1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mikroorganisme adalah makhluk yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat
dibawah mikroskop. Di alam terdapat banyak mikroorganisme yang hidup.
Mikroorganisme yang terdapat di alam tersebut terdapat dalam bentuk kumpulan
massa sel atau koloni.
Untuk mempelajari suatu jenis koloni dan sifat mikroorganisme tersebut,
diperlukan teknik pembiakan mikroorganisme terlebih dahulu. Setelah di biakan,
kita perlu menghitung atau menentukan banyaknya mikroba untuk mengetahui
seberapa jauh sampel itu tercemar oleh mikroba.
Didalam dunia mikrobiologi, dikenal beberapa istilah seperti inokulasi, kultur
dan isolasi. Inokulasi adalah suatu usaha menumbuhkan mikroorganisme dari
suatu sumber ke media pertumbuhan steril. Biakan bakteri tersebut disebut
dengan kultur.
Menghitung atau menentukan banyaknya mikroba dalam suatu bahan
(makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa
jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui jumlah mikroba, maka
dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Bahan yang dapat
dikatakan baik jika jumlah mikroba yang terkandung dalam bahan tersebut masih
di bawah jumlah standar yang ditentukan oleh suatu lambaga.
Salah satu jenis mikroorganisme adalah bakteri. Bakteri merupakan organisme
uniselular yang tumbuh dengan cara pembelahan biner yaitu satu sel membelah
secara simetris. Bakteri tidak dapat dilihat dengan mudah secara kasat mata.
Namun, pada kenyataannya bakteri bisa berada di manapun termasuk pada
makanan maupun dalam tubuh manusia termasuk pada saluran ekskresi.
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah
2

yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urin
disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya
dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti
urea), garam terlarut, dan materi organik. Normalnya, air seni (urin) itu steril atau
bebas dari kuman (bakteri), virus, dan jamur, namun mengandung cairan, garam,
dan zat-zat sisa. Infeksi pada saluran kemih terjadi bila organisme mikro,
biasanya bakteri dari saluran cerna, berpindah ke ujung saluran kemih (utetra)
yang terbuka dan mulai berkembangbiak. Uretra adalah saluran yang mengalirkan
urin dari kandung kemih keluar tubuh.
Maka dari itu, percobaan teknik pembiakan mikroorganisme dan penentuan
angka kuman sangat penting dilakukan untuk mengetahui banyaknya jumlah
bakteri atau kuman yang terdapat pada urin sehingga nantinya akan dapat
diketahui kondisi kesehatan seseorang tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah teknik penanaman bakteri (inokulasi) pada sampel urine
dengan metode tuang?
2. Bagaimanakah teknik penghitungan angka kuman pada sampel urine?
3. Bagaimanakah hasil penghitungan angka kuman yang dilakukan pada sampel
urine?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat malakukan penanaman bakteri (inokulasi) pada sampel
urine untuk kemudian melakukan penghitungan angka kuman terhadap sampel
urine tersebut sehingga hasilnya dapat diugunakan sebagai diagnosis terhadap
kondisi kesehatan seseorang.


3

1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetaui teknik penanaman (inokulasi) bakteri pada sampel
urine dengan metode tuang.
2. Untuk mengetahui teknik pnghitungan angka kuman pada sampel
urine.
3. Untuk mengetahui hasil penghitungan angka kuman yang dilakukan
pada sampel urine?

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Praktis
Dari praktikum ini diharapkan akan dapat bermanfaat bagi mahasiswa
sehingga dapat menambah keterampilan mahasiswa dalam teknik penanaman
(inokulasi) bakteri dan penghitungan angka kuman pada urine.
1.4.2 Manfaat Teoritis
1. Memperluas pengetahuan mahasiswa khususnya mengenai teknik
penanaman (inokulasi) bakteri dan teknik penghitungan angka kuman
pada urine.
2. Menjadi referensi di bidang keilmuan khususnya mikrobiologi dalam
hal teknik penanaman (inokulasi) bakteri dan teknik penghitungan
angka kuman.










