You are on page 1of 9

TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL

Defensive Realism sebagai


Aplikasi Strategi Keamanan
China
Yugolastarob Komeini/0706188050
Mahasiswa Program Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Indonesia

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami dan menjelaskan bagaimana China
menggunakan dan melaksanakan strategi keamanannya melalui kerjasama dalam bentuk
multilateralisme dalam kerangka defensive realism sebagai salah satu divisi neo-realism.
Penulisan ini mengacu pada dua penjelasan, teoritis dan empiris, dimana teori mengacu pada apa
yang disebut dengan defensive realism itu sendiri dan empiris menjelaskan aplikasi strategi
keamanan China dalam sistem internasional. Disini, saya akan menjelaskan bagaimana negara
tersebut mengaplikasikannya sebagai bentuk keberhasilan negara tersebut dalam sistem
internasional.
Defensive Realism sebagai Aplikasi Strategi Keamanan China

BAB I: Definisi

Interaksi dalam “offense dan defense” adalah sebuah topik yang banyak didiskusikan
dalam analisis peperangan1 dimana pada tahun 90an, para pemikir neo-realis mulai terbelah pada
dua divisi, yaitu offensive dan defensive realism yang secara fundamental berbeda mengenai
kesimpulan dalam memandang setiap fenomena dalam hubungan internasional dimana kaum
defensive realism memiliki pandangan bahwa sebuah negara yang tergolong great power lebih
memilih untuk mempertahankan status quo daripada meningkatkan kapasitas powernya, dengan
kata lain, defensive realism tidak berupaya meningkatkan kemampuan keamanan dengan
melemahkan sistem keamanan negara lain.

Berbeda dengan offensive realism yang selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan
power dari negara-negara lain untuk mencapai tujuan hegemoni, sehingga bisa dibayangkan jika
dua negara offensive realism berhadapan maka akan ada kecenderungan terjadinya konflik dalam
menyikapi fenomena permasalahan yang ada, dimana kata damai hanya menjadi sebuah ilusi. Di
sisi lain, negara defensive realism menganggap sebuah kerjasama sebagai sebuah solusi atau
bahkan strategi dalam mengurangi resiko sistem internasional yang anarki dan akan memperkecil
dampak security dilemma, sehingga dua negara defensive realism tidak akan tampil menjadi
sebuah ancaman satu sama lain, meskipun kemungkinan konflik tetap ada namun hal itu dapat
diselesaikan secara damai karena pada dasarnya defensive realism juga mempercayai bahwa
dalam permasalahan, baik itu bersifat politik ataupun lainnya, jalur diskusi menjadi pilihan
pertama meski adanya juga kemungkinan terjadinya konflik dan ada beberapa konflik yang tidak
bisa mencapai kata damai (i.e. ketika menghadapi Hitler).

Offensive dan defensive realism berbeda dalam menjawab pertanyaan mengenai seberapa
besar power yang diinginkan oleh negara. Mengacu pada defensive realism, negara

                                                            
1
 George H. Quester, Offense and Defense in the International System, Transaction Publishers, New jersey, 2003. Hal.1 
menginginkan terwujudnya balance of power, sedangkan offensive realism percaya bahwa
tujuan utama dari negara adalah untuk menjadi aktor yang hegemon dalam sistem internasional2.

BAB II: Permasalahan

Dalam tulisan ini saya mengambil contoh negara China sebagai objek analisis dan
melihat kecenderungan apakah tindakan negara tersebut dalam konteks hubungan internasional
lebih berdasarkan pada offensive atau defensive realism. Jika China dalam mencapai tujuannya
lebih mengarah pada ancaman bagi negara lain atau justru negara tersebut tidak menjadi sebuah
ancaman dan cenderung mencari kerjasama sebagai bentuk integritas dalam aturan internasional,
maka dapat dikatakan bahwa China adalah negara yang menggunakan offensive atau defensive
realism sebagai bentuk strategi negara tersebut dalam memainkan peranannya di dunia
internasional. Dengan kata lain, kebijakan luar negeri negara tersebut dapat menggambarkan
grand theory apa yang menuntun China dalam mengaplikasikan strategi keamanannya dalam
sistem internasional, atau bagaimana pandangan negara-negara lain dalam melihat peranan China
dalam sistem internasional. Di sini saya akan melihat pada dua hal yang dapat menggambarkan
apakah negara tersebut menggunakan offensive atau justru sebaliknya, defensive realism sebagai
bentuk aplikasi dari strategi keamanan negara tersebut, yaitu kebijakan China terhadap negara-
negara tetangga yang lebih lemah dan kebijakan mengenai kontrol militer negara tersebut.
Banyak kaum elite China percaya bahwa dari segi luas wilayah, populasi, peradaban, sejarah,
dan yang lebih penting, yaitu pertumbuhan ekonominya, China sangat layak dikategorikan
sebagai negara great power karena itu hal tersebut dapat menjadi alasan bagi negara tersebut
untuk meraih hegemoni atau sebaliknya, berusaha untuk mempertahankan balance of power-nya
di antara negara-negara tetangganya.

Untuk melihat dan menganalisa permasalahan tersebut, maka dalam hal ini saya melihat
negara tersebut mencoba untuk mengaplikasikan semua itu melalui the Shanghai Cooperative
Organization (SCO). Organisasi ini layak menjadi cerminan dalam menganalisa apakah China
dalam mencapai security strategi-nya itu dituntun oleh offensive atau defensive realism yang
men-support negara tersebut dalam mencapai goal-nya.

                                                            
2
 John Mearsheimer, The Tragedy of Great Power Politics, (New York: W. W. Norton, 2001) 
The Shanghai Cooperation Organization beranggotakan China, the former of Soviet
Republics (Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Uzbekistan), yang dibentuk pada
bulan Juni 2001 dan piagam yang diadopsi oleh enam negara tersebut di St. Petersburg pada 7
Juni 2002. Organisasi ini berbasis di Beijing dan mulai berfungsi secara formal semenjak awal
Januari 2004. Terbentuknya organisasi ini terkadang diasumsikan sebagai bentuk multi-polar
world yang eksistensinya sebagai challenger bagi dominasi Amerika terhadap dunia global, ada
juga yang beranggapan bahwa organisasi ini adalah bentuk anti-American orientation. Salah satu
kebijakan dalam piagam SCO adalah sebagai bentuk kerjasama melawan teroris internasional,
gerakan separatis, dan gerakan keagamaan yang bersifat ekstrimis yang terjadi, khususnya di
dalam negara-negara anggota. Kesemua anggota SCO adalah negara yang memiliki
permasalahan etnis yang menentang pemerintahan, karena itu SCO adalah organisasi yang dapat
dianggap sebagai organisasi yang memberikan jaminan atas keamanan negara-negara anggota
dan nasional integritas. Kebijakan lainnya adalah SCO memiliki dua lapisan struktur yang
komplek: kekuatan besar bipolar (Rusia dan China) dan pengaruh Asia Tengah (kekuatan
menengah Uzbekistan versus Kazakhtan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan), keberadaan Uzbekistan
yang tidak memiliki kecocokan terhadap tiga negara Asia Selatan lainnya menyusul adanya sikap
dingin negara tersebut terhadap organisasi tersebut3.

Melihat apa yang eksis dalam organisasi tersebut, adanya sebuah kekuatan bipolar yang
dapat menjadi pemicu konflik antara Rusia dan China atau bagaimana ketidakcocokan antara
empat negara lainnya merupakan isu yang layak menjadi sebuah perdebatan apakah China
dengan segala kekuatannya tampil menjadi sebuah ancaman atau justru mencari integritas di
antara negara-negara tetangganya dalam kerangka multilateralism dan kerjasama untuk mencapai
security strategy negara tersebut dalam mempertahankan balance of power di kawasan Asia
Timur, Eropa Timur, dan Asia Selatan.

Jika melihat kebelakang, dimana sejarah negara-negara tersebut menggambarkan adanya


konflik berkepanjangan mengenai tapal batas maka dapat dilihat benang merah munculnya
organisasi tersebut sebagai bentuk dari penelusuran solusi bagi masing-masing negara dalam
menyelesaikan permasalahan dengan negara tetangganya. Awalnya, organisasi tersebut dikenal

