You are on page 1of 12

1

OSSEOINTEGRASI IMPLAN GIGI

Pendahuluan
Implan merupakan benda asing yang dimasukkan ke dalam jaringan atau
tubuh yang sebelumnya kondisi jaringan tersebut tidak terganggu. Penempatan
implan memberikan dampak terhadap tubuh berupa kerusakan jaringan karena
prosedur pembedahan dan memasukkan benda asing yang membutuhkan adaptasi
atau penyesuaian dari tubuh
1
(Kasemo & Lausmaa, 1993).
Keberhasilan penggunaan implan gigi dalam memperbaiki fungsi dan estetik
pada kasus kehilangan gigi sebagian maupun seluruhnya sudah tidak diragukan lagi.
Dasar ilmiah keberhasilan ini adalah terjadinya osseointegrasi implan dengan tulang
dan keadaan klinis penderita yang meliputi kualitas dan kuantitas tulang yang
mencukupi.
2,3
(Pascoal, 2000 ; McGlumphy, Larsen P.E, 2003)
Osseointegrasi adalah suatu proses terjadinya penyatuan implan gigi dengan
tulang rahang. Proses osseointegrasi implan gigi memerlukan waktu antara 3 sampai
6 bulan. Setelah terjadi penyatuan implan gigi dengan tulang rahang, protesa buatan
dapat dipasang dan proses implan gigi selesai. Implan gigi umumnya terdiri dari
screw dan crown yang terbuat dari bahan titanium.
4

Osseointegrasi, istilah yang dibuat oleh Branemark et.al. (1969) dan
dipopulerkan oleh Albrektsson et al (1981) yang menyatakan “Osseointegrasi adalah
hubungan struktural dan fungsional langsung diantara tulang hidup dan permukaan
implant tanpa adanya intervensi dari jaringan lunak diantaranya”. Definisi klinis
menurut Zarb dan Albrektsson (1991) yang menyatakan osseointegrasi adalah proses
fiksasi rigid asimptomatik klinis dari material alloplastik yang dicapai dan dipelihara
di tulang selama fungsi pengunyahan.
5,6

2

Branemark dkk. (1983) membagi osseintegrasi ke dalam tiga tahapan : fiksasi
primer, pembentukan kalus, dan remodelling menuju tulang lamellar yang dewasa.
Nonintegrasi pada implan gigi terjadi ketika urutan kejadian ini terganggu
(Branemark 1985). Etiologi potensial untuk nonintegrasi implan gigi termasuk trauma
preparasi, infeksi, beban oklusal yang prematur dan kelebihan beban setelah oklusi.
6

(Drago, 2005)

Bahan implan
Kebanyakan sistem implan menggunakan logam sebagai bahan dasarnya,
bahan logam yang sering digunakan adalah titanium. Titanium dan logam paduannya
(Ti-Al-V) memiliki lapisan oksida pada permukaannya. Lapisan tersebut akan
berikatan dengan reseptor yang terdapat pada tulang dan pada area tersebut terjadi
proses peletakan matriks tulang secara in vivo. Mekanisme inilah yang menjadi salah
satu faktor penting dalam penggunaan titanium pada implan gigi.Bahan-bahan yang
dapat memenuhi sifat diatas telah dipergunakan untuk implan gigi dapat berupa
titanium yang dipadukan dengan tantalum, campuran antara titanium, vanadium dan
aluminium alloy. Campuran antara Ferum, Chromium dan nikel. Serta campuran
antara cobalt, chromium dan molybdenum. Dari segi material titanium menempati
urutan pertama. Sukses titanium di bidang ortopedik sudah tidak dapat diragukan
lagi, sehingga rasional apabila titanium juga bersifat biologically inert pada maksila
dan mandibular
7
(Babbush, 1991).
Bahan baku untuk pembuatan implan gigi secara umum disebut biomaterial
adalah suatu bahan bukan obat yang dipakai atau dimasukkan ke dalam tubuh yang
bertujuan untuk menambah atau mengganti fungsi jaringan tubuh atau organ. Karena
dimasukkan ke dalam salah satu organ tubuh manusia maka biomaterial ini harus
memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
2

3

1. Bahan / Material yang biokompatibel
2. Adaptasi presisi implan pada tulang
3. Pembedahan yang minimal (atraumatic) untuk meminimalisir kerusakan jaringan
4. Fase penyembuhan tidak terganggu.
Sifat-sifat Titanium sebagai bahan implan
Titanium digunakan dalam perawatan fraktur pada orthopedi sejak kurang
lebih 20 tahun, sebagai bahan yang bersifat bioaktif, titanium sebanding dengan
bahan keramik aluminium oksida. Titanium digunakan unruk implan gigi dengan
beberapa pertimbangan yaitu:
8
(Steinemann, 1996) :
1. Titanium adalah logam yang reaktif, dalam hal ini udara, air dan beberapa
elektrolit yang berperan dalam oksidasi secara spontan terbentuk pada
permukaan logam. Oksida dikenal sebagai mineral yang sangat resisten yang
melindungi logam dari reaksi kimia termasuk terhadap cairan tubuh yang
agresif.
2. Titanium dapat diterima oleh tubuh, lapisan oksida yang berkontak dengan
jaringan sebagian tidak larut. Tidak ada pelepasan ion sebab langsung
bereaksi dengan molekul organik.
3. Titanium memiliki sifat mekanik yang baik. Tensile Strength nya sangat
tertutup dibanding stainless steel. Titanium kadang lebih kuat dibanding
kortikal tulang atau dentin.
4. Titanium tidak bersifat pasif terhadap jaringan lunak dan tulang. Tulang akan
tumbuh dipermukaan yang kasar dari logam yang disebut bahan yang bioaktif.
Ini merupakan penjangkaran ankilotik yang biasa disebut osseointegrasi


4

Proses osseointegrasi implan
Tahap awal setelah pemasangan implan gigi ke dalam tulang rahang,
kerusakan yang terjadi akan diisi oleh jalinan fibrin yang berasal dari pembuluh darah
yang rusak. Bekuan darah merupakan sumber growth factors dan sitokin yang
diperlukan untuk migrasi sel-sel. Setelah 6 sampai 10 jam, sel-sel granulasi akan
muncul di sekitar luka. Setelah 3 sampai 4 hari, eritrosit melakukan perfusi ke sekitar
defek dan membangun sirkulasi darah (Gambar 1).
5


Gambar 1. Bekuan darah di sekitar implan gigi
5

Kemudian sel-sel granulasi akan berhenti bergerak didalam luka dan
membentuk jalinan sel yang masih terus diperfusi oleh eritrosit dari pembuluh darah.
Setelah 5 sampai 6 hari, akan terbentuk jalinan kapiler baru yang tipis. Dalam 3
sampai 4 minggu kemudian, pembuluh darah baru akan berkurang dalam jumlah dan
diameter, membentuk jalinan kapiler untuk jaringan ikat (Gambar 2).
5


Gambar 2. Pembentukan pembuluh darah baru dan jaringan ikat.
5

5

Melalui jalinan kapiler, fibroblas yang berasal dari periosteum, endosteum
dan sumsum tulang akan membentuk jalinan kolagen. Dalam jalinan ini, kondrosit
akan mengubah sel-sel osteogenik untuk menghasilkan kalus fibrokartilago. Proses
ini berlangsung selama 3 minggu. Sel-sel osteogenik akan berkembang menjadi
osteoblas yang mulai memproduksi trabekula tulang sebagai kalus tulang dalam
kurun waktu 3 sampai 4 bulan. Setelah 4 bulan, tulang spongious berangsur-angsur
digantikan oleh tulang kompak (Gambar 3.A).
6


Gambar 3. Proses osseointegrasi berdasarkan tahapan waktu
6

Tulang yang terbentuk dapat berupa tulang lamelar, woven bone, tulang
komposit dan bundel tulang. Tulang komposit adalah kombinasi tulang lamelar dan
woven bone, terbentuk pada permukaan endosteal dan periosteal tulang kortikal.
Tulang lamelar adalah tulang yang telah terorganisasi dengan baik, mineralisasi
tinggi dan kuat. Woven bone, disebut juga tulang imatur, kurang terorganisasi,
mineralisasi rendah dan kekuatannya lemah. Stabilitas implan gigi dicapai dengan
melekatnya elemen-elemen normal tulang sehingga daya dapat diabsorbsi dan
didistribusikan ke jaringan sekeliling implan.
6

Secara histologis osseointegrasi ditandai dengan adanya regenerasi tulang
sepanjang permukaan logam. Struktur pada daerah yang menjadi tempat kontak dapat
6

dipelajari secara mendetail dengan menggunakan mikroanalisis sinar-X. Interaksi
antara jaringan atau tulang dengan biomaterial selalu merupakan proses fisika-
kimiawi dan ultra structural.
8,9

Respon tulang kortikal terhadap keberadaan implan meliputi 5 tahapan
fisiologis:
6

1. Pembentukan kalus, ditandai dengan respon sitokin terhadap stabilitas fixture
(15 hari)
2. Pematangan kalus, lamellar tulang menjadi lebih kompak, remodeling dan
pengurangan kalus (25 hari sampai 1,5 bulan)
3. Fenomena penyesuaian regional (RAP), terjadi proses remodeling antara
permukaan yang non vital dengan tulang pendukung (1,5 bulan sampai 12
bulan)
4. Pematangan proses osseointegrasi : Proses penyesuaian berlangsung secara
lengkap, mineralisasi sekunder dari tulang yang baru terbentuk dan
peningkatan hubungan langsung dengan tulang melalui permukaan bahan (4 –
12 bulan)
5. Mempertahankan osseointegrasi dalam waktu yang lama. Berkelanjutan,
remodeling yang sifatnya lokal jika terjadi sesuatu kerusakan yang
membutuhkan perbaikan pada dua permukaan dan tulang pendukung (lebih
dari 12 bulan)
Menurut Branemark, waktu penyembuhan implan gigi berkisar antara 4
sampai 6 bulan untuk rahang atas dan 3 sampai 4 bulan untuk rahang bawah.
Mekanisme osseointegrasi sangat mirip dengan mekanisme penyembuhan fraktur
tulang. Penyembuhan di sekitar implan dimulai saat gap antara implan dengan tulang
terisi bekuan darah sesaat setelah pemasangan implan gigi yang kemudian bekuan
darah akan digantikan dengan tulang trabekular yang akan berubah menjadi tulang
lamelar. Pada akhir proses penyembuhan, tulang yang matur akan berkontak secara
7

langsung terhadap permukaan implan dimana akan dicapai stabilitas implan yang
baik.
5

Waktu yang diperlukan untuk terjadinya integrasi antara implan dan tulang
berbeda-beda antara setiap regio tulang rahang. Lamanya waktu integrasi yang
diperlukan implan di maksila lebih lambat dibandingkan di mandibula, hal ini
disebabkan karena kualitas tulang maksila terutama di daerah posterior lebih rendah
dibandingkan tulang mandibula. Tulang kanselous lebih lebar dan kepadatan kortikal
lebih rendah mempengaruhi rencana perawatan, karena waktu yang diperlukan untuk
integrasi akan lebih lama. Umumnya waktu yang diperlukan untuk integrasi implan
yang adekuat di maksila adala 6 bulan (Tabel 1)
2

Regio implan ditempatkan Lama masa integrasi minimum
Anterior Mandibula
Posterior Mandibula
Anterior Maksila
Posterior Maksila
Bone graft
3 bulan
4 bulan
6 bulan
6 bulan
6 – 9 bulan
Tabel 1. Lama masa integrasi minimum.
2

Faktor-faktor yang mempengaruhi osseointegrasi
Osseointegrasi bergantung pada empat faktor utama yaitu bahan implan gigi
yang biokompatibel, presisi antara implan dengan lokasi penempatannya dalam
tulang, teknik bedah dengan kerusakan jaringan yang minimal dan kondisi loading
post operatif. Tahapan proses-proses penempatan implan gigi:
2

A. Bahan yang digunakan untuk implan gigi harus tidak menimbulkan reaksi imun.
Patogen dan alergen menginduksi tubuh untuk membentuk jaringan granulasi
8

disekitar benda asing. Bahan titanium dan keramik kalsium fosfat adalah bahan
yang biokompatibel dan tidak menimbulkan reaksi penolakan tubuh.
B. Adanya gap yang besar diantara implan dengan tulang dapat menyebabkan
kegagalan implan. Instrumentasi yang presisi akan menghasilkan pemasangan
implan dengan angka keberhasilan tinggi.
C. Teknik pembedahan dilakukan dengan meminimalkan panas dan trauma
mekanis. Suhu lebih dari 47ºC dapat merusak osteosit. Pemboran secara
intermiten, irigasi salin yang adekuat dan bor yang tajam akan meminimalkan
panas yang terjadi.
D. Fase penyembuhan selama 3 sampai 6 bulan sebelum pemberian beban pada
implan adalah waktu yang optimal. Pemberian beban yang langsung setelah
pemasangan implan harus didasarkan pada kondisi tulang yang baik.

Kriteria keberhasilan implan gigi
Keberhasilan suatu proses osseointegrasi ditandai dengan tidak adanya
pergerakan implan gigi. Pergerakan yang terjadi berarti yang tebentuk adalah jaringan
konektif fibrous dan sebaiknya implan diangkat kembali. Indikator keberhasilan yang
lain yaitu dapat difungsikan untuk pengunyahan seperti gigi asli pada umumnya. Ada
2 mekanisme yang menyebabkan kerusakan proses osseointegrasi yaitu penyakit pada
jaringan disekitar implan dan kelebihan beban biomekanik pada suatu implan. Kedua
faktor ini memberikan peluang kegagalan osseointegrasi (Lindhe J. 2008).
Gambar 5.A. menggambarkan skrup solid “non-cutting” Straumann dengan
jaringan sekitarnya pada sampel biopsi 24 jam setelah implan terpasang. Implan
mempunyai fiksasi inisial dengan stabilitas yang baik dan didapat dari area kontak
yang luas antara skrup metal dan dinding tulang bukal serta lingual dalam
kompartemen kortikal pada sisi resipien. Saat preparasi dan penempatan implan,
trabekula tulang pada kompartemen spongiosa berpindah secara jelas ke dalam tulang
9

sumsum. Pembuluh darah pada kompartemen sumsum terputus sehingga terjadi
perdarahan dan terbentuk koagulasi (gambar 5.B.)
A. B.
Gambar 4. (A). Area dasar dari implan “non-cutting” Dan jaringan sekitarnya dari
hasil biopsi 24 jam Setelah implan dipasang (B). Detail regio apikal
dari implan yang dijelaskan pada gambar Perhatikan terdapatnya
koagulasi pada tulang sumsum.
5

Setelah penyembuhan selama 16 minggu (gambar 5) implan dikelilingi oleh
densitas tulang lamelar yang berkontak secara langsung dengan permukaan kasar dari
metal. Pada bagian apikal implan, lapisan tipis dari tulang dewasa dapat terlihat
berkontak dengan permukaan implan dan juga untuk memisahkan sekrup titanium
dari tulang sumsum.
5

A B

Gambar 5. (A) Bagian dasar mengilustrasikan implan dan tulang sekitar setelah
penyembuhan 16 minggu. Pada bagian kortikal dari sisi resipien,
densitas tulang tinggi. (B) gambaran detail dari (A). Pada bagian lebih
10

ke apikal, terdapat lapisan tipis dari tulang pada permukaan implan.
Perhatikan pula terdapatnya trabekula dari tulang lamella yang meluas
dari implan ke tulang sumsum.
5

Kriteria yang sering sebagai referensi keberhasilan implan gigi harus
mencakup hal hal sebagai berikut.
10

1. Secara klinis tidak terdapat tanda dan gejala inflamasi, ketidaknyamanan dan
perubahan sensasi
2. Kehilangan tulang kortikal yang minimal pada hubungan implan dan tulang
3. Tidak terdapat mobilitas dari implan dan tidak terdapat kerusakan pada
struktur-struktur implan
4. Tahan lama dan mampu menahan daya yang diterima
5. Implan tidak menghalangi penempatan protesa yang sudah direncanakan
secara fungsional dan estetik

Kesimpulan
Implan gigi merupakan suatu benda asing yang dimasukkan ke dalam tubuh
dan membutuhkan suatu adaptasi atau penyesuaian antara bahan dan jaringan tubuh
yang merupakan pilihan untuk mengganti kehilangan gigi. Ossointegrasi merupakan
proses yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pemasangan dental
implant. Diperlukan perencanaan serta teknik pemasangan yang baik agar
keberhasilan osseointegrasi implan dapat tercapai.




11



Daftar Pustaka
1. Kasemo, B ; Lausmaa, J. 1993. Biomaterials and interfaces in
osseointegration in oral rehabilitation. Quintessence Publishing. London.
p.63-86.
2. McGlumphy, EA., Larsen, PE. 2003. Contemporary Implant Dentistry in
Peterson, LJ. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 4
th
ed. St. Louis:
Mosby. p. 305-342.
3. Pascoal, AJ. 2000. Bone grafting and maxillary sinus augmentation. The
online Journal of dentistry and oral medicine.
www.epub.org.br/ojdom/vol()3n03/casol17/ .graft.htm.
4. Wu, PBC. 2008. What you need to know about implants. Dental Bulletin. Vol.
13 No 11.
5. Lindhe, J. 2008. Clinical Periodontology and Implant Dentistry. 5th ed.
Blackwell Publishing. p. 99-107.
6. Hupp, James R. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery, 6e. Elsevier
India, 2014.
7. Babbush, CA. 1991. Dental imlant principle and practice. 1
st
ed. WB
Saunders Company. United States of America
8. Steinemann, S. 1996. The Properties of Titanium in oral Implantology.
Schroeder, A; Sutter, F; Buser, D; Krekeler, G. (Editor). Georg Thieme
Verlag Stuttgart. New York. p.37-58.
9. Brunski, JB; Skalak, R. 1993. Biomechanics of Osseointegration and dental
prostheses in Oral Rehabilitation. Naert I, Steenberge D, Worthington P.
Editor Quintessence Publishing. London. p.133-156.
12

10. Worthington, P. 1994. Prosthodontic Aspect of Osseointegration.
Quintessence Publishing Company. Ltd. London.