You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah
SWT di bumi ini. Diberinya daya cipta, rasa dan karsa yang memungkinkan manusia
untuk berbuat lebih besar dari pada otak mereka yang kecil. Kekuatan berpikir itulah yang
sering disebut-sebut dengan intelegensi. Manusia yang mempunyai intelegensi yang
tinggi, tentulah mereka lebih unggul daripada manusia yang memiliki intelegesi yang
rendah. Intelegensi merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, bukan timbul secara
tiba-tiba. Yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.
Intelegensi juga dapat dipahami sebagai kemampuan yang bersifat umum untuk
mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah.
1.2 Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini tidak lari dari sub judul, ada baiknya penyusun
merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas, antara lain:
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan intelegensi?
1.2.2 Sebutkan macam-macam intelegensi?
1.2.3 Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi?
1.2.4 Jelaskan klasifikasi intelegensi?
1.2.5 Bagaimana cara pengukuran intelegensi ?
1.2.6 Apa yang dimaksud dengan gangguan Intelegensi Retardasi Mental?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penyusun menulis makalah ini antara lain :
1.3.1 Untuk melengkapi tugas makalah psikologi umum.
1.3.2 Mahasiswa memahami pengertian intelegensi.
1.3.3 Mahasiswa mengerti macam-macam intelegensi.
1.3.4 Mahasiswa mampu mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi.
1.3.5 Mahasiswa mampu mengklasifikasi hal-hal yang berhubungan denggan intelegensi.
1.3.6 Untuk memahami cara pengukuran intelegensi.
1.3.7 Mengetahui yang dimaksud dengan gangguan Intelegensi Retardasi Mental.




BAB II
PEMBAHASAN
1.2.1 Pengertian Intelegensi
Konsep Intelegensi menimbulkan kontroversi dan debat panas, sering kali sebagai
reaksi terhadap gagasan bahwa setiap orang punya kapasitas mentalumum yang dapat diukur
dan dikuantifikasikan dalam angka. Inteligensi adalah suatu istilah yang popular. Hampir
semua orang sudah mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya. Seringkali kita
dengar seorang mengatakan si A tergolong pandai atau cerdas (inteligen) dan si B tergolong
bodoh atau kurang cerdas (tidak inteligen). Istilah inteligen sudah lama ada dan berkembang
dalam masyarakat sejak zaman Cicero yaitu kira-kira dua ribu tahun yang lalu dan
merupakan salah satu aspek alamiyah dari seseorang. Inteligensi bukan merupakan kata asli
yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin
yaitu inteligensia. Sedangkan kata inteligensia itu sendiri berasal dari kata inter dan
lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada
mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta
atau kebenaran.
Menurut W. Stem dalam Abu Ahmadidan Widodo Supriyono mengemukakan
intelegensi adalah suatu daya jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat di
dalam situasi yang baru. Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk
bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara
efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan
mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak
dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata
yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Menurut Wangmuba inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan
umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang
umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan
yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya
pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang
disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap
kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes
inteligensi. K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan
pemahaman atau pengertian. David Wechster (1986). Definisinya mengenai intelegensi mula-
mula sebagai kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk mengatasi
tantangan-tantangannya. Namun di lain kesempatan ia mengatakan bahwa intelegensi adalah
kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. Beberapa pakar menyebutkan bahwa intelegensi sebagai
keahlian untuk memecahkan masalah.
Intelegensi merupakan potensi bawaan yang sering dikaitkan dengan berhasil
tidaknya anak belajar disekolah. Dengan kata lain, intelegensi dianggap sebagai faktor yang
menentukan berhasil atau tidaknya anak disekolah. Kecerdasan (Inteligensi) secara umum
dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami
informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan
untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan
(problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Sternberg dalam
Santrock mengatakan bahwa secara umum intelegensi dibedakan menjadi 3 diantaranya:
Inteligensi Analitis
Yaitu kecerdasan yang lebih cenderung dalam proses penilaian objektif dalam suatu
pembelajaran dalam setiap pelajaran, selalu mendapatkan nilai yang bagus dalam setiap hasil
ujian. Misalnya: seorang individu dalam ujian disetiap pelajarannya selalu mendapatkan nilai
di atas rata-rata.
