Kerusuhan Mei 1998. Peristiwa itu selama ini hanya sekedar sejarah untuk saya.

Saya tidak
merasakan kengerian Mei 1998, karena saya waktu itu masih berumur 3 tahun. Tidak pernah
peduli, tidak pernah mencari tau lebih lanjut. Hanya sekedar tau bahwa itu merupakan sebuah
tragedi, sekaligus juga awal revolusi demokrasi Indonesia. Kalau saya tanya mama saya,
jawabannya hanya berupa krismon, waktu itu harga semua naik, beli susu mahal. Berita
tentang Mei 1998 akhirnya ramai dibawa ke permukaan akhir-akhir ini, karena calon presiden
kita, Prabowo, masih ada kaitan kuat dengan masa kegelapan tersebut. Sebagai pemilih yang
cerdas, sayapun mencari tau lebih dalam tentang informasi peristiwa tersebut. Saya menjadi
tau lebih banyak, dan cukup merubah paradigma saya tentang siapa yang akan saya pilih
nantinya, tetapi tidak merasakan empati yang mendalam atas peristiwa yang sebetulnya jauh
lebih berdarah dari yang pernah saya bayangkan. Saya mengakui ketika mengikuti diskusi
interaktif mengenai kerusuhan Mei 1998 difokuskan pada perempuan etnis Tionghoa,
awalnya saya tidak begitu tertarik, tetapi seiring dengan berjalannya diskusi, saya merasa
banyak hal-hal baru yang dibukakan. Saya merasa bukan suatu kebetulan saya berada di
tempat itu, dan ketika saya bertanya dengan teman-teman saya, mereka mengakui bahwa itu
salah satu pengetahuan yang sangat berkesan, dan tentunya kami tidak menyangka dapat
sertifikat 
Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama
milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta,
Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan
mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-
ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga
Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis
relawan kemanusiaan bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU
berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu
indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak
hanya sporadis. Terdapat banyak provokator yang diindikasi memicu penyerangan yang
dilakukan warga. Sebagai contoh kesaksian salah satu Bapak yang berada dalam diskusi
tersebut, ia melihat langsung bahwa awalnya ada mobil jeep yang berhenti di depan bank
BCA dikawasan kuningan, lalu mereka mulai berteriak-teriak, mengguncang pagar, dan
melempari batu. Warga sekitarpun langsung berkumpul, dan dengan beberapa kalimat
provokasi, warga jadi ikut melempari batu dan bahkan menjarah dan membakar bank BCA,
setelah berhasil, provokator pun kembali melaju dengan jeep mereka. Para pemerkosa,
setelah bertahun-tahun diselidiki, dapat disimpulkan bahwa sebelumnya pelaku diberikan
obat perangsang yang memicu aksi bejat tersebut. Para korban pemerkosaan banyak tersebar
hampir ke seluruh penjuru, seperti Australia, Amerika dan Kanada. Mereka mengalami
trauma yang mendalam bahkan beberapa menjadi gila. Para korban tidak berani kembali ke
Indonesia, kenapa? Karena sampai saat ini keadilan untuk mereka belum ditegakan, tidak ada
jaminan perlindungan untuk mencari keadilan, untuk berbicara. Dan sampai saat ini, mereka
hanya dapat merasakan kehancuran psikologis diri mereka.
Saya ingin memfokuskan keterkaitan dari sudut pandang alkitab pada para korban
pemerkosaan. Saya tidak dapat membayangkan, sedikitpun tidak, jika saya adalah salah satu
yang mengalami peristiwa tersebut. Saya hanya bisa membayangkan bahwa tentunya saya
akan mempunyai kepaitan yang mendalam, terhadap semua orang, terhadap diri sendiri, dan
terhadap Tuhan. Saya akan membenci diri saya sampai pada titik saya mungkin ingin bunuh
diri. Saya akan kehilangan “Gambar diri”. Orang-orang yang gambar dirinya rusak akan
memandang diri sendiri sebagai manusia yang rendah, menjijikan dan tidak pantas mendapat
kasih. Tetapi sebenarnya, dirinya sangat berharga. Mazmur 139 : 4 berkata, “Aku bersyukur
kepada-Mu, oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku
benar-benar menyadarinya.” Dan ayat yang sangat terkenal, Yohanes 3 : 16 “Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal.” Ayat-ayat ini membuktikan bahwa Tuhan menciptakan masing-masing dari kita,
termasuk para korban pemerkosaan, berharga dimata Tuhan. Satu lagu yang menyentuh hati
saya setiap kali, liriknya berkata begini, “siapa kah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu?
Dengan apakah kubalas Tuhan, selain puji dan sembah Kau?”
Memang saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika saya mengalami salah satu
peristiwa mengerikan diatas, tetapi saya tahu terlalu banyak orang yang dapat bangkit dari
keterpurukan dan Tuhan mengubahkannya untuk menjadi kesaksian dalam hidupnya. Salah
satu contoh, Paulus yang dianiyaya karena memberitakan injil, menjadikan penderitaannya
sebuah kesaksian tentang pertolongan Tuhan yang sangat dashyat dan lewat penderitaan Ia
tetap bersaksi. Dan banyak sekali contoh pada masa modern ini, hamba-hamba Tuhan yang
dulunya disiksa suaminya, jatuh dalam dosa free sex, pembicara motivasi terkenal yang jika
kita lihat secara fisik pasti dia akan kehilangan gambar diri, tetapi lewat kondisi tersebut
Tuhan pakai secara luar biasa untuk memberkati banyak orang Saya percaya, setiap peristiwa
yang terjadi dalam hidup ini, pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan. Jika para korban
dapat pulih dan melewati kebencian akan dirinya, jika mereka berani bersaksi, jika mereka
berani berbicara, mungkin mereka dapat mengubahkan sistem keadilan pada Bangsa ini.

Amanda Anasthasya
1306372265