WHO
6

 Kelompok premaligna
 Mola hidatidosa sempurna
 Mola hidatidosa parsial
 Kelompok maligna
 Mola invasive
 Koriokarsinoma gestational
 Placental Site Trophoblastic Tumor (PSTT)
3. Dalam kepustakaan dunia (1983), klasifikasi yang dianjurkan adalah
1

 Histophathological Entities
 Mola hidatidosa sempurna
 Mola hidatidosa parsial
 Mola invasive
 Koriokarsinoma gestational
 Placental Site Trophoblastic Tumor (PSTT)
 Clinical Terms  adanya keganasan hanya dibuktikan secara
klinis, yaitu peninggian kadar HCG dan metastasis, tanpa
gambaran PA
 Penyakit Trofoblas Gestasional
 Tumor Trofoblas Gestasional

Dalam makalah ini yang akan dibahas adalah mola hidatidosa sempurna dan
parsial.
1. Mola hidatidosa sempurna
Vili korionik berubah menjadi suatu massa vesikel-vesikel jernih .
ukuran vesikel bervariasi dari sulit dilihat sampai yang berdiameter
beberapa sentimeter dan sering berkelompok-kelompok menggantung
pada tangkai kecil.
5
Pada mola hidatidosa sempurna tidak ditemukan
gambaran janin.
1
Degenerasi hidropik atau degenersi mola, yang mungkin
sulit dibedakan dari mola sejati, tidak digolongkan sebagai penyakit
trofoblastik. Pada pemeriksaan sitogenetik terhadap kehamilan mola
sempurna menemukan komposisi kromosam yang umumnya ( 85% atau
lebih) adalah 46 XX, dengan kromosom seluruhnya berasaldari ayah.
Fenomena ini disebut sebagai androgenesis. Biasanya ovum dibuahi oleh
sperma haploid, yang kemudian memperbanyak kromosomnya sendiri
setelah meiosis sehingga kromosomnya bersifat homozigot. Kromosom
ovum tidak ada atau tidak aktif. Kadang-kadang pola kromosom suatu
mola sempurna mungkin 46 XY yaitu heterozigot karena pembuahan dua
sperma.
5
Gambaran histopatologis yang khas dari mola hidatidosa sempurna
adalah edema stroma villi, tidak ada pembuluh darah pada villi dan
proliferasi sel sel trofoblas.
1

Gambar 2. Histopatologis Mola Hidatidosa

2. Mola hidatidosa parsial
Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang yang
berkembang dan mungkin tampak sebagian jaringan janin, biasanya paling
tidak kantung amnion, keadaan ini diklasifikasikan sebagai mola
hidatidosa parsialterjadi pembengkakan hidatidosa yang berlangsung
lambat pada sebagian vili yang biasanya avaskular, sementara vili-vili
berpembuluh darah lainnya dengan sirkulasi janin-plasenta yang masih
berfungsi tidak terkena. Hiperplasia trofoblastik lebih bersifat fokal
daripada generalisata.
5
Bila ada mola yang disertai dengan janin,
kejadiannya ada dua kemungkinan. Pertama, kehamilan kembar, di mana
satu janin tumbuh normal dan hasil konsepsi yang satu lagi menjadi mola
hidatidosa. Kedua, hamil tunggal berupa mola parsialis.
1

Karyotipenya biasanya triploid 69 XXX, 69 XXY, atau 69, XYY dengan
satu komplemen ibu dan biasanya dua komplemen haploid ayah. Janin
pada mola parsial biasanya memiliki tanda-tanda triploid yang
mencangkup malformasi kongenital multiple dan hambatan pertumbuhan
serta tidak viabel. Dalam suatu kajian diterangkan bahwa janin dengan
triploid memperlihatkan hambatan pertumbuhan yang simetris.
5
Pada pemeriksaan histopatologis akan ditemukan villi yang edema, dengan
sel trofoblas yang tidak begitu bervariasi, sedangkan di tempat lain masih
tampak villi yang normal.
1

Mola hidatidosa mungkin diikuti oleh tumor trofoblastik non metastatik
pada 4 sampai 8 persen kasus. Resiko koriokarsinoma yang berasal dari
mola parsial sangat rendah.
5


Gambar 3. Kehamilan kembar dengan mola
Dikutip dari William Obstetric; 23th edition; halaman 259

Tabel perbedaan antara mola hidatidosa sempurna dan parsial
5

Mola hidatidosa
sempurna
Mola hidatidosa
parsial
Kariotype 46 XX atau 46 XY 69 XXX atau 69 XXY
Embrio fetus Tidak ada Kadang kadang
Amnion Tidak ada Kadang kadang
Edema villi Difus Lokal
Proliferasi trofoblas Bisa sampai tinggi Lokal sampai sedang
Diagnosis Kehamilan mola Missed abortion
Ukuran uterus > usia kehamilan < dari usia kehamilan
Kista lutein 25-30% Jarang
Komplikasi Bervariasi Jarang
Resiko keganasan 15-20% 1-5%

Kadang ditemukan juga kehamilan kembar, antara janin dengan mola sempurna.
Nieman (2006) melaporkan bahwa 5% terjadi kehamilan kembar janin dengan
mola sempurna. Kemampuan janin untuk bertahan hidup tergantung dari
pembuatan diagnosis dan penyulit dari mola, mosalnya pre eklampsia atau
pendarahan. Dari pengamatan Vejerslev (1991) terhadap 113 kasus kehamilan
gemeli mola, 45% berkembang mencapai usia 28 minggu dan 70% di antaranya
bertahan hidup. Dibandingkan dengan mola parsial, wanita dengan kehamilan
gemeli mola memiliki resiko yang lebih besar menjadi keganasan, tapi tidak
sebesar pada kehamilan mola sempurna.
5

