DASAR – DASAR ILMU HADITS A.

PENGERTIAN DAN FUNGSI HADITS
I. Pengertian hadits, sunnah, atsar dan khabar a. Hadits Secara “ Lughawiyah “ ( bahasa ) hadits mempunyai beberapa arti, antara lain : - baru, kebalikan dari lama ( qadim ) - dekat, belum lama terjadi - khabar, berita, riwayat Menurut istilah para ahli hadits ( muhadditsin ), antara lain Al – Hafidh dalam syarah Al – Bukhari menerangkan, bahwa Hadits ialah : “ Perkataan – perkataan Nabi saw., perbuatan – perbuatan dan keadaan beliau “. ( Aminuddin dan Siddik Muhtadi, 1986 ) Menurut istilah ahli ushul hadits, Hadits ialah “ Segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi saw., yang bersangkut paut dengan hukum “( TM Hasbi Ash-Shiddieqy, 1974 ). b. Sunnah Dari segi bahasa sunnah berarti jalan yang terbentang untuk dilalui, jalan yang baik atau tidak baik. Sunnah juga berarti adat kebiasaan atau tradisi, atau ketetapan, meskipun hal itu tidak baik. Menurut sebagian ‘ulama muhadditsin, pengertian sunnah lebih luas dari hadits. Sunnah meliputi segala yang datang dari Nabi Muhammad saw., baik berupa perkataan, perbuatan dan taqrir, juga sifat-sifat dan perilaku atau perjalanan hidup beliau, sebelum atau sesudah diangkat menjadi nabi. Para ahli Ushul Fiqih, berpendapat bahwa menurut istilah, sunnah ialah segala yang dari Nabi Muhammad saw., baik perkataan maupun perbuatan, atau taqrir yang mempu – nyai hubungan dengan hukum agama ( TM Hasbi Ash – Shiddieqy, 1974 ). Dari pengertian tersebut maka kedudukan sunnah menempati posisi ke dua dalam tatanan sumber hukum Islam, setelah Al – Qur’an. Hal ini diterangkan dalam sabda Nabi saw. sebagai berikut, yang artinya : “ Sungguh telah aku tinggalkan untukmu dua perkara : kamu tidak akan sesat selama ka – mu berpegang pada ke duanya, yaitu Kitab Allah ( Al – Qur’an ) dan Sunnah Rasul – Nya “ ( HR. Malik ). Juga dijelaskan dalam Hadits yang lain, yang artinya : “ Berpegang teguhlah kamu dengan Sunnahku dan Sunnah Al – Khulafa Ar – Rasyidin sesudahku “. ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Irbadh bin Sariyyah ). Guna menghindari kerancuan pengertian hadits dan sunnah perlu ditegaskan per – bedaannya.

Hadits
1. Hadits ialah segala peristiwa yang disandarkan ke pada Nabi saw. walaupun selama hayat beliau hanya sekali terjadi atau hanya diriwayatkan oleh seorang. 2. Prosesnya tidak mutawatir.

Sunnah
1. Sunnah adalah amaliah Nabi saw., yang mutawatir dan sampai kepada kita dengan cara mutawatir pula. Nabi melaksanakannya bersama para sahabat, lalu para sahabat melaksanakannya, diteruskan oleh para tabi’in, meskipun lafadz penyampaiannya tidak muta – watir. 2. Proses penyampaiannya mutawatir.

c. Atsar Secara Lughawiyah, Atsar berarti “ bekas atau sisa “ dari sesuatu. Do’a yang berasal dari Nabi saw., disebut do’a ma’tsur. Menurut mayoritas ( jumhur ) ‘ulama, Atsar artinya sama dengan ( sinonim ) hadits. Oleh karena itu, maka ahli hadits disebut “ Atsary “. Sebaliknya menurut Ahli Fiqih ( Fu – qaha ) istilah atsar merupakan perkataan sahabat, tabi’in, ‘ulama salaf dan lain – lain.

