HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU

MENGGOSOK GIGI SETELAH SARAPAN DAN SEBELUM
TIDUR PADA ANAK USIA 6-8 TAHUN DI KELURAHAN
SUNGAI BELIUNG PONTIANAK TAHUN 2014
ARTA DEBORAH SIMANJUNTAK
I31110028
USULAN PENELITIAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
2014
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 L!" B#$%&'
Anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun
dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik, psikologis,
sosial, dan spiritual. Anak merupakan individu yang berada dalam dalam satu rentang
perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja (Hidayat, 2012).
ertumbuhan dan perkembangan kesehatan anak yang sehat harus menjadi perhatian
utama masyarakat. erhatian terhadap kesehatan anak merupakan hal yang penting untuk
men!egah masalah kesehatan anak yang semakin meningkat termasuk di "ndonesia
(Hidayat, 200#).
$asalah kesehatan anak dijadikan prioritas dalam upaya pengembangan bangsa,
dikarenakan anak merupakan generasi yang memiliki kemampuan yang dapat
dikembangkan sebagai penerus bangsa (Hidayat, 200#). $asalah yang sering dialami
oleh anak%anak adalah masalah dalam kesehatan gigi dan mulut (&amayanti, 2011). 'leh
karena itu, orang tua merupakan unsur penting dalam pera(atan anak dan juga berperan
penting dalam menangani segala masalah kesehatan anak (Hidayat, 2012).
eran orang tua yang aktif sangat diperlukan dalam perkembangan dan
pertumbuhan anak. eran orang tua yang dimaksud adalah usaha langsung orang tua
terhadap anak seperti membimbing, memberi pengertian, mengingatkan, dan
menyediakan fasilitas kepada anak serta men!iptakan lingkungan rumah sebagai
lingkungan sosial yang pertama dialami anak. )etiap perilaku atau tingkah laku orang tua
yang dilakukan berulang%ulang, maka anak pun akan menirunya dan akan menjadi !iri
kebiasaan anak ()uherman, 2000).
$enjadi orang tua memang bukan pekerjaan mudah, namun penuh anugerah dan
kebahagiaan melihat seorang anak lahir dan tumbuh menjadi besar merupakan
pengalaman yang sangat menakjubkan dan luar biasa. $enjadi orang tua tidak harus
melalui pendidikan formal khusus, harus dari *+ sampai ,niversitas. -amun menjadi
orang tua dapat terjadi tanpa ada latar belakang pendidikannya. ,ntuk menjadi orang tua
yang sukses, orang tua harus mengenal kekuatan dan kelemahan diri dan belajar
mengenali kelemahan dan kekuatan anak%anak (.raha, 200/).
'rang tua juga harus menyadari bah(a pentingnya kunjungan pemeliharaan
kesehatan anak setiap tahunnya, termasuk dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak
2
(otter dan erry, 2010). Apabila anak%anak dalam satu keluarga sehat, tentu karena
orang tua keluarga itu dapat memperhatikan sungguh%sungguh kesehatan anaknya. 0aik
buruk anak ter!ermin dari sikap dan perilaku orang tua terhadap anaknya, termasuk juga
dalam mengurus kesehatan gigi anaknya, misalnya menggosok gigi anaknya. 'leh
karena itu, apabila di dalam satu keluarga gigi anak%anaknya sehat maka boleh diambil
kesimpulan orang tua berhasil menjaga kesehatan keluarganya. &engan kata lain orang
tua yang bijaksana adalah orang tua yang gigi anaknya sehat ($a!hfoeds, 2001).
$enggosok gigi adalah usaha untuk membersihkan gigi dari sisa makanan yang
dapat menyebabkan masalah gigi. $anfaat menggosok gigi antara lain menyingkirkan
plak, men!egah penyakit periodontal, dan menyegarkan napas. +eefektivitan menggosok
gigi berhubungan dengan penatalaksanaan menggosok gigi. enatalaksanaan menggosok
gigi antara lain mengetahui dan menerapkan teknik menggosok gigi yang benar, memilih
sikat dan pasta gigi yang tepat, serta teratur menggosok gigi. enatalaksanaan
menggosok gigi yang benar, mengatasi masalah kesehatan gigi, seperti karies gigi yang
sekarang menjadi salah satu masalah kesehatan gigi terbesar yang dialami oleh seluruh
anak didunia (Anggraeni, 2012).
+aries merupakan penyebab patologi primer atas penanggalan gigi pada anak.
&iperkirakan bah(a 304 dari anak%anak usia sekolah di seluruh dunia dan sebagian
besar orang de(asa pernah menderita karies. &i Amerika )erikat, karies gigi merupakan
penyakit kronis anak%anak yang sering terjadi dan tingkatnya 1 kali lebih tinggi. Anak
usia antara 5%12 tahun atau anak usia sekolah masih kurang mengetahui dan mengerti
memelihara kebersihan gigi dan mulut, terbukti pada angka nasional untuk karies gigi
usia 12 tahun /5,524 (6H', 2002).
$asalah kesehatan gigi di "ndonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting karena prevalensi karies men!apai #04. revalensi karies gigi
anak%anak "ndonesia masih tinggi yaitu sebesar /5,24, dan prevalensi tertinggi terdapat
di 7akarta yaitu sebesar 12,/4 ()+8*, 2001). revalensi nasional masalah gigi%mulut di
"ndonesia adalah 22,14. *erdapat 13 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi%mulut
di atas prevalensi nasional, yaitu -anggroe A!eh &arusalam, 7ambi, 0engkulu, 7a(a
0arat, 7a(a *engah, &" 9ogyakarta, -usa *enggara 0arat, -usa *enggara *imur,
+alimantan *engah, +alimantan )elatan, )ula(esi ,tara, )ula(esi *engah, )ula(esi
)elatan, )ula(esi *enggara, .orontalo, )ula(esi 0arat, $aluku, $aluku ,tara, dan
apua 0arat. revalensi nasional gosok gigi setiap hari adalah 31,14. *erdapat 11
provinsi mempunyai prevalensi gosok gigi setiap hari di ba(ah prevalensi nasional, yaitu
-anggroe A!eh &arussalam, 0ali, -usa *enggara 0arat, -usa *enggara *imur, )ula(esi
3
*engah, )ula(esi )elatan, )ula(esi *enggara, )ula(esi 0arat, $aluku ,tara, apua
0arat dan apua. revalensi nasional (aktu menggosok gigi sesudah sarapan 12,54 dan
sebelum tidur 2#,/4. revalensi perilaku menggosok gigi yang benar /,24 dan yang
tidak benar 32,/4. ada prevalensi nasional karies aktif adalah :2,:4. )ebanyak 1:
provinsi memiliki prevalensi karies aktif di atas prevalensi nasional, yaitu 8iau, 7ambi,
)umatera )elatan, 0angka 0elitung, &" 9ogyakarta, 7a(a *imur, +alimantan 0arat,
+alimantan *engah, +alimantan )elatan, +alimantan *imur, )ula(esi ,tara, )ula(esi
*engah, )ula(esi *enggara, dan $aluku (8")+;)&A) -asional, 200/). ada tahun
2012, prevalensi nasional masalah gigi%mulut di "ndonesia adalah 23,14. revalensi
karies gigi anak dengan usia 1%3 tahun yaitu sebesar 2#,34 dan anak usia 10%1: 21,24.
