You are on page 1of 23

KH ASNAWI (CARINGIN BANTEN

)
IM ASY’ARI (TEBUIRENG JOMBANG)

KH.IDRIS KAMALI (TEBUIRENG JOMBANG)

kh.bisri syansuri dan Kh Abdul wahab chasbulloh(jawa timur)

Kh.Adlan aly ( Jombang Jawa timur)

kh.Ali maksum

KH.MUHAMMAD THOWIL ( PON-PES ASSALAMIYAH BANTEN)
KH.ABDULLAH ABBAS (BUNTET CIREBON)

KH.ISHOMUDDIN HADZIK(PON-PES TEBUIRENG)

KH.ABDULLAH SYAFEI(JAKARTA)

KH.CHOLIL BISRI (REMBANG JAWA TENGAH)

KH.MAMOEN ZUBAIR (TENGAH)
KH.FUAD HASYIM

TRIO KYAI BUNTET CIREBON

KH.Munasir

KH.USMAN ABIDIN (JAKARTA)

HABIB LUTHFI BIN YAHYA (KETUA THAREKAT NAQSABANDIYYAH)
DAN KH.USMAN ABIDIN

SYECH MUHAMMAD ABDUL MALIK BIN ILYAS ( KEBUMEN JATENG)
KH.ABDUL HAMID (PASURUAN)

KH. ASNAWI (CARINGIN BANTEN)

KH.SAID BIN KH ARMIA (TEGAL)

KH.AHMAD SIDDIQ

Syech Yusuf Al makassary ( makasar sulawesi)
Syech Nawawi Al Bantani( tanara banten)

KH.MUHAMMAD NAWAWI AL BANTANI (TANARA BANTEN)

KH.NOER ALI ( UJUNG HARAPAN BEKASI)

KH.ACHMAD DJAZULI USMAN (KEDIRI JAWA TIMUR)

KH.HAMIM DJAZULI ( GUS MIEK KEDIRI)
KH.MAKSUM DJAUHARI (LIRBOYO JAWA TIMUR)

KH.SYAFI’I HADZAMI ( JAKARTA)

KH.ILYAS RUCHIYAT ( JAWA BARAT)

KH.YUSUF HASYIM (TEBUIRENG JOMBANG)

KH.ABDUL ROSYID SYAFI’I ( PIMPINAN ASSYAFI’IYAH JAKARTA)
KH.MUSLIM RIFA’I IMAMPURO( PON-PES ALMUTTAQIEN KLATEN)

KH.SONHAJI ( KEBUMEN JAWA TENGAH)

KH.ABDULLAH FAQIH (KIRI) { TUBAN JAWA TIMUR}

KH.HASYIM MUZADI DAN DR YUSUF QORDOWI

KH.DIMYATI ROIS (KENDAL JAWA TENGAH)

KH.PROF.ANWAR MUSADDAD ( GARUT JAWA BARAT)
KH.YAHYA (BANDUNG)

TUAN GURU HAJI TURMUDJI BADRUDIN (LOMBOK NTB)

KH.MUKHTAR SYAFAAT (BANYUWANGI)

Syeck arsyad al banjari

KH MUHAMMAD DIMYATI (CIDAHU BANTEN)
KH.MUHAMMAD KHOLIL ( MADURA)

ULAMA ULAMA NU
Syech Yasin Al Padani dan para Ulama

Syech Yasin Al Padani ( padang )

Kh.Mubarok bin Nuh ( Suryalayah Jawa barat)
KH.A Shohibul Wafa ( abah Anom suryalaya jawa barat)

KH .ABDULLOH BIN NUH ( BOGOR)
KH. M ARAWANI ( JAWA TENGAH)

SYECK SULAIMAN ARRASULI ( MINANGKABAU)
SYECH AHMAD KHATIB SAMBAS (KALIMANTAN)

Kh Muhammad Zainuddin Abdul Majid ( Lombok

KH.RADEN MUHAMMAD AMIN ( KALI BATA JAKARTA)
KH.BUSTHOMI ( BANTEN)

KH. SANJA ( ULAMA AHLI NAHWU SHOROF BANTEN)
KH.MAMA OBAY ( KARAWANG JAWA BARAT)

KH.ARSYUDIN ( TENJO BOGOR)
SYECH TUBAGUS AHMAD BAKRI ( PURWAKARTA )

KH.MUHAMMAD DIMYATI ( CIDAHU BANTEN)
KH.HAMIM DZAJULI/GUS MIK ( KEDIRI JAWA TIMUR)
Kh.maksum/Gus maksum ( jawa timur)

Kh.Muhiddin ( cirebon)
Syech Muhammad abdul malik ( Kebumen)
untuk kebahagiaan dunia
akhirat
Diriwayatkan dari Anas ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda,"kalimat Laa ilaaha
illallaah akan selalu memberi manfaat bagi siapa saja yang mengucapkannya dan
akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak
mengabaikan hak-haknya." sahabat bertanya,"Ya Rasulullah, apakah yang
dimaksud mengabaikan hak-haknya?" jawab beliau,"kemaksiatan kepada Allah
dilakukan secara terang-terangan, tetapi tidak dicegah dan diubah olehnya."(AL-
Ashbahani-At Tharghib)

Manaqib Ringkas Para Mursyid: Syekh Abdul Karim
Al-Bantani*

Manaqib Ringkas Para Mursyid: Syekh Abdul Karim Al-Bantani*
Oleh: Triwibs Kanyut ⋅ 22 Agustus 2009 | Email This Post Email This Post ⋅ Print
This Post Print This Post ⋅ Komentar

Abdu Al-Karim Banten, Sufi ini adalah mursyid tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah, murid dan penerus dari Syekh Ahmad Khatib Sambas, sang pendiri
tarekat tersebut. Beliau juga dikenal sebagai Kyai Agung, yang memberi semangat
jihad atau perang suci melawan penjajah Belanda yang memicu pemberontakan petani
terkenal pada 1888 di Banten yang melibatkan beberapa murid utama Syekh Abd al-
Karim, meski Syekh Abdul Karim sendiri pernah mengatakan bahwa belum saatnya
dilakukan pemberontakan melawan penjajah.

Abd al-Karim (Abdul Karim) Banten lahir pada tahun 1840 di Lempuyang, Tanara,
Banten. Sejak masih muda beliau sudah pergi menuntut ilmu ke Mekah dan mengabdi
serta mendalami tasawuf serta mengikuti tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas sampai akhirnya mendapat ijazah untuk
menjadi khalifah Syekh Ahmad Khatib. Tugas pertama yang diembannya adalah
melayani guru tarekat di Singapura selama beberapa tahun. Pada 1872 beliau kembali
ke kampung halamannya, desa Lempuyang dan menetap di sana sekitar tiga tahun
lamanya. Pada 1876 beliau berangkat lagi ke Mekah untuk meneruskan
kepemimpinan Syekh Ahmad Khatib Sambas.

Selama di Banten, khotbah dan ajaran-ajaran Syekh Abdul Karim Banten sangat
mempengaruhi warga Banten pada zamannya. Beliau menggagas tentang perlunya
pemurnian terhadap keyakinan dan praktik religius. Sebagaimana mursyid tarekat
lainnya, Syekh Abdul Karim mendukung zikir sebagai metode utama untuk
merevitalisasi iman. Kebesaran dan kewibawaannya serta keluasan ilmunya yang
dalam itu menyebabkan beliau kerap dikunjungi oleh banyak orang awam, yang
sebagian datang untuk ber-tabarruk dan mencari barakah dari kewaliannya.
Sebagaimana lazimnya sosok yang dikenal sebagai wali Allah, Syekh Abdul Karim
ini juga dianugerahi banyak karamah – misalnya beliau selamat dari gelombang banjir
besar dari Sungai Cidurian melalui kekuatan karamahnya, dan ketika ia pernah
dijatuhi hukuman, residen dan bupati di sana dicopot dari jabatannya. Besarnya
pengaruh Kiai Abdul Karim, juga tampak ketika ia melangsungkan pernikahan
putrinya. Seluruh desa Lampuyang, tempat tinggalnya, dihias dengan megah. Kiai-
kiai terkemuka — termasuk dari Batavia dan Priangan — datang di pesta yang antara
lain dimeriahkan rombongan musik dari Batavia dan berlangsung sepekan itu.

Kurang lebih tiga tahun Kiai Abdul Karim tinggal di Banten. Ditunjang kekayaan
yang dimiliknya, ia mengunjungi berbagai daerah di negeri ulama dan jawara itu,
sambil menyebarkan ajaran tarekatnya. Selain kalangan rakyat, ia juga berhasil
meyakinkan banyak pejabat pamong praja untuk mendukung dakwahnya. Tidak
kurang dari Bupati Serang sendiri yang menjadi pendukungnya. Sedangkan tokoh-
tokoh terkemuka lainnya, seperti Haji R.A Prawiranegara, pensiunan patih,
merupakan sahabat-sahabatnya, dan mereka amat terkesan dengan dakwahnya.
Alhasil, Kiai Abdul Karim sangat populer dan sangat dihormati oleh rakyat;
sedangkan para pejabat kolonial takut kepadanya. Kediamannya dikunjungi Bupati
Serang dan Residen Banten. Dan tentu saja kunjungan kedua petinggi di Banten itu
membuat gengsinya semakin naik. Tidak berlebihan jika dikatakan, Kiai Abdul Karim
benar-benar orang yang paling dihormati di Banten.

Sebelum kedatangan Kiai Agung dengan tarekat Qadiriyyahnya, para kiai bekerja
tanpa ikatan satu sama lainnya. Tiap kiai menyelenggarakan pesantrennnya sendiri
dengan caranya sendiri dan bersaing satu sama lainnya. Maka, setelah kedatangan
Kiai Abdul Karim, tarekat Qadiriyyah bukan saja semakin mengakar di kalangan
rakyat, tapi mampu mempersatukan para kiai di Banten. Penyebaran tarekat ini
diperkuat oleh kedatangan Haji Marjuki, murid Haji Abdul Karim yang paling setia,
dari Makkah.

Syekh Abd al-Karim adalah syekh terakhir yang secara efektif menjalankan fungsi
sebagai pucuk pimpinan seluruh tarekat, paling tidak secara formal pengarahannya
masih dipatuhi oleh para koleganya. Walaupun Syekh Abd al-Karim tidak berada di
Banten dan tidak terkait apa-apa dengan pemberontakan petani paling terkenal di
Jawa pada tahun 1888, namun beberapa muridnya, terutama Haji Marjuki (Marzuqi),
salah salah seorang khalifahnya, yang radikal dan anti-Belanda, dicurigai oleh
Belanda sebagai tokoh penghasut di balik pemberontakan tersebut.

Beberapa muridnya yang terkenal lainnya diantaranya adalah H. Sangadeli, Kaloran,
H. Asnawi Bendung Lampuyang, A. Abu Bakar Pontang, dan H. Tubagus Ismail
Gulatjir, yang juga kharismatik dan oleh sebagian besar masyarakat dianggap sebagai
wali Allah. Dalam bidang tarekat, meski tidak mengembangkan tarekat Qadiriyyah
wa Naqsyabandiyyah secara luas, namun Syekh Abdul Karim Banten memiliki
beberapa khalifah penting yang mampu menyebarkanluaskan tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah sehingga menjadi tarekat besar di nusantara. Khalifah dan murid
Syekh Abdul Karim yang berperan utama dalam penyebaran tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah antara lain: Kyai ASNAWI CARINGIN; Syekh Tolhah Kalisapu
Cirebon; Syekh ABDULLAH MUBARROK IBN NUR MUHAMMAD (Abah
Sepuh) Godebag , Tasikmalaya, pendiri pesantren Suryalaya, yang kini menjadi salah
satu pusat terbesar tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, terutama di bawah
kepemimpinan penerusnya, yakni anaknya sendiri, Syekh Ahmad Shahibul Wafa’ Taj
Al-Arifin (Abah Anom); Kyai Falak Pagentongan, Bogor; Kyai KHOLIL
BANGKALAN; Haji Muhammad Amin Ampenan (kakek dari pemimpin tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Lombok, Tuan Guru Mustafa Faisal); dan
Muhammad Sidik Mataram.