4

BAB II
DASAR TEORI


2.1 Urine
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urin disaring di
dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar
tubuh melalui uretra. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti
racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. (Wikipedia,2012)
2.1.1 Sifat Fisis Urine
Sifat fisis urine terdiri dari:
1. Jumlah ekskresi dalam 24 jam ±1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake)
cairan dan factor lainnya.
2. Warna, bening dan bila dibiarka akan menjadi keruh.
3. Warna, kuning tergantung kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya.
4. Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
5. Berat jenis 1,015-1,020.
6. Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung pada diet (sayur
menyebabkan reaksi alkalis dan protein menjadi reaksi asam.
(Syaifuddin,1992)
2.1.2 Komposisi Urine
1. Urine terdiri dari kira-kira 95% air.
2. Zat-zat hasil nitrogen dan hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak, dan
kreatinin.
3. Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat, dan sulfat.
4. Pigmen (bilirubin, urobilin)
5. Toksin.
5

6. Hormon.
(Syaifuddin,1992)
2.1.3 Ciri-Ciri Urine Normal
Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai jumlah cairan
yang masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya
sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.(Syaifuddin,1992)
Normalnya, air seni (urin) itu steril atau bebas dari kuman (bakteri), virus, dan
jamur, namun mengandung cairan, garam, dan zat-zat sisa. Infeksi pada saluran
kemih terjadi bila organisme mikro, biasanya bakteri dari saluran cerna, berpindah ke
ujung saluran kemih (utetra) yang terbuka dan mulai berkembangbiak. Uretra adalah
saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh. Sebagian besar
infeksi disebabkan oleh satu tipe bakteri, Escherichia coli (E. coli), yang normalnya
hidup di usus besar. (www.permatacibubur.com/en/see.php?id=Nov02-1f&lang=id)
2.1.4 Pengambilan Sampel Urine
Bahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari.
Bahan urin dapat diambil dengan cara punksi suprapubik (suprapubic puncture=spp),
dari kateter dan urin porsi tengah (midstream urine). Bahan urin yang paling mudah
diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung dalam wadah bermulut lebar dan
steril.
1. Punksi Suprapubik
Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan
urin langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan
semprit dan jarum steril. Yang penting pada punksi suprapubik ini adalah
tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan ditusuk, anestesi lokal
pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Bila
keadaan asepsis baik, maka bakteri apapun dan berapapun jumlah koloni yang
tumbuh pada biakan, dapat dipastikan merupakan penyebab ISK.
(http://majalahkesehatan.com/infeksi-saluran-kemih-isk/)


6

2. Kateter
Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang
steril. Pada cara ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang
akan ditusuk dan keadaan asepsis harus elalu dijaga. Tempat penusukan
kateter sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter yang berada di
dalam kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh dari
kateter sama dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi suprapubik.
(http://majalahkesehatan.com/infeksi-saluran-kemih-isk/)
3. Urine Porsi Tengah
Urin porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan
teknik pengambilan yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan
ketidaknyamanan pada penderita. Akan tetapi resiko kontaminasi akibat
kesalahan pengambilan cukup besar. Tidak boleh menggunakan antiseptik
untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan
menyebabkan kultur false-negative. (http://majalahkesehatan.com/infeksi-
saluran-kemih-isk/)
Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada wanita :
1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina
dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua
potong kasa steril dibasahi air atau salin hangat dan sepotong lagi
dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk
membersihkan daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka
tutupnya sebelum pembersihan daerah vagina selesai.
2. Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan
potongan kasa steril yang mengandung sabun. Arah pembersihan dari
depan ke belakang. Kemudian buang kasa yang telah dipakai ke tempat
sampah.
3. Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa
yang dibasahi dengan air atau salin hangat. Selama pembilasan tetap
pisahkan kedua labia dengan 2 jari dan jangan biarkan labia menyentuh
7

muara uretra. Lakukan pembilasan sekali lagi, kemudian keringkan daerah
tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.
4. Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulailah berkemih. Buang
beberapa mililiter urin yang mula-mula keluar. Kemudian tampung aliran
urin selanjutnya ke dalam wadah steril sampai kurang lebih sepertiga atau
setengah wadah terisi.
5. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan
dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita
pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium.

Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada pria :
1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis
dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua
potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril
dibasahi dengan air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam
keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan
daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya
sebelum pembersihan selesai.
2. Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan daerah
ujung penis dengan kasa yang dibasahi air sabun. Buang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.
3. Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atau salin hangat. Ulangi
sekali lagi, lalu keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril
yang kering. Buang kasa yang telah dipakai ke dalam tempat sampah.
4. Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailah berkemih. Buang
beberapa mililiter urin yang keluar, kemudian tampung urin yang keluar
berikutnya ke dalam wadah steril sampai terisi sepertiga sampai
setengahnya.
8

Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan
dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita
pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium.
(http://majalahkesehatan.com/infeksi-saluran-kemih-isk/
2.2 Media Pertumbuhan Mikroorganisme
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk
pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa
molekulmolekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media
pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga
memanipulasi komposisi media pertumbuhannya. (Anoname,2008)
2.2.1 Bahan-Bahan Media Pertumbuhan
1 Bahan dasar
 Air (H2O) sebagai pelarut.
 Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit
didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu
45
0
C.Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin
adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolage.
Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu
menguraikannya dibanding agar.
 Silica gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya
juga sebagai pemadat media. Silica gel khusus digunakan untuk
memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.
2 Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk
metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur
mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element.
 Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organic
atau anorganik esuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof
9

memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak,
protein dan asam organik.
 Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa
bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N
anorganik seperti urea.
 Vitamin-vitamin.
3 Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium
dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa)
ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik
hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat
pertumbuhan mikroba nontarget/kontaminan.
4 Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media
 Agar, agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk
dan terbuat dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai
pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther
Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar
tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus diasuk dan dipanasi,
pencairan dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama
dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
 Peptone, peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati
seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin dan kedelai.
Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana cara
memperolehnya.
 Meat extract. Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak,
limpa, plasenta dan daging sapi.
 Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau
pembuat alcohol. Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap
dan vitamin (B complex).
10

 Karbohidrat. Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan
asam amino dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya
digunkan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol,
dan lain-lain. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi
adalah 0,5-1%.
(Anoname,2008)
2.2.2 Macam-Macam Media Pertumbuhan
1. Medium berdasarkan sifat fisik
 Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga
setelah dingin media menjadi padat.
 Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4%
sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media
semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat
menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran
sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media
NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin
hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka
cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk
mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth,
kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat
tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.
 Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya
adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
(Anoname,2008)
2. Medium berdasarkan komposisi
 Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui
jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey
Agar.
 Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya
diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang
11

mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak
kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi
senyawa penyusunnya.
 Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang
tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari
bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion
Agar, Pancreatic Extract.
(Anoname,2008)
3. Medium berdasarkan tujuan
 Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan
mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
 Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat
tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba
lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan.
Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin
untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat
kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4%
untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap
garam.
 Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar
untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti
darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk
mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak
hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi
membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile
Agar, Serum Agar, dan lain-lain.

12

 Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur.
 Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis
metabolism suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium,
yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat
sebagai sumber karbon.
 Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu
mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan
adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose
Broth, Arginine Agar.
 Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari
campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media
diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu
memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan
perubahan warna media di sekeliling koloni.
(Anoname,2008)

2.3 Penanaman Bakteri (Inokulasi)
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi)
terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan
medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi
(Dwijoseputro, 1998).
Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman
bakteri (inokulasi) yaitu :

13

1. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar
tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam labotarium
pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam
sebuah kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan
saringan melalui suatu jalan agar tekena sinar ultraviolet (Pelezar, 1986).
2. Pemindahan dengan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan
untuk diambil 1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni
(Pelezar, 1986).
3. Pemindahan dengan kawat inokulasi
Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh
lurus juga boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan
penanaman bakteri kawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai
cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi
dalam nyala (Pelezar, 1986).

2.3.1 Teknik Inokulasi
Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau
meremajakan kultur ke dalam medium baru. (Anoname,2008)
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme yaitu :
1. Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan
waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan
latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah
Inokulum digoreskan di permukan media agar nutrien dalam cawaan petridish
dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan
14

terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni
(Winarni, 1997).
Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk
lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam
pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi
tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng
medium pembiakan (Kus Irianto, 2006)
Ada beberapa teknik dalam metode goresan, yakni :
a. Goresan T

(Anoname,2008)
b. Goresan Kuadran
Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda
yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih
mengandung banyak sel mikroorganisma. Goresan selanjutnya
dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah
semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.
(Anoname,2008)


(Anoname,2008)

15

c. Goresan radian

(Anoname,2008)

d. Goresan Sinambung
Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan
koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.
(Anoname,2008)

(Anoname,2008)

2. Metode Tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam
cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril.
Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat
menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang
merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang
terpisah-pisah (Winarni, 1997).




................
.....
……………..
………….....

16

3. Metode Tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar
melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada
suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
Robert koch ( 1943-905 ) mempunyai metode, yaitu dengan mengambil
sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel ini
kemudian disebarluaskan di dalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer.
Dengan demikian diperoleh hanyalah suatu piaraan adukan. Setelah medium itu
mengental, maka selang beberapa jam kemudian nampaklah koloni – koloni yang
masing – masing dapat dianggap murni. Denagn mengulang pekerjaan seperti di
atas, maka akhirnya akan diperoleh piaraan murni yang lebih terjamin (Waluyo,
2005).
Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang
bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan
dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya
pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar)
sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada
yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung
oksigen. (Anoname,2008)

4. Metode Tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan
ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke
dalam media (Winarni,1997).

2.4 Perhitungan Angka Kuman
Menghitung atau menentukan banyaknya mikroba dalam suatu bahan
(makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa
jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui jumlah mikroba, maka
dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Bahan yang dapat
17

dikatakan baik jika jumlah mikroba yang terkandung dalam bahan tersebut masih di
bawah jumlah standar yang ditentukan oleh suatu lambaga. Kandungan mikroba pada
suatu bahan juga sangat menentukan tingkat kerusakannya, serta dapat ditentukan
oleh tingkat kelayakan untuk dikonsumsi. (http://asriepdbgt.blogspot.com/2010/11/v-
behaviorurldefaultvmlo.html)
Jumlah mikroba dapat dihitung dengan beberapa cara, namun secara garis
besar dibedakan menjadi:
1. Cara langsung
Hasil perhitungan secara langsung menunjukkan seluruh jumlah mikroba
yang masih hidup maupun yang sudah mati. Caranya:
a. Pembuatan preparat sederhana yang diwarnai
b. Menggunakan ruang hitung
(http://asriepdbgt.blogspot.com/2010/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html)
2. Cara tidak langsung
Cara perhitungan tidak langsung, hasil perhitungan jumlah mikroba
baru dapat diperoleh kemudian setelah dilakukan perlakuan terlebih dahulu.
Hasil perhitungan tidak langsung akan menunjukan jumlah mikroba yang
masih hidup saja. Adapun caranya :
a. Menghitung jumlah total mikroba (Total plate count = angka lempeng total)
b. Cara pengenceran
c. Memperkirakan jumlah terkecil mikroba yang ada (MPN = Most Probable
Number)
d. Cara kekeruhan (turbiditas)
(http://asriepdbgt.blogspot.com/2010/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html)

Plate Count (hitungan cawan)
Plate count / viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel
mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni
setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai.
Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan
18

perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut.
Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroorganisme karena
beberapa mikroorganisme tertentu cenderung membentuk kelompok atau
berantai. Berdasarkan hal tersebut digunakan istilah Coloni Forming Units
(CFU’s) per ml. koloni yang tumbuh berasal dari suspensi yang diperoleh
menggunakan pengenceran bertingkat dari sebuah sampel yang ingin
diketahui jumlah bakterinya. Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung
adalah sebagai berikut :
1. Satu koloni dihitung 1 koloni.
2. Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni.
3. Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni.
4. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2
koloni.
5. Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak
dihitung.
6. Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1
koloni.



(Anoname,2008)
Standar perhitungan
Jumlah koloni = jumlah koloni X 1/faktor pengenceran.
a. Cawan yang dipilih adalah yang mengandung jumlah koloni 30-300 koloni
1 2 3 4 5 6
19

b. Hasil yang dilaporkan terdiri dari 2 angka yaitu angka pertama di depan
koma dan angka kedua di belakang koma. Jika angka ketiga lebih besar
dari 5 maka harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
c. Jika semua pengenceran menghasilkan angka kurang dari 30 koloni, maka
hanya koloni pada pengenceran terendah yang dihitung. Hasilnya
dilaporkan sebagai kurang dari 30 koloni dikalikan dengan faktor
pengenceran tetapi jumlah sebenarnya harus dicantumkan dengan tanda
kurung.
d. Jika semua pengenceran menghasilkan angka lebih dari 300 koloni maka
hanya koloni pada pengenceran tertinggi yang dihitung. Hasilnya
dilaporkan sebagai lebih dari 300 koloni dikalikan dengan faktor
pengenceran tetapi jumah sebenarnya harus dicantumkan dengan tanda
kurung.
e. Jika semua pengenceran menghasilkan angka 30-300 koloni maka harus
dibuat perbandingan. Jika perbandingannya < 2 maka yang dilaporkan
adalah rata-rata pengenceran tetapi jika perbandingannya > 2 maka yang
dilaporkan adalah pengenceran terendah.
f. Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, maka data yang
diambil harus dari kedua cawan tersebut meskipun salah satu dari cawan
duplo tidak memenuhi syarat 30-300 koloni.
(Anoname,2008)









20

BAB III
METODE

3.1 Waktu dan Tempat
3.1.1 Waktu
Praktikum I
Hari/tanggal : Kamis, 1 Maret 2012
Jam : 08.00 wita-12.00 wita
Kegiatan : Pembuatan media nutrient agar
Praktikum II
Hari/tanggal : Jumat, 9 Maret 2012
Jam : 08.00 wita-12.00 wita
Kegiatan : Penanaman sampel urine
Praktikum III
Hari/tanggal : Senin, 12 Maret 2012
Jam : 08.00 wita-12.00 wita
Kegiatan : Perhitungan angka kuman pada sampel urine

3.1.2 Tempat
Praktikum bakteriologi dilaksanankan di laboratorium bakteriologi
Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar.

3.1.3 Alat dan Bahan
1. Alat
a. Incubator 37
0
C
b. Tabung reaksi
c. Rak tabung
d. Petri Dish
e. Pipet ukur
f. Bunsen/lampu spiritus
21

g. Coloni counter
h. Label
i. Gelas beker
j. Erlenmeyer
k. Kapas lemak
l. Label
m. Bola Hisap
n. Kompor listrik
2. bahan
a. Sampel : Urine
b. Media : Media Nutrient Agar
c. Reagen : Aquadest Steril

3.2 Cara kerja




Langkah kerja
Pengambilan Sampel
Pengenceran
(10
-1
,10
-2
,10
-3
)

Penanaman →Media NA
*Metode Tuang
Inkubasi 37
0
C
2x24 jam

Penghitungan
(coloni counter)
22

1. Pengenceran
Disiapkan 3 tabung reaksi yang masing-masing diisi 9 ml aquadest.




























Sampel Urine
Diambil 1ml
Dimasukkan ke
TR 1
Dihomogenkan
Pengenceran urine 10
-
1

Diambil 1ml
Dimasukkan ke
TR 2
Dihomogenkan
Pengenceran urine 10
-
2

Diambil 1ml
Dimasukkan ke
TR 3
Dihomogenkan
Pengenceran urine 10
-
2

23

2. Penanaman









Pembuatan Kontrol





3. Inkubasi pada suhu 37
0
C
4. Penghitungan angka kuman dengan coloni counter (jumlah koloni x faktor
pengenceran)











10
-3

Diambil 1 ml
Dituang+media NA
10
-3

10
-3

Diambil 1 ml
Diambil 1 ml
Dituang+media NA
Dituang+media NA
Aquadest Steril
Dituang+media NA
Diambil 1 ml
24

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil perhitungan kuman yang dilakukan pada sampel urine pasien
b didapatkan hasil sebagai berikut:
No Plate Pengenceran Jumlah
Koloni
1 Kontrol - 4
2 I 10
-1
83
3 II 10
-2
254
4 III 10
-3
309

Perhitungan yang dapat mewakili jumlah kuman adalah pengenceran yang
mengandung jumlah koloni 30-300 koloni per cawan petri. Jadi, dari hasil
pengenceran, hanya plate pada pengenceran 10
-1
dan 10
-2
yang memenuhi syarat,
sedangka pengenceran 10
-3
tidak memenuhi syarat karena mengandung lebih dari 300
koloni. Sehingga, hasil perhitungang Total Plate Count pada sampel urine pasien b
adalah sebagai berikut:


( ) ( )

=
()()

=

=

= 12.895 /mL




25

4.2 Pembahasan
4.2.1 Teknik Penanaman (Inokulasi) Bakteri pada Sampel Urine
sebelum melakukan penanaman, ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan antara lain:
1. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel urine pada pasien dilakukan dengan
menggunakan metode pengambilan sampel urine porsi tengah, yaitu dengan
cara membuang beberapa mililiter urin yang pertama keluar, kemudian
tampung urin yang keluar berikutnya ke dalam wadah steril sampai terisi
sepertiga sampai setengahnya.
Urine harus ditampung dalam wadah steril yang bertutup rapat dan
tidak mudah pecah.
2. Pengenceran
Pada dasarnya pengenceran dilakukan terhadap sampel yang
diperkirakan jumlah kuman banyak, sehingga dapat dihitung jumlah koloni
tiap-tiap platenya. Pengenceran sampel dilakukan sebagai berikut :
1. Disediakan 3 buah tabung reaksi yang masing-masing diisi label I,II,II
2. Masing-masing tabung tersebut kemudian diisi 9 mL aquadest steril.
3. Tabung I ditambahkan 1 ml urine. (1/100)
4. Dari tabung I dipipet 1 mL dan dimasukan ke tabung II (1/1000)
5. Dari tabung II dipipet mL dan dimasukan ke tabung III (1/10.000)
Tujuan dari pengenceran bertingkat yaitu memperkecil atau mengurangi
jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Selain itu, pengenceran juga
bertujuan untuk menciptakan kondisi yang nyaman bagi kuman untuk
tumbuh, dan menghilangkan partikel-partikel yang mengganggu pertumbuhan
bakteri sehingga viabilitasnya tinggi. Penentuan besarnya atau banyaknya
tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam
sampel. Digunakan perbandingan 1 : 9 untuk sampel dan pengenceran
pertama dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10
sel mikroorganisma dari pengenceran sebelumnya.
26

3. Penanaman dengan metode Tuang
Penanaman (inokulasi) bakteri dilakukan pada media nutrient agar.
Berdasarkan tujuannya, nutrient agar termasuk dalam media isolasi yang
bersifat umum. Yaitu, media yang mengandung semua senyawa esensial
untuk pertumbuhan hampir semua jenis mikroba. Sehingga media ini
digunakan dalam teknik penanaman bakteri pada sampel urine yang akan
dihitung total angka kumannya karena semua kuman yang ada dapat tumbuh.
Metode Tuang merupakan salah satu teknik inokulasi. Metode tuang
adalah Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar
melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga
pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
Adapun prosedur kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Dari masing-masing pengenceran dipipet 1 mL dan ditanam pada media
NA (Nutrien Agar).
 Dari tabung I dipipet 1 mL dan dituang pada cawan petri I kemudian
dilanjutkan dengan penuangan media NA pada cawan petri tersebut.
 Dari tabung II dipipet 1 mL dan dituang pada cawan petri II kemudian
dilanjutkan dengan penuangan media NA pada cawan petri tersebut.
 Dari tabung III dipipet 1 mL dan dituang pada cawan petri III kemudian
dilanjutkan dengan penuangan media NA pada cawan petri tersebut.
2. Selain penanaman sampel dibuat juga sebuah control yaitu dengan
menggunakan aquadest sebanyak 1 mL yang dituang pada cawan petri dan
ditambahkan media NA. Pembuatan control ini bertujuan sebagai
indicator yang menunjukkan seberapa besar kontaminasi yang terjadi pada
media pembiakan.




27

Penanaman (inokulasi) ini harus dilakukan secara aseptis yaitu teknik
yang digunakan dalam pencegahan kontaminasi sehingga kultur manipulasi
dan media kultur steril.
4. Inkubasi
Setelah selesai penanaman dengan metode tuang selanjutnya biakan
diinkubasi pada incubator dengan sehu 37
o
C selama 2 x 24 jam atau selama
dua hari. Inkubasi dilakukan bertujuan untuk memberikan waktu untuk kuman
agar bisa berkembang biak dan menjadi koloni sehingga dapat dihitung. Suhu
37
o
C merupakan suhu yang ideal untuk pertumbuhan bakteri atau kuman.

4.2.2 Teknik Penghitungan Angka Kuman pada Sampel Urine
Penghitungan jumlah koloni pada media pembiakan dilakukan dengan
menggunakan alat coloni counter. Alat ini berguna untuk mempermudah
perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena
adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran
yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak.
Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat
di-reset.
Untuk mengetahui jumlah kuman yang terdapat dalam 1 mL sampel
dilakukan dengan menghitung jumlah koloni kuman yang tumbuh pada media
pembiakan. Perhitungan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Dihitung jumlah koloni kuman yang tedapat pada control. Syarat jumlah
koloni pada control adalah < 10
2. Dihitung jumlah koloni kuman pada masing-masing plate. Jumlah koloni pada
masing-masing plate memiliki syarat 30 > n > 300. Dengan n sama dengan
jumlah koloni yang terhitung. Jumlah koloni harus lebih besar dari 30 dan
lebih kecil dari 300
3. Untuk mengitung jumlah koloni kuman per 1 mL urine, dihitung dengan
menggunakan rumus

28


Keterangan :
n1 = Jtumlah koloni pada plate I
n2 = Jumlah koloni pada plate II
n3 = Jumlah koloni pada plate III
nk = Jumlah koloni pada control


( ) ( ) ( )

4.2.3 Hasil Penghitungan Angka Kuman pada Sampel Urine
Dari perhitungan koloni yang dilakukan pada masing-masing plate pada
alat colony counter diperoleh hasil yaitu pada pengenceran I (10
-1
) diperoleh
jumlah koloni sebanyak 83 koloni, pada pengenceran II (10
-2
) diperoleh jumlah
koloni sebanyak 254 koloni, sedangkan pada pengenceran III (10
-3
) diperoleh
jumlah kolony sebanyak 309 koloni.
Pada penghitungan jumlah koloni pada media pembiakan, terdapat factor
penganggu berupa jamur yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri pada
media pembiakan.
Hasil yang diperoleh ini kemudian dihitung lagi dengan menggunakan
rumus untuk mengetahui jumlah angka kuman pada 1 mL urine. Namun dari data
yang diperoleh tersebut hanya pada pengenceran I dan II yang dapat digunakan
dalam perhutingan. Sedangkan pada pengenceran I tidak dapat digunakan karena
syarat jumlah kuman yang dapat dihitung dan sesuai standar adalah 30-300 koloni
per cawan.
Bedasarkan hasil perhitungan terhadap data jumlah kuman yang
ditemukan diperoleh hasil bahwa banyaknya jumlah kuman dalam 1 mL sampel
urine adalah sebanyak 12.895 /mL.
29

Terdapat tiga kemungkinan yang terjadi dari hasil perhitungan jumlah koloni
kuman yang dilakukan. Jika hasil perhitungan koloni kuman (colony Count) <
10.000 / mL urine menandakan tidak terjadi infeksi. Adanya kuman pada urine
pasien kemungkinan karena infeksi suprapubik atau kateter. Jika hasil perhitungan
koloni (colony count) antara 10.000 mL s/d 100.000/mL urine, menandakan pasien
mengalami infeksi saluran kemih. Dan apabila perhitungan koloni (Coloni Count )>
100.000/mL urine, menunjukan bahwa pasien mengalami infeksi saluran kantung
kemih. Sesuai dengan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa pada pesien diindikasi
mengalami infeksi saluran kemih. Infeksi pada saluran kemih terjadi bila organisme
mikro, biasanya bakteri dari saluran cerna, berpindah ke ujung saluran kemih (utetra)
yang terbuka dan mulai berkembangbiak. Uretra adalah saluran yang mengalirkan
urin dari kandung kemih keluar tubuh.


















30

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
1. Teknik penanaman (inokulasi) bakteri dari sampel urine dimulai dengan
pengambilan sampel dengan metode pengambilan sampel urine porsi tengah,
kemudian sampel diencerkan dengan menggunakan metode pengenceran
bertingkat (10
-1
, 10
-2
, 10
-3
). Setelah pengenceran, dilakukan penanaman
sampel dengan metode tuang pada media Nutrient Agar. Setelah mengeras,
biakan diinkubasi pada suhu 37
0
C selama 2x24 jam.
2. Penghitungan jumlah koloni pada media pembiakan dilakukan dengan
menggunakan alat coloni counter. Jumlah koloni pada masing-masing plate
yang memenuhi syarat adalah plate yang memiliki jumlah koloni 30 > n >
300. Penghitungan jumlah total kuman yang ada pada cawan menggunakan
rumus :

( ) ( ) ( )

3. Bedasarkan hasil perhitungan terhadap data jumlah kuman yang ditemukan
diperoleh hasil bahwa banyaknya jumlah kuman dalam 1 mL sampel urine
adalah sebanyak 12.895 /mL. Sesuai dengan hasil tersebut dapat dinyatakan
bahwa pada pesien diindikasi mengalami infeksi saluran kemih.

5.2 Saran
1. Disarankan kepada praktikan agar selalu melakukan teknik kerja aseptic
mulai dari pembuatan media hingga penanaman bakteri agar kontaminasi
dapat ditekan sehingga didapatkan hasil penghitungan yang dapat
dipertanggungjawabkan.




31

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Rosyida, Rani Wulandari, dan Shinta Ayu Nurfaradila, 2010, Laporan
Praktikum Mikrobiologi Penentuan Angka Kuman, Departemen Farmasi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia
Anoname,Tt, Infeksi Saluran Kemih, diakses di: http://majalahkesehatan.com/infeksi-
saluran-kemih-isk/, diakses tanggal: 1 Maret 2012
Anoname, 2008, Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar, Purwokerto: Laboratorium
Mikrobiologi Universitas Jenderal Soedirman
Anoname, 2009, Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan, diakses di:
http://www.wikipedia.com/anatomi-dan-fisiologi-sisitem-perkemihan,
diakses tanggal: 1 Maret 2012
Anoname, 2010, Jenis-jenis Pemindahan Mikroba, diakses di: http://
www.scrib.com./doc/403051141, diakses tanggal: 1 Maret 2012
Anoname, 2010, Perhitungan Angka Kuman, diakses di:
http://asriepdbgt.blogspot.com/2010/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html,
diakses tanggal: 1 Maret 2012
Anoname, 2012, Urine, diakses di: http://www.wikipedia.com/urine, dikses tanggal:
1 Maret 2012
Syaifuddin, 1992, Anatomi dan Fisiologi untuk Siswa Perawat, Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC









32























Sign up to vote on this title
UsefulNot useful