KOROSI

MATERIAL TEKNIK 1

KOROSI
I. Proses Terjadinya Korosi dari aspek
1. Elektrokimia
Korosi secara elektrokimia dapat diilustrasikan dengan reaksi antar
ion logam dengan molekul air. Mula-mula akan terjadi hidrolisis yang
akan mengakibatkan keasaman meningkat. Hal ini dapat diterangkan
dengan persamaan berikut : M
+
+ H
2
O → MOH + H
+

Persamaan ini menggambarkan reaksi hidrolisis yang umum,
dimana pada elektrolit yang sebenarnya akan terdapat peran klorida
yang penting tetapi akan menjadi rumit untuk diuraikan.
Kecenderungan yang rendah dari klorida untuk bergabung dengan ion-
ion hidrogen dalam air mendorong menurunnya pH larutan elektrolit.
Persamaan reaksi jika reaksi di atas adalah ion besi dan molekul air
adalah sebagai berikut :


Kemudian reaksi ini dapat berlanjut dengan terjadinya reaksi
oksidasi oleh kehadiran oksigen terhadap besi (II), sehingga akan
terbentuk ion-ion besi (III). Persamaan reaksi tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut :


Reaksi-reaksi hidrolisis selanjutnya dimungkinkan, yang
menyebabkan larutan semakin asam :


Untuk selanjutnya dapat diuraikan reaksi dari ion-ion kompleks
sehingga terbentuk hasil korosi utama yaitu magnetit dan karat,
berturut-turut dinyatakan dengan rumus Fe3O4 dan FeO(OH)
Persamaan reaksi-reaksi tersebut adalah :



Laju korosi secara elektrokimia merupakan kecepatan rata-rata
perubahan ketebalan atau berat dari logam yang mengalami korosi
terhadap waktu melalui proses elektrokimia.
KOROSI
MATERIAL TEKNIK 2

2. Lingkungan
Korosi disebut juga sebagai penyakit dalam lingkungan teknik,
walaupun secara tidak langsung tidak termasuk dalam produk teknik.
Studi dalam korosi adalah sejenis usaha pengendalian kerusakan
supaya serangan korosi serendah mungkin dan dapat melampaui nilai
ekonomisnya, atau jangan ada logam jadi rongsokan sebelum
waktunya. Caranya adalah dengan pengendalian secara preventif
supaya menghambat serangan korosi. Cara ini lebih baik daripada
memperbaiki secara represif yang biayanya jauh lebih besar.
Dalam korosi yang dimaksud dengan lingkungan sekelilingnya
dapat berupa udara dengan sinar matahari, embun, air tawar, air laut,
air danau, air sungai, dan tanah yang berupa tanah pertanian, tanah
rawa, tanah kapur, dan tanah pasir berbatu-batu.

3. Metalurgi
Permukaan logam yang lebih kasar akan menimbulkan beda
potensial dan memiliki kecenderungan untuk menjadi anode yang
terkorosi.Permukaan logam yang kasar cenderung mengalami korosi.
Kemurnian logam yang rendah mengindikasikan banyaknya atom-
atom unsur lain yang terdapat pada logam tersebut sehingga memicu
terjadinya efek Galvanic Coupling , yakni timbulnya perbedaan
potensial pada permukaan logam akibat perbedaan E° antara atom-
atom unsur logam yang berbeda dan terdapat pada permukaan logam
dengan kemurnian rendah. Efek ini memicu korosi pada permukaan
logam melalui peningkatan reaksi oksidasi pada daerah anode.

II. Jenis – Jenis Korosi
1. Korosi Merata (Uniform Corrosion)
Jenis korosi yang dikarakterisasikan oleh reaksi kimia atau
elektrokimia dengan penampakan produk korosi dan peronggaan skala
besar dan merata. Contohnya pada pelat baja atau profil, permukaan
bersih dan logamnya homogen, bila dibiarkan di udara biasa beberapa
bulan maka akan berbentuk korosi merata pada seluruh permukaannya
seperti terlihat pada gambar 1.


Gambar 1. Korosi Merata




KOROSI
MATERIAL TEKNIK 3

Usaha pengendaliannya:
1) Diberi lapisan pelindung yang mengandung inhibitor
seperti minyak.
2) Bila sudah berbentuk barang jadi dilindungi dengan
pengecatan.
3) Untuk dinding kapal laut yang luas diberi proteksi katodik.
4) Untuk jangka panjang pemakaian yang lebih panjang diberi
logam berpaduan tembaga 0,4 %.

2. Korosi Dwi Logam (Galvanic Corrosion)
Jenis korosi yang terjadi antara dua buah logam dengan nilai
potensial berbeda saat dua buah logam bersatu dalam suatu elektrolit
yang korosif. Contohnya bila besi kontak langsung dengan tembaga
dimana tembaga lebih mulia, maka besi akan bersifat anodik dan akan
mengorbankan diri sehingga akan terjadi korosi yang berat pada besi,
sedangkan tembaganya tetap utuh. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.


Gambar 2. Galvanic Corrosion

Usaha pengendaliannya dengan cara memberi isolator yang cukup
tebal hingga tidak ada aliran elektron.
Tabel 1. dibawah ini menunjukkan reaktivitas relatif pada sejumlah
logam dan paduan dalam air laut Paduan di dekat bagian atas adalah
katodik dan tidak reaktif, sedangkan pada bagian bawah yang paling
anodik, tidak ada tegangan yang diberikan.
















KOROSI
MATERIAL TEKNIK 4

Tabel 1. Perbandingan nilai galvanik dari logam



3. Korosi Celah (Crevice Corrosion)
Korosi yang terjadi pada logam yang berdempetan dengan logam
lain atau non logam dan diantaranya ada celah yang dapat menahan
kotoran dan air yang menjadi sumber korosi. Konsentrasi O2 pada
mulut lebih kaya dibandingkan pada bagian dalam, sehingga bagian
dalam lebih anodik dan bagian mulut jadi katodik, maka akan timbul
arah arus dari dalam ke mulut. (Gambar 3.)


Gambar 3. Korosi Celah

Usaha pengendaliannya adalah :
1) Memberi isolator pada celah.
2) Mengeringkan celah.
3) Bersihkan dari kotoran.


KOROSI
MATERIAL TEKNIK 5

4. Korosi Retak Tegang (Stress Corrosion Cracking)
Korosi retak tegang merupakan jenis korosi yang disebabkan
kehadiran secara simultan tegangan tarik (tensile stress) dan media
korosif yang menyebabkan terjadi penampakan retak di dalam logam.
(Gambar 4.)

Gambar 4. Korosi Retak Tegang

Usaha pengendaliannya adalah :
1) Turunkan beban.
2) Lindungi dari senyawa yang korosif.
3) Memberi inhibitor.
4) Pada bagian yang terdapat streses harus direlaksasi.

5. Korosi Batas Butir (I ntergranular Corrosion)
Korosi batas butir merupakan korosi yang menyerang secara lokal
menyerang batas butir-butir logam sehingga butir-butir logam akan
hilang atau kekuatan mekanik dari logam akan berkurang, Korosi ini
disebabkan adanya kotoran (impurity) batas butir, adanya unsur yang
berlebih pada sistem perpaduan atau penghilangan salah satu unsur
pada daerah batas butir. (Gambar 5.)


Gambar 5. Korosi Batas Butir

Untuk pengendalianya dapat dilakukan dengan cara menghindari
terbentuknya karbida pada batas butir.

6. Korosi Erosi (Erosion Corrosion)
Korosi erosi merupakan jenis korosi yang menggunakan proses
mekanik melalui pergerakan relatif antara aliran gas atau cairan korosif
dengan logam. Dalam hal ini perusakan karena erosi dan korosi saling
mendukung. Logam yang telah terkena erosi akibat terjadi keausan dan
menimbulkan bagian-bagian yang tajam dan kasar. Bagian-bagian
inilah yang mudah terserang korosi dan bila ada gesekan akan
menimbulkan abrasi lebih berat lagi dan seterusnya. Korosi erosi dapat
KOROSI
MATERIAL TEKNIK 6

juga disebabkan karena impingment corrosion, yaitu akibat fluida
sangat deras dan dapat mengikis film pelindung pada logam yang
mengakibatkan korosi pada logam. (Gambar 6.)


Gambar 6. Korosi Erosi

Usaha pengendaliannya adalah :
1) Memberi pelindung dari zat yang agresif.
2) Memberi inhibitor.
3) Permukaan dies dihaluskan.
4) Hindari aliran fluida yang terlalu deras.
5) Mengurangi belokan fluida.

7. Korosi Sumuran (Pitting Corrosion)
Korosi sumuran merupakan jenis korosi yang menyerang secara
lokal selektif yang menghasilkan bentuk-bentuk permukaan lubang-
lubang di logam. Terjadinya korosi jenis ini disebabkan komposisi
logam tidak homogen dan dapat menimbulkan korosi yang dalam pada
beberapa tempat. Dapat juga karena ada kontak antara logam yang
berlainan dan logam kurang mulia, maka pada daerah batas timbul
korosi berbentuk sumur. (Gambar 7.)

Gambar 7. Korosi Sumuran

Usaha pengendaliannya antara lain :
1) Pilih bahan yang homogen.
2) Melindungi dari zat agresif.
3) Memberikan inhibitor.

8. Korosi Selektif (Selective Corrosion)
Korosi selektif adalah korosi dalam bentuk pemisahan selektif dari
satu atau lebih komponen dari paduan logam. Sebagai hasilnya akan
tertinggal logam yang lebih mulia berupa kerangka struktur semula
KOROSI
MATERIAL TEKNIK 7

yang berongga. Contoh: dezincification pada paduan kuningan (alloy
tembaga), dimana seng terkorosi dengan meninggalkan rongga berpori
yang terdiri dari tembaga dan unsur paduannya.

III. Cara Pencegahan Korosi
1. Pelapisan
Pelapisan akan mengisolasi logam dari media korosifnya, sehingga
mencegah terjadinya korosi logam oleh lingkungannya. Ada dua
macam cara pelapisan, yaitu :
1) Pelapisan Dengan Bahan Logam
Logam yang digunakan sebagai bahan pelapis terbuat dari
bahan logam yang lebih inert maupun yang kurang inert. Pada
logam yang lebih inert, logam yang dilapisi akan terlndungi darri
ekspos terhadap media korosi, namun jika ada cacat, logam akan
terkorosi lebih hebat, dan bagian dalam yang terkorosi akan
keropos. Contohnya adalah pada pelapisan logam mulia, seperti
emas, perak, platina dan titanium.
Pada logam yang kurang inert, selain merupakan pelapisan
secara fisik juga melindungi secara elektrokimia bagi logam yang
dilapisi. Logam yang dilindungi baru akan terkorosi jika semua
logam pelindung sudah habis terkorosi. Karena terjadi sebuah sel
galvanic dimana logam pelindung sebagai anoda dan yang
dilindungi sebagai katoda. Contohnya pada system besi
galvanisasi, yaitu besi yang dilapisi dengan aluminium.
Metode pelapisan dengan bahan logam dapat berupa:
A. Dipping (Pencelupan untuk logam yang berukuran kecil)
Caranya dengan memanaskan logam pelapis sampai
dengan meleleh lebur, kemudian mencelupkan bahan alat
yang akan dilapisi ke dalam leburan tersebut dan
merendamnya sebentar. Alat yang akan dilapisi diangkat
dibiarkan dingin di udara. Cara ini sangat bergantung pada :
a. Kebersihan alat yang dilapisi dan logam yang
melebur.
b. Daya pembasahan serta daya lekat/adhesi.
c. Dimensi alat.
B. Cladding (Pembungkusan)
Lembaran logam dibungkus pada alat yang akan
dilapisi sehingga terselubung oleh mantel pelapis. Pelapisan
dilakukan dengan cara rolling
terhadap dua lembar logam secara bersamaan. Yang biasa
digunakan untuk melapisi baja adalah Ni, Al, Cu, Stainless
steel, dll.
C. Spraying (Penyemprotan untuk logam yang berukuran
besar)
Proses ini terdiri dari ekspos kawat pelapis atau
penyemburan serbuk logam pelapis ke arah api pelelehan,
biasanya digunakan oksigen dan asetilen, sehingga cairan
lelehan logam pelapis yang berbentuk butiran halus
KOROSI
MATERIAL TEKNIK 8

menempel ke permukaan logam yang akan dilapisi dan
kemudian membeku. Contohnya adalah pada mobil tangki,
tangki penyimpanan dari segala jenis tipe, jembatan, kapal,
alat pendingin dan produk dari baja.
D. Electrodeposition (Zat dilindungi di katoda, zat pelindung
di anoda, dialirkan listrik selama waktu tertentu)
Caranya dengan merendam logam yang akan
dilapisi ( sebagi katoda ) di dalam larutan dari logam yang
akan dilapiskan ( sebagai anoda ). Hasil pelapisan
bergantung pada besarnya arus, waktu penyepuhan dan
komposisi elektrolit. Bahan yang sering dilapisi ialah seng,
nikel, timah putih dan cadmium. Sedangkan pelapisnya
emas, perak dan platina.
E. Vapor deposition (Penempatan zat dalam serbuk zat
pelindung)
Vaporisasi logam dilakukan pada tekanan vakum
sehingga suhu vaporasinya tidak terlalu tinggi. Caranya
dengan memasukkan logam pelapis ke dalam ruang vakum,
kemudian memanaskannya dengan pemanas listrik. Uapnya
diendapkan di permukaan logam yang akan dilapisi.
Contohnya pada pelapisan komponen-komponen kritis dari
pesawat angkasa.
F. Diffusion (Logam yang akan melindungi terdifusi ke
permukaan karena suhu tinggi)
Proses difusi dilakukan dengan melakukan heat
treatment pada logam yang akan dilapisi dalam suasana
lingkungan logam pelapis. Yang akan dilapisi dibungkus
dalam pelapis berbentuk solid, dan masukkan ke dalam alat
difusi, kemudian di heat treatment. Contoh pelapis difusi
adalah seng, kromium dan aluminium. Dan yang
dialonisasikan adalah baja karbon, baja alloy rendah dan
stainless steel.
2) Pelapisan dengan bahan non logam
Pada pelapisan dengan bahan non logam, dapat digunakan dua
jenis bahan pelapis, yaitu :
A. Bahan Organik
Dilakukan dengan menggunakan bahan cat
(polimer), logam akan terisolasi dari lingkungan korosif.
Metode ini adalah yang paling sering digunakan. Adanya
sedikit cacat mengakibatkan logam terkorosi hebat. Hal-hal
yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Persiapan permukaan yang akan di cat.
Permukaan harus bersih dari kotoran, karat, debu,
minyak, dll. Permukaan juga harus agak kasar.
Biasanya dilakukan sand blasting.
b. Pemilihan cat primer
Cat primer harus memiliki kemampuan pembasahan
dan memiliki waktu pengeringan yang singkat.
KOROSI
MATERIAL TEKNIK 9

c. Pemilihan cat luar
Jangan pernah memilih cat yang murah dengan
mutu rendah.
B. Bahan Anorganik
Dilakukan dengan mengkorosikan logam dalam
lingkungan asam-asam pengkorosi sehingga diperoleh
lapisan corrosion product yang protektif di permukaan
logam. Biasanya terjadi pada proses anodising,
phosphatising (pelapisan badan mobil) dan kromatising
(dilakukan terhadap baja, magnesium dan seng).

2. Modifikasi Lingkungan
Proses korosi dapat dipandang sebagai serangan komponen-
komponen senyawa kimia yang terkandung di dalam lingkungan
terhadap konstruksi logam yang bersangkutan. Oleh sebab itu
agresifitas lingkungan berhubungan dengan jumlah dan jenis
komponen yang terkandung didalamnya. Semakin banyak komponen
agresif, maka semakin tinggi laju korosi atau sebaliknya.
Dengan gambaran seperti itu proses korosi dapat dikenalikan
dengan jalan mengurangi jumlah komponen agresif di dalam
lingkungan. Beberapa cara yang dilakukan, antara lain :
A. Mengeluarkan oksigen dari sistem.
B. Menambahkan bahan yang dapat mengikat komponen
agresif ke dalam sistem.
C. Mengedalikan pH agar berada dalam selang harga yang
aman.
Teknik ini disebut teknik pengendalian lingkungan.

3. Modifikasi Besi
Dalam catatan para peneliti dan pengamat korosi, adanya
’pasangan-pasangan alami’ dari alloy logam dengan lingkungan
korosif yang sesuai, yang paling ekonomis untuk dipakai dalam
konstruksi. Berikut ini tabel yang menyajikan pasangan antara
lingkungan dan logam yang cocok digunakan dalam lingkungan
tersebut.
Tabel Pasangan Alami dari Alloy Logam dengan
Lingkungan yang sesuai






KOROSI
MATERIAL TEKNIK 10










4. Proteksi Katodik
Pada diagram sistem korosi terlihat bahwa laju korosi mendekati
nol apabila potensial sistem bergeser ke arah negatif mendekati Eo
logam M. untuk mencapai keadaan itu kepada struktur konstruksi yang
akan dilindungi harus disuplai arus tandingan sebesar Iapp dari suatu
sumber arus searah. Teknik ini dikenal dengan teknik arus tandingan
atau impressed current.
Pada teknik arus tandingan digunakan rectifier yang merubah arus
bolak-balik menjadi searah, sebagai sumber arus searah.