*erdapat 2 provinsi yang mempunyai prevalensi masalah gigi%mulut tertinggi (<214)
yaitu +alimantan )elatan 25,14, )ula(esi *engah 21,54, dan )ula(esi )elatan 25,24.
revalensi menyikat gigi setiap hari sebesar 32,# dan tertinggi di &+" 7akarta sebesar
3#,14, terendah di apua sebesar :3,54. revalensi nasional (aktu menggosok gigi
pada saat sesudah sarapan 2,#4 dan sebelum tidur 2/,2. revalensi nasional menggosok
gigi dengan benar sebesar 2,24, prevalensi provinsi tertinggi di )ula(esi 0arat #,04 dan
terendah di =ampung 0,:4. revalensi karies gigi anak dengan usia 1%3 tahun yaitu
sebesar 21,54 dan anak dengan usia 10%1: tahun yaitu sebesar 20,54 (8")+;)&A)
-asional, 2012).
revalensi orang dengan pengalaman karies anak di +alimantan 0arat yaitu
sebesar /1,14 dan prevalensi karies aktif 1/,24. revalensi perilaku menggosok gigi
setiap hari di +alimantan 0arat 32,14 dan prevalensi menyikat gigi yang benar 10,54
(8")+;)&A) -asional, 200/). revalensi masalah gigi%mulut di +alimantan 0arat pada
tahun 2012 sebesar 20,54, prevalensi anak dengan umur 1%3 tahun sebesar 2#,34 dan
anak dengan umur 10%1: tahun 21,24. revalensi perilaku menggosok gigi setiap hari
3:,14 dan prevalensi menyikat gigi yang benar 2,14 (8")+;)&A) -asional, 2012).
&ata &inas +esehatan +ota ontianak tahun 2011 menunjukkan bah(a anak umur
1%3 tahun yang mengalami keluhan karies gigi sejumlah 231 orang anak dan anak umur
10%1: tahun sejumlah 12: orang anak. ada tahun 2012 anak umur 1%3 tahun yang
mengalami keluhan karies gigi sejumlah 252 orang anak dan anak umur 10%1: tahun
sejumlah 101 orang anak. ada tahun 2012 anak umur 1%3 tahun yang mengalami
keluhan karies gigi sejumlah 211 orang anak dan anak umur 10%1: tahun sejumlah /1:
orang anak. $enurut &inas +esehatan rovinsi +albar (2002), revalensi karies gigi di
rovinsi +alimantan 0arat men!apai 33,04. &alam penelitian 8usmali (2010),
4
prevalensi karies gigi anak di +ota ontianak tahun 2010 men!apai 1/,04. >rekuensi
menyikat gigi anak di +ota ontianak, yaitu menyikat gigi 1? sehari sebanyak :,14,
menyikat gigi 2? sehari sebanyak 1#,14 dan menyikat gigi 2? sehari 2/,04.
&ata uskesmas erumnas "" +elurahan )ungai 0eliung ontianak tahun 2011
menunjukkan bah(a anak umur 1%3 tahun yang berkunjung dengan keluhan karies gigi
sejumlah 251 orang anak dan anak umur 10%1: tahun sejumlah 113 orang anak. ada
tahun 2012 anak umur 1%3 tahun yang berkunjung dengan keluhan karies gigi sejumlah
12: orang anak dan anak umur 10%1: tahun sejumlah 1/: orang anak. ada tahun 2012
anak umur 1%3 tahun yang berkunjung dengan keluhan karies gigi sejumlah 205 orang
anak dan umur 10%1: tahun sejumlah 152 orang anak.
ada penelitian sebelumnya oleh =istio(ati (2003), memperoleh hasil bah(a
terdapat hubungan bermakna antara peran orang tua terhadap pera(atan gigi dengan
perilaku menggosok gigi sebelum tidur pada anak di *+ Al%>irdaus $ranggen &emak
)emarang. 0erdasarkan fenomena karies gigi yang terjadi, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang hubungan peran orang tua dengan perilaku menggosok gigi
setelah sarapan dan sebelum tidur pada anak usia 5%# tahun di +elurahan )ungai 0eliung
ontianak. Alasan peneliti mengambil penelitian anak yang berusia 5%# tahun, karena
anak usia sekolah khususnya anak )& yang berusia 5%# tahun merupakan usia yang
rentan mengalami karies. +arena pada periode tersebut gigi permanen dan gigi susu
berada di dalam mulut bersamaan. &an pada usia 5%# tahun gigi anak akan berganti
menjadi gigi permanen, sehingga butuh perhatian khusus oleh orang tua dalam
melakukan pera(atan gigi anak, khususnya dalam perilaku menggosok gigi.
1.2 P#"()(*& M*$+
+aries merupakan penyakit yang paling sering ditemukan dalam masyarakat, dan
dapat ditemukan pada anak usia dini. +aries gigi yang masih besar khususnya di +ota
ontianak yang men!apai 1/,04 pada tahun 2010 membuat orang tua harus lebih displin
lagi dalam melakukan pera(atan gigi anak, khusunya dalam perilaku menggosok gigi.
'leh karena itu, rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada hubungan peran
orangtua dengan perilaku menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur pada anak
usia 5%# tahun di +elurahan )ungai 0eliung ontianak.
1.3 T(,(&
1.2.1 *ujuan umum
,ntuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan perilaku menggosok
gigi setelah sarapan dan sebelum tidur pada anak usia 5%# tahun di +elurahan
)ungai 0eliung ontianak
1.2.2 *ujuan +husus
5
1) $engetahui peran orang tua dalam perilaku menggosok gigi di +elurahan
)ungai 0eliung ontianak
2) $engetahui perilaku menggosok gigi anak usia 5%# tahun di +elurahan )ungai
0eliung ontianak
2) $enganalisis hubungan peran orang tua dengan perilaku menggosok gigi pada
anak usia 5%# tahun di +elurahan )ungai 0eliung ontianak.
1.4 M&-! P#&#$.!.&
Adapun manfaat penelitian ini adalah@
1.:.1 0agi 'rang *ua
$enambah pengetahuan orang tua tentang pera(atan gigi anak, dalam hal
membimbing dan memberi pengertian, mengingatkan, serta menyediakan
fasilitas kepada anak agar dapat memelihara kesehatan gigi.
1.:.2 0agi )ekolah
$emberikan informasi tambahan kepada sekolah untuk meningkatan
pembelajaran tentang pera(atan gigi kepada sis(a serta menumbuhkan kesadaran
akan pentingnya kesehatan gigi.
1.:.2 0agi etugas +esehatan
$enjadi salah satu bahan informasi dalam penanganan pera(atan gigi anak.
1.:.: 0agi eneliti
$enambah informasi tentang pera(atan gigi pada anak dan peran orang tua
terhadap perilaku menggosok gigi pada anak. )elain itu, sebagai pengalaman
belajar dalam kegiatan penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 P#"& O"&' T(
2.1.1 engertian
eran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai
dengan posisi sosial yang diberikan baik se!ara formal maupun se!ara informal.
eran didasarkan pada ketentuan dan harapan peran yang menerangkan apa yang
individu%individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi
harapan%harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran%peran
tersebut ( >riedman, 133#). $enurut )oekanto (1330), eran adalah aspek dinamis
6
dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan ke(ajibannya
sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran.
'rang tua merupakan seorang atau dua orang ayah ibu yang bertanggung
ja(ab pada keturunannya semenjak terbentuknya hasil pembuahan (6idnaningsih,
2001). 'rang tua adalah tokoh panutan anak, maka diharapkan orang tua dapat
ditiru, sehingga anak yang bersekolah pun sudah mau dan mampu menyikat gigi
dengan baik dan teratur melalui orang tuanya ($aulani, 2001).
)alah satu tugas dan peran orang tua yang tidak dapat dipindahkan adalah
mendidik anaknya. )ebab orang tua memberi hidup anak, maka mereka
mempunyai ke(ajiban yang teramat penting untuk mendidik anak mereka. 7adi,
tugas sebagai orang tua tidak hanya sekadar menjadi perantara makhluk baru
dengan kelahiran, tetapi juga memelihara dan mendidiknya, agar dapat
melaksanakan pendidikan terhadap anaknya, maka diperlukan adanya beberapa
pengetahuan tentang pendidikan ($aulani, 2001).
2.1.2 $a!am%ma!am eran
Ada dua ma!am peran, yaitu @
1. eran >ormal
eran formal merupakan peran yang membutuhkan keterampilan dan
kemampuan tertentu dalam menjalankan peran tersebut. eran formal yang
standar yaitu terdapat seorang ayah dan ibu yang memiliki tugas dan peran
masing%masing. Ayah sebagi pen!ari nafkah dan ibu sebagai pengatur ekonomi
keluarga dan disamping itu juga terdapat tugas pokoknya sebagai ibu yaitu
sebagai pengasuh anak. 7ika salah satu anggotanya tidak memenuhi peran
tersebut, maka untuk memenuhi suatu peran tersebut diantaranya harus
mengambil alih peran tersebut agar semua peran tetap berfungsi (>riedman,
133#).
2. eran "nformal
eran informal mempunyai tuntutan yang berbeda, tidak terlalu
didasarkan pada usia, jenis kelamin, tetapi lebih berdasarkan pada personalitas
atau kepribadian individu. 7ika pelaksanaan peran informal efektif maka dapat
mempermudah pelaksanaan peran%peran formal (>riedman, 133#).
2.1.2 >aktor yang mempengaruhi peran
1. >aktor kelas sosial
$enurut -otoatmodjo (2002), mengemukakan bah(a kelas sosial
ditentukan oleh unsur%unsur seperti pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan.
9ang dimana semakin tinggi status sosial, maka semakin tinggi kelas sosial
nya, dikarena terpenuhinya semua kebutuhan yang diperlukan.
7
ada keadaan status ekonomi yang kurang, peran sang ibu penting dalam
hal ini. "bu lebih bersifat tradisional padangannya terhadap mengasuh anak
dengan suatu penekanan yang lebih besar pada kehormatan, kedisplinan, dan
kepatuhan serta kebersihan. &ibandingkan dengan keluarga menengah atas
yang lebih menitik beratkan pada pengembangan pengendalian kekuatan
sendiri dan kemandirian prinsip perkembangan dan psikologi antara orang tua
dan anak (>riedman, 133#).
2. >aktor bentuk keluarga
*ahap pengembangan keluarga dimulai dari terjadinya pernikahan dan
saling menyatukan dua pribadi yang berbeda, dan akan melanjutkan ke tahap
pesiapan menjadi orang tua. ada setiap individu peran yang berbeda sesuai
dengan keadaan (>iredman, 133#).
2. >aktor model peran
"ndividu merupakan bagian dari masyarakat, informasi yang diterima
individu terkait dengan masalah sehari%hari dalam masyarakat akan
menyebabkan masalah peran pada diri individu tersebut sehingga akan terjadi
trasisi peran dan konflik peran (>riedman, 133#)
:. >aktor peristi(a situasional khususnya khususnya masalah kesehatan
ada kehidupan situasional yang berhadapan dengan keluarga dengan
pengaruh sehat%sakit terhadap peran keluarga. eran sentral ibu sebagai
pembuat keputusan tentang kesehatan utama, pendidik, konselor, dan pemberi
asuhan keluarga (>iredman, 133#).
2.1.: eran orang tua terhadap pera(atan gigi anak
Anak%anak memang masih dalam taraf memerlukan bimbingan yang ketat,
orang tua memerlukan kesabaran yang luar biasa dan kebijaksanaan yang
sempurna. Anak%anak umumnya senang mengonsumsi permen, padahal permen
adalah musuh gigi anak%anak. Artinya, apabila anak%anak terlalu banyak makan
permen dan jarang membersihkan segera setelah mengulum permen, maka giginya
akan banyak kariesnya. 'leh karena itu harus dibatasi anak%anak mengonsumsi
permen atau !okelat manis yang sangat mudah menempel di sela%sela gigi
($a!hfoedA, 2001).
Anak%anak bealum dapat menggosok gigi se!ara benar dan mungkin saja
malah tidak mau. $aka dari itu, harus di!ari !ara agar anak senang menggosok
gigi. Baranya dapat dilakukan ketika masih usia gigi anak tumbuh, yakni setelah
8
usia enam bulan, mulai diperlihatkan !ara menggosok gigi. 0ila ayah atau ibu
sedang menggosok gigi, ajaklah anak untuk melihat ($a!hfoedA, 2001).
$enggosok gigi anak merupakan salah satu !ara paling baik dan efektif
untuk men!egah karies gigi dan memelihara kesehatan gigi anak. $enggosok gigi
merupakan membersihkan gigi dari partikel makanan, plak, bakteri dan
mengurangi ketidaknyamanan dari bau dan rasa yang tidak nyaman (otter, 2001).
0eberapa hal yang harus diperhatikan didalam menerapkan teknik
pemeliharaan kesehatan gigi pada anak usia sekolah dasar adalah @
1. 6aktu yang tepat untuk menggosok gigi
$enggosok gigi yang tepat (aktunya ialah sesudah makan dan sebelum
tidur. +ebiasaan menggosok gigi pagi pada saat mandi saja sangat tidak
dianjurkan, sebab sesudah menggosok gigi pagi disaat mandi, orang akan makan
pagi. )etelah makan pagi, jika hanya dilakukan dengan kumur%kumur saja akan
kotor. +uman paling aktif dapat merusak email gigi sekitar setengah jam sejak
saat selesai makan. ada saat itu sisa makan akan segera dirubah oleh kuman
menjadi asam yang dapat melunakkan email tersebut ($a!hfoedA, 2001).

$aulani (2001) mengemukakan bah(a menggosok gigi setelah sarapan
khususnya makanan karbohidrat, akan mengalami fermentasi atau peragian
terhadap glukosa. Hasilnya berupa senya(a bersifat asam dan membuat
lingkungan sekitar gigi bersuasana asam. &alam beberapa menit derajat
keasaman tadi akan meningkat atau pH%nya turun. 7ika berlanjut, penurunan
nilai pH kritis yaitu nilai pH yang dapat memi!u hilangnya garam kalsium pada
email gigi sebagai penyebab gigi berlubang. -amun ada bakteri yang bernama
Veillonella alcalescens, akan merusak kembali senya(a asam tersebut. )etelah
beberapa (aktu, pH plak akan berangsur naik kembali men!apai ph normal.
)etelah 20%20 menit setelah makan, pH akan kembali normal. $asa 20%20 menit
setelah kita menyantap makanan yang mengandung karbohidrat (mengandung
gula) merupakan saat%saat yang sangat rentan untuk terjadinya kerusakan gigi.
$enggosok gigi yang benar adalah sekitar setengah jam sesudah sarapan dan
frekuensi menyikat gigi yang baik adalah minimal dua kali sehari, pagi 20 menit
setelah sarapan pagi dan malam hari sebelum tidur ($aulani, 2001).
2. $engajarkan anak syarat%syarat memilih sikat gigi yang baik.
$emilih sikat gigi anak juga harus disesuaikan keadaan gigi anak. Apabila
gigi dan rahangnya ke!il, orang tua dapat memilih sikat gigi dengan bulu yang
9
pendek dan sempit. -amun apabila gigi dan rahangnya agak besar, orang tua
memiliki sikat gigi dengan bulu yang lebih lebar dan lebih sesuai. )ikat gigi
yang !o!ok untuk anak adalah sikat gigi dengan bulu nilon yang lembut atau
ujung bulunya membulat karena bulu sikat gigi dan ujung yang kasar dapat
melukai gusi sedangkan anak masih belajar melakukan kontrol terhadap sikat
giginya.
)ikat gigi anak diganti setidaknya 2 bulan sekali atau segera ganti jika bulu
sikat gigi sudah melebar. )ikat gigi anak lebih !epat rusak karena mereka masih
dalam proses berlatih, sehingga kadangkala tekanan sikat gigi berlebihan
membuat bulunya menjadi lebih !epat rusak dan melebar. )ikat gigi tidak boleh
dipakai bersama%sama atau berganti%ganti. 7adi jika mempunyai anak lebih dari
satu, tentukan (arna masing%masing kesukaan anak dan 2 bulan kemudian
diganti ataupun bila bulu sikat gigi sudah melebar. 'rang tua berperan
mengingatkan anak menggosok giginya sendiri, sehingga disaat orang tua lupa,
anak dapat menggosok giginya sendiri dengan tepat ($aulani, 2001). 0ila anak
sudah mulai menggosok giginya sendiri, orang tua harus menga(asi sesekali
(aktu sikat gigi anak. )eringkali sisa pasta gigi mengendap pada dasar bulu
sikat gigi. )etelah sikat gigi bersih, letakkan sikat dengan bulu di atas, sehingga
memungkinkan air mengalir keba(ah dan bulu sikat !epat kering. &engan
mengajak anak dalam memilih dan membeli pasta gigi dan sikat gigi
kesukaannya, motivasi anak akan meningkat dan ia akan rajin membersihkan
gigi setiap hari dengan sikat gigi kesayangannya tersebut ($aulani, 2001).
$enurut $a!hfoedA (2001), )ikat gigi yang baik memenuhi syarat%syarat
sebagai berikut yaitu @
a. *angkai lurus dan mudah dipegang
b. +epala sikat gigi ke!il, sikat gigi besar tidak dapat masuk ke bagian%bagian
yang sempit dan dalam
!. 0ulu sikat gigi harus lembut dan data
2. $emberikan pasta gigi yang baik
)aat ini pasta gigi untuk anak%anak ada dalam berma!am%ma!am (arna
dan rasa dengan bentuk gel bening maupun pasta. ,ntuk anak yang belum bisa
berkumur dan meludah, bisa dipilihkan pasta gigi yang tidak mengandung fluor.
7ika sudah bisa meludah dan bisa membuang kumurnya, anak boleh diberi pasta
gigi yang mengandung flour. asta gigi anak yang mengandung fluor sebanyak
204 dari kandungan fluor pasta gigi de(asa. 'rang de(asa menggunakan 0,20
gr pasta gigi sekali pakai, sedangkan pada anak%anak sepertiganya. &iperkirakan
10
214%224 anak menelan pasta gigi se(aktu menyikat giginya, sehingga
kemungkinan anak menelan fluor adalah sebanyak 0,1%0,5 mg>Chari.
erlu perhatian orang tua untuk menga(asi anaknya dalam menyikat gigi,
karena pasta gigi anak yang Aaman sekarang sudah banyak beraneka rasa, jadi
memungkin anak akan memakan pasta giginya. *erlalu banyak menelan pasta
gigi dapat membahayakan anak. 7adi pasta gigi yang dipilih berdasarkan
kebutuhan dan usia anak dan dia(asi oleh orang tua ($aulani, 2001).
:. $engajarkan anak !ara menggosok gigi yang benar
ada dasarnya menggosok gigi yang benar adalah menyikat semua
permukaan gigi sampai bersih dan plak juga hilang sempurna. .erakan menyikat
gigi pelan%pelan, dan bersihkan salah satu sisi dulu baru berpindah ke sisi lain
($a!hfoedA, 2001). *ujuan menggosok gigi adalah untuk membersihkan sisa
makanan yang menempel pada gigi. $enggosok gigi yang benar dilakukan
dengan menyikat seluruh permukaan gigi, atas, ba(ah, depan, belakang untuk
menghilangkan plak ($aulani, 2001).
$elakukan gosok gigi sebaiknya dilakukan selama 2 menit supaya air
ludah juga dapat keluar dan membersihkan kantong gusi yang terletak di
perbatasan gigi dan gusi. +antong gusi ini mempunyai kedalaman normal 2%:mm
yang perlu juga dibersihkan untuk men!egah makanan menempel di sela%sela
gigi. +emiringan bulu sikat gigi sebesar :1D pada daerah kantong gusi dapat
membantu bulu sikat gigi yang masuk ke dalam kantong gusi untuk melakukan
pembersihan yang maksimal. )elain melakukan penyikatan gigi dengan bulu
sikat dengan kemiringan :1D, jangan lupa menyikat permukaan gigi yang
menghadap ke lidah dan permukaan gigi yang menghadap ke langit%langit mulut.
)etelah menggosok gigi, sikat pula lidah karena lidah ini permukaannya tidak
rata dan bisa menyimpan sisa%sisa makanan yang menimbulkan bau. 0erkumur
yang baik sebanyak sekali saja untuk membantu fluor yang terdapat pada pasta
gigi tetap tertinggal lebih lama di dalam gigi dan rongga mulut. )ikat gigi
terpantau dengan pasta gigi yang mengandung fluorida pada anak%anak sekolah
dasar dapat menurunkan kejadian karies 124%:04 ($aulani, 2001).
*eknik menggosok gigi anak usia sekolah dasar menurut )rigupta (200:),
meliputi membersihkan permukaan dalam dan luar dari gigi bagian atas dengan
gerakan memutar ke ba(ah, lalu membersihkan permukaan dalam dan luar dari
gigi bagian ba(ah dengan gerakan memutar ke atas selanjutnya membersihkan
permukaan gigi depan bagian dalam dengan gerakan dari dalam ke luar. )etelah
11
itu bersihkan juga permukaan gigi geraham bagian atas dan ba(ah yang
digunakan untuk mengunyah dengan gerakan dari belakang ke depan lalu dari
dalam keluar dan dari luar ke dalam.
1. $engajarkan anak !ara menyimpan sikat gigi yang benar
)esudah menggosok gigi, sikat gigi yang digunakan harus di!u!i bersih.
0ila diletakkan begitu saja maka air yang terdapat di sikat gigi tersebut tidak
segera kering dan kuman yang tinggal akan berkembang biak. *etapi bila
digantung maka sikat gigi akan segera kering dan bersih dari kuman. *empat
yang basah memungkinkan kuman menempel dan berkembang biak
($a!hfoedsA, 2001).
.ambar 2.1
2.2 P#".$%(
2.2.1engertian
erilaku manusia (human behaviour) merupakan sesuatu yang penting dan
perlu dipahami se!ara baik. erilaku manusia men!akup dua komponen, yaitu
sikap atau mental dan tingkah laku. )ikap atau mental merupakan sesuatu yang
melekat pada diri manusia. )ikap diartikan sebagai reaksi manusia terhadap suatu
keadaan atau peristi(a, sedangkan tingkah laku merupakan perbuatan tertentu dari
12
manusia sebagai reaksi terhadap keadaan atau situasi yang dihadapi (Herijulianti,
2001).
engertian perilaku dari segi biologis dapat diartikan sebagai suatu kegiatan
atau aktivitas organisme. Adapun perilaku manusia dapat di artikan sebagai
aktivitas manusia yang sangat kompleks sifatnya, antara lain perilaku dalam
berbi!ara, berpakaian, berjalan dan sebagainya. erilaku ini umunya dapat dinilai
oleh orang lain, atau biasa disebut internal activities seperti persepsi, emosi,
pikiran dan motivasi (Herijulianti, 2001).
2.2.2 rosedur embentukan erilaku
)ebagian besar perilaku manusia adalah operant respons. 'leh karena itu,
untuk membentuk jenis respon atau perilaku perlu di!iptakan suatu kondisi yang
disebut operant conditioning (dengan menggunakan urutan%urutan komponen
penguat berupa hadiah atau reward).
roses pembentukan perilaku dalam operant conditioning menurut )kiner
dalam )unaryo (200:), adalah sebagai berikut @
a. $elakukan pengenalan terhadap sesuatu sebagai penguat, berupa hadiah atau
reward
b. $elakukan analisis untuk mengidentifikasi bagian%bagian ke!il pembentuk
perilaku yang diinginkan, selanjutnya disusun dalam urutan yang tepat menuju
terbentuknya perilaku yang diinginkan
c. $enggunakan bagian%bagian ke!il perilaku seperti sebagai berikut @
% 0agian%bagian perilaku disusun se!ara urut dan dipakai sebagai tujuan
sementara
% $engenal penguat atau hadiah untuk masing%masing bagian
% $embentuk perilaku terhadap bagian%bagian yang telah disusun
% 7ika bagian perilaku utama telah dilakukan, hadiah akan diberikan sehingga
tindakan tersebut sering dilakukan. &an akhirnya akan dibentuk perilaku
kedua dan seterusnya sampai terbentuk perilaku yang diharapkan
2.2.2 Biri%Biri erilaku
&ikutip dari )ar(ono (13#2) dalam )unaryo (200:), Biri%!iri perilaku
manusia disbanding dengan makhluk lain yaitu @
1. +epekaan sosial
+epekaan sosial merupakan kemampuan manusia untuk dapat
menyesuaikan perilakunya sesuai pandangan dan harapan orang lain. $anusia
adalah makhluk sosial yang dalam hidupnya perlu ka(an dan bekerja sama
dengan orang lain. erilaku manusia adalah perilaku situsional, artinya perilaku
manusia akan berbeda pada situasi yang berbeda.
13
2. +elangsungan erilaku
+elangsungan perilaku artinya antara perilaku yang satu ada kaitannya
dengan perilaku orang lain, perilaku sekarang adalah kelanjutan perilaku yang
baru lalu, dan seterusnya. &alam kata lain bah(a perilaku manusia terjadi
se!ara berkesinambungan.
2. 'rientasi pada tugas
'rientasi tugas ini merupakan setiap perilaku selalu memiliki orientasi
pada suatu tugas tertentu. Biri perilaku yang terkahir adalah usaha dan
perjuangan.
:. ,saha dan perjuangan
,saha dan erjuangan pada manusia telah dipilih dan ditentukan sendiri
serta tidak akan memperjuangkan sesuatu yang memang tidak ingin
diperjuangkan. 7adi, sebenarnya manusia memiliki !ita%!ita yang ingin
diperjuangkannya, sedangkan he(an hanya berjuang untuk mendapatkan
sesuatu yang sudah terdapat di alam.
2.2.: 7enis%7enis erilaku
$enurut $aulana (2003) memaparkan perilaku dilihat dari bentuk respon
terhadap stimulus, maka perilaku dibedakan menjadi dua, yaitup erilaku tertutup
(Convert behaviour) dan perilaku terbuka (Overt behaviour).
1. erilaku tertutup (Convert behaviour) adalah respon seseorang terhadap
stimulus sifatnya masih tertutup (convert). 8espon ini masih terbatas terhadap
perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada
orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati jelas oleh
orang lain.
2. erilaku terbuka (Overt behaviour) adalah respon seseorang terhadap stimulus
bersifat terbuka atau dalam bentuk tindakan nyata, serta dapat dengan muda
diamati jelas oleh orang lain.
2.2.1 >aktor yang $empengaruhi erilaku
&alam menganalisis perilaku manusia dari segi kesehatan orang dipengaruhi
oleh dua faktor yaitu dari dalam perilaku dan dari luar perilaku. &an perilaku
terbentuk dari dua faktor, yaitu@
1. >aktor predisposisi
*erbentuknya suatu perilaku dimulai dari cognitive domain dalam arti
subyek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi tentang
pera(atan gigi sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subyek tersebut
selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subyek terhadap
pengetahuan tentang pera(atan gigi. engetahuan, sikap, praktek atau tindakan
14
terhadap pera(atan gigi diharapkan akan membentuk perilaku subyek terhadap
pera(atan gigi ($aulana, 2003).
a.engetahuan
$enurut -otoatmodjo (200/), pengetahuan adalah merupakan hasil
dari EtahuF dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek
tertentu. enginderaan terjadi melalui pan!a indera manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, pen!iuman, rasa dan raba. engetahuan juga
merupakan domain (ka(asan) yang penting untuk terbentuknya pera(atan
gigi yaitu tingkat pengetahuan.
engetahuan yang !ukup dalam cognitive domain, mempunyai enam
tingkatan, yaitu yang pertama adalah tahu (know) yang artinya mengingat
suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. *ermasuk kedalam
pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap materi pera(atan
gigi serta tindakan dalam perilaku menggosok gigi yang telah diterima. yang
kedua adalah memahami (comprehension) , mempunyai arti yaitu suatu
kemampuan untuk menjelaskan atau mempraktekan se!ara benar tentang
perilaku menggosok gigi. yang ketiga adalah aplikasi (application), diartikan
sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tentang penting
menggosok gigi. selanjutnya yang keempat adalah analisis (analisys), suatu
kemampuan dalam menghubungkan dan menguraikan seluruh materi
tersebut. &an yang terakhir membuat dan mengevaluasi (evaluation), dalam
hal ini berkaitan dengan suatu kemapuan untuk melakukan tindakan dan
penilaian terhadap materi tersebut.
b. )ikap
)ikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. )ikap
belum merupakan tindakan atau reaksi terbuka, akan tetapi merupakan
predisposisi perilaku (tindakan) atau disebut dengan reaksi tertutup. )ikap
terhadap pentingnya menggosok gigi merupakan respon yang masih tertutup
dari seseorang terhadap materi pera(atan gigi. )ikap juga merupakan
kesiapan untuk bereaksi terhadap pengetahuan tentang pentingnya pera(atan
gigi dalam hal menggosok gigi. enghayatan terhadap pengetahuan ini
meliputi komponen pokok untuk pera(atan gigi,yaitu keper!ayaan, ide,
konsep. ketiga komponen ini bersama%sama membentuk sikap yang utuh
(-otoatmodjo, 2002).
15
!. *indakan atau praktek
)ikap erat hubungannya dengan tindakan atau praktek. )uatu sikap tiak
se!ara otomatis ter(ujud dalam suatu tindakan atau praktek. untuk
me(ujudkan suatu sikap menjadi suatu tindakan atau perbuatan nyata, maka
diperlukan faktor pendukung, antara lain fasilitas dan dukungan (support).
