You are on page 1of 5

8ab 1 Pengertian Linguistik

Linguistik sebagai dasar dalam mempelajari keahlian berbahasa. Dengan memahami ilmu ini, akan diperoleh pengetahuan yang semakin memperkuat keyakinan diri dalam berbahasa. Dalam bab ini akan diuraikan tentang apa itu linguistik dan komponen-komponennya, yang dikutip dari berbagai sumber.

A.MENGENAINAMANYA

"Linguistik" berarti "ilmu bahasa". Kata "linguitik" berasal dari kata Latin lingua 'bahasa'. Dalam bahasa-bahasa "Roman" (yaitu bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa Latin) masih ada kata-kata serupa dengan lingua dalam bahasa Itali. Bahasa Inggris memungut dari bahasa Prancis kata yang kini menjadi language. Istilah linguistic dalam bahasa Inggris berkaitan dengan kata language itu, seperti dalam bahasa Prancis istilah linguistique berkaitan dengan langage. Dalam bahasa Indonesia "linguistik" adalah nama bidang ilmu, dan kata sifatnya adalah "linguistis" atau "linguistik".

Linguistik modem berasal dari sarjana Swiss Ferdinand de Saussure, yang bukunya Cours de lingustique generale (Mata pelajaran linguistik umum) terbit tahun 1916, secara anumerta. De Saussure membedakan (kata Prancis) langue dan langage. Ia membedakan juga parole ('tuturan') dari kedua istilah tadi.

Bagi de Saussure, langue adalah salah satu bahasa (misalnya bahasa Prancis, bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia) sebagai suatu "sistem". Sebaliknya, lagage berarti bahasa sebagai sifat khas makhluk manusia, seperti dalam ucapan "Manusia memiliki bahasa, binatang tidak memiliki bahasa". parole 'tuturan' adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret: 'logat', 'ucapan', 'perkataan'. Dalam ilmu linguistik, para sarjana sering memakai kata-kata Perancis tersebut (langue, langage, dan parole) sebagai istilah profesional. (Perhatikanlah: istilah Prancis langage dieja tanpa huruf u, sedangkan kata Inggris language memakai huruf u.)

Dalam bahasaIndonesia ahli linguistik disebut "linguis", yang dipinjam dari kataInggris linguist dalam bahasa (Inggris) sehari-hari, linguist berarti 'seseorang yang fasih dalam berbagai bahasa'. Misalnya, ungkapan He is quite a linguist! berarti 'Dia fasih dalam beberapa bahasa' . Sebaliknya, sebagai istilah ilmiah, linguist diartikan sebagai ahli bahasa. Jelaslah bahwa orang yang fasih dalam beberapa bahasa tidak mutlak perlu sarna dengan

orang yang ahli linguistik. Maka dari itu, perlu dibedakan kata Inggris linguist dalam bahasa sehari-hari dengan istilah linguist 'ahli linguistik'.

Perhatikanlah pula kata (Inggris) linguistic dalam frasa linguistic analysis. Istilah tersebut dapat diartikan sebagai analisis yang dilakukan oleh ahli linguistik, dan dapat diartikan pula sebagai suatu ali ran filsafat (yang kebetulan berasa dari Inggris). Ilmu linguistik dan aliran filsafat tersebut hampir tidak ada hubungan satu dengan yang lainnya.

B. MENGAPA "UMUM"

Ilmu linguistik sering disebut "linguistik umum". Artinya linguistik tidak hanya menyelidiki salah satu bahasa saja (seperti bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia), tetapi linguistik itu menyangkut bahasa pada umumnya. Dengan memakai istilah dari de Saussure, dapat kit a rnmuskan bahwa ilmu linguistik tidak hanya meneliti salah satu langue saja, tetapi juga langage itu, yaitu bahasa pada umumnya.

Sebagai contoh, perhatikanlah kata Indonesia memperbesar. Kata tersebut dapat dibagi atas "morfem" memper- dan "morfem" besar. (Apa "morfem" itu akan dwibahasakemudian.) Morfem memper- dapat disebut morfem "kausatif' (karen a mengandung makna "sebab" - menyebabkan sesuatu menjadi lebih besar"). Sekarang perhatikan kata Inggris (to) befriend 'menjadikan sahabat' . Jelas di sini ada morfem be- dan morfemjriend, dan be- adalah kausatif juga. Dengan memperbandingkan kedua contoh ini, kita mengenali adanya morfem "kausatif' baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Banyak bahasa lain memiliki morfem kausatif seperti ini.

Meskipun bahasa-bahasa di dunia ini berbeda satu sarna lain, ada persamaannya juga.

Kedua hal itu deteliti oleh ahli linguistik, dan oleh karena itu linguistik itu sering dikatakan bersifat "umum".

Dapat terjadi seorang ahli linguistik berspesialisasi dalam bahasa tertentu, misalnya bahasa Indonesia, atau bahasa Jawa Kuno, atau bahasa Inggris, atau bahasa Turki. Akan tetapi, untuk seorang ahli linguistik, bahasa spesialisasinya tetap diteliti dalam perspektif linguistik "umum".

C. LlNGUlSTIK SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN SPESIFIK

Sebagaimana kita ketahui, ada bermacam-macam ilmu pengetahuan, misalnya ilmu pengetahuan hukum, ilmu pasti dan alam, ilmu psikologi, ilmu sosiologi, dan lain sebagainya. Dalam masing-masing ilmu tersebut, bahasa dapat menjadi "objek" penelitian. Misalnya, seorang ahli ilmu alam dapat berspesialisasi dalam bidang bunyi (namanya "akustik"), dan menjadi (katakan saja) seorang ahli teknologi telekomunikasi. Mari kita andaikan ia mengembangkan sebuah alat telefon yang lebih sempurna. Untuk itu, ia hams meneliti bunyi bahasa, karen a telefon adalah alat komunikasi "suara". Akan tetapi, ahli seperti itu tidak mutlak hams menjadi ahli linguistik.

Sebagai contoh lain kita ambil ilmu psikologi, yang meneliti "kejiwaan" manusia. Sifatsifat psikologis manusia terjermin, antara lain, juga dalam hal bahasa, misalnya dalam

2

3

hubungan afektif, atau emosi. Jadi jelas seorang ahli psikologi dapat berurusan dengan bahasa. Namun, ia tidak mutlak hams menjadi seorang ahli linguistik.

Kalau begitu, apa yang menjadi kekhususan ilmu linguistik? Ahli linguistik berurusan dengan bahasa sebagai bahasa. Itulah "objek"-nya. Jadi ahli linguistik tidak berurusan dengan bahasa sebagai alat pengungkap afeksi atau emosi, atau bahasa sebagai sifat khas golongan sosial, atau bahasa sebagai sifat khas golongan sosial, atau bahasa sebagai alat prosedur pengadilan. Hal tersebut masing-masing menjadi urusan ahli psikologi, ahli sosiologi atau ahli hukum Yang menjadi kekhususan ilmu linguistik adalah bahasa sebagai bahasa.

D. LlNGUISTIK SEBAGAI ILMU EMPIRIS

Ilmu-ilmu seperti psikologi, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya, sering desebut ilmu "empiris". Artinya, ilmu-ilmu tersebut berdasarkan "fakta" dan "data" yang dapat diuji oleh ahli tertentu dan juga oleh semua ahli lainnya. Demikian pula halnya dengan ilmu linguistik.

Baiklah hal ini dijelaskan dengan contoh berikut. Bayangkan seorang ahli linguistik yang meneliti urutan kata. Ia menemukan bahwa dalam bahasa J epang verba (atau kata kerja) terdapat pada akhir kalimat. Hal yang sama ia temukan dalam bahasa Turki, dan dalam berbagai bahasa di Irian Jaya. maka ahli itu menyimpulkan: semua bahasa di dunia mempunyai urutan kata sedemikian rupa sehingga kalimat berakhir dengan verba. Dasamya tentu saja empiris: urutan kata itulah yang ditemukannya dalam banyak sekali bahasa. Namun dasar "empirisnya" kurang luas, karena dalam banyak bahasa yang lain, misalnya bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, verba itu tidaklah mengakhiri kalimat. J adi, atas dasar empiris yang diperluas itu ahli tersebut akan menyimpulkan sesuatu yang lain, yaitu: ada sejumlah bahasa dengan verba "pada akhir", dan ada sejumlah bahasa dengan verba tidak pada akhir.

Dalam ilmu empiris peneliti menjauhkan diri dari "keyakinan" yang tidak berdasarkan fakta. Tidaklah cukup kalau ahli linguistik "merasa" bahwa (misalnya) salah satu bahasa di Irian adalah "primitif" - karen a konsep "primitif" tak ada dasar empirisnya. Ataupun tidaklah cukup kalau ahli linguistik merasa "yakin" bahwa setiap bahasa di dunia mestinya memiliki ajektiva, karena hal seperti itu dapat didasarkan hanya atas data empiris saja (sebenarnya, ada sejumlah bahasa di dunia yang memang tidak memiliki ajektiva).

Dalam banyak hal manusia mendasarkan diri atas keyakinan tertentu, dan selayaknya begitu. Akan tetapi dalam ilmu empiris setiap "key akin an" dapat didasarkan hanya atas data empiris saja.

E. OBJEK LINGUISTIK

Yang jelas, objek linguistik adalah bahasa. Akan tetapi pengertian istilah "bahasa" itu belum tentu jelas. Karena itu, marilah kita teliti berbagai arti yang dimiliki istilah "bahasa" itu.

Pertama, istilah "bahasa" sering dipakai dalam arti kiasan, seperti dalam ungkapan seperti "bahasa tari", "bahasa alam", "bahasa tubuh", dan lain sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa arti kiasan seperti itu tidak termasuk arti istilah "bahasa" dalam ilmu linguistik.

Kedua, ada pengertian istilah "bahasa" dalam arti "harafiah". arti itu yang kita temukan dalam ungkapan seperti "ilmu bahasa", "bahasa Indonesia", "bahasa Inggris", "semestaan bahasa", dan lain sebagainya. Dalam pengertian demikian kita sebaiknya membedakan langage, langue, dan parole.

Hanya dalam pengertian kedua inilah bahasa itu menjadi objek ilmu linguistik. Di samping itu, kita juga membedakan bahasa tutur dan bahasa tulis. Bahasa tulis dapat disebut "turunan" dari bahasa tutur. Bahasa tuturmerupakan objek primer ilmu linguistik, sedangkan bahasa tulis merupakan objek sekunder linguistik. Bahasa tulis atau "ortografi", pada umurnnya tidak merupakan representasi langsung dari bahasa tutur, dan justru di sinilah ada banyak masalah yang pantas diteliti oleh ahli linguistik. Yang penting di sini ialah bahwa setiap bahasa pada dasamya berbentuk bahasa tutur. Hanya secara sekunder sajalah bahasa berbentuk bahasa tulis.

Akhimya perlu kita bertanya bagaimana langage, langue dan parole dibedakan sebagai objek linguistik. Parole merupakan objek konkret untuk ahli linguistik, bagaikan bahasa "mentah", yang biasa disebut "data" (atau "teks"). Langue adalah objek yang sedikit lebih abstrak, dan yang paling abstrak adalah langage.

Perlu diperhatikan bahwa menguasai suatu bahasa (dalam arti dapat memakai secara lancar) tidak sarna dengan mampu menerangkan kaidah-kaidahnya. Tambahan pula, belajar suatu bahasa tidak sarna dengan belajar tentang bahasa tersebut. Misalnya, anda menguasai bahasa Indonesia, tetapi tanpa keahlian khusus anda tidak dapat menerangkan tata bahasa Indonesia. Dengan perkatan lain, apa yang anda kuasai (yaitu bahasa Indonesia sebagai langue) memang merupakan objek penelitian linguistik terhadap bahasa Indonesia, tetapi cara menguasai bahasa tersebut bukanlah objek linguistik. Kalau begitu, apakah fungsi penguasaan suatu bahasa dalam penelitian linguistik? J awabnya adalah penguasaan merupakan titik tolak dari penelitian, dan kita tahu secara intuitif apakah suatu contoh dari parole benar atau tidak benar. misalnya, bila ada orang berkata *Kucing itu mengejar besar tikus, serta merta kita tahu bahwa kalimat itu tidak benar; bukan karen a orang itu tidak menguasai bahasa Indonesia, melainkan karen a alasan lain, seperti salah ucap, atau karen a orangnya lelah, atau ia kurang memperhatikan apa yang dikatakannya.

Dengan perkataan lain, parole adalah objek linguistik konkret. Karena kita lancar dalam bahasa yang bersangkutan (atau orang lain yang membantu kita), kita dapat membedakan yang tepat dan yang tidak tepat, dan dari itulah dapat kita tarik kesimpulan menyangkut langue yang bersangkutan. Akhimya, dengan membandingkan bahasa-bahasa yang agak banyak, kita dapat menyimpulkan hal-hal tertentu tentang langage.

F. CATATAN MENGENAIISTILAH "FILOLOGI"

Sebelum de Saussure, dan juga sesudahnya dalam berbagai uni versitas, ilmu bahasa lazimnya disebut "filologi". Ini karena dahulu, terutama pada abad ke-19, ahli bahasa sering menyelidiki masa lamp au dari bahasa- bahasa tertentu (Inggris, Jerman, Latin, dan lain sebagainya) dengan tujuan untuk dapat menafsirkan naskah-naskah kuno. Para sarjana bahasa pada

4

5

zaman itu menyelidiki pula hubungan yang berrnacam-macam di antara bahasa-bahasa serumpun (khususnya bahasa-bahasa Indo-Eropa).

Dewasa ini istilah "filologi" diartikan sebagai ilmu yang rneneliti rnasa kuno dari sesuatu bahasa berdasarkan naskah-naskah tertulis. Walaupun ahli filologi akhir-akhir ini rnulai menyadari bahwa sedikit pengetahuan tentang linguistik urnum berrnanfaat bagi usaha rnereka, narnun sudah dirnaklurni bahwa ilrnu filologi tidak sarna dengan ilrnu linguistik. J ada ahli bahasa Jawa kuno, rnisalnya, atau ahli bahasa Melayu Klasik, tak perlu menjadi spesialis linguistik urnurn. Derni tujuan penelitian filologi, sedikit pengetahuan tentang linguistik urnurn sudah cukup. (Disunting dari: J. W.M. Verhaar)