You are on page 1of 19

MyWorld

Selasa, 24 April 2012
Askep Pertusis pada Anak

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pertusis (batuk rejan) adalah penyakit saluran pernapasan akut. Penyakit ini biasa
ditemukan pada anak-anak di bawah umur 5 tahun. Seperti halnya penyakit infeksi saluran
pernapas-an akut lainnya,pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Penyakit tersebut dapat
merupakan salah satu penyebab tinggi-nya angka kesakitan terutama di daerah padat penduduk.
Sirkulasi bakteripertusis di daerah padat penduduk di Indonesia belum di-ketahui secara pasti.
Penyakit inidapat dicegah dengan imunisasi DPT. Vaksinasi pertusis lebih efektif dalam
melindungi terhadap penyakit daripada melindungi infeksi. Perlindungan yang tidak lengkap
terhadap penyakit pada anak yang telah divaksinasi dapat menurunkan keganasan penyakit.
Infeksi alam memberi kekebalan mutlak terhadap pertusis selama masa kanak-kanak, sedangkan
perlindungan akibat imunisasi kurang lengkap karena masih ditemukan pertusis pada anak yang
telah mendapatimunisasi lengkap walaupun dengan gejala ringan. Proporsi populasi yang rentan
terhadappertusis ditentukan oleh: tingkatkelahiran bayi, cakupan imunisasi, efektivitas
vaksinyangdigunakan, insiden penyakit dan derajat penurunan kekebalan setelah imunisasi atau
sakit.
Diseluruh dunia ada 60 juta kasus pertusis setahun dengan lebih dari setenah juta
meniggal. selama masa prafaksin tahun 1922-1948, pertusis adalah penyebab utama kematian
dari penyakit menular pada anak dibawah usia 14 tahun di America serikat. Penggunaan vaksin
pertusis yang meluas menyebabkan penurunan kasus yang dramatis insiden penyakit yang tinggi
di Negara-negara sedang berkembang dan maju. Di America penerapan kebijakan yang lemah
sebagia n menyebabkan naiknya insiden pertusis pertahun sampai 1,2 kasus/100000 populasi
dari tahun 1980-1989 dan pertusis dibanyak Negara bagian
Pada tahun 1989-1990 dan 1993. Lebih dari 4500 kasus yang dilaporkan pada pusat
pengendalian dan pencegahan penyakit pada tahun 1993 merupakan insiden tertinggi sejak tahun
1967. Masa pravaksinasi dan dinegara-negara seperti jerman, swedia dan Italy dengan imunisasi
terbatas,insiden puncak pertusis adalah pada anak umur 1-5 tahun, bayi sebelum umur 1 tahun
meliputi kurang dari 15% kasus. Sebaliknya hamper 5000 kasus pertusis dilaporkan di America
serikat selama tahun 1993, 44% berumur sebelum 1 tahun, 21% berumur antara 1-4 tahun, 11%
berumur 5-9 tahun, dan 24% berumur 12 tahun atau lebih. Untuk mereka yang berumur sebelum
1 tahun,79% sebelum umur 6 bulan dan manfaat sedikit dari imunisasi. Anak dengan pertusis
antara 7 bulan dan 4 tahun kurang terimunisasi. Proporsi anak belasan tahun dan orang dewasa
dengan pertusis naik secara bersama, kurang dari pada 20% pada masa pravaksinasi sampai 27 %
pada tahun 1992-1993. Pengendalian sebagian dengan vaksinasi telah menimbulkan epideniologi
pertusis sekarang di America serikat dan menyebabkan kerentanan kelompok umur yang belum
pernah terkena sebelumnya. Tanpa terinfeksi alamiah dengan B.pertusis atau vaksinasi booster
berulang, anak yang lebih tua dan orang dewasa rentan terhadap penyakit klinis yang terpajan,
dan ibu hanya memberikan sedikit proteksi pasif pada bayi muda.pengamatan yang terakhir
memberi koreksi pada pendapat lama bahwa ada sedikit proteksi transplasenta terhadap
pertusis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi pertusis?
2. Bagaimana etiologi terjadinya pertusis?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari pertusis?
4. Bagaimana cara penularan dari pertusis?
5. Bagaimana patofisiologi terjadinya pertusis?
6. Apa komplikasi dari pertusis?
7. Bagaimana diagnose banding dari pertusis?
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari pertusis?
9. Bagaimana penatalaksanaan klien anak dengan pertusis?
10. Bagaimana pencegahan dari pertusis?
11. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien anak dengan pertusis meliputi , pengkajian,
diagnosis, intervensi ?
C. Tujuan
a) Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami bagaimana membuat Asuhan Keperawatan masalah Pernapasan
dengan gangguan Pertusis.


b) Tujuan Khusus
Mahasiswa akan mampu:
1. Memahami definisi pertusis
2. Mengetahui etiologi terjadinya pertusis
3. Mengetahui manifestasi klinis dari pertusis
4. Mengetahui cara penularan dari pertusis
5. Mengetahui patofisiologi terjadinya pertusis
6. Mengetahui komplikasi dari pertusis
7. Mengetahui diagnose banding dari pertusis
8. Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk pertusis
9. Mengidentifikasi penatalaksanaan klien anak dengan pertusis
10. Mengetahui bagaimana pencegahan pertusis
11. Merumuskan asuhan keperawatan pada klien anak dengan pertusis meliputi
pengkajian,diagnosis, intervensi

D. Manfaat
Mahasiswa bisa lebih mengetahui dan memahami bagaimana gangguan pertusis terjadi, dan
bagaimana cara mengobati serta bagaimana menyusun Asuhan Keperawatannya.











BAB II
KONSEP TEORI
A. Pengertian
Pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh berdetellah pertusis
(Nelson, 2000 : 960)
Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh berdetella pertusisa, nama lain
penyakit ini adalah Tussisi Quinta, whooping cough, batuk rejan. (Arif Mansjoer, 2000 : 428)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertusis adalah infeksi saluran pernafasan
akut yang disebabkan oleh bordetella pertusis, nama lain penyakit ini adalah tussis Quinta,
whooping cough, batuk rejan.
B. Etiologi
Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab pertusis yaitu bakteri gram negatif, tidak
bergerak, dan ditemukan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan ditanamkan
pada media agar Bordet-Gengou. (Arif Mansjoer, 2000)
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain:
1. Berbentuk batang (coccobacilus).
2. Tidak dapat bergerak.
3. Bersifat gram negatif.
4. Tidak berspora, mempunyai kapsul.
5. Mati pada suhu 55ºC selama ½ jam, dan tahan pada suhu rendah (0º- 10ºC).
6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik.
7. Tidak sensitif terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap
penicillin.
Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :
1. Toksin tidak tahan panas (Heat Labile Toxin)
2. Endotoksin (lipopolisakarida)





C. Manifestasi klinik
Masa tunas 7 – 14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6 minggu atau lebih dan terbagi
dalam 3 stadium:
1. Stadium kataralis
Stadium ini berlangsung 1 – 2 minggu ditandai dengan adanya batuk-batuk ringan, terutama pada
malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam ringan. Stadium ini menyerupai influenza.
2. Stadium spasmodik
Berlangsung selama 2 – 4 minggu, batuk semakin berat sehingga pasien gelisah dengan muka
merah dan sianotik. Batuk terjadi paroksismal berupa batuk-batuk khas. Serangan batuk panjang
dan tidak ada inspirasi di antaranya dan diakhiri dengan whoop (tarikan nafas panjang dan dalam
berbunyi melengking). Sering diakhiri muntah disertai sputum kental. Anak-anak dapat sempat
terberak-berak dan terkencing-kencing. Akibat tekanan saat batuk dapat terjadi perdarahan
subkonjungtiva dan epistaksis. Tampak keringat, pembuluh darah leher dan muka lebar.
3. Stadium konvalesensi
Berlangsung selama 2 minggu sampai sembuh. Jumlah dan beratnya serangan batuk berkurang,
muntah berkurang, dan nafsu makan timbul kembali.
D. Cara Penularan
Cara penularan pertusis, melalui:
- Droplet infection
- Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi
Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah
penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat
makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang
menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah
batuk dimulai.



E. Patofisiologi

Bordetella pertusis
Infeksi
Lewat udara dan droplet
Menghasilkan bahan aktif seperti Hemaglutinin flamentosa (HAF) dan pertakin
Nempel pada saluran nafas bagian bawah
Fungsi silia menurun
Nekrosis
Lesi pada epitel
Menghambat bersihan organisme
Peningkatan sputum sekret
Bersihan jalan nafas inefektif
Batuk rejan yang lama
Muntah
Berlangsung lama
Perubahan
pola nafas

















12.
13.



Resiko kekurangan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
volume cairan






F. Komplikasi
Pada saluran nafas.
1) Broncopneumonia.
2) otitis media sering pada bayi dan infeksi skunder ( pneumoni ).
3) Bronkitis.
4) Atelektasis.
5) Empisema pulmonum.
6) Bronkiektasis.
7) Aktivase tubercolusa.
Pada sistem saraf pusat.
1) Kejang, kongesti
2) Edema otak
3) Perdarahan otak
Pada sistem pencernaan.
1) Muntah berat.
2) Prolaps rectum ( hernia umbilikus serta inguinalis ).
3) Ulkus pada frenulum lidah.
4) Stomatitis.
5) Emasiasi
Komplikasi yang lain.
1) Epistaksis
2) Hemaptisis
3) Perdarahan sub konjungtiva

G. Diagnosa Banding
1. Bordetella parapertusis lebih ringan kurang lebih 5% dari penderita pertusis.
2. Bordetella broncoseptica gejala sama dengan bordetella pertusis, sering pada binatang.
3. Infeksi oleh clamydia.
Penyebab biasanya clamydia trachomatis.
Pada bayi menyebabkan pneumonia oleh karena terkena infeksi dari ibu.
4. Infeksi oleh adenovirus tipe 1, 2, 3, 5.
Gejala hampir sama dengan pertusis seperti pada penyebab penyakit sebelumnya.
5. Trakhea bronkitis.
Adalah suatu sindrom yang terdiri dari batuk, suara paraudan stridor inspiratoir.
6. Bronkiolitis.
Merupakan penyakit infeksi paru akut ditandai dengan whizing ekspirator obstruksi broncioli.
7. Infeksi bordetellah broncoseptica gejala sama dengan bordetella pertusis sering pada binatang
H. Pemeriksaan Penunjang
a. Pembiakan lendir hidung dan mulut.
b. Pembiakan apus tenggorokan.
c. Pembiakan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang ditandai sejumlah
besar limfosit, LEE tinggi, jumlah leukosit antara 20.000-50.000 sel / m³darah.
d. Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertusis.
e. Tes ELISA (Enzyme – Linked Serum Assay) untuk mengukur kadar secret Ig A.
f. Foto roentgen dada memeperlihatkan adanya infiltrate perihilus, atelaktasis atau emphysema

I. Penatalaksanaan
a. Terapi Kausal.
1) Anti Mikroba.
Agen anti mikroba diberikan karen kemungkinan manfaat klinis dan membatasi penyebaran
infeksi. Entromisin 40 – 50 mg/kg/34 jam secara oral dalam dosis terbagi empat (max. 29/24
jam) selama 14 hari merupakan pengobatan baku. Beberapa pakar lebih menyukai preparat
estolat tetapi etil suksinal dan stearat juga manjur.
2) Salbutamol.
Cara kerja salbutamol :
(1) Stimulan Beta 2 adrenalgik.
(2) Mengurangi proksimal.
(3) Mengurangi frekwensi apnea
Dosis yang dianjurkan 0,3 – 0,5 mg / kg BB / hari di bagi dalam 3 dosis.
3) Globulin imun pertusis
Hiperimun serum dosis intramuskuler besar, rejan sangat berkurang pada bayi yang diobati pada
minggu pertama, penggunaan preparat imunoglobulin jenis apapun tidak dibenarkan.
b. Terapi suportif (Perawatan Pendukung).
1) Lingkungan perawatan pasien yang tenang.
2) Pembersihan jalan nafas .
3) Istirahat yang cukup.
4) Oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat disertai sianosis.
5) Nutrisi yang cukup, hindari makanan yang sulit ditelan. Bila penderita muntah-muntah
sebaiknya diberikan cairan dan elektrolit secara parentral.


J. Pencegahan
Imunisasi alotif diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang
telah dimatikan untuk mendapatkan imunitea aktif.
Vaksin pertusis diberikan bersama-sama dengan vaksin difteri dan tetanus dosis pada
imunisasi dasar dianjurkan 12 IU dan diberikan pada umur 2 bulan. Beberapa penelitian
menyatakan bahwa vaksinasi pertusis sudah dapat diberikan pada umur 1 bulan dengan hasil
yang baik. Sedang waktu epidemi diberikan lebih awal lagi yaitu umur 2 – 4 minggu.

































BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1) Identitas ( Ngastiyah, 1997 ; 32 )
(1) Mengenai semua golongan umur, terbanyak mengenai anak umur 1-5th
(2) Lebih banyak anak laki –laki dari pada anak perempuan.
2) Keluhan Utama.
Batuk disertai muntah.
3) Riwayat Penyakit Sekarang.
Batuk makin lama makin bertambah berat dan diikuti dengan muntah terjadi siang dan malam.
Awalnya batuk dengan lendir jernih dan cair disertai panas ringan, lama–kelamaan batuk
bertambah hebat (bunyi nyaring) dan sering, maka tampak benjolan, lidah menjulur dan dapat
terjadi pendarahan sub conjungtiva.
4) Riwayat Penyakit Dahulu.
(1) Adanya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas.
(2) Batuk dan panas ringan, batuk mula-mula timbul pada malam hari, kemudian siang hari dan
menjadi hebat.
5) Riwayat Penyakit Keluarga.
Dalam keluarga atau lingkungan sekitarnya, biasanya didapatkan ada yang menderita penyakit
pertusis.
6) Riwayat Imunisasi
JENIS UMUR CARA JUMLAH
BCG 0 – 2 bulan 1C 1x
DPT 2, 3, 4 bulan 1M 3x
Polio 1-5 bulan Refisi 4x
Capak 9 bulan 5C 4x
Heportits 0, 1, 6 bulan 1M 3x
7) Riwayat Tumbuh Kembang
1. Personal Sosial
Ibu pasien mengatakan kalau dirumah anaknya lincah, tidak mau diam.
2. Motorik Halus
Anak terbiasa melakukan gerakan seperti memasukkan benda kedalam mulutnya, menangkap
objek atau benda – benda, memegang kaki dan memegang kaki dan mendorong kearah
mulutnya.
3. Motorik Kasar
Anak dapat tengkurap dan berbalik sendiri, dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.
4. Kognitif
Anak berusaha memperluas lapangan pandangan, tertawa dan menjerit karena gembira bila
diajak bermain, mulai berbicara tapi belum jelas bahasanya.

USIA FISIK Motorik Kasar Motorik Halus Sosial Emosional
15 bln Berjalan sendiri  Pegang cangkir
 Memasukkan jari
kelubang
 Membuka kotak
 Melempar benda
Bermain solitary
play
18 bln  Lari jatuh
 Menarik mainan
 Naik dengan
tangga bantuan
 Menggunakan sendok
 Membuka hal. Buku
 Menyususn balok

24 bln  BB 4x BB
lhr
 TB bauik
 Berlari sudah baik
 Naik tangga
sendiri
 Membuka pintu
 Membuka kunci
 Menggunting
 Menggunakan sendok
dengan baik


4. Riwayat Antenatal, Natal Dan Postnatal
a. Antenatal
Kesehatan ibu selama hamil, penyakit yang pernah diderita serta upaya yang dilakukan untuk
mengatasi penyakitnya, berapa kali perawatan antenatal , kemana serta kebiasaan minum jamua-
jamuan dan obat yang pernah diminum serat kebiasaan selama hamil.


b. Natal
Tanggal, jam, tempat pertolongan persalinan, siapa yang menolong, cara persalinan (spontan,
ekstraksi vakum, ekstraksi forcep, section secaria dan gamelli), presentasi kepala dan komplikasi
atau kelainan congenital. Keadaan saat lahir dan morbiditas pada hari pertama setelah lahir, masa
kehamilan (cukup, kurang, lebih ) bulan. Saat lahir anak menangis spontan atau tidak.
c. Postnatal
Lama dirawat dirumah sakit, masalah-masalah yang berhubungan dengan gagguan sistem,
masalah nutrisi, perubahan berat badan, warna kulit,pola eliminasi dan respon lainnya. Selama
neonatal perlu dikaji adanya ashyksia, trauma dan infeksi.

5. ADL.
a) Nutrisi : muntah, anoreksia.
b) Aktivitas : pada stadium akut paroksimal terjadi lemas / lelah
c) Istirahat tidur : terganggu, akibat serangan batuk panjang dan
berulang-ulang.
d) Personal hygiene : lidah menjulur keluar dan gelisah yang
berakibat keluar liur berlebihan.
e) Eliminasi : sering terberak-berak, terkencing-kencing bila sedang batuk
7. Pemeriksaan fisik.
(1) Keadaan umum : Saat batuk mata melotot, lidah menjulur, batuk dalam waktu yang lama dan berkeringat
Kesadaran :Composmetis,
TTV : nadi meningkat(120-125x/mnt),respirasi meningkat(30-35x/mnt)
(2) Head to toe
 Kepala : tidak ada bekas luka ataupun bengkak.
 Rambut : warna rambut hitam, lurus, distribusi merata, tidak terdapat ketombe.
 Wajah : simetris, bentuk bulat, tidak terdapat kelainan kulit
 Mata : sklera berwarna putih,mata tampak menonjol
 Hidung : lubang hidung simetris, hidung berair, terdapat pernafasan cuping hidung.
 Mulut : mukosa lembab, lidah menjulur
 Telinga : Daun telinga simetris, membran timpani putih mengkilat, tidak ada benda asing.
 Leher : Tidak terdapat pembesaran JVP, tidak ada tanda-tanda pembesaran kaku kuduk
dan pembesaran kelenjar tiroid.
 Dada
Inspeksi : Terdapat tarikan otot bantu pernafasan dengan cepat
Palpasi : Tidak ada krepitasi
Perkusi : paru sonor, jantung dallnes
Auskultasi : Wheezing inspirasi
 Abdomen
Inspeksi :Terdapat distensi abdomen
Auskultasi : Bising usus 9x/mnt
Palpasi : tidak terdapat pembesaran lien dan hepar, turgor kulit bisa menurun bisa normal.
Perkusi : perut tidak kembung
 Ekstremitas
 Atas : tidak ada odem, pada bagian kiri terpasang infus.
 Bawah : tidak ada odem, tidak ada bekas luka.
 Genetalia : bersih, tidak berbau tak sedap, tidak terdapat varises atau odem.
 Anus
Inspeksi : bersih, tidak terdapat hemoroid, tidak ada perdarahan.
Palpasi : tidak ada benjolan, massa, ataupun tumor.
8. Pemeriksaan penunjang
(1) Melakukan pemeriksan hapusan skret di nasofaring / lendir yang dimuntahkan.
(2) Pada hapusan darah tepi akan dijumpai (20.000 – 50.000 sel / mm
3
darah) dengan limfositosis
yang predominan ( 60 %).
(3) Pemeriksaan serologis (imunofluorecent antibody) yaitu untuk mengetahui ada tidaknya kuman.
B. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul.
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret
2) Pola napas tidak efektif b/d dispnea
3) Resiko kekurangan volume cairan b/d intake klien yang kurang
4) Ganggaun pemenuhan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan muntah
yang lebih dan anoreksi.

C. Rencana Keperawatan
1 Dx Kep I
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, status ventilasi saluran pernafasan
baik
Kriteria Hasil :
1. Keluarga mampu mengetahui ttg sakit yang dialami anaknya
2. Px mengungkapkan pernafasan menjadi mudah
3. Px mampu melakukan batuk efektif
4. Rata-rata pernafasan normal(16-24x/mnt)
Intervensi :
1. Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada .
Rasional : takipnea, pernapasan dangkal,dan gerakan dada tak simetriks sering terjadi karena
ketidak nyamanan gerakan dinding dada dan/ cairan paru
2. Auskultasi area paru.
Rasional : penurunan aliran udara terjadi pada area konsulidasi dengan cairan. Bunyi napas
bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsulodasi. Krekes,ronki,dan
mengi terdengar pada inspirasi dan/ ekspirasi pada respon terhadap pengumoulan cairan, secret .
3. Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/ bantu pasien melakukan batuk, misalnya menekan
dada dan batuk efektif.
Rasional : napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil.
Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk mempertahankan
jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk
memungkinkan upaya napas lebih dalam dan kuat.
4. Pengisapan sesuai indikasi
Rasional : merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak
mampu melakukan karena
5. Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air hangat daripada
dingin.
Rasional : cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.
6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Rasional : untuk menurunkan sekresi secret dijalan napas dan menurunkan resiko keparahan

2 Dx Kep II.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien menunjukkan pola napas
efektif
Kriteria hasil :
1. Keluarga mampu mengerti ttg sesak yg dialami anaknya
2. Px mengungkapkan sesak berkurang
3. Px mampu melakukan napas dalam
4. Pengembangan dada normal antara inspirasi dan ekspirasi


Intervensi :
1. kaji frekuensi,kedalaman pernafasan, ekspansi dada. Catat upaya pernafasan, termasuk
penggunaan otot bantu.
Rasional : kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi peningkatan kerja napas (pada
awal /hanya tanda EP subakut). Kedalaman pernafasan biasanya bervariasi tergantung derajat
gagal napas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan/ nyeri dada
pleuritik.
2. Auskultasi bunyi napas
Rasional : bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder terhadap
perdarahan,bekuan atau kolaps jalan napas kecil (atelaktasis). Ronki dan mengi menyertai
obstruksi jalan napas/kegagalan pernafasan
3. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan pasien turun tempat tidur dan
ambulasi sesegera mungkin
Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru memudahkan pernafasan. Pengubahan
posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki
difusi gas
4. Observasi pola batuk dan karakter secret
Rasional : kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritasi. Sputu berdarah dapat
diakibatkan oleh kerusakan jaringan (infark paru) atau antikoagulan berlebihan
5. Dorong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan batuk. Pengisapan peroral atau naso trakeal
bila diindikasikan.
Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah
ketidak nyamanan upaya bernafas.
6. Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan bila diindikasikan.
Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas
3 Dx Kep III
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, kekurangan volume cairan tidak
terjadi
Kriteria Hasil :
1. Keluarga mengerti ttg penyebab kekurangan cairan
2. Px mengungkapkan sudah tidak merasa dehidrasi
3. Px sudah Nampak tidak lemah
4. Turgor kulit membaik, membrane mukosa baik
Intervensi
1. Observasi turgor kulit, kelembaban membrane mukosa (bibir dan lidah)
R/ indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membrane mukosa mulut mungkin
kering karena napas mulut dan oksigen tambahan
2. Pantau masukan dan haluaran,catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan
R/ memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian
3. Catat cairan Intake dan Output
R/untuk mengetahui keseimbangan cairan
4. Berikan dan anjurkan untuk memberikan minum sesering mungkin
R/ Mengurangi tingkat dehidrasi
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi cairan
R/ Untuk mengatasi rehidrasi yang dialami pasien
4 Dx. Kep IV
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria Hasil :
5. Keluarga mengerti ttg pentingnya nutrisi
6. Px mengungkapkan nafsu makannya bertambah
7. Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan / diberikan,
8. BB meningkat, membrane mukosa lembab

Intervensi :
1. Kaji keluhan muntah dan anoreksia yang dialami klien.
Rasional :Mengetahui / menetapkan cara menentukan tindakan perawatan dan cara
mengatasinya.
2. Berikan makanan yang tidak terlalu asin dan makanan yang tidak digoreng.
Rasional: Makanan yang asin dan digoreng dapat meerangsang batuk.
3. Berikan makanan / minuman setiap habis batuk dan muntah.
Rasional :Pemberian makanan dan minuman setelah batuk dan muntah membantu memenuhi
kebutuhan nutrisi.
4. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh klien.
Rasional :Mengetahui sejkauh mana pemenuhan nutrisi klien.
5. Timbang BB klien tiap hari.
Rasional : Mengetahui status gizi klien.
6. Hindarkan pemberian makanan yang sulit ditelan
Rasional : Makanan cair atau lunak menghindari adanya aspirasi.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberiaan nutrisi parenteral.
Rasional :Nutrisi parenteral sangan dibutuhkan oleh klien terutama jika intake peroral sangat
minim.






















BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah sebagai
berikut :
1. Pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh berdetellah pertusis
(Nelson, 2000 : 960)
2. Pertusis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Bordotella
pertusis.
3. Manifestasi klinik dari pertusi dibagi menjadi 3 tahap yaitu stadium kataralis,stadium
spasmodic,stadium konvalesensi
4. Patofisiologi pertusis: Infeksi diperoleh oleh inhalasi yang mengandung bakteri
Bordetella pertusis. Perubahan inflamasi dipandang sebagai organisme proliferasi di
mukosa sepanjang saluran pernafasan, terutama di dalam bronkus dan bronkiolus,
mukosa yang padat dan disusupi dengan neutrofil, dan ada akumulasi lendir lengket dan
leukosit di lumina bronkial. gumpalan basil terlihat dalam silia epitel trakea dan bronkial,
di bawahnya yang ada nekrosis dari apithelium basiliar. Obstruksi parsial oleh plak lendir
di saluran pernapasan
5. Cara penularan pertusis, melalui: Droplet infection, Kontak tidak langsung dari alat-alat
yang terkontaminasi
6. Komplikasi dari pertusis dapat menyebabkan gangguan pada saluran nafas,system saraf
pusat , dan saluran pencernaan,
7. Diagnosa banding dari pertusis adalah infeksi oleh clamydia,Infeksi oleh adenovirus tipe
1, 2, 3, 5,trakhea bronchitis,bronkiolitis,dan infeksi bordetellah broncoseptica
8. Pemeriksaan penunjang dari pertusis adalah pembiakan lendir hidung dan mulut,
pembiakan apus tenggorokan dan pembiakan darah lengkap
9. Penatalaksanaan dari pertusis adalah terapi kausal: antimikroba,salbutamol,globulin imun
pertusis dan terapi suportif (Perawatan Pendukung).
10. Pencegahan dari pertusis adalah dengan Imunisasi alotif diberikan vaksin pertusis yang
terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah dimatikan untuk mendapatkan imunitea
aktif.
11. Asuhan keperawatan pada penderita pertusis secara garis besar adalah menjaga
kebersihan jalan napas agar terbebas dari bakteri pertusis.
B. Saran
Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan terhadap
penderita pertusis dan diftei. Karena seringkali pada penderita pertusis dan difteri disertai dengan
komplikasi. Keadaan ini akan menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karena itu,
penyakit batuk rejan dan difteri perlu dicegah. Cara yang paling mudah adalah dengan pemberian
imunisasi bersama vaksin lain yang biasa disebut DPT dan polio.
Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan penyuluhan
mengenai pentingnya imunisasi dan imunisasi akan berdaya guna jika dilakukan sesuai dengan
program. Selain itu perawat harus memberikan pengetahuan pada orang tua mengenai penyakit
pertusis secara jelas dan lengkap.Terutama mengenai tanda-tanda, penanganan dan
pencegahannya.













DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. Aziz Alimul.2006.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Jakarta :Salemba Medika
Ngastiah.2005.Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta:EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:Info Medika
Suriadi, dan Yuliani Rita. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 1. Jakarta : PT Fajar
Interpratama.
Nuzulul Zulkarnain Haq.2011. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP)
PERTUSIS.17/04/2012.Jam 20:00. http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35517-
Kep%20Respirasi-Askep%20Pertusis.html