E. GEJALA
Pada permulaannya, gejala mola tidak seberapa berbeda dengan kehamilan
biasa, yaitu enek, muntah, pusing dan lain lain, hanya saja derajat keluhannya
sering lebih hebat. Selanjutnya, perkembangannya lebih cepat, sehingga pada
umumnya besar uterus lebih besar daripada umur kehamilan. Ada pula kasus
kasus yang uterusnya lebih kecil atau sama besar walau jaringannya belum
dikeluarkan. Dalam hal ini perkembangan jaringan trofoblas tidak begitu aktif
sehingga perlu dipikirkan kemungkinan adanya jenis dying mole.
1
Gambaran
klinis sebagian besar kehamilan mola telah banyak berubah dalam 20 tahun
terakhir karena penggunaan ultrasonografi vagina dan HCG serum kuantitatif
menyebabkan diagnosis ditegakkan lebih dini. Gejala gejala lebih mencolok pada
mola hidatidosa sempurna.
5


Beberapa gejala klinis yang sering dijumpai :
1. Pendarahan
Pendarahan adalah gejala utama mola. Biasanya keluhan
pendarahan inilah yang membawa pasien datang ke rumah sakit.
Pendarahan dapat terjadi antara bulan pertama sampai ketujuh dengan rata
rata 12-14 minggu. Sifat pendarahannya bisa intermitten, sedikit sedikit
atau langsung banyak. Efek dilusi akibat hipervolemia yang cukup berat
dibuktikan terjadi pada sebagian wanita yang molanya lebih besar.
Kadang-kadang terjadi perdarahan berat yang tertutup didalam uterus
sehingga menyebabkan uterus mengalami distensi karena terisi banyak
darah dan kadang tampak cairan berwarna gelap yang keluar dari vagina,
gejala ini dapat muncul pada 50% kasus. Kadang juga ditemukan adanya
gelembung yang keluar bersama cairan. Ini adalah diagnosis yang paling
tepat, namun biasanya sudah terlambat ditangani jika menunggu gejala ini
keluar karena umumnya pengeluaran gelembung disertai pendarahan yang
hebat dan kondisi umum pasien sudah menurun.
1,4,5

Anemia defisiensi besi sering dijumpai dan kadang-kadang
terdapat eritropoiesis megaloblastik, mungkin akibat kurangnya asupan
gizi karena mual dan muntah disertai meningkatnya kebutuhan folat
trofoblas yang cepat berproloferasi.

Akibat pendarahan ini, selain anemia
juga dapat terjadi syok atau kematian.
1,5
2. Pembesaran ukuran uterus
Pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan usia kehamilan adalah
gejala klasik dari mola hidatidosa sempurna. Pembesaran ini disebabkan
karena perkembangan sel trofoblas yang berlangsung dengan sangat cepat.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan palpasi Leopold pada uterus dan
didapatkan tinggi fundus uteri (untuk menentukan usia kehamilan)
melebihi usia perkiraan janin pada sekitar separuh kasus.
3,4,5
Biasanya digunakan perbandingan dari cara menghitung umur
kehamilan berdasarkan tanggal hari pertama haid terakhir dan tinggi
fundus uteri
A. Perkiraan umur kehamilan dari HPHT
Pertama tama ditentukan dari anamnesa kapan hari pertama dari
haid terakhir pasien, kemudian digunakan rumus Naegele untuk
menentukan HPL (Hari Perkiraan Lahir) yaitu :
HPL = bulan HPHT + 9 dan tanggal HPHT + 7
Dari sana ditentukan umur kehamilan sekarang berapa minggu.
B. Perkiraan umur kehamilan dari TFU
TFU (cm) Umur kehamilan (bulan)
12 cm 3
16 cm 4
20 cm 5
24 cm 6
28 cm 7
32 cm 8
36 cm 9
40 cm 10

Uterus mungkin sulit diidentifikasi secara pasti dengan palpasi,
terutama pada wanita nulipara karena konsistensinya yang lunak dibawah
dinding abdomen yang kencang. Kadang-kadang ovarium sangat
membesar akibat kista-kista lutein sehingga sulit dibedakan dengan uterus
yang membesar. Perlu dipertimbangkan adanya kemungkinan kesalahan
data haid atau adanya uterus hamil yang diperbesar oleh mioma,
hidramnion, atau khususnya kehamilan multipel. Meskipun demikian,
pernah dilaporkan adanya ukuran uterus yang sama atau bahkan lebih kecil
daripada perkiraan umur janin, tapi hanya pada sebagian kecil frekuensi.
3,5
3. Hiperemesis
Emesis gravidarum adalah gejala yang wajar dan sering terjadi
pada trimester pertama kehamilan. Mual biasanya terjadi pagi hari, tapi
dapat juga malam hari. Gejala gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu
setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang dari 10
minggu. Apabila gejala gejala tersebut membuat keadaan umum seseorang
memburuk dan mengganggu pekerjaan sehari hari, maka disebut
hiperemesis gravidarum.
1

Etiologinya sampai sekarang belum diketahui secara pasti.
Beberapa faktor predisposisi telah ditemukan, antara lain primigravida,
mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola
hidatidosa dan kehamilan ganda ini menimbulkan dugaan bahwa faktor
hormon memegang peranan penting, karena pada kedua keadaan itu kadar
hormone HCG dibentuk secara berlebihan.

Pada kehamilan mola ini HCG
dihasilkan oleh sel sinsitiotrofoblas yang terutama.
1,7

Hiperemesis gravidarum dapat menimbulkan keadaan yang gawat
karena akan terjadi dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit apabila
tidak tertangani dengan baik. Dapat terjadi ketosis yang berbahaya karena
cadangan karbohidrat dan lemak terpakai semua sehingga proses
pemecahan badan keton meningkat.
1

4. Hipertensi
Yang sangat penting adalah kemungkinan terjadinya preeklamsia
pada kehamilan mola, yang menetap sampai trimester kedua. Karena
hipertensi akibat kehamilan jarang dijumpai sebelum usia gestasi 24
minggu, pre eklamsia yang terjadi sebelum waktu ini sedikitnya harus
mengisyaratkan mola hidatidosa atau adanya mola yang luas
.
Tentang
komplikasi pre eklampsia dan eklampsia dalam kehamilan mola ini akan
dibahas pada bagian komplikasi.
5

5. Kista lutein
Pada Mola Hidatidosa sering disertai dengan kista lutein, baik
unilateral maupun bilateral. Kista lutein ini terbentuk karena respon
terhadap kadar hormone HCG yang meningkat dan biasanya disertai
dengan hydrops fetalis dan hipertrofi placenta (Niemann, 2006). Pasien
biasanya mengeluh adanya nyeri pada daerah pelvis karena pembesaran
dari ovarium. Karena ada pembesaran ovarium, otomatis ada resiko
terjadinya torsi kista lutein, infark dan pendarahan yang dapat
mengakibatkan gejala akut abdomen. Dengan pemeriksaan klinis insidensi
kista lutein lebih kurang 10,2 % (biasanya tidak teraba dengan palpasi
bimanual), tetapi bila menggunakan USG angka-nya meningkat sampai
50%.
4,5


Gambar 4. Gambaran USG Kista Lutein
Dikutip dari jurnal emedicine karya Lisa E Moore, MD, FACOG dengan judul
Hydatidiform Mole

Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan,
kista akan mengalami regresi karena penurunan kadar hormone HCG.
Membutuhkan waktu sekitar 12 minggu untuk mengalami regresi secara
sempurna. Oleh karena itu oophorectomy tidak perlu dilakukan kecuali
kista mengalami infark yang luas. Kasus mola dengan kista lutein
mempunyai risiko 4 kali lebih besar untuk mendapat degenerasi keganasan
di kemudian hari daripada kasus-kasus tanpa kista.
4,5
6. Tanda tanda janin
Karena pada mola hidatidosa sempurna tidak ditemukan adanya janin,
maka tidak akan ditemukan tanda tanda keberadaan janin. Meskipun
ukuran uterus membesar tapi tidak ditemukan denyut jantung janin, tidak
ada tanda ballottement dan tidak ada pergerakan janin. Sedangkan pada
kasus mola hidatidosa parsial, walaupun sangat jarang tapi kadang dapat
disertai dengan janin yang berkembang normal.
3,5

Menurut beberapa literature, gejala pada mola hidatidosa parsialis agak berbeda
dengan mola hidatidosa sempurna, antara lain :
4

1) Pasien dengan mola parsial tidak memiliki gejala klinis seperti mola
sempurna. Pasien tersebut biasanya datang dengan gejala dan tanda seperti
abortus inkomplet atau missed abortus, yaitu pendarahan per vaginam
dengan tidak ditemukan nya aktivitas jantung janin.
2) Pembesaran uterus dan pre eklampsia hanya terjadi pada 5% pasien
3) Kista lutein, hiperemesis dan kompliaksi hipertiroid sangat amat jarang
ditemukan

F. DIAGNOSIS
1. Secara klinis
a. Anamnesa  mencari faktor resiko. Ditanya berapa usia
kehamilan, berapa umur penderita, apakah penderita merasa ada
janin yang hidup, dicari gejala gejala yang mungkin ada seperti
pendarahan dan hiperemesis.
b. Pemeriksaan fisik
 Inspeksi : ditemukan adanya mola face (muka dan badan
tampak kekuningan), ditemukan adanya darah yang keluar
dari vagina yang mungkin disertai dengan gelembung mola
 Palpasi : ukuran uterus tidak sesuai dengan umur
kehamilan, uterus terasa lembek, tidak teraba bagian bagian
janin, tidak ada ballottement dan gerakan janin
 Auskultasi : tidak ditemukan denyut jantung janin
 Pengukuran tekanan darah untuk mengetahui apakah ada
hipertensi yang mengarah ke pre eklampsia mola hidatidosa
 Penggunaan Wayne Index jika ada gejala tirotoksikosis
 Pemeriksaan dalam : adanya pendarahan dari cervix,
memastikan konsistensi dan besar uterus


2. Laboratorium
Dasar pemeriksaan ini karena adanya kelainan pada sel sel trofoblas
yang mengakibatkan kadar dari hormone HCG yang disekresikan oleh sel
sinsitiotrofoblas dan intermediate trofoblas.
7
Pengukuran kadar HCG ini
dapat dilakukan dengan :
1. Tes Gali Mainini : Pemeriksaan urine secara titrasi sampai
pengenceran 1/400 didapatkan hasil GM test yang positif.
3

2. Kadar HCG serum. Dikatakan abnormal bila hasilnya di atas
100.000mIU/mL
5

Pemeriksaan laboratorium yang lain misalnya :
4

 Pemeriksaan DL (termasuk trombosit) : pada mola hidatidosa
ditemukan gejala pendarahan yang dapat profus dan menyebabkan
anemia serta gangguan koagulasi.
 Tes pembekuan darah atau faal hemostasis : mencari koagulophaty
 Pemeriksaan fungsi liver
 Pemeriksaan BUN dan Serum Kreatinin
 Pemeriksaan kadar thyroxine : meskipun wanita dengan kehamilan
mola secara klinis biasanya eutiroid, tapi kadar thyroxine plasma
biasanya di atas normal. Kadang dapat ditemukan gejala
hipertiroidisme.
3. Radiologis
3

 USG : ditemukan gambaran badai salju (snow storm appearance
atau snow flake pattern)
 Foto polos abdomen – pelvis : tidak ditemukan gambaran tulang
janin

Gambar 5. Snow Storm Pattern pada gambaran USG

4. Pemeriksaan Sonde (Acosta-sison)
3

Tidak selalu rutin dikerjakan, biasanya dilakukan sebagai tindakan awal
pada kuret. Bila pada sonde rahim tidak ditemukan tahanan atau tidak
teraba bagian bagian janin, maka akan membantu diagnosis mola
hidatidosa
5. Histopatologi
Gelembung gelembung yang keluar atau dari hasil evakuasi bahan dikirim
ke Laboratorium Patologi Anatomi.
3
a. Mola sempurna
Ditemukan villi yang edema, hyperplasia sel trofoblas, dan
penurunan atau bahkan tidak adanya aliran darah janin. Kromosom
menunjukan 46 XX pada sebagian besar kasus dan 46 XY pada 10-
15% kasus. Selain itu, mola sempurna juga menunjukan adanya
peningkatan dari growth factor seperti c-myc, epidermal growth
factor, dan c-erb B-2 dibanding plasenta yang normal.
4

b. Mola parsial
Kadang kadang ditemukan adanya janin, dan juga plasenta serta
pembuluh darah janin dengan eritrosit janin di dalamnya. Dapat
ditemukan juga edema villi dan profilerasi trofoblas seperti pada
mola sempurna.
4


G. KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah :
1. Pendarahan
Pendarahan pada mola bisa sedikit tapi berulang ulang sehingga dapat
menyebabkan anemia, atau kadang bersifat profus yang dapat
menyebabkan syok hipovolemik yang dapat berujung kematian jika tidak
ditangani dengan baik. Oleh karena itu persiapan rehidrasi dan transfusi
darah harus selalu siap. Untuk menghentikan pendarahan dapat diberikan
obat obatan uterotonika seperti Oxytosin dan Methergin.
4

2. Perforasi
Perforasi dapat terjadi secara spontan atau karena tindakan. Spontan terjadi
karena uterus terisi darah dalam jumlah yang besar lalu mengalami
distensi berlebihan, sedangkan jika karena tindakan biasanya terjadi saat
dikuret. Jika terjadi perforasi, maka penanganan harus dilakukan dengan
tuntunan laparaskopi.
3,4

3. Emboli sel trofoblas
Sebenarnya dalam setiap kehamilan selalu ada migrasi sel trofoblas ke
peredaran darah kemudian ke paru paru tanpa memberikan gejala apapun.
Tetapi pada mola, kadang kadang jumlah sel trofoblas ini terlalu banyak
sehingga dapat menimbulkan emboli paru akut yang bisa menyebabkan
kematian.
1
Semakin besar ukuran uterus, resiko terjadinya komplikasi ini
semakin besar terutama saat usia kehamilan 16 minggu.
4

4. Pre eklampsia / Eklampsia Mola
Seperti pada kehamilan normal, pada mola juga dapat terjadi pre
eklampsia. Bedanya pre eklampsia mola terjadi pada usia kehamilan yang
lebih muda, jika pada kehamilan normal pre eklampsia dan eklampsia
terjadi pada usia kehamilan 20 minggu. Jadi jika ditemukan pre eklampsia
pada usia gestational yang lebih muda harus dicurigai adanya mola
hidatidosa.
1,5

5. Keganasan
Terjadi pada sekitar 20% kehamilan mola, dengan resiko pada mola
sempurna lebih besar dibanding daripada mola parsial.
5
Berdasar dari
jenis histopatologinya, keganasan akibat mola hidatidosa dibedakan
menjadi :
1) Koriokarsinoma villosum (Invasive Molla)
Penyakit ini termasuk ganas tapi derajat keganasannya
masih lebih rendah. Sifatnya mirip dengan mola, tapi daya
penetrasinya lebih besar. Sel sel trofoblas dengan villi korealis
akan menembus ke dalam miometrium kemudian tidak jarang
mengadakan perforasi pada dinding uterus dan menyebabkan
pendarahan intra abdominal. Dapat juga masuk ke dalam vena
seperti vena uterine dan terus ke vena iliaka interna. Walaupun
secara local mempunyai daya invasi yang berlebihan tapi penyakit
ini jarang disertai metastase. Nama lainnya adalah mola destruens.
1


Gambar 6. Koriokarsinoma

Diagnosis harus ditegakan dengan pemeriksaan
histopatologis. Pengobatan dengan sitostatika seperti methotrexate
dapat menyebabkan kesembuhan yang total, tapi bila disertai tanda
pendarahan abdomen maka uterus harus diangkat dengan kedua
adneksa ditinggalkan. Kalau mungkin hanya dilakukan reseksi
parsial saja dan selanjutnya diberikan sitostatika.
1

2) Koriokarsinoma non villosum
Penyakit ini adalah jenis terganas dari penyakit trofoblas.
Sebagian besar didahului dengan mola hidatidosa (83,3%), tapi
dapat pula didahului abortus atau persalinan biasa, masing masing
7,6%. Tumbuhnya sangat cepat dan sering menyebabkan metastase
ke organ organ lain seperti paru, vulva, vagina, hepar dan otak.
Metastase terbanyak adalah pada paru paru (31,1%) dan tempat
metastase yang tidak lazim adalah pada musculus gluteus
maksimus.
1

