TUGAS MATA KULIAH

TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN
HUBUNGAN BAHAN XENOBIOTIK DAN LINGKUNGAN
















Disusun Oleh:
AFTINA NURHIKMAH
M0310003



FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani: Xenos yang artinya asing. Xenobiotik
adalah zat asing yang masuk dalam tubuh manusia. Contoh: obat-obatan, insektisida,
zat kimia tambahan pada makanan (pemanis, pewarna, pengawet) dan zat karsinogen
lainnya. Xenobiotik umumnya tidak larut air, sehingga kalau masuk tubuh tidak
dapat diekskresi.
Dalam keseharian tubuh manusia dapat terpapar beribu-ribu xenobiotik
mengingat senyawa asing yang diketahui manusia jumlahnya lebih dari 100.000
macam. Adakalanya kita secara sengaja mengkonsumsi xenobiotik seperti obat
obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis, pewarna, pengawet)
dan zat biotic karsinogen lainya.walaupun tidak disertai kesadaran dan pengetahuan
yang memadai akan akibat buruk yang mungkin timbul. Sedang secara terus-menerus
tanpa bermaksud untuk mengkonsumsi, tubuh dapat terpapar xenobiotik yang ada
dilingkungan baik diudara,air maupun daratan seperti gas karbon monoksid,
benzo(a)piren,logam-logam berat dari asap buang kendaraan bermotor dan bahan-
bahan pencemar lingkungan lainnya. Senyawa xenobiotik tersebut masuk kedalam
tubuh dapat melalui mulut (per-oral) seperti makanan dan obat-obatan,atau karena
terhirup atau dihirup pernafasan (per inhalasi)seperti asap rokok dan asap kendaraan
atau lewat kontak dengan kulit (per cutan/transdermal)seperti dijumpai dalam
beberapa kasus keracuna pestisida pada petani.
Perkembangan pembangunan di Indonesia khususnya bidang industri,
senantiasa meningkatkan kemakmuran dan dapat menambah lapangan pekerjaan bagi
masyarakat kita. Namun di sisi lain, perkembangan industri memiliki dampak
terhadap meningkatnya kuantitas dan kualitas limbah yang dihasilkan termasuk di
dalamnya adalah limbah bahan berbahaya dan beracun.
Pencemaran atau polusi dapat didefinisikan sebagai kontaminasi lingkungan
oleh bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, kualitas kehidupan,
dan juga fungsi alami dari ekosistem. Walaupun pencemaran lingkungan dapat
disebabkan oleh proses alami, aktivitas manusia yang notabenenya sebagai pengguna
lingkungan adalah sangat dominan sebagai penyebabnya, baik yang dilakukan secara
sengaja ataupun tidak.


B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan xenobiotik?
2. Bagaimana klasifikasi xenobiotik?
3. Apa saja peristiwa yang berkaitan dengan “peracunan” lingkungan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu senyawa xenobiotik
2. Untuk mengetahui klasifikasi xenobiotik
3. Untuk mengetahui peristiwa yang berkaitan dengan “peracunan” lingkungan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Senyawa Xenobiotik
Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani yaitu Xenos yang arti nya zat asing. Zat
xenobiotik merupakan senyawa yang asing bagi tubuh.. Xenobiotik dapat dihasilkan
dari suatu kegiatan atau aktivitas manusia dan masuk ke dalam lingkungan.Bila
organisme terpapar oleh zat xenobiotik maka
zat ini akan masuk ke dalam organisme dan dapat menimbulkan efek biologis.
Kelompok utama zat-zat xenobiotik yang mempunyai relevansi medis adalah
obat-obatan,zat –zat karsinogen kimia serta berbagai senyawa yang telah memasuki
lingkungan kehidupan kita melalui salah satu jalan,seperti senyawa-senyawa bifenil
Polikrolinasi (PCB) dan insektisida tertentu. Sebagian besar senyawa ini akan
mengalami metabolisme (perubahan kimiawi) dalam tubuh manusia dan hati menjadi
organ tubuh yang terutama terlibat dalam peristiwa ini.kadang-kadang zat xenobiotik
dapat diekskresikan tanpa perubahan.Tujuan metabolisme zat-zat senobiotik adalah
untuk meningkatkan kelarutannya dalam air (polaritas) dan dengan demikian
memudahkan eksresinya dari dalam tubuh.
Contoh: obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis,
pewarna, pengawet) dan zat biotikkarsinogen lainya.
Dalam kehidupan sehari-hari tubuh manusia dapat terpapar oleh ribuan
xenobiotik yang setiap xenobiotik dapat menimbulkan efek toksik.saat sarapan pagi
dirumah mungkin kita mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan
pengawet,pewarna atau penyedap rasa. Ketika kita di jalan menuju tempat kuliah dan
tempat kerja mungkin kita menghirup udara yang penuh dengan polutan rokok sendiri
atau teman kerja. Kedua, kemungkinan timbulnya efek toksik yang diakibatkan oleh
paparan xenobiotik belum disikapi secara benar baik oleh mereka yang bekerja
dibidang kesehatan terlebih lagi orang awam. Kasus formalin dalam makanan
mendapat tanggapan yang gegap gempita,sedangkan tercemarnya udara perkotaan
dan air tanah permukiman serta pemakaian obat-obatan yang irrasional menjadi
fenomena biasa.

B. Klasifikasi Xenobiotik
1. Berdasarkan sumber
a) Sumber alamiah/buatan
Racun yang berasal dari alamiah atau buatan membedakan racun asli
yang berasal dari flora dan fauna dan kontaminasi organisme dengan
berbagai racun yang berasal dari bahan baku industri beracun ataupun
buangan beracun dan bahan sintetis beracun. Sumber berbentuk titik, area
dan bergerak. Klasifikasi sumber seperti ini biasanya dipergunakan orang
yang berminat melakukan pengendalian. Tentunya sumber titik lebih
mudah dikedalikan daripada sumber area dan bergerak.
b) Sumber domestik, komersial dan industry
Sumber domestik biasanya berasal dari permukiman, kurang beracun
kecuali bercampur dengan buangan pestisida, obat-obatan dll. Buangan
komersial dapat sangat beragam, demikian pula dengan buangan industry.

2. Berdasarkan wujud
Klasifikasi racun berdasarkan wujud sangat bermanfaat dalam memahami
efek yang mungkin terjadi serta pengendaliannya. Adapun beberapa
klasifikasi racun berdasarkan wujur pencemaran adalah sebagai berikut:
 Padat : padatan yang sangat halus dapat terbang bersama udara,
disebut debu, fume, mist, sehingga dampaknya dapat sangat luas.
 Cair : banyak dipergukan dalam pertanian dan biasanya ditambah
pengencer dampaknya tidak secepat gas.
 Gas : dapat berdifusi sehingga menyebar lebih cepat dari pada cairan
dan zat padat.
Mengetahui sebuah ukuran (dimensi), densitas serta komposisi
dapatmemberikan petunjuk mudah tidaknya pencemar memasuki tubuh host
dan cepat tidaknya menimbulkan efek serta seberapa jauh efeknya.

3. Berdasarkan sifat fisika dan kimia (B3)
Klasifikasi ini sering digunakan untuk bahan beracun (B3), dan
pengelompokan xenobiotik tersebut adalah sebagai B3 yang:
- Korosif
- Radioaktif
- Evaporatif
- Eksplosif
- Reaktif; semua ini menghendaki penanganan, transportasi, dan
pembuangan yang berbeda, karena bahaya yang mungkin ditimbulkan akan
berbeda.

4. Berdasarkan terbentuknya pencemar/xenobiotik
 Pencemar yang terbentuk dan keluar dari sumber disebut pencemar
primer.
 Pencemar yang sudah bereaksi dilingkungan disebut pencemar
sekunder.
 Pencemar sekunder yang bereaksi menjadi pencemar tersier.

5. Berdasarkan efek kesbehatan
 Fibrosis : terbentuknya jaringat ikat secara berlebihan;
 Granuloma : didapatnya jaringan radang kronis;
 Demam : suhu badan melebihi suhu normal;
 Asfiksia : keadaan kekurangan oksigen;
 Alergi : sensitifitas yang berlebihan;
 Kanker : tumor ganas;
 Mutan : generasi yang berbeda dg gen induknya
 Teratogenik : cacat bawaan
 Keracunan sistemik : keracunan yang menyerang seluruh tubuh.

6. Berdasarkan kerusakan organ target
 Hepatoksik : beracun pada hati;
 Nefrotoksik : beracun pada ginjal;
 Neurotoksik : beracun pada saraf;
 Hematotoksik : beracun pada sel darah;
 Pneumotoksik : beracun pada paru-paru.

7. Berdasarkan hidup/matinya racun
 Klasifikasi ini dibuat berdasarkan pertimbangan bahaya yang
ditimbulkannya
 Zat yang hidup dapat berkembang biak bila lingkungannya
mengijinkan
 Zat abiotis dapat berubah menjadi berbagai senyawa
 Sehingga pengendaliannya berbeda

C. RACUN BIOTIS ATAU BIOTOKSIN
Racun biotis adalah racun yang berasal dari biota. Dapat berupa racun asli/racun
primer (biota tsb beracun). Racun sekunder : Akibat kontaminasi dg
lingkungannya;
Ada dua jenis racun asli :
1. Organisme itu sendiri beracun bagi manusia atau organisme lain yg
memakannya;
2. Racun dari biota sengaja dimasukkan ke dlm tubuh organisme lain sebagai
defens biota tadi.
Ada 3 macam biotoksin :
1. Mikroba
Racun di dalam mikroba dapat berupa racun yang dibuat oleh mikroba itu
sendiri ataupun dapat berupa sisa metabolisme. Adapun mikroba pembentuk
racun atau toksin antara lain Vibrio cholera;Clostridium
botulinum; Pseudomonas cocovenans; Staphilochoccus
aureus; Michotoksin; Algatoksin; dan lain-lain. Adapun racun yang berupa
metabolit organism antara lain Ammonia; Nitrat; Nitrit; CO; Co2; derit sulfur
dan lain-lain.
Racun biotis ada yang disebut exo dan endo-toksin. Exotoksin dibuat dan
dikeluarkan dari tubuhnya oleh bakteri semasa masih hidup serta sehat, dan
efeknya baru dapat dirasakan pada masa sangat jauh. Sedangkan Endotoksin
hanya dirasakan bila terjadi kehancuran sel bakteri. Berikut perbedaan
endotoksin dan exotoksin:
2. Tanaman
Dalam klasifikasi ini baik jamur maupun alga dimasukkan didalam tanaman.
Racun jamur/ Fungi atau Mikotoksin adalah racun yang dibuat oleh fungi atau
jamur. Jamur memiliki habitat dialam yang sangat luas, ada yang digudang,
dilapangan yang melapuk atau busuk. Adapun fungi yang beracun antara lain
Claviceps purpurea, Aspergilus flavus, Fusarium roseum, Fusarium tricintum,
penilicium sp, Aspergilus sp. Algae yang beracun juga banyak terdapat
dialam, seperti
– Pyrrophyceae merupakan protozoa, hewan laut, mastigofora.
– Cyanophyceae disebut juga blue green algae, Jenis yg beracun
: Mycrocytis; Anabaena; Aphanizomenon, kesemuanya hidup di air tawar dan
membuat endotoksin. Bila terdapat banyak pupuk terjadilah eutrofikasi yang
menyebabkan populasi banyak, sehingga terjadi penurunan oksigen terlarut,
yang dapat menyebabkan kematian hewan aquatic. Pada siang hari memang
terjadi fotosintesis maksimum, sehingga DO menjadi maksimum, dan pH
menuju 9,5 karena toksin labil dalam alkaline, maka terjadi pengurangan
toksisitas. Namun pada malam hari, terjadi sebaliknya. Sehingga terjadi
kematian ikan, burung pemakan ikan, dan ternak.
– Cyanobacterium, suatu organisme air tawar;
– Chrysophyceae, algae yang hidup di air payau dengan kadar NaCl
0,12%. Termasuk dalam flagellate bersel tunggal, bewarna kuning coklat.
Algae ini merupakan spesies Prymnesium parvum yang bersifat racun bagi
ikan. Alga ini mampu membuat toksin hemolisin, sitotoksin, banteriolitik, dan
ichtytoksin.
– Pyrrophyceae Adalah algae beracun dan berwarna merah;
– Bila nutrien cukup, berkembang biak dg pesat, shg laut berwarna merah
yg disebut “red tides”
– Bila terdapat ini kerang-kerang banyak mengandung racun shg tdk
dapat dikonsumsi
– Keracunan kerang (shelfish) menyebabkan paralisis;
Selain jamur dan algae, juga terdapat tanaman yang beracun. Pada umumnya
tanaman-tanaman yang beracun memiliki tanda-tanda seperti rasa yang pahit,
memiliki getah seperti susu, memiliki kuncup berlaminasi. Racun dapat
terdapat pada buah, daun, biji, dan akar. Pada umumnya racun pada tanaman
bersifat labil terhadap panas dan larut dalam air. Sehingga air bekas masak
sebaiknya tidak diminumkan. Yang terpenting lainya sebaiknya hindari
memakan tanaman liar yang tidak dikenal, atau memakan bagian tanaman
yang tidak lazim dimakan. Hindari juga sembarangan mengkonsumsi jamur
liar. Adapun racun yang memungkinkan terdapat dalam tanaman antara lain
HCN (Cassava, Acacia, Sorghum muda, dll); Asam oksalat (Chenopodiaceae,
Rumex, Oxilidaceae); dan fosfor organik (Oxylobrium paviflorum,
Gatrolobium bilobium).
Salah satu tanaman beracuna adalah jenis Curare, yang banyak ditemukan di
Indiana, yang banyak digunakan untuk melumuri panah pemburu. Sehingga
dapat melumpuhkan hewan buruannya. Dikedokteran juga digunakan sebagai
anestesi.
3. Hewan
Untuk hewan-hewan yang beracun beraneka ragam seperti ular, kalajengking,
lebah, taupun jenis lainnya seperti nyamuk. Biasanya penawar racun dapat
dibuat dari bisa hewan itu sendiri. Dan disarankan untuk menjaga kebersihan
sehingga hewan-hewan liar tidak bersarang ditempat yang tidak dinginkan.
Yang dapat menimbulkan interaksi antara manusia dan binatang yang tidak
diinginkan.

D. BEBERAPA PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN
“PERACUNAN” LINGKUNGAN
1. Pencemaran udara SOX, CO, NOX, PAH(Policyclic Aromatic Hidrocarbon),
DDT( Dietil Difenil Dichlor Etan) , PCB (Polichlor Bifenil) , CFC (Chloro
Fluorocarbon) dll. Efeknya mulai dari yang ringan iritasi kulit,hingga berat
seperti penyakit pernafasan. Efek DDT pd cangkang telur menjadi rapuh, shg
mudah pecah, tidak menetas dan akhirnya populasi punah
2. Bocornya reaktor nuklir seperti di chernobil, rusia, Fukusima jepang.
efeknya antara lain terjadi kanker kelenjar gondok pada anak2 akibatsinar
radioaktif dari radon
3. Pabrik plastik dengan bahan baku vinil chlorida dan acetaldehide.Pabrik ini
membuang Hg ke teluk Minamata. ikan mengandung 27-102 ppm berat
kering Hg. Selama th 1953-1960 terjadi keracunan Hg pada 111 nelayan.
gejala : sulit mendengar dan kehilangan koordinasi otot2nya.
4. Kasus bom Hiroshima & Nagasaki. Detonasi bom secara langsung
menyebarkan panas yang tak terkira dan mematikan semua organisme sekitar
1 mil.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Zat xenobiotik merupakan senyawa yang asing bagi tubuh
2. Klasifikasi xenobiotik:
a) Berdasarkan sumber : Sumber alamiah/buatan dan Sumber domestik,
komersial dan industry
b) Berdasarkan wujud : Padat, Cair, Gas
c) Berdasarkan sifat fisika dan kimia : Korosif, radioaktif, evaporative,
eksplosif dan reaktif memerlukan penanganan, transportasi, dan
pembuangan yang berbeda.
d) Berdasarkan terbentuknya pencemar/xenobiotik : pencemar primer,
pencemar sekunder, pencemar tersier.
e) Berdasarkan efek kesehatan : Fibrosis, Demam, Asfiksia,
Alergi, Kanker, Mutan, Teratogenik, Keracunan sistemik.
f) Berdasarkan organ target : hepatoksik, nefrotoksik, neurotoksik,
hematotoksik, pneumotoksik
g) Berdasarkan hidup/matinya racun :
3. Racun biotis atau biotoksin
Racun biotis adalah racun yang berasal dari biota.
Racun biotoksin dibagi menjadi 3, yaitu Mikroba, Tanaman, Hewan
4. Peristiwa yang berkaitan dengan “peracunan” lingkungan: Pencemaran
udara , Bocornya reaktor nuklir, Pabrik plastik dengan bahan baku vinil
chlorida dan acetaldehyde, Kasus bom Hiroshima & Nagasaki.
B.

DAFTAR PUSTAKA

Novak, W. K., and Haslberger, A. G., 2000, Substantial Equivalence of Antinutrients
and Inherent Plant Toxins In Genetically Modified Novel Foods, Food and
Chemical Toxicology
Timbrell, J.A., 1991, Principles of Biochemical Toxicology, 2
nd
Edition, Taylor &
Francis, London, 299.