Inteligensi Kreatif
Yaitu kecerdasan yang lebih cenderung pada sifat-sifat yang unik, merancang hal-hal
yang baru. Misalnya: seorang peserta didik diinstrusikan untuk menuliskan kata P O H O N
oleh gurunya, tetapi jawaban seorang individu yang kreatif dengan menggambarkan sebuah
pohon.
Inteligensi Praktis
Yaitu kecerdasan yang berfokus pada kemampuan untuk menggunakan, menerapkan,
mengimplementasikan, dan mempraktikan. Misalnya: seorang individu mendapatkan skor
rendah dalam tes IQ tradisional, tetapi dengan cepat memahami masalah dalam kehidupan
nyata, contohnya dalam pembelajaran praktikum di laboratorium, akan cepat memahami
karena dibantu dengan berbagai peralatan dan media.

1.2.2 Macam-macam Intelegensi
Ada beberapa macam intelegensi, antara lain :
a. Inteligensi Keterampilan Verbal
Yaitu kemampuan untuk berpikir dengan kata-kata dan menggunakan bahasa untuk
mengungkapkan makna. Contohnya: seorang anak harus berpikir secara logis dan abstrak
untuk menjawab sejumlah pertanyaan tentang bagaimana beberapa hal bisa menjadi mirip.
Contoh pertanyaannya Apa persamaan Singan dan Harimau?. Cenderung arah profesinya
menjadi: (penulis, jurnalis, pembicara).
b. Inteligensi Keterampilan Matematis
Yaitu kemampuan untuk menjalankan operasi matematis. Peserta didik dengan
kecerdasan logical mathematical yang tinggi memperlihatkan minat yang besar terhadap
kegiatan eksplorasi. Mereka sering bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya.
Mereka menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaan. Selain itu mereka juga suka
mengklasifikasikan benda dan senang berhitung. Cenderung profesinya menjadi: (ilmuwan,
insinyur, akuntan).
c. Inteligensi Kemampuan Ruang
Yaitu kemampuan untuk berpikir secara tiga dimensi. Cenderung berpikir secara visual.
Mereka kaya dengan khayalan internal (Internal imagery) sehingga cenderung imaginaif dan
kreatif. Contohnya seorang anak harus menyusun serangkaian balok dan mewarnai agar sama
dengan rancangan yang ditunjukan penguji. Koordinasi visual-motorik, organisasi persepsi,
dan kemampuan untuk memvisualisasi dinilai secara terpisah. Cenderung menjadi profesi
arsitek, seniman, pelaut.
d. Inteligensi Kemampuan Musical
Yaitu kepekaan terhadap pola tangga nada, lagu, ritme, dan mengingat nada-nada. Ia juga
dapat mentransformasikan kata-kata menjadi lagu, dan menciptakan berbagai permainan
musik. Mereka pintar melantunkan beat lagu dengan baik dan benar. Mereka pandai
menggunakan kosa kata musical, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara
dalam sebuah komposisi music.
e. Inteligensi Keterampilan Kinestetik Tubuh
Yaitu kemampuan untuk memanipulasi objek dan mahir sebagai tenaga fisik. Senang
bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki control pada gerakan, keseimbangan,
ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Mereka mengeksplorasi dunia dengan otot-
ototnya. Cenderung berprofesi menjadi ahli bedah, seniman yang ahli, penari.
f. Inteligensi Keterampilan Intrapersonal
Yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan efektif mengarahkan hidup
seseorang. Memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami
diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri dalam konflik. Ia juga mengetahui apa yang
dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan social. Mereka
mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan saat memerlukan. Cenderung berprofesi
menjadi teolog, psikolog.
g. Inteligensi Keterampilan Interpersonal
Yaitu kemampuan untuk memahami dan secara efektif berinteraksi dengan orang lain. Pintar
menjalin hubungan social, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat
berinteraksi. Mereka juga mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan
orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain.
h. Inteligensi Keterampilan Naturalis
Yaitu kemampuan untuk mengamati pola di alam serta memahami system buatan
manusia dan alam. Menonjol ketertarikan yang sangat besar terhadap alam sekitar, termasuk
pada binatang, diusia yang sangat dini. Mereka menikmati benda-benda dan cerita yang
berkaitan dengan fenomena alam, misalnya terjadinya awan, dan hujan, asal-usul binatang,
peumbuhan tanaman, dan tata surya.
i. Inteligensi Emosional
Yaitu kemampuan untuk merasakan dan mengungkapkan emosi secara akurat dan adaftif
(seperti memahami persfektif orang lain).
Orang yang berjasa menemukan tes inteligensi pertama kali ialah seorang dokter bangsa
Prancis Alfred Binet dan pembantunya Simon. Tesnya terkenal dengan nama tes Tes Binet-
Simon. Seri tes dari Binet-Simon ini, pertamakali diumumkan antara 1908-1911 yang diberi
nama : Chelle Matrique de linteligence atau skala pengukur kecerdasan. Tes binet-simon
terdiri dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikelompok-kelompokkan menurut
umur (untuk anak-anak umur 3-15 tahun). Pertanyaan-pertanyaaan itu sengaja dibuat
mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Seperti
mengulang kalimat, dengan tes semacam inilah usia seseorang diukur atau ditentukan. Dari
hasil tes itu ternyata tidak tentu bahwa usia kecerdasan itu sama dengan usia sebenarnya (usia
kalender). Sehingga dengan demikian kita dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan IQ
(Inteligentie Quotient) pada tiap-tiap orang/anak.
Dewasa ini perkembangan tes itu demikian majunya sehingga sekarang terdapat
beratus-ratus macam tes, baik yang berupa tes verbal maupun nonverbal. Juga dinegeri kita
sudah mulai banyak dipergunakan te, dalam lapangan pendidikan maupun dalam memilih
jabatan-jabatan tertentu.
1.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Inteligensi
Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi
yang berbeda.Perbedaan intelegensi itu, dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Pengaruh faktor bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari
suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 )
orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi
korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 +0,20 ).
b. Pengaruh Faktor Lingkungan
Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu
ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian
makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain
guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga
memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan,
dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka). Ada beberapa lingkungan yang berpengaruh
terhadap intelegensi, antara lain : lingkungan keluarga dan pengalaman pendidikan.
c. Stabilitas InteIigensi dan IQ
Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang
kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene
hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas intelegensi tergantung
perkembangan organik otak.
d. Pengaruh Faktor Kematangan
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap
organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan
menjalankan fungsinya (berkaitan erat dengaan umur).
e. Pengaruh Faktor Pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti disekolah) dan
pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
f. Minat dan Pembawaan yang Khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Apa yang menarik minat
seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
g. Kebebasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu
dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga
bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.
Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan
intelegensi atau tidaknya seseorang, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu
faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta
menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.

1.2.4 Klasifikasi IQ antara lain :
Klasifikasi IQ berbeda untuk setiap metode test yang digunakan.
1. Stanford-Binet mengklasifikasikan nilai IQ normal yang berkisar diantara 85 115.
2. Lewis Terman mengklasifikasikan nilai IQ normal pada kisaran 90 109. Lebih jauh
lagi.
3. Wechsler mengklasifikasikan IQ normal pada angka 100 dengan nilai toleransi 15
(berarti 85 115).
Dikarenakan perbedaan ini, maka selain nilai IQ yang didapat, harus diperhatikan pula
metode test apa yang digunakan.
Untuk klasifikasi umum, saat kita tidak mengetahui metode apa yang digunakan. Bisa
menggunakan klasifikasi dibawah ini (hasil kompromi ketiga metode diatas).
70 79 Tingkat IQ rendah atau keterbelakangan mental.
80 90 Tingkat IQ rendah yang masih dalam kategori normal (Dull Normal)
91 110 Tingkat IQ normal atau rata-rata
111 120 Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal (Bright Normal)
120 130 Tingkat IQ superior
131 atau lebih Tingkat IQ sangat superior atau jenius.