Bila dibanding dengan keganasan ginekologik lainnya,
koriokarsinoma ini memiliki sifat yang berbeda yaitu, mempunyai
periode laten yang dapat diukur, yaitu waktu antara akhir
kehamilan dan terjadinya keganasan, menyerang wanita muda,
dapat sembuh secara tuntas tanpa kehilangan fungsi organ
reproduksi dengan sitostatika dan dapat sembuh tanpa obat obatan
melalui proses regresi spontan.
1
Jika setelah akhir suatu kehamilan terjadi pendarahan
pendarahan yang tidak teratur disertai tanda subinvolusi uterus, kita
harus curiga adanya koriokarsinoma. Acosta Sison mengajukan
istilah HBEs sebagai tanda kemungkinan adanya keganasan yaitu
H : Having expelled a product of conception, B : Bleeding, Es :
Enlargment and softness of the uterus. Diagnosis ditegakan dengan
pemeriksaan patologi anatomi, bisa diambil jaringan dari hasil
kuret, tapi kerugiannya adalah kadang kadang untuk mendapat
jaringan tersebut kita harus melakukan operasi seperti histerektomi,
yang bukan saja bersifat invasive tapi juga menghilangkan fungsi
reproduksi.
1

6. Tirotoksikosis
Komplikasi yang akhir akhir ini sering dipermasalahkan adalah
tirotkosikosis, ternyata insidennya lebih tinggi dari dugaan semula.
Menurut Curry, insidennya adalah 1%, tapi menurut Martaadisoebrata
ditemukan angka yang lebih tinggi yaitu 7,6%. Terjadinya tirotosikosis ini
berhubungan dengan besar uterus, makin besar uterus makin besar
kemungkinan terjadinya.
1
Tirotoksikosis ini terjadi karena struktur
molekul HCG mirip dengan tiroid terutama T3. Pada pemeriksaan
laboratorium, akan didapatkan hasil peningkatan T3 dan T4 serta
penurunan kadar TSH karena mekanisme umpan balik negatif. Tapi pada
kasus yang cenderung ringan TSH biasanya tidak menurun.
Pemeriksaan faal tiroid tidak selalu rutin dilakukan, pemeriksaan
hanya dilakukan jika ditemukan tanda tanda hipertiroid menurut kriteria
Wayne Index.

Gejala Dyspneu on effort
Palpitasi
Kelelahan
Lebih suka panas
Lebih suka dingin
Sering berkeringat
Nafsu makan meningkat
Nafsu makan menurun
Berat badan meningkat
Berat badan menurun
Mudah cemas
+1
+2
+2
-5
+5
+3
+3
-3
-3
+3
+3

Tanda Ada Tidak ada
Struma teraba
Bising pada tiroid
Exoftalmus
Lid retraksi
Lid lag
Pergerakan hiperkinetik
Fine finger tremor
Tangan hangat
Tangan berkeringat
Atrial Fibrilasi
Nadi regular < 80 x / menit
Nadi regular 81- 90 x / menit
Nadi regular > 90 x / menit
+3
+2
+2
0
+1
+4
+1
+2
+1
+4
-3
0
+3
-3
-2
0
0
0
-2
0
-2
-1
0


Interpretasi Index Wayne :
 Hipertiroid : > 20
 Kemungkinan hipertiroid : 10 – 20
 Bukan hipertiroid : < 10

Penatalaksanaan tirotoksikosis :
11

1. PTU (Propylthiouracyl) dengan dosis 200 - 600 mg/hari, dosis
ditingkatkan sampai keluhan berkurang atau menghilang dengan kadar
T4 batas atas nilai normal. Efek pemberian PTU terlihat dalam 3-4
minggu setelah pengobatan. Dapat dikombinasi dengan Methimazole
dengan dosis 1/10 dari dosis PTU. Namun penggunaannya dalam
kehamilan dihindari karena dapat menyebabkan aplasia kutis pada
janin.
2. Propanolol dengan dosis 3 x 10 mg untuk mengurangi gejala
hipertiroid. Efeknya lebih cepat dibanding PTU. Target pemberian
propanolol adalah menjadikan heart rate kurang dari 100x/menit.

H. DIAGNOSIS BANDING
1. Kehamilan kembar
Karena ditemukan adanya peningkatan HCG dan ukuran uterus lebih besar
dibandingkan perkiraan usia kehamilan, kedua gejala ini dapat ditemukan
pada kehamilan gemeli.
3,4

2. Abortus
Terutama pada mola hidatidosa parsial yang sering didiagnosis banding
dengan abortus incomplete dan missed abortion. Yang membedakan
adalah pada abortus ditemukan adanya nyeri yang khas (cramping pain)
yaitu nyeri yang ritmis pada supra simfisis dan punggung seperti orang
haid. Dan jika ditemukan adanya gelembung pada darah yang keluar maka
dipastikan itu adalah mola hidatidosa.
1,3,5

3. Koriokarsinoma
20% kehamilan mola bisa berujung menjadi keganasan, terutama jenis
mola sempurna. Untuk menegakan diagnosis dilakukan pemeriksaan
patologi anatomi.
1

4. Hiperemesis gravidarum
Pada kasus mola hidatidosa juga didapatkan keluhan subyektif berupa
hiperemesis, namun pada mola disertai dengan gejala gejala lain antara
lain adanya pendarahan pervaginam, pembesaran uterus melebihi ukuran
sebenarnya dan lain lain.
1,3

5. Kehamilan dengan hipertiroid
Pada setiap kehamilan normal selalu terjadi peningkatan kerja tiroid, tapi
tidak memberikan gambaran pembesaran yang nyata, jika terdapat
pembesaran yang nyata dengan gejala gejala hipertiroid maka dianggap
patologis.
11
Pada kehamilan mola dapat terjadi hipertiroid karena antara
HCG dengan T3&T4 memiliki struktur yang mirip dengan reseptor yang
sama, sehingga peningkatan kadar HCG dapat merangsang peningkatan
kadar tiroid dan disertai dengan gejala gejala mola hidatidosa lainnya.
1

