LOGO

Penyakit Ikan Air Laut di Indonesia

ROMI NOVRIADI

Disampaikan Pada :
Rapat Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan
Hotel Santika Bogor, 17-18 Juli 2014

Aquaculture Production

Top Aquaculture Producer

Sumber:

FAO-FISHSTAT 2013

Major Constraints
Penyakit infeksius menjadi penyebab utama berkurangnya
produksi akuakultur di banyak negara, bahkan beberapa
diantaranya memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap
ekonomi nasional.
Estimasi kerugian secara global akibat timbulnya penyakit pada
budidaya ikan mencapai USD 3 milyar (World Bank, 1997)
Data terkini menunjukkan bahwa 1/3 hingga ½ pembudidaya ikan
mengalami kerugian akibat pengelolaan kesehatan ikan yang
buruk sebelum ikan mencapai ukuran pasar (Tan et al., 2006)

Contents
1

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air
Laut

2

Status Terkini Penyakit Ikan Air
Laut di Indonesia

3

Analisis Resiko Penyakit Ikan

4

Kesimpulan

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut

Penyakit

Penyakit infeksius

1. Penyebab: organisme patogen
dan mampu menyebar melalui
pergerakan inang yang telah
terinfeksi.
2. Dibedakan menjadi 4 golongan:
yaitu penyakit parasitik,
bakterial, viral dan mikotik

Penyakit non-infeksius

Penyebab: (1) Hama, (2) kondisi
lingkungan, (3) defisiensi nutrient,
(4) genetik, (5) pengelolaan
aktivitas budidaya yang buruk dan
(6) kontaminasi dari senyawa yang
bersifat toksik

(Sumber: Subasinghe, 2009)

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut (Viral)

Disease

Causative agent

Viral Nervous Necrosis

Nodavirus

Iridovirus

RSIV

Sumber: T.S Leong and A. Colorni (2002)

Species affected
Black spotted grouper (Epinephelus bleekeri )
Greasy grouper (E. coioides )
Grouper (Epinephelus tauvina )
Asian Seabass (Lates calcarifer )
Red seabream (Pagrus major )
Grouper (Epinephelus spp)
Silver pompano ???

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut (Bakterial)

(Tabel 2. Sumber: T.S Leong and A. colorni, 2002)

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut (Parasit)
Parasit

Perbesaran
Ikan baru Budidaya

Hatchery

Nursery

Ciliata
Cryptocaryon irritans (white Insang dan
spot)
permukaan tubuh

++

+++

+++

+++

Titik putih pada permukaan tubuh, lethargy, produksi
mukus yang berlebihan, exophthalmia, warna tubuh
menghitam, menggososkkan badan ke jaring

Trichodina spp

Insang dan
permukaan tubuh

++

++

+

+

Lethargy , nafsu makan hilang, insang rusak disertai dengan
produksi mukus yang berlebihan, menggososkkan badan ke
jaring, hyperplasia dan neksrosis pada lapisan epidermis

Brooklynella spp

Insang dan
permukaan tubuh

+++

+++

++

+

Lethargy, nafsu makan hilang, menggosokkan badan ke
jaring, Subcutaneous haemorrhage

Henneguya spp

Insang dan
permukaan tubuh

+++

+++

++

+

Insang rusak dan hyperplasia

Insang dan
permukaan tubuh

+++

+++

++

+

Ikan bergerak ke permukaan atau di titik aerasi, pergerakan
operculum insang cepat dan insang mengalami kerusakan,
tubuh menghitam, peningkatan produksi mucus yang
berlebihan di insang

Ginjal, hati, limpa
dan saluran
pencernaan

-

++

++

+

Hilang keseimbangan, mengapung dengan posisi terbalik,
beberapa disertai dengan perut membengkak, luka pada
mulut dan permukaan tubuh

