Buletin Digital

International Relations News

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Diterbitkan Oleh :
Korps Mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
site: komahi.umy.ac.id | e-mail: persmakomahiumy@yahoo.com
BERANDA REDAKSI
Alhamdulillah,ucapan dan puji
syukur tentu selayaknya selalu kita panjat-
kan kepada Allah SWT yang tada hent
memberikan nikmat sehat jasmani dan
rohani serta memberikan ridha atas segala
perbuatan baik kita. Begitu juga salawat
beserta salam yang tak hent kita
sanjungkan kepada nabi Muhammad
SAW .
Berbicara tentang ridha, maka ter-
bitnya bulletn edisi 38, merupakan salah
satu ridha yang Allah berikan dengan
melancarkan segala prosesnya. Sebuah
langkah yang cukup panjang dan
mengesankan bagi sebuah karya jurnalis-
tk berupa buletn sejak dirints pertama
kali.
Mengangkat tema “ASEAN
ECONOMI COMMUNITY 2015”, buletn
edisi 38 di ini terinspirasi dari isu-isu yang
sedang hangat yang kita hadapi sekarang
ini. Tema tersebut dianggap sebagai peng-
gambaran situasi Nasional dan Inter-
nasional yang terjadi sekarang. ASEAN
Economic Community (AEC) 2015 kini han-
ya hitungan bulan sebelum dil-
aksananakan di seluruh Indonesia.
Kami berharap bulletn yang kami
buat ini bisa memberikan gambaran
umum mengenai Integrasi perdagangan
regional pada 2015 mendatang. Sehingga,
dengan bekal pengetahuan yang cukup,
pembaca bisa lebih siap untuk menghada-
pi arus globalisasi.
Terima kasih untuk seluruh pihak
yang telah memberikan kontribusi sehing-
ga bulletn edisi 38 ini bisa tersaji. Semoga
bermanfa’at.
Penasehat :
Dr. Nur Azizah, M.Si.

Penanggung Jawab Umum :
Awwab Hafdz A.

Pimpinan Umum :
Muhammad Nizar Shohyb

Pimpinan Redaksi :
Mira Dewi

Reporter :
Deansa Sonia Hefranesa ; Muzakir Haitami ;
Elitasari Apriyani ; Indra Jaya Wiranata ;
Anang Wahid Efendi ; Ajoe Lara Putra ;
M. Faldi Baskoro H. ; Zahra Ayu Noviant ;
Diah Sulung Syaftri ; Anif Kusuma Ningrum ;
Zuha Desta Anmonita ; Anggita Setyowat ;
Richo Bimapaksi

Editor :
Julia Rizky

Layout :
Sarah Nur Ramadhani ; Itsnaini Permata Hat

Sirkulasi dan Iklan :
Nanang Khoirino ; M. Satria Alamsyah ;
Ragil Risky Rachman
Buletin IRN Digital ini diterbitkan oleh :
Divisi Pers Mahasiswa
Korps Mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Alamat Redaksi:
Sekretariat KOMAHI UMY Gedung Ki Bagus Hadikusumo Lt. 2 UMY
Ringroad Barat, Tamantrto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, 55183
daftar isi
ii
Daftar
Isi
i
Beranda
Redaksi
1
Fokus 1 :
AEC 2015
2
Fokus 2 :
Kesiapan Indonesia Dalam AEC
3
Wawancara
4
Opini
5
Kolom :
Pengaruh Politik Domestik
Terhadap AEC 2015
6
Analisa:
AEC : Pertegas Dominasi Di
Tengah Arus Globalisasi
7
Politik Internasional :
Ukraina
8
Resensi
9
K-Gallery
10
Sastra
FOKUS 1
ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015
Saat ini, ada sepuluh negara berkembang di wilayah Asia Tenggara yang menjadi
anggota ASEAN, dan selama lebih dari 46 tahun telah berkerjasama melalui program-
programnya dan memberi andil serta pengaruh positif terhadap perekonomian, stabilitas kea-
manan dan perpolitikan antar negara anggota maupun secara global atas nama ASEAN.
ASEAN Economic Community merupakan salah satu langkah konkrit dari Negara
anggota untuk mendukung terciptanya ASEAN Community 2020 yang memiliki tiga program
penting dalam kerjasama dibidang Politik-Keamanan, Ekonomi dan Sosial-Budaya. AEC
2015 sendiri adalah realisasi kerjasama dibidang ekonomi, dimana pada tahun 2003 AEC te-
lah dideklarasikan bersama oleh Negara anggota dan cetak biru dari program ini pun telah
dirancang pada tahun 2006. Mentri-mentri Perekonomian tiap Negara anggota yang ber-
tanggung jawab atas program ini merangkum beberapa poin penting sebagai tujuan dari ter-
bentuknya AEC yaitu, menciptakan pasar dan pusat produksi tunggal di kawasan, kawasan
ekonomi yang sangat kompetitif, pembangunan ekonomi yang adil dan merata di kawasan,
dan integrasi di kawasan secara menyeluruh terhadap ekonomi global.
Dalam cetak biru AEC 2015 terdapat delapan inti cakupan kerjasama diberbagai bi-
dang diantaranya adalah pengembangan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,
meningkatkan infrastruktur dan konektivitas komunikasi dan mengembangkan transaksi el-
ektronik melalui e-ASEAN. Singkat kata, AEC akan menjadikan ASEAN kedalam kawasan
bebas akan perpindahan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terlatih dan aliran modal.
Lebih lanjut, AEC diharapkan akan mampu mengikat Negara anggota ASEAN untuk
bersama-sama membangun kekuatan ekonomi yang berimbang di kawasan layaknya apa yang
telah dilakukan organisasi regional di Eropa, European Union (EU) beberapa dekade lalu.
Sehingga di masa depan ASEAN dapat secara mandiri mengelola sumber daya alamnya me-
lalui teknologi dan sumber daya manusianya yang kreatif untuk kepentingan dalam dan luar
negeri. (Hafitz S - 20110510005)
Fenomena perdagangan bebas
atau lebih dikenal dengan “free trade”,
akhir-akhir ini sering menjadi focus pem-
bicaraan forum-forum mahasiswa. Salah
satu isu hangat terkait free trade tersebut
yakni ASEAN Economic Community 2015,
yang merupakan pasar dagang terbuka
antar negara ASEAN yang nantinya akan
menghilangkan tarif shipping. Tujuan dari
AEC adalah mendorong terbentuknya ker-
jasama dalam bidang ekonomi, keamanan
dan budaya ASEAN.
FOKUS 2
Kesiapan Indonesia dalam AEC 2015
Budaya ASEAN menciptakan
masyarakat yang saling menjaga toleransi,
saling menghormati rasa persaudaraan
dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan
antarnegara ASEAN. AEC diharapkan
akan mampu mengurangi masalah klaim
kebudayaan.
Daya saing Indonesia memang
tergolong masih rata - rata jika dibanding-
kan dengan negara ASEAN lainnya. Kuali-
tas infrastruktur Indonesia berada diper-
ingkat ke-5 dibawah Singapore, Malaysia,
Brunei dan Thailand. Namun untuk biaya
ekspor pada tahun 2013 lalu, Indonesia
lebih tinggi daripada negara ASEAN
lainnya, dengan US$ 615 per kontainer.
Pemerintahan Indonesia juga sudah
menyatakan bahwa Indonesia siap
menyambut AEC. Dengan demikian, kita
khususnya warga negara Indonesia, siap
tidak siap harus siap menyambut AEC di
tahun 2015 mendatang. Diperlukan kerja
keras untuk membangun kesadaran agar
pelaksanaan AEC dapat membawa keun-
tungan bagi indonesia, hal ini penting guna
meningkatkan peluang akan dampak posi-
tif dari AEC.


Pembentukan AEC diharapkan bisa
mengatasi berbagai permasalahan
yang terjadi di ASEAN. Tapi dengan melihat realita
kondisi negara-negara anggota ASEAN, kondisi
ekonomi maupun keamanan, dirasa tidak seimbang.
Ada negara yang memang sudah lebih maju
dibandingkan negara yang lain. Beberapa negara
yang ekonominya lemah dan belum memiliki kesia-
pan secara matang akan menjadi mangsa empuk bagi
negara dengan kekuatan ekonomi yang besar. Dikha-
watirkan, produk nasional negara berkembang akan
kalah bersaing dengan produk import dari negara
ASEAN lainnya.Pembentukan AEC juga ditujukan
untuk mengatasi permasalahan keamanan di ASEAN.
Jalur perdagangan laut internasional rawan adanya
pembajakan serta marak dengan ancaman teroris.
Masalah keamanan tersebut menjadi masalah yang
dapat diantisipasi dalam AEC.
Menurut Shinta Hakim, AEC membawa 2
dampak sekaligus, positf dan negatf sepert dua
sisi mata uang yang tak terpisahkan. disatu sisi,
dengan adanya AEC, baik itu pasar industri, pendidi-
kan, kerja, dan juga sistem politk antara satu nega-
ra dengan negara ASEAN lainnya bisa bersaing
secara bebas sebebas-bebasnya. disinilah peran dan
kesempatan Indonesia untuk bisa mengoptmalkan
kekayaan sumber daya alam dan sumber daya
manusianya untuk bisa bersaing dengan negara-
negara anggota ASEAN. namun disisi lain, AEC
dapat menjadi bumerang untuk Indonesia, apabila
nant akhirnya rakyat Indonesia belum mampu un-
tuk bersaing di dunia global dengan sistem baru
ekonomi terintegrasi. Dibutuhkan sinergi antara
pemerintah Indonesia dan masyarakatnya untuk
bersama-sama dapat menghadapi persaingan dita-
hun 2015 mendatang.

AEC 2015 merupakan startng point bagi
masyarakat ASEAN bebas untuk mengeksplor
kegiatan ekonomi, sosial, dan politk menjadi lebih
bebas, itulah yang diungkspkan oleh Eldi Darma-
wan. Ditahun 2015 mendatang, masyarakat di
negara-negara yang termasuk kedalam negara
ASEAN, bebas untuk bekerja dan melakukan mobil-
itas dengan leluasa. Namun di satu sisi, negara ha-
rus mampu bersaing dengan kompettor asing yang
mempunyai penetrasi pasar dan daya saing serta
skill yang tnggi. Pasar indonesia khususnya, akan
membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi ma-
suknya tenaga kerja asing terdidik yang akan men-
jadi pesaing bagi tenaga kerja dalam negeri.
WAWANCARA
OPINI DOSEN
Takdir Ali Mukti
Economic ASEAN Communi-
ty merupakan salah satu topic yang
paling hangat dibicarakan belakangan
ini, terutama di kalangan akademisi
Hubungan Internasional. Salah
satunya dosen Hubungan Internasonal,
Takdir Ali Mukti, MM. S.ip, yang
melihat hal tersebut sebagai satu
langkah positif dari ASEAN dan juga
mendapat tanggapan yang positif dari
Negara-negara ASEAN. Bapak Takdir
mengasumsikan bahwasanya ketika
kita semua sudah sepakat dengan
AEC, maka dengan itu pemerintah su-
dah menganggap bahwa kita sudah
siap mengikuti alur AEC. Namun, si-
lang pendapat terjadi antara
pemerintah dan masyarakat karena
masyarakat dan pemerntah memiliki
parameter yang berbeda tentang kesia-
pan menuju AEC.
Berdasarkan data statistik, po-
tensi sumber daya alam, potensi pasar,
potens sumber daya manusia menunjukkan statstk
dengan hasil yang baik.
Hal itulah yang kemudian djakian parame-
ter oleh pemerintah bahwasanya Indonesa telah
siap menghadapi AEC bahkan beranggapan we are
more than Malaysia, even more than Australia.
Tetapi, hal itu bertentangan dengan kepemahaman
publik atau rakyat Indonesia yang melihat pada
keadaan ekonomi Indonesia di lapangan yang di
rasa belum semua sektor siap untuk berkompeten-
si. Misalnya saja, bagaimana dengan kesapan
UMKM kita? Apakah bukan suatu bumerang keti-
ka AEC sudah djalankan tetapi kemampuan
UMKM kita untuk bersaing dalam pasar Global
belum mumpuni? Jawabanya iya. Bukan mengiku-
ti arus yang ada, bias jadi UMKM Indonesa malah
hilang tergerus arus pasar China atau pasar-pasar
lannya yang lebih mumpuni.
Menilik lebih dalam, Kredit basis bank In-
donesia 7,5 point dan dalam prakteknya di kredit
efektif sebesar 16-18 persen per tahun dan ber-
banding jauh dengan UMKM Malaysia yang da-
lam setahun maksimal 2,5 persen, China 0-2,5 per-
sen, sedangkan untuk Singapura tidak jauh ber-
beda dengan Malaysia termahal sekitar 3,5 persen
pertahun. Untuk skemanya sendiri, menurunkan
dana 10 juta untuk UMKM itu bukanlah hal yang
mudah, harus dengan prosedur yang berulang-
ulang. Seperti contohnya BRI, sebagai bank pem-
beri kredit untuk UMKM bersifat prodensi yang
sangat hati-hati.
Jika dari sisi itu kita
optimis jadi, yang jadi tanda
tanya disini sebagian besar
ekonomi yang disebut
kerakyatan itu basisnya
ekonomi kecil. Secara kese-
luruhan dan terpernci misal-
nya seluruh batik yang ada
di Yogyakarta dikumpulkan
jadi satu, tetap saja kalah
dengan satu perusahaan ba-
tik di China. Jadi disitulah
simpul permasalahan men-
gapa UMKM kita akan ka-
lah bersaing.
Untuk menyimpul-
kan analisa diatas,
Pemerintah harus mencoba
menekankan keuatan daya
saing pada UMKM dan per-
saingan dibidang jasa dan
hotel-hotel di Jogja, Bali
dan Jakarta. Jika kita mam-
pu bersaing denagn baik se-
hingga dapat menurunkan
basis poin kredit bank baik
dari sektor jasa maupun
sektor real pasti akan lebih
efisien dan tentu dengan
prodiensi yang cukup.
Dengan kata lain, UMKM yang baru
dibangun 1-2 tahun, Otomatis UMKM yang baru 1-
2 tahun itu tidak akan bisa menyerap kredit lebih
dari 100 juta. Hal seperti itu sudah biasa, artinya
bank kita sudah memperlakukan UMKM seperti itu
dan dari segi SDM kita optimis, Kenapa? Misalnya
15% tenaga terdidik dari total jumlah penduduk itu
sama dengan kalau jumlah penduduk Indonesia 240
juta jiwa berarti 36 juta kelas menengah pendidikan
dan yang lulus sarjana sampai professor itu lebih
dari jumlah penduduk Malaysia dan Singapura dan
lebih dari penduduk Australi ditambah dengan
penduduk Selandia Baru.
KOLOM
Indonesia Pasca Pemilu dan desakan AEC 2015
Bahwa tirani kepemimpinan lebih baik di banding
dengan fundamentalisme pasar, sebab Negara
yang lemah akan terpuruk menjadi Negara gagal
dan Negara berkembang akan menjadi Negara
penghamba, Horus
Menyoal kembali
mengenai asean economic com-
munity 2015. Sebuah keber-
lanjutan kerjasama regional
asean menuju sistem pasar
bebas. masing-masing Negara
harus mempersiapkan diri untuk
menuju 2015 dalam sistem
pasar bebas di wilayah ASEAN
di bulan januari. Istilah single-
market di gadang-gadang se-
bagai sarana menciptakan se-
buah bentuk interdependensi