I. TERAPI
Pada dasarnya prinsip terapi mola hidatidosa terdiri dari 4 tahap yaitu :
1

1. Perbaikan keadaan umum
2. Pengeluaran jaringan mola
3. Terapi profilaksis dengan sitostatika
4. Pemeriksaan tindak lanjut

Perbaikan keadaan umum
Prinsipnya adalah menangani komplikasi yang disebabkan karena mola
hidatidosa. Pada pasien dengan syok atau anemia dapat diberikan rehidrasi cairan
dan transfusi darah, penanganan pre eklampsia dan eklampsia sama dengan
kehamilan biasa, sedangkan untuk tirotoksikosis diobati sesuai dengan protocol
dari penyakit dalam.
1

Pengeluaran jaringan mola
Pengeluaran jaringan mola dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
A. Kuretase
Kuretase dilakukan setelah perbaikan keadaan umum, paling tidak sampai
anemia teratasi dengan Hb lebih dari 10g/dL. Bila canalis servicalis belum
terbuka, dapat dipasang laminaria dan 24 jam kemudian baru dilakukan
kuretase (dilatasi dan kuretase). Dapat ditambahkan uterotonika untuk
meningkatkan kontraksi uterus yang dapat membantu menghentikan
pendarahan. Ada pendapat yang mengatakan kuretase dilakukan dua kali
dengan interval 1 minggu, kuret kedua dilakukan untuk melihat apakah
ada tanda tanda infeksi dan lain lain. Lalu hasil kerokan dikirim ke
laboratorium patologi anatomi. Tapi ada yang mengatakan bahwa kuret
cukup dilakukan satu kali saja asal bersih dan kuret kedua dilakukan hanya
jika ada indikasi. Yang harus diwaspadai pada tindakan kuret adalah
adanya :
 Adanya pendarahan yang profus. Oleh karena harus selalu
disediakan darah pengganti. Jika dibiarkan dapat berujung menjadi
anemia gagal jantung.
 Adanya depresi pernafasan yang disebabkan karena emboli sel
trofoblas ke pembuluh darah, keadaan ini dapat diatasi dengan
mesin ventilator.
1,3,4

Setelah dilakukan kuretase harus diperiksa ulang dengan pemeriksaan
USG untuk mengetahui apakah masih ada sisa sisa jaringan.
5

B. Histerektomi
Histerektomi ini sangat jarang dilakukan pada kasus mola. Tindakan ini
dilakukan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup mempunyai
anak. Alasan untuk melakukan histerektomi ialah karena umur tua dan
paritas tinggi merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya keganasan.
Batasan yang dipakai adalah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga. Tidak
jarang bahwa pada sediaan histerektomi bila dilakukan pemeriksaan
histopatologis sudah tampak ada tanda tanda keganasan berupa mola
invasif. Ada beberapa ahli yang menganjurkan agar pengeluaran jaringan
dilakukan secara histerektomi, tapi cara ini tidak begitu popular dan sudah
ditinggalkan.
1,3
Menurut Doumplis (2007) dan Lurain (2008), histerektomi
adalah terapi penting pada jenis keganasan yang tidak sensitif dengan
kemoterapi.
5


Terapi profilaksis dengan sitotstatika
Jenis terapi ini masih menjadi perdebatan. Terapi ini dapat diberikan pada kasus
mola dengan resiko tinggi akan terjadinya keganasan misalnya umur tuda dan
paritas tinggi yang menolak untuk dilakukan histerektomi atau kasus mola dengan
hasil pemeriksaan histopatologi yang mencurigakan. Bisa diberikan dari golongan
metrothrexate atau actinomycin D.
1
Tapi beberapa ahli mengatakan bahwa terapi
profilaksis ini tidak dianjurkan secara rutin pada kasus mola karena hanya 20%
wanita dengan mola hidatidosa yang mengalami sequel menjadi keganasan.
4
Menurut Goldsetin dan Berkowitz (1995) pemberian terapi MTX profilaksis tidak
meningkatkan prognosis kesembuhan pada pasien dengan mola hidatidosa.
5

Menurut kebijakan dari SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD
Dr. Soetomo, untuk penderita di luar kota Surabaya, berhubung pengawasan lanjut
sering tidak teratur maka ditentukan kebijakan untuk memberikan methotrexat
(MTX) profilaksis. Nama generik yang dipakai adalah Ametopterin dengan dosis
0,2-0,3 mg/kgBB/hari diberikan selama 5 hari secara per oral atau injeksi. Efek
samping yang dapat ditimbulkan :
1. Gangguan gastrointestinal : mual, muntah, diare, stomatis, pendarahan
mukosa saluran cerna sampai kadang kadang pendarahan dari saluran
pencernaan
2. Gangguan kulit : kadang kadang timbul „skin rash‟ hiperpigmentasi
3. Gangguan hematologi : penurunan hemoglobin dan pansitopenia
4. Gangguan lain : rambut rontok
1

Karena toksisitasnya (termasuk kematian) yang signifikan maka oleh American
College of Obstreticians and Gynecologist (2004), penggunaannya dilarang secara
rutin.
Pemeriksaan tindak lanjut
Sesudah evakuasi, dilakukan pengawasan baik secara klinis, laboratorium dan
radiologi. Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan
setelah mola hidatidosa. Lama pengawasan berkisar antara satu atau dua tahun.
Tujuannya adalah memastikan pada mola hidatidosa telah sembuh sempurna dan
pemberian kemoterapi jika diperlukan.
1,3,5
1. Klinis
Dicari mengenai keluhan utama dan juga H,B,E,S yaitu :
 H : „history‟, penderita pernah mengalami mola hidatidosa
 B : „bleeding‟, ada riwayat pendarahan
 E : „enlargment‟, pembesaran rahim
 S : „soft‟, rahim tetap lunak
3

2. Laboratorium
Dilakukan pemeriksaan kadar lanjutan dari HCG serum maupun
pemeriksaan Gali Mainini. Pemeriksaan serum HCG dilakukan segera
setelah dilakukan evakuasi mola, biasanya sekitar 48 jam pasca evakuasi.
Kadar HCG serum seharusnya mengalami penurunan membentuk
gambaran sebuah kurva dan tidak akan meningkat lagi. Beberapa sumber
mengatakan kadar HCG serum akan mencapai normal 7 minggu pasca
evakuasi untuk mola parsial dan 9 minggu pasca evakuasi untuk mola
sempurna (seperti pada gambar kurva). Beberapa sumber mengatakan
kadar normal HCG serum akan tercapai setelah 8-12 minggu pasca
evakuasi.
3,4,5
Pemeriksaan ini untuk membedakan dengan penyakit
trofoblas yang persisten. Apabila kadar HCG serum mengalami
peningkatan atau membentuk kurva naik ke atas setelah mengalami
penurunan (plateu curve), pasien dicurigai mengalami degenerasi
keganasan, dengan catatan metastase karena keganasan organ lain harus
dapat disingkirkan dahulu.
4,5
Sedangkan pemeriksaan lanjutan dari Gali
Mainini titrasi setiap inggu sampai tiga minggu berturut turut hasilnya
negative.
3



Gambar 7. Kurva penurunan HCG pasca evakuasi mola hidatidosa

Karena kadar HCG serum juga meningkat pada kehamilan, agar tidak
mengacaukan pemeriksaan selama periode ini, pasien dianjurkan untuk
tidak hamil dulu dengan menggunakan kondom, diafragma atau pil anti
hamil. Mengenai pemberian pil anti hamil ini ada dua pendapat yang
saling bertentangan. Satu pihak mengatakan bahwa pil kombinasi di
samping mencegah kehamilan juga dapat menahan LH dari hipofisis
sehingga tidak terjadi reaksi silang dengan HCG. Pihak lain
menentangnya, justru karena estrogen dapat mengaktifkan sel sel
trofoblas. Bagshawe beranggapan bila pil anti hamil diberikan sebelum
kadar HCG jadi normal dan kemudian wanita itu mendapat
koriokarsinoma, maka biasanya resisten terhadap sitostatika.
1
Beberapa
sumber juga memperbolehkan pemakaian IUD (Intra Uterine Device), tapi
untuk mencegah supaya tidak terjadi perforasi dan pendarahan,
pemasangan dilakukan saat sudah terjadi involusi uterus dan normalisasi
kadar HCG serum.
4

Pemberian kemoterapi tidak di indikasi selama terjadi penurunan kadar
HCG serum secara bertahap. Apabila ada peningkatan HCG serum
membentuk pleateau curve atau terjadi kelainan trofoblas yang persisten,
kemoterapi dapat diberikan. Peningkatan signifikan proliferasi trofoblas
yang ditandai dengan peningkatan kadar HCG biasanya karena keganasan,
kecuali apabila wanita tersebut hamil. Jika kadar HCG serum telah
mencapai normal selama 3-4 minggu, pemeriksaan ulangan dilakukan 6
bulan kemudian dan wanita tersebut diijinkan hamil kembali jika hasilnya
tetap normal.
4,5
Sayangnya di negara berkembang pemeriksaan tindak
lanjut ini sukar dilakukan karena jarang yang mau datang untuk kontrol.
Di samping itu pemeriksaan HCG dengan RIA (Radio Imunno Assay)
mahal. Dengan demikian diagnosis dini keganasan sukar ditentukan.
1

3. Radiologi
Kontrol X foto thoraks 6 bulan sekali sampai gambaran radiologis normal
kembali, tidak ditemukan gambaran snow storm pattern. Menurut prosedur
di RSUD Dr. Soetomo, kontrol ke Poliklinik Onkologi dilakukan :
 3 bulan pertama setiap 2 minggu
 6 bulan kemudian setiap 1 bulan
 Sampai 2 tahun setiap 3 bulan
3


Sampai sekarang belum ada kesepakatan sampai kapan penderita mola dianggap
sehat kembali. Curry mengatakan sehat bila HCG dua kali berturut turut normal.
Ada pula yang mengatakan bila sudah melahirkan anak yang normal.
1

Selain hal hal di atas, perlu juga dilakukan KIE kepada pasien mola, mengenai :
 Meskipun jarang, tapi penyakit ini mempunyai resiko menjadi keganasan,
oleh karena itu yang terpenting adalah kontrol rutin sampai pasien benar
benar dinyatakan sembuh.
 Tujuan pasien disarankan menunda kehamilan adalah supaya tidak
mengacaukan diagnosis keganasan akibat peningkatan HCG serum karena
peningkatan HCG serum karena kehamilan dengan penyakit lain tidak bisa
dibedakan.
 Pasien diperbolehkan hamil setelah hasil HCG serum normal selama
minimal 6 bulan
 Untuk kehamilan berikutnya harus terus dimonitoring dengan USG karena
adanya resiko berulang sebesar 1-2% dan setelah 2 atau lebih terjadi
kehamilan mola, resiko terulangnya meningkat menjadi 1 dari 6,5 – 17,5
kehamilan.
4


J. PROGNOSIS
Di negara maju, karena kemajuan diagnosis dini dan terapi yang tepat,
tingkat kematian akibat mola hidatidosa hampir mencapai angka 0, tapi pada
negara berkembang tingkat kematian masih tinggi, yaitu berkisar antara 2,2-5,7
%. Kematian pada mola hidatidosa disebabkan karena pendarahan, infeksi,
eklampsia, payah jantung atau tirotoksikosis. Sebagian besar dari pasien mola
akan segera sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada sekelompok
wanita yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma.
Resiko menjadi keganasan menurut literature adalah 20% dari kasus mola
hidatidosa, sedangkan menurut laporan berbagai klinik sangat berbeda beda,
berkisar antara 5,56%.
1,4

Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3
tahun pasca mola, tetapi yang paling banyak dalam 6 bulan pertama. Tapi yang
jelas semua keganasan mola ini bersifat dapat sembuh sempurna (curable). Ada
wanita yang pernah menderita mola hidatidosa, kemudian pada kehamilan
berikutnya mendapat mola lagi. Kejadian berulangnya mola ini sangat jarang,
sekitar 1-2%. Ada yang mengatakan bahwa mola yang berulang memiliki resiko
yang lebih besar untuk menjadi koriokarsinoma, tetapi penelitian di Bandung
tidak menunjukkan hal demikian.
1,4


Untuk menentukan kapan kembalinya fungsi reproduksi setelah mola
hidatidosa, sebetulnya agak sukar karena umunya mereka diharuskan memakai
kontrasepsi. Walaupun demikian banyak yang tidak mematuhi, karena
pengamatan di RS Hasan Sadikin 41,5% telah hamil lagi dalam jangka waktu satu
tahun. Bila tidak diharuskan memakai kontrasepsi tentu akan lebih banyak lagi.
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan reproduksi pasca
mola tidak banyak berbeda dengan kehamilan lainnya. Anak anak yang dilahirkan
setelah mola hidatidosa ternyata umunya normal.
1
BAB III
KESIMPULAN

Mola hidatidosa adalah suatu neoplasma jinak dari sel trofoblas, yang
disertai kegagalan pembentukan plasenta atau fetus, dengan terjadinya vili yang
menggelembung sehingga menyerupai bentukan seperti buah anggur. Janin
biasanya meninggal meninggal tapi villus villus yang membesar dan edematous
itu hidup dan tumbuh terus. Merupakan salah satu dari penyakit karena kelainan
plasenta yang meliputi mola hidatidosa komplet dan parsial, tumor placenta situs
trofoblas, koriokarsinoma dan mola invasif.
Patofisologinya sampai sekarang belum jelas, banyak teori yang
menjelaskan patofisiologi nya namun sampai sekarang hanya teori missed
abortion dan teori neoplasma dari Park yang masih banyak dianut. Banyak
ditemukan pada wanita keturunan Asia dengan umur maternal yang ekstrem (> 45
atau < 20 tahun), dan pada keadaan malnutrisi. Dibagi menjadi 2 yaitu mola
sempurna yang tidak ditandai dengan adanya janin dan mola parsial yang ditandai
dengan adanya janin.
Gejala gejala ditemukan adanya tanda tanda kehamilan muda seperti
amenorrhea, pendarahan yang biasanya disertai dengan anemia, hiperemesis,
tinggi fundus uteri lebih besar dari perkiraan usia kehamilan, tidak dirasakan
tanda tanda janin seperti gerakan janin maupun ballottement, tanda pasti
ditemukan adanya gelembung pada darah yang keluar pervaginam. Pemeriksaan
tambahan adalah pengukuran kadar HCG serum dan urine yang meningkat,
ditemukan gambaran badai salju pada pemeriksaan radiologi, tidak ada bagian
bagian janin pada pemeriksaan sonde dan gambaran histopatologis mola. Mola
hidatidosa harus dibedakan dengan kehamilan kembar, abortus, hiperemesis
gravidarum, koriokarsinoma dan kehamilan dengan hipertiroid.
Penanganan mola dilakukan secara bertahap, yaitu memperbaiki keadaan
umum, evakuasi mola dengan kuretase maupun histerektomi, pemberian terapi
profilaksis dan pemeriksaan tindakan lanjut. Saat dilakukan pemeriksaan lanjutan,
penderita dilarang hamil dahulu karena dapat mengacaukan pemeriksaan.
Komplikasi mola dapat menyebabkan pendarahan profus, perforasi, emboli sel
trofoblas, keganasan, tirotoksikosis dan pre eklampsia / eklampsia mola.
Prognosis mola masih bagus asal tidak menjadi keganasan, tidak mempengaruhi
tingkat reproduksi dan dapat melahirkan anak yang normal.
DAFTAR PUSTAKA

1. Winknjosastro, SP.OG, Prof. Dr. Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARDJO; Hal:
339-351.
2. Ross S. Berkowitz, M.D., and Donald P. Goldstein, MD. 2009. Molar
Pregnancy. www.nejm.org
3. Tim Revisi PDT. 2008. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bag/SMF Ilmu
Kebidanan Dan Penyakit Kandungan. Surabaya : Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga; Hal : 49-53
4. Lisa E Moore, MD, FACOG, 2010. Hydatidiform Mole. Available from:
http://emedicine.medscape.com
5. Cunningham, F. Gary. 2006. Obstetri William. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC; Hal 930-938, 931-933.
6. Chaterine, I. Dumur, 2011. Differential Expression of a Tumor Necrosis
Factor Receptor – Related Transcript in Gestational Trophoblastic
Diseases in Women. Available from:
http://www.biolreprod.org/content/59/3/621.full.
7. Rasjidi, SpOG (K) Onk, dr. Imam. Panduan Penatalaksanaan Kanker
Ginekologi Berdasarkan Evidence Base. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran EGC; Hal 65-82.
8. Winknjosastro, SP.OG, Prof. Dr. Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta:
YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARDJO; Hal:
262-266.
9. Winknjosastro, SP.OG, Prof. Dr. Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARDJO; Hal:
275-280.
10. Tjokroprawiro, dr., Sp.PD, K-EMD, Prof. Dr. Askandar. 2007. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga; Hal: 86-92
11. Kusuma, Sp OG, Dr. Indra Perdana. 2005. Kumpulan Materi Kuliah
Obsetrik Ginekologi. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma