You are on page 1of 5

Terapi Oksigen

Terapi oksigen merupakan pemberian oksigen sebagai suatu intervensi medis, dengan konsentrasi
yang lebih tinggi disbanding yang terdapat dalam udara untuk terapi dan pencegahan terhadap
gejala dan menifestasi dari hipoksia. Oksigen sangat penting untuk metabolisme sel, dan lebih dari
itu, oksigenasi jaringan sangat penting untuk semua fungsi fisiologis normal.
Oksigen dapat diberikan secara temporer selama tidur maupun selama beraktivitas pada penderita
dengan hipoksemia. Selanjutnya pemberian oksigen dikembangkan terus ke arah ventilasi mekanik,
pemakaian oksigen di rumah. Untuk pemberian oksigen dengan aman dan efektif perlu pemahaman
mengenai mekanisme hipoksia, indikasi, efek terapi, dan jenis pemberian oksigen serta evaluasi
penggunaan oksigen tersebut.

Hipoksemia
Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri
(PaO2) atau saturasi O2 arteri (SaO2) dibawah nilai normal. Hipoksemia dibedakan menjadi ringan
sedang dan berat berdasarkan nilai PaO2 dan SaO2, yaitu:
1. Hipoksemia ringan dinyatakan pada keadaan PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 90-94%
2. Hipoksemia sedang PaO2 40-60 mmHg, SaO2 75%-89%
3. Hipoksemia berat bila PaO2 kurang dari 40 mmHg dan SaO2 kurang dari 75%.
Hipoksemia dapat disebabkan oleh gangguan ventilasi, perfusi, hipoventilasi, pirau, gangguan difusi
dan berada ditempat yang tinggi. Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi
yang bertujuan untuk mempertahankan supaya oksigenasi ke jaringan memadai. Bila tekanan
oksigen arteriol (PaO2) dibawah 55 mmHg, kendali nafas akan meningkat, sehingga tekanan oksigen
arteriol (PaO2) yang meningkat dan sebaliknya tekanan karbondioksida arteri (PaCO2) menurun,
jaringan vaskuler yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, juga terjadi
takikardi kompensasi yang akan meningkatkan volume sekuncup jantung sehingga oksigenasi
jaringan dapat diperbaiki. Hipoksia alveolar menyebabkan kontraksi pembuluh pulmoner sebagai
respon untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area paru terganggu, kemudian akan terjadi
peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis dan terjadi peningkatan
kapasitas transfer oksigen. Kontraksi pembuluh darah pulmoner, eritrositosis dan peningkatan
volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner, gagal jantung kanan bahkan
dapat menyebabkan kematian.

Hipoksia
Hipoksia adalah kekurangan O2 ditingkat jaringan. Istilah ini lebih tepat dibandingkan anoksia, sebab
jarang dijumpai keadaan dimana benar-benar tidak ada O2 tertinggal dalam jaringan. Jaringan akan
mengalami hipoksia apabila aliran oksigen tidak adekuat dalam memenuhi kebutuhan metabolisme
jaringan, hal ini dapat terjadi kira-kira 4-6 menit setelah ventilasi spontan berhenti. Secara
tradisional, hipoksia dibagi dalam 4 jenis.

Keempat kategori hipoksia adalah sebagai berikut :
1. Hipoksia hipoksik (anoksia anoksik) yaitu apabila PO2 darah arteri berkurang. Merupakan
masalah pada individu normal pada daerah ketinggian serta merupakan penyulit pada pneumonia
dan berbagai penyakit sistim pernafasan lainnya. Gejala yang muncul pada keadaan ini antara lain
iritabilitas, insomnia, sakit kepala, sesak nafas, mual dan muntah.

2. Hipoksia anemik yaitu apabila O2 darah arteri normal tetapi mengalami denervasi. Sewaktu
istirahat, hipoksia akibat anemia tidaklah berat, karena terdapat peningkatan kadar 2,3-DPG didalam
sel darah merah, kecuali apabila defisiensi hemoglobin sangat besar. Meskipun demikian, penderita
anemia mungkin mengalami kesulitan cukup besar sewaktu melakukan latihan fisik karena adanya
keterbatasan kemampuan meningkatkan pengangkutan O2 ke jaringan aktif.

3. Hipoksia stagnan; akibat sirkulasi yang lambat merupakan masalah bagi organ seperti ginjal dan
jantung saat terjadi syok. Hipoksia akibat sirkulasi lambat merupakan masalah bagi organ seperti
ginjal dan jantung saat terjadi syok. Hati dan mungkin jaringan otak mengalami kerusakan akibat
hipoksia stagnan pada gagal jantung kongestif. Pada keadaan normal, aliran darah ke paru-paru
sangat besar, dan dibutuhkan hipotensi jangka waktu lama untuk menimbulkan kerusakan yang
berarti. Namun, syok paru dapat terjadi pada kolaps sirkulasi berkepanjangan,terutama didaerah
paru yang letaknya lebih tinggi dari jantung.

4. Hipoksia histotoksik; hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan paling
sering diakibatkan oleh keracunan sianida. Sianida menghambat sitokrom oksidasi serta mungkin
beberapa enzim lainnya. Biru metilen atau nitrit digunakan untuk mengobati keracunan sianida. Zat-
zat tersebut bekerja dengan sianida, menghasilkan sianmethemoglobin, suatu senyawa non toksik.
Pemberian terapi oksigen hiperbarik mungkin juga bermanfaat.
Jika aliran oksigen ke jaringan berkurang, atau jika penggunaan berlebihan di jaringan maka
metabolisme akan berubah dari aerobik ke metabolisme anaerobik untuk menyediakan energi yang
cukup untuk metabolisme. Apabila ada ketidakseimbangan, akan mengakibatkan produksi asam
laktat berlebihan, menimbulkan asidosis dengan cepat, metabolime selule terganggu dan
mengakibatkan kematian sel. Pemeliharaan oksigenasi jaringan tergantung pada 3 sistem organ
yaitu sistem kardiovaskular, hematologi, dan respirasi.

Manifestasi klinik hipoksia
Manifestasi klinik hipoksia tidak spesifik, sangat bervariasi, tergantung pada lamanya hipoksia,
kondisi kesehatan individu, dan biasanya timbul pada keadaan hipoksia yang sudah berat.
Manifestasi klinik dapat berupa perubahan status mental/bersikap labil, pusing, dispneu, takipneu,
respiratory distress, dan aritmia. Sianosis sering dianggap sebagai tanda dari hipoksia, namun hal ini
hanya dapat dibenarkan apabila tidak terdapat anemia.
Untuk mengukur hipoksia dapat digunakan alat oksimetri (pulse oxymetry) dan analisis gas darah.
Bila nilai saturasi kurang dari 90% diperkirakan hipoksia, dan membutuhkan oksigen.

Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang Lain
Karena berbagai tanda dan gejala hipoksia bervariasi dan tidak spesifik, maka untuk menentukan
hipoksia diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang paling sering digunakan adalah
pemeriksaan PaO2 arteri atau saturasi oksigen arteri melalui pemeriksaan invasif yaitu analisis gas
darah arteri ataupun non invasif yaitu pulse oximetry. Pada pemeriksaan gas darah, spesimen darah
diambil dari pembuluh darah arteri (a.Radialis atau a.Femoralis) dan akan didapatkan nilai PaO2,
PCO2, saturasi oksigen, dan parameter lain. Pada pemeriksaan oksimetri hanya dapat melihat
saturasi oksigen. Pemeriksaan saturasi oksigen ini tidak cukup untuk mendeteksi hipoksemia, karena
hanya dapat memperkirakan PaO2 ≥ 60 mmHg atau PaO2 < 60mmHg. Berulang kali studi dilakukan,
ternyata oksimetri tidak bisa untuk menentukan indikasi pemberian terapi oksigen jangka panjang,
namun pemeriksaan noninvasif ini efektif digunakan untuk evaluasi kebutuhan oksigen selama
latihan, dan untuk mengevaluasi dan memastikan dosis oksigen bagi pasien yang menggunakan
terapi oksigen di rumah.

Gagal Nafas
Gagal nafas merupakan suatu keadaan kritis yang memerlukan perawatan di instansi perawatan
intensif. Diagnosis gagal nafas ditegakkan bila pasien kehilangan kemampuan ventilasi secara
adekuat atau tidak mampu mencukupi kebutuhan oksigen darah dan sistem organ. Gagal nafas
terjadi karena disfungsi sistem respirasi yang dimulai dengan peningkatan karbondioksida dan
penurunan jumlah oksigen yang diangkut kedalam jaringan. Gagal nafas akut sebagai diagnosis tidak
dibatasi oleh usia dan dapat terjadi karena berbagai proses penyakit. Gagal nafas hampir selalu
dihubungkan dengan kelainan diparu,tetapi keterlibatan organ lain dalam proses respirasi tidak
boleh diabaikan.

1. Gagal Nafas Tipe I
Pada tipe ini terjadi perubahan pertukaran gas yang diakibatkan kegagalan oksigenasi. PaO2 ≤50
mmHg merupakan ciri khusus tipe ini, sedangkan PaCO2 ≤40 mmHg, meskipun ini bisa juga
disebabkan gagal nafas hiperkapnia. Ada 6 kondisi yang menyebabkan gagal nafas tipe I yaitu:
• Ketidaknormalan tekanan partial oksigen inspirasi (low PIO2)
• Kegagalan difusi oksigen
• Ketidakseimbangan ventilasi / perfusi *V/Q mismatch+
• Pirau kanan ke kiri
• Hipoventilasi alveolar
• Konsumsi oksigen jaringan yang tinggi

2. Gagal Nafas Tipe II
Tipe ini dihubungkan dengan peningkatan karbondioksida karena kegagalan ventilasi dengan oksigen
yang relatif cukup. Beberapa kelainan utama yang dihubungkan dengan gagal nafas tipe ini adalah
kelainan sistem saraf sentral, kelemahan neuromuskuler dan deformitas dinding dada.Penyebab
gagal nafas tipe II adalah :
• Kerusakan pengaturan sentral
• Kelemahan neuromuskuler
• Trauma spina servikal
• Keracunan obat
• Infeksi
• Penyakit neuromuskuler
• Kelelahan otot respirasi
• Kelumpuhan saraf frenikus
• Gangguan metabolisme
• Deformitas dada
• Distensi abdomen massif
• Obstruksi jalan nafas

Manfaat Terapi Oksigen
Tujuan terapi oksigen adalah mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan meminimalkan asidosis
respiratorik.
Ada beberapa keuntungan dari terapi oksigen. Terapi oksigen pada pasien PPOK dengan konsentrasi
oksigen yang tepat dapat mengurangi sesak nafas saat aktivitas, dapat meningkatkan kemampuan
beraktifitas dan dapat memperbaiki kualitas hidup.
Manfaat lain dari terapi oksigen adalah memperbaiki hemodinamik paru, kapasitas latihan, kor
pulmonal, menurunkan cardiac output, meningkatkan fungsi jantung, memperbaiki fungsi
neuropsikiatrik, mengurangi hipertensi pulmonal, dan memperbaiki metabolisme otot.

Indikasi Terapi Oksigen
Dalam pemberian oksigen harus dipertimbangkan apakah pasien benar-benar membutuhkan
oksigen, apakah dibutuhkan terapi oksigen jangka pendek (Short-term oxygen therapy) atau terapi
oksigen jangka panjang (Long term oxygen therapy).
Indikasi untuk pemberian oksigen harus jelas. Oksigen yang diberikan harus diatur dalam jumlah
yang tepat, dan harus dievaluasi agar mendapat manfaat terapi dan menghindari toksisitas.

Terapi Oksigen Jangka Pendek
Terapi oksigen jangka pendek merupakan terapi yang dibutuhkan pada pasien-pasien dengan
keadaan hipoksemia akut, diantaranya pneumonia, PPOK dengan eksaserbasi akut, asma bronkial,
gangguan kardiovaskular, emboli paru. Pada keadaan tersebut, oksigen harus segera diberikan
secara adekuat. Pemberian oksigen yang tidak adekuat akan menimbulkan cacat tetap dan
kematian. Pada kondisi ini, oksigen harus diberikan dengan FiO2 60-100% dalam waktu pendek
sampai kondisi membaik dan terapi yang spesifik diberikan. Selanjutnya oksigen diberikan dengan
dosis yang dapat mengatasi hipoksemia dan meminimalisasi efek samping. Bila diperlukan, oksigen
harus diberi secara terus-menerus.
Untuk pedoman indikasi terapi oksigen jangka pendek terdapat rekomendasi dari The American
College of Chest Physicians dan The National Heart, Lung, and Blood Institute (tabel 4).