                                                            
3
 Iwashita Akihiro, the Shanghai Cooperation Organization and its Implication for Eurasian Security: A New Dimension of “Partnership” 
after the Post­Cold War Period. Hal. 260 
sebagai “Shanghai Five” dimana kemunculannya sebagai forum yang mendiskusikan mengenai
CBM dan isu batas pemisah antara Uni Soviet dan China mengenai batas regional dalam
prakarsa kerjasama a Russo-Chinese. Permasalahan perbatasan adalah permasalahan sejarah
dimana perbatasan antara Soviet dan China yang terdiri dari 4300 kilometer sebelah timur dari
pinggir timur Mongolia menuju sungai Tumen Korea Utara dan 3200 kilometer sebelah barat
dari pinggir barat Mongolia menuju perbatasan Tajikistan-Afghanistan yang digambarkan
dengan jelas oleh Russian empire dan the Qing dynasty pada akhir abad 19. China mengklaim
bahwa telah kehilangan satu setengah juta kilometer persegi dari daerahnya yang mengacu pada
perjanjian yang merugikan China yang kemudian menyebabkan keduanya terlibat konflik militer
seperti yang terjadi pada the Damanskii Incident pada tahun 1969, meskipun pada akhirnya,
tepatnya pada penghujung 1980, adanya rekonsiliasi atau perdamaian yang dicapai antara
keduanya yang berawal dari inisiatif Gorbachev, dimana keduanya menyetujui untuk
menciptakan batasan-batasan untuk mencegah kembali terjadinya konflik militer dan
penyelesaian isu perbatasan daerah. Keduanya memiliki kesepakatan bersama mengenai prinsip-
prinsip pengurangan kekuatan militer dan membangun prinsip-prinsip kepercayaan dalam bidang
militer di perbatasan pada bulan April 19904.

Adanya keterlibatan konflik antara Soviet versus China dapat dilihat tidak hanya sebagai
bentuk perebutan daerah perbatasan, juga dapat dikategorikan sebagai bentuk kompetisi
kekuatan militer dimana Damanskii Incident sebagai contoh sebuah konflik yang berujung pada
kekuatan militer sebagai bentuk penyelesaian (meski tidak selesai), hal tersebut dapat analogikan
sebagai dua negara offensive militer yang cenderung melihat negara lain sebagai pesaing dalam
mencapai tujuan hegemoni, meski pada akhirnya keduanya secara perlahan mulai meninggalkan
pemahaman offensive dan lebih cenderung untuk bekerja sama dan tidak menggunakan kekuatan
militer sebagai prioritas. Hal ini dapat dianggap sebagai sebuah tindakan disarmament dimana
awalnya hubungan dari kepentingan dua negara yang mengarah pada persenjataan dapat
menyebabkan adanya persaingan persenjataan5, namun pada akhirnya keduanya mulai
meninggalkan pemikiran tradisional tersebut, kecenderungan inilah yang menggambarkan
perubahan paradigma bagi China (dan Rusia) untuk lebih melihat negara lain sebagai partner

                                                            
4
 Ibid, hal. 261 
5
 George H. Quester, 2003, Op. Cit, hal. 191 
sebagai bagian dari tujuan negara-negara defensive untuk mencapai security strategy dan
balance of power-nya.

Pada tahun 1991, adanya perubahan perbatasan antara China dan Soviet yang disebabkan
runtuhnya negara Soviet, dimana bagian sebelah barat dibagi menjadi empat, yaitu 50 kilometer
perbatasan Russo-Chinese, 1700 kilometer perbatasan Kazakh-Chinese, 1000 kilometer
perbatasan Kyrgyz-Chinese, dan 430 kilometer perbatasan Tajik-Chinese, sementara bagian
sebelah timur dikuasai oleh Russo-Chinese. Pada waktu itu negara-negara independen Asia
Tengah belum mengakui keberadaan isu-isu teritorial dan menolak bernegosiasi dengan China,
namun bersedia berdiskusi jika hal itu dimediasikan oleh Rusia yang kemudian terjadi negosiasi
antar Rusia+tiga negara Asia Tengah+China berjalan dalam kerangka Russo-Chinese
partnership. Enam negara tersebut pada akhirnya setuju untuk menstabilkan permasalahan
perbatasan dengan mendirikan zona anti-militer dan berjanji untuk saling bertukar informasi
mengenai kekuatan militer masing-masing, kerangka kerjasama ini kemudian lebih dikenal
sebagai Shanghai Five, dimana organisasi ini menekankan pada stabilitas dan kepercayaan. Hal
ini terlihat cukup efektif dimana, tahun 1994 tercapai kesepakatan perbatasan antara Russo-
China. Pada tahun 1998, dicapai kesepakatan dalam pertemuan Shanghai ke-3 antara Kazakh-
China dan tahun 1992 antara Kyrgyz-China, sebaliknya, negosiasi perbatasan antara Tajik-China
justru menemui deadlock untuk jangka waktu yang cukup lama, meskipun pada akhirnya kata
sepakat dapat tercapai antara keduanya pada tahun 2002. Selain itu, China juga membantu
Uzbekistan dalam menyelesaikan gerakan separatis yang terjadi di negara tersebut, dimana
adanya gerakan separatis yang mengancam kedaulatan negara tersebut dan China dan Rusia juga
melibatkan Uzbekistan dalam kerjasama keamanan regional serta memasukkan negara tersebut
sebagai bagian dari Shanghai Five. Awalnya keberadaan Uzbekistan dalam organisasi tersebut
ditentang keras oleh tiga negara Asia Tengah lainnya, namun pada akhirnya keberadaan
Uzbekistan diterima dan secara resmi pada tahun 2001 semua negara Shanghai Five resmi
mendeklarasikan the Shanghai Cooperation Organization yang bertujuan untuk memerangi
gerakan terorisme, separatis, dan ekstrimis sebagai bagian dari pendirian struktur anti-teroris
regional6. Sebaliknya, laporan yang berasal dari Departement Pertahanan Amerika Serikat
menyatakan bahwa kesuksesan ekonomi China adalah sebuah kemunculan kekuatan regional dan

