You are on page 1of 1464

Kitab Mudjidjad

(Lanjutan Bocah Sakti)
Karya : Wang Yu
Sumber DJ VU : Dimhader
Editor : aaa & Dewi KZ, Sumahan, Mch, Lavender,
angon
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/


J ilid 1
Bagian-01.

Pagi-pagi. . . .
Matahari pagi mulai muncul dari balik gunung,
gemilang cahayanya mempesonakan kepada siapa yang
menyaksikannya.
Kabut pagi dengan sebentar saja telah tersapu oleh
panasnya sengatan surya, dan suasana alam menjadi
terang benderang.
Pada saat itulah tampak diatas lembah Tong-hong-gay
melayang seekor burung rajawali raksasa dengan diatas
punggungnya membawa muatan dua insan muda mudi
yang tertawa dengan amat gembira sekali.
Mereka adalah Kwee In dan Eng Lian, pasangan yang
paling akrab dalam cerita Bocah Sakti.
Ternyata mereka telah kembali ke lembah Tong Hong-
gay, tempat dari mana asalnya mereka keluar untuk
mencari pengalaman dalam dunia Kang-ouw.
Eng Lian yang duduk didepan saban2 menoleh
kebelakang mengajak Kwee In bicara sambil ter-senyum2
kegirangan.
"Adik In, akhirnya kita kembali kelembah Tong Hong-
gay dan menunggang lagi Tiauw-heng, sungguh
membuat hatiku senang sekali...." demikian kata Eng
Lian-
"Tiada yang lebih menyenangkan dari keadaan kita
seperti ini." sahut Kwee In dengan ketawanya cengirnya
yang khas.
"Memang kau anak nakal selalu maunya berdekatan
saja dengan encimu." kata Eng Lian lagi tersenyum
manis seraya mencubit pelahan pipinya Kwee In.
"Aku paling takut kalau berjauhan dengan enciku yang
manis." sahut Kwee In nakaL
"Apa iya?" tanya si dara manya.
"Bila berjauhan dengan enci Lian, seperti juga aku
kehlangan pegangan- . ."
"Adik In, ini kau bicara dari hatimu yang tulus?"
"Sejak kapan aku membohongi enciku?"
Eng Lian menatap wajah cakap dari Kwee In, hatinya
amat senang dan bangga sekali. Kata2 demikianlah yang
diharap dari mulutnya Kwee In siang dan malam.
Per-lahan2 ia menyandarkan badannya pada dadanya
Kwee In dan tidak segan2 Kwee In telah memeluk si dara
nakal. Hatinya Eng Lian bergejolak kegirangan-
"Adik In, kau peluklah encimu lebih erat. . . ." kata si
dara cilik. Kwee in menurut.
Hangat rasanya Eng Lian rasakan dalam pelukan
orang yang dipujanya. Dengan suara agak gemetar ia
berkata
"Adik In, inilah saat yang selalu encimu impikan,
apakah kau tak memikirkannya. . .?"
"Enci Lian, rasanya ak akan terus2an tolol. Hahahaha.
. ."
Eng Lian angkat kepalanya dan mengawasi sang adik
yang dicintainya. Mulutnya bergerak2 seperti hendak
bicara tapi tidak keluar. Hanya bibirnya tampak agak
gemetar, sepasang matanya yang jeli bermain seperti
memohon.
"Aku tahu. . . ." kata Kwee In perlahan, kepalanya
disenderkan dan ketika itu juga dua pasang bibir merapat
mesra dalam arti kasih sayang bukan karena napsu iblis.
. . . dalam pada itu burung rajawali me-layang2 terus
membawa muatannya yang ber-kasih2an.
"Adik In." kata Eng Lian setelah ia bernapas dari
ciuman hangat barusan.
"Kenapa namamu tak diganti menjadi SIN, bukankah
sudah terang kau bernama Sin?"
"Aku lebih senang pakai nama In, yang sudah nempel
dibibir enci2 sekalian." sahut Kwee In, "Ayah dan ibu
sudah perkenankan, hanya she-nya mereka tak mengerti
kalau aku tak menggantinya, maka aku jadi mengalah.
Hahahaha. . . ."
"Anak nakal, berani-berani merubah nama yang sudah
diberikan oleh orang tua." kata Eng Lian tersenyum
seraya menowel pipi Kwee In.
Kwee In ketawa, "Enci Lian, kau pakai anting2 itu
kelihatannya tambah menonjol kecantikan enci, sungguh
membuat Hek bin Sin-tong terpesona." Kwee In
berkelekar.
"Apa iya, adikku?" tanya Eng Lian, matanya
mengerling memikat.
"Enci Lian, kau. . . ." Kwee In berkata sambil
merangkul Eng Lian dan kembali dara cilik kita
merasakan hangatnya ciuman Kwee In.
"Adikku. . ." kata Eng Lian perlahan, "Kenapakah kau
jadi nakal begini. . .?"
"Enciku, ini bukannya nakal, sudah kemauannya
alam." bisik Kwee In.
Eng Lian mencubit, tapi tak bertenaga karena
merasakan pelukan Kwee In makin erat dengan penuh
kasih sayang.
"Eh" tiba2 Eng Lian berontak dari pelukan Kwee In.
"Kau kenapa, enci Lian?" tanya Kwee In kaget.
"Kau peluki encimu terus2an begini, apa enci Hiang
nanti tidak cemburu?" Eng Lian menanya dengan wajah
ter-senyum2.
Kwee In terkejut mendengar si nona timbulkan soal
Bwee Hiang.
Meskipun demikian ia tidak kentarakan diwayahnya. Ia
tersenyum dan berkata
"Enci Hiang ada pada ibunya dimarkas Ngo-tok-kauw
mana ia lihat kita berdua Sekarang? Taruh ia tahu juga,
paling2 ia mentertawakan perbuatan kita2, Enci Hiang
adalah gadis yang paling aku hormati, ia Sangat baik dan
pribadinya halus tidak bakal ia menaruh cemburu kepada
kita."
Eng Lian tergetar hatinya mendengar perkataan Kwee
In.
Ia memang akui Bwee Hiang adalah satu gadis yang
sangat baik hatinya. Sampai sebegitu jauh Eng Lian kenal
Bwee Hiang gadis itu ada terlalu baik terhadapnya.
Pantasan kalau adik Innya memuji kebaikannya Bwee
Hiang, belum pernah ia nampak wayahnya Bwee Hiang
berubah tidak senang, apabila kebetulan menampak ia
sedang bersenda gurau dengan adik Innya, itulah
menandakan bahwa Bwee Hiang berhati lapang dan
perangainya sangat halus, rupanya ia puas kalau Bwee
Hiang dan Eng Lian masing2 menyayangi Kwee In, si
bocah wajah hitam yang masih belum diketahui siapa
orang tuanya.
"Adik In." kata Eng Lian, "Memang enci Hiang adalah
seorang yang baik dan polos hatinya, aku senang
padanya. . . Aku girang kalau kau ambil juga enci Hiang,
bersama dia aku akan melayani kau seumur hidup, . . ."
Eng Lian tundukkan kepala setelah berkata demikian-
"Enci Lian kau adalah gadis berhati mulia. Sungguh
aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu, semoga
cita2 kita hidup bertiga dengan enci Hiang dikabulkan
oleh Tuhan dan menjadi kenyataan. Kita sudah biasa
bersenda gurau, oh, bagaimana girangnya kita bila cita2
itu menjadi kenyataan-"
Eng Lian unjuk paras senang mendengar perkataan
Kwee In.
Sementara itu sang rajawali telah mendarat tidak jauh
dari taman bunga dahulu Eng Lian diculik oleh Ang Hoa
Lojin.
Eng Lian senang sekali mengunjungi taman bunga
yang beraneka macamnya. . . Sambil bergandengan
tangan sepasang muda mudi itu memasuki taman-
Eng Lian seperti lagaknya anak kecil, lihat sana dan
lari sini menguber kupu-kupu yang beterbangan habis
menghisap madu bunga. Beberapa kembang yang indah
telah dipetiknya seraya saban2 memanggil Kwee In
untuk datang dekat padanya.
"Eng Lian, disinilah dahulu kau diculik si Nenek
Kembang Merah, bukan?" tanya Kwee In sambil ketawa
ter-bahak2.
"Adik In, kau ketawakan aku?" sahut sidara cilik
seraya deliki matanya, "coba sekarang ia berani menculik
aku, kalau aku tidak hajar setengah mampus, jangan
panggil aku si Lian lagi"
"Aiiih, galak benar." goda Kwee In,
"Eng Lian dahulu dan Eng Lian sekarang lain-" berkata
pula si dara dengan gaya jenaka.
"Bagaimana kalau Hek-bin Sin-tong yang menculik?"
tanya Kwee In. Sambil memetik kembang matanya Eng
Lian melirik tajam.
"Anak nakal, kau godai encimu?" tegurnya. "Hek bin
Sin-tong sudah tidak ada sekarang, yang ada Giok-bin
Long-kun, Hihihi. . . ."
Kwee In melengak mendengar perkataan Eng Lian-
Giok-bin Long-kun artinya "Perjaka muka kumala"
(wayahnya sangat cakap) "Siapa itu Giok bin Long-kun?"
tanya Kwee In keheranan.
"Siapa lagi kalau bukan si orang she Kwee nama In
yang nakal." sahut si nona jelita ketawa.
Kwee In melengak. tapi diam2 ia merasa senang
mendapat nama barunya yang demikia gagah dan
indahnya. Ia tidak mengira enci Liannya menjuluki ia
seorang yang berwajah sangat cakap. bukan lagi si
bocah berwajah hitam legam seperti pantat kuali.
"Enci Lian, kau bisa saja menjuluki orang." kata Kwee
In ketawa cengir.
"Apa kurang tepat encimu kasih julukan demikian?
Coba nanti tanya enci Hiang pasti ia akan dengar
perkataan encimu." sahut Eng Lian seraya ketawa
cekikikan-
Kwee In juga ketawa. Ia melihat Eng Lian kepanasan
oleh sinarnya matahari pagi, tampak wayahnya makin
cantik. Kedua pipinya yang putih halus memerah kena
sorotnya sang batara surya.
"Enci Lian, pipimu yang halus putih memerah indah
kena sorotnya matahari."
"Apa sangkut pautnya pipiku memerah karena
matahari?"
"Membuat aku ingin sekali. . . .ah, sudahlah. . . ."
Eng Lian heran, "Angot lagi adatmu. adik In- Kau
sebenarnya ingin apa?"
"Aku ingin memegangnya. ..." sahutnya, seraya
tertawa. Eng Lian monyongkan mulutnya dengan gaya
jenaka sekali.
Kwee In datang menghampiri.
"Kau mau apa datang dekat-dekat" tegur sang gadis.
"Aku mau memegangnya." sahut Kwee In, seraya
mengulur tangannya.
"Nah Ini pegang" kata Eng Lian seraya sodorkan
setangkai bunga yang berduri. hingga Kwee In terpegang
durinya tangkai bunga.
Ia kesakitan, membuat Eng Lian cekikikan lari
menjauhi si bocah nakal. Tapi Kwee In sangat sebat,
baru saja Eng Lian sampai dibawah pohon untuk
mengumpet sambil masih ketawa cekikikan tiba2 ia
rasakan dua lengan yang kuat telah merangkul dirinya
hingga si dara kaget.
"Adik In, kau nakal betul. ..." katanya, sementara itu
pipinya yang ke-merah2an tadi sudah kena dikecup
beberapa kali oleh si bocah nakal.
"Enci Lian- ..." bisiknya, "Kau senang kalau melihat
adikmu penasaran?"
Eng Lian melengak heran-
"Penasaran apa, kau penasaran apa, adik in?"
tanyanya kepingin tahu.
"Penasaran kalau enci tidak menyerahan sesuatu yang
diinginkan oleh adikmu."
Terbelalak matanya Eng Lian- Hatinya berdebaran
ketika kembali pipinya dikecup oleh Kwee In.
dalam hatinya berpikiri "Apa artinya kata sesuatu yang
diingini oleh adik In? Kalau ia menginginkan sesuatu
mengenai pipi dan bibir, aku boleh menyerah tapi kalau
ia menginginkan sesuatu yang bukan2, apakah aku harus
menyerah? oh. . . adik in rupanya sudah mulai nantang. .
. ."
Pipinya Eng Lian seketika itu dirasakan panas, tiba2
setelah memikir demikian-
"Enci Lian, apakah kau sakit?" tanya Kwee in, ketika
merasakan pipinya Eng Lian mendadak dirasakan sangat
panas.
"oh, tidak...tidak. . ." sahut si gadis, diam2 ia merasa
jengah sendirinya. Kwee In sementara itu sudah
melepaskan pelUkannya.
"Hahahaha. . ." terdengar suara ketawa tiba2 dari
balik pohon, sementara orangnya pun muncul.
Kwee In tidak kaget mendengar suara ketawa orang.
ia hanya mengawasi kepada orang yang barusan muncul
dari balik pohon yang disusul oleh empat orang
kawannya.
oang yang pertama muncul beralis tebal, berewokan
lebat, Usianya sekitar lima puluhan, sementara
kawan2nya usianya juga tidak berjauhan, semuanya
tinggi besar dan bengis romannya menakutkan bagi
orang yang hatinya kecil. Eng Lian ketawa ngikik melihat
lima orang didepannya.
"Siang hari belong main cinta ditempat terbuka,
sungguh bagus" berkata si berewokan seraya ngakak
ketawa.
"Kami main cinta, main gila ditempat terbuka, apa
sangkut pautnya dengan kau" bentak Eng Lian marah,
"Memangnya kebagusan mukamu muncul didepan
nonamu?"
"Nona kecil, kau jangan galak2." sahut si berewokan
kalem, "Aku tidak akan mengerecoki perasaanmu, asal
kau suka memberitahukan dimana adanya Hek bin Sin-
tong"
Eng Lian menatap wajah Kwee In mendengar
perkataan orang itu.
"Kau ada urusan apa dengan Hek bin Sin-tong?" tanya
Kwee In.
"Kau jangan menanyakan kami ada urusan apa, lekas
kasih tahu saja dimana adanya si Bocah Muka Hitam itu,
kami semua akan menjadi tamunya" jawab si berewok.
"Karena kau tidak mau kasih tahu maksud mencari
Hek bin Sin-tong, menyesal aku juga tidak mau memberi
tahu dimana adanya si bocah itu," sahut Kwee In.
Terbelalak matanya si berewokan- ia menatap tajam
pada Kwee In-
"Kau siapa, anak muda?" akhirnya ia menanya.
"Aku adalah kacungnya Hek-bin Sin-tong." sahut Kwee
In.
"Bag us, kalau kau kacungnya, tentu kau dapat
membawa kami kesana." .
"Siapa yang sudi mengajak orang yang tidak dikenaL"
"Kami adalah Houw-san Ngo-kiam, masih kau tidak
kenal namanya yang sudah termashur dalam Rimba
Persilatan?" berkata si berewokan- Houw-san Ngo-kiam
artinya Lima pedang dari gunung Harimau. Mereka terdiri
dari lima saudara she The, bernama Go, Seng, Kiang,
Siong dan Beng. Si berewokan tadi, adalah saudara
paling tua yang bernama Go.
Mereka berlima dalam kalangan Kang-ouw sudah
mengangkat nama juga, orang sohorkan ilmu pedangnya
yang hebat. Masing2 mempunyai kepandaian yang khas
dalam ilmu pedang, lebih kuat dan hebat lagi kalau
mereka berlima menggunakan barisan Ngo-kiam-tin
(barisan lima pedang), hebat sekali. Belum pernah
musuhnya yang lebih kuat dapat meloloskan diri dari
Ngo-kiam-tin, tanpa mendapat luka2 parah dibadannya.
Oleh karena keunggulan itu, mereka jadi kepala besar
dan perbuatannya agak nyeleweng, hingga
menjengkelkan kepada para kesatria yang membela
kebenaran- Cuma saja mereka tidak mau mencampuri
urusan dengan lima saudara she The itu, karena takut
dengan Ngo-kiam-tinnya yang sangat liehay.
Kalau satu persatu barang kali mereka mudah dilayani.
justeru kalau keluar mereka selalu bergerombolan lima
orang, tidak pernah mereka keluar berpisahan.
Mereka juga sebagai orang-orang yang berkecimpung
dalam rimba persilatan ada dengar perihal adanya It-sin-
keng dalam guha ular raksasa. Mereka sudah pernah
pergi kesana dan mundur teratur melihat banyak korban
yang bergelimpangan terkena hawa racun ular.
Belakangan mereka dengar bahwa It-sin-keng (Kitab
mukjijad) sudah digondol oleh seorang bocah yang
bergelar Hek bin Sin-tong (Bocah berwajah hitam).
Mereka telah berkelana sambil mendengar- dengar
dimana adanya bocah itu.
Dengan cara kebetulan mereka dapat tahu bahwa
asalnya Hek bin Sin-tong adalah dari lembah Tong-
hong- gay, maka juga mereka perlu datang kelembah
tersebut dengan pengharapan mereka bisa memperoleh
kitab mukjijad itu dari tangannya Hek bin Sin-tong.
Mereka percaya si bocah sangat lihay, akan tetapi
lebih percaya lagi kalau barisannya Ngo kiam-tin ada
lebih lihay dan dapat merobohkan si bocah. oleh sebab
itu dengan berbesar hati mereka telah mencari Hek-bin
Sin-tong.
"Aku tidak kenal dengan kalian lima pedang atau
sepuluh pedang, yang penting untukku, kalian mencari
Hek-bin Sin-tong ada urusan apa?" berkata Kwee In.
"Bocah. kau mau antar kami kesana atau tidak?"
mencelak The Seng tak sabaran.
"Mungkin aku akan mau antar kalian menemukan Hek-
bin Sin-tong mana kala kalian mau menjelaskan
keperluannya," sahut Kwee In tenang2 saja.
"Siapa yang mau berurusan dengan bangsa kacung,"
berkata The Siong, si nomor empat. "Hei, kau nona kecil,
kau antar kita kesana"
The Beng, si nomor lima, nyeletuk
Eng Lian ketawa manis. "Aku mana punya wewenang
untuk mengantarkan kalian kesana, kecuali aku punya
engko ini" sahut si dara nakal seraya menunjuk pada
Kwee In. The Go saudara paling tua dari Houw-san Ngo-
kiam, kerutkan alisnya.
Pikirnya, kalau tidak diberitahukan maksudnya mencari
Hek-bin Sin-tong, pasti anak muda didepannya ini tak
akan mau membawa mereka menemukan Hek-bin Sin-
tong.
"Bocah, kau masih anak- anak tahu apa," ia berkata
kemudian, "Lekas antarkan kami menemukan
majikanmu, habis perkara" Kwee In tak menyahut, hanya
ia ketawa sinis.
"Kau kira kami takut dengan majikanmu, sehingga
kami tak dapat memaksa kau menunjukkan tempat si
Bocah Muka Hitam? Hm Samte, kau kasih ajar adat
padanya" The Go meneriaki The Kiang untuk menghajar
Kwee In. "Biar aku saja yang maju," kata The Beng,
seraya lompat kedepan.
"Hihihi . . tiba-tiba Eng Lian tertawa ngikik,
"Kau ketawakan apa, anak kecil?" bentak The Beng
kepada gadis kita,
"Aku ketawakan kau, bocah tolol" sahut Eng Lian
berani.
The Beng melengak dikatakan 'bocah tolol'. Ia saat itu
usianya sudah hampir empat puluh-lima dikatakan
'Bocah' oleh Eng Lian, terang amarahnya meluap tiba-
tiba. "Budak liar, dua-duanya aku bekuk sekarang"
bentaknya,
"Kau mau membekuk kami berdua?" jengek Eng Lian-
Melawan aku sendirian kau masih belum tentu menang,
mau buka mulut besar lagi. Mari nonamu kasih ajar adat
padamu"
Eng Lian berkata sambil pasang kuda2, lucu lagaknya,
hingga The Go dan saudara2nya yang lain ketawa
terbahak-bahak. Sebaliknya The Beng gemas sekali
melihat si nona demikian menghina kepadanya.
"Kenapa kau diam saja. Takut?" tegur Eng Lian yang
melihat The Beng belum bergerak.
"Siapa takuti kau budak hina" sahut The Beng bengis.
"Kau berani memaki nonamu, awas, ya Akan kuremas
mulutmu" Eng Lian ngeledek. Kwee In ketawa melihat
lagaknya sang enci.
The Beng yang perangainya berangasan tak tahan ia
menghadapi dara cilik kita yang nakal, maka seketika itu
ia mengirim jotosan kemuka si gadis.
"Mana kena" seru Eng Lian seraya berkelit seenaknya.
The Beng merangsek. Beberapa serangannya
menyusul hebat sekali, akan tetapi si nona hanya
melayani dengan seenaknya saja sambil ketawa haha-
hihi. Semua serangan The Beng hanya mengenai sasaran
kosong.
Disamping mendelu hatinya. The Beng rada jerih juga
melihat si dara tidak demikian lincah mengelit
serangannya. Ia jadi kebingungan-
Tiba2 ia punya pikiran nakal, tampak wayahnya
ketawa, "Bocah nakal, kau jangan sesalkan pamanmu
akan berbuat kurang ajar" ia mengancam, berbareng ia
menggunakan gerakan Siang- coa-touw-sip atau
Sepasang ular muntahkan bisanya. Dan tangannya
dengan tiba2 menyerang kearah dada, hendak meremas
buah dada si dara cilik hingga Eng Lian kaget dan
mendongkol hatinya.
The Beng sudah ketawa dalam hatinya, ia menduga si
nona tidak dapat berkelit dari serangannya yang
dilakukan dengan kecepatan kilat.
Tapi dara kita, bukannya murid Lamhay Mo Lie, kalau
dengan begitu saja sepasang buah dadanya dapat
disentuh tangannya The Beng. Ia berkelit kesamping
berbareng tangannya membacok. hingga dirasakan sakit
sekali oleh The Beng ketika kedua tangan berbenturan.
Ia cepat menarik pulang tapi sebelum ia perbaiki
posisinya, kaki Eng Lian melayang dan menendang, ia
roboh dengan tidak ampun lagi.
Tendangan Eng Lian diberikutkan lwekang, tidak heran
kala The Beng meringis-ringis sukar bangun dari
robohnya tadi.
"Manusia kurang ajar, kau berani permainkan
nonamu" bentak Eng Lian ketika melihat lawannya sudah
roboh dengan tidak bisa bangun lagi.
"Awas, enci Lian" memperingatkan Kwee in, ketika
melihat The Siong, si nomor empat, membokong dara
kita yang sedang memaki The Beng, Eng Lian berkelit
dari bokongan, dengan menjejakkan kakinya dahulu.
"Manusia hina, kau berani membekong nonamu Awas,
akan kupelintir kupingmu" Eng Lian menghadang
kedatangan The Siong.
Benar2 saja The Siong marah, "Anak kecil, kau jangan
sombong. Lihat aku bikin kau jungkir balik tiada tempat
untuk kakimu berpijak"
"Aduh sombongnya" ngeledek Eng Lian, "Kalau kau
dapat menyentuh ujung baju nonamu saja rejekimu
sudah beleh dikatakan besar...J angan kau mimpi yang
bukan2?" Eng Lian berkata seraya merangsek lawannya.
The Siong kepandaiannya ada lebih tinggi sedikit dari
adiknya, ia masih dapat membuat pergerakan yang
lumayan, tidak sampai digertak seperti The Beng tadi.
Empat lima jurus mereka bertempur, sudah kenyataan
The Siong bukan tandingan dara cilik kita, hingga The Go
menjadi putus asa. "Samte, kau bantu padanya." serunya
kepada The Kiang.
The Kiang cepat maju kedepan dan membantu
saudaranya mengeroyok Eng Lian-
Kwee In diam saja. Dilihatnya enci Eng Liannya
dikeroyok. Ia yakin kepada kemampuan encinya dalam
menghadapi musuh2nya.
"Enci Lian, kau bertempur sambil memegangi seikat
bunga itu, mari aku tolong pegangi" berkata Kwee In
kepada Eng Lian,
Memang juga si dara cilik bertempur dengan tidak
melepaskan bunga bunganya yang barusan dipetik,
rupanya ia sangat memandang enteng kepada lawannya.
Mendengar perkataan adik In-nya, Eng Lian ketawa
ngikik.
"Adik In, kau lihat encimu sebentar unjuk
kefaedahannya bunga ditanganku." sahut si dara cilik
dengan masih mengikik ketawa dan musnahkan semua
serangan dari lawannya yang sangat bernapsu
mengalahkannya,
"Budak sombong. jangan kau kepala besar" bentak
Tke Kiang.
"Aku bukan sombong, hanya mau kasih hajaran
kepada kalian orang-orang tolol." mengejek Eng Lian
seraya lompat berkelit dari tendangan The Kiang yang
dahsyat,
"Aku mau lihat apa kau masih dapat lolos dari
kepungan kami berdua?" kata The Kiang seraya
melakukan serangan2 yang makin gencar saja.
Eng Lian tidak takut, malah makin lincah kelihatannya
si dara cilik berkelahi,
Kwee In tampak encinya demikian gembira bertempur,
diam-diam geleng kepala. Memang Eng Lian paling suka
kalau dikeroyok, maka ia sengaja menantang "Dua masih
belum cukup, hayo turun semua"
The Go melengak mendengar tantangan si dara cilik.
Ia mengawasi Kwee In, seperti hendak menanya,
apakah kalau mereka turun tangan semua Kwee In akan
tinggal diam saja?
Kwee In balas mengawasi kepada toako dari Ngo-
kiam. Ia tidak berkata- kata, hanya wayahnya
tersenyum-senyum.
The Go tidak sempat berpikir lama, karena melihat
dua saudaranya sudah kepepet melawan Eng Lian- ia
berseru kepada saudaranya yang kedua^ "J ite. lekas kau
turun tangan bantu saudara saudaramu, bekuk tuh anak
kecil"
The Seng lantas terdjunkan diri mengeroyok Eng Lian-
"Masih kyrang satu lagi, lekas kau maju sahabat"
tantangnya kepada The Go.
Si Toako yang biasanya sangat kalem, ternyata tak
dapat mengendalikan hatinya yang gusar ditantang oleh
Eng Lian-
Tanpa banyak pikir ia terus maju dan mengeroyok Eng
Lian,
Si dara cilik senang dikeroyok empat orang, itu
memang maunya. Kegesitannya bertambah dengan tiba-
tiba, hingga empat orang itu kebingungan untuk
menangkap si dara cilik.
Tampak Eng Lian digencet. Kwee In terkesiap juga
nampak encinya seperti menghadapi bahaya, akan tetapi
ia girang, ketika Eng Lian melejit dari kepungan seraya
mengebaskan ikatan kembangnya, hingga berhamburan
menyerang mukanya empat lawannya.
Eng Lian ketawa cekikikan- Sikutnya berbareng
menyikut iga The Siong hingga terkulai roboh, kakinya
dengan sebat menyapu kaki The Kiang, juga roboh
dengan tidak ampun lagi. The Seng yang gelagapan kena
diserang taburan bunga, kena diserang dadanya, hingga
sempoyongan dan roboh dengan memuntahkan darah
segar. The Go yang masih dalam keadaan gugup, tiba-
tiba rasakan tenggorokannya ketusuk tangkai bunga
hingga gelagapan, menyusul kakinya Eng Lian
menendang hingga ia terpental dua tombak jauhnya.
Sambil membereskan rambutnya yang kusut dan
merapihkan bajunya, Eng Lian ketawa cekikikan melihat
korban-korbannya semuanya mendeprok ditanah.
Kwee In puas dengan hasil enci Lian-nya. "Eng Lian,
kau hebat" Ia memuji, seraya unjukkan jempolnya.
Eng Lian hanya monyongkan mulutnya dengan lucu
kearah si bocah-Kwee In ketawa. "enci Lian, mari kita
pulang" ia mengajak.
"Nanti, aku mau petik dulu kembang." sahut si dara,
seraya menghampiri pohon-pohon kembang yang ia
sukai, ia sama sekali ia tidak memperhatikan pula kepada
Houw-san Ngo-kiam yang dengan hati panas mengawasi
kearahnya.
"Adik In, mari" kata si dara, mengajak adiknya pulang.
Dengan bergandengan tangan muda-mudi itu berjalan
ngeloyor, tidak memperhatikan kepada korban-
korbannya yang masih pada mendeprok ditanah.
The Beng yang dijatuhkan paling dulu sudah dapat
bangun lagi dan lantas menyusul mereka dari kejauhan,
segera ia melihat dua pemuda itu naik diatasnya si
Rajawali yang besar luar biasa.
The Beng menjulurkan lidahnya.
Cepat ia balik kepada saudara-saudaranya, kepada
mereka ia cerita hal si Rajawali raksasa yang menjadi
tunggangannya dua muda-mudi tadi.
"Pelayan perempuannya saja sudah demikian hebat
kepandaiannya, bagaimana dengan pelayan lelakinya?"
berkata The Beng, "Apa lagi Hek bin Sin-tong sendiri,
entah bagaimana kepandaiannya? Apakah kita masih
mau teruskan niat kita?"
The Go diam, ia memikirkan juga perkataan sang adik
kelima itu,
"Toako, dilihat begitu, kita bukan tandingan Hek-bin
sin-tong," nyeletuk The Kiang.
"Kita belum menyerah kalah, lantaran kita belum
menggunakan barisan kita," sahut The Go,
"Kalau Ngo-kiam-tin dapat mereka pecahkan, barulah
aku menyerah"
Mendengar perkataan sang saudara tua, saudara-
saudaranya yang lain tidak menyahut.
Kekalahan mereka memang masih belum mutlak kalau
belum Ngo-kiam-tin mereka dipecahkan, itulah kebiasaan
dari lima saudara she The itu.
Mereka lalu pada bangun dan melempangkan badan,
menjalankan darahnya supaya menjadi sehat kembali.
Kemudian mereka berjalan untuk mencari tempat
meneduh, menantikan sebentar sore mencari tempatnya
Hek-bin Sin-tong. Mereka lewati tegalan yang lebar,
untuk memasuki pula rimba.
J usteru pada saat itulah terdengar suara aneh dari
belakang mereka, titik hitam mendatangi dangan
cepatnya dan ketika sudah dekat seperti juga awan
mendung menutupi mereka, kiranya itulah si Rajawali
raksasa yang lewat.
Dengan beberapa kali kebasan saja The Go dan empat
saudaranya sudah terpental bergulingan diatas rumput,
tidak tahan mereka kena diserang angin kebasan
sayapnja si Rajawali.
Terdengar diatas si Rajawali Eng Lian cekikikan
ketawa, sedang Kwee In terbahak-bahak melihat lima
jago pedang itu sungsang sumbel di-kebas sayapnya
burung raksasa mereka. Bukan main mendelu hatinya
mereka mendengar ketawanya dua bocah itu.
Mereka tidak terluka, meskipun demikian bukan main
kagetnya mereka dengan kejadian yang tidak terduga-
duga itu.
"Sekarang bagaimana, toako?" tanya The Seng kepada
The Go
"jalan terus, kenapa kita harus takut?" jawab si Toako.
"Mereka punya burung garuda dan kita punya Ngo-kiam-
tin, lihat saja siapa yang lebih unggul?"
The Seng dan lain-lain saudaranya jengkel melihat
Toakonya ngotot dengan Ngo-kiam-tin- Mereka sendiri
tidak punya kepercayaan bahwa Ngo-kiam-tin dapat
mengalahkan Hek-bin sin-tong yang kepandaiannya tentu
melebihi dari para pelayannya.
Mereka teruskan jalan untuk mencari tempatnya Hek-
bin Sin-tong. Diwaktu lohor mereka memasuki hutan
kecil, tiba-tiba mereka dibikin kaget oleh banyaknya
kawanan monyet yang mencegat perjalanan mereka.
Suara cucewetan yang menyeramkan dan horror
seperti yang bertemu musuh. sikap kawanan kera itu
membuat The Go dan empat saudaranya menjadi tidak
enak. Masing-masing pada mencabut pedangnya. untuk
menjaga gangguan kawanan monyet itu.
Lebih kaget mereka ketika nampak ada tiga gorilla
(orang utan) tengah berdiri tak jauh dari kawanan
monyet tadi.
"celaka," mengeluh The Go. "Belum kita ketemu Hek-
bin Sin-tong sudah harus berhadapan dengan tentara
kera. Mungkin mereka adalah anak buahnya si bocah
hitam, mari kita bereskan" mengajak si Toako kepada
empat kawannya-
Ternyata kawanan kera itu sangat nakal, selain dari
bawah mereka mengganggu lima jago pedang itu, dari
atas juga mereka mengganggu. Kawanan monyet itu
menimpuki dengan buah-buahan dari atas, seperti juga
menyambarnya senjata rahasia, hingga repot juga lima
jago pedang itu menghindarkan dirinya.
"Kurang ajar, kalian tidak tahu kami punya kelihayan-"
seru The Kiang, yang jadi sangat mendongkol kepada
kawanan kera itu. Berbareng ia mengeluarkan senjata
rahasianya Thi-lian-Ci (Biji teratai besi) beberapa kali ia
menimpuk dan ada beberapa kera yang terkena telah
berteriak-teriak kesakitan dan jatuh dari atas.
Barangkali ada lebih baik kalau lima jago pedang itu
tidak mengganggu kawanan kera tersebut. sebab justeru
The Kiang mengobral senjata rahasianya, membuat
kawanan kera itu jadi sangat gusar melihat beberapa
kawannya yang jatuh terpelanting dari pohon-
Dengan berapa kawanan kera yang ada diatas pohon
pada melompat menubruk kepada The Go empt
saudaranya. Dibawah dikepung, diatas diserang, bukan
main lima jago pedang itu repotnya, Dengan pedangnya
mereka membela diri, tapi saking banyaknya kawanan
kera yang datang menyerbu mereka, kelihatannya
mereka kewalahan,
Tidak berapa lama, kelihatan mereka sudah ngos-
ngosan napasnya. Peluh keluar membasahi tubuhnya dan
rasa haus menyerang tak tertahankan, Dalam keadaan
yang payah, tiba2 tiga gorilla yang tadi tengah berdiri
saja sekarang menghampiri mereka. Mereka ketakutan,
tapi seberapa bisa menabahkan hatinya.
The Go menggunakan pedangnya menyabet pada
Toa-hek yang menggubat tangannya hendak merampas
senjatanya, tapi alangkah kagetnja si Toako, tatkala
melihat dengan seenaknya Toa-hek mengigos dari
serangan pedang, seolah-olah gorilla itu berkepandaian
ilmu silat, sebelum The Go dapat berpikir lama dan
menenangkan rasa herannya, tiba-tiba ia rasakan
pundaknya dicengkeram oleh J i-hek. hingga ia tidak
berdaya ketika pedangnya dirampas oleh Toa-hek.
The Seng dan saudara2nya yang lain sudah sangat
kepayahan. Meskipun demikian mereka tidak mau
menyerah kalah ketika Siauw-hek mendekati dan hendak
merampas pedangnya. Mereka coba mempertahankan
senjatanya, akan tetapi dengan mudahnya Toa-hek, Dji-
hek dan siauw-hek sudah melucuti senjata mereka.
Masing2 dipersen cengkeraman pada pundak yang
membuat tulangnya pada patah dan lengan itu tak dapat
digunakan lagi,
Sungguh hebat cengkeramannya tiga gorilla itu, sebab
semua pundak kanan dari Ngo-kiam-tin pada remuk dan
lengan kanan mereka tak dapat digunakan pula.
Selanjutnja mereka harus menggunakan tangan kiri
untuk melatih Ngo-kiam-tin-
Mereka tidak nyana bahwa dilembah Tong-hong-gay
itu mereka telah menemukan kehancuran total. Bukan
saja senjata mereka kena dirampas, tapi juga mereka
menderita luka dipundak yang menjadikan mereka cacad,
dalam keadaan semaput merasakan akibat remuknya
tulang-tulang dipundak. mereka mendengar suara
ketawanya Eng Lian diatas pohon bersama Kwee In.
Tadi mereka tidak lihat dara cilik dan si bocah nakal
itu. dimana mereka mengumpet dibalik dahan- Sekarang
kelihatan nyata dua pemuda itu mentertawakan mereka,
hati mana membikin meluap amarahnya mereka. Tapi
apa daya?. Mereka sudah tidak berguna dan untuk
menuntut balas nanti akan memakan tempo banyak.
karena mereka harus meyakinkan pula ilmu pedang
dengan tangan kiri dan membentuk Ngo-kiam-tin yang
mereka sangat banggakan-
Kecuali merampas pedang dan meremukkan tulang
pundak. kelihatannya kawanan kera besar itu tidak
mengganggu mereka dan membiarkan mereka berlalu
dari situ. Kawanan kera juga tidak cececowetan seperti
menghadapi musuh. mereka cecowetan dengan wajar
lompat sana-sini. Tidak lagi mereka datang mengeroyok
seperti tadi hingga hatinya The Go dan empat
saudaranya menjadi lega.
"Toako, inilah hasilnya kita mencari Kitab mukjijad,"
berkata The Seng ditengah jalan kepada saudara tuanya.
The Go menghela napas panjang.
"Houw-san Ngo-kiam menemukan kehancuran di
lembah Tong- hong- gay, sungguh kita tidak ada muka
lagi dalam kalangan Kang-ouw. kali ini kita hancur oleh
Hek bin Sin-tong, mungkin tokoh2 dari rimba persilatan
dapat memaafkan kita, akan tetapi kita justeru
dihancurkan oleh kawanan kera, apakah ini tidak
ditertawakan orang?" demikian The Kiang menyatakan
pikirannya .
Kembali terdengar The Go menarik napas panjang.
- oo0dw0oo-

Bab-02
BWEE HIANG Setelah tinggal beberapa lama di Coa
Kok.
Bwee Hiang telah mengikuti ibunya kemarkas Ngo-tok-
kauw, berpisahan dengan Yo In (Kwee In) dan Eng Lian
yang pulang kelembah Tong-hong-gay untuk menengok
burung Rajawali dan tentara keranya,
Sementara Leng Siong telah pulang ke Suyangtin
diantar oleh Kim Wan Thauto,
Kwee Cu Gie dan isterinya (Lamhay Mo Lie atau Sie
Lan ing ) menetap di Coa kok, meneruskan pimpinan
mengepalai Ang-hoa-pay,
Atas usulnya Kwee Cu Gie orang-orang Ang-hoa-pay
telah dipulihkan kembali ingatannya menjadi normal dan
kepada mereka diberikan kesempatan memilih mau turut
terus pada Ang-hoa-pay atau kembali ke masing-masing
tempat tinggalnya? Ternyata diantara mereka itu, yang
mengetahui bahwa Ang-hoa-pay dikepalai oleh Kwee Cu
Gie suami-isteri, kebanyakan rela membantu terus Ang-
hoa-pay dan sedikit sekali yang pulang ke kampungnya.
Dengan pimpinannya Kwee Cu Giee,partai Kembang
Merah itu mendapat kemajuan pesat. Letaknya Coa- kok
ada sangat strategis, terutama dibantu oleh barisan ular,
sehingga orang sukar untuk mendatangi markas Ang-
hoa-pay tanpa ijin dari ketua.
Kwee Cu Gie yang berniat menghindarkan bentrokan-
bentrokan pula dengan musuh2nya dahulu, Coa kok itu
merupakan tempat yang cocok sekali baginya. Setelah
menemukan kembali isteri dan anaknya, Kwee Cu Gie
alias Liok Su-he kelihatan riang gembira, kembali
semangatnya yang telah menjadi lesuh untuk sekian
lama.
Bwee Hiang di markas Agama Panca Rasa (Ngo tok-
kauw) mendapat perlakuan istimewa. Empat pelayan
wanita yang cantik-cantik dari usia antara lima belas
enam-belas telah disediakan untuk melayani dirinya.
Sungguh menyenangkan sekali hatinya si nona,
meskipun ada tempo-temponyaa terkenang kepada adik
kecilnya (Kwee In), yang sekarang bersama Eng Lian
berada di lembah Tong- hong- gay,
Terkadang ia terkenang ke rumahnya di Kun biang.
setempo ia mengepal-ngepalkan tangannya kapan ia
ingat kepada musuh2nya (Su Coan sam-sat) yang belum
ia balas. Entah kapankah ia dapat menunaikan tugasnya
menuntut balas kepada Su Coan Sam-sat? -
Hari-hari ia lewatkan dengan duduk pasang omong
bersama ibunya, setempo ditemani Tong hong Kaawcu
yang menjadi ayah tirinya.
Bwee Hiang perhatikan ibunya hidup serba senang
menjadi isteri Kauwcu.
Kapan ia ingat kepada ayahnya almarhum (Liu Wang
Hwee) dalam hati diam-diam menyesalkan perbuatannya
sang ibu yang telah meninggalkannya. tapi apabila
ditimbang pula bahwa Tong hong Kin ada pemuda
pujaannya yang pertama diwaktu mudanya, Bwee Hiang
tarik pulang penyesalannya. Pikirnya, jikalau seandainya
riwayat ibunya itu ia alami, apakah ia juga akan
mengikuti jejak sang ibu?
Itulah pada suatu sore, ketika Bwee Hiang duduk
pasang omong dengan ibunya, sang ibu bertanya pada si
gadis: "Anak Hiang, kalau ibu tidak salah hitung,
sekarang kau sudah masuk usia dua puluh dua tahun,
lebih tua lima tahun dari anak In-",
Bwee Hiang anggukkan kepala bersenyum.
"Aku dengar pergaulanmu dengan anak in sangat
rapat."
"Bukan begitu saja, ia adalah guru cilikku, ibu."
"Guru cilik bagaimana, anakku?"
"Kepandaianku dalam ilmu silat adalah ajarannya."
"Bukan ayahmu yang mengajarnya?"
"Ayah juga pernah mengajarnya, akan tetapi adik In
yang mematangkan ilmu silatku, Tanpa ia yang memberi
banyak petunjuk. kepandaianku mentah matang. Adik in
adalah satu anak yang baik, aku suka padanya dan aku
merasa hutang budi besar,"
"Utang budi besar bagaimana, anak Hiang?"
"Adik in yang telah menolong jiwa anak. tanpa ia anak
sekarang tak berada didepan ibu," Bwee Hiang kata,
wayahnya tampak berduka.
Kemudian Bwee Hiang menceritakan keganasan Su
Coan Sam-sat yang menyatroni rumahnya, melakukan
pembunuhan besar-besaran, untuk itu ia mau menuntut
balas.
Lie Ceng Hoa, ibunya Bwee Hiang geleng-geleng
kepala dan terharu mendengar ceritanya sang anak.
Kematiannya Liu Wangwee membuat ia menepas air
mata, ia sedih mengingat cintanya Liu Wangwee tempo
hari atas dirinya ketika mereka masih berkumpul.
"Anak Hiang, Su Coan Sam-sat demikian ganas dan
menakutkan, lebih baik kau jangan cari perkara lagi
dengannya, aku kuatirkan atas keselamatanmu," berkata
sang ibu dengan penuh rasa sayang kepada anaknya.
Bwee Hiang ketawa tawar,
"Tidak sedetikpun perbuatannya Su Coan Sam-sat
dilupakan olehku, nanti ada satu waktu akan anak satroni
tempatnya untuk menuntut balas" kata Bwee Hiang
gagah,
"Annk Hiang, kau pergi kesana sendirian, cuma
mengantar jiwa saja..."
"Hehe, anak tidak pergi sendirian, ada adik in, Lian
dan Siong yang akan mengantar anak. malah Toako Kim
Wan Thau-to juga bersedia mengantar anak."
"Kim Wan Thauto? Kenapa kau panggil Toako kepada
seorang Thanto?" tanya sang ibu heran.
Bwee Hiang ketawa, ia lalu tuturkan bagaimana ia
angkat saudara dengan Kim Wan Thau-to, sehingga sang
ibu terheran-heran-
"Tapi, anak Hiang," berkata pula ibunya. "cuma tiga
orang perempuan, diantara oleh satu Bocah dan satu
thauto, mana ungkulan menghadapi Su Coan Sam-sat?"
"Ibu," bantah sang anak. "Kau tidak tahu
kepandaiannya adik In. Untuk waktu ini pendeknya tak
ada tokoh-tokoh kuat dalam kalangan rimba persilatan
yang kepandaiannya diatas dari adik In- Kwee Cu Gie
Tayhiap yang menjadi ayahnya, tak akan menang kalau
bertempur dengan adik In- Ibu tak lihat, oh, bagaimana
hebatnya adik In telah bertempur dengan Lamhay Mo Lie
yang belakangan diketahui adalah ibunya."
Bwee Hiang lalu menceritakan halnya Lo in bertempur
dengan Lamhay Mo Lie yang kepandaiannya susah
diukur dan ditakuti namanya dalam Rimba persilatan.
Sepanjang mendengar penuturannya sang anak,
kelihatan Ceng Hoa geleng-geleng kepala dan matanya
terbelalak keheranan.
"Ada bocah sampai begitu tangkas dan tinggi
kepandaiannya, sungguh ibu tidak nyana anak bayi
tukang ngompol itu sekarang menjadi jagoan," kata Ceng
Hoa.
Bwee Hiang ketawa cekikikan mendengar ibunya
mengatakan Kwee in adalah bayi tukang ngompol,
hingga sang ibu menjadi heran anaknya dengan
mendadak akan ketawa demikian, ia menanya:
"Anak Hiang, apanya yang membikin kau jadi ketawa
geli?"
"Ibu, coba ibu katakan didepan adik In, ia adalah bayi
tukang ngompol entah bagaimana reaksinya anak nakal
itu, tentu sangat lucu. Oh, ia sangat lucu..." Ceng Hoa
juga ketawa ngikik mendengar perkataan anaknya.
Ibu dan anak mengobrol dengan gembira. Sang ibu
mengulangi cerita bagaimana Lo In (Kwee In) pada masa
bayinya telah diculik oleh dua orang tidak dikenal.
Bwee Hiang cerita tentang ibu tirinja yang sangat baik
kepada dirinya, sayang umurnya ibu tiri yang baik hati itu
pendek sekali. Ketika Bwee Hiang usianya meningkat
enam belas tahun sang ibu telah menutup mata lantaran
sakit.
"Anak Hiang," tiba-tiba sang ibu berkata serius. "
Usiamu sekarang sudah dewasa, apa belum ada niat
untuk mempunyai kawan hidup?"
Bwee Hiang melengak. Ia tidak mengira ibunya
mengeluarkan perkataan demikian-Ia tidak menjawab,
hanya menundukkan kepala,
Ceng Hoa tahu anaknya malu-malu. maka setelah
sejenak ia berkata pula: "Anak Hiang, bagaimana kalau
ibu pilihkan seorang pemuda yang setimpal menjadi
pasanganmu."
Bwee Hiang masih berdiam saja,
"Anak, semalam aku dengan ayahmu telah berunding.
ingin kami menjodohkan kau dengan puteranya Pangcu
dari Ceng-Liong-pang, Pangcu dari Ceng-Liong-pang
adalah teman karib dari ayahmu, juga puteranya si Kim
Liong sangat menghormat pada kami. Ia satu pemuda
yang cakap tampangnya dan pintar, ilmu silatnya juga
cukup tinggi, barang kali hanya dibawah ayahnya. Yang
lainnya orang2 Ceng-Liong-pang tidak ada yang lebih
tinggi kepandaiannya dari dirinya,"
Bwee Hiang angkat kepalanja menatap wajah ibunya
yang ketawa-ketawa manis.
"Ibu," katanya perlahan. "Anak belum ada minat
menikah...."
"Anak Hiang, itu bukannja alasan. Kau sudah cukup
umur, tiap gadis yang berumur sepertimu sebenarnya
sudah berumah tangga. Maka jangan menolak dengan
niat ayahmu dan ibumu, sebab ini untuk keberuntungan
sendiri."
"Ibu, anak masih belum ada pikiran Untuk menikah,
juga. . ."
"juga apa?" Apakah kau sudah mempunyai pemuda
yang menjadi pujaanmu, anak Hiang?" tanya sang ibu
ingin tahu.
Bwee Hiang tidak menyahut. rasanya berat untuk ia
mengeluarkan perkataan-
"anak Hiang. aku adalah asli ibumu, yang
mengandungkan sembilan bulan, sudah tentu aku sangat
perhatian pada hari depanmu. Ibu akan merasa
beruntung kalau disampingmu ada pemuda tampan yang
menyintai dirimu sampai dihari tua."
Bwee Hiang kembali tidak memberi jawaban.
"Anakku, kau jangan malu-malu kepada ibu sendiri,
lekas katakan siapa yang menjadi pemuda pujaanmu
itu," desak sang ibu.
Bwee Hiang kewalahan didesak ibunya. Ia segera
mengambil putusan untuk mengaku.
"Ibu, pemuda pujaanku itu adalah.,. adik.. , In . , ."
katanya kurang jelas.
"Hihihi, . ." tertawa Ceng Hoa. "Bocah masih pentil
begitu kau harapi? Ah, anak Hiang, Anak in usianya baru
saja tujuh belas tahun dan kau sudah dua puluh dua
tahun, terpaut lima tahun- mana pantas orang
perempuan banyak lebih tua usianya dari sang suami,
Anak Hiang, sebaiknya kau jangan memikirkan yang
bukan-bukan"
Berdebar hatinya Bwee Hiang mendengar perkataan
ibunya.
Memang usianya terpaut jauh dengan Kwee In- Lebih
pantas Kwee In menjadi adiknya daripada ia menjadi
isterinya si Bocah, akan tetapi perasaan Simpati tiap kali
berkumpul dengan Kwee In membuat Bwee Hiang tidak
berdaya untuk mengusir rasa cinta murni terhadap adik
In-nya yang nakal itu.
Terbayang saat itu adegan ketika ia dipeluk dan
dicium dengan mesra oleh Kwee In- hatinya berdebaran
dengan mendadak. itulah saat-saat yang tak dapat
dilupakan olehnya untuk seumur hidupnya. Permulaan
memang ia pandang Kwee In sebagai anak kecil dan
sebagai adiknya. tapi lama-lama sering ia bersentuhan
badan diwaktu ia berlatihan silat dan kenakalannya Kwee
in sering melewati batas. membuat timbulnya, pikiran
aneh dalam hati gadis hartawan itu.
Sebagai gadis yang sudah dewasa ia tahu bahwa ia
mencintai si Bocah, meskipun Kwee In sendiri pada
waktu itu belum unjuk kenakalannya sampai mencium.
Kwee In masih anak- anak waktu itu dan belum tumbuh
bibit asmaranya-
Namun, setelah pertemuannya paling belakang
dengan Kwee in, Bwee Hiang dapat kepastian bahwa si
Bocah memang ada menyintai dirinya. Ia tidak berdaya
ketika dirangkul dan dicium oleh si Bocah, sebab
memang ia ada cinta pada Kwee In. Rela ia bersama-
sama dengan Eng Lian akan menjadi kawan hidupnya
Kwee In-ia sudah mengambil keputusan itu.
Apa mau sekarang ibunya timbulkan soal
perjodohannya dan mengungkapkan bahwa usianya ada
terpaut jauh dengan Kwee in dan tidak pantas ia
mencintai si Bocah yang masih pentil. Sungguh hatinya
sekarang menjadi bimbang.
"Ibu, adik In besar budinya terhadapku, tak dapat aku
membalasnya kecuali aku melayani ia seumur hidupnya
bersama Eng Lian," berkata Bwee Hiang seraya
tundukkan kepala.
"Bersama Eng Lian? Ah, yang benar, anak Hiang" seru
ibunya kaget.
"Ya, aku dengan Eng Lian sudah sepakat untuk
menjadi kawan hidupnya adik In-"
"Anak Hiang, kau ini benar-benar bodoh. Eng Lian
dengan anak In usianya hanya berbeda setahun, mereka
pantas menjadi pasangan, Tapi, kau, yang lebih tua
banyak bagaimana mau ikut-ikutan Eng Lian untuk
menjadi kawan hidupnya Kwee In. Apakah nanti tidak
menjadi menyesal? Eng Lian selain usianya lebih muda
parasnya juga lebih cantik dari kau, apakah nanti si
Bocah tidak membeda-bedakan dan bikin kapiran kau?
anak Hiang, kau jangan bodoh, sekarang buang pikiran
yang gila-gila itu dan turutlah kehendak ayah dan ibumu,
tanggung kau tidak menjadi menyesal." Kembali Bwee
Hiang menjadi bimbang hatinya.
Apa yang dikatakan oleh ibunya memang beralasan-
Namun, apa katanya Kwee in nanti apabila ia membalik
belakang kepada guru ciliknya itu? Pasti ia dicap sebagai
gadis yang tidak berbudi dan ditertawakan Eng Lian, ia
merasa hutang budi besar kepada Kwee In, hanya
dengan menyerahkan dirinya sebagai isterinya si Bocah
baru ia merasa enteng hutangnya.
Melihat anaknya diam saja, Ceng Hoa mendesak.
"Ibu, aku belum dapat memberi putusan . , ." kata
Hwee Hiang. "Kasihlah tempo untuk aku
mempertimbangkan"
Ceng Hoa ketawa manis mendengar anaknya berkata
seperti akan berubah pikirannya. Ia tidak mendesak lebih
jauh dan Simpangkan pembicaraan kelain hal lagi,
sehingga pikirannya Bwee Hiang yang tadi kebingungan
menjadi terang lagi.
Tan Ek Tiong, Pangcu dari Ceng-Liong-pang, adalah
teman akrab dari Kauwcu Ngo-tok-kauw. Ia mempunyai
dua orang anak laki2, yang sulung bernama Kim Liang
sudah menikah, yang kedua Kim Liong sudah umur dua
puluh empat tahun belum menikah. Saban kali dicarikan
jodohnja Kim Liong selalu menampik dengan alasan
bahwa ia ingin dapatkan seorang gadis yang mempunyai
kepandaian silat tinggi disamping mengenal sastra.
Untuk mendapatkan gadis macam demikian, bisa silat
dan pandai sastra, memang bukannya mudah, maka
sampai sebegitu jauh Kim Liong masih belum
menemukan jodohnya.
Sering Tan Ek Tlong omong2 dengan Tong hong Kin
dan tentunya membicarakan hal jodohnya Kim Liong, ia
minta suami isteri itu tolong carikan wanita yang diidam-
idamkan oleh anaknya.
Tong hong Kin dan isterinya berjanji akan perhatikan
hal itu.
Tonghong Kauwcu dan isteri suka mengenangkan Eng
Lian, anak pungutnya yang pintar dan nakal itu entah
dimana ia sekarang. Kalau ada Eng Lian, dengan suka
rela mereka menyerahkan anak pungutnya itu untuk
dijadikan isterinya Kim Liong yang mereka pandang
sebagai anak sendiri, anak sopan santun dan sangat
menghormat kepada mereka.
Apa mau ia mendapat kabar perihal Kwee Cu Gie yang
telah memasuki Coa-kok dan telah bertemu dengan anak
isterinya. Untuk kasih selamat kepada kawan yang boleh
dikatakan penolong mereka, maka mereka perlu datang
ke Coa-kok untuk memberi selamat. Tidak mereka kira di
Coa-kok telah bertemu dengan Eng Lian, anak pungutnya
yang sudah jadi gadis cantik, disamping itu juga mereka
sudah bertemu Hwee Hiang. puteri kandungnya Ceng
Hoa. Bukan main Tonghong Kauwcu dengan isterinya
kegirangan dengan pertemuan yang tidak terduga-duga
itu.
Setelah pesta di Coa-kok berakhir, Tonghong Kauwcu
dan Ceng Hoa ajak Eng Lian pulang kemarkas Ngo-tok-
kauw, akan tetapi si dara nakal menolak dengan terang-
terangan dan mengatakan bahwa ia mau pulang
kelembah Tong-hong-gay bersama Kwee in,
Bwee Hiang juga menolak ketika diajak pulang
kemarkas Ngo-tok-kauw, cuma saja Ceng Hoa membujuk
sambil mengucurkan air mata, bahwa ia ingin dapat
berkumpul dengan anak kandungnya itu beberapa hari
untuk melepaskan rasa rindunya,
Atas bujukan Lamhay Mo Lie, akhirnya Bwee Hiang
menyetujui untuk ikut ibunya, dengan syarat ia tidak
dapat lama-lama menemani ibunya dan segera akan
menyusul Kwee in dan Eng Lian yang berangkat ke Tong-
hong-gay. Bwee Hiang ingin sekali berkumpul dilembah
yang beriwayat itu, sebab disana Kwee in dan Eng Lian
katanya ada mempunyai banyak kawan yang berupa
gorilla, tentara kera dan si burung Rajawali raksasa.
Ketika Tonghong Kauwcu dan isteri bersama Bwee
Hiang kembali kemarkas, hal ini dapat diketahui oleh
orang-orangnya Ceng-Liong-pang yang lantas
mengabarkan kepada ketuanya. pada sorenya Tan Ek
Tiong bikin kunjungan ketempatnya Tonghong Kauwcu
dan mula-mula menanyakan bagaimana pesta di Coa-kok
telah berjalan, kemudian menanyakan halnya Bwee
Hiang, gadis siapakah itu?
"Tan-heng," sahut Tonghong Kauwcu ketawa. "ia
adalah puteriku, yang kebetulan ketemu di Coa-kok dan
kami bawa pulang."
"Tong hong- heng, kau jangan main-main," kata Tan
Pangcu juga ketawa. "Mana gadismu sudah begitu
besar? Aku tak percaya."
Tonghong Kauwcu ketawa gelak-gelak. Dua sahahat
itu duduk mengobrol sebagaimana biasa.
Perlahan-lahan Tonghong Kauwcu menceritakan
halnya Bwee Hiang kepada kawannya.
Diam-diam Tan Pangcu merasa girang. Pikirnya. inilah
gadis yang bakal jodohnya Kim Liong, puteranya. ia
mohon Tuhan akan melindungi perjodohan itu, sebab
Kim Liong selalu menolak saja kalau dijodohkan karena
belum menemukan gadis yang menjadi idam-idamannya.
"Tong hong- heng, apa ia sudah ada yang punya?"
tanya Tan-Pangcu ketawa.
"Itu belum bisa dikatakan, sebab kami baharu saja
ketemu dan belum menanyakan hal ini kepada Bwee
Hiang sendiri. Nanti, ibunya yang akan menanyakan
halnya. Semoga ia belum ada yang punya, dengan begitu
tugasku mencarikan anak ayam untuk anak Liong
menjadi selesai bukan?" berkata Tonghong Kauwcu
ketawa menjeringai. Tan-Pangcu senang hatinya.
"Kabarnya anak itu cantik parasnya, apa Tong hong-
heng suka ajar kenal aku dengannya?" tanya Tan
Pangcu,
"sudah kepingin lihat saja ia wajahnya si nona, sebab
menurut orangnya, gadis yang ikut Tonghong Kauwcu
ada sangat cantik."
"jangan sekarang," sahut Tonghong Kauwcu. "Nanti,
kalau sudah tiga hari disini, akan kuantar kenal
dengannya. Malah, kalau ia masih belum ada pacarnya,
pasti aku akan ajar kenal ia dengan anak Liong."
Ketawa Tan Pangcu, karena saat itu ia tak dapat
belajar kenal dengan Bwee Hiang, akan tetapi ia merasa
senang mendengar Ketua dari Ngo-tok-kauw itu
menjanjikan bukan saja si gadis akan di-ajar kenal
dengannya tapi juga dengan puteranya.
Dua hari sejak itu, benar saja Tan Pangcu diundang
oleh Ketua dari Ngo-tok-kauw untuk datang ngobrol di
rumahnya. Tan Pangcu girang mendapat undangan itu,
segera ia datang dan menemukan kawannya, yang ketika
itu sedang enak-enak saja duduk di kamarnya.
"Tan-heng," kata Tonghong Kauwcu. "Rupanya
anakku bakal jodohnya anak Liong, mudah2an akan
menjadi kenyataan. sekarang ia sedang dalam bujukan
ibunya."
"oh, apa ia masih belum ada yang punya?" tanya Tan
Pangcu kegirangan-
"Rasanya begitu,, tapi lihat saja, Kalau memang
jodohnya anak Liong, pasti ia tak akan lari kemana. ilmu
silatnya sangat tinggi, baik-baik katanya pada Kim Liong,
jangan cari gara-gara bertengkar kalau sudah menjadi
suami isteri ... Hahaha"
Tan Pangcu juga ketawa gejak-gelak mendengar
sahabatnya berkelakar,
Tonghong Kin membawa Tan Pangcu masuk
keruangan tengah, dimana mereka teruskan
mengobrolnya sambil minum air teh dan sedikit kuwe-
kuwe, Sebentar tuan rumah permisi masuk kedalam,
Agak lama ditinggalkan Pangcu menunggu, sampai
tiba-tiba ia dibikin terCengang nampak tuan rumah
keluar diiringi oleh isterinya bersama seorang gadis jelita.
cantik Sekali gadis itu dipandangan Ketua dari Ceng-
Liong-pang,
"Pangcu inilah anakku yang baru sekarang ditemui"
nyonya rumah memperkenalkan Bwee Hiang kepada Tan
Pangcu, yang sedang bengong mengagumi
kecantikannya si nona, Bwee Hiang bersenyum-senyum
manis dan bersoja kepada Tan Pangcu, Ketua dari Ceng-
Liong-pang tersipu-sipu bangkit dan menyambut sojanya
Bwee Hiang.
"Anak manis, sungguh cantik sekali kau." memuji
Ketua dari Ceng-Liong-pang.
Tonghong Kauwcu silakan tamunya duduk pula,
nyonya rumah dan gadisnya juga duduk berkumpul.
Ternyata Bwee Hiang adalah gadis toapan (tidak malu-
malu) ia dapat melayani tamunya ngobroi dengan tidak
kikuk-kikuk. hingga Tan Pangcu menjadi senang hatinya.
Tidak baik untuk terus-terusan melayani tamunya
yang masih asing untuk gadisnya, maka nyonya rumah
telah ajak Bwee Hiang masuk kembali setelah permisi
kepada Tan Pangcu.
"Silahkan, silahkan . . ." kata Tan Pangcu ketika
nyonya rumah permisi undurkan diri.
Tonghong Kin dengan sahabatnya itu kembali ngobrol,
Sudah tentu halnya Bwee Hiang yang menjadi pusatnya
pembicaraan mereka.
Tan Pangcu sangat setuju kepada Bwee Hiang dan
minta supaya Tongbong Kin biar bagaimana juga
menanyakan agar putranya bisa berjodoh dengan gadis
cantik itu.
Setelah cukup mengobrol, Tan Pangcu minta diri dari
tuan rumah.
Kapan ia sampai dirumahnya, lantas saja Tan Pangcu
memanggil anaknya datang,
Tidak lama Kim Liong sudah berhadapan dengan
ayahnya.
"Ayah panggil anak datang ada urusan apa?" tanya
sang anak.
"Ada kabar baik, anak Liong," sahut sang ayah
bersenyum.
"Kabar baik apa, Ayah?" tanya Kim Liong kepingin
tahu.
"jodohmu sekarang didepan mata, kau harus
membilang terima kasih kepada paman dan bibi
Tonghong yang telah mendayakan gadis yang
diidam2kan." sahut sang Ayah. Kim Liong melengak
mendengar perkataan ayahnya,
"Anak Liong. ayah sudah lihat, gadis ini sangat cantik.
Pendeknya asal kau lihat lantas setuju. Kau jangan
banyak tingkah dengan jodohmu ini" kata sang ayah lagi.
Kim Liong tidak menyahut, tapi wajahnya berseri tawar.
Tan Pangcu ketika tampak anaknya bersikap acuh tak
acuh. Ia menanya^ "memangnya kau kurang senang
dengan pilihan ayahmu, bibi dan paman Tonghong?"
"Ayah, aku bukannya tidak senang, malah
mengucapkan terima kasih. cuma saja seperti yang anak
katakan, gadis yang menjadi idaman anak adalah yang
kepandaian silat tinggi, setengah tingkatan dengan
kepandaian anak sendiri. Disamping itu juga harus
mengerti sastra."
Tan Pangcu tertegun, la meragukan kepandaiannya
silatnya Bwee Hiang, meskipun katanya Tonghong
Kauwcu puterinya itu tinggi kepandaian silatnya.
la tahu bahwa anaknya berkepandaian hampir
sepadan dengannya, maka sukar untuk dikatakan kalau
isterinya itu dapat mengalahkan Kim Liong.
"Begini saja, anak Liong. Kau sering-sering datang
kerumah paman Tonghong dan ngobrol disana dengan
bibimu, pasti si anak dara akan nimbrung mengobrol. ia
anaknya tidak pemaluan, pendeknya kau lihat sekali saja
lantas bayanganpun tak dapat disingkirkan dari ketopak
matamu."
Kim Liong tertawa mendengar sang ayah demikian
memuji kecantikan si gadis.
Dalam hati Kim Liong berkata: "Biarpun ia cantik
seperti Yo Kui-hui, tidak nanti aku ketarik kalau
kepandaian silatnya dibawah aku."
Yo Kui Hui adalah perempuan cantik jaman dahulu,
kecantikannya sampai raja bertekuk lutut untuk
membikin girang si cantik.
nyonya Kauwcu sejak membicarakan soal perjodohan
sang cantik, tidak lagi meng-ungkit2 hingga Bwee Hiang
tenteram hatinya-
Rupanya sang ibu sudah merencanakan sesuatu untuk
membikin anak gadisnya menurut kehendaknya.
-oo0dw0oo-

Bab-03
MULAI pada suatu sore, udaranya cerah. ketika Bwee
Hiang dan ibunya sedang bercakap-cakap ditaman bunga
tiba-tiba dibikin kaget oleh suara yang menegur
"Bibi Tonghong, sungguh senang sekali kelihatannya
menikmati harumnya bunga diwaktu sore . . . ."
Bwee Hiang menengok. ia lihat yang menegur itu
adalah seorang muda berperawakan tinggi dan parasnya
cakap. tengah tersenyum kearahnya.
Terperanjat Bwee Hiang menghadapi senyuman
pemuda cakap yang baru dikenal itu. Tanpa merasa ia
juga bersenyum dan manggut kepada pemuda itu.
"Anak Liong, oh, kau yang datang, mari sini temani
bibi dan anak Hiang kongkouw," kata nyonya rumah
dengan roman girang menggapai pada si anak muda,
"Ibu, anak tidak kenal dengannya, biarlah aku masuk
saja." kata Bwee Hiang,
"Anakku, kau mau kemana, diam sini," kata sang ibu
seraya mencekal tangan Bwee Hiang dan ditarik untuk
duduk kembali.
Sementara itu Kim Liong sudah datang dekat dan
memberi hormat kepada nyonya rumah dan Bwee Hiang.
Tampak nyonya rumah manis budi terhadap tamu
mudanya.
"Anak Hiang, kenalkan ini Kim Liong, putera dari Tan
Pangcu yang kedua dan anak Liong kenalkan dengan
anak Hiang, puteri bibi yang barusan saja bertemu
kembali atas berkatnya Tuhan yang maha adil." demikian
nyonya rumah memperkenalkan dua anak muda itu satu
dengan lain-
Keduanya tampak manggutkan kepala tanda
perkenalan.
"Anak Hiang, anak Liong ini ibu pandang seperti anak
sendiri, maka kau jangan malu-malu bergaul dengannya,
Ia anak baik dan ibu suka padanya," berkata nyonya
rumah.
Bwee Hiang tidak menyahut, hanya anggukkan kepala,
Sementara Kim Liong hanya ketawa saja, tapi dengan
cara sopan.
Diam-diam Bwee Hiang mencuri lihat, untuk menegasi
wajahnya si anak muda, justeru Kim Liong sedang melirik
kepadanya, hingga sepasang mata berbentrokkan dan
cepat-cepat Bwee Hiang membalikkan kepalanya.
"Sungguh cakap anak muda ini. . . ." memuji Bwee
Hiang dalam hatinya. dan entah bagaimana dalam
hatinya berdebaran, mengingat perkataan sang ibu
bahwa ia akan dijodohkan kepada anaknya Tan Pangcu
dan justeru anak muda ini yang dimaksudkan.
Sementara itu bayangan Kwee In seperti yang
mengacungkan jari telunjuknya kepadanya,
mencemoohkan kelakuannya itu, hingga tanpa terasa
kedua pipinya si dara jelita menjadi panas lantaran
jengah.
Sebagai gadis dari kalangan hartawan tempo hari,
Bwee Hiang munkin main-main dan merasa kikuk
menghadapi pemuda tampan yang baru dikenalnya itu.
tapi sekarang ia sudah termasuk gadis Kang-ouw, maka
rasa kikuk itu hanya sebentaran saja sebab lantas ia
mulai tabah dan dapat berbicara dengan lancar dengan si
anak muda.
Kim Liong juga gerak geriknya sangat sopan dan ucap
katanya sangat hati-hati hingga Bwee Hiang makin
senang duduk mengobrol.
Melihat si anak dara demikian cantik dan lemah
lembut. Kim Liong meragukan, kepandaian silatnya yang
dikatakan tinggi. Pikirnya, memang gadis didepannya ini
sebabat kalau dijadikan isterinya, cuma belum tahu
kepandaiannya sampai dimana?
Tidak lama Kim Liong temani nyonya rumah dan Bwee
Hiang kongkouw lantas permisi pulang, katanya ada
tugas untuk membantu pekerjaan ayahnya. sopan santun
gerak- geriknya si anak muda, menarik perhatian si dara
jagoan.
"anak Hiang, itulah pemuda dengan kamu aku hendak
jodohkan," berkata sang ibu setelah Kim Liong berlalu
dari depan mereka.
"anaknya sih boleh juga. cuma sayang aku sudah
dimiliki adik In," sahut Bwee Hiang dengan tidak ragu-
ragu lagi.
Nyonya rumah merengut. " Lagi- lagi kau sebut adik
In, memangnya Bocah itu bisa menjamin kebutuhanmu
dikemudian hari?" omel sang ibu.
"ibu, kau jangan menghina adik In," bantah sang
puteri. "Ia benar masih Bocah, tapi ia sudah matang
pikirannya seperti orang tua. kepandaiannya susah
diukur, tidak ada anak yang demikian sakti seperti
dirinya."
Ceng Hoa djeberkan bibirnya, hingga Bwee Hiang
tidak senang,
Melihat anaknya seperti yang tidak senang, cepat-
cepat sang ibu rubah air mukanya dan ramah-tamah lagi
sebagaimana biasa,
Ceng Hoa masih belum putus akal. Diam-diam ia suruh
Kim Liong lebih sering datang dan temani Bwee Hiang
kongkouw. Diwaktu bercakap-cakap. sering nyonya
rumah meninggalkan kedua anak muda itu, seakan-akan
memberi kesempatan untuk mereka bergaul lebih leluasa
lagi.
Bwee Hiang memang senang bergaul dengan anak
muda yang sopan santun itu, tapi hatinya tetap pada
Kwee In. Ia melayani Kim Liong kongkouw hanya untuk
membikin ibu dan ayah tirinya senang saja.
Setelah beberapa kali dapat kesempatan berbicara
dengan gadis cantik itu, Kim Liong mulai berani
memancing-mancing kepandaiannya Bwee Hiang. Ia
kata: "Adik Hiang. kabarnya kepandaian silatmu sangat
tinggi, siapa gurumu?"
Bwee Hiang ketawa manis sambil menatap wajah
sipemuda yang tampan-
Kim Liong mengira si nona ketarik dengan
ketampanannya, diam-diam ia merasa sangat bangga
diawasi oleh dara jelita itu. Ia berkata pula "Adik Hiang,
sungguh sedikit sekali wanita yang berkepandaian tinggi
seperti kau, sungguh aku harus menghatur selamat
kepadamu,"
"Engko Liong," sahut si gadis bersenyum. "Aku anak
kampungan, mana mempunyai kepandaian setinggi yang
kau katakan- Mungkin Ayahku yang mengatakan
kepadamu. ini semua bohong, aku seorang gadis biasa."
"jangan kau terlalu merendah, adik Hiang," merayu
Kim Liong. "Mungkin aku yang menjadi lelaki bukan
tandinganmu. Hahahaha...." ia tertawa perlahan sopan-
Bwee Hiang tidak menjawab, hanya ia bersenyum manis.
Menampak gerak-gerik Bwee Hiang yang demikian
menarik hatinya. gugurlah syarat yang ditetapkan oleh
Kim Liong untuk memilih seorang isteri yang pandai silat
merangkap pandai sastra. Ia kelihatannya rela
mengambil Bwee Hiang meskipun ilmu silatnya tidak
seberapa tinggi.
Makin lama makin ketarik hatinya oleh si dara jelita.
makin gencar kunjungan Kim Liong kerumahnya
Tonghong Kin, Tuan dan nyonya rumah senang melihat
gerak-gerik dua anak muda itu seperti sudah dapat kata
sepakat.
Mereka memberi keleluasaan untuk muda mudi itu
bergaul lebih rapat. maka sekarang jarang sekali nyonya
rumah menemani mereka kongkouw, Tampak setiap kali
Kim Liong datang yang menemani pemuda itu adalah
Bwee Hiang, si cantik jagoan.
Bwee Hiang bukan tidak memikirkan halnya Kim Liong
yang sudah terjirat oleh gerak geriknya yang
mempesonakan. Diam-diam dalam hatinya merasa
kasihan- Kalau saja hatinya belum dimiliki oleh Kwee In,
pasti ia tidak keberatan untuk menjadi kawan hidup dari
pemuda cakap dan sopan santun itu.
Sementara itu Kim Liong sudah mabuk oleh
kecantikannya Bwee Hiang.
Ketika untuk kesekian kalinya ia datang berkunjung.
Bwee Hiang menolak ketika ibunya suruh menyambut
pemuda itu. Katanya: "ibu aku bosan melayaninya, sebab
kunjungannya belakangan ini makin gencar saja."
"anak Hiang, kau jangan begini, Anak Liong sudah
setuju benar padamu, makanya kedatangannya sering
sekali. Aku harap kalian nanti terangkap jodoh."
"ibu" memotong Bwee Hiang. "Kim Liong adalah satu
anak baik dan sopan, aku suka padanya..."
"Nah, sudah suka, mau apa lagi?" ibunya lantas
memotong perkataan Bwee Hiang yang belum habis,
hingga si nona jadi melengak.
"Tapi ibu, aku tidak berdaya, sebab diriku sudah
menjadi miliknya adik In..."
"Lagi-lagi adik In, adik In Bocah itu masih ingusan
apanya yang diharap?"
"Ia anaknya Lamhay Mo Lie Sie Lan Ing dan Kwee Cu
Gie Tayhiap"
Tiba-tiba saja badannya Ceng Hoa menggigil
mendengar perkataan sang anak. Sama sekali kata-kata
seperti diatas tidak diduga keluar dari bibirnya Bwee
Hiang.-Ia menatap wajahnya sang puteri dengan badan
bergemetaran-
"ibu, kau kenapa, apa sakit?" tanya Bwee Hiang heran.
"anak Hiang, aku tidak sakit," jawab sang ibu dengan
suara parau,
"Tidak sakit, kenapa dengan mendadak saja
gemetaran?"
"Anak Hiang. dengan menjebut namanya Sie Lan Ing
dan Kwee Cu Gie membikin ibumu jadi ketakutan,
mereka adalah tuan penolong dari ibu dan ayahmu...."
Bwee Hiang heran- Ia berkata lagi: "Kalau ibu merasa
ayah dan ibunya adik In ada tuan penolong dari ibu dan
Ayah. kenapa ibu menghina adik In?"
Ceng Hoa geleng2 kepala, tidak dapat ia menjawab
perkataan anaknya.
Bwee Hiang tidak mendesak, Ia rupanya merasa
kasihan kepada ibanya yang tiba2 saja kaget mendengar
disebutnya nama Lamhay Mo Lie dan Kwee Cu Giee,
maka Bwee Hiang lalu keluar menemui Kim Liong.
Setelah mereka omong-omong sebentar, Kim Liong
mengajak si gadis jalan2 ditaman bunga sebab disana
hawanya adem dan menyenangkan Untuk bercakap-
cakap. Bwee Hiang tidak keberatan dan mengikuti si-
anak muda yang jalan duluan-Kim Liong kegirangan
nampak si gadis tidak menampik undangannya.
Bwee Hiang setelah memetik beberapa tangkai
kembang dan dipegang ditangannya ia menghampiri Kim
Liong yang sudah duduk menantinya.
"Engko Liong, kau sering-sering datang ada apa sih?"
tanya si gadis ketawa.
Kim Liong agak berani sekarang, mendengar ditanya
ia tidak lantas menyahut, sebaliknya menatap pada
wajah si gadis.
Bwee Hiang tidak marah melihat anak muda itu
mengagumi wajahnya.
"Adik Hiang, kau cantik sekali sore hari ini." memuji
Kim Liong.
"Ah, hanya tukaran pakaian baru saja masa dikatakan
cantik," sahut si gadis.
"Adik Hiang," suaranya gemetar, menyusul tangannya
telah memegang tangan Bwee Hiang diatas meja yang
menggenggam tangkai bunga.
Bwee Hiang tidak menarik tangannya yang dipegang
dan dielus-elus si anak muda. Malah kasih lihat
ketawanya yang manis. Ia menanya: "Kau kenapa, engko
Liong?"
" .... Adik IHiang." melandjutkan Kim Liong, tangannya
memegang lebih erat pada tangan Bwee Hiang yang
halus laksana sutera. "Aku ingin ambil kau sebagai kawan
hidupku, maukah kau, adik Hiang?"
Bwee Hiang tercengang mendengar perkataan Kim
Liong yang tidak pakai tedeng aling-aing.
Ia tidak marah, malah ketawa manis. justeru
ketawanya yang bikin anak muda itu lebih bergejolak
hatinya menantikan jawaban si dara manis.
"Engko Liong, apakah kau sudah menimbang-nimbang
matang untuk mengambil aku gadis kampungan menjadi
teman hidupmu?" tanya si nona, Ia membiarkan
tangannya dipegang erat oleh si anak muda yang sudah
kehilangan pegangan karena kecantikan Bwee Hiang.
"Adik Hiang, itu keputusanku yang sudah tetap ....
"sahut Kim Liong, seraya tangannya yang memegang
tangan Bwee Hiang bergerak. maksudnya mau
mengangkat tangan si nona yang menempel diatas meja.
Ia kira dengan mudah ia mengangkat dan perlahan-
lahan menarik si nona, untuk duduk didekatnya, namun.
tangan si nona tetap nempel dengan meja, sedikitpun tak
bergerak. Kim Liong heran. Ia kerahkan tenaganya, tapi
tetap tangan Bwee Hiang tak bergerak.
Pemuda itu lalu mengawasi si nona yang sedang
ketawa kearahnya.
"Kau kenapa, engko Liong?" tanya Bwee Hiang.
"Tanganmu, adik Hiang," jawabnya, malu-malu.
"Kenapa tak bisa diangkat, seperti menempel dengan
muka meja?"
"Nah, inilah engko Liong," berkata Bwee Hiang
ketawa. "Asa kau dapat mengangkat tanganku tidak
menempel pada muka meja, pengharapanmu dapat
terkabul. Aku rela menjadi kawan hidupmu, Hihihi . . "
Si nona ketawa, sebaliknya Kim Liong rasakan
mukanya seperti ditampar. Merah seluruh mukanya yang
putih cakap dan peluh entah datang dari mana telah
membasahi sekujur badannya. Ia tak mengira si nona
menguji dirinya.
Ia meragukan kepandaiannya si gadis, kini ia dapat
kenyataan bahwa Bwee Hiang benar-benar bukan gadis
sembarangan dan berkepandaian sangat tinggi. Buktinya,
ia sudah kerahkan tenaga dalamnya masih belum dapat
mengangkat sedikitpun tangannya si gadis yang
menempel pada permukaan meja. Ia malu. Tapi ia masih
belum putus harapan.
"Adik Hiang, aku tahu kau menolak maksudku, maka
kau menolak secara ini," Kim Liong berkata dengan tak
malu-malu. Bwee Hiang bersenyum.
"Sekarang begini saja," kata si gadis, "Nah, ini lihat,
aku pegang ini tangkai bunga. Kau coba patahkan
tangkai yang sekecil ini yang dijepit oleh dua jariku, kalau
kau dapat mematahkannya aku rela menjadi isterimu
yang baik. Nah, cobalah, jangan malu-malu"
Kim Liong pikir: "Tangkai bunga sekecil itu, masa aku
tak dapat patahkan? Untuk apa aku belajar lweekang dan
ilmu silat? Gadis ini benar-benar sombong, kalau tak
dikasih lihat kepandaianku, mana ia bisa takluk untuk
menjadi isteriku?"
Setelah berpikir demikian, segera Kim Liong berkata:
"Baiklah, kau jepit yang kencang, aku mulai mematahkan
ini"
"Tak usah kau nasehatkan, aku sudah tahu bagaimana
aku menjepit tangkai bunga supaya jangan patah," sahut
Bwee Hiang sambil ketawa cekikik,
Panas hatinya Kim Liong, segera juga ia meraba
tangkai bunga yang kecil itu dan dikerahkannya
tenaganya untuk mematahkan, untuk keheranannya
tangkai bunga itu berdiri tegak tak bergeming sedikit
juga, apa lagi menjadi patah.
Ternyata lwekang Bwee Hiang diatas dari Kim Liong,
ia membuat si pemuda putus harapan.
Meskipun berdegingan mengerahkan tenaganya,
tangkai bunga itu tetap berdiri tegak dalam jepitan dua
jarinya si nona yang kuat.
"Adik Hiang aku menyerah." kata si anak muda,
setelah tidak berhasil dengan usahanya. Putuslah
pengharapannya untuk memperisteri Bwee Hiang yang
cantik.
"Engko Liong, ini hanya urusan sepele saja yang aku
perlihatkan padamu," berkata si nona, ketawa. "Tapi
orang yang memiliki diriku kepandaiannya seribu kali
mentakjubkan dari pada apa yang kau barusan alami.
Dari itu, engko Liong, bukannya aku tidak menyambut
kebaikanmu atas diriku. oleh karena aku sudah ada yang
punya , . ."
Bwee Hiang berkata sambil melirik dan melemparkan
senyumannya yang mendebarkan jantungnya si pemuda
yang barusan kaget mendengar perkataan si nona.
Pikirnya. pantas Bwee Hiang begitu kalem dan biarkan
tangannya dipegang erat2 sebab kepandaiannya diatas
dari dirinya. Dan pantas si nona tidak mau jadi isterinya,
kalau begitu sudah ada yang punya? Sipemilik, menurut
katanya si gadis kepandaiannya seribu kali lebih atas dari
dirinya (Bwee Hiang) entahlah kepandaian apa yang
orang itu ada punya, ingin sekali ia berkenalan dengan
orang itu.
"Adik Hiang, aku senang sekali kalau calon suamimu
ini nanti diperkenalkan kepadaku yang tidak berguna,"
berkata Kim Liong.
"Sudah tentu, asal kami ada kesempatan tentu kami
mampir di tempat engko Liong," sahut Bwee Hiang
ramah-tamah.
"Adik Hiang, aku permisi . ." kata Kim Liong seraya
bangkit dari duduknya. Pada saat itulah kelihatan Ceng
Hoa dengan gugup datang kepada mereka,
"Ada apa, bibi?" tanya Kim Liong mendahului Bwee
Hiang yang hendak menanya.
"Celaka, celaka . , . " katanya nyonya rumah gagap.
"Sim Liang dan Sim Leng datang mencari ribut dan diluar
sedang bertempur dengan Kauwcu ... oh, anak Hiang,
anak Liong, bagaimana ini?" ujar nyonya rumah
ketakutan setengah mati. Bwee Hiang kaget juga.
Ia menanya: "Siapa itu Sim Liang dan Sin Leng?"
tanyanya.
"Mereka adalah dua orang busuk yang sudah dipecat
dari perkumpulan, mereka datang mencari ribut untuk
merebut kedudukan Kauwcu," menerangkan Ceng Hoa.
"anak Hiang, bagaimana ini, oh, anak Liong tolong
pamanmu diluar sedang berhantam dengan mereka"
Kim Liong pikir ada kesempatan untuk memamerkan
kepandaiannya pada Bwee Hiang, maka dengan tidak
kata apa- apa lagi tubuhnya melesat dan pergi melihat
pertempuran,
"Ibu, kau jangan menangis. Tunggu aku nanti akan
bereskan urusan itu," menghibur Bwee Hiang.
"Anak Hiang, mereka kepandaiannya tinggi, apa kau
sanggup mengusir mereka?"
"Itu nanti kita lihat," sahut Bwee Hiang, seraya
memimpin ibunya masuk rumah.
Ia sendiri kemudian ringkaskan pakaiannya dan
menyusul keluar. Disana tampak dua orang kakek tengah
bertempur dengan Tonghong Kin dan Kim Liong.
Sepasang kakek itu gagah sekali, gesit luar biasa,
hingga lawannya kelihatan kewalahan. Pamannya
(Tonghong Kauwcu) tampak sudah keteter, sebaliknya
Kim Liong masih gesit melayani seorang kakek.
Hebat pertempuran itu, sebab debu dan batu kerikil
pada beterbangan saking kerasnya mereka
mengeluarkan tenaga dalam untuk menjatuhkan
lawannya.
Bwee Hiang lihat Kim Liong hanya pemulaan saja
kelihatannya gesit dan dapat mengimbangi serangan-
serangan lawan, perlahan-lahan ia tampak keteter, Bwee
Hiang kerutkan alisnya yang lentik.
Tiba-tiba saja ia lompat kedalam kalangan
pertempuran dan membentak.: "Berhenti"
Kalangan pertempuran ini dikurung oleh banyak orang
Ngo-tuo-kauw yang sudah siap sedia akan melakukan
pengeroyokan jikalau melihat Kauwcunya dikalahkan-
Melihat Bwee Hiang dengan lompatan tinggi dan tancap
dalam kalangan pertempuran, bukan main mereka
kagum dengan kapandaiannya si gadis cantik.
Mereka kasak kusuk membicarakan siapa adanya si
gadis? yang sudah tahu, lantas membisikkan kawannya
bahwa anak gadis itu ada putrinya Tonghong Kauwcu.
Mereka menjadi kegirangan mendapat tahu Bwee Hiang
adalah gadisnya sang Kauwcu, mereka ber-sorak2 ramai
memberi semangat untuk pihaknya.
Bentakan Bwee Hiang tadi ternyata ada sangat hebat,
sebab suara bentakannya tidak sampai ditelan sorak-
sorai tadi, malah kedengaran tegas oleh mereka yang
sedang betempur sengit. Kedua pihak lantas pada
mundur dan mengawasi kepada Bwee Hiang. Tiba-tiba
saja kedengaran Sim Liang dan adiknya ketawa
terbahak-bahak.
"Aku kira siapa, tidak tahunya budak ingusan datang
mengadap bisul Hahaha..." Sim Liang tertawa menghina
kepada Bwee Hiang.
J ago betina kita tidak marah dikatakan budak ingusan,
ia malah bersenyum manis.
"kedua kakek ini sebenarnya ada urusan apa
membikin ribut dalam markas Ngo-tok-kauw? sungguh
aku si budak ingusan kepingin tahu"
"Hahaha, ingusmu belum bersih diseka, untuk apa
turut campur urusan orang tua?" bentak Sim Leng yang
labih berangasan dari saudara tuanya,
"anak Hiang, mereka hendak merebut kedudukan
Kauwcu," menerangkan Tonghong Kauwcu yang
napasnya masih memburu barusan bertempur dengan
Sim Liang.
"Anak kecil untuk apa turut campur?" bentak Sim
Liang nyaring.
"Memangnya hanya kakek-kakek saja yang ada
urusan, sedang anak kecil tak boleh tahu urusan? Hm
Kalau kalian tahu urusan juga tidak berhati jelus dan
dengki, sehingga kedudukan Kauwcu mau dirampas.
Memangnya, dengan kepandaian apa kalian datang
mengunjuk romanmu yang tidak enak dilihat"
J ago betina kita mulai nasping rupanya.
Dua kakek itu melengak disindir oleh Bwee Hiang.
"Anak kecil, kau enyah" bentak Sim Leng, seraya
mengebaskan lengan bajunya yang gerombongan,
Serangkum angin telah menyerang pada Bwee Hiang,
keras tekanan angin itu, menurut mestinya Bwee Hiang
terpelanting dan tidak bisa bangun lagi, Tapi untuk
kekagetannya dua kakek itu, mereka, melihat Bwee
Hiang berdiri tegak dan mentertawakan kepadanya,
sikapnya yang lucu mencemoohkan mereka. Bukan main
gusarnya Sim Leng nampak sikapnya si nona yang
menghina,
Segera ia menghampiri sigadis dan membentak: "Kau
tidak mau menyingkir? Hm jangan sesalkan kalau
kakekmu bikin kau tidak ada lubang untuk lari "
Berbareng dengan kata- katanya Sim Leng sudah
menyerang hebat, hingga terdengar suara angin
pukulannya bergemuruh, Serangan itu mengarah dada.
mudah diperhitungkan si gadis akan remuk dadanya dan
mati seketika itu juga. Tapi diluar dugaannya, Bwee
Hiang teiah menghilang dari depannya, Ia gelabakan
mencari si nona,
Serr...! suara ketawa ramai, melihat Sim Leng
celingukan mencari Bwee Hiang. sedang si nona lagi
umpatkan diri dibelakangnya.
"Budak hina . , . Au " seru Sim Leng seraya
memegangi kupingnya yang kena disentil dari belakang
oleh Bwee Hiang.
"Kau berani mencaci nonamu, rasakan ini" kembali
Sim Leng rasakan kuping yang satunya kena disentil si
nona, Bukan main sakitnya, sedang yang barusan disentil
masih belum hilang sakitnya.
"Kau berani permainkan kakekmu" bentak Sim Leng,
segera ia berbalik tubuh dan menyerang dengan tenaga
penuh, kembali ia hanya menyerang sasaran kosong,
Bwee Hiang kemhali sudah berada dibelakangnya.
Bwee Hiang telah menggunakan tipu sang kumbang
permainkan bunga, ajaran Kwee in untuk mengocok
orang yang sombong.
Dipermainkan pergi datang cara demikian membuat
Sim Leng kewalahan, hampir mewek ia saking
jengkelnya. Sementara itu penonton tidak henti-hentinya
bersorak ramai dan mencemoohkan si kakek yang sudah
mati kutu dikocok oleh Bwee Hiang,
Melihat saudaranya dibikin punya suka oleh si gadis,
hatinya Sim Liang menjadi panas. Tapi ia ragu-ragu
untuk turun tangan mengeroyok si gadis, yang tentu
akan ditertawakan oleh orang banyak. Dua kakek
mengeroyok seorang gadis jelita, mana ada aturan?
Tapi lama- lama melihat adiknya dikocok. Sim Liang
tak tahan, dengan menebalkan muka ia lompat melabrak
Bwee Hiang.
Tabrukan itulah bukan main-main,gerakan yang
dinamakan Kie-eng-pok-touw atau Elang lapar
menyambar kelinci, kalau sasarannya kena pasti akan
terluka parah. Sambaran yang dibarengi dengan tenaga
lwekang yang kuat, siapa juga tidak bisa tahan,
Namun murid si jago cilik ini tampak tidak takut. Ia
melejit ketika ditubruk Sim Liang, hingga si kakek
menubruk angin, Sebelum ia perbaiki posisinya,
pinggulnya ditendang oleh Bwee Hiang, hingga si kakek
terpelanting jatuh. Tapi ia gesit, dengan cepat sudah
bangun lagi pasang kuda-kuda.
Gerrr kembali orang ketawa ramai melihat si kakek
ditendang jungkir balik.
Tonghong Kauwcu kagum akan anak tirinya yang
kosen itu, sementara Kim Liong yang tadi bermaksud
mendemonstrasikan kepandaiannya didepan si gadis,
menjadi tertegun dibuatnya menyaksikan kepandaiannya
si dara jelita yang menawan hatinya.
Ia menghela napas. Kim Liong menghela napas,
sebaliknya, dua saudara Sim telah mulai beringas
menghadapi Bwee Hiang. Si nona sebaliknya tidak
kelihatan gentar.
"Dua kakek manis," menyindir Bwee Hiang. "Sebaiknya
kalian lekas enyah dari sini, masih ada tempo untuk
kalian lari membawa ekor kalian, sebaliknya kalau
bandel, jangan salahkan nonamu akan kasih hajaran
pada kalian"
"Hm, siapa takut padamu" bentak Sim Leng disusul
dengan suara wut wut beberapa kali, itulah suara angin
dari si kakek yang meluap amarahnya,
Dengan lincah sekali Bwee Hiang telah berkelit dari
serangan-serangan dahsyat itu.
Tonghong Kauwcu sampai geleng-geleng kepala
beberapa kali melihat puterinya demikian lihay, demikian
lincah menghindarkan serangan hebat dari si kakek.
Bwee Hiang sebagai muridnya sudah demikian hebat
kepandaiannya, entahlah yang menjadi gurunya, pikir
Kauwcu dari Ngo-tok-kauw, pasti kepandaiannya berlipat
ganda.
Entah siapakah yang menjadi gurunya Bwee Hiang?
tanya Tonghong Kauwcu dalam hati kecilnya. Sementara
itu jalannya pertempuran tampak makin seru, Bwee
Hiang saban-saban lolos dari gencetan kedua kakek yang
kalap itu.
"Percuma kalian sudah setua ini tidak punya guna,
sampai Bocah ingusan saja tak bisa menangkapnya.
Hahahihi..." goda Bwee Hiang seraya berkelit dari
serangan Sim Leng yang makin lama kakek itu makin
bernapsu untuk mencekik si gadis.
"Anak ingusan, jangan sombong" teriak Sim Liang
gusar. "Apa kau kira bisa lolos dari tangan kami? Hm.
jangan kau mimpi. "
"Nah, inilah mimpi" seru Bwee Hiang, disusul oleh
suara plak plok dua kali dan kontan Sim Liang berdiri
tertegun, seraya pegangi pipinya yang kena ditampar
oleh si nona, Hebat tamparan itu, sebab beberapa buah
giginya Sim Liang telah lolos dari akarnya, meluncur ikut
keluar ketika darah dimulutnya disemburkan.
"Kurang ajar, kau berani tampar kakekmu?" bentak
Sim Leng, adiknya, melihat saudaranya telah dikerjai oleh
si gadis.
"Ini bagianmu" seru Bwee Hiang, berbareng suara
plak plok terdengar keras. dan si kakek itu juga menjadi
puyeng ditampar si nona. Matanya dirasakan gelap dan
hampir ia jatuh terkulai, manakala tidak malu melihat ada
banyak orang yang nonton.
"Sungguh hebat" memuji Tan Pangcu, yang juga
menyaksikan pertempuran itu, belum lama ia datang
setelah menerima laporan dari orangnya bahwa dimarkas
Ngo-tok-kauw ada huru-hara ditimbulkan oleh dua kakek
she Sun.
Kim Liong si wajah tampan diam-diam merasa rendah
dirinya, melihat kepandaiannya Bwee Hiang demikian
rupa. Dua kakek yang kepandaiannya begitu tinggi dapat
dipermalukan seenaknya saja, Bentar-bentar ia seperti
memimpikan memeluk rembulan untuk dapatkan Bwee
Hiang yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari dirinya.
Tanpa merasa ia jadi menghela napas. Sementara itu
pertempuran masih berjalan seru.
Dua saudara she Sim itu sangat penasaran kepada si
jelita, Sebagai jagoan yang sudah ada nama, masa harus
terjungkal ditangannya seorang gadis tak ternama?
Sungguh keterlaluan, pikir mereka. Bagaimana juga
mereka harus dapat membekuk Bwee Hiang, barulah
mereka tidak turun merek. Tapi apa daya? Si jelita
sangat tangkas dan kosen sekali, malah sampai sebegitu
jauh ia belum balas menyerang dan hanya melawan
dengan kegesitan dadanya saja. Diam-diam mereka
kagumi ginkang dari si nona, tapi dasar kakek- kakek
yang tidak tahu gelagat, meskipun sudah tahu si nona
ada lebih unggul, masih juga kepingin dapat mencekik
batang lehernya Bwee Hiang.
Penonton tegang hatinya, meskipun ber-ulang2 sorak
ramai memberi semangat kepada si nona. Mereka
kuatirkan Bwee Hiang, meskipun saban-saban dapat
menghindarkan diri dari pukulan-pukulan maut kedua
kakek itu, kenyataannya si nona terus terdesak.
Melihat sebegitu lama belum juga dapat mencekik si
jelita, dan saudara she Sim itu benar2 penasaran- Budak
ingusan yang mereka katakan itu, ternyata memliki
kepandaian yang mempesonakan mereka.
"Suko, kalau kita harus roboh ditangan si Bocah
ingusan, rasanya benar-benar penasaan sekali-" berkata
Sim Leng kepada saudara tuanya.
"jangan kasih ia banyak bertingkah, maju dan desak
terus" sahut sang kakek.
"Kakek- kakek tidak tahu diri." bentak Bwee Hiang.
"Kalian masih memikirkan dapat menangkap aku? Lihat
nanti nonamu bikin kau lari tunggang-langgang"
"Hahaha, sombongnya jadi," jengek Sim Leng ketawa
berkakakan.
Meskipun ketawa ternyata si kakek tidak kendorkan
serangan- Dalam sengitnya mereka telah mengeluarkan
ilmu pukulan Simpanannya yang dinamai "Kam-kauw-
ciang" atau ilmu pukulan GUnting emas yang mereka
ciptakan sendiri,
Bwee Hiang melihat gelagat tidak mengUntungkan dan
pikir sudah cukup menggocek kedua kakek itu, maka ia
robah cara bersilatnya, Kini ia bergerak lebih gesit dan
balas menyerang seperti kilat, hingga kedua kakek itu
jadi gelabakan-
"Kakek kakek dua mengepung satu Bocah ingusan,
keterlaluan kalau sampai begitu lama hanya menyerang
sasaran kosong melulu. Hihihihi . ,."
Bwee Hiang menertawakan lawannya.
Makin panas mereka dijengeki si nona. inilah memang
taktik Bwee Hiang, makin panas hati sang lawan makin
membuka banyak lowongan untuknya merobohkan,
karena sengitnya mereka menyerang menjadi agak
lengah melakukan penjagaan-
Taktik si nona benar saja menjadi kenyataan. Tampak
Sim Liang gerakan tangannya agak dipentang, seperti
gunting. kemudian kedua tangannya menyambar
pinggangnya Bwee Hiang yang langsing. ia menggunting
itulah gerakan yang dinamai gunting emas menggunting
pohon Liu, salah satu jurus dari Kim-kiauw-ciang yang
ganas, sebab sasarannya kalau terkena jitu, pinggang
bisa patah dan sang korban menemui ajalnya,
Bwee Hiang tahu serangan berbahaya itu, ia
menjejakkan kakinya dan mencelat keatas, hingga Sim
Leng menggunting angin-
Bwee Hiang melambung tinggi bukan hanya
melambung begitu saja, sebab kakinya berbareng
menendang pergelangan tangan Sim Liang yang hendak
menCengkeram mukanya.
Hebat akibatnya, Sim Liang harus merasakan
pergelangan tangannya yang kena tendang tadi nyeri
bukan main- Sampai tubuhnya bergemetaan. Untung
tidak mengenakan jalan darah yang-kek pada
pergelangannya itu, kalau kena, tidak ampun lagi ia bakal
bediri bagaikan patung
"Hehe, budak ingusan Kau mau naik kelangit?"
mengejek Sim Leng, melihat Bwee Hiang tubuhnya
melambung tinggi.
Ketika tubuh si nona melayang turun, Sim Leng
sambut dengan Pek-kong-ciang pukulan udara kosong.
Baik juga Bwee Hiang sudah mendapat latihan sempurna
dari guru ciliknya. Dengan meminjam tenaga sambaran
angin pukulan udara kosong Sim Leng ia melambung
lebih tinggi, indah sekali gayanya si nona dalam posisi
demikian- Penonton kontan bersorak ramai sekali.
"Hehe, baru tahu ia lihaynya si kakek" Sim leng
tertawakan Bwee Hiang yang tubuhnya mumbul lebih
inggi ketika menerima serangannya.
Maksud Sim Leng akan susulkan lagi pukulan udara
kosongnya, kapan tubuhnya si nona sedang meluncur
turun. la tidak mengira Bwee Hiang telah menggunakan
ilmu Cian-kin-tui, membuat berat badannya ribuan kati,
hingga tenaga meluncurnya dari udara menjadi lebih
cepat dan diluar perhitungannya si kakek.
Ketika Sim Leng siap dengan susulan pukulannya,
tiba-tiba dibuat kaget ujung sepatunya si nona yang
meluncur turun telah mencium jidatnya, hingga matanya
berkunang-kunang pusing dan ia tinggal manda saja
ketika Bwee Hiang susulkan tamparannya yang kedua
kali melanda pipinya. Giginya yang sudah tidak tinggal
seberapa kembali pada copot dan berlumuran darah pula
mulutnya.
Dalam keadaan demikian Sim Leng masih dapat
bergerak seperti banteng mengamuk, ia menyerang
kalang kabut sekenanya, hingga jago betina kita ketawa
cekikikan, melihat tingkah lakunya si kakek seperti orang
edan.
Sim Liang, sang Toako, menjadi gemas melihat
adiknya dipermainkan Bwee Hiang,
Untuk ia menyerang lagi si nona tidak unggul, sebab
bisa- bisa ia buat lebih malu lagi oleh si jelita ditempat
banyak orang itu.
"Sute, sudah, sudah, kita terima kalah" serunya pada
Sim Leng yang masih berputar mencari lawannya.
Sim Leng hentikan gerakannya tatkala mendengar
perkataan sang kakak. ia berdiri menjublak sambil
matanya mengawasi Bwee Hiang dengan penuh
kebencian-
Lucu kalau melihat keadaan Sim Leng pada saat itu.
Matanya yang beringas mengawasi si jelita diiring oleh
darah yang meleleh dari bibirnya, akibat tamparan si
nona yang paling belakang.
"Nona, kau sebenarnya siapa?" tanya Sim Liang lunak.
Bwee Hiang juga tidak mau berlaku keliwatan nampak
orang sudah berlaku ngalah, maka ia bersenyum ketika
ditanya si kakek. la menjawab: "Aku seorang tidak
ternama, untuk apa Lopek mengetahui tentang diriku?"
"Tapi nona kecil, kepandaianmu hebat sekali," memuji
Sim Liang. "Aku tahu kau barusan hanya main-main saja
melayani kami, kalau dengan sesungguhnya, terang
siang-siang kami sudah kena dirobohkan, si Nona kecil,
siapa gurumu yang terhormat?"
Bwee Hiang ketawa ngikik ditanya siapa gurunya?
"Kenapa kau tertawa, nona kecil." tanya Sim Liang
keheranan.
"Kalau aku sebutkan nama guruku, barangkali kau
tidak kenal Lopek." sahut si nona.
"Kami sudah berusia lanjut, dimana-mana banyak
kawan dan lawan, pasti akan kenal dengan gurumu yang
mulia, nona," berkata pula Sim Liang yang ngotot
kepingin tahu siapa gurunya Bwee Hiang.
"Guruku hanya seorang Bocah ingusan saja, kalau
sebutkan kau akan mentertawakan tidak sudahnya,"
sahut Bwee Hiang yang tampaknya sangat pelit untuk
menyebutkan gurunya, atau memang ia hendak
menggodai si kakek.
Sim Liang dan saudaranya melengak mendengar si
jelita berkata bahwa gurunya ada seorang Bocah
ingusan- Pikirnya: "Hm kau mau main gila terhadap
orang tua? Lihat, bukan saja kau nanti kami bekuk
batang lehernya, juga gurumu"
Meskipun dalam hati berpikir demikian Sim Liang tidak
kentarakan diwajahnya. ia tetap lunak dan ramah tamah,
"Nona, kepandaianmu sudah begitu hebat, tentu
gurumu lebih hebat lagi, coba sebutkan nama gurumu,
pasti kami orang tua kenal padanya," mendesak Sim
Liang, Bwee Hiang ketawa- ketawa, seperti yang tahan
harga. J jengkel kelihatan dua kakek itu.
"anak Hiang, tidak apa, kau sebutkan saja nama
gurumu" berseru Tonghong Kauwcu dipinggiran, melihat
puterinya seperti belum puas menggodai diri kakek itu.
Bwee Hiang anggukkan kepala. ia menatap wajahnya
kedua kakek, yang berdebaran hatinya akan mendengar
disebutkan namanya guru si jelita.
"Kalian jangan mentertawakan padaku, kalau nanti
aku sebutkan nama guruku, ya" berkata Bwee Hiang
seraya ketawa ngikik.
"Tidak. oh, tidak. masa kami mentertawakan guru
nona," sahut Sim Liang,
"Baiklah, kalian dengar, guruku adalah, Hek-bin Sin-
tong." kata Bwee Hiang ketawa manis kepada dua kakek
itu,
Bwee Hiang mengira bahwa kedua kakek itu akan
mentertawakan menyebut nama gelaran si jago cilik
Kwee In, tidak tahunya malah sebaliknya. si jelita
bengong, nampak kedua kakek itu tubuhnya,
bergemetaran dan lemas lututnya seperti hendak
terkulai,
"Kalian kenapa?" tanya si nona heran.
"Nona..." kata Sim Liang agak parau suaranya, "Apa
benar gurumu Hek-bin sin-tong?"
"Kenapa aku harus membohongi kalian?" sahut Bwee
Hiang wajar.
"Nona, aku tidak berani mengganggu pula padamu,,,"
berkata Sim Liang, seraya tarik tangan adiknya dan
berlalu dari situ tidak mengatakan apa-apa lagi,
Semua orang menjadi heran atas kelakuannya dua
kakek itu, hanya Tonghong Kauwcu yang tertawa
berkakakan nampak dua kakek itu pergi dengan begitu
saja, seperti ketakutan melihat momok.
Bwee Hiang juga jadi kebingungan- ia heran ayah
tirinya ketawa berkakakan, maka ia lalu menanya: "Ayah
kenapa kau tertawa begitu enak?"
"anak Hiang, aku tertawa dua kakek itu," sahutnya
dengan masih ketawa,
"Memangnya kenapa?" tanya si nona kepingin tahu,
"Mereka takut dengan bayangannya sendiri
mendengar kau sebut namanya Hek-bin Sin-tong."
"Hek-bin Sin-tong..." Bwee Hiang membatin. hatinya
senang tiba-tiba dan merasa bangga. sebab gelaran sang
adik kecilnya demikian berpengaruh sehingga membuat
dua kakek kosen itu ciut nyalinya.
Tan Pangcu merasa heran dengan kesudahan
pertempuran itu, lebih heran pula mendengar kata-
katanya sang Kauwcu bahwa dua kakek itu dibikin ter-
birit2 oleh namanya Hek-bin Sin-tong, maka ia lalu minta
keterangan: "Tong hong-heng begitu perkasa,
bagaimana sih duduknya perkara?"
Tonghong Kauwcu kembali tertawa ter-bahak2,
setelah itu ia lalu menceritakan kepada Tan Pangcu
dengan singkat bagaimana dua kakek itu dibikin tidak
berdaya oleh Kwee In ketika si Bocah menolongi dirinya
dari ancaman dua kakek itu.
Sekarang juga Bwee Hiang baru tahu, kalau adik
kecilnya sudah pernah menghajar dua kakek itu,
makanya mereka jadi ketakutan ketika ia menyebutkan
gelarnya sang adik kecil.
Diam-diam ia merasa bangga akan adik kecilnya yang
telah menjadi tersohor namanya karena kepandaiannya
yang sangat tinggi.
Bwee Hiang sementara itu sudah masuk pula kedalam
rumah, dimana ia dapatkan ibunya sedang menanti
dengan tubuh bergemetaran.
"Bagaimana, anak Hiang, apa mereka sudah dapat
diusir pergi?" tanyanya.
"Untung dapat anak punya sedikit kepandaian ajaran
adik In, kalau tidak dua kakek itu sukar dilayani. Tapi ibu
jangan takut, sekarang dua kakek itu pasti tidak berani
cari gara2 pula kesini, lantaran mereka ketakutan
mendengar nama gelaran adik In."
"Apa gelaran anak in, anak Hiang?" sang ibu menanya
kepingin tahu.
"Hek-bin Sin-tong. . . ." sahut Bwee Hiang dengan
senyum bangga.
Ketika sang ibu menanya lebih jauh halnya si bocah,
Bwee Hiang tuturkan gelaran itu didapat ketika Kwee In
masih hitam legam wajahnya.
"Entah apa gelarannya sekarang anak In yang sudah
salin rupa sangat cakap?"
Bwee Hiang melengak bangga mendengar ibunya
mengatakan adik In-nya sangat cakap.
Tapi ia hanya bersenyum saja menatap wajah
ibunya...
Sang ibu ketawa melihat anaknya seperti bangga
Kwee In dipuji.
"Anak Hiang, anak In setelah wajahnya sekarang
berubah cakap, tepat sekali kalau ia mendapat gelaran
baru Giok-bin Long-kun. Hahahaha. .." sang ibu ketawa
ngikik.
-oo0dw0oo-