dan kerjasama yang kuat.
Di balik semua itu, hal
yang perlu di kritisi bahwa da-
lam menuju AEC masing-
masing Negara memiliki pelu-
ang namun juga tidak di pung-
kiri terdapat pula tantangan
yang akan di hadapi, tak
terkecuali bagi indonesia. Dem-
okrasi dan kerjasama adalah
metanarasi dewasa ini. Negara
yang bersistem monarki, otoriter
bahkan totaliter lambat laun
menuju sebuah era demokrasi.
Demokrasi berlanjut bukan sekedar menciptakan
sistem dalam negaranya saja, melainkan dalam pola ker-
jasama. Dunia yang begitu bebas, kapitalisme pasar mu-
lai menjulang tinggi memberi arti bahwa Negara dalam
mengakumulasi keuntungan nasional akan bersandar pa-
da Negara lain. Amerika Serikat sangat membutuhkan
Negara berkembang, begitupun sebaliknya. Interdepen-
densi ibarat kenyataan yang tak terbantahkan, polanya di
tujukan hingga dalam regionalisme. Uni eropa adalah
contoh konkret dimana pola kerjasama antar kawasan
bukan sekedar dalam ekonomi semata, melainkan dalam
cakupan luas. Artinya Negara tak lagi berbicara kedau-
latan wilayah melainkan tentang kedaulatan dalam ker-
jasama yang memberi kesempatan seluas-luasnya, Zero-
sum game menunjukkan atas pola tersebut. Negara
secara sadar mulai menempatkan pada high-politics
berupa ekonomi dan kerjasama. Dan hal inilah organisasi
kawasan termanifestasikan atas itu, kemudian mencip-
takan pasar bebas. Asean kemudian memilih jalan atas
itu.
AEC 2015 dan Indonesia hari esok
Indonesia adalah Negara kepulauan yang kaya
akan sumber daya alam dan memiliki jumlah SDM yang
tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang cenderung stabil
bahkan berkembang di tengah krisis global adalah se-
buah prestasi tersendiri bagi Indonesia. ASEAN Eco-
nomic Community (AEC) 2015 akan menjadi tantangan
sekaligus peluang Indonesia dalam waktu dekat.
Kekuatan dan kesempatan Indo-
nesia untuk menjadi pemenang
dalam persaingan yang akan
diberlakukan mulai 2015
mendatang memang sangat ting-
gi, tetapi dibalik kekuatan yang
dimiliki Indonesia masih
mempunyai banyak kelemahan.
Kelemahan utama Indonesia
terletak pada sinkronisasi pro-
gram dan kebijakan antar
pemerintah daerah dan pusat
serta mind-set masyarakat khu-
susnya para pelaku usaha yang
belum seluruhnya melihat pelu-
ang pengembangan
perekonomian di AEC 2015
mendatang.
Melihat keadaan yang
terjadi sekarang ini, Indonesia
sebenarnya belum siap
menghadapi AEC 2015 walau-
pun mempunyai peluang dan
kekuatan tinggi. Laporan Ke-
menterian Koordinator
Perekonomian mengungkapkan
bahwa Neraca Perdagangan In-
donesia sejak tahun 2005 setiap
tahunnya mengalami defisit
yang meningkat di negara-
negara ASEAN. Berbagai sektor
yang harus di benah bagi indo-
nesia katakanlah sektor jasa,
dimana kualitas SDM harus di
optimalkan agar mampu ber-
saing secara baik. SDM Indone-
sia yang masih lebih rendah
kualitasnya dengan negara
lainnya akan kalah bersaing di
pasaran nanti.
Kita akan masuk pada
babak baru dimana konstelasi
politik memanas jelang pemilu
2014. Seluruh konsentrasi na-
sional akan terpusat pada proses
suksesi nasional yang akan ber-
langsung pada 2014. Artinya
ada pekerjaan rumah yang be-
gitu besar yang harus
diselesaikan oleh para
pemangku jabatan pemerintah.
Masyarakat harus
lebih kritis dalam menen-
tukan arah indonesia, di-
mana suksesi kepemimpi-
nan bukan sekedar euforia
semata melainkan ada ke-
lanjutan dalam
mengarahkan indonesia
dalam mewujudkan kese-
jahtraan sosial. Menuju
AEC 2015, para partai ha-
ruslah berbicara tentang
indonesia kedepannya,
bahkan visinya atas AEC
tersebut. Artinya pemimpin
yang di butuhkan bukan
sekedar berbicara visi
melainkan memecah masa-
lah Indonesia, termasuk
tantangan indonesia dalam
sistem pasar bebas dalam
AEC 2015.
Adanya AEC 2015
diharap akan memicu tum-
buhnya pengusaha-
pengusaha yang bukan
hanya mampu bersaing di
panggung nasional, tetapi
juga mampu bersaing di
tataran global. Peluang
emas saat ini terpampang
di depan mata. Sangat sa-
yang jika peluang emas
tersebut tidak bisa di-
manfaatkan Indonesia. Saat
ini perusahaan nasional
sulit meningkatkan daya
saing dikarenakan hambat-
an ekonomi biaya tinggi,
iklim investasi yang belum
kondusif, serta hambatan
kapasitas institusional.
Tak sedikit tan-
tangan yang di hadapi
oleh suatu Negara yang
akan berada dalam
lubang jebakan global-
isme pasar. Keniscayaan
bagi optimisme kita ter-
hadap AEC bukan men-
jadi Negara yang di-
mangsa, pemilu menjadi
cikal bakal bagi bangsa
ini untuk menjawab tan-
tangan tersebut,
mengkritisi kaum elit
politik yang ada harus-
lah berbicara idenya ter-
hadap AEC itu sendiri
agar Negara ini tidak
menjadi floating-state
atau ibarat sama karak-
ternya suara mengam-
bang (floating-mass)
dalam pemilu.
ANALISIS
ASEAN Economic Community :
Pertegas Dominasi Di Tengah Arus Globalisasi
ASEAN Economic Community sep-