                                                            
6
 Ibid, Hal. 263‐264 
global dimana hal tersebut menjadi basis utama dalam meningkatkan kapabilitas militer7, namun
hal tersebut belumlah menjadi bukti bahwa kekuatan China yang meningkat dapat menjadi
sebuah ancaman, mengingat tingkat perekonomian sebuah negara yang mengalami peningkatan
bukanlah sebuah alasan utama sebagai kecenderungan yang tampil menjadi sebuah ancaman.

Di sisi lain, lebih dari dua dekade, adanya perdebatan yang mengarah pada posisi China
sebagai negara yang memiliki peningkatan instrument ekonomi, finansial, legal dan psikologi
dalam rencana perang negara tersebut dimana the PLA Academy of Military Science text, the
Science of Military Strategy (2000) menyatakan bahwa perang tidak hanya sebuah perjuangan
militer, tapi juga pertentangan di dalam politik, ekonomi, diplomasi, dan hukum8. Pernyataan
tersebut secara tersirat memang mengindikasikan adanya sebuah persiapan bagi China untuk
mencapai titik hegemoni secara regional dan global, namun hal tersebut juga mesti disikapi
secara rasional, bukankah pendapat tersebut hanyalah pendapat sepihak Amerika Serikat sebagai
respon atas rasa khawatirnya terhadap eksistensi China dalam sistem internasional. Dalam kasus
lain yang dinyatakan dalam media masa the Korean Herold bahwa transformasi yang terjadi di
China dimulai ketika negara tersebut membuka diri pada tahun 1978, dan hal tersebut tidak akan
tercapai tanpa adanya peran serta negara-negara lain di Asia9. Selain itu, adanya langkah
kerjasama yang dilakukan negara tersebut untuk terus menjalin kerjasama adalah bentuk aplikasi
bahwa China adalah negara yang memang menganut prinsip defensive realism, dimana hal
tersebut mengarah kepada bagaimana negara tersebut bersifat multilateralisme dengan
bertransformasi ke dalam ASEAN sebagai langkah kerjasama yang dinilai tepat, mengingat
secara geopolitik, ASEAN adalah sebuah bentuk komunitas kerjasama yang paling berpengaruh
di kawasan Asia Tenggara. Salah satu strategi lainnya yang dilakukan negara tersebut dalam
mencapai balance of power-nya, adalah dengan melakukan kerjasama bilateral dengan
Malaysia10, sebagai sebuah langkah preventif untuk menandingi retorika barat yang coba
menanamkan makna hegemoni di kawasan Asia. Selain itu, negara tersebut juga menciptakan
capacity building sebagai bentuk formasi dalam langkah membangun kepercayaan regional,
salah satunya dengan membentuk Joint Patrol dalam kerjasama angkatan laut antara China dan

                                                            
7
 Chapter Two: Understanding China Strategi, “Annual Report to Congress, Military Power of the People’s Republic of China 2007”, Office 
of the Secretary of Defense of Department of Defense of United States of Amerika.  Hal. 9 
8
 Ibid, hal. 13 
9 Lim Tai Wei dan Joanne Lin, China’s Emerging Role in Asia, The Korean Herald, 19 Desember 2006. 
10 Ibid 
Vietnam pada teluk Beibu di Laut China Selatan11. Hal tersebut dinilai sebagai strategi kerjasama
yang digalang oleh China sebagai bentuk tindakan untuk menghindari kontak senjata dengan
Vietnam dimana Joint patrol adalah tindakan follow up dari persetujuan antara China dan
Vietnam sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi kontak senjata seperti yang terjadi pada
bulan Oktober 2005, kerjasama tersebut dinilai juga sebagai upaya negara tersebut dalam
meningkatkan perdamaian regional di kawasan Asia Timur.

BAB III: Kesimpulan

Melihat bagaimana China menyelesaikan konflik perbatasan dengan Rusia dan negara-
negara Asia Tengah lainnya, dapat kita pertimbangkan sebagai sebuah bentuk proses diskusi
yang telah menggantikan makna penyelesaian yang bersifat tradisional atau lebih
memprioritaskan kekuatan militer dan rasa tidak saling percaya satu sama lain. Dalam hal ini,
China dengan segala kekuatannya lebih mengedepankan proses kerjasama seperti yang terdapat
pada nilai-nilai defensive realism, yaitu mempertahankan status quo daripada meningkatkan
kekuatan dengan melemahkan pihak lain. Kerjasama yang ada dalam SCO merupakan sebuah
solusi konflik perbatasan yang tidak lagi menyentuh konflik frontal (military conflict) sehingga
hal itu dapat memperkecil kemungkinan security dilemma antara negara-negara yang bertikai,
dimana kebijakan negara China dalam kontrol militernya menghasilkan arms reduction yang
memberikan bahwa perang bisa dihindari dan hal itu kemudian menciptakan sebuah ruang
diskusi untuk mencapai makna multilateralism. Selain itu, tindakan dan pemahaman bagaimana
negara tersebut melihat kekuatan lemah maupun kekuatan besar negara-negara lain bukanlah
dianggap sebagai sebuah kesempatan ataupun tantangan untuk mencapai titik hegemoni, namun
lebih mencerminkan pada bentuk integritas dalam sistem internasional untuk mencapai balance
of power dalam interaksi internasionalnya. Kebijakan China terhadap negara-negara tetangganya
tidak lagi menekankan pada pemikiran tradisional namun adanya reaksi dan aksi untuk
mempertahankan balance of power sebagai bentuk integritas dan kerjasama serta bagaimana
kebijakan di bidang militer juga memberikan dampak positif bagi perdamaian dimana secara
jelas China adalah negara menerapkan nilai-nilai defensive realism.

Satu hal yang paling mendasar adalah bagaimana China memiliki kerjasama dengan
negara lain, adalah bukan untuk menjadi ancaman, namun berusaha untuk mendapatkan dan
                                                            
11  Ibid 
mempertahankan situasi damai dalam interaksinya secara internasional. Jika China ingin
mendapatkan hegemoninya tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, dimana China
cukup memiliki kapasitas untuk itu, apa lagi China adalah negara yang juga membutuhkan
sumber energi untuk terus meningkatkan perekonomiannya. Sebagai perbandingan, Amerika
adalah negara besar yang membutuhkan banyak pasokan energi dan negara tersebut selalu
terlibat dalam permasalahan sumber daya alam yang mengarah pada military confict, seperti
yang terjadi di Irak, ataupun negara-negara lain yang juga memiliki sumber daya alam. Klare
dalam bukunya menyatakan bahwa “For American military establishment, this concern has
particular resonance: while the military can do little to promote trade or enhance financial
stability, it can play a key role in protecting resource supplies12. Peranan militer antara Amerika
dan China dapat dikatakan berbeda, meski pada kenyataanya keduanya adalah negara besar yang
memiliki ambisi untuk mendapatkan political interest-nya, namun sangat jelas bahwa interest
keduanya dijalankan secara berbeda dimana China tidak menggunakan kekuatan militernya
sebagai ancaman untuk mencapai tujuan, seperti halnya Amerika, atau bagaimana negara
tersebut menciptakan capacity building antara China dan Malaysia, serta bagaimana berdasarkan
kesepakatan bersama antara China dan Vietnam yang tergabung dalam Joint Patrol sebagai
sebuah strategi untuk menciptakan perdamaian kawasan dimana negara tersebut berada,
bukankah ini merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam defensive realism dimana hal
tersebut tercermin dari bagaimana implementasi kebijakan negara tersebut terhadap negara-
negara tetangganya dalam bentuk kerjasama dan kebijakan terhadap kontrol militernya dalam
pengurangan kekuatan dan pertukaran informasi militer. Melihat fakta-fakta di atas, sangat layak
jika dikatakan bahwa China memang sudah berhasil menerapkan defensive realism sebagai
aplikasi strategi keamanannya.

---The facts justify the Means---

                                                            
12
 Michael T. Klare, Resource War: The New Landscape of Global Conflict, New York, New York, 2001. Hal. 9