J ILID 2
Bab 4
TERBELALAK matanya Bwee Hiang mendengar sang
ibu memberi gelaran Giok-bin-Long-kun (si Perjaka Muka
Kumala), akan tetapi hatinya hanya ia sendiri yang tahu
sangat bangga dengan gelaran baru untuk adik In-nya
itu. Entah adik Lian akur apa tidak dengan gelaran itu
untuk adik In-nya? Demikian Bwee Hiang menanya pada
hati kecilnya.
"Ibu terlalu berkelebihan menggelarkan adik In
demikian hebat!" Bwee Hiang memancing ibunya untuk
keluarkan pujian pula untuk adik In-nya.
"Anak Hiang, memang harus diakui ia sangat cakap,
jarang tandingannya. Coba kapan usianya sudah
menanjak dewasa, kira-kira umur dua-puluh tahun saja,
pasti wajahnya yang cakap menonjol diantara pemuda-
pemuda yang dikatakan tampan dan cakap wajahnya."
Hatinya Bwee Hiang berdebaran mendengar perkataan
sang ibu. Tanpa terasa berbayang wajah si jago cilik
yang sekarang sudah salin rupa. Bagaimana mesra Kwee
In ketika memeluk dirinya dan menciumnya. Itulah saat-
saat gembira yang tak dapat dilupakan seumur hidupnya.
Untuk membalas budinya Kwee In. Bwee Hiang sudah
bertekad bulat untuk menyerahkan dirinya kepada si
bocah. Ia ingin melayani Kwee In sepanjang hidupnya.
Tanpa terasa Bwee Hiang menyungging senyuman
diwajahnya.
"Anak Hiang, kau bangga dengan adik In-mu?" tanya
sang ibu.
Bwee Hiang mengangguk.
"Bagaimana dengan Kim Liong? Apa kau sudah
mengambil keputusan?"
"Anak itu baik dan aku suka padanya," sahut Bwee
Hiang. "cuma saja hati anak sudah dimiliki oleh adik In,
sukar anak melupakan ia yang mendidik anak sekarang
punya kepandaian tinggi. Budinya ada sangat besar tak
terlupakan!"
Sang ibu geleng-geleng kepala. Ia kewalahan dengan
anak kandungnya yang kepala batu.
Dalam hatinya sebenarnya ia sangat marah kepada
anaknya itu, namun tidak berani mengutarakannya,
sebab tanpa Bwee Hiang hari itu musnahlah kedudukan
Kauwcu dari suaminya dan entahlah dengan nasibnya
kalau sampai dua saudara she Sim itu dapat merampas
kedudukan Kauwcu.
"Ibu,perkara jodoh itu tak dapat dipaksa," menghibur
sang anak, ketika melihat ibunya tiba-tiba berkaca-kaca
matanya menangis- "Kalau seandainya engko Liong
setuju, nanti aku bantu cari untuk jodohnya yang
setimpal"
Sang ibu angkat mukanya mengawasi sang anak.
"Anak siapa yang kau akan majukan, anak-" tanyanya,
seraya menyeka air matanya.
"Aku masih belum tahu, coba lihat saja nanti. Namun,
janjiku ini tak mengikat, asal engko Liong sudah terlebih
dahulu mendapat jodoh, itu ada lebih baik lagi. Tegasnya
jangan terlalu mengandalkan padaku."
Sang ibu angguk-anggukkan kepalanya.
Sementara itu diluar sudah bubaran dan masing-
masing kembali ketempat pekerjaannya.
Tan Pangcu pamitan dari Tong hong Kauwcu, bersama
anaknya pulang kerumahnya. Sampai dirumah, dengan
rupa kegirangan Tan Pangcu berkata pada anaknya:
"Anak Liong, sungguh calon isterimu itu hebat
kepandaiannya. Aku senang mempunyai mantu seperti
ia, bagaimana kau pikir?"
Kim Liong ketawa getir mendengar perkataan sang
ayah.
"Kau kenapa, anak Liong?" tanya sang ayah heran.
"Ayah," kata sang anak, seraya ketawa getir, "Untuk
dapatkan isteri seperti adik Hiang, sama saja seperti anak
melamun memeluk rembulan. ia begitu tinggi
kepandaiannya, mana anak setimpal menjadi suaminya?"
Sang ayah terkekeh-kekeh ketawa.
"Anak Liong. ia cantik dan kau cakap. adalah jodoh
yang setimpal sekali, perlu apa ilmu kepandainn silat
yang menjadi halangan. Asal suka sama suka. urusan
tinggi rendahnya masing-masing pihak punya kepandaian
silat tidak menjadi rintangan,"
"Tapi ayah tidak tahu," sahut sang anak lesu.
"Tidak tahu bagaimana?" Tan Pangcu kepingin tahu.
"Adik Hiang sudah ada yang punya," jawab Kim Liong
menghela napas. Kaget Tan Pangcu mendengarnya.
Sebelum sang ayah menanya lebih jauh, Kim Liong
lalu tuturkan kejadian pertemuannya dengan si jelita
ditaman bunga, bagaimana Bwee Hiang telah menjajal
lwekangnya dan dikalahkan.
Dengan terang-terangan Bwee Hiang telah mengaku
bahwa dirinya sudah ada yang punya, jadi Kim Liong tak
usah memikirkan pula kepada dirinya.
Tan Pangcu yang semula kegirangan bakal dapat
mantu begitu hebat kepandaiannya, sekarang menjadi
lesu dan putus asa. Tapi ia masih belum mau menyerah,
ia mau bujuk Tonghong Kin supaya menggunakan
pengaruhnya sebagai ayah membujuk Bwee Hiang
merubah pikirannya dan terima anaknya menjadi
jodohnya.
Malam.. . .
Tampak dirumahnya Tan Pangcu masih ada
penerangan.
Kiranya dalam rumah Tan Pangcu malam itu ada
pertemuam diantara Tan Pangcu dengan isterinya dan
Tonghong Kauwcu bersama nyonya. Empat orang itu
asyik pada omong. Apa yang mereka bicarakan?
Ternyata urusan perjodohannya Kim Liong dengan
Bwee Hiang. Rupa-rupanya Tan Pangcu mau paksakan
perjodohan dua anak muda itu dengan meminta
Tonghong Kauwcu dan isterinya unjuk pengaruhnya
sebagai orang tua menekan anaknya supaya bersedia
menjadi isterinya Tan Kim Liong, anaknya yang paling
disayang.
"Adik ceng sebagai ibu, pasti ada lebih leluasa
membujuk anak Hiang, aku tidak percaya kalau anak
Hiang membandel kemauan ibu kandungnya" demikian
nyonya rumah mengutarakan pikirannya kepada nyonya
Tonghong.
"Enci, aku sudah berusaha sekerasnya supaya anakku
bersedia menjadi isterinya anak Liong, tapi sampai
sebegitu jauh menemukan kegagalan, karena anak itu
kepala batu dan mangaku hatinya sudah dimiliki oleh
adik In-nya," menerangkan nyonya Tonghong.
"Ya, enso memang memegang peranan panting dalam
perjodohannya anak Liong dan anak Hiang, maka aku
minta kau suka membantu sungguh-sungguh," Tan
Pangcu menimpati isterinya.
"Aku sudah berusaha, seperti barusan aku katakan,"
sahut nyonya Kauwcu. "Tapi selalu gagal, kiranya anak
Liong bukan jodohnya. Malah ia menawarkan jasa
baiknya, kalau umpamanya anak Liong bersedia ia nanti
akan carikan seorang gadis yang setimpal dengan anak
Liong. Habis aku harus berusaha bagaimana lagi?"
Tan Pangcu dan isterinya kurang puas dengan
jawaban nyonya Tonghong.
"Anak Hang adatnya keras, aku kuatir kalau nanti ia
salah mengerti bisa berabe," menyatakan Tonghong
Kauwcu. "Menurut pikiranku, lebih baik kita jangan
bicarakan urusan jodoh anak Hiang dan Liong biar kita
bebaskan kewajiban kepada anak Hiang supaya ia
mencarikan gadis yang setimpal untuk jodohnya anak
Liong."
"Ya, tapi kapan itu bisa jadi?" menyindir nyonya Tan-
"Umurnya si Liong sekarang sudah dua-puluh empat
tahun, kalau mesti menanti beberapa tahun lagi ia
keburu tua."
Tonghong Kauwcu dan nyonya kewalahan melihat
suami isteri dari Pangcu ceng-Liong-pang mendesak
demikian rupa,
Akhirnya perundingan tidak menghasilkan apa- apa
yang memuaskan.
Nyonya Tonghong kemudian mengajak suaminya
pulang, ketika melihat tuan dan nyonya rumah makin
lama makin tidak enak kata2nya yang diucapkan. Setelah
berada dirumah sendiri, nyonya Tonghong berkata pada
suaminya.
"cungko, Tan pangcu dan nyonyanya kenapa begitu
tidak tahu malu, mendesak mau menjodohkan diri anak
kita kepada anak Liong? Sungguh aku tidak nyana. Kim
Liong kita suka dan pandang ia sebagai anak sendiri
lantaran anak itu baik pribadinya, kita juga kepingin ia
berjodoh dengan anak Hiang, tapi lantaran anak Hiang
sudah ada yang punya, bagaimana kita mendesaknya?
Malah anak Hiang pernah kata, ia bukannya tidak setuju
kepada anak Liong, hanya saja hatinya sudah diisi oleh
lain orang. Dari sebab itu ia kasihan pada kim Liong dan
ia menawarkan jasa baiknya untuk memilihkan seorang
gadis yang setimpal untuk menjadi isterinya anak Liong."
Tonghong Kauwcu geleng2 kepala,
"Aku juga tidak mengerti sikap mereka itu." katanya,
"Mereka suruh kita menggunakan pengaruh kita sebagai
orang tua untuk mendesak anak Hiang, mending kalau
anak Hiang tidak salah mengerti, kalau ia salah mengerti
berabe kita, sebab anak Hiang bukan anak2 lagi dan
kepandaiannya sangat tinggi. Siapa bisa lawan kalau
umpamanya ia marah?"
Suami isteri itu berunding, akhirnya diambil keputusan
untuk tidak menghiraukan permintaan Tan Pangcu dan
isterinya,
Pada hari-hari berikutnya nyonya Tonghong tidak
melihat Kim Liong datang mengunjungi rumahnya untuk
duduk kongkouw dengan Bwee Hiang. hatinya menjadi
heran. ia lalu menanya pada anaknya:
"Anak Hiang, sudah dua-tiga hari ini tidak kelihatan
Kim Liong datang, kenapa? Apakah kau berselisih
dengannya?"
Bwee Hiang ketawa. "ibu, mana ia berani datang lagi,
sebab anak sudah jelaskan bahwa anak sudah ada yang
punya."
Lalu Bwee Hiang menuturkan pertemuannya ditaman
bunga, bagaimana ia adu lwekang dengan si anak muda,
sebelum adanya kejadian rusuh dalam markas Ngo-tok-
kauw. Terbelalak matanya sang ibu menengar ceritanya
sang anak.
"Pantasan ia tidak datang dalam beberapa hari ini, dan
mungkin ia bakalan tidak datang untuk selamanya,
sebelum Tan Panggcu mendapat keputusan." berkata
sang ibu.
"Keputusan apa, ibu?" tanya Bwee Hiang kepingin
tahu.
"Keputusan kau, suka menjadi menantunya." sahut
nyonya Tonghong.
Bwee Hiang ketawa. "orang tua itu mengharap yang
tidak-tidak. Apakah anaknya tidak cerita, bagaimana ia
mendapat malu ditaman bunga? Hm orang begitu harus
dikasih hajaran baru tahu rasa" si nona mulai tidak
senang.
"Hajaran? Hajaran apa, anak Hiang?" tanya sang ibu
gugup,
"Biar anak nanti kasih hajaran pada orang tua tidak
tahu diri itu?" kata Bwee Hiang.
"oh, jangan, jangan...anak Hiang. Kau mau bikin ribut
di ceng-Liong-pang?" sang ibu dengan gugup melarang
anaknya yang hendak menimbulkan onar. Bwee Hiang
unjuk paras gemas.
Meskipun sangat gemas Bwee Hiang tidak kata apa-
apa lagi, melihat ibunya seperti ketakutan sekali.
Pada malamnya dengan mengenakan Ya-heng-ie
(pakaian untuk jalan malam) si nona sudah menyatroni
markas Theng-Liong-pang.
Dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi,
Bwee Hiang tidak sukar untuk menemui rumahnya sang
Ketua. ia mengintip dari jendela, kemudian dengan
berani ia memasuki rumah Tan Pangcu yang waktu itu
sedang pasang omong dengan isterinya.
"Anak itu tinggi kepandaiannya, tapi aku tidak percaya
ia tidak kewalahan kalau dikepung oleh jago-jago pilihan
kita."
Bwee Hiang dengar Tan Pangcu berkata pada
isterinya, "Lain jalan tidak ada, kalau ia sudah kenal
kelihayan kita, pasti ia menurut untuk dijadikan isterinya
anak Liong."
Bwee Hiang tatkala itu sembunyi dibalik tiang.
"Kalau kita menggunakan kekerasan demikian, artinya
kita bertempur dengan oang-orang Ngo-tok-kauw dan
jadi bermusuhan?" sang isteri menyahut.
"Tidak apa- apa, memangnya kita takut dengan
orang2 Ngo tok-kauw?" ujar Tan pangcu.
"Tapi sebaiknya kita jangan lakukan kekerasan
demikian, perhubungan kita dengan Ngo-tok-kauw
menjadi terganggu. Kita tunggu saja bagaimana
kabarnya dari mereka, kalau dalam beberapa hari ini
tidak ada kabar berita apa-apa, terserah bagaimana kau
hendak mengambil tindakan."
Tan Pangcu rupanya setuju dengan pikiran sang isteri,
maka juga ia tidak berkata apa-apa lagi untuk sejenak
lamanya.
Bwee Hang masih tahan amarahnya. Ia tidak mau
munculkan diri dulu dan mau menanti apa yang
dikatakan lebih jauh oleh suami isteri itu.
"Kalau kita dapat menantu seperti ia, sungguh ada
satu keuntungan bagi perkumpulan kita, kita bertambah
kuat. Maka dengan jalan apa pun juga aku harus
dapatkan anak itu sebagai menantu kita."
"Apa kau sudah yakin mengatasi kepandaiannya kalau
kau keluarkan jago-jago pilihanmu? Aku sendiri kurang
yakin mendengar anak Liong cerita bagaimana ia
mengalahkan dua kakek she Sim dengan hanya dilawan
sama kegesitan badannya dia."
"Kita jangan mengandalkan orang-orang kita saja. kita
juga berdua harus turun tangan, untuk membantu
semangat dan tenaga kepada orang-orang kita,"
"Ah, aku sudah lama tidak menggunakan senyata, aku
kuatir nanti salah tangan dan menjadi tawaan orang."
"Meskipun sudah lama kau tidak menggunakan
senyata, tapi ilmu silatmu yang tinggi tentu kau tidak
lupa, bukan?" sang isteri ketawa dipuji oleh suaminya.
"Kalau ia kita tangkap. biar anak kita perkosanya,
kalau beras sudah menjadi bubur, apa ia bisa bikin, tentu
akan menurut kepada anak kita," terdengar pula Tan
Pangcu bicara.
"Ah, jangan begitu, itu perbuatan tidak baik," sahut
sang isteri tidak setuju.
"Kau bodoh, Perbuatan itu dilakukan dengan sangat
terpaksa, bukannya satu kejahatan- Ini hanya untuk
membikin ia rela menjadi isterinya Kim Liong, setelah ia
berasa dirinya dinodai oleh anak kita-"
"Kau jangan pandang rendah si Kim Liong. Kalau si
Kim Liong boleh jadi menurut dalam hal demikian, tapi
Kim Liong adatnya lain- Ia satu anak baik, makanya aku
sayang sekali kepadanya."
"Urusan itu kita bicara belakangan saja, nanti kalau
kita dapat bekuk ia dan dibawa kesini. Pasti Kim Liong
akan melaksanakan perintah ayahnya, kalau nanti aku
menyuruhnya, sebab itu bukan untuk kebaikannya
sendiri juga untuk kepentingan kumpulan kita yang akan
menjadi lebih berwibawa dan ditakuti."
"Terserahlah, bagaimana baiknya kau atur." sahut
sang isteri.
Tan Pangcu merasa senang isterinya dapat dibikin
mengerti dengan maksudnya.
Tiba-tiba. . . .
Pada saat itulah keluar Bwee Hiang dari tempat
sembunyinya, hingga Tang pangcu dan nyonya menjadi
kaget dan terbelalak matanya^
"Hei, kau sembunyi disitu mendengarkan pembicaraan
kami, sungguh nyalimu sangat besar sekali, apakah tak
takut dibunuh oleh orang-orangku?" tegur Tan pangcu
pada si nona.
Bwee Hiang tak menyahut, hanya ia bersenyum
manis.
Nyonya Tan bersengsem menampak kecantikannya si
nona dalam pakaian malamnya.
"Apa maksudmu datang kemari, nona?" tanya nyonya
Tan setelah kagetnya hilang.
"Urusan kita, dimana untuk dibereskan" jawab Bwee
Hiang dingin.
"Urusan apa? Kita tak ada urusan apa-apa" kata Tan
Pangcu.
"Hm Tidak ada urusan apa-apa? Barusan kau
mengatakan apa? Hm Mau membikin susah menantu?
Kau jangan mimpi orang tua orang sudah tidak sudi jadi
menantunya mau dipaksa dengan segala jalan keji, apa
macam kau menjadi orang tua"
Marah sekali Tan Pangcu dimaki si nona.
"Dengan mengandalkan kepandaianmu kau berani
datang kemari? Kau boleh pandai bersilat, namun,
didalam markas ceng-Liong-pang kau jangan banyak
lagak. Kau bisa masuk. tapi untuk keluar lagi? Ham lebih
susah kau naik kelangit. Maka, menyerahlah kau untuk
menjadi menantuku yang tersayang"
Kata- kata Tan Pangcu membikin sengit Bwee Hiang,
sebaliknya menjadi takut.
jago betina kita besar nyalinya. Ia tidak takut dengan
ancamannya sang Ketua dari Gerombolan Naga Hijau
(ceng-Liong-pang). Hatinya keras dan bertekad untuk
mengasi hajaran kepada Ketua yang tidak tahu diri itu.
"Hm Kau mau membikin susah nonamu? Lihat aku
nanti kasih hajaran pada orang tua yang tak tahu diri"
bentak Bwee Hiang-
"Hei, nona, kau mau bikin onar dimarkas ceng-Liong-
pang?" tegur nyonya rumah.
"Kalian benar. kau mau apa?" mengejek Bwee Hiang,
sikapnya sangat gagah. Kagum hatinya nyonya rumah
nampak sikap dan kecantikannya si nona,
"Nona Hiang, sebaik kau jangan membikin onar dan
terimalah lamaran kita untuk mengambil kau sebagai
mantu kami" membujuk nyonya rumah^
"Kentut busuk" membentak jago betina kita nyaring.
nyonya rumah tidak senang, "Tan-ko, mari kita bekuk
nona liar ini" serunya kepnda sang suami seraya bangkit
berdiri.
sekali lompat nyonya Tan sudah menyambar pedang
yang tergantung ditembok,
Dengan pedang ditangan nyonya Tan itu, merasa
aman, sebab memang ia jago pedang sebelum menikah
dengan Tan Pangcu.
"Hehe" tertawa nyonya Tan, "Kau belum kenal
liehaynya Gin-eng Kam Sian Sui. Kalau sebentar melihat
keliehayannya si Elang Perak, barulah kau akan tunduk
dan mengaku aku pantas menjadi ibu mertuamU"
Gin Eng Kam Sian Sui, si Elang Perak jago pedang dari
murid Kong-tong-pay. Perjodohannya dengan Tan
Pangcu diwaktu mudanya juga dirangkap oleh
pertandingan pedang. Tan Pangcu kalah sejurus oleh si
Elang Perak, akan tetapi lantaran Tan Pangcu
mempunyai paras cakap. maka si Elang Perak rela
menjadi isterinya.
Ilmu pedangnya hebat. bukan sedikit jago-jago
pedang masa mudanya si nyonya yang terjungkal
ditangannya. Sejak ia menikah dan ikut Tan Pangcu
mengepalai ceng-Liong-pang ia jarang memegang
pedangnya dan berlatih.
Sekarang, melihat Bwee Hiang kelihatan mau
membuat onar dalam markasnya, si Elang Perak kepaksa
meraba pedangnya yang sudah lama tergantung
ditembok.
Bwee Hiang tadinya tidak ingin mencabut pedangnya,
karena dengan mengeluarkan pedang berarti ia akan
menumpahkan darah. la ingat pesan adik kecilnya (Kwee
In), supaya selanjutnya ia mengurangi pembunuhan-
Namun, melihat nyonya rumah sudah siap dengan
pedang ditangan dan Tan Pangcu juga sudah menanti
nyonya turun tangan, maka terpaksa Bwee Hiang juga
meloloskan pedangnya yang tajam.
"Aku tidak perduli Gin-Eng atau Kim Eng (elang emas),
tetap aku akan kasih hajaran, kalian boleh maju satu
persatu atau mau dua-duanya" tantang Bwee Hiang.
"jumawa benar, kau nona," kata sian Sui ketawa. "Aku
senang dengan sikapmu itu, makanya kau jadilah
mantuku, jangan adu pedang."
nyonya rumah berkata sewajarnya, tapi Bwee Hiang
salah mengerti, Kiranya ia diejek oleh Sian Sui, maka
hatinya menjadi panas.
"Kau kira aku barang murah boleh dibujuk? Hm" Bwee
Hiang mendengus,
"Tan-ko biar aku yang maju dulu" kata sang isteri,
ketika melihat Bwee Hiang kepala batu. ia berkata sambil
menyerang si gadis.
cepat serangan dilakukan oleh Sian Sui, tapi lebih
cepat Bwee Hiang berkelit.
Dengan bacokan yang menyilang, sebagai balasan
menyerang, Bwee Hiang bikin si jago pedang dari Kong-
tong-pay kaget dan agak gugup, karena rambutnya
hampir terkupas oleh pedangnya si nona jagoan-
"Hehe. . ." Bwee Hiang ketawa, nampak lawannya
gugup lantaran kaget.
"jangan ketawa dulu, nona" kata Sian Sui dan kembali
ia menyerang.
Kedua jago betina itu saling menyerang dengan seru.
Benar-benar nama si Elang Perak bukannya percuma,
sebab ia gagah benar memainkan pedangnya sekali pun
jarang berlatih. Namun Bwee Hiang tidak jerih, malah
makin kuat adanya lawan, jago kita makin bernapsu
menggempurnya. Ketika melihat isterinya keteter. Tan
pangcu tidak tinggal diam, ia berseru,
"Sui-moay, apa boleh aku turun tangan membantu?"
"Tidak usah," sahut sang isteri yang terus bikin
perlawanan walaupun sudah didesak oleh Bwee Hiang.
Senang sian Sui melihat permainan pedang Bwee
Hiang diatas kepandaiannya, ia sangat menyayangkan
kalau nona segagah in sampai jatuh menjadi mantu
orang lain
Seberapa bisa ia bertahan dan mengeluarkan
kepandaiannya dengan maksud menundukkan si nona
kosen, tapi Bwee Hiang makin lama permainan
pedangnya makin mengherankan dan akhirnya si nyonya
berkaok juga minta bantuan suaminya. Tan Pangcu cepat
turun tangan-
"Bagus" seru Bwee Hiang ketawa ngikik. "Dua jago
pedang mengerubuti seorang bocah, kau lihat nonamu
nanti bikin kalian tak ada lubang untuk lari"
"Budak liar, kau jangan sombong" bentak Tan Pangcu
seraya mainkan pedangnya lebih gencar. Tapi Bwee
Hiang seenaknya saja menangkis dan menyerang lawan.
suami isteri itu merasa kagum, penjagaannya menjadi
agak lengah.
"Awas" seru Bwee Hiang, menyusul pedangnya
berkelebat.
"Aduh" seru nyonya rumah, berbareng rambutnya
berterbangan kena dipapas pedangnya Bwee Hiang.
Tangannya memegangi kepalanya yang menjad gundul.
Sian Sui menjadi sangat murka.
Sekarang ia tak menyayangi lagi kepandaiannya Bwee
Hiang, sebaliknya dengan murka sekali ia putar
pedangnya dan menyerang dengan hebat. Bwee Hiang
tidak jadi keder oleh karenanya, sebab hal demikian, ia
sudah perhitungkan terlebih dahulu.
Penjagaan diatur tebih cermat, menghadapi suami
isteri yang melanjutkan serangan-serangannya seperti air
membanjir. Si nona baru pertama kali merasakan
melawan musuh alot,
Satu kali pedangnya San Sui mengarah
tenggorokannya, ia berkelit, berbareng pedangnya
dipakai menabas kebawah, menghindarkan serangan
pedang Tan Pangcu yang mengarah perutnya. Sekali
menjejak lantai, tubuhnya melambung dan berputar
seperti gasing, hingga suami isteri itu menjadi kaget,
menggunakan ilmu apa si nona itu? Dalam kagetnya,
Sian sui lupa akan penjagaan, hingga rambutnya kembali
terpapas makin pendek. sedang Tan Pangcu kebagian
robek baju dibagian pundaknya. Untung baginya keburu
mengengos, kalau tidak, pundaknya bakal terkupas
pedang Bwee Hiang yang nyelonong tak bisa di-rem, sian
Sui dalam gusarnya menusuk dada Bwee Hiang,
si nona kali ini menggunakan lweekangnya, ia
menangkis pedang lawan dari bawah keatas "Trang ..."
terdengar suara keras dari bentrokan dua senyata. Sian
Sui rasakan tangannya kesakitan, hingga pedangnya
yang tergetar menjadi jatuh.
Tan Pangcu menggunakan kesempatan Bwee Hiang
ketawa ngikik, menyabetkan pedangnya dari samping.
Kembali Bwee Hiang melambung, kali ini kakinya bekerja,
menendang pergelangan tangan Tan Pangcu hingga
pedangnya terlempar dan orangnya sendiri meringis-
ringis kesakitan, ia menjadi lengah ketika Hwee Hiang
sudah tancap kaki lagi dilantai dengan sebat telah
mendorong tubuhnya-
Buk... Tan Pangcu jatuh meloso dan kcpalanya
membentur meja hingga tambah daging.
Melihat sudah cukup ia memberi pelajaran, si nona
dengan ketawa cekikikan telah meninggalkan itu suami
isteri itu dengan jalan melompati jendela.
"celaka" tiba-tiba terdengar suara disebelah kamar, Itu
adalah teriakan Bwee Hiang yang kurang waspada ketika
melompati jendela, tubuhnya sudah kena dijaring.
Kiranya, orang sudah mengetahui knaau dalam
ruangan itu terjadi pertempuran, maka orang-orang
ceng-Liong-pang yang spesial memasang perangkap
dengan jaring sudah berjaga-jaga disebelah luar jendela.
Ketika tubuhnya si nona melayang keluar persis masuk
kedalam jaring yang sangat kuat,
Tidak berdaya Bwee Hiang dalam jaring itu, sebab
pedangnya tak dapat digeraki. Tubuhnya sudah terjaring
seperti juga lepet oleh jaring perangkap tadi, sebentar
lagi tampak Tan Pangcu dengan isterinya keluar dengan
ketawa- ketawa,
"Budak liar" mengejek Tan Pangcu, "Apakah salah aku
bilang, bahwa kau bisa masuk sukar keluar? Nah,
Sekarang kau dapat buktikan"
Bwee Hiang tidak menyahut. ia putar otak. cara
bagaimana ia dapat mengataSi kesulitan itu?
"Anak- anak lekaS bawa ia masuk kedalam tahanan"
seru Tan pangcu, siapa setelah keluarkan perintah,
dengan lantas sudah ajak isterinya Sian Sui masuk pula.
celaka pikir Bwee Hiang, sekali ini ia ingat apa yang
dikatakan oleh Tan Pangcu ketika ia mencuri dengar
dibalik tiang. Kim Liong akan disuruh perkosa dirinya
supaya kalau sudah terjadi begitu ibarat beras sudah jadi
bubur ia akan menyerah jadi mantunya Pangcu dari
ceng-Liong-pang.
Memikirkan akan nasibnya yang nanti mendapat
hinaan, diam-diam si nona merasa cemas.
Pikirannya melayang kepada Kwee In, entah lagi apa
sekarang si adik kecil itu dilembah Tong-hong-gay
sementara ia dalam bahaya malam ini?
Pikitnya: "Biarlah. kalau sampai kejadian aku
diperkosa, dari pada aku turut dijadikan mantunya Tan
Pangcu keparat itu. lebih baik aku membunuh diri untuk
mengunjuk kesetiaanku kepada adik In. Biarlah dilain
penitisan aku menuntut balas kepada Tan Pangcu dan
mengabdi kepada adik In . .."
Rupa-rupa pikiran mengaduk dalam otaknya si gadis
jagoan.
la digotong masuk kedalam sebuah ruangan yang
seram, remang-remang gelap. setelah melalui lorong-
lorong yang berbulak-balik. ia dijebloskan dalam keadaan
masih teringkus didalam jala. Bwee Hiang coba
mengerahkan lwekangnya untuk membikin putus jala
yang meringkus dirinya, tapi sia-sia saja. Semua daya
tidak berguna, pedangnya yang tajam tak dapat
digerakkan karena seperti menempel dengan badannya.
Setelah ditinggalkan berapa lama, Bwee Hiang lihat
ada orang masuk dan mendekatinya. Kiranya itu ada satu
anak buah dari ceng-Liong-pang yang bermuka bengis
dan penuh berewokan wajahnya. orang itu jongkok
didekatnya,
"Anak manis, sungguh kau cantik sekali . , ." katanya
seraya mencolek pipi Bwee Hiang yang putih halus,
hingga si nona melotot matanya.
Ingin Hwee Hiang meremas tangan jahil itu, tapi ia
tidak berdaya, Dalam marahnya tiba-tiba terlintas suatu
akal dalam benaknya. Dari merengut ia ketawa manis,
hingga orang itu heran.
"Toako, namamu siapa?" tanya si nona ramah dan
halus.
orang itu melengak. "Aku Lie jim, penjaga tahanan
disini," sahutnya lantas.
Lie jim begitu cepat menyahut, lantaran melihat si
nona melirik dengnn menggiurkan sekali kelihatannya.
"Lie Toako," kata Bwee Hiang pula, "Kau bilang aku
cantik, apa betul?"
"Demi sang Buddha, memang kau sangat cantik
nona," sahut Lie jim.
"Habis, kalau aku cantik kau mau apa?" tanya sinona
ketawa manis. Hatinya Lie jim berdebaran.
"Aku ingin mempunyai isteri yang cantiknya seperti
kau nona." sahutnya.
"Apa Lie Toako telah beristeri?" tanya Bwee Hiang.
"Belum, belum...Masih belum ketemu nona yang
disetujui."
"Bagaimana kalau dengan aku, kau setuju?"
Terbelalak matanya si berewokan mendengar tawaran
si nona,
"tentu, tentu, cuma sayang kau menjadi orang
tawanan perkumpulan kami.-." Lie jim berkata menghela
napas.
"Kalau orang tawanan kenapa?" tanya Bwee Hiang
dengan suara halus.
"Kau akan mendapat hukuman dari Pangcu."
"Kiranya kau tega kalau aku mendapat hukuman dari
Pangcu?"
Kembali si berewokan terbelalak matanya dan
menatap si jelita dalam remang-remang gelap. Ia tidak
menjawab, hanya menundukkan kepalanya,
"Lie Toako, kalau kau senang kepada kecantikanku,
aku percaya kau juga senang menolongku. Kau tidak
akan menyesal kalau mempunyai isteri secantik aku,
betul tidak Lie Toako? coba kau pikir panjang, apa kau
tidak menyesal kalau calon isterimu sebagai aku ini
mendapat hukuman dari Pangcu?"
Lie jim tertegun mendengar perkataan si cantik.
Memang ia menginginkan wanita cantik macam Bwee
Hiang itu, cuma si nona sudah terjatuh dalam tangan
Ketuanya, cara bagaimana ia dapat menolongnya?
Dalam bimbang, tiba-tiba ia mendengar temannya
memanggil "Lao- lie, kau lama didalam ada urusan apa?
Lekas keluar, sebentar Pangcu datang, kau bakal dapat
hukuman rotan"
Makin bingung Lie jim.
"Nona, maaf terpaksa aku harus menjalankan perintah
Pangcu...."
berbareng Bwee Hiang lihat si berewokan mengangkat
tangannya yang memegang selembar kain berupa sapu
tangan dan ditutupkan kemuka si nona,
Bwee Hiang tidak berdaya, sebentar lagi ia mengendus
bau wangi dan perlanan-lahan matanya dirasakan berat,
akan kemudian ia jatuh pules. Kiranya salembar kain itu
ada mengandung obat bius, yang membuat orang tidak
sadarkan diri apabila mencium bau harum yang terdapat
pada selembar kain itu.
Kapansi nona tersadar pula, ternyata badannya sudah
diikat kencang jadi satu dengan tiang yang terdapat
dalam ruangan itu, rupanya tiang itu peranti menghukum
orang, entah sudah berapa banyak orang yang dibelebet
menjadi satu dengannya.
Ketika Bwee Hiang membuka matanya ia melihat
sudah ada Tan pangcu dengan isterinya yang mengawasi
kepadanya dengan senyuman mengejek.
"Budak liar, kau sekarang mau apa?" mengejek Sian
Sui, si Elang Perak.
"Kau mau bunuh, boleh bunuh, siapa suruh kau
banyak bacot" kata Bwee Hiang ketus.
"Enak saja kau bicara." Kata si Elang Perak: "Sekarang
aku mau tanya kau lagi, kau bersedia tidak untuk
menjadi menuntuku? Kalau bersedia, aku tidak tarik
panjang kau sudah menghina aku dengan mengupas
rambutku, Sebaliknya, aku akan menikahkan kau dengan
Kim Liong dengan segala kehormatan, Lekas jawab"
Bwee Hiang berdiam dan tundukkan kepala.
"Lekas jawab" bentak si Elang Perak-
Bimbang pikiran Bwee Hiang. "Kalau aku menolak. kau
mau apakan aku?" tanyanya.
"Kalau kau menolak. kau tahu sendiri kau bakal
mendapat kehinaan, akan aku suruh orang perkosa
dirimu dalam keadaan tidak berdaya"
"Kau jangan sekejam itu. Kalau mau bunuh boleh
bunuh, aku menolak"
"Bagus" seru si Elang Perak. seraya mendekati si
nona.
Entah bagaimana ia bergerak, tahu-tahu baju Bwee
Hiang dibagian dada sudah dirobek dan kelihatanlah
dadanya yang putih meletak dibawah terangnya lampu,
yang tatkala itu sudah dipasang terang dalam ruangan
yang tadi remang-remang gelap.
Bwee Hiang melihat kesekitarnya, ternyata disitu tidak
ada orang lain kecuali mereka bertiga, hingga perasaan
malunya kurangan dengan terpentangnya ia punya buah
dada yang padat menonjol bagus sekali.
"Lihat" berkata pula si Elang Perak. "Barang yang kau
simpan baik-baik itu akan menjadi permainan dari orang
yang akan mengambil kehormatanmu, kalau kau masih
tetap membandel dalam keputusanmu. Maka itu, dari
pada kau terhina, terimalah lamaranku untuk kau
menjadi isterinya anakku Kim Liong, ia toh bukan orang
jelek-jelek."
Bwee Hiang menghela napas. Ia menyahut: "Bibi,
anakmu itu memang ada anak baik. Ia sopan santun
kelakuannya, wajahnya juga cakap dan tidak
sembarangan pemuda dapat menandingi kecakapannya.
Aku suka padanya, cuma saja aku sudah ada yang
punya. Kalau masih bebas terang aku tidak menolak
untuk menjadi menantumu"
"Siapa yang sudah mencuri hatimU?" tanya si Elang
Perak,
"Hek bin Sin-tong..." jawab Bwee Hiang tegas.
"Hek-bin Sin-tong." menggUmam Tan Pangcu.
"Siapa itu Hek-bin Sin-tong?" tanya sang isteri kepada
Tan Pangcu.
"Aku juga hanya pernah dengar, tapi rupanya ia lihay
menurut katanya Tonghong Kauwcu, dibuktikan oleh
terbirit-biritnya lari kedua kakek yang membuat huru-
hara di markas Ngo-tok-kauw ketika mendengar
disebutnya nama Hek bin Sin-tong," menerangkan Tan
Pangcu,
Gin- eng Kam Sian Sui berdiam sejenak.
Bwee Hiang pikir ada harapan ia dibebaskan, melihat
si nyonya seperti berpikir mendengar namanya Hek bin
Sin-tong,
Tapi alangkah kagetnya si nona, ketika si nyonya
angkat kepalanya dan mengawasi kearahnya.
Tangannya diulur, mencubit pipinya Bwee Hiang,
hingga si nona berjengit kesakitan-Katanya:
"Kau begini cantik, jatuh ditangannya seorang bocah
hitam, meskipun sakti, sungguh menyebalkan sekali" .
"Ia bukannya bocah hitam lagi sekarang, sebab sudah
salin rupa menjadi seorang bocah yang sangat cakap"
bantah Bwee Hiang.
"Tidak perduli ia hitam atau cakap, tetap kau harus
tunduk kepada keputusanku. Kau terima tidak dijadikan
mantuku? Kalau tidak. tahu sendiri ..."
jengkelnya Bwee Hiang saban-saban diancam. Dari
jengkelnya ia menjadi nekad, katanya: "Manusia muka
tebal, orang tidak sudi jadi mantunya dipaksa dengan
ancaman yang bukan-bukan. Nah, kau boleh jalankan
maksudmu yang busuk. nanti juga Hek-bin Sin-tong akan
datang kemari mengubrak-abrik markas besar kalian dan
membasmi seluruh rumah tanggamu sebagai pembalasan
atas kematianku"
"Siapa bilang kau bakal mati?" tanya si Elang Perak
heran.
"Kalau aku sudah dinodai, apa kau kira aku masih
ingin hidup? Hm jangan kau mimpi sebegitu lekas aku
tahu diriku terganggu, aku lantas akan bunuh diri"
Si Elang Perak ragu-ragu kelihatannya mendengar si
nona akan berbuat nekad.
Kalau sampai kejadian demikian, jadi sia-sia saja
maksud baiknya untuk mengambil Bwee Hiang sebagai
mantu, malahan bakal mustahil kata-kata si nona
menjadi kenyataan-Hek-bin sin-tong akan mengubrak-
abrik markasnya dan melakukan pembunuhan massal.
Dalam ragu-ragunya si nyonya menatap wajah suaminya.
"Anak bandel" bentak Tan Pangcu. "Apa kau masih
tetap dengan keputusanmu, menolak menjadi mantunya
ketua dari ceng Liong-pang?"
"Itu sudah terang, kenapa mesti ditanyakan lagi?"
sahut Bwee Hiang kalem.
"Baik" kata Tan Pangcu. "Sian-moay, jalankan terus
maksud kita, biarlah ceng-Liong-pang menjadi korban
dari tindakan kita"
ia berkata pada isterinya. si Elang Perak ragu-ragu
muntuk mengambil keputusan-
la menghampiri pula Bwee Hiang, kembali ia mencubit
pipi si nona sehingga matang biru,
"Aku sayang sama kecantikanmu dan kepandaianmu,
tapi apa bokh buat."
Brekk Menyusul terdengar suara kain robek, kali ini
baju bagian perutnya si nona yang terobek panjang,
hingga Bwee Hiang menjadi jengah dan ingin menutupi
bagian itu, tapi tidak berdaya, karena kedua tangannya
diikat kencang jadi satu dengan tiang. Untuk memaki
dengan perkataan-perkataan kotor tidak ada gunanya ia
pikir, maka tidak ada lain jalan, ia jadi menangis.
"Baiklah, dalam keadaan tidak berdaya kau akan
diganggu kehormatanmu . . ." kata si Elang Perak. seraya
keluarkan selembar kain dari sakunya, dan ditutupkan
kemukanya Bwee Hiang.
Kembali si nona mengendus bau harum seperti tadi
dan matanya mulai berat mengantuk dan jatuh pulas
kemudian-
Entah apa yang akan terjadi dengan dirinya si jelita
yang dalam keadaan tidak berdaya diikat jadi satu
dengan tiang, dibius, dan .... buat dada serta perutnya
terpentang menantang bagi orang yang melihatnya , . , ,
?
-oo0dw0oo-

BAB-05
ANG HOA LO BO ....
Si nenek Kembang Merah yang meninggalkan coa-kok
tanpa permisi dari Suhunya, Lam-hay Mo Lie, bukannya
tidak beralasan. Ia pergi lantaran cemburu pada
Suhunya, yang ternyata isterinya Kwee Cu Gie, orang
yang sampai pada saat itu ia cintai.
Maksudnya, dengan memoles Lo in (Kwee in)
wajahnya menjadi hitam legam, ia mau membikin Kwee
cu Gie datang meminta obat pemusnahnya, tidak
tahunya telah berkesudahan lain-
Yang ia tidak mengira sama sekali, adalah Lam-hay Mo
Lie, yang menjadi suhunya, ialah isterinya Kwee cu Gie,
Kalau ia tahu siang-siang, pasti si nenek akan pikir-pikir
dahulu untuk menjadi muridnya Lam-hay Mo Lie Sie Lan
Eng,
Sejak dahulu ia gemas pada Kwee cu Gie yang tidak
menghiraukan cintanya,
Disamping rasa gemas ia juga mengakui bahwa ia ada
mencintai si cakap tampan Kwee cu Gie, Sejak waktu ia
masih perawan ditampar oleh Kwee cu Gie karena
kelakuannya yang genit, kejadian itu sampai lewat
puluhan tahun masih belum lenyap dari ingatannya.
la masih terus penasaran pada si orang she Kwee, ia
ingin balas membikin malu Kwee Cu Gie, namun ia tidak
berdaya. Panas bukan main hatinya ketika ia ketemu
Kwee cu Gie di coa-kok. apa lagi setelah mengetahui
bahwa Lam-hay Mo Lie adalah isterinya si orang she
Kwee. Maka itu, dengan tidak banyak mulut, diam-diam
ia sudah meninggalkan coa-kok.
Ang Hoa Lobo, adalah satu wanita cantik dimasa
perawannya (masih bernama Teng Goat Go), sayang
wajahnya yang cantik kena dihembus hawa racun yang
dimasak. hingga wajahnya berubah hitam dan jelek,
seperti juga hal itu terjadi dengan Kim Popo alias Kong
Kim Nio (baca buku Bocah Sakti).
Dengan wajah yang jelek. tambahan dirinya
berpakaian seperti nenek-nenek, maka Ang Hoa Lobo
persis satu nenek tua, Sebenarnya, badannya masih kuat
dalam memasuki usia setengah abad. Masih pada
kencang, tak kalah dengan wanita- wanita dari usia tiga-
puluhan. Apa lagi ia merawat dirinya dengan
menggunakan lwekang yang tinggi, tak gampang dirinya
menjadi reyot.
Ang Hoa Lobo napsunya masih besar dalam soal
hubungan sex, maka dengan kehilangan Siauw cu Leng,
yang ia tidak tahu kemana perginya, membuat ia sering
uring-uringan kehilangan partnernya,
Ang Hoa Lobo tak tahu kalau Siauw cu Leng sudah tak
ada pula didunia, karena tenaga pukulan membalik ketika
ia menyerang si bocah Sakti Kwee In,
Dalam perjalanan menjauhkan diri dari coa-kok. Ang
Hoa Lobo tak tahu ia harus pergi kemana untuk
menumpangkan dirinya. Tak ada teman yang untuk
diajak berdamai, yang biasanya ia suka berdamai dengan
Siauw cu Leng ketika ia masih hidup, Ang Hoa Lobo terus
mengikuti kakinya kemana sang kaki mengajaknya jalan-
Tahu-tahu dlwaktu hari menjelang sore, ia sudah
dibawa ketepi sebuah sungai kecil yang airnya mengalir
sangat jernih sekali, Disitu adalah daerah pegunungan
yang jauh kesana sini, hanya rimba pepohonan yang
terbentang tak jauh dari mengalirnya sungai kecil itu.
Tatkala itu Ang Hoa Lobo baru sadar bahwa ia sudah
berjalan jauh dan mulai merasakan sangat haus, cepat-
cepat ia menghampiri tepi kali, merebahkan badannya
tengkurap untuk menyendok air sungai dengan
tangannya.
Selain ia melenyapkan rasa hausnya dengan air yang
disendok oleh tangannya, ia cacapi kepalanya hingga ia
merasakan sangat adem dan bersemangat. Tiba-tiba ia
melihat bayangan wajahnya pada permukaan air, ia jadi
menghela napas, Katanya pada diri sendiri:
"Goat- Go, kalau saja wajahmu tidak terkena racun,
pasti kecantikanmu sampai sekarang masih belum hilang.
Lihat, ini semua masih kencang "
Si nenek berkata sambil meremas-remas bukit
dadanya, yang menonjol keras, tidak reyot seperti nenek-
nenek biasa.
Sambil meremas-remas buah dadanya dan ketawa
bangga, tiba-tiba ia merasa cemas, mengingat Siauw cu
Leng sekarang sudah tidak ada didampingnya. ia merasa
kuatir buah dadanya akan mengendor, lantaran tukang
merawatnya (Siauw cu Leng) sudah tidak ada. Buah
dadanya Ang Hoa Lobo yang kian mengencang berkat
kepandaiannya si iblis Alis Buntung, yang setiap mau
bersatu badan dengan si nenek terlebih dahulu ia sedot
dan kemoti buah dadanya si nenek hingga si nenek
menggeliat-geliat saking nikmatnya dan kejadian itulah
selalu terbayang didepan matanya Ang Hoa Lobo.
Tampak si nenek matanya berkaca-kaca menangis
kehilangan orang yang biasa menghiburnya dan memberi
banyak kesenangan kepadanya. la berpaling
kesekitarnya, ia dapatkan dirinya sendirian ditepi kali itu.
Seperti tidak percaya, bahwa tubuhnya masih pada
kencang, si nenek sudah membukai satu persatu
pakaiannya, sehingga tidak ada sehelai benangpun
menempel pada badannya. ia bercermin dipermukaan
air, seraya berseri-seri dan kedUa tangannya menelusuri
badannya sendiri seraya memencet-mencetnya dan ia
dapat kepastian semuanya masih kokoh kuat. Matanya
memandang pada kulitnya yang putih halus, ia
mengusap-usap perut dan pahanya yang putih halus
dengan perasaan sayang.
Melihat keadaan si nenek waktu itu, tidak beda ia
seperti orang yang sakit ingatan, dengan tiba-tiba telah
membukai pakaiannya dan telanjang bulat seraya
ketawa-ketawa dan kedua tangannya tidak hentinya
meraba sana sini pada badannya sendiri.
Sebaliknya untuk si hidung belang, melihat tubuh si
nenek yang putih mulus dan tidak sehelai benang pun
yang menutupi badannya, pasti akan tergetar jantungnya
dan mungkin lompat dengan tiba-tiba atau sedikitnya
mendeprok lemas ditanah.
Terlancur sudah membuka seluruh pakaiannya Ang
Hoa Lobo sudah turun mandi di kali.
Ia rasakan air sungai yang mengalir bening itu sangat
adem dan semangatnya telah pulih, yang tadinya sangat
lesu memikirkan akan nasibnya.
Sungai. itu tidak seberapa dalam, si nenek dapat
merendam dirinya denagn gembira sekali. Malah
terdengar suara tertawanya yang haha-hihi...persis
seperti orang gila, sebab disitu ia hanya sendirian.
Setelah merasa cukup ia merendam dirinya, ia naik
kembali kedarat dan perlahan-lahan mulai mengenakan
kembali pakaiannya.
Menuruti hatinya ia ingin terus dalam keadaan tidak
berpakaian, untuk memamerkan tubuhnya yang putih
mulus tidak bercacad, ntuk menutupi kejelekan wajahnya
yang cacad, namun ia tak dapat melakukan itu oleh
karena dilarang oleh pergaulan sopan.
Dengan perasaan menyesal iapakai bajunya terlebih
dahulu, sedang bagian bawahnya ia biarkan terbuka
dahulu. Kemudian ia duduk pada sebuah batu yang tidak
jauh dari sungai itu. Ia melamun rupanya, sebab tidak
lagi ia berseri-seri, sepasang matanya yang halus tajam
memandang jauh kedepan.
Dibelakang batu itu ada pepohonan yang tumbuh
lebat, muka Ang Hoa Lobo tidak memperhatikan
belakangnya dan ia melamun dengan memandang ke
depan. Beberapa kali terdengar ia menghela napas, asyik
rupanya ia melamun-
Ia menunduk dan memandang kedua belah pahanya
yang montok halus, mengapit bagian yang paling
'disukai' oleh lelaki rakus. Ia ketawa perlahan, ia
bergumam
"masih boleh, masih tahan beberapa tahun lagi, ia
gemuk dan indah sekali. Hihihi. ."
Entah apa yang dimaksudkan dengan perkataan Ang
Hoa Lobo, hanya batu yang didudukinya saja rupanya
disitu yang mengetahuinya.
Tampak si nenek sambil mengelus-elus kedua pahanya
yang montok telah tertawa ngikik, kemudian dengan
malas ia bangkit dari duduknya.
"Adik Kim, kau sedang melamun apa. . . .?" tiba-tiba
Ang Hoa Lobo dengar orang menegur dari belakangnya,
justeru ia sedang hendak melangkah pergi. Ternyata Ang
Hoa Lobo bukan sendirian disitu.
Kaget bukan main ia, cepat ia lompat menghampiri
pakaiannya dan mengenakan dengan cepat sekali. Baru
saja ia kelar mengenakan pakaian bawahnya, orang yang
menegur tadi sudah berada didekatnya dan tahu-tahu ia
dirangkul dari belakang dan dicium tengkuknya,
"Adik Kim, kau jangan malu-malu terhadap kokomu
sendiri. . ." bisiknya, seraya dengan kurang ajar orang itu
telah meraba teteknya si Nenek Kembang Merah. hingga
seketika berdebaran hatinya. Ia tidak berontak dan
biarkan orang permainkan barang yang paling dihargai
oleh setiap wanita, tapi oleh si nenek rupanya telah obral
murah.
Melihat Ang Hoa Lobo diam saja, orang itu makin
berani dan tangannya tidak berhenti pada buah dadanya
saja, juga menjelajahi keseluruh tubuh sampai dibagian
bawah hingga Ang Hoa Lobo bergemetar tubuhnya pada
saat tangan orang itu menyentuh bagian teriarang.
"Adik Kim, sungguh tubuhmu kencang seperti perawan
saja. . . OH, adik Kim kau lupa dengan percintaan kita
dulu? oh, adik Kim, kau jangan menolak. ..."
Demikian orang itu berkata merayu, dan Ang Hoa
Lobo masih diam saja seluruh tubuhnya menjadi
permainan orang lelaki asing itu. Ia tundukkan kepala
malah, seperti tidak mau dikenali oleh si lelaki asing.
Sepintas pandangan ia dapat lihat lelaki itu cakap dan
kuat badannya seperti Siauw cu Leng pasangannya,
maka ia senang dirangkul dan senang dengan perkataan
merayu, cuma ia tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh
orang laki-laki itu. Kelihatannya lelaki itu sangat menyinta
pada adik Kim itu, begitu juga pelukannya ada demikian
mesranya.
"Apa adik Kimnya bisa menerima tangan nakal dari
lelaki ini?" tanya Ang Hoa Lobo dalam hati kecilnya.
"Aku harap kau suka memaafkan perbuatanku tempo
hari." Ang Hoa Lobo kembali bisikan lelaki itu, sementara
kedua tangannya kembali sudah pindah kedadanya, dan
si nenek pun masih terkenang hubungan mesranya,
sementara gumpulan bulat dadanya diremas-remas.
Kelakuan demikian ia sudah menghadapinya dari
Siauw cu Leng, namun kali ini yang berbuat demikian ada
seorang lelaki asing, makanya hatinya berdebaran keras.
"Kau selalu akan memaafkan kokomu, adik Kim. . . ."
dengan suara halus lelaki itu menyambung perkataannya
dan mencium lehernya dari belakang, hingga bergejolak
hatinya Ang Hoa Lobo. "Hanya lantaran pada suatusaat
hati kokomu Khilap. maka koko sudah melakukan
perbuatan yang membikin adik Kim tidak senang, Tapi
ingatlah akan kecintaan kita tempo hari. Kalau saja Suko
siauw cu Leng tidak mengadu biru diantara kita, pasti
kita tidak menemukan kegagalan dalam percintaan kita,
oh, adik Kim. ..."
Kali ini Ang Hoa Lobo hatinya berdebaran lain, ia
berdebaran hatinya oleh karena mendengar disebutnya
nama Siauw cu Leng yang telah hlang entah kemana
perginya?
Ketika kembali lelaki itu dengan mesra memeluk rapat
dadanya, Ang Hoa Lobo sebenarnya ingin
membiarkannya sebab dirasakan hangat sekali dalam
pelukan lelaki asing itu, cuma saja ia tidak tahan untuk
mengetahui halnya Siauw cu Leng, si lblis Alis Buntung
yang meninggalkan dirinya tanpa memberi tahu apa-apa.
Ia coba berontak perlahan untuk meloloskan diri dari
pelukan orang, Tapi lelaki itu kembali berbisik
ditelinganya:
"Adik Kim, kau marah padaku? oh, adik Kim. . ."
kembali bisikan itu disusul dengan tangannya yang nakal
bermain diantara pahanya, hingga Ang Hoa Lobe tidak
tahan merasa geli dan cekikikan ketawa.
orang itu seperti kaget mendengar suara cekikikan
ketawa wanita yang dipeluknya, sebab suara itu ada
asing bagi pendegarannya- Maka ia telah putar membalik
badannya Ang Hoa Lobo, hingga sekarang mereka jadi
berhadap-hadapan,
"Hei, kau . . kau bukan adik Kim..." seru laki-laki itu
kaget dan melepaskan tangannya yang masih merangkul
si Nenek Kembang Merah.
"Memang juga aku bukan adik Kim-mu, kenapa kau
terus menerus merayapi tubuhku ?" sahut Ang Hoa Lobo
dengan wajah gusar,
"Maaf, maaf.. aku sudah salah mata..^" kata lelaki itu
gugup,
"Enak saja kata kata salah mata," sahut Ang Hoa Lobo
dengan suara keras. "Apa tanganmu yang nakal tadi
dapat di-maafkan? Hmm Enak yang menyelusuri tubuh
orang, untung aku sudah berpakaian, kalau tidak, entah
kau buat apa atas diriku?"
Orang itu pucat mendengar si nenek menyemprot
pedas.
wajahnya merah jengah, katanya:
"Harap kau suka memaafkan akan perbuatanku yang
tidak bagus barusan, sebab benar-benar aku kira kau
adalah adik Kimku."
Orang itu bekata seraya putar tubuhnya hendak
berlalu.
"Berhenti!!!" bentak Ang Hoa Lobo. "Enak saja kau
mau meninggalkan aku begitu saja, setelah berbuat tidak
bagus barusan, kau barus mempertanggung jawab-kan
perbuatanmu."
Orang itu merandek dan kembali memutar tubuh
menghadapi si nenek yang dalam keadaan gusar
kelihatannya. Matanya menyala menembusi jantung,
hingga diam-diam si lelaki asing itu terkejut. Diam-diam
ia berkata pada dirinya sendiri: "Wanita ini perawakannya
peisis seperti adik Kim, aku jadi kesalahan melakukan
apa-apa yang tidak bagus. Sekarang ia begitu marah,
apa jadinya nanti? Dilihat dari matanya yang menyorot
tajam, pasti kepandaiannya tidak dibawah dari adik Kim.
Pasti ia mempunyai lwekang tinggi dan bagaimana nanti
aku kena dihajar oleh tongkatnya yang berat?"
seraya berkata-kata dalam hatinya, matanya melirik
kepada Ang Hoa Lobo, yang bobotnya paling sedikit juga
delapan puluh kati, lebih be&ar dari tongkatnya orang
yang ia impikan (adik Kimnya). Tapi ia ada satu lelaki
licin, maka dengan wajah ketawa-ketawa, ia menanya:
"Adik, kau menahan aku ada urusan apa?"
Senang hatinya Ang Hoa Lobo dipanggil adik. Ia
merasa bahwa dirinya ada lebih muda dari orang lelaki
itu, yang parasnya cukup tampan.
Parasnya si nenek Kembang Merah yang tadi berengut
marah, tampak berubah lunak dan mesem kepada si
lelaki didepannya tatkala mendengar orang memanggil
adik kepadanya.
"Kau siapa sebenarnya?" tanya Ang Hoa Lobo.
"Aku The Sam, mohon maaf atas kelakuan barusan, "
sahutnya lantas.
"Siapa adik Kim itu yang kau maksudkan?" tanya pula
Ang Hoa Lobo.
"Oh, ia adalah adik seperguruanku," sahut The San.
"Adik Kimmu itu siapa nama penuhnya dan anaknya
siapa?"
"Nama adik Kim ialah Kong Kim Nio, putra dari Kong
Tek Liang di Hoa im. "
Terkejut hatinya Ang Hoa Lobo mendapat keterangan
itu. "Kong Kim Nio. ..." ia membatin dalam hatinya. "Ia
adalah musuhku dalam percintaan merebut Siauw Cu
Leng. Tidak nyana si Kim mempunyai pacar yang begini
gagah dan kuat, badannya tinggi besar menjadi impian
tiap wanita. juga kecintaannya yang dulu-dulu tidak
menjadi padam oleh wajahnya si Kim yang sudah
berubah jelek itu, seperti dibuktikan oleh rangkulannya
lelaki dihadapannya yang mesra dan bisikannya yang
merayu, aku dengar barusan ketika memeluki diriku. Ah,
benar benar si Kim sangat beruntung. Tidak, seperti juga
dengan Siauw Cu Leng, cintanya aku akan rebut pula,
biar ia mampus lantaran gemas padaku yang menjadi
cumi-cumi dalam sejarah hidupnya. Aku benci si Kim,
yang berlagak lebih cantik dariku . ."
Kong Kim Nio yang dimaksudkan adalah Kim Popo.
The Sam sudah keliru menganggap bahwa Ang Hoa Lobo
adalah Kim Popo, sebab perawakannya hampir sama,
lagipula melihat sekelebatan wajahnyapun ada sama
korban dari hawa racun, hitam dan rusak.
The Sam sejak berpisah dengan Kim Popo, selalu ia
buat pikiran bekas kecintaannya itu. Ia mau menemukan
pula dan perbaiki kesalahannya, sehingga Kim popo
berbalik hatinya dan melupakan dosanya yang serakah
hendak memiliki Tiam-hiat Pit koat. Ia percaya Kim Popo
akan mengampuninya manakala ia timbulkan soal dulu-
dulu dimana Kim Nio pernah menjadi kecintaannya.
Ia tahu kebiasaan Kim Nio alias Kim Popo suka
menjelajahi pegunungan, maka sudah lama ia
menyelidiki jejaknya sang bekas kecintaan. wajahnya Kim
Popo memang sudah jelek sekarang, tapi ia tahu bahwa
tubuhnya masih kencang mulus karena dirawat
sempurna berkat lwe-kangnya yang tinggi. Itu ia dapat
buktikan, ketika pertama kali ia bersua pula dengan Kim
Popo setelah wajahnya jelek, ialah ketika mau menguber
Kim Wan Thauto yang merampas kitab thiam-hiat (ilmu
menotok)dari tangan Kim Popo.
Pada saat mana, The Sam mencekal lengan Kim Popo
yang halus putih, buah dadanya masih padat berisi naik
turun ketika Kim Popo menarik napas.
The Sam dikala itu sebenarnya sudah mau merayu
pada Kim Popo, dan melampiaskan rindunya akibat
cintanya yang terhalang oleh Siauw Cu Leng, namun, tak
dapat ia berbuat demikian oleh karena pada waktu itu
Kim Popo sangat tergesa gesa untuk menyusul Kim Wan
Thauto guna merebut pulang kitab thiam-hiatnya.
Dengan cara tidak terduga-duga ia menemukan Ang
Hoa Lobo yang ia anggap Kim Popo ditepi sungai, sedang
tengkurup menyendok air sungai untuk menghilangkan
rasa haus.
Ia tadinya lantas mau menghampiri dan menegur Ang
Hoa Lobo yang dikira Kim Popo, namun, keinginan itu ia
batalkan talkala wanita ditepi sungai itu dengan tiba-tiba
telah meloloskan pakaiannya satu per-satu.
The Sam berdiri bengong dari kejauhan menyaksikan
tubuh yang halus mulus serta padat, melayanglah
seketika pikirannya kepada jaman mudanya waktu Kim
Popo jatuh dalam pelukannya di taman bunga dan
dikecupnya beberapa kali wajahnya yang cantik. ia tak
melupakan Kim Popo alias Kong Kim Nio saat itu matanya
redup-redup basah dengan bibir gsmetar menantang
kasih, ia menundukkan kepala dan mencium penuh
mesra bibir yang gemetaran dan tampaklah Kim Nio
matanya berkaca-kaca menangis saking merasa bahagia
untuk kejadian yang dialaminya itu.
Kini ia menyaksikan wanita yang diimpikannya itu
berdiri dengan tidak sehelai benang pun yang menutupi
tubuhnya, hatinya bergejolak tidak tenang. Oh, pikir-nya,
bagaimana bahagianya ia kapan dapat merangkul tubuh
yang indah itu, tangannya dapat berkeliaran atas tubuh
yang serba padat itu.
Hatinya cemas nampak wanita ditepi sungai itu telah
mereadam badannya telah naik kedarat dan mengenakan
pula pakaiannya, namun, terhibur juga ketika
menyaksikan Ang Hoa Lobo hanya mengenakan pakaian
bagian atas saja, sedangkan bagian bawahnya masih
tetap telanjang. Di-balik pohon yang ]ebat ia
menyaksikan keindahan bagian bawah Ang Hoa Lobo,
tatkala si nenek menghampiri batu dan duduk diatasnya
terus melamun. The Sam tatkala itu, hanya ia sendiri
yang tahu, bagaimana keras menahan debaran hatinya,
ingin ketika itu ia memeluk Ang Hoa Lobo dan meremas-
remas kedua pahanya yang montok berisi.
Ia menyesal telah keluarkan tegurannya, sehingga
wanita yang diimpikan itu cepat mslompat menghampiri
pakaiannya dan dipakai dengan cepatnya, hingga
lenyaplah psmandangan yang mengasyikkan barusan.
Kini ia dapat kenyataan, bahwa wanita itu bukannya
Kong Kim Nio alias Kim Popo yang sering ia impikan.
"Kau mengatakan namanya Siang Cu Leng, siapa itu
Siauw Tin Leng," menanya Ang Hoa Lobo pura-pura tidak
kenal dengan nama partnernya.
"Siauw Cu Leng adalah kami punya Suko," jawab The
Sam.
"Kenapa Siauw Cu Leng? Apa ia mengganggu
percintaanmu dengan Kim Nio?" tanya lagi Ang Hoa Lobo
kepingin tahu.
Tampak wajahnya The Sam berubah guram. Dengan
suara gergetan ia berkata: "Siauw Cu Leng sudah
merebut Kim Nio dari tanganku. Sukoku itu orang jahat,
setelah ia dapatkan Kim Nio masih belum puas dan
membuat perhubungan dengan seorang gadis nama
Teng Goat Go, kemudian kabur dengan gadis itu. Kim Nio
diterlantarkan-nya."
"Bagaimana kau tahu Siauw Cu Leng direbut oleh
Teng Goat Go?"
"Ini aku tahu dari mulutnya Kim Nio sendiri, ketika
belum lama berselang aku ketemu dengannya. Hatiku
panas, ingin aku menampar sekali mukanya Teng Goat
Go yang telah merebut suaminya adik Kim!"
"Hehe, kau mau menampar Teng Goat Go7" Ang Hoa
Lobo ketawa. "Asal kau ketemu dengan Teng Goat Go,
bukannya kau menampar, malah kau bisa-bisa ditampar
dan tekuk lutut menahan cintanya. Kau tidak tahu, gadis
Teng Goat Go itu sangat cantik. Lebih cantik dari si Kim
Nio, matanya Siauw Cu Leng mudah tergila-gila
kepadanya."
The Sam berdiri heran mendengar perkataannya Ang
Hoa Lobo.
"Adik, apa kau tidak salah berkata? Adik Kim sangat
cantik, mana ada gadis yang dapat mengalahkan
kecantikannya?" bantah The Sam, melindungi
kecintaannya.
"Lelaki tolol, asal kau ketemu Teng Goat Go, pasti kau
akan kesemsem dan jatuh berlutut minta cintanya seperti
aku katakan tadi."
Ang Hoa Lobo menegaskan.
The Sam jadi tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak
percaya, tidak percaya," katanya pasti. "Dalam pikiranku,
hanya adik Kim wanita cantik menarik, tidak bakal ada
wanita lain yang merubah pikiranku itu."
Ang Hoa Lobo tertawa terkekeh-kekeh. Ia berkata:
"Asal kau ketemu Goat Go, orang tolol, kau akan
merangkul padanya dan membisiki kata-kata merayu
serta tanganmu tidak bisa diam berkeliaran ditubuhnya
yang montok padat. Hihihi . . ."
The Sam melengak heran, Matanya mengawasi pada
Ang Hoa Lobo yang berseri-seri kearahnya,
menakutkan... kalau The Sam tidak pernah melihat
wajahnya Kim Popo yang rusak dan bersenyum
kearahnya. Malah dibalik wajah yang rusak itu dari Ang
Hoa Lobo, The Sam seolah-olah menemui sifat sifat genit
dan berani.
"Kau menatap saja pada wajahku, memangnya
wajahku kebagusan?" tegur Ang Hoa Lobo ketawa. "Asal
dulu kau melihat wajahku, pasti kau akan bertekuk lutut .
. ."
The Sam semakin heran hatinya. Pikirnya, apa wanita
ini ada maunya terhadap dirinya, makanya telah
mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya dikatakan
oleh seorang wanita sopan? Kapan ia mengingat akan
tubuhnya Ang Hoa Lobo yang serba padat, tiba-tiba saja
berdebaran hatinya dan ingin mengulangi rabaannya atas
badan si nenek, meskipun sekarang sudah terhalang oleh
pakaiannya.
The Sam adalah seorang licik dan licin, maka ia
berkata: "Adik...wajahmu tidak menjadi soal, adalah
tubuhmu yang sangat mengiurkan . . ."
Ang Hoa Lobo ketawa cekikikan seperti juga anak
perawan umur enam belas tujuh belaS tahun.
Diam diam si nenek merasa bangea mendengar pujian
dari lelaki didepannya.
Bergerak tubuhnya Ang Hoa Lobo ketika nyekikik
ketawa, terutama bagian dadanya yang padat, sehingga
The Sam berdiri bengong menyaksikannya.
"Orang tolol, kau mau tampar Teng Goat Go atau mau
gerayangin tubuhnya?" tegur Ang Hoa Lobo ketika
melihat The Sam diam saja berdiri.
"Kau.., kau.. ?" berkata The Sam terputus-putus.
"Ya, akulah Teng Goat Go.. ." sahut Ang Hoa Lobo
bangga.
"Adik Goat, oh. sungguh kebetulan." tiba-tiba saja The
Sam lompat menyergap Ang Hoa Lobo, pikirnya ia mau
permainkan tubuh orang serba padat itu.
"Mana begitu gampang!" kata Ang Hoa Lobo, yang
berkelit dari sergapan The Sam.
The Sam ketawa nyengir, nampak sergapannya tidak
membawa hasil.
"Adik Goat, kau permainkan kokomu?" seru The Sam,
kembali ia menyergap. Kali ini ia gunakan ilmunya 'Tong-
pie-kong' ialah tangannya bisa mengerat dan mengulur
panjang, hingga Goat Go alias Ang Hoa Lobo ia kaget, ia
gagal dalam berkelitnya.
Tahu-tahu ia rasakan tubuhnya kena dipeluk oleh
lengan kanannya The Sam yang mengulur panjang,
kemudian badannya terangkat melayang dibawa lari dan
direbahkan dibalik batu, dimana Ang Hoa Lobo tadi
duduk termenung.
Entah sejak kapan baju bagian atasnya jadi terbuka,
Ang Hoa Lobo lihat kedua buah dadanya terpentang.
Nenek Kembang Merah tubuhnya menggeliat geliat
menahan bergeloranya sang napsu, kapan ia rasakan
buah dadanya yang kiri diremas dan yang sekalian
dihisap oleh The Sam.
"Koko, kau mau apakan...aku.. ?" tanya Ang Hoa Lobo
dengan suara gemetar sambil tangannya mengelus-elus
kepalanya The Sam yang nempel didadanya.
Cuaca sementara itu telah mulai remang-remang
gelap.
Suara napas The Sam yang memburu terbawa keluar
dari balik batu oleh tiupan Sang angin sepoi-sepoi.
"Koko, kau benar-benar hebat . . . ." terdengar suara
Aug Hoa Lobo perlahan.
Menyusul terdengar suara mendengus saling susul
seperti kecapean.
Apa yang dilakukan oleh kedua insan itu dibalik batu.
hanya angin sepoi-sepoi saja yang berlalu lalang yang
mengetahuinya dan sang batu yang gagu.
Sampai cuaca sudah gelap, barulah The Sam dan Ang
Hoa Lobo pada keluar dari balik batu sambil merapikan
pakaiannya masing masing.
Mereka kemudian duduk berendeng di-atas batu besar
itu.
"Koko, kau bawa ransum kering?" tiba-tiba Ang Hoa
Lobo menanya. "Aku sangat lapar."
"Ada, ada..." sahut The Sam, seraya merogoh sakunya
dan dikeluarkannya beberapa potong kuwe kering. lalu
diberikan kepada si Nenek Kembang Merah.
Dengan lahap Ang Hoa Lobo makan kuwe itu.
"Nanti aku ambilkan airnya," berkata The Sam, seraya
merosot turun dari batu dan pergi ketepi kali. Dengan
menggunakan daun yang lebar, ia menyendok air sungai
dan dibawanya pada Ang Hoa Lobo, untuk si Nenek
Kembang Merah minum.
The Sam sendiri sudah menggayem kuwe, untuk
menangsel perutnya yang juga lapar.
Tidak jadi kegelapan dua manusia itu berada didaerah
pegunungan yang sepi, karena waktu itu tanggal dua
belas dan sang rembulan cukup terang, menerangi
mereka yang sedang menangsel perutnya yang lapar.
"Adik Goat, aku tidak kira kau bisa main," tiba tiba The
Sam berkata ketawa.
"Kau kira aku sudah loyo? Hm! Asal kuat kau
melayaninya..." Ang Hoa Lobo bersenyum.
Keduanya tertawa gembira, dan sejak itulah The Sam
menggantikan 'tugasnya' Siauw Cu Leng, yang sudah
Ang Hoa Lobo lupakan sejak malam itu mendapat
hiburan dari The Sam yang tidak pernah diimpikan
sebelumnya.
The Sam lebih kuat dan lebih agresif, maka si Nenek
Kembang Merah suka padanya dan cepat melupakan
Siauw Cu Leng.
Untuk sementara mereka tinggal dalam sebuah goa,
sebelum mendapat tempat yang baik untuk tempat
meneduh. The Sam mengajak Ang Hoa Lobo berkelana,
namun si Nenek Kembang Merah tidak menyetujuinya,
enlah apa sebabnya?
"Koko, kita belum lama berkumpul, maka sebaiknya
kita berkumpul puas puas dulu, baru kita pikir lagi
kemana kita harus pergi!" berkata Ang Hoa Lobo ketawa.
The Sam mengerti maksud pacarnya. Ia menyahut:
"Untuk beberapa hari kita sudah berkumpul, apa masih
belum puas? Dalam perjalanan juga kita tidak akan
hentikan kewajiban kita, bukan?"
"Oo, disini dan diluaran lain," sahut Ang Hoa Lobo
genit. "Disini tidak ada gangguan, hatiku tentram
melayani kau sembarang waktu, siang atau malam...."
Ang Hoa Lobo berkata seraya merangkul The Sam,
tangannya nyelonong dan bakal main bagian yang
manimbulkan napsu, The Sam tergerak hatinya,
tangannya juga tidak tinggal diam dan membukai
pakaian Ang Hoa Lobo, sehingga si Nenek Kembang
Merah cekikikan ketawa lantaran merasa geli beberapa
bagian tubuhnya kena disentuh tangan nakal The Sam.
Tengah hari bolong juga tidak menjadi ukuran untuk dua
insan itu melampiaskan kesenangannya.
Untuk membuat The Sam tidak mensia-siakan dirinya,
maka Ang Hoa Sobo pada suatu hari telah menotok The
Sam hingga tidak bisa bergerak, hanya mulutnya yang
masih bicara.
"Adik Goat, kenapa kau menotok aku?" tanya The Sam
heran.
"Sudah tentu ada maksudnya," sahut Ang Hoa Lobo
ketawa.
"Kau bermaksud apa?" tanya The Sam kepingin tahu.
"Sederhana saja," sahut Ang Hoa Lobo
"Kau sudah ganggu diriku, aku kuatir kau
meninggalkan aku yang berwajah jelek. maka sekarang
aku mau bikin wajahmu juga jelek seperti Siauw Cu Leng
tempo hari. Hihihi . . ."
Tergetar hatinya The Sam. Marah sekali ia, mendapat
tahu wajahnya bakal dirusak oleh Ang Hoa Lobo. Ia tidak
mengira si nenek ada demikian kejam, kalau tidak, siang-
siang ia sudah lari meninggalkannya.
"jangan kau gusar, manis . . ." kata Aug Hoa Lobo
tenang, seraya menyeka mukanya The Sam dengan kain
yang sudah dicelup racun.
The Sam meramkan matanya. Ia tidak merasakan
apa-apa. hanya dingin saja, tapi akibat sekaan dengan
kain yang sudah dicelup racun itu hebat sekali, sebab
wajahnya The Sam yang tampan telah berubah menjadi
keriput tua dan hitam hangus seperti terbakar. Setelah
mana, seraya terkekeh-kekeh ketawa Ang Hoa Lobo
mengambil cermin dan dihadapkan kepada The Sam,
Bukan main kagetnya si orang she The, sebab wajahnya
sekarang sudah salin rupa menakutkan.
"Kau suugguh kejam, adik Goat!" The Sam mengeluh.
"Aku bukannya kejam," sahut Ang Hoa Lobo kontan.
"Aku berbuat begini untuk mencegah kita jangan sampai
bercerai seumur hidup. Aku mencintaimu, koko, maka
kau jangan salah paham aku berbuat demikian. Kalau
kau dalam wajah aslimu, bagaimana sedih dan hancur
hatiku, manakala kau sudah bosan dan meninggalkan
diriku. Sekarang, dengan wajah yang serupa ini, aku
tidak kuatir kau akan mensia-siakan diriku."
The Sam menghela napas. Ia tidak bisa kata apa apa,
sebab kenyataannya wajahnya sekarang sudah tak dapat
diobati lagi. Ia tahu Teng Goat Go ada puterinya jago
racun dari Hoa im, yang tidak mudah ia permainkan.
Satu satunya hiburan baginya, setelah wanita itu
memang benar-benar mecintai pada dirinya, makanya
sudah berlaku kejam agar ia tidak ditinggal pergi
olehnya.
Dengan wajah yang berubah demikian jelek, tidak ada
muka ia untuk bergaul dengan kawan-kawannya pula,
apalagi dengan golongan wanita, maka selanjutnya ia
menjadi budaknya Ang Hoa Lobo seperti telah terjadi
dengan Siauw Cu Leng,si Iblis Alis Buntung ....
-ooOdwOoo-

BAB-6
BWEE HIANG ....