Dengan rata-rata IQ manusia normal adalah 91-110, berikut ini adalah mereka yang
mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, mungkin sebagian dari mereka sudah ada kenal
sebelumnya.
Penjelasan klasifikasi kategori lain.
a. Idiot IQ (0-29)
Idiot merupakan kelompok individu terbelakang paling rendah. Tidak dapat
berbicara atau hanya mengucapkan beberapa kata saja. Biasanya tidak dapat
mengurus dirinya sendiri seperti mandi, berpakaian, makan dan sebagainya, dia harus
diurus oleh orang lain. Anak idiot tinggal ditempat tidur seumur hidupnya. Rata-rata
perkembangan intelegensinya sama dengan anak normal 2 tahun. Sering kali umurnya
tidak panjang, sebab selain intelegensinya rendah, juga badannya kurang tahan
terhadap penyakit.
b. Imbecile IQ (30-40)
Kelompok Anak imbecile setingkat lebih tinggi dari pada anak idiot. Ia dapat
belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang
teliti.Pada imbecile dapat diberikan latihan-latihan ringan, tetapi dalam kehidupannya
selalu bergantung kepada orang lain, tidak dapat mandiri. Kecerdasannya sama
dengan anak normal berumur 3 sampai 7 tahun.Anak-anak imbecile tidak dapat
dididik di sekolah biasa.
c. Moron atau Debil IQ / Mentally retarted (50-69)
Kelompok ini samapi tingkat tertentu masih dapat belajar membaca, menulis,
dan membuat perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang
tidak memerlukan perencanaan dan dan pemecahan. Banyak anak-anak debil ini
mendapat pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa.
d. Kelompok bodoh IQ dull/ bordeline (70-79)
Kelompok ini berada diatas kelompok terbelakang dan dibawah kelompok
normal (sebagai batas). Secara bersusah paya dengan beberapa hambatan, individu
tersebut dapat melaksanakan sekolah lanjutan pertama tetapi sukar sekali untuk dapat
menyelesaikan kelas-kelas terakhir di SLTP.
e. Normal rendah (below avarage), IQ 80-89
Kelomok ini termasuk kelompok normal,rata-rata atau sedang tapi pada
tingakat terbawah, mereka agak lambat dalam belajarnya, mereka dapat
menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama tapi agak kesulitan untuk dapat
menyelesaikan tugas-tugas pada jenjang SLTA.
f. Normal sedang, IQ 90-109
Kelompok ini merupkan kelompok normal atau rata-rata, mereka merupkan
kelompok terbesar presentasenya dalam populasi penduduk.
g. Normal tinggi (above average) IQ 110-119
Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal tetapi berada pada
tingkat yang tinggi.
h. Cerdas (superior) ,IQ 120-129
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik. Mereka
reringkali tedapat pada kelas biasa. Pimpinan kelas biasanya berasal dari kelompok
ini.
i. Sangat cerdas (very superior/ gifted) IQ 130-139
Anak-anak very superior lebih cakap dalam membaca, mempunyai
pengetahuan yang sangat baik tentang bilangan, perbendaharaan kata yang luas, dan
cepat memahami pengertian yang abstrak. Pada umumnya, faktor kesehatan,
ketangkasan, dan kekuatan lebih menonjol dibandingkan anak normal.
j. Genius IQ 140 >
Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa. Mereka pada umumnya
mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menemuka sesuatu yang
baru meskipun dia tidak besekolah. Kelompok ini berada pada seluruh ras dan bangsa,
dalam semua tingkat ekonomi baik laki-laki maupun perempuan. Contoh orang-orang
genius ini adalah Edison dan Einstein.
Uraian diatas menjelaskan tentang tingkat intelegensi dalam ukuran secara
kognitif , pandangan lama menunjukkan bahwa kualitas intelegensi atau kecerdasan
yang tinggi dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan individu
dalam belajr dan meraih kesuksesan.
Namun baru-baru ini telah berkembang pandangan lain yang menyatakan
bahwa faktor yang paling dominan yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam
hidupnya bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tapi
oleh faktor kemantapan emosional yang ahlinya yaitu Daniel Goleman disebut
Emotional Intelegence (kecerdasan emosinal).
Bedasarkan pengamatannya, banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan
karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun mereka kurang memiliki kecerdasan
emosional mekipun intelegensinya berada pada yingkatan rata-rata. Tidak edikit orang
yang sukses dalamnya hidupnya karena memilki kecerdasan emosional .
Kecerdasan emosional ini semakin perlu di pahami, dimilki dan diperhatikan
dalam pengembangannya karena mengingat kehidupan dewasa ini semakin kompleks.
Kehidupan yang sangat kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk
terhadap konstelasi kehidupan emosional individu. Dalam hal ini Daniel Goleman
mengemukakan hasil survei terhadap para orang tua dan guru yang hasilnya bahwa
ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang banyak
mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya, mereka lebih kesepian
dan pemurung, lebih bringasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan
mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.
Spoilerfor deskripsi:
IQ - Deskripsi - % dari Populasi dunia
130+ Sangat superior 2.2% dari populasi dunia
120-129 Superior 6.7% dari populasi dunia
110-119 Rata-rata plus 16.1% dari populasi dunia
90-109 Rata-rata 50% dari populasi dunia
80-89 Rata-rata minus 16.1% dari populasi dunia
70-79 Garis batas 6.7% dari populasi dunia
Below 70 Sangat rendah 2.2% dari populasi dunia

1.2.5 Pengukuran Intelegensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog Perancis
merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa
yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu
dinamakan Tes Binnet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak
perbaikan dari Tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks
numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan
chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_binet. Indeks seperti ini
sebetulnya telah diperkenalkan oleh psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang
kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford_Binet ini banyak
digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas Tes Binet-Simon atau Tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu
terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Spearman mengemukakan bahwa
inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (General factor), tetapi
juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut teori faktor (Factor
Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah
WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler
Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
1.2.6 Gangguan Intelegensi Retardasi Mental
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak
masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan
mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang
terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren =
jiwa) atau tuna mental.
Retardasi mental bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil
dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap
intelektual dan fungsi adaptif.2 Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan
jiwa atau gangguan fisik lainnya.
Hasil bagi intelegensi (IQ = Intelligence Quotient) bukanlah merupakan satu-
satunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya retardasi mental.
Sebagai kriteria dapat dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan
sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf ringan, sedang sampai berat, dan sangat berat.
Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :
a. Retardasi mental berat sekali
IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena retardasi
mental.
b. Retardasi mental berat
IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang terkena retardasi
mental.
c. Retardasi mental sedang
IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang terkena retardasi
mental.
d. Retardasi mental ringan
IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena retardasi
mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali
sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.
Angka Kejadian
Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen
penduduknya menderita kelainan ini.4 Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal
kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih
dalam taraf ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai
14 tahun. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan
dengan perempuan.
Penyebab
Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas
sebabnya (simpleks).keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder
disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau
anak-anak.
Pada kenyataannya IQ (Intelligence Quotient) bukanlah merupakan satu-satunya
patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya Retardasi Mental. Melainkan
harus dinilai berdasarkan sejumlah besar keterampilan spesifik yang berbeda. Penilaian
tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan
Klinis, Prilaku Adaptif dan hasil Tes Psikometrik. Untuk diagnosis, yang pasti harus ada
penurunan tingkat kecerdasan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi
terhadap tuntutan dari lingkungan sosial biasa sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik pasien
dengan Retardasi Mental dapat ditemukan berbagai macam perubahan bentuk fisik, misalnya
perubahan bentuk kepala: Mikrosefali, Hidrosefali, dan Sindrom Down. Wajah pasien dengan
Retardasi Mental sangat mudah dikenali seperti Hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar,
gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi wajah tampak tumpul. Sebagai kriteria dan bahan
pertimbangan dapat dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan
sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf yang Ringan, Taraf Sedang, Taraf Berat, dan
Taraf Sangat Berat. . Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki
dibandingkan dengan perempuan
1. Retardasi Mental Ringan IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang
yang terkena Retardasi Mental. Pada umumnya anak-anak dengan Retardasi Mental
Ringan ini tidak dapat dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau
kedua disekolah.
2. Retardasi Mental Sedang IQ sekitar 35-40 sampai 50-55.
3. Retardasi Mental Berat IQ sekitar 20-25 sampai 35-40.
4. Retardasi Mental Sangat Berat IQ dibawah 20 atau 25.
Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas
sebabnya (simpleks).keduanya disebut Retardasi Mental Primer. Sedangkan Faktor Sekunder
disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan, setelah
lahir atau terhadap anak-anak.
Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu :
a. Akibat infeksi dan/atau intoksikasi.
Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan
otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.
b. Akibat rudapaksa dan atau sebab fisik lain.
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan
usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental.
Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental.
c. Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi.
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme
(misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi
termasuk dalam kelompok ini.
Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun
sangat memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental.
Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini
biarpun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah
sukar ditingkatkan.
d. Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal).
Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk
pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel
optak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter).
Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik
atau reparatif.
e. Akibat penyakit/pengaruh pranatal yang tidak jelas.
Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui
etiologinya, termasuk anomali kranial primer dan defek kogenital yang tidak diketahui
sebabnya.
f. Akibat kelainan kromosom.
Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau dalam bentuknya.
g. Akibat prematuritas.
Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada
waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa hamil kurang
dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum
ini.
h. Akibat gangguan jiwa yang berat.
Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu
dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak
i. Akibat deprivasi psikososial.
Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor-faktor biomedik maupun sosiobudaya.
Diagnosis
Untuk mendiagnosa retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesa dari orang
tua dengan teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak. Bila mungkin
dilakukan juga pemeriksaan psikologik, bila perlu diperiksa juga di laboratorium, diadakan
evaluasi pendengaran dan bicara. Observasi psikiatrik dikerjakan untuk mengetahui adanya
gangguan psikiatrik disamping retardasi mental.
Tingkat kecerdasan intelegensia bukan satu-satunya karakteristik, melainkan harus
dinilai berdasarkan sejumlah besar keterampilan spesifik yang berbeda. Penilaian tingkat
kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan klinis, prilaku
adaptif dan hasil tes psikometrik. Untuk diagnosis yang pasti harus ada penurunan tingkat
kecerdasan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari
lingkungan sosial biasa sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan retardasi mental
dapat ditemukan berbagai macam perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala:
mikrosefali, hidrosefali, dan sindrom down. Wajah pasien dengan retardasi mental sangat
mudah dikenali seperti hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan
gigi dan ekspresi wajah tampak tumpul.
Kriteria Diagnostik Retardasi Mental Menurut DSM-IV-TR yaitu:
Fungsi intelektual yang secara signifikan dibawah rata-rata. IQ kira-kira 70 atau dibawahnya
pada individu yang dilakukan test IQ. Gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2
misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan,
kesehatan dan keamanan. Onsetnya sebelum berusia 18 tahun
Ciri-ciri Perkembangan Penderita Retardasi Mental
a. Diagnosis Banding
Anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan deprivasi rangsangan yang berat
(retardasi mental ini reversibel bila diberi rangsangan yang baik secara dini). Kadang-
kadang anak dengan gangguan pendengaran atau penglihatan dikira menderita retardasi
mental. Mungkin juga gangguan bicara dan cerebral palsy membuat anak kelihatan
terbelakang, biarpun intelegensianya normal. Gangguan emosi dapat menghambat
kemampuan belajar sehingga dikira anak itu bodoh. early infantile dan skizofrenia anak
juga sering menunjukkan gejala yang mirip retardasi mental.
b. Pencegahan
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat,
perbaikan keadaan-sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran
(umpamanya perawatan prenatal yang baik, pertolongan persalinan yang baik, kehamilan
pada wanita adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak
pada anak-anak). Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dan pengobatan dini
peradangan otak, perdarahan subdural, kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu
cepat, dapat dibuka dengan kraniotomi; pada mikrosefali yang kogenital, operasi tidak
menolong).
Pencegahan tersier merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya
disekolah luar biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau
dektrukstif.
Konseling kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan
antara lain membantu mereka dalam mengatasi frustrasi oleh karena mempunyai anak
dengan retardasi mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu
dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat
anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran zat (metabolisme)
sel-sel otak.
c. Latihan dan Pendidikan
Pendidikan anak dengan retardasi mental secara umum ialah:
Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasitas yang ada.
Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau yang anti sosial.
Mengajarkan suatu keahlian (skill) agar anak itu dapat mencari nafkah kelak
Latihan diberikan secara kronologis dan meliputi :
1. Latihan rumah: pelajaran-pelajaran mengenai makan sendiri, berpakaian sendiri,
kebersihan badan.
2. Latihan sekolah: yang penting dalam hal ini ialah perkembangan social.
3. Latihan teknis: diberikan sesuai dengan minat, jenis kelamin dan kedudukan
sosial.
4. Latihan moral: dari kecil anak harus diberitahukan apa yang baik dan apa yang
tidak baik. Agar ia mengerti maka tiap-tiap pelanggaran disiplin perlu disertai
dengan hukuman dan tiap perbuatan yang baik perlu disertai hadiah.













BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dalam pembahasan Intelegensi memang harus benar-benar dipahami secara teliti biar
kita semua bisa tau apa Intelegensi itu sendiri. Yang lebih penting lagi yang harus dipahami
secara detail dalam pembagian kecerdasan/tingkat kecerdasan, dengan memahami tingkat
kecerdasan itu kita bisa tahu bahwa dalam diri kita ini ada kecerdasan yang tidak pernah kita
sadari meski dalam sekolah-sekolah kita tidak pernah mendapatkan rangking, orang selalu
menganggap bahwa orang yang cerdas adalah orang yang dapat rangking kelas dan yang bisa
jawab soal ujian, namun orang yang mampu dalam menghias, main musik tidak dianggap
kecerdasan. Dari itu, sangat perlulah kita memahami intelegensi dan tingkat intelegensi biar
tidak ada kesalah pahaman dalam mengartikan intelegensi itu sendiri.
Intelegensi juga mempunyai hubungan dan perbedaan dengan bakat maupun
kreativitas, tapi yang perlu kita ketahui, bakat dan kreativitas adalah hasil yang didapat dari
intelegensi itu sendiri.

3.2 Kritik & Saran
Berdasarkan kenyataan dilapangan, kita dapat menemukan beberapa pengajar yang
masih kurang memperhatikan dalam pengembangan intelegensi anak didiknya, maka dari itu
kita sebagai calon-calon pendidik masa depan harus mempersiapkan sejak dini rencana-
rencana pengajaran yang merujuk pada pengembangan intelegensi sehingga kreativitas anak-
anak didik mengalami kemajuan dimasa yang akan datang.
Dari hasil makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita
semua umumnya kami pribadi. Dan segala yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk
datangnya dari diri saya. Penyusunsedar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna,
masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang
bersifat membangun, untuk perbaikan karya ilmiah selanjutnya.







DAFTAR PUSTAKA
John, W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2011
Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2011
Fauziah Nasution, Psikologi Umum, Fakultas Tarbiyah : IAIN SU, 2011
http://yogieaffandi.blogspot.com/2011/09/pengertian-intelegensi.html, 17-11-2012
[1] John, W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2011, cet-4, hal : 134
[2] Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal :
32
[3] Dikutip dari : http://yogieaffandi.blogspot.com/2011/09/pengertian-intelegensi.html, 17-
11-2012
[4] John, W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2011, cet-4, hal : 134
[5] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2011, hal : 135
[6] Fauziah Nasution, Psikologi Umum, Fakultas Tarbiyah : IAIN SU, 2011, hal : 47-48
Sadock BJ, Sadock VA. Mental Retardation in Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry,
Lippincott & William, London. p:1161-79
Mental Retardation. http://www.ncbdd.cdc.com. Accessed on June,14 2005
Mental Retardation. http://www.emedicine.com. Accessed on June,14 2005.