You are on page 1of 14

Makalah PBL Blok 25: Occupational Medicine

Pterigium Akibat Kerja






Fakultas Kedokteran Ukrida
Tahun Ajaran 2013/14

Makalah PBL Blok 28: Occupational Medicine
Pterigium Akibat Kerja



Pendahuluan
Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan
kerja. Terdapat tiga istilah untuk suatu kelompok penyakit yang sama yaitu penyakit yang
timbul karena hubungan kerja, penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau lingkungan
kerja, dan penyakit akibat kerja.

Pterigium yang dialami merupakan salah satu hasil dari penyakit yang timbul karena danya
hubungan kerja. Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga
yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea. Pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva
ini bersifat degeneratif dan invasif. Asal kata pterigium berasal dari Yunani yaitu pteron yang
artinya sayap. Insiden pterigium cukup tinggi di Indonesia yang terletak di daerah
khatulistiwa.

Tidak banyak manajemen yang dapat dilakukan pada kasus ini dikarenakan pasien adalah
seorang wiraswasta dan tidak terkait dengan perusahaan manapun. Pemerintah memiliki andil
dalam membentuk undang-undang untuk setiap individu yang bekerja di negaranya demi
mencapai kesejahteraan dan kesehatan yang maksimal baik secara fisik maupun mental.
Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.
Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan
pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien
yuang profesional dan optimal.
1
Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:
1. Identitas pasien
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya (termasuk pekerjaan)

Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku, agama, status perkawinan,
pekerjaan, dan alamat rumah serta jika ada tambahan nomor telepon. Data ini sangat penting
karena data tersebut sering berkaiatan dengan masalah klinik maupun gangguan sistem organ
tertentu.
1,2


Keluhan utama adalah keluhan terpenting yang membawa pasien meminta pertolongan dokter
atau petugas kesehatan lainnya. Keluhan utama biasanya dituliskan secara singkat berserta
lamanya, seperti menuliskan judul berita utama surat kabar. Misalnya badan panas sejak 3
hari yang lalu.
1,2


Untuk mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK), kunci utama anamnesis terdapat pada
anamnesis riwayat pekerjaan pasien. Hal yang harus diketahui dari anamnesis riwayat
pekerjaan adalah:
3

 Sejak pertama kali bekerja sampai dengan waktu terakhir bekerja
 Jangan sekali-kali hanya mencurahkan perhatian pada pekerjaan yang dilakukan
waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi tentang pekerjaan sebelumnya,
sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja yang diderita waktu ini
penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari pekerjaan terdahulu. Hal
yang lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah kerja dari satu pekerjaan ke
pekerjaan lainnya. Dapat dibuat tabel yang secara kronologis memuat waktu,
perusahaan, tempat bekerja, jenis pekerjaan, aktivitas pekerjaan, faktor dalam
pekerjaan atau lingkungan kerja yang mungkin menyebabkan penyakit akibat kerja.
Penggunaan kuesioner yang direncanakan dengan tepat sangat membantu.
 Kapan, bilamana, apa yang dikerjakan, bahan yang digunakan, jenis bahaya yang ada,
kejadian sama pada pekerja lain, pemakaian alat pelindung diri (APD), cara
melakukan pekerjaan, pekerjaan lain yang dilakukan, kegemaran (hobi), dan
kebiasaan lain (merokok, alkohol)
 Sesuai tingkat pengetahuan, pemahaman pekerjaan

Kita juga perlu membandingkan gejala penyakit sewaktu bekerja dan dalam keadaan tidak
bekerja.
3

 Pada saat bekerja maka gejala timbul atau menjadi lebih berat, tetapi pada saat tidak
bekerja atau istirahat maka gejala berkurang atau hilang
 Perhatikan juga kemungkinan pajanan di luar tempat kerja
 Informasi tentang ini dapat ditanyakan dalam anamnesis atau dari data penyakit di
perusahaan.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan klinis harus selalu disertai riwayat serinci dan setepat mungkin. Hal ini harus
meliputi riwayat sebelumnya mengenai kelainan mata dan kelainan lain yang berkaitan
(misalnya diabetes). Riwayat harus meliputi perincian setiap kecelakaan dan setiap kerusakan
karena trauma seperti “sesuatu masuk ke dalam mata saya” atau pajanan bahan kimia. Gejala
harus dicatat dan harus mencakup hal seperti gangguan penglihatan, gangguan lapang
pandang, kilatan cahaya, nyeri, fotofobia, dan halo di sekitar cahaya.
4


Penurunan ketajaman penglihatan dapat disebabkan oleh kelainan yang timbul di sepanjang
jaras optik dan jaras visual neurologik. Jadi pemeriksa harus mempertimbangkan adanya
kelaianan refraksi (fokus), ptosis, pengeruhan atau gangguan media mata (misalnya edema
kornea, katara, atau perdarahan dalam vitreus atau ruang aquoeous), dan gangguan fungsi
retina (makula), nervus opticus, atau jaras visual intrakranial.
4


Pemeriksaan visus satu mata
Pemeriksaan standar yaitu menggunakan Snellen Chart. Pemeriksaan tajam penglihatan
dilakukan pada mata tanpa atau dengan kacamata. Setiap mata diperiksa terpisah. Biasakan
memeriksa tajam penglihatan kanan terlebih dahulu kemudian kiri lalu mencatatnya.
4


Pemeriksaan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan pada jarak 5 meter atau 6 meter, karena
pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi.
4


Untuk mengetahui sama atau tidaknya ketajaman penglihatan kedua mata akan dapat
dilakukan dengan uji menutup salah satu mata. Bila satu mata ditutup akan menimbulkan
reaksi yang berbeda pada sikap anak, yang berarti ia sedang memakai mata yang tidak
isenangi atau kurang baik dibanding mata lainnya.
4


Bila seseorang diragukan apakah penglihatannya berkurang akibat kelainan refraksi, maka
dilakukan uji pinhole. Bila dengan pinhole ada kemajuan penglihatan, maka berarti ada
kelainan refraksi yang masih dapat dikoreksi dengan kacamata. Bila penglihatan berkurang
dengan diletakkannya pinhole di depan mata berarti ada kelainan organik atau kekeruhan
media penglihatan yang mengakibatkan penglihatan menurun.
4


Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada pemeriksaan penunjang esensial yang harus dilakukan untuk penyakit ini.
4


Diagnosis
Diagnosis kerja pada kasus ini adalah Pterigium. Pterigium adalah pertumbuhan jaringan
fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea.
Pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva ini bersifat degeneratif dan invasif. Asal kata
pterigium berasal dari Yunani yaitu pteron yang artinya sayap. Insiden pterigium cukup
tinggi di Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa.
5


Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara
yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma,
radang, dan degenerasi.
5


Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif,
merah, dan mungkin menimbulkan astigmat yang akan memberikan keluhan gangguan
penglihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan dellen (penipisan kornea
akibat kering), dan garis besi (iron line dari Stocker) yang terletak di ujung pterigium.
5


Diagnosis banding dari pterigium adalah pseudopterigium. Pseudopterigium sangat mirip
dengan pterigium, dimana jaringan fibrovaskular terdapat pada konjungtiva bulbi menuju
kornea. Perbedaannya dengan pterigium adalah pseudopterigium memiliki faktor pencetus
yang jelas seperti trauma (fisik, kimia, dll.), konjungtivitis yang menyebabkan sikatrik,
trauma bedah ataupun ulkus kornea perifer. Dan lesinya tidak melekat pada limbus kornea.
5


Epidemiologi
Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering.
Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi
adalah daerah dekat khatulistiwa. Pasien di bawah 15 tahun jarang terjadi pterigium.
Prevalensi pterigium meningkat seiring bertambahnya umur, terutama dekade ke 2 dan 3.
Rekuren lebih sering terjadi pada umur muda. Laki-laki 4 kali lebih sering mengalami
pterigium dibandingkan wanita.
5



Penegakkan diagnosis PAK (Penyakit Akibat Kerja)
Diagnosis PAK ditegakkan dengan tujuh langkah diagnosis:
1. Diagnosis klinis
Ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan
khusus. Anamnesis mencakup pertanyaan tentang riwayat penyakit sekarang dan dahulu, riwayat
pekerjaan sekarang dan dulu. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari penyakit yang
mendasari.
A. Anamnesis
 Identitas
Nama: Ny. CT
Umur: 41 tahun
Pekerjaan: Pedagang mie ayam
Status perkawinan: Menikah
Tempat tinggal: Cakung
 Keluhan utama: Penglihatan mata kanan kabur sejak 3 bulan lalu, mata kiri normal,
kabur baik jarak pandang dekat maupun jauh
 Keluhan tambahan: Kadang-kadang mata gatal, silau, terdapat daging tumbuh di mata
kurang lebih sejak 3 bulan lalu, warna keputihan dan sampai ke bagian hitam mata,
terdapat perasaan mengganjal dan menghalangi penglihatan
 Pencetus: Mata terpapar debu, matahari, dan angin terutama siang dan sore hari
 Riwayat pengobatan: -
 Riwayat penyakit dahulu: Belum pernah mengalami keluhan serupa, tidak ada
penyakit kronis (DM, hipertensi, dll)
 Riwayat keluarga: -
 Riwayat pribadi dan sosial: Tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, lingkungan
rumah baik
 Riwayat pekerjaan: Menjadi pedagang mie ayam di dekat rumah sejak 15 tahun yang
lalu, bekerja dari pagi sampai sore, menghadap ke barat, tidak pernah memakai
kacamata
B. Pemeriksaan fisik:
 Keadaan umum: Compos mentis, tampak sakit ringan
 TTV normal
 Tinggi badan 150 cm, berat badan 30 kg
 Status lokalis:
Visus OD 6/9, PH 6/9; OS 6/6
Konjungtiva berwarna keruh, terdapat lipatan fibrovaskular berbentuk segitiga, posisi
nasal, dari konjungtiva bulbi meluas sampai kornea.
Kornea sebagian tertutup lipatan segitiga.
C. Pemeriksaan penunjang: -

2. Pajanan yang dialami
Semua jenis pajanan di lingkungan kerja harus didaftar karena satu pajanan dapat menyebabkan
banyak penyakit dan atau satu penyakit bisa disebabkan banyak pajanan. Alur poduksi atau cara
kerja juga penting diketahui. Terdapat 5 jenis pajanan pada PAK yaitu fisik, kimia, biologi,
fisiologi dan psikologi. Pada kasus ini diketahui bahwa terdapat pajanan debu jalan/tanah
(biologi), sinar matahari (fisik), dan angin (fisik) di tempat kerja terutama siang dan sore hari.

3. Hubungan pajanan dengan penyakit
Pajanan yang telah didapat didata untuk dicari hubungannya dengan keluhan pasien. Dari literatur
didapatkan bahwa pterigium disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan
udara/angin yang panas.

4. Jumlah pajanan
Pajanan yang sesuai keluhan adakalanya jumlahnya masih di bawah ambang batas. Faktor
akumulasi dapat berperan dalam menimbulkan penyakit. Pada kasus ini diketahui bahwa jumlah
pajanan cukup besar dan tidak berkurang karena pasien tidak memakai APD.

5. Faktor individu
Penting diketahui adanya faktor individu yang berperan, seperti penyakit kronis, penyakit dalam
keluarga. Higiene perorangan juga penting diketahui.

6. Faktor lain
Faktor lain di luar pekerjaan termasuk kebiasaan hidup sehari-hari, pekerjaan sampingan, atau
hobi yang dijalankan.

7. Menentukan diagnosis PAK dengan menganalisis semua hal di atas berdasarkan bukti dan
referensi yang ada.

Terdapat tiga istilah untuk suatu kelompok penyakit yang sama yaitu penyakit yang timbul
karena hubungan kerja, penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau lingkungan kerja,
dan penyakit akibat kerja.

Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan
kerja (Pasal 1, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.01/MEN/1981
tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja (Permen.Nakertrans No.
PER.01/MEN/1981). Definisi yang digunakan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.
KEPTS 333/MEN/1989 tentang Pelaporan Penyakit Akibat Kerja merujuk ketentuan Permen.
Nakertrans No. PER.01/MEN/1981.

Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan
atau lingkungan kerja (Pasal 1, Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit
Yang Timbul Karena Hubungan Kerja (Keppres No. 22 Th. 1993).

Penyakit akibat kerja timbul akibat terpajan faktor fisik, kimiawi, biologis, fisiologis atau
psikososial di tempat kerja. Faktor tersebut di dalam lingkungan kerja merupakan penyebab
yang pokok dan menentukan terjadinya penyakit akibat kerja, misalnya terpajan timah hitam
di tempat kerja merupakan faktor utama terjadinya keracunan timah hitam, terpajan silika di
tempat kerja merupakan faktor utama terjadinya silikosis. Namun, perlu diketahui bahwa
faktor lain seperti kerentanan individual dapat berperan berbeda-beda terhadap
perkembangan penyakit di antara para pekerja yang terpajan.

Penyakit akibat kerja timbul khususnya di antara para pekerja yang terpajan bahaya tertentu.
Namun, pada beberapa keadaan, penyakit akibat kerja dapat timbul di masyarakat umum
akibat kontaminasi lingkungan tempat kerja, misanya debu timah hitam, obat serangga.
Akhirnya, penyakit akibat kerja memiliki penyebab spesifik, misalnya asbes menyebabkan
asbestosis.

Dalam kepustakaan, jadi bukan menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan yang merupakan terjemahan dari work-related
disease diartikan sebagai penyakit yang penyebabnya multi faktor atau jamak, sedangkan
pekerjaan atau lingkungan kerja adalah salah satu dari penyebab tersebut atau pekerjaan atau
lingkungan kerja meningkatkan risiko terjangkit dan memperberat kondisi penyakit yang
bersangkutan.

Perbedaan utama penyakit akibat kerja dengan penyakit yang berhubungan dengan kerja
dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Perbedaan antara Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit yang Berhubungan dengan
Pekerjaan
Penyakit yang Berhubungan dengan
Pekerjaan
Penyakit Akibat Kerja
Banyak terjadi di masyarakat Terjadi terutama pada populasi pekerja
Bersifat multifaktorial Penyebabnya spesifik
Pajanan di tempat kerja mungkin merupakan
satu faktor
Terpajan di tempat kerja merupakan faktor
utama
Mungkin dapat dicatat dan mendapat ganti
rugi
Dicatat dan mendapat ganti rugi

Karena keterbatasan informasi pada kasus ini, diduga pterigium pada pasien merupakan
pterigium yang berhubungan dengan pekerjaan (work-related disease), dikarenakan keempat
syarat pada tabel terpenuhi.



Penatalaksanaan
Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau dilakukan pembedahan bila
terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya astigmatisme iregular atau pterigium yang
telah menutupi media penglihatan.
5


Aspek terpenting tindakan pengobatan adalah menyingkir dari pajanan saat muncul gejala
pertama atau tanda iritasi. Fotofobia, iritasi, atau halo sekitar cahaya adalah petunjuk untuk
menghentikan pekerjaan dan beristirahat.
5,6


Lindungi mata pterigium dari sinar matahari, debu, dan udara kering dengan kacamata
pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu dapat diberi steroid. Bila
terdapat delen (lekukan kornea) beri air mata buatan dalam bentuk salep. Pterigium dapat
tumbuh menutupi seluruh permukaan kornea atau bola mata.
5,6


Tindakan pembedahan kombinasi autograf konjungtiva dan eksisi adalah suatu tindakan
bedah plastik yang dilakukan bila pterigium telah mengganggu penglihatan dan mengurangi
risiko kekambuhan. Pterigium mempunyai kemungkinan besar untuk kambuh kembali
walapun sudah dioperasi.
5,6


Pencegahan
Berikut ini adalah penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit (five level of
prevention disease) pada penyakit akibat kerja:
6

1. Peningkatan kesehatan (health promotion). Misalnya: pendidikan kesehatan, meningkatkan
gizi yang baik, pengembangan kepribadian, perusahaan yang sehat dan memadai, rekreasi,
lingkungan kerja yang memadai, penyuluhan perkawinan dan pendidikan seksual, konsultasi
tentang keturunan dan pemeriksaan kesehatan periodik.
2. Perlindungan khusus (spesific protection). Misalnya: imunisasi, higiene perorangan, sanitasi
lingkungan, serta proteksi terhadap bahaya dan kecelakaan kerja.
3. Diagnosis (deteksi) dini dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt treatment).
Misalnya: diagnosis dini setiap keluhan dan pengobatan segera serta pembatasan titik-titik
lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi.
4. Membatasi kemungkinan cacat (disability limitation). Misalnya: memeriksa dan mengobati
tenaga kerja secara komprehensif, mengobati tenaga kerja secara sempurna, dan pendidikan
kesehatan.
5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation). Misalnya: rehabilitasi dan mempekerjakan kembali
para pekerja yang menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan
karyawan-karyawan cacat di jabatan-jabatan yang sesuai.

Sistem Manajemen
Tidak banyak yang dapat dilakukan dari sisi manajemen pada kasus ini dikarenakan tidak
adanya perusahaan yang terkait. Pasien pada kasus hanya seorang pedagang (wiraswasta)
sehingga manajemen yang dapat dilakukan adalah dari diri sendiri (pencegahan) serta dari
pemerintah.

Banyak ketentuan perundang-undangan yang mengatur standar minimal mengenai higiene
perusahaan (industri), ergonomi dan kesehatan kerja seperti tentang pelayanan kesehatan
kerja, pemeriksaan kesehatan tenaga kerja, diagnosis penyakit akibat kerja, kewajiban
melaporkan penyakit akibat kerja, pengendalian intensitas atau kadar aneka faktor gangguan
kesehatan dan daya kerja pada pekerjaan dan lingkungan kerja di tempat kerja, dan lainnya.
Penerapan standar minimum demikian adalah awal dari upaya ke arah realisasi pencegahan
gangguan kesehatan dan daya kerja serta menjadi pintu masuk bagi program selanjutnya
dalam menarik manfaat guna mewujudkan tingkat kesehatan tenaga kerja dan produktivitas
yang optimal.
3,6


Faktor yang Mempengaruhi
Faktor I ndividu
Penting diketahui adanya faktor individu yang berperan, seperti penyakit kronis, penyakit
familial dalam keluarga. Higiene perorangan juga penting diketahui.

Pterigium pada pasien merupakan kasus baru dan bukan pterigium yang rekuren dikarenakan
pada anamnesis pasien menyatakan tidak pernah mempunyai keluhan yang sama sebelumnya.
Penyakit kronis seperti DM, hipertensi, dan asma tidak diketahui baik pada pasien maupun
keluarganya. Pasien tidak memakai APD saat bekerja. Status ekonomi menengah ke bawah.

Faktor Lingkungan
Dalam ruang atau di tempat kerja biasanya terdapat faktor-faktor yang menjadi penyebab
penyakit akibat kerja sebagai berikut:
3

1. Faktor fisis, seperti suara, radiasi, suhu, tekanan udara, dan penerangan.
2. Faktor kimiawi, antara lain debu, uap, gas, larutan zat kimia, dan awan atau kabut.
3. Faktor biologis, misalnya bibit penyakit antraks.
4. Faktor fisiologis / ergonomis, yaitu antara lain kesalahan konstruksi mesin, sikap
badan yang tidak benar dalam melakukan pekerjaan dan lain-lain yang kesemuanya
menimbulkan kelelahan fisik dan gangguan kesehatan bahkan lambat laun dapat
terjadi perubahan fisik tubuh pekerja atau kecacatan.
5. Faktor mental-psikologis yang terlihat misalnya pada hubungan kerja atau hubungan
industrial yang tidak baik, dengan akibat timbulnya misalnya depresi atau penyakit
psikosomatis.

Dalam kasus ini terdapat faktor lingkungan yaitu riwayat pekerjaan sebagai pedagang mie
ayam di dekat rumah sejak 15 tahun yang lalu. Posisi warung menghadap ke barat, dan
terdapat faktor pencetus debu jalanan, matahari (sinar UV) dan angin terutama siang dan sore
hari.


Kesimpulan
Hipotesis ditolak. Kasus pterigium ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan
pekerjaan bukan penyakit akibat kerja. Pterigium merupakan penyakit yang bersifat
multifaktorial. Pajanan di tempat kerja adalah salah satu faktor penyebab dari penyakit ini.
Dan penyakit ini banyak terjadi di masyarakat, tidak hanya pada pedagang mie ayam saja.


Daftar Pustaka

1. Pusat Penerbit IPD FKUI. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: FKUI;
2005.
2. Gleadle J. At a glance: Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.
3. Suma’mur PK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: Sagung Seto;
2009.h.73-88.
4. Riordan P, Whitcher JP. Oftalmologi umum Yaughan & Asbury. Edisi 17. Jakarta:
EGC; 2012: 28-42.
5. Waller GS, Adams PA. Duane’s clinical ophtalmology. Philadephia: Lippincot
Williams & Wilkins; 2004.
6. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: EGC; 2010.h.263-
5.