Kita kembali kepada jago betina kita yang telah
pingsan karena mengendus obat bius. Ia dalam keadaan
terikat badannya dengan tiang, bajunya bagian dada dan
perutnya disobek terbuka oloh Gin-eng Kam Sian Sui,
hingga kulitnya si nona yang putih mulus terlihat nyata.
Apa ini pembalasan dari si Elang Perak yang rambut
kepalanya dipapas gundul oleh si nona atau memang
suatu tekanan untuk si nona menurut dijadikan
menantunya, menjadi isterinya Kim Liong, anaknya yang
nomor dua.
Bwee Hiang dalam pingsan sudah tidak ingat apa-apa
pula, kalau ada orang yang melakukan perbuatan tidak
senonoh atas dirinya, ketika itu ada sangat gampang
sebab si nona dalam keadaan tidak berdaya.
Berapa lama si nona jatuh pingsan oleh pengaruhnya
obat bius, tahu tahu ketika ia siuman kembali, ia
dapatkan dirinya bukan didalam ruangan yang seram,
hanya dibawah sebuah pohon yang rindang diantara
tegalan yang terbentang luas.
Ia dapatkan dirinya tidak terikat dengan tiang, tapi
sudah bebas, bebas bergerak dan ia jadi jengah
sendirinya nampak keadaan dirinya saat itu. Pakaiannya
sudah robek disana sini, memalukan sekali.
Hatinya sangat gemas kepada si Elang Perak dan
suaminya.
"Awas, akan kulakukan pembalasan untuk hinaan ini!"
ia berkata sendirian.
Tapi, segera ia menjadi heran, karena kenapa dirinya
ada disitu sebalik dari berada dalam ruangan tahanan
yang menyeramkan itu? Siapakah yang telah
membebaskan dirinya? Siapa yang telah menolongnya?
Sungguh ia harus menghaturkan terima kasih kepada
penolongnya itu, yang begitu berani berkorban merebut
ia dari tangannya orang-orang ganas seperti Tan Pangcu
dan isterinya.
Waktu itu adalah pagi-pagi.
Matahari pagi baru saja mengunjukkan dirinya. Malu ia
dengan pakaian demikian pulang ke markas Ngo-tok-
kauw. Makin dipikir makin gemas ia kepada Ketua dari
Ceng Liong Pang yang telah menghina kepadanya.
Matanya tiba-tiba tertumbuk pada satu bungkusan,
diatas mana ada pedangnya yang menjadi
kesayangannya. Ia heran, Lalu ia mendekati bungkusan
itu, ketika ddihat isi-nya ternyata ada seperangkat baju
wanita.
Seraya memegang baju dari bungkusan tadi. Bwee
Hiang tertegun. Pikirannya melayang-layang. Ia menanya
pada dirinya sendiri: "Siapakah orang yang menolong
diriku? Demikian baik orang itu, bukan saja menyediakan
pakaian untuk aku tukaran, tapi juga pedangku tidak
lupa dibawakan sekali.... "
Ketika ia membeber baju baru itu. tiba-tiba jatuh
secarik kertas. cepat Bwee Hiang memungutnya dan
dibaca isinya yang berbunyi:

"Adik Hiang,
Sungguh malu aku tatkala mengetahui kau mendapat
perlakuan yang tidak enak dari ayah dan ibuku. Dengan
melupakan bahwa perbuatanku membuat ayah dan ibu
gusar aku sudah bawa kau kemari. Terimalah pakaian
untuk tukaran dan pedangmu juga aku sekalian
kembalikan. Dengan memandang pada mukaku, aku
harap kau tidak menarik panjang urusan ini dan sukalah
kau memaafkan atas perbuatan ibu dan ayahku yang
keliru itu, untuk mana aku sangat berterima kasih sekali
kepadamu."
"Aku sendiri sekarang sudah tidak ada dimarkas, aku
pergi merantau untuk mencari guru yang pandai, agar
ilmu silatku tidak mentah matang. Semoga pada lain
kesempatan kita berjodoh bertemu muka kembali. Sekali
lagi, untuk kesalahan ayah dan ibuku, aku mohon kau
suka memberi ampun, adik Hiang "
(—TAN KIM LIONG—)

"Oh, ia yang menolong aku..." menggumam si gadis,
tatkala ia habis membaca surat.
Wajah Kim Liong yang cakap seketika itu telah
berbayang didepan matanya.
Si gadis menghela napas, setelah merenung beberapa
saat.
"Engko Liong ada pemuda cakap dan sopan santun
kelakuannya, aku suka padanya. sayang sudah
terlambat, hatiku sudah dimiliki adik In. Kasihan ia.., ia
pergi mengembara untuk mencari guru, semoga ia
berhasil dan menjadikan dirinya seorang jago nomor satu
dalam kalangan rimba persilatan.." demikian Bwee Hiang
berkata sendirian.
Setelah itu cepat ia bertukar pakaian.
Rupanya itu adalah pakaian ibu atau ensonya Kim
Liong, sebab pas sekali dipakai Bwee Hiang, hingga diam
diam ia tersenyum geli setelah bertukar pakaian baru.
Kemudian ia jumput pedangnya dan dicantolkan
dipinggangnya, sedang pakaiannya yang sudah sobek-
sobek itu sayang ia buang dan dibungkusnya rapih untuk
dibawa pulang.
Sebentar lagi tampak ia sudah berlalu dari tempat itu.
Dengan menanya nanya kepada tani, cepat ia
menemukan jalan untuk pulang ke markas Ngo-tok
kauw, dimana kedatangannya disambut dengan hati lega
oleh Tong-hong Kauwcu dan ibunya, karena mereka
telah kehilangan si nona.
Ketika Bwee Hiang ditanyakan ia sudah pergi kemana,
tidak bilang dulu kepada sang ibu, Bwee Hiang hanya
ketawa. Ia tidak memberitahukan apa yang sudah terjadi
semalam dalam markas Ceng-liong-pang. Ia masuk
kekamarnya, setelah itu ia keluar lagi menemani ibunya
duduk kong-kouw.
"Anakku, aku harap kau tetap tinggai bersama ibu
disini," berkata sang ibu tiba-tiba. "Ayahmu sudah
berdamai denganku, kau bakal diangkat menjadi Sen-koh
(puteri Ketua) dari perkumpulan kita. Aku harap kau
tidak menolak, sebab dengan adanya kau disini, kami
tidak takut-takut pula dengan segala rongrongan, sebab
ada kau yang dapat mengusirnya. Bukankah baik
demikian, anak Hiang?"
Bwee Hiang tidak menyahut. Ia hanya bersenyum,
hingga sang ibu mendesak: "Anakku, suka terima
bukan?"
"Ibu," sahut sang anak. "Aku bukannya menolak,
namun, aku sudah janji dengan adik In, untuk membikin
kunjungan kelembahnya. Kami masih ada urusan yang
belum diselesaikan, maka hatiku selamanya tidak
tenteram!"
"Urusan apa yang harus diselesaikan, anak Hiang?"
"Itu urusan besar, ibu. Seperti pernah kukatakan pada
ibu, permusuhan dendam Sucoan Sam-sat adalah urusan
yang sangat penting, aku dengan adik In dan lain-lainnya
harus menyatroni sarangnya untuk menuntut balas. Aku
harus dengan tangan sendiri membunuh mereka, barulah
aku merasa puas!"
Terbelalak matanya Ceng Hoa. sang ibu, mendengar
kata-kata anaknya.
"jadi. kalau kau belum membalas Sucoan Sam-sat,
hatimu masih belum tenang?" tanya sang ibu dengan
penuh kuatir.
Bwee Hiang tersenyum getir. "Memang, kalau urusan
itu aku sudah dapat selesaikan barulah hatiku merasa
tentram, ibu"
Sang ibu menggeleng-gelengkan kepala dan menghela
napas.
"Anak Hiang, menurut pikiran ibumu, lebih baik kau
batalkan niatmu yang bukan-bukan itu. Ibumu tidak
setuju kau pergi kesana untuk mengantarkan jiwa, kau
diam saja disini dengan tenteram dan bahagia,
sebaliknya pergi kesana mencari bahaya!"
Bwee Hiang tundukkan kepala, tidak berkata apa apa.
"Bagaimana, apa pikiran ibu tidak benar?" tanya sang
ibu.
"Sebaiknya dalam soal Sucoan Sam-sat ibu tidak
banyak campur, itu adalah urusan anak pribadi."
menyahut sang anak dengan gagah. "Urusan ngo-tok-
kauw, apabila mendapat kesusahan, asal anak masih
bernapas pasti anak akan datang menolongnya. Adik In
juga sudah tentu tidak akan tinggal diam."
Putus asa sang ibu untuk membujuk anaknya tinggal
terus di markas Ngo tok-kauw dan menjadi Seng-koh.
Dalam pergaulan yang singkat, Ceng Hoa tahu adat
anaknya yang keras hati. maka ia pun pikir tidak perlu
membujuknya lagi-
Sejak itu, dua hari kemudian Bwee Hiang telah
menghilang. Ia hanya meninggalkan sepotong surat
kepada ibunya. bahwa ia pergi ke lembah Tong-hong-gay
untuk mencari adik In-nya. harap sang ibu tidak
memikirkannya. Sekali waktu, manakala ada kesempatan
pasti ia akan berkunjung ke Ngo tok-kauw bersama adik
In-nya.
Tonghong Kin yang diberitahukan suratnya sang anak,
juga tidak bisa kata apa-apa.
"Anak Hiang keras adatnya." ia menghela napas.
"Bagaimana juga kita bujuk tak akan berhasil." katanya.
"Biarlah kita sebagai orang tua mendoakan akan
keselamatannya."
Mari kita ikuti perjalanannya Bwee Hiang.
Sebagai gadis cantik dengan membawa-bawa pedang,
memang juga dirinya Bwee Hiang ada menarik perhatian
orang yang berlalu-lalang. Tapi orang anggap ia ada satu
Lie-hiap (pendekar wanita), maka orang tidak usil akan
dirinya.
Namun tidak demikian dengan mata alap-alap dari
kalangan bangor, melihat Bwee Hiang cantik jelita itu,
tidak melewatkan kesempatan untuk mmggodai si jago
betina.
Bwee Hiang sebenarnya sangat mendongkol hatinya.
oleh gangguan orang orang demikian, tapi ia berlagak
pilon, ia tidak mau mencari gara-gara oleh urusan sepele,
kuatir perjalanannya menjadi tertunda.
Tapi, dasar nasibnya Bwee Hiang rupanya dalam
setiap perjalanannya mesti menemui pengalaman, maka
ia tak dapat menghindarkan bentrokau dengan orang-
orang dari Peng Tek Liang, jagoan dari kampung Pek-ke-
Cun.
Itulah pada waktu ia bendak melangkah masuk
kedalam warung makanan, ia dengar teriakan dari
seorang perempuan yang minta tolong.
Bwee Hiang tidak jadi masuk kewarung itu dan lalu
pasang kuping dari jurusan mana teriakan minta tolong
itu keluar.
Ia putar tubuhnya lari ketempat dari mana teriakan
terdengar, disana ia lihat ada seorang wanita muda
tengah diseret oleh beberapa orang laki-laki, malah ada
yang menyambuki, hingga wanita itu berteriak-teriak
minta tolong.
Meskipun ada banyak orang yang melihat kejadian
kejam itu, tidak ada orang yang berani ulurksn
tangannya menolong wanita tadi yang berteriak teriak.
Dibelakang perempuan itu ada digiring dua orang tua,
rupanya mereka sepasang suami-isteri. yang perempuan
kelihatan sudah sukar bertindak, tapi dipaksa oleh orang
orang yang mengiringnya.
Malah dengan kejam perempuan tua itu juga
berkenalan dengan cambukan.
"Kalian begini kejam!" seru wanita tua itu. "Apa
memangnya dalam kampung ini tidak ada keadilan?
Biarlah kalian nanti mendapat hukuman untuk kekejaman
ini. Aduh! Kejam, kejam . . !"
Orang tua itu menangis, kena dicambuk mukanya,
hingga mengeluarkan darah dari bekas cambukan tadi.
"Kalian jangan menganiaya ibuku!" wanita muda yang
diseret tadi berkata dengan putus-asa. "Lepaskan ibu dan
ayahku, biar aku yang menanggung sendiri nasib celaka
ini, Aku tidak takut dihadapkan kepada Peng-jiya, paling-
paling aku juga dicambuk mampus kalau aku tidak turuti
kemauannya..."
Wanita muda itu menangis menggerung-gerung sedih.
Dalam keadaan demikian ia diseret terus, hingga tak
dapat ia merontak-rontak untuk meloloskan diri dari
seretannya orang-orang itu yang dilakukan dengan kasar
sekali.
"jiya telah perlakukan kau baik-baik, kenapa kau
menolak kemauan jiya? Hm, Siapa yang berani
menentang jiya? Rasakan akibat keangkuhanmu. Maka,
baik-baiklah kau ikut kami menghadap jiya, disana kau
boleh minta ampun dengan menyerahkan dirimu, pasti
jiya mempunyai pertimbangan untuk membebaskan ibu
dan ayahmu!" membujuk salah satu orang yang
mengiring wanita itu, rupanya yang menjadi kepalanya.
Bwee Hiang dapat dengar semua pembicaraan
mereka. Ia mengerti bahwa perbuatan itu dilakukan oleh
orang-orangnya, orang yang berpengaruh dalam
kampung itu, melakukan perbuatan yang sewenang-
wenang kepada pihak yang lemah. Hal demikian
memang sering terjadi, orang-orang takut campur
tangan karena takut oleh pengaruhnya si orang jagoan.
Menghadapi soal yang ganjil itu, tidak bisa tidak Bwee
Hiang campur tangan.
Maka, begitu rombongan orang-orang itu lewat
didepannya, segera ia menghadang. Ia berkata: "Tuan-
tuan, harap berhenti sebentar. Aku ingin bicara dengan
kepala rombongan!"
Orang-orang jahat itu kaget nampak tiba-tiba saja ada
satu gadis menghadang, hingga mereka berhenti. Ketika
dilihat bahwa diri si gadis itu tidak ada apa-apanya yang
dibuat seram, maka mereka jadi berani dengan
mengandalkan jumlah banyak.
Tampak ada seorang maju kedepan. "Aku Peng Tiong,
orangnya Peng jiya, kau mau omong apa mencegat
perjalanan kami?" bentaknya nyaring.
Bwee Hiang bersenyum manis, senyuman yang
membuat orang orangnya Peng jiya terbelalak saking
menggiurkan rupanya.
"Aku menghadang bukannya apa apa, aku mau minta
Toako suka melepaskan wanita itu bersama kedua orang
tuanya," sahut Bwee Hiang kemudian dengan tenang.
Gerr! saja tiba-tiba orang ketawa, mentertawakan
Bwee Hiang.
"Anak manis, kau jangan mengganggu perjalanan
kami," berkata Peng Tiong. seraya ketawa cengar-Cengir
seperti monyet kena terasi. "Lekas kau enyah dari sini,
sebentar kalau dilihat jiya aku tidak tanggung akan
nasibmu!"
"Memangnya Peng jiya kenapa kalau melihat aku?"
tanya Bwee Hiang..
"Ehm!" Peng Tiong berdehem, sambil matanya
menatap wajah si nona. "Kau begini cantik. mana jiya
mau lepaskan? Kau dari mana sih datangnya?"
Bwee Hiang tidak gusar dengan kata-kata Peng Tiong,
malah ia bersenyum.
"justeru aku mau melihat jiya, ia ada dimana
sekarang?" kata si nona serius.
Peng Tiong melengak mendengar perkataan si nona.
Biasanya, wanita mendengar namanya saja Peng-jiya
sudah ketakutan, ini sebaliknya malah mau mencari jiya,
benar ada diluar dugaan mereka yang menjadi
begundalnya.
"Nona, kalau kau tidak mau dapat susah, aku
nasehatkan lekas kau pergi dari sini, kalau tidak, jangan
sesalkan aku akan tangkap kau untuk dipersembahkau
kepada majikanku. Pasti ia senang melihat wajahmu
yang sangat cantik..."
"Manusia hina!" bentak Bwee Hiang, mulai sengit ia
mendengar kata kata Peng Tiong. "Apa kau kira nonamu
dapat disamakan dengan lainnya? Kau lihat, kalau kalian
tidak melepaskan itu nona (sambil menunjuk pada wanita
yang tengah menangis), dan ayah ibunya, jangan
sesalkan nonamu akan memberi hajaran pada kalian!"
"Wah, galak benar!" seru salah satu orangnya Peng-
jiya, sementara itu ketawa ramai telah terdengar riuh.
Mereka mentertawakan Bwee Hiang yang dianggap
sudah sinting ingatannya hendak campur-campur
urusannya Peng-jiya.
Bwee Hiang jadi kurang senang.
"Kalian mau lepaskan atau tidak mereka bertiga?"
tegurnya bengis.
"Bukan saja mereka tidak di lepaskan, malah kau juga
akan kami tangkap!!." seru Peng Tiong dengan tidak
kurang bengisnya.
"Bagus!" kata Bwee Hiang menyusul tangannya diulur
mau mencekuk Peng Tiong.
Bukan main gusarnya si kepala rombongan, seraya
berkelit ia memaki: "Budak hina! Dasar peruntunganmu
bakal jadi permainannya jiya, maka dengan tidak hujan
tidak angin datang-datang mau campur perkara orang
lain!"
"Hehe, kau bisa main juga, ya!" jengek Bwee Hiang
tatkala melihat Peng Tiong sudah bisa selamatkan
dirinya.
"Lihat ini!" berbareng kepalan si nona berkelebat, dan
kali ini tak dapat dikelit oleh Peng Tiong, sebab si orang
she Peng terpelanting kena dijotos telak dadanya dan
muntahkan darah segar.
Kawan-kawannya melihat pimpinannya dengan
segebrakan sudah dijatuhkan oleh si nona. matanya pada
terbelalak keheranan.
"Manusia-manusia tolol!" bentak Peng Tiong. "Untuk
apa jiya piara kalian, kalau tidak mau membela
kehormatannya jiya? Lekas serbu dan tangkap budak liar
itu!"
"Enak saja kau bicara, apa kiranya mudah menangkap
nonamu? Hm! Siapa tidak tahu diri, boleh maju!" tantang
Bwee Hiang, tenang-tenang saja jago betina kita.
Orang-orang itu seperti baru sadar akan tugasnya,
maka mereka lantas mengurung Bwee Hiang, meskipun
dengan takut-takut kelihatannya.
Si nona tabu mereka keder, maka ia lalu menggertak:
"Satu demi satu aku akan bikin kalian muntah darah
seperti Peng Tiong itu!" si nona seraya menunjuk pada
Peng Tiong yang masih mendeprok di-tanah dengan
mulutnya berlumuran darah.
"Kentut!" teriak Peng Tiong. "Lekas serbu, jangan
kasih lolos budak liar itu. Siapa yang bisa tangkap, akan
mendapat hadiah dari jiya!"
Mendengar disebutnya 'hadiah', membuat mereka jadi
bersemangat.
Bwee Hiang tenang-tenang saja, ketika mereka
beringas hendak menangkapnya.
Begitu mereka menyergap dengan berbareng, begitu
juga tubuhnya Bwee Hiang berputar dan segera
terdengar dua-tiga orang rubuh menjerit kesakitan dan
muntah darah.
Yang lain-lainnya menjadi takut melihat kekosenannya
Bwee Hiang.
"Lepas mereka, kalau tidak, rasakan tanganku yang
keras!" bentak Bwee Hiang seraya mengacungkan
kepalannya.
Tinju itu putih mungil, tapi dirasakan sebagai palu
godam dari ratusan kati memukul dada, hingga mereka
yang jadi korban pada ketakutan. Mereka mendeprok
terus, pura pura sudah tidak berdaya oleh pukulannya
Bwee Hiang tadi.
Masih ada dua-dua orang yang berlaku nekad dan
menyergap Bwee Hiang, namun, dengan satu kelitan
manis Bwee Hiang menghilang dan tahu-tahu mereka
pada menjerit dan jatuh terkulai kena tinjunya jago kita.
"Hehe !" tertawa Bwee Hiang, ketika melihat korban-
korbannya pada merintih kesakitan. Sedang yang lain-
lainnya sudah pada lari meninggalkan orang-orang
tawanannya.
Bwee Hiang lalu meaghampiri pada wanita muda tadi
dan menanyakan duduknya perkara.
Kiranya wanita itu sudah mempunyai suami, yang
tengah mencari pekerjaan di kota. Ia tinggal bersama
ayah dan ibunya yang sudah lanjut usianya, mereka yang
di-tawan bersamanya. Pada suatu hari ada lewat Peng
Tek Liang, yang dikenal dengan nama Peng-jiya (majikan
kedua), didepan rumahnya dan kebetulan Peng jiya
melihat padanya sambil bersenyum. Wanita itu mengira
Peng-jiya ada kenalan suaminya, maka ia juga
bersenyum. Lantaran senyuman ini telah menerbitkan
malapetaka, segera itu waktu Peng-jiya telah masuk
kedalam rumahnya dan mengajak si nyonya muda
mengobrol.
Wanita itu, yang mengaku bernama Swat Lan,
memang berparas cukup cantik dan menarik hatinya
Peng-jiya. Ketika mengetahui bahwa Peng-jiya bukan apa
apa suaminya, Swat Lan sadar bahwa ia telah
mengundang masuk srigala kedalam rumahnya.
Ia memang sudah dengar bahwa Peng-jiya itu seorang
paling suka permainkan anak bini orang dan bukan
sedikit yang telah menjadi korbannya, tanpa ada campur
tangan dari pihak pembesar yang bertugas dalam
kampung itu, rupanya sudah kena disuap oleh Peng-jiya
yang terkenal hartawan dalam kampungnya.
Ketika Peng-jiya mengajak mengobrol terus, Swat Lan
menjadi ketakutan, sebab orang she Peng itu, bukan saja
mulutnya yang nyerocos tapi juga tangannya nakal
mencubit lengan, pipi dan malah berani menowel orang
punya buah dada.
"Peng-jiya," Swat Lan kata, ketika melihat gelagat
jelek. "Harap kau suka batasi tanganmu yang nakal,
kalau kelihatan orang, bukankah menjadi malu?"
"Malu apa, asal kau suka melayani, Peng-jiya tidak
takut malu!" jawabnya ketawa.
Swat Lan sebenarnya tidak selayaknya menemani
orang laki-laki asing duduk mengobrol, apa lagi suaminya
sedang tidak ada dirumah. Ketelanjur Peng-jiya
menerobos masuk dan minta ia duduk pasang omong,
katanya ada urusan penting yang hendak ditanyakan,
maka Swat Lan kepaksa melayani bicara. Ia tidak
mengira kalau Peng-jiya itu sangat ceriwis dan
tangannya nakal, hingga ia jadi ketakutan.
"Peng-jiya, tidak baik aku menemani lama-lama kau
bicara, maka aku permisi masuk kedalam saja," kata
Swat Lan dengan suara halus. Pikirnya, dengan suara
halus itu ia dapat mengusir Peng-jiya, tapi, dugaannya
meleset. Begitu si nyonya muda bangkit dari duduknya
Peng-jiya membarengi berbangkit dan dengan tiba tiba
saja sudah merangkul dirinya, hingga Swat Lan menjadi
gelabakan...
"Peng jiya. ingat aku bukan istrimu.., ah. aku takut
nanti orang lihat. suamiku pulang pasti aku akan
dipukuli. Peng ji ya, kau jangan begini!" Swat Lian
berontak, untuk melolokan diri dari pelukan Peng jiya.
Tapi Swat Lan sukar melepaskan dirinya dari
cengkeramannya orang yang sudah kalap, malah
pelukannya Peng jiya dirasakan makin erat. Panas
dirasakan kedua pipinya ketika merasa kedua belah
pipinya diciumi Peng jiya. Swat Lan menangis, ketika
dalam keadaan tidak berdaya ia hendak direbahkan
didipan. Untung tiba-tiba pintu terbuka, ayah dan ibunya
datang masuk dan mengusir Peng jiya.
Gagal Peng jiya mempermainkan si cantik Swat lan. Ia
lepaskan pelukannya, seketika itu Swat Lan melejit
bangun dan berdiri dibelakang ibu dan ayahnya sambil
menangis keras karena dirinya dihinakan orang.
Peng jiya marah diusir oleh kedua orang tua itu. Ia
menghampiri dan mengirim pukulan kepada ayahya Swat
Lan.namun, pukulannya mengenakan angin, dikelit oleh
orang tua itu.
"Kau berani banyak lagak dirumah orang!" bentak
ayah Swat Lan bengis. Menyusul tangannya yang kuat
memcekuk belakang lehernya Peng jiya, dengan sakat
enteng ia dibawa keluar dan dilemparkan hingga si orang
she Peng bergulingan.
Kesakitan juga Peng jiya karena lemparan tadi.
Hatinya panas, ia berteriak: "Manusia dekat mampus!
Lihat pembalasan Peng jiya!!"
Ayahnya Swat Lan gemas. Ia keluar dan hendak
memberi hajaran pula kepada orang ceriwis itu. Namun
Peng jiya sudah siang-siang lari dari situ.
Pada keesokan harinya dengan dipimpin oleh Peng
Tiong, rumahnya Swat Lan disatroni. Ayahnya yang
kepandaiannya tidak seberapa, dikeroyok oleh banyak
begundalnya Peng jiya dan akhirnya telah menyerah.
Bersama dengan isterinya orang tua yang usianya
sudah lanjut itu digiring oleh orang-orangnya Peng jiya.
Sementara Swat Lan secara kasar telah digelandang
juga. Belakangan ia mogok dijalan, maka terpaksa ia
diseret oleh orang-orangnya Peng jiya, sehingga si nona
berkaok-kaok minta tolong dan didengar oleh Bwee
Hiang.
Setelah mendengar duduknya perkara, Bwee Hiang
manggut-manggut.
"Memang orang ada yang suka sewenang-wenang
kepada orang yang tidak punya uang, apalagi kalau
orang itu setan paras elok, makin jahat dalam segala
perbuatannya." berkata Bwee Hiang kepada Swat Lan.
Sambil menepas air matanya Swat Lan menyahut:
"Adik, semestinya kau jangan turut campur dalam
urusanku ini. sebab akibatnya sangat hebat. Peng-jiya
bukan hanya punya orang-orang seperti yang di-pimpin
Peng Tiong saja, tapi juga ada memelihara jagoan
jagoan tukang pukul yang kepandaian silatnya tinggi.
Adik, aku kuatir akan keselamatanmu maka pergilah kau
lari!" Swat Lan menyuruh si nona lari meninggalkan
mereka.
"Hehehe!" Bwee Hiang ketawa tawar. "Urusan sudah
ditanganku, mana bisa begitu mudah aku
meninggalkannya. Lihat saja, enci Lan, apa yang Peng-
jiya bisa bikin terhadap aku. Mari sekarang kita pulang?"
Bwee Hiang mengajak si nyonya muda.
Swat Lan ajak kedua orang tuanya pulang, tapi ibunya
ternyata sudah habis tenaganya, dan ayahnya masih
dapat jalan.
"Adik," kata Swat Lan. "Ibuku tidak bisa jalan, biarlah
kita mengaso dahulu sebentar. Kapan tenaganya sudah
pulih baru kita pulang."
"Mana bisa begitu, mari aku gendong ibumu!" sahut
Bwee Hiang.
Ia berkata sambil menghampiri nyonya tua itu, yang
lantas menggendongnya.
Swat Lan sangat berterima kasih kepada Bwee Hiang,
yang bukan saja menolong mengusir orang-orang jahat,
sebaliknya sudah menggendong ibunya pulang.
Dalam perjalanan pulang tampak kedua wanita itu
omong-omong banyak, Bwee Hiang dan Swat Lan
dengan sedikit tempo saja menjadi kenalan baik.
Sampai dirumahnya, Swat Lan repot menyediakan
barang hidangan untuk Bwee Hiang, yang sudah lapar
dari setadian. jago betina kita tidak malu-malu menyikat
makanan dalam rumahnya Swat Lan. apa lagi nyonya
rumah saban saban menyuruh ia makan banyak.
Swat Lan sendiri hanya makan sedikit, rupanya
hatinya sangat ruwet dan memikirkan apa yang akan
terjadi sebentar.
"enci Swat Lan, hayo ikut makan banyak," berkata
Bwee Hiang. "jangan kau pikirkan urusan Peng jiya,
kalau mereka datang kemari akan kukasi hajaran kepada
mereka. Malah Peng-jiya sendiri akan kuketemukan dan
ancam ia hentikan perbuatan-perbuatannya yang tidak
senonoh itu."
Swat Lan hanya anggukkan kepalanya. Dalam hatinya
ia berkata: "Apa kau tidak terlalu sombong membuka
mulut besar sekarang? Hm! Sungguh sayang sekali kalau
kau sebentar jatuh dalam tangannya Peng-jiya!"
Swat Lan merasa sayang kalau sampai Bwee Hiang
sebentar akan jatuh ditangannya si orang she Peng, ini
sebab ia tidak tahu kepandaiannya Bwee Hiang sampai
di-mana.
Ketika Swat Lan sedang temani Bwee Hiang, setelah ia
mengobati luka ayah dan ibunya, tiba-tiba pintunya
digedor dari luar.
"Kasar benar gedoran itu, kau bukalah enci Lan!"'
berkata Bwee Hiang tenang.
Swat Lan sebenarnya ragu-ragu untuk membukanya.
akan tetapi, kalau dibiarkan rumahnya bisa roboh oleh
gedoran yang dahsyat itu, maka mau tidak mau ia telah
membukai pintu dan sebentar saja sudah menerobos
masuk empat-lima orang yang berperawakan tinggi besar
dan wajahnya semuanya bengis menakutkan.
"Mana itu wanita liar?" tanya salah satu diantaranya
dengan suara keras seperti lonceng ditabuh, hingga Swat
Lan menggigil badannya.
"Kau jangan taku enci Lan" menghibur Bwee Hiang.
Lalu ia bangkit dari duduknya, menghadapi orang yang
menanya tadi. Ia kata: "Kau cari siapa, sahabat?"
Orang itu memandang Bwee Hiang, dalam hatinya
lantas menduga bahwa wanita liar yang ia sebutkan tadi,
adalah wanita yang berdiri dihadapannya. Maka ia kata:
"Nona, kau yang bikin huru-hara barusan?"
"Itu bukannya huru hara. aku hanya menolongi enciku
dari cengkeraman orang jahat!!" jawab Bwee Hiang
ketawa.
"Nona, kau benar-benar telah makan nyalinya
harimau, begitu berani membentur Peng jiya yang sudah
terkenal banyak anak buahnya. Aku nasehatkan kau
jangan campur urusan dalam rumah ini, mana kalai aku
tidak menurut, tahu sendiri akibatnya..."
Bwee Hiang ketawa ngikik, hingga orang itu
keheranan.
"Kau ketawakan apa, nona?" tanyanya kepingin tahu.
"Aku ketawakan kalian, sudah merendahkan diri
menjadi anak buahnya orang jahat!" sahut Bwee Hiang
tegas. hingga lima orang yang barusan masuk pada
melengak heran.
"Kau berani menyindir?" kata orang tadi. "Aku Kim-say
Thio Tjiang, kepala dari semua orang-orangnya Peng-jiya
adalah satu laki-laki, tak takuti siapa juga "
"Siapa kata kau takuti orang. yang aku ketawakan kau
tolol telah menjadi begundalnya segala hartawan
kampungan jahat!" sahut Bwee Hiang ketawa ngikik.
Kim say Thio Tjiang, si Singa Emas, marah bukan
main. la membentak: "Budak liar, kalau tidak aku bekuk
kau, memang juga kau tak tahu kelihayanku"
Seiring dengan kata-katanya, tangannya diulur cepat
sekali hendak mencekuk batang leher orang, tapi Bwee
Hiang lebih gesit. Lengannya sudah kena dicekal si nona.
"Singa Emas, cobalah keluarkan kepandaianmu"
ngeledek Bwee Hiang. setelah mencekal keras lengan
Kim-Say Thio Tjiang.
Meskipun kecil dan halus jari-jarinya si nona, tapi
ketika mencekal lengan si Singa Emas seperti telah
berubah menjadi jepitan besi kuatnya.
Si Singa Emas rasakan ngilu dipencet lengannya,
sampai peluh membasahi tubuhnya. Ia tidak mengira si
nona mempunyai tenaga lwekang demikian dahsyat.
Meskipun ia coba berkali kali, hasilnya nihil, lengannya
tak dapat terlepas dari cekalannya Bwee Hiang yang
seperti jepitan besi.
"Kau boleh unjuk kelihayanmu!" mengejek Bwee
Hiang, ketika melihat si Singa Emas dahinya sudah penuh
dengan keringat yang berketel ketel.
"jangan sombong!" bentaknya, berbareng kakinya
bekerja menendang selangkangan si nona yang sedang
enak-enakan mencekal lengan si Singa Emas. Ia tidak
menduga orang bakal menendang, hingga hampir saja
Bwee Hiang celaka, kalau tidak cepat melepaskan
cekalannya dan merangkapkan pahanya, untuk
menerima tendangan lawan.
-OO0DW0OO-

J ILID 3
Bab 7

TENDANGAN si Singa Emas keras tapi tenaga
membalik dari pahanya Bwee Hiang yang dirangkap tadi,
tidak kurang kerasnya, sebab si Singa Emas badannya
melayang dan menimpa dinding rumah hingga ambrol.
Thio Ciang menggeletak sambil keluarkan rintihan
kesakitan, kakinya yang menendang tadi telah patah.
Bwee Hiang gunakan jurus 'Giok-lie Koan-bun (Wanita
cantik menutup pintu ), menangkis tendangan lawanyang
dabs yat.
Kawan-kawannya melihat pemimpinnya keok, menjadi
murka. Cepat mereka mengurung, tapi Bwee Hiang tidak
takut. Sa-yang diilain ruangan itu sempit, maka ia sudah
lompat keluar diuber oleh empat.
Orang kawannya si Singa Emas yang mengira si gadis
takut-
Swat Lan melihat Bwee Hiang lompat keluar, ia juga
mengira Bwee Hiang ketakutan, maka hatinya jadi sangat
khawa-tir akan diri penolongnya. Ketika dengan lesu ia
melongok keluar ia lihat sudah ada dua lawannya Bwee
Hiang yang menggeletak. Ia hanya dikoroyok oleh dua
orang. Hatinya Swat Lan menjadi gembira dengan
serentak melihat kemenangan tuan psnolongnya. Dengan
tak terasa ia malah bertepuk tangan, seperti memberi
semangat kepada Bwee Hiang untuk merobohkan dua
lawannya lagi.
Nona kosen kita tahu tepukan tangan si nyonya cantik,
maka setelah ia melirik sebentar, badannya berkelebat
dan tahu-tahu dua musuhnya terpelanting hampir
berbareng kena jotosan dan tendangan Bwee Hiang yang
liehay.
Itulah terjadi ketika Bwee Hiang mengegos, menyusul
tiujunya yang keras menghantam dada musuhnya yang
menyerang tadi. Tidak sampai disitu, sebab Bwee Hiang
segera kempeskan perutnya kasih lewat pukulanyang
mengarah perut dari lawannya yang satunya. Menyusul
kakinyu terangkat, sebelum sang lawan perbaiki po-
sisinya, yalah menarik pukulan kearah perucang luput,
satu tendangan hebat bersarang dirusuknya hingga tak
ampun pula lawan Bwee Hiang terbanting meloso
ditanah. Ini adalah gerakanyang dinamakan
'Kim-tiauw-hoan-sin' atau 'Rajawali Emas membalik
tubuh' ajaran Kwee In, guru cilik Bwee Hiang, si Bocah
sakti yang sangat sangat liehay.
Melihat empat orang Iawannya Bwee Hiang sudah
pada roboh, Swat Lan lari menghampiri si jago betina.
Sambil mencekal tangan orang Swat Lan berkata:
„Adikku, kau benar-benar hebat! Aku tidak nyana hanya
beberapa gebrakan saja, kau dapat menjatuhkan musuh-
musuh tangguh. Sungguh diluar dugaanku sama sekali."
Bwee Hiang tertawa. Ia hadapi mereka yang sedang
pada merintih dan berkata: „Kalian boleh pulang dan
kasih tahu kepada Peng-jiya aku akan bikin kunjungan
kesana, untuk menghajarnyal"
Setelah berkata Bwee Hiang ajak Swat Lan masuk pula
kedalam, di mana ia tidak dapatkan Peng Tiong yang tadi
rebah ketimpa tembok yang ambrol. Kemana ia sudah
pergi?
Bwee Hiang tidak ambil mumet.
„Enci Lan," kata si gadis. „Aku sudah bekerja, maka
aku harus bekerja sampai pada buntutnya, maka
sebentar malam aku akan menyatroni rumahoya Peng-
jiya!"
„J angan, perbuatan itu sangat berba-haya!" sahut
Swat Lan kaget.
Bwie Hiang tertawa, „Kalau orang itu tidak dikasih
hajaran, mana bisa kapok?" kata si gadis. „Biarlah aku
pergi kesana, aku juga tidak sembarangan turun
tangan dan aku hendak melihat gelagat" nya juga. Kau
jangan kuatir, enci!"
Swat Lan tak dapat mencegah kemau-annya jago
betina kita, ia hanya minta supaya si gadis berhati hati,
jangan sampai kena perangkap musuh dan meuyulitkan
diri sendiri.
Swat Lan tinggalkan Bwee Hiang se-bentaran untuk
melihat keadaan kedua orang tuanya, kepada ayahnya ia
ceritakan halnya, Bwee Hiang telah menghajar orang-
orangnya Peng-jiya.
Orang tua itu unjuk paras girang.
„Aku puas mendengar kejadian ini," berkata sang
ayah. „Cuma saja aku kha-watirkan urusan tidak sampai
disini saja, Peng-jiya mana mau mengerti orang orang-
nya dijatubi begitu saja, pasti ia akan mengirim orang-
orang kuatnya lagi."
„Adik itu akan menyatroni rumahnya Peng-jiya,
bagaimana ayah pikir T' tanya Swat Lan, yang ingin tahu
bagaimana pikiran sang ayah atas tindakannya Bwee-
Hiang.
„Memang ada baiknya kalau si nona pergi kesaua
untuk mengrsi hajaran pada orang jakat itu, cuma aku
khawatir mak-sudnya gagal, karena menurut kabar
rumahnya Peng-jiya selainnya dijaga oleh orang
orangnya yang terdiri dari jago jago pilihan juga
diperlengkapi dengan banyak perkakas rahasia. Ioi ada
berbahaya, maka kau harus kasih nasehat si nona
supaya ia berlaku hati-hati, kalau tidak, lebih baik kau
cegah ia pergi kesana, aku takut ia mendapat bahaya."
Swat Lan memang sama pikirannya dengan sang
ayah, maka ketika ia menemui Bwee Hiang pula ia
ulangkan nasehatnya supaya si nona jangan teruskan
maksud u ya menya-troni rumahnya Peng-jiya. Ia
tuturkan kekuatiran sang ayah bahwa si nona nanti
masuk jebakan
Bwee Hiang tidak menjawab. ia kerutkan alisnya yang
bagus.
Ia jadi ragu-ragu akan menyatroni rumahnya Peng-
jiya, mengingat dhana ada dipasang banyak perkakas
rahasia. Sebalik-nya dipikir lagi, kalau ia tidak pergi
kesana, Peng-jiya jadi keenakan dan perbuat-annya pasti
akan lebih jahat pula.
Sementara itu cuaca sudah gelap tanda sang malam
sudah tiba.
Swat Lan telah msnyediakan hidangan pula untuk si
nona makan. Kali ini Swat Lan hatinya rada lega, maka ia
dapat menemani Bwee Hiang makan.
Selama makan, tampak Bwee Hiang tidak banyak
berkata-kata, ia seperti sedang memikirkan jalan
bagaimana untuk memberi hajaran kepada Peng-jiya.
Swat Lan saban-saban mengajak ia bicara, gadis kita
hanya sambut dengan ketawadan mnnggutkan kepala
saja. Nyo-nya rumah tahu bahwa Bwee Hiang sedang
memikirkan halnya Peng-jiya. Ia menghibur: „Adikku,
aku harap kau jangan menempuh bahaya, jangan kau
coba pergi menyatroni rumahnya Peng-jiya yang banyak
dipasang perangkap berbahaya. Biarkan saja, orang
jahat begitu nanti juga ketemu batunya!"
„Enci Lan, justeru sekarang ia ketemu batunya,
bagaimana kau mengharap ada lain batu yang
menemukan Peng-jiya?" sahut Bwee Hiang ketawa.
Swat Lan semu merah wajahnya karera jengah.
Memang juga pada waktu itulah Peng-jiya ketemu
batunya, yalah ketemu Bwee Hiang. Sebab orang gagah
yang bagaimana lagi yang lebih hebit kepandaian-nya
dari Bwee Hiang?"
Malam itu Bwee Hiang tidur bersama-sama dengan
Swat Lan. Sampai jauh malam mereka pasang omong,
sampai tiba-tiba Bwee Hiang rasakan kepalanya berat
dan mengantuk, ia lihat kawan bicaranya sudah
menguap saja dan lantas menghampiri ranjang untuk
lantas tidur tidak ingat pula akan dirinya.
Bwee Hiang yang sudah ada pendalaman, cepat-cepat
ia rogoh kantongnya dan masuki pil pemusnah obat tidur
kedalam mulutnya. Makin lama, ia menghendus bau
wangi makin tajam dan ia pun turut Swat Lan naik
keranjang untuk lantas tidur.
Sebentar pula, ssteyah kedua wanita itu mendengkur
pulas, tiba tiba dari jendela masuk sesosok bayangan
dengan wajahnya pakai topeng hitam.
Orang itulah yang telah membius Bwee Hiang dan
Swat Lan.
„Nona gagah," terdengar orang itu berkata kata
sendirian. „Bagaimana juga kau ada seorang wanita,
tidak dapat melebihi kecerdikannya orang lelaki “
Perlahan-lahan ia menghampiri Bwee Hiang yang tidur
disebelah tepi ranjang.
Bwee Hiang tidur dengan celentang, hingga parasnya
yang cantik terlihat nyata oleh si orang bertopeng.
„Sungguh cantik nona gagah ini..." menggumam si orang
bertopeng. „Kalau saja aku tidak banyak . hutang budi
kepada J iya, terang nona se-cantik ini bakal menjadi
makananku. Biarlah aku bawa pada J iya, sebagai tanda
bahwa aku setia kepadanya. Oli, bagaimana girangnya
J iya kalau sudah melihat kecantikannya nona gagah ini . .
." menyusul ta-ngannya yang jail menyolek pipinya Bwee
Hiang, yang diam saja, malah kelihatan parasnya seperti
bersenyum kena dicolek pipinya, sehingga membuat si
orang bertopeng menjadi tergetar hatinya.
Ingin ia memeluk dan menciumi si nona, namun, ia
merasa berdosa kepada J iya kalau ia berbuat demikian,
maka ju-ga dengan menekan geloranya sang hati,, ia
sudah angkat dan pondong Bwee Hiang pergi melalui
jendela.
Gesit orang itu, rupanya dia mempu-nyai kepandaian
tinggi dalam hal ilmu mengentengi tubuh, sebab dengan
beberapa lompatan saja ia telah menghilang ditelan oleh
kegelapan sang malam. Sebentar saja ia sudah sampai
pada sebuah bangunan rumah besar yang mewah, yang
tembok pe-karangannya tinggi. Ternyata tembok
pekaranganyang tinggi itu tidak menjadi rintangan bagi si
orang bertopeng, meskipun ia membawa beban berat,
dengan sekali enjot saja ia sudah menclok diatasnya,
tembok, kemudian lompat turun kesebelah dalam. Ia
berlari-lari disaling oleh lompat sana lompat sini seakan-
akan ia menghindarkan diri menginjak perangkap.
Sebentar lagi ia masuk pintu sebelah kiri dari
bangunan rumah yang besar itu. Didalam ia harus lewati
beberapa ruangan, dengan cermat sekali ia dapat
menghindarkan tiap jebakanyang dipasang disitu.
Segera ia sudah sampai pada sebuah ruangan luas,
namun, ia masih terus membelok kekiri dan kemudian
kekanan, lantas berdiri didepannya sebuah pintu besar.
Ia mengetuk tiga kali, berhenti sejenak, lalu mengetuk
dua kali lagi, lama ia berdiam, lalu mengetuk lagi tiga
kali, inilah rupanya kode untuk orang yang disebelah
dalam tahu kalau yang datang ada kawan ssndiri.
Segera tampak terbuka sebuah lobang pada daun
pintu. Seorang dengan suara parau menanya: „Siapa
diluar? Binatang atau manusia?"
„Manusia atau binatang adalah sahabat!" Si orang
bertopeng menjawab.
Itulah kode untuk malam itu rupa-nya, sebab lantas
kelihatan pintu dibuka lebar dan Si orang bertopeng
nerobos masuk dengan memondong Bwee Hiang.
Diruangan tengah ada duduk berkumpul kira-kira
sepuluh orang, dengan dikepalai oleh Peng jiya,
diantaranya tampak Peng Tiong dan empat kawannya
pecun-dang Bwee Hiang.
Si orang bertopeng lalu merebahkan Bwee Hiang
diatas sebuah dipan beralas kasur yang empuk dan
menyiarkan bau wangi;
Orang-orang yang ada disitu sangat girang melihat si
orang bertopeng berhasil dengan pekerjaannya. Ketiiea si
orang bertopeng menghampiri Peng-jiya, ia melapor:
„J iya, aku sudah selesaikan tugas yang J iya berikan
padaku, harap J iya suka periksa."
„Saudara Lie, sungguh aku sangat berterima kasih
atas bantuanmu," jawab Peng-jiya dengan sorot mata
kegirangan, „Sekarang kau beristirahatlah'." ia
menyilahkan.
Si orang bertopeng menghampiri ka-wan-kawannya
untuk duduk berkumpul.
Mereka kasak-kusuk menanyakan bagaimana si orang
bertopeng melakukan pekerjaannya, ketika melihat Peng-
jiya telah menghampiri Bwee Hiang yang menggeletak
diatas dipan. Dalam keadaan rebah seperti tak sadarkan
diri, tampak wajahnya Bwee Hiang mempesonakan
Peng jiya, si gila basa. „Sungguh cantik. . .!" ia memuji
perlahan. „Kalau saja ia dapat menjadi gundikku, rasanya
hidupku sungguh puas. Belum pernah aku menemui
gadis secantik ini. Tapi, eh, apa benar nona ini yang
menjatuhkan Peng Tiong dan kawan-kawan-nya?" Ia
menanya pada dirinya sendiri, berbareng ia menggapai
pada Peng Tiong dan beberapa kawannya yang tadi
siang menempur Bwee Hiang.
Peng Tiong cepat bangkit berdiri disusul oleh kawan
kawannya, mereka menghampiri Peng-jiyi. „Coba kalian
kenali, apa nona ini yang me.nbikin susah kalian tadi
siang?" Peng-jiya menanya pada Peng Tiong dan kawan-
kawannya.
Peng Tiong dan kawan-kawan menegasi roman Bwee
Hiang sejenak. „Betul, betul ia yang telah merobohkan
kami orang. Ia sangat hebat kepandaiannya, J iya harus
hati-hati membikin jinak kepadanya, salah-salah nanti
bisa dapat susah!" menasehati Peng Tiong.
Peng-jiya ketawa. „Kau jangan takut, apa baru sekali
ini saja Peng-jiya menemui wanita kosen? Sudah dua-tiga
orang wanita kosen telah dibikin tunduk oleh Peng-jiya,
cuma sayang satu yang paling belakangan kepala-batu,
setelah mengetahui dirinya sudah dinodai lantas
membunuh diri. Dasar perempuan tidak punya rejeki,
kalau dengan rela seterusnya menjadi gundik Peng-jiya
tentu sekarang ia hidup senang seperti yang Yain-
lainnya. Memang wanita itu adatnya aneh-aneh.
Hahahaha . . ."
Peng Tiong tidak berkata apa-apa lagi, lalu bersama
kawan-kawannya balik lagi kemeja berkumpulnya,
dimana mereka meneruskan kasak-kusuknya dengan si
orang bertopeng.
Orang bertopeng itu adalah orang Peng-jiya yang
paling disayang, ia bernama Lie Ciang bergelar Hui-yan
(si Walet Terbang). Tidak kecevta ia mempunyai julukan
si Walet Terbang, sebab ginkangnya sangat hebat.
Dalam kesukaran mendapatkan perempuanyang disetujui
oleh Peng-jiya selalu minta bantuannya Hui-yan Lie
Ciang. Saban kali tugas yang diberikan kepada Hui yan
Lie Ciang belum pernah gagal, maka Peng-jiya sangat
sayang pada si Walet Terbang.
Dalam hal Bwee Hiang juga, Peng-jiya tidak
melupakan Hai yan Lie Ciang, yang merupakan kartu
teakhir untuknya, sebab usaha jago-jago pilihannya yang
dipimpin Peng Tiong telah dipecundangi oleh si nona
gagah.
Kejahatan Peng-jiya sudah luber, maka juga ia sudah
ketemu Bwee Hiang rupanya.
Melihat Peng-jiya seperti yang ke-sengsern msnatap
wajahnya Bwee Hiang yang cantik, orang-orangnya
lantas minta permi-si berlalu. Mereka tahu diri, dalam
keadaan seperti itu si majikan membutuhkan
ketenteraman dan berada berduaan dengan bakal
korbannya.
Peng-jiya ketawa ketika mendengar orang-orangnya
minta permisi berlalu.
„Baiklah, Lain kati kita berunding pula dalam
urusanyang kita barusan bica-rakan belum ada
keputusannya, sekarang selamat malam!" berkata
Peng-jiya ketawa.
Peng Tiong dan teman-temannya dilain detik sudah
berada diluar kamar. Pintu segera dikunci dari sebelah
dalam oleh Peng-jiya. Mendadak saja hatinya menjadi
dak-dik-duk kapan pada saat ia melangkah menghampiri
Bwee Hiang fmembayangkan kecantikanaya Bwee Hiang
dan tubuhnya yang serba padat menggiurkan.
„Dasar peruntunganku baik, lepas pe rempuan sialan
itu, bolehnya menemui si cantik dan gagah ini. Baiklah,
aku nanti buat ia jinak seperti yang laianya. Oh,
bahagialah aku kalau ia menjadi gundikku yang tercinta.
Saban hari akan ku ajak ia pelesir, pasti ia tak akan
menolak-nya melihat badaanya yang kokoh dan serba
padat itu . . ."
Demikian ia melamun kalau ia sudah dapat menjinaki
jago betina kita. Sementara itu ia sudah malingkah
mendekati dipan diatas mana Bwee Hiang masih rebah
celentang tak sadarkan diri. Peng-jiya memandang,
memandang dengan tak merasa bosan pada wajah Bwee
Hiang yang segar dan sepasarg bibirnya seperti
tersenyum.
Peng- jiya duduk disampingnya Bwee Hiang, sambil
ulurkan tangannya mencu-bit perlahan pipi si nona ia
berkata: „Nona kau sungguh cantik . . ."
Tangannya kemudian mau mengcerayang pada bagian
tubuh Bwee Hiang lainnya, tapi batal, ketika merasakan
debaran hatinya tak tertahankan. Segera ia bangkit dan
meloloskan pakaian luarnya, hingga kini ia hanya
berpakaian dalam yang dengan lantas dapat diloloskan
kalau sebentar ia mulai melakukan tugasnya.
Dalam pakaian dalam itu ia menghampiri si nona.
Perlahan-lahan ia menggeser badan Bwee Hiang sedikit
ketengah dan ia sendiri lalu merebahkan dirinya disarapi
ng si nona.
Cepat tangannya bekerja, hendak membukai pakaian
Bwee Hiang.
Tak tertahan geloranya sang hati nampak bibir Bwee
Hiang seperti bersenyum menantang, maka ia batalkan
menggerayang pakaian orang, ia cenderungkan
kepalanya dan hendak mengecup bibir yang semekar itu.
Pada saat itulah tiba-tiba Bwee Hiang pelengoskan
mukanya, berbareng Peng-jiya rasakan iganya
kesemutan kena ditotok. Badannya roboh tengkurup
diatas dipan, sementara Bwee Hiang sejak tadi sudah
meninggalkannya.
Kalau Bwee Hiang masih celentang, pasti tubuhnya
Peng-jiya akan menindih Bwee Hiang. Si nona ada sangat
sebat, begitu ia menotok sudah lantas melejit turun dari
dipan dan mengawasi Peng-jiya yang badannya roboh
tengkurap.
Bagaimana Bwee Hiang dengan mendadak bisa
syuman?
Itu tidaklah heran, seperti dikatakan diatas, ketika ia
melihat Swat Lan menguap saja dan ia ada menphendus
baunya asap wangi, lantas tahu ada orang datang
membius mereka, maka seketika itu ia masuki pil
pemusnahnya kedalam mulutnya. Itulah pil bikinan Kwee
Inyang diberikan kepa-danya untuk menjaga diri.
Si nona tahu kedatangannya Hui yan Lie Ciang, namun
ia pura pura tidak sadarkan diri. Ia biarkan dirinya
dipondong dibawa kesarangannya Peng jiya. Itu memang
keinginannya si nona. sebab sampai sebegitu jauh ia
ragu-ragu menyatroni sarangnya Peng-jiya dikarenakan
disana banyak dipasang perangkap.
Dengan diam-diam ia perhatikan gerak annyaHui-yan
Lie Ciang, ketika ia dipondong lompat sana dan lompat
sini menghindarkan tempat-tempacang ditaruh .
perangkap. Ia catat dikepalanya, supaya dalam
perjalanan pulang ia tidak sampai kejeblos dalam
perangkap.
Senang hatinya si nona mendapat petun-juk dari si
Walet Terbang dengan tidak disadari oleh Hui-yan Lie
Ciang. Si nona sangat hormat dalam usahanya, tidak
mau ia membikin ular kaget, maka ia biarkan dahulu
tangannya Peng jiya yang hendak membukai pakaiannya,
ia menanti si korban sampai cenderungkan badannya. Ia
tahu lelaki bangor tidak tahan melihat senyuman
menggiurkan, maka juga ia telah bersenyum manis
seraya geraki sedikit bibirnya seperti gemetar.
Pemandangan inilah yang membuat Peng jiya kena
perangkap si nona. Tidak tahan akan napsunya yang
bergelora, ia cepat cenderunekan badannya dengan
maksud hendak mencium, pada saat itulah si nona
pelengoskan mukanya dan berbareng dengan sebat
menotok 'Thian kie-hiat' (jalan darah pada bagian iga
kanannya), sehingga si alap alap perempuan ambruk
tengkurup.
Bwee Hiang menghampiri Peng jiya yang sudah tidak
berdaya. Ia tarik bangun dengan tangan kirinya, tangan
kanannya menggampar keras pada pipinya Peng-jiya
hingga berlepotan darah mulutnya dan gigi-nya ada tiga-
empat biji yaiyg rontok. Sakit bukan main, tapi Peng-yiya
tak berdaya.
„Manusia hina!" bentak Bwee Hiang. „Entah berapa
banyak korban karena kejahatanmu, maka sekarang
rasakan pembalasan perempuanyang dihina olehmu!"
menyusul kakinya Bwee Hiang bekerja dan menendang
nyungsep tubuhnya Peng-jiya ke kolong dipan.
J usteru lantaran tendangan itu.totok-an pada iganya
menjacii terbuka dan Bwee Hiang tidak sadari ini, karena
ia saking gusarnya.
Bwee Hiang jongkok menarik kakinya Peng jiya, lalu
diberdirikan pula dengan maksud menghajar pula pipinya
sang korban dengan tangannya yang sudah siap
dikerjakan.
Pada saat itulah, tiba-tiba Peng-jiya merangkul si
nona. Denpan mencerahkan semua tenaganya yang ada
Peng-jiya telah merangkul erat, hingga si nona menjadi
kaget, kedua tangannya tidak bisa digeraki. la berontak
keras, hingga mereka jadi bergunyengan dan Bwee
Hiang rasakan tubuhnya didorong kedekat dipan.
Kaget si nona mengetahui tenaganya Peng-jiya ada
besar, hingga kedua tangannya tak dapat digeraki. Makin
lama ia makin terdesak kedckat dipan.
„Kau jangan andalkan ilmu silatmu yang tinggi, lihat
Peng jiya akan bikin kau merasakan kenikmatannya
dunia.." berkata Peng-jiya, seraya terus mendorong
Bwee Hiang kearah dipan, maksudnya hendak
merebahkan si nona dan diganggu kehormatannya.
Bwee Hiang merah selebar mukanya mendengar
perkataan cabul dari Peng jiya.
Kegusarannya meluap-luap, tapi ia masih belum dapat
meloloskan diri dari rang-kulannya Peng-jiya yang entah
teiah menggunakan ilmu apa?
Kaget si nona ketika Peng jiya dengan kekuatan
raksasanya telah berhasil mendorong dirinya rebah
diaras dipan. Dengan begitu mereka jadi bergulat diatas
dipan, yang satu berontak hendak meloloskan diri, yang
satu bertahan dengan kuatnya.
Bwee Hiang sudah keluarkan keringat juga bila
mengingat bahaya yaag mengan-cam dirinya. Ia bingung
Peng-jiya telah menggunakan ilmu apa, sebab kedua
tangan nya yang biasanya lincah menjadi mati kutu kena
didekap oleh Peng jiya.
Lebih pula Bwee Hiang kagetnya tatkala nampak
Peng-jiya seraya mendekap keras badannya, tangannya
masih ada kesempatan untuk merayapi bagian dadanya.
Pu-cat wajahnya si nona, rasa takut mulai muncul dalam
hatinya.
Ia merontak dengan kekuatannya yang ada, namun,
sia-sia saja, badannya. tak dapat terlepas dari
rangkulannya Peng-jiya yang seperti jepytau besi.
Pikir si nona: „Sekali ini aku mesti celaka . . . ! Oh,
adik In, encimu bukan tidak bersetia kepadamu, biarlah
dilain penitisan kita berjodoh . . . Encimu dalam
cengkeraman srigala dan tidak berdaya, kapan encimu
sudah dinodai, encimu akan membunuh diri untuk
menanti kau dialam baka dan encimu akan minta ma'af
untuk perbuatan encimu yang tak bisa menjaga
kehormatannya . . . , adik In, kau dimanakah? Tidakkah
kau kasihan kepada encimu yang sedang dalam bahaya
ini . . . ?"
Bwee Hiang tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca
menangis, mengingat akan nasibnya yang buruk.
Meskipun demikian ia tetap merontak-rontak ketika Peng
jiya menambah pula tenaganya dan menekan tubuhnya
untuk tidak bergerak diatas dipan.
„Tok! Tok! Tok!" tiba-tiba terdengar ketukan dipintu,
pada saat Bwee Hiang sudah putus asa untuk dapat
melindungi dirinya.
Ketukan itu membuat Peng jiya kaget. J usteru
lantaran kaget, tenaganya yang seperti raksasa tadi
mengendor, kesempatan mana tidak disia siakan oleh
Bwee Hiang dan sekali merontak kali ini ia berhasil
melepaskan dirinya. Ia melejit bangun, menyusul Peng
jiya sudah berada didekatnya pula hendak merangkul.
Kali ini si nona tidak kasih hati, tinjunya me-luncur
kearah dada Peng-jiya. Buk! Tinju Bwee Hiang bersarang
telak didada Peng-jiya, hingga si hartawan jahat terkulai
roboh dan muntah darah- Saking gemasnya, Bwee Hiang
menendang keras pada rusuknya Peng-jiya, hingga ia
menje-rit kesakitan dan bergelimpangan dilantai, untuk
dilain detik ia telah melepaskan na-pasnya yang
penghabisan.
„Sialan!" Bwee Hiang membatin, seraya merapikan
rambutnya dan pakaiannya yang kusut barusan bergulat
diatas dipan dengan Peng-jiya.
Lega bukan main hatinya Bwee Hiang dapat lolos dari
terkamannya Peng-jiya.
“Entah ia menggunakan ilmu apa, hingga aku tidak
berdaya didekap olehnya?" tanya Bwee Hiang pada
dirinya sendiri.
Ia tidak bisa memikirkan hal itu lebih jauh, karena
ketukan pintu makin gencar.
Bwee Hiang bersenyum. Ia bersyukur atas ketukan
pintu itu, sebab gara-gara ketukan pintu itu ia dapat lolos
dari bahaya yang hampir tak dapat dielakkan.
Bwee Hiang disamping bersyukur kepada ketukan
pintu, ia juga punya keperca-yaan bahwa tenaganya
Kwee lnyang tak kelihatan telah membantu dirinya dapat
ia meloloskan diri dari rangkulannya Peng-jiya, sebab
pikirnya, barusan saja ia berkata kata kepada adik In-
nya, dengan tiba-tiba saja ia mempunyai kekuatan
dahsyat dan pelukannya Peng-jiya dapat diatasi.
Bwee Hiang tahu bahwa yang mengetuk itu tentu
begundalnya Peng jiya, dalam marahnya ia menghunus
pedangnya. Seketika itu ia lupa akan pesanan Kwee In
supaya ia membatasi pembunuhan, karena rasa gusarnya
dirinya dihina orang. Ia benci pada Peng-jiya, tapi
sekarang Peng-jiya sudah mati, maka kebenciannya ia
tumplek pada si orang bertopeng alias Hui-yan Lie Ciang
dan semua begundalnya Peng-jiya.
Ketika ketukanyang gencar itu tidak ada yang
membukai, maka mulailah pintu dibuka dengan cara
kasar. Didobrak dengan keras, akhirnya pintu itu terbuka
juga beberapa orang telah lompat masuk. Diantaranya
ada Lie Ciang yang masih mengenakan topengnya dan
Peng Tiong yang Bwee Hiang kenali.
Mereka kaget nampak Peng-jiya kedapatan mati
dengan mulut berlumuran darah.
„Celaka, perempuan liar itu telah kabur setelah
membunuh Peng-jiya!" seru Peng Tiong, setelah
memeriksa mayatnya sang 'cukong'.
„Peng heng, mana ia bisa kabur," sahut Hui-yau Lie
Ciang. „Kecuali ambil jalanan dipintu, tidak ada jalan lain
untuk ia berlalu!"
Peng Tiong pikir perkataannya Lie Ciang benar. Maka
seketika itu matanya mengawasi keatas, tapi tidak ada
tanda-tanda yang menunjiukan bahwa Bwee Hiang sudah
mabur melalui atap rumah. Melihat kesekitarnya juga
tidak ada tanda-tanda yeng mencurigakan, maka ia
lantas membentak: „Perempuan hina, keluarlah terima
kematiaumu!"
Tidak terdengar penyahutan dari si nona.
Keadaan hening sejenak. Mereka saling pandang
dengan hati berdebaran, tapi masing-masing sudah siap
dengan sewjata tajam ditangan.
„Sudah membunuh orang, mau lolos dengan mudah,
enak saja! Lekas keluar unjukkan muka dan terima
kematianmu!" teriak pula Peng Tiong dengan sangat
gusar.
Kembali tidak ada terdengar suara sahutan.
Tiba-tiba Hui-yan Lie Ciang ketawa gelak-gelak. Ia
berkata: „Peng-heng, wanita itu tentu sudah diajak naik
sorga oleh Peng J iya, makanya juga malu malu keluar
unjukkau diri. ..."
Belum habis perkataan Lie Ciang, tiba tiba melompat
keluar Bwee Hiang dari balik tirai yang menutupi ruangan
kecil peranti Peng jiya beristirahat.
,,Manusia hina, kau berani omong kotor!" bentak Bwee
Hiang.
Si nona barangkali tinggal diam terus dibentak pergi
datang, kalau tidak Lie Ciang yang. licin keluarkan
ejekannya yang membuat ha tinya si nona panas.
„Bagus! kau sudah keluar!'' kata Peng Tiong.
„Sekurang, gunakanlah pedangmu untuk bunuh diri,
menyusul rokhnya Peng-jiya, diangan sampai kami turun
tangan sehingga kematianmu degan badanyang tidak
utuh!"
„Kentut busuk!" bentak Bwee Hiang gemas. „Malam ini
nonamu akan melakukan pembunuhan besar-besaran
untuk mencuci kehinaan, maka terimalah ini!"
Bwee Hiang berkata sambil berkelebatakan
pedangnya, ia menusuk kearah dada Peng Tiong, yang
menjadi gelabakan lantaran tidak menduga si nona balcal
menyeragg dirinya.
Ia masih dapat mengelakkan tusukan pedang, tapi
tidak terhindar dari sabetan pedang yang membikin
rambut kepalanya terbang berhamburan.
„Turun tangan semua!" teriak Peng Tiong sangat
gusar.
Mentaaii komando pemimpinnya, mereka lantas
menyerbu. Segera juga terdengar ramai beradunya
senjata. Permainan pedang Bwee Hiang sangat bagus,
penuh variasi, hingga lawannya tertegun oleh ka-
renanya. J uga dibantu oleh tajamnya pedang, Bwee
Hiang boleh dikata menguasai keadaan meskipun dirinya
dikeroyok oleh tidak kurang sembilan orang, termasuk
Hui yan Lie Ciang.
Si Walet Terbang ingin menangkap Bwee Hiang hidup-
hidup maka serangannya tidak begitu ganas seperti Peng
Tiong dan kawan-kawannya.
Hui-yan Lie Ciang pikir, sekarang Peng-jiya sudah
mati, sangat sayang kalau gadis secantik Bwee Hiang itu
jatuh ditangan lain, maka ia sebisa-bisa menggunakan
kepandaiannya untuk merobohkan Bwee Hiang dengan
tidak bercacad.
Ia tidak tahu, kalau Bwee Hiang sudah keluarkan
pedangnya seperti macan tumbuh sayap. Gagah luar
biasa, tak mudah orang mendekatinya.
Melihat dirinya dikeroyok oleh orang orang kuat, maka
si nona sudah keluarkan ilmu pedangnya 'Bwee-boa-
kiam-hoat' (ilmu pedang kembang Bwee), ajaran
ayahnya (Liu Wanggwee) namun sudah diperbaiki oleh
Kwee In menjadi sangat lihay. Si nona setelah
mengeluarkan beberapa jurus dari ilmu pedangnya itu,
belum juga dapat merobohkan lawan-lawannya yang
alot, maka ia sudah keluarkan jurus kesayangannya yalah
'Bwee-hiang-boan-wan' atau 'Harumnya bunga bwee
memenuhi taman', Suatu jurus yang sangat lihay dan
bukan sekali dua kali dengan jurus itu si nona peroleh
kemenangan dalam pertempuran. Ini kali juga lantas
kelihatan lihaynya jurus itu, sebab lawan-lawannya
menjadi terdesak mundur, termasuk Hui yan Lie Ciang
yang hendak menangkap si nona hidup hidup.
Dalam tempo singkat lantas terdengar jeritan disana
sini, itulah Bwee Hiang yang tidak mau kasih hati kepada
lawan lawannya. Dimana pedangnya berkelebat, disitu
terdengar jeritan dan robohnya tubuh manusia. Rintihan
terdengar disana sini, sementara ruanganyang lebar itu
menjadi banjir darah.
Dari sembilan orang pengeroyoknya, ketinggalan Peng
Tiong dan Lie Ciang dui orang yang masih ngotot
menggempur si nona.
Mereka juga sudah mulai gentar melihat kawan-
kawannya sudah menjadi korban si nona yang kosen.
Dengan cermat mereka melayani Bwee Hiang, seraya
mencari kesempatan untuk angkat kaki dari depan Bwee
Hiang.
Menyusul Peng Tiong menjerit dan roboh dilantai,
pundaknya kena dipupus oleh pedangnya Bwee Hiang.
„Hehe-he!" Bwee Hiang tertawa terkekeh kekeh melihat
Peng Tiong roboh dengan memegangi pundaknya yang
terluka.
Menggunakan kesempatan Bwee Hiang sedang
ketawa, Hui-yan Lie Ciang angkat kaki.
„Perlahan sedikit sahabat. . . . !" Lie Ciang dengar
orang berkata, ketika ia hampir mendekati pintu keluar.
Menyusul Bwee Hiang sudah menghadang didepannya.
Terkejut bukan main Lie Ciang, ia tidak mengira si
nona demikian lihay. Seketika itu ia rasakan tubuhnya
mengeluarkan banyak peluh saking ketakutan.
„Nona, aku tidak bersalah banyak dalam hal dirimu,
malah aku juga mengeroyok dengan tidak sungguh
sungguh barusan, maka aku harap kau sukalah kasi jalan
aku berlalu dari sini. Aku tidak akan mencam-puri pula
urusannya Peng-jiya," demikian Lie Ciang memohon
kasihannya Bwee Hiang
„Enak saja kau bicara, sahabat," sahut Bwee Hiang.
“Lantaran bantuanmu, maka Peng-jiya semakin ganas
sepak ter-jangnya, maka, orang semacam kau perlu apa
ditinggal hidup!". . berbareng pedangnya Bwee Hiang
berkelebat, kontan kepala-nya Lie Ciang menggelinding
dilantai tanpa mengeluarkan jeritan pula.
Sungguh hebat jago betina kita kalau sudah marah.
Ia putar tubuhnya kembali kepada Peng Tiong dan
kawan-kawannya. Ia lihat Peng Tiong dan tiga empat
orang kawannya yang masih hidup, dengan tidak banyak
rewel ia kutung-kutungi kepalanya.
Darah membanjiri ruangan, keadaan sangat
mengerikan, namun bagi Bwee Hiang kejadian demikian
sudah biasa, ia sama sekali tidak kaget dan menyesal.
hanya sedikit tergetar hatinya, manakala ingat akan
nasehat Kwee In untuk membatasi pembunuhan, jangan
terlalu banyak membunuh orang kalau tidak terpaksa.
Pikirnya, apa yang ia perhuat sekarang saking terpaksa,
maka adik Innya tentu tidak akan mence-la
perbuatannya itu.
Menggunakan darah yang mcngumpiang disitu, Bwee
Hiang menulis ditembok yang berbunyi: „Pembunuhan
dilakukan oleh Pendekar wanita yang kebetulan lewat,
siapa berani tarik panjang urusan akan dicabut
nyawanya. Semua alat rahasia yang merupakan
perangkap harus dimusnahkan semua, kalau tidak ingin
gedung ini menjadi rata dengan tanah!"
Setelah selesai menulis, jago betina kita bikin bersih
pedangnya dengan sprei dipan diatas mana belum lama
berselang ia bergulat dengan Peng-jiya.
Ia penasaran Peng jiya telah menggunakan ilmu apa,
makanya ia tidak berdaya dalam pelukannya? Kembali ia
menghampiri korban-korbannya yang sudah putus
nyawanya, kebetulan diantaranya ada yang masih
bernapas, hanya pura-pura saja mati. Bwee Hiang
ketawa, cepat ia menarik keluar orang itu diantara
mayat-mayat Peng Tiong dengan kawan kawannya.
Orang itu sebenarnya tidak terluka beret, hanya saking
takutnya ia tidak ingin mati konyol, maka ia pura-pura
mati. la tidak mengira kalau Bwee Hiang ketahui akalnya.
Kaget bukan main ketika ia ditarik dan dibangunkan.
Ia mula mula pura-pura lemas terkulai, tapi ketika
dibentak Bwee Hiang: „Kau janganmain gila terhadap
nonamu!" orang itu tidak berani meneruskan pura
puranya. Ia buka matanya dan menatap Bwee Hiang
dengan sorot memohon dikasihani.
„Aku mau majukan beberapa perta-nyaan padamu,
kau harus bicara betul, baru aku dapat mengampuni
selembar jiwamu," berkata Bwee Hiang pada orang itu.
„Nona mau menanya apa?" tanya orang itu cepat.
„Siapa namamu? Apa kau sudah ker-ja lama pada
Peng-jiya?" Bwee Hiang mulai menanya.
„Namaku Lie Kam, saudara muda dari Lie Ceng. Aku
ikut Peng jiya dengan perantaraannya Lie Ciang
saudaraku."
„Bagus," kata Bwee Hiang. „Apa Peng jiya berilmu silai
tinggi?"
„Peng-jiya ilmu silatnya tidak tinggi, hanya ia
mempunyai tenaga raksasa, berkat ia melatih 'Thay-lek-
eng jiauw kang' (Tenaga cengkeraman burung garuda).
Siapa yang kena dipeluk olehnya, jangan harap bisa
berontak dan meloloskan dirinya, itulah yaug aku tahu!"
Bwee Hiang terkejut. Pantasan ia dipeluk Peng jiya
seperti dijepit dengan jepitan besi, sehingga tidak
berdaya meloloskan diri, kalau begitu Peng-jiya memiliki
tenaga sakti yang hebat
Bwee Hiang tampak meraba pedangnya, hingga Lie
Kam menjadi ketakutan.
„Kau jangan bunuh aku, Liehiap," ia memohon.
„Dirumah aku masih mempunyai isteri, dua anak dan ibu
mertua yang sudah lanjut usianya. Kalau aku terbunuh,
siapa nanti yang mencari nafkah untuk kasi makan
mereka? Oh, Liehiap ampunkan dosaku . . . . "
Bwee Hiang sebenarnya paling benci kalau lihat orang
pengecut, tapi mendengar Lie Kam meratap
mengemukakan ada punya isteri, dua anak dan ibu
mertua yang ia harus kasi makan, hatinya menjadi
lemah.
„Baiklah," kata Bwee Hiang seraya memasuki pulang
pedangnya. „Aku sekarang pergi, kasi tahu kepada Peng-
toaya, supaya ia turut apa yang aku barusan tulis
ditembok. Nah, kau lihat itu!" Bwee Hiang berkata sambil
menunjuk kepada tulisannya ditembok.
Lie Kam manggul-manggutkan kepala-nya. „Aku akan
sampaikan kata-kata Liehiap,'* katanya.
„Eh, aku mau tanya lagi," kata pula Bwee Hiang.
„Apakah kelakuannya Peng-toaya sama dengan kelakuan
Peng-jiya?"
„Tidak sama, sahut Lie Kam. „Peng-toaya benar galak,
tapi ia tidak melakukan perbuatan yang sewenang-
wenang terhadap orang perempuan. Ia lebih
mengutamakan mengurus perusahaan dari pada
mengumbar napsu perempuan."
„Bagus, itulah nasibnya yang baik," kata Bwee Hiang.
„Kalau tabiatnya sama dengan saudara mudanya, pasti
Pepg-toaya malam ini aku bereskan sekalian ! "
Lie Kam tidak menjawab, ia tundukkan kepala.
Lama ia menunduk, ketika tidak mendengar Bwee
H:ang mengajukan pertanyaan lagi, ia angkat kepala nya
dan membuka mu-lutnya hendak menanya, tapi alangkah
kaget, nya karena didepannya sudah tidak kelihatan
Bwee Hiang, entah sejak kapan nona cantik itu
meninggalkan ruangan itu.
Mengetahui Bwee Hiang sudah pergi, maka Lie Krim
lantas pergi menemui Peng-toaya untuk melaporkan
kejadian malam i:u, dalam mana Peng-jiya telah
melayang jiwanya.
Dalam pada itu. Bwee Hiang sudah kembali
kerumahnya Swat Lan. Ia masuk melalui jendela dan
melihat Swat Lan masih enak-enak mendengkur tidur.
Diam diam Bwee Hiang jadi tertawa geli.
Kemudian ia tukaran pakaian yang ke-cipratan darah
dan lalu naik keranjang tidur disampingnya Swat Lan
yang sedang tidur dengan nyenyaknya.
Pada keesokan harinya, ternyata Bwee Hiang
kesiangan bangun. Swat Lan sudah lama bargun dan
menyediakan barang hidangan, baru Bwee Hiang
kelihatan membuka matanya ran mengucek-ngucek,
kesilauan matahari masuk dari jendela.
„Adikku, kau sudah bangun?" tanya Swat Lan ketawa.
ketika ia masuk kedalam kamar nampak Bwee Hiang
sedang mengucek-ngucek matanya.
„Ah, aku semalam enak tidur, malu aku bangun
kesiangan," jawab Bwee Hiang ketawa.
„Adikku, kenapa mesti malu? Kau tentu lelah, makanya
juga tidurnya enak betul."
„Enci juga kelihatan nyenyak sekali tidurnya, apa kau
kira aku tidak tahu?".
„Adik, bagaimana kau bisa tahu?".
“Semalam aku mendusin, aku lihat enci sedang
mendengkur. Mungkin, kalau waktu itu datang Peng-jiya
dan memeluk enci, pasti enci diam saja saking enak-nya
tidur. . . ."
„Adik nakal!" kata si nyonya muda, seraya tangannya
diulur mencubit lengan si nona. „Kau menggodai encimu?
Ciss, mana encimu sampai begitu keenakan tidur?"
Bwee Hiang ketawa ngikik diatas ranjang ia
menggodai Swat Lanyang duduk ditepi pembaringan.
Tampak nyonya rumah yang masih muda belia itu
kemerah-merahan digodai Bwee Hiang yang nakal.
„Kau tertawakan apa, adik sampai begitu enaknya?"
tanya Swat Lan.
„Aku ketawakan enci tadi malam,” sahut nya.
„Aku memangnya kenapa ? "
“Saking enaknya tidur, ketika aku cium pipi enci, enci
diam saja malah berse-nyum dan melindur, katamu:
,,Peng-jiya, kau jangan nakal, nanti orang lihat..”
kembali aku mencium pipi enci, kembali enci diam saja
bibirnya seperti ketawa. Aduh manisnya, kalau saja aku
jadi Peng-jiya, saat itu aku tak akan lewati dan
memberikan enci cium... aduh, aduh, enci jangan...
jangan..."
Tiba tiba saja Bwee Hiang terputus-putus bicaranya
dan ngawur, karena Swat Lan telah memeluk dirinya dan
menggigit pipinya, sehingga Bwee Hiang :eraduh aduh
dan mengatakan jangan jangan beberapa kali, karena
tangan Swat Lan mencubit pahanya yang montok. „Nah,
rasakan anak nakal, kau berani godai encimu
keterlaluan...!" kata Swat Lan, seraya badannya
menindih Bwee Hiaug dan tangannya menggerayang
terus hendak mencubit paha orang.
Lantaran itu, dua wanita itu jadi bergulat diatas
ranjang sambil tertawa ceki-kikan, hingga melupakan
kejadian dengan Peng-jiya.
„Enci, sudahlah," kata Bwee Hiang ketika merasa
kewalahan kena didesak Swat Lan. „Aku ada satu kabar
baik untuk kau. Mari dengar aku cerita!"
Swat Lan lepaskan pelukaniiya, lalu berbangkit
merapikan rambutnya yang aduk-adukan dan pakaiannya
yang kusut barusan bergulat dengan Bwee Hiang.
Kemudian ia duduk ditepi pembaringan, sedang Bwee
Hiang juga duduk diatas ran-jang. Bwee Hiang yang
nakal menatap wajahnya Swat Lan dan berkata: „Enci,
benar-benar kau cantik. Apalagi melihat pakaianmu kusut
dan rambutmu yang bagus itu barusan aduk-adukan
benar benar menggairahkan. . ."
„Adik nakal, kau masih menantang?" memotong Swat
Lan, seraya unjuk aksi seperti hendak menyerang Bwee
Hiang lagi.
Bwee Hiang ketawa. „Aku tidak berani, barusan saja
kau tindih rasanya aku enga pbenar, Aku minta ampun,
enci ku yang manis. . ."
Swat Lan geli ketawa mendengar perkataan Bwee
Hiang. Ia juga tidak kurang akal untuk menggodai
sinona, sebab ia lantas berkaca: „Tentu saja berat sebab
enci-mu yang tindih, coba kalau si 'dia’ yang ..ehm!
berani kau bilang berat? Hihihi."
Bwee Hiang terbelalak matanya, ia tidak mengira Swat
Lan bisa berkelakar demikian.
Ia berlagak pilon dengan kata-kata Swat Lan,
sebaliknya la berkata lagi: „Enci Lan, kau tahu kejadian
semalam?"
„Mana aku tahu, tidur Seperti kaya babi mati," sahut
Swat Lan ketawa.
„Enci, kau semalam tidur memang benar enak, karena
bekerjanya obat bius..."
Sekarang Swat Lanyang matanya terbelalak heran. Ia
menanya: „Siapa yang begitu berani datang membius
kita?"
„Enci Lan, kau jangan kaget, aku akan menuturkan
kejadian semalam, buat kau tentu sangat mengagetkan.
Maka, aku pesan kau jangan kaget, ya?"
„Apanya yang bikin aku kaget, nah ceri-talah adik,"
sahut Swat Lan ketawa.
Bwee Hiang lalu menuturkan, bagaimana mereka
dibius oleh seorang yang bertopeng dan telah membawa
Bwee Hiang ke-tempatnya Peng-jiya. Bagaimana ia
hampir menjadi korbannya Peng-jiya, sampai ia
mengeluh dan mengeluarkan air mata, kemudian ia bisa
selamatkan diri dan membunuh Peng-jiya dengan
begundal-begundalnya. Dengan darah ia tulis ancaman,
ditembok, supaya dari pihak keluarga Peng tidak menarik
panjang urusanyangia telah perbuat, dirumahnya Peng-
jiya.
Swat Lan tidak memotong ceritanya Bwee Hiang, tapi
hatinya berdebaran dan mengeluarkan peluh dingin
saking kagetnya mendengar penuturan Bwee Hiang
seperti kejadian dalam mimpi. Ia menyeka beberapa kali
wajahnya, karena penuh keringat.
„Enci Lan, mulai dari sekarang kau jangan takut
kedatangan Peng-jiya lagi, sebab ia sekarang sudah ada
dialam baka!" berkata Bwee Hiang.
Tergetar hatinya Swat Lan, mukanya pucat seperti
kertas. .
„Adik Hiang, apa benar kau cerita ini? Sebab pagi-pagi
aku lihat kau sedang mengeros keenakan tidur. Kau
membohongo encimu barangkali" kata Swat Lan ketawa.
„Enci Lan, kalau kau kurang percaya, boleh tanya
bajuku yang berlepotan darah," sahut Bwee Hiang,
seraya menunjuk pada tumpukan pakaian diatas kursi.
Swat Lan masih kurang penyaya, maka ia lantas
periksa pakaiannya Bwee Hiang, benar saja pada pakaian
itu banyak noda darah.
Bwee Hiang ketawa melihat Swat Lan berdiri
termangu-mangu.
„Enci Lan, aku sudah bekerja keras untukmu, maka
aku minta kau bekerja juga untukku, ini baru ada
imbangan," berkata Bwee Hiang tiba-tiba, hingga Swat
Lan tersadar dari termaagu-mangunya dan menatap
wajah Bwee Hiang yang sedang tertawa.
„Kau mau suruh aku bekerja apa, adik Hiang?" tanya
Swat Lan kepingin tahu.
„Aku bukannya menyuruh, hanya minta tolong kau
cucikan pakaianku yang berlepotan darah itu enci yang
manis . . ."
„Baik, baik, Liehiap . . ." sahut Swat Lan ketawa, ia
berkelakar.
Keduanya lantas ketawa terkekeh-kekeh.
Bwee Hiang senang pada Swat Lan yang berwatak
polos dan hormat, sedang Swat Lan sebaliknya senaug
pada Bwee Hiang karena perangainya yang halus penuh
humor.
Dengan adanya Bwee Hiang maka Swat Lan sering
ketawa.
Bwee Hiang menantikan effek dari per-buatannya itu
sampai lima hari dirumah Swat Lan, ternyata
pembunuhan atas dirinya Peng-jiya tidak ada akibat apa-
apa, rupanya familie dari Peng-jiya telah menutup atau
tidak menarik panjang atas kematian Peng-jiya yang
menurut hukum alam memang sepantasnya Peng-jiya
yang jahat itu menerima kematiannya itu. Malah, ketika
Bwee Hiang melakukan penyelidikan, ia dapat kenyataan
bahwa alat alat rahasia yang merupakan perangkap juga
semuanya sudah dimusnahkan.
Girang hatinya si nona bahwa ancaman-nya
diperhatikan oleh keluarga Peng.
Pada hari yang ke enam, Bwee Hiang berpamitan dari
Swat Lan untuk melanjutkan perjalanannya ke Tong-
hong-gay.
Berat rasatiya Swat Lan berpisahan dengan Bwee
Hiang, akan tetapi ia tak bisa menahan kepergiannya
jago betina kita. la membujuk untuk Bwee Hiang tinggal
lagi beberapa hari di rumahnya, tapi Bwee Hiang
menolak.
„Enci Lan, kau menahan aku beberapa hari, akhirnya
toh kita akan berpisahan juga, malah siapa tahu dalam
beberapa hari itu persahabatan kita makin akrab dan
sukar untuk kita bisa. berpisahan," demikian berkata
Bwee Hiang pada kawan barunya.
Swat Lan tidak membantah kata-kata Bwee Hiang,
maka sebagai tanda mata ia memberikan setangannya
dan sebaliknya Bwee Hiang juga berikan setangannya
yang pinggirannya disulam bagus pakai huruf namanya
'Bwee Hiang'.......
-oo0dw0o-

