fosil: sisa-sisa kehdupan atau segala sesuatu yang

menun jukan kehidupan, baik itu berupa organismen itu
sendiri maupun bekasnya yang berumur lebih tua dari
Holosen dan tertutup sedimentasi secara alami
Penentuan umur
1. Fosil yang digunakan: Foram. Kecil planktonik
Menggunakan zonasi Blow, Bolli, Postuma, dan
lainnya
2. Fosil yang digunakan: Foram. Besar
Mikropaleontologi adalah studi yang membahas
Mikrofosil baik mengenai klasifikasi, morfologi, ekologi
maupun kepentingan dalam stratigrafi
Secara umum organismen dibumi dapan dikelompokan
menjadi beberapa kelompok yang besar sampai kecil,
dikenal sebagai TAXONOMI. Sebagai satuan dasar
adalah Species.
PROTOZOA : Oganismen golongan ini dikenal sebagai
organismen 1 (satu) sel. Bentuk sel merupakan cairan
yang pekat disebut Protoplasma, mempunyai satu inti
atau lebih disebut Nucleous / oli. Hal ini berlaku juga
untuk dunia tumbuhan dikenal sebagai Chloroplasma (
mempunyai sifat photosyntesa yang merubah sinar
matahari menjadi energi)
PROTOZOA dikenal dengan ciri yang khas, antara lain:
1.Binatang uniselular, terdiri atu atau lebih inti yang
dikelilingi oleh Protoplasma
2.Tidak didapatkan adanya pembagian dalam sistem
organik, sepertinya sistem pencernaan makanan,
berkembang biak, berpindah tempat dilakukan oleh satu
sel saja, ini membedakan dengan golongan METAZOA,
yang mempunyai pembagian sistem organik
3.Organismen yang hidup di segala macam habitat
(lingkungan), hdup di lingkungan laut, rawa, sungai,
lingkungan an aerob bahkan hidup di usus manusia
maupun binatang
4.Jumlah individu jauh lebih banyak dibanding dengan
Phyllum lainnya
5.Golongan ini mempunyai ukuran yang kecil dari satu
mikron sampai 2 mm atau lebih kecil, tetapi ada yang
cukup besar kira-kira sampai 75 mm (golongan
foraminifera besar)
6.Dalam perkembangan biak secara asexual dan
sexual bergantian
7.Golongan ini berupa binatang maupun tumbuhan,
tetapi Metazoa semuanya binatang
8.Hidup secara soliter dan beberapa secara koloni yang
tidak sebenarnya
Empat Sub Phyllum:
1.MASTIGOPHORA
Golongan ini menggunakan otot penggerak yag disebut
flagel, mempunyai bentuk yang tetap dengan satu atau
dua flagel yang melekat pada sel
2.INFUSURIA
Golongan ini menggunakan otot yang disebut Cilia (bulu
getar), dibagi dua klas:
• Klas Ciliata
Mempunyai cilia yng meliputi seluruh permukaan sel
nya, dinding sel mempunyai bentuk yang tetap
• Klas Suctoria
Golongan ini mempunyai Cilia pada masa embrio, pada
fase dewasa cilia hilang diganti alat seperti tentakel,
bentuk dinding sel tetap
3.SPOROZOA
Golongan ini tidak mempunyai alat penggerak, tidak
mempunyai bagian yang keras, kebanyakan sebagai
parasit
4.SARCODINA
Binatang ini bergerak menggunakan kaki semu disebut
Pseudopodia
Berdasarkan komposisi dinding test Ordo foraminifera
dapat dibagi beberapa sub ordo sebagai berikut:
1.Sub ordo Textuliriina, komposisi test Agglutine
 Super famili Ammodescacea
 Famili Astrorhizidae, Saccaminidae,
Ammodiscidae
 Super famili Lituocea
 Famili Lituolidae, Hormosinidae, Rzehakinidae,
Textularinidae, Trochaminidae,
Atoxupuraginidae, Pteuderinidae, Discyclinidae,
Orbitilinidae
2.Sub ordo Miliolina, komposisi test Porselaneous
 Superfamili Miliolacea
 Famili Fisherinidae, Nubeculainidae,
Miliolinidae, Soritinidae, Alveolinidae
3.Sub ordo Rotaliina, komposisi test Hyaline
 Superfamili Nodosareacea
 Famili Nodosaridae, Glandulinidae
 Super famili Buliminacea
 Famili Turrilinidae, Sphaerolinidae, Bolivinidae,
Islandielinidae, Eovigerinidae, Biliminidae,
Uvierinidae, Discorbinidae, Sphoninidae,
Asterigerinidae, Epistomorlidae
 Super famili Spirilinaea
 Famili Spirilinidae
 Superfamili Rotaliacea
 Famili Rotalidae, Calcarindae, Elphidiidae,
Miscelancinidae, Pellastispirinidae,
Nummulitidae, Miogypsinidae
 Super famili Orbitoidacea
 Famili Glabratellidae, Pegidiidae, Eponididae,
Amphisteginidae, Cibicididae, Planorbilinidae,
Acervulinidae, Cymdoloporidae,
Homotrematidae, Orbitoididae,
Lepidocyclinidae, Discoclynidae
 Super famili Cassidulinacea
 Famili Pleurostomellidae, Annulopostollinidae,
Loxostomidae, Cassiduliidae
 Super famili Noniocea
 Famili Nonionidae, Alabaminidae
 Super famili Anomalinacea
 Famili Anomalinidae, Osangulariidae
 Super famili Robertinacea
 Famili Robertinidae, Ceratobuliminidae,
 Super famili Globigerinacea
 Famili Hankeninidae, Globorotaliidae,
Globigerinidae, Heterohilicidae
Aperture adalah lubang utama pada test, sebagai
tempat keluarnya protoplasma yang berfungsi sebagai
pseudopodia atau kaki semu
A-sexual Megalosfeer Protoconch besar,
test kecil
Sexual Mikrosfeer Protoconch kecil,
test besar
Dimorfisme : satu macam individu membentuk dua
macam bentuk berlainan

















Hubungan / batas antara kamar satu dengan yang
lainnya oleh sekat , disebut Septum / septa.Perpotongan
septa dengan dinding luar test disebut Suture

 Dinding : Lap.luar utk melindungi bag.dalam,
terbuat dr zat2 organik
 Kamar : Bag.dalam foram dimana protoplasma
berada
 Septa : Sekat-sekat pemisah antar
kamar satu dg yg lain
 Proloculum : Kamar utama pd cangkang
 Suture : garis pertemuan antar septa dgn
dinding cangkang
 Aperture : Lubang utama pd cangkang,
sbg mulut/untuk keluar masuknya
protoplasma, sbg pseudopodia (alat
gerak,menangkap/mencerna
makanan).
Jenis dinding utama foraminifera (Jones, 1956), dibagi 2
 Aglutin : dinding dari fragmen-fragmen di
sekitarnya yg kemudian direkatkan dg semen
oleh binatang itu sendiri.
 Gampingan, kalsit, aragonit : berdasarkan
kedudukan kristalnya dibedakan menjadi
gamping porselin & hyalin.




Secara umum : ada 4
• 1. Chitin / Tektin
• 2. Silikaan / Siliceous
• 3. Aglutin / Arenaceous
• 4. Gampingan (Kompleks, Granular, Hyalin,
Porselen)
Dinding test foraminifera didapatkan sejumlah lubang-
lubang kecil disebut sebagai pori-pori (pores)
Ada dua macam:
1.Pseudopores : pori-pori yang menembus dinding test,
tedapat pada golongan dengan komposisi test aglutin,
porselin dan mikrogranular
2.Truepores : pori-pori menembus dinding test, terdapat
pada test hyalin
TEST MONOTHALAMUS
Mempunyai bentuk Globular / bulat, Botol (flash shape),
Tabung (tabular), Planspiral (terputar dalam satu
bidang), Planspiral pada permulaan kemudian terputar
tak teratur, Planspiral kemudian lurus


Polythalamus


TEST POLYTHALAMUS
UNIFORMED : dalam satu bentuk test didapatkan hanya
satu macam susunan kamar
BIFORMED : dalam satu bentuk test didapatkan dua
macam susunan kamar
TRIFORMED : dalam satu bentuk test didapatkan tiga
macam susunan kamar
MULTIFORMED : dalam satu bentuk test didapatkan
lebih dari tiga macam susunan kamar
TEST UNIFORMED
Uniserial : dalam satu macam susunan kamar terdiri
satu baris
1.LINIER : curvilinier, rectilinier, rectilinier with neck

2.EQUETANT : kamar tersusun saling melingkupi
sebagian



3.TEST TERPUTAR (coiled test)
a. Planispiral coiled test : kamar tersusun secara
terputar dalam satu bidang


b. Rotaloid : susunan kamar dengan kenampakan
berbeda pada bagian dorsal nampak evolut, sedangkan
pada bagian ventral nampak involut, disebut juga
sebagai Trochospiral

c. Nautiloid : kamar tersusun secara terutar dimana
kamar-kamarnya saling menyelubungi teutama pada
bagian umbilicus

Biserial : dalam satu macam susunan kamar terdiri atas
dua baris kamar

Triserial : dalam satu macam susunan kamar terdiri atas
tiga baris kamar


APERTURE :Lubang utama pada test foraminifera ,
tempat keluarnya protoplasma, biasanya pada
permukaan septa atau pada kamar terakhir
Ada tiga macam aperture
1.Primary aperture , lubang utama yang terleta pada
kamar terakhir
2.Secondary aperture, lubang tambahan yang terletak
pada kamar utama
3.Accessory aperture, lubang yang nampak tidak
langsung kamar utama tetapi pada aksesori struktur
(bulla, tegilla)
Mempelajari aperture sangat penting terutama dalam
klasifikasi. Secara sistimatis kita tekankan mengetahui
letak (position) dan bentuk (shape) aperture
LETAK APERTURE
1,Terminal : aperture terletak pada kamar terakhir,
terutama dijumpai pada test tidak terputar (uncoiled)
yaitu, Uniserial, Biserial dan Triserial

2.Apertual face : pada permukaan septa kamar akhir,
bisa terletak pada baian atas, tengah, bawah dan
tersebar merata

3.Umbilical : terletak pada bagian umbilicus. Misal pada
Gobigerina, Globoquadrina






4.Umbilicus – extra umbilicus : terletak pada umbilicus
dan melebar sampai bagian tepi. Misal pada
Globorotalia

5.Pheripheral : terletak pada bagian tepi

6. Sutural : terletak pada bagian suture

7. Interiomarginal (Equatorial) : terletak pada bagian
dasar kamar akhir, terutama pada susunan kamar
terputar

8.Infralaminal : terletak sepanjang tepi accessory
structure (bulla, tegilla)

9.Intralaminal : terletak menembus accessory structure
(bulla, tegilla)






BENTUK APERTURE
1.Bulat
Contoh pada Lagena, Frondicularia, Palmula,
Astrorhizidae

2. Radiate : lubang buat kemudian didapatkan ridges
yang radier. Misal pada Nodosaridae, Polymorphiridae,
Robulus

3. Phyaline : lubang terletak pada jun leher/neck. Misal
pada Uvigerina, Lagenidae, Astrorhizidae, Siphonina

4. Slitlike : celah. Contoh pada Nonion, Pullenia,
Nonionella, Textularia

5. Cressentic : bulan sabit (horse shoe shape). Contoh :
Nodosarella

6.Virguline : koma Misa pada Vigulina, Bulimina





7.Ectosolenian : aperture terletak dalam leher (auter
neck). Misal pada Polymorphinidae, Lagenidae

8.Entosolenian : mempunyai internal neck. Misal pada
Entosolenia

9.Cribate : saringan Misal pada Cribostonum, Fabularia,
Trematophere

10. Dendritik : seperti pohon dengan cabang-cabangnya
Misal pada Dendritina

11.Aperture bergigi : bifid tooth, mono tooth









Hiasan adalah suatu kenampakan pada test foraminifera
yang mempunyai pertumbuhan yang khas.Tidak perlu
semuanya mempunyai tetapi tidak jarang ditemukan
dalam satu test didapatkan lebih dari satu hiasan.


Hiasan pd permukaan
Punctate Smooth

Reticulate Pustulose

Cancellate Axial Costae


Spiral Costae








Hiasan pd apertur
Flape Tooth

Lip/Rim Bulla


Tegilla


Hiasan pd suture
Bridge Limbate

Retral Raissed Bosses

Processes





Hiasan pd umbilicus
Deeply Umbilicus Open Umbilicus




Umbilicus Ventral Umbo














BATASAN MENGENAL FORAMINIFERA PLANGTONIK
A. GENUS PADA MESOZOIC
I. TEST TROCHOSPIRAL
a. Aperture utama pada umbilicus, didapatkan
tegilla
1.Ada KEEL : Globotruncana
2.Tanpa KEEL : Rugoglobigerinita
b.Aperture utama pada umbilicus – extra
umbilicus, ddapatakan aperture tambahan pada bagian
suture
1.Ada KEEL : Rotalipora
2.Tanpa KEEL : Ticinella
c.Aperture utama umbilicus - extra umbilicus,
dibatasi oleh lip/flap
1.Ada KEEL : Praeglobotruncana
2.Tanpa KEEL : a.Kama globular – ovate : Hedbergella
b.Kamar clavate – radial elongate : Clavihedbergella
II. TEST PERMULAAN TROCHOSPIRAL
KEMUDIAN PLANSPIRAL
Aperture extra umbilicus - equatorial
1.Kamar elongate dengan bulb shape / spine like :
Schakoina
2.Kamar elongate, beberapa atau semua kamar pada
akhir putaran didapatkan dua atai lebih bulb shape :
Leupoldina
III. TEST PLANSPIRAL
Aperture utama equatorial , dibatasi oleh lip
1.Ada KEEL : Planomalina
2.Tanpa KEEL : a.Kamar globular – ovate :
Globigerinelloides
b.Kamar radial elongate : Hastigerinoides


B. GENUS KENOZOIIKUM
I.TEST PLANSPIRAL
a.Aperture equatorial
1.Kamar spherical – ovate : Hastigerina
2.Kamar spherical pada permulaan kemudian radial
elongate / clavete : Clavigerinella
3.Kamar sub-globular / radial elongate dengan tubulo
spine : Hankenina
b.Aperture utama equatorial dengan aperture
sekunder, kamar sub-globular dengan tubulo spine :
Cibrohankenina
II. Test planspiral pada permulaan kemudian biserial.
Aperture pada stadia muda equatorial, dewasa extra
umbilical, kamar globular – ovate : Cassigerinella


III.TEST TROCHOSPIRAL
A.APERTURE UMBILICAL
1.Tanpa BULLA
a.Aperture dengan atau tanpa lip : Globigerina
b.Aperture tertutup oleh flap atau umbilical tooth
: Globoquadrina
c.Aperture utama dengan / tanpa lip, aperture
tambahan pada suture : Globigerinoides
d.Aperture sekundair pada suture : Condeina
2.Dengan BULLA
a.Aperture utama tertutup oleh bulla dengan
satu atau lebih infralaminal aperture : Catabsydrax
b.Aperture utama tertutup oleh tegilla dengan
sejumlah infralaminal : Globigerinita
c.Aperture utama tertutup oleh bulla, didapatkan
aperture biasanya tertutup oleh sutural bulla :
Globigerinoita




B.Aperture extra umbilical – umbilical
Tanpa bulla
a.Tanpa aperture sekunder pada suture
1.Kamar ovate – angular rhomboid / angular
conical dengan tanpa keel : Globorotalia
2.Kamar radial elongate, clavete / cylindrical,
tanpa keel : Hastigerinella
b.Dengan aperture sekunder sutural pada spiral side :
Truncorotoloides

V.Test trochospiral pada permulaan, kamar
akhir saling merangkum / melingkupi sebagian
1.Tanpa BULLA
a.Permulaan seperti Globigerina, kamar akhir
berkembang melingkupi daerah umbilicus :
Globigerapsis
b.Permulaan seperti Globigerinoides, kamar
akhir berkembang melingkupi daerah umbilicus :
Orbulinoides , Praeorbulina
c.Pemulaan seperti Globigerina, kamar akhir
melingkupi kamar permulaan : Orbulina
2.Dengan bulla
a.Pada permulaan seperti Globigerina, kamar
akhir melingkupi sisi umbilicus dengan aperture
sekunder pada suture, ditutupi bulla kecil , masing-
masing dengan satu atau lebih infralaminal :
Globigerinatheka
b.Serupa Globigerinatheka didapatkan sutural
bulla yang tersebr tidak teratur dan kamar akhir dengan
aperture sekunder ditutupi oleh Knobby pustulle :
Globigerinatella

3.Dengan atau tanpa bulla
Permulaan seperti Globigerina dan stadia akhir
dua atau tiga kamar saling melingkupi dengan satu atau
lebih aperture sekunder pada suture : Sphaerodinella

V.Tes t Trochospiral pada permulaannya
kemudian menjadi streptospiral, pada stadia muda
seperti Globigerina dengan umbilicus terbuka :
Pulleniatina

FORAMINIFERA BESAR
(LARGER FORAMINIFERA)
DIBERIKAN UTK GOL FORAM BENTOS
(BENTHOS) YG MEMPUNYAI :
• UKURAN CANGKANG (TEST) RELATIF
BESAR
• JLH KAMAR RELATIF BYK
• STRUKTUR DLM KOMPLEKS
TERDPTNYA :
Pd umumnya dijumpai dlm btn karbonat,
terutama btgp terumbu, dimana ia hidup al dgn algae yg
dpt menghslkan caco
3
(lime).
Preparasi :
Karena ukuran & strukt dlmnya rumit, diperlukan
preparasi khusus (thin section/ sytn tipis).
• Thin sections of rocks (btn krs, fsl tdk dpt
dilepas)
• Thin sections of isolated specimens (fsl dpt
dilepas)
Terminologi sayatan :
• sytn median (equatorial, horizontal)
• sytn vertikal (axial)
• sytn tangensial
• sytn oblique
Contoh : (dikutip dari wagner, 1964)
 Sytn “group a” (lepidocyclina, discocyclina,
miogypsina)
 Sytn “group b” (nummulitea, assilina,
operculina)
I. Kelompok a :
Test umumnya lentikuler, dinding gpan, berpori,
mempunyai i lapis kmr ekuatorial, yg diselubungi pd
kedua sisinya oleh kmr-kmr lateral.
PEMBAGIAN :
1. MEMP KMR LATERAL, KMR EKUATORIAL
TDK SEGI EMPAT, NEPIONT TERLTK DI TGH
 Lepidocyclina
 Orbitoides
2. TDK MEMP KMR LATERAL, NEPIONTDI TGH :
 Linderina
3. KMR LATERAL SEGI EMPAT :
- Discocyclina
4. NEPIONT PERIPHERAL :
 Miogypsina
 Miogypsinoides
AD 1. Lepidocyclina :
Cangkang lentikuler, dgn atau tanpa pilar. Kmr
ekuatorial dpt berbtk spatulate, arcuate, rhombis atau
hexagonal, tetapi tdk pernah segi empat. Kmr lateral
jelas. Pd sv : kmr ekuatorial menjadi tebal ke arah
peripheri.
Evolusi : 3 tahap
1. Thp embrionik
2. Thp nepionik
3. Thp neanik

Thp 1. Kmr-kmr embrionik :
terdiri dari : protoconh + deuteroconch = nucleoconh
Thp 2. Kmr-kmr nepionik :
A. Kmr auxiliary : kmr yg langsung berasal dari
nucleoconch :
• Kmr auxiliary primer : (pac)
- Alas dinding kmr terltk pd p. & d. Dan berhbgan
lsg dgn d.
• Kmr adauxiliary : (aac)
- Alas dinding kmr seluruhnya terltk pd d.
• Kmr adauxiliary protoconchal : (paac)
- alas dinding lmr seluruhnya terltk pd p.
b. Kmr interauxiliary :
(a) dibtk oleh kmr-kmr auxiliary, salah satu kaki
dinding terltk pd auxiliary, kaki lainnya pd kmr
embrionik.
(s) dibtk oleh kmr-kmr auxiliary, kedua kaki dinding
terltk pd kmr auxiliary dan adauxiliary atau pd kmr (a).
thp 3. Kmr-kmr neanik : (post nepionik)
Kmr-kmr yg terbtk stlh kmr nepionik. Btk bisa rhombis,
arcuate, ogival, spatulate, atau hexagonal.


Ad 3. Discocyclina :
Cangkang lentikular, kdg sgt pipih dgn atau tanpa pilar.
Sh : kmr ekuatorial segi empat, tersusun secara
konsentrik.
Sv : kmr ekuatorial tdk menebal ke arah peripheri.
Dinding lateral sgt hls dan rumit.
Ad 4. (dua genus)
1. Miogypsina :
Btk test segitiga – lonjong, pipih.
Sh : kmr embrionik terltk eksentrik, kmr-kmr ekuatorial
rhombis, atau hexagonal.
Sv : kmr-kmr ekuatorial jelas, mempunyai kmr lateral.
2. Miogypsinoides :
Btk test segitiga – lonjong.
Sh : kmr embrionik terltk eksentrik, kmr-kmr
ekuatorial rhombis, atau hexagonal. Pd sytn ini sulit
dibedakan dgn miogypsina.
Sv : spt miogypsina, tetapi tdk mempunyai kmr
lateral.
II. Kelompok b :
Ciri : btk ckg umumnya lentikuler, dinding gpan,
berpori, kmr-kmr seluruhnya atau sbgn planispiral –
involute atau evolute.
Pembagian : al
1. Ada marginal cord, dinding sederhana, tdk ada
septa sekunder.
cth al : nummulites, assilina, dan operculina.
2. Spt (1), tetapi kmr-kmr nya terbagi oleh septa-
septa sekunder.
cth al : heterostegina, cycloclypeus, dan
spiroclypeus.
3. Dinding menyolok tebal.
cth al : pellatispira, dan biplanispira.
Ad 1. (tiga genus)
1. Nummulites :
btk ckg lentikuler, involute, hanya putaran akhir yg
kelihatan dari luar.
Sh : kmr-kmr ekuatorial tersusun secara
spiral, tinggi dari kamar naik secara
perlahan-lahan, umumnya mempunyai
lbh dari 4 putaran.
Sv : kmr terputar secara involute, ada
marginal cord.
2. Assilina :
Ckg pipih, evolute, dgn atau tanpa pilar.
Sh : kmr-kmr ekuatorial terputar secara
spiral, kmr-kmr makin tinggi secara
perlahan-lahan, umumnya lbh dari 4
putaran. Pd sytn ini sulit dibedakan
dgn nummulites.
Sv : kmr terputar secara evolute, marginal cord
berkembang baik
3. Operculina :
Btk ckg pipih, lentikuler, licin atau dgn hiasan.
Sh : kmr ekuatorial terputar secara spiral, 3 hingga 4
putaran, tinggi putarannya bertambah dgn cepat.
Sv : kmr terputar secara evolute.
Ad 2. (tiga genus)
1. Heterostegina :
Btk ckg lentikuler, kmr tersusun planispiral, terdapat
septa sekunder dan kamar sekunder (chamberlets).
Sh : kmr terbagi dlm kmr-kamar sekunder yg kecil dan
bersudut siku-siku.
Sv : kmr lateral tdk ada.
2. Spiroclypeus :
Btk ckg lentikuler, terdpt septa sekunder dan kamar
sekunder.
Sh : spt heterostegina.
Sv : dijumpai kamar lateral.
3. Cycloclypeus : ckg sgt pipih, dgn atau tanpa pilar, dgn
atau tanpa tanggul radial (radii), dgn atau tanpa tanggul
konsentris (annuli).
Sh : mula-mula kmr terputar secara spiral, kemudian
disusul kmr neanik yg terputar secara siklis. Kmr
nepionik dan neanik terbagi menjadi kmr sekunder
(chamberlets).
Sv : kmr lateral tdk ada.
Evolusi : ada 3 fase
• Fase embrionik : ( p + d ).
• Fase nepionik : kmr terputar secara spiral.
• Fase neanik : kmr terputar secara siklis.



Subgenus :
Berdsrkan ada atau tdk adanya radii mapun annuli,
genus ini dpt dibagi menjadi 3 subgenus :
A. Subgenus cycloclypeus :
without radii, without annuli
B. Subgenus radiocycloclypeus :
with radii, without annuli
C. Subgenus katacycloclypeus :
with annuli, without radii
Ad 3. (dua genus)
1. Pellatispira :
Ckg lentikuler, bilateral simetri, evolute, dan dinding sgt
tebal, dgn atau tanpa pilar.
Sh : kmr-kmr ekuatorial tersusun secara spiral.
Sv : kmr ekuatorial tersusun dlm satu lapis.
2. Biplainspira:
Btk ckg lentikular, pipih, dgn atau tanpa pilar.
Sh : kmr-kmr ekuatorial tersusun secara spiral (spt
pellatispira).
Sv : kmr-kmr ekuatorial tersusun dlm dua lapis.