Mikrosporidia
Glugea spp

Organ dalam

-

+

++

+++

Perut membengkak, terdapat nodul hitam pada organ
dalam

Pleistophora spp

Organ dalam

-

+

++

+++

Perut membengkak, terdapat nodul hitam pada organ
dalam

Dinoflagellata
Amyloodinium ocellatum

Myxosporea
Spaerospora epinepheli

Wilayah infeksi

Gejala klinis

Tabel 3. Penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit protozoa

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut (Parasit)

Tabel 4. Penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit plathyhelminthes

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut (Parasit)

Tabel 5. Penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit crustacea dan lintah

Jenis-Jenis Penyakit Ikan Air Laut (Mikosis)

Disease

Causative agent

Species affected

menyebabkan perubahan warna pada kulit dan
Saprolegniasis

Saprolegni sp.

Ichthyosporidosis

Ichthyophonus sp

tumbuh jamur berwarna putih keabu-abuan yang
makin lama akan semakin melebar dan
pada akhirnya akan merusak otot ikan
Mengikis jaringan luar bagian kepala
Menyebabkan luka dalam berwarna kemerahan
Membentuk granula pada insang, usus, hati dan jantung

Tabel 6. Penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit crustacea dan lintah

Foto: Zafran et al., 1998

Status Terkini Penyakit Ikan Air Laut di
Indonesia

Koleksi Data

2012 - 2013

BBPBL
Lampung

BPBL
Batam

BPBL
Ambon

BPBL
Lombok

Distribusi penyakit di wilayah kerja BBPPBL Lampung

Tabel 7. Distribusi penyakit di BBPBPL lampung

Distribusi penyakit di wilayah kerja BPBL Lombok

Tabel 8. Distribusi penyakit di BPBL Lombok

Distribusi penyakit di wilayah kerja BPBL Batam

Tabel 9. Distribusi penyakit di BPBL Batam

Distribusi penyakit di wilayah kerja BPBL Ambon

Tabel 10. Distribusi penyakit di BPBL Ambon

Analisis Resiko
Risk analysis as a tool that provides decision-makers with an
objective and documented method for assessing the risks posed
by a particular action or event (MacDiarmid, 1977)

Penyebab
masalah

Text
Pemicu
Text
masalah

Dampak
masalah
Text

Analisis
Resiko

Text
Pengendalian
Text
masalah

Analisis Resiko
Penyakit Viral
Penyakit Bakterial
Penyakit Parasitik

Trichodina sp
Benedenia sp
Diplectanum
Cryptocaryon
Haliotrema sp
Amyloodinium sp
Uronema sp
Rhexanella sp
Caligus sp

Vibriosis :
Vibrio alginolyticus,
V. parahaemolyticus
V. fluvialis,
V. vulnificus,
V. damsela
V. anguillarum

Pseudomonas
Flexibacter sp
Yersinia ruckeri

Nodaviridae
(VNN)
Iridovirus

Analisis Resiko Penyakit Viral
Penyebab: Piscine nodavirus dari genus Betanodavirus
(25-30 nm)
Pemicu infeksi. Suhu, NNV menyebabkan kematian hingga
100% pada suhu 24-280C, namun pada suhu 16 dan 200C,
mortalitas berkurang hingga 57-61% (Lio-PO dan De la Pena, 2004).
Kualitas air buruk, nutrisi buruk dan inang yang tidak sehat.

VNN

Dampak yang ditimbulkan
1. Kematian hingga 100% pada Budidaya ikan kerapu (Putri et al., 2013)
2. Infeksi VNN dapat mencapai 100% pada stadia larva, namun
tidak pada stadia juvenile dan fingerling (Koesharyani et al.,2001)
3. Infeksi VNN pada ikan Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
dan Kakap putih (Lates calcarifer) pada stadia juvenile
menyebabkan kematian hingga 70% (BPBL Batam, 2013)

Tindakan Pengendalian.
1.
2.
3.
4.

Screening kesehatan induk (Metode PCR)
Vaksinasi, Immnostimulan dan Probiotik
Filterisasi dan optimalisasi kualitas air
Biosecurity, CPIB, CBIB, Good Management Practices (GMPs)

Analisis Resiko Penyakit Viral (Iridovirus)
Penyebab: family Iridoviridae dan memiliki bentuk heksagonal dengan diameter 200240 nm (pada ikan red seabream) dan 140-160 nm (pada ikan kerapu) (Danayadol et
al., 1997; Kasornchandra and Khongpradit, 1997)

Pemicu infeksi. Lingkungan yang terkontaminasi, sistem imun inang yang buruk,
kontak langsung dengan ikan carier dan kualitas air yang buruk
Dampak yang ditimbulkan
1. mortalitas < 30% pada induk Kerapu bebek dan Kakap putih (BPBL Ambon)
2. infeksi Iridovirus menyebabkan tingkat mortalitas hingga 60%, khususnya untuk
komoditas Bawal bintang (Trachinotus blochii) dan Kerapu bebek (C. altivelis)
(BBL Batam)
3. Mortalitas hingga 100% pada budidaya ikan Kerapu bebek (C. altivelis) di Teluk
Mandeh (INFHEM, 2013)
Tindakan Pengendalian.
1. Penerapan sistem karantina ikan terhadap ikan baru
2. Vaksinasi, Immnostimulan dan Probiotik
3. Filterisasi dan optimalisasi kualitas air
4. Biosecurity, CPIB, CBIB, Good Management Practices (GMPs)

Analisis Resiko Penyakit Bakterial

1

Infeksi Vibriosis.
Vibrio alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. fluvialis,
V. vulnificus, V. damsela dan V. anguillarum

2

Infeksi Flexibacter sp

3
3
4

Infeksi Pseudomonas

Infeksi Yersinia ruckeri

Infeksi Vibriosis
Pemicu.
1. Kondisi inang lemah
2. Diinduksi oleh infeksi primer
3. Kualitas pakan yang buruk
4. Poor handling

Bakteri oportunistik

Bahan organik menjadi
Source of life ???

Vibriosis

Dampak
1. Mortality 100% pada padat
tebar tinggi (Irianto et al., 2005)
2. Mortality >50% pada sistem
budidaya umum (Ruwandeepika,
2005)

Tindakan pengendalian
1.

2.
3.
4.
5.

Preventive approaches (Vaksinasi,
Immunostimulan, probitotik,
vitamin)
Optimalisasi kualitas air
Sistem filterisasi (RAS ???)
Biosekuriti
Quorum sensing

Antibiotika. menyebabkan
resistensi pada bakteri target
maupun bakteri non-target
terhadap antibiotika tertentu

Quorum Sensing

2

3
4

Infeksi Flexibacter maritinum
= Tenacibaculum maritinum

Pemicu: Stress akibat suhu, pakan yang buruk, padat
tebar tinggi, luka dan kualitas air yang buruk
Dampak : 50% mortalitas pada ikan Kakap putih dan
hingga 80% jika ikan tidak diobati
Tindakan pengendalian : Good handling, Gunakan
benih sehat dari panti benih bersertifikasi, Biosecurity,
Good Management Practices (GMPs)
Sumber: INFHEM 2013

Infeksi Pseudomonas

Pemicu: Stres lingkungan seperti perubahan suhu air yang tinggi, pada tebar
tinggi, kualitas air yang buruk dan asupan nutrisi yang kurang (Tendencia and
Lavilla-Pitogo, 2004).
Tindakan pengendalian : Hindari faktor-faktor pemicu timbulnya stres seperti
perubahan suhu yang ekstrim, kepadatan tinggi, kualitas air buruk dan asupan
gizi yang buruk.
Preventive approaches (Vaksinasi, Immunostimulan, Probiotik dan Vitamin),
lakukan pemindahan ikan-ikan yang terinfeksi secara rutin ke dalam bak yang
berisikan air bak dan sudah disterilisasi.
Aplikasi Biosecurity

Infeksi Yersinia ruckeri

List of quarantinable
diseases in marine fish

Pemicu infeksi. Infeksi Y. ruckerii sering dipicu oleh kondisi stress pada ikan yang
disebabkan oleh kualitas lingkungan yang buruk. Penyakit ERM ini juga dapat
ditularkan secara langsung melalui kontak dengan ikan yang sakit atau carrier

Investigasi yang dilakukan oleh Hunter et al (1980) menunjukkan bahwa
penyebaran Y. ruckeri dari ikan yang carier kepada ikan yang sehat terjadi ketika
suhu meningkat menjadi 25⁰C.
Dampak yang ditimbulkan. Mortalitas hingga 30% pada budidaya ikan laut

Infeksi Penyakit Bakterial Lainnya

Analisis Resiko Penyakit Parasit
Trichodina sp dari kelompok ciliata, Cryptocaryon irritans dan
Amyloodinium sp dari kelompok dinoflagellata

2

Benedenia, Neobenedenia, Diplectanum dan Haliotrema untuk kelompok
Trematoda monogenea, Caligus spp dan Rhexanella sp untuk golongan
crustacean dan Microcotylid monogenea. Uronema sp, Pseudorabdosynochus
sp dan Hirudinea sp dari kelompok annelida
Pemicu infeksi. kualitas air yang buruk, kondisi stress pada ikan baik oleh
lingkungan ataupun penanganan ikan yang kurang baik, kualitas pakan (pellet
ataupun rucah) yang buruk, padat tebar tinggi, kurangnya pergantian air dan
kondisi lingkungan yang optimal bagi proses perkembangan parasit

3
4

Analisis Resiko Penyakit Parasit
1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.

Mortalitas (akan sangat tinggi bila tidak ditangani)
Pertumbuhan yang buruk
FCR yang buruk
Biaya produksi bertambah
Kerugian ekonomi akibat kematian ikan bertambah

2

Pahami siklus hidup parasit (telur, larva, dewasa)
Monitoring
Penerapan CPIB dan CBIB
Pengelolaan kualitas air yang baik (mekanik, kimia
dan biologi)
5. Tingkatkan sistem imun inang dan batasi faktor stress

3
4

Analisis Resiko Penyakit Parasit
1. Bath Treatment
2. Orally administered treatment (Prophylaxis approach)

Trichodina sp dapat dikendalikan dengan perendaman air tawar selama 1 jam
untuk 3 hari secara berurutan
Cryptocaryon irritans dan Amyloodinium dapat dikendalikan dengan perendaman
menggunakan copper sulphate (CuSO4) dengan konsentrasi 0,5 ppm selama 5-7
hari dengan aerasi kuat dan air

2

3
4

infeksi cacing dapat dilakukan dengan menggunakan antihelmintik

Summary
Penyakit Viral
VNN dan Iridovirus

Penyakit Bakteri
Vibriosis (Vibrio alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. fluvialis, V.
vulnificus, V. damsela, V. anguillarum, V. harveyi, V. charchariae)
Pseudomonas, Flexibacter sp, dan Yersinia ruckeri

2

Penyakit Parasit
Trichodina sp, Benedenia sp, Diplectanum sp dan Cryptocaryon
irritans (+++)
Haliotrema sp, Amyloodinium sp, Uronema sp, Rhexanella sp,
Pseudorabdosynochus sp dan caligus sp (+ / ++)

3
Pendekatan prophylaksis seperti aplikasi Vaksinasi,
4
Immunostimulan,
Probiotik dan perbaikan kualitas air menjadi
strategi alternatif untuk menggantikan antibiotika dan
penggunaan bahan kimia

LOGO Prevention Is Better Than Cure

Dra. Rini Purnomowati (BBPBL Lampung)
Drh. Joko Santosa (BPBL Lombok)
Dodi Yunianto, S.Si (BPBL Ambon)