d. Khabar Secara Lughawiyah, Khabar berarti warta, kabar, berita yang disampaikan se – seorang kepada yang lain. Menurut istilah ‘ulama Muhadditsin, khabar ialah suatu berita baik dari Nabi saw., para sahabat maupun tabi’in. ‘Ulama lain berpendapat bahwa Khabar hanya dimaksudkan sebagai berita yang diterima dari selain Nabi Muhammad saw. Orang yang meriwayatkan sejarah disebut Khabary atau Akhbary sebagaimana halnya orang yang meriwayatkan hadits disebut Muhaddits. Disamping itu ada pula yang berpendapat bahwa Khabar itu sama dengan hadits, keduanya dari Nabi saw., sedangkan Atsar dari sahabat. e. Hadits Qudsi Hadits Qudsi ialah perkataan – perkataan yang disabdakan Nabi Muhammad saw. dengan mengatakan “ bahwa Allah berfirman ……. “. Nabi saw. menyandarkan perkataan ( hadits ) itu kepada Allah dan beliau meriwayatkannya dari Allah SWT. Menurut Al – Kirmani, Hadits Qudsi disebut juga dengan Hadits Ilahi atau Hadits Rabbani. Sedangkan menurut Ath – Thibbi mengemukakan bahwa Hadits Qudsi ialah firman Allah SWT. yang disampaikan kepada Nabi saw. dalam mimpi atau ilham, kemudian Nabi menerangkannya dengan susunan perkataan beliau sendiri dengan menyandarkannya kepada Allah. Perbedaan Al – Qur’an dengan Hadits Qudsi ialah bahwa Al – Qur’an adalah wahyu yang lafadz dan maknanya dari Allah, sedangkan Hadits Qudsi ialah wahyu yang lafadznya dari Nabi saw. dan maknanya dari Allah, yang diturunkan kepada Nabi dengan jalan ilham atau mimpi. Contoh Hadits Qudsi, yang artinya : “ Allah SWT. berfirman : Aku adalah menurut persangkaan hamba – Ku, dan Aku beserta dia di mana saja dia menyebut ( mengingat ) Aku “. ( HR. Bukhari dari Abu Hurairah ). Dalam hadits yang lain, artinya : “ Allah SWT. berfirman : Semua amal manusia adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk – Ku. Aku akan memberi balasannya. Puasa itu perisai, apabila seseorang sedang puasa janganlah kamu mencaci maki, berkata keji, dan jangan pula membuat ke – ributan. Apabila ada yang memaki atau membunuh, maka katakanlah : ‘ Saya sedang berpuasa “. ( HR. Al – Bukari dan Muslim, Lafadz hadits ini dari Al – Bukhari ). 2. Macam – macam sunnah Dari pengertian tentang sunnah seperti yang diterangkan di atas, terdapat 3 ( tiga ) macam sunnah, yaitu : sunnah Qauliyah, sunnah Fi’liyah dan sunnah Taqririyah. a. Sunnah Qauliyah ialah perkataan atau ucapan – ucapan Nabi saw. yang berhubungan dengan syariat Islam. Contohnya : “ Sesungguhnya amal – amal perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya tiap orang akan mendapat apa yang diniatkan “. ( HR. Al – Bukhari dan Muslim ). b. Sunnah Fi’liyah ialah amal – amal perbuatan Nabi saw. yang berhubungan dengan syariat Islam, seperti tata cara mengerjakan sholat, menunaikan ibadah haji, sebagaimana dicontoh – kan Nabi dalam sabdanya : “ Kerjakanlah sholat seperti kamu melihat bagaimana aku mengerjakannya “. ( HR. Al – Bukhari dan Muslim dari Malik bin Huwairits ). “ Ambillah manasik ( tata cara melaksanakan haji ) kamu dariku “. ( HR. Muslim dari Jabir ). c. Sunnah Taqririyah ialah penetapan atau persetujuan Nabi saw. terhadap sesuatu amal perbuatan se – seorang sahabat yang berhubungan dengan Agama Islam ( syara ) yang dilakukan di hadapan atau dilaporkan kepada Nabi saw., sedangkan Nabi tidak melarang atau me – nyalahkannya. Contohnya, seperti yang diriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi saw. disuguhi ma – kanan, diantaranya daging dhab ( sejenis biawak ). Beliau tidak memakannya, sehingga Khalid bin Walid bertanya : “ Apakah daging itu haram ya Rasulullah ? Nabi menjawab : “ Tidak, tetapi binatang itu tidak terdapat di daerah kaumku. Makanlah, sesungguhnya dia halal “. ( HR. Al – Bukhari dan Muslim ). 3. Fungsi Hadits ( Sunnah ) a. Menjelaskan Al – Qur’an, artinya hadits atau sunnah menjelaskan ayat – ayat Al – Qur’an yang masih belum jelas, menafsirkan maknanya, merinci yang mujmal, meng – kaidkan yang mutlak dan mengkhususkan yang umum. Dalam Al – Qur’an diterangkan : “ Dan Kami menurunkan Al – Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa – apa yang telah diturunkan kepada mereka “. ( QS. An – Nahl ( 16 ) : 43 )

b. Menetapkan Hukum, artinya hadits atau sunnah berfungsi menetapkan hukum yang belum disebutkan dalam Al – Qur’an ( istidlal al hukmi ). Fungsi ini diterangkan dalam Al – Qur’an : “ Apa – apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia; dan apa – apa Yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah “. ( QS. Al – Hasyr ( 59 ) : 7 )

B. ISTILAH – ISTILAH DALAM HADITS Dalam hadits atau sunnah terdapat beberapa istilah, yaitu : 1. S a n a d Secara lughawiyah sanad berarti sandaran atau tempat bersandar. Juga berarti sesuatu yang dapat dipegangi atau dipercaya. Bentuk jamak dari sanad ialah asnad atau sanadat. Juga dapat berarti thoriq ( jalan ). Dalam istilah ilmu hadits, sanad ialah rangkaian urutan orang – orang yang menjadi sandaran atau jalan yang menghubungkan suatu hadits atau sunnah sampai kepada Nabi Muhammad saw. Menerangkan rangkaian urutan sanad suatu hadits disebut isnad. Orang yang menerangkan sanad suatu hadits disebut musnid, sedang hadits yang diterangkan dengan menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Nabi saw. disebut musnad. 2. M a t a n Dari segi bahasa matan berarti punggung jalan ( muka jalan ), tanah yang keras dan tinggi. Matan dari uatu kitab ialah teks dari kitab tersebut, bukan penjelasan atau syarah kitab. Matan hadits ialah sabda Rasulullah Muhammad saw. 3. R a w i Ialah sistem yang dipergunakan dalam penyampaian suatu hadits atau sunnah hingga sampai kepada kita dan kaum muslimin di seluruh dunia ialah dengan cara riwayat. Dalam ilmu hadits, riwayat ialah memindahkan atau menyampaikan suatu hadits atau sunnah dari seorang sahabat Nabi kepada orang berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits dengan menyebutkan sandarannya. Orang yang memindahkan atau menyampaikan hadits disebut rawi. Rawi pertama suatu hadits ialah sahabat Nabi, dan rawi terakhir dari suatu hadits ialah orang yang menulis atau mengumpulkannya, seperti Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lain – lain. Untuk memperjelas pengertian sanad, matan dan rawi, simaklah hadits di bawah ini : 4. Rijalul Hadits ( Takhrijul Hadits ) Rijalul Hadits ialah tokoh – tokoh terkemuka dalam bidang hadits yang diakui keabsahannya dalam periwayatan hadits. Untuk mengetahui seseorang disebut sebagai rijalul hadits ditentukan oleh Ilmu rijalul hadits yaitu ilmu pengetahuan tentang rijalul hadits. Studi tentang rijalul hadits, pada dasarnya meliputi : a. Namanya masing – masing, keadaan dan biografinya, laqab atau titel dalam bidang hadits, seperti dhabit, adil, dsb. b. Guru – gurunya yang memberi atau menyampaikan hadits kepadanya. c. Murid – muridnya, yang menerima hadits dari dia. d. Kedudukannya dalam ilmu hadits dan hasil karyanya dalam bidang hadits. C. PEMBAGIAN ILMU HADITS Untuk mengetahui macam – macam hadits dan tingkatannya masing – masing, lebih dahulu harus mengetahui ilmu hadits, yaitu ilmu pengetahuan yang membahas tentang hadits. Secara garis besar, ilmu hadits itu ada 2 ( dua ) macam, yaitu Ilmu Hadits Dirayah dan Ilmu Hadits Riwayah. 1. Ilmu Hadits Dirayah ialah ilmu untuk mengetahui keadaan sanad dan matan hadits dalam hubungannya dengan penerimaan atau penolakan suatu hadits dan hal – hal lainnya yang berhubungan dengan masalah itu. Dengan ilmu Dirayah ini dapat diketahui hadits – hadits yang dapat diterima sebagai Dasar Hukum ( hujjah ) dan diamalkan, atau ditolak, sehingga tidak boleh diamalkan. Pokok pembahasan dalam Ilmu Hadits Dirayah ialah masalah sanad dan matan hadits. Ilmu Hadits Dirayah oleh sebagian ‘ulama hadits disebut Ilmu Musthalah Hadits. 2. Ilmu Hadits Riwayah ialah ilmu yang membahas tentang tata cara perhubungan ( kesinambungan ) suatu hadits hingga sampai kepada Nabi Muhammad saw. Hubungan itu di lihat dari segi keadaan orang – orang yang meriwayatkan ( para rawi ) hadits, dalam hal kekuatan hafalan, ingatan dan sifat keadilan, kejujuran mereka dan dari segi sanadnya. Bersambung atau tidak ( putus ) sanadnya itu, sampai kepada Rasulullah saw. ‘Ulama hadits pada umumnya mendefinisikan Ilmu Hadits Riwayah sebagai berikut : Artinya : “ Ilmu Hadits Riwayah ialah ilmu untuk mengetahui ucapan – ucapan Nabi saw., amal – amal perbuatannya dan penetapan – penetapannya ( taqrir ) serta sifat – sifatnya “. D. PENULISAN DAN KODIFIKASI HADITS Penulisan dan pembukuan ( kodifikasi ) hadits ialah kegiatan menulis, mengumpulkan dan membukukan hadits - hadits Nabi Muhammad saw. hingga terkumpul menjadi kitab hadits. Pada zaman Nabi Muhammad saw. dan masa Khualafa Al – Rasyidin : Abu Bakar Ash – Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, hadits belum terkumpul dalam kitab hadits. Pada waktu itu hadits hanya tercatat dalam hafalan atau ingatan para sahabat dan pengikut – pengikutnya. Adapun sebab – sebabnya ialah : 1. Pada masa Nabi saw. masih hidup kaum Muslimin dapat bertanya langsung kepada Nabi mengenai masalah – masalah yang mereka hadapi, baik persoalan peribadatan atau yang lainnya. 2. Para sahabat khawatir, apabila waktu itu hadits ditulis akan bercampur dengan ayat – ayat Al – Qur’an yang pada waktu itu masih dalam proses turun berangsur – angsur. 3. Pada masa sahabat, perhatian kaum Muslimin banyak dicurahkan untuk menjaga kemurnian Al – Qur’an dari orang – orang yang mengaku nabi, membuat – buat wahyu dan orang – orang murtad. ( Aminuddin dan Siddik Muhtadi, 1986 ). Akan tetapi setelah dunia Islam berkembang luas, sedang para sahabat yang hafal hadits mulai banyak yang wafat, timbullah kekhawatiran akan kepunahan hadits bersamaan dengan wafatnya sahabat – sahabat yang menghafalnya. Pada tahun 100 Hijriyyah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz ( 99 – 101 H ) mengeluarkan instruksi kepada

Gubernurnya di Madinah yaitu Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazn dan Gubernur lainnya untuk membukukan hadits Nabi saw. Perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal itu, berbunyi : Artinya : “ Perhatikanlah apa yang terdapat pada hadits Rasulullah saw. dan bukukan. Sesungguhnya aku khawatir kehilangan ilmu karena wafatnya ‘ulama, dan janganlah kamu terima selain Hadits Rasulullah saw. Dan hendaklah kamu sebarluaskan ilmu, dan mengadakan majelis – majelis ilmu agar orang yang tidak tahu dapat mengetahuinya. Sesung guhnya ilmu itu tidak akan lenyap, sehingga menjadi tertutup ( rahasia ) “. 1. Cara Penulisan Hadits Dalam usaha membukukan hadits itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada para Gubernur agar membukukan hadits yang ada pada para ‘ulama di wilayahnya masing – masing. Diantara ‘ulama besar yang mula pertama membukukan hadits ialah Muhammad Syihab Az – Zuhri. Pada abad ke – 2 Hijriyyah, para ‘ulama mulai mengumpulkan hadits untuk dibukukan. Pada waktu itu cara pengumpulan dan pembukuan hadits belum selektif. Mereka hanya mengumpulkan hadits, akan tetapi fatwa – fatwa para sahabat juga ikut dikumpulkan dan dibukukan. Hadits – hadits itu dikumpulkan dari periwayatan para sahabat yang menghafalnya. Dalam periwayatan hadits – hadits itu, mereka menempuh 2 cara, yaitu : a. Mengambil ucapan dan tutur bahasa sebagaimana yang mereka dengar dari Nabi Muhammad saw., tanpa mengurangi atau menambah. b. Dengan mengambil maksud dan artinya, sedang lafadz dan redaksinya disusun oleh sahabat yang meriwayatkan hadits itu. Kadang – kadang sahabat menerangkan amal perbuatan Nabi saw. atau taqrirnya dengan lafadz atau redaksi yang disusunnya sendiri. Dengan cara seperti itu maka terdapatlah berbagai macam hadits dan tingkatan kitab hadits. Ada hadits Shahih, Ahad, Maudhu. Ada tingkatan Kitab Sahih, Musnad, dan lain – lain . 2. Kodifikasi Hadits Kegiatan pengumpulan dan pembukuan hadits yang diperintahkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu melahirkan berbagai pengumpulan hadits dalam kitab – kitab hadits yang dibukukan ( kodifikasikan ) para penyusunnya. Kitab – kitab Hadits yang telah berhasil dikodifikasikan pada abad ke – 2 H itu, yang terkenal ialah : a. Al-Muwaththa’, disusun oleh oleh Imam Malik ( 95 – 179 H ) b. Al-Jami’, disusun oleh Abdulrazzaq As-San’ani ( 211 H ) c. Al-Mushnaf, disusun oleh Al-Auza’I ( 150 H ) d. Al-Musnad, disusun oleh Imam Abu Hanifah ( 150 H ) e. Al-Musnad, disusun oleh Imam Asy-Syafi’i ( 204 H ) f. Mukhtalif Al Hadits, disusun oleh Imam Asy-Syafi’i ( 204 H ) E. TINGKATAN KITAB-KITAB HADITS Dari system penulisan dan pembukuan atau kodifikasi hadits, lahirlah berbagai macam tingkatan kitab hadits, yaitu : 1. Al – Ushul Al - Khamsah Kegiatan penulisan dan kodifikasi hadits mencapai puncaknya pada abad ke – 3 H. Perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan usaha para sahabat serta ‘ulama lainnya untuk membukukan hadits mendapat sambutan yang sangat besar dan luas. Pada waktu itu para ‘Ulama hanya menerima dan mengumpulkan hadits-hadits dari orang-orang yang meriwayatkannya ( para rawi ). Hadits-hadits itu dibukukan dan disaring dengan menentukan syarat-syarat periwayatan hadits, sehingga tidak dapat diketahui bobot keaslian atau keabsahan suatu hadits. Selain itu, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang bermaksud merusak Islam dari dalam. Dalam kegiatan pengumpulan dan pembukuan hadits itu mereka merusak Islam dengan membuat hadits-hadits palsu, hadits yang tidak benar, yang bukan dari Nabi saw. Untuk menjaga keaslian hadits dan kesucian Islam, para ‘Ulama mengadakan penertiban dan pengamanan hadits dengan mengumpulkan dan membukukan hadits, melalui cara : a. Meneliti orang-orang yang meriwayatkan hadits ( rawi ) kemudian dikumpulkan, kaidah-kaidah hadits, illat-illat hadits dan riwayat hidupnya. b. Mengadakan koreksi ( tashih ) dan penyaringan, dengan memisahkan hadits yang shahih dan tidak shahih, seperti hadits dhaif, dan lain-lain. Usaha pemurnian dan pelestarian hadits itu melahirkan Ilmu Riwayah Hadits dan Ilmu Dirayah Hadits, sehingga muncullah kitab-kitab hadits Shahih dan Sunan. Usaha itu dipelopori oleh Ishaq bin Ruhawaih. Pekerjaan yang berat tapi mulia itu disempurnakan oleh Imam Al-Bukhari. Beliau berhasil menyusun Kitab Al-Jami’ AshShahih yang berisi hadits-hadits shahih. Kemudian diteruskan oleh Imam Muslim, muridnya, dan ‘ulama ulama hadits lainnya. Kitab-kitab hadits yang telah dihasilkan para ‘ulama pada waktu itu dan telah ditetapkan menjadi pedoman ( standar ) hadits, yang terkenal ada lima, sesuai dengan tingkatannya, sebagai berikut : a. Shahih Al-Bukhari, b. Shahih Muslim, c. Sunan Abu Daud, d. Sunan At-Turmudzi, e. Sunan An-Nasa’i. Di kalangan masyarakat Islam, ke lima hadits itu terkenal dengan sebutan “ Lima Kitab Pokok Hadits “ atau Al-Ushul Al-Khamsah. 2. Al Kutub Al-Sittah

Selain lima orang ‘Ulama Besar Hadits yang telah berhasil menyusun kitab hadits yang termasuk dalam AlUshul Al-Khamsah, ‘ulama lain yang berhasil mengikuti jejak mereka sehingga berhasil membukukan hadits dengan baik ialah Ibnu Majah. Kodifikasi hadits yang berhasil dibukukannya disebut Sunan Ibnu Majah. Sebagian ‘ulama memasukkan Sunan Ibnu Majah ini ke dalam tingkatan kitab-kitab induk hadits, sehingga bagi mereka yang berpendapat demikian, kitab induk hadits itu jumlahnya menjadi 6 ( enam ) buah, yaitu Al-Ushul Al-Khamsah, ditambah kitab Sunan Ibnu Majah. Ke enam kitab pokok ( standar ) hadits itu terkenal dengan sebutan Al-Kutub Al-Sittah. Kitab hadits shahih ialah kitab hadits yang berisi hadits-hadits yang oleh penyusunnya dianggap shahih, seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim. Sedangkan kitab-kitab Sunan ialah kumpulan hadits yang oleh penyusunnya tidak dicampuri dengan hadits yang munkar atau sejenisnya. Dalam hal ini, menurut sebagian ‘ulama, terkecuali Sunan Ibnu Majah. Adapun mengenai kitab Musnad ialah kitab hadits yang menghimpun segala ma cam jenis hadits yang diterima oleh penyusunnya tanpa menerangkan derajatnya. Pada awal abad ke – 4 H, masih ada ‘ulama hadits yang berusaha memisahkan hadits yang shahih dan tidak shahih. Di antara mereka, yang terkenal ialah Imam Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani ( wafat 360 H ), Imam Daruquthni ( wafat 321 H ) dan Ibnu Huzaimah ( wafat 316 H ).

EVALUASI 1. Sebutkan arti hadits, sunnah, khabar dan atsar menurut bahasa dan menurut istilah para ahli hadits ? 2. Sebutkan perbedaan antara khabar dan atsar ! 3. Jelaskan perbedaan antara hadits dan hadits qudsi ! 4. Sebutkan dan jelaskan macam-macam ilmu hadits ! 5. Apakah yang dimaksud : a. Sanad b. Matan c. Rawi 6. Jelaskan apa yang dimaksud Rijalul Hadits ! 7. Sebutkan perbedaan antara kitab Musnad dan Sunan ! 8. Apakah yang dimaksud dengan Al-Ushul Al-Khamsah ? 9. Apakah yang dimaksud dengan Al-Kutub Al-Sittah ? 10. Beri harakat hadits di bawah ini dan menjelaskan tentang apa hadits tersebut ?

11. Apa arti hadits di bawah ini ?

12. Sebutkan bagian-bagian hadits di bawah ini !

13. Beri harakat hadits di bawah ini dan sebutkan apa artinya ?

***** Ir *****

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful