KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS

)
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pokok-pokok rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia
Sehat 2010, menggariskan arah pembangunan kesehataan yang
mengedepankan paradigm sehat. Tujuan pembangunan kesehatan menuju
Indonesia Sehat 2010 antara lain meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat dan memiliki akses terhadap pelayanan
kesehatan bermutu secara adil dan merata. bat merupakan salah satu
komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. !kses
terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak a"asi
manusia. #engan demikian penyediaan obat esensial merupakan
ke$ajiban bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik public
maupun s$asta. bat berbeda dengan komoditas perdagangan lainnya,
karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki
%ungsi sosial.
&ebijakan #epkes terhadap peningkatan akses obat diselenggarakan
melalui beberapa strata kebijakan yaitu Peraturan Pemerintah, Indonesia
Sehat 2010, Sistem &esehatan 'asional (S&'), &ebijakan bat 'asional
(&'!S), S&' 200* yang menggantikan S&' 1+,2, memberikan landasan,
arah dan pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan bagi
seluruh penyelenggara kesehatan, baik pemerintah pusat, propinsi dan
kabupaten-kota, maupun masyarakat dan dunia usaha, serta pihak lain
yang terkait. Salah satu subsistem S&' 200* adalah bat dan Perbekalan
&esehatan. #alam subsistem tersebut penekanan diberikan pada
ketersediaan obat, pemerataan termasuk
keterjangkauan dan jaminan mutu obat. &'!S adalah dokumen
kebijakan pelaksanaan program di bidang obat, sebagai penjabaran dari
subsistem bidang bat dan Perbekalan kesehatan dalam S&'. &'!S
merupakan dokumen resmi yang berisi pernyataan komitmen semua pihak
baik pusat, propinsi kabupaten - kota yang menetapkan tujuan dan sasaran
nasional di bidang obat beserta prioritasnya, untuk menggariskan strategi
dan peran berbagai pihak dalam penerapan komponen-komponen pokok
kebijakan untuk pencapaian tujuan pembangunan kesehatan.
#engan diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2000
berdasarkan .. 22-1+++, yang diperbaharui dengan .. /2-200* tentang
Pemerintah #aerah, beberapa peran pemerintah pusat dialihkan kepada
pemerintah daerah sebagai ke$enangan $ajib dan tugas pembantuan,
salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. &ep0en&es 'o
00*-200/ tentang &ebijakan dan Strategi #esentralisasi 1idang kesehatan
dan &ep0en&es 'o 1*23-200/ tentang Standar Pelayanan 0inimal (SP0)
bidang kesehatan merupakan petunjuk pelaksanaan program kesehatan
yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. #alam SP0 tersebut,
indikator yang menyangkut obat antara lain, 1004 pengadaan obat
esensial dan obat generik dan +04 penulisan obat generik di pelayanan
kesehatan dasar. Selain itu dalam indikator program pemberantasan
penyakit menular seperti Tbparu, pneumonia, 5I6-!I#S, malaria dan
Penyakit yang #apat #icegah dengan Imunisasi (P#/I) dipastikan
membutuhkan ketersediaan dan keterjangkauan obat.
1
S1 Farmasi DELLYANA
Penyediaan dan atau pengelolaan anggaran untuk pengadaan obat
esensial yang diperlukan masyarakat di sektor publik menjadi tanggung
ja$ab pemerintah daerah. 'amun pemerintah pusat masih mempunyai
ke$ajiban untuk penyediaan obat program kesehatan dan bu7er stok.
Sedangkan jaminan keamanan, khasiat dan mutu obat yang beredar masih
tetap menjadi tanggung ja$ab pemerintah pusat.
Sebelum diberlakukannya otonomi daerah, pembiayaan obat di sektor
publik, terutama penyediaan obat esensial disediakan oleh pemerintah
pusat. Pelaksanaan otonomi daerah telah memba$a perubahan mendasar
yang perlu dicermati untuk tetap menjamin ketersediaan obat esensial
bagi masyarakat. .ntuk daerah-daerah terpencil, perbatasan, kepulauan
dan daerah ra$an, perlu dikembangkan sistem manajemen obat secara
khusus.
B. TUJUAN
&'!S dalam pengertian luas dimaksudkan untuk meningkatkan
pemerataan dan keterjangkauan obat secara berkelanjutan, untuk
tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
&eterjangkauan dan penggunaan obat yang rasional merupakan bagian
dari tujuan yang hendak dicapai. Pemilihan obat esensial yang tepat dan
pemusatan upaya pada penyediaan obat esensial tersebut terbukti telah
meningkatkan akses obat serta penggunaan obat yang rasional..
Semua obat yang beredar harus dijamin keamanan, khasiat dan
mutunya agar betul betul memberikan man%aat bagi kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat, dan justru tidak merugikan kesehatan.
1ersamaan dengan itu masyarakat harus dilindungi dari salah penggunaan
dan penyalahgunaan obat.
#engan demikian tujuan &'!S adalah untuk menjamin 8
1. &etersediaan , pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial
2. &eamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta
penggunaan obat yang rasional.
/. 0asyarakat terlindung dari salah penggunaan dan penyalahgunaan
obat9
C. RUANG LINGKUP
bat adalah sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk
digunkan untuk mempengaruhi atau menyedilidki sistem :siologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi.
#engan demikian obat mencakup produk biologi tidak termasuk mencakup
obat.
#alam hal ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat
diutamakan pada obat esensial, sedangkan dari aspek jaminan mutu
diberlakukan pada semua jenis obat.
2
S1 Farmasi DELLYANA
BAB II
ANALISIS SITUASI DAN KECENDERUNGAN
bat sebagai salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan,
mulai dari upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis,
pengobatan dan pemulihan harus diusahakan agar selalu tersedia pada
saat dibutuhkan. #i samping merupakan unsur yang penting dalam upaya
kesehatan, obat sebagai produk dari industri %armasi dengan sendirinya
tidak lepas dari aspek ekonomi dan teknologi. Tekanan aspek teknologi dan
ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya globalisasi ekonomi,
namun tekanan ini pada dasarnya dapat diperkecil sedemikian rupa
sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sedangkan industri
%armasi dapat berkembang secara $ajar. bat juga dapat merugikan
kesehatan bila tidak memenuhi persyaratan atau bila digunakan secara
tidak tepat atau disalah gunakan.
A. PERKEMBANGAN
&eman%aatan obat bagi kesehatan dan kesejahteraan ditujukan bagi
masyarakat Indonesia yang saat ini penduduknya berjumlah 21+ juta
ji$a, dan diproyeksikan pada tahun 2020 akan berjumlah sekitar 222
juta ji$a. !pabila tingkat kelahiran dan tingkat kematian terus menurun
mengikuti laju penurunan tingkat %ertilitas dan mortilitas, maka angka
pertumbuhan penduduk alamiah juga akan turun dari 1,2 4 per tahun
pada periode tahun 2000-2002 menjadi 0,3+ 4 per tahun pada periode
2012-2020. Pada piramida kependudukan, terjadi perubahan
kecenderungan pada mengecilnya jumlah penduduk usia muda dan
balita, dan meningkatnya jumlah segmen angkatan kerja dan usia
lanjut secara bermakna di tahun 2020, yang perubahannya
diperkirakan akan mulai terlihat sejak tahun 2002 ini. ;umlah tenaga
kerja tahun 2000 sebesar <+,+ 4 dari jumlah penduduk seluruhnya dan
diproyeksikan akan menjadi 3<,, 4 pada tahun 2020.
#ari sisi keterjangkauan, akses, penggunaan obat akan memberikan
kontribusi dalam pencapaian derajat kesehatan yang ingin dicapai
pemerintah. Proyeksi angka umur harapan hidup (.55) tahun 2002
sebesar <+,0 tahun dan tahun 2022 akan sebesar 3/,3 tahun. !ngka
kematian bayi (!&1) tahun 2002 sebesar /2,/ per 1.000 kelahiran
hidup dan tahun 2022 akan sebesar 12,2 per 1.000 kelahiran hidup.
!ngka kematian ibu (!&I) tahun 2002 sebesar 2<2 per 100.000
kelahiran hidup dan tahun 2022 akan sebesar 102 per 100.000
kelahiran hidup. Pre=alensi kurang energi kalori (&>&) pada 1alita tahun
2002 diproyeksikan sebesar 2/ 4 dan tahun 2022 akan sebesar 13 4.
Sebelum diberlakukannya otonomi daerah, diperkirakan 20-,0 4 dari
masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap obat esensial. !kses
masyarakat terhadap obat esensial dipengaruhi oleh empat %aktor
utama, yaitu penggunaan obat yang rasional9 harga yang terjangkau9
pembiayaan yang berkelanjutan9 dan sistem pelayanan kesehatan
beserta sistem suplai obat yang dapat menjamin ketersediaan,
pemerataan, keterjangkauan obat. 1eberapa inter=ensi terhadap
kepatuhan penggunaan obat yang rasional telah dilakukan #epartemen
&esehatan di beberapa daerah seperti di Pro=insi 'T1, &alimantan
Timur, ;a$a Timur, &alimantan 1arat dan Sumatera 1arat dan telah
menampakkan hasil pada tahun 1++1.
>=aluasi penerapan &'!S pada tahun 1++3 menunjukkan
kerasionalan penggunaan obat relati% lebih baik. 'amun keberhasilan
3
S1 Farmasi DELLYANA
beberapa inter=ensi yang dilakukan di beberapa daerah tersebut,
belum sempat diperluas telah terjadi krisis ekonomi yang memberikan
dampak negati% pada pelaksanaan kerasionalan penggunaan obat.
.ntuk menjamin obat yang memenuhi persyaratan telah
dikembangkan standar komoditi yang mencakup standar keamanan,
khasiat dan mutu. Selain itu telah dikembangkan standar proses
produksi yaitu ?ara Pembuatan bat yang 1aik (?P1). .ntuk
pemantauan mutu obat yang beredar dilakukan melalui program
sampling.
@egulasi bidang obat mencakup8 aspek persyaratan produk, proses
produksi, sistem suplai, sistem harga, pembiayaan, dan sebagainya.
Penerapan regulasi secara umum dapat dikatakan telah berjalan baik
terutama sebelum era desentralisasi. #ari aspek sistem suplai obat hal
ini dapat dilihat dengan ketersediaan obat yang terjamin di seluruh
$ilayah Indonesia melalui Audang Barmasi &abupaten-&ota (AB&). 5al
tersebut di atas sekarang ini telah berubah disebabkan pengaruh =isi
dan persepsi Pemda kepada AB& yang ber=ariasi.
.ntuk menjamin keterjangkauan obat, terutama di sektor publik,
pemerintah telah menetapkan harga obat esensial generik untuk
pelayanan kesehatan dasar, maupun obat esensial generik program
untuk Pemberantasan Penyakit 0enular (P20). #isamping itu
pemerintah juga menyediakan dana subsidi obat melalui Program
&ompensasi Pengurangan Subsidi 1ahan 1akar 0inyak (P&PS 110)
untuk masyarakat miskin. Sedangkan untuk masyarakat
berpenghasilan rendah disubsidi melalui pengadaan obat di pelayanan
kesehatan dasar. Cang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah
kesinambungan ketersediaan dana pengadaan obat untuk masyarakat
miskin.
#a%tar bat >sensial 'asional (#>') telah disusun sejak tahun
1+,0, dan dire=isi secara berkala pada tahun 1+,/, 1+,3, 1++0, 1++*,
1++,, dan 2002. #>' digunakan sebagai dasar penyediaan obat di
pelayanan kesehatan publik. 5asil sur=ei ketersediaan dan penggunaan
obat menunjukkan bah$a sebelum maupun selama masa krisis
ekonomi di Indonesia antara tahun 1++3-2002, ketersediaan obat
esensial di Puskesmas mencapai lebih dari ,04, dan lebih dari +04
obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial.
&etersediaan obat narkotika untuk pelayanan kesehatan diperoleh
melalui produksi, impor, dan distribusi oleh perusahan %armasi yang
ditunjuk pemerintah. Industri %armasi, importir, distributor, dan apotik
di$ajibkan membuat laporan pemakaian narkotika dan prekursor
secara periodik. ;enis narkotika seperti 0etadon untuk pengobatan
substitusi pecandu, saat ini hanya disediakan dalam rangka pilot
project di dua rumah sakit yaitu @umah sakit &etergantungan bat
(@S&) Batma$ati dan @S.P Sanglah.
B. PERMASALAHAN
#ari sudut keterjangkauan secara ekonomis, harga obat di Indonesia
umumnya dinilai mahal dan struktur harga obat tidak transparan.
Penelitian D5 menunjukkan perbandingan harga antara satu nama
dagang dengan nama dagang yang lain untuk obat yang sama,
berkisar 1 8 2 sampai 1 8 2. Penelitian di atas juga membandingkan
harga obat dengan nama dagang dan obat generik menunjukkan obat
generik bukan yang termurah. Sur=ai dampak krisis rupiah pada biaya
obat dan ketersediaan obat esensial antara 1++3 E 2002 menunjukkan
4
S1 Farmasi DELLYANA
bah$a biaya resep rata-rata di sarana kesehatan sektor s$asta jauh
lebih tinggi dari pada di sektor publik yang menerapkan pengaturan
harga dalam sistem suplainya. &eadaan ini antara lain menggambarkan
betapa pentingnya adanya kebijakan pemerintah mengenai penetapan
harga obat (pricing policy).
5arga obat dengan nama dagang umumnya masih sangat tinggi
dibandingkan dengan harga obat generik. 0ekanismen penetapan
harga obat di sektor s$asta saat ini diserahkan kepada pasar.
0engingat obat bukan komoditi biasa dan sangat mempengaruhi
kehidupan manusia, maka harga obat di sektor s$asta perlu di atur
oleh pemerintah.
Sebagian besar AB& de$asa ini kurang ber%ungsi, sehingga
pengadaan obat menjadi tidak e:sien dan tidak sesuai dengan
kebutuhan, baik jumlah, jenis maupun penerimaan dan
pendistribusiannya. Pemekaran kabupaten baru dari tahun ke tahun
semakin bertambah jumlahnya, memerlukan penambahan AB& baru. #i
$aktu ke depan AB&, memerlukan re=italisasi dan penyesuaian nama
menjadi Instalasi Barmasi &abupaten-&ota (IB&) untuk lebih
mengedepankan %ungsi dan strukturnya.
#alam era desentralisasi, peran dan tanggung ja$ab IB& sangat
berbeda dengan sebelumnya sehingga terjadi penurunan kualitas
pengelolaan obat publik di kabupaten-kota. &eadaan di atas ditambah
dengan ketidak-taatan dalam pengelolaan obat yang sebelumnya
sudah baik sehingga mengakibatkan ketersediaan obat esensial
semakin tidak menentu. Setelah desentralisasi, jejaring suplai logistik
obat nasional yang sebelumnya ditopang oleh tenaga yang kompeten
dan sistem in%ormasi yang baik di IB&, pada saat ini tidak dapat
ber%ungsi secara optimal karena dikelola oleh tenaga yang tidak
kompeten.
Sampai saat ini tercatat sekitar 1/.000 merek obat yang beredar di
pasaran. #ari jumlah tersebut ada sekitar *00 jenis obat tercantum
dalam #>', dengan 220 jenis obat diantaranya tersedia dalam bentuk
obat esensial generik. #i sektor publik terutama di sarana pelayanan
kesehatan dasar, ketersediaan obat esensial generik berkisar antara
,0-100 4. 'amun demikian kepatuhan pengadaan obat esensial
generik semakin menurun di era desentralisasi. Padahal dalam
keputusan bersama 0enkes-0endagri menyatakan bah$a pengadaan
obat bersumber !P1# maupun !P1' harus dalam bentuk esensial
generik. &epatuhan penggunaan obat rasional melalui penyusunan
#>' untuk seluruh strata pelayanan kesehatan dan %ormularium di
tiap rumah sakit masih rendah. &epatuhan penggunaan obat generik di
sarana pelayanan kesehatan pemerintah juga masih rendah.
&etersediaan obat didukung oleh industri %armasi yang +0 4
berlokasi di pulau ;a$a dan telah dapat memproduksi +, 4 kebutuhan
obat nasional, namun sebagian besar bahan baku masih di impor.
0emperhatikan perkembangan industri %armasi multinasional yang
cenderung melakukan merger serta penerapan T@IPs dikha$atirkan
industri %armasi nasional akan semakin sulit untuk bersaing dipasar
domestik sekalipun. #iperlukan upaya dari pemerintah dan seluruh
pemangku kepentingan (stake holder) untuk mengantisipasi hal
tersebut.
!lokasi anggaran pemerintah untuk kesehatan selama ini tergolong
rendah, termasuk anggaran untuk obat. Sebelum pelaksanaan
desentralisasi, alokasi anggaran pemerintah untuk obat hanya 20 4
dari seluruh belanja obat nasional. 'amun dengan pengembangan
5
S1 Farmasi DELLYANA
sistem pengelolaan obat di sector publik, anggaran yang relati% rendah
tersebut telah mampu me ncakup sekitar 30 4 dari penduduk.
!nggaran obat untuk pelayanan kesehatan dasar sebelum
desentralisasi disubsidi oleh pemerintah pusat melalui dana I'P@>S,
yang besarnya secara berangsur telah ditingkatkan mencapai .SF 0,,2
per kapita. &arena dana pemerintah untuk kesehatan telah dimasukkan
ke dalam #ana !lokasi .mum (#!.) yang diberikan ke Pemda, maka
dana obat untuk pelayanan kesehatan dasar di daerah menjadi
tanggung ja$ab Pemda. !nggaran obat sektor publik di daerah sangat
berbeda secara menyolok antara satu daerah dengan daerah lainnya,
karena adanya perbedaan =isi dan persepsi Pemda tentang kesehatan,
khususnya peran obat. .ntuk mengatasi bencana dan kekurangan obat
di kabupaten-kota, pemerintah pusat tetap berke$ajiban menyediakan
obat bu7er stok.
#ibanding rekomendasi D5 tentang penyediaan dana obat bagi
kepentingan publik yang besarnya .SF 2 per kapita, maka dana yang
tersedia baik melalui !P1# maupun !P1' masih belum sesuai.
1erdasarkan sur=ai dana obat per kapita kabupaten-kota, penyediaan
obat untuk pelayanan kesehatan dasar yang secara umum rata-ratanya
kurang dari @p. 2.000,- per kapita.
Pemerintah pusat mulali tahun 2002 menyediakan dana obat untuk
masyarakat miskin di pelayanan kesehatan dasar dari Program P&PS-
110 besarnya @p. 1/0 milyar per tahun. Seluruh dana yang tersedia
dari pemerintah di distribusikan kepada %asilitas kesehatan baik milik
pemerintah maupun s$asta yang ditunjuk. #ana untuk mengatasi
kekurangan anggaran yang tersedia di kabupaten-kota (#!., !P1#,
dan lain-lain) melalui P&PS110 perlu dijamin kesinambungannya.
#alam era desentralisasi, pengalokasian dana dan pengadaan obat
untuk pelayanan kesehatan dasar ditentukan sendiri oleh masing-
masing kabupaten-kota sehingga untuk kabupaten-kota yang
perhatiannya terhadap kesehatan terutama peran obat masih kecil
dikha$atirkan pelayanan obat kurang terjamin.
#alam pengobatan yang rasional pasien menerima obat yang sesuai
dengan kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang sesuai, untuk jangka
$aktu pengobatan sesuai, dengan biaya yang terjangkau. Sur=ai di
sarana pelayanan kesehatan yang dilakukan menunjukkan bah$a
angka ketidakrasionalan penggunaan obat masih tinggi, yang hingga
kini masih memerlukan pembinaan secara teratur, dan
berkesinambungan.
&etidak-rasionalan penggunaan obat yang sering terjadi adalah
poli%armasi, penggunaan antimikroba yang tidak tepat (misalnya dalam
dosis yang tidak memadai atau untuk penyakit yang tidak memerlukan
antimikroba), penggunaan injeksi secara berlebihan, penulisan resep
yang tidak sesuai dengan pedoman klinis, dan pengobatan sendiri
secara tidak tepat.
&ecenderungan pre=alensi penyakit menular dan ISP! dalam jangka
diperkirakan akan semakin meningkat. Sedangkan 0alaria diperkirakan
dalam jangka panjang masih dihadapkan pada masalah yang sama.
&asus diare dalam jangka panjang diperkirakan akan sedikit
bertambah. &asus penyakit Schistosomiasis dalam jangka panjang
diperkirakan masih menghadapi masalah yang sama seperti saat ini.
.ntuk itu perlu pendekatan pembangunan ber$a$asan kesehatan.
&asus penyakit ?ampak, dengan upaya imunisasi yang
berkesinambungan diperkirakan akan menurun.
6
S1 Farmasi DELLYANA
&ecenderungan pre=alensi penyakit tidak menular dimasa
mendatang, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah diperkirakan
akan semakin bertambah.
Pelayanan ke%armasian (pharmaceutical care) seharusnya mengikuti
Praktek Pelayanan &e%armasian yang 1aik (Good Pharmacy Practices),
sebagaimana yang dianjurkan oleh D5. Praktik selama ini pada
umumnya belum terlaksana sebagaimana mestinya di hampir semua
.paya &esehatan8 Perorangan (.&P), strata kedua (rumah sakit kelas ?
dan 1 non pendidikan), strata ketiga (rumah sakit kelas 1 pendidikan
dan kelas !) dan %armasi komunitas (apotek).
0asalah pelayanan ke%armasian yang belum mengikuti pelayanan
ke%armasian yang baik tidak hanya disebabkan oleh sistem pengelolaan
obat, ketersediaan komoditi %armasi, melainkan juga akibat kurangnya
ketersediaan, pemerataan dan pro%esionalisme tenaga %armasi. leh
karena itu pengembangan tenaga %armasi baik jumlah maupun
kompetensinya sangat penting guna menjalankan sistem dan program
secara optimal.
Pelayanan ke%armasian ( Pharmaceutical care) yang merupakan dari
bagian pelayanan kesehatan (5ealth care) bertujuan untuk
meningkatan penggunaan obat yang rasional, keamanan penggunaan
obat, e:siensi biaya obat. 5arus mengikuti praktek ke%armasian yang
baik (good pharmaceutical practise).
Tingginya penggunaan obat esensial pada pelayanan kesehatan
dasar tidak di ikuti oleh %asilitas pelayanan kesehatan lain, hal ini
ditunjukkan dengan rendahnya peresepan obat esensial di rumah sakit
pemerintah (kurang dari 3<4), rumah sakit s$asta (*+4), dan apotek
(kurang dari *34). &eadaan di atas menunjukkan bah$a konsep obat
esensial belum sepenuhnya dipahami dan diterapkan
Penggunaanoobatrrasional perlu dipromosikan baik kepada
sarana kesehatan pemerintah maupun swasta. Promosi
penggunaan obat trasional telah dilakukan melalui berbagai
media, namun cakupannya belum menjangkau seluruh
masyarakat. Hambatan terbesar penerapan penggunaan obat
rasional berdasarkan survei WHO adalah iintervensi promosi
pabrik obat. Sedangkan intervensi manajerial penggunaan
obat rasional melalui pembentukan komite farmasidan terapi di
rumah sakit belum sepenuhnya berjalan.
C. PELUANG
&erasionalan penggunaan obat tidak terbatas pada penggunaan obat
oleh tenaga kesehatan (health provider) tetapi juga pada pengobatan
sendiri. #ari data tahun 2001 memperlihatkan bah$a proporsi
penduduk yang mengobati sendiri sebesar ,/,,, 4 menggunakan
obat. Penduduk di perkotaan lebih banyak menggunakan obat yaitu
,2,0* 4 dibandingkan penduduk pedesaan sebesar ,/,02 4
(2001).leh karena itu &omunikasi, in%ormasi dan edukasi yang e%ekti%
dan terus-menerus merupakan suatu keharusan dalam rangka
penggunaan obat rasional. !poteker dan tenaga %armasi lainnya
memegang peran penting agar tujuan penggunaan obat secara
rasional dapat tercapai.
Medicine prices study pada dasarnya merupakan pendekatan baru
dalam upaya mendapatkan in%ormasi dan melakukan kajian tentang
harga obat. 5al ini sangat membantu masyarakat untuk memilih obat
yang sesuai dengan kemampuan atau daya beli.
7
S1 Farmasi DELLYANA
D. TANTANGAN
&eterjangkauan obat dapat dipandang dari sudut geogra:s, ekonomi
dan sosial politik. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari
13.20* pulau dimana 2.303 diantaranya sudah bernama. 'amun pulau
yang telah berpenghuni jumlahnya lebih kecil. Saat ini sebagian
masyakat Indonesia tinggal di daerah terpencil, daerah tertinggal, dan
$ilayah perbatasan. Sebagian lagi tinggal di daerah ra$an bencana
baik bencana alam dan bencana buatan manusia seperti 8 ketidak-
stabilan politik dan tingginya tingkat kemiskinan. #engan pola
penyebaran penduduk seperti tersebut di atas, maka diperlukan
adanya perbedaan pengelolaan obat sesuai dengan karateristik
masing-masing daerah. Sebagai contoh kita dapat melakukan
pengelompokan Pro=insi &epulauan 8 @iau, 'T1, 'TT, 0aluku dan
0aluku .tara lebih memiliki karakteristik geogra:s kepulauan.
Sedangkan propinsi di &alimantan dan Papua dapat dikategorikan
daratan luas dengan hambatan transportasi. &ategori lain adalah Pulau
;a$a, 1ali, Sumatera dan Sula$esi.
Pada era globalisasi sekarang ini, regulasi makin berkembang
dengan upaya harmonisasi persyaratan teknis di antara pengendalian
dan penga$asan obat yang diprakarsai negara-negara industri, yang
mengarah ke kecanggihan teknis yang perlu dicermati untuk
kepentingan nasional. #ampak globalisasi perlu diantisipsi dengan
regulasi yang tepat karena berpengaruh terhadap ketersediaan obat
program kesehatan seperti 8 obat 5I6-!I#S, life saving orphan drugs.
Selama satu setengah dekade terakhir produksi farmasi di dunia,
yang meningkat dengan kecepatan empat kali lipat dari pertumbuhan
pendapatan dunia, semakin terkonsentrasi di lima negara industri.
Produksi, perdagangan dan penjualan obat di dunia semakin
didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan transnasional. Sepuluh
perusahaan transnasional terbesar menguasai hampir setengah
penjualan di dunia. Bersamaan dengan itu kesenjangan akses obat
antara negara maju dengan Negara miskin semakin jauh. Sementara
itu volume produksi obat yang besar dan lebih murah terjadi di dua
negara sia berpenduduk terpadat, yang tumbuh cepat dalam keadaan
pasar domestik yang sangat kompetitif. !alam jangka panjang hingga
tahun "#"$ ketersediaan dan akses obat akan dipengaruhi oleh
industri farmasi skala global dan distribusi penyakit menular dan
penyakit tidak menular berlingkup global yang patut diperhitungkan
%ndonesia sejak saat ini.
Pada tahun 1++* Indonesia telah merati:kasi perjanjian &'( )&orld
'rade (rgani*ation), dimana diantaranya terdapat lima perjanjian yang
rele=an dengan bidang kesehatan, yaitu !greement on 'rade+,elated
spects of %ntellectual Property ,ights )',%Ps-9 the greement on the
pplication of Sanitary and Phytosanitary Measures )SPS-. the
greement on 'echnical Barriers to 'rade )'B'-. the General
greement on 'ari/s and 'rade )G''-9 dan the General greement on
'rade in Services )G'S-. DT pada garis besarnya dibentuk untuk
menciptakan perdagangan bebas melalui perdagangan yang
nondiskriminati%, liberalisasi hambatan perdagangan secara progresi%,
kebijakan yang transparan dan dapat diprediksi dari negara anggota,
persaingan dan perlakuan khusus bagi negara berkembang.
Pemberlakuan perdagangan bebas serta ketentuan T@IPs (berlaku
mulai tahun 2002 bagi 'egara berkembang), dapat memperbesar
ketergantungan negara berkembang pada 'egara majuluar negeri
8
S1 Farmasi DELLYANA
dalam pengadaan obat. #i pihak lain dalam pasar yang terbuka,
kelemahan dalam pengendalian dan penga$asan obat dapat menjadi
peluang untuk masuknya obat yang tidak memenuhi standar dan
spesi:kasi.
Perjanjian DT memba$a implikasi berupa perlindungan hak paten,
penghapusan tari/ dan non tari/ barrier, perampingan proses
registrasi dan harmonisasi persyaratan teknis. #i satu pihak keadaan
ini memberikan beban pada pengendalian dan penga$asan obat dan di
lain pihak memaksa industry %armasi domestik untuk meningkatkan
daya saingnya. Perjanjian T@IPs memperpanjang $aktu perlindungan
hak paten yang berarti memperpanjang hak monopoli dari industri
ino=ator transnasional, yang akan memberikan dampak negati% pada
keterjangkauan obat oleh masyarakat. .ntuk itu pemerintah harus
meman%aatkan peluang yang ada dalam Trips seperti 8 compulsary
licence, pararel import, go=ernment use untuk menjamin ketersedian
dan keterjangkauan obat di Indonesia.
5armonisasi persyaratan teknis memba$a implikasi pemaksaan
kecanggihan teknis yang tidak mendesak, dan yang menimbulkan
beban tambahan bagi perusahaan domestik serta bagi konsumen.
1erkenaan dengan itu Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan
tersebut dengan kemampuan pengkajian teknis ilmiah. Perdagangan
bebas juga memba0a implikasi pada pengendalian dan penga0asan
obat berupa ancaman akan lolosnya obat yang tidak memenuhi
standar dan persyaratan spesi1kasi. Menghadapi ancaman tersebut,
pengendalian dan penga0asan obat harus senantiasa diperkuat
kemampuan dan kapasitasnya sejalan dengan perkembangan %ptek.
Pemerintah perlu memiliki strategi untuk memperkecil dampak dari
ancaman tersebut.
9
S1 Farmasi DELLYANA
BAB III
STRATEGI DAN LANDASAN KEBIJAKAN
A. STRATEGI
1. Ketersediaa! "e#erataa da $eter%a&$a'a ()at
esesia*.
!kses obat esensial bagi masyarakat secara garis besar dipengaruhi
oleh empat %aktor utama, yaitu penggunaan obat secara rasional9
harga yang terjangkau9 pendanaan yang berkelanjutan9 dan sistem
kesehatan serta sistem penyediaan obat yang dapat diandalkan
1erdasarkan pola pemikiran di atas ketersediaan, pemerataan, dan
keterjangkauan obat esensial hendak dicapai melalui strategi
berikut 8
a. Sistem pembiayaan obat berkelanjutan, baik sektor publik
maupun sektor s$asta mengacu pada .. 'o *0 Tahun 200*
tentang Sistem ;aminan Sosial 'asional (S;S') yang dijabarkan
dalam berbagai bentuk ;aminan Pemeliharaan &esehatan
0asyarakat (;P&0).
b. @asionalisasi harga obat dan peman%aatan obat generik.
c. Penerapan sistem pengadan dalam jumlah besar (bulk
purchasing) atau pengadaan secara terpusat (pool procurement)
disektor publik. #isertai distribusi obat yang e%ekti%, e:sien dan
akuntabel, pada sektor public dan s$asta.
d. Pengembangan dan e=aluasi terus-menerus, model dan bentuk
pengelolaan obat sektor publik di daerah terpencil, daerah
tertinggal, daerah perbatasan dan daerah ra$an.
e. Penyiapan regulasi yang tepat untuk menjamin ketersediaan
obat.
%. 0eman%aatkan skema dalam Trips 8 compulsary license,
go=ernment use, pararel impor.
2. Ja#ia $ea#aa! $+asiat da #'t' ()at )eredar! serta
"er*id'&a #as,ara$at dari )er)a&ai da#"a$ sa*a+
"e&&'aa da "e,a*a+&'aa ()at .
Penga$asan dan pengendalian obat mulai dari impor, produksi
hingga ke tangan pasien, merupakan kegiatan yang tak
terpisahkan. leh karena itu keamanan, khasiat dan mutu semua
obat yang beredar harus dapat dijamin melalui strategi berikut8
a. Penilaian dan pengujian melalui proses penda%taran, pembinaan,
penga$asan dan pengendalian (bin$asdal) produksi, impor,
ekspor, distribusi dan pelayanan obat merupakan suatu
kesatuan yang utuh, dilakukan secara transparan dan
independen.
b. !danya dasar hukum, dan penegakan hukum secara konsisten,
dengan e%ek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran.
c. Penyempurnaan ketentuan sarana produksi, sarana distribusi,
sampai dengan tingkat pengecer.
d. Pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran
in%ormasi terpercaya, sehingga terhindar dari penggunaan obat
yang tidak memenuhi persyaratan.
e. Penyempurnaan dan pengembangan berbagai standar dan
pedoman pengembangan bahan obat.
-. Pe&&'aa ()at se.ara rasi(a*
10
S1 Farmasi DELLYANA
Pengembangan serta penerapan pedoman terapi dan kepatuhan
terhadap #a%tar bat >sensial 'asional (#>'), merupakan dasar
dari pengembangan penggunaan obat secara rasional. Salah satu
masalah yang mendasar atas terjadinya penggunaan obat yang
tidak rasional adalah in%ormasi yang tidak benar, tidak lengkap dan
menyesatkan. leh karena itu perlu dijamin agar pengguna obat,
baik pelayan kesehatan maupun masyarakat mendapatkan
in%ormasi yang benar, lengkap dan tidak menyesatkan. 1erdasarkan
hal-hal tersebut di atas upaya untuk penggunaan obat yang
rasional dilakukan melalui strategi berikut8
a. Penerapan #a%tar bat >sensial 'asional (#>') dalam setiap
upaya pelayanan kesehatan, baik perorangan maupun
masyarakat, melalui peman%aatan pedoman terapi dan
%ormularium .
b. !dopsi obat dari #>' pada pengadaan obat dan skema ;P&0.
c. Penerapan pendekatan %armakoekonomi melalui kajian biaya
e%ekti% dan keman%aatan (cost e/ectiveness and cost bene1t
analysis- pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat
pelayanan.
d. Penerapan pelayanan ke%armasian yang baik.
e. 0enjamin diterimanya in%ormasi yang benar, lengkap, dan tidak
menyesatkan oleh para pengguna.
%. Pemberdayaan masyarakat melalui &I> (komunikasi, in%ormasi
dan edukasi).
g. Pembatasan jumlah dan jenis obat yang beredar.
B. LANDASAN KEBIJAKAN
.ntuk mencapai tujuan &'!S ditetapkan landasan kebijakan sebagai
berikut 8
1. Pemerintah melaksanakan pembinaan, penga$asan dan
pengendalian obat, sedangkan pelaku usaha di bidang obat
bertanggung ja$ab atas mutu obat sesuai dengan %ungsi usahanya.
Tugas penga$asan dan pengendalian yang menjadi tanggungja$ab
pemerintah dilakukan secara pro%esional, bertanggungja$ab,
independen dan transparan.
2. Pemerintah bertanggung ja$ab atas ketersediaan, keterjangkauan,
dan pemerataan obat esensial yang dibutuhkan masyarakat.
/. Pemerintah dan pelayan kesehatan bertanggungja$ab untuk
menjamin agar pasien mendapat pengobatan yang rasional
*. 0asyarakat berhak untuk mendapatkan in%ormasi obat yang benar.
Pemerintah memberdayakan masyarakat untuk terlibat dalam
pengambilan keputusan pengobatan.
2. Pemerintah mendorong terlaksananya penelitian dan
pengembangan obat yang mencakup aspek sistem( manajamen
obat, manajemen S#0, penggunaan obat rasional, dan lain-lanin),
komoditi obat, proses (pengembangan obat baru), kajian regulasi
dan kebijakan.
<. Pemerintah dan semua pihak terkait bertanggungja$ab atas
ketersediaan S#0 yang dapat menunjang pencapaian sasaran.
11
S1 Farmasi DELLYANA
BAB I/
POKOK0POKOK DAN LANGKAH0LANGKAH KEBIJAKAN
A. PEMBIA1AAN OBAT
Sasara 2
Mas,ara$at! ter'ta#a ,a& tida$ #a#"' da"at #e#"er(*e+
()at esesia* ,a& di"er*'$a setia" saat di"er*'$a.
5al utama yang menjamin tersedianya obat esensial bagi masyarakat
adalah terjaminnya ketersediaan pembiayaan yang memadai secara
berkelanjutan. Penyediaan biaya yang memadai dari pemerintah
sangat menentukan ketersediaan dan keterjangkauan obat esensial
oleh masyarakat. Pelayanan kesehatan termasuk obat semakin tidak
terjangkau bila sarana pelayanan kesehatan sektor publik dijadikan
sumber pendapatan.
Salah satu upaya untuk menjamin pembiayaan obat bagi masyarakat,
adalah bila semua anggota masyarakat dicakup oleh sistem ;P&0.
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. Penetapan target pembiayaan obat sektor publik secara nasional
(D5 menganjurkan alokasi sebesar minimal .S F 2 per kapita.)
2. #epartemen &esehatan mengembangkan mekanisme pemantauan
pembiayaan obat sektor publik di daerah.
/. Pemerintah menyediakan anggaran obat untuk program kesehatan
nasional. Sedangkan untuk masyarakat yang dikategorikan mampu
dapat berkontribusi.
*. Pemerintah Pusat menyediakan dana bu7er stok nasional untuk
kepentingan penanggulangan bencana, dan memenuhi kekurangan
obat di kabupaten -kota.
2. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
pemerintah daerah menyediakan anggaran obat yang dialokasikan
dari #ana !lokasi .mum (#!.), khususnya untuk pelayanan
kesehatan strata pertama. 0engingat obat sangat penting artinya
bagi kesejahteraan masyarakat, maka perlu alokasi anggaran yang
cukup.
<. Sesuai dengan .ndang-.ndang 'o *0 tahun 200* tentan S;S'
(Sistem ;aminan Sosial 'asional), skema ;P&0 dan sistem jaminan
pemeliharaan kesehatan lainnya harus menyelenggarakan
pelayanan kesehatan paripurna termasuk obat.
3. 1iaya yang mungkin dikenakan kepada pasien di pelayanan,
khususnya Puskesmas, semata-mata merupakan alat Gserta bayarH
(co+payment) dan tidak ditujukan sebagai sumber penghasilan.
,. .ntuk menghadapi keadaan darurat , maka pemerintah harus
mengutamakan penggunaan obat dalam negeri. 1antuan dari
'egara donor si%atnya hanya supplemen. 0ekanisme obat bantuan
harus mengikuti kaidah internasional maupun ketentuan dalam
negeri.
+. Pemerintah perlu melakukan kebijakan penetapan harga obat untuk
menjamin ke$ajaran harga obat.
B. KETERSEDIAAN OBAT
Sasara2
O)at ,a& di)'t'+$a 't'$ "e*a,aa $ese+ata! ter'ta#a
()at esesia* seatiasa tersedia di se*'r'+ 3i*a,a+ Id(esia
&etersediaan obat esensial secara nasional harus dijamin oleh
pemerintah. #emikian pula pemerataannya di seluruh $ilayah
Indonesia. &etentuan perjanjian DT menutup kemungkinan
12
S1 Farmasi DELLYANA
pemberian subsidi pemerintah untuk menunjang produksi dalam
negeri. 'amun, meskipun kemandirian tidak mungkin dicapai dalam
pasar yang mengglobal, pemerintah perlu memberi kemudahan pada
produksi lokal yang layak teknis dan yang dapat menunjang
perekomian nasional melalui berbagai upaya dan dengan
meman%aatkan peluang yang ada.
Sementara itu e:siensi dan e%ekti=itas sistem distribusi perlu
ditingkatkan terus untuk menunjang ketersediaan dan kerterjangkauan
obat yang berkelanjutan. Sarana dan prasarana yang telah
dikembangkan pada $aktu yang lalu seperti 8 Audang Barmasi
&abupaten-&ota perlu dire=italisasi guna menunjang ketersediaan dan
keterjangkauan obat. .ntuk menunjang penggunaan obat secara
rasional perlu dilakukan peningkatan pro%esionalisme
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. 0emberikan insenti% untuk produksi dalam negeri tanpa
menyimpang dari dan dengan meman%aatkan peluang yang ada
dalam perjanjian DT.
2. 0enunjang ekspor obat untuk mencapai skala produksi yang lebih
ekonomis untuk menunjang perkembangan ekonomi nasional.
1erkenaan dengan itu otoritas regulasi obat mengupayakan
pengakuan internasional atas serti:kasi nasional serta memberikan
%asilitasi serti:kasi internasional pabrik %armasi.
/. Peningkatan kerjasama regional, baik sektor publik maupun sector
s$asta, dalam rangka perdagangan obat internasional untuk
pengembangan produksi dalam negeri.
*. Peningkatan e:siensi dan e%ekti=itas distribusi obat melalui regulasi
yang tepat.
2. Peningkatan pelayanan ke%armasian melalui peningkatan
pro%esionalisme tenaga %armasi sesuai dengan stIndar pelayanan
yang berlaku.
<. Pemberian insenti% untuk pelayanan obat di daerah terpencil.
3. Peningkatan peran serta pengecer obat terutama di daerah
terpencil untuk penyebaran pelayanan obat bebas secara baik.
,. &etersediaan obat sektor publik8
a. Pembentukan Instalasi Barmasi di Propinsi dan &abupaten-&ota
Pemekaran serta @e=italisasi Instalasi Barmasi &abupaten-&ota
(IB&) yang sudah ada sebagai .nit Pengelola bat dengan
meman%aatkan sistem in%ormasi pengelolaan obat yang e:sien
dan e%ekti%.
b. Penerapan prinsip e:siensi dalam pengadaan obat, dengan
mengikuti #>', serta dengan pemusatan pengadaan obat di
daerah pada tingkat kabupaten-kota.
c. Penerapan pengelolaan obat yang baik di IB&.
d. Penerapan prinsip transparansi dalam pengadaan obat sektor
public serta pemisahan %ungsi dan tanggung ja$ab seleksi,
kuanti:kasi, spesi:kasi produk, pra-kuali:kasi pemasok, dan
pelaksanaan tender.
e. 0emberikan kesempatan kepada industri dalam negeri apabaila
diperlukan meman%aatkan skema compulsary license,
go=ernment use, pararel impor untuk memenuhi keperluan obat
disektor publik
+. &etersediaan obat dalam keadaan darurat
a. Pengorganisasian suplai obat dalam keadaan darurat sesuai
ketentuan yang berlaku..
13
S1 Farmasi DELLYANA
b. #epartemen &esehatan menyusun pedoman pengadaan obat
untuk keadaan darurat yang ditinjau kembali secara berkala.
c. Pengadaan obat untuk keadaan darurat mengikuti pedoman
#epartemen &esehatan dan pemerintah mengambil langkah-
langkah untuk menjamin ketepatan jumlah, jenis, mutu dan
$aktu penyerahan obat.
d. .ntuk menghadapi keadaan darurat , maka pemerintah harus
mengutamakan obat produksi dalam negeri. 1antuan dari
'egara donor si%atnya hanya sisipan (supplemen). 0ekanisme
obat bantuan harus mengikuti kaidah internasional maupun
ketentuan dalam negeri.
10. Pemerintah mengembangkan mekanisme pemantauan
ketersediaan obat esensial dan mengambil langkah-langkah
penyediaannya.
11. 11.Pemerintah perlu melakukan kebijakan penetapan harga
obat untuk menjamin ketersedian obat.
12. .ntuk mengatasi masalah penyakit tertentu yangg
memerlukan rphan #rug, maka pemerintah dapat menggunakan
Special !ccess Scheme.
C. KETERJANGKAUAN
Sasara 2
Har&a ()at ter'ta#a ()at esesia* &eeri$ ter%a&$a' (*e+
#as,ara$at.
.paya untuk keterjangkauan atau akses obat di upayakan dari dua
arah, yaitu dari arah permintaan pasar dan dari arah pemasok. #ari
arah permintaan diupayakan melalui penerapan &onsep bat >sensial
dan penggunaan obat generik. Penerapan &onsep bat >sensial dan
penggunaan obat generik dilakukan melalui berbagai upaya, antara lain
pengaturan, pengelolaan obat di sektor publik dan pada skema ;P&0.
#i sektor public penekanan harga dalam pengadaan juga di upayakan
melalui pengadaan dalam jumlah besar atau pengadaan secara
tepusat.
#ari segi pasokan ditempuh berbagai upaya, antara lain dengan
menghindarkan adanya monopoli meskipun di bidang obat terdapat
banyak masalah seperti perlindungan hak paten, pengembangan brand
royalty, penguasaan pasar global oleh segelintir perusahaan
transnasional. Selain itu diterapkan pula kebijaksanaan mengenai
harga obat (pricing policy), yang disesuaikan dengan stabilitas ekonomi
dan kemampuan pengelolaannya oleh birokrasi. .ntuk menunjang
kebijakan harga obat dikembangkan system in%ormasi harga obat.
leh karena akses terhadap obat esensial merupakan salah satu hak
asasi manusia, sudah selayaknya obat esensial dibebaskan dari pajak
dan bea masuk.
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. Peningkatan penerapan &onsep bat >sensial dan Program bat
Aenerik8
a. Sosialisasi &onsep bat >sensial dalam pelayanan kesehatan
baik sektor publik maupun s$asta.
b. 0enerapkan #>' dalam seluruh sarana pelayanan kesehatan.
c. Secara konsisten memasyarakatkan obat generik.
d. #>' merupakan bagian dari kurikulum dalam pendidikan dan
pelatihan tenaga pro%esi kesehatan.
14
S1 Farmasi DELLYANA
e. Peningkatan Program bat Aenerik dengan pengendalian mutu
dan harga dengan meman%aatkan in%ormasi harga obat
internasional.
%. 0engi"inkan pelaksanaan registrasi obat generik yang sangat
dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan sebelum hak paten obat
yang bersangkutan kadalu$arsa.
g. Pemberian insenti% kepada apotek dalam pelayanan obat
esensial dan obat generik.
2. Pemerintah melaksanakan e=aluasi harga secara periodik dengan
membandingkan dengan harga re%erensi internasional mengikuti
metoda standar internasional yang terkini untuk8
a. 0embandingkan harga dengan harga di negara lain dalam
rangka mengambil langkah kebijakan yang tepat mengenai
harga obat9
b. 0embandingkan keterjangkauan obat oleh masyarakat di
berbagai daerah (baik perkotaan maupun pedesaan), dan di
sarana pelayanan berbagai sektor (baik di sektor publik, sektor
s$asta maupun sector s$asta nirlaba) dalam rangka mengambil
kebijakan yang tepat9
c. 0enilai dampak kebijakan yang telah dilaksanakan mengenai
harga obat.
/. Peman%aatan studi %armako-ekonomik di unit pelayanan kesehatan
secara terintegrasi untuk meningkatkan e:siensi.
*. Pengendalian harga jual pabrik8
a. Pemerintah melakukan perbandingan harga obat yang masih
dilindungi hak paten dengan harga di negara lain dengan
mengacu pada hasil pengukuran harga obat. 1ila perlu
pemerintah melaksanakan lisensi $ajib sesuai dengan .ndang-
undang 'o 1* Tahun 2001 tentang Paten.
b. 5arga obat me-too (kopi) tidak boleh lebih mahal dari harga
obat paten yang bersangkutan.
2. Pemerintah mengembangkan sistem in%ormasi harga obat bagi
masyarakat.
<. Pemerintah mengembangkan sistem pengadaan obat sektor public
dengan menerapkan prinsip pengadaan dalam jumlah besar atau
pengadaan terpusat.
3. Penghapusan pajak dan bea masuk untuk obat esensial
,. Pemerintah perlu melakukan kebijakan penetapan harga obat untuk
menjamin keterjangkauan harga obat.
D. SELEKSI OBAT ESENSIAL
Sasara 2
Diteri#a,a se.ara *'as Da4tar O)at Esesia* Nasi(a* ( DOEN)
bat esensial adalah obat terpilih yang dibutuhkan untuk pelayanan
kesehatan, mencakup upaya diagnosis, pro:laksis, terapi dan
rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan
sesuai dengan %ungsi dan tingkatnya. !gar sistem pelayanan kesehatan
ber%ungsi dengan baik, obat esensial harus selalu tersedia dalam
jumlah dan jenis yang memadai, bentuk sediaan yang tepat, mutu
terjamin, in%ormasi yang memadai, dan dengan harga yang terjangkau.
Proses dalam pemilihan obat esensial merupakan hal yang sangat
kritikal. #a%tar obat esensial yang ditentukan hanya dari atas tidak
akan mencerminkan kebutuhan nyata dan tidak akan diterima oleh
pelayan kesehatan. leh karena itu proses pemilihan harus
memperhatikan adanya konsultasi dan transparansi, kriteria pemilihan
15
S1 Farmasi DELLYANA
yang eksplisit, pemilihan yang terkait dengan pedoman klinis berbasis
bukti ilmiah terkini, da%tar dan pedoman klinis yang berbeda untuk
setiap tingkat pelayanan yang diperbaharui secara berkala.
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. Pembentukan komite nasional untuk pemilihan obat esensial.
2. Pemilihan obat esensial harus terkait dengan pedoman terapi atau
standar pengobatan yang didasarkan pada bukti ilmiah terkini.
/. Seleksi obat esensial dilakukan melalui penelaahan ilmiah yang
mendalam dan pengambilan keputusan yang transparan dengan
melibatkan para ahli dalam bidang obat dan kedokteran, berbagai
strata sarana pelayanan kesehatan .&0 dan .&P dan lembaga
pendidikan tenaga pro%esi kesehatan.
*. @e=isi #>' dilakukan secara periodik paling tidak setiap /-* tahun
dengan melalui proses pengambilan keputusan yang sama.
2. Penyebarluasan #>' dan setiap re=isi #>' kepada sarana
pelayanan kesehatan sampai daerah yang terpencil, pendidik
tenaga pro%esi kesehatan, pelayan kesehatan, mahasis$a
kesehatan, baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik.
<. Pengintegrasian &onsep bat >sensial dalam pendidikan %ormal,
pendidikan berkelanjutan maupun pelatihan tenaga pro%esi
kesehatan.
E. PENGGUNAAN OBAT 1ANG RASIONAL
Sasara 2
Pe&&'aa ()at da*a# %eis )et'$ sedia! d(sis da %'#*a+
,a& te"at da disertai i4(r#asi ,a& *e&$a"! )ear da
tida$ #e,esat$a.
.ntuk mengatasi permasalahan penggunaan obat yang tidak rasional
perlu dilakukan pemantauan penggunaan obat untuk mengetahui8
1. Tipe ketidak-rasionalan sehingga strategi dapat di arahkan untuk
mengatasi permasalahan.
2. 1esarnya permasalahan.
/. Penyebab penggunaan obat yang tidak rasional untuk memilih
strategi yang tepat, e%ekti%, dan layak untuk dilaksanakan.
>=aluasi penggunaan obat yang terarah dapat digunakan untuk
mengidenti:kasi masalah penggunaan obat tertentu atau pengobatan
penyakit tertentu. D5, bekerjasama dengan beberapa mitra kerja,
telah menyelenggarakan beberapa pelatihan internasional untuk
meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pelatihan penggunaan
obat yang rasional perlu diterapkan secara luas di Indonesia.
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. Pembentukan komite nasional multidisiplin untuk mengkoordinasi
langkah kebijakan penggunaan obat.
2. Penyusunan pedoman terapi standar berdasarkan bukti ilmiah
terkini yang di re=isi secara berkala.
/. #>' sebagai acuan pemilihan obat.
*. Pemberdayaan &omite Barmasi dan Terapi di rumah sakit.
2. Pembelajaran %armakoterapi berbasis masalah dalam kurikulum S1
tenaga pro%esi kesehatan.
<. Pendidikan berkelanjutan sebagai persyaratan i"in menjalankan
kegiatan pro%esi.
3. Penga$asan, audit dan umpan balik dalam penggunaan obat.
,. Penyediaan in%ormasi obat yang jujur dan benar.
+. Pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk menggunakan
obat secara tepat dan benar.
16
S1 Farmasi DELLYANA
10. Jangkah regulasi dan penerapannya untuk menghindarkan
insenti% pada penggunaan dan penulisan resep obat tertentu.
11. @egulasi untuk menunjang penerapan berbagai langkah
kebijakan penggunaan obat secara rasional.
12. !lokasi anggaran pemerintah yang memadai untuk
memastikan ketersediaan obat esensial serta untuk pelatihan
tenaga pro%esi kesehatan.
5. REGULASI OBAT
Sasara 2
1. bat yang beredar memenuhi syarat keamanan, khasiat dan mutu
dan di distribusikan sesuai dengan ketentuan.
2. 0asyarakat terhindar dari penggunaan obat yang salah dan
penyalah gunaan obat.
/. Sumber daya manusia yang terlibat dalam penanganan obat harus
memenuhi persyaratan kompetensi
@egulasi obat merupakan tugas yang kompleks yang melibatkan
beberapa pemangku kepentingan (stakeholders). leh karena itu
terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain dasar
hukum, sumber daya manusia dan sumber daya keuangan yang
memadai, independensi, dan tranparansi. @egulasi hanya dapat
ber%ungsi dengan baik apabila ditunjang oleh sumber daya manusia
yang kompeten, serta berintegritas tinggi. !nggaran yang memadai
dan berkesinambungan, akses terhadap ahli, hubungan internasional,
laboratorium pemeriksaan mutu, dan system penegakan hukum di
pengadilan yang dapat diandalkan.
.ntuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, regulasi obat harus
dilaksanakan secara indpenden dan transparan. Prosedur dan hasil
kerja regulasi obat harus transparan bagi semua pemangku
kepentingan, antara lain8
1. Penyusunan, publikasi dan penyebarluasan persyaratan, in%ormasi
yang harus diserahkan untuk berbagai permohonan i"in9
2. Publikasi kriteria dan prosedur dalam pengambilan keputusan untuk
permohonan i"in di atas9
/. Publikasi keputusan yang diambil seperti8 da%tar obat terda%tar yang
diperbaharui secara berkala9 pencabutan penda%taran9 penarikan
obat dari peredaran.
Pada dasarnya regulasi menyangkut aspek yaitu keamanan, khasiat,
mutu, dan in%ormasi obat. &egagalan penga$asan akan mengakibatkan
masuknya obat palsu dan obat yang tidak jelas asal- usulnya ke dalam
sistem pelayanan kesehatan.
Penga$asan obat merupakan salah satu upaya mengatasi masalah
penyalahgunaan obat yang merupakan masalah yang kompleks dan
harus ditangani secara lintas sektor dan lintas program. Penga$asan
obat juga mencakup perlindungan masyarakat terhadap penggunaan
obat yang salah sebagai akibat dari kekurang-pengetahuan masyarakat
serta in%ormasi yang tidak benar, tidak lengkap dan menyesatkan.
0enghadapi permasalahan di atas, pemberdayaan masyarakat
merupakan salah satu upaya yang ampuh untuk menghadapi salah
penggunaan dan penyalahgunaan obat.
!khirnya dalam rangka penegakan hukum, di bidang obat, kerjasama
dan tanggung ja$ab setiap unsur pemerintah harus selalu dipelihara
dan ditingkatkan.
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. @egulasi obat dilaksanakan secara transparan dan independen.
17
S1 Farmasi DELLYANA
2. Perkuatan %ungsi penga$asan obat sebagai satu kesatuan yang
menyeluruh terdiri dari8
a. Penda%taran obat nasional9
b. Peri"inan sarana produksi dan distribusi9
c. Inspeksi sarana produksi dan sarana distribusi obat9
d. !kses laboratorium pemeriksaan mutu9
e. Pelulusan uji oleh regulator yang kompeten9
%. Sur=eilans pasca pemasaran9
g. torisasi uji klinik.
/. Peningkatan sarana dan prasarana regulasi obat, serta pemenuhan
kebutuhan sumber daya manusia yang memadai.
*. Pemantapan usaha impor, produksi, distribusi, dan pelayanan obat.
2. Peningkatan kerjasama regional maupun internasional meliputi
standar mutu, standar proses, , dan pengembangan sarana jaminan
mutu (Kuality assurance) obat.
<. Pengembangan tenaga baik dalam jumlah dan mutu sesuai dengan
stIndar kompentesi.
3. Pengakuan internasional terhadap serti:kasi nasional obat, sarana
produksi obat, dan tenaga pro%esional di bidang obat.
,. Peningkatan inspeksi jalur distribusi yang ditunjang prosedur
operasi standar, dilaksanakan oleh tenaga inspektur terlatih dengan
jumlah memadai, serta dilengkapi peralatan yang lengkap (antara
lain untuk tes obat sederhana).
+. Pembentukan Pusat In%ormasi bat di pelayanan kesehatan dan
#inas &esehatan untuk intensi:kasi penyebaran in%ormasi obat.
10. Peningkatan kerjasama dengan instansi terkait dalam
penegakan hokum secara konsisten.
11. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan peran serta
masyarakat untuk berperan dalam kontrol sosial menghadapi obat
palsu dan obat tidak terda%tar melalui berbagai jalur komunikasi dan
berbagai media.
12. Pengembangan sistem nasional %armako=ijilan sebagai
pengembangan dari 0onitoring >%ek Samping bat 'asional (0>S
'asional).
1/. 0engembangkan peraturan perundang-undangan yang
mengatur promosi obat dengan mengadopsi 23thical 4riteria for
Medicinal Promotion5 dari D5 untuk merespons promosi obat non-
etis.
G. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Sasara 2
Pei&$ata "ee*itia di )ida& ()at 't'$ #e'%a&
"eera"a KONAS.
Pengertian penelitian dan pengembangan obat termasuk dalam
penelitian pengembangan kesehatan (Jitbangkes) yang di dalamnya
terkandung juga kajian berbagai hasil Jitbang dan kebijakan. Jitbang
obat ini pada dasarnya mencakup aspek sistem (manajemen obat,
manajemen S#0, penggunaan obat rasional, dan lain-lain), komoditi
(obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetik, bahan berbahaya, bahan
tambahan makanan, dan lain-lain), proses (pengembangan obat baru
kimia %armasi, %ormulasi, uji preklinik, uji klinik), kajian regulasi dan
kebijakan (>, A, ?P1), dan lain-lain.
La&$a+ $e)i%a$a2
1. Pengembangan, dan modi:kasi indikator penerapan &'!S.
18
S1 Farmasi DELLYANA
2. Pengembangan model pengelolaan terutama obat esensial di
daerah terpencil, daerah perbatasan, daerah ra$an bencana,
daerah tertinggal, guna menunjang ketersediaan, pemerataan dan
keterjangkauan
/. Penelitian operasional untuk e=aluasi penerapan &'!S secara
berkala sesuai dengan pedoman D5 untuk dapat melakukan
penilaian kemajuan penerapannya.
*. Pengembangan obat baru untuk penyakit baru (emerging),
munculkembali (re-emerging), obat yang secara ekonomis tidak
menguntungkan namun sangat diperlukan (orphan drugs-.
2. Pengembangan dan re=italisasi Sistem In%ormasi bat di Instalasi
Barmasi &abupaten-&ota (IB&) untuk menjamin ketersediaan,
pemerataan dan keterjangkauan khususnya obat esensial.
<. Pengembangan dan e=aluasi sistem monitoring keamanan
penggunaan obat.
3. &ajian atas e%ekti:tas sistem sampling pada uji petik pengujian obat
di pasaran.
,. Penelitian dan pengembangan penggunaan obat rasional mulai dari
identi:kasi masalah, besarnya masalah, memilih strategi
peningkatan penggunaan obat yang rasional.
+. Penerbitan dan re=isi pedoman cara uji klinis yang baik untuk
berbagai kelas terapi obat.
H. PENGEMBANGAN SUMBER DA1A MANUSIA
Sasara 2
Tersedia,a SDM ,a& #e'%a& "e.a"aia sasara KONAS.
Tenaga %armasi yang diperlukan untuk berbagai institusi di atas harus
memadai dari segi jumlah, kompetensi maupun pemerataan. .ntuk itu
perlu dilakukan upaya peningkatan dan pengembangan S#0 %armasi
sacara sistematis, berkelanjutan disesuaikan dengan perkembangan
Iptek. Instalasi Barmasi &abupaten-&ota (IB& L AB&) yang sebelumnya
telah dikembangkan di setiap &abupaten-&ota, dilengkapi dengan
sistem in%ormasi yang dapat diandalkan serta sumber daya manusia
yang telah terlatih. Pelayanan obat di Puskesmas, rumah sakit baik
pemerintah maupun s$asta, industri %armasi, Pedagang 1esar Barmasi
(P1B), apotek serta toko obat. #isamping itu diperlukan tenaga
apoteker di lebih *00 kabupaten-kota dan // pro=insi. Serta diperlukan
juga tenaga asisten apoteker untuk puskesmas.
La&$a+ $e)i%a$a2
1. 0elakukan pemetaan kebutuhan tenaga %armasi di bidang obat.
2. Penyediaan tenaga %armasi sesuai dengan kebutuhan di setiap
jenjang pelayanan kesehatan
/. &'!S merupakan bagian dari kurikulum pendidikan dan pelatihan
tenaga pro%esi kesehatan.
*. Penerapan &'!S pada pendidikan berkelanjutan oleh organisasi
pro%esi kesehatan.
2. Penyelenggaraan pelatihan kerja (in-job training) untuk menunjang
penga$asan obat, penggunaan obat yang rasional serta
pengelolaan obat esensial secara e%ekti% dan e:sien.
<. &erjasama regional dan internasional untuk pengembangan S#0 a.l.
kerjasama dengan organisasi internasional dan dengan negara
donor.
I. PEMANTAUAN DAN E/ALUASI
Sasara 2
19
S1 Farmasi DELLYANA
Me'%a& "eera"a KONAS se)ai$0)ai$,a #e*a*'i
"e#)et'$a #e$ais#e "e#ata'a da e6a*'asi "er4(r#a
serta da#"a$ $e)i%a$a! &'a #e&eta+'i +a#)ata da
"eeta"a strate&i ,a& e4e$ti4
&'!S memerlukan pemantauan secara berkala dan die=aluasi. 5al ini
penting untuk melakukan antisipasi atau koreksi terhadap perubahan
lingkungan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat yang begitu
kompleks dan cepat. &egiatan pemantauan dan e=aluasi merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pengembangan kebijakan.
#ari pemantauan kebijakan akan dapat dilakukan koreksi yang
dibutuhkan.
Sedangkan e=aluasi kebijakan dimaksudkan sebagai melakukan studi
tentang penyelenggaraannya, melaporkan output-nya, mengukur
outcome, menge=aluasi pengaruhnya (impact) pada kelompok sasaran,
memberikan rekomendasi serta penyempurnaan kebijakan.
La&$a+ Ke)i%a$a2
1. Pemantauan dilakukan secara berkala dan e=aluasi dilakukan oleh
suatu komite nasional yang melibatkan instansi terkait.
2. Jingkup pemantauan dan e=aluasi meliputi antara lain prioritas
penerapan, kapasitas, pelaksanaan dan kemajuan pencapaian
tujuan.
/. Pemantauan dapat dilakukan dengan penetapan daerah sampel.
*. Pelaksanaan pemantauan mengikuti pedoman D5 dan
bekerjasama dengan D5 untuk memungkinkan membandingkan
hasilnya dengan negara lain.
2. Peman%aatan hasil pemantauan dan e=aluasi untuk8
a. Tindak lanjut berupa penyesuaian kebijakan, baik penyesuaian
opsi kebijakan maupun penetapan prioritas.
b. 'egosiasi dengan instansi dan badan terkait.
c. 1ahan pembahasan dengan berbagai badan internasional
maupun donor luar negeri.
20
S1 Farmasi DELLYANA
BAB /
P E N U T U P
Perumusan &'!S memerlukan pengorganisasian, penggerakan,
pelaksanaan, pemantauan, penga$asan, pengendalian dan e=aluasi.
&'as dipergunakan sebagai petunjuk dalam bertindak dari berbagai
pemangku kepentingan (stakeholders) di Indonesia &'!S merupakan
sistem terbuka berinteraksi, interelasi dan interdependensi yang sinergis
dengan lingkungan strategis baik di tingkat lokal, nasional, regional dan
global yang dinamis dan perlu mengikuti perkembangan.
&eberhasilan penggerakan dan pelaksanaan &'!S sangatlah
bergantung pada landasan moral, etika, dedikasi, kompetensi, integritas,
ketekunan, kerja keras, dan ketulusan segenap pemangku kepentingan di
bidang obat.
&ita berharap dari keyakinan yang tumbuh dari diri kita, &'!S ini
dapat dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan di bidang obat.
G*(ssar,
0e too 8
&J1 8
#arurat 8
1encana 8
1ulk Purchasing 8
Pool procurement 8
P/#
D5 8
IB& 8
bat >ssensial 8
bat Aenerik 8
?P1 8
#>' 8
1u7er stok 8
rphan drug 8
S!S 8
21
S1 Farmasi DELLYANA
Da4tar isi
1!1 I. P>'#!5.J.!'
!. Jatar belakang /
1. Tujuan *
?. @uang Jingkup 2
1!1 II !'!JISIS SIT.!SI dan &>?>'#>@.'A!'
!. Perkembangan <
1. Permasalahan ,
?. Peluang 11
#. Tantangan 12
1!1 III. ST@!T>AI #!' J!'#!S!' &>1I;!&!'
!. Strategi 1*
1. Jandasan &ebijakan 1<
1!1 I6. P&&-P&& #!' J!'A&!5-J!'A&!5 &>1I;!&!'
. Pembiayaan bat 13
B. &etersediaan bat 1,
?. &eterjangkauan 20
#. Seleksi bat >sensial 21
>. Penggunaan bat Cang @asional 22
B. @egulasi bat 2*
A. Penelitian #an Pengembangan 2<
5. Pengembangan Sumber #aya 0anusia 23
I. Pemantauan #an >=aluasi 2,
1!1 6. P>'.T.P 2+
22
S1 Farmasi DELLYANA