You are on page 1of 22

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN ANAK DENGAN MORBILI

OLEH :

NAMA

: NI WAYAN BUDIARINI

NIM

: P07120012030

KELAS

: 2.1 REGULER

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN AJARAN 2013/2014

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN


KEPERAWATAN MORBILI PADA ANAK

A. PENGERTIAN
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut,menular yang ditandai 3
stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensensia.
Morbili dapat disebut juga campak,measles,rubeola.(IKA,FKUI Volume 2,
1985)
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium yaitu : stadium inkubasi, stadium prodromal dan stadium erupsi
(Rampengan, 1997: 90)
Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute
udara dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer,
2001:2443)
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu : a. stadium kataral, b. stadium erupsi dan c. stadirum
konvelensi. (Rusepno, 2002:624)
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu (1) stadium kataral, (2) stadium erupsi dan (3) stadirum
konvelensi. (Ngastiyah, 1997:351)
Campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang disebabkan
oleh virus campak. (Hardjiono, 2004:95)
Campak adalah demam eksantematosa akut oleh virus yang menular
ditandai oleh gejala prodromal yang khas, ruam kulit dan bercak koplik.
(Ovedoff, 1995:451)

Measles atau rubeola adalah penyakit infeksi tinggi akut melibatkan


traktus respiratorius dan dikarakteristikkan oleh ras makulopapuler confluent.
(N. Clex, 2001:153).
Morbili adlah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium
yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi,
2001:211).
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan
3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi.
(Mansjoer, 2000 : 47).

B. ETIOLOGI
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring
dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbulnya bercakbercak. Cara penularannya dengan droplet dan kontak (IKA,FKUI Volume 2,
1985).
Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili
paramyxovirus yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap
panas dan dingin, dan dapat diinaktifkan pada suhu 30 oC dan -20oC, sinar
matahari, eter, tripsin, dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat
memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen.
(Rampengan, 1997 : 90-91).
Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret
nasofaring dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul
bercak-bercak, cara penularan dengan droplet dan kontak (Ngastiyah,
1997:351)
Campak adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili Paramiksoviridae,
genus Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang strukturnya mirip
dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Virus tersebut
ditemukan di dalam sekresi nasofaring, darah dan air kemih, paling tidak
selama periode prodromal dan untuk waktu singkat setelah munculnya ruam

kulit. Pada suhu ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif selama 34 jam.
(Nelson, 1992 : 198).

C. EPIDEMOLOGI
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah
menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta)
sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang
sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita
morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan
mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III
maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau
seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian
meninggal sebelum usia 1 tahun. Morbili dapat ditularkan dengan 3
cara,antara lain :
1. Percikan ludah yang mengandung virus
2. kontak langsung dengan penderita
3. penggunaan peralatan makan & minum bersama.
Penderita dapat menularkan infeksi dalam waktu 2-4 hari sebelum
timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan
kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal
(berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak
adalah :
1. bayi berumur lebih dari 1 tahun
2. bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
3. Daya tahan tubuh yang lemah
4. Belum pernah terkena campak
5. Belum pernah mendapat vaksinasi campak.
6. remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

D. PATOFISIOLOGI
Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran
pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial, berkembang biak dan
selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala
pada saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala
patoknomi berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk
berperan dalam timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam
sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi
virus.
Patofisiologi

Organisme (virus morbili) menular melalui rute udara,

dalam waktu 24 jam, dari awal muncul reaksi terhadap virus morbili maka
akan terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan
beberapa sel polimorfonukleus di sekitar kapiler. Kelainan ini terdapat pada
kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva (Ngastiyah,
1997:352).
Sebagai reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan
proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus disekitar
kapiler. Kelainan ini terdapat pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus
dan konjungtiva (IKA,FKUI Volume 2,1985).
E. KLASIFIKASI MORBILI

Masa tunasnya adalah 10-20 hari, dan penyakit ini dibagi menjadi dalam 3
stadium yaitu:
1. Stadium Kataral ( Prodormal)
Berlangsung selama 4-5 hari dengan tanda gejala sebagai berikut:
a. Panas
b.

Malaise

c. Batuk
d. Fotofobia
e. Konjungtivitis

f. Koriza
Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema,
timbul bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan
dikelilingi oleh eritema tapi itu sangat jarang dijumpai. Diagnosa
perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita
pernah kotak dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.
2. Stadium Erupsi
Gejala klinik yang muncul pada stadium ini adalah:
a.

Koriza dan Batuk bertambah

b.

Timbul enantema dipalatum durum dan palatum mole

c.

Kadang terlehat bercak koplik

d.

Adanya eritema, makula, papula yang disertai kenaikan suhu


badan

e.

Terdapat pembesaran kelenjar getah bening

f.

Splenomegali

g.

Diare dan muntah

Variasi dari morbili disebut Black Measles yaitu morbili yang


disertai pendarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
3. Stadium konvalensensi
a. Erupsi

mulai

berkurang

dengan

meninggalkan

bekas(hiperpigmentasi)
b. Suhu menurun sampai normal kecuali ada komplikasi (IKA,FKUI
Volume 2,1985).
F. MANIFESTASI KLINIS

Menurut ahli lain manifestasi yang timbul adalah:


1. Stadium Kataral (prodromal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivis, dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral
dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik
berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema,
lokasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.

2. Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di
palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak
koplik. Terjadinya eritema yang berbentuk makula-popula disertai
menaiknya suhu badan diantara macula terdapat kulit yang normal. Mulamula eritema timbul di belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk,
sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, kadang-kadang terdapat
perdarahan ringan pada kulit, rasa gatal, muka bengkak.
3. Stadium Konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Suhu menurun
sampai menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi (Rusepno, 2002 : 625)
Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul
pada bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota
badan. Selain itu, timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan
kemerahan (konjungtivis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan
berubah menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2
minggu dan apabila sembuh, kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini,
2002 : 179)

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1.

Gambaran klinis yang khas

2.

Pemeriksaan laboratorium

3.

Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan leukopeni

4.

Dalam spuntum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan adanya


multinucleated giant cells yang khas

5. Pada pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutination inhibition test


dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibody yang
spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya
pada 2-4 minggu kemudian. (Rampengan, 1997 : 94)

6. Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya


multinucleated giant sel yang khas.
7. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test dan
complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik
dalam 1 3 hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 4
minggu kemudian.

H. PENATALAKSANAAN
Sesungguhnya tidak ada pengobatan yang spesifik untuk mengatasi
penyakit campak. Pada kasus yang ringan, tujuan terapi hanya untuk
mengurangi demam dan batuk, sehingga penderita merasa lebih nyaman dan
dapat beristirahat dengan lebih baik. Dengan istirahat yang cukup dan gizi
yang baik, penyakit campak (pada kasus yang ringan) dapat sembuh dengan
cepat tanpa menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
Bila ringan, penderita campak tidak perlu dirawat. Penderita dapat
dipulangkan dengan nasehat agar selalu mengupayakan peningkatan daya
tahan tubuh, dan segera kontrol bila penyakit bertambah berat.
Umumnya dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :
1. Isolasi untuk mencegah penularan
2. Tirah baring dalam ruangan yang temaram (agar tidak menyilaukan)
3. Jaga agar penderita tetap merasa hangat dan nyaman
4. Diet bergizi tinggi dan mudah dicerna. Bila tidak mampu makan
banyak, berikan porsi kecil tapi sering (small but frequent)
5. Asupan cairan harus cukup untuk mencegah dehidrasi
6. Kompres hangat bila panas badan tinggi
7. Humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu
dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
8. Obat-obat yang dapat diberikan antara lain:
a. Penurun panas (antipiretik): Parasetamol atau ibuprofen
b. Pengurang batuk (antitusif)

c. Vitamin A dosis tunggal :


1) Di bawah 1 tahun: 100.000 unit
2) Di atas 1 tahun: 200.000 unit
d. Antibiotika
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi komplikasi berupa
infeksi sekunder (seperti otitis media dan pnemonia)
e.

Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan pada penderita


morbili dengan ensefalitis yaitu :

f. Hidrokortison 100-200 mg/hr selama 3-4 hari


g. Prednison 2 mg/kgBB/hr selama 1 minggu
I. KOMPLIKASI
1. Pneumoni
Oleh karena perluasan infeksi virus disertai dengan infeksi sekunder.
Bakteri yang menimbulkan pneumoni pada mobili adalah streptokok,
pneumokok, stafilokok, hemofilus influensae dan kadang-kadang dapat
disebabkan oleh pseudomonas dan klebsiela.
2. Gastroenteritis
Komplikasi yang cukup banyak ditemukan dengan insiden berkisar
19,1 30,4%
3.

Ensefalitis
Akibat invasi langsung virus morbili ke otak, aktivasi virus yang laten,
atau ensefalomielitis tipe alergi.

4. Otitis media
Komplikasi yang sering ditemukan
5. Mastoiditis
Komplikasi dari otitis media
6. Gangguan gizi
Terjadi sebagai akibat intake yang kurang (Anorexia, muntah),
menderita komplikasi. (Rampengan, 1998 : 95)

KONSEP DASAR TEORI ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN ANAK DENGAN MORBILI

A. PENGKAJIAN
1.

Pengkajian Data Dasar


Biodata
Terdiri dari biodata pasien dan biodata penanggung jawab.

2.

Proses keperawatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama pada pasien dengan morbili yaitu demam terusmenerus berlangsung 2 4 hari. (Pusponegoro, 2004 : 96)
b. Riwayat keperawatan sekarang
Anamnesa adanya demam terus-menerus berlangsung 2 4 hari,
batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah, silau bila kena cahaya
(fotofobia), diare, ruam kulit. (Pusponegoro, 2004 : 96)
Adanya nafsu makan menurun, lemah, lesu. (Suriadi, 2001 : 213)
c. Riwayat keperawatan dahulu
Anamnesa pada pengkajian apakah klien pernah dirawat di Rumah
Sakit atau pernah mengalami operasi (Potter, 2005 : 185).
Anamnesa riwayat penyakit yang pernah diderita pada masa lalu,
riwayat imunisasi campak (Wong, 2003 : 657). Anamnesa riwayat
kontak dengan orang yang terinfeksi campak. (Suriadi, 2001 : 213)
d. Riwayat Keluarga

Dapatkan data tentang hubungan kekeluargaan dan hubungan darah,


apakah klien beresiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau
familial. (Potter, 2005 : 185)
3. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
b. Bernafas
Kaji pernafasan pasien. Kaji apakah pasien mengalami kesulitan saat
bernafas
c. Makan dan Minum
Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama
MRS .
Kebiasaan : pola makan, frekuensi, jenis.
Perubahan :setelah di rumah sakit
d. Eliminasi
1) BAK
Kebiasaan : frekuensi, warna, bau.
Perubahan setelah sakit
2) BAB
Kebiasaan : frekuensi, warna, konsistensi.
Perubahan setelah sakit.
e. Gerak dan Aktivitas
Kaji gerak dan aktivitas pasien selama berada di RS
f. Istirahat dan tidur
Kebiasaan : kaji kebiasaan istirahat tidur pasien
Perubahan setelah sakit

g. Kebersihan Diri
Kaji bagaimana toiletingnya pasien.
h. Pengaturan suhu tubuh
Cek suhu tubuh pasien, normal(36-37C), pireksia/demam(38-40C),
hiperpireksia=40C< ataupun hipertermi <35,5C.
i. Rasa Nyaman
Observasi adanya keluhan yang mengganggu kenyamanan pasien.
Observasi nyeri yang di keluhkan pasien.
j. Rasa Aman
Kaji keluarga pasien mengenai kecemasan yang ia rasakan
k. Sosialisasi dan Komunikasi
Observasi social dan komunikasi pasien. Kaji apakan pasien mampu
bercanda dengan keluarganya.
l. Bekerja
Kaji pasien apakah pasien mampu bermain dan bercanda dengan
keluarganya
i. Ibadah
Ketahui agama apa yang dianut pasien
j. Rekreasi
Observasi apakah sebelumnya pasien sering rekreasi dan sengaja
meluangkan waktunya untuk rekreasi. Tujuannya untuk mengetahui
teknik yang tepat saat depresi.
k. Pengetahuan atau belajar

Seberapa besar keingintahuan keluarga mengenai cara pencegahan


diare pada anak. Disinilah peran perawat untuk memberikan HE
kepada keluarga pasien mengenai cara pencegahan diare pada anak.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Kulit : Timbul rash
Rash mulai timbul sebagai eritema makulopapular ( penonjolan
pada kulit yang berwarna merah )
Timbul dari belakang telinga pada batas rambut dan menyebar ke
daerah pipi, seluruh wajah, leher, lengan bagian atas dan dada
bagian atas dalam 24 jam I.
Dalam 24 jam berikutnya, menyebar menutupi punggung,
abdomen, seluruh lengan dan paha, pada akhirnya mencapai kaki
pada hari ke 2 3, maka rash pada wajah mulai menghilang.
Proses menghilangnya rash berlangsung dari atas ke bawah dengan
urutan sama dengan urutan proses pemunculannya. Dalam waktu
4 5 hari menjadi kehitam hitaman ( hiperpigmentasi ) &
pengelupasan (desquamasi).
b. Kepala
1) Mata :
Konjungtivitis & fotofobia.Tampak adanya suatu garis
melintang dari peradangan konjungtiva yang dibatasi pada
sepanjang tepi kelopak mata ( Transverse Marginal Line
Injectio ) pada palpebrae inferior, rasa panas di dalam mata &
mata akan tampak merah, berair, mengandung eksudat
padakantong konjungtiva.
2) Hidung :

Bersin yang diikuti hidung tersumbat & sekret mukopurulen


dan menjadi profus pada saat erupsi mencapai puncak serta
menghilang bersamaan dengan menghilangnya panas.
3) Mulut : Didapatkan koplik's spot
Merupakan gambaran bercak bercak kecil yang irregular
sebesar ujung jarum / pasir yang berwarna merah terang dan
bagian tengahnya berwarma putih kelabu. Berada pada
mukosa pipi berhadapan dengan molar ke 2 , tetapi kadang
kadang menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan
mukosa pipi. Timbulnya pada hari ke 2 setelah erupsi
kemudian menghilang. Tanda ini merupakan tanda khas pada
morbili.
4) Leher :
Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang
daerah servikal posterior. Hal ini disebabkan karena aktivitas
jaringan limphoid untuk menghancurkan agen penyerang
( virus morbili ).
5) Dada :

a)

Paru :
Bila terjadi perubahan pola nafas & ketidakefektifan
bersihan jalan nafas akan didapatkan peningkatan
frekuensi pernafasan, retraksi otot bantu pernafasan dan
suara nafas tambahan. Batuk yang disebabkan oleh
reaksi inflamasi mukosa saluran nafas bersifat batuk
kering. Intensitas batuk meningkat mencapai puncak
pada saat erupsi. Bertahan lama & menghilang secara
bertahap dalam

b)

5 10 hari.

Jantung : Terdengar suara jantung I & II.

6) Abdomen :
Bising usus terdengar, pada keadaan hidrasi turgor kulit dapat
menurun.
7) Anus & genetalia :

c)

Eliminasi alvi dapat terganggu berupa diare


Eliminasi uri tidak terpengaruh.

8)

Ekstremitas atas dan bawah :


Ditemukan rash dengan sifat sesuai waktu timbulnya.

5. Pemeriksaan penunjang
Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan leukopenia ringan.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektifberhubungan dengan peningkatan
produksi sputum
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan atau
absorpsi nutrien yang diperlukan.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi.
4. Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
5. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan isolasi dari teman sebaya.
6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penggarukan
pruritus
7. Hipertermi berhubungan dengan Efek pirogen terhadap pengaturan suhu

tubuh pada hipotalamus, Peningkatan metabolisme dan proses penyakit.


C. INTERVENSI
1.

Bersihan

jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan

produksi sputum
Hasil yang diharapkan :

a. Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih atau


jelas.
b. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas,
misal : batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Intervensi :
1)

Auskultasi bunyi napas


Rasional : beberapa derajat spasma bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan nafas.

2)

Kaji atau pantau frekuensi pernapasan


Rasional : takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan
dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress atau
adanya proses infeksi akut.

3)

Catat adanya atau derajat dipsnoe sesak napas


Rasional : disfungsi pernapasan adalah variabel yang
tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang
menimbulkan perawatan di rumah sakit.

4)

Pertahankan polusi lingkungan minimun, misal ; debu,


asap, dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi
individu.
Rasional : pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat
menjadi episode akut.

5)

Observasi karakteristik batuk


Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif,
khususnya bila pasien lansia, sakit akut, atau kelemahan.
Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di
bawah setelah perkusi

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan atau
absorpsi nutrien yang diperlukan.
Hasil yang diharapkan :
a.

Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan


nilai laboratorium normal.

b.

Tidak mengalami tanda malnutrisi.

c.

Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan


dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.
Intervensi :
1.

Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.


Rasional

mengidentifikasi

defisiensi,

menduga

kemungkinan intervensi.
2.

Observasi dan catat masukan makanan pasien.


Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi makanan.
Timbang berat badan tiap hari

3.

Rasional : mengevaluasi penurunan berat badan atau


efektivitas intervensi nutrisi.
4.

Berikan makanan sedikit dari frekuensi sering dan atau


makan diantara waktu makan.
Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan
meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster.

5.

Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus, dan


gejala lain yang berhubungan.
Rasional : gejala gastro intestinal dapat menunjukkan efek
anemia (hipoksia) pada organ.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi.


Hasil yang diharapkan :
a.

Anak yang rentan tidak mengalami penyakit.

b.

Infeksi tidak menyebar

c.

Anak tidak menunjukkan bukti-bukti komplikasi seperti infeksi dan


dehidrasi.
Intervensi :
1. Identifikasi anak beresiko tinggi
Rasional : memastikan anak menghindari pemajanan
2. Lakukan rujukan ke perawat kesehatan masyarakat bila
perlu.

Rasional : untuk memastikan prosedur yang tepat di rumah.


3. Pantau suhu
Rasional : peningkatan suhu tubuh yang tidak diperkirakan
dapat menandakan adanya infeksi.
4. Pertahankan higiene tubuh yang baik.
Rasional : untuk mengurangi resiko infeksi sekunder dari
lesi.
5. Berikan serapan air sedikit tapi sering atau minuman
kesukaan anak serta makanan halus atau lunak.
Rasional :

- Untuk menjamin hidrasi yang adekuat

Banyak anak-anak yang mengalami anoreksia selama sakit


4. Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
Hasil yang diharapkan :
a. Kulit dan membran mukosa bersih dan bebas dari iritasi.
b. Anak menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan minimum.
Intervensi :
1. Gunakan vaporiser embun dingin, kumur-kumur, dan tablet
isap.
Rasional : untuk menjaga agar membran mukosa tetap
lembab.
2. Bersihkan mata dengan larutan salin fisiologis
Rasional : untuk menghilangkan sekresi atau kusta
3.

Jaga agar anak tetap dingin.


Rasional : karena udara yang terlalu panas dapat
meningkatkan rasa gatal.

4. Berikan mandi air dingin dan berikan lotion seperti kalamin


Rasional : untuk menurunkan rasa gatal.
5. Berikan analgesik, antipiretik, dan antipruritus sesuai
kebutuhan dan ketentuan.
Rasional : untuk mengurangi nyeri, menurunkan suhu
tubuh, dan mengurangi rasa gatal.
5. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan isolasi dari teman sebaya.

Hasil yang diharapkan :


a.

Anak menunjukkan pemahaman tentang pembatasan

b.

Anak melakukan aktivitas yang tepat dan berinteraksi.


Intervensi :
1. Jelaskan alasan untuk pengisolasian dan penggunaan
kewaspadaan khusus.
Rasional : untuk meningkatkan pemahaman anak tentang
pembahasan.
2. Biarkan anak memainkan sarung tangan dan masker
Rasional : untuk memfasilitasi koping positif.
3. Berikan aktivitas pengalihan
Rasional : untuk melakukan aktivitas yang tepat dan
berinteraksi.
4. Anjurkan orang tua untuk tetap bersama anak selama
hospitalisasi.
Rasional : untuk menurunkan perpisahan dan memberikan
kedekatan.
5. Siapkan teman sebaya anak untuk perubahan perampilan
fisik
Rasional : untuk mendorong penerimaan teman sebaya.

6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penggarukan


pruritus
Hasil yang diharapkan : kulit tetap utuh
Intervensi :
1) Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih
Rasional : untuk meminimalkan trauma dan infeksi
sekunder.
2) Pakailah sarung tangan atau restrein siku
Rasional : untuk mencegah penggarukan
3) Berikan pakaian yang tipis, longgar, dan tidak meng
mengiritasi.

Rasional

karena

panas

yang

berlebihan

dapat

meningkatkan rasa gatal.


4) Tutup area yang sakit (lengan panjang, celana panjang,
pakaian satu lapis).
Rasional : untuk mencegah penggarukan
5) Berikan losion yang melembutkan (sedikit saja pada lesi
terbuka).
Rasional : karena pada lesi terbuka absorpsi obat meningkat
untuk menurunkan pruritus.
6) Hindari pemajanan panas atau sinar matahari.
Rasional : menimbulkan ruam (Doenges, 2000 : 156, 157
dan 575).
7. Hipertermi berhubungan dengan Efek pirogen terhadap pengaturan suhu

tubuh pada hipotalamus, Peningkatan metabolisme dan proses penyakit.


8. Hasil yang diharapkan :
Klien menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh 36,5 37,5 C ( bayi ) , suhu tubuh 36 37,5C(anak)
b.

Frekuensi pernafasan : Bayi ; 30-60 x/mnt, anak ; 15-30 x/mnt.

c. Frekuensi nadi : Bayi ; 120-140 x/mnt, anak ; 100-120 x/mnt.


Intervensi :
1. Monitor temperatur suhu
R/ Perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi
akut.
2. Monitor suhu lingkungan.
R/ Temperatur lingkungan dipertahankan mendekati suhu
normal.
3. Berikan kompres dingin.
R/ Menurunkan panas lewat konduksi.
4. Berikan antipiretik sesuai program tim medis.
R/ Menurunkan panas pada pusat hipotalamus.

D. IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh
perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Implementasi dilaksanakan
sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal,
teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang
tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi
intervensi dan respon pasien.
Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari
rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan
perawatan yang muncul pada pasien (Budianna Keliat, 1994,4).

E. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana
evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan
melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.
Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam
rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan
pengkajian ulang (US. Midar H, dkk, 1989).

DAFTAR PUSTAKA
Amin Huda Nurarif. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan diagnose
medis & NANDA NIC-NOC.Jakarta : Med Action Publishing
Carpenito, Lynda Juall, Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik
Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC,;1995
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta:
EGC
Price, Sylvia A. Dkk.2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Edisi 6 Volume 1. EGC, Jakarta
Smeltzer, Suzanna C. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner
dan Suddarth Edisi 8 Volume 2. EGC, Jakarta.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Bintang.

2008.

Askepep

Morbili

dalam

(http://pragolo-

pati.blogspot.com/2012/09/laporan-pendahuluan-morbili.html) Diakses 8
april 2014 Pkl. 16.30 wita