Bab 8
TONG-HONG-GAY ....
Suasana di waktu pagi dilembah Tong-hong gay
sangat mengesankan.
Kabut pagi perlahan-lahan tersapu oleh munculnya
matahari, keadaan menjadi ce-rah dan burung-burung
berkicau disana sini, monyet monyet pada berlompatan
roenga-si deugar suaranya yang cecowetan- Ra-jawali
raksasa juga tidak mau ketinggalan untuk menyambut
sang pagi yang cerah itu, terdengar suaranya yang
meringkik menye-ramkan.
Pada saat itulah Kwee In dan Eng Lian berada
diatasnya sebuah pohon yang tinggi dan besar. Mereka
membuat gubuk didahan yang besar dan kuat, tatkala
mana tampak Kwee In sedang duduk didepan gubuknya
dan Eng Lian duduk dengan menyandarkan kepalanya
didada Kwee Inyang kokoh kuat.
Kwee In makin menanjak usianya ter-nyata badannya
makin jadi, kekar dan kuat dan tidak kelihatan ganjil
kalau dibuat sandaran oleh kepalanya Eng Lian. Dulu
kapan si dara manis mau menyandarkan kepala
didadanya Kwee In, tampak agak ganjil karena si bocah
lebih kecil dari Eng Lian, akan tetapi sekarang ternyata
berobah dan Eag Lian ada lebih kecil dari Kwee In, malah
lebih jangkung hingga seperti juga si dara cilik itu ada
adiknya Kwee ln.
Dengan pulihnya kembali kepada wajah aslinya,
tampak Kwee In sangat cakap dan tampang yang cakap
itu sering mempesona-kan Eng Lian.
Si dara cilik jelita sekarang sudah memasuki usia
sembilan belas dan Kwee In delapan belas, meskipun
demikian, sifat kekanak-kanakan mereka belum hilang,
mereka bercanda dengan bebasnya sebagai anak anak
yang besar dipegunungan tanpa mendapat penilikan dari
orang tua.
Sembari membelai-belai rambntnya si dara yang hitam
mulus, Kwee ln berkata: „Enci Lian, sebenarnya kita
sekarang sudah harus ganti panggilan . . . "
„Ganti panggilan bagaimana?" tanya si gadis, niatanya
memandang kedepan penuh lamunan dan kata kata
Kwee ln barusan Eng Lian rasakan seperti burung
berkicau.
„Aku sekarang sudah lebih besar dan lebih jangkung
dari pada enci, maka seharusnya enci memanggil
padaku . koko . . ."
„Hm. . ." Eng Lan mendengus sebagai jawaban, tapi
ia bersenyum manis.
Kwee ln tidak melihat itu, karena Kwee In juga
pandangan nya jauh kedepan, seraya terus membelai
belai rambut nya Eng Lianyang bagus dengan penuh
kasih sayang.
„Enci Lian, api kau kebebatan untuk mengganti
panggilan?" tanya Kwee Iri ketawa.
„Encimu lebih tua salu tahun, bagaimana sih suruh
orang ganti panggilan?" sahut si gaiis, Seperti
mendongkol.
„Bukankah adikmu sekarang sudah lebih besar dan
tinggi dari pada enci?"
„Hihilii . . ." Eag Lian ketawa ngikik. „Oo, jadi itu kau
jadi kau alasan?"
„Habis, apa lagi? Yang lebih kecil mesti dipanggil adik,
bukan?"
„Koko, nih, koko . . ." Eag Lian kata gergetan, seraya
tangannya mencubit pahanya si bocah nakal, hingga ia
menggeliat-geliat kesakitan.
Eng Lian terpingkal pingkal ketawa. :
„Tiba tiba . . .Adik In, eh, adik In kau . . ." Eng Lian
gelabakan Kwee In memegangi dagunya dan didongaki,
menyusul ia rasakan napasnya macet, hidungnya yang
bangir ditekan hidung nya Kwee In dan dua pasang bibir
saling merapat.
Hangat Eng Lian rasakan saat yang membahagiakan
itu-
„Adik In, kau belakangan ini sangat nakal ..." kata Eng
Lian perlahan-lahan setelah terlepas dari kecupan si
bocah nakal, seraya jari telunjuknya yang mungil
menekan bibirnya Kwee In perlahan.
Kwee In tidak menyahuti, hanya ia ketawa nyengir
Sementara itu. terdengar kawanan monyet cecowetan
ramai dan seperti kebingungan lari serabutan
menghampiri Kwee ln.
Kwee In berkerut keningnya.
„Adik In, ada apa?" tanya Eng Lian, melihat adik In-
nya tiba-tiba keningnya mengkerut.
„Ada orang kembali datang mengganggu ketentraman
kita," sahut Kwee In.
„Biarkan mereka datang, nanti encimu yang
membereskan," kata Eng Lian berbareng bangkit dari
duduknya dan berlompatan dari satu kelain dahan turun
ke-bawah.
Kwee In dengan tenang mengikuti Eng Lian dari
belakang.
Benar saja, belum lama Eng Lian menginjak tanah, ia
sudah berhadapan dengan tiga orang imam, satu pendek
dan dua jangkung seperti galah.
Tiga orang imam itu heran melihat si dara cilik yang
cantik menghadang didepannya.
„Adik cilik, kau ada disini, memang-nya kau jadi
penghuni lembah ini?" tanya si imam pendek, rupanya
menjadi kepala rombongan.
„Totiang, kalian dari mana?" Eng Lian balik menanya.
„Pertanyaanku belum dijawab, kau sudah menanya
kami dari mana?"
„Totiang dulu sebutkan dari mana, nanti aku jawab
pertanyaanmu."
„Nona kecil, kami datang dari Kian-san untuk mencari
seorang penghuni lembah disini, apa kau salah satu
penghuni disini?"
„Aku memang penghuni disini, Totiang mau mencari
siapa?"
„Bagus, bagus! Hahaha . . . !" imam pendek itu
ketawa senang.
Eng Lian juga terkekeh-kekeh ketawa, seperti
mengolok-olok si imam, hingga dua kawannya, imam
jangkung, menjadi tidak senang melihat lagaknya Eng
Lian.
„Kau ketawakan apa, anak kecil?" bentak satu
diantaranya.
„Kau boleh ketawa, kenapa aku tidak boleh?" sahut
Eng Lian berani.
Si imam pendek kedipi matanya, seperti mencegah
temannya mencari setori. Ia sendiri lalu menanya pada si
gadis: „Nona kecil, kau menjadi penghuni dalam lembab
ini tentu tahu ada seorang bo-cah yang berjuluk Hek-bin
Sin-tong, dimana tempatnya itu? Apa kau dapat memberi
keterangan padaku?"
„Untuk urusan apa Totiang mencari si Bocah Sakti?"
tanya si dara nakal.
„Itu urusan kami orang," sahut si imam. „Asal kau
suka unjukkan tempatnya, tidak ada urusan lagi dengan
kau, rnakanya lekas kau katakan!"
Eng Lian tidak menyahut, sebaliknya ia ketawa ngikik,
hingga kembali menbikin mendelu hati nya imam yang
tadi membentak Eng Lan.
Si imam pendek juga sudah mulai mendongkol melihat
Eng Lian seperti mempermainkan dirinya, maka ia
berkata pula dengan suara kurang senang: „Nona kecil,
apa ketawa ngikikmu itu jawabmu atas pertanyaanku
barusan?"
Eng Lian tidak menyahut, banya manggut mangsui
seraya masih terus ketawa ngikik.
„Kami Kian san Sam-sian. belum pernah menghadapi
anak liar seperti kau, kalau kau tidak lekas
mengunjukkan dimana tempatnya Hek bin Sin tong,
jangan salahkan kami orang akan perlakukan kejam
kpadamii!" berkata si imam jangkung yang dari tadi
Sangat mendelu melihat lagaknya Eng Lian.
Kian san Sam-sian ialah 'Tiga Dewa dari Kian-san'
yang belum lama berselang mengangkat nama dalam
rimba persilatan.
„Sungguh galak kau Totiang," sahut Eng Lian. „Kau
mau berbuat baik atau mau berbuat kejam, itulah
urusanmu, nonamu tidak takut!"
Terbelalak heran, matanya si imam jangkung.
„Suko, jangan banyak omong dengan budak liar itu,
hajar saja sampai ia mau memberitahu dimana ada Hek-
bin Sin-long!" usul si imam jaugkung yang satunya lagi-
Si imam pendek jadi serba salah. Tadinya ia mau
dengan halus mengorek keterangan dari si dara cilik. apa
mau sekarang kedua temannya sangat gemas pada si
dara, maka ia juga tak terlalu salahkan kepada mereka
melihat Eng Lian seperti tidak memandang mata kepada
Kim-san Sam sian, yang sudah mulai tersohor namanya.
„Nona kecil, sebenarnya siapa kau?" ia masih mau
menanya lagi.
„Aku adalah pelayannya Hek bin Sin tong," sahut Eng
Lian bangga.
„Uah! Pelayan Hek bin Siu tong ?" kata si imam
pendek terkejut.
„Ya, aku adalah pelayannya Hek-bin Sin-tong,!"
menegas Eng Lian.
„Hahaha....!" Sungguh beruntung Hek bin Sm tong
punya pelayan secantik kau nona, betul-betul aku jadi
mengiri. Bagaimana kalau kau pindah menjadi pelayan-
ku?" si imam pendek ketawa cengar-cengir, hingga dara
jelita kiia merengut mukanya.
„Siapa yang mau jadi pelayanmu, imam pendek!"
bentak si gadis.
„Pendek juga orangnya, tapi perkakasnya tidak
pendek. Hahaaa..." si imam ketawa
Eng Lian merah selebar mukanya, ia jengah
mendengar perkataan si imam. „Imam cabul, kau berani
kurang ajar didepan nonamu?" bentaknya, seraya maju
hendak menyerang si imam pendek.
„Hahaha, lihat itu anak kecil marah-marah!" berkata
imam jangkung yang mendongkol pada Eng Lian.
Tampak ia sangat gembira Sukonya permainkan si dara
cilik.
Eng Lian batalkan menyerangnya, kapan ia ingat ia
harus menanya dulu siapa nama-nya ketiga imam itu. Ia
menanya: „Kalian ada imam-imam busuk, maka
tinggalkanlah namamu sebelum aku mengirim jiwa kalian
menghadapi Giam Lo ong!"
Ketiga imam itu tertawa gelak-gelak mendengar
perkataan dara kita, yang diucapkan dengan gayanya
yang lucu.
„Nona kecil," berkata si imam pendek. „Supaya jangan
sampai penasaran sebentar kami rangket pantatmu, aku
perkenalkan aku bergelar Kim Sian, dua saudaraku Gin
Sian dan Tiat Sian. Kami terkenal dengan nama julukan
Kian-san Sam-sian."
„Apa perlunya kalian mencari Hek-bin Sin-tong?"
„Kami rnau minta ia serahkan It-siu-keng dan .,,:
„Soko, untuk apa kau banyak bicara dengan segala
budak tidak ada artinya!" memotong Gin Sian, sehingga
Gin Sian jadi terputus omongannya.
„Budak tidak artinya? Hm! Kau lihat nonamu bikin
kalian sungsang sumbel dan tidak ada lobang untuk lari!"
berkala Eng Lian temberang.
Tiat Sian sangat gemas kepada Eng Lian, maka tanpa
permisi lagi dari Sukonya ia sudah menerjang dengan
kepalan gede-nya. Pikirnya, sekali ditinju si nona cilik
akan terpelanting dua-tiga tombak, la tidak mengira
tenaganya dara cilik kita bukan main, sebab begitu
tinjunya datang dekat, Eng Lian menyambut dengan dua
ta-ngannya. Menyusul ia menggebuk keras, Tiat Sian
kontan terjerunuk kedepan. Sem-poyongan dan akhirnya
hidungnya mencium tanah yang berumput.
„Hihihi . . . !" Eng Lian ketawa ce-kikikan, melihat
lawannya dengan sekali sentak saja sudah sempoyongan
dan maloso mencium rumput.
„J angan ketawa dulu!" bentak Gin Sian, sambil
membokong dari samping.
Baik juga Eng Lian waspada, tinjunya lewat dua dini
dengan hidungnya si dara cilik yang cepat mengegos dari
serangan lawan yang membokong.
„Kurang ajar, kau berani membokong?" bentak Eng
Lian, hatinya panas. Ia merangsek maju sebelum
lawannya memperbaiki posisinya. Tangannya yang kiri
rnenjotos muka. orang, sedang yang kanan nyelonong ke
iga, cepat serangan ini. Hingga si imam gugup dan
untung ia masih dapat menyelamatkan dirinya, meskipun
demikian keringat dingin mengucur dengan tidak terasa
dibadannya saking kaget barusan.
Ia cepat perbaiki posisinya, balas menyarang. Tapi
Eng Lian sangat gesit, lincah sekali ia bergerak. Sebelum
si iman sadar bahwa dirinya terancam bahaya. tahu-tahu
kakinya Eng Lian menendang pinggulnya, ia tak sempat
berkelit, maka bluk" saja ia jatuh ngusruk. „Hm! Baru
sekarang menyaksikan kelihayah nonamu, ya!" mengejek
Eng Lian, seraya memburu lawannya dan mau
memberikan tendangan pula.
Kim Sian melihat dua adik seperguruannya dengan
mudah saja dibikin terjung-kal oleh anak kecil, hatinya
menjadi panas. Cepat ia lolosi pedangnya, maksudnya
mau membokong Eng Lianyang sedang menghampiri Gin
Sian.
Ia baru saja melangkah, tahu-tahu batang lehernya
sudah dicekuk dari belakang. Pedangnya berbareng
dirampas, Kim Sian sangat kaget, orang demikian hebat
tenaga-nya. Tangannya memegang tangan orang yang
mencekuk lehernya, ia kaget, sebab itu bukan tangan
manusia. Ketika ia paksakan kepalanya menoleh, ia lihat
bukan manusia yang mencekuk lehernya itu adalah satu
gorilla, orang hutan yang menakuti.
Memangnya juga Toa-hek yang mencekuk lehernya
Kira Sian.
Imam pendek itu menjadi ketakutan. Tiba-tiba ia
rasakan badannya enteng, diangkat oleh Toa hek,
kemudian dibanting keras, hingga ia menjerit dan
merasakan tulang-tulangnya remuk oleh karenanya.
Sambil perdengarkan suara hor! hor! yang menakuti,
Toa-hek menghampiri pula Kim Sianyang telah menggigil
duduk di-tanah. Ia coba berkelit dari sambaran tangan
Toa-liek, sayang ia kalah cepat, sebab lengannya sudah
kena dicekal dan diangkat lagi untuk dibanting kedua
kali-nya. Kali ini setelah menjerit ia jatuh pingsan, tidak
tahan oleh kerasnya bantingan si gorilla.
Tiat Sian melihat Sukonya dibanting pergi datang oleh
gorilla, bukan main takutnya.
Tadinya ia hendak bingun dan mengeroyok EngLian,
tapi niatnya batal. Ia bangun sekarang untuk lari
menyelamatkan diri, sayang terlambat, karena tiba-tiba
ia rasakan lengannya dicekal oleh seorang yang kuat luar
biasa. Ketika ia menoleh, itulah Siauw-hek yang ketawa
nyengir ke-padanya.
Semangatnya seketika terbang entah kemana, sebab
ketika dibanting ia tidak perdengarkan jeritan, langsung
ia jatuh pi ngsan.
Eng Lian melihat kejadian itu ketawa terpingkal
pingkal.
Ia urungkan niatnya hendak menendang Gin Sian.
sebab tatkala itu Gin-Sian sudah dibawah kekuasaannya
J i-hek. Gin Sian kesima mendengar suara hor! hor! yang
menakutkan dari J i-hek. ia keburu lemas ketika mau
berkelit dari cekalannya J i-hek. Gorilla wanita itu tidak
tanggung-tanggung ia bukan dengan satu tangan, tapi
dengan dua tangan ia angkat tubuhnya Gin Sian dan
dibanting keras. Ngek! sekali terdengar suara, Gin Sian
bukannya pingsan lagi, namun jiwanya telah melayang
menantikan kawannya ditempat baka.
Melihat Tiat Sian masih berkutik, Siatit-hek datang
menghampiri dan mengangkat pula tubuh si Dewa Besi,
sekali banting kali ini rokhnya Tiat Sian menyusul
saudaranya yang sudah jalan lebih dahulu.
Kim Sian semangatnya sudah terbang dan mati
terlebih dahulu, ketika Toa-hek untuk kedua kalinya
mengangkat dan membanting badannya remuk
berantakan.
Setelah membunuh tiga lawannya, ketiga gorilia itu
berkumpul saling berpegangan tangan berputaran dansa
kegirangan telah menunaikan tugasnya.
Eng Lian turut gembira dengan bertepuk-tepuk tangan
sambil berjingkrakan:
Tring! Tring terdengar dua kali suara benda tajam
jatuh menimpa batu.
Eng Lian kaget ketika melihat dua batang huito jatuh
tidak jauh dari tiga gorilla yang sedang berdansa
kegirangan. Mereka tidak tahu adanya bahaya tadi, maka
mereka masih enak-enakan saja dansa berputaran.
Eng Lian membentak, dengan bahasa monyet yang ia
pelajari dari Kwee In, ia beritahukan kepada ketiga gorilla
itu ada orang yang membokong mereka. Kontan mereka
lantas hentikan dansanya dan meng-gerang buas.
Segera mereka berlompatan dengan ter-pencar, untuk
menguber musuh yang membokong tadi. Eng Lian tahu
bahwa Kwee In yang telah menggagalkan maksud jahat
orang yang membokong tadi. Ia melihat keatas pohon,
tidak melihat adik In-nya. Cepat ia enjot tubuhnya
melayang naik keatas pohon, ia manjat sampai dipuncak
pohon, dari mana ia lihat Kwee In sedang menguber tiga
orang yang bergenggaman golok. Mereka itu rupanya
yang telah melepas pisau terbang untuk membunuh Toa-
hek dan anak bininya.
Eng Lian sangat gusar. Cepat ia gunakan ginkangnya,
melompat sana-sini dari satu kelain cabang pohon,
menyusul Kwee In yang menguber tiga penjahat.
Ketika ia dapat menyusul, dari atas pohon ia
menonton Kwee In dikurung oleh tiga orang bergolok
panjang, wajahnya mereka menyeramkan (bengis-
bengis). Eng Lian tidak mau perlihatkan dirinya, ia
kepingin tahu orang-orang itu bisa berbuat apa terhadap
adik ln-nya.
„Kau menguber terus kami, apa kau kira kami tidak
berani menghadapi kau?" Eng Lian dengar satu
antaranya tiga orang itu berkata. „Kami Ho-pak Sam-
niauw, kalau tidak punya nyali masa berani datang untuk
ketemu dengan Hek-bin Sin-tong?"
Ho-pak Sam-niauw atau Tiga burung dari daerah Ho
pak terkenal paling telengas sepak terjangnya dalam
kalangan Kang-ouw. Mereka sangat berani menempur
siapa saja yang merintangi sepak-ter-jangnya. Ini Kwee
In dapat tahu dari ayahnya, Kwee Cu Gie, ketika Kwee In
mohon berpisah dari sang ayah. Kwee Cu Gie banyak
kasi nasehat kepada anaknya supaya waspada
menghadapi musuh-musuh nya dan ia ceritakan siapa
orang-orang jahat dan kelakuaunya kejam telengas dan
siapa-siapa yang perbuatannya baik dan suka menolong
kepada sesamanya yang dapat kesusahan. Kwee Cu Gie
ulangi lagi pesannya, supaya sang anak jangan terlalu
banyak membunuh kalau tidak kepaksa, sebab
pembunuhan-pembunuhan itu tidak habisnya, saling
balas membalas seperti yang dialami oleh dirinya.
Ho-pak Sam-niauw berkomplot dengan Kian-san Sam-
sian, mereka berenam menyatroni lembah Tong hong-
gay dengan maksud menemui Hek-bin Sin tong,
membunuhnya kalau perlu, untuk merampas It sin keng
yang dunia persilatan umumnya menduga It-sin-keng
atau Kitab Mujijad ada dita-ngannya si Bocah Sakti.
Mereka bernama Giani Pek, Siauw Tek Liang dan Sim
Kie.
Kwee In ketawa mendengar perkataan Giam Pek, yang
mengatakan Ho-pak Sam-niauw tidak akan menyationi
Hek-bin Sin-tong kalau tidak punya nyali besar.
„Aku kira siapa, tidak tahunya Ho-pak Sam-niauw yang
datang?" menyindir Kwee In. „Aku tidak.perduli kalian
punya nyali atau tidak untuk menemui Hek-bin Sin-tong,
namunyang terang kalian hendak mencelakai ternanti ya
Hek-bin Sin-tong dengan jalan membokong itulah
perbuatan yang aku tidak suka."
„Kami tidak mencelakai teman-teman Hek bin Sin-
tong, cara bagaimana kau seenaknya saja menuduhnya?"
menyangkai Giam Pek.
„Kalian membokong tiga gorilla, teman-nya Hek-bin-
Sin tong. apa kalian tidak mau mengaku?" berkata Kwee
In kurang senang.
Ho pak Sam-niauw melenggak. Mereka tidak mengira
kalau tiga gorilla itu adalah teman-lemannya Hek-bin Sin-
tong, yang mereka sangka adalah membunuh manusia
bukannya binatang.
„Kau ada sangkut apa dengan Hek-bin Sin-toag?"
lanya Sini Kie.
„Aku adalah kacungnya Hek-bin Sin-tong," jawab
Kwee in ketawa.
„Kacungnya?" Siauw Tek Liang mengulang kaget.
Orang she Siauw itu kaget karena barusan Kwee In
menguber mereka demikian gesitnya, nyyita ginkargnya
sangat tinggi. Meskipun mereka terkenal mempunyai gin-
kang yang tinggi, tidak terluput dari uberan-nya Kwee In,
mnkanya ia menjadi kaget. Kacungnya sudah demikian
hebat kepandaiannya, apalagi Hek bin Sin-tougnya
sendiri, entah berapa tinggi kepandaiainiya.
„Kau ini kacungnya, s-iapa namamu?" tanya Siauw Tek
Liang.
„Aku hanya seorang kacung, tak perlu mengasi tahu
nama," sahut Kwee In.
„Kau menguber kami orang, apa perlu-nya?" tanya
Giam Pek.
„Kalian harus mempertanggung jawab-kan perbuatan
kalian membokong gorilla!"
„Kentut busuk!" teriak S;m Kie marah. „Kawanan
gorilla itu telah membunuh Kian-San Sam-sian, apa tidak
pantas dibunuh?"
„Hehe!" Kwee In ketawa. „Ditempat lain kau boleh
bawa mulut besar, tapi di-Iembah Tong hong-gay, kau
harus hati-hati dengan mulutmu!"
„Kau berurusan dengan Ho pak Sam-niauw, apa kau
sudah pikirkan akibatnya bagaimana?" tanya Siauw Tek
Liang ketawa terbahak-bahak.
„Aku mendapat perinlah dari Hek bin Sin-tong, siapa
yang mengacau dalam lembah ini tidak perduli siapa,
harus dihajar adat- Bisa masuk, untuk keluar seperti
susahnya orang naik kelangit!" mengejek Kwee In.
„Kentut busuk!" kembali Sim Kie berteriak, malah kali
ini disusul dengan serangan tinjunya yang besar
menyarah dada Kwee In.
Kwee In hanya bergerak sedikit badannya, kepalan
Sim Kie lewat kira satu dim depan dadanya yang diarah.
Lantaran tin-junya kehilangan sasaran, maka Sim Kie jadi
agak ly:Ionong kedepan badannya. Kesempatan mana
tidak disia-siakan oleh Kwee ln, dengan satu tepukan
perlahan pada pundaknya, cukup membuat badannya
Sim Kie menggedebuk jatuh mencium tanah. Meskipun
perlahan, tapi tepukan Kwee In tadi dirasakan
meremukkan tulang puudak-nya, hingga Sam Kie
meringis-ringis.
Giam Pek main mata dengan Siauw Tek Liang.
Segera keduanya meloloskan goIoknya. Siauw Tek
Liang menyabat dari bawah, Kwee In berkelit sambil
loncat dan ta-ngannya menyampok golok Giam Pek yang
menusuk perutnya. Sampokannya kelihatannya perlahan,
tapi akibatnya runyam, badannya Giam Pek terputar
dibawa tenaga golok yang disampok Kwee In tadi.
Melihat dua saudaranya sudah menye-rang dengan
senjata tajam, Sim Kie juga tidak mau ketinggalan. Ia
bangkit meloloskan goloknya, dengan senjata mana ia
serang Kwee In dari belakang. Ia mengira bacokannya
bakal membikin tubuh Kwee In terbelah menjadi dua,
namun, untuk keheranannya Kwee in dengan mendadak
menghilang dari bacokannya.
Ia membacok angin. Sebelum ia sadar akan bahaya,
tahu-tahu untuk kedua kalinya pundaknya kena di tepuk.
Berbareng dengan goloknya yang terlepas dari
cekalannya, ia rasakan pundaknya copot dan ia jatuh
duduk dengan merintih-rintih kesakitan.
Pada saat itulah Toa-hek sampai. Tanpa banyak lagak,
Toa-hek sudah angkat Sim Kie dan dibanting sekali,
bantingan ada keras sebab isi perutnya Sim Kie sampai
keluar berantaran. Hal mana membikin keder Giam Pek
dan Siauw Tek Liang yang sedang mengerubuti Kwee ln.
Meskipun ilmu golok mereka bukan ilmu sembarangan,
menghadapi Kwee In mereka mati kutu. Golok
panjangnya sudah makan korban entah berapa banyak,
dihadapkan pada Kwee In mendadak tidak ada gunanya.
Sementara itu Siauw-hek dan J i-hek pun sudah
datang. Mereka berkumpul bertiga dengan Toa-hek,
menonton majikannya sedang mempermainkan dua jago
dari Ho pak.
Gam Pek dan Siauw Tek Liang gentar hatinya. Kwee
In sendiri sudah sukar dilayani, bagaimana kalau tiga
gorilla itu turun tangan membanting dirinya? Siauw Tek
Lang ada seorang licik, maka ia tebalkan muka berkata:
„Hei kacung Hek-bin Sin tong, kalau kau ada punya nyali,
kau lawan kami berdua tanpa dibaniu oleh tiga orang
hutan! Bagaimana kau berani?"
Kwee In ketawa terbahak-bahak. „Kalian jangan
kuatir, Toa-hek dan kawan-kawannya tidak nanti
membantu aku. Tenangkanlah hati kalian, boleh terus
mengeroyok aku!"
Lega hatinya Giam Pek dan Siauw Tek Liang, cuma
saja lega itu cepat berganti dengan rasa cemas. karena
gerak tipunya beberapa kali dimusnahkan oleh Kwee ln.
Si bocah Sakti rupanya hanya main-main saja
melawan dua lawannya itu, sebab buktinya ia tidak balas
menyerang dan hanya berkelit sana-sini menghindarkan
serangan golok.
Tiba-tiba Kwee In lompat keluar dari pertempuran dan
berkata: „Aku mengaku kalah, sekarang kalian boleh
lawan dua gorilla dari Hek-bin Sin-tong."
Giam Pek melengak mendengar perkataan Kwee In. Si
anak muda belum kalah, malah mereka yang kalah
digocek pergi datang, tapi kenapa ia mendadak mengaku
kalah dan hendak raemajukan dua gorilla-nya? Inilah
heran. Namun, hati mereka senang, sebab dari melawan
Kwee In mereka lebih suka melawan dua orang hutan,
dengan dua atau tiga gebrakan sudah dapat menabas
kutung batang lehernya sebagai pembalasan atas
kematian Samtenya dan Kian-san Sam-sianyang telah
dibanting mampus oleh gorilla-gorilla itu.
„Baiklah," berkata Siauw Tek Liang mendahului
kakaknya berkata, „tapi dengan syarat, kalau kami dapat
membunuh dua gorilla lawan kami, kau jangan marah
aan bikin pembalasan untuknya, sebaliknya kau antar
kami Keluar dari lembah."
„Baik baik!" sahut Kwee In kontan. „Itulah syarat yang
wajar. Sebaliknya, kalau kalian terjungkal jangan
sesalkan badan kalian akan dirobek-robek oleh gorilla
kami." Giam Pek dan Siauw Tek Liang seram juga
mendengar perkataan Kwee In paling belakang, akan
tetapi dengan cepat mereka dapat mentabahkan hatinya,
mereka ya-kin benar dengan dua-tiga gebrakan mereka
sudah dapat menabas kuntung lehernya dua gorilla
lawannya.
„Kau boleh majukan, gorilla yang mana akan diajukan
sebagai lawan kami!" menantang Siauw Tek Liang,
seraya pasang kuda-kuda dengan golok siap ditangan.
Kwee In geli melihat lagaknya si orang she Siauw.
Kwee In bicara dengan bahasa monyet kepada
kawannya, segera terlihat Toa-hek dan J i-hek yang maju
melawan Giam Pek dan Siauw Tek Liang.
Kedua gorilla itu hampir sama besar badannya, suami
isteri yang sudah dilatih baik oleh Kwee In untuk
bertempur dengan manusia.
Siauw-hek, Kwee In masih belum berani majukan,
karena anak Gorilla itu masih belum dapat latihan
sempurna darinya. Ia masih dibawah didikan Eng Lian.
Meskipun demikian Siauw-hek sudah sangat li-hay.
Segera juga goloknya Giam Pek dan Siauw Tek Liang
berkelebat beberapa kali dengan mengeluarkan suara
menderu, hingga Toa-hek dan J i-hek waspada melayani-
nya.
Ternyata kedua gorilla itu sangat cer-dik dan tangkas
sekali melayani lawannya.
Sungguh lucu melihat Siauw Tek Liang kena digolyek
oleh J i-hek. Pengharapannya dapat membunuh lawan
gorillanya dalam dua-liga gebrakan telah tersapu hilang.
Sebaliknya, malah ia keluar keringat dingin saking tak
tahan menahan desakan desakan J i-hek yang berat dan
hampir goleknya dapat dirampas oleh si gorilla.
Giam Pek lebih menyedihkan keadaan-nya. Ilinu
goloknya yang dibanggakan seakan terlupakan, karena si
orang she Giam belakangan menyerangnyadengan cara
tidak teratur. Ia main rabu saja, membacok kalang-
kabut, hingga Kwee In kuatir juga gorillanya mendapat
halangan oleh serangan-serangannya orang she Giam itu
yang tidak teratur.
Kalau Giam Pek bersilat dengan teratur, ada lebih
memudahkan bagi Toa-hek menangkis dan menyerang,
sebaliknya, karena serangan-serangan Giam Pek kalang-
kabat Toa-hek menjadi agak bingung bagaimana
menangkis dan menyerangnya. Ia bukan manusia, hanya
binatang, yang pikirannya tidak sama dengan manusia. la
hanya menuruti pelajaran yang diberikan oleh Kwee In,
sebaliknya ia tidak kenal kalau lawan bertempur main
rabut
Untung juga otaknya Toa-hek cerdas. Melihat
lawannya bersilat tidak sebagaimana biasanya, ia
mendesak lebih rapat dan sekali jambret ia sudah
merampas goloknya Giam Bek, menyusul tinju kirinya
menggempur dadanya si orang she Giam hingga
terpelanting jauh tiga tombak dan muntah darah segar.
Seluruh tenaganya dirasakan habis, ia menggeletak
menanti kemati-an.
Kwee In girang Toa-hek dapat men-jatuhkan
lawannya, berbareng ia mendengar tepukan tangan dari
Eng Lian diatas pohonyang Kwee In tidak perhatikan si
dara ada disitu. Ketika matanya melirik pada si dara
nakal, tampak Eng Lian dengan genit monyongkan
mulutnya yang mungil kearahnya, hingga si bocah
tertawa gelak-gelak.
Diantara mengalunnya gelak ketawa Kwee In,
terdengar jeritan ngeri. Itulah Siauw Tek Liang yang
kena dirampas go-loknya, kemudian J i-hek merangsek
dan memukul jatuh ia, akan kemudian diangkat dan
dirobek badannya sehingga isi perutnya si orang she
Siauw menjadi berantakan ditanah.
Melihat isterinya sudah menunaikan tugasnya, Toa-
hek menghampiri Giam Pek yang sedang empas empis
napasnya. Ia mengangkat tubuhnya dan hendak
membanting nya, tapi keburu dicegah oleh Kwee In. Toa-
hek batalkan niatnya, lalu merebahkan pula Giam Pek
ditanah, sementara itu se-mangatnya si orang she Giam
sudah hilang saking kagetnya tatkala ia diangkat ol-eii
Toa-hek. Pikirnya, ia harus mati waktu itu dibanting si
gorilla yang luar biasa besar tenaganya.
Ia heran ketika melihat dirinya direbahkan pula oleh
Toa-hek.
Sebentar lagi tampak Kwee In menghampiri, ia
berkata: „Orang she Giam, sebenarnya tidak semestinya
aku mengampuni kau yang sangat, tapi tidak apalah, aku
mau pinjam mulutmu untuk mengasi tahu dikalangan
Kang-ouw, bahwa jangan orang coba-coba menyatroni
daerah lembah Tong-hong-gay sebab akibatnya adalah
kematian. J angan mengimpi untuk menangkap Hek-bin
Sin-tong dan mengimpi dapatkan It-sin-keng segala,
sebab Hek-bin Sin-tong tidak mempunyai buku ajaib itu!"
Setelah berkata, Kwee In mengajak kawan-kawan
gorillanya berlalu dari situ.
Dalam pada itu Eng Lian sudah turun dari pohon dan
menyongsong Kwee In, keduanya saling berpegangan
tangan pulang ketempatnya.
-oo0dw0oo-

Bab 9
MANAKALA mereka sudah berada pula diatas pohon,
mereka tidak langsung memasuki gubuknya, hanya pada
duduk di-depannya bercakap-cakap.
Setelah mereka berhenti bercakap-cakap, tiba-tiba
terdengar Kwee In menghela napas, hingga membikin
Eng Lian kaget dan menatap pada adik In-nya.
„Adik In, kau kenapa?" tanya si dara jelita.
„Tidak apa-apa, aku hanya ingat kepada perkataan
Kim Wan, Toako," sahut Kwee ln.
„Memangnya Toako ada berkata apa?" tanya Eng Lian.
„Ia bilang, gara gara soal It-sin-keng penghidupanku
tak bisa tenteram, sekarang baru aku dapat
membuktikan perkataan Toako. Orang-orang pada
datang kelembah untuk mengganggu ketenteraman kita .
. ."
„Adik In, kau jangan cemas, encimu akan bantu kau
mati-matian!" Eng Lian menghibur si Bocah Sakti,
wajahnya ke-lihatan serius betul.
„Aku bukannya takut," berkata pula Kwee ln. „Cuma
gara gara It sin-keng jadi banyak yang mati sia-sia. Aku
menyesal mereka tidak mau percaya bahwa It-sin keng
tidak ada padaku, malah orang-orang dari Siauw limsie
tidak mau mem-percayainya."
„Kau katakan saja, It-sin-keng ada di guha ular,
mereka boleh ambil kesana kalau ada kepandaian. Biar
mereka ber-mpur mati-matian satu dengan lain berebut
kitab mujijad itu, kita tak usah ambil perduli!"
„Enci Lian, kau omong seenaknya saja. Alasan
demikian sudah aku ketemukan, namun mereka tidak
mau percaya. Inilah yang susah bagiku."
Eng Lian mengawasi wajahnya Kwee In yang lesu.
„Perduli amat dengan mereka, kalau mereka tidak
mau percaya, biarlah mereka datang kesiui dan kita
bereskan satu persatu," kata si dara jelita gagah.
„J usteru aku tak mau membunuh orang yang tidak
ada perlunya," sahut Kwee ln.
„Kau tak mau bunuh orang, sebaliknya orang mau
membunuh kau, apa kau tinggal diam saja dibunuh? Km,
dasar anak tolol!"
„Ayah melarang aku banyak membunuh orang," sahut
Kwee In.
„Ayahmu bisa bilang begitu, lantaran ia tidak
menyaksikan kesulitanmu. Co-ba kalau ia tahu dan lihat
dengan mata kepala sendiri orang mau membunuh kau,
apa ia bisa tinggal diam, Saja tidak membunuh? Aku
tidak penyaya Kwee Cu Gie Thayhiap membuat semangat
anaknya lemah lantaran ketakutan membunuh!"
Kwee In terdiam. Untuk sekian la-manya mereka tidak
membuka mulut.
Udara cerah dan mengesankan, tapi tidak menarik
perhatian mereka karena dua-dua kelelap dalam pikiran
masing masing.
„Adik In, kau sekarang sudah dewasa," tiba-tiba Eng
Lian memecah kesunyian.
„Bagaimana kamu tahu adik In-mu sudah dewasa?"
Kwee In menggodai, ketika Eng Lian hendak meneruskan
perkataannya.
„Mm! Masih merasa seperti anak-anak saja?" Eng Lian
mendengus.
„Apa buktinya aku sudah dewasa?" menggoda Kwee
In pula.
„Hm! Kalau ini menggasak bibir orang, bukan dewasa,
apa?" Eng Lian kata sambil tempelkan telunjuknya yang
mungil ke bibir Kwee In.
Si bocah hanya nyengir ketawa.
„Sekarang dengar encimu kasi kau mengerti,"
melanjutkan Eng Lian, seraya menarik pulang tangannya
yang jarinya ditempelkan dibibir Kwee In tadi, kalau
Kwee In mau menangkapnya. „Kalau orang tidak
ganggu kita, kita juga tidak ganggu padanya. Sebaliknya,
kalau orang mau bunuh kita, kenapa kita sungkan mem-
bunuhnya? Kita harus punya hati baja sebagai laki-laki
jantan, pandang pembunuhan untuk membela diri atau
membela orang banyak ada sebagai pembunuhanyang
wajar dilakukan. Ini baru namanya seorang Tay-hiap.
Bukankah kau mau jadi Tayhiap menggantikan ayahmu?
Hihihi....."
Eng Lian cekikikin ketawa, sebaliknya Kwee ln jadi
berpikir atss perkataan sang enci tadi. Tidak biasanya
enci Liannya berkata-kata demikian membangunkan
semangat, maka hatinya tatkala itu menjadi tenang. Ia
telah berkeputusan menurut akan kata-kata sang enci
tadi, yang meresap dalam sanubarinya.
„Enci Lian, kau benar. Adikmu akan menurut nasehat
enci Lian yang baik......" sahut si bocah kemudian wajar,
tapi dianggap oleh Eng Lian menrpodai.
Lantaran salah paham ini, tangannya yang gatal
nyelonong dan mencubit pipi-nya Kwee In, sambil
katanya: „Kau tidak terima nasehat encimu, sebaliknya
mau mengolok-olok....."
„Enci Lian," Kwee In kata, seraya mencekal tangan
Eng Lian yang nyelonong kepipinya, „jangan salah
paham, memang aku terima nasehatmu itu."
Eng Lian senang hatinya, ia bersenyum seraya
menarik pulang tangannya yang dicekal Kwee In. Untuk
kekagetannya tangan itu tak bergerak ditarik, malah
tahu-tahu badannya mencelat dan jatuh dalam pelukan
Kwee In. Sebelum Eng Lian dapat berontak, pipinya
sudah dikecup beberapa kali, hingga dara cilik kita
rasakan panas kedua pipinya itu.
„Adik In, kau sudah angot lagi....." kata Eng Lian
seraya mendorong Kwee In dan duduk kembali
ditempatnya tadi.
Kwee In ketawa, sebaliknya, Eng Lian seperti
menyesal melepaskan diri dari pelukan pemuda
pujaannya itu, maka sambil duduk lagi matanya melirik
kepada si anak muda dengan senyuman memikat.
Sejenak muda mudi itu bungkam.
„Sayang, sungguh sayang.....," tiba-tiba Eng Lian
berkata, sambil melirik pada Kwee In.
„Apa yang dimaksudkan sayang, enci Lian?" tanya
Kwee ln heran.
„Sayang enci Hiang tidak ada disini, kalau ada, adik In
punya pembantu yang diandalkan, Enci Hiang hebat
kepandaiannya dan berani, matanya tidak berkedip kalau
membunuh orang jahat. Nah, ini baru dikatakan
semangat jaman meskipun pribadinya adalah
perempuan, adik In!" Eng Lian seraya unjuk jempolnya.
Kwee In terkejut dengan disebutnya nama Bwee
H.aug.
Seperti berulang kali dikatakan, wataknya Kwee ln
sangat aneh. 'Kalau ia sudah kecantol yang satu, ia suka
melupakan kepada yang lainnya. Maka selama itu ia
galang gulung dengan Eng Lian boleh dikata tidak pernah
melamun tentang dirinya Bwee Hiang apalagi bayangan
Bwee Hiang berkelebatan ditelakupan matanya si bocah
aneh.
Sekarang dengan disebutnya Bwee Hiang baru ia
teringat akan enci Hiangnya.
Kwee In coba coba pancing hatinya si dara cilik,
katanya: „Enci Lian, kalau enci Hiang disini apa kau tidak
merasa terganggu?"
„Apanya yang tergangu?" tanya Eng Lian heran.
Kwee In hanya ketawa kearah si gadis, hingga Eng
Lian merah selebar mukanya, karena ia lantas paham
akan maksud kata-katanya Kwee ln tadi.
“Adik In, aku belum pernah menaruh cemburu
terhadap enci Hiang, begitu juga ia terhadap aku, maka
kehadiran enci Hiang diantara kita, apanya yang
mengganggu? Malah aku girang dapat berkumpul
dengan jago betina itu, ia banyak menolong aku dalam
kesusahan atau kesepian. Adik In, enci Hiang benar
benar satu gadis impian tiap lelaki!"
Kwee In ketawa gelnk-gelak, mendengar gadisnya
memuji saingan nya.
„Apa yang kau ketawakan adik In?" tanya Eng Lian
heran.
„Aku ketawakan enci, apa enci tidak takut adik ln mu
diculik enci Hiang. .?' Terbelalak matanya Eng Lian
mendengar perkataan Kwee In yang tidak sangka
sangka.
„Adik In, kau menghina enci Hiang?" bentak Eng Lian
merengut. „Memangnya enci Hiang itu orang apa? la
sudah ber-janji bersama-sama denganku akan melayami
si . . “
„Si- . . siapa, enci Lian?" memotong Kwee In kepingin
tahu.
Eng Lian tahan harga, tidak mau lantas menerangkan.
„Si. . . siapa, enci Lian?" Kwee In mengulangi
pertanyaanya penasaran.
Eng Lian tidak menyahut, hanya mendekati kupingnya
Kwee In berbisik: „Si . ., si. . . bocah nakal ini . . .!"
menyusul tangannya mencubit keras.
„Aduh, aduh!" Kwee In kesakitan. Tangannya mau
mencekal tangan Eng Lian tapi si dara jelita sudah
berkelit dan cepat menjauhkan diri.
Sambil monyongkan mulutnya yang mungil dengan
gayanya yang lucu sekali, Eng Lian berkata: „Bocah
nakal, kau jangan berani-berani pegang encimu lagi,
nanti aku kasih tahu sama enci Hiang. Haha, rasakan kau
kalau dirangket. . . !"
„Hihihi. . -!" tiba-tiba terdengar suara ngikik dari dalam
gubuk, hingga muda mudi itu kaget dan saling
mengawaisi sejenak.
„Haha, ia ada disini. . . !" seru Eng Lian seraya lari
masuk kedalam gubuk.
Didalam benar saja Eng Lian ketemu Bwee Hiang
sedang berdiri.
Kedua gadis itu saling rangkul melepaskan rindunya,
malah Eng Lian dengan air mata b:rkaca-kaca ia
menciumi Bwee Hiang. „Enciku yang manis, kau bikin
adikmu penasaran. Kau tentu sudah lama mengintip aku
bercakap dengan si nakal..."
,.Adik Lian, kau berhati mulia, tidak kusangka hatimu
ada demikian murni. Tak menyesal aku mempunyai
kawan sepertimu." sahut Bwee Hiang, juga mengucurkan
air mata.
Kedua anak gadis itu mengucurkan air mata
kegirangan.
„Enci Hiang, kau melupakan adik kecilmu...!" tiba-tiba
Bwee Hiang mendengar suara Kwee In, yang berdiri
dipintu menyaksikan mereka melepaskan rindunya.
„Adik kecil boleh tunggu," jawab Bwee hiang ketawa
manis memikat. „Encimu sedang melepaskan rindu
dengan adik besar . . ."
„Hihihi... enci, kau bisa saja . . ." kata Eng Lian, seraya
melepaskan pelukannya.
Girang ketiga insan itu berjumpa pula satu dengan
lain.
Bwee Hiang makin menyayangi Eng Lian, yang berhati
polos dan murni. Anak dara nakal itu meskipun adatnya
berandalan, tidak nyana hatinya demikian ikhlas terhadap
dirinya untuk bersama-sama melayani Kwee In seumur
hidupnya.
Diam-diam Bwee Hiang berdoa supaya Tuhan
mengabulkan cita-cita mereka.
„Enci Hiang, aku kira kau sudah melupakan kami
disini, lantaran sudah diangat menjadi Seng-koh oleh
Tonghong Kauwcu," Kwee In berkelakar.
„Memang aku mau diangkat jadi puteri Kauwcu, cuma
aku menolak," sahut Bwee Hiang.
„Kenapa tidak mau, bukan kedudukan Seng-koh
sangat tinggi dan hidup mewah?" berkata pula Kwee In
menggodai enci Hiang-nya.
„Aku tidak mau, karena hatiku selalu memikirkan adik
Lian . . . . , " sahutnya.
„Adik In begitu, kau salah sebut barusan bilang adik
Lian, enci Hiang . . . . , " menyelak Eng Lian dengan gaya
yang lucu sekali.
Bwee Hiang merah selebar mukanya, hingga
menambahkan kecantikannya yang khas.
Ia tidak bisa membantah, memang juga ia memikirkan
Kwee In. Urtuk membelokkan ia punya rasa jengah,
tangannya diulur mencubit Eng Lian hingga si dara nakal
berjengit kesakitan, disusul oleh ketawanya yang
nyekikik.
Bwee Hiang tundukkan kepala diantara ketawa
nyengirnya Kwee ln yang khas.
„Enci Hiang," kata Kwee In yang mengalihkan rasa
jengah si nona „Senang aku melihat kau dalam sehat
walafiat, semoga kau selamanya diberi kesehatan dan
kekuatan."
„Terima kasih adik In, semoga dengan kau juga
demikian," sahut Bwee Hiang. „Kalau dengan aku
bagaimana, apa enci tidak memberi selamat?" nyeletuk
Eng Lian.
„Adik nakal, selekasnya encimu nanti akan ajar adat
padamu!" Bwee Hiang ketawa digodoi oleh si dara yang
nakal.
Eng Lian menjulurkan Iidahnya dengan lucu sekali.
Bwee Hiang tidak tahan nampak lagak-nya Eng Lian dan
ia ketawa cekikikan. Tiga pemuda itu kelihatan gembira
sekuli berkelakar satu dengan Iainnya.
„Eh, enci Hiang, cara bagaimana kau tahu kami ada
tinggal disini?" tiba tiba Kwee In menanya. Meskibun
perpisahan kita tidak lama, tapi aku percaya enci tentu
banyak menemukan pengalaman, coba ceritakan untuk
kami dengar."
„Betul, betul, enci Hiang lekas kau bercerita!" Eng Lian
menimpali sambil bertepuk tangan.
Bwee Hiang bersenyum manis. „Anak-anak, kalian
memang tidak puas kalau tidak membuat cape mulut
encimu," kata si nona jenaka.
„Bukan begitu soalnya," bantah Eng Lian. „Enci paling
banyak menemukan pengalaman kalau berpisahan
dengan kami, maka itu jangan malas bercerita pada
kami."
Bwee Hiang jebikan bibirnya pada Eng Lian, yang
disambut dengan monyongan mulut. Lucu kelihatannya,
hingga keduanya jadi tertawa dan Kwee In pun tebahak-
bahak ketawa nampak kedua enci-nya berguru lucu.
Bwee Hiang lalu menuturkan riwayat-nya mulai
dirumahnya Tonghong Kin. Bagaimana ia didesak sang
ibu untuk di-jodohkan dengan Kim Liong, bertempur
dengan Sim Liang. Sim Leng, kemudian pengalaman di
markas Ceng-Iiong-pang didesak menjadi mantunya
Pangcu dari gerombolan naga hijau. Bagaimana ia
bertempur dikeroyok oleh Ketua Cengliong-pang dengan
isterinya, kemudian ia kena ditawan dan ditolong Kim
Liong.
Sampai disini Bwee Hiang hentikan dahulu ceritanya,
dengan bersenyum-senyum ia menantikan reaksi dari
kedua adiknya.
-oo0dw0oo-

J ILID 4
BAB-10

KWEE IN manggut-manggut, tidak mengatakan apa-
apa, tapi Eng Lian telah berkata: "Enci Hiang, sungguh
baik eng-ko Kim Liong itu. Biasanya kalau bapaknya
jahat, anaknya mesti menuruni. Sungguh berbahaya
sekali, kalau engko Kim Liong itu hatinya jahat,
korbanlah enci dalam markas Ceng-liong-pang- Kenapa
Enci tidak mencuci hinaan itu dengan habiskan semua
orang Ceng-liong-pang?"
"Itulah," sahut Bwee Hiang bersenyum tawar.
"Lantaran permintaan Kim Liong untuk tidak membalas
dendam pada ayah ibunya, aku jadi batal dengan
niatanku membuat onar dalam markas Ceng-liong-pang,
Aku ingat budinya Kim Liong, hatiku jadi lemas untuk
menghajar ayah dan ibunya yang menghina diriku."
"Ini baik sekali," kata Kwee In yang dari tadi diam
saja. "KaIau tidak, pasti Enci Hiang menuruti napsu
hatinya, dan banjir darahlah di Ceng liong-pang."
Eng Lian biasanya tukang nyerocos, saat itu terdiam,
memikirkan apa yang di-katakan Kwee In.
Sejenak keadaan menjadi sunyi, ketiga-tiganya
bungkam.
"Enci Hiang, masih ada lagi pengalaman Enci?" tanya
Eng Lian memecahkan kesunyian.
"Masih ada," sahut Bwee Hiang bersenyum.
Eng Lian bertepuk tangan. "Ceritakan enci, aku
kepingin dengar!" si dara nakal memohon.
"Bwee Hiang lalu bercerita tentang Peng-jiya.
Bagaimana ia menolongi Swat Lan, lalu dibius dan dirinya
dibawa oleh Hui-yan lie Ciang kerumah Peng-jiya dan
hampir-hampir menjadi korbannya Peng-jiya yang
menggunakan Thay-lek-eng-jiauw-kau untuk membikin
dirinya tidak berdaya.
Eng Lian berdebaran hatinya mendengar Bwee Hiang
dalam cengkeramannya Peng-jiya, kemudian menjadi
lega hatinya ketika Bwee Hiang menutur ia lolos dari
bahaya dan kemudian telah membunuh mati Peng jiya.
"Sungguh mengerikan...!" Eng Lian menarik napas
lega tatkala Bwee Hiang habis menuturkan. "Untung
kepandaian Enci sangat hebat, kalau tidak, celakalah
kena diterkam manusia siluman itu!" memuji Eng Lian.
"Kepandaianku berkat didikan dari adik In, maka
kepada ia aku sangat berterima kasih," sahut Bwee Hiang
seraya matanya melirik kepada Kwee In, yang
menyambut lirikan itu dengan ketawa nyengirnya.
Ketawa nyengirnya Kwee In tidak begitu lucu seperti
waktu wajahnya masih hitam legam, tapi mempesonakan
karena wajahnya yang tampan.
"Adik In makin besar makin cakap..." berkata Bwee
Hiang dalam hatinya, setelah mereka beradu pandangan
barusan.
"Masih ada lagi pengalaman Enci?" Eng Lian masih
belum puas rupanya.
Bwee Hiang bersenyum, menatap wajah Eng Lian
yang cantik jelita.
"Adikku, kau sungguh cantik.!"' memuji Bwee Hiang.
"Enci Hiang. kau memuji berkelebihan," sahut Eng
Lian seraya alihkan pandangannya kelain jurusan.
J usteru pandangannya dialihkan, matanya melihat poci
air teh. Cepat ia bangkit dari duduknya dan menuangkan
air teh, kemudian ia bawa pada Bwee Hiang, ia berkata:
"Enci Hiang, kau hilangkan rasa haus-mu dulu, baru
enak bercerita...."
"Terima kasih, adik nakal," sahut Bwee Hiang, seraya
menyambuti dan diirup isinya.
Pengalaman Bwee Hiang berikutnya adalah seperti
berikut:
Tatkala Bwee Hiang berpisahan dengan Swat Lan, ia
bimbang kemana ia harus menuju?
Tujuannya memang ke lembah Tong-hong gay, cuma
saja ia rindu ke kampung halamannya, ia ingin pulang ke
desa Kun-hiang untuk menengok rumah tangganya di-
sana.
Seperti diketahui, ketika Bwee Hiang meninggalkan
Kun hiang, ia percayakan (kuasakan) harta benda yang
menjadi kekayaannya, termasuk pabrik-pabrik yang
masih berjalan kepada pamannya, yang menjadi saudara
cintong dari Liu Wangwee.
Ia pulang dengan diam-diam, hingga tidak seorang
pun yang mengetahuinya.
Itulah pada suatu malum, setelah ia enjot tubuhnya
melewati tembok pekarangan dengan gesit Bwee Hiang
lari menghampiri rumahnya. Ia melihat penerangan di-
tingkat kesatu dari rumahnya masih ada penerangan ia
menduga pamannya masih belum tidur.
Dengan menggunakan ginkangnya, sebentar saja
Bwee Hiang sudah berada diatas loteng tersebut. Ia
mengintip dari jendela, ia dapatkan pamannya masih
bekerja dengan bukunya. Diam-diam Bwee Hiang memuji
pamannya sangat rajin.
Setelah repot dengan bukunya tampak pamannya
berdiam, seperti sedang melepaskan lelahnya, sebentar
lagi tampak masuk seorang wanita, yang Bwee Hiang
kenali adalah bibinya. Wanita itu duduk didekatnya sang
suami bekerja, ia berkaia: "Anak Hiang sudah lama tidak
pulang, apakah ia mendapat halangan?"
"Buat mendapat halangan tidak mungkin. sebab ia
dikawal oleh si Bocah Sakti," sahut sang suami ketawa.
"Aku dapat dengar, katnya belakangan ini kembali
orang gempar dengan adanya maling terbang," berkata
pula bibi Bwee Hiang. "Sungguh menyebalkan maling itu,
yang telah menyatroni banyak orang kaya. Aku kuatir
rumah kita juga tidak terkecuali akan menjadi
sasarannya, Koancijin."
"Ini justeru yang aku sedang pikirkan" sahut sang
suami, sambil menghela napas. "Anak Hiang tidak ada
kabar kabarnya, emang ia ada dimana sekarang? Kalau
ketahuan ada dimana. mudah kita mengabarkan
kepadanya perihal munculnya pula maling terbang."
"Apa kau sendiri tak bisa mengatasi soal maling
terbang itu?" tanya sang isteri.
"Aku mana ada punya kemampuan," sahut sang
suami. "Kepandaian silatku terbatas, lantaran selalu tidak
ada tempo untuk belajar. Tempoku habis untuk
mengurus perusahaan, namun, kalau sampai maling
terbang itu datang kemari aku mau coba-coba
melawannya."
"Kepandaianmu tidak seberapa, kau hanya
mengantarkan jiwa saja, Koanjin!" kata sang isteri pula.
"Lebih baik kau piara beberapa jagoan untuk melindungi
kita, aku percaya anak Hiang juga tidak berkeberatan
dengan tindakan kita itu. Sebab terpaksa kita ambil
tindakan itu, kareua ada ancaman dari maling terbang."
Sang suami tidak menyahut, sebaliknya ia menghela
napas.
Bwee Hiang menyaksikan itu merasa kasihan kepada
pamannya yang setia.
Ia keluarkan sapu tangan lebar dari sakunya, lalu ia
gunakan sebagai topeng menutupi wajahnya. Pikirnya, ia
mau godai paman dan bibinya. Ketika baru saja ia
hendak lompat masuk dari jendela, tiba-tiba ia
mendengar suara ketawa dibalik tirai yang menutupi rak
buku-buku. Kaget Bwee Hiang, ia mundur lagi dan coba
perhatikan siapa yang datang? Kiranya yang tertawa tadi
adalah maling terbang rupanya, karena ia pakai
kerudung hitam, hanya matanya yang tajam dapat
dilihat.
"Selamat malam paman dan bibi." Bwee Hiang
mendengar orang itu berkaa. "Kalian mau piara jago
untuk melindungi hartamu, tak ada sangkutannya
denganku, aku datang sekarang hendak meminta uang
tunai. Paling sedikit kalian harus keluarkan sepuluh ribu
tail perak sebagai uang iuran kepadaku. Ini akan aku
tetapkan untuk setiap bulan menerimanya, kalau tidak,
tahu sendiri! Hahaha . . . !"
Pucat wajahnya paman Bwee Hiang, apalagi isterinya
sampai mengigil tubuhnya.
"Kau minta uang demikian banyak tidak halangan, asal
nanti kalau majikan ku sudah pulang," berkata paman
Bwee Hiang.
"Tunggu majikanmu pulang? Hm! Mungkin majikanmu
sudah mampus dalam perjalanannya. Hahaha ..." bandit
itu sangat menghina kelihatannya.
"Kurang-ajar, kau berani menghina majikanku?"
bentak paman Bwee Hiang.
"Memangnya kau mau apa?" si bandit balas
membentak.
"Kau jangan sangat keterlaluan. kau berani diwaktu
majikanku sedang tidak ada!!"
"Kalau majikanmu ada, apa kau kira aku tidak berani?"
"Maka itu, kalau betul laki laki, uang yang diminta
olehmu itu tunggu sampai majikan pulang. Kau minta
berapa juga pasti majikanku akan menyelesaikannya."
"Hahaha...." ketawa si bandit. "Siapa yang sudi
menantikan majikanmu pulang. Lekas keluarkan uang
yang diminta!"
"Tunggu majikanku pulang!" jawab paman Bwee
Hiang berani.
"Bagus!" mendengus si bandit. "Kau berani
membangkang? Lihat aku mampusi kau suami-isteri!"
teriaknya menyeramkan, hingga bibi Bwee Hiang makin
keras gemetarannya.
"Kau jangan takut, Niocu," menghibur suaminya,
ketika melihat isterinya menggigil ketakutan. "Si bandit
tidak bisa apa apa terhadap kita!"
Mendongkol maling terbang itu mendengar perkataan
paman Bwee Hiang.
Sret!!! terdengar suara pedang dicabut.
"Koanjin, bagaimana ini?" seru sang isteri. saking
kaget ia jatuh pingsan.
"Hm! kau bikin pusing kepalaku?" kata paman Bwee
Hiang berani.
"Aku mau mampusi kau, bukan bikin pusing!" bentak
si bandit.
"Masih terlalu pagi kau mimpi membunuh aku si orang
tua," sahutnya mengejek,
"Lihat pedang!" bentak si bandit, menyusul ia
menyerang pada orang yang tidak bergengaman. Tapi
paman Bwee Hiang tidak keder, ia berkelit dari serangan.
"Bangsat, kau berani kurang ajar di-depan orang tua?"
bentak paman Bwee Hiang sembari kembali berkelit dari
serangan pedang.
Si bandit tak memberi ketika pada lawannya, ia
merangsek terus dan menyerang dengan bertubi-tubi,
namun, paman Bwee Hiang tak jadi keteter. Kiranya
paman Bwee Hiang diam diam juga ada punya
'simpanan', makanya ia tidak keder menghadapi si
bandit.
"Bangsat kurang ajar, lihat si orang tua akan
membuka kedokmu!" bentak paman Bwee Hiang bengis,
sambil balas menyerang.
Si bandit naerasa heran orang tua itu dapat mengelit
semua serangannya, malah dapat balas menyerang
dengan pukulan yang mematikan. Diam diam ia menjadi
keder, kaget bukan main ia tatkala mendengar paman
Bwee Hiang mengatakan mau melucuti topengnya.
Melihat gelagat kurang menguntungkan, maka ia
mundur teratur mendekati jendela. Pikirnya ia mau
meloloskan diri dari situ, sebelum ia dikalahkan oleh si
orang tua.
Begitu mendapat kesempatan, ia lantas lompat keluar,
tapi 'blung!' badannya terdampar masuk lagi, setengah
pingsan ia menggeletak dilantai.
Paman Bwee Hiang heran bukan main.
"Siapa itu diluar yang telah melempar si bandit masuk
lagi kedalam?"
Sebelum ia membuka suara, tiba-tiba lompat masuk
seorang wanita dengan wajah mengenakan topeng
setangan dan berdiri didepannya.
"Liehiap, terima kasih atas bantuanmu. Bandit ini
sangat ganas, sudah banyak mengambil korban. Bukan
saja harta benda orang digasak dan diperas, tapi juga
suka membikin susah anak isteri orang baik-baik..."
berkata paman Bwee Hiang sambil angkat tangannya
bersoja kepada wanita yang baru masuk tadi.
Tiba-tiba wanita itu membuka setangan yang
memutupi wajahnya.
"Paman, belum berapa lama berpisah, kau sudah jadi
linglung tidak mengenali keponakanmu," ,berkata wanita
itu, yang bukan lain Bwee Hiang adanya.
"Kau, oh, kau...anak Hiang..." seru si orang tua saking
kegirangan.
Sementara itu isterinya juga sudah siuman dan
melihat Bwee Hiang, dengan lantas saja ia menjadi
bersemangat dan gagah. cepat ia bangun dan menubruk
pada Bwee Hiang. "Anak Hiang, oh, kau kemana saja
sudah begitu lama tidak ada kabar-kabarnya?"
Bwee Hiang gembira menemukan bibinya pula,
mereka saling berpelukan lama, sementara sang paman
mengawasi dengan senyum girang.
Sedang si bandit melihat gelagat tidak baik, diam-diam
merangkak kedekat jendela dan hendak mengangkat
kaki, namun, gerakannya tidak lolos dari matanya Bwee
Hiang yang Iihay.
"Mau kemana sahabat...!" seraya melepaskan diri dari
pelukan bibinya dan melompat pada si bandit, dengan
sekali tendang saja bandit itu berkelojotan dilantai sambil
keluarkan keluhan menyayatkan, karena dua tulang
rusuknya patah.
"Paman, kau coba buka kerudungnya!" menyuruh
Bwee Hiang, hingga si bandit menjadi ketakutan dan
badannya kelihatan menggigil.
Ia tak dapat melindungi kerudungnya yang diloloskan,
karena keadaannya sudah sangat payah, mau bangun
saja rasanya sangat sukar.
"Hei, Tan Kongcu...!" seru paman Bwee Hiang, ketika
melihat si bandit sudah tidak berkerudung pula. "Kongcu,
kau kenapa melakukan perbuatan tidak baik ini?"
Tan Liang Sin alias Tan Kongcu, puteranya Tan
Wangwee yang mengundang Su-coan Sam-sat, kemalu-
maluan, ia tundukkan kepala dengan tidak menyahut
apa-apa.
Bwee Hiang tidak menjadi kaget, sebab memang ia
sudah menduga bahwa bandit itu tentu ada si Kongcu
ceriwis, pecundangnya dulu. Hanya, yang membikin si
gadis heran adalah pamannya yang pandai silat, dapat
mengatasi kepandaian Tan Liang Sin yang tidak rendah.
Oleh karenanya si nona memuji: "Paman, aku tidak
sangka kau bisa ilmu silat tinggi. Sungguh aku beruntung
mempunyai kuasa seperti paman."
"Anak Hiang, pamanmu bisa apa? Apa yang kau lihat
barusan hanya permainan yang tidak ada artinya, cuma
lantaran Liang Sin kurang becus makanya ia keteter
olehku," demikian sang paman merendahkan diri sambil
bersenyum.
Bwee Hiang tidak berkata-kala lagi soal pamannya bisa
silat, hanya ia lalu menghampiri Tan Kongcu dan angkat
bangun si Kongcu tanpa raga-ragu pula. Itulah karena
Bwee Hiang sekarang sudah jadi nona Kang-ouw, coba
kalau ia masih jadi Cian-ki-Siocia (nona terhormat) dari
hartawan Liu, memegang laki-Iaki seperti itu adalah
'tabu'.
"Kongcu, aku kenal kau bukan sedikit tahun keluarga
kami juga menganggap kau seperti keluarganya sendiri,
namun, kenapa kau selalu malah bikin sulit keluarga Liu?
Kau ada sangat jahat, maka kalau tidak dikasi rasa pasti
kesananya kau masih mau melakukan perbuatan
perbuatanmu yang tidak benar. Kau terimalah
hukumanmu...."
Bwee Hiang berkata sambil kedua tangannya
memegang pundak Tan Kongcu.
Krek! Krek! terdengar suara dua kali, kedua tulang
pundaknya si Kongcu dirasakan amat sakit hingga ia
berjengkit kesakitan.
Sementara itu, kaget bukan main ia ketika ia
kumpulkan tenaga dalamnya di Tan-tian (perut), tiba-tiba
saja dirasakan amblas. Itu berarti bahwa ilmu silatnya
telah dimusnahkan oleh si nona.
Tan Kongcu ketawa getir menatap wajah Bwee Hiang.
"Adik Hiang, terima kasih atas perbuatanmu ini,"
berkata Tan Liang Sin. "Ada satu waktu kuperhitungkan
kelakuan-mu itu!"
"Bagus!" kata Bwee Hiang ketawa tawar. "Kau masih
ada ayah dan ibu, saudarapun ada banyak. Kalau kau
tidak menyayangi mereka, baiklah kau bermusuhan
dengan aku. Sampai saat itu tentu aku tidak sungkan-
sungkan lagi dan membasmi keluargamu!"
Tan Liang Sin ketawa getir mendengar ancaman Bwee
Hiang. Tanpa banyak bicara pula ia ngeloyor pergi.
Anak muda itu yang sudah diancam oleh Kwee Cu Gie
(si Kerudung Merah) masih belum kapok, maka telah
melakukan perbuatannya lagi. Sungguh kebetulan
perbuatan yang dilakukan olehnya, Bwee Hiang pulang
dan ia kena batunya.
Ketika merasa ilmu silatnya telah di-musnahkan si
nona, Tan Kongcu saat itu memang punya pikiran akan
menuntut balas, namun, setelah ia diancam oleh si nona
ia jadi jeri dan tidak lagi memikirkan pembalasan.
Bwee Hiang sementara itu telah berunding dengan
paman dan bibinya.
"Aku pulang hanya sebentaran saja, untuk menengok
keadaan paman dan bibi, maka beberapa hari lagi aku
akan meneruskan perjalananku yang belum beres, harap
paman dan bibi suka mengurus terus apa yang telah
kukuasakan," berkata Bwee Hiang.
Paman dan bibinya melengak mendengar perkataan
sang keponakan.
"Aku tadinya sudah kegirangan bakal melepaskan
tanggung jawab, tidak tahunya anak Hiang masih mau
berkelana pula dikalangan Kang-ouw," sahut sang
paman, sedikit merasa kecewa kelihatannya.
"Aku tidak mengira bakal menemukan hal seperti
kejadian tadi," kata pula Bwee Hiang, "makanya aku
dengan diam-diam menyelundup pulang diwaktu malam.
Pikirku tidak ada yang tahu tentang balikku kerumah,
karena maksudku hanya sebentar saja ada dirumah, apa
mau Liang Sin sekarang sudah tahu, sungguh
menyebalkan perbuatan orang itu!"
Bibi Bwee Hiang ketawa nampak keponakannya
sangat gemas kepada Tan Kongcu.
"Tapi, anak Hiang," tiba-tiba sang paman berkata.
"Apa Tan Kongcu nanti tidak tarik panjang urusannya?"
"Kau tenangkan hatimu, paman. Ia tidak berani
menarik panjang urusan, sebab aku sudah keluarkan
ancaman tadi. Kalau benar-benar ia bandel dan bikin
susah kita, aku juga tidak segan segan lagi akan
membasmi serumah tangganya!" sahut Bwee Hiang
dengan wajah bengis, hingga bibinya gemetar melihat
keponakannya marah.
Demikian Bwee Hiang tinggal lamanya sepuluh hari
dirumahnya, setelah mana ia pamitan pula pada paman
dan bibinya untuk pergi ke Tong-hong gay mencari Kwee
In dan Eng Lian.
Di pinggiran-pinggiran lembah, Bwee Higng lihat
banyak orang tani yang bercocok tanam.
Entah disebelah mana tiggalnya Kwee In dan Eng Lian
maka sukar juga ia mencarinya, karena tiada seorang
pun yang ditanyai dapat mengasi keterangan padanya.
Tapi Bwee Hiang cerdik. Ia ingat bahwa Kwee In
mempunyai teman kawanan kera, maka ia mencari
tempat-tempat yang banyak kera. Dengan mengikuti
jejaknya kawanan kera yang lari serabutan melihat ia,
Bwee Hiang terus mencari tempatnya Kwee In. Dari
kejauhan ia melihat Eng Lian sedang bertempur dengan
Kian-san Sam-sian.
Kaget Bwee Hiang nampak gorilla-gorilla yang
membantu Eng Lian telah membanting Kian-san, Sam-
sian ia ngeri melihatnya. Entah dimana Kwee In? Ketika
ia datang dekat ia lihat Kwee In berada diatas pohon,
justeru si bocah sedang melepaskan dua lembar daun
yang memukul jatuh hui-to yang dilepas oleh Ho-pak
Sam-niauw, kemudian Kwee In menguber mereka disusul
oleh Eng Lian belakangan bersama tiga gorillanya.
Bwee Hiang pikir adik In-nya dan Eng Lan sudah
cukup menghadapi lawan, maka tidak turut mengejar,
hanya naik keatas pohon dan sembunyi dalam gubuk
menantikan pulangnya Kwee In dan Eng Lan.
Selanjutnya seperti yang sudah diceritakan diatas. tiga
pemuda itu kegirangan dapat berkumpul kembali dengan
selamat.
Kwee In tak memusingkan urusan lawan-lawan yang
akan menyatroni lembah Tong-hong-gay, sebaliknya Eng
Lian ada kuatir juga kalau-kalau kedatangan musuh
berat, maka dengan kedatangan Bwee Hiang si dara
nakal bukan main girangnya, sebab ia tahu benar
kepandaiannya Bwee Hiang tidak lebih rendah dari
dirinya sendiri. Adanya Bwee Hiang merupakan
pembantu yang baik sekali untuk meaghalau pergi
lawan-lawan yang akan menyatroni lembah.
Hari-hari mereka lewatkan dengan gembira. Bwee
Hiang yang mula-mula takut-takut pesiar diatas
punggungnya Kim-tiauv, belakangan jadi berani dan
sering pergi pesiar dengan Eng Lian.
Dengan tiga gorilla juga Bwee Hiang sudah mulai
rapat pergaulannya diajar kenal oleh Kwee In, juga
dengan tentara keranya si bocah nakal Bwee Hiang
sudah mulai kenal dan kawanan kera itu kelihatan jinak
jinak seperti terhadap Eng Lian.
Melewati hari dalam suasana yang serba gembira. itu
dalam lembah yang sunyi, Bwee Hiang merasa betah.
Lebih gembira pula Bwee Hiang, ketika ia menerima
pelajaran dari adik kecilnya dan Eng Lian cara bagaimana
menakluki ular, hingga untuk selanjutnya nona gagah
kita tidak takuti lagi sama kawanan ular.
Gembira hatinya Bwee Hiang bila melihat kawanan
ular datang berkumpul mendengar suara seruling yang
ditiupnya dan mereka dapat disuruh berjoget menurut
irama seruling. Sedikit-dikitnya dapat ia mengucapkan
bahasa monyet yang diajarkan Kwee In yang
mengucapkannya didepan kawanan kera, hingga
kawanan kera itu tampak lebih jinak pada Bwee Hiang,
jauh beda sikap mereka waktu Bwee Hiang mulai
memasuki lembah.
Siauw-hek kelihatan rapat pada si nona dan sering
mendekati. Senang kelihatannya gorilla itu, yang
sekarang sudah dewasa, badannya lebih besar dari Toa-
hek, ayahnya, bila dielus-elus oleh Bwee Hiang.
Si Rajawali Emas juga jinak pada si nona, malah
kelihatannya lebih senang dielus-elus Bwee Hiang
daripada Eng Lian. Kelihatan kalau dielus-elus Eng Lian
matanya tetap terbuka, sebaliknya kalau dielus-elus oleh
Bwee Hiang matanya dipejamkan seperti senang
menikmati elusan-elusan si nona yang baik hati.
Kwee In sementara itu juga girang, bahwa dalam
sedikit waktu saja Bwee Hiang sudah dapat menawan
hati kawan-kawannya seperti si Rajawali, gorilla dan
kawanan kera.
"Enci Hiang, sungguh kau bisa mengambil hati, hingga
kawan-kawanku semua takluk didepanmu, satu hal yang
benar-benar diluar dugaanku," memuji Kwee In ketika
mereka berkumpul.
"Ini semua berkat ajaran dari adik Lian," jawab si nona
ketawa.
"Hm! Adik Lian lagi, Enci Hiang rupanya berat untuk
menyebut adik In." nyeletuk Eng Lian ketawa riang,
lagaknya amat lucu.
Bwee Hiang deliki si dara nakal, tapi mulutnya
bersenyum manis.
"Enci Lian. kau selalu godai Enci Hiang, kau nakal
betul," kata Kwee In ketawa.
"Pintar, mengatakan orang nakal, apa sendiri tidak
nakal! Hm! Giok-bin Long-kun... Eh, Enci Hiang!" Eng
Lian tujukan perkataannya kepada Bwee Hiang "Apa kau
setuju Hek-bin Sin-tong sekarang di-rubah namanya jadi
Giok bin Long kun?"
Bwee Hiang tertegun mendengar Eng Lian berkata
demikian sambil bertepuk tangan.
Dalam hatinya berpikir: "Adik In setelah salin rupa
memang ia sangat cakap dan pantas sekali kalau
mendapat julukan Giok-bin Long-kun. Ibuku juga pernah
menyebutkan ini.."
"Aku setuju, adik Lian," sahutnya kontan, seraya
matanya melirik pada Kwee In yang tenang tenang saja
ketawa nyengir menyaksikan gaya Eng Lian yang lucu.
"Nah, apa aku bilang," kata Eng Lian pada Kwee In.
"Enci Hiang tentu setuju dengan gelaran yang kukasi
padamu. Sekarang bagaimana, apa kau tidak mau
mengucapkan terima kasih kepada Encimu?"
"Terima kasih, Enci bawel...." sahut Kwee In
menggoda.
"Kau berani ngeledek Encimu? Hm,.!" repot Eng Lian
bangkit dari duduknya mau mencubit si bocah nakal,
untuk gegetunnya orang yang mau dicubit sudah tidak
ada didepannya!!. Ia mendongak keatas, tampak Kwee
In tengah menguncang-guncang kaki sambil ngeledek
Eng Lian.
Panas hatinya si dara nakal, ia juga enjot tubuhnya
melesat dan menclok di-dahan pohon, dengan gesitnya
ia menguber Kwee In, namun Kwee In sudah menghilang
lagi. Ia celingukan mencarinya, tahu-tahu ia dengar si
bocah ketawa sudah berada di-lain pohon.
Eng Lian banting-banting kaki dan hampir mewek
saking gemas.
Melihat kelakuannya Eng Lian, tak tahan geli hatinya
Bwee Hiang, seketika itu juga ia ketawa terpingkal-
pingkal sambil memegangi perutnya.
"Enci Hiang, kau senang melihat adikmu dikocok adik
In ya?" kata Eng Lian memberengut, tapi justeru
memberengut wajahnya menonjolkan kecantikannya.
"Habis aku harus bagaimana?" tanya Bwee Hiang,
tidak enak hatinya melihat Eng Lian seperti marah
kepadanya.
"Kau naik sini, lekas bantu adikmu mengepung si
bocah, masa kita berdua tidak mampu menangkap satu
anak kecil?" sahut Eng Lian.
Bwee Hiang menurut. Ia enjot tubuhnya melesat dan
sebentar saja ia sudah berada didekatnya Eng Lian,
hingga si nona nakal ketawa cekikikan girang melihat
Bwee Hiang menuruti perkataannya.
"Enci yang baik, mari kita uber si bocah. Kalau aku
yang dapat, aku nanti kasi kau yang cubit, sebaliknya
kalau kau yang dapat, kau harus kasi aku yang cubit!!"
Bwee Hiang melengak. namun ia mengiyakan apa
yang dikatakan Eng Lan, untuk membikin senang si gadis
bawel itu
Segera juga dua tubuh nampak melesat saling susul,
sampai diatas mereka memecah diri untuk mengejar
Kwee In, yang tidak kelihatan si bocah nakal sedang
sembunyi dimana?
"Eh enci Hiang," kata Eng Lian ketika mereka mau
memecah diri. "Sebentar, kalau enci yang dapat
membekuk si bocah, jangan lupa kasih tanda dengan
siulan memanggil, begitu juga dengan aku nanti akan
berbuat demikian. J angan lupa!!"
-oo0dw0oo-