erti buah simalakama bagi Indonesia.
Pasalnya, salah strategi bisa menyebabkan
sebuah blunder berkepanjangan. Kecema-
san ini wajar adanya apabila dilihat dari
proporsi ketimpangan national power yang
dimiliki Indonesia. Namun, harapan akan
selalu ada, meskipun untuk merealisasi-
kannya membutuhkan jutaan tenaga serta
luapan semangat optimisme yang besar.
Disini lah peran pemuda begitu vital.
Akses informasi yang terbatas bagi ka-
langan akar rumput terkait ASEAN Eco-
nomic Community, harus bisa dimanfaat-
kan sebaik-baiknya dalam menyalurkan
energi positif. Menularkan semangat opti-
misme menjadi kebutuhan mendesak agar
sinergi aksi dari segala pihak bisa memba-
wa Indonesia sampai di garis finish terde-
pan.
Dalam teori Ekonomi Politik Inter-
nasional, asas “free trade” sudah
didengungkan oleh kaum liberal sejak be-
berapa abad lalu. Adam Smith yang menu-
lis buku tentang cara untuk meningkatkan
kemakmuran bangsa menulis buku ber-
judul “Wealth Of Nations”. Buku tersebut
menjelaskan tentang cara agar bangsa-
bangsa meningkatkan kesejahteraan bersa-
ma dengan perdagangan. Lalu lintas ba-
rang dan jasa yang begitu bebas digadang-
gadang menjadi salah satu eskalator yang bisa
membawa dampak positif bagi kesehatan
ekonomi di negara-negara ASEAN.
Iklim kompetisi yang tercipta akan
menciptakan net welfare (jumlah keuntungan
yang didapat dikurangi dengan costnya, artinya
jumlah yang untung dikurangi dengan jumlah
kerugian) selalu menunjukkan positive net wal-
fare, atau net benefit, dari perdagangan bebas.
Artinya, walaupun perusahaan domestik diru-
gikan akibat kalah berkompetisi dengan
produk impor, tetapi konsumen adalah pihak
yang diuntungkan karena mendapatkan produk
yang murah dan berkualitas karena adanya
kompetisi. Disinilah net benefit berjalan.
Keadaan seperti ini sudah dibuktikan
oleh China dan India. Jalan yang ditempuh
China dan India sebelum mencapai pertum-
buhan ekonomi yang spektakuler adalah
menempuh kesepakatan pasar bebas dengan
organisasi perdagangan dunia (WTO). Hanya
dalam waktu sepuluh tahun, China dan India
mendapatkan imbas dari kompetisi
perdagangan dengan merajai ekspor ke seluruh
dunia. Berkah kompetisi dengan berbagai
negara juga ikut menekan angka kemiskinan
absolut sebanyak ratusan juta.
Namun, bagi Indonesia sendiri --
disambungkan dengan teori National
Power-- ada beberapa hal yang perlu die-
valuasi terkait strategi menghadapi
ASEAN Economic Community 2015
mendatang. Utamanya, mengenai ketim-
pangan kualitas sumber daya alam dan
sumber daya manusianya. Penanganan
yang salah terhadap unsur-unsur national
power ini bisa mengakibatkan Indonesia
menemui celaka di gelanggang per-
tarungan ekonomi tahun 2015 menda-
tang.
Globalisasi yang menjadi cikal bakal
blue print ASEAN Economic Community
harus dijadikan peluang bukan ancaman.
Caranya? Kita harus pandai memilih bi-
dang-bidang apa yang kita lebih berpelu-
ang unggul. Ada baiknya kita fokus
membangun dan menajamkan keunggu-
lan ketimbang sibuk mengatasi kelema-
han. Hal ini dikarenakan, jika kita terlalu
sibuk memperbaiki kelemahan, maksi-
mal kita hanya akan menjadi rata-rata
saja karena kelemahan tertutup, namun
justru keunggulan kita tidak terbangun.
Bila kita fokus pada keunggulan, maka
kita akan unggul di suatu sektor, semen-
tara masih ada kelemahan di sektor lain.
Ini bukan masalah yang serius karena di
era pasar global yang saling melengkapi,
kini kita bisa bermain niche dengan satu
atau dua keunggulan yang sungguh-
sungguh unggul.
Coba sekarang kita alihkan segala
daya tersebut untuk memoles fokus petani
kita pada buah atau tanaman yang kita
unggulkan, memperbaiki tata guna lahan kita
sehingga tidak ada lagi lahan di negeri ini
yang ditelantarkan. Sektor perkebunan yang
menjadi andalan devisa negara melalui ori-
entasi pasar ekspor juga tak boleh dilupakan.
Produk karet, kopi, kakao, teh dan minyak
sawit adalah produk-produk yang lebih dari
50% dari total produksi adalah untuk ekspor.
Belum lagi untuk sektor Agroindustri se-
bagai pemoles hasil pertanian serta
Agroekowisata sebagai pemikat wisatawan.
Sungguh betapa banyak produksi hasil bumi
yang akan bisa kita hasilkan. Serta, bisa pula
menaikkan pamor pertanian di mata para
pemuda yang sering menyipitkan mata ter-
hadap bidang ini. Lebih jauh, akan banyak
lapangan kerja tercipta. Maka, keunggulan
dalam menyerap tenaga kerja sekaligus
memproduksi hasil bumi ini – akan menjadi
keunggulan unik negeri ini yang tidak dimil-
iki oleh negara-negara lain di ASEAN atau
bahkan di dunia.
Peran pemuda sebagai agent of
change dituntut untuk bisa menyalurkan in-
formasi-informasi motivatif seperti diatas
kepada kalangan akar rumput yang notabene
acuh terhadap keberadaan ASEAN Economic
Community karena minimnya fasilitas
edukasi di daerah-daerah pelosok.

Dengan menonjolkan harapan-harapan yang didasari atas perhitungan empirik dan
sistemik seperti diatas, maka semakin banyak penduduk Indonesia yang bersemangat mem-
perteguh dominasi di bidang yang memang merupakan keunggulan kita. Sehingga, ambisi
untuk menjadi pemeran utama dalam panggung internasional tak terdengar seperti “pungguk
merindukan bulan”. Dan akhirnya, sinergi aksi dari segala pihak bisa membawa Indonesia
sampai di garis finish terdepan.
POLITIK INTERNASIONAL
LEPASNYA KRIMEA DARI UKRAINA
Konflik yang terjadi di Crimea,
Ukraina awalnya terjadi karena adan-
ya pengunduran diri Perdana Menteri
Ukraina Mykola Azarov. unjuk rasa
meluas ke berbagai wilayah di timur
Ukraina yang merupakan basis para
pendukung Presiden Viktor Yanu-
kovych. Azarov mengundurkan diri
dari jabatannya sebagai Perdana
Menteri dengan tujuan untuk mengu-
rangi ketegangan di Ukraina sebagai
sebuah kompromi politik guna me-
nyelesaikan konflik secara damai.
Demonstrasi anti-pemerintah
Ukraina merebak pada bulan-bulan
terakhir tahun 2013 karena
pemerintah menangguhkan penan-
datanganan kesepakatan perdagangan
dengan Uni Eropa.
Sebagai gantinya, pemerintah Kiev menerima ban-
tuan finansial dari Rusia. Keputusan tersebut telah
menyulut kemarahan oposisi pemerintah yang pro-
Uni Eropa dan terjadilah demonstrasi besar-besaran
di Kiev, ibukota Ukraina. Para demonstran marah
karena pemerintah menyerah terhadap tekanan Ru-
sia dan menyimpang dari prioritas utama kebijakan
luar negerinya. Kekerasan aparat keamanan ter-
hadap demonstran juga menambah ketegangan di
Ukraina. Sementara intervensi Uni Eropa dan Rusia
semakin menambah konflik dan memperluas krisis
di negara itu. Rusia bergerak. Presiden Putin me-
merintahkan penyiagaan 150 ribu tentara untuk
dikirim ke Crimea. Perintah ini dikeluarkan setelah
Majelis Tinggi, lembaga yang berwenang memberi
ijin pengerahan pasukan untuk perang, memberikan
lampu hijau dan keadaan makin genting. pada tang-
gal 16 Maret 2014 dilakukanlah referendum yang
menghasilkan keputusan bahwa Crimea resmi
bergabung dengan Rusia, dengan demikian Krimea
lepas dari Ukraina. 97% penduduk Krimea ingin
bergabung dengan Rusia. Tidak mengherankan
karena mayoritas dari penduduk Krimea merupa-
kan etnis Rusia, sisanya adalah etnis Ukraina dan
Tartar. Secara historikal, Krimea merupakan ba-
gian dari Ukraina sejak 1954 karena pemimpin
Rusia saat itu, Nikita Khruschev memberikan
wilayah itu ke Ukraina. Jadi, semenjak itu Kri-
mea memiliki ikatan politik yang kuat kepada
Ukraina, tetapi memiliki ikatan budaya yang kuat
kepada Rusia.
Dari pihak Ukraina, mereka mengecam
referendum itu. Perdana Menteri Arseny
Yatseniuk menyatakan bahwa referendum itu
merupakan upaya Rusia untuk mendapat legiti-
masi dari rakyat Ukraina. Refat Chubarov, pem-
impin masyarakat Tartar mengungkapkan bahwa
referendum tersebut ilegal dan berlangsung
dibawah pengendalian Rusia.

Dalam dunia internasional, Rusia juga
banyak dikecam atas usahanya merebut
Krimea dari Ukraina. Bahkan, Amerika
Serikat dan Uni Eropa memberikan
sanksi terhadap Rusia. Mereka mem-
berikan larangan berkunjung (visa)
kepada sejumlah pejabat Rusia dan
Ukraina yang pro-Moskow. Aset-aset
Rusia di Amerika Serikat dan Uni Ero-
pa juga dibekukan.

RESENSI
Transcendence, Johnny Depp yang menyatu dengan
Teknologi

Sutradar : Wally Pfister
Writer : Jack Paglen
Pemain : Johnny Depp, Morgan Freeman,
Rebecca Hall, Kate Mara, Cilli
an Murphy, Cole Hauser, Paul
Bettany
Studio : Alcon Entertainment, DMG
Entertainment

Untuk kamu pecinta film thriller ataupun
fiksi ilmiah, bersiaplah. Alcon Entertainment
akan merilis film terbaru bergenre sci-fiction
dengan kisah berlatar belakang teknologi dan ma-
sa depan berjudul Tanscendence. Film ini dibintangi oleh sederet bintang Hollywood seperti John-
ny Depp, Morgan Freeman , aktris "Iron Man 3" Rebecca Hall, serta Paul Bettany (A Beautiful
Mind) dan Kate Mara (House Of Cards).
Film ini bercerita mengenai Dr. Will Caster (Johnny Depp) yang mengembangkan sebuah me-
sin AI (artificial intelligence) di mana mesin tersebut dapat menampung semua data, informasi,
bahkan emosi dari manusia. Mesin ini membawanya terkenal sekaligus membuatnya berada dalam
bahaya. Dr Will Caster dikejar ekstrimis anti-teknologi. Setelah acara seminarnya, Dr. Will Caster ditem-
bak oleh salah satu aktifis dan kini dirinya sekarat. Istri (Rebecca Hall) dan sahabatnya Max Waters (Paul
Bettany) memutuskan untuk mentransfer isi otak Dr. Will Caster ke dalam teknologi yang ia ciptakan. Na-
mun, tindakan ini malah menimbulkan malapetaka. Will berusaha menguasai semua teknologi manusia
dan tak bisa dikendalikan. Ia menimbulkan kekacauan dimana-mana dan membuat semua orang kewala-
han. Apakah yang akan terjadi selanjutnya pada teknologi Dr. Will Caster ini?
Transcendence akan menjadi film pertama yang disutradarai oleh Wally Pfister dan dipro-
duseri Christopher Nolan. Pfister meraih Oscar untuk sinematografi karyanya pada 2010
"Inception" dan Nolan yang berhasil menyutradarai film Batman Begins. Tentunya ini akan men-
jadi perpaduan menarik dengan penampilan Johnny Depp yang dikenal selalu mempesona di setiap
perannya. Penasaran dengan filmnya? Tunggu saja di bioskop tanggal 18 April 2014.
K-Gallery