1

Case Report Session



TONSILOFARINGITIS













PUSKESMAS AIR DINGIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2013
Meiresty Evasari 07120041
Raras Hayati R. 07923041


Preseptor : dr. Yahya Marpaung, Sp.B


2

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

FARINGITIS
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan
oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain.
Virus dan bakteri melakukan invasi ke faring dan menimbulkan reaksi
inflamasi lokal. Infeksi bakteri grup A streptokokus β hemolitikus dapat
menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena bakteri ini melepaskan
toksin ekstraselular yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan katup
jantung, glomerulonefritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat
terbentuknya kompleks antigen-antibodi. Bakteri ini banyak menyerang anak usia
sekolah, orang dewasa dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan
infeksi melalui sekret hidung dan ludah (droplet infection).

1. Faringitis Akut
a. Faringitis viral
Rinovirus menimbulkan gejala rinitis dan beberapa hari kemudian akan
menimbulkan faringitis.

Gejala dan tanda
Demam disertai rinorea, mual , nyeri tenggorok, sulit menelan.
Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza,
coxsachievirus dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachievirus
dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash.
Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan
gejala konjugtivitis terutama pada anak.
Epstein Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi
eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh
tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.
3

Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok,
nyeri menelan, mual dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis,
terdapat eksudat. Limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.

Terapi
Istirahat dan minum yang cukup. Kumur dengan air hangat. Analgetika
jika perlu dan tablet isap.
Antivirus metisoprinol (isoprenosine) diberikan pada infeksi herpes
simpleks dengan dosis 60-100 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari
pada orang dewasa dan pada anak < 5 tahun diberikan 50 mg/kgBB dibagi dalam
4-6 kali pemberian/hari.

b. Faringitis bakterial
Infeksi grup A streptokokus β hemolitikus merupakan penyebab faringitis
akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%).

Gejala dan tanda
Nyeri kepala yang hebat, muntah , kadang-kadang disertai demam dengan
suhu yang tinggi, jarang disertai batuk.
Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis
dan terdapat eksudat dipermukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak
petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfe leher anterior membesar,
kenyal dan nyeri pada penekanan.

Terapi
a. Antibiotik
diberikan terutama bila diduga penyebab faringitis akut ini grup A streptokokus
β hemolitikus. Penicillin G Banzatin 50.000 U/kgBB, IM dosis tunggal, atau
amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 kali/hari selama 10 hari dan pada
dewasa 3 x 500 mg selama 6-10 hari atau eritromisin 4 x 500 mg/hari.
b. Kortikosteroid
deksametason 8-16 mg, IM, 1 kali. Pada anak 0,08-0,3 mg/kgBB, IM, 1 kali.
4

c. Analgetika
d. Kumur dengan air hangat atau antiseptik.

c. Faringitis fungal
Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring.
Gejala dan tanda
Keluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak
plak putih di orofarig dan mukosa faring lainnya hiperemis.
Pembiakan jamur ini dilakukan dalam agar Sabouroud dextrosa.

Terapi
Nystasin 100.000 – 400.000 2 kali/hari.
Analgetika

d. Faringitis gonorea
Hanya terdapat pada pasien yang melakukan kontak orogenital.
Terapi
Sefalosporin generasi ke-3, Ceftriakson 250 mg, IM.

2. Faringitis Kronik
Terdapat 2 bentuk, yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik
atrofi. Faktor predisposisi proses radang kronik di faring ini ialah rinitis kronik,
sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, inhalasi uap yang merangsang
mukosa faring dan debu. Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik adalah
pasien yang biasa bernapas melalui mulut karena hidung tersumbat.

a. Faringitis kronik hiperplastik
Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding
posterior faring. Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral band
hiperplasi. Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata,
bergranular.

5


Gejala
Pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk
yang berdahak.

Terapi
Terapi lokal dengan melakukan kaustik faring dengan memakai zat kimia
larutan nitras argenti atau dengan listrik (elcetro cauter). Pengobatan simptomatis
diberikan obat kumur atau tablet isap. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk
antitusif atau ekspektoran. Penyakit di hidung dan sinus paranasal harus diobati.

b. Faringitis kronik atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rinitis atrofi. Pada
rinitis atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembabannya, sehingga
menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring.

Gejala dan tanda
Pasien mengeluh tenggorok kering dan tebal serta mulut berbau. Pada
pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan bila
diangkat tampak mukosa kering.

Terapi
Pengobatan yang ditujukan pada rinitis atrofinya dan untuk faringitis atrofi
ditambahkan dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut.

3. Faringitis spesifik
a. Faringtis luetika
Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi di daerah faring seperti
juga penyakit lues di organ lain. Gambaran kliniknya tergantung pada stadium
penyakit primer, sekunder atau tertier.


6


Stadium primer
Kelainan pada stadium primer terdapat pada lidah, palatum mole, tonsil
dan dinding posterior faring berbentuk bercak keputihan. Bila infeksi terus
berlangsung maka timbul ulkus pada daerah faring seperti ulkus pada genitalia
yaitu tidak nyeri. Juga didapatkan pembesaran kelenjar mandibula yang tidak
nyeri tekan .

Stadium sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Terdapat eritema pada dinding faring yang
menjalar ke arah laring.

Stadium tertier
Pada stasium ini terdapat guma. Predileksinya pada tonsil dan palatum.
Jarang pada dinding posterior faring. Guma pada dinding posterior faring dapat
meluas ke vertebra servikal dan bila pecah dapat menyebabkan kematian. Guma
yang terdapat di palatum mole, bila sembuh akan terbentuk jaringan parut yang
dapat menimbulkan gangguan fungsi palatum secara permanen.
Diagnosis ditegakkan pemeriksaan serologik. Terapi penisilin dalam dosis
tinggi merupakan obat pilihan utama.

b. Faringitis tuberkulosis
Faringitis tuberkulosis merupakan proses sekunder dari tuberkulosis paru.
Pada infeksi kuman tahan asam jenis bovinum dapat timbul tuberkulosis faring
primer. Cara infeksi eksogen, yaitu kontak dengan sputum yang mengandung
kuman atau inhalasi kuman melalui udara. Cara infeksi endogen yaitu penyebaran
melalui darah pada tuberkulosis miliaris. Bila imfeksi timbul secara hematogen
maka tonsil dapat terkena pada kedua sisi dan lesi sering ditemukan pada dinding
posterior faring, arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole
dan palatum durum. Kelenjar regional leher membengkak. Saat ini penyebaran
juga secara limfogen.

7


Gejala
Keadaan umum pasien buruk karena anoreksia dan odinofagia. Pasien
mengeluh nyeri yang hebat di tenggorok, nyeri di telinga atau otalgia serta
pembesaran kelenjar limfa servikal.

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan sputum basil tahan
asam, foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru dan biopsi jaringan yang
terinfeksi untuk menyingkirkan proses keganasan serta mencari kuman basil tahan
asam di jaringan.

Terapi
Sesuai dengan terapi tuberkulosis paru.

TONSILITIS
Tonsilitis adalah peradangan pada tonsila palatina yang merupakan bagian
dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang
terdapat di dalam rongga mulut yaitu : tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina
(tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius
(latereal band dinding faring / Gerlach’s tonsil).

JENIS
Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut,
tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis.

1. TONSILITIS AKUT
ETIOLOGI
Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta
hemolitikus, pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes.
Virus terkadang juga menjadi penyebab penyakit ini.Penyebab paling sering
adalah Epstein Barr, selain itu juga Hemofilus influenzae dan Coxschakie virus.
8

PATOFISIOLOGI
Penyebaran infeksi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman.
Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak. Kuman menginfiltrasi
lapisan epitel, kemudian bila kuman ini terkikis maka jaringan limfoid superfisial
bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan
leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini
mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning.
Bentuk tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis
folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-alur
maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini juga dapat melebar
sehingga terbentuk semacam membran semu (pseudomembrane) yang menutupi
tonsil.

MANIFESTASI KLINIK
Masa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda-tanda yang ditemukan dalam
tonsillitis akut ini meliputi nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu menelan, nafas
yang berbau, suara akan menjadi serak, demam dengan suhu tubuh yang tinggi,
rasa lesu, rasa nyeri di persendian, tidak nafsu makan, dan rasa nyeri di telinga.
Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat
detritus berbentuk folikel, lakuna akan tertutup oleh membran semu. Kelenjar
submandibula membengkak dan nyeri tekan.

KOMPLIKASI
Otitis media akut (pada anak-anak), sinusitis, abses peritonsil, abses
parafaring, toksemia, septicemia, bronchitis, nefritis akut, miokarditis, dan
arthritis. Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernafas melalui
mulut, tidur mendengkur (ngorok), gangguam tidur karena terjadinya sleep apnea
yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS).


9

PEMERIKSAAN
- Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada
dalam
tubuh pasien merupkan bakteri grup A.
- Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.

PENGOBATAN
Perawatan yang dilakukan pada penderita tonsillitis biasanya dengan
perawatan sendiri dan dengan menggunakan antibiotik. Tindakan operasi hanya
dilakukan jika sudah mencapai tonsillitis yang tidak dapat ditangani sendiri.
Apabila penderita tonsillitis diserang karena virus sebaiknya biarkan virus itu
hilang dengan sendirinya. Selama satu atau dua minggu sebaiknya penderita
banyak istirahat, minum minuman hangat juga mengkonsumsi cairan
menyejukkan. Jika tonsillitis disebabkan oleh bakteri maka antibiotik yang akan
berperan dalam proses penyembuhan. Selain itu juga diberikan obat-obatan
dengan menggunakan antipiretik, dan obat kumur yang mengandung desinfektan.

2. TONSILITIS MEMBRANOSA
Ada beberapa macam penyakit yang termasuk dalam tonsillitis
membranosa beberapa diantaranya yaitu Tonsilitis difteri, Tonsilitis septik, serta
Angina Plaut Vincent.

TONSILITIS DIFTERI
ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu
bakteri gram positif pleomorfik penghuni saluran pernapasan atas yang dapat
menimbulkan abnormalitas toksik yang dapat mematikan bila terinfeksi
bakteriofag.

PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk melalui mukosa lalu melekat serta berkembang biak pada
permukaan mukosa saluran pernapasan atas dan mulai memproduksi toksin yang
10

merembes kesekeliling lalu selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalu
pembuluh darah dan limfe. Toksin ini merupakan suatu protein yang mempunyai
2 fragmen yaitu aminoterminal sebagai fragmen A dan fragmen B,
carboxyterminal yang disatukan melalui ikatan disulfide. Tidak semua orang yang
terinfeksi kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer anti toksin
dalam darah seseorang. Titer antitoksin sebesar 0,03 satuan per cc darah dapat
dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Hal inilah yang dipakai pada tes
Schick.

MANIFESTASI KLINIS
Tonsillitis difteri ini lebih sering terjadi pada anak-anak pada usia 2-5
tahun. Penularan melalui udara, benda atau makanan yang terkontaminasai dengan
masa inkubasi 2-7 hari. Gambaran klinik dibagi dalam 3 golongan yaitu, gejala
umum, gejala lokal dan gejala akibat eksotoksin.
- Gejala umum dari penyaki ini adalah terjadi kenaikan suhu subfebril,
nyeri tenggorok, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, dan nadi
lambat.
- Gejala lokal berupa nyeri tenggorok, tonsil membengkak ditutupi bercak putih
kotor makin lama makin meluas dan menyatu membentuk membran semu.
Membran ini melekat erat pada dasar dan bila diangkat akan timbul
pendarahan. Jika menutupi laring akan menimbulkan serak dan stridor
inspirasi, bila menghebat akan terjadi sesak nafas. Bila infeksi tidak
terbendung kelenjar limfa leher akan membengkak menyerupai leher sapi.
- Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi
miokarditis sampai decompensatio cordis, mengenai saraf kranial
menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernafasan dan pada
ginjal menimbulkan albuminuria.


11

KOMPLIKASI
Laryngitis difteri, miokarditis, kelumpuhan otot palatum mole,
kelumpuhan otot mata, otot faring laring sehingga suara parau, kelumpuhan otot
pernapasan, dan albuminuria.

DIAGNOSIS
Diagnosis tonsillitis difteri harus dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis
karena penundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Pemeriksaan
preparat langsung diidentifikasi secara fluorescent antibody technique yang
memerlukan seorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphteriae dengan
pembiakan pada media Loffler dilanjutkan tes toksinogenesitas secara vivo dan
vitro. Cara PCR (Polymerase Chain Reaction) juga dapat membantu menegakkan
diagnosis.

PEMERIKSAAN
1. Tes Laboratorium
Dilakukan dengan cara preparat langsung kuman (dari permukaan bawah
membran semu). Medium transport yang dapat dipaki adalah agar Mac Conkey
atau Loffler.
2. Tes Schick (tes kerentanan terhadap difteri)

PENGOBATAN
Tujuan dari pengobatan penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang
belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi
minimal, mengeliminasi C.diphteria untuk mencegah penularan serta mengobati
infeksi penyerta dan penyulit diphtheria. Secara umum dapat dilakukan dengan
cara istirahat selama kurang lebih 2 minggu serta pemberian cairan. Secara khusus
dapat dilakukakan dengan pemberian :
1. Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)
Anti Difteri Serum (ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur
dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit itu.
2. Anti mikrobial
12

Untuk menghentikan produksi toksin, yaitu penisilin prokain 50.000-
100.000 KI/BB/hari selama 7-10 hari, bila alergi diberikan eritromisin 25-50
mg/kgBB dibagi dalam 3 dosis selama 14 hari.
3. Kortikosteroid
Diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian
atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik. Dosis 1,2 mg per kg berat
badan per hari.
4. Antipiretik, untuk simtomatis.
Karena penyakit ini menular, pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di
tempat tidur selama 2-3 minggu.

3. TONSILITIS KRONIS
Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis tonsil setelah serangan akut
yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis.
Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan
tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar
serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar
anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus.

Etiologi
Adapula yang menyatakan etiologi terjadinya tonsilitis sebagai berikut :
1. Streptokokus β hemolitikus Grup A
2. Hemofilus influenza
3. Streptokokus pneumonia
4. Stafilokokus (dengan dehidrasi, antibiotika)
5. Tuberkulosis (pada keadaan immunocompromise).

Faktor Predisposisi
Adapun beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis,
yaitu :
1. Rangsangan kronis (rokok, makanan)
2. Higiene mulut yang buruk
13

3. Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah-ubah)
4. Alergi (iritasi kronis dari alergen)
5. Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
6. Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat.

Patologi
Proses keradangan dimulai pada satu atau lebih kripte tonsil. Karena
proses radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis,
sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan
parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripte akan melebar. Secara klinis
kripte ini akan tampak diisi oleh Detritus (akumulasi epitel yang mati, sel leukosit
yang mati dan bakteri yang menutupi kripte berupa eksudat berwarna kekuning-
kuningan). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul
perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. Pada anak-anak, proses ini
akan disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula.

Manifestasi Klinis
Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis
akut yang berulang-ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada
tenggorokan (odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal
di kerongkongan bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau.
Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis
Kronis yang mungkin tampak, yakni :
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke
jaringan sekitar, kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang
purulen atau seperti keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang
seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripte
yang melebar dan ditutupi eksudat yang purulen.

Ukuran tonsil dibagi menjadi :
T
0
: Post tonsilektomi
14

T
1
: Tonsil masih terbatas dalam fossa tonsilaris
T
2
: Sudah melewati pilar anterior, belum melewati garis paramedian (pillar
posterior)
T
3
: Sudah melewati garis paramedian, belum melewati garis median
T
4
: Sudah melewati garis median









Diagnosis
Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut :
1. Anamnesis
Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorok yang
terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit pada sendi,
kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher.
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut.
Sebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan
dari kripta-kripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu
bahan seperti keju atau dempul amat banyak terlihat pada kripta.
3. Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan
apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan
derajat keganasan yang rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus
viridans, Stafilokokus, atau Pneumokokus.


15

Diagnosis Banding
Terdapat beberapa diagnosis banding dari tonsilitis kronis adalah sebagai
berikut :
1. Penyakit-penyakit dengan pembentukan Pseudomembran atau adanya
membran semu yang menutupi tonsil (Tonsilitis Membranosa)
a. Tonsilitis Difteri
b. Angina Plaut Vincent (Stomatitis Ulseromembranosa)
c. Mononukleosis Infeksiosa
2. Penyakit Kronik Faring Granulomatus
a. Faringitis Tuberkulosa
b. Faringitis Luetika
c. Lepra (Lues)
d. Aktinomikosis Faring
3. Tumor tonsil

Komplikasi
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke
daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.
Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :
1. Komplikasi sekitar tonsil
a. Peritonsilitis b. Abses Peritonsilar (Quinsy)
c. Abses Parafaringeal d. Abses Retrofaring
e. Krista Tonsil f. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)
2. Komplikasi Organ jauh
a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik
b. Glomerulonefritis, Artritis dan fibrositis.
c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura

Penatalaksanaan
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan
tonsil (Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana
16

penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan
gejala-gejala. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotika penisilin
yang lama, irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripta
tonsilaris dengan alat irigasi gigi (oral). Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai
hubungan dengan infeksi kronis atau berulang-ulang.
Tonsilektomi merupakan suatu prosedur pembedahan yang diusulkan oleh
Celsus dalam buku De Medicina (tahun 10 Masehi). Jenis tindakan ini juga
merupakan tindakan pembedahan yang pertama kali didokumentasikan secara
ilmiah oleh Lague dari Rheims (1757).
Indikasi Tonsilektomi berdasarkan The American Academy of
Otolaryngology-Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun
1995:
1. Serangan Tonsilitis lebih dari 3 kali pertahun walaupun telah
mendapatkan terapi yang adekuat
2. Tonsil hipertropi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofasial.
3. Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan
nafas, sleep apneu, gangguan menelan, gangguan bicara, dan cor-
pulmonale.
4. Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak
berhasil hilang dengan pengobatan.
5. Nafas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.
6. Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A streptokokus beta
hemolitikus.
7. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.
8. Otitis media efusa/otitis media supratif.
17

DAFTAR PUSTAKA

1. Rusmarjono, dkk. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid. Dalam:
Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI, 2007.
2. Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta: EGC, 1997.
3. Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W.I., Setiowulan, W.
Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius. 2000.



18

BAB II
LAPORAN KASUS

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II

STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur : Fidiyah / Perempuan / 5 tahun 3 bulan
b. Pekerjaan/pendidikan : -
c. Alamat : Sungai Bangek
2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
a. Status Perkawinan : Belum Menikah
b. Jumlah Anak : Anak ke-3 dari 3 bersaudara
c. Status Ekonomi Keluarga : Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan
2 orang saudara kandung dengan pendapatan ayah pasien
Rp2.500.000/bulan yang bekerja sebagai PNS.
d. KB : Suntik 3 bulan.
e. Kondisi Rumah :
 Rumah permanen, 3 kamar tidur , WC dalam rumah.
 Ventilasi udara dan sirkulasi udara baik
 Pekarangan cukup luas
 Listrik ada, sumber air dari PDAM dan sumber air minum : air
galon
 Sampah di angkut petugas
 Jumlah penghuni 5 orang, pasien, ayah,ibu serta 2 orang saudara
kandung
 Kesan : higiene dan sanitasi baik

f. Kondisi Lingkungan Keluarga
 Pasien tinggal di daerah yang tidak padat penduduk
19

3. Aspek Psikologis di keluarga
 Hubungan dengan keluarga baik
4. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga
 Pasien pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
5. Keluhan Utama
 Nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu
6. Riwayat Penyakit Sekarang
 Nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu, nyeri dirasakan tidak terlalu
berat, tidak disertai kesulitan menelan, pasien masih bisa makan dan
minum seperti biasa.
 Batuk sejak 2 hari yang lalu, batuk disertai dahak dan sulit
dikeluarkan.
 Demam sejak 2 hari yang lalu, demam terus menerus, tidak tinggi,
tidak menggigil dan tidak disertai berkeringat.
 Pilek sejak 2 hari yang lalu.
 Keluhan sulit bernafas terutama ketika tidur tidak ada
 Tidur ngorok tidak ada
 Nafas berbau tidak ada
 Suara serak tidak ada
 Keluhan sakit gigi tidak ada
 Keluhan sekret yang terasa mengalir dari hidung turun ke tenggorok
tidak ada.
 Nyeri disekitar dahi, pelipis, mata atau pangkal hidung tidak ada.
 Nyeri telinga tidak ada, pendengaran berkurang tidak ada, telinga
berair tidak ada, telinga berdenging tidak ada.
 Bengkak di leher tidak ada.
 Keluhan berkurangnya pendengaran dan keluar sekret dari telinga
tidak ada.
 Pasien mempunyai kebiasaan makan permen, coklat dan minum es.



20

7. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : CMC
Nadi : 88x/ menit
Nafas : 20x/menit
TD : tidak diukur
Suhu : 37,9
0
C
BB : 17 Kg
TB : 110 cm
Status Gizi : Gizi baik

Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
Kulit : Turgor kulit baik.
Telinga : Tidak ditemukan kelainan
Hidung : Tidak ditemukan kelainan
Gigi dan Mulut : Status lokalis
Dada :
Paru :
Inspeksi : simetris ki=ka
Palpasi : fremitus ki=ka
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Jantung :
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen :
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan(-)
Perkusi : Timpani
21

Auskultasi : BU (+) N

Anggota gerak : reflex fisiologis +/+, reflex patologis -/-
Oedem tungkai -/-

STATUS LOKALIS
Orofaring dan Mulut
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Palatum mole +
Arkus faring
Simetris/tidak Simetris Simetris
Warna Hiperemis Hiperemis
Edema Tidak Ada Tidak Ada
Bercak/eksudat Tidak Ada Tidak Ada
Dinding Faring Warna Hiperemis
Permukaan Rata
Tonsil Ukuran T2 T2
Warna Hiperemis
Permukaan Rata
Muara kripti Tidak melebar
Detritus Tidak Ada Tidak Ada
Eksudat Tidak Ada Tidak Ada
Perlengketan
dg pilar
Tidak Ada Tidak Ada
Gigi
Karies/radiks Caries (+) Caries (+)
Kesan Hygiene mulut
kurang

Lidah
Warna Merah muda Merah muda
Bentuk Simetris Simertis
Deviasi Tidak Ada Tidak Ada
Masa Tidak Ada Tidak Ada

8. Laboratorium Anjuran : Tidak dilakukan
9. Diagnosis Kerja : Tonsilofaringitis akut
22

10. Diagnosis Banding : Tonsilofaringitis kronik eksaserbasi akut
11. Manajemen
a. Preventif :
 Menghindari makan makanan es/dingin dan makanan serta
minuman yang bersifat merangsang tenggorokan (makanan pedas
dan berbumbu)
 Tingkatkan higienitas mulut dengan menggosok gigi minimal 2x
sehari terutama setelah makan permen, coklat serta makanan manis
lain sebelum tidur.
 Asupan nutrisi sehat dan gizi seimbang untuk meningkatkan daya
tahan tubuh.
 Memisahkan peralatan makan pasien dengan kakaknya.
b. Promotif :
 Menjelaskan kepada pasien dengan bahasa yang dipahaminya
tentang penyakitnya dan pencegahannya.
 Menjelaskan kepada orang tua pasien tentang penyakit pasien,
faktor risiko, pengobatan dan pencegahannya.
c. Kuratif :
a. Non-medikamentosa
- Istirahat cukup
- Minum air putih yang banyak
- Kumur dengan air hangat
b. Medikamentosa
- Parasetamol tab 500 mg (3 x ½ tab)
- Gliceril Guaiacolat tab 100 mg (3 x ½ tab)
- CTM tab 4 mg (3 x ½ tab)
- Vitamin C tab 50 mg (3 x 1 tab)
d. Rehabilitatif :
- Kontrol kembali ke puskesmas setelah 3 hari.

23


Dinas Kesehatan Kodya Padang
Puskesmas Air Dingin

Dokter : Raras Meiresty
Tanggal : 4 Februari 2013

R/ Parasetamol tab 500 mg No. V
∫ p r n tab ½ £


R/ Gliseril Guaiacolat tab 100 mg No. V
∫ 3 dd tab ½ £

R/ CTM tab 4 mg No. V
∫ 3 dd tab ½ £

R/ Vitamin C tab No. X
∫ 3 dd tab I £



Pro : Fidiyah
Umur : 5 tahun 3 bulan
Alamat : Sungai Bangek

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful