REFERAT DOKTER MUDA

MENENTUKAN USIA SAAT KEMATIAN DARI JENAZAH
BERDASARKAN PEMERIKSAAN GIGI
DENGAN METODE DEMIRJIAN, GOLDSTEIN DAN TANNER










Oleh :
DOKTER MUDA
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
KELOMPOK MOJOKERTO E
(Periode 3 Maret 2014 – 13 April 2014)
Anggota:
1. Guntur Firnandus 08700274
2. Zhaki Al Asror 09700283
3. Rangga Yudistira 09700078
4. Martin Chandra D 09700355
5. Ni Putu Dewi Sri W. 09700265
6. Aris Sudarwoko 09700289

Pembimbing:
drg. Wieke Lutviandari, DFM

Departemen/Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
2014
Referat berjudul “MENENTUKAN USIA SAAT KEMATIAN DARI JENAZAH
BERDASARKAN PEMERIKSAAN GIGI DENGAN METODE DEMIRJIAN, GOLDSTEIN
DAN TANNER” telah disetujui dan disahkan oleh Departemen/Instalasi Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga - RSUD Dr. Soetomo
Surabaya pada:
Hari :
Tanggal :
Tempat : Ruang Kuliah Dokter Muda Departemen/Instalasi I lmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga - RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
Penyusun : DM FK UWKS KELOMPOK MOJOKERTO E
1. Guntur Firnandus 08700274
2. Zhaki Al Asror 09700283
3. Rangga Yudistira 09700078
4. Martin Chandra D 09700355
5. Ni Putu Dewi Sri W. 09700265
6. Aris Sudarwoko 09700289















Koordinator Pendidikan,





drg. Wieke Lutviandari, DFM
NIP. 196009131987112001
Surabaya, Maret 2014
Pembimbing,



drg. Wieke Lutviandari, DFM
NIP. 196009131987112001
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena penyusun telah
menyelesaikan tugas baca yang berjudul “MENENTUKAN USIA SAAT KEMATIAN DARI
JENAZAH BERDASARKAN PEMERIKSAAN GIGI DENGAN METODE DEMIRJIAN,
GOLDSTEIN DAN TANNER” Makalah ini disusun sebagai tugas wajib untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di RSUD Dr. Soetomo
Surabaya, dengan harapan dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu yang bermanfaat bagi pengetahuan
kita.
Dalam penyusunan referat ini, ada hambatan seperti kurangnya sumber referensi. Namun
penyusun menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan dan
bimbingan dari dosen, sehingga kendala yang dihadapi penulis dapat teratasi. Oleh karena itu penyusun
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. H. Soedjari Solichin, dr., Sp.F(K) dan Prof Dr.Med H.M Soekry Erfan Kusuma, dr, Sp.F(K),
DFM selaku Guru Besar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Universitas Airlangga.
2. Hoediyanto, dr, Sp.F(K) selaku Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
3. Dr. Ahmad Yudianto, dr, Sp.F, SH, M.Kes selaku Kepala Instalasi Kedokteran Forensik Medikolegal
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
4. Wieke Lutviandari, drg, DFM selaku Kordinator Pendidikan S1 Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal
5. Wieke Lutviandari, drg, DFM selaku Pembimbing dalam penyusunan Referat ini.
6. Para staf dan PPDS yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penyusun
dalam rangka menyelesaikan penulisan referat ini.

Penyusun sadar sepenuhnya bahwa referat ini jauh dari kesempurnaan dan untuk itu penyusun
membutuhkan saran dan kritik yang membangun agar dalam pembuatan referat yang akan dating akan
menjadi lebih baik. Akhirnya kami berharap semoga referat ini bermanfaat dalam menambah wawasan
bagi kita semua.
Surabaya, Maret 2014
Penyusun

DM UWKS Mojokerto E

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir, kita banyak dikejutkan oleh terjadinya bencana
masal yang menyebabkan kematian banyak orang. Selain itu kasus kejahatan yang memakan
banyak korban jiwa juga cenderung tidak berkurang dari waktu ke waktu. Pada kasus-kasus
seperti ini tidak jarang kita jumpai korban jiwa yang sudah tidak dapat dikenali sehingga
perlu diidentifikasi.
Forensik odontologi adalah salah satu metode penentuan identitas individu yang
telah dikenal sejak era sebelum masehi. Kehandalan teknik identifikasi ini bukan saja
disebabkan karena ketepatannya yang tinggi sehingga nyaris menyamai ketepatan teknik
sidik jari, akan tetapi karena kenyataan bahwa gigi dan tulang adalah material biologis yang
paling tahan terhadap perubahan lingkungan dan terlindung. Gigi merupakan sarana
identifikasi yang dapat dipercaya apabila rekaman data dibuat secara baik dan benar.
Beberapa alasan dapat dikemukakan mengapa gigi dapat dipakai sebagai sarana identifikasi
adalah sebagai berikut, pertama karena gigi bagian terkeras dari tubuh manusia yang
komposisi bahan organik dan airnya sedikit sekali dan sebagian besar terdiri atas bahan
anorganik sehingga tidak mudah rusak, terletak dalam rongga mulut yang terlindungi.
Kedua, manusia memiliki 32 gigi dengan bentuk yang jelas dan masing-masing mempunyai
lima permukaan.
Identifikasi korban meninggal masal melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi yang
tinggi dalam menentukan identitas seseorang. Pada kasus Bom Bali I, dimana korban yang
teridentifikasi berdasarkan gigi-geligi mencapai 56%, korban kecelakaan lalu lintas di
Situbondo mencapai 60%, dan korban jatuhnya Pesawat Garuda di Yogyakarta mencapai
66,7%.
Identifikasi korban pada kasus-kasus ini diperlukan karena status kematian korban
memiliki dampak yang cukup besar pada berbagai aspek yang ditinggalkan. Identifikasi
tersebut merupakan perwujudan HAM dan merupakan penghormatan terhadap orang yang
sudah meninggal. Selain itu juga merupakan menentukan apakah seseorang tersebut secara
hukum sudah meninggal atau masih hidup.
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografis terletak pada wilayah
yang rawan terhadap bencana alam baik yang berupa tanah longsor, gempa bumi, letusan
gunung berapi, tsunami, banjir dan lain-lain, yang dapat memakan banyak korban, dan salah
satu cara mengidentifikasi korban adalah dengan metode forensik odontologi. Oleh karena
itu forensik odontologi sangat penting dipahami peranannya dalam menangani korban
bencana massal.
Saat ini identifikasi positif yang paling baik adalah berdasarkan pada pemeriksaan
gigi dan sidik jari, kedua cara ini merupakan prosedur yang fundamental di dalam
investigasi medikolegal kematian.
Prosedur identifikasi gigi merupakan metode positif untuk membuat identifikasi.
Prosedur ini merupakan metode yang dapat dipilih ketika metode yang biasa dilakukan
untuk identifikasi tidakdapat dilakukan.
Di dalam rongga mulut seorang dewasa normal terdiri atas 32 buah gigi.
Kemungkinan adanya dua individu yang memiliki gigi yang ditambal pada tempat yang
sama dengan materi tambalan yang sama dan adanya gigi yang tanggal digantikan dengan
gigi palsu dari bahan yang sama adalah 1 : 1.000.000.000.

I.2. Tujuan

I.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui beberapa metode penentuan usia berdasarkan susunan gigi pada jenazah

I.2.2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui pentingnya identifikasi gigi untuk menentukan usia jenazah melalui
metode-metode yang telah ada.
I.3. Manfaat
Melalui referat ini diharapkan dapat membantu teman-teman sejawat Dokter Muda dan
untuk menambah pengetahuan tentang beberapa metode penentuan usia berdasarkan gigi
pada jenazah, sehingga didapatkan hasil yang bernilai positif.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bagian Gigi
2.1.1 Dilihat Secara Makroskopis (Menurut Letak Dari Email Dan Sementum)
1. Mahkota/korona ialah bagian gigi yang dilapisi jaringan enamel/email dan
normal terletak di luar jaringan gusi/gingiva.
2. Akar/radix ialah bagian gigi yang dilapisi jaringan sementum dan ditopang
oleh tulang alveolar dan mandibula.
• Akar tunggal: dengan satu apeks
• Akar ganda: dengan bifurkasi, ialah tempat dimana 2 akar bertemu dan
trifurkasi ialah tempat dimana 3 akar bertemu.
3. Garis servikal/semento-enamel junction ialah batas antara jaringan
sementum dan email, yang merupakan pertemuan antara mahkota dan akar
gigi.
4. Garis servikal ialah titik yang terujung dari suatu benda yang runcing atau
yang berbentuk kerucut seperti akar gigi.
5. Tepi insisal (insisal edge) ialah suatu tonjolan kecil dan panjang pada bagian
korona dari gigi insisivus yang merupakan sebagian dari permukaan insisivus
dan yang digunakan untuk memotong/mengiris makanan.
6. Tonjolan/cusp ialah tonjolan pada bagian korona gigi kaninus dan gigi
posterior, yang merupakan sebagian dari permukaan oklusal.



Gambar 1.1. Bagian-Bagian Utama dari Gigi Manusia
(12)


Gambar 1.2. Topografi Gigi Manusia

2.1.2. Dilihat Secara Mikroskopis
1. Jaringan keras ialah jaringan yang mengandung bahan kapur, terdiri dari,
jaringan email/enamel, jaringan dentin/tulang gigi dan jaringan sementum.
Email dan sementum ialah bagian/bentuk luar yang melindungi dentin.
Dentin merupakan bentuk pokok dari gigi, pada satu pihak diliputi oleh jaringan
email (korona) dan pada pihak lain diliputi oleh jaringan sementum (akar),
merupakan bagian terbesar dari gigi dan merupakan dinding yang membatasi
dan melindungi rongga yang berisi jaringan pulpa.
2. Jaringan lunak, yaitu jaringan pulpa. Ialah jaringan yang terdapat dalam ronga
pulpa sampai foramen apikal, umumnya mengandung; bahan dasar (ground
substance), bahan perekat, sel saraf yang peka sekali terhadap rangsangan
mekanis, termis dan kimia, jaringan limfe (cairan getah bening), jaringan ikat
dan pembuluh darah arteri dan vena.
3. Rongga pulpa, terdiri dari :
• Tanduk pulpa/pulp horn yaitu ujung ruang pulpa.
• Ruang pulpa/pulp chamber yaitu ruang pulpa di korona gigi.
• Saluran pulpa/pulp canal yaitu saluran di akar gigi, kadang-kadang
bercabang dan ada saluran tambahan.
• Foramen apikal yaitu lubang di apeks gigi, tempat masuknya jaringan
pulpa.

2.2. Komposisi Gigi
(5,6)

Email berasal dari jaringan ektoderm yang merupakan bagian luar dari
mahkota gigi dan merupakan jaringan paling keras pada tubuh manusia. Email yang
matur tersusun atas garam mineral anorganik (96%) terutama kalsium dan fosfor
dengan sedikit zat organik dan air (4%). Email mempunyai fimgsi spesif ik yaitu
membentuk struktur luar yang resisten pada mahkota gigi sehingga gigi tahan
terhadap tekanan dan abrasi mastikasi namun Email tidak mempunyai kemampuan
untuk menggantikan bagian-bagian yang rusak, oleh karena itu begitu gigi erupsi
maka terlepaslah ia dari jaringan-jaringan lainnya yang ada di dalam gusi/rahang.
Bagian dalam struktur gigi tersusun atas dentin yaitu suatu bahan yang sedikit
lebih keras dari tulang tetapi lebih lunak dari enamel. Pembentukan dentin dikenal
sebagai dentinogenesis. Dentin terdiri dari 70% bahan anorganik terutama fosfor dan
kalsium, dan sisanya 30% bahan organik dan air. Kadar mineral yang rendah pada
dentin menyebabkan dentin lebih radiolusen pada X-Foto gigi dibanding enamel.
Jika barier enamel hancur, komposisi bahan organik pada dentin yang relatif tinggi
menyebabkan cepatnya penetrasi dan penyebaran karies. Di dalam dentin terdapat
pembuluh-pembuluh yang sangat halus, yang berjalan mulai dari batas rongga pulpa
sampai ke batas email dan semen. Pembuluh-pembuluh ini mengandung serabut
yang merupakan kelanjutan dari sel-sel odontoblast yang terdapat pada perbatasan
rongga pulpa. Sel-sel ini berguna untuk melanjutkan rangsangan-rangsangan yang
terdapat dalam dentin ke sel-sel saraf. Bila ada rangsangan termis (panas/dingin),
khemis (asam/manis) dan mekanis/traumatis (makanan keras), rangsangan ini mula-
mula diterima oleh email kemudian dentin dengan melalui tubula dentin dan
serabut-serabut yang merupakan kelanjutan dari sel-sel odontoblast, lalu oleh
pembuluh-pembuluh saraf yang terdapat dalam rongga pulpa.
Pulpa merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian tengah ruang
pulpa pada akar gigi. Pulpa mengandung elemen vaskuler dan saraf yang
membenkan nutrisi dan fungsi sensoris pada dentin dimana fungsi utamanya adalah
membentuk dentin pada gigi. Saraf dan pembuluh darah pulpa masuk kedalam gigi
melalui foramen apikal yang kecil yang terletak pada ujung akar atau apeks gigi.
Pada gigi yang baru erupsi rongga pulpa lebih lebar, lama kelamaan akan menjadi
sempit jika gigi sudah terbentuk lengkap dengan meningkatnya umur.
Sementum merupakan jaringan yang mengalami kalsifikasi yang berasal dari
mesodermis, menutupi akar berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan ikat yang
memperkuat gigi pada alveolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri dari
50% bahan anorganik berupa kalsium dan fosfor dan 50% bahan organik.

2.3. Morfologi Gigi
(5)

Terdapat 2 perangkat gigi geligi manusia, yang terdiri dari gigi susu dan gigi
permanen. Gigi susu jumlahnya 20 buah, mulai erupsi pada umur 6-9 bulan dan
lengkap pada umur 2-2,5 tahun. Maturasi akar gigi susu biasanya terlihat pada umur
3 tahun. Gigi susu terdiri dari 5 gigi perbagian yang masing-masing terdiri dari atas
incisivus sentral dan lateral, kaninus, molar 1 dan molar 2. Gigi susu tidak memiliki
premolar seperti yang terdapat pada gigi permanen.
(4)

Beberapa tahun setelah lahir, gigi permanen mulai mengalami kalsifikasi. Gigi
permanen terdiri atas 28 - 32 gigi, memasuki fase erupsi pada umur 6 tahun dengan
munculnya gigi molar permanen yang pertama. Harus diingat bahwa pembentukan
gigi merupakan suatu proses yang dinamis dimulai dari embrio. Tekanan yang
dihasilkan dari pertambahan dan pembesaran mahkota gigi permanen menyebabkan
akar gigi susu diresorbsi sehingga menyebabkan tanggalnya gigi susu. Antara umur
6-14 tahun, 20 gigi susu diganti dengan 20 gigi permanen. Molar 1 dan 2 permanen
erupsi pada umur 6-12 iahun. Molar 3 permanen erupsi pada umur 17-21 tahun.

Gambar 1.3. Perbedaan Gigi Susu dan Gigi Permanen

2.4. Tahap Pertumbuhan Gigi
(5)

1. Tahap Inisiasi
Adalah permulaan pembentukan kuntum gigi dari jaringan epitel mulut (epitel
bud stage)
2. Tahap Proliferasi
Adalah pembiakan dari sel-sel dan perluasan dari organ email (cap stage)
3. Tahap Histodiferensiasi
Adalah spesialisasi dari sel-sel yang mengalami perubahan histologis dalam
susunanya (sel-sel epitel bagian dalam dari organ email menjadi ameloblas, sel -
sel perifer dari organ dentin pulpa menjadi odontoblas)
4. Tahap Morfodiferensiasi
Adalah susunan dari sel-sel pembentuk sepanjang dentino email dan dentino
cemental junction yang akan datang, yang memberi garis luar dari bentuk dan
ukuran korona dan akar yang akan datang.


2.5 Erupsi Gigi
(6
'
13)

Erupsi merupakan proses ketika gigi menembus gusi hingga nampak di dalam
rongga mulut.
Urutan erupsi pada gigi primer menunjukan beberapa variasi. Sebagian besar
dari hasil tersebut adalah herediter dan hanya sedikit dari faktor lingkungan. Lunt
dan Law menyimpulkan bahwa gigi seri kedua, gigi geraham pertama dan gigi taring
pada rahang atas cenderung lebih cepat megalami erupsi dari pada rahang bawah.

2.6 Waktu Erupsi Gigi Desidua (Primer)
(14)

Terdapat tabel yang menunjukkan kapan waktunya gigi primer (atau yang
disebut juga sebagai gigi susu) mengalami erupsi. Penting diingat bahwa waktu
erupsi pada masing-masing anak berbeda-beda.
Tabel 1.2 Perkembangan Gigi Primer Bagian Atas (Maxilla)
Gigi Atas Waktu Erupsi
Waktu Gigi
Tanggal
Incicivus pertama (sentral) 8-12 bulan 6-7 tahun
Incicivus kedua (lateral) 9-13 bulan 7-8 tahun
Canina (cuspid) 16-22 bulan 10- 12 tahun
Molar pertama 13-19 bulan 9-11 tahun
Molar kedua 25-33 bulan 10- 12 tahun

Tabel 1.3 Perkembangan Gigi Primer Bagian Bawah (Mandibula)
Gigi Bawah Waktu Erupsi
Waktu Gigi
Tanggal
Molar kedua 23-31 bulan 10-12 tahun
Molar pertama 14-18 bulan 9-11 tahun
Canina (cuspid) 17-23 bulan 9- 12 tahun
Incicivus kedua (lateral) 10 16 bulan 7-8 tahun
Incicivus pertama (sentral) 6- 10 bulan 6-7 tahun

Seperti yang tampak pada tabel, bahwa gigi pertama mulai muncul menembus
gusi pada usia 6 bulan. Pada umumnya dua gigi pertama yang mengalami erupsi
adalah dua gigi sen pertama bagian atas. Kemudian disusul dengan empat gigi
terdepan bagian atas. Setelah itu, dilanjutkan dengan kemunculan gigi-gigi yang
lainnya, biasanya muncul secara berpasangan—satu gigi atas dan satu gigi bawah—
hingga 20 gigi seluruhnya (10 gigi bagian atas dan 10 gigi bagian bawah) muncul
saat anak berusia 2,5 sampai 3 tahun. Kemunculan gigi primer secara lengkap
terjadi pada usia 2,5-3 tahun atau hingga 6-7 tahun.
Setelah usia 4 tahun, rahang dan tulang-tulang wajah pada anak mulai
bertumbuh, membentuk ruang antara gigi-gigi susu, Ini merupakan proses
pertumbuhan normal yang alamiah dan dapat menyediakan tempat yang dibutuhkan
untuk kemunculan gigi permanen yang ukurannya lebih besar. Antara usia 6 hingga
12 tahun, gigi permanen ada bersama-sama dengan gigi susu.

Tabel Waktu Erupsi Gigi Permanen
Tabel 1.4 Perkembangan Gigi Permanen Bagian Atas
Gigi Atas Waktu Erupsi
Incicivus pertama (sentral) 7-8 tahun
Incicivus kedua (lateral) 8-9 tahun
Caninus (cuspid) 11 -12 tahun
Premolar pertama 10-11 tahun
Premolar kedua 10-12 tahun
Molar pertama 6-7 tahun
Molar kedua 12- 13 tahun
Molar ketiga 17-21 tahun






Tabel 1.5 Perkembangan Gigi Permanen Bagian Bawah
Gigi Bawah Waktu Erupsi
Molar ketiga 17-21 tahun
Molar kedua 11-13 tahun
Molar pertama 6-7 tahun
Premolar kedua (second bicuspid) 11 -12 tahun
Premolar pertama (first bicuspid) 10-12 tahun
Caninus (cuspid) 9- 10 tahun
Incicivus kedua (lateral) 7-8 tahun
Incicivus pertama (sentral) 6-7 tahun

Sebagaimana tampak dalam tabel tersebut, gigi permanen mulai muncul pada
usia kurang lebih 6 tahun. Pada beberapa anak, molar adalah gigi permanen yang
pertama muncul; sedangkan pada anak yang lain incicivus merupakan gigi permanen
yang pertama kali muncul. Pada usia 13 tahun, kebanyakan 28 gigi permanen telah
menempati tempatnya masing-masing.

2.7 Penentuan Usia Berdasarkan Pemeriksaan Gigi Geligi.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan usia berdasarkan
perkembangan gigi geligi salah satunya yaitumenggunakan metode DEMIRJIAN,
GOLDSTEIN, DAN TANNER

2.7.1 METODE DEMIRJIAN, GOLDSTEIN, DAN TANNER
Dalam metode Demirjian dkk (1973) masing-masing tahap mineralisasi diberi skor
yang menilai estimasi maturitas gigi dengan skala 0-100. Perhitungan matematika dan
dasar ilmiah digunakan untuk menghitung skor yang berasal dari hasil penelitian Tanner
dkk (1983). 8 tahap pertumbuhan gigi dapat digambarkan dari hasil survey radiografik
yang telah diterbitkan, ditambah dengan deskripsi tertulis tentang batas masing-masing
tahap mineralisasi yang telah didefinisikan dengan jelas dna tidak memerlukan
perhitungan.
Ada dua pilihan ketika menggunakan metode ini, pertama adalah penilaian yang
menggunakan 7 gigi mandibula (Demirjian, 1978) dan kedua menggunakan 4 gigi
mandibula (Demirjian dan Goldstein, 1976). Hilangnya gigi dari satu sisi dapat
digantikan oleh gigi dari sisi yang lain. Gigi Molar 1 yang tidak ada dapat digantikan
dengan gigi incisivus sentral (Demirjian, 1978). Data yang diperoleh jika menggunakan
sistem Demirjian mengindikasikan bahwa perbedaan pertumbuhan gigi antara pria dan
wanita biasanya tidak akan nampak sampai usia 5 tahun.
Variasi interobserver dengan sistem Demirjian dapat mencapai 20-25%, namun ± 1
dari 8 tahap (Leverque dan Demirjian, 1980). Sistem ini ternyata memiliki dua kelemahan
jika dilihat dari sisi forensik, yaitu harus terdapat gigi mandibula dan tidak mencakup
pertumbuhan gigi molar III. Mengandalkan penilaian pada gigi mandibula dapat
menimbulkan masalah jika hanya tersisa tengkorak saja dimana mandibula seringkali
sudah terlepas atau bahkan hilang.

Gambar 1.4 Tabel presentasi perkembangan gigi oleh Demirjian et all.


DAFTAR PUSTAKA
1. Raymond I. Haris, LLD; Outline of Death Investigation; Bannerstone House, Illinois.
USA, 1962.
2. Sopher M. Irvin, DDS, MD; Forensic Dentistry; Bannerstone House, Illinois. USA. 1979.
3. Stimson PG; Forensic Dentistry; CRC Press; New York; 1997.