)uatu tindakan atau praktek memiliki tingkatan diantaranya, persepsi
(perception), respon terpimpin (Guided response), mekanisme (mechanism)
dan adopsi (adoptation). &alam persepsi (perception), mengenal dan memilih
berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil merupakan
praktek tingkat pertama, sedangkan pada respon terpimpin (Guided response)
melakukan sesuatu dengan sesuatu yang benar dan sesuai dengan !ontoh,
misalnya dapat melakukan menggosok gigi dengan urutan yang benar dan
sesuai !ontoh, ini merupakan praktek atau tindakan tingkat kedua.
selanjutnya pada mekanisme (mechanism) berarti dapat melakukan sesuatu
dengan benar se!ara otomatis dan tanpa paksaan, misalnya anak dapat
menggosok gigi tanpa disuruh atau tanpa paksaan orang tuanya lagi. maka
dari itu jika ter!ipata tindakan tersebut maka ter!apailah praktek atau
tindakan tingkat ketiga. *ingkatan yang terakhir adalah adopsi (adoptation),
yaitu suatu tindakan atau suatu praktik yang sudah berkembang dengan baik.
Hal ini berarti tindakan tersebut telah dimodifikasi tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut (-otoatmodjo, 2002).
2. >aktor pendorong
$enurut .reen (13#0) dalam $aulana (2003), $engemukakan bah(a
faktor pendorong memungkinkan terjadinya perilaku. Hal ini berupa
lingkungan fisik, fasilitas kesehatan serta peran keluarga,terutama orang tua,
guru, dan petugas kesehatan berpengaruh pada perilaku individu. ,ntuk
bertindak dalam men!apai suatu tujuan ter(ujudnya perilaku anak yang baik,
maka harus saling bahu membahu agar ter!iptanya kerjasama yang baik antara
pihak rumah atau keluarga dengan sekolah yang akan mendukung anak dalam
memperoleh pengalaman yang hendak diran!ang. =ingkungan yang yang akan
mendorong proses belajar melalui penjelajah dan penemuan untuk terjadinya
suatu perilaku
2.3 P#"/!& G.'.
2.2.1 .igi )usu
16
ertumbuhan gigi sendiri dimulai dengan mun!ulnya gigi susu. $asa
pertumbuhan gigi susu berbeda pada setiap anak. $un!ulnya gigi susu normal
pertama kali antara usia :%5 bulan dan paling lambat antara 20%25 bulan. .igi akan
tumbuh se!ara lengkap sejumlah 20 buah gigi, yaitu 10 gigi atas, 10 gigi ba(ah.
erbedaan gigi susu dan gigi tetap adalah gigi susu ber(arna lebih putih dan relatif
berukuran ke!il dibandingkan gigi tetap. .igi susu satu dengan lainnya memiliki
letak renggang di dalam rongga mulut karena sebagai persiapan tempat gigi tetap
yang berukuran lebih besar.)ehingga gigi tetap rapat satu sama lain. ergantian
dapat digolongkan menjadi 2 periode berbeda,yaitu periode gigi susu( 0%1 tahun ),
periode gigi ber!ampur (5%1: tahun ), periode gigi tetap (di atas 1: tahun)
($aulani, 2001).
$asa pembentukan gigi susu sangat perlu di perhatikan karena merupakan
masalah yang rentan. $aka perlu perhatian orang tua dalam pera(atan gigi anak,
terutama pada tahap gigi susu. )ekitar usia 1 tahun atau dalam jangka (aktu 5
bulan setelah gigi pertamanya tumbuh. )etelah itu setidaknya rutin memeriksakan
giginya ke dokter gigi setahun sekali. &an ketika gigi pertamanya sudah tumbuh,
orang dapat melakukan pera(atan gigi susu anak dengan menyikat gigi anak. ilih
sikat gigi dengan kepala yang ke!il dan bulu sikat dengan ujung membulat yang
lembut. 0iasakan menyikat gigi dua kali sehari, setelah sarapn dan malam minimal
selama 2 menit. )aat ia sudah berusia 1# bulan, sebelum usia tersebut
membersihkan gigi !ukup dengan sikat gigi lembut dan air. +etika anak sudah
berusia 5 tahun anak dapat menggunakan pasta gigi biasa.
2.2.2 .igi *etap
)ebelum gigi menjadi menjadi gigi tetap, anak mele(ati periode gigi
ber!ampur yang terjadi pada anak usia 5%1: tahun. .igi ber!ampur keadaan
dimana gigi susu mulai tanggal dan gigi tetap mulai tumbuh. &alam kondisi gigi
baik (tidak berlubang) gigi susu akan tanggal dengan sendirinya mulai usia 1%5
tahun, diikuti pertumbuhan gigi tetapnya mulai usia 5%/ tahun untuk menggantikan
gigi%gigi susu dan akan lengkap hingga berjumlah 2# gigi pada usia 12%12 tahun.
era(atan pada gigi tetap seharusnya tidak luput juga dari perhatian orang tua,
karena apabila gigi tetap mengalami kerusakan akibat gigi berlubang maka harus
dilakukan pen!abutan. gigi tetap ini tidak akan ada gigi penggantinya yang akan
tumbuh. ,ntuk mengatasi masalah ini hanya dapat dilakukan pera(atan ortodontik
untuk dapat merapikan gigi%gigi yang tidak rapi dan prostetik yaitu mengganti
17
dengan gigi tiruan dan melakukan sikat gigi 2 kali sehari, setelah sarapan dan
sebelum tidur untuk men!egah karies gigi ($aulani, 2001).
2.4 K#"&'% T#0".
)kema 2.1 +erangka *eori enelitian

)umber @ -otoatmodjo. 2001. romosi +esehatan *eori dan Aplikasi.7akarta@;.B
2.1 H.20!#*.*
Ho @ *idak ada Hubungan antara peran orang dengan perilaku menggosok gigi
pada anak usia 5%# tahun di erumnas "" ontianak
Ha @ Ada Hubungan antara peran orang dengan perilaku menggosok gigi
pada anak usia 5%# tahun di erumnas "" ontianak
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 J#&.* P#&#$.!.&
18
>aktor predisposisi@
% engetahuan
% )ikap
% *indakan atau praktek
P#".$%( M#&''0*0% G.'. S#!#$+
S"2& 3& S#4#$() T.3("
>aktor endukung @
% =ingkungan
% >asilitas +esehatan
% P#"& O"&' !(
7enis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif karena peneliti harus
mendefinisikan variabel penelitian dan melakukan analisis atas data yang diperoleh
(&anim, 2002).
3.2 D#*.& P#&#$.!.&
8an!angan penelitian ini berupa penelitian deskriptif analitik yang merupakan
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel (&ahlan, 2010).
9aitu variabel independen (peran orang tua) dan variabel dependen (perilaku menggosok
gigi setelah sarapan dan sebelum tidur). &esain penelitian ini dilakukan dengan
pendekatan crosssectional yang menekankan (aktu pengukuran data variabel dependen
dan independen hanya satu kali pada suatu saat yang sama (-ursalam, 2011).
3.3 P02($*. 3& S)2#$
3.3.1 P02($*.
opulasi adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (-ursalam,
2011). opulasi dalam peneltian ini adalah seluruh orang tua yang memiliki anak yang
berumur 5%# tahun di +elurahan )ungai 0eliung. Adapun jumlah anak usia 5%# tahun di
+elurahan )ungai 0eliung berjumlah 2.250 orang.
3.3.2 S)2#$
)ampel adalah bagian dari populasi yang dapat digunakan sebagai subjek
penelitian (-ursalam, 2011). )ampel penelitian dalam penelitian ini adalah orang tua
yang memiliki anak usia 5%# tahun di +eluarahan )ungai 0eliung.
)ampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik !robability
"ampling dengan menggunakan ran!angan simple random sampling yang dimana teknik
ini dilakukan berdasarkan suatu pertimbangan tertentu yang dibuat peneliti sendiri.
$enurut -ursalam (2011), besar sampel dapat dihitung dengan menggunakan rumus @
+eterangan @
19
n @ 7umlah sampel
- @ 7umlah opulasi
d @ *ingkat +eper!ayaan C tingkat ketepatan yang di inginkan (0,01)
&iketahui @
- @ 2250
d @ 0,01
Bara menghitung sampel @
233,## G :00
7adi, besar sampel yang dibutuhkan dari hasil perhitungan sejumlah 3/ responden
(:00 responden "bu dan :00 responden anak)
3.4 K".!#". S)2#$ P#&#$.!.&
3.4.1 K".!#". I&%$(*.
a. 'rang tua yang memiliki anak usia 5%# tahun
b. Anak dengan usia 5%# tahun
!. 0ersedia menjadi responden
3.4.2 K".!#". E%*%$(*.
a. *idak mengisi kuisoner se!ara lengkap
b. *idak bisa ba!a tulis
3.1 K#"&'% K0&*#2 P#&#$.!.&
20
+erangka +onsep penelitian digambarkan dalam bagan sebagai berikut @
)kema 2.1 +erangka +onsep
V".4#$ I&3#2#&3#& V".4#$ D#2#&3#&
3.6 V".4#$ P#&#$.!.&
3.6.1 V".4#$ D#2#&3#& 5V".4#$ T#".%!6
Hariabel dependen atau variabel terikat adalah suatu variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat karena variabel bebas, dengan kata lain dependen merupakan
variabel akibat atau efek (Hidayat, 2011). Hariabel terikat (variabel yang
dipengaruhi) dalam penelitian ini adalah perilaku menggosok gigi setelah sarapan
dan sebelum tidur anak usia 5%# tahun.
3.6.2 V".4#$ I&3#2#&3#& 5V".4#$ 4#4*6
Hariabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
variabel lain, dengan kata lain independen merupakan variabel risiko atau sebab
(hidayat, 2011). Hariabel risiko (variabel yang mempengaruhi) dalam penelitian ini
adalah peran orang tua.
3.7 D#-.&.*. O2#"*.0&$
&efinisi operasional adalah ketika variabel%variabel penelitian menjadi bersifat
operasional. &efinisi operasional menjadikan konsep yang masih bersifat abstrak
menjadi operasional yang memudahkan pengukuran variabel tersebut (6asis, 200#).
*abel 2.1 &efinisi 'perasional
-o Hariabel &efinisi
'perasional
Bara ,kur Alat ukur Hasil ,kur )kala
1. eran
'rang tua
)uatu aktivitas
orangtua untuk
mengajarkan
anak usia 5%#
tahun dalam
+uisoner +uesioner
yang terdiri
dari 11
pertanyaan
negative
1. 0aik (Cut
off point I
meanCmedian)
2. +urang
0aik (cut off
-ominal
21
eran 'rang tua
erilaku menggosok gigi setelah
sarapan dan sebelum tidur
memelihara
kesehatan gigi
yang meliputi @
a. $engajarkan
(aktu yang
tepat dalam
menggosok
gigi
b. $engajarkan
syarat%syarat
sikat gigi
yang baik
!. $engajarkan
pemberian
pasta gigi
yang baik
d. $engajarkan
!ara sikat gigi
yang benar
e. $engajarkan
anak untuk
menyimpan
sikat gigi
yang benar
dan positif
dengan
kategori
ja(aban @
% selalu G 2
% kadang%
kadangG 1
% tidak
pernahG 0
point J
meanCmedian)
$enggunakan
nilai mean jika
distribusi data
peran orang
tuanya normal
dan
menggunakan
nilai median
jika distribusi
data peran
orang tuanya
tidak normal.
2. erilaku
menggosok
gigi setelah
sarapan
Anak yang
melakukan atau
tidak melakukan
kebiasaan
menggosok gigi
setelah sarapan
+uesioner +uesioner
yang terdiri
dari :
pertanyaan
1. $elakuka
2. *idak
$elakukan
-ominal
2. erilaku
menggosok
gigi
sebelum
tidur
Anak yang
melakukan atau
tidak melakukan
kebiasaan
menggosok gigi
sebelum tidur
+uesioner +uesioner
yang terdiri
dari :
pertanyaan
1. $elakukan
2. *idak
$elakukan
-ominal
3.8 T#)2! 3& W%!( P#&#$.!.&
enelitian ini dilakukan di )& -egeri /1 ontianak. 6aktu yang diperlukan dari
mulai penyusunan proposal ujian hasil adalah bulan &esember 2012%$ei 201:
*abel 2.2 6aktu enelitian
22
3.8 I&*!"()#& P#&#$.!.&
enelitian ini menggunakan instrumen berupa kuisoner, yang dimana untuk
mengukur variabel peran orang tua dengan perilaku menggosok gigi setelah sarapan dan
sebelum tidur. +uisoner dalam penelitian ini terdiri dari 2 +uisoner ,yaitu @
+uisoner " @ +uisoner ini terkait pertanyaan tentang identitas responden dan terkait
dengan peran orang yang terdiri dari 11 item pertanyaan, masing%masing
item pertanyaan ja(aban diukur dengan diberi skor @ EselaluF nilainya 2K
Ekadang%kadangF nilainya 2K Etidak pernahF nilainya 1 dan akan
dikatergorikan bila baik (Cut off point I meanCmedian) dan bila +urang
0aik (cut off point J meanCmedian. Hasil ukur menggunakan nilai mean
jika distribusi data peran orang tuanya normal dan menggunakan nilai
median jika distribusi data peran orang tuanya tidak normal.
+uisoner ""@ +uisoner pada bagian ini terkait dengan identitas anak dan terkait dengan
perilaku menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur yang terdiri dari
: item apertanyaan, yang dapat dikategorikan menjadi melakukan dan tidak
melakukan.
embagian kuisoner akan dilakukan apabila kuisoner tersebut telah diuji validitas
dan uji realibilitas.
1. ,ji Haliditas
Haliditas yang merupakan suatu alat ukur dan pengamatan suatu instrumen
(Luldafrial, 2011). Haliditas berkaitan dengan kesesuaian antara satu konsep dengan
indikator yang digunakan (rasetyo dan =ina, 2011). ,ji validitas ini dilakukan
menggunakan uji korelasi pearson product moment dan diuji !obakan pada 20
23
+egiatan
0ulan C *ahun 2012%201:
&esember 7anuari >ebuari $aret April $ei
1 2 2 : 1 2 2 : 1 2 2 : 1 2 2 : 1 2 2 : 1 2 2 :
engajuan topik dan judul
penelitian
)tudi endahuluan
penyusunan proposal
)idang roposal
engambilan data, analisa
dan bimbingan
penyusunan laporan hasil
,jian Hasil
engumpulan )kripsi
responden pada taraf signifikan 14 adalah 0,::: ($a!hfoedA, 2012). "nstrumen
dikatakan valid jika nilai r dihitung lebih besar dibandingkan dengan nilai r tabel
pada alpa 0,01 (=istio(ati, 2003).
2. ,ji 8eliabilitas
8eliabilitas merupakan kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta
atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali%kali dalam (aktu yang
berlainan (Luldafrial, 2011). 0ila pengamatan yang diukur tidak sama, maka
dikatakan perangkat ukur tersebut tidak reliabel (rasetyo dan =ina, 2011). &ari
instrumen tersebut jika alpha cronbach mendekati angka 1 atau I 0,50, maka
instrumen tersebut dikatakan reliabel (=istio(ati, 2003)
3.10 P"0*#3(" P#&'()2($& D!
&alam proses pengumpulan data harus sesuai dengan maksud dan tujuan
penelitian. engumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari pengisian kuisoner,
prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut@
2.10.1 *ahap ersiapan
enelitian akan dilakukan setelah memperoleh ijin dari pihak sekolah
untuk melakukan penelitian. eneliti akan mendatangi lokasi yang terletak di
)&- /1 dan )&- /2 ontianak dan melakukan sosialisasi proposal dengan
+epala sekolah, .uru%guru, dan melakukan pendekatan kepada !alon reponden.
0agi !alon responden orangtua, peneliti akan mendatangi kerumahnya.
2.10.2 *ahap emilihan 8esponden
=angkah%langkah pemilihan responden yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut@
1. )etelah memperoleh surat ijin untuk melakukan penelitian, peneliti
mendatangi lokasi penelitian yaitu )&- /1 ontianak dan )&- /2 ontianak
2. eneliti memperkenalkan diri dan melakukan penjelaskan singkat kepada
pihak sekolah tentang prosedur dan tujuan penelitian ini dilakukan
2. eneliti memperkenalkan diri kepada !alon responden dan melakukan
pendekatan kepada !alon responden dan menjelaskan tentang tujuan dan
prosedur penelitian. 0agi responden yang setuju untuk berpatisipasi dalam
kegiatan penelitian selanjutnya diberikan lembar persetujuan penelitian untuk
ditanda tangani.
:. eneliti membagi kuisoner kepada orangtua ("bu) dan memberikan penjelasan
kepada responden tentang !ara pengisian kuisoner serta diminta untuk
24
mengisi biodata orangtua dan mengisi pertanyaan yang terdapat dalam
kuisoner serta diminta memilih ja(aban sesuai point yang ada. 0agi orang
yang tidak hadir dalam penelitian,peneliti akan mendatangi rumahnya
1. eneliti membagikan kuisoner terpimpin kepada anak. eneliti memberikan
bantuan kepada responden tentang !ara pengisian kuisoner dan diminta untuk
memilih ja(aban sesuai dengan point yang ada.
5. +uisoner yang terisi lengkap lalu diserahkan kepada peneliti
3.11 R#&9& P#&'0$+& D!
Hasil data kuisoner yang telah terkumpul lengkap lalu diolah melalui tahapan
pengolahan data sebagai berikut@
#.$$.% &diting
eneliti melakukan penge!ekan terhadap data yang telah diisi oleh responden.
diantaranya, kelengkapan dalam pengisian identitas dan pertanyaan dalam
kuisoner tersebut. sehingga apabila terdapat pengisian yang tidak lengkap ataupun
ketidaksesuaian dalam pengisian,dapat dilengkapkan segera.
#.$$.# Coding
$elakukan kegiatan data mengubah data berbentuk hurufCkalimat menjadi
data angkat atau bilangan yang dimana akan mempermudah pada saat analisa data
dan pada saat entry data. dalam pemberian coding tentang hubungan peran
orang tua jika peran baik G 1, jika kurang baik G 2. ada perilaku
menggosok gigi anak setelah sarapan dan sebelum tidur melakukan G 1, jika
melakukan G 2.
#.$$.' &ntry (ata
&ata yang didapat dari pengumpulan kuisoner dimasukkan kedalam program
komputer atau soft(are dalam bentuk kode angka.
2.11.: Cleaning
)etelah semua data responden selesai dimasukkan, dilakukan penge!ekan
kembali untuk melihat apakah ada tidaknya kesalahan, ketidaklengkapan,dan
sebagainya,kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
3.12 A&$.* D!
Analisa data merupakan proses lanjutan dari proses pengolahan data untuk melihat
bagaimana menginterpretasikan data, dan kemudian menganalisis data dari hasil yang
sudah ada pada tahap hasil pengolahan data (rasetyo dan =ina, 2011).
Analisa data pada penelitian ini adalah sebagai berikut@
2.12.2 Analisa ,nivarat
Analisa univariat dilakukan terhadap setiap variabel hasil dari
penelitian untuk mengetahui apakah konsep yang diukur sudah siap dianalisa
serta dapat dilihat gambaran se!ara rin!i ("mron dan $unif, 2010). )etiap
25
variabel dependen dan independen dianalisa dengan statistik deskriptif yaitu
presentatif untuk mengetahui gambaran mengenai peran orang tua yang terdiri
dari 11 item pertanyaan dan dikategorikan menjadi dua peran, yaitu peran baik
(21%:1) dan peran kurang baik (11%20), serta mengenai perilaku menggosok
gigi setelah sarapan dan sebelum tidur terdiri dari : item pertanyaan dan
kemudian dikategorikan menjadi dua, yaitu melakukan dan tidak melakukan
dalam bentuk distribusi frekuensi yang menggunakan program ))) 1/.0 for
6indo(s system.
2.12.2 Analisa 0ivariat
Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variable
yang diduga adanya hubungan atau berkoreasi (-otoadmodjo, 2001). $enurut
"mron dan $unif (2010), analisa bivariat digunakan untuk melihat apakah ada
hubungan antara variabel. Hubungan tersebut mempunyai 2 kemungkinan,
yaitu@
1. Ada hubungan tetapi sifatnya simetris, tidak saling mempengaruhi
2. )aling mempengaruhi antara dua variabel
2. )ebuah variabel mempengaruhi variabel lain
*ujuan analisa ini untuk mengetahui hubungan antara peran orangtua
dengan perilaku menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur pada anak
usia 5%# tahun. Analisa ini menggunakan uji Bhi%)Muare jika nilai e?pe!ted
kurang dari 1, maksimal 204. Akan tetapi jika syarat uji Bhi%)Muare tidak
terpenuhi maka menggunakan alternatif uji Bhi%)Muare yaitu >isher dan
+olmogorov%)mirnov karena @
a. Hariabel yang dihubungkan adalah peran orang tua dengan perilaku
menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur
b. 7enis Hipotesis komparatif
!. )kala variabel kategorik
d. +elompok data tidak berpasangan
3.13 E!.% P#&#$.!.&
&alam melakukan penelitian ini, sebelum peneliti mendatangi responden untuk
bersedia menjadi responden, peneliti melakukan meminta ijin kepada pihak sekolah.
)etelah mendapatkan iAin dari pihak sekolah kemudian peneliti mendatangi responden
dan meminta !alon responden untuk menjadi responden penelitian. )etelah
mendapatkan persetujuan, barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah
etika%etika penelitian yang meliputi @
1. )nformed consent ( lembar persetujuan)
)ebelum penelitian dilaksanakan peneliti memberikan lembar persetujuan
untuk menjadi responden. 0ila responden bersedia, maka mereka harus
26
menandatangani lembar persetujuan bersedia menjadi responden. *etapi apabila
responden menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati
hak%hak responden.
2. *nonimity ( tanpa nama )
+erahasiaan dari identitas responden dalam penelitian ini akan dijaga oleh
peneliti dan hanya digunakan semata%mata hanya untuk kepentingan penelitian.
+erahasiaan dalam penelitian ini dijaga oleh peneliti dengan tidak men!antumkan
nama, hanya nama inisial responden saja yang di !antumkan, demi menjaga
kerahasiaan identitas responden.
2. Bonfidentiality (+erahasiaan informasi)
+erahasiaan menga!u pada tanggung ja(ab peneliti untuk melindungi
semua data yang dikumpulkan. seluruh informasi yang diberikan responden,
dijamin peneliti hanya untuk kepentingan penelitian dan hanya kelompok data
tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
:. $anfaat dan kerugian yang ditimbulkan
enelitian ini diharapkan mendapatkan manfaat yang maksimal bagi pasien
orangtua maupun anak, pada khusunya adalah subjek penelitian ini sendiri. $aka
dari itu peneliti berusaha untuk dapat meminimalkan dampak yang dapat
merugikan bagi subyek penelitian.
27