BAB-11

KEMBALI BWEE HIANG mengiyakan pelan si nona
kecil.
Mereka berpisahan diatas pohon untuk mencari Kwee
In.
Lantaran ginkangnya tinggi, Bwee Hiang dalam sedikit
waktu sudah dapat menguasai diri berlari-larian diatas
pohon. Maka sekarang ia tidak mendapat kesulitan, ia
coba menguber Kwee In kesebelah selatan, sedang Eng
Lian kesebelah Utara.
Bwee Hiang lihat dalam jarak empat tombak Kwee In
sedang uncang-uncang kaki, ia enjot tubuhnya melayang
gesit sekali, tapi Kwee In lebih gesit, karena Kwee In
sudah menghilang lagi.
Bwee Hiang celingukan kehilangan Kwee In.
"Adik In, adik In, kau dimana? jangan membuat
Encimu jengkel. lekas kasi lihat kepalamu!" berkata Bwee
Hiang sambil cekikikan ketawa.
Tidak terdengar suara menyahut. Bwee Hiang terus
mencari dengan lompat sana dan lompat sini, akhirnya ia
melihat Kwe In sedang mentertawakan ia dari jarak tujuh
tombak. Bwee Hiang pura-pura tidak melihat Kwee In,
kapan ia sudah datang lebih dekat,tiba tiba saja ia
mengenjot tubunya melesat dan menclok didahan tadi
Kwee ia sedang uncang-uncang kaki. Untuk ntL. tunnya,
kembali ia kehilangan adik kecilnya yang nakal itu.
Hatinya yang biasa kal n mulai penasaran.
Begitu seterusnya Bwee Hiang dipisalv.au oleh Kwee
In makin jauh dari Eng Lian
J engkel Bwee Hiang belum juga si bocah nakal mau
menyerah. sedang ia sudah keluarkan tenaga banyak
untuk mengubernya, sampai mengeluarkan banyak
peluh.
Akhirnya Bwee Hiang turun dari atas pohon dan
mengaso dibawahnya sambil menyeka keringat pada
wajahnya dengan setangannya yang harum.
Ia duduk termenung-menung setelah menyeka bersih
keringatnya.
Pada saat itulah terbayang romannya Kim Liong yang
cakap dan sopan santun.
Ketika diikat jadi satu dengan tiang ia masih ingat
sebelumnya pingsan nyonya Pangcu telah merobek baju
bagian dadanya, hingga sepasang buah dadanya yang
putih mulus terpentang, kemudian bagian bawah dekat
pcrutnya juga dirobek panjang oleh nyonya yang
menginginkan ia menjadi mantunya. Oh, keadaan waktu
itu boleh di katakan ia separuh telanjang.
Bagian atas masih tak mengapa, tapi bagian bawah,
bagi orang yang mendekatinya pasti melihat keadaan
dirinya yang menggairahkan. Apa Kim Liong tidak
memegang sepasang buah dadanya yang menantang?
Apakah si pemuda tak meraba bagian 'penting' melalui
robekan baju dibawah perutnya? Inilah serentetan
pertanyaan yang mengaduk dalam otaknya, hingga
seketika itu Bwee Hiang merasakan paras kedua pipinya
karena merasa jengah, ia menundukkan kepalanya
dengan pikiran bimbang.
Kim Liong ada satu pemuda sopan, tapi siapa tahu
tangannya nakal, karena waktu itu ia dalam keadaan tak
sadarkan diri. Sebaliknya ia merasa bersyukur
kehormatannya dapat diselamatkan, apabila ia
merasakan tak ada perubahan apa-apa atas dirinya
diwaktu ia siuman. Diam-diam ia merasa berterima kasih
atas pertolongannya Kim Liong. yang sebenarnya ada
setimpal sekali untuk menjadi pasangannya apabila
hatinya tidak terlebih dahulu ditempati oleh Hek-bin Sin-
tong.
Kwee In sekarang sudah besar, bukan anak-anak lagi
seperti dulu, entah apa dan bagaimana si bocah akan
perlakukan dirinya sekarang?
Mengingat akan Kwee In yang merebut hatinya, ia
jengah sendirinya dan menggumam; "Adik In, sekaraug
kau sudah besar, tak boleh nakal seperti dulu-dulu lagi..."
"Masih tetap nakal seperti dulu..." tiba-tiba Bwee
Hiang dibikin kaget oleh suara Kwee In dari belakangnya,
hingga ia cepat berbangkit dan menoleh. Tapi tiba ia
bangkit dari duduknya karena situ tenaga yang kuat
menekan untuk ia duduk pula.
Itulah Kwee In yang merangkul dan bikin Bwee Hiang
tidak bertenaga untuk bangkit.
Dulu dulu Kwee In memeluk belum pernah hatinya si
nona berdebaran, tapi kali ini entah mengapa hatinya
tiba-tiba bergejolak dan tarikan napasnya lebih cepat
hingga sepasang buah dadanya yang bulat naik turun.
Bwee Hiang menundukkan kepala. Tiba-tiba Kwee In
angkat dan dongak, dua pasang mata saling menatap
seperti berbicara.
"Enci Hiang, selama ini tidak ketemu, kau kelihatan
makin cantik saja..." Kwee In memuji dengan wajar.
Bwee Hiang bersenyum menawan.
"jangan, jangan adik In, ah kau na..." terputus mau
mengatakan 'nakal', karena bibir Kwee In sudah
menekan bibirnya si nona dengan mesra sekali, hingga
Bwee Hiang tidak berkutik, berbareng debaran hatinya
mengurang seakan-akan terlampias oleh ciuman hangat
dari Kwee In.
Lama mereka melepaskan rindunya dengan cara
memadu bibir. Bwee Hiang rasakan susah bernapas
lantaran hidungnya pun melekat dengan hidung Kwee In.
Hanya tangan si nona mencubit pelahan, seakan akan
minta Kwee In kasih kelonggaran untuk ia bernapas
dahulu. Namun Kwee In seperti berlagak pilon atau
memang ia tidak mau tahu, bibirnya dan hidung si cantik
mendapat tekanan berat.
Akhirnya Bwee Hiang bertindak juga, melepaskan
tekanan berat itu sambil mendorong Kwee In dan
berkata: "Adik In, kau mau bikin Encimu pingsan tidak
bernapas...?"
Kwee In ketawa nyengir...
"Bukan sama sekali, Enci...," menyusul kembali Bwee
Hiang dirangkul dan pipinya dihujani kecupan mesra.
"Adik In, jangan nakal begini, nanti ada orang lihat...,"
kata si nona pelahan, ketika merasakan lehernya juga
menjadi sasaran kecupan Kwee In.
"Perduli apa orang lihat, Enci toh sudah jadi milikku?"
sahut Kwee In.
"Adik Lan yang lihat nanti, apa kita tidak malu?"
bantah Bwee Hiang, sambil mendorong tubuh Kwee In
dengan menggunakan sedikit tenaga.
Kaget Bwee Hiang dorongannya tidak bergeming,
malah Kwee In makin merapat.
"Adik In, sudah, kau sudah angot?" Bwee Hiang
merontak, tapi untuk sekian kalinya ia tidak berkutik
bibirnya dilekat oleh bibir Kwee In.
Bwee Hiang merontak hanya aksi saja, perasaan
bahagianya yang meluap-luap membuat tubuhnya tidak
bisa diam.
"Sungguh bahagia sekali kalau orang sedang memadu
kasih......!" demikian tiba-tiba terdengar orang berkata
tidak jauh dari mereka.
Bwee Hiang dan Kwee In melepaskan pelukannya dan
melompat mindur. Tapi Kwee In tidak sampai disitu saja,
tubuh-melesat menguber orang jail tadi yang lari melesat
dengan gesit sekali.
Tapi kegesitannya orang itu tidak berhasil meloloskan
diri, sebab segera orang itu berkata kaget: "Eh, eh, adik
In, kau sudah angot...."
Itulah Eng Lian yang kena dipeluk dan ditekan
dibibirnya oleh si nakal Kwee In.
Eng Lian merontak-rontak hanya aksi didepan Bwee
Hiang, ia menyerah dalam pelukan Kwee In yang kuat.
"Adik In, ditertawakan Enci Hiang, tuh kau lihat....."
kata Eng Lian ketika ia dapat, kesempatan sedikit
bernapas. Tapi Kwee In tidak mengacuhkan itu sehingga
Eng lian menjadi kewalahan.
"Adik In, kau sudah edan? Lepaskan encimu!" bentak
Eng Lian dengan suara halus, seraya mendorong tubuh
Kwee In. Kali ini si anak muda melepaskan dan ketawa
nyengir.
"Sungguh bahagia sekali kalau orang saling memadu
kasih..." Bwee Hiang kembalikan perkataan Eng Lian,
hingga si dara nakal menjadi jengah sendiri.
"Enci Hiang, kau menggodai adikmu?" seru Eng Lian,
menyusul ia lari menghampiri Bwee Hiang dengan
maksud mencubit, tapi Bwee Hiang siang-siang sudah
melesat tubuhnya dan tahu-tahu sudah ada diatas dahan
pohon.
"Enci Hiang, kau bikin adikmu penasaran!" seru Eng
Lian dari bawah.
"Adikku, kita sama-sama sudah dapat bagian, untuk
apa direcoki...." sahut Bwee Hiang sambil ketawa
cekikikan.
Kata-kata Bwee Hiang menusuk hatinya Eng lian, dia
merasa kata kata enci Hiang itu benar, sambil ketawa
cekikikan ia berkata "Enci Hiang, kau bisa saja...."
Seiring dengan perkataannya, badannya naik dan
menclok disampingnya Bwee hiang yang sedang duduk
hingga sinona kaget.
"Ilmu mengentengi tubuhmu lebih lihay dariku, Adik
Lian!" memuji Bwee hiang, seraya tangannya diulur
untuk mengelus-elus rambut kepalanya Eng Lian.
Kedua gadis itu sedikit pun tidak menaruh cemburu
satu dengan lain, mereka akur lagi dan pasang omong
dengan ketawa-ketawa gembira, seolah-olah melupakan
adegan-adegan yang mereka saksikan barusan. Hal
mana membuat Kwee In sangat kegirangan dua calon
isterinya itu bisa memaklumkan satu dengan lain.
Kwee In bukannya rakus, setelah mencium Bwee
Hiang lantas ganti mencium Eng Lian, itu disebabkan
kekuatirannya Eng Lian ngambek (cemburuan), maka
juga ia sudah kasi Eng Lian bagiannya didepan Bwee
Hiang. Pikirnya, dengan begitu satu dengan lain tidak
akan iri-irian. Tapi Kwae In tidak tahu. kalau kedua gadis
itu memang udah bersatu hatinya, untuk satu sama lain
tidak mengiri atau menaruh cemburu.
Kwee In sementara itu sudah lompat naik juga dan
menghampiri dua gadis yang sedang asyik kongkouw.
"Apa aku boleh turut ngobrol?" tanya si bocah ketawa.
"Boleh saja, asal jangan nakal lagi... hihihi..." Eng Lian
mendahului Bwee Hiang yang cekikikan ketawa.
"Adik kalian, sekarang mau jadi orang baik," sahut
Kwea In.
"Tentu saja jadi orang baik lantaran sudah kenyang
sih..." kata Eng Lian.
Bwee Hiang yang pribadinya halus, tidak blak-blakan
orangnya, rada jengah mendengar perkataan Eng Lian
yang tidak pakai tedeng aling-aling.
"Apanya yang kenyang?" tanya Kwee In, seraya bikin
gerakan seperti hendak merangkul si dara bawel.
"Hust, hust, jangan bergerak sahabat!" kata Eng Lian
jenaka, seraya kedua tangannya diangkat dengan
gerakan menolak. "Sekali sudah, tidak boleh kedua
kalinya...."
Gayanya Eng Lian sangat lucu, hingga Bwee Hiang
tertawa terkekeh-kekeh disusul oleh ketawanya Kwee In
yang terbahak-bahak.
Sungguh gembira penghidupan dari tiga insan itu
didalam lembah Tong-hong-gay.
Bwee Hiang yang mula2 suka rada jengah kalau Eng
Lian berkelakar dengan blak-blakan, belakangan ia sudah
biasa lagi, hingga tiga anak muda itu makin akrab saja
hubungannya dan satu dengan lain diam-diam
menyayangi.
Sekarang mereka tidak tinggal diatas pohon lagi,
mengambil tempat dirumah Eng Lian dahulu, rumah itu
cukup besar dan leluasa untuk menyiapkan barang
hidangan serta lain lain keperluan. Kawanan kera telah
melakukan penjagaan di-waktu malam dan siang dengan
dikepalakan oleh tiga gorilla yang menakutkan.
Si burung Rajawali raksasa siap untuk melayani
musuh, ia selalu mendekam diatas dahan pohon yang
tidak berjauhan dengan rumah itu, manakala ia tidak
dipakai pesiar oleh ketiga majikannya.
Pada suatu lohor, ketika mereka sedang berunding
untuk menjelajah disekitar lembah, untuk mencari
tempat yang lebih aman, tiba-tiba mereka dibikin kaget
oleh munculnya dua ekor kera kesayangannya Kwee In
ialah Pek-tauw dan Pek gan. Mereka cecowetan didepan
Kwee In seperti melaporkan apa-apa.
Bwee Hiang dan Eng Lian masih belum banyak
mengerti bahasa monyet, maka ia menanya pada jago
cilik kita, kedua monyet itu melaporkan apa?
"Mereka melaporkan Toa-hek, ji-hek dan Siauw-hek,
katanya sedang menggempur dua orang tua, satu
perempuan dan satunya lagi lelaki, mereka minta supaya
aku datang kesana memeriksa," menerangkan Kwee In.
"Bagus, untuk pertama kali ini Enci Hiang akan unjuk
gigi dilembah Tong-hong-gay," berkata Eng Lian serta
bertepuk tangan.
"Adik Lian, kau bisa saja. Mari kita sama-sama lihat!"
ia mengajak, ketika Kwee In diam saja seperti berpikir.
Bwee Hiang dan Eng Lian segera juga berlarian
mengikuti Pek-tauw dan Pek-gan sebagai penunjuk jalan,
sedang Kwee In menyusul belakangan.
Sesampainya disana, dari k^ejauhan Eng Lian sudah
mengenali yang perempuan adalah Ang Hoa Lobo, entah
yang lelaki apakah ia Siauw Cu Leng? Mana mungkin
Siauw Cu Leng, menurut katanya Kwee In, ia telah
mampus karena tenaga membalik yang dilontarkan
kepada Kwee In.
Eng Lian bersuit beberapa kali, ternyata siulan itu
sebagai tanda untuk tiga gorillanya yang sedang
berhantam itu mundur.
Mereka mentaati siulan Eng Lian, sebab sebentar lagi
mereka sudah pada berdiri dibelakangnya si nona. Ang
Hoa Lobo menguber seraya acung-acungkan tongkatnya,
disusul oleh The Sam dibelakangnya.
Ketika sudah dekat, Eng Lian tidak kenali The Sam,
sebab memang ia tidak kenal dengan si orang she The.
Ia menegur Ang Hoa Lobo: "Nenek, kau mau apa datang
kemari? Sudah tak ada urusan lagi dengan kami disini,
lekas kau pergi, jangan sampai dikeroyok oleh kawanan
kera disini!"
"Enak saja kau ngomong, anak bo-Ceng!" sahut Ang
Hoa Lobo sambil gadrukan tongkatnya.
"Aku bo-Ceng apa padamu ?" tanya Eng Lian heran.
Bo Ceng ialah tidak berbudi.
"Bertahun-tahun kau menjadi muridku, sekarang tidak
mau mengaku pada gurunya, bukan ini ada seorang
boCeng punya kelakuan?"
"Bertahun-tahun kau mendidikku juga bukan
kemauanku dengan suka rela, kau yang menculik aku
dan dijadikan Kim Coa Siancu."
"Bagus, kau sudah mengaku sekarang?"
"Siapa sudi panggil suhu padamu," jawab Eng Lian.
"juga kepandaianku yang penting adalah ajaran Sucouw,
bukannya kau!"
"Sucouw, Sucouw, kalau tidak dengan perantaraan
aku apa kau dapat bertemu dengan Sucouw? Berkat
jasaku, maka kau mendapat didikan langsung dari
Sucouw."
Eng Lian terdiam. Sebentar ia berkata pula: "Sekarang
kau mau apa kemari?"
"Aku mau mendapat rumahmu itu!" jawab Aqg Hoa
Lobo.
"Rumahku? Kau mimpi, nenek?" kata Eng Lian.
"Gurumu bukannya mimpi, memang membutuhkan
tempat tinggal. Asal kau mau menyerahkan rumahmu
itu, artinya kau memandang aku sebagai gurumu."
"Asal aku tidak mau menyerahkan kau mau apa?"
"Hm! Tongkatku yang nanti bicara. Kau jangan kira
kepalamu tidak remuk dibawah tongkatku, Eng Lian!"
Eng Lian ketawa nyekikik.
Kiranya Ang Hoa Lobo sedang mencari sarang. Dalam
goa tempo hari rupanya ia sudah bosan dan tidak ada
pemandangan apa-apa, maka ia ingat akan rumahnya
Eng Lian dilembah Tong-hong gay, maka ia datang
kelembah tersebut. Ia tadinya mengira rumah itu kosong,
sebab Kwee In dan Eng Lian tentu tinggal di Coa kok,
namun kenyataannya Eng Lian ada dilembah dan masih
menempati rumah yang dulu.
"Eng Lian, kau ketawakan apa?" tegur Ang Hoa Lobo.
"Aku ketawakan nenek yang tidak tahu diri. Hihihi,..."
sahut Eng Lian.
Ang Hoa Lobo beringas! Ia membentak: "Budak hina,
kau tidak mau kasikan rumahmu untuk gurumu? Benar-
benar kau murid durhaka!"
Bwee Hiang tidak senang temannya dikatakan murid
durhaka.
"Tidak pantas kau mengeluarkan perkataan kotor
begitu," menyelak Bwee Hiang. "Ada urusan bisa
didamaikan dengan baik, kenapa mengatakan adik Lian
murid durhaka ?"
"Aha, tambah lagi budak liar! Siapa kau turut campur
urusanku?" bentak Ang Hoa Lobo dengan keren dan
tongkatnya di gedrukan.
Bwee Hiang tidak menyahut, hanya mengawasi Eng
Lian. Ia tidak mau ribut mulut dengan si nenek, yang
katanya adalah gurunya Eng Lian. Ia takut kesalahan
omong membikin tidak enak hatinya sang kawan, maka
juga ia melirik pada Eng Lian menanyakan pikirannya si
gadis bawel.
"Tempo hari aku kau culik," kata Eng Lian- "Aku
dipisahkan dari adik In, lalu kau kasi minum obat 'Cian-
jit-su-su-hun' (obat bubuk mematikan ingatan seribu
hari), untuk dijadikan boneka yang disebut Kim Coa
Siancu. Kau menggunakan tenagaku untuk mendirikan
Ang-hoa pay yang sangat kau banggakan. Orang
orangnya semua ada orang-orang yang loloh dengan
obat jahat itu hingga pikirannya jadi linglung dan
melupakan rumah tangganya. Dosa ini tak berampun.
Paling tidak tahu malu kau melupakan guru sendiri,
meninggalkan Coa-kok dengan tidak permisi dari Lamhay
Mo Lie yang menjadi gurumu!"
Mendelik matanya Ang Hoa Lobo mendengar
disebutnya nama Lamhay Mo Lie.
Seketika ia teringat akan Kwee Cu Gie yang menjadi
pujaan hatinya,tapi si orang she Kwee sendiri tidak
melayani kepadanya. Hatinya panas seketika waktu
nampak Lamhay Mo Lie itu adalah isterinya Kwee Cu Gie.
Ia cemburu, dengan diam-diam ia meninggalkan Coa-kok
dan Ang-hoa-pay-nya yang ia dirikan dengan susah
payah.
Sekarang si Nenek Kembang Merah lagi mencari
tempat untuk dipakai basis mendirikan partai baru. ia
setuju bekas rumahnya Eng Lian di lembah Tong-hong-
gay. Pikirnya dengan rumah itu akan ia diperbaiki
perlahan-lahan, kemudian diperbesar untuk dijadikan
markas dari partainya. Cita-citanya sekarang menemui
halangan, sebab Eng Lian sekarang sudah berada pula
dirumahnya. Apa Eng Lian ada bersama Kwee In, itu
belum tahu, karena tidak kelihatan bayangannya Kwee
In. Ia lihat Eng Lian berteman dengan seorang nona
yang baru ia lihat waktu itu.
Tanpa Kwee In, pikir si nenek tidak sukar untuk
menjatuhkan Eng Lian, sekali-pun umpamanya ia dibantu
oleh temannya seorang nona tadi.
Ang Hoa Lobo di Coa-kok tidak tahu kalau Eng Lian
mendapat didikan sungguh-sungguh dari Lamhay Mo Lie,
ia hanya tahu Lamhay Mo Lie mengaku bahwa ia ada
memberi sedikit petunjuk pada Eng Lian, sebaliknya tidak
tahu kalau Eng Lian di-didik benar-benar oleh gurunya
itu. Oleh karena ia tidak tahu itu, maka ia pandang Eng
Lian enteng, pikirnya pelajaran silat yang Eng Lian punyai
adalah darinya, maka mudah sekali kalau ia
menjatuhkannya, sebab Eng Lian adalah muridnya.
coba bila Ang Hoa Lobo tahu kalau Eng Lian sudah
berubah lihay, pasti ia akan pikir dulu untuk
mengeluarkan omongan-omongan yang tidak genah
didengar.
"Lamhay Mo Lie itu orang apa!" berkata Ang Hoa Lobo
gemas. "Ia adalah perempuan tukang merampas laki
orang.."
"Nenek!!" memotong Eng Lian. "Kau berani menghina
guru sendiri?"
"Kenapa tidak berani?" sahut Ang Hoa Lobo beringas.
"Lamhay Mo Lie adalah ibunya adik In, kalau anaknya
tahu ibunya dicaci maki kau tahu sendiri, pasti mulutmu
akan diremas hancur!" kata Eng Lian.
"Aha si bocah hitam itu? Dimana ia sekarang? Ia
bilang aku masih hutang satu gebukan, sekarang aku
mau kasi hutang lagi dua gebukan, apa ia nanti kata?"
"Nenek sombong. kau jangan bawa adatmu yang
jelek!" tiba tiba terdengar suara didekatnya si nenek,
hingga Ang Hoa Lobo dan The Sam menjadi kaget, sebab
tahu-tahu berdiri seorang pemuda disampingnya.
Ang Hoa Lobo cepat berpaling. "Hei, kau Kwee Cu
Gie..." serunya.
"Kwee Cu Gie? Bukan, aku anaknya Kwee Cu Gie,"
sahut anak muda itu ketawa.
"Kau Lo In, si bocah wajah hitam itu?" tanya Ang Hoa
Lobo.
"Memang ya, kau masih hutang satu gebukan
padaku!" sahut Kwee In ketawa.
Ang Hoa lobo terbelalak matanya memandang
kecakapan parasnya Kwee In, yang mirip dengan orang
(Kwee Cu Gie) yang dipujanya-
Hatinya si nenek yang masih haus hubungan sex.
tergetar untuk sesaat!
Bwee Hiang dan Eng Lian melihat Kwee In sudah
campur tangan, mereka diam-diam menonton.
"Hehe, Lo In, ibumu tentu yang memulihkan wajahmu
yang hitam itu," kata Ang Hoa Lobo, dengan penuh
penasaran.
"Aku bukan lagi si orang she Lo, hanya she Kwee. Kau
jangan salah menyebutnya," sahut Kwee In. "Kau lari
terbirit-birit ketakutan oleh ayahku, sampai lupa
memberikan obat pemunah wayahku. Untung ada ibu
yang dengan mudah memulihkan wayahku yang asli!"
"Siapa biiang aku lari terbirit-birit?" tanya Ang Hoa
Lobo heran.
"Ayahku yang mengatakan itu," sahut Kwee In
mengejek.
Ang Hoa Lobo menggebrukan tongkatnya. "Kwee Cu
Gie itu orang apa, lihat kalau aku ketemu ia, kalau aku
tidak bikin remuk kepalanya dengan tongkatku ini jangan
dikatakan aku si Nenek Kembang Merah yang liehay!"
Ang Hoa Lobo berkata seraya angkat tongkatnya yang
berat diacungkan.
"Nenek macam kau, mana ada harganya untuk
menggempur ayahku. Kau lawan anaknya saja belum
tentu menang!" ngeledek Kwee In.
Ang Hoa Lobo gemas bukan main di-ledek Kwee In
"Anak sambel, kau kira nenekmu takut padamu? Hm!
Tempo hari lantaran kau membokong dengan mudah kau
mengalahkan aku. tapi sekarang, kau jangan harap bisa
lolos dari tongkatku ini!" seraya menunjukkan tongkatnya
yang berat puluhan kati.
Kwee In hanya ketawa. "Tongkat-mu itu hanya pantas
untuk memukul anjing. tidak pantas dipakai genggaman
bertempur," mengejek Kwee In.
"Kenapa tidak boleh dipakai untuk bertempur?" tanya
Ang Hoa Lobo gusar.
"Tongkatmu cepat patah, hahaha....."
Kwee In menggodai terus.
"The Sam. kau bekuk anak liar ini?!" serunya pada
pacarnya, yang merangkap tukang pukulnya juga. sebab
Ang Hoa Lobo selalu majukan The Sam dahulu sebelum
ia sendiri maju bertempur. Sampai se-begitu jauh The
Sam boleh diandalkan, hingga si Nenek menjadi
keenakan.
The Sam menuruti ketika Ang Hoa Lobo memberi
komando.
"Orang macam begitu, mana pantas melawan adik
In!" mendengus Bwee Hiang, tidak senang ia adik In-nya
diadukan dengan orang yang tidak terkenal.
"Memangnya kau mau turun tangan?" bentak Ang Hoa
Lobo yang kesinggung oleh perkataan Bwee Hiang tadi.
"Aku juga mungkin masih tidak berharga melayani
budakmu, kalau dengan kau berdua sekali mengerubuti
aku, mungkin boleh juga untuk aku lemaskan badan?"
jawab si nona dengan sikap jumawa. hingga Ang Hoa
Lobo hampir meledak perutnya saking gusar.
"Budak hina, mari aku kasi hajaran!" teriaknya
melengking nyaring, menggunakan lwekang yang tinggi,
hingga Bwee Hiang dan Eng Lian agak berdebaran juga
hatinya.
Sebaliknya Kwee In tinggal ketawa saja seperti tidak
terjadi apa-apa.
Bwee Hiang lolos pedangnya dan lompat maju, tapi
berbareng Kwee In juga sudah lompat menghadang.
"Enci Hiang, kau jangan maju. Biarkan adikmu main-
main dengan mereka untuk melemaskan badan!" cegah
Kwee In, seraya mengedipkan matanya.
Bwee Hiang mengerti maksud adiknya, maka dengan
mesem ia kembali ketempatnya tadi.
"Mari, mari, siapa berani maju lawan aku si bocah!"
tantang Kwee In kemudian.
"Hm! Budak liar itu takut maju?" mengejek Ang Hoa
Lobo.
Bwee Hiang tidak menjawab, ia hanya jebikan bibirnya
ngeledek pada si nenek. Hatinya Ang Hoa Lobo panas, ia
lompat kearah Bwee Hiang, tapi lompatan Kwee In ada
lebih cepat lagi, karena si nenek bukan menghadapi
Bwee Hiang, sebaliknya ia berhadapan dengan Kwee In.
"Hehe, bagus! Kau melindungi budak liar itu untuk
menerima gebukan dari nenekmu!"
"Nenek tidak ada urusan dengan ia, untuk apa kau
mssti bertempur dengannya?"
"Baiklah!" sahut Ang Hoa Lobo. "Nah sekarang
keluarkan senjatamu"
"Untuk apa pakai senjata. Aku main-main dengan
tangan kosong saja!"
Ang Hoa Lobo gemas dipermainkan si bocah.
"bocah, kalau kau mampus jangan sesalkan
nenekmu!" bentaknya.
"Kenapa mesti menyesalkan orang?" ngeledek Kwee
In. "Kau boleh mulai!"
"Hei! The Sam kau maju dulu!" ia perintah
begundalnya.
The Sam menurut. Tanpa banyak cingcong ia
menyerang Kwee In dengan ganas.
Kwee In hanya bergerak sedikit, tahu-tahu lengan The
Sam yang mengulur panjang menggunakan ilmunya
'Thong pie-kong' telah dicekal Kwee In. Sekali dipencet,
The Sam minta bantuan pada Ang Hoa Lobo.
Si Nenek Kembang Merah berdiri seperti terpaku. Ia
tidak menyangka, hanya segerakan saja The Sam sudah
dibikin tidak berkutik oleh Kwee In. Ini janggal betul,
pikirnya. Ia lalu melangkah maju.
"Lepaskan ia, mari kita bertempur sampai seribu
jurus!" tantang Ang Hoa Lobo.
"Begitu lama aku tidak ada tempo," menggoda Kwee
in. "Asal kau tahan tiga jurus saja seranganku, aku boleh
bertekuk lutut dan kau boleh punya suka terhadap
diriku."
Ang Hoa Lobo kaget. "Kau jangan sombong, anak
setan!" bentaknya. "Apa nenekmu tidak punya daya
untuk menghindari serangan setanmu?"
"Nah, coba-cobalah!" kata Kwee In ketawa
Ang Hoa Lobo berkata lagi: "Kau jangan menyangkal,
kalau dalam tiga jurus kau tidak bisa mengapa-apakan
aku, kau harus tekuk lutut untuk berbuat sesukaku atas
dirimu!"
"Siapa yang maU menyangkal!" jawab Kwee In
tertawa nyengir.
Ang Hoa Lobo pasang kuda-kuda yang berat sekali,
supaya jangan sampai dijatuhkan si bocah yang hendak
melakukan serangan pertama.
Kwee In ketawa gsli melihat lagaknya Ang hoa Lobo.
"Sudah siap?" tanya Kwee In pada si Nenek Kembang
Merah.
"Memangnya kau buta? Dari tadi aku sudah siap!"
sahutnya ketus.
"Baiklah... ini jurus pertama!" seru Kwee In. menyusul
tangan kirinya dibeber dalam gaya seperti menolak,
hingga Ang hoa Lobo cekikikan ketawa, mengira Kwee In
main-main.
Mendadak ia rasakan serangkum angin dingin
menyambar dari tangan Kwee In, masuk menjelajahi
tubuhnya, hingga si nenek menggigil seperti disambar
malaria.
Kwee In tidak lama lama menyiksa si nenek, sebab
keburu merasa kasihan. Ia tarik pulang serangannya.
kontan hawa dingin barusan yang dirasakan si nenek
lenyap.
"jurus kedua!" seru Kwee In. menyusul tangannya
bergaya seperti tadi, kali ini tangan kanannya yang
bergerak.
Ang Hoa Lobo sudah pucat mukanya kuatir hawa
dingin tadi menyambar lagi. Sebelum ia tahu apa-apa,
serangkum hawa panas menyambar tiba-tiba dan
melekat dibadannya. Kemudian masuk ketulang-
tulangnya seperti dibakar. Ang Hoa Lobo pertahankan
diri supaya jangan berkaok, karena kalau berkaok berani
ia kalah. Peluh yang sebesar kacang kedele membanjiri
tubuhnya si nenek, saking dipaksa menahan siksaan
panas.
Kwee In kasihan melihatnya, maka ia tarik pulang
serangannya.
Ang Hoa Lobo lega hatinya, dua jurus dapat
dilewatkan dengan baik.
"Masih satu jurus lagi, lekas kau serang nenekmu!"
tantang Ang Hoa Lobo.
Sebenarnya si nenek sudah merasa dirinya kalah.
Dalam jurus pertama saja, kalau Kwee In mau, ia sudah
roboh lantaran beku badannya. Demikian dengan jurus
yang kedua, tubuhnya bisa hangus kapan si bocah mau
berbuat jahat, semua kemenangan atau dapat
bertahannya itu karena kemurahan hati Kwee In.
Cuma lantaran si nenek bandel dan mau unggul saja,
maka ia tebalkan muka meneriaki agar Kwee In
melancarkan serangannya yang ketiga. Pikirnya, Kwee In
tentu akan mengalah pula dan ia dinyatakan menang.
"jurus ketiga!" seru Kwee In nyaring.
Bwee Hiang dan Eng Lian sesalkan Kwee In main-main
saja, sebab dalam jurus pertama saja si bocah sudah
dapat menggulingkan si Nenek Kembang Merah.
jurus ketiga dimuiai menegangkan urat syaraf, sebab
kalau Kwee In tak dapat membuat apa-apa atas dirinya si
Nenek berarti Kwee In kalah dan harus memenuhi
janjinya berlutut didepan Ang Hoa Lobo. Ini yang
membuat Bwee Hiang dan Eng Lian tegang, begitu juga
dengan The Sam yang mengharap 'gula-gulanya'
menang dalam gebrakan terakhir itu.
"Lihat serangan!" seru Kwee In, mengulangi
seruannya yang pertama.
"Matamu buta, nenekmu sudah sedia dari tadi!"
bentak Ang Hoa Lobo.
Baru saja si Nenek Kembang Merah menutup
mulutnya atau serangkum angin balus melanda
kepalanya si nenek. Ang Hoa Lobo tak bergoyang sedikit
pun, maka ketika Kwee In tarik pulang tangannya yang
menggempur tadi Ang Hoa Lobo tertawa terkekeh kekeh
sambil berkata: "Anak kecil, belum punya rejeki kau bikin
nenekmu terjungkal..."
Bwee Hiang dan Eng Lian melongo menyaksikan
kesudahan tiga jurus serangan Kwee In yang tidak ada
apa-apanya yang mengagumkan, malah sekarang Kwee
In harus berlutut didepan si nenek, oh, sungguh
menyebalkan sekali kalau sebentar menyaksikan Kwee In
berlutut didepan si Nenek Kembang Merah yang tentu
akan menghinanya.
"Enci Hiang, mari kita gempur saja nenek gila itu!"
mengajak Eng Lian.
"Mana bisa adik Lian, apa kau tidak dengar perjanjian
adik In tadi?"
"Aku tidak bisa lihat kalau adik In sampai berlutut
didepan si nenek."
"Aku juga begitu, habis apa daya?"
Dua gadis itu kebingungan tidak bisa mengambil
keputusan untuk menolongi adik In-nya.
"Anak kecil, kau harus penuhkan janjimu, dalam tiga
jurus kau tidak bisa bikin apa-apa atas diriku, kau harus
berlutut didepan nenekmu. Nah, sekarang lekas berlutut!
Mau tunggu kapan lagi?"
Kwee In ketawa-ketawa urung, hingga si nenek
membentak: "Kau mau mangkir janjimu!"
"Nanti dulu," sahut Kwee In. "Aku sudah bikin kau
terjungkal, bagaimana kau suruh aku berlutut. aku toh
tidak mengingkari janjiku?"
"Hehe, anak kecil, kau mau permainkan nenekmu?"
Ang Hoa Lobo mendelik matanya, seraya angkat
tongkatnya mau memukul kepalanya Kwee In.
"Kau tidak percaya kau sudah terjungkal?" tanya Kwee
In serius.
"Siapa yang mau percaya padamu, anak setan!"
bentak Ang Hoa Lobo gusar.
Bwee Hiang dan Eng Lian tegang menyaksikan dua
orang itu bertengkar.
"Enci Hiang, adik In apa sudah sinting? Kenapa sudah
kalah bertaruh masih ngotot katanya menang?"
"Tunggu dulu, kita jangan menyalahkan dulu adik In,
si nakal itu kepandaiannya susah diukur, kita lihat
bagaimana kesudahannya," sahut Bwee Hiang, yang
percaya penuh adiknya tidak akan main-main dalam
taruhan tadi. Meskipun begitu, ia juga sangsikan dengan
bukti apa adik In-nya itu mengatakan ia menang
bertaruh?
"Kau mau bukti?" tanya Kwee In ketawa terbabak-
bahak.
"coba kau unjukkan buktinya !" bentak Ang Hoa Lobo
gemas dirinya dipermainkan.
"Nenek manis, coba kau pegang rambut kepalamu,
apa masih dapat disisiri tidak?" sahut Kwee In tenang-
tenang saja ketawa.
Ang Hoa Lobo ketawa ngekeh. "Anak kecil, kau bisa
apa dengan rambutku ?" katanya, seraya tangannya
meraba rambut kepalanya.
Alangkah terkejutnya si nenek. ketika ia angkat pula
tangannya yang meraba kepalanya, rambut kepalanya
nyoplok nempel pada tangannya, kemudian terbang
berhamburan ditiup oleh angin pegunungan. Kepalanya
Ang Hoa Lobo sekarang sudah gundul kelimis, seperti
seorang nikouw (rahib). lucu sekali tampaknya.
The Sam yang melihatnya menjadi tertegun dan
kemudian ketawa berkakakan.
Eng Lan dan Bwee Hiang dilain pihak telah tertawa
terpingkal pingkal nampak kepalanya Ang Hoa Lobo
botak kelimis seperti baru saja dicukur. Entah si bocah
nakal menggunakan ilmu gaib apa membuat si Nenek
Kembang Merah menjadi licin kelimis demikian kepalanya
tak sehelai rambutpun yang ketinggalan.
Itulah untuk pertama kali Kwee In menggunakan ilmu
mukjijadnya dari It-sin-keng yang dinamakan 'Se hong
sauw kok' atau "Angin halus melanda lembah yang
menggunakan lweekang sangat tinggi. Angin halus yang
menghembus dari telapak tangan Kwee In melanda
dikepala rasanya dingin untuk beberapa detik, tidak
menimbulkan reaksi apa-apa pula yang menyebabkan si
korban lengah kalau kepalanya dicukuri angin halus yang
berhawa dingin itu bekerjanya sangat hebat, seakan-
akan pisau silet tajam mencukur kelimis kepala orang
dengan tidak berasa dan tahu-tahu rambut nyoplok
apabila diraba tangan.
Kejadian itu sangat memalukan, mana Ang Hoa Lobo
mengerti, maka seketika itu ia membentak pada Kwee In
dengan kegusaran yang meluap-luap: "Binatang, kau
bikin malu nenekmu? Apa kau kira dengan kepandaian
silatmu itu bikin gentar hatinya nenekmu? Kau jangan
mimpi. Lihat tongkatku!"
Seiring dengan kata-katanya Ang Hoa Lobo
menyerang dengan tongkatnya yang berat.
"Nenek manis," ngeledek Kwee In. "Kau kenapa jadi
marah-marah? Dulu kau poles wayahku hitam, apa itu
bukan malui aku? Kalau sekarang aku mencukuri
rambutmu kelimis, itu satu pembalasan yang wajar
bukan? Ada ubi ada talas, ada budi harus dibalas!
Hahaha.... Percuma kau gunakan tongkatmu yang cepat
patah itu!"
Ang Hoa Lobo tidak mau ladeni godaan Kwee In,
tongkatnya yang berat terus dikasi kerja dengan kalap.
Namun, mana tongkatnya si nenek dapat menyentuh
Kwee In yang kepandaiannya susah diukur. Saban
dikemplang atau disodok Kwee in selain menghilang dari
depannya, membuat si Nenek Kembang Merah makin
gemas, dan gemas ia sampai kepingin mewek (nangis)
lantaran tak dapat melampiaskan kegusarannya.
"Binatang tolol, kau mau jadi patung?" bentak Ang
Hoa Lobo kepada The Sam yang berdiri saja dipinggiran
menonton pertarungan 'pacarnya'.
The Sam seperti diguyur air dingin mendengar
bentakan si nenek, maka ia lantas cabut pedang
pendeknya menerjang Kwee In. maksudnya mengeroyok.
Kwee In ketawa gelak-gelak melihat The Sam turun
tangan.
Begitu badannya Kwee In berkelebat didepannya. The
Sam rasakan celananya merosot. Entah dengan apa si
bocah nakal telah bikin putus tali celana The Sam, hingga
si orang she The repot menjinjing celananya yang
hendak merosot turun.
Masih belum tahu ia dengan apa membikin kencang
celananya.
Tiba tiba......
weekk!! celananya sobek panjang dijambret Kwee In
yang nakal.
Bukan main malunya The Sam, dalam keadaan
separuh telanjang seraya menjinjing celananya yang
sudah tidak karuan si orang she The lari sembunyi dibalik
batu menantikan Ang Hoa Lobo yang masih bertempur
dengan Kwee In.
"Sungguh hebat!" mengguman The Sam. Seumurnya
ia belum pernah menemukan lawan yang demikian gesit.
tubuhnya seakan akan hanya bayangan saja yang
menyambar nyambar. Ia merasa bersyukur lawan
memberi kemurahan kepadanya. kalau tidak. pasti ia
mati konyol siang siang.
Ang Hoa Lobo yang napasnya sudah ngos ngosan
mengubat-abitkan tongkatnya tanpa mengena
sasarannya. mulai putus asa. Ia tahu dirinya sebenarnya
sudah pecundang, namun ia masih tebalkan muka untuk
mempertahankan merknya. Ia membentak: "Binatang,
kalau kau laki - laki jangan menghilang seperti setan.
Mari kita bertempur sampai seribu jurus dengan
berhadap-hadapan!"
Kwee In tiba-tiba sudah berdiri didepan Ang Hoa Lobo,
sedikitpun tidak kelihatan ia lelah atau mukanya berubah
kecapean karena berkelit sana-sini menghindarkan
serangan tongkat si nenek yang dahsyat.
Diam-diam Ang Hoa Lobo, mengagumi anak muda
didepannya itu, pikirnya, Kwee In ada lebih hebat
kepandaiannya dari Kwee Cu Gie. ayahnya, cara
bagaimana ia dapat mengalahkannya? Kalau tidak
dengan kelicikan, terang ia tak dapat menang.
Sementara si nenek berpikir mencari akal, adalah
Bwee Hiang dan Eng Lan disana ketawa terpingkal-
pingkal melihat si nenek dikocok oleh adik In-nya dan
napasnya sudah senin-kemis tinggal ambruknya saja.
Mereka geli mendengar Ang Hoa Lobo menantang
Kwee In bertanding seribu jurus.
"Nenek bangkotan. apa gunanya menantang berkelahi
sampai seribu jurus sedang napasmu tinggal menunggu
tempo saja!" jengek Bwee Hiang, yang sebel melihat
lagak Ang Hoa Lobo demikian tidak tahu malu.
"Budak hina, perlu apa kau mencampuri urusanku?"
bentak Ang Hoa Lobo, sambil deliki matanya dengan
sangat gusar.
Bwee Hiang sudah mau membuka mulut pula, batal,
melihat Kwee In mengedipi matanya.
"Kau sekarang mau apa?" tanya Kwee In pada si
Nenek Kembang Merah.
"Aku mau kau berkelahi secara laki-laki, jangan pakai
menghilang! " sahutnya ketus.
"Maksudmu? " Kwee In berlagak pilon
Ang Hoa Lobo gedrukkan tongkatnya. "Anak setan,
kau sambut tongkatnya ini!"
"Tongkatmu cepat patah, makanya aku kasihan
menyambut."
"Kau kira tongkatku terbikin dari tanah lempung? "
"Tidak percaya, nah, kau boleh serang aku, nanti aku
sambuti tongkatmu!"
Ang Hoa Lobo habis sabar kena diledek oleh Kwee In.
"Anak setan, lihat tongkat.'" bentaknya, berbareng ia
kemplang Kwee In sekerasnya.
Kali ini Kwee In tidak menghilang, sebaliknya ia
menangkis dengan tangan kiri, kemplangan si nenek.
Tak!
Terdengar suara, tongkatnya si nenek patah dua
potong.
Ang Hoa Lobo kesima, ia berdiri seperti terpaku
melihat tongkatnya patah dua ditangkis oleh lengannya
Kwee In.
"Nah, aku sudah bilang. tongkatmu cepat patah,
makanya aku tidak berani menyambuti," Kwee In
menggodai si nenek. "Sekarang bagaimana? Kau
buktikan sendiri, bukan?"
-oo0dw0oo-

BAB-12
MATANYA ANG HOA LOBO mendelik dengan penuh
penasaran. Kedua tangannya dipentang, dengan tipu
'Elang lapar menyambar kelinci' ia kerahkan seluruh
tenaganya, menghajar Kwee In yang sedang berdiri
tenang-tenang saja. Barangkali lebih baik kalau ia tidak
mengerahkan Iwekangnya, ia masih tak begitu malu,
justeru lantaran ia mengerahkan seluruh tenaga
dalamnya, tenaganya jadi sangat dahsyat dan ketika
menyentuh dada Kwee In tenaga dahsyat itu membalik
memukul dadanya sendiri, hingga si nenek terpelanting
dua tombak jauhnya, Ia rasakan dadanya sesak
bernapas, kepalanya pusing tujuh keliling.
Ssbenarnya ia mau muntahkan darah saat itu, tapi ia
malu, telah telen masuk lagi darah yang hendak keluar-
Ia duduk mendeprok memperbaiki jalan napasnya.
Kwee In sudah tahu hebatnya ia punya ilmu untuk
memukul balik lawan dengan tenaganya sendiri, maka ia
hanya kerahkan tiga bagian ilmu saktinya. Kalau ia
keluarkan lima bagian, Ia kuatir si nenek tidak tahan dan
mati konyol seperti Siauw Cu Leng tempo hari.
Itulah kemarahan dari Kwee In, kalau tidak Ang Hoa
Lobo pada saat itu hanya tinggal namanya saja.
Sementara ia duduk memulihkan tenaganya, Ang Hoa
Lobo diam diam sudah ambil putusan, begitu tenaganya
sudah kembali ia akan lari ngacir, ia sekarang takut
benar-benar kepada si anak mudah yang kepandaiannya
sangat sakti itu.
Lema juga ia dalam keadaan demikian, kapan ia
membuka matanya pula, ia lihat didepannya Kwee In
terdapat Bwee Hiang dan Eng Lian sedang mengawasi
dengan senyum dikulum. Ang Hoa Lobo pura-pura tidak
tahu, ia pejamkan pula matanya. Dilain detik dengan
kecepatan kilat tubuhnya melejit hendak meninggalkan
mereka.
"Haha, nenek tua, kau mau lari!" Kwee In berkata,
seraya kebutkan lengan bajunya kearah si nenek, kontan
tubuhnya Ang Hoa Lobo berubah telanjang kecuali celana
pendeknya yang nempel. Angin kebasan lengan baju
Kwee In sangat dahsyat, hingga pakaian Ang Hoa Lobo
tidak tahan dan pada copot seketika.
Semangatnya si nenek seperti hilang saat itu. melihat
kembali Kwee In unjuk ilmu saktinya. Ia lari tunggang
langgang dengan hanya celana pendek yang nempel
dibadannya. diketawakan oleh suara ketawa ngikik dari
Bwee Hiang dan Eng Lian.
Ang Hoa Lobo tidak mendengar suara ketawa Kwee
In, ia menduga si anak muda sedang mengejar dirinya,
maka ia kencangkan larinya tanpa menoleh kebelakang-
lagi.
Tidak tahunya, Kwee In sudah ajak kedua gadisnya
untuk kembali, setelah si nenek lenyap dari
pemandangan mereka...
Kim popo...
Nenek bandel ini paling takut sama Liok Sinshe.
Sejak ia ketemu Kwee In di Suyang-tin dan buku ilmu
totoknya (tiam-luat) dirampas kembali oleh Kwee In,
telah menyekap dirinya dalam sebuah goa, tidak jauh
dari Siauw-san.
Siauw-san (gunung kecil) adalah markasnya Ngo ok
(lima si jahat), yang sekarang tinggal dua si jahat, ialah
Toa-ok dan Sie-ok (si nomor satu dan empat), yang
seperti dalam cerita bocah Sakti tiga di-antara lima jahat
itu telah mati ditangannya Liok Sinshe.
Mereka itu adalah anak-anak angkatnya dari Kim
Popo.
Tahu ibu angkatnya sedang menyekap diri dalam goa,
anak anak angkat si nenek tak membiarkan ibu
angkatnya dan sering-sering mereka mengirimkan
makanan. hingga Kim Popo tak usah mesti keluar goa
mencari makanan.
Kim Popo ada pantaran Ang Hoa Lobo usianya, dua-
dua mempunyai kepandaian tinggi dan justeru mereka
musuh besar satu dengan lain karena berebutan lelaki.
Bedanya, kalau Ang Hoa Lobo masih haus dengan soal
sex, Kim Popo sebaliknya ia memelihara badannya untuk
kesehatan. Makanya, kalau dibanding dengan Ang Hoa
Lobo, boleh dikata Kim Popo badannya lebih segar dan
berisi. Sayang mukanya rusak karena hawa racun, kalau
tidak, dalam kondisi badan yang terpelihara baik, Kim
Popo masih menguasai kecantikan tak kalah dengan
wanita usia tiga puluhan.
Kim Popo menyekap diri dalam goa bukan tak ada
maksudnya, disamping memelihara badannya ia
meyakinkan lebih dalam kepandaian silatnya. Ia berjaga-
jaga suatu waktu bertemu dengan Liok Sinshe, ia dapat
melayaninya. Ia takut pada Liok Sinshe karena ia pernah
membokong Liok Sinshe dengan jarum mautnya, ialah
'Touw-kut-tok-ciam' (jarum beracun menembus tulang),
sehingga Liok Sinshe jatuh dari Tong-hong-gay.
Kim Popo ada mempunyai kecerdasan yang khas. itu
dinyatakan setelah ia yakinkan kepandaiannya, ia telah
menjatuhkan Kim Wan Thamo, musuhnya yang telah
merampas Tiam hiat Pit koat dan menjemur dirinya
sampai dua jam dipanasnya matahari.
Setelah ia menyekap diri dalam gua uniuk sekian
lamanya. Kim Popo merasa dirinya sudah 'boleh' untuk
menghadap Liok Sinshe, maka ia keluar goa
mengembara. Dalam perjaianan ia mendengar orang
cerita tentang It sin keng, kitab mukjijad yang membikin
orang yang memilikinya menjadi jago tanpa tanding
dalam rimba persilatan.
Ia jadi sangat tertarik dengan kabar itu.
Kim Popo pernah melakukan penyelidikan ke goa Ular,
disana ia dapai keterangan bahwa It-sin-keng sudah
didapatkan oleh seorang bocah muka hitam yang
berjuluk Hek-bin Sin-tong. Kim Popo lantas teringat akan
wajahnya Kwee In. yang paling belakang ia temukan di
Suyangtin.
Tujuannya lalu dialihkan kepada mencari Kwee In.
Ia merasa pasti dirinya dapat mengalahkan Kwee In.
karena sekarang kepandaiannya sudah meningkat jauh
dari dulu waktu ketemu si bocah.
Ketika Kim Popo jalan sampai disebuah dusun, ia
memasuki sebuah rumah makan merk An Hok. Rupanya
rumah makan itu terkenal dalam dusun tersebut. Karena
ada banyak orang yang duduk makan, lantarannya Kim
Popo lihat ada lima orang lengan wajah bengis sedang
makan dengan roman uring-uringan.
Kim Popo heran melihat sikap mereka, maka ia duduk
mendekati mereka dan pesan makanan pada pelayan.
Sebentar lagi makanan yang dipesan sudah dibawakan
oleh pelayan, si nenek merasa senang servise rumah
makan itu demikian baik. ia diam diam mendengarkan
lima orang itu yang bicaranya dengan marah-marah.
Ia mendengar seorang diantaranya berkata: "Toako,
bagaimana kita akan berbuat selanjutanya? Kalau dapat
didengar orang tentang kehancuran kita dilembah Tong-
hong-gay. benar-benar memalukan kita muncul pula di
dunia Kang-ouw!"
Kiranya mereka itu ada Houw-san Ngo Kiam pikir Kim
Popo, yang menjadi terkejut hatinya mendengar kelima
jago pedang itu dihancurkan dilembah Tong-hong-gay,
lembah yang justeru ia akan bikin kunjungan.
Ia mendengarkan terus orang bicara.
"Kau jangan putus asa, jite," menghibur The Go.
"Selekasnya kita dapat meyakinkan Ngo kiam-tin dengan
tangan kiri, kita akan satroni pula lembah Tong-hong
gay, Aku masih penasaran kalau belum ketemu dengan
Hek-bin Sin-tong sendiri."
"Toako," menyelak The Stong. "Entah berapa
tingginya kepandaian Hek bin Sin-tong, sebab
menghadapi pelayan wanitanya saja kita sudah keok.
Entah si kacung itu, bagaimana kepandaiannya. Ia masih
belum turun tangan ketika kita bergerak."
"Tentu kepandaiannya melebihi dari si budak wanita
itu," nyeletuk The Beng. yang masih mendonhkol sekali
kepada Eng Lian. "Paling menyebalkan itu kawanan
gorilla, dengan seenaknya saja telah meremukkau
pundak kita dalam keadaan kita tidak berdaya. Coba
kalau kita dalam keadaan biasa, aku mau lihat kawanan
monyet besar itu dapat tidak meraba pundak kita."
Berdebar hatinya Kim Popo mendengar mereka
bercakap cakap. Pikirnya, kalau begitu Hek-bin Sintong
punya pelayan pelayan yang berkepandaian tinggi? Itu
berbahaya sekali untuk datang kesana! Namun, dasar
nenek kita bandel, ia hanya sebentar saja jerih lantas
timbul pula ketabahannya untuk mendapatkan It-sin-
keng di Tong-hong-gay.
Ia ingin mendapat keterangan lebih jaub, maka
setelah ia sikat makanannya, lantas menghampiri Houw-
san Ngo-kiam, didepan mereka ia mengangkat tangan
bersoja dan minta belajar kenal dengan lima jago
pedang.
Houw-san Ngo-kiam heran melihat ada seorang wanita
wajah buruk dengan dandanan nenek-nenek muncul
didepannya minta belajar kenal.
Dengan ramah mereka menyambut hormatnya Kim
Popo dan menyilahkan si nenek ambil tempat duduk.
Setelah mana Kim Popo berkata: "Mohon kalian jangan
salah mengerti dengan kehadiran aku diantara kalian
lima bersaudara, aku dengar tentang lembah Tong-hong-
gay yang berbahaya itu, apa kalian suka mengasih
keterangan lebih jauh padaku?"
The Go melirik kepada kawan-kawannya, sebelum
menjawab perkataan Kim Popo.
The Beng yang berangasan telah membentak: "Wanita
usilan,kau mencuri dengar percakapan kami barusan?
Em! Betul betul sangat kurang ajar!"
Kim Popo melengak didamprat dengan tiba-tiba. Ia
naik darah, bentaknya: "Manusia gila, apa kau kira aku
Kim Popo boleh dihina? Mari kita bergebrak!"
Si nenek yang aneh adatnya dapat lunak kalau diajak
bicara halus, tapi ia lantas kasar adatnya kalau melihat
orang galak-galak terhadapnya.
"Ngote, kau jangan sembarangan menuduh orang,"
melerai The Go, ketika melihat dua orang itu hendak
bergebrak. Ia masih memikir panjang, keadaan mereka
ada kipa (cacad pundaknya), kalau wanita didepannya itu
kepandaiannya hanya pasaran saja dapat diatasi,
sebaliknya kalau lawan alot kembali mereka akan
mendapat malu disitu.
Oleh sebab memikir demikian The Go dapat berlaku
kalem dan menyesalkan kelakuan sang adik kelima yang
sembarangan menuduh orang.
"Toaso, kau ada urusan apa menanyakan soal Tong
hong-gay?" tanya The Go kemudian kepada Kim Popo
dengan suara lunak dan ramah.
"Aku ada urusan sendiri, makanya juga aku mau minta
keterangan dari kalian," sahut Kim Popo dengan uring-
uringan.
"Sabar, kau jangan marah-marah," menghibur The Go.
"Mari kita bicara dengan baik, ada urusan apa
sebenarnya kau menanyakan urusan Tong-hong-gay?"
Kim Popo deliki matanya kearah The Go.
"Itu urusanku pribadi, untuk apa orang lain mau
tahu?" sahutnya ketus.
The Go kewalahan menampak adatnya si wanita
wajah buruk yang angin-anginan itu.
Sebaliknya The Siong juga yang adatnya ada sedikit
berangasan, tidak bisa tahan mendelunya sang hati
melihat lagaknya si nenek. Maka ia menyelak: "Wanita ini
hendak tahu rahasia kehancuran Ngo-kiam, makanya ia
tidak mau mengatakan apa-apa urusannya!"
"Tutup mulutmu binatang!" bentak Kim Popo gusar.
"Memangnya aku punya kelebihan tempo untuk
mengurus perkara orang lain? Hm! Kau jangan pandang
rendali pada aku Kim Popo...!" berbareng si nenek sudah
bangkit dari duduknya dan mau mengeloyor pergi
"Eh, nanti dulu, Toako" mencegah The Go, hingga Kim
Popo duduk pula.
"Kau mau apa lagi? Sudah tidak ada urusan dengan
kalian untuk apa kau nongkrong diantara orang orang
tidak keruan!"
Marah The Seng dan saudara-saudaranya mendengar
mereka dikatakan orang-orang tidak keruan.
"Memangnya macam kau saja yang menjadi orang
benar? Nenek gila, kau enyah sana!" berkata The Kiang
yang sengit mendongkol kepada Kim Popo.
Si nenek bandel mendelik kearah The Kiang,
"Memangnya aku sudi lama-lama diantara kalian, kalau
tidak saudara tuamu barusan yang mencegah aku pergi,
aku sudah lama tidak mau melihat cecongor kalian!" Kim
Popo nyerocos tanpa di-rem.
The Go juga jadi tidak senang melihat wanita
berwajah buruk itu unjuk lagak yang tengik dan ia
berkata: "Toako, memangnya kau mau mencari ribut
dengan kami orang?"
"cari kebaikan mau, cari ribut juga aku mau, kenapa
kau mesti menanya?" sahut Kim Popo ketus suaranya
dan tidak memandang mata pada Ngo-kiam.
The Beng yang sudah tidak tahan sabar, sudah lantas
ulur tangannya hendak menampar Kim Popo, namum,
dengan sekali jambret dan menggentak perlahan, The
Beng tertarik dari duduknya dan nyelonong kedepan
menubruk meja orang yang sedang makan. Kepalanya
benjol, karena disambut oleh pinggiran meja.
Kawan-kawannya menjadi marah. Dengan serentak
mereka menyerang Kim Popo, sayang mereka hanya
dapat menyerang dengan tangan kiri, tangan kanan
mereka sudah tidak bisa digunakan, karena pundaknya
dibikin remuk oleh gorillanya Kwee In.
Meskipun demikian serangan-serangan mereka
mengeluarkan angin menderu, itu di-karenakan Iwekang
mereka yang tinggi. Kim Popo tahu itu, namun, ia tidak
keder. Malah dengan beberapa kali tendangan meja kursi
serabutan terbang dan terdapatlah di-situ suatu tempat
yang lowong untuk mereka bertanding.
Tamu-tamu pada lari serabutan takut kebawa-bawa
urusan. Pemilik rumah makan berteriak-teriak minta
mereka jangan berkelahi dalam rumah makan itu, tapi
teriakannya tidak digubris oleh Ngo-kiam dan Kim Popo.
Mereka terus bertempur dengan sengitnya.
"Bagus, lima lelaki mengeroyok satu wanita!"
menyindir si nenek bandel. "Apa kalian sudah yakin bakal
menang? Hmm! Lihat Popo akan bikin kalian sungsang
sumbel!"
Kim Popo ternyata tidak bohong kata-katanya, karena
dilain saat The Go dan saudara saudaranya dibikin roboh
satu demi satu. Mereka pada merintih kesakitan. The
Beng dan The Siong berlumuran darah mulutnya kena
ditojos kepalanya Kim Popo sementara The Seng
muntahkan darah hidup karena dadanya kena dijotos,
sedang The Go merintih keras karena pundak lengan
kirinya kena diremas oleh nenek jagoan itu.
"Hehe, inilah Houw-san Ngo-kiam?" jengek Kim Popo
tatkala melihat lawannya semua pada mendeprok dilantai
dengan tidak berdaya. "Mana Ngo-kiam-tin, boleh
keluarkan!" mencemooh si nenek lebih jauh.
Sakit hatinya Ngo-kiam mendapat hinaan itu, namun,
apa daya? Mereka tak dapat melampiaskan sakit hatinya,
karena tidak berdaya. Untuk kedua kalinya dalam sejarah
mereka Ngo kiam telah dihancurkan orang.
The Go memikir kesitu sampai berkaca-kaca matanya
menangis.
Pemilik rumah makan dengan tubuh gemetaran
menghampiri Kim Popo dan berkata: "Liehiap, mohon
kau jangan bikin onar lebih jauh. Aku menanggung
banyak kerugian karena gara-garamu membuat onar...."
Pemilik rumah makan itu belum putus dengan
bicaranya, ia rasakan badannya tiba-tiba terputar kena
ditampar oleh Kim Popo yang sedang marah. Ia juga
jatuh duduk dilantai menemani Houw-san Ngo-kiam.
"Polisi, polisi datang!" seru orang yang menonton
perkelahian itu-
Sebentar lagi masuk tiga orang polisi. rupanya mereka
datang mendapat laporan dari salah seorang pelayan dari
rumah makan itu bahwa di rumah makannya ada
seorang nenek yang sedang ngamuk memecahkan
barang-barang.
Pemimpin dari tiga orang polisi itu berkumis
melintang, wajahnya bengis, memelihara jenggot
pendek. Gagah sekali tampaknya, dengan cepat ia
menghampiri Kim Popo, katanya: "Nenek, apa-apaan kau
mengamuk disini? Mari, ikut aku ke kantor polisi untuk
pertanggung jawabkan perbuatanmu yang tidak benar!"
Kepala polisi itu berkata sambil menjambret lengan
Kim Popo, maksudnya mau ditarik dari situ. Apa mau
jambretannya hanya menjambret angin, lengan Kim Popo
entah bagaimana digerakkannya, luput menjadi sasaran
si Kepala Polisi.
"Kau mau melawau sama yang berwajib?" bentak si
kepala polisi marah.
"Kentut busuk!" bentak Kim Popo marah. "Kau mau
bawa aku ke kantor polisi, ini rasakan dulu!"— menyusul
kepalannya menjotos, hingga si kepala polisi yang tidak
menyangka orang berani memukul sudah tidak keburu
berkelit. Hidungnya kena ditojos dan kontan keluar
kecap, sedang badannya berdiri limbung.
Dua kawannya melihat kepalanya diserang, lalu maju
dan menyergap Kim Popo.
Sayang mereka tidak tahu siapa wanita berwajah
buruk itu, kalau tahu, mungkin pikir-pikir dulu untuk
mengunjuk kegalakannya, sebab begitu mereka
menyerbu kontan kaki Kim Popo bekerja dan dua polisi
itu dua-duanya jatuh meloso dilantai.
"Pemberontak, pemberontak! Lekas panggil komandan
datang!" teriak orang-orang polisi yang sudah dihajar
jatuh sungsang sumbel.
Mengetahui bahwa urusan bisa runyam kalau turun
tangannya pasukan polisi, maka Kim Popo sudah lantas
menjejakkan kakinya. tubuhnya melesat jauh ke pintu
keluar. Sekejapan saja ia sudah menghilang.
Si kepala polisi dan dua pembantunya dengan susah
payah telah bangkit berdiri.
Kim Popo sudah tidak ada, maka untuk menunjukkan
keangkuhan, polisi itu telah bawa Ngo-kiam bersama-
sama ke kantor polisi untuk diperiksa.
Hal itu sebenarnya tak akan terjadi, manakala Ngo-
kiam (lima pedang) dalam keadaan segar bugar. justeru
mereka dalam keadaan payah, maka dengan terpaksa
mereka mengikuti digiring ke kantor polisi.
Kita menyusul Kim Popo yang melenyapkan diri.
Si nenek dengan bersenyum-senyum telah
meneruskan perjalanannya.
Ia puas telah menghajar Houw san Ngo-kiam yang
namanya terkenal dalam kalangan Kang-ouw. ia mengira
sudah menjatuhkan mereka dengan mutlak. sebaliknya
tidak memikirkan kalau Ngo-kiam dapat di jatuhkan
olehnya demikian mudah lantaran terluka parah pada
pundak kanannya. coba Ngo kiam dalam keadaan segar
bugar, jangan harap si nenek bisa banyak lagak
didepannya mereka yang terkenal telengas juga.
Sedang Kim Popo enak berlari-lari, tiba-tiba ia
dihadang oleh dua petani.
"Orang tua. kau mau kemana?" satu diantaranya
menanya.
Kim Popo merandek dan deliki matanya.
"Urusanku, kalian mau tahu untuk apa?" sahut Kim
Popo kasar, hingga dua orang tadi melengak heran.
"Bukan apa-apa, aku menanya untuk kebaikanmu,
orang tua!" kata orang tadi pula.
Kim Popo yang sekarang merasa heran. Ia menanya:
"Memangnya ada urusan apa?"
"Kira-kira tiga lie dari sini, ada sebuah bukit bernama
Hoan-ma (bukit angin).
Disana ada sarangnya orang jahat yang mengacau
keamana sekitar tempat disini." menerangkan orang tadi.
"Memangnya ada sangkutan apa orang-orang jahat itu
dengan aku, aku hanya menyimpang lewat, tidak akan
mengganggu mereka," berkata Kim Popo.
"Ada lebih baik kalau kau orarg tua jalan mengitar,
jangan lewat disim. kami khawatir kau kena jebakan dan
dipersulit oleh mereka."
"Ada berapa banyak orang jahat itu?"
"kira kira ada tiga puluh orang di-pimpin oleh seorang
yang menamai dirinya Hong jiam Khu Lang. Sangat
telengas si J enggot merah (Hong jiam). aku khawatir kau
orang tua dapat susah dari mereka. Dari itu. lebih baik
kau jalan mengitar saja. jauh sedikit tidak apa, asal
selamat, bukan?"
"Sudah berapa lama mereka bikin susah sekitar
kampung ini?"
"Kira-kira sudah setengah tahun ini."
"Kenapa yang berwajib tidak ambil tindakan
menumpas mereka?"
-oo0dw0oo-

J ILID 5
BAB-13
ORANG ITU ketawa mendengar Kim Popo
menyebutkan yang berwajib.
"Kenapa kau ketawa?" tanya Kim Popo heran.
"Bicara tentang yang berwajib, aku jadi ketawa, sebab
mereka tidak ada gunanya menghadapi kawanan si
jenggot merah. jangankan menumpas, mendengar
namanya saja si jenggot merah, mereka ketakutan
sendiri.
"Celaka, mana bisa begitu? Penjaga keamanan mesti
tahu kewajibannya, kalau hanya menghadapi segala
begal kecil tidak berani menumpasnya bagaimana kalau
menghadapi begal besar. Ini memang juga
mentertawakan orang."
Dua petani itu tak menjawab, mereka berdiam
menunggu reaksi lebih jauh dari Kim Popo yang
tampaknya sedang berpikir.
"Kalau begitu, biarlah aku mewakili yang berwajib
menumpas mereka," tiba tiba Kim Popo berkata, hingga
kedua petani itu menjadi terbelalak matanya saking
heran.
"Mana bisa, kau orang tua kesana hanya
mengantarkan jiwa saja," sahut orang tadi.
"Hehe, kau tidak percaya pada nenek-my, ya! Nah,
kau lihat!!" kata Kim Popo, berbareng tangannya
dipukulkan kepada sebatang pohon yang cukup besar
ukuran tengahnya, kontan pohon itu tumbang setelah
mengeluarkan suara berkeresek keras, Tercabut dengan
akar-akarnya, rwbah melintang dijalanan.
Dua orang itu terbelalak matanya saking kagum.
"Orang tua," katanya. "Sungguh rejeki besar bagi
kampung kita, kau seperti juga malaikat yang diturunkan
untuk menumpas kejahatan. Kami tidak ragu-ragu lagi
sekarang."
"Selamat sampai jumpa pula..." kata Kim Popo,
orangnya sementara itu sudah melesat jauh, hingga dua
petani itu sangat kagum melihat kepandaiannya si nenek.
Sudah mengetahui jalanan ada bahaya, maka Kim
Popo telah berlaku hati-hati.
Ketika sedang enaknya jalan, tiba-tiba menyambar
didepan hidungnya dua batang anak panah, itulah
pertanda datangnya kawanan brandal.
Kim Popo pura-pura tak tahu. Ketika kembali
melayang anak panah, dengan gapah sekali ia sambar
dengan tangannya, lain anak panah yang menyambar
kemukanya ia sambut dengan gigitan dimulutnya.
"Terimalah kembali!" seru Kim Popo, berbareng ia
meniup anak panah dari mulutnya, barang itu melesat
kencang sekali ditiup oleh Kim Popo yang menggunakan
lweekang.
Segera juga terdengar jeritan,disusul oleh jeritan lain
waktu Kim Popo melemparkan anak panah yang ada
ditangannya.
Menyusul muncul kira-kira sepuluh orang dari
gerombolau alang-alang. Satu diantaranya yang
hidungnya seperti burung elang maju kedepan. Ia
membentak: "Nenek tua, kau seenaknya saja jalan disini
apa tidak takut orang jahat?"
"justeru nenekmu mau mencari orang jahat!" jawab
Kim Popo.
"Hm! Mari ikut aku ke markas!" kata orang itu, seraya
tangannya diulur mau memegang lengan Kim Popo.
"Tanganmu kotor, bagaimana mau pegang lengan
nenekmu!" kata Kim Popo seraya berkelit dari
pegangannya orang tadi.
Melihat pegangannya gagal, orang itu marah.
Bentaknya: "Nenek sinting, kau berani main gila dengan
Khu Samya?"
"Aku mau main gila dengan kau orang jabat!" sahut
Kim Popo blak-blakan.
Gerombolau jenggot merah itu dikepalakan oleh tiga
orang, jalah Khu Liang, Khu Bin dan Khu Sun. Mereka
bertiga bersaudara. Orang-orangnya memanggil mereka
Toaya, jiya dsn Samya, yang berarti tuan kesatu, kedua
dan ketiga.
Sudah setengah tahun mereka beroperasi disekitar
Hong-nia, mereka berbesar hati karena- tidak
menemukan halangan apa-apa. Dalam usahanya
membikin susah orang telah berjalan lancar, pengikutnya
juga makin hari makin banyak saja .
Khu Sun alias Khu Samya yang mencegat Kim Popo
pertama kali telah ketemu batunya.
Ia gusar melihat si nenek membangkang dibawa
kemarkas.
"Nenek sinting!" bentak Khu Samya. "Kau benar-benar
membandel dibawa ke markas?"
"Siapa yang mau dibawa ketempat kotor!" sahutnya
msngejek.
Khu Samya kewalahan. Tiba-tiba ia menyerang,
namun dengan sekali egoskan badan dan berbareng
tangannya diulur Khu Samya kena dicekuk batang
lehernya. Ia berkaok-kaok minta kawan kawannya
menolongi. Segera juga kawanan orang itu menyerbu
dan mengeroyok Kim Popo yang tidak mau lepaskan
tangannya jang mencekuk leher Khu Samya.
Khu Samya barangkali terus terusan akan berada
dibawah pengaruhnya si nenek, kalau saja orang-
orangnya tidak menghunus senjata, hingga kepaksa Kim
Popo melepaskannya dan kasi kerja tongkatnya yang
berat untuk melabrak orang orang jahat itu.
Suara bentrokan senjata terdengar nyaring sekali.
Tampak beberapa senjata gerombolan itu pada terbang
ditangkis oleh tongkatnya Kim Popo, jeritan terdengar
saling susul karena tangannya mereka kesakitan, tergetar
oleh bentrokan senjata. Malah ada yang jatuh semaput,
tapi buru-buru bangkit lagi untuk lantas angkat kaki lari.
Sebentar saja Kim Popo ditinggal sendirian disitu.
"Hehe. segala anak bawang berani mencegat
nenek.....?" Kim Popo ketawa terkekeh kekeh.
"Nenek tua. kalau berani kau kemari!" tiba tiba ada
orang berteriak sejarak dua tombak dari balik pohon,
sambil ngeledek si nenek yang bertugas dengan tiba tiba.
"Kurang ajar, kau berani godai nenekmu!" seru Kim
Popo, berbareng tubuhnya meluncur kearahnya orang
itu. Tapi orang itu ternyata sangat gesit, sebab begitu
Kim Popo sampai, orang itu sudah berada lagi dua
tombak daripadanya.
Diam-diam Kim Popo mengagumi ginkang orang itu.
Dalam penasarannya Kim Popo menguber sambil
mulutnya tidak hentinya memaki kalang-kabut. tapi
orang itu tidak melayani. hanya lari terus. Belakangan ia
nerobos diantara pepohonan yang lebat, hingga Kim
Popo kehilangan jejaknya.
Ia celingukan mencari orang tadi, tapi untuk bsherapa
lama orang tidak munculkan diri, hingga Kim Popo uring-
uringan.
"Nenek tua, jangan marah-marah, aku ada disini!"
orang itu ngeledek dalam jarak belum ada dua tombak
dihadapannya.
"Kau mau lari?" bentak Kim Popo, berbareng tubuhnya
mencelat gesit sekali mehilang kearah orang ladi.
Plung...! Kim Popo ketika tancap kaki terperosok dan
masuk dalam lubang jebakan.
Kaget bukan main si nenek bandel, tapi sudah
terlambat, ia menyesal menuruti napsu hatinya. Kim
Popo sudah terjaring oleh jala yang kuat dan bikin ia
tidak berdaya ketika diangkat naik.
Kim Popo hanya bisa memaki kalang-kabut, sedang
untuk memerdekakan dirinya dari ringkusan jala. ia
kewalahan karena jala terlalu kuat. Tampak badannya
jadi satu dengan tongkatnya. Ia coba kerahkan
Iwekangnya, namun sia sia saja, tetap ia tak berkutik
didalam sijala kuat itu yang biasa dipakai menangkap
harimau galak.
Tidak lama kelihatan Khu Samya datang, Ia
mentertawakan Kim Popo, enak sekali ia ketawa, hingga
mengeluarkan air mata.
"Manusia hina, kalau berani kau lepaskan nenekmu
dan bertempur untuk tiga ratus jurus!" kata Kim Popo
sangat mendongkol.
"jangan banyak mulut nenek bawel!" sahut Khu
Samya, seraya tangannya diulur mengusap wajahnya
Kim Popo, hingga si nenek gelagapan. Tak dapat ia
mengegos dan kepaksa membiarkan wajahnya diraba
pergi datang oleh Khu Samya.
"Masih belum berapa tua, kenapa wajahmu jelek
amat?" kata Khu Samya setelah puas meraba orang
punya wajah.
"Kau kira aku sudah tua? Hanya wajahku yang buruk,
tapi badanku masih kencang!" kata Kim Popo sambil
mendengus.
Entah apa yang dimaksudkan oleh kata-kata Kim
Popo, tapi terang membuat Khu Samya jadi bingung.
"Apanya yang kencang?" Khu Samya ngeledek si
nenek.
"Tutup bacotmu!" bentak Kim Popo mendongkol.
Khu Samya ketawa nyengir. Kim Popo pelengoskan
mukanya, sayang gagal. karena terhalang oleh jaring
yang melekat pada pipinya.
Kim Popo sebenarnya belum psrnah merasa cemas,
tapi kali itu hatinya bimbang dan ragu-ragu apa ia dapat
meloloskan diri dari kawanan garong itu? Siksaan apa
yang nanti ia bakal dapat dari gerombolan orang jahat
itu?
Untuk sementara ia melihat gelagat.
"Bawa nenek tua ini ke markas!" memerintah Khu
Samya pada orang-orangnya.
Di markas gerombolan, Kim Popo dihadapkan depan
Khu Liang dan Khu Bin.
Khu Liang, si jenggol merah, wajahnya merah
menyeramkan. Sebaliknya Khu Bin berwajah halus
kelimis, boleh dikatakan cakap.
Dengan suara nyaring keras Khu Liang membentak:
"Nenek tua, kau mau apa masuk dalam daerah kami?"
"Sejak kapan kau punya daerah sendiri?" Kim Popo
balas menanya,
"Hong nia dan sekitarnya ada daerah kami, apa kau
tidak tahu?"
"Hm! Daerah pemerintah kau mau akui daerah
sendiri? Tidak tahu malu!"
"Hei, kau sudah gila?" bentak Khu Liang marah.
"Kau yang gila, bukannya aku, manusia jahat!"
Melengak heran Khu Liang mendengar jawaban Kim
Popo.
"Toako, ia kata hanya wajahnya saja yang buruk,
sedang lainnya masih kencang"!" menyelak Khu Sun
seraya ketawa terbahak-bahak.
Khu Liang tersenyum. Ia bangkit dari duduknya dan
menghampiri Kim Popo yang tidak dapat berkutik dalam
jaring. Hatinya panas mendengar si hidung macam elang
mengolok-olok padanya, sayang ia tidak merdeka, kalau
tidak, sudah sejak tadi ia hajar Khu Sun dengan
tongkatnya yang berat puluhan kati.
Setelah memeriksa Kim Popo, Khu Liang mesem.
"Apanya yang kencang!" kata-nya, berbareng ia
menendang pinggulnya si nenek, hingga berdengit
kesakitan.
"Manusia hina!" bentaknya. "Kalau kau laki-laki,
merdekakan aku, mari kita bertempur tiga ratus jurus.
Kalau tidak berani, kalian bertiga boleh mengerubuti aku
sendiri!"
"Sombong benar, nenek ini!" kata Khu Liang, kembali
ia menendang pantat orang, hingga si nenek berkaok-
kaok memaki kalang kabut.
Tapi makiannya hanya makian saja, ia tidak berdaya.
Ia harus terima hinaan orang, karena dirinya kurang hati-
hati, sehingga kejeblos dalam lubang jebakan.
Pada saat itu ia baru menyesal ia tidak mendengar
nasehatnya dua petani yang ia temukan dijalanan, kalau
tidak ia sudah jalan jauh dengan tidak menemukan
rintangan.
Namun, apa mau dikata. Ibarat nasi sudah jadi bubur,
ia tinggal menanti bagaimana nasibnya kcmudian
ditangan gerombolan jahat itu.
"Bawa nenek tua ini dalam tahanan !" memerintah
Khu Liang. "Besok pagi baru kita periksa lagi, apa ia
mata-mata yang nyelusup kedalam daerah kita!"
"Kau maksudkan aku mata-mata pemerintah?" tanya
Kim Popo.
"Ya. betul!" jawab Khu Liang singkat.
"Pemerintah mana mau ambil pusing urusanmu,
mereka semuanya takut padamu!"
"Bagaimana kau tahu pemerintah takut pada kami
orang?"
"Bukannya pemerintah, aku maksudkan mereka yang
jaga keamanan disekitar sini."
Khu Liang ketawa mendengar perkataan si nenek.
"Dari mana kau tahu, mereka takut pada kami?"
tanyanya.
"Aku sudah tahu, lantaran ada orang kasi tahu
padaku."
"Bagus. bagus...!" sahut Khu Liang. "Lekas masukkan
ia dalam tahanan!"
"Hei, mana boleh begitu?" kata Kim Popo. "Kita tidak
bermusuhan, lebih baik kau lepaskan aku, maka aku juga
tak akau mengganggu kalian pula."
"Enak saja kau ngomong!" sahut Khu Liang ketawa.
"Perkaramu besok pagi kami periksa, hari ini tidak ada
tempo. Kami ada urusan lain!"
"jangan begitu kalau kau mau mengikat tali
persahabatan denganku," kata Kim Popo.
"Siapa yang mau mengikat tali persahabatan dengan
kau nenek tua! jalanmu saja sudah susah. bagaimana
kau mau menjadi komplotan kami? Hahaha....!"
Kim Popo putus asa. Ia masih berkata pula: "Kau
hanya lihat sepintas lalu, kau tidak lihat aku menghajar
Khu Samya dan orang-orangmu lebih sepuluh orang.
Hanya mukaku yang buruk, badanku sendiri masih
kencang!"
Omongnya Kim Popo yang dianggnp sedikit melantnr,
membuat orang-orang yang ada disitu pada ketawa
terbahak-bahak, se-hingga Kim Popo menjadi heran.
"Apa yang kalian ketawakan?" ia menanya heran.
"Kau kata masih kencang, apanya yang kencang,
nenek tua!" berkata Khu Bin, yang dari tadi tinggal diam
saja.
jiko dari kawan jenggot merah itu parasnya cakap,
tampak ketawa kearahnya, membuat Kim Popo jengah
sendirinya. Ia merasa perkataannya tadi tentu keliru,
makanya juga ditertawakan orang banyak. Ia pikir-pikir
lagi, ia merasa malu, kapan ia ingat perkataanya salah,
mesti ia kata badannya masih 'sehat', bukannya kencang.
Melihat tertawanya Khu Bin yang manis, pikiran Kim
Popo melayang ketika ia berkasih kasihan dengan Siauw
Cu Leng yang saat itu parasnya sangat cakap seperti Khu
Bin.
Melamun pada jaman yang lampau, tak terasa ia
bersenyum kearah Khu Bin. Tentu saja Kim Bin kaget
nampak si nenek bersenyum kearahnya, itulah senyuman
yang menyeramkan. Cepat-cepat ia pelengoskan
mukanya, ia anggap Kim Popo pikirannya tidak sehat.
coba Khu Bin menghadapi senyuman Kong Kim Nio, si
jelita, sebelum ia jadi Kim Popo, pasti senyuman Kim
Popo akan disambut dengan mesia. Kim Popo lupa
bahwa wajahnya buruk, senyumannya menakutkan, tadi
ia bersenyum kearahnya Khu Bin.
Sebentar lagi Kim Popo digotong masuk kedalam
ruangan tahanan.
Ruangan tahanan itu terdiri dari beberapa kamar yang
merupakan kerangkeng besi- Hanya dindingnya teraling
tembok. depannya dipagar besi. Diantara tawanan tak
dapat berbicara satu dengan lain lantaran teraling
dinding tembok, tapi dengan sipir (penjaga tahanan)
sang tawanan dapat bicara leluasa karena depannya
pagar besi.
Kim Popo lihat ada tiga orang tahanan disitu, dua
diantaranya ia lihat seperti orang perempuan, rambutnya
terurai dan mulutnya ngomel panjang pendek. yang
satunya ia kurang terang wanita atau pria, sebab ia lagi
tidur.
Kim Popo mendapat kamar tahanan paling dalam.
Penerangan dalam kamar tahanan itu hanya dari
jeruji-jeruji jendela, kalau umpamanya jendela itu
ditutup, pasti penerangan menjadi gelap petang. Entah
kalau diwaktu malam, apakah digunakan lilin atau lampu
sebagai penerangan?
Kim Popo dijebloskan dalam tahanan dan masih
teringkus dalam jaring, hanya saja ikatannya sudah
dibuka, maka ketika Kim Popo bergulingnn beberapa kali
jaring itu mengendur dan ia dapat gerakkan tangannya
untuk membuka lebih jauh ikatan jaring.
Dilain saat Kim Poo sudah merdeka pula, cuma
merdeka badannya, sebab ia masih tetap dalam kamar
tahanan yang buruk.
Ia lihat sang sipir seorang yang perawakan tinggi
besar, mukanya jelek hitam dan sudah keriputan.
Meskipun demikian, matanya sangat tajam dan
berwibawa, rupanya peajaga tahanan itu mempunyai
tenaga dalam yang lumayan. Dilihat badannya yang
masih kokoh-kuat, usianya dikira diantara lima puluh dan
enam puluh tahun.
Kim Popo senang sekali ia masuk tahanan bersama
tongkatnya, ia sangat butuhkan manakala ada jalan
untuk meloloskan diri.
Sementara dalam tahanan, Kim Popo jadi alim.
Mulutnya tidak memaki kalang kabut lagi seperti mula-
mula ia dimasukkan kesitu. Ia duduk termanggu-
manggu, seperti memikirkan jalan menyelamatkan
dirinya.
Kim Popo sebal melihat sang penjaga tahanan (sipir)
sering mengawasinya.
"Orang jelek begitu, mana pantas terus-terusan
mengawasi padaku?" pikir Kim Popo dalam hatinya, ia
tidak pikir kalau wajahnya sendiri buruk. Mungkin ada -
lebih jelek dari sang sipir yang suka mengawasi
kepadanya.
Diwaktu sore, ketika sang sipir menyodorkan ransum
untuk Kim Popo makan sore, ia menegur pada sang sipir:
"Aku lihat kau sering mengawasi aku saja, apa
maksudmu?"
Sang sipir menjadi heran ditegur demikian oleh
seorang tawanan.
Ia tidak menyahut, sebaliknya ia ngeloyor
meninggalkan Kim Popo.
"Hei, jangan pergi dulu!" teriak Kim Popo. Tapi sang
sipir tidak meladeni dan terus ketempatnya sendiri,
hingga Kim Popo sangat mendongkol.
Tatkala itu kalau menuruti napsu hatinya, ia sudah
ingin mencaci maki pada si sipir, tapi tiba-tiba ada pikiran
baik berkelebat dalam benaknya.ia batal menyemburkan
makiannya, malah berubah wajahnya jadi sabar.
Ketika dilain saat sang sipir mau mengambil tempat
makanan pulang. Kim Popo dengan suara merendah dan
halus berkata: "Toako, kau barusan marah padaku? Oh,
jangan marah, hatiku menjadi sangat tidak enak...."
Sang sipir menatap wajah Kim popo sejenak, lalu
alihkan pandangannya kepada tubuhnya si nenek yang
serba padat.
Kim Popo tidak menghiraukan. Ia berkata pula:
"Toako, siapa namamu yang mulia?"
Orang itu tak menjawab, hanya tangannya digerak-
gerakkan seperti menulis huruf.
Kim Popo peihatikan, ia ternyata bernama Beng Sin
she Khu juga.
Sekarang Kim Popo bant tahu kalau sipir itu gagu. Ia
menanya: "Toako, kau sejak kecil memangnya sudah
gagu?"
Beng Sin geleng-gdeng kepala, lain ia buka mulutnya,
ternyata lidahnya pendek sekali, rupanya telah dipotong
orang.
Kim Popo yang biasanya belum pernah kasihan orang,
kali ini menatap wajah Beng Sin dengan penuh haru. Ia
bayangkan, kekejaman orang yang telah memotong
lidahnya Beng Sin.
"Sungguh kejam orang yang memotong lidahmu,
Toako," berkata Kim Popo. "Kenapa kau tak melawan
ketika lidahmu kutungi?"
Beng Sin geleng-geleng kepalanya, sementara ia tanya
terus menatap pada bagian dada dan seluruh tubuh Kim
Popo. Diam-diam Kim Popo merasa heran melihat
kelakuannya orang itu.
Ia tadi dapat pikiran baik untuk meloloskan diri.
melihat kelakuannya si sipir, makin teguh
kepercayaannya kalau ia akan berhasil menjalankan
rencabanya.
Kim Popo sebagai wanita yang sudah pengalaman,
mengerti bahwa Beng Sin mengagumi tubuhnya yang
serba padat menggairahkan. Diam-diam ia merasa
bersyukur dalam usia mendekat setengah abad badannya
ada demikian menggiurkan berkat terpelihara baik.
Tergetar juga Kim Popo hatinya. tatkala Beng Sin
termangu-mangu memandang bagian dadanya, dimana
ada mengumpat sepasang buah dadanya yang padat dan
berisi.
Tanpa merasa ia meraba buah dadanya dan berkna
perlahan: "Toako, kau mengagumi ini?" seraya meremas-
remas hingga benda itu bermain.
Beng Sin terbelalak matanya dan mulutnya beerseyum
dengan tiba-tiba.
Kim Popo girang. ia mengharap rencananya akan
berhasil.
Tiba tiba ia bangkit dari duduknya, berpose didepan
Beng Sin, membanggakan bentuk ttibuhnya. Beng Sin
manggut-manggut girang, ia ketawa, tapi tidak keluar
suaranya.
Perlahan lahan Kim Popo melolos bajunya bagian atas,
dengan tidak malu-malu
ia memamerkan sepasang buah dadanya yang serba
padat didepan Beng Sin, hingga matanya si sipir terbuka
lebar penuh rasa kagum.
Kemudian Kim Popo berjongkok dan mendekati pagar
besi, dimana Beng Sin berdiri.
Kulit dadanya yang halus putih dimana sepasang bukit
ada menantang dipegang, membuat Beng Sin
bergemetaran, tak tahu bagaimana ia harus berbuat
pada saat itu.
Tiba tiba Kim Popo dadanya merapat dengan pagar,
bergejolak hatinya Beng Sin dan dengan cepat
tangannya diulur untuk meraba benda halus itu. Ia
mengelus-elus dengan napas mendengus. Kim Popo
biarkan orang mengelus elus sepasang buah dadanya
yang hebat itu, ia berkorban untuk menyelamatkan
dirinya. Tangannya menggapai supaya sang sipir datang
dekat, tanpa disadari Beng Sin mendekat. Kim Popo
berbisik perlahan dikuping orang: "Toako, kau sudah
rasakan halusnya kedua bendaku, aku akan antar kau
melayang layang ke sorga kalau kau suka masuk
kedalam sini!."
jeruji-jeruji besi kamar tahanan terlalu kerap untuk
orang mengulurkan tangannya keluar, hingga terpaksa
Kim Popo memancing Beng Sin masuk kedalam
kerangkeng.
Ia berkorban kedua benda kesayangannya diusap-
usap Beng Sin, untuk menarik perhatiannya si sipir, yang
ia hendak kerjakan, Sayang jeruji-jeruji kamar tahanan
terlalu kerap, kalau tidak, Kim Popo dapat menjulurkan
tangannya dan menotok si sipir untuk mencambil kunci
kamar tahanan.
Mendengar bisikan Kim Popo, hatinya Beng Sin
berdebaran, tapi rasa takut lebih menguasai dirinya,
sebab kelihatan ia lompat seperti dipagut ular menjauhi
Kim Popo, kemudian dengan tidak menoleh lagi ia
meninggalkan si nenek.
Ia menghela napas melihat orang meninggalkannya.
Akan tetapi ia masih belum putus asa, ia percaya
pancingannya bakal memakan korbannya. Ia yakin benar
Beng Sin telah tergila-gila oleh bentuk badannya dan
mustahil Beng Sin tidak tergetar hatinya kapan sebentar
ia ingat telah mengelus elus buah dadanya yang serba
padat dan merangsang napsu.
Kim Popo masih belum mau pakai pakaiannya, ia tetap
telanjang bagian atasnya dan berdiri memandang kearah
Beng Sin yang sedang duduk dengan tundukkan kepala.
Dalam benaknya Beng Sin berkecamuk pikiran antara
tugas dan bisikan Kim Popo tadi.
Ia curiga Kim Popo memancing dirinya masuk. Kalau
sampai tahanan kabur dari jagaannya, pasti kepalanya
bakal menggelundung ditabas oleh algojo dari
gerombolan jenggot merah, inilah yang mengerikan
hatinya. Sebaliknya, kapan mengingat ia tadi merasakan
halusnya kulit Kim Popo dan padatnya isi sepasang bukit
si nenek, hatinya bergejolak seperti memenangkan tugas
kewajibannya.
Bimbang hatinya Beng Sin, beberapa kali ia menghela
napas, seperti juga dengan Kim Popo yang makin keras
perdengarkan elahan napasnya, seperti tengah menekan
napsu.
"Hustt....hustt...! Beng Sin..." dengar Kun Popo
memanggil
Dengan perlahan-lahan ia angkat kepalanya dan
memandang kejurusan Kim Popo.
Aduh, maak... Terbelalak matanya Beng Sin, melihat
Kim Popo saat itu juga sudah meloloskan pakaian
bawahnya, hingga tampak nyata kedua pahanya yang
montok putih. cuma sayang Kim Popo masih
mengenakan celana pendek. justeru karena ada
halangan ini, yang membuat Beng Sin tiba tiba bergelora
tak tertahankan.
Dalam posisi yang menggairahkan itu, Kim Popo telah
memenangkan pilihanan antara tngas dan bisikannya
tadi, karena dengan perlahan-lahan Beng Sin jalan
mendatangi ketika Kim Popo menggapai padanya,
Dengan gerakan tangan Kim Popo minta supaya Beng
Sin kembali pasang kupingnya untuk ia berbisik. ia
menurut, Kim Popo kata: "Orang tolol, kesempatan baik
kau mau lewatkan? Lekas datang masuk! Besok-bessok
jangan harap kau dapatkan diriku, sebab aku tentu
sudah dimerdekakan oleh majikanmu, Aku kasi
kesempatan padamu, lantaran aku mencintaimu, Toako...
Lekas kau masuk..!"
Beng Sin berdiri tanpa bergerak. Ia masih sangsi akan
kata-katanya Kim Popo yang merayu.
"Kau tidak akan dapat menemui orang yang tubuhnya
seperti aku, tolol.. !" kata pula Kim Popo perlahan.
Beng Sin diam saja. tidak mengunjuk gerakan bahwa
ia ketarik dengan bujukannya Kim Popo. Si nenek
jengkel, ia unjuk gerakan seperti yang ngambek dan
menjauhkan diri dari Beng Sin, Tapi hanya sebentaran,
sebab kemudian ia mendekati Beng Sin pula dan kembali
berbisik: "Toako, aku sudah bersedia tapi kau masih
sangsi-sangsi, inilah tandanya kau tidak menyinta aku
dan bukannya jodoh. Biarlah nanti dilain penitisan kita
jumpa pula. Sekarang pergilah kau ketempatmu,
khawatir kalau dipergoki kau mendekati aku, kepalamu
bisa-bisa dipenggal! Nah, pergilah sudah..."
Kim Popo menutup kata-kataaja sambil menjauhkan
diri dari Beng Sin.
Sang sipir dengan pikiran linglung telah gerakan
kakinya dan kembali ketempatnya.
"celaka!" pikir Kim Popo. "Aku sudah memamerkan
tubuhku seperti orang gila, tapi hasilnya nihil, betul-betul
hatiku sangat penasaran! Sialan...!"
Kim Popo mulai memungut pakaiannya, dan dikenakan
pula, kemudian ia merebahkan dirinya dengan pikiran
melayang jauh. Ia melamun mendapatan It sin-keng dan
menjagoi dalma kalangan persilatan, kemudian bersama
The Sam, orang yang menjadi pujaannya diwaktu ia
masih perawan, dengannya kemudian ia berumah
tangga.
Sang malampun sudha tiba, keadaan menjadi sunyi
senyap dalam ruangan itu yang hanya diterangi oleh
sebatang lilin, Tidak cukup sebatang liling menerang
seluruh ruangan yang luas itu yang terdiri dari beberapa
kamar tahanan.
Kim popo sudah tidak memikiran pula tentang dirinya
dapat meloloskan diri karena usahanya gagal untuk
memancing si penjaga tahanan yang gagu. Ia malah
menyesal barusan ia seperti orang gila tela meloliskan
pakaiannya dan kasihkan buah dadanya dielus-elus oleh
Beng Sin. "Sialan... " ia menggugam.
Dalam merenungkan nasibnya tiba-tba ia mendengar
suara tangisan dari orang perempuan, itulah tahanan
yang disebelahnya. Tangisannya mengalun makin lama
makin sedih kedengarannya, hingga haitnya Kim popo
tergerak. ingin ia datang menghiburnya namun dirinya
juga mengalami nasib serupa.
Kemudian terdengar suara makian dari tahanan
lainnya, juga suaranya perempuan.
Untuk sementara keadaan ruangan yang tadi sepi
menjadi ramai oleh suara tangisan dan makian mereka.
Kim Popo dapat menyelami kemarahan mereka, entah
sudah berapa lama mereka telah ditahan disitu? Apakah
ia juga akan ditahan seterusnya disitu. masih dalam
pertanyaan, tergantung dari pemeriksaan Hong-jiam Khu
Liang besok pagi atas dirinya.
Betul-betul penasaran ia kalau dirinya harus tertahan,
cita-citanya untuk mendapat It-sin-keng hanya impian
belaka. Ia belum pernah merasa cemas menghadapi
sesuatu, tapi kali ini mengingat akan nasib-nya nanti
membuat ia bimbang.
-ooOdwOoo-

BAB-14
IA MENHIBUR DIRINYA dengan melamun pada masa
lampau, masa masih perawan, pada malam yang sunyi
itu ia gemetar ketika ditindihi Siauw Cu Leng, ia berontak
tetapi tidak berdaya dan kemudian menikmati kejadian
yang seumur hidupnya tak terlupakan olehnya. Melamun
kesitu. Kim Popo menarik napas beberapa kali dengan
sangat lesu.
Tiba-tiba dalam asyiknya ia melamun, ia kaget
kupingnya mendengar suara seperti orang yang
membuka kunci kamar tahanannya. Hatinya berdebaran,
ia menduga pasti akan kedatangannya Beng Sin. Ia
belagak tidak tahu atas kedatangannya, ia mendekur
seperti enak tidur. Segera juga ia merasakan tubuhnya
dirayapi oleh tangan nakal. Kim Popo girang bercampur
geli, karena tangan nakal itu merayapi tubuhnya yang
serba padat.
Girang Kim Popo karena ia berhasil dalam usahanya
menjebak si sipir tahanan, geli karena orang itu benar-
benar sangat bernapsu, tangannya menjelajahi tubuhnya
dengan agak kasar.—
"Toako, untuk apa kau datang...?" Kim Popo berkata
perlahan.
Orang itu, yang bukan lain Beng Sin adanya,
mendengus dan tangannya dengan sebat membukai
pakaiannya Kim Popo. Ketika ia menindihi si nenek, pada
saat itulah Kim Popo tidak sia siakan ketika, ia menotok
jalan darah di iga kanannya Beng Sin, yang ketika ilu
juga roboh di-sampingnya Kim Popo.
"Hehehe... !" Kim Popo tertawa seram. "Akhirnya kau
masuk perangkap juga."
Kim Popo bangkit sambil membereskan pakaiannya
yang barusan dibukai Beng Sin. Ia ambil tongkatnya,
sebelum keluar ia persen tendangan pada tubuhnya Beng
Sin hingga si sipir tahanan mencelat tubuhnya dan
terbuka totokannya.
Kim Popo lupa bahwa dengan tendangannya itu dapat
membuka totokannya, maka ia jadi kaget ketika Beng Sin
bangun dan menyerang dirinya. Tapi kekagetannya
hanya sejenak. Ia mengegos dari serangan si gagu,
kakinya terangkat dan menghantam selangkangan orang,
persis mengenakan 'bola', hingga Beng Sin pingsan
seketika itu.
"Kau berani main gila pada Popo? Hm!" berkata Kim
Popo. seraya ia kuncikan kamar tahanan dan sekarang
berbalik Beng Sin yang menggantikan Kim Popo-
Pertama-tama ia tolong keluarkan orang-orang
perempuan yang ditahan.
Mereka kegirangan, akan tetapi sejenak berubah
ketakutan lagi. Wanita yang menangis tadi ternyata
wanita berparas lumayan, demikian yang lain-lainnya,
semuanya ada tiga wanita yang ditahan. Mereka telah
menolak dipermainkan oleh Khu Liang dan adik-adiknya,
makanya mereka ditahan, di-suruh memikirkan nasibnya.
Katanya, kalau dalam tiga hari mereka masih tidak mau
dengan suka rela menyerahkan dirinya akan diperkosa
secara paksa.
Kim Popo mendengar laporan itu bukan main
marahnya.
"Kalian jangan takut," ia menghibur. "Aku akan basmi
gerombolan jahat itu!"
Melihat si nenek sangat kosen dengan membawa
tongkat demikian berat, mereka percaya bahwa Kim
Popo ada satu jagoan, maka perasaan takut tadi telah
lenyap.
Korban pertama dari tongkatuja Kim Popo adalah
temannya Beng Sin, yang mendengar suara ribut-ribut
sudah masuk kedalam kamar tahanan untuk
menanyakan ada apa? Ia segera berhadapan dengan Kim
popo.
Kawan Beng Sin itu kebingungan ketika melihat orang-
orang tahanan sudha pada keluar dari kamarnya. Ia
mencari Beng Sin, ternyata kawan itu tidak ada
ditempatnya. Ketika ia menghadang didepan Kim popo
tidak banyak mong lagi.Kim popo kerjakan tongkatnya
yang berat. hingga kepalanya orang itu hancur seketika.
Mendengar ribut-ribut, beberapa penjaga lainnya
sudah datang kekamar tahanan, tapi mereka disapu
tanpa ampun lagi oleh si nenek jagoan. Salah satu dari
mereka dicekuk batang lehernya oleh Kim popo, yang
menanyakan dimana tempatnya Khu Liang dan saudara-
saudaranya.
Orang itu mula-mula tidak mau kasih tahu, tapi
setelah Kim Popo mengancam dengan tongkatnya, ia
tidka berani banyak lagak dan menunjukkan tempatnya
sang pemimpin.
Mula mula kamarnya Khu Liang, dimana orang she
Khu itu sedang enak tidur dengan isterinya. Pintu
ditendang terbuka oleh Kim Popo. Bukan main kagetnya
Khu Liang. Ia cepat bangun dan sembat senjatanya
sebatang tumbak.
"Hehe, Khu Liang, kau mau periksa Popo besok,
sekarang Popo akan kirim dirimu ke akhirat!" bentaknya
seraya kerjakan tongkatnya. Khu Liang menangkis
dengan tombaknya mengemplang dari atas kebawah.
Khu Liang coba mengegos, tapi kurang cepat. Pundaknya
dirasakan amat ngilu kena kehajar tongkat.
cepat Khu Liang pindahkan tombaknya ke tangan kiri.
Dengan tangan kanan ia tak dapat melayani si nenek,
apalagi menggunakan tangan kiri, enak saja Kim Popo
merangsek dan menghantam lagi pundak kirinya Khu
Liang, hingga remuk tulangnya.
senjata tombaknya juga kontan jatuh, Khu Liang
masih sempat angkat kaki, tapi belum berapa langkah
sudah kesusul. Tongkat Kim Popo bekerja, kepalanya
Khu Liang seketika itu juga pecah berantakan.
"Wanita jelek, kau bikin ribut dan berani melakukan
pembunuhan ditempat kami?"
Kim Popo mendengar orang membentak. Ia menoleh,
kiranya itu adalah Khu Sun.
"Hehe! Selamat ketemu dengan orang jelek!" Kim
Popo balas memaki, berbareng ia menerjang, ia
menyodokkan tongkatnya kearah dada. cepat Khu Sun
mengegos, hanya sayang egosannya kurang gesit,
tongkat masih melanggar juga bagian atas iganya, Ia
berjengit kesakitan, sebelum ia dapat menggerakkan
goloknya buat menangkis tongkat Kim Popo yang
menyusul menyodok perutnya, tahu-tahu perutnya sudah
ambrol dimakan tongkat.
Ia menjerit dan roboh pingsan dengan mandi darah.
Kim Popo gembira, melihat dengan beberapa sodokan
tongkatnya saja sudah meminta dua korban kepala
gerombolan J enggot Merah. Beberapa orangnya Khu
Liang dengna nekad mengeroyok Kim Popo. namun sia-
sia saja usaha mereka. Terdengar jeritan saling susul,
ada yang kepalanya pecah, tulang pundaknya remuk,
kakinya patah keserampang tongkat dan lain-lain.
Hingga sebentar saja kawanan penjahat itu pecah
nyalinya untuk hadapi si nenek yang sudah jadi kalap.
Setelah tidak menemukan lawan lagi, Kim Popo lari
keluar.
Diluar rumah ia kesamplok dengan Khu Bin yang
pulaug meronda, ia dikawal oleh sepuluh orangnya,
semuanya membawa senjata.
Khu Bin seenarnya belum waktunya pulang meronda,
tapi mengapa? laporan dar orangnya bahwa dalam
markas nenek yang siang ditangkap itu terlepas dari
tahanan dan mengamuk, maka cepat-cepat ia puiang.
Ia terkejut nampak tongkatnya Kim popo berlumuran
darah.
"Orang tua, kau benar hendak meugacau markas
kami!'" kata Khu Bin.
"Memang aku hendak mengacau, malah hendak
membasminya!" sahut Kim Popo
"Kalau kau tidak dikasi rasa, memang juga tidak tahu
kelihayan dari kami orang," barkata Khu Bin, yang
mengira Kim Popo hanya nenek biasa saja
kepandaiannya.
"Kau boleh unjuk kelihayanmu!" mengejek Kim Popo.
"Kalau kalian iihay maka Toaya dan Samyamu tidak jadi
korban tongkatku ini!"
Khu Bin kaget mendengar dua saudaranya telah
menjadi korban tongkat si nenek. Ia membentak: "Kau
sudah membunuh kedua saudaraku?"
"Kalau benar kau mau apa?" sahut Kim Popo tenang-
tenang saja.
"Terimalah pembalasanku!" teriak Khu Bin kalap.
Berbareng ia gerakan pedangnya menusuk si nenek
kosen.
Trang!! Suara senjata beradu, itulah tangkisan Kim
Popo dengan tongkatnya.
Khu Bin rasakan tangannya kesemutan mencekali
pedangnya yang mau terbang di-bentur oleh tongkat Kim
Popo. Ia tidak nyana si nenek mempunyai tenaga
demikian besar.
"Bagus!" mengejek Kim Popo. "Kau masih boleh
menggempur aku beberapa jurus!"
Kim Popo memandang Khu Bin cukup tangguh, karena
pedangnya tidak sampai terlepas oleh benturan
tongkatnya tadi, Namun, ia tidak mengira kalau Khu Bin
sedang gelisah untuk menghadapi si nenek yang kosen.
Khu Bin tidak mau mengadukan pedangnya lagi
dengan tongkat si nenek, ia bertempur mengandalkan
ginkangnya. Repot juga Kim Popo menghadapinya.
Ternyata Khu Bin jauh lebih tinggi kepandaiannya
dibanding dengan dua saudaranya yang telah menjadi
korban tongkatnya. Untuk melayani Khu Bin kepaksa Kim
Popo keluarkan jurus jurus ilmu tongkatnya yang
mematikan.
Untuk semeutara Khu Bin masih bisa bertahan, tapi
perlahan-lahan ia keteter. Ia serukan pada sepuluh orang
kawannya untuk turun tangan.
"Hehe, sudah tak tahan, minta bantuan? Hm! Boleh
saksikan, Popo nanti bikin kalian lari tunggang-langgang
tidak ada lobang untuk sembunyikan diri!" berkata Kim
Popo, seraya gerakkan tongkatnya lebih gesit lagi.
Omongan Kim Popo memang bukannya temberang,
sebab lantas berbukti, beberapa orang sudah terkulai
roboh dengan menjerit kesakitan. cepat sekali Kim Popo
mainkan tongkatnya, kemana tongkatnya berkelebat
pasti disusul dengan jeritan lawannya.
"Sungguh liehay!" pikir Khu Bin. Ia juga dengan
sungguh-sungguh mainkan pedangnya.
Kim Popo tak mau buang tempo, ia gerakkan
tongkatnya lebih cepat lagi. Khu Bin kewalahan sewaktu
ia lengah, tongkat si nenek mampir dirusuknya hingga ia
menjerit dan roboh mendeprok ditanah. yang lain lainnya
sudah tidak punya nyali untuk bertempur, mereka sudah
lari berserabutan. Akan tetapi Kim Popo tidak kasi hati,
msreka belum jauh angkat kaki, tongkatnya Kim Popo
telah membikin remuk kepala mereka.
Melihat kemenangannya yang mutlak, Kim Popo
ketawa terkekeh kekeh.
Ia menghampiri Khu Bin yang ketakutan setengah
mati jiwanya dicabut.
"Kau sudah menang, apa kau masih mau membunuh
orang lagi?" tegur Khu Bin, matanya menatap wajah Kim
Popo yang bengis.
Melihat wajahnya Khu Bin yang cakap, Kim Popo
lemas hatinya.
"Wajahmu begini cakap, aku menyayangi wajah orang
yang cakap," berkata Kim Popo. "Aku bebaskan kau dari
hukuman mati, biarlah aku hukum begini saja..."
Tongkatnya menyusul berkelebat, kedua dengkulnya
Khu Bin dipukul hancur, Khu Bin tak tahan sakitnya yang
diderita oleh karenanya, maka setelah menjerit ia jatuh
pingsan. Kim Popo tidak menghiraukan pula, ia masuk
pula kedalam msrkas dan menggeledah.
Ia keluarkan wanita yang terpaksa menjadi gula-
gulanya tiga pemimpin gorombolan jenggot Merah dan ia
usir pergi.
Sementara itu ia kumpulkan bahan bahan yang
gampang menyala, dilain saat markas gerombolan
jenggot Merah itu yang menimbulkan malapetaka untuk
penduduk sekitarnya telah menjadi lautan api.
Kim Popo telah meninggalkan tempat itu dengan
ketawa terkekeh kekeh...
Lembah Tong-Hong-Gay...
Ang Hoa Lobo masih belum keluar dari lembah Teng-
hong gay. Dalam keadaan tidak berpakaian ia lari terbirit-
birit dibuntuti oleh The Sam. Setelah merasa sudah aman
Ang Hoa Lobo hentikan larinya dan duduk mengasoh
dibawahnya sebuah pohon.
The Sam duduk disebelahnya. "Adik Goat,
kelihatannya kau lucu tanpa rambut..." menggoda The
Sam. Ia kira Ang Hoa Lobo bakal ketawa dengan digodai
demikian, tidak tahunya si Nenek Kembang Merah sangat
gusar kepada partnernya itu.
Plak! Plok! Pipinya The Sam kena ditampar Ang Hoa
Lobo. "Kau berani menghina aku? Kurang ajar kau
sembarangan berkata!" semprot Ang Hoa Lobo dalam
gusarnya.
Sambil meringis-ringis kesakitan, The Sam menyahut:
"Adik Goat, aku toh hanya omong main-main kenapa kau
menampar pipiku begitu keras?"
Ang Hoa Lobo tidak menyahut. ia kelihatan menyesal
menuruti napsu hatinya, terdengar ia menghela napas.
"The Sam, bukan maksudku menyakitimu, barusan hanya
menuruti hatiku yang sedang gusar, sehingga telah
menamparmu. Harap kau tidak jadi marah..."
The Sam ketawa nyengir melihat 'pacarnya' menyesal.
Melihat Ang Hoa Lobo dalam keadaan yang tidak
genah dilihat untuk orang sopan, maka The Sam telah
menawarkan jubahnya untuk dipakai menutupi
badaanya.
Ang Hoa Cobo menyambuti dan mengucapkan terima
kasih.
"The Sam, tidak jauh dari sini aku lihat ada orang-
orang tani tinggal, coba kau pergi kesana minta baju
tukaran untukku, kau bayar berapa saja mereka minta.
Sekalian kau beli makanan untuk kita makan," berkata
Ang Hoa Lobo kepada kawannya.
"Baiklah," menyahut The Sam. "Kau tunggu disini,
jangan kemana mana!"
"Kemana mana, kemana memangnya, apa aku leluasa
berjalan dalam keadaan begini?" kata Ang Hoa Lobo
tersenyum genit.
The Sam ketawa. Ia pun lantas meninggalkan si Nenek
Kembang Merah.
Setelah The Sam berlalu, Ang Hoa Lobo duduk
termanggu-manggu memikirkan nasibnya. Ia tidak
mengira bahwa ia dibikin malu dilembah Tong hong-gay
oleh si bocah yang dulu ia permainkan wajahnya dipoles
hitam legam.
"Bocah itu sangat sakti kepandaiannya, mana aku ada
harapan untuk membalas sakit hatiku...?" ia berkata-kata
sendirian, wajahnya jadi sangat lesu.
Seketika terbayang wajahnya Kwee Cu Gie yang
cakap. Ia menghela napas. Pikirnya; "bocah itu sangat
cakap seperti ayahnya, namun kepandaiannya jauh iebih
atas dari Kwee Cu Gie, Untung ia tidak membalas
dendam untuk satu gebukan tempo hari, Kalau tidak,
wah celakalah aku! Bagaimana juga si bocah ternyata
lebih luhur pribadinya dibandingkan dengan ayahnya
yang sangat kasar menampar pipiku, hingga beberapa
gigiku menjadi ompong.."
Kapan ia mengingat pada saat ia ditampar Kwee Cu
Gie. hatinya mengerodok panas bukan main dan ingin
membalas menampar orang she Kwee itu. sebalik ia,
manakala ia ingat wajahnya Kwee Cu Gie yang cakap
hatinya menjadi lemas lagi.
Kita tinggalkan Ang Hoa Lobo sebentar dan mari kita
lihat The Sam yang hendak membeli pakaian. ia masuk
ke perkampungan petani dan menanyakan kalau-kalau
diantara mereka ada yang hendak menjual pakaiannya.
akan tetapi tidak satupun yang mau melepaskan
pakaiannya di jual.
The Sam jadi sangat mendongkol. Menuruti hatinya, ia
mau bikin onar dan merampas terang-terangan, namun
ia pikir perbuatan itu sangat gegabah. Kalau sampai
ketahuan Kwee In ia bisa dapat susah oleh perbuatannya
yang tidak benar.
Pikir punya pikir, akhirnya ia mengambil putusan untuk
mencuri saja. Kebetulan ada pakaian perempuan yang
sedang dijemur, ia sudah sikat diluar tahunya yang
punya. Ia kira perbuatannya itu tidak ada yang lihat, ia
lantas lari pulang untuk menemui Ang Hoa Lobo.
Dugaannya tidak ada yang melihat perbuatannya
ternyata tidak benar, sebab ia lari kelihatan dikuntit oleh
sesosok tubuh yang gesit sekali. Dari sedikit agak jauh
orang itu menyaksikan The Sam menyerahkan pakaian
curiannya kepada Ang Hoa Lobo.
"Kiranya untuk ia yang telanjang.." menggugam orang
itu, ketika melihat Ang Hoa Lobo membuka jubah The
Sam dan tubuhnya yang telanjang dilihat tegas olehnya.
Dengan menggunakan kesempatan Ang Hoa Lobo
perhatiannya ditumplek mengenakan pakaiannya, orang
itu gunakan ginkangnya datang mendekati dan sembunyi
dibalik pohon.
"Aha, pas juga pakaian ini. coba kau lihat!" berkata
Ang Hoa Lobo, seraya berpose didepannya The Sam,
yang ketawa gelak-gelak melihat barang rampasannya
pas benar dipakai oleh Ang Hoa Lobo.
"Pakaian sudah dapat," kata The Sam. "Sekarang
tinggal kita cari ikat kepala, untuk menutupi kepalamu
yang gundul, adik Goat!"
Orang yang sembunyi dibalik pchon, terkejut
mendengar suara The Sam dan disebutnya 'adik Goat'
lebihan pula bikin wajahnya pucat.
Orang itu bukan lain adalah Kim Popo, yang sudah
datang kelembah Tong hong-gay.
Ia kenali suara The Sam, bekas pacarnya, dan Ang
Hoa Lobo yang dulunya bernama Teng Goat Go. Ia heran
mereka bisa berkumpul bersama sama. Apa mereka
sudah jadi laki bini seperti Siauw Cu Leng tempo hari?
Tanya Kim Popo dalam hati kecilnya.
Ia tidak lantas unjukkan diri, ia mau tahu apa mereka
akan berbuat lebih jauh.
Tampak dua orang itu duduk berdekatan. "The Sam,
apa kau bawa juga makanan untukku?" terdengar Ang
Hoa Lobo berkata pada kawannya.
"Ada, ada, ini kau boleh makan..," sahut The Sam
seraya keluarkan makanan kering dari sakunya
diserahkan kepada Ang Hoa Lobo.
Si Nenek Kembang Merah bersenyum genit pada The
Sam. "Kau memang ada sangat perhatikan diriku, lebih
baik dari Siauw Cu Leng tempo hari..."
Ang Hoa Lobo berkata sambil makan kuwe kering-
Tergetar hatinya Kim Popo. Sekarang ia dapat
kepastian The Sam benar telah menjadi kawan akrabnya
si Nenek Kembang Merah. Kemana Siauw Cu Leng
perginjya? Ia menanya pada dirinya sendiri. Ia heran,
kenapa kepalanya Ang Hoa Lobo gundul kelimis, seperti
seorang nikouw? Ia masih mau dengar lebih jauh apa
yang dibicarakan oleh mereka, maka Kim Popo masih
belum mau munculkan diri.
"The Sam, sakit hati ini rasanya sukar dibalas. bocah
itu sangat hebat kepandaiannya, sampai kepalaku ia
bikin licin kelimis tanpa disadari olehku..." terdengar Ang
Hoa Lobo menyatakan pikirnya-
"Memang, aku pikir juga demikian, adik Goat. cuma
saja ia tidak mau berlaku kejam kepadaku, ia hanya
menyontek tali celanaku hingga kedodoran, kalau mau, ia
sudah siang siang mengirim jiwaku ke lain dunia..."
Kim Popo dengar The Sam menjawab.
"bocah? Siapa bocah yang dimaksudkan oleh mereka
yang kepandaiannya sangat hebat?" Kim Popo bertanya
tanya dalam hati kecilnya.
Kim Popo tidak sempat memikirnya, karena ia sudah
dengar pula Ang Hoa Lobo berkata: "Sebenaruja aku tak
usah merasa penasaran dan sakit hati kepadanya, ia
sudah membikin aku malu, karena aku masih hutang
satu gebukan padanya dan tempo dulu aku sudah poles
mukanya menjadi hitam legam. Ia bermurah hati, tidak
sampai membunuh aku ..."
"Dipoles hitam legam?" memotong The Sam. "Adik
Goat, apa ia bukannya Hek bin Sin-tong yang namanya
termasyhur dikalangan Kang ouw?"
"Mungkin dianya, The Sam! Memangnya kenapa?"
tanya Ang Hoa Lobo.
Ang Hoa Lobo hanya menyekap diri saja di Coa-kok,
nama Hek-bin Sin-tong ia hanya samar-samar saja
mendengarnya, tidak demikian dengan The Sam yang
berkecimpung dalam rimba persilatan, banyak dengar
cerita orang. Hek-bin Sin-tong namanya mumbul ketika
mengalahkan Su-coan Sam sat, lebih berkumandang lagi
dan menjadi bnuah bibir dalam rimba persilatan, si bocah
telah berhasil memasuki goa ular dan meyakinkan Kitab
Mukjijad (It sin-keng), malah kata orang, It-sin-keng ada
sama si bocah. Hek-bin Sin-tong pada waktu itu menjadi
incaran dari orang-orang Kang-ouw kenamaan untuk
merampas Kitab Mujijadnya.
Maka ketika mendengar jawaban Ang Hoa Lobo,
mendadak saja The Sam menggigil tubuhnya, hingga si
Nenek Kembang Merah menjadi heran dan menanya.
"The Sam, kau kenapa seperti yang sakit panas dingin?"
"Adik Goat, kau jangan berurusan dengan bocah sakti
itu," sahut The Sam ketakutan. "jangankan kita berdua
yang kepandaiannya terbatas, taruh kata ia menghadapi
seratus orang kuat dari berbagai partai, belum tentu
dapat menyentuh ujung bajunya saja. Hek-bin Sin-tong
sangat tersohor namanya dalam kalangan Kang-ouw!"
"The Sam, apa kau bicara betul ?" tanya Ang Hoa
Lobo, ikut-ikutan ketakutan,
"Untuk apa aku manakut-nakuti adik Goat," sahut The
Sam.
Lalu The Sam menceritakan apa yang dapat ia dengar,
bagaimana Hek bin Sin-tong dikepung oleh banyak orang
kuat dari Rimba Persilatan ketika ia barusan saja kelnar
dari goa ular. Semua telah menjadi pecundangnya,
jangan pula dapat menangkap Hek-bin Sin tong, sedang
ujung bajunya orang tak bisa menyentuhnya.
"Sungguh hebat bocah itu...." memuji Ang Hoa Lobo.
"Dari itu, adik Goat, mari kita cari tempat lain saja,"
sahut The Sam.
Ang Hoa Lobo anggukkan kepala. Ia setuju dengan
pikiran The Sam, ia berkata: "Baiklah, kalau kita sudah
mendapat tempat yang baik, tidak jahatnya kalau kita
meyakinkan kepandaian lebih dalam, meskipun itu tidak
ditujukan untuk melayani Hek bin Sin-tong, bukan? The
Sam, kau sungguh membikin hatiku selalu senang..."
Ang Hoa Lobo berkata, seraya ulur tangannya menarik
The Sam datang lebih dekat. Kemudian ia merangkul dan
menciumi pacarnya.
"Manusia manusia hina, tengah hari bolong main cinta,
sungguh membikin orang sopan sangat muak
melihatnya!" tiba-iiba terdengar orang berkata, hingga
Ang Hoa Lobo dan The Sam yang sedang berpelukan
menjadi lompat berpisahan.
Ang Hoa Lobo mengira tadi Eng Lian, atau Bwee Hiang
yang menegur, hatinya berdebar-debar takut, tapi ketika
ia awasi orang yang menegur wajahnya buruk, lantas
saja ia tertawa terkekeh-kekeh. "Aku kira siapa, tidak
tahunya yang datang adik Kim-nya si orang she The?"
Ang Hoa Lobo menyindir.
The Sun sementara itu menjadi tertegun. mengawasi
kepada orang yang muncul tiba tiba itu, yang ia kenali
adalah bekas pacarnya dulu, iatah Kong Kim Nio alias
Kim Popo. Ia tidak menduga disitu bakal ketemu Kim
Popo, yang lama ia cari-cari tidak ketemu,
"Adik Kim, kau dari mana?" The Sam menanya mesra,
Pikirnya ia hendak membikin reda amarahnya Kim Popo
yang tampak beringas menakuti.
"Untuk apa tanya, ia tentu sedang mencari kau si
orang she The!" menyindir Ang Hoa Lobo lagi. "Lekas
kau peluk adik Kim-mu yang manis itu'"
"Tutup bacotmu perempuan hina!" bentak Kim Popo
yang kewalahan menahan sabarnya, hingga gemetaran
badannya.
"Kau berani menyebut aku perempunn hina?
Memangnya kau perempuan terhormat? Hm! Kalau
perempuan terhormat juga tidak nanti menguber-uber
lelaki'"
"Kau yang menguber-uber lelaki," bantah Kim Popo
sengit. "Sudah Siauw Cu Leng kau rebut dari tanganku,
sekarang The Sam kau jadikan gendakmu. Hm! Dasar
perempuan tidak tahu malu"
Dua musuh itu lama tidak ketemu. sekarang mereka
berjumpa dilembah Tong hong-gay, sungguh kebetulan
sekali.
Tadinya Kim Popo tidak kenali The Sam yang berubah
buruk rupanya. setelah mengetahui ia galang-gulung
dengan Ang Hoa Lobo ia lantas tahu bahwa buruknya
wajah The Sam itu karena dirusak oleh si Nenek
Kembang Merah seperti ia telah berbuat dulu terhadap
Siauw Cu Leng.
"Kau yang tidak tahu malu mencuber-uber The Sam!"
menyindir Ang hoa Lobo. "Dari dulu memang kau tidak
tahu malu. Siauw Cu Leng sudah tidak mau padamu,
masih kau ngotot untuk mempertahankan orang yang
sudah bosan. Sungguh tidak tahu malu!"
Dari dulu, memang Kim Popo kalah kalau adu mulut,
maka sekarang juga Kim Popo harus akui keunggulan
lawan, yang membuat hatinya panas seperti dibakar.
Ia tadinya mau memaki pula lebih banyak, tapi
pikirnya lagi, ia adu mulut juga tak ada gunanya, maka
sebagai gantinya tongkatnya dikasi bekerja menyerang
Ang Hoa Lobo, yang tatkala itu memang siap dengan
tongkatnya juga.
Kedua musuh berat itu lantas saja bertempur seru.
"Kau mau melawanku? Hm! Kim Nio, jangan mimpi
kau bakal manang!" jengek Ang Hoa Lobo.
"Kau kira kepandaianmu dapat mengalahkan aku? Kau
jangan mimpi!"
"Hehe. mari kita berhantam sampai seribu jurus!"
"Asal kau dapat bertahan dari tongkatku.""
Ang Hoa Lobo memandang enteng pada Kim Popo. Ia
pikir Kim Popo kepandaiannya tak seberapa, masa dapat
menang padanya?"
Namun, ketika melihat makin lama Kim Popo
memainkan ilmu tongkatnya sangat hebat, Ang Hoa Lobo
jadi keder juga. Ia terus berikan perlawanan seru, ia
gunakan tongkatnya mengarah bagian-bagian yang
mematikan. Sayang, semua itu dapat ditangkis oleh Kim
Popo yang lincah sekali gerakannya.
"Hei, kepandaian kau tambah juga?" tiba-tiba Ang Hoa
Lobo berkata.
"Memangnya hanya kau saja yang tambah
kepandaian?" jengek Kim Popo.
Dua macan betina itu bertarung sangat hebat! Suara
wat wut wat wut dari bekerjanya tongkat berulang kali
terdengar. Tongkat kedua pihak perdengarkan suara
menderu deru saking hebatnya mereka main-kan. Mula-
mula The Sam masih dapat bedakan yang mana Kim
Popo dan yang mana Ang Hoa Lobo, tapi makin lama
mereka bertarung makin cepat, hingga tampak dua
bayangan saja yang berkelebatan.
-ooOdwOoo-


BAB-15
ANGIN pukulan tongkat mencapai jarak dua tombak,
hingga The Sam tidak berani datang dekat dekat.
Hatinya saja yang merasa sangat cemas, ia tidak berdaya
untuk melerai dua jago betina itu.
Kepandaiannya dibawah dari mereka, cara bagaimana
ia dapat melerainya?
The Sam berdiri bengong terlongong-longong
menyaksikan dua betina itu bertempur mati-matian. The
Sam mengira mereka bertarung karena gara gara dirinya
(The Sam), ia tak tahu mereka bertempur karena
dendaman lama. Mereka telah keluarkan jurus simpanan
yang hebat, namun keduanya sama tandingan, belum
kelihatan ada yang keteter.
Masing-masing mengagumi kepandaian lawan, namun
making masing tidak mau mengalah, mereka sudah
berkeputusan nekad, bahwa kematian saja yang
menentukan nasib mereka.
Pada saat itulah, tiba-tiba....
Dari kejauhan tampak setitik hitam itu membesar,
itulah si burung raksasa yang terbang mendatangi. Si
Rajawali emas dengan garangnya terbang kearah tempat
pertarungan. The Sam ketakutan setengah mati dan lari
mengumpat mendekati pohon. Ketika sudah datang
dekat, si burung raksasa mengebut dengan sayapnya
yang luar biasa kearah Kim Popo dan Ang Hoa Lobo yang
sedang ngotot bertempur. Kebasan sayap si Rajawali
Emas akibatnya hebat, karena kedua jago betina itu
dapat dipisahkan dan terlempar beberapa meter jauhnya.
Keduanya masih penasaran dan hendak bertempur
pula, tapi kembali si burung raksasa mengebaskan
sayapnya dan dua jago betina itu terlempar jauh sekali.
Keduanya bergulingan untuk beberapa lamanya.
Mereka dengan gesit sudah melejit berdiri pula. Kali ini
mereka tidak bertempur, hanya mendongak mengawasi
si burung Rajawali yang melayang-layang diatasnya
dengan sangat gnsar, Keduanya pada mengacung
acungkan tongkatnya, seakan-akan menentang kepada si
Rajawali, mulutnya mencaci maki dengan penuh
penasaran.
"Burung sinting, kau kemari kalau berani." tantang
Kim popo.
"Memang itu burung celaka, mari kau datang dekat,
akan kukempalng pecah kepalamu!" teriak Ang Hoa Lobo
yang tak kurang gusarnya.
Sayup-sayup terdengar orang cekikikan ketawa. Kapan
dua jago betina itu mengawasi lebih tegas, ternyata
dipunggung si burung raksasa ada dua gadis jelita yang
sedang duduk dengan ketawa cekikikan.
Dua nenek itu makin marah. Sekarang marahnya
ditumplek pada Bwee Hiang dan Eng Lian. mereka
mencaci maki habis-habisan. Rupanya suara mereka
kedengaran oleh dua jelita itu. SEbab kedengaran Eng
Lian balas memaki2: "Hei nenek-nenek sedeng(sinting)!
Kalian bukan mengucap terima kasih kami pisahkan
kalian berkelahi. ini malah memaki orang, apa macam
jadi orang tua bertempur begitu.hiihihi...!"
"Budak hina!" teriak Kim popo gemas "Kau datang
kemari, rasakan tongkat nenekmu!"
Ang Ho. Lobo juga tak mau ketinggalan unjuk
kegalakannya. ia acungkan tongkatnya dan menantang
kedua jelita kita untuk bertarung
Tiba-tibaa terdengar si burung Raksasa perdengarkan
suaranya yang meringkik menakutkan, hingga kedua
nenek itu menjadi terkejut dan keder juga.
Tiba-tiba burung itu menukik tajam, Kim Popo dan
Ang Hoa Lobo memejamkan matanya terima binasa.
sebab untuk lari sudah tidak keburu. Untuk kekagetannya
tangannya dirasakan enteng. Kiranya tongkat Kim Popo
dan Ang Hoa Lobo dalam cengkeramannya si burung
Rajawali dan sedang dibawa terbang naik keangkasa.
Hati kedua nenek itu lega, hanya tongkatnya yang
hilang, bukannya jiwanya.
Mereka jadi saling pandang dengan hidung
mendengus.
"Dasar kau perempuan sialan tongkatku jadi dibawa si
burung bangsat!" Kim Popo menyalahkan Ang Hoa Lobo.
Tentu saja si Nenek Kembang Merah tidak mengerti
dirinya dikatakan sialan. Ia menyahut: "Kau yang sialan.
makanya tongkatku di sambar burung sinting itu!."
"Kau memang perempuan jalang. makanya juga
burung membenci padamu"
"Kuu perempuan jalang! kalau tidak menguber-uber
lelaki"
Rupanya dendaman lama tidak mudah dilenyapkan,
maka kedua musuh itu sudah bertengkar lagi. The Sam
menjadi cemas. ia berkata: "Adik Kim dan Goat, aku
mohon kalian jangan bertengkar lagi. Mari kita lekas
pergi dari sini, kuatir nanti Hek bin Sin-tong datang.
Kalian lihat, Rajawalinya sudah datang, pasti Hek-bin Sin-
tong sudah tidak jauh lagi dari sini. Mari kita pergi"
mengajak The Sam!
"Perduli apa dengan hek, pek atau Cek bin Sin-tong,
aku tidak takut!" kata Kim Popo dengan suara tenang. Ia
mau pertunjukkan kepada Ang Hoa Lobo dan The Sam
bahwa ia tidak takuti siapa juga.
Sebaliknya dengan si Nenek Kembang Merah,
mendengar The Sam menyebutkan namanya Hek-bin
Sin-tong hatinya sudah keder dan ingin berlalu dari situ,
cuma saja si musuh terus mengejeknya, hingga ia jadi
panas dan hampiri Kim Popo.
"Memangnya kau mau jadi jagoan? Kau kira aku
takut? Mari, mari kita bergebrak lagi!" tantang Ang Hoa
Lobo yang jadi gemas dengan mulutnya Kim Popo yang
terus-terusan menyindiri dirinya.
"Siapa yang takuti kau, perempuan liar! Mari sini, aku
akan bikin mukamu babak belur!" Kim Popo balas
menantang, seraya gulung lengan bajunya.
Ang Hoa Lobo di lain pihak juga sudah menggulung
lengan bajunya.
The Sam menjerit-jerit melerai, akan tetapi kedua
musuh buyutan itu tidak mau mengerti dan mereka
kembali bertempur seru. Keduanya masih penasaran,
mereka tidak ingat kepada burung raksasa tadi yang
memisahkan mereka, tanpa turun tangannya si burung
Rajawali yang melerai, rasanya diantara dua jago betina
itu sudah ada salah satu yang menggeletak mati.
Sedang sengitnya mereka bertarung, tiba-tiba
terdengar suara ketawa melengking tajam.
Itulah ketawa dari seseorang yang lwekangnya susah
diukur tingginya, sebab meskipun Kim Popo dan Ang Hoa
Lobo yang mempunyai lwekang tinggi, tidak urung
hatinya tergetar dan suara ketawa itu menusuk tajam
kedalam telinga.
Mereka hentikan bertempurnya dan masing-masing
celingukan mencari dari mana datangnya suara ketawa
tadi. Kapan mereka mendongak dan mengawasi keatas
pohon, disana ada orang muda berwajah cakap tengah
uncang uncang kaki ketawa nyengir kearahnya.
Mereka lantas saja meuduga bahwa suara ketawa tadi
adalah keluar dari mulutnya anak muda diatas pohon itu.
The Sam tampak menggigil badannya, sedang Ang
Hoa Lobo yang kenali siapa pemuda itu diam diam sudah
menarik The Sam untuk angkat kaki. Mereka sudah tobat
untuk berhadapan dengan si bocah Sakti.
Sebaliknya dengan Kim Popo. Ia biarkan Ang Hoa
Lobo dan The Sam berlalu, tapi ia menggapai pada si
anak muda dan berkata: "Mari sini, kau belum kenal
dengan kepalan nenekmu, makanya kau usilan! Lekas
turun!"
"Aku sudah turun, kau mau apa nenek tua?" Kwee In
tiba-tiba saja sudah berada didepan Kim Popo yang
barusan menantangnya hingga si nenek menjadi terkejut
akan kecepatannya orang bergerak menggunakan
ginkang.
Kim Popo terkejut kapan nampak wajahnya Kwee In
yang sangat cakap.
"Kau..." katanya dengan suara tertahan.
"Ya, aku anaknya Liok Sinshe!" sahut Kwee In ketawa.
Kim Popo berdebaran hatinya. Ia lihat parasnya Kwee
In memang sama dengan Liok Sinshe, makanya juga ia
kata dengan ragu-ragu tadi.
Biasanya, kalau mendengar disebut namanya Liok
Sinshe Kim Popo lari terbirit-birit. Tapi sekarang ia
ketawa nyengir, ia tidak takut, karena ia sudah
bertambah kepandaiannya, tidak takut ia menghadapi
Liok Sinshe yang dulu sebagai momok untuknya.
"Aha," kata si nenek. "Tempo hart kau ketemu aku
mukamu hitam macam pantat kuali, sekarang berubah
cakap seperti bapaknya, kau toh Hek-bin Sin tong,
bukan?"
"Aku bukan Hek-bin Sin-tong lagi, sudah berubah
menjadi Giok bin Long-kun!" menggoda Kwee In jenaka.
"Hehe, memang pantas kau pakai nama baru itu," Kim
Popo tertawa. "Aku tak perduli kau Hek-bin Sin-tong atau
Giok bin Long-kun, yang penting kau harus tahu
dataiignya aku kemari dengan mempunyai maksud
tertentu."
"Kau bermaksud apa datang kemari?" tanya Kwee In
heran.
"Kau jangan berlagak pilon," kata Kim Popo. "Tempo
hari kau sudah rampas pulang Tiam-hiat Pit-koat, aku tak
akan tarik panjang, asal kau sekarang suka menyerahkan
It-sin-keng kepadaku."
"Oo, jadi Popo datang jauh-jauh untuk It-sin keng?"
menyindir Kwee In.
"Ya, lekas kau keluarkan dan serahkan pada
nenekmu," kata Kim Popo seenaknya saja.
"Kalau Popo punya kepandaian, boleh masuk dalam
goa ular, sebab It-sin-keng ada disana, mengapa kau
minta padaku?"
"Kau mau membohongi Popo-mu?" Aku tahu It-sin-
keng sudah ditanganmu, makanya juga aku datang
kemari. Lekas, jangan main-main, aku tak ada tempo!"
Kwee In ketawa gelak-gelak mendengar Kim Popo
nyerocos seenaknya saja.
"Apa yang kau ketawakan anak kecil?" bentak Kim
Popo
"Aku ketawakan lagakmu. Popo. Kau datang buat
minta It-sin-keng, sedang aku tidak punya kitab mujijad
itu, cara bagaimana aku dapat kasikan kepadamu?"
"Kau jangan bikin Popomu marah. Lekas kasi kitab itu
padaku, urusan selesai sampai disini sudah. Popo tidak
ada tempo lama-lama bicara dengan kau!"
"Itu nenek telah gila, untuk apa adik In layani?" tiba-
tiba Eng Lian nyeletuk.
Kiranya dengan diam-diam Eng Lian dan Bwee Hiang
sudah datang kesitu, untuk melihat keramaian Kim Popo
akan dikocok oleh adik In-nya.
"Anak kecil, kau jangan campur urusan orang tua!"
bentak Kim Popo nyaring,
"Orang tua justeru jangan campur urusan anak kecil,
lekas kau enyah cari sini!" Eng Lian mengusir.
"Kau berani usir aku?" bentak Kim Popo marah.
"Kenapa tidak berani? Awas asal kau omong tentang
It-sin-keng lagi, nonamu tidak segan-segan akan
mengunci mulutmu!" Eng Lian jawab dengan berani.
Kim Popo marah "Kau anak kecil berani amat?"
bentaknya.
"Kau orang tua berani amat?" Bwee Hiang menyelak,
sebelum Eng Lian menyahut
"Hehe!" Kim Popo tertawa. "Mari, dua-duanya maju,
Popo nanti kasi les bagaimana rasanya kalau pantatmu
dihajar"
Bwee Hiang dan Eng Lian ketawa cekikikan
mendengar perkataan Kim Popo. Mereka anggap si
nenek amat lucu.
"Hei, kau bcrurusan sama itu anak-anak kecil, atau
sama aku si orang tua?" menggoda Kwee In seraya
mengawasi wajahnya si nenek.
Kim Popo deliki matanya! "Kalian mau permainkan
Popomu?" bentaknya.
"Siapa sudi punya Popo setengah sinting!" berkata Eng
Lian.
"Kurang-ajar!" bentaknya. "jangan berdua, hayo kalian
bertiga maju semua, Popomu tidak tinggal lari!"
"Betul?" menegasi Bwee Hiang ketawa.
"Kenapa tidak betul?" Kim Popo panas hatinya.
jagoan benar Kim Popo itu, berani menantang Kwee In
bertiga maju sekaligus.
Kim Popo hanya mengukur kepandaiannya sangat
tinggi, tidak mengukur berapa kepandaiannya tiga bocah
itu yang menggodai kepadanya.
It-sin-keng untuk sementara terlupakan oleh Kim Popo
saking panas hatinya.
"Hayo, mari kita kerubuti nenek jagoan ini!" mengajak
Bwee Hiang pada Kwee In dan Eng Lian. Mereka
memang sudah sepakat akan mempermainkan Kim Popo.
"Maju, majulah, jangan takut Popo tak akan
menurunkan tangan jahat!" kata Kim Popa seraya
tertawa terkekeh kekeh.
Belum habis ketawanya, ia rasakan kupingnya ada
yagg jewer. Itulah Eng Lian yang menyerang dengan
tiba-tiba. hingga si nenek kaget kupingnya kena dijiwir
anak kecil,
Ia memburu pada Eng Lian dan mengirim serangan
dengan tangan terbuka, namun sebelum ia mengerahkan
lwekangnya, Bwee Hiang menyambar dan menjiwir
kuping yang satunya lagi, hingga si nenek berkaok-kaok
marah.
Belum ia menutup rapat mulutnya, tiba-tiba selembar
daun kecil masuk kemulutnya dan nyelip
ditenggorokkannya, hingga ia kuwak-kuwek untuk
mengeluarkannya. Itulah Kwee In yang meniup daun dari
telapakan tangannya dan masuk persis dalam mulutnya
Kim Popo.
Sedang batuk batuk dan kuwak-kuwek mengeluarkan
daun yang nyelip ditenggorokannya, tiba-tiba kakinya
yang kiri ditarik Eng Lian, kemudian yang kanan oleh
Bwee Hiang. hingga ia sangat marah. Ia gunakan 'Tjian
kin-tui', membikin berat-badannya ribuan kati, supaya
jangan terangkat oleh dua dara jelita itu. Ia sebenarnya
berhasil menggunakan ilmunya itu kalau saja Kwee In
tidak jail campur tangan. Si bocah nakal dekati si nenek
dan menepuk kibulnya, hingga tenaga yang telah
terpusatkan tadi menjadi buyar dan dengan entengnya
Bwee Hiang dan Eng lian menggusur si nenek beberapa
meter jauhnya, kemudian dilemparkan setelah diayun
ambingkan dulu.
Bluk! terdengar suara tubuh terbanting. Itulah Kim
Popo yang jadi sangat penasaran dipermainkan oleh tiga
anak kecil.
"Bagus...bagus. kalian menghina satu nenek. Kalian
mengeroyok, keroyoklah dan mampusi sekali, nenekmu
tidak takut!" berkata Kim Popo ketika melihat ia sedang
ditertawakan oleh Kwee In dan dua gadisnya.
"Kapan tadi minta di keroyok?" tanya Bwee Hiang
keheranan mendengar perkataan si nenek yang dibalik-
balik.
"Makanya, aku sudah bilang ia nenek sinting!
Seenaknya saja menjilat kata-katanya" menyelak Eng
Lian sebelumnya Kwee In.
"J adi bagaimana kemauanmu?" tanya Kwee In.
"Kau jangan ikut-ikutan... biar kedua anak kecil ini
mengeroyok aku!" sahut Kim Popo.
KWee In ketawa geli sambil mengedipi dua gadisnya.
"J adi kami berdua yang melawan nenek?" kata Eng
Lian jenak.
Kim popo tersenyum, pikirnya :"Nah, kena juga aku
tipu, kau berdua bisa apa tanpa bantuan bocah?"
Hatinya kegirangan ia bakal permainkan Bwee Hiang
dan Eng Lian.
"Mari, mari maju!" tangannya sambil pasang kuda-
kuda.
"Enci Hiang, kau dari belakang, aku dari depan, bisa
apa sih nenek tua itu terhadap kita?" kata Eng Lian
seraya ketawa cekikikan.
Bwee Hiang yang juga ketawa-ketawa telah
mengiakan.
Diserang dari belakang dan depan si nenek pasang
mata benar-benar.
"Awas! Serangan datang!" teriak Eng Lian, menyusul
tangannya bergerak dan kepalanya menjotos kearah
dada si nenek.
cepat serangan itu, diluar dugaan Kim Popo, maka
dengan gunakan gerakan 'Ular kaget lompat setindak
kebelakang baru ia dapat menghindarkan serangan si
dara nakal. Apa mau dari belakang sudah ada Bwee
Hiang yang menyambut dengan serangan kearah
punggung. Si nenek kaget mengetahui datangnya
serangan dari belakang, buru-buru ia buang dirinya
kesamping. Ia cepat melejit bangun lagi, sial, Eng Lian
sudah siap dengan pukulan menyilang, hingga Kim Popo
terjepit dari depan belakang.
Namun dua gadis kita hanya main-main saja, mereka
tidak teruskan pukulannya, hingga si nenek bernapas
lagi. Sebenarnya ia harus tahu bahwa itu hanya
kemurahan hati dari kedua jelita itu, tapi si nenek
memang bandel belum kapok kalau belum dikasi rasa,
maka ia sudah menyerang pada Eng Lian yang sedang
cekikikan ketawa. Ini boleh dikatakan serangan
membokong. Namun Eng Lian tidak gugup, ia buang
dirinya kesamping, berbareng kakinya menggaet,
sehingga si nenek jatuh terpelanting. Gesit gerakannya
Kim Popo, begitu jatuh ia melejit bangun lagi. cuma
sayang didului oleh Bwee Hiang, sebelum ia tahu apa-
apa ia rasakan pipinya ditampar dua kali, hingga mau
semaput rasanya. Ia balas dengan pukulan maut, tapi
Bwee Hiang sudah tidak ada didekatnya. Mulutnya sudah
dibuka hendak memaki, tahu-tahu diremas oleh Eng Lian
hingga si nenek berkaok-kaok kesakitan dan hampir
mewek digocek oleh dua jelita kita.
Kwee In yang menyaksikan itu seraua telah tertawa
gelak gelak.
Kim Popo berdiri dengan muka bengis penuh
penasaran.
"bocah, kau tertawakan apa?" bentaknya kemudian.
"Bagaimana, apa kau menyerah?" Kwee In balik
menanya.
Dasar nenek bandel, ia belum menyerah rupanya. Ia
berkata: "Aku kalah karena dikeroyok dua orang,
sekarang kau boleh maju satu demi satu, nenekmu
belum tentu kalah. cobalah, nanti baru ketahuan
kelihayan nenekmu!"
lucu sebenarnya segala omongan Kim Popo, tadi ia
minta dikeroyok dua, lantas menantang satu sama satu,
ia tidak rela dikalahkan oleh dua orang.
Bwee Hiang dan Eng Lian ketawa ngikik. Mereka tahu
memang Kim Popo orangnya bandel, omongannya suka
diputar balik, ini mereka dengar dari Kwee In yang telah
memberitahukan dua gadisnya sebelum mempermainkan
si nenek.
Kwee In dan dua gadisnya sudah berkumpul pula.
"Untuk bikin kau merasa puas, maka kau boleh pilih
diantara kami siapa yang kau ingin ajak berkelahi dulu,"
berkata Kwee In kepada Kim Popo.
Si nenek membuka lebar matanya.
Ia tahu Kwee In tentu paling kuat, dengan
menundukkan si bocah rasanya tidak sukar untuk ia
dapatkan It-sin-keng. Maka ia lain berkata: "bocah, aku
mau bertempur dengan kau. Tapi dengan syarat, kalau
kau kalah dua budak itu jangan penasaran dan nanti
mengeroyok pula aku. Ini aku tidak mau. Dan lagi..."
"Dan lagi, apa?" tanya Kwee In kepingin tahu.
"Dan lagi, kalau syarat yang aku katakan tadi
terpenuhi, kau harus menyerahkan padaku It-sin-keng!"
jawab Kim Popo sambil ketawa.
"It sin keng..." mengagumam Kwee In.
"Untuk memenuhi syaratmu tanpa It-sin-keng
mungkin aku bisa luluskan, kalau Kitab Mujijad itu
dibawa-bawa aku tidak bisa terima karena kitab itu tidak
ada sama aku."
"Hm!" mendengus Kim Popo. "Kau bukan laki-laki,
tidak berani menerima syaratku!"
"Baik begini saja," kata Kwee In. "Kalau aku kalah
daiam tiga jurns, aku dengan dua Enciku akan tekuk lutut
didepanmu mengaku kalah dan angkat kau sebagai guru
kami, tapi kalau kau yang kalah bagaimana?"
"syarat demikian tidak jelek," sahut Kim Popo
kegirangan. "Kalau aku kalah, aku akan pergi
meninggalkan lembah dan berjanji tidak akan
mengganggu kalian lagi."
"Itu sih keenakan untukmu, nenek tua!" menyelak Eng
Lian.
"Habis, bagaimana mestinya?" tanya Kim Popo, sambil
deliki matanya.
"Asal kau kalah, tak usah kau berlutut, tapi kasikan
tanganmu untuk aku pelintir seperti dulu kau pilintir
tangannya adik In, maukah?"
Kim Popo terkejut Eng Lian mengungkap kejadian
dulu-dulu, terbayang olehnya bagaimana ia pelintir si
bocah hingga berketel-ketel keringatnya mengucur
saking menahan sakit. Ia lakukan itu untuk mendapatkan
kitab ilmu menotok jalan darah dari Kwee In. Mengingat
bagaimana sengsaranya tangan dipelintir demikian, ia
ragu ragu untuk menerima syarat yang diajukan si gadis
nakal.
"Bagaimana, kau bersedia?" desak Eng Lian ketika
melihat si nenek diam saja.
"Mana ia berani, adik Lian. Nenek ita orangnya licik,
mana ia mau terima," kata Bwee Hiang pada Eng Lian.
"Nyalinya kecil, kau lihat saja romannya!"
Kim Popo nasping (panas- kuping) dihina Bwee Hiang.
tanpa menghiraukan akibat2nya pula ia berkata: "BaikIah
aku terima syarat yang dimajukan nona kecil tadi."
"Enci, kau keliru, nyalinya besar bukan?" memnji Eng
Lian segera mengedipi matanya kepada Bwee Hiang.
Kwee In ketawa saja melihat dua gadisnya mengotcok
si nenek.
"Bagaimana caranya sekarang kita bertempur?" tanya
Kim Popo.
"Sukanya. kau boleh pilih sendiri," sahut Kwee In.
Kim Popo tidak mau makan tempo, ia mau dalam
segebrakan saja Kwee In sudah dijatuhkan, maka ia
telah memilih jalan licik. Ia berkata: "Begini saja, kita adu
Iwekang. Kau berdiri dalam jarak tiga langkah, aku
memukulmu. Asal kau tahan pukulanku tidak bergeming,
artinya kau menang. Tak usah kita bicarakan tiga jurus
segala."
"Enak saja kau ngomong," nyeletuk Eng Lian. "Mana
bisa begitu, itu tandanya kau sangat licik nenek tua!
Bagaimana kalau dibalik?"
"Tidak apa, biarkan ia puas!" kata Kwee In.
Kim Popo sebenarnya tidak menjawab perkataan Eng
Lian, sebab memang terang-terangan ia berlaku licik. Ia
merasa syukur Kwee In menyelak dan menerima
usulnya.
"Dasar anak tolol," Ia mengatakan Kwee In dalam
hatinya. "Kau masa tahan pukulan nenekmu yang
digerakkan dengan tenaga penuh? Aii, dasar aku bakal
punya tiga murid, ada ada saja, tawaran yang tidak
lumrah main terima saja..."
Eng Lian tidak kata apa-apa lagi, ketika Kwee In
menyelak. Ia berkata tadi hanya untuk bikin si nenek
kegirangan saja dan bernapsu kumpulkan tenaganya
memukul Kwee In, sebab ia tahu benar Kwee In pasti
bikin si nenek malu.
"Mari kita mulai!" kata Kim Popo.
"Baiklah." sahut Kwee In dan berdiri didepan Kim Popo
dalam jarak setombak.
"Kenapa kau tidak pasang bhesi (kuda-kuda)?" tegur
Kim Popo melihat Kwee In berdiri biasa saja untuk
kasikan dirinya di serang.
"Aku tak biasa pasang bhesi," jawab-nya tenang.
"Hm!" mendengus Kim Popo. Ia merasa dihina si
bocah. Diam-diam ia berkata;
"Lihat aku nanti bikin malu kau, bocah!"
"Siap!" seru Kim Popo nyaring. Ia kumpulkan tenaga
dalamnya, kemudian ia menyerang dengan hebat sekali.
Hebat karena ia menggunakan tenaga maximum untuk
membuat terpental tubuhnya Kwee In.
Angin pukulan yang keras melanda Kwee In, akan
tetapi si bocah tinggal tidak bergeming, malah angin
pukulan itu tertolak balik dan menyambar dirinya Kim
Popo yang sedang ketawa riang. Seketika itu juga tidak
ampun lagi Kim Popo jatuh terpelanting beberapa meter,
kemudian duduk semedhi untuk mengusir rasa sesak
didadanya.
Setelah rasa sesak mulai reda, ia membuka matanya
dan dapatkan dirinya sedang diawasi oleh Kwee In dan
dua gadisnya. Bimbang pikirannya, apakah ia harus
menyerah? Kalau menyerah, bagaimana sakit nanti
tangan dipelintir Eng Lian. Sebaliknya, kalau ia tak
menyerah, apakah ia dapat melarikan diri dari si bocah
dan dua gadisnya yang kelihatan mempunyai ginkang
yang hebat?
Ia mengambil putusan dari pada terhina lebih baik ia
melarikan diri.
Demikian, ketika Kwee In dan dua gadisnya sedang
kasak-kusuk, ia gunakan ketika itu untuk melejit lari.
"Kau mau lari?" terdengar Kwee In membentak.
menyusul terdengar siulan nyaring, tahu-tahu sang
Rajawali sudah melayang-layang diatas kepalanya Kim
Popo. Tampak ia menukik dan melayang rendah, satu
kebasan dari sayapnya cukup membikin Kim Popo
terpelanting bergulingan ditanah.
Kim Popo masih dapat melejit bangun dengan
menggunakan ilmu 'Le-hi-ta-teng' (ikan gabus meletik),
ia coba melarikan diri lagi sambil tidak hentinya mulutnya
memaki-maki si burung raksasa yang membuat ia
sungsang sumbel. Belum berapa jauh lari, kembali ia
dikebut oleh sayapnya si burung raksasa, kembali Kim
Popo bergulingan hingga kondenya (gelung) tak keruan
dan rambutnya beriap-riap seperti orang gila.
Kim Popo kelihatan tidak takut oleh sang Rajawali, ia
tampak berdiri lagi. Sambil tangan kirinya bertolak
pinggang, tangan kanannya dikepalkan dan diacung-
acungkan keatas seperti menantang si burung raksasa
berkelahi. Memang juga ia menantang, sebab terdengar
ia membentak-bentak: "Burung setan, kalau kau berani
turun sini! Akan kumampusi, kau berani main gila dengan
nenekmu! Hayo, mari turun!"
Si Rajawali Emas melayang layang diatasnya seperti
ngeledek si nenek.
Pakaiannya sudah kusut dan robek sana-sini,
rambutnya riap-riapan, benar-benar keadaan Kim Popo
saat itu seperti orang gila. Tengah ia memaki-maki, tiba
tiba si burung raksasa menukik dan menyambar Kim
Popo. Dengan enteng sekali kelihatannya Kim Popo
sudah berada dalam Cengkeraman kakinya yang runcing.
Kim Popo berteriak-teriak ketakutan berontak-berontak
percuma saja ia dibawa melayang-layang diangkasa.
Si burung raksasa rupanya tidak berniat mengganggu
jiwanya si nenek, sebab sebentar lagi ia melayang
rendah dan dalam keadaan setengah pingsan Kim Popo
telah dilemparkan ketanah.
Kim Popo masih ingat dirinya, sebab begitu
menyentuh tanah ia sudah bangun lagi dan lari kearah
yang banyak pepohonan. Pikirnya, dengan dirintangi oleh
banyak pohon-pohon sang Rajawali tidak bisa
mengganggu padanya pula, karena banyak cabang yang
merintangi untuk si burung raksasa terbang. pasti
sayapnya yang besar lsbar itu akan kesangkut oleh
cabang-cabang pohon.
Benar saja Kim-tiauw tidak berani mendekatinya.
Hatinya merasa lega, tapi tetap mulutnya memaki-maki
dan menjual-pahit si burung raksasa lekas mampus.
Baru saja ia merapihkan pakaian dan rambutnya
hendak melangkah pergi, tiba-tiha ia mendengar suara
ber!! ber!! menyeramkam dari balik pohon. Lekas juga
dua orang utan muncul didepannya. Kiranya Toa-hek dan
ji-hek yang muncul, sedang Siauw-hek muncul
belakangan. Badannya Siauw hek lebih besar dari kedua
orang tuanya, menyeramkan sikapnya. Kim Popo
dikurung oleh tiga gorilla bukan main ia ketakutan.
Pikirnya: "Celaka nasibku ini, terlepas dari si bocah
dan dua gadisnya, lantas ketemu si burung sialan,
sekarang jumpa dengan ini tiga orang hutan yang
menakutkan, benar aku menemukan kekalahan total di
lembah Tong hong gay ini..."
Kalau Kim Popo masih punya tongkat ditangan,
mungkin ia dapat memberikan perlawanan, tapi
genggamannya tidak ada, maka meskipun ilmu silatnya
tinggi juga tak dapat ia mengelakkan keroyokan dari tiga
gorilla yang tinggi besar itu.
Ia coba tabahkan hatinya. Pikirnya, dengan
menggunakan ilmu silatnya mungkin ia dapat
merobohkan satu-dua gorilla yang mengepungnya itu.
maka seketika itu ia telah keluarkan kepandaiannya
ketika ia hendak disergap mereka
Untuk kekagetannya, ia dapat kenyataan kawanan
gorilla itu juga mempunyai kepandaian silat, sebab
beberapa serangannya telah dikelit dengan bagus,
Kim Popo menjadi putus asa menghadapi itu.
Dalam lengahnya ia kena dirangkul Siauw-hek dari
belakang. Ia meronta-ronta keras, untuk akhirnya
menjadi lemas. Seram rasanya tangan yang halus kena
dipegang oleh tangan gorilla yang banyak bulunya,
tubuhnya Kim Popo yang masih serba padat seperti
lenyap dalam dekapannya si gorilla perjaka.
lucu si Siauw-hek itu, bukan saja ia mendekap Kim
Popo, ia menciumi leher dan pipinya si nenek, hingga
Kim Popo pucat dan ketakutan. ..Pikirnya: "Habislah
badanku diganyang kawanan gorilla genit! Bagaimana
aku dapat mempertahankan diri, sedang kedua lututku
sudah lemas? Sungguh nasibku sialan, tahu begini aku
tidak berani datang mencari si bocah.....Apa itu It-sin-
keng? Kitab yang hanya membawa celaka.. !"
Sekonyong konyong ia kaget merasakaa kakinya ada
yang angkat, itulah ji-hek yang memegangi kedua
kakinya. Badannya si nenek merosot dan kedua
tangannya di-pegangi Siauw-hek, hingga ia dalam posisi
bergelantungan saat itu.
Kim Popo ketakutan ketika ia diayun ambingkan oleh
dua gorilla itu.
Ia sudah tidak berdaya, matanya dipejamkan
menerima nasib yang akan menimpa padanya. Ia tidak
menanti lama, begitu badannya diayun keras, tiba-
tiba........
pung! saja tubuhnya melambung tinggi dilemparkan
keangkasa oleh dua gorilla tadi.
Terdengar mulutnya ketiga gorilla itu ramai, rupanya
mereka sedang mentertawakan tubuhnya si nenek yang
ngapung dan melambung tinggi.
Dalam keadaan lemas Kim Popo tak dapat
mengeluarkan kepandaiannya untuk menahan jatuh
tubuhnya.
Maka... buk huk buk buk saja terdengar suara keras
barang jatuh dan itulah badannya Kim Popo yang
disambut oleh tanah.
Seketika itu juga si nenek jatuh pingsan dengan badan
dirasakan remuk.
Kasihan juga Kim Popo digojlok habis-habisan,
memang hukuman untuk nenek bandel seperti Kim Popo
mesti begitu, kalau tidak, ia akan tetap bandel dan
kembali nanti bikin kacau dilembah Tong-hong gay.
Sametntara itu Kwee In dan dua gadisnya ketawa
terpingkal-pingkal, sejak Kim Popo dipermainkan oleh si
Rajawali Emas. Kwee In sebenarnya kasihan melihat Kim
Popo dipermainkan kawan-kawan gorillanya. hanya saja
ia keraskan hatinya, sebab si nenek sangat bandel, kalau
tidak dikasi rasa hajaran hebat ia belum kapok.
Ia juga tidak khawatir bahwa si nenek mati karena
dipermainkan gorillanya, sebab ia sudah pesan jangan
sampai membuat jiwa orang melayang.
Kapan Kim Popo tidak lama kemudian siuman dari
pingsannya. ia tengah berada dilapangan terbuka, tidak
kelihatan melayangnya si burung raksasa, juga
bayangannya tiga gorilla yang menyiksa dirinya tadi.
Untuk kegirangannya ia dapatkan tongkatnya ada
disampingnya.
Pikirnya, itulah si bocah Kwee In yang menaruh
kasihan kepadanya untuk mengembalikan tongkatnya
yang telah dirampas oleh si burung Rajawali-
Perlahan-lahan ia bangkit berdiri. Ia rasakan sekujur
badannya pada sakit...
-oo0dw0oo-

J ILID 6
BAB 16
TAN KI M LI ONG . . .
Mari kita melihat perjalanannya Kim Liong, putera
kedua dari Pangcu Ceng-liong-pang, yang gagal untuk
dapatkan Bwee Hiang sebagai isterinya.
Kini Liong, di samping wajahnya yang cakap, dan
wataknya yang halus sopan santun, adatnya keras. Ia
ingin dapatkan Bwee Hiang secara wajar. Maka ketika
orang tuanya menyediakan Bwee Hiang yang sudah tidak
berdaya dan tinggal ia menodai saja kehormatannya si
gadis, bukannya ia menurut, malah memerdekakan si
nona. Dalam keadaan pingsan dan keadaaa separuh te-
lanjang, sebenarnya Kim Liong mesti tertarik oleh
keindahan tubuh si nona. Semestinya ketarik dan
mengganggu si nona, malah pemuda itu merasa
menyesal atas perbuatan orang tuanya.
Ia lalu mengambil kain selimut untuk menutupi bagian
tubuh Bwee Hiang yang menantang, kemudian ia
pondong si nona, dibawa kesuatu tegalan di mana ia rasa
cukup aman untuk meninggalkan si nona sampai siuman
sendiri nanti. Disamping Bwee Hiang ia tinggalkan
seperangkat pakaian ibunya untuk si nona nanti ganti
pakaiannya yang sudah tidak keruan, dalam mana ia
selipkan sepotong surat agar Bwee Hiang tidak menaruh
dendam kepada kedua orang tuanya yang sudah
perlakukan dianya. tidak baik. J uga anak muda itu tidak
lupa untuk sekalian letakkan pedangnya Bwee Hiang.
Seperti diceritakan dialas, si nona aangat berterima
kasih sekali atas pertolongannya si pemuda yang baik
hati itu dan ia perhatikan pesannya tidak menarik-
panjang urusanya dengan kedua orang tuanya Kira
Liong.
Setelah menolong Bwee Hiang, untuk jangan sampai
bertengkar dengan kedua orang tuanya karena ia sudah
melepuska Bwee Hiang, Kim Liong telah meninggalkan
rumahnya.
Ia merasa bahwa kepandaiannya terlalu rendah, maka
ia ingin beikciaua untuk mencari guru yang pandai. la
telah meninggalkan surat kepada orang tuanya, supaya
mereka tidak khawatirkan dirinya. karena kepergiannya
bukan untuk tidak ketemu lagi, satu waktu kapan ia
sudah peroleh kepandaian ia akan balik kembali.
Kedua orang tuanya tahu adat anaknya yang keras,
maka mereka tidak bisa berbuat lain dari pada
mengucapkan doa restunya akan anaknya itu.
Kim Liong tahu, kalau mau mendapatkan guru yang
pandai harus ia menjela-jahi pegunungan, maka
perjalalan itu ia tempuh dengan hati tabah- Ia membekal
ransum kering, dikuatirkan suatu waktu ransum itu
dibutuhkan.
Sudali berapa lama entah ia ubek-ubekan
dipeguuungan, belum juga ia mendapat guru yang
cocok. Ada juga guru-guru silat kampungan, ia sudah
bergebrak dengan mereka dan semuanya dijatuhkan,
paling-paling juga guru-guru silat itu seri melawan ia.
Kim Liong kesal hatinya. Pada suatu hari selagi ia
duduk mengaso ditepinya sebuah sungai kecil, tiba tiba
ia kaget ada yang menegur: „Anak muda kau melamun
sendirian disini ada apa yang dipikirkan?"
Kim Liong cepat menoleh. Kiranya yang menegur
dirinya itu seorang tinggi besar perawakannya, usianya
dikira enam-puluhan, tapi kuat sekali badannya dan
matanya hanya satu yang sebelah kanan, yang sebelah
kiri picak.
Kim Liong cepat bangkit dan menyoja. Ia berkata:
„Siauwte sedang memikirkan perjalanan Siauwte yang
mencari guru, sampai sekarang belum menjumpai orang
yang disetuju. Mohon tanya Lo-cianpwee mau pergi
kemana?"
Orang bermata satu itu ketawa. J a-wabnya: „Memang
untuk mencari guru yang cocok tidak gampang,
kebanyakan orang hanya sok-sokan saja jagoan, tapi
kepandaiannya masih mentah matang. Aku sedang
mencari daun-daunan obat."
Kim Liong ketarik dengan ucap kata orang itu.
„Apa Lo cianpwee mempunyai temanyang dapat
Siauwte jadikan guru?'" tanya Kim Liong dengan penuh
pengharapan.
„Teman banyak, namunjauh dari sini. Aku tinggal
disekitar sini sendirian," sahut orang bermata satu itu.
„Kau mencari guru yang bagaimana dapat mencocokkau
seleramu, anak muda? Bagaimana kau pikir kalau aku
menjadi gurumu?"
Kim Liong tidak lantas menyahat» hanya mengawasi
pada wajah orang.
Ia melihat orang tidak bengis, ucap ka-tanya juga
boleh, maka ia menjawab: „Siauwte senang kalau Lo-
cianpwee suka menerima Siauwte menjadi murid, asal
saja Siauwte sudah mendapat kepastian."
„Kau maksudkan kypastian apa, anak muda?" tanya
orang itu.
„Kepastian bahwa guru Siauwte ada banyak lebih
unggildari kepandaian Siauwte sendiri," jawab Kini
Liong ketawa.
„Hahaha. -.!" tertawa orang itu- „Itu wajar, maka
marilah kita coba-coba kepandaian kita!" mengajak si
mata satu.
Kim Liong tidak ragu-iagu, ia lantas pasang kuda-kuda
yang kuat.
”Silahkan Lo-cianpwee menyerang!" tantangnya.
Si mata satu ketawa melihat lagaknya Kim Liong. Ia
menyahut: „Kau boleh menyerang lebih dahulu, aku nanti
kasi petunjuk petunjuk cara bagaimana orang menyerang
dengan berhasil menemukan sasarannya."
Kim Liong anggap orang memandang terlalu rendah
padanya, kepandaiaannya pasti tidak lebih tinggi dari
kepandaiannya jago jago silat kampunganyang ia jumpai,
maka ia lantas menyerang dengan tipu 'Hek-liong tam
jiauw' atau 'Naga hitam ulur kukunya', satu gerak tipu
yang hebat juga kedua tangannya Kini Liong datang
menceng-keram dada.
Tapi orang itu gesit sekali, dengan mudah serangan si
anak muda dapat dielak-kan.
Kini Liong penasaran. Kembali ia menyerang, kali ini ia
menyerang bergantian tangan kiri menyolok mata
sedang tangan kanannya menyambar iga lawan.
Serangaa dilakukan dengan cepat dan gerak tipu ini
dinamai 'Dibawah daun mentcari buah'. Si anak muda
ketawa girang, mengira bahwa serangannya berhasil
melihat lawan gugup tampaknya.
Cepat luar biasa orang itu, kepalanya mengegoskan
serangan kearah mata, sedang tangan kirinya menekan
tangan Kim Liong yang menyambar iganya. Tekanan itu
dirasakan berat sekali, hingga Kim Liong kaget. Sebelum
ia dapat melepaskan ta-ngannya dari tekanan berat itu,
tiba tiba ia terpelanting jatuh kakinya disapu oleh kaki
lawanyang sangat kuat.
Orang itu menggunakan tipu "Angin musim rontok
menyapu dedaunan", satu serangan membalas yang tak
terduga-duga oleh si anak muda. Mengingat bahwa ia
bukan tandingan si mata satu, maka setelah merangkak
mendekati ia berlutut dan mengangkat guru kepada
lawannya, yang saat itu ketawa gelak-gelak.
„Siauwte dengan rela mengangkat locianpwee menjadi
guru . . ." kata Kim Liong.
„Anak muda," sahut orang itu. „Aku Tok-gan Hek-liong
tak gampang gampang mengangkat orang jadi muridnya.
manakala orang itu tak berbakat. Aku ketarik dengan
bakatmu yang hebat, maka juga aku mau menjadi
gurumu. Hahaha...!"
Tok-gan Hek-liong artinya si Naga Hitam bermata
satu.
Si Naga Hitam nama betulnya adalah Lauw Kin. Pada
sepuluh tahun berselang ini terkenal sebagai begal
tunggal yang sangat ditakuti. Entah ia sudah cuci tangan
dari usaha jahatnya. entah bagaimana, sebab paling
belakang itu hidup menyendiri dalam sebuah gubuk di
Toat beng-nia (Bukit pencabut nyawa).
Kepandaiannya Lauw Kin memang tinggi, maka Kim
Liong mana bisa menandingi si Naga Hitam. Hanya dua
gebrakan saja ia sudah dipercundangi.
Kim Liong diam-diam sebenarnya tidak begitu rela
mengangkat si Naga Hitam menjadi gurunya, meskipun
kepandaiannya jauh dari padanya. Ia melihat si Naga
Hitam banyak cacat diwajahnya dan matanya tinggal
satu. pikirnya. pasti orang ita bukan orang baik-baik
dalam dunia persilatan. Tapi, lantaran ia sudah lepas
kata angkat guru kalau ia dapat dijatuhkan, maka
dengan terpaksa ia penuhkan janji-nya.
Anak muda itu menang berbakat. sayang ia belum
menemui orang pandai yang dapat mendidik dirinya.
Sekarang dididik oleh si Naga Hitam, dalam tempo
pendek saja ia sudah dapat meyakinkan kepandaianyang
berarti. Malah lwekangnya meningkat banyak.
Si Naga Hitam senang kepada Kim Liong yang cerdik
otaknya, ia telah menurunkan kepandaiannya dengan
sungguh-sungguh, hingga Kim Liong sangat berterima
kasih oleh karenanya.
Perlahan-lahan kecurigaan Kim Liong bahwa gurunya
ada orang jahat telah lumer, ketika nampak si Naga
Hitam saban hari menutup diri memperdalam
lwekangnnya.
Pada suatu hari Kim Liong menerima dua tamu,
mereda itu dua kakek yang memperkenalkan dirinya
bernama Sim Liang dan Sim Leng.
Mereka mendesak mau ketemu dengan si Naga Hitam,
yang justeru waktu itu sedang menutup dirinya dalam
kamar meya-kinkan lweekang.
„Suhu sedang meyakinkan ilmunya, aku harap Kedua
Lo cianpwee tidak kecil hati ia tak dapat melayaninya,
kalau ada urusan apa apa baik diberitahukan padaku
saja, nanti aku akan sampaikan kepada suhu," kata Kim
Liong, ketika dua kakek itu mendesak terus mau ketemu
dengan si Naga Hitam
..Kentut!" bentak Sim Leng. „Kau anak haram berani
mencegah kami?"
Kim Liong melengak heran dirinya dicaci anak haram
Ia masih dapat menekan marahnya, ia berkata: „Lo
cianpwee kau jangan keterlaluan maki anak haram
segala. memang aku dilahirkan oleh kedua orang tuaku
yang berhubungan haram?"
„Memang kau anak haram, untuk apa kau mencegah
maksud kami menemui Suhumu." kata Sim Leng nyaring
dengan sikap mau memukul si anak muda.
Kim Liong tertawa. Hatinya menjadi nekad, ia kata:
„Aku masih pandang kedudukanmu sama dengan
kedudukan guruku, tidak tahunya kau hanya kakek liar,
apa kau kira aku takut padamu? Untuk coba beberapa
jurus kepandaian, aku juga tidak keberatan!"
„Sudahlah, sute," melerai saudara tuanya. „Kenapa
kau jadi bertengkar dengan anak muda? Tak usah
banyak omong, kita terjang masuk saja untuk keluarkan
si orang she Lauw dari kamarnya, apa ia bisa bikin
terhadap kita?"
Sim Leng matanya mendelik kearah Kim Liong.
Terdengar Kim Liong tertawa tawar. „Kalian mau
mengacau dalam rumah ini? Bagus, mari kalian robohkan
dulu murid-nya!" Kim Liong menantang, ketika ia lihat
dua kakek itu mau menerjang masuk kedalam kamar
gurunya.
Sim Liang tidak senang melihat Kim Liong banyak
lagak.
”Sute kau hajar anak liar itu!" seru-nya pada adiknya.
Sim Leng memang sedang mendongkol kepada Kim
Liong, makanya sekarang ia dianjurkan menghajar si
anak muda tentu saja ia lantas menerjang dengan
bengis.
Ia mengira dengan segebrakan Kim Liong dapat
dirobohkan, ternyata ia kecele. karena dengan gesit si
anak muda beberapa kali menghindarkan diri dari
serangan Sim Leng. malah telah balas menyerang hingga
si kakek menjadi gugup.
Sim Liang nampak adiknya keteter menjadi heran.
Muridnya saja demikian tangkas, bagaimana dengan
gurunya? Demikian ia menanya dalam hati kecilnya.
Ia tidak bisa tinggal diam. Ketika ia mau membantu
adiknya, Kim Liong tampak sudah lompat keluar rumah
dan disana ia menantang kedua kakek itu.
Sim Leng panas bukan main hatinya, ia pua lompat
mengejar dan mereka kembali bertempur ramai. Sun
Liang yang mengikuti belakangan, setelah menonton
sebantaran merasa bahwa ia tidak bisa tinggal antapkan
adiknya yang keteter, maka ia sudah menyerbu
membantu adiknya menyerang Kim Liong.
,,Bagus, bagus!" mengejek Kim Liong. ,,Dua kakek
mengembut seorang bocah. Sungguh tidak tahu malu!"
Kim Liong mula-mula tidak perhatikan kedua kakek itu,
sekarang ia kenali Sim Liang dan Sim Leng ada dua
pecundangnya Bwee Hiang tempo hari dimarkas Ngo-
tok-kauw.
Oleh karenanya ia makin bernapsu buat menjatuhkan
kedua kakek itu.
Kalau ia tidak bernapsu, mungkin ia dapat mengatasi
dikeroyok oleh dua kakek itu, justeru karena ia bernapsu,
maka ia jadi lengah dan satu kali pundaknya yang kiri
kena digempur Sim Leng hingga badan-nya terputar
seperti gasing dan jatuh duduk meringis-ringis kesakitan.
Ia rasakan gempuran Sim Liang tadi sangat hebat,
tulang pundaknya mungkin patah.
Matanya mendelik kearah Sim Leng yang
mentertawakannya.
„Kali ini aku kalah, tunggu lain kali kita bikin
perhitungan pula!" berkata Kim Liong kepada Sim Leng.
„Toako, anak ini sangat kurang ajar, biarlah aku
mampusi saja!" kata Sim Leng pada engkonya,
berbareng ia menghampiri Kim Liong yang tak berdaya.
„Kau berani buka mulut besar lagi ?" bentaknya,
seraya mengancam dengan pedangnya yang seketika itu
sudah dihunus.
„Apa kau kira aku takut lantaran kau mencabut
pedang?" menyindir Kim Liong. „Kau mau bunuh boleh
bunuh, memangnya aku akan berkedip mata karena
pedangmu?"
Sungguh berani sekali Kim Liong, sekalipun dirinya tak
berdaya dan segera ke-palanya akan berpisah dengan
tubuhnya.
Sim Leng sangat gemas. Ia tak dapat kendalikan
marahnya, maka seketika itu juga ia ayunkan pedangnya.
Tring! tiba-tiba saja pedang Sim Leng nyeleweng dari
sasarannya, hingga kepala Kim Liong tidak jadi
menggelundung ditanah.
Kiranya pedang Sim Leng telah dibentur oleh batu
kecil.
Kim Liong kegirangan, karena yang menolong itu
bukan lain dari gurunya sen-diri.
Tampak si Naga Hitam sudah berdiri berhadapan
dengan Sim Liang.
Kim Liong dengar gurunya ketawa gelak-gelak dan
kemudian berkata. „Mana Siauw-sumoay kalian? Kenapa
tidak turut datang? Sungguh sayang rinduku terhadapnya
belum terlaksana. Satu waktu pasti akan kubawa ia
kemari dan kuajak ia bersenang-senang. . ."
„Tutup mulut kotormu, bangsat!" bentak Sim Liang
bengis.
„Kalian datang kemari maksudnya mau apa? Bukan
suruhan dari Siauw-sumoay untuk menanyakan
keselamatan diriku? Ha haha. . .!"
Siauw-sumoay artinya Adik kecil wanita dalam
perguruan.
„Hm" mendengus Sim Liang. „Kau Kira Siauw-sumoay
sudi denganmu? Siauw-sumoay benci dan akan
membunuhmu. Ia kirim kami dulu untuk
membereskannya, ia akan datang belakangan untuk
mengambil kepalamu!"
Si Naga Hitam terbahak bahak ketawa.
„Aku dengar Siang Niang Niang sekarang ganti
namanya 'Tui-hun Lolo',” berkata si Naga Hitam. „Nama
baru itu tidak bagus, labih baik kau usulkan pada Siauw-
sumoay pakai nama 'Tui lauw Giok-lie' saja. Hahaha . .
."
Tui-lauw Giok-lie artinya Bidadari mengejar si orang
she Lauw.
Lauw Kin alias si Naga Hitam sengaja mengolok olok
kedua kakek she Sim itu supaya kegusarannya tambah
meluap-luap dan ini juga memang ada satu kenyataan,
tampak Sim Leng tak tahan dengan amarahnya. Ia
seketika itu menerjang si Naga Hitam setelah berkata:
„Bagus, inilah bagianmu?"
„Dengan muridnya saja sudah kalah, mau
menggempur gurunya lagi!" menyindir si Naga Hitam
seraya menangkis serangan Sim Leng.
Sim Leng rasakan tangannya kesemutan ketika beradu
dengan tangan si Naga Hitam.
„Sute, kau sabar dulu!" membujuk Sim Leng pada
adiknya
„Untuk apa kita bersabar lama lama? Makin dibiarkan
orang kurang-ajar ini, makin ngelunjak kepada kita!"
sang ad'k masih penasaran.
Sim Liang tidak ladeni adiknya ia berkata pada si Naga
Hitam: „Lauw Kin, lebih baik kau kembalikan tusuk konde
dari Siauw sumoay, kami akan bikin habis urusan dan
kesananya kau boleh tinggal tenteram. Sudah dua puluh
tahun kami mencari cari kau, baru sekarang kami jumpai
kau disini. Kalau Siauw-sumoy tahu. pasti ia akan datang
untuk mengambil kepalamu atas perbuatanmu yang
sudah mengambil tusuk kondenya . . ."
„Hahaha . . . hahaha . . .!" si Naga Hitam ketawa
memotong perkataan Sim Liang. „Sudah dua puluh tahun
kita berpisah, pasti Sianw sumoay kalian tambah umur
tambah cantik. Sayang waktu itu kalian menggerecok.
hingga kami urung bersenang-senang, Siauw-sumoay
kalian hanya memberi tanda mata tusuk konde saja
kepadaku. Kalian tidak berhak meminta kembali tusuk
kondenya. kecuali Siauw-sumoymu datang padaku.
Panggil ia datang kemari, ia pasti datang untuk melepas
rindu diantara kita, bukannya mau mengambil kepalaku,
kalian mengerti!''
Sim Liang merah padam wijahnya saking menahan
amarahnya.
„Bangsat kurang ajar, kau berani menghina kami
punya Siauw-sumoay?" bentak Sim Liang beringas.
„Kalau tidak dikasi hajaran, memang kau tidak tahu
kelihayanku!"
„Kau boleh liehay, tapi itu pada jaman duapuluh
tahunyang lalu, sekarang kau datang hanya buat mencari
malu saja, ha ha ha...!'" tertawa si Naga Hitam.
Memang pada duapuluh tahunyang lalu Sim Liang dan
adiknya kepandaiannya lebih unggul dari si Naga Hitam
Mata Satu. Tapi selama sang tempo berjalan, si Naga
Hitam telah meyakinkan ilmu silatnya lebih jauh dan
sekarang sudah tinggi dan bukan tandingannya Sim Leng
dan Sim Liang yang duapuluh tahunyang lalu telah
menghinanya!
Sim Liang dan adiknya tak tahan menghadapi
lagaknya si Naga Hitam yang congkak, maka dengan
berbareng mereka sudah menyerang.
Sim Liang dan Sim Leng benci pada si Naga Hitam
yang telah merayu adik kecilnya dan hampir-hampir
Siang Niang Niang (Tui hun Lolo sekarang) di 'makan' si
Naga Hitam, kalau tidak dua saudara itu menyelak dan
mengacaukan mereka yang sedang bermain cinta. Sim
Liang dan adiknya tahu Siauw-sumoaynya telah
memberikan tusuk konde sebagai tanda mata pada si
Naga Hitam dan mereka mau mengambil tusuk konde
itu. Mereka sudah mencari cari si Naga Hitam duapuluh
tahun lamanya, baru sekarang mereka ketemukan si
Naga Hitam telah menyembunyikan dirinya di Toat-bengn
nia. Mereka datangi si Naga Hitam diluar tahunya Tui hun
Lolo. maksudnya adalah membinasakan si Naga Hitam
supaya jangan menggoda Siauw-sumoaynya lagi yang
sekarang dimonopoli oleh mereka berduu.
Sayang maksud mereka itu banyak menemui
pertanyaan. ialah apakah mereka dapat membunuh si
Naga Hitam yang sekarang kepandaiannya jauh lebih
tinggi dari mereka?
Tapi Sim Liang dan Sim Leng masih mau ngotot
dergan ajukan Siauw sumoynya sebagai macan macanan
untuk menggertak si Naga Hitam.
Memang Siang Niang Niang alias Tui-hui Lolo
kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Sim Liang dan Sim
Leng yang menjadi Suheng dan J ie suhengnya.
Pertarungan berjalan seru antara si Naga Hitam
dikeroyok dua lawannya.
Masingmasing telah mengeluarkan kepandaiannya
untuk merobohkan lawan. Ternyata dua kakek she Sim
itu kalau maju berdua lebih berbahaya serangan-
serangannya. dari pada maju sendiri-sendiri. Mereka bisa
menciptakan serangan kombinasi yang tak diduga lawan.
Tapi si Naga Hitam kepandaiannya sudah lain dari
dahulu, maka mereka bertarung dengan berimbang
kelihatannya.
Kim Liong yang menyaksikan itu dengan hati
berdebaran. Ia perhatikan benar benar jurus jurus atau
tipu-tipu pukulan dari mereka yang aneh-aneh dan
dicatat diotaknya. Sungguh menguntungkan bagi Si
pemuda yang sedang keranjingan ilmu silat.
Diam-diam ia merasa aneh dengan percakapan
mereka tadi. Bagaimana Suhunya mendapatkan tusuk
konde dari Siang Niang Niang? Apakah mencuri atau
hadiah? Ia bingung dengan duduknya perkara, pikirnya,
kalau sebentar Suhunya sudah membereskan lawannya.
ia ingin minta keterangan dari gurunya itu
Sekarang ia tidak ada tempo untuk memikirkan hal itu,
sebab matanya terus mengikuti jalannya
pertandinganyang sangat seru.
”Rebahlah kalian!" tiba tiba si Naga Hitam membentak.
Ia keluarkan bentakan, berbareng kakinya menjejak
paha Sim Leng dan tinju kanannya telah menggempur
dadanya Sim Liang. Dua sasaranyang telak betul
kenanya, hingga dua kakek she Sim itu benar-benar
rebah menggeletak.
Itulah serangan berantai dari si Naga Hitam yang
dinamai 'Siang-liong-jip hay" atau 'Dua naga masuk
dalam laut', yang Kim Liong yakinkan masih belum
paham betul. Melihat keindahannya gerak tipu 'Siang-
liong jip-hay' itu diperlihatkan oleh guru nya, bukan main
girangnya Kim Liong.
Si Naga Hitam melihat dua lawannya rebah
menggeletak, ia ketawa mengejek, kemudian
menghampiri Kim Liong yana, masih duduk mendeprok
sambil memegangi pundaknya.
”Liong-jie (anak Liong), bagaimana dengan luka
dipundakmu?" tanya sang guru.
Kim Liong ketawa menyaringai- ”Sakit suhu, kakek itu
kejam betul! Mungkin tulang pundak Tecu (murid) patah,
Tecu harap suhu suka mengobati nya."
„Kau jangan khawatir, Suhumu dapat mengobatinya,"
menghibur sang guru.
„Mari ikut aku kedalam!" ia mengajak muridnya,
seraya membanguni muridnya dan dipimpin jalannya.
Si Naga Hitam ternyata mengerti pengobatan dan hal
tulang patah, maka ia dapat menolong muridnya. Kim
Liong bersyukur pada gurunnya dan mengharap dalam
beberapa hari luka pada puudaknya itu sudah sembuh.
„Suhu, bagaimana dengan dua kakek itu diluar?" tanya
Kim Liong, ketika pundaknya habis diperban oleh
gurunya.
„Mereka sudah pergi, untuk apa menghiraukan orang
begituan," sahut sang guru ketawa. Kim Liong heran, lalu
ia melongok keluar, betul saja mereka susah tidak ada
dipekarangan depan rumah yang tadi pada
menggeletak rebah.
Kim Liong menghampiri pula gurunya.
Ia menanya: „Suhu sebelumnya Suhu bertanding tadi
banyak yang dipercakapkan, urusan apa sih?"
Si Naga Hitam ketawa. Ia orangnya sok unggul, maka
lalu menceritakan riwayat dirinya kepada sang murid
seperti berikut.
Batara surya mulai doyong ke Barat. .
Tampak Lauw Kin, si pemburu binatang buas, pulang
dengan oleh olehnya beberapa ayam hutan dan kelinci
dipanggul dipundaknya.
Rupanya Lauw Kin pada hari itu tidak menemukan
binatang buas, maka, jangan sampai pulang kosong ia
bawa juga ayam hutan dan kelinci sebagai oleh-olehnya.
Ia bersiul siul berjalan pulang, ketika ia membelok pada
suatu jalananyang pinggirannya banyak gerombolan
rumput alang-alang ia merandek melihat didepannya
rumput alang-alang bergoyang-goyang seperti ada
binatang babi yang sedang mencari korban. Ia berindap-
indap mendekati, ia merandek dan kemudian ketawa geli
sendiri sebab dalam gerombolan itu bukannya binatang
yang sembunyi, hanya ada dua manusia yang sedang
bercakap-cakap.
Ia sebenarnya sudah lantas hendak meninggalkan
tempat itu, apabila tidak mendengar suara seorang
wanita yang menarik hatinya untuk mendengarkan lebih
jauh. Ia malah datang lebih dekat, supaya dapat
mendengar lebih jauh. Ia sembunyi jangan sampai
kepergok nanti oleh mereka.
„Suhu, apa betul kau mau turunkan semua
kepandaianmu?" terdengar suara seorang wanita bicara
sambil ketawa ngikik genit.
„Akan kuturunkan semua, kau akan lebih atas
kepandaiannya dibanding dengan Suheng dan J i-
suhengmu, Niang Niang... Asal kau turut keinginanku . .
."
„Kau ingin apa Suhu, supaya aku turut?"
„Oh, Niang Niang . . . , kau masih berlagak pilon . . .
?"
„Aduh, aduh! Sakit, jangan remas teteku . . . ."
Kedengaran suara ketawa cekikikan si wanita tadi.
„J angan, jangan pegang itu. Suhu ..... Aku masih
gadis, aku takut . . . "
„Niang Niang, kau jangan takut . .."
Terdengar suara berkeresekan dan rumput alang-
alang yang lebat bergoyang keras. Rupanya si pria
sedang memaksa si wanita meloloskan pakaiannya,
karena Lauw Kin mendengar pula si wanita berkata
dengan napas memburu: „Suhu, suhu jangan . . . ah.
Suhu nakal . . . Aku takut, takut. . . aku masih gadis .
. .”
„Niang-N;ang, kau jangan takut..." si pria kata
dengan napas mendengus.
„Aduh, berat badanmu, Suhu . . ." masih terdengar si
wanita ngikik ketawa.
Sejenak keadaan sunyi dan Lauw Kin bernapas lega
setelah barusan ditahan terus-terusan ketarik oleh
percakapan mereka.
Tiba-tiba napas Lauw Kin tertahan lagi,, mendengar
suara rintihan si wanita.
„Suhu, sakit . . . , sakit ..."
Namun rintihan si gadis rupanya tidak dihiraukan oleh
Suhunya yang sudah berubah sebagai binatang buas,
hingga hatinya Lauw Kin merasa kasihan dan ingin ia
unjukkan diri mengacau, cuma saja ia tidak punya
kepandaian silat tinggi. Ia khawatir kepalanya bisa
dikeprak remuk oleh Suhunya si gadis.
-ooOdwOoo-

Bab 17
Lelaki yang mengorbankan muridnya itu, pasti
kepandaiannya sangat tinggi, makanya si gadis mau
berkorban mengasikan kehormatannya untuk
mendapatkan ilmu yang tinggi dari Suhunya. Lauw Kin
terus bersembunyi, mau lihat bagaimana wajahnya dari
dua manusia yang main cinta didalam gerombolan alang-
alang itu.
Lama juga Lauw Kin menunggu habisnya
pertempuran.
„Suhu, kau bikin aku sakit setengah mati . ..." Lauw
Kin mulai mendengar lagi si wanita bicara dengan suara
manja.
„Itu lantaran kau masih gadis, nanti kalau Suhumu
ulangi juga sudah tidak sakit lagi, Niang Niang yang
manis . . . ."
„Suhu, kau mau ulangi lagi?" si gadis menanya
ketakutan.
„Tentu, kenapa tidak?"
„Sekarang?"
Sang Suhu ketawa gelak gelak. „Itu pada lain
kesempatan..." katanya.
„Suhu, kau nakal... mari kita pulang!" mengajak si
gadis.
Sebentar lagi tampak dua kepala muncul diantara
rumput alang-alang. Kiranya itu ada seorang gadis jelita
dari usia dua puluh tahun, sedang si pria adalah kakek
dari usia enam puluhan.
Sungguh janggal si gadis mengorbankan
kehormatannya buat mendapat kepandaian pada seorang
laki-laki yang pantas menjadi engkongnya.
Gadis itu cantik, tapi agak genit, la menarik Suhunya
dari gerombolan alang-alang diajak berlari-larian. Lauw
Kin menghela napas, dalam hatinya pikir: „Kenapa ia
barusan merintih kesakitan, kini dapat berlari-larian?
Dasar gadis Kang-ouw . . ."
Sementara itu, Lauw Kin juga meneruskan
perjalanannya pulang membawa kenangan-kenangan
tadi yang tak dapat ia lupakan dalam sejarah hidupnya.
Sepuluh tahun kemudian dengan cara kebetulan,
diwaktu ia mau menjual kulit macan, ia datang
kerumahnya Siang Niang Niang yang membutuhkan
barang tersebut.
Kapan Lauw Kin berhadapan dengan wanita yang tak
bisa dilupakan wajahnya itu, si pemuda berdiri bengong,
ia melantur jawabannya ketika diajak bicara oleh Niang
Niang, sehingga membikin orang curiga.
Lauw Kin lalu diundang kedalam rumah, ia
dipersilahkan duduk oleh Niang Niang disuguhi air teh.
Lauw Kin tidak menampik dan irup air teh yang
disodorkan padanya, sementara itu matanya menatap
terus pada wajah Niang Niang.
Si nona ketawa. Tidak marah ia di awasi orang, ia
menanya: „Toako, kau mengawasi sariya padaku, apa
kau merasa kenal, dimana?"
„Oh, oh, itu. . ." Lauw Kin menjawab gugup
„Itu dimana?" bentak Niang Niang dengan muka
bengis. „Kau bicara terus terang aku tidak jadi marah,
sebaliknya kalau kau plintat-plintut, jangan sesalkan akan
kutahan kau dihukum rangket saban hari tiga puluh
rotan."
Lauw Kin menggigil tubuhnya mendengar perkataan
Niang Niang. Ia pencaya si nona akan buktikan
perkataannya dan menyiksa dirinya.
„Lekas kau katakan! Mau tunggu kapan lagi?"
mendesak Niang Niang tidak kurang bengisnya.
Lauw Kin tundukkan kepala. Ia tidak menunjukkan
kelemahan, pikirnya bagaimana nanti saja kalau ia
memang akan dihukum, ia menjawab: „Nona, kau jangan
gusar aku bicara terus terang-"
„Ya, itulah yang aku harap," sahut Niang Niang
bersenyum manis ia sekarang.
„Nona, kau sekarang ada gemukan badannya dan
lebih botoh, dulu ketika aku pertama kali ketemu kau
badanmu kurus dan gesit," Lauw Kin cerita, hingga si
nona heran.
„Dimana kau ketemu aku pertama kali?"' tanya Niang
Niang.
„Aku ketemukan kau bersama Suhu..." sahut Lauw
Kin, agak takut ia.
Niang Niang kerutkan alisnya yang lentik. Ia
mengingat-ingat apa yang dikatakan oleh Lauw Kin. Tiba-
tiba selebar wajahnya menjadi merah jengah
„Kau, kau . . . !" kata si nona seraya menatap wajah
Lauw Kin.
„Ya, waktu itu aku menyaksikan sendiri," sahut Lauw
Kin ketawa.
Niang Niang ingat akan saat itu, sepuluh tahunyang
lampau dirinya telah diperkosa oleh gurunya, suhunya
yang sekarang sudah tiada dalam dunia. Ia merasa
jengah oleh Lauw Kinyang mengatakan ia menyaksikan
pada waktu itu.
..Menurut aturan kau harus dibunuh, Toako," berkata
Niang Niang dengan muka kemerah-merahan. „Tapi
melihat kau ada seorang jujur, aku boleh melanggar
aturan itu! Cuma aku harap kau jangan uarkan rahasiaku
itu, kalau aku dengar rahasia ini bocor, jangan sesalkan
kepalamu akan kuambil, Toako!"
Lauw Kin menggigil juga mendengar perkataan si
nona.
Tapi ia sudah berkeputusan tetap tidak mau unjuk
kelemahan, maka ia lalu berkata lagi: „Nona Niang
Niang, kau boleh penyaya pada mulutku. Asal kau suka
memberi tanda kenangan padaku, setiap saat aku lihat
barangmu aku ingat pada dirimu dan mulutku tidak
sampai bocor. Bukan itu baik, nona?"
Niang Niang ketawa. „Baiklah," katanya, seraya
mencabut tusuk kondenya. „Inilah barangnya yang akan
membuat kau tutup mulut selamanya."
Niang Niang berkata seraya serahkan tusuk kondenya
kepada Lauw Kin.
Itu adalah tusuk konde kemala, tidak ada
perhiasanyang menaburnya, tapi merupakan barang
kesayangannya si nona. Kalau ia sudah berikan kepada
Lauw Kin itu sebagai terima kasihnya yang besar atas
janji Lauw Kinyang hendak menutup mulut untuk rahasia
diri dan gurunya bermain cinta.
„Tusuk konde itu," berkata Niang Niang setelah
mendengar Lauw Kin meugucapkan terima kasihnya.
„Besar faedahnya, asal siapa saja yang membawa itu
kepadaku dan mengajukan suatu permintaan padaku
akan aku penuhi permintaannya."
Lauw Kin mengucapkan terima kasih. Setelah mereka
beromong pula sebentar, Lauw Kin lalu minta diri dan
diantar oleh Niang Niang keluar dengan mengucapkan
pesan supaya Lauw Kin berhati-hati menjaga tusuk
konde yang ia berikan itu.
Lauw Kin berjanji akan perhatikan pesan si nona.
Mereka lalu berpisahan.
Tiga hari kemudian Lauw Kin datang lagi menemui si
jelita.
„Toako, kau datang lagi ada urusan apa?" tanya Niang
Niang ketawa manis.
Lauw Kin adalah satu pemuda gagah, wajahnya
bundar dan cakap. Pengawakannya kekar dan tinggi
besar. Dalam pakaian sebagai pemburu tampak Lauw Kin
keren sekali.
Diam-diam si nona perhatikan dirinya si anak muda
gagah itu.
„Aku datang untuk urusan tusuk konde itu, nona Niang
Niang," sahut Lauw Kin.
„Hei, urusan tusuk konde, memangnya kenapa?" tanya
si nona.
„Kau mengatakan, siapa yang bawa tusuk konde itu
boleh memajukan suatu permintaan dan kau akan penuhi
permintaan itu, bukan?"
,,Tidak keliru, memang aku mengatakan itu."
„Sekarang aku hendak memajukan suatu permintaan
padamu," sahut Lauw Kin.
„Mana tusuk kondenya?" tanya Niang Niang.
Lauw Kin merogoh sakunya dan keluarkan barang
yang berharga itu. „Barangnya ini, aku akan kembalikan
padamu, manakala kau sudah meluluskan
permintaanku," kata Lauw Kin seraya memasukkan pula
tusuk konde itu kedalam sakunya.
Si nona tertegun melihat tusuk konde dimasukkan pula
dalam saku Lauw Kin.
„Kau mau mengajukan permintaan apa? Apa kau
mendapat kesulitan uang? Diancam musuh? Minta
rumah, minta kekayaan dan sebagainya?" Niang Niang
nyerocos.
„Bukan, bukan, aku minta sesuatu yang menjadi
kenanganku sejak pertama kali aku melihat wajahmu
nona yang gagah," sahut Lauw Kin.
„Oh, aku tahu sekarang. Kau tentu hendak minta aku
ajarkan ilmu silat, bukan?"
Lauw Kin geleng kepala. Ia ketawa-ketawa urung.
Niang Niang bingung, Lauw Kin hendak minta apa
darinya? Semua yang ia sebutkan bukan, sebenarnya ia
mau minta apa?
„Toako, sebenarnya kau mau minta apa dari aku? Aku
bersedia untuk memenahunyal™ berkata si nona dengan
suara ramah.
„Aku tidak meminta banyak-banyak, nona Niang
Niang," sahut Lauw Kin.
„Ya minta apa? Lekas sebutkan!" kata Niang Niang
mulai jengkel ia.
„Aku minta kau tidur semalaman denganku." jawab
Liuw Kin agak malu-malu.
Niang Niang terkejut, tapi ia tidak kemarahan
diwajahnya.
Ia tidak boleh gusar, meskipun itu adalah
permintaanyang kurang ajar, sebab dalam janjinya orang
boleh memajukan suatu permintaan dan Niang Niang
akan rneluluskannya
Si nona menatap wajah Lauw Kinyang tampan,
hatinya berdebaran. Pikirnya: „Tidak apa ia layan
semalaman, aku pun akan merasa bahagia disamping ia
merasa puas dapatkan diriku. Ia tampan dan kuat, pasti
ia memberi banyak kesenangan."
Si nona bsrsenyum manis, hingga si pemburu
bergejolak hatinya saking girang.
„Nona. kau meluluskan permintaanku?" tanyanya
cepat.
„Sabar . .." sahut si nona. „Aku mau menanya, dari
mana kau punya ingatan untuk mengajukan permintaan
tidur semalaman denganku, Toako?"
„Aku terkenang pada saat itu, nona Niang Niang."
„Pada saat apa kau terkenang, Toako?"
„Pada saat kau merintih, merintih kesakitan dan ....
itulah yang mendorong aku ingin tidur semalaman
dengan kau, aku ingin menikmati api yang dirasakan
Suhumu saat itu."
Tergetar hatinya Niang Niang. Seketika berbayang
depan kelopak matanya perbuatanyang tidak bagus
dengan Suhunya. Ia ingat Suhunya begitu sengit
mendayung dan tidak perhatikan rintihannya yang
kesakitan. Ia tidak menyesal, karena untuk pertama
kalinya ia mendapat kenikmatan dari sang Suhu yang
ternyata pandai untuk membikin lawan merasa puas. Kini
orang yang menyaksikan perbuatannya itu menagih,
ingin tidur semalaman dengannya, apakah ia dapat
menolaknya, sedang ia sudah janji akan memenuhkan
setiap permintaanyang diajukan karena tusuk kondenya?
Ia tidak menyesal, karena orang yang memintanya itu
adalah seorang tampan dan kuat, yang pasti akan
memberi kesenangan lebih dari Suhunya tempo hari.
Maka ia ketawa manis dan berkata: „Baiklah, Toako kita
jumpa sebentar malam . . ,"
Lauw Kin kegirangan. Ia cepat meraih tangan si nona
dan diciumnya berkali-kali, hingga Niang Niang ketawa
geli dalam hatinya melihat kelakuan tersebut
Lauw Kin mohon diri dan berjanji akan kembali pada
malam harinya.
Pada malamnya, benar saja Lauw Kin telah kembali. Ia
melihat Niang Niang sudah menanti diruang tengah,
ruangan siang tadi mereka bertemu. Si nona dalam
pakaianyang menggairahkan, serba tipis menyolok,
hingga tubuhnya seperti tercetak.
Niang Niang dengan tidak malu-malu bangkit dari
duduknya dan merangkul Lauw Kin, yang menjadi
menggigil tiba tiba, karena baru pertama kali itu ia
dirangkul oleh seorang wanita. Sampai sebegitu jauh
Lauw Kin masih single, pikiran untuk mempunyai isteri
telah lenyap dari otaknya sejak ia ketemu Niang Niang
pertama kali.
Selama sepuluh tahun itu ia selalu mengenangkan
Niang Niang dan mengharap dapat dipertemukan
kembali dengan wanita yang telah menarik hatinya itu.
Apa mau dengan cara kebetulan ia telah dipertemukan
dengan wanita kenangannya itu.
„Toako, kenapa kau gemetaran?" tanya si nona,
sambil mencium pipi orang. ,.Mari masuk kamarku!"
mengajak Niang Niang, seraya menarik tangan Lauw Kin.
Pemuda itu ketakutan. Boleh dikata separuh diseret,
barulah ia dapat masuk dalam kamarnya Niang Niang
yang serba harum.
Mengendus hawa harum Lauw Kin bersemangat dan
membalas rangkulan dan ciuman
Niang Niang. Lauw Kin didorong duduk ditepi
pembaringan dan Niang Niang dengan manja telah
menjatuhkan diri duduk dipangkuannya si pemuda.
Mereka bercumbu cumbuan dengan penuh kasih.
Pada saat itulah tiba-tiba pintu terbuka dan dua sosok
tubuh lompat masuk kedalam.
Dengan tidak banyak bicara lagi dua orang itu telah
menggusur Lauw Kin keluar, hingga Niang Niang yang
sudah rebah terlebih dulu menjadi gelagapan melihat
Lauw Kin direngut orang. Ia tak dapat lompat mencegah,
karena waktu itu ia dalam keadaan tidak berpakaian.
Cepat ia mengenakan pakaiannya, kemudian ia
sembat pedangnya dan memburu keluar.
Namun sudah terlambat, karena ia tak melihat
bayangan seorang pun di luar rumahnya. Entah Lauw
Kin itu telah dibawa kemana olsh dua orang tadi?
Sejak itulah Niang Niang suka uring-uringan dan
terkenang kepada Lauw Kin.
Kemana sebenarnya Lauw Kin telah dibawa?
'Ia temyata dibawa jauh dari rumahnya si nona,
pantesan Niang Niang menyusul dengan sia-sia, Lauw
Kin tetap tidak diketemukan.
Lauw Kin dibawa kesebuah kuil tua, dimana ia dihajar
babak-belur oleh dua penculiknya, ternyata adalah Sim
Liang dan Sim Leng, dua saudara perguruan dari si nona
Siang Niang Niang.
Mereka melakukan perampasannya mengenakan
kedok dan juga dilakukan dengan cepat sekali, hingga
Niang Niang tidak mengenali pada dua saudara
seperguruan-nya itu.
Dalam keadaan sadar dan tidak Lauw Kin sayup sayup
mendengar Sim Liang berkata: „Manusia hina, kau berani
mengganggu Siauw sumoay kami? Benar-benar nyalimu
besar sekali!"
Plak! Plak! Lauw Kin jatuh pingsan, karena barusan
sudah dihajar Sim Liang terlebih dahulu.
„Ambil air sute!" suruh Sim Leng pada adiknya.
Sim Leng mengiyakan dan pergi. Tidak lama ia datang
kembali dengan seember air dan disiramkan kemukanya
Lauw Kin, sebentar lagi pemuda yang mengenangkan
malam bahagia itu tersadar dari pingsannya.
Ia awasi wajahnya Sim Liang dan Sim Leng, Ia
menanya: „Kalian menganiaya aku apa sebabnya? Aku
dengan kalian tidak ada permusuhan apa-apa, cara
bagaimana kalian begitu kejam menganiaya aku Lauw
Kin?"
,.Hahaha . . . ! " tertawa Sim Liang. „Tidak ada
permusuhan? Kenapa kau berani mengganggu Siauw-
sumoayku? Hm! Nyalimu besar sekali!" menyusul suara
plak plok lagi dan Lauw Kin meringis-ringis kesakitan.
Ia ingin memberi perlawanan, namun, ia tidak
berdaya, Apalagi ia rasakan seluruh badannya lemas
bekas dipukuli oleh dua orang kejam itu.
„Tcako, sebaiknya kita kirim saja jiwanya manusia
pengacau ini kelain dunia!" usul Sim Leng, ketika melihat
sauda-ranya hendak menampar pula Lauw Kin.
„Pikiranmu baik juga!" sahut sang kakak. Menyusul
pedangnya dicabut dan diayunkan kebatang leher Lauw
Kinyang s ada h pejainkan matanya terima binasa.
Tring! terdengar suara batu kerikil membentur pedang
dan pedangnya Sim Liang telah terlepas dari cekalannya.
„Hahaha ...!'' menyusul orang ketawa, hingga Sim Liang
dan adiknya menjadi sangat kaget.
Ketika Sim Liang hendak membuka mulut menanya,
orang yang menyelaruatkan Lauw Kin tadi sudah berada
dihadapan mereka.
Sambil ketawa-ketawa orang itu berkata: ,,Kalian
orang orang apa? Orangn-orang jahat atau orang orang
baik, mau membunuh orang yag tidak berdaya?"
Sim Leng mengawasi wajah dan dananan orang
sebelum memberi jawaban.
Orang itu ada lab seorang dari usia empat puluhan,
dandananya macam dandanan sastrawan berwarna
hijau. Wajahnya orang itu tidak tampan, tapi cukup
menarik.
„Kau siapa hendak campur campur urusan kami"?"
tanya Sim Liang
,.Aku she Oey nama Pek," sahutnya.
„Sudah me«jadi kegemaran untuk campur urusan
tidak adil."
Sim Liang kaget. Ya ingat akan namanya Ceng Ie
Sianseng (Tuan berbaju Hijau) yang namanya mulai
terkenal dalam dunia Kangouw. Memang kegemarannya
Ceng le Sianseng suka campur urusan orang untuk
membela keadilan. Ia percaya bahwa orang muda yang
mulai terkenal namanya itu tentu orang muda yang
berada di-depannya.
„Oh, kau tentu adalah Ceng Ie Sian-seng, bukan?"
tanya Sim Liang kemudian.
„Itulah gelaranyang orang berikan padaku," sahut Oey
Pek.
Sim Liang dengar tertang kelihayannya. Ceng le
Sianseng. tapi ia belum pernah merghadapinya sendiri.
Pikirnya, kalau ia bisa menjaiuhkan si baju hijau,
namanya pasti akan harum dalam rimba persilitan, maka
ia membentak: „Sahabat, lebih baik kauu jangan ikut
urutan kami. Kita tidak kenal satu sama lain, maka untuk
apa menimbulkan permusuhan diantara kita?"
„Hahaha . . .!" tertawa Ceng Ie Sianseng.
„Permusuhan bisa berubah persahabatan, asal kau dapat
menceritakan duduknya perkara hendak menganiaya
saudara ini, pasti aku tak akan campur lagi bila kau
berlaku adil."
„Urusan kami, orang luar tidak perlu tahu!" menyelak
Sim Leng yang berangasan.
„Baiklah," sahutuya. „Aku tak akan campur tangan,
asal kalian menyerahkan orang ini kepadaku! Kasihan,
aku akan beri obat kepadanya . . .!"
„Kentut busuk!" bentak Sim Leng. „Kau orang apa
berani berurusan dengan kami dua saudara? Memang
kalau tidak dikasi hajaran kau tentu belum tahu kelihayan
kami!"
Ceng Ie Sianseng ketawa. ”Cobalah unjukkan
kepandaian kalian!" tantangnya.
Sim Leng menghunus pedangnya, ia menyerang
dengan telengas. Sim Liang yang sudah memungut pula
pedangnya, juga menyerang membantui adiknya.
Ceng Ie Sianseng dikeroyok berdua, namun, tidak
kecewa bila namanya mulai terkenal di Sungai Telaga
(Kang ouw) karena permainan pedangnya sangat cepat
dau gesit sekali, hingga dua lawannya menjadi
kewalahan.
Tidak lama, segera terdengar jeritan saling susul. Itu
karena Sim Leng dan Sim Leng yang kena ketusuk
pedang pada pundak kirinya. Ceng le Sianseng rupanya
tidak mau menanam bibit permusahan dan ia hanya
melukai sedikit saja pada mansing masing lawannya,
meskipun demikian sakitnya bukan mai bekas tusukan
pedang tadi.
Dua lawan itu lompat mundur. Ceng le Sianseng hanya
ketawa gel»k gelak, ia tidak merangsek lawannya yang
mundur.
„Bagaimana, masih mau diteruskan?" tegurnya, ketika
melihat Sim Liang dan adiknya berdiri bengong
mengawasinya.
„Baiklah, kami mengaku kalah sekarang tapi ada satu
waktu kita akan jumpa pula untuk menetapkan pula
siapa unggul'" jawab Sim Liang, yang segera ajak
adiknya berlalu dari ruangan kuil itu meninggalkan Lauw
Kinyang menggeletak tak sadarkan diri.
Setelah dua orang she Sim itu berlalu, Ceng le
Sianseng memeriksa keadaan Lauw Kin. la geleng geleng
kepala. Keadaan Lauw Kiu sangat parah lukanya, selain
pada beberapa bagian tubuhnya malang biru bekas
digebuki, kedua matanya Lauw Kin tertutup.
Ceng le Sianseng merasa kasihan kepada sang korban,
ia memberi makan tiga pil sekaligus untuk menyadarkan
Lauw Kin. Perlahan-lahan si orang she Lauw siuman
juga, hingga Ceng le Sianseng menjadi girang.
Ternyata Lauw Kin hanya dapat membuka matanya
yang kanan, sedang matanya yang kiri telah menjadi
rusak akibat aniayaan Sim Liang dan Sim Leng. Sungguh
kejam dua orang she Sim itu, mereka telah melakukan
penganiayaan ganas itu disebabkan wanita, ialah Siauw-
sumoaynya yang mereka sayangi dan cintai.
Siang Niang Niang sejak gurunya menutup mata telah
membuat perhubungan gelap dengan Sim Liang,
kemudian Sim Leng juga menjadi kawan tidurnya si
wanita genit. Dua saudara she Sim itu tidak saling
berebutan, karena mereka takut Siang Niang Niang yang
berkepandaian lihay. Mereka antri, masing-masing dikasi
ketika mendapat giliran tidur dengan Siauw-sumoaynya
yang montok molek dan menggiurkan.
Makanya dalam percintaan segi tiga itu ada orang ke-
empat mau nimbrung, terang dua saudara she Sim itu
tak mengijinkan. Lauw Kin dianiaya diluar tahunya Siang
Niang Niang. Lauw Kin selanjuinya menjadi cacad,
matanya picak sebelah.
Makan tempo beberapa hari dalam kuil tua itu Ceng Ie
Sianseng menolong diri nya
Lauw Kin, sampai si orang she Lauw kuat lagi
tubuhnyu, hanya matanya meram sebelah Si pemburu
she Lauw sangat berterima kasih kepada Ceng Ie
Sianseng yang telah membuang tempo menolong dirinya.
Atas persetujuan kedua pihak mereka angkat saudara.
Ternyata Lauw Kin ada Lebih muda dua tahun dan ia
menjadi Sute (adik). Selanjutnya dua orang itu bergaul
rapat sekali, Lauw Kin diberi pelajaran kepandaian silat
yang tinggi.
Pada suatu hari Ceng le Sianseng telah meninggalkan
saudara angkatnya itu untuk pulang ke kampung
halamannya karena kematian ayahnya. Sejak itu mereka
belum pernah ketemu lagi.
Lauw Kinyang telah mempunyai kepandaian tinggi,
telah mencari Sim Liang dan Sim Leng untuk menuntut
balas, akan tetapi mereka itu luput diketemukan.
Belakangan ia mendirikan gubuk di Toat beng-nia untuk
memperdalam lwekangnya, sampai akhirnya ketemu
dengan Kim Liong dan mengangkat Kim Liong menjadi
muridnya.
Kim Liong adalah pemuda yang polos dan sopan, ia
tidak berkata apa-apa setelah mendengar gurunya
menuturkan riwayatnya. Ia hanya menanya: „Suhu, tadi
Suhu ketemu dua orang yang menganiaya Suhu itu,
kenapa tidak lakukan pembalasan?"
„Oh, itu ada sebabnya," sahut Tok-gan Hek-liong Lauw
Kin. „Aku tidak ingin membikin hatinya Siang Niang Niang
kecewa Kalau aku menuruti napsu dan melukai berat
kepada salah satu orang she Sim itu, pasti Siang Niang
Niang tidaK mengerti. Ia kepandaiannya sangat tinggi,
belum tentu aku mampu mengalahkannya."
Kim Liong anggukkan kepala, tidak berkata apa-apa,
hanya dalam hatinya berkata: „Hml Dasar saja kau masih
mengharap Niang Niang, maka kau tidak berani berlaku
kejam kepada musuh yang pernah membikin cacad
matamu. Orang apa kau ini?"
Anak muda kita cerdik, ia tidak percaya seluruhnya
penuturan sang guru, ia lebih percaya kalau gurunya ada
mengumpatkan apa apa dalam penuturannya itu.
Tiga hari kemudian sejak sang guru menuturkan
riwayatnya, pada suatu malam Kim Liong mendusin dari
tidurnya mendengar suara senjata beradu didepan
rumah, la menduga gurunya yang bertarung, maka ia
lompat dari tempat tidurnya dan lari dengan maksud
membantu gurunya bilamana diperlukan.
Belum sampai ia melangkah keluar, kakinya berhenti
bertindak ketika mendengar suara gurunya berkata:
„Niang Niang, kau sungguh kejam menyerang aku mati-
matian, memangnya kau mau membunuh aku?"
„Kau telah melukai dua Suhengku, berarti kau tidak
memandang padaku, maka mana aku mau kasi ampun
padamu?" Kim Liong dengar ada wanita yang menjawab,
suaranya empuk.
Kim Liong tidak jadi melangkah keluar, hanya
mengintip dari jendela,
J alannya pertempuran memang seru, gurunya tampak
keteter oleh lawan nya seorang wanita dari usia
limapuluhan. yang montok badannya, tapi gesit luar
biasa mendesak gurunya yang bersilat dengan sungguh-
sungguh. Masih ada tanda tanda bekas kecantikan
diwajahnya wanita yang menjadi lawan Sang guru. Kim
Liong tidak senang wanita itu kelihatannya genit, sembari
menyerang gurunya, ia bersenyum ketawa ketawa
cekikikan nampak gurunya gelabakan menangkis
serangannya.
Kim Liong tidak jadi membantui gurunya melihat
Iawannya kelihatan demikian genit dan menduga pasti
tidak akan melukai gurunya. Ia diam-diam menyaksikan
pertempuran mereka lebih jauh. Perhatiannya lebin
dipusafkan kepada serangan-serangan si wanita lawan
gurunya, yang ia belum tahu atau belum melihatnya,
diam-diam ia catat dikepalanya dan itu kembali
menambah kepandaiannya dalam belajar silat.
Banyak ia mendapat jurus jurus yang baru dari kedua
kakek She Sim dan sekarang dari si wanita she Siang,
meskipun genit, memang, Siang Niang Niang ada sangat
lihay.
Kalau dua kakek she Sim belum lama berselang tidak
dipandang mata oleh Tokpan Hek-Iiong, ternyata
menghadapi Siang Niang Niang ia harus peras keringat
untuk melayaninya, sebab salah-salah ia nanti dilukai
oleh senjata tongkatnya si wanita genit yang hebat ilmu
silatnya. „Niang Niang, apa kau tidak mau kasi
kesempatan untuk aku membela diri dari fitnahan kedua
Suhengmu?" si Naga Hitam kembali berkata, ketika untuk
kesekian kalinya ia kena didesak lawannya.
„Lauw Kin, kau keluarkan kepandaianmu semua, baru
aku nanti pertimbangan!" sahut Siang Niang Niang,
seraya mendesak terus lawannya dengan ilmu
tongkatnya yang hebat.
„Niang Niang," kembali si Naga Hitam meratap. „Kau
benci padaku, tapi kau tidak lupa dengan tusuk
kondemu, kau belum memenuhi permintaanku . - ."
Kontan Siang Niang Niang berhenti menyerangnya,
tatkala ia dengar disebutnya tusuk konde. Girang hatinya
si Naga Hitam nampak perubahan itu. Matanya menatap
wajah wanita didepannya, yang dalam pandangannya
tetap cantik seperti dulu, duapuluh tahun yang lampau.
„Niang Niang, aku girang kau masih belum melupakan
urusan kita duapuluh tahun yang lalu, wajahmu tidak
berubah kau masih tetap cantik seperti dulu . . ."
Siang Niang Niang senang mendengar pnjian itu. Ia
ketawa genit. „Toako, kau masih ingat saja urusan dulu,
kau masih tetap menagih? Hihihi..."
Si Naga Hitam datang menghampiri dan mencekal
lengannya Siang Niang Niang; Lunak dan halus lengan
itu dicekalnya, hingga bergejolak hatinya si Naga Hitam.
„Toako, kau masih menagih hutangku dulu?" Siang
Niang Niang menanya dengan kelakuan genit dan coba
melepaskan lengannya dari cekalannya si Naga Hitam'
„Niang Niang, sampai saat ini tidak kulupakan janjimu
yang belum dipenuhi.." jawab si Naga Hitam. Ia tidak
mau melepaskan cekalannya, walaupun Siang Niang
Niang coba merontak, malah ia maju makin mendekat
dan ... tiba-tiba saja wanita itu dipeluknya dengan erat,
kemudian dengan enteng dipondong oleh si Naga Hitam
dibawa masuk kedalam rumahnya. Kim Liong sementara
itu siang-siang sudah menyembunyikan dirinya.
Anak muda itu kaget, nampak Suhunya membawa
masuk wanita genit itu kedalam kamar semedhinya.
Pikirnya, apa yang hendak diperbuat oleh gurunya? Ia
memang menyangsikan kelakuan baik gurunya itu, maka
dalam persembunyiannya ia mengikuti terus gerak-gerik
sang guru yang telah memondong masuk si genit ke
kamar semedhinya.
Ia mendengar Siung N'ang Niana berkata: „Toako. kau
mau apakan diriku..?"
„Niang Niang. disinilahh kau harus memenuhi
janjimu....,'" sahut sang guru, Kim Liong mendengar
suara dipan berkere-yot, rupanya Siang Niang Niang
direbahkan oieh gurunya disitu. Menyusul Kim Liong
dengar wanita genit itu ketawa cekikikan.
„Aduh, Toako, kau kasar amat, belum apa apanya
sudah main buka saja...."
„Niang Niang, dua puluh tahun lebih aku memendam
rinduku padamu ..."
Berdebar hatinya Kim Liong mendengar percakapan
disebelah dalam.
„Toako, berat amat badanmu .."
„Niang Niang kau boleh merintih kesakitan seperti
tempo hari dengan Suhumu."
Wanita genit itu ketawa cekikikan, tapi benar benar
terdengar ia merintih-rintih.
Apa benar ia merintih kesakitan atau memang hanya
beraksi saja, hanya Siang Niang Niang yang tahu,
namun, rintihan demikianlah yang menyebabkan si Naga
Hitam minta tidur semalaman dengan Siang Naing Niang.
dan akibatnya si Naga Hitam kehilangan sebelah
matanya dan badannya matang biru dihajar oleh dua
saudara she Sim.
Kim Liong tidak puas melihat kelakuan gurunya itu.
Meskipun suara dipan berkereyot beberapa kali seperti
yang keberatan, yang semesti nya menarik perhatian
untuk mendengarnya, Kim Liong tampak kerutkan alisnya
dan meludah. Diam-diam ia benci pada gurunya yang
kotor perbuatannya.
Ia segera angkat kaki berlalu dari situ, masuk pula
kedalam karnarnya dengan pikiran tidak tenang. Ia
rebahkan badannya, tidak mau pulas, pikirannya
melayang-layang untuk menentukan nasibnya kemudian.
Perasaan ingin kabur meninggalkan gurunya telah
mendesak dengan tiba-tiba. Pikirnya, siang-siang ia
meninggalkan gurunya yang tidak benar kelakuannya itu
ada lebih baik, daripada lama-lama ia menungkul
gurunya dan bisa bisa tabiat gurunya bisa menular
kepada dirinya.
Demikian ia telah mengambil keputusan, tapi ia masih
berat mengingat sang guru terhadapnya sangat baik.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Kim Liong sudah
siapkan makanan untuk gurunya bersantap, inilah
kebiasaan yang si anak muda lakukan setiap hari.
Sampai siang ternyata si Naga Hitam masih belum
keluar dari karnarnya.
Kim Liong ingin mengetuk pintu kamar tak berani,
maka sementara menanti sang guru bangun dari tidurnya
ia gunakan kesempatan itu untuk berlatih silat. Ia
praktekkan apa yang ia semalam ia lihat gerak tipu
pukulannya Siang Niang Niang.
Benar-benar otaknya Kim Liong cerdik, sebab pukulan-
pukulan semalam yang ia perhatikan dapat dimainkan
dengan bagus sekali'
Sedang asyiknya ia memainkan tipu pukulan yang ia
boleh curi, ia dibikin kaget oleh suara cekikikan ketawa.
„Anak muda, kau telah mencuri tipu pukulanku ...” Kim
Liong mendengar orang berkata, yang tiada lain adalah
Siang Niang Niang, entah sejak kapan wanita genit itu
berdiri tidak jauh daripadanya.
Kim Liong hentikan bersilatnya dan berpaling kearah
Siang Niang Niang.
-oo0dw0oo-

Bab 18
WANITA GENIT bersernyum dikulum sambil balas
menatap. Tampak wajahnya lesu, sepasang matanya
yang bagus redup-redup seperti yang masih kepingin
tidur.
Dalam pakaian bukannya pakaian nenek-nenek,
tampak bekas-bekas kecantikan Tui-hun Lolo alias Siang
Niang Niang diwaktu mudanya. la masih tetap cantik
meskipun usianya mendekati setengah abad, rupanya
Tui-hun Lolo dapat merawat diri-nya dengan Iwekangnya
yang sangat tinggi, badannya tetap kencang dan kuat.
Rupanya tenaga nya semalam dipakai habis-habisan
untuk melayani si Naga Hitam, maka wajahnya tampak
lesu dan matanya redup-redup seperti masih ingin tidur.
„Cianpwee, aku mohon Cianpwee tidak jadi gusar,"
kata Kim Liong terus terang.
„Memang benar semalam aku melihat tipu pukulan
Cianpwee yang hebat, aku ketarik dan coba-coba
sekarang memprak-tekkannya- Dengan memandang
mukanya suhu, aku harap Cianpwee tidak menghukum
aku yang telah mencuri lihat kepandaian Cianpwee ..."
„Hahaha...!" tiba-tiba terdengar suara dibelakangnya
Kim Liong, hingga si anak muda terhenti bicaranya dan
menoleh, kiranya yang ketawa itu tiada lain adalah
gurunya sendiri, Tok-gan Hek-Liong. „Liong-jie, kau
jangan sungkan-sungkan terhadap Niang Niang, panggil
saja ia subo, mulai semalam ia berjanji akan menjadi
isteriku. Hahaha..."
Kim Liong melengak mendengar perkataan gurunya.
„Lekas kau kasi hormat pada Subo-mu, Liong-jie!"
menyuruh sang guru.
Kim Liong menghampiri Siang Niang Niang dan
menekuk lututnya memberi hormat, seraya berkata:
„Subo, terimalah hormatnya Tecu..."
Subo, sama dengan guru dan Tecu sama dengan
murid.
Siang Niang Niang suruh Kim Liong bangun. „Liong-jie,
jangan pakai banyak peradatan, kau bangunlah. Aku lihat
kau anak berbakat, selanjutnya akan kudidik kau menjadi
murid jagoan, maukah kau?"
Kim Liong tidak herani menatap wajahnya sang Subo,
ia menundukkan kepala dan mengangguk ketika
mendengar sang Subo mau memberikan petunjuk-
petunjuk lebih jauh kepadanya.
Si Naga Hitam rupanya ada punya kepandaian
'istimewa' untuk menyenangkan wanita maka juga Siang
Niang Niang kecantol dan rela untuk menjadi isterinya. ia
melupakan kepada Suheng dan J i-su-hengnya . . .
-oo0dw0oo-
Kitab mujijad . . .
It-sin-keng atau 'Kitab Mujijad' tak terlupakan oleh
dunia persilatan, lebih-lebih oleh orang orang yang
pernah mengun-jungi goa ular atau Ketua ketua partai
yang pernah mengirimkan orangnya kesana, tidak
kembali lagi menjadi korbannya hawa racun ular.
Goa ular itu sepi belakangan ini. setelah dunia
persilatan mengetahui sudah ada orang yang masuk dan
keluar lagi dari situ, ialah Hek bin Sin tong, si bocah sakti
Lo In yang sekarang namanya menjadi Kwee In.
Diantara tokoh-tokoh kuat dalam rimba persilatan itu.
Tong-teng Ngo-eng (Lima jagoan dari telaga Tongteng)
yang masih penasaran terhadap Kwee In, yang telah
pecundangi mereka demikian mudah di luar goa ular.
Sejak mereka pulang ke sarangnya, Lima J agoan itu
telah belajar kepandaian pula kepada gurunya Gan Lok
yang bergelar Hwe-liong Coan-in atau si 'Naga Api
menembus mega'.
Gan Lok atau si Naga Api Menembus Mega sudah
berumur enampuluh tahun, tapi ia masih gagah dan
hebat kepandaian»ya. Ia dulunya ada kepala bajak di
telaga Tong Teng, belakangan kepingin hidup tenteram,
ia serahkan pimpinan pekerjaan membajak kepada Tong-
teng Ngo-eng, yang menjadi anak muridnya.
Ia diam mengasingkan diri dalam satu pulau kecil
disekitar telaga Tongteng yang dinamai Ceng-to atau
pulau Tenang.
Ketika Tong-teng Ngo eng gagal mendapatkan lt
sinkeng, mereka lantas pulang menemui gurunya di
Pulau Tenang. Di-sana ia berunding dengan gurunya hal
It-sin-keng.
Biasanya Gan Lok tidak acuhkan soal apa juga yang
diajukan anak muridnya, tapi kali ini ia mendengar
tentang Kitab Mujijad karangannya Kong In Sianjin dari
Siauw Lim-sie hatinya sangat tertarik dan dengan serius
berunding dengan anak muridnya.
„Sepanjang penuturan kalian," menyatakan Gan Lok.
„Hek bin Sin-tong itu tentu sudah meyakinkan lt-sin-keng
makanya ia ada demikian lihay telah menjatahkan tokoh
tokoh kuat seperti Tek Hie Tojin dari Bu-tong-pay, Hui
Hong dan dan Hui Kong kedua Taysu dari Siauw-lim-
pay, Carania menjatuhkan lawan juga demikian
mempersonakan, mungkin aku juga bukan tandingannya
. . ."
„Tecu rasa tidak sampai begitu," bantah Go Tat, murid
yang paling tua. „Benar Hek-bin Sin tong dapat
merobohkan kami, itulah lantaran kelemahan kami saja.
tapi apabila Suhu mendidik pula kepada kami, untuk
memperdalam kepandaian, pasti dengan bantuan Suhu
dapat kami layani si Bo-cah Sakti itu dan kita rampas It-
sin-keng dari tangannya!"
Gan Lok tertarik hatinya. „Kalau demikian, baik kalian
belajar lagi dengan sungguh-sungguh supaya dalam satu
dua tahun ini kepandaian kalian meningkat dan kiia
sama-sama mencari Hek-bin Sin-tong. Kalau lebih lama
dari dua tahun, alu kha-watir Kitab Mujijad itu jatuh
ditangan orang lain, sungguh sayang sekali . . ."
demikian sang Suhu menyalakan pikirannya.
Sejak itulah Tong-teng Ngo-eng telah dididik lebih
jauh oleh Gan Lok.
Memang hebat kepandaian kepala bajak tua itu. Ia
melepas anak muridnya menja-goi ditelaga Tongteng
tempo hari kepandai-annya baru tujuh bagian sudah
sangat li-hay, sekarang lima orang she Go itu diberikan
pendidikan pula dua bagian, menjadi sembilan bagian
kepandaiannya Gan Lok yang diturunkan, tentu saja
bukan main lihaynya.
Diantaranya yang sangat lihay adalah Go Tat dan Go
Ciat (loako dan J iko dari Lima jagoan dari telaga
Tongteng), lantaran kecerdasan mereka lebih menonjol
dari tiga saudaranya yang lain.
Semakin kepala besar Tong-teng Ngo-eng mendapat
tambahan kepandaian dari gurunya, mereka yakin bahwa
dengan kepandaian mereka sekarang dapat
mengalahkan Kwee ln, apalagi kalau mereka dibantu oleh
gurunya yang berjanji akan turut pergi mencari si bocah.
Demikian, sebelum berangkat mereka telah menyebar
orang untuk menyelidiki dimana berdiamnya Kwee ln itu.
Lama mereka menanti kabar dari orang- orangnya yang
disebar luas, akhirnya salah satu orangnya ada yang
pulang dan memberi laporan bahwa Kwee ln sekarang
ada di lembah Tong hoag-gay.
„Menurut kabar," Go Liang, si pemberi kabar cerita.
„Kwee ln si Bocah Sakti ada anaknya Kwee Cu Gie
Tayhtap dan Lamhay Mo Lie . . ."'
„Apa kau kata?" memotong Go Tat tiba-tiia.
,,Si bccah ada anaknya Kwee Cu Gie dan Lamhay Mo
Lie," sahut Go Liang.
Go Tat kerutkan alisnya. Ia mendengar Kwee Cu Gie
ada satu Tayhiap dan Lamhay Mo Lie ada pendekar
wanita yang sukar dilayani kepandaiannya. Kalau mereka
turun tangan membantu Kwee In, terang pengharapan
Tong-teng Ngo-eng sia-sia saja.
Go Tat menanya: „Apa Kwee Cu Gie dan Lamhay Mo
Lie juga ada dilembah Tong hong-gay? Dan berapa
banyak Kwee In pembantunya disana?"
„Kwee Cu Gie dan Lamhay Mo Lie tidak bersama Kwee
In," sahut Go Liang. „Ia di sana hanya ditemani oleh dua
gadis jelita yang kalau salah mereka itu bernama Bwee
Hiang dan Eng Lian."
„Kwee Cu Gie dan Lamhay Mo Lie sendiri ada
dimana?" tanya Go Tat.
„Aku dengar mereka ada di Coa-kok mengepalai Ang-
hoa pay."
„Bagus, kalau begitu kita boleh pergi ke sana
berurusan dengan Kwee In."
Empat saudaranya Go Tat menyetujui pikiran sang
Toako;
„Mari kita kabarkan kepada Suhu, bagaimana ia punya
pikiran tentang laporan yang kita terima dari Go Liang,"
mangajak Go Tat kepada empat saudaranya
Mereka dengan menggunakan perahu cepat telah
pergi menemui gurunya di Cengto.
Ketika mereka berunding, Gan Lok me-nyatakan
pikirannya: „Kwee Cu Gie sudah terkenal kepandaiannya,
sedang Lamhay Mo Lie orang bilang ada sangat sukar
dilayani karenakepandaiannya susah diukur. Memang
juga, kalau mereka berdua turun tangan membantu
anaknya, kita bisaberabe. Bukan saja It-sin-keng kita
tidak dapat, maiah bukanuya mustahil kita menemui
halanganyang tidak diingini."
„Habis, sekarang bagaimana pikiran Suhu?" tanya Go
Tat bingung.
„J alan terus!" jawab sang guru. ..Kita serbu lembah
Tong-hong-gay dan paksa Kwee In menyerahkan Kirab
Mujijad, urusan dengan Kwee Cu Gie dan "Lamhay Mo
Lie kita boleh pikirkan belakangan!"
Go Tat bertepuk tangan. „Bagus!" katanya, „itu
memang adalah pikiran Tecu."
Demikian mereka telah membuat perjalanan kelembah
Tong-hong gay.
Si Naga Api Menembas Mega Go Lok jalan sendiri,
sedang lima muridnya jalan berkelompok. Sudah
dijanjikan, kalau ada kesulitan diperjalanan, mereka
saling tolong.
Perjalanan kali ini Tong teng Ngo-eng gembira sekali
lantaran diantar oleh gurunya.
Mereka percaya penuh mereka akan berhasil,
manakala tidak ada orang dului merampas It-sin-keng
dari langaniiya si bocah sakti.
Dalam perjalanan itu, sering mereka berjumpa dengan
beberapa tokoh persilatanyang menanyakan soal Kitab
Mujijad, namun, mereka berlagak pilon dengan kitab itu.
Meralo mengatakan bahwa mereka sudah tid.rk
ketarik dengan kitab sakti itu, lantaran tidak ada harapan
untuk memili-kinya, orang orang dapat dibikin mengerti
dengan alasan dari Tong-teng Ngo-eng yang
membohong itu.
Pada suatu hari mereka sampai disebuah dusun,
mereka rasakan perutnya sudah lapar lalu memasuki
sebuah rumah makan, di mana sudah banyak orang
berkumpul makan.
Mereka bicara kasak kusuk dan pasang kuping, kalau-
kalau. juga diantara tamu-tamu yang makan itu ada juga
mereka yang hendak ke Tong-hong-gay.
Ternyata tidak ada orang yang bicarakan soal lembah
Tong-hong-gay, maka kasak kusuknya ada sedikit
kerasan. Pikirnya, taruh kata ada orang yang dengar juga
tidak jadi apa, mereka hanya bicara tentang lembah
Tong-hong-gay, bukannya kitab mujijad. Dsmikian,
mereka asyik sekali berunding.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh orang yang menarik
napas, mereka berpaling kiranya yang menarik napas itu
ada satu wanita yang berwajah buruk. Mereka tidak
ambil perhatian, pikirnya, wanita itu tentu ada
menemukan kesulitan makanya telah menghela napas
tadi sampai beberapa kali.
„Hmm . .! ke Tong-hong gay. . ."tiba tiba terdengar
wanita itu berkata, hingga Go Tat dan empat saudaranya
menjadi terkejut dan mereka semua mengawasi kepada
wanita berwajah buruk itu, tapi wanita itu sama sekali
tidak mengacuhkan reaksi mereka.
Wanita itu minta pelayan tambah arak lagi.
Go Tat dan kawan-kawannya saling pandang.
„Ke Tong-hong-gay . . ," terdengar kembali wanita itu
nyeletuk, setelah menghirup arak yang barusan ditambah
oleh si pelayan. „Ke Tong-hong-gay orang hanya untuk
terima malu daripada berhasil mendapat apa-apa yang
diingin . . ."
Go Tat tidak bisa tinggal diam mendengar itu.
Ia lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri si
wanita tua itu, yang tiada lain adalah nenek bandel kita,
ialah Kim Popo.
„Toaso, apakah kau mendengarkan pembicaraan kami
barusan?" tanya Go Tat pada Kim Popo, seraya ambil
tempat duduk didepan si nenek.
„Aku memang dengar pembicaraan kalian, habis mau
apa?" tanyanya ketus.
„kau kata kalau pergi ke Tong-hong-gay orang hanya
terima malu, apa artinya?" kata Kim Popo terkekeh-kekeh
ketawa.
„Terang, orang kesana hanya untuk terima malu,
jangan harap dapat apa-apa dari sana," Kim Popo kata,
dengan masih ketawa ngekeh.
Go Ciat dan tiga Sandaranya pun pada bangkit berdiri
dan menghimpiri meja Kim Popo, di mana mereka duduk
mengurung si wanita buruk wajahnya.
„Toako, ia bilang apa barusan'.'" lanyu Go Tiat.
,,Aku masih mau menanya, biarkan ia ketawa puas
dulu." sahut Go Tat. rupanya ia lebih sabar dari kawan
kawannya dan ia juga tahu bahwa wanita didepannya ini
beradat aneh, bisa dilihat dari kelakuannya yang angin
anginan dan jawabannya yang ketus.
Sebentar lagi, kapan Kim Popo sudah tenang, Go Tat
menanya pula: „Toa so, apa kau suka jelaskan dengan
peikatanmu barusan itu?"
”Untuk apa aku menjelaskan, kalian coba pergi saja
kesana dan nanti tahu sendiri apa artinya perkataanku
orang kesana hanya untuk terima malu saja."
Go Tat masih dapat menekan perasaan, tidak
senangnya dengan jawaban Kim Popo, tapi si nomor lima
(Go Hiat) tidak tahan, ia mendelu melihat sikapnya si
nenek, la membentak: ,,Apa kau tidak tahu kau bicara
dengan siapa? Hm! Apa kepalamu memang sekeras ini?"
Kreekk! Kreekk! menyusul suara dari patahnya
pinggiran meja makan yang tebal.
Itulah Go Hiat yang unjuk tenaga Iwekangnya bikin
meja orang sempowak.
„Hehe, permainan anak kecil kau unjukkan depan
Popo?" Kim Popo tertawa.
Krek! Krek! Krek! menyusul tiga kayi suara somplaknya
pinggiran meja, hingga Tong-teng Ngo-eng menjadi
melongo melihat kepandaiannya Kim Popo ada lebih
unggul dari sandaranya yang ke lima. Kalau Go Hiat
membuat dua kali pinggiran media somplak tidak rata,
sebaliknya Kim Popo rata dan sama patahan pinggiran
meja yang dipotesnya. maka tidak heran kalau Tong-
teng Ngo eng menjadi heran.
Go Hiat sebaliknya menjadi pucat mukanya.
„Masih ada lagi yang aneh?" Kim Popo menyindir pada
Go Hiat-
Go Hiat mendelik matanya. Ia kumpulkan tenaga
dalamnya, diam-diam ia salurkan melalui meja dan
menyerang Kim Popo.
Kim Popo tahu dirinya diserang, ia juga lantas
kerahkan Iwekangnya dan memukul balik tenaga
dalamnya Go Hiat.
Terdengar suara menjerit, itulah Go Hiat yang
terpental dengan tiba-tiba dari duduknya. Ia duduk lagi
setelah sempo-yongan sebentaran.
Semakin kagumlah Tong-teng Ngo-eng terhadap
lwekang Kim Popo yang hebat.
Tamu-tamu yang lain tidak tahu duduknya perkara,
kecuali Tong-teng Ngo-eng dan Kim Popo, mereka
mengira bahwa Go Hiat tadi terpental dari duduknia
lantaran kesalahan berduduk. Mereka geli tertawa.
Sebaliknya Go Hiat makin pucat mukanya, saking
menahan amarahnya tak terlampiaskan.
„Toaso, aku . . ." kata Go Tat, bakal meneruskan
perkataanya, karena Kini Popo memotong, katanya:
„J angan panggil aku Toaso, panggil saja Popo!"
Go Tat tertawa. Dalam hatinya geli, kenapa wanita
didepannya lebih suka dipanggil Popo (nenek) dari pada
Toaso, melihat umurnya hampir bersamaan dengannya?
Mengetahui bahwa Kim Popo kelihatan adatnya angin
anginan, Go Tat tidak banyak cingcong, ia memanggil
Popo. Katanya: „Popo, sukalah kau memberi tahukan
keadaan dilembah Tong hong gay, apakah kau pernah
kesana?"
„Nah, ini baru aku senang, kau panggil Popo, rasanya
hubungan kita lebih akrab. . , Hehehe . . ." kata Kim
Popo, lucu lagaknya si nenek.
Go Tat dan kawan kawannya saling memandang.
Toako dari Tong teng Ngo-eng itu mengedipkan
matanya, seperti melarang untuk diantara mereka bicara
dengan Kim Popo dan kasikan ia sendiri yang berurusan.
Saudara sandaranya paham dengan kedipan sang
Toako, maka mereka pada membisu.
„Popo. coba ceritakan keadaan disana!" berkata Go
Tat dengan manis budi.
Kim Popo menyengir. „Kau sebenarnya siapa?" tanya
Kim Popo,
„Aku si orang she Go nama Tat. kepala rombongan
dari Tong- teng Ngo eng."
„Bagus! Kalian enak-enak di telaga Tongteng, untuk
apa pergi kelembah Tong-hongtay yang sangat
berbahaya itu?”
„Itu ada urusan kami pribadi, ingin bertemu seseorang
disana."
..Aku tahu, kau tentu ingin ketemu dengan Hek-bin
Sin-tong."
Go Tat melengak heran la menanya: „Dari mana Popo
tahu?"
„I ulah tak usah kau kata juga sudah aku tahu dari
gerakan kalian. Kalian memasuki lembah Tong-hong gay
mau mencari si bocah sakti. Itu baik, kalau kalian
berhasil dengan maksud kalian, tapi aku kuatir kalian
kesana hanya untuk mencari malu saja. Si bocah dibantu
dengan dua budak liar itu tak dapat diatasi
kepandaiannya. Apalagi mereka dibantu oleh kawan-
kawannya yang berupa binatang goriila. kawanan
monyet kecil dan ... ah, aku jadi ngeri oleh itu binatang."
„Ngeri oleh binatang apa, Popo?" tanya Go Tat
kepingin tahu.
„Oh. itu burung raksasa yang membikin aku setengah
mampus dipermainkan . . ."
Go Tat saling lihat dengan saudara-saudaranya.
„Toako dari Tong-teng Ngo-eng itu sangat pandai
mengorek rahasia, la sudah capat menyelami adatnya si
nenek, maka ia minta pelayan tambah arak wangi lagi. Ia
loloh Kim Popo dan benar saja si nenek dapat menutur
panjarg lebar pengalamannya dilembahTong hong gay.
Satu penuturan yang membikin mereka ragu ragu untuk
pergi kesana.
Selagi Go Tat kasak kusuk dengan saudara
sandaranya. tiba tiba masuk tiga imam dari Ceng-shia-
pay. Mereka kelihatan sangat jumawa lagak nya.
Duduk mereka tidak jauh dari Go Tat dan kawan
kawannya termasuk Kim Popo.
Tidak heran kalau pembicaraan mereka yang agak
keras dapat didengar oleh Go Tat dan yang lain lainnya.
Go Tat dengar salah satu imam itu berkata: „Kita dari
Ceng-shia dengan Kian-san Sam sian ada hubungan baik,
sebab mereka juga ada bekas murid dari Ceng shia.
Meskipun ada beberapa perbuatannya yang tak dapat
dibenarkan, mereka adalah orang kita juga, maka kalau
kita mendengar kematiannya itu sangat mengerikan di
lembah Tong-hong-gay, apakah kita bisa tinggal diam?
Hm! Kita harus menuntut balas, aku tidak perduli bocah
itu ada sangat sakti atau tidak?"
„Suko, kau jangan terlalu menuruti napsu hatimu,"
terdengar kawannya meayelak
„Aku dengar Giam Pek cerita, mereka mati bukan
ditangannya si bocah sakti, tapi di-tangannya kawanan
gorilla piaraannya. Kita menuntut balas pada kawanan
gorilla sudah cukup, untuk apa kita bikin onar menantang
Hek-bin Sin-tong segala."
„Kau memangnya takut?" bentak sang Sufi o kasar.
„Aku bukannya takut, menurut kabar Hek-bin Sin-
tong, sangat hebat kepandaian-nya, aku sangsi kalau kita
bertiga bisa menempurya "
”Hm!" mendengar sang Suko, tapi ia tidak kata apa-
apa.
Go Tat mendengar itu semua percakapan. Ketika ia
hendak buka mulut bicara, terdengar Kim popo
menyindir; „Kalian hanya tiga gelintir, pergi kesana
hanya menjadi permainannya kawanan gorilla saja. Apa
sih kebecusan kalian, berani ke Tong-hong-gay?"
Tiga imam Ceng shia-pay itu bernama Tong Leng,
Tong Seng, dan Tong Keng. Mereka mencilak matanya
mendengar jengekan Kim Popo.
„Perempuan wajah buruk, kau mengomel?" bentak
Tong Leng bengis.
„Aku mengomeli kalian yang tidak tahu diri!" jawab
Kim Popo kontan.
„Kau berani menghina pada orang Ceug-shia-pay?"
bentak Tong Leng.
„J angan lagi macam Ceng shia meskipun Bu tong aku
berani maki kalau hatiku tidak senang dengan
kelakuannya orang yang membikin sebal hatiku!"
„Kau berani omong besar? Apa sih kepandaianmu?"
menyelak Tong Keng.
„Tak usah kalian ke Tong hong-gay, dengan nenekmu
saja di sini bertempur, tanggung kalian tidak punya jalan
buat lari menyembanyikan ekormu!"
Panas hatinya Tong Leng. Ia melupakan makanan
yang sudah dipesan, lantas saja ia melompat keluar dan
menantang Kim Popo untuk bergebrak diluar rumah
makan.
„Apa kau kira nenekmu takut? Hm" menggerang Kim
Popo, tubuhnya menyusul mencelat keluar enteng sekali
gerakannya.
Go Tat dan saudara-sandaranya menyusul keluar
hendak mengamati.
Disana Kim Popo sudah bergebrak dengan Teng Leng.
Hebat pedangnya Teng Leng menyerang lawannya. tapi
lebih hebat tongkatnya Kim Popo seperti yang menari-
nari diatas kepalanya lawan. Kagum Go Tat dan kawan
kawan melihat kepandaiannya Kim Popo.
Kim Popo gesit sekali, sebentar saja ia dapat
mendesak lawannya dan kewalahan.
Melihat saudara tuanya didesak musuh, Tong Seng
dan Tong Keng tak dapat tinggal peluk tangan. Mereka
dengan serentak menyerbu dan mengeroyok Kim Popo.
Go Tat melihat itu tidak senang, ia sudah mau
anjurkan saudara-saudaranya turut nyerbu berdiri
dipihaknya si nenek, akan tetapi batal, karena ia ingin
lihat dulu bagaimana perlawanannya si nenek di keroyok
tiga orang.
Untuk keterkejutannya, Go Tat melihat tiga lawannya
tidak dapat menyulitkan si nenek, yang mainkan
tongkatnya dengan tenang saja.
„Awas!" tiba tiba si nenek berseru lantas disusul
dengan suara 'trang' trang! tiang!' tiga kali, menyusul
pedangnya Tong Leng dan dua saudaranya pada terbang
dibentur oleh tongkatnya Kim Popo yang berat.
Tiga imam itu kuncup nyalinya melihat kelihayan
musuh.
Dengan tangan masih kesemutan mereka memungut
kembali pedangnya masing-masing.
„Masih mau bertempur?" mengejek Kim Popo, ketika
melihat lawannya sudah pada memegangi senjatanya
pula.
Tong Leng hanya gergetan dalam hati, tapi tidak
berani banyak omong. Ia nge-loyor diikuti oleh dua
saudaranya. Mereka tidak jadi makan, sebab tidak masuk
pula kedalam rumah makan, banya jalan melewati pintu
rumah makan itu untuk pergi kelahi rumah makan
rupanya.
Go Tat ingin cari keterangan tentang Tong Leng dan
kawan-kawan, maka seketika itu ia suruh adiknya yang
ketiga, ialah Go Hiap, untuk membereskan rekening
makanan, sedang ia sendiri diikuti oleh tiga saudaranya
menyusul Tong Leng dan dua saudaranya yang benar
saja telah mencari rumah makan lain.
Sementara itu Kim Popo tidak lama sudah masuk
kembali. Ketika ia mau tanya rekening makanan, ditolak
oleh kasir, karena harga makanan dari Kim Popo sudah
dibayari oleh Go Kiap. Kim Popo ketawa urung
mendengar uang makannya dibayari orang. la hanya
mengasih persen kepada jongos yang melayaninya tadi.
setelah mana ia juga ngeloyor pergi meninggalkan rumah
makan itu.
Mari kita melihat Go Tat yang menyusul Toug Leng
dan kawan kawan.
Ia dan saudara-saudaranya duduk tidak jauh dari
mereka, memesan makanan tidak banyak, sebab barusan
mereka sudah manangsel perutnya
„Nenek wajah buruk itu benar benat hebat, kita
bertiga tak dapat menang," memuji Tong Keng, ketika
mereka mulai menyicipi makananyang sudah disiapkan
oleh pelayan.
„Memang tinggi kepandaiannya, tapi tunggu, asal aku
sudah dapat beberapa tipu seranganyang baru dari
Susiok, dan kita cari ia untuk menentukan siapa unggul!'
sahut Tong Leng, yang masih penasaran kepada Kim
Popo.
Selagi mereka membicarakan Kim Popo, Go Tat
gunakan kesempatan itu untuk menimbrung. Ia datang
ke mejanya Tong Lerg dan kawan-kawan, dimana ia
duduk memperkenalkan diri nya, hingga Tong Leng dan
kawan kawan menjadi kaget.
Mereka memang sudah mendengar tentang Tong-teng
Ngo eng, tapi belum pernah ketemu muka orangnya,
sekarang mereka dapat kesempatan berkenalan, terang
mereka sangat senang hatinya dan mengundang juga
saudara-saudaranya Go Tat untuk duduk bersama sama
satu meja mencicipi hidangan.
Sebentar lagi mereka sudah berkumpul.
Go Tat sangat pandai mengambil hati, dalam
pembicaraannya itu tentu saja ia berpihak pada Tong
Leng dan kawan kawan, dan ajak menjeleki Kim Popo
yang adatnya aneh.
Mereka senang Go Tat dan kawan-kawan berpihak
pada mereka.
Omong-omong tentang lembah Tong-hong-gay. Go
Tat dapat keterangan lebih jelas. perihal kebinasaannya
Kian-san Sam-sian dan dua orang dari Hok pak Sam
niauw yang telah pergi kesana. Diam diam Go Tat
membenarkan perihal berbahayanya orang yang pergi
menyatroni lembah Tong-hong-gay. Ia menanya: ,.Tong
Leng Toriang bagaimana pikir tentang lembah berbahaya
itu, apakah juga mau paksa menyatroni kesana?"
Tong Leng Tojin tak menjawab, hanya matanya
mengawasi kepada Go Tat.
Setelah sejenak berlalu, Tong Leng balik menanya:
„Go-heng sendiri bagaimana?"
„Kami mau kesana, apapun yang akan terjadi dengan
kami," sahut Go Tat.
„Bagaimana kalau kami turut meramaikan?" tanya
Tong Leng Tojin.
„Bagus, itulah harapan yang aku ingini. Kalau Totiang
bersedia untuk jalan sama-sama kita kesana itu ada lebih
baik, kita banyak kawan ada lebih baik. Disana kita dapat
membagi tenaga, manakala menghadapi lawan banyak."
Senang hatinya Tong Leng Tojin, ma-tanya mengedip
pada dua kawan nya.
Go Tat sebenarnya keberatan dengan turut nya tiga
imam itu, sebab akan menjadi berabe manakala It-gin-
keng dapat dimiliki, ketiga imam itu mana mau mengerti?
Tapi, melihat kepandaiannya barusan mereka tidak
seberapa, Go Tat ada mempunyai rencan tertentu, ialah
ia bawa tiga imam itu kesana untuk bantu melawan Hek-
bin Sin-tong, kalau sampai berhasil mendapatkan Kitab
Mujijad ia dengan empat saudaranya akan membunuh
tiga imam ini manakala mereka mencari musuh.
Sementara Teng Leng dilain pihakk juga mencari
keuntungan pergi nya mereka kesana, mereka mau
mengandalkan bantuan dari Tong teng Ngo eng,
manakala mereka berhasil mendapatkan It sin keng akan
membunuh satu persatu lima jagoan dari telaga Tong-
leng itu.
J adi masing masing telah mempunyai rencana sendiri-
sendiri, namun tertutup, masing masing tidak
mengakuinya. Dasar orang jahat, selalu rakus dan ingin
memiliki sesuatu untuk sendiri saja.
Demikian mereka telah jalan sama-sama.
-oo0dw0oo-

J ILID 7
BAB-19

TIAP KALI ketemu kawan-kawan di-perjalanan mereka
tidak mengaku hendak kelembah Tong-hong gay, mereka
membohong, katanya dalam perjalanan untuk pesiar
saja.
Masing-masing melamunkan Kitab Mujijad dapat
dimilikinya.
Seperti dikatakan disebelah atas, pinggiran pinggiran
sebelah depan lembah sudah banyak petani yang
bercocok tanam. Go Tat dan kawan-kawan telah mencari
keterangan dari mereka tentang tempatnya Hek-bin Sin-
tong, namun mereka tidak ada yang tahu.
Mereka mengira orang tidak mau memberi tahu, tapi
sebenarnya mereka memang tidak tahu kalau
dipedalaman lembah ada penghuninya. seorang bocah
luar biasa kepandaiannya.
Go Tat dan kawan-kawannya meneruskan perjalanan
masuk kepedalaman.
Memasuki lembah Tong-hong-gay sebenarnya ada
sangat menyenangkan, banyak pemandangan yang
dapat dilihat. Burung-burung ramai berkicau, kawanan
monyet banyak sekali dari satu cabang kelain cabang
berlompatan.
Kawanan monyet itu sangatlah jail, sebab saban-saban
mereka telah ditimpuki oleh bebuahan dari sebelah atas.
Datangnya timpukan ada sangat santer, kurang cepat
berkelit pasti akan menjadi korban dan kepala benjut.
Demikian telah terjadi dengan Go Hiat yang
meremehkan timpukan sang kawanan kera, ia kena
timpukan jitu belakang kepalanya dan kontan tambah
daging.
Bukan main marahnya Go Hiat, ia mengambil batu dan
balas menimpuknya.
Barangkali lebih baik Go Hiat tidak balas menimpuk,
sebab lantaran ia menimpuk, membuat kawanan kera itu
menjadi murka dan buah-buahan pating seliwaran
ditimpukkan dengan gencar sekali, hingga Go Hiat dan
kawan-kawan kewalahan dan pada lari kelapangan
terbuka.
Sedang enak-enak mereka jalan, tiba-tiba mendengar
suara meringkik tajam, itulah suara si Burung Rajawali
yang mendatangi. Mereka sedang melihat datangnya
burung raksasa itu. Tidak lari, mereka menanti
sampainya si Rajawali Emas yang luar biasa besarnya.
Dari kejauhan mereka lihat diatas punggungnya si
Rajawali seperti ada dua orang yang menungganginya.
"Mereka mengira itulah Hek-bin Sin-tong, maka
dengan hati berdebaran mereka menanti tibanya si
burung Rajawali. Masing-masing siap dengan senjata
rahasianya masing masing, untuk digunakan dimana
perlu apabila nanti berhadapan dengan Hek bin Sin tong.
Baru saja mereka siap, serangkum angin menyambar
keras dan membuat mereka terpelanting beberapa meter
jauhnya dari tempat berdirinya tadi. Itulah kebasan
sayap si burung raksasa. Dengan susah payah mereka
bangun lagi, belum juga membereskan pakaiannya yang
kusut, kembali angin keras menyambar tiba dan lagi-lagi
mereka terlempar dan bergulingan diatas rumput
beberapa meter jauhnya.
Kiranya si Rajawali yang sudah lewat telah balik lagi
dan mengebaskan sayapnya, mempermainkan Go Tat
dan kawan-kawan. Bukan main marah mereka
dipermainkan si burung raksasa.
Tiba tiba mereka mendengar suara cekikikan, itulah
suara ketawanya Bwee Hiang dan Eng Lian diatas
punggung si burung raksasa. Mereka mentertawakan Go
Tat dan kawan-kawan yang bergulingan disambar angin
kebasan sayapnya si Rajawali Emas.
Tampak burung raksasa itu belum mau pergi dan
masih melayang-layang diatas kepala mereka, hingga Go
Tat dan kawan-kawan menjadi jerih. Lama mereka tidak
berani bangun, karena khawatir dikebas oleh sayap si
Rajawali Emas, sambil mencari akal kemana mereka
harus berlindung untuk menghindarkan serangan si
burung raksasa.
Tidak jauh, disebelah kanan mereka, ada terbentang
jalanan yang banyak pepohonan bercabang. Mereka
pikir, dengan lari kesana, pasti si burung raksasa tak
dapat menyusulnya karena sayapnya terhalang oleh
banyak cabang pohon.
Setelah mendapat pikiran itu, Go Tat mengajak
kawan-kawannya kesana.
Benar saja Kim-tiauw tak berdaya menghadapi
pepohonan yang banyak cabangnya.
Go Tat memperhatikan si burung raksasa menukik
turun dengan cepat sekali. Tahu-tahu ia sudah
mendekam ditanah, untuk menurunkan muatannya, ialah
dua dara jelita.
Bwee Hiang dan Eng Lian turun dari punggungnya si
Rajawali dengan gayanya yang lemah lunglai sambil
cekikikan ketawa.
"Sungguh cantik dua dara itu...." terdengar Tong Leng
Tojin memuji.
Tong Leng Tojin memang ada imam yang tidak teguh
imannya dan suka main perempuan.
Melihat wajahnya Bwee Hiang dan Eng Lian sangat
cantik, tentu saja ia tak dapat menutup mulut untuk tidak
mengeluarkan pujiannya.
Diam-diam yang lain juga memuji kecantikannya dua
dara itu.
Mereka tidak berani keluar, melihat si Rajawali
mendekam dengan kerennya.
Tong Leng Tojin girang melihat Bwee Hiang dan Eng
Lian jalan mendatangi.
"Nona nona, selamat ketemu!" ia menyapa, keiika dua
dara itu sudah datang dekat.
"Hidung kerbau kau mau apn datang kemari?" Eng
Lian menanya.
Hidung kerbau, adalah perkataan olok-olok untuk
imam ( tosu ).
Tong Leng Tojin tidak senang diolok-olok oleh Eag
Lian dengan kata kata hidung kerbau.
"Nona, kau menghiba dengan mengucapkan kata-kata
itu!" tegurnya pada si dara.
"Memangnya kau mau apa?" sahut Eng Lian berani.
"Kau anak perempuan kecil tidak tahu urusan, lekas
kau pangggil Hek-bin Sin-tong datang kemari untuk
bertemu dengan Toaya!" Tong Leng Tojin kata dengan
sombong.
"Hek bin Sin tong?" Eng Lian mengulangi. "Aku tidak
kenal dengan Hek-bin Sin-tong."
"Hahaha..." tertawa Tong Leng Tojin. "jangan
bergurau, lekas panggil ia untuk ketemu Toaya, nona
kecil. Kau manis be.., Aduhh...!"
Itulah Bwee Hiang yang menyentilkan sepotong
ranting kecil menghajar mulutnya si imam yang ngaco-
belo. Eng Lian melihat encinya menghajar si imam telah
ketawa cekikikan, sedang Tong Leng Tojin yang tak
dapat meneruskan bicara meringis-ringis memegangi
mulutnya yang kesakitan.
"Kau main gila sama Toaya!" bentak Tong Leng Tojin
sengit.
"Totiang, harap sabar dahulu, aku mau bicara,"
menyelak Go Tat, yang lain maju mendekati Bwee Hiang
yang baru saja berhenti ketawa.
"Maaf nona," kata Go Tat ramah. "Memang
kedatangan kami adalah urusan dengan Hek-bin Sin-
tong, maka tolonglah nona beritahukan dimana kami
dapat menemuinya?"
"Ada urusan apa kau hendak menemui Hek-bin Sin-
tong?" balik menanya Bwee Hiang.
"Kami ada urusan pribadi dengannya," sahut Go Tat.
"Kalian ini siapa?" menyelak Eng Lian.
"Kami berlima ada Tong-teng Ngo-eng, sedang ini tiga
Totiang ada dari ceng-shia-pay."
"Wah, di telaga Tongteng tentu banyak pemandangan
yang indah indah," nyeletuk Eng Lian bersenyum manis,
matanya melirik pada Bwee Hiang.
"Sudah tentu," sahut Go Tat. "Kalau urusan kami
dengan Hek-bin Sin-tong disini sudah selesai. dengan
hormat kami undang nona nona jalan-jalan kesana untuk
melihat-lihat pemandangan indah-indah. Sekarang, harap
nona tolong kasi tahu dimana kami dapat bertemu
dengan Hek bin Sin-tong?"
"enci Hiang, kasi tahu sudah..." Eng Lian kata pada
Bwee Hiang.
Bwee Hiang anggukkan kepala. Ia berkata: "Kalau kau
jalan terus dari sini, setelah menemukan dua tikungan.
ketemu tikungan yang ketiga kau boleh membelok ke
kiri, disanalah ada Hek-bin Sin-tong."
"Terima kasih, nona." kata Go Tat, seraya angkat
tangannya bersoja.
Bwee Hiang membalas sebagaimana mestinya.
Go Tat adak kawan kawannya berlalu. Belum berapa
langkah, Tong Leng yang dari tadi merengut wajahnya
dan mengomel, berkata pada Go Fat. "Go-heng, kita
disini masih asing, apa tidak lebih baik minta dua nona
itu mengantarkan kita?"
Go Tat anggap pikiran itu baik. maka ia pun memutar
tubuhnya dan balik lagi kepada Bwee Hiang, yang masih
berdiri belum berlalu. Ia berkata dengan hormat:
"Nona, kalau kau tidak keberatan, apakah suka
mengantarkan kami kesana?"
"Kau dengan kawan-kawan bukan anak kecil. takut
apa? Kenapa mesti diantar segala?" kata Eng Lian,
wajahnya yang cantik mengulum senyuman.
"Bukan demikian, nona," sahut Go Tat, yang tetap
sabar. "Kami adalah orang-orang dari luar, asing dengan
keadaan jalanan disini, maka ada baik sekali kalau ada
pengantarnya, agar lebih mudah menemukan orang yang
dicari."
"Mari kita antar mereka, adik Lian!" mengajak Bwee
Hiang. seraya kakinya bergerak jalan, diikuti oleh Eng
Lian.
Senang Go Tat melihat dua dara itu suka
mengantarkan mereka.
Tone Leng Tojin ketawa disana. Ia bukan lantaran
kepingin diantar, maksnd sebenarnya adalah ia tidak mau
berpisahan dengan dua dara jelita itu, yang menarik
hatinya. Pikirnya, kalau ia bisa dapat salah satu saja
untuk dijadikan permainannya, ia rela umurnya dikurangi
sepuluh tahun!
Dalam perjalanan untuk menemui Hek-bin Sin-tong-.
Tong Leng Tojin banyak buka suara besar dan memuji
dirinya sendiri yang berilmu silat tinggi dan banyak orang
yang mengagumi, malah diantaranya banyak pendekar-
pendekar wanita memuji dirinya.
Eng Lian dan Bwee Hiang saling pandang mendengar
nyerocosnya si imam memuji dirinya sendiri, diam diam
mereka merasa sebal disamping merasa geli ingin ketawa
nampak lagaknya si imam yang sok aksi.
Tidak lama, mereka sudah sampai di-tempat tujuan.
"Paman," kata Bwee Hiang pada Go Tat. "Sekarang
sudah sampai ditempat tujuan, maka silahkan kalian
jalan terus. Disana nanti ketemu dengan sebuah gubuk,
dalam gubuk itulah Hek-bin Sin-tong. sedang
beristirahat."
Go Tat kegirangan. Sambil manggut-manggut ia
mengucapkan terima kasih, kemudian ajak kawan-
kawannya meneruskan perjalanan. Tong Leng Tojin
ketinggalan dibelakang, karena ia masih berat untuk
berpisahan dengan dua dara cantik itu.
"Kenapa kau tidak ikut kawan-kawanmu?" tegur Eng
Lian ketawa.
"Aku masih berat untuk berpisahan dengan kalian,"
jawab Tong Leng juga ketawa.
Bwee Hiang kerutkan alisnya. Pikirnya: "Imam busuk,
kau benar benar tidak tahu diri. Sudah kuberi sedikit
hajaran masih belum kapok!"
Tong Leng nampak Bwee Hiang kerutkan alisnya
menduga bahwa si nona juga merasa berat berpisahan
dengannya, imam muda cakap yang berkepandaian
tinggi, maka ia semakin berani. Ia berkata pula. "Nona-
iiona. kalian tinggal dalam lembah snnyi ini. paling baik
kalau kalian ikut aku saja dan tinggal dikota untuk
bersenang-senang.."
"Enci Hiang. mulutnya imam bau ini kurang ajar
benar!" kata Eng Lian.
"Adik Lian, kau selot mulutnya," sahut Bwee Hiang.
Eng Lian ketawa mendengar encinya menganjurkan ia
menghajar si imam. Ia membentak: "Imam bau. kau
berani kurang ajar pada nonamu? Hm! Ini kau rasakan !"
Seiring dengan kata katanya tubuhnya Eng Lian
berkelebat dan tahu tahu plak! plok! kontan Tong Leng
Tojin terhuyung-huyung dan jatuh mendeprok.
merasakan kesakitan ditampar oleh Eng Lian. Ia heran
tamparan demikian keras mulutnya tidak borboran darah.
tapi untuk kekagetannya ia rasakan tubuhnya tidak
bertenaga dan sukar bangun seperti kena ditotok.
Mukanya jadi picat dan ketakutan.
barusan Eng Lian telah gunakan salah satu jurus dari
Lamhay-ciang-hoat (ilmu pukulan dari Lautan Kidul).
yang dinamai 'Lam-hay liu-sui' atau 'Air mengalir dari
Laut Kidul' yang dulu ia pernah gunakan terhadap Lie
Kiang.
Dua kali tamparan itu keras sekali. tapi gigi tidak copot
dan mengeluarkan darah mulutnya, sebaliknya, tubuh
tidak bertenaga seperti yang tertotok. gerak tipu 'Lam-
hay liu-sui' demikian liehay ciptaannya Lamhay Mo Lie,
ibunya Kwee In.
Bwee Hiang dan Eng Lian mentertawakan Tong Leng
Toojin yang tidak berkutik duduk ditanah, Eng Lian
menggodai: "Mana kepandaianmu yang barusan kau
banggakan? Hm! Hanya punya sedikit kepandaian untuk
mengusir anjing saja sudah lantas tepuk dada sebagai
Taihiap. Untung aku masih mau mengampuni, kalau
tidak, sekarang kau sudah mampus, imam bau!"
Tong Leng Tojin malu bukan main. Ia masih tebalkan
muka berkata: "Kali ini aku kalah, tapi masih ada lain
waktu kita bersua kembali, nona kecil. Aku mulai Iihat,
apa pada waktu itu kau masih banyak lagak terhadap
aku..."
Bwee Hiang dan Eng Lian ketawa terkekeh kekeh.
"Imam bau," kata Bwee Hiang: "jangan kau mengimpi
ketemu adikku lain kali, sekarang saja kau masih belum
tentu dapat keluar dari lembah!"
Tong Leng Tojin terkejut. Tapi ia tidak mau unjuk
kelemahan, ia menyahut: "Nona manis, kau juga nanti
aku tangkap hidup-hidup untuk melampiaskan
penasaranku?"
"Imam tidak tahu diri!" bentak Bwee Hiang marah,
menyusul kakinya bergerak menendang, hingga tubuh si
imam mencelat keatas dan terbanting jatuh lagi kira-kira
dua tombak jauhnya dari tempat ia duduk mendeprok.
Terang tendangan Bwee Hiang keras, sebab si imam
tampak tak sadarkan diri.
"Adik Lian, mari kita pergi!" mengajak Bwee Hiang,
setelah melampiaskan marahnya kepada imam yang
mulutnya kotor itu.
Eng Lian ketawa cekikikan nampak encinya marah,
tapi segera ia mengikuti dibelakang Bwee Hiang berlalu
dari situ.
Hek-bin Sin-tong...
Mengikuti petunjuk Bwee Hiang, benar saja Go Tat
dan kawan-kawannya menemukan sebuah gubuk dalam
rimba kecil. Girang mereka melihat Bwee Hiang tidak
mendustai mereka. Dengan pikiran tegang perlahan-
lahan mereka menghampiri gubuk tersebut, yang
besarnya lumayan juga dapat dimasuki beberapa orang.
"Mana Tong Leng Totiang?" tanya Go Tat pada Teng
Seng.
"Sebentar lagi ia akan menyusul," sahut Tong Seng,
yang tahu bahwa kakak seperguruannya itu paling gemar
pipi licin dan tentu ketinggalan, lagi pasang omong
dengan dua jelita tadi.
Go Tat tidak mengacuhkan ketidak hadiran Tong Leng,
ia terus saja mengajak kawan-kawannya mendekati
gubuk tadi. Perlahan-lahan ia mengetuk pintunya.
"Hek-bin Sin-tong, kami Tong-teng Ngo-eng dan
kawan-kawan dari ceng shia datang berkunjung, harap
kau terima dengan baik...!" berkata Go Tat.
Tapi tidak ada reaksi dari sebelah dalam.
Lama ditunggu masih juga belum kedengaran apa-
apa. Go Tat ulangi perkataannya tadi. Setelah beberapa
saat ditunggu tidak ada reaksi apa-apa, Go Hiat yang
berangasan telah menyeletuk: "Toako, untuk apa pakai
seji-seji, dobrak saja pintunya dan kita semua masuk,
kita lihat apa ia bisa bikin terhadap kita beramai!"
"Itu baik pikiran baik!" Tong Keng menyetujui.
Adatnya Go Hiat dan Tong Keng memang hampir
sama, tidak sabatan dan berangasan.
Go Tat yang pikirannya panjang. tidak mau
sembarangan merusak rumah orang. ia masih mau
menunggu setelah untuk ketiga kalinya ia ulangi
perkataannya.
Setelah mana, Go Tat juga tidak punya pilihan lain dari
pada dengan paksa membuka pintu itu. Tapi pintu
seperti dipalang dari sebelah dalam, hingga agak sukar
mereka membukanya.
"Hek-bin Sin-tong, pengecut, kau tidak berani keluar"
bentak Go Hiat, menyusul gempuran keras pada pintu
gubuk. Ia sendiri barangkali tidak berhasil menggempur
pintu gubuk, tapi oleh karena dibantu oleh kawan-
kawannya, maka pintu itu dapat dibuka dengan paksa.
Mereka pada menerobos masuk kedalam.
Tapi, aduh..., mak..., hampir mereka berlompatan
keluar lagi kalau tidak merasa sudah keterlanjur masuk,
Kiranya mereka disambut oleh tiga gorilla, bukannya Hek
bin Sin-tong seperti dikatakan Bwee Hiang.
Go Liat, Go Hiat, dan Tong Keng yang nyalinya kecil,
menggigil berhadapan dengan tiga gorilla yang
dengarkan suara har! hor! yang menyeramkan dan bikin
mengkirik bulu tengkuk melihat giginya ketika
menyeringai besar-besar seperti bercaling.
"Kurang ajar budak liar itu telah menipu kua!" berkata
Go Liat, yang jadi panas hatinya telah kena ketipu oleh
Bwee Hiang.
Go Tat tidak bisa kata apa-apa, hanya ia siapkan
senjata pedangnya.
Melihat Go Tat mencabut pedang, Siauw-hek
menubruk dan merampas dengan seenaknya saja dan
pedang itu kontan di-patahkan.
Kaget Go Tat melihat gorilla bisa silat.
juga Tong Seng dan Go Kiat pedangnya sudah kena
dirampas dan dipatahkan oleh Toa-hek dan ji-hek. Buas
tampaknya suami isteri gorilla ini, sebab mereka bukan
hanya mematahkan senjata orang saja, tapi sudah
menyerang dengan kedua tangannya yang kasar pada
Tong Seng dan Go Kiat.
Dalam gugup Go Kiat tak dapat mengelakkan diri,
tangannya kena dipegang oleh ji hek. Ngek! ia dibanting
keras dan pingsanlah orang ketiga dari Tong-teng Ngo-
eng.
Tong Seng berontak-rontak dipegang lengannya oleh
Toa-hek, belum tahu apa apa, ia rasakan tangannya
berbunyi keretakan, itulah tulang tulang lengannya yang
patah diremas oleh Toa-hek yang tangannya sangat
kuat. Tong Seng jatuh pingsan.
Tong Keng sampai terkencing kencing bersama Go
Hiat nampak keganasannya kawanan gorila itu. Mereka
hendak angkat kaki lari keluar tidak bisa, karena kakinya
mendadak menjadi lemas. Tidak demikian dengan Go Tat
dan Go ciat, mereka masih dapat lompat keluar, cuma
saja sebelum lari jauh sudah kena dicandak dan
badannya Go Tat diangkat tinggi-tinggi oleh Toa-hek,
kemudian dibanting. Sekali bersuara ,ngek! napasnya
dirasakan macet dan ia pingsan.
Dilain pihak Go ciat juga mengalami nasib serupa dari
Siauw-hek, malah ia lebih menyedihkan. Setelah dipuntir
dulu tangan kanannya sampai patah, baru badannya
diangkat dan dibanting keras, kontan napasnya juga
berhenti! Kasihan. gara-gara mau serakahi Kitab Mnjijad,
Go ciat harus mengalami kematian konyol dalam lembah
Tong-hong-gay. Tampak Siauw-hek masuk lagi kedalam
gubuk dan menyeret Tong Keng keluar.
Setelah perdengarkan suara har ! hor ! seperti
membentak-bentak, Siauw hek menggempur dada Tong
Keng dengan tinjunya, kontan seketika itu si imam roboh
memuntahkan darah segar. Siauw-hek diliat korbannya
nasih belum mati. ia lantas mengangkat tubuh Tong
Keng tinggi-tinggi, lalu dibanting keras. Ngek! dan
jiwanya Tong Keng melayang.
Paling belakang tampak ji-hek keluar dengan
menenteng Go Hiat.
Go Hiat ketakutan setengah mati, ia menjerit-jerit
minta tolong. Ia mau minta tolong kepada siapa?
Nasibnya tentu tidak lebih beruntung dari kawan-
kawannya yang lain.
Dengan perdengarkan suaranya yang aneh, ji-hek
mengangkat tubuhnya Go Hiat dan hendak dibantingnya,
hingga Go Hiat semangatnya sudah terbang lebih dahulu.
Pada saat itulah...
Tiba-tiba ji-hek menjerit dan roboh terkulai, hingga
membikin Siauw hek dan Toa-hek sangat kaget. Mereka
perdengarkan suara cecowetan dan datang memeriksa ji
hek yang matanya mendelik dati mulutnya berbusa.
Toa-hek dan Siauw hek menjadi kebingungan.
Tiba-tiba Toa hek menjerit dan ia juga jatuh
tersungkur, keadaannya tidak berbeda seperti isterinya
tadi, matanya mendelik dan mulutnya berbusa.
Siauw hek berkaok-Kaok minta tolong. Tring! Tring!
terdengar suara terbawa oleh angin pegunungan.
Tampak jatuh dua buah senjata rahasia yang berupa
bor.
"Manusia hina, kau berani ganggu kawanku!"
menyusul terdengar bentakan empuk.
Itulah suaranya Bwee Hiang.
Kiranya ji hek dan toa hek telah dibokong orang
dengan senjata rahasia bor beracun. Dan Siauw-hek juga
hampir menjadi korbannya, kalau tidak keburu Bwee
Hiang dan Eng Lian sampai.
Bwee Hiang awas matanya. Begitu mendengar jeritan
Toa hek ia lantas pasang mata dan melihat ada sesosok
bayangan yang sembunyi digerombolan alang-alang.
Orang itu ketika menerbangkan pula senjata
rahasianya, Bwee Hiang sudah siap dengan batu kecil
untuk memukul jatuh. Demikian telah terdengar suara
tring! tring' saling susul, itulah suara benturan senjata
rahasia bor yang dipukul jatuh oleh batu kerikil yang
disentilkan Bwee Hiang.
ternyata jago betina kita sudah pandai caranya
menyentilkan batu kerikil, buktinya ia dapat membikin
jatuh senjata rahasia orang itu yang telah menerbangkan
senjata gelapnya dengan diberikutkan tenaga dalam.
Orang itu keluar dari gerombolan tatkala mendengar
bentakan Bwee Hiang.
Eng Lian sementara itu telah memburu kepada Toa-
hek dan ji hek yang memerlukan pertolongan. cepat-
cepat ia keluarkan pil mujarab dari sakunya ke-mulut dua
gorilla korban bor beracun itu tadi.
Eng Lian agak bingung juga kelihatannya. Matanya
celingukan dan mengharap munculnya Kwee In untuk
menolong dua gorillanya. Dilain pihak ia lihat enci
Hiangnya sudah berhadapan dengan si pembokong,
seorang kakek dari usia enam-puluh lebih, tapi gesit dan
kuat, badannya agak gemuk-gemukan.
Ia ternyata tiada lain adalah Hwe liong coan-in, si
Naga Api Menembus Mega.
Si Naga Api Gan Lok seperti dikatakan diatas, ia jalan
berpisah dengan lima muridnya memasuki lembah Tong-
hong-gay. Ia datang agak terlambat, sampai empat
muridnya kena dipersulit oleh kawanan gorilla. Ketika ia
melihat murid bontot-nya, Go Hiat ditenteng keluar oleh
ji-hek. Ia sangat kasihan murid bontotnya berkaok-kaok
minta tolong, hatinya terkesiap tatkala menyaksikan ji-
hek mengangkat tubuhnya Go Hiat dan hendak
dibanting. Pada saat itulah ia menimpuk dsngan senjata
rahasia bornya, hingga ji hek roboh setelah
mengeluarkan jeritan.
Melihat murid muridnya telah menjadi korban dari
kawanan gorilla itu, hatinya Gan Lok menjadi gusar,
maka setelah ia menghajar ji hek, bornya lalu meminta
korhan Toa hek. Syukur, ketika ia hendak mengambil
korban Siauw-hek perbuatannya keburu ketahuan oleh
Bwee Hiang yang telah memukul jatuh bornya.
Sungguh terkejut si Naga Api nampak senjata
rahasianya dapat dipukul jatuh oleh si jelita. maka ketika
ia berhadapan dengan Bwee Hiang ia telah berkata:
"Nona, hebat kepandaianmu! Sayang nona secantik kau
keluyuran dilembah yang sunyi ini."
"Aku keluyuran dilembah sunyi, ada hubungan apakah
dengan kau ?" bentak Bwee Hiang.
Si Naga Api ketawa menyeringai, tampak tegas banyak
cacat pada wajahnya, bekas senjata tajam mampir
rupanya.
Matanya yang tajam berwibawa membuat nona kita
agak terkejut, karena orang ini Iweekangnya sangat
hebat.
"Hubungan mnla-muia memang tidak ada," sahut si
Naga Api. "Tapi, mulai hari ini kita ada hubungan. nona
manis. Hahaha...!"
Bwee Hiang gusar melihat orang ketawa dan sikapnya
kurang ajar.
"Siapa kau?" tanya Bwee Hiang, ia menekan
kegusarannya.
"Aku adalah Hwe-liong coan-in dari telaga Tongteng,"
sahut si Naga Api.
Terkejut hatinya si nona. Ia pernah dengar ayahnya
(Liu Wangwee) dulu cerita. bahwa di telaga Tangteng
ada seorang bajak laut bernama Gin Lok bergelar Hwee
liong coun-in, disamping tersohor keganasannya juga
tersohor kelakuannya yang gemar paras elok. Kalau satu
waktu Bwee Hiang berhadapan dengan bajak laut itu, ia
harus hati hati jangan sampai ke ia ditangkap, sekali
jatuh dibawah pengaruhnya ludaslah pengharapan untuk
menjadi nyonya rumah yang baik, sebab bajak laut itu
akan mempermainkan korbannya sesuka hatinya sampai
sang korban kewalahan dan habis tenaganya.
Mengingat akan cerita sang ayah, Bwee Hiang jadi
keder juga menghadapi bajak laut yang sekarang berdiri
didepannya. Meskipun demikian, ia percaya akan
kepandaiannya sendiri ajaran adik kecilnya. Diam-diam ia
berdoa supaya buru buru muncul Kwee In, yang akan
melindungi dirinya dari keganasannya si bajak laut
Melihat Bwee Hiang seperti tak takut mendengar
namanya, Gin Lok si Naga Api ketawa menyeringai, ia
berkata: "Nona, aku tadi kata, mula mula kita tidak ada
hubungan, tapi sekarang ada, lantaran mulai hari ini kau
menjadi orangku..."
"Tutup mulutmu yang kotor!" bentak Bwee Hiang.
"Adub galak betul..." si Naga Api ngeledek. "Kau tidak
akan segalak ini, kalau nanti sudah rasakan main-main
dengan si Naga Api. Hahaha..."
Bwee Hiang merah selebar mukanya mendengar
perkataan-perkataan tidak genah dari Gan Lok.
Untuk tidak mendengar ucapan-ucapan yang tidak
enak untuk telinganya lebih jauh, si nona sudah cabut
pedangnya dan menyerang si Naga Api.
Gan Lok juga mencabut goloknya dan menangkis.
"Kau mau main-main? Bagus, kau lihat kepandaian
bakal pacarmu!" Gan Lok menggodai.
Wajah Bwee Hiang cemberut penuh kebencian. ingin
ia sekali tusuk dengan pedangnya si Naga Api dadanya
tembus dan mampus seketika, cuma keinginannya sukar
dilaksanakan, Gan Lok lebih kuat Iwekang-nya dari si
nona.
Pertempuran memang hebat, Bwee Hiang telah
keluarkan seluruh kepandaiannya. Ia sangat gesit dan
lincah, berputaran ia bagai bayangan diseputar dirinya
Gan Lok.
Pedang menari-nari mengarah bagian-bagian yang
mematikan ditubuh Gan Lok, akan tetapi si Naga Api
memberikan perlawanan dengan tenang. Bagaimana
gesit dan lincahnya si nona, kewalahan juga menghadapi
musuh yang melayaninya dengai tenang dan lwekangnya
lebih tinggi darinya. Perlahan lahan Bwee Hiang mandi
keringat juga.
Pikirnya: "Kurang ajar, kenapa kau alot amat?
Sungguh menyebalkan lama lama kau melayani nonamu!
Oh, kemana si bocah? Kenapa belum muncul? Oh, kalau
aku sampai terjungkal oleh si Naga Api, habislah
pengharapanku untuk membalas budinya adik In. Aku
tidak bisa menang, hanya adik In yang dapat
mengalahkannya..."
Meskipun sudah keder, nona jagoan kita masih dapat
melayani si Naga Api dengan baik. Sayang, nyatanya ia
yang keteter, agak gugup ia ayunkan pedangnya yang
lincah tadi.
Si Naga Api tahu Bwee Hiang kedesak, sambil ketawa
haha hehe, ia merangsak rapat hingga Bwee Hiang
benar-benar gugup. 'Trang!' terdengar suara beradu
senjata dan pedang Bwee Hiang jatuh ditanah.
Si nona jagoan berdiri bengong bagai terpaku.
Sampai begitu jauh ia menghadapi musuh, belum
pernah menemukan musuh yang kosen seperti si Naga
Api. jadi Bwee Hiang baru ketemu batunya.
Melihat Bwee Hiang berdiri bengong, si Naga Api tidak
mau lewatkan kesempatan. Ia dekati Bwee Hiang dan
tiba-tiba merangkul, hingga si nona sangat kaget. Ia
merontak-rontak untuk kemudian ia rasakan seluruh
badannya lemas kena ditotok oleh Gan Lok.
Bwee Hiang tak berdaya ketika si Naga Api dengan
bernapsu menciumi wajahnya.
Si nona hanya bercucuran air mata. ia tidak bisa bela
dirinya lagi, karena tidak bertenaga, badannya lemas dan
kasikan dirinya dipondoug pergi oleh si Naga Api. Eng
Lian sementara itu tidak perhatikan Bwee Hiang dalam
bahaya, karena ia sedang repot dengan ji-hek dan Toa-
hek yang keadaannya sangat menguatirkan.
Ia percaya enci Hiangnya dapat mengatasi lawannya
yang hanya satu orang, ia tidak begitu perhatikan.
Namun alangkah kagetnya tatkala pandangannya
diarahkan kepada Bwee Hiang yang sedang bertempur,
ia nampak enci Hiangnya tidak ada berikut juga
lawannya. Ia menduga Bwee Hiang menguber
musuhnya, maka ia tingpal tidak bergerak dan terus
repot menolongi dua gorillanya yang masih belum mau
sadar dari pingsannya. Kesal hatinya si dara nakal,
melihat Kwee In sampai saat itu masih belum kelihatan
muncul. Pikirnya: "Kemana adik In pergi? Ah, bocah itu
enak-enakan saja, sedang aku gelabakan menghadapi
Toa-hek dan ji-hek dalam keadaan pingsan. Kemana enci
Hiang? juga enci Hiaug keterlaluan, untuk apa menguber
musuh Sedang aku dalam keadaan kebingungan begini?"
Eng Lian main sesalkan sana-sini.
Tiba-tiba ia mendengar siulan, itulah siulan Kwee In.
Wajah Eng Lian berseri-seri, ia juga lantas perdengarkan
siulannya sebagai sambutan bahwa ia ada disitu.
Tidak lama Kwee In sudah sampai.
Kaget si bocah nampak keadaan Toa-hek dan ji-hek
yang napasnya sudah empas empis tinggal menantikan
waktu.
"Adik In, kau kemana saja? Kau bikin encimu
kebingungan.....," Eng Lian omeli Kwee In, yang tidak
meladeni si dara, sebaliknya si bocah dengan sungguh
sungguh telah menggunakan kepandaiannya mengurut
dan menggunakan Iweekangnya untuk merebut jiwanya
Toa hek dan ji hek dari bahaya maut.
Ternyata ji-hek dapat Kwee In tolong, dengan
mengeluarkan racun dari lukanya. ji-hek rupanya tidak
begitu parah kena bor beracun si Naga Api, sebaliknya
dengan Toa-hek jiwanya tak tertolong, dan ia mati tidak
lama kemudian. Kwee In sudah keluarkan juga racun
bor, namun, karena racun dalam tubuhnya Toa-hek
sudah tercampur dengan darah, dan telah beredar begitu
rupa dalam tubuhnya, maka si orang hutan tua telah
melayang jiwanya.
Kwee In menangis melihat Toa-hek mati, begitu juga
Eng Lian tampak berkaca-kaca matanya menangis
kehilangan teman yang setia. Sementara Sauw-bek
berkaok-kaok seperti kalap melihat ayahnya meninggal
dunia. ji-hek sementara itu masih belum siuman betul,
tidak tahu ia kalau suaminya sudah tiada.
Dengan sangat berduka, Kwee In dan Eng Lian telah
mengubur jenasahnya Toa-hek.
Setelah itu Kwee In baru ingat keadaan disekitarnya
dan melihat mayat-mayat pada malang-melintang. Go
Tat dan empat saudaranya sudah jadi mayat, sedang
Tong Seng dan Tong Keng Tojin juga jiwanya telah
melayang.
Kwee In ingat pada Bwee Hiang, ia menanya pada Eng
Lian: "Enci Lian, enci Hiang kemana tidak kelihatan?"
-ooOdwOoo-

BAB-20
ENG LIAN ceritakan Bwee Hiang setelah bertempur
dengan orang yang melepaskan senjata rahasia bor, ia
sangat repot menolong Toa-hek dan ji-hek dan
melupakan enci Hiangnya. Ia menduga Bwee Hiang
menguber musuhnya.
Kwee In Ialu bicara dalam bahasa monyet pada
Siauw-hek untuk membawa ibunya masuk kedalam
gubuk, tempat mereka tinggal. Siauw-hek lantas jalankan
perintah Kwee In, ia pondong ji-hek dibawa masuk
kedalam gubuknya.
Setelah Kwee In memberikan pula pil mujarabnya
untuk ji-hek makan, si bocah lantas tarik tangan Eng Lian
diajak keluar gubuk.
"Mari kita cari enci Hiang!" katanya.
Mereka mencari Bwee Hiang dengan terpencar, ialah
Eng Lian naik Si Rajawali sedangkan Kwee In
menggunakan ginkangnya. Mereka berjanji, siapa yang
lebih dulu menemui Bwee Hiang mengasi tanda dengan
siulan.
Sampai hari sudah menjadi remang-remang gelap,
Kwee In dan Eng Lian bertemu lagi, Bwee Hiang tidak
kedapatan dicari. Dua anak muda itu menjadi gelisah.
Kemana Bwee Hiang sudah pergi? Mereka serentak
meragukan kemenangan Bwee Hiang atas musuhnya,
sebab kalau si nona unggul, pasti ia sudah balik mencari
kawan-kawannya. Mungkin juga Bwee Hiang sudah kena
kejebak tipu muslihat musuh dan kena ditawan.
Demikian dugaan-dugaan yang berkecamuk dalam
benaknya dua muda mudi itu.
Kemana sebenarnya Kwee In pada waktu itu?.
Kwee In melihat datangnya banyak musuh kuat, ia
bagi tenaga dengan Bwee Hiang dan Eng Lian. Dua
gadisnya ia suruh memancing Go Tat dan kawan-kawan
datang ke gubuknya Toa-hek, sedang ia sendiri
mencegat enam orang imam dari Kong-tong-pay. Orang-
orang Kong-tong-pay ini yang datang ini bukannya
angkatan muda, mereka dari angkatan tua semuanya.
Sengaja menyatroni lembah Tong-hong gay hendak
meminta It sin keng dari Kwee In .
Seperti yang lain-lain, mereka juga tidak kenali Kwee
In, sebab Kwee In atau Hek-bin Sin tong mukanya hitam
legam.
Ketika menanya pada Kwee In halnya Hek-bin Sin-
tong, Kwee In memberikan jawaban seperti yang sudah
sudah, yaitu ia adalah kacungnya Hek bin Sin-tong dan
kalau ada apa-apa keperluan harap disampaikan
kepadanya untuk diteruskan kepada-Hek bin Sin-tong.
Mereka tidak nyana kalali Hek-bin Sin tong adalah
pemuda yang dihadapi saat itu-
Enam imam dari angkatan tua itu semuanya galak-
galak dan merasa dirinya jago, maka ucap katanya
kepada Kwee In sangat kasar dan menjengkelkan.
Kwee In timbul kenakalannya dan mengolok-olok
enam imam itu, hingga kesudahannya mereka sangat
marah dan bertempur dengan Kwee In.
Tadinya Kwee In hanya bermaksud mempermainkan
enam orang imam itu dengan kepandaian ilmu
meringankan tubuhnya, tapi ternyata mereka adalah
lawan lawan alot dan tidak mudah dipermainkan si
bocah. Serangan serangan yang dilakukan mereka
sangat ganas, membuat Kwee In jadi kurang senang,
maka ia gunakan jurus istimewa yang ia dapat dari It-sin-
keng ialah Thay-hong sen sio atau 'Badai menimbulkan
ombak'. Tangannya berkelebatan menyambar dan
kakinya menyapu dengan hebat, hingga jeritan saling
susul terdengar. Enam imam itu semuanya telah
dijatuhkan oleh Kwee In.
Sungguh hebat gerak tipu Thay-hong-seng po, tak
tegas terlihat oleh enam imam itu bagaimana Kwee In
bergerak, sebab tahu-tahu mereka saling susul roboh
setelah mengeluarkan jeritan kesakitan.
Beberapa orang patah tangan, ada yang kakinya,
hingga tatkala Kwee In meninggalkan mereka, semuanya
masih duduk mendeprok dengan merintih-rintih.
Kwee In khawatirkan enci Hiang dan enci Liannya,
maka tidak ada tempo ia mengurusi enam imam
pecundang itu. Ia segera enjot tubuhnya melesat dan
mencari dua gadisnya. Kebetulan diperjalanan ia
kesamplokan dengan Tong Leng Tojin-
Ia dicegat dan ditanyakan perihal Hek-bin Sin-tong
dimana tempatnya.
Dalam mendongkolnya, Kwee In sudah menggaplok
Tong Leng sampai ia jatuh pingsan.
Mungkin Tong Leng mati, karena gaplokan Kwee In
keras dengan menggunakan Iwekang.
Ia sampai ketempat Eng Lian sudah terlambat. Toa-
hek tidak ketolongan. sedang enci Hiangnya diculik oang
entah kemana?
Seperti dikatakan, Kwee In dan Eig Lian wataknya
aneh, tidak suka memikirkan sesuatu urusan lama-lama,
mereka gampang melupakannya. Demikian dengan
hilangnya Bwee Hiang, hanya satu dua malam mereka
memikirkannya, setelah itu lantas mereka melupakannya.
Watak yang aneh dari kedua majikannya, menular
kepada Siauw-hek dan ji hek rupanya. Kematian Toa-hek
lewat dua-tiga hari sudah tidak dipikirkan oleh mereka,
itu ternyata dari kegembiraan mereka dalam bercanda.
Siauw-hek yang badannya lebih besar dari Toa-hek
rupanya lebih disenangi oleh ji-hiek, sering kelihatan ibu
dan anak itu duduk merapat dan bercanda meliwati
batas.
Dilihat dari gerakan mereka, ji-hek, menjadi genit
setelah lenyapnya Toa-hek, dan Siauw-hek kelihatan
sudah 'matang' untuk main cinta. Sering Eng Lian pergoki
dua binatang itu berpeluk-pelukan dengan mesra, apa
yang mereka pikirkan si nona tidak tahu, tapi yang nyata
dara cilik kita melihat pada suatu hari ji-hek duduk
dipangkuannya Siauw-hek, matanya si gorilla betina
memancarkan cahaja aneh dan saban-saban mengedip
seperti merasakan nikmat, pinggulnya bergerak-gerak
seperti gelisah duduk dipangkuan anaknya.
Eng Lian geli ketawa melihat ji-hek dalam pangkuan
Siauw-hek demikian rupa, kapan ia melihat kearah Siauw
hek, anak gorilla ini kedua tangannya sedang menekan-
nekankan paha ibunya dan pinggulnya ji-hek bergerak-
gerak entah kenapa.
Eng Lian ketawa cekikikan melihat gerak-gerik dua
orang hutan itu seperti serius menggerakkan bagian
tubuhnya. Sebentar lagi Eng Lian terbelalak matanya
melihat ji-hek dengan tiba-tiba melepaskan diri dari
pangkuan Siauw-hek dan lari, diuber oleh Siauw hek
yang 'perkakasnja' berdiri tegak.
ji-hek kena dicandak dan dipaksa oleh Siauw-hek
untuk mengulangi adegan tadi, sang ibu mula-mula
berontak-rontak dan perdengarkan suara aneh, tapi
lama-lama menyerah dan duduk terpaku dipangkuan
sang anak dengan mata kedap-kedip ke jurusan Eng Lian
yang menonton adegan itu.
Lama ji-hek mainkan pantatnya yang dipeluk erat oleh
Siauw-hek. Ketika sang anak melepaskan pelukannya, ji-
hek tidak lari, sebaliknya telah mengusap-usap kepalanya
Siauw hek yang telah bangun berdiri. tapi sekarang Eng
Lian tidak nampak barang yang berdiri tegak keras tadi
dari anak gorilla itu.
Hati dara nakal itu berdebaran, mengerti ia sekarang
apa yang dilakukan oleh ibu dan anak gorilla itu.
Membayangkan ji-hek memejamkan matanya seperti
merasakan nikmat diatas pangkuannya Siauw-hek tiba-
tiba saja Eng Lian menjadi gelisah. Wajahnya dara cilik
kita yang cantik jelita mendadak menjadi merah jengah.
Pada saat iuilah Kwee In muncul. Si nakal tidak tahu
apa yang sedang dipikirkan oleh enci Liannya, tiba-tiba
saja telah merangkul dan mencium pipi orang.
"Adik In, kau suka nakal begini." kata Eng Lian seraya
berontak melepaskan diri dari pelukan si bocah, sedang
wajahnya makin jengah saja dan hatinya berdebaran.
Eng Lian menundukkan kepala. Tidak biasanya ia
berlaku demikian, maka Kwee In menanya: "enci Lian,
kau kenapa?"
"Tidak, oh tidak..," sahut Eng Lian seraya angkat
kepalanya dan coba ketawa. "Aku memikirkan enci
Hiang, entahlah ia sekarang ada dimana?"
Dengan tiba-tiba saja soal Bwee Hiang meluncur dari
mulutnya Eng Lian, yang sebenarnya sudah dilupakan.
Saking kedesak mencari alasan, maka sekenanya saja
Eng Lian berkata. justeru lantaran alasan itu, membikin
Kwee In jadi teringat akan dirinya Bwee Hiang. Ia
mengkerutkan keningnya, kemudian berkata: "Enci Lian,
entah siapa lawannya itu tempo hari? Aku tidak kenal
senjata rahasia beracun itu, ini musti kutanyakan kepada
ayah, baru bisa tahu."
Eng Lian tidak menyahut, sebab bukan urusan Bwee
Hiang yang ia pikirkan. Ia sedang memikirkan urusan ji-
hek dan Siauw-hek tadi yang membikin ia gelisah. Ibu
dan anak itu tidak segan-segan melampiaskan napsu
berahinya. yang bagi manusia adalah pantangan besar,
anak dan ibu melakukan hubungan sex.
Ketika Eng Lian dapat menenangkan debaran hatinya
pula, ia menyahut: "Adik In, rasanya tak usah kita
tanyakan pada ayah-mu, kita berdua dengan perlahan-
lahan saja mencarinya pasti akan kita dapatkan lawan
enci Hiang itu. Dan juga enci Hiang kepandaiannya
sangat tinggi, aku tidak khawatir ia kena dipersulit
lawannya."
Kwee In terhibur hatinya.
"Mari kita pesiar dengan Kim-tiauw!" mengajak Kwee
In, seraya tangannya diulur menarik tangan Eng Lian.
Eng Lian terkejut. Ia membayangkan kalau ia duduk
diatas punggung si Rajawal1 bersama-sama Kwee In
pada saat itu, mungkin hatinya yang gelisah tak
tertahankan dan mencurigakan adik Innya. Ia tidak mau
adik in-nya 'main gila' terlalu siang terhadap dirinya,
seberapa bisa ia akan mempertahankan diri dari godaan
setan
"Adik In, kepalaku rada pusing, maka kau sendiri yang
pergi pesiar..." kata si gadis seraya menarik tangannya
pulang dari cekalan Kwee In.
"Apa enci sakit?" tanya Kwee In, seraya mengulur
tangannya dan memegang dahinya si nona, yang diam
diam hatinya dak dik duk khawatir adik Innya tahu ia
bohong.
Tetapi ia menjadi girang, ketika ia dengar Kwee In
berkata: "enci Lian benar agak panas dahimu, maka kau
jangan turut pesiar, biarlah aku yang pergi."
Setelah mengecup pipinya si dara nakal, Kwee In
lantas meninggalkan enci Lian-nya dan terbang dengan si
burung Rajawali entah kemana?
Eng Lian tinggal sendirian. Matanya memandang
kearah dahan dari pohon dimana ji-hek dan Siauw-hek
memperlihatkan adegan yang membuat hatinya
berdebaran dan gelisah, hatinya kecewa karena dua
monyet besar itu sudah tidak ada lagi disana.
Biasanya pada saat saat seperti itu, Eng Lian dan
Bwee Hiang bersenda-gurau seraya merapikan rumah
dan memasak hidangan untuk sebentar makan malam.
Namun, sekarang Bwee Hiang tidak ada, ia tinggal
sendirian, Eng Lian menjadi kesepian. Seharusnya
barusan ia turut saja dengan Kwee In dan pulang baru
memasak nasi atau tidak sama sekali, mereka cukup
kenyang dengan makan buah-buahan saja. Gara-gara
dua binatang gorilla iiu membuat Eng Lian segan turut
pada Kwee In pesiar dengan kapal terbangnya. Apa
kelakuannya itu benar atau tidak ia tidak tahu, namun
hatinya tetap galisah sampai pada waktu itu, meskipun ia
mencoba menghiburnya dengan merapihkan keadaan
rumah dari barang barang yang berserakkan. Itulah
pekerjaannya Kwee In kalau bocah itu ada dirumah. apa
saja ia pegang dan menaruhnya kembali sembarangan.
Eng Lian duduk diserambi belakang menantikan
baliknya Kwee In.
Ia membayangkan pada kejadian-kejadian yang
lampau, sejak ia diculik Ang Hoa Lobo dan kemudian
dijadikan Kim coa Siancu- Ia ingat akan kebaikannya
Lamhay Mo Lie, yang memandang dirinya sebagai
anaknya sendiri. Ia mendapat didikan dan kepandaian
tinggi dari Lamhay Mo Lie, yang belakangan ternyata
wanita cantik itu adalah ibu kandungnya Kwee In,
pemuda yang menjadi pujaannya.
Bagaimana senangnya ia membayangkan saat-saat
bahagia disisinya Kwee In, sebaliknya tiba-tiba saja
badannya menggigil kapan ia membayangkan saat-saat
ia berada dalam cengkeramannya Tiat cie Hweshio. Ia
dikasi makan obat perangsang, hingga napsu berahinya
bergelora tak terlahankan dan hampir ia menjadi
korbannya si Hweshio jari Besi manakala tidak ada Bwee
Hiang yang kebetulan menyatroni kuil Thiau-ong-bio dan
menolong dirinya dari bahaya perkosaan.
Ia sangat berterima kasih kepada enci Hiangnya itu.
Entahlah Bwee Hiang sekarang ada dimana? Ia tiba tiba
ketawa geli kapan mengingat waktu itu ia digodai enci
Hiangnya, yang menyamar sebagai lelaki. Bagaimana
Bwee Hiang telah meremas-remas tetenya dan kemudian
ia membalas perbuatan Bwee Hiang itu dikala sang enci
kena dibius.
Tiba tiba lamunannya terhenti tatkala ia mendengar
suara pekikan si burung Rajawali.
"Adik In datang!" kata Eng Lian seraya bangkit dari
duduknya dan memburu keluar.
Namun, alangkah kecewanya diluar ia hanya dapatkan
si burung raksasa yang sedang mendekam, sedang si
bocah Sakti tidak kelihatan mata hidungnya.
Bingung Eng Lian. Ia menghampiri si Rajawali dan
mengelus-elus kepalanya. Ia berkata: "Tiauw heng,
kemana adik In? Kenapa kau pulang sendirian? Lekas
kau katakan padaku, dimana sekarang adanya adik In?"
Burung raksasa itu tak dapat menjawab pertanyaan
Eng Lian yang nyerocos, ia hanya menggeleng gelengkan
kepalanya.
Eng Lian makin bimbang hatinya, karena dari
mulutnya si burung raksasa ia tidak bisa mengorek
keterangan kemana perginya Kwee In?
Sampai malam ditunggu ternyata Kwee In tidak
pulang.
Gelisah hatinya si dara cantik, tidak tahu apa yang
harus diperbuatnya.
Bwee Hiang...
Kemana si nona sudah dibawa pergi oleh Hwee liong
coan-in Gan Lok?
Dengan memiliki si cantik Bwee Hiang, tampak Gan
Lok tidak memperdulikan anak-anak muridnya lagi, ia
kabur terus keluar lembah, khawatir kepergok oleh Hek-
bin Sin-tong.
Belum jauh ia meninggalkan lembah Tong-hoag-gay,
ia berpapasan dengan tiga orang Hweshio. Ia dicegat,
lantaran tiga Hweshio itu curiga Gan Lok lari dengan
memanggul seseorang dipundaknya.
"Berhenti!" bentak salah satu Hweshio itu, rupanya
adalah kepala rombongan.
Gan Lok sebenarnya tidak mau hentikan larinya. kalau
tidak dengan kegesitan luar biasa dua Hweshio yang
lainnya mencegat sambil lintangi tongkatnya.
Si Naga Api tertawa tergelak gelak ketika tampak
jalannya dicegat.
"Kita tidak kenal satu dengan lain, kenapa kalian
mencegat aku?" tanyanya.
"Kau membawa orang dipundakmu, tentu kau bukan
orang baik-baik?" menyindir salah satu paderi itu dengan
ketawa nyengir.
"Lekas kau letakkan orang itu, untuk kami periksa!"
paderi lainnya memerintah.
"Kalian dari gereja mana?" tanya si Naga Api.
"Haha, kau tanya gereja kami? Asal kau dengar tentu
kau ketakutan!" kata si Hweshio pemimpin.
"BoIeh jadi aku ketakutan. nah, sebutkanlah nama
kuilmu!" kata si Naga Api pula.
"Kami dari Pek-wan-bio, kau tentu sudah kenal kuil
kami itu, bukan?"
"Pek-wan-bio..." menggnmam si Naga Api.
"Ya, Pek wan-bio!" mengulangi si Hweshio tadi, ia lihat
si Naga Api seperti jerih mendengar disebutnya nama kuil
itu.
"Tunggu aku taruh dulu adikku sebentar!" kata si Naga
Api, ia segera menghampiri dekat pohon, ia turunkan
Bwee Hiang dikasi duduk bersandar pada bongkol pohon.
Bwee Hiang tak berkutik, karena ditotok, ia hanya
menurut saj.adikasi duduk oleh si Naga Api, sementara
hatinya ingin berteriak minta tolong kepada tiga paderi
itu, cuma mulutnya sukar digerakkan untuk
mengeluarkan suaranya.
Maka, si nona hanya matanya saja yang kedap-kedip
mengawasi kepada tiga paderi yang mencegat tadi,
justeru kawanan paderi itu tengah memandang
kearahnya.
Kawanan paderi itu tahu kalau si nona dalam keadaan
tertotok, ingin ia memberikan pertolongan, cuma saja
mereka tidak berani sembarang bergerak melihat Gan
Lok yang kelihatan sangat gesit dan hebat Iwekangnya,
meskipun sudah berusia lanjut.
"Kau mengatakan adikmu, teapi kenapa kau totok si
nona?" bentak kepala rombongan Hweshio tersebut.
"Aku menotok lantaran ia nakal," sahut si Naga Api
ketawa.
"Kau tentu orang jahat, makanya sudah perlakukan
seorang nona baik baik demikian."
"KaIau aku orang jahat, memangnya kalian mau apa?"
mengejek Gan Lok.
"Kau lepaskan si nona, akan kami kasi ajaran hidup
untukmu!"
Si Naga Api ketawa terbahak bahak, suaranya nyaring
menusuk telinga, hingga kawanan paderi itu merasa
keder dibuatnya.
"Kau siapa sebenarnya?" salah satu dari tiga paderi itu
bertanya.
"Aku sekarang ingat, kau ini tentu adalah Hok Tek,
Hok Sek dan Hok Lek Taysu."
"Ya, memang kami adalah seperti apa yang disebutkan
olehmu!" kata Hok Tek. "Kalau kau tahu dengan siapa
kau berhadapan. kau lekas merdekakan si nona, baru
urusan beres!"
Hok Tek dan dua saudaranya memang pengrus dari
Pek-wan-bio (Kuil Lutung Putih), mereka adalah anak
murid Siauw-lim-sie tidak langsung, suhunya ialah Tok
Kak Hweshio adalali murid Siauw-lim-sie yang telah diusir
dari perguruan karena perbuatannya rada menyeleweng.
Tok Kak Hweshio tinggi kepandaiannya, maka murid
muridnya juga berkepandaian tinggi.
Oleh sebab itu, Hok Tek dan dua saudaranya sangat
sombong. memandang bahwa kepandaian mereka
sangat tinggi dan sukar menemukan tandingannya.
Disamping banyak terdengar perbuatan-perbuatan
Hok Tek Hweshio dan kawan-kawannya yang tidak
benar. juga terkenal mereka sangat telengas. Dan lain
caranya memungut dermaan untuk kuilnya, mereka suka
menetapkan tarip sendiri terhadap orang-orang hartawan
yang dikunjunginya. Kalau yang bersangkutan tidak
menurut maunya, tahu sendiri, malamnya akan disatroni
dan dikacaukan rumah tangganya, misalnya anak gadis
atau isterinya si hartawan diculik.
Karena itu, banyak hartawan yang dimintai derma oleh
mereka selalu tidak banyak omong, asal rumah
tangganya selamat.
Maksud mereka mendatangi lembah Tong-hong gay
juga ada satu maksud dengan orang orang rimba
persilatan lainnya, ingin menemukan Hek bin Sin-tong
untuk minta Kitab Mujijad. Mereka sebenarnya datang
berempat dengan gurunya, ialah Tok Kak Hweshio, tapi
mereka disuruh jalan lebih dahulu lantaran sang guru
kecandek oleh urusan lain.
"Kau tanya aku siapa? Buka telinga, kalian lebar-lebar
supaya mendengar tegas, aku adalah Hwe-lieng Coan-in
Gan Lok dari Hong tong-ouw!" Gan Lok menerangkan.
Hok Tek dan dua saudaranya kaget bukan main.
"Kau, kau bukankah Gan locianpwee yang sudah cuci
tangan dan hidup senang di pulau ceng To (pulau
Tenang)?" berkata Hok Tek kaget. Keder juga hatinya
sekarang.
"Ya, memang aku sudah istirahat di ceng-to," sahut si
Naga Api. "Cuma saja aku dapat panggilan orang halus,
untuk datang kelembah Tong-hong-gay menyambut
adikku ini, ialah jodohku untuk di hari tuaku!" kata Gan
Lok. tenang-tenang saja ia.
Bwee Hiang terkejut mendengar perkataan si Naga
Api. Tidak boleh tidak ia akan dibawa ke ceng-to oleh si
Naga Api dan disana ia akan menjadi permainannya si
kakek.
Ia tadi mengharapkan pertolongan ketiga Hweshio itu,
namun, sekarang melihat mereka seperti jerih
mendengar namanya Hwe-Liong coan-in,
pengharapannya menjadi buyar. Pun ia masih
menyangsikan bila dirinya dapat ditolong oleh tiga
Hweshio itu bisa selamat, karena melihat matanya tiga
Hweshio itu seperti bukannya paderi saleh (suci).
Sama saja, lolos dari si Naga Api ia akan jatuh dalam
cengkeramannya kawanan Hweshio jahat, maka pikirnya,
biarlah mereka bertempur sampai semuanya mati.
jangan sampai ada ketinggalan satu juga, dengan begitu,
ia ada harapan selamat.
Diam diam ia menyesalkan kepada Kwee In, yang
sampai sebegitu jauh tidak kelihatan adik In-nya itu
muncul, sedang ia dalam bahaya sekali.
Hok Tek dan dua kawannya, ketika mendengar
perkataan si Naga Api, langsung mengerti bahwa nona
yang dibawa oleh si Naga Api ini memang bukan
familinya, hanya bakal korbannya.
Melihat kecantikan Bwee Hiang yang menarik sekali
seleranya, Hok Tek tabahkan hatinya dan ingin mencoba
kepandaiannya si Naga Api yang sangat disohorkan itu.
Siapa tahu, dengan mengandalkan jumlah banyak ia
dapat menindih si Naga Api dan merampas dirinya si
nona cantik untuk mereka atau dipersembahkan kepada
suhunya.
"Naga Api, nyalimu benar besar, di-siang hari bolong
merampas anak orang." kata Hok Tek sambil unjuk lagak
jumawa, seperti memandang enteng pada si Naga Api.
"Habis, kau mau apa?" sahut si Naga Api mengejek.
"Aku mau supaya kau melepaskan si nona, dengan
begitu persahabatan kita tidak menjadi retak. Kau boleh
pikir-pikir, satu lawan tiga mana bisa menang?
Hahaha...!"
Kembali terdengar Hwe-liong coan-in ketawa ngakak.
"Kepala gundul!" katanya. "Dengan melepaskan si nona,
berarti aku berbuat lebih kejam lagi, karena kalian yang
akan makan ramai-ramai. Haha, jangan mimpi! Dulu kita
tidak bersahabat, sekarang juga kita tidak bersahabat,
apanya yang kau katakan menjadi retak?"
Bwee Hiang merinding bulu tengkuknya mendengar
kata-kata si Naga Api. Mentang, kalau ia terjatuh dalam
tangannya kawanan Hweeshio itu lebih runyam lagi, pasti
tubuhnya akan diganyang oleh banyak orang. sedang
dengan si Naga Apa satu lawan satu, masih mending,
tapi biar bagaimana juga hatinya tidak rela dirinya akan
dipermainkan si Naga Api, ia harus mencari akal
bagaimana baiknya supaya bisa lolos dari
cengkeramannya kepala banyak yang sangat kosen itu.
Air-mata sudah tidak bisa diandalkan, si Naga Api tak
akan menghiraukan air mata, harus ia cari jalan lain, ia
harus berani berkorban membiarkan tubuhnya menjadi
permainan si Naga Api asal jangan kehormatannya
diganggu.
Tengah ia merencanakan suatu akal. si Naga Api
disana sudah bergebrak. Matanya ketarik oleh jalannya
pertempuran, diam-diam ia berpihak pada si Naga Api
agar dalam pertempuran itu memperoleh kemenangan.
Tiga Hweshio itu memang kepandaiannya tinggi,
namun, mengeroyok si Nsga Api tidak berarti apa apa.
Dengan lincah dan gesit sekali Gan Lok memainkan
goloknya, hingga diam-diam Bwee Hiang merasa kagum
atas kepandaian orang. Ia tidak mengira si Naga Api
mempunyai ilmu golok yang sempurna. Ia ingat ketika si
Naga Api menggempur ia, tidak memperlihatkan apa-apa
yang mengagumkan, namun sekarang, Bwee Hiang
saksikan ilmu golok yang baru pernah ia lihat.
Berkelebatan golok si Naga Api diantara sambaran-
sambaran tiga tongkat dari tiga paderi itu, yang
mengeluarkan angin menderu-deru keras. Tampak
tubuhnya Gau Lok sebentar lenyap sebentar muncul
diantara tiga tongkat yang dimainkan dengan hebat
sekali.
"Kau mau menyerahkan si nona tidak?" bentak Hok
Tek melihat lawan seperti kericuhan, serangannya pun
ditekankan lebih berat.
"Kentut!" sahut si Naga Api. "Adik-ku yang manis.
mana dapat dikorbankan kepada kalian kepala guudul,
rakus! Lihat golokku akan ambil satu persatu kepala
kalian!"
Menggigil tubuhnya Bwee Hiang mendengar mereka
bercakap-cakap sambil bertempur mati-matian. Hatinya
sangat cemas melihat si Naga Api agak keteter dan ia
khawatirkan Gan Lok terjungkal dan dirinya akan menjadi
permainan kawanan Hweshio rakus itu.
Tiba-tiba timbul perasaan menyesalnya, karena ia
sudah keluar lagi dari rumahnya di Kun hiang, kalau
tidak, pasti ia tak akan menemukan bahaya seperti yang
dialami sekarang. Ia dapat hidup senang di kampung
halamannya dengan hartanya yang berkelimpahan.
Namun, kapan ia pikir sebaliknya, bahwa ia
meninggalkan kampungnya dengan maksud mencari adik
In-nya, ia tidak menyesal dan berbayanglah saat yang
bahagia, ia dalam pelukannya Kwee In yang cakap dan
mulai matang bermain asmara.
Apakah ia akan menemui pula kebahagiaan itu
disisinya Kwee In? Itulah suara pertanyaan yang sukar
dijawab, karena dirinya dalam cengkeraman orang jahat.
Kalau ia bisa melindungi kehormatannya saja sudah
mujur dan terima kasih kepada Thian (Tuhan).
Sementara pikiran si nona melayang-layang, si Naga
Api telah merubah ilmu silat goloknya, sehingga si nona
melongo dibuatnya.
Suara trang! trang! trang! mengaung keras, berbareng
tiga tongkat dari kawanan Hweshio itu tampak saling
susul terbang ke udara. Si Naga Api telah merubah ilmu
silat goloknya ketika melihat dirinya keteter. Ia gunakan
Hwe liong To-hoat (limn golok Naga Api) ciptaannya
sendiri. Ia baru menggunakannya pada saat itu, maka
tidak heran kalau ia merasa gegetun melihat
keampuhannya Hwe Tiong To-hoat yang di-ciptakannya
itu. Hanya beberapa gebrakan saja sudah membuat tiga
tongkat kawanan kepala gundul itu terbang keangkasa
saling susul.
cepat sekali Hwe-liong coan in bergerak, melihat tiga
Hweshio itu sedang berdiri bengong, ia tidak memberi
kesempatan, begitu terdengar suara cras! cras!
kepalanya Hok Sek dan Hok Lek menggelundung dari
tempatnya.
Hok Tek maslh dapat mengelakkan diri ketika
goloknya si Naga Api menyambar lehernya. Dengan
sebat ia angkat kaki meninggalkan tempat itu.
"Hahaha. mau lari?" bentak Hwe-liong coan in. Segera
menyusul jeritan Hok Tek dan roboh terkapar dengan
mata mendelik dan mulut berbusa. Ia terkena senjata
rahasia bor beracun dari si Naga Api.
-ooOdwOoo-

BAB-21
MELIHAT IA sukar menyandak si kepala gundul yang
sudah gerakkan kakinya begitu gesit. maka si Naga Api
merogoh sakunya dan menyambitkan bor beracunnya.
Kena telak sekali, sekali menjerit Hok Tek Hweshio sudah
roboh terkulai.
Si Naga Api menghampiri musuhnya. Ia jongkok dan
meneriaki Bwee Hiang: "Nonaku yang manis, lihat
suamimu menghukum musuhnya!" menyusul goloknya
bekerja, dadanya Hok Tek kontan terbelah dua dan
darah hidup berhamburan menciprati bajunya.
Bwee Hiang pejamkan matanya saking ngeri.
Ketika ia membuka matanya, si Naga Api sudah ada
didekatnya dan berkata : "Anak manis, mari kita
meneruskan perjalanan..."
Ia berkata sambil cendrungkan badannya hendak
meraih Bwee Hiang.
"Hei, kau manis sekali kalau bersenyum...?" tiba-tiba si
Naga Api berkata ketika melihat si nona dengan tiba-tiba
saja bersenyum kearahnya. Itulah tidak ia duga, sebab
Bwee Hiang sampai sebegitu jauh hanya cemberut saja.
"Baiklah, aku akan bikin kau dapat bicara, tapi ingat,
jangan main gila! Lihat itu contohnya dengan si Hweshio
keparat!"
Ia mengancam Bwee Hiang seraya tangannya
menunjuk kepada mayatnya Hok Tek.
Berbarengan itu, si Naga Api telah menotok Bwee
Hiang. membuka urat gagunya, hingga sekarang
kepalanya Bwee Hiang bisa bergerak dan berbicara,
hanya tubuhnya sebatas pundak lumpuh tak dapat
digerakan. Itulah totokan istimewa dari si Naga Api.
Meskipun begitu, Bwee Hiang merasa sedikit lega
hatinya karena kepalanya bisa digerakkan dan bisa
berbicara, siapa tahu dengan mulutnya nanti dapat
menolong dari kenancuran kehormatannya ditangan si
Naga Api yang sangat kosen.
"Toako kau benar-benar kosen!" memuji Bwee Hiang.
"Tiga kepala gundul itu sekaligus kau sudah dapat
bereskan, sungguh kepandaian yang baru kali ini aku
melihatnya..."
Si Naga Api ketawa senang mendapat pujian si nona.
"Nona, siapa namamu?" si Naga Api menanya sambil
ketawa.
"Aku Bwee Hiang she Liu," jawab si gadis bersenyum.
"Kenapa kau tidak menanya siapa diriku, nona Bwee?"
tanya si Naga Api.
"Aku sudah tahu kau si Naga Api yang kesohor, untuk
apa aku menanya lagi?" sahut Bwee Hiang, sambil
lirikkan matanya yang balus. hingga bergejolak hati si
kakek.
"Nona Bwee, kau manis sekali kalau ketawa..." memuji
si Naga Api. seraya tangannya diulur menowel pipi Bwee
Hiang, kemudian ia duduk berdekatan dengan si nona,
tidak jadi ia meraih Bwee Hiang untuk diajak melanjutkan
perjalanannya.
"Toako tanganmu nakal..." kata Bwee Hiang, waktu
tangan si Naga Api meraba buah dadanya si gadis dan
bakal main. Berdebar hatinya Bwee Hiang ketika benda
yang sangat disayanginya itu diremas-remas oleh si Naga
Api sambil menyeringai ketawa.
Ingin ia marah dan menyempot habis-habisan pada si
Naga Api, tapi dipikir sebaliknya, taktik itu tidak
menguntungkan, malah mempercepat malapetaka yang
dihadapinya.
Bwee Hiang sudah mengambil keputusan untuk
spekulasi dengan kecerdikannya, ia mengharap dapat
menyelamatkan kehormatannya, meski untuk itu ia harus
berkorban seluruh tubuhnya menjadi sasaran tangan si
Naga Api.
"Toako," kata lagi Bwee Hiang "Sayang tanganku tak
dapat bergerak, kalau tidak, akan kupatahkan tanganmu
yang nakal itu."
Si Naga Api ketawa haha hihi. Setelah puas
permainkan bagian atas, tiba-tiba tangan si Naga Api
mulai merayapi kebagian bawah. Bwee Hiang cemas
hatinya tatkala tangan si Naga Api mulai membuka tali
celananya, kemudian memasukkan tangan yang nakal itu
kedalamnya dan meraba bagian yang tersembunyi.
Tapi, segera tangan si Niga Api di tarik keluar lagi
seperti disengat binatang berbisa, lalu mengamat-amati
tangannya yang barusan bersentuhan dengan barang
yang Bwee Hiang ingin selamatkan dari kehancuran.
"Toako, kau kenapa?" tanya Kwee Hiang bersenyum.
"Nona Bwee, kau...?" si Naga Api tak dapat
melampiaskan kata-katanya.
"ya, aku sedang haid, baru saja keluar ketika kau
menggempur tiga Hweshio itu..." jawab si gadis lega
hatinya melihat si Naga Api seperti ketakutnn meraba
barangnya tadi. Ia tidak tahu, entah kenapa?
"Nona Bwee, kau datang bulan. kenapa tadi tidak
bilang?" kata si Naga Api.
"Untuk apa aku mengatakan itu. kau toh tidak akan
percaya."
"Nona Bwee ada pantangan bagiku untuk
berhubungan dengan seorang wanita yang sedang haid,
hal itu dapat membawa kesialan."
"jadi, kau urung mengganggu aku?"
"Ya, sedikitnya lewat sepuluh hari setelah kau berhenti
haid."
Bwee Hiang ketawa. Diam diam dalam hatinya
kegirangan, ia tidak mengira si kepala bajak mempunyai
pantangan demikian. Diwaktu haid paling sedikit
memakan tempo lima hari baru berhenti. Maka lima hari
ditambah sepuluh hari, jumlah lima belas hari, ia
mempunyai tempo untuk mencari akal menyelamatkan
diri dari si Naga Api. Pikirnya, tempo cukup lama, masa
gagal pengharapannya lolos?
Kalau sampai pada waktunya belum juga ia dapat
jalan lolos, ia nanti akan pikir bagaimana baiknya dengan
melihat gelagat. Siapa tahu, dalam tempo itu ia
mendapat pertolongan adik In-nya, sebab hanya Kwee
In-nya yang dapat mengalahkan si Naga Api tinggi
kepandaiannya.
"Kalau kau mempunyai pantangan begitu, sebaiknya
kau jangan dekat-dekat aku sebelum lewat waktunya,"
kata si nona.
"Dari mulai sampai berhenti haid berapa lama?" tanya
si Naga Api.
"Paling cepat lima hari," sahut si nona ketawa.
Si Naga Api kerutkan keningnya. Ia memikirkan juga
lima tambah sepuluh jadi lima belas hari. terlalu lama
juga ia menanti, tapi apa boleh buat kalau ia tidak mau
menemukan bahaya sebagai akibat kesialan itu.
"Toako, kau harus jauh-jauh dulu dari aku. Setelah
lima belas hari, kau boleh punya suka dan aku akan
menyerah untuk menjadi isterimu."
"Seharusnya begitu," sahut si Naga Api. "Cuma saja,
mana bisa aku berjauhan dengan kau, nona Bwee.
Wajahmu yang cantik, benar-benar baru kutemukan,
sungguh-sungguh kau akan beruntung menjadi
isteriku..."
Si Naga Api berkata seraya ketawa, dan Bwee Hiang
juga ketawa untuk membikin senang si kakek. justeru si
nona ketawa, membuat si kakek beringas dan segera
merangkul Bwee Hiang dan menciumi sepuasnya.
Bwee Hiang merasa jijik, tapi apa daya? Ia dalam
keadaan tertotok, kalau akan menimbulkan kemarahan si
Naga Api, sebaliknya ia akan memberi kelonggaran
kepadanya.
"Toako, kau memans baru ketemu perempuan? Galak
benar kau, harap kasi aku bernapas..." mengeluh Bwee
Hiang, yang kewalahan menyambuti ciuman si kakek
yang bertubi tubi seperi kesetanan.
"Aku biasa berurusan dengan wanita, tapi dengan kau
lain, karena kau sangat menarik hatiku. nona Bwee!"
sahut si Naga Api seraya melepaskan pelukannya.
Diam-diam Bwee Hiang sesalkan dirinya kenapa punya
wajah cantik, sehingga ia harus mengalami kehinaan
yang dideritanya sekarang.
Tapi mengingat bahwa wajahnya yang cantik itu
adalah pemberian Tuhan, maka hatinya yang menyesal
tadi perlahan-lahan buyar sendirinya.
Tiba-tiba si Naga Api meraih tubuhnya si nona.
Bwee Hiang kaget dan menanya: "Toa-ko, kau mau
bawa kau kemana?"
"Aku mau bawa kau ke ceng-to, di pulau sana kau
akan melewati hidupmu yang tentu akan, aku akan
perlakukan benar-beuar sebagai isteriku yang tercinta."
"jangan, jangan sekarang ke ceng-to. Badanku merasa
tidak enak kalau dalam keadaan haid mesti melakukan
perjalanan jauh "
"jadi. bagaimana? Apa kita tetap tinggal disini saja?"
"Oh, bukan, aku maksudkan kita cari sebuah goa,
dimana kita tinggal untuk sementara sampai aku sudah
berhenti haid, baru kita lanjutkan perjalanan."
"Baiklah," kata si Naga Api, berbareng ia gerakkan
kakinya dan lari seperti terbang memondong si gadis
yang jadi kebingungan.
"Toako. kau mau bawa aku kemana?" tanya Bwee
Hiang diperjalanan.
"Bukankah kita mau mencari sebuah goa."
"Kenapa mesti jauh-jauh mencarinya? Didekat lembah
Tong hong-gay juga banyak goa untuk kita beristirahat."
"Mana bisa kita tinggal dekat-dekat lembah itu."
"Memangnya kenapa? Kau keberatan tinggal dekat
lembah Tong-hong-gay?"
"Bukan begitu, hanya...hanya..."
"Hanya apa? Aku tahu kau takut sama Hek bin Sin
tong, bukan?"
Si Naga Api ketawa menyeringai.
"Toako, Hek-bin Sin-tong tidak apa-apa, asal kau suka
memerdekakan aku."
"Mana bisa kau kumerdekakan, nona Bwee."
"Kenapa? Bukankah ada satu kebaikan kalau kau
merdekakan aku? Hek-bin Sin-tong tidak akan mencari
kau, sebab calon isterinya, ialah aku, sudah
dimerdekakan olehmu."
"Kau, kau bakal isterinya Hek-bin Sin-tong?"
"Ya, aku bakal isterinya Hek bin Sin-tong," kata Bwee
Hiang, ia melihat suatu cahaya harapan bahwa si kepala
bajak dapat digertak oleh nama gelaran adik Innya.
"Bagaimana?" mendesak Bwee Hiang. Ia percaya si
Naga Api ketakutan oleh Hek-bin Sin-tong melihat
beberapa kali ia mengerutkan alisnya.
"Nona Bwee, untuk apa kau jadi isterinya seorang
bocah yang wajahnya hitam, lebih baik kau menjadi
isteriku, meskipun aku sudah kakek, tapi kau lihat
saja...."
Terkejut hatinya Bwee Hiang. Ternyata dugaannya
meleset, tapi ia masih mau mencoba menggertak si Naga
Api lagi.
"Apa kau tidak takut sama Hek-bin Sin-tong, yang
akan membunuhmu manakala ia tahu kau membikin
malu calon isterinya?"
"Hek bin Sin tong tidak akan menemui jejak kita, kau
diam saja, kau tetap akan menjadi isteriku, nona Bwee!"
Bwee Hiang kewalahan nampak si Naga Api seperti
yang nekad dan mau juga mendapatkan dirinya. Apa
daya? Ia memang benar-benar tidak berdaya. Namun, ia
masih belum putus asa sama sekali, ia masih ada
harapan tempo lima belas hari lagi.
Ia tidak tahu entah sudah berapa jauh ia dibawa oleh
si Naga Api, tahu-tahu dalam keadaan sangat lelah ia
diletakkan diatas sebuah dipan dari batu. Ia rasakan
dingin ketika badannya menyentuh dipan batu itu.
"Toako, dimana kita sekarang?" tanya si nona.
"Kita berada dalam goa, tempat dahulu guruku
bertapa," sahut si Naga Api.
Goa itu agak lebar disebelah dalamnya dan ada
penerangan matahari yang menembus dari selah selah
batu disebelah atas goa. Pada waktu siang goa itu cukup
terang, hanya diwaktu malam gelap-gulita orang perlu
memasang obor kalau mau penerangan.
Ketika mereka sampai dalam goa itu, hari sudah sore.
Si Naga Api mengeluarkan ransum kering, keduanya
lalu memakannya dengan lahap karena sudah sangat
lapar perutnya.
Sebentar lagi cuaca pun sudah berganti malam.
Keadaan dalam goa sangat gelap. Bwee Hiang rasakan
dingin sekali karena batu yang dipakai untuk tempat
tidurnya. Hatinya si gadis diam-diam tidak tentram, ia
kuatir si Naga Api melupakan pantangannya dan malam
itu akan menggerayangi dirinya.
Ia berdoa, memohon supaya si Naga Api pegang
teguh pantangannya.
Tadi ia melihat si Naga Api keluar, entah ia pergi
kemana?
Sebentar lagi ia mendengar suara kaki orang
bertindak. Ia menduga si Naga Api yang masuk dalam
goa. Hatinya berdebaran, bukan main kagetnya Bwee
Hiang, ketika tiba tiba saja tubuhnya diraih oleh si Naga
Api dan direbahkan dibawah tapang (dipan) batu.
Celaka! pikir Bwee Hiang dalam hatinya. Tapi ia tidak
bergerak, maupun membuka mulut, ia diam saja mau
tahu perkembangan lebih jauh.
Sebentar lagi kembali tubuhnya diraih oleh si Naga
Api, baru kali ini ia menegur dengan suara gemetar:
"Toako, kau melupakan pantanganmu?"
Si Naga Api tidak menjawab, ia rebahkan pula Bwee
Hiang diatas dipan batu tadi. Untuk kegirangannya Bwee
Hiang rasakan dipan batu itu tidak dingin, malah hangat
kiranya si Naga Api telah memberi alasan batu itu
dengan rerumputan kering yang hangat, jangan sampai
Bwee Hiang kedinginan.
Kini Bwee Hiang baru tahu kebaikannya si Naga Api,
maka ia menyesal atas tegurannya tadi yang tidak
beralasan. Ia berkata: "Toako, terima kasih. Maaf kalau
aku barusan menegur kau tanpa alasan."
Si Naga Api tidak menyawab, hanya ia perdengarkan
suara ketawa pelahan dalam goa yang serba gelap dan
menyeramkan itu.
Kemudian si Naga Api merebahkan dirinya dibawah
tidak jauh dari dipannya Bwee Hiang. Malam itu ia tidak
gerayangi tubuhnya si nona, hingga Bwee Hiang merasa
girang dan mengharap seterusnya si Naga Api akan
berlaku sopan demikian. Setelah gulak gulik sebentaran
memikirkan nasibnya yang malang, saking lelahnya,
Bwee Hiang juga lamas tidur pulas dan baru mendusin
ketika sinar matahari nyelusup masuk dalam goa itu.
Bwee Hiang hanya dapat menggerakkan kepala
sebatas leher, kebawahnya masih dalam totokan, maka
ia tidak bisa bangun beidiri meskipun sudah lama ia
mendusin.
Ia tidak tahu kemana si Naga Api sudah pergi, sebab
tidak ada dalam goa itu.
Matanya Bwee Hiang memeriksa kesekitar goa,
ternyata keadaan disitu sangat resik dan menyenangkan.
Rupanya dahulu dipakai tempatnya orang berilmu.
Seketika Bwee Hiang ingat akan kata-katanya si Naga Api
yang mengatakan tempat itu bekas pertapaannya guru si
Naga Api. Entahlah, kemana perginya sang guru itu?
Apakah ia pindah tempat atau sudah meninggal dunia?
Ia kepingin tahu dari mulutnya si Naga Api.
tengah ia memikirkan goa yang serba resik itu, tiba-
tiba masuk si Naga Api dengan membawa semangkok
bubur yang masih mengepul.
"Kau bawa apa itu, Toako?" tanya Bwee Hiang.
"Aku barusan memasak dua mangkok bubur. satu aku
sudah makan dan ini satu mangkok aku bawakan
untukmu. Masih hangat, kau makan, pasti kau memuji
masakanku!" si Naga Api berkelakar, hingga si nona
bersenyum.
Bwee Hiang tak dapat menyambuti mangkok bubur
itu. kedua tangannya lemas lunglai karena belum
merdeka dari totokan.
Si Naga Api letakkan mangkok buburnya, dan
mengangkat tubuhnya Bwee Hiang untuk dikasi duduk,
kemudian ia mengambil pula mangkok bubur tadi dan
mulailah ia menyuapi Bwee Hiang seperti menyuapi
orang sakit.
Bwee Hiang merasa lucu, setelah menelan bubur yang
disuapi, baru ia berkata: "Toako, kau masih terus belum
mau membebaskan totokanmu, apa kau mau terus-
terusan berabe melayani aku? Lekas kau bebaskan, aku
tidak akan lari!"
Si Naga Api ragu ragu, ia menatap Bwee Hiang yang
bersenyum manis kearahnya.
"Baiklah." kata si Naga Api kemudian. Ia lalu
membebaskan Bwee Hiang dari totokan.
Si nona kegirangan, ketika dapatkan kedua lengannya
bisa bergerak. Ia lalu merebut mangkuk bubur dari
tangannya si Naga Api dan makan sendiri bubur hangat
itu, tak usah pertolongan si Naga Api yang barusan
menyuapi.
Ketika ia sudah makan habis bubur dalam mangkok
ini, ia hendak turun dari dipan, alangkah kagetnya sebab
bagian bawah sebatas pinggang kebawah masih belum
bebas dari totokan dan tetap belum dapat berjalan.
"Toako, kau masih belum percaya padaku?" tegur
Bwee Hiang.
"Aku pencaya. tapi belum dapat aku membebaskan
kau seluruhnya sekarang."
"Kenapa? Memangnya kau takut aku melarikan diri?"
Si Naga Api tidak menyahut, ia diam taja.
"Kepandaianmu berlipat ada dari aku, masa kau takut
aku lari?"
Si Naga Api tergerak hatinya. tapi kemudian ia ragu-
ragu pula untuk membebaskan si nona seluruhnya dari
totokan. Ia tahu si nona kepandaiannya tidak boleh di
pandang rendah, kalau segala ucap katanya itu hanya
pura-pura saja didepan ia, ia akan menemukan
kerepotan manakala si nona hendak membebaskan
dirinya, meski dengan jalan bertempur ia baru bisa
menundukkan si nona lagi. Ini ia tidak mau, ia lebih suka
mengekang si nona dengan menotok separuh tubuhnya
lumpuh, si nona tidak bisa bikin apa apa terhadapnya.
Melihat gelagatnya si Naga Api seperti ragu-ragu,
Bwee Hiang tidak mendesak. Ia memang hendak
membuat si kepala bajak itu jinak, maka selalu ia bawa
aksinya jangan sampai mencurigakan. Ia bersenyum.
katanya: "Toako, tidak apalah kau masih belum percaya
seratus persen atas kesetiaan calon istrimu. Pada lain
kesempatan kau menghina isterimu ini, tahu sendiri,
akan kubalas dengan menjiwir copot kupingmu...!"
Bwee Hiang terhenti kata-katanya, karena dengan
tiba-tiba si Naga Api telah tertawa gelak-gelak.
"Kau ketawakan apa, Toako?" tanya Bwee Hiang
heran.
"Aku ketawakan kau, nona-Bwee. Kau pintar sekali
membuat orang ketawa, bagus, bagus, gadis macam kau
inilah yang aku senang..."
menyusul kata-katanya itu, ia merangkul Bwee Hiang
dan menciumi pipinya. Si nona tadinya mau berontak,
tapi ia ingat bahwa ia sedang menjalankan akalnya,
maka ia diam saja pipinya dikecup berkali-kali, meskipun
ia sangat jijik.
"Sudah, toako, kau harus ingat pada pantanganmu.
Kalau menuruti napsu. aku khawafir nanti kau melanggar
pantanganmu itu,"
akhirnya si nona yang kewalahan telah berkata sambil
mendorong tubuhnya si Naga Api yang makin merapati
badannya.
Si Naga Api seperti tersadar.
"Terima kasih, oh nonaku, terima kasih..-" berkata si
Naga Api gugup dan melepaskan rangkulannya.
Hari itu Bwee Hiang dapat menenangkan napsunya si
Naga Api.
Ia mengajak orang kongkouw kebarat ke timur untuk
mengalihkan perhatian si Naga Api kepada soal
perhubungan sex, dan si Naga Api juga kelihatan senang
diajak ngobiol oleh si cantik. malah beberapa kali ia
ketawa gelak-gelak kapan Bwee Hiang percakapannya
sampai kepada bagian yang mengitik urat ketawa.
Malam kedua si Naga Api tidur sebagai mana biasa
dibawah dipan batu, diatasnya tempat Bwee Hiang tidur.
Si gadis kembali kegirangan si Naga Api tidak
mengganggu dirinya. Ia harap kelakuan si Naga Api
selanjutnya demikian, sampai ia menemukan akal untuk
menolong dirinya dari cengkeramannya bajak laut
kosen... itu.
Kwee In...
Kemana perginya si bocah? Kenapa hanya si Rajawali
yang pulang, sedang Kwee In tidak turut balik, hingga
menggelisahkan hatinya Eng Lian yang menanti nanti
pulangnya?
Kwee In ketika berpisahan dengan Eng Lian, segera ia
menunggang Rajawalinya.
Ia pergi jauh, jauh keujung lembah, yang baru pernah
ia kunjungi.
Tidak bisa ia membawa-bawa rajawalinya kaalu mau
memeriksa keadaan disekitar situ, maka ia suruh sang
rajawali menunggu. Si rajawali turut serta degnan
tuannya.
Kwee in disamping jago dalam ilmu silat, juga ia
pandai obat-obatan, yang ia pelajari dari Liok
Sinshe(Kwee cu Gie) ayahnya. Maka serng ia mendatangi
tempat-tempat yang sunyi dan seram dalam lembah itu.
perlunya hendak mencari daun obat-obatan. Bocah itu
sangat pandai meramu dedauan menjadi obat yang
manjur.
Melihat keadaan disekitar tempat itu ada menarik
sekali perhatiannya dan mungkin lawannya berada disitu,
maka ia telah balik lagi ketempat Rajawalinya dan ia
suruh sang burung raksasa itu pulang saja dan ia akan
kembali dengan menggunakan ginkang.
Sayang sang rajawali tidak bisa bicara, maka ketika
ditanyakan oleh Eng lian, ia hanya bisa geleng-geleng
kepalanya, tak dapat mengatakan perginya Kwee In.
Setelah burungnya terbang balik, Kwee in meneruskan
perjalanannya menjelajah tempat disekitar itu.
Pemandangan disitu sangat menarik perhatian Kwee In.
sampai ada ingatan akan tinggal di itu tempat.
Ia memanjat di tebing tebing gunung, lompat dari satu
kelain tebing yang curam, sungguh mengagumkan
kepandaiannya Kwee In. jurang-jurang yang
memutuskan hubungan jalan dapat ia lompati dengan
menggunakan ginkangnya yang hebat.
Dalam keadaan seperti itu. in ingat kepada
pengalamannya dengan Liok Sinshe. Waktu itu ia
digendong untuk melompati jurang yang curam, ia
memejamkan matanya ketakutan, namun, lompatannya
Liok Sinshe sangat sempurna dan tidak sampai
menemukan kesulitan. Ia mengagumi kepandaiannya
Liok Sinshe. Sekarang diam-diam ia mengagumi
kepandaian dirinya sendiri yang kalau dibanding dengan
Liok Sin-she, kepandaiannya sendiri ada diatas dari Liok
Sinshe. Itulah berkat dari It sin-keng, kalau ia tidak
meyakinkan kitab mujijad itu, pasti ginkangnya paling-
paling juga hanya sama dengan Liok Sinshe.
Selagi ia berseri-seri sambil memandangi air terjun
dari jarak lima tombak, tiba-tiba badannya mencelat
tinggi keatas, kemudian turun lagi kira-kira dua tombak
dari tempat berdirinya tadi. Sementara badannya Kwee
In mencelat keangkasa, batu besar yang ada berdekatan
dengannya tadi telah hancurr lebur menjadi abu setelah
perdengarkan suara menggelegar saking hebatnya
pukulan Iwekang yang menghajar batu tadi.
Kwee In berdiri sambil geleng geleng kepala, karena
kalau badannya tadi yang menerima pukulan dahsyat itu,
pasti akan hancur seperti batu tadi.
Ia lihat yang melancarkan pukulan tadi adalah satu
Hweshio bermuka bundar, entah siapa namanya, tapi
dibelakangnya ada dua Hweshio yang ia kenali ialah Hui
Hong dan Hui-Kong Taysu dari Siauw-lim-sie
Kwee In dibokong dari belakang. Kalau si bocah tidak
punya kepandaian istimewa, pasti waktu itu sudah
tinggal namanya saja.
Dengan berani Kwee In datang menghampiri tiga
Hweshio yang sedang berdiri bengong.
"Taysu, kenapa kau menggempur aku? Kalau ada apa-
apa kita boleh bicara, kenapa harus membokong seperti
orang pengecut saja!" berkata Kwee In dengan roman
tidak senang.
"bocah, kau benar-benar hebat!" memuji Hweshio
yang membokong tadi. "Aku adalah Toa suheng dari Hui
Hong dan Hui Kong."
"ji-suheng, ia bukannya Hek-bin Sin-tong!" kata Hui
Kong pada Hui Hong, setelah melihat wajahnya Kwee In
tidak hitam legam.
Hui Hong ketawa. "Samte, kau jangan salah lihat.
Inilah Hek-bin Sin-tong yang sudah tukar wajah. Ia
sekarang bernama Kwee In, bukannya Lo In sewaktu
menjadi Hek-bin Sin tong. Parasnya begini cakap, tepat
kalau ia mendapat julukan Giok bin Long-kun!"
Hui Kong melongo mendengar perkataan sang ji-
suheng.
Sementara Hui Long, yang menggempur Kwee In tadi
maju mendekati Kwee In dan berkata lagi: "Kepandaian
Sicu benar-benar hebat, apakah karena Sicu dapat dari
It-sin-keng?"
Kwee In sebenarnya tidak senang melihat sikapnya si
Hweshio demikian jumawa. Ia masih memandang pada
Hui Hong yang ramah-tamah, maka ia tekan perasaan
tidak ssnangnya dan menyawab: "Taysu, kepandaianku
itu apa dari It sin-keng atau bukan, perlu apa Taysu mau
tahu, kita tidak ada hubungan sama sekali."
"Tidak ada hubungan sama sekali..?" mengulangi Hui
Long dengan nada menghina.
"Kau keliru Sicu," ia menyambung, "kedatangan kami
kemari adalah hendak mencari kau, supaya
mengembalikan It-sin-keng kepada kami, karena itu
adalah kitab miliknya Siauw-lim-sie. Lolap harap Sicu
suka menyerahkan Kitab Mujijad itu padaku!"
"jangan marah, aku tidak bawa-bawa It-sin-keng,
sungguh penasaran kalau Taysu main tuduh
sembarangan. It sin-keng ada di goa ular, kalau ada
punya kepandaian, Taysu boleh pergi ambil It-sin-keng
disana!"
"Kentut busuk!" menyelak Hui Kong yang berangasan.
"bocah ini sangat bandel, selamanya mungkir kalau
ditanya It-sin-keng !"
-oo0dw0oo-

Editor : J ilid 8 dan 9 by Sumahan

J ILID 8
Bab 22

HUI LONG kerutkan keningnya, seperti memikir. “Sicu
sudah tahu, bahwa kitab itu adalah miliknya Siauw-lim-
sie, maka Lo-lap harap Sicu suka kembalikan kepada
Siauw-lim-sie."
“Habis, aku memang tidak mempunyai kitab itu,
apanya yang aku kembalikan?"
“Hanya Sicu seorang yang bisa masuk dalam goa ular,
maka siapa mau percaya kalau It-sin-keng tidak ada
sama Sicu."
“Taysu mau percaya boleh, tidak mau percaya juga
aku tidak akan memaksa kau percaya!" berkata Kwee In
mulai tidak senang.
“Sicu, kita tidak bermusuhan, maka untuk kitab itu aku
mohon Sicu mengalah dan menyerahkannya kembali
kepada Siauw-lim-sie," menyela Hui Hong Hweshio.
“Taysu, tempo hari aku sudah mengatakan padamu,
bahwa kitab mujijad itu tidak ada padaku, bagaimana
sekarang kau masih gerembengi aku lagi?" Kwee In
mulai kesal.
“Bocah begitu untuk apa dikasi hati, hajar saja, biar ia
tahu rasa, bahwa orang Siauw-lim sie tidak mudah
dipermainkan!" menganjurkan Hui Kong, yang sejak
permulaan ketemu dengan Kwee In kelihatannya sudah
penasaran sekali.
Hui Long, meskipun jadi Toa-suheng, adatnya tinggi
dan jauh dibanding dengan Hui Hong yang ramah-tamah.
Maka setelah ia ketawa ngakak, berkata lagi: “Sicu
sebenarnya menantang kekerasan?"
“Siapa yang menantang kekerasan? Kalau memangnya
kitab itu tidak bersamaku, aku harus kembalikan dengan
apa, dengan isi perutku?"
“Memang, kau harus bayar dengan isi perutmu,
bocah!" Hui Long mulai sengit.
“Aku memandang kau adalah orang-orang suci dari
gereja yang dihormati, sekarang melihat lagakmu seperti
Hweshio barandalan biasa, apa kira aku si bocah takut!"
Hui Long mendelik matanya, sementara Hui Kong
yang sudah tidak sabaran telah menerjang Kwee In.
Dengan geraki badannya sedikit saja, serangan tinju Hui
Kong lewat didepan hidung Kwee In hanya satu dim.
Kwee In tidak balas menyerang. Kalau mau, barusan
ia sudah dapat mematahkan tangannya Hui Kong yang
sembrono.
Hui Kong tarik pulang tangannya. Kembali ia
menyerang dengan tipu 'Ular naga melingkarkan
ekornya', tangan kanannya mengancam mau menyerang
dada, sebenarnya kaki kanannya yang bekerja
menendang selangkangan orang.
Kwee In ketawa. Badannya berputar, tahu-tahu kaki si
sembrono kena dicekal. Dengan satu dorongan enteng,
cukup bikin Hui Kong terjengkang dan merangkak-
rangkak ditanah.
Mukanya si kepala gundul merah padam kena
dipecundangi Kwee In.
Melihat Kwee In demikian cepat bergerak, Hui Long
tidak berani sembarangan menerjang. Ia gunakan
pukulan Lweekang dari jarak jauh, hingga angin keras
menyambar Kwee In dan bergoyang-goyang. Itulah
tenaga Lweekang yang sangat tinggi, kalau tidak, tak
bakal membuat tubuhnya Kwee In bergoyang.
Hui Long terheran-heran melihat Kwee In dapat
menahan serangan Lweekangnya.
Kembali ia menyerang, kali ini Kwee In juga
melancarkan angin pukulannya menyambuti serangan.
Kedua tenaga tidak kelihatan bertemu.
“Bum!”
Suara keras terdengar dan Hui Long Hweshio
tubuhnya mental setombak, sedang Kwee In mundur
satu langkah.
Belum pernah Kwee In mundur menangkis Lweekang
lawan, kalau kali ini ia harus mundur satu langkah itu
suatu bukti bahwa Lweekang si hweshio bukan main
dahsyatnya.
Hui Long rasakan dadanya sesak dan muntah darah.
Melihat saudaranya terjungkal, Hui Hong maju dan
melancarkan serangan hebat.
Hui Hong meskipun menurut runtunan adalah adik dari
Hui Long, tapi tenaga dalamnya lebih hebat dari sang
kakak. Maka, untuk melayani lawan alot ini, Kwee In
harus berlaku cermat dan tidak sembarangan mengadu
tenaga.
Kedua jago itu bertempur seru.
Hui Hong menang pengalaman dan berkelahi dengan
tenang, sedang Kwee In menang lincah dan gesit.
Beberapa kali ia berada dibelakang lawan, namun Hui
Hong adalah benggolannya Siauw-lim-sie, tidak mudah ia
diperdayakan si bocah.
Hui Hong mendesak dan memaksa Kwee In mengadu
Lweekang.
“Bum!”
Terdengar suara keras, debu dan pasir pada
beterbangan tinggi dan angin badai bertiup sampai dua
tombak, itulah akibat Kwee In dan Hui Hong mengadu
Lweekangnya. Kwee In kali ini mundur dua langkah dan
merasakan darahnya bergolak seperti hendak keluar, tapi
Kwee In dapat menelan pula.
Sebaliknya dengan Hui Hong, ia mental satu tombak.
Meskipun ia dapat pertahankan dirinya tidak roboh, ia
toh memuntahkan darah hidup dan luka parah bagian
dalamnya.
Dalam keadaan masing-masing terluka, tampak Tek
Hie dengan dua kawannya dari Bu-tong-pay muncul
sambil ketawa ketawa.
Kwee In diam-diam mengeluh. Ia terlalu
mengandalkan tenaga dalamnya yang biasa dapat
mengalahkan kawanan Hweshio dari Siauw-lim-sie, maka
ia harus menerima kepahitan, ia terluka didalam. Coba
barusan ia gunakan Lweekang yang ia yakinkan dari It-
sin-keng, lunak memukul lunak, dengan mudah ia
mengalahkan Hui Long dan kawan-kawannya, tak usah ia
mesti mengalami luka parah tiada gunanya.
Melihat Kwee In pucat wajahnya, seperti terluka
didalam, Tek Hie ketawa dan berkatai “Bocah, sebaiknya
kau serahkan saja It-sin-keng, kami akan berlalu dan
tidak akan mengganggu barang selembar bulumu!"
Kwee In mendongkol. Lagi-lagi It-sin-keng yang
meluncur keluar dari mulutnya tokoh-tokoh persilatan. Ia
sekarang mengakui kebenarannya Kim Wan Thauto yang
mengatakan ia bakal mendapat kesulitan dan tidak
tentram hidupnya oleh karena It-sin-keng (Kitab Mujijat)
itu. Orang tidak percaya bahwa ia tidak memiliki kitab itu,
telah terbukti dari penyangkalannya tidak mau dipercaya
oleh Hui Hong Hweshio yang demikian ramah tamah dan
polos jujur kelihatannya.
“Aku sudah bilang, aku tidak memiliki kitab itu, apakah
kau masih belum percaya?" berkata Kwee In sambil
memegangi dadanya yang sakit.
Tek Hie Tojin ketawa gelak-gelak. “Bocah, kau boleh
menyangkal seribu kali, siapa yang mau percaya kau?"
bentaknya.
Tek Hie Tojin berani kelihatannya lantaran melihat
Kwee In sudah payah.
Tokoh-tokoh persilatan itu mengenali wajah Kwee In,
yang sekarang sudah kembali pada aslinya, maka tidak
heran, kapan melihat Kwee In tidak hitam legam iagi
seperti tempo hari diketemukan di goa ular.
Mendelu hatinya Kwee In orang tidak mau percaya
dengan pengakuannya. “Habis sekarang kalian mau
apa!" Kwee In jadi nekad.
“Kau keluarkan kitab itu, atau tubuhmu akan remuk
dihajar oleh kami?" berkata Tek Hie dengan lagak yang
jumawa sekali.
“Hm! Kalian boleh coba! Memangnya aku patung tidak
bisa melawan kalian?" sahut Kwee In.
Hui Long dan dua saudaranya girang melihat
kedatangannya kawanan imam dari Bu-tong-pay, mereka
percaya akan berada dipihaknya, namun harus diragukan
maksud baik mereka yang juga mengingini It-sin keng
dari ucap katanya tadi.
Hui Long dan kawan-kawan tidak berani menegur,
pikirnya, paling baik beresi dulu Kwee In. Kalau dari
badan Kwee In nanti didapatkan It-sin-keng baru
didamaikan dengan Tek Hie dan dua kawannya.
Manakala mereka ngotot juga mau dapatkan It-sin-keng,
yang semestinya adalah milik dari Siauw-lim-sie, mereka
akan bertempur dengan kawanan imam dari Bu-tong-san
itu.
Mereka telah menggunakan Lweekangnya yang tinggi
untuk menyembuhkan luka dalamnya, sementara Tek Hie
dan dua kawannya bertempur dengan Kwee In.
Tek Hie Tojin yang menyaksikan kelemahan Kwee In
mengadu Lweekang, maka ia juga dengan dua kawannya
telah memaksa Kwee In untuk saling gempur Lweekang.
Mereka tidak mengira bahwa Kwee In mempunyai
reserve lwekang dari It-sin-keng.
Tek Hie Tojin marasakan gempuran lwekangnya
seperti ditolak balik oleh Kwee In. Makin hebat ia
menyerang makin hebat tenaga membalik dari Kwee In.
Tek Hie Tojin tidak percaya akan keampuhannya
tenaga dalam Kwee In yang sudah menderita luka parah,
maka ia ajak dua kawannya uutuk bergabung tenaga
dalamnya mengempur Kwee In. Ini justru adalah
kesalahan total dari Tek Hie dan kawan kawan. Coba
mereka terus menggempur Kwee In dengan tenaga
dalamnya masing-masing, tanpa bergabung, pasti
dengan perlahan-lahan Kwee In akan kelelahan sendiri
dan dengan mudah dirobohkan. Kini mereka bergabung,
membuat tenaga dalam Kwee In yang masih kuat telah
menolak balik demikian dahsyat, hingga terdengar jeritan
saling susul hingga Tek Hie dengan dua kawannya
terlempar sampai dua tombak dan jatuh duduk
memuntahkan darah segar.
Mereka tidak bisa bangun lagi, semuanya jatuh
pingsan.
Sementara itu Kwee In kelihatan sudah sangat payah.
Hui Long Hweshio menyeringai.
“J ite dan Samte, mari kita bergabung Lwekang dan
menggempur si bocah, masa ia tidak terpental dan mati
konyol?" mengajak Hui Long pada dua saudaranya.
Hui Hong masih merasa kasihan pada Kwee In, tapi
untuk menolak ajakan Hui Long yang sudah disetujui
oleh Hui Kong ia malu hati, maka terpaksa ia menurut.
Gabungan Iwekang dari tiga tokoh Siauw-lim-sie,
bukan main hebatnya dan sungguh mengerikan sekali
dipakai menggempur Kwee In yang sudah kelewat payah
tampaknya.
Kwee In girang mereka bergabung Lwekang, sebab
kalan satu persatu mereka menggerembengi dirinya,
pasti ia akan dikalahkan.
Ia masih mempunyai persediaan tenaga dalamnya,
untuk menahan gempurannya tiga tokoh kenamaan dari
Siauw-lim-sie.
“Anak baik, bagaimana? Apa kau mau keluarkan kitab
itu atau tidak?" tegur Hui Hong, yang merasa kasihan
melihat Kwee In sudah sangat payah.
“Taysu, aku hormati kau, tapi kau ternyata tak
menghormati aku. Kau juga tak percaya kalau aku tidak
memiliki kitab yang kau maksudkan," sahut Kwee In.
“J i-ko, untuk apa bicara lagi dengannya, gempur saja
sudah!" menyelak Hui Kong.
Hui Long juga menganjurkan J i-tenya jangan banyak
cakap lagi, gempur saja Kwee In yang dalam keadaan
payah. Ia licik, pikirnya, kalau banyak omong nanti Kwee
In keburu pulih kekuatannya dan berabe untuk
menyatuhkannya.
Hui Hong apa boleh buat. Hui Long maju didepan, Hui
Hong kedua. Memegangi pinggang Hui Long dan Hui
Kong memegangi pinggang Hui Hong, keduanya yang
dibelakang telah menyalurkan tenaga dalamnya
bergabung dengan Lweekang Hui Long. Dapat dikira
kirakan bagaimana dahsyatnya Lweekang gabungan dari
tiga orang kuat dari Siauw-lim sie itu untuk dihadapkan
pada Kwee In yang sudah luka parah.
“Bum! Bum!”
Terdengar suara menggelegar. Kedua kekuatan
Lweekang beradu dengan dahsyatnya. Tampak Kwee In
terpental melayang tubuhnya dua tombak dan tiga orang
kuat dari Siauw-lim-sie juga tidak untung, karena tiga-
tiganya teiah terpental sampai tiga tombak dan
menggeletak dalam keadaan pingsan.
Kwee In juga sudah tidak sadarkan diri, tenaganya
sudah habis dikuras oleh musuh-musuhnya. Keadaannya
si bocah boieh dikatakan sudah mati, napasnya berjalan
perlahan-lahan sekali, sungguh jiwanya sangat
dikhawatirkan tidak dapat tertolong.
Tiga jago dari Bu-tong-pay dan tiga orang kuat dari
Siauw-lim-sie telah terkapar dengan tidak sadarkan diri
semuanya. Tidak jauh dari mereka, Kwee In juga jatuh
pingsan, tubuhnya tidak berkutik seperti juga sudah mati.
Angin pegunungan sementara itu meniup santer,
namun tidak menyadarkan mereka yang dalam pingsan.
Mereka rupanya mendapat luka didalam terlalu parah,
hingga sekian lama tidak sadarkan diri. Perlahan-lahan
hari pun menjelang sore, kemudian berubah gelap dan
pada waktu itulah ada berkelebat bayangan keluar dari
balik air terjun tadi.
Gesit luar biasa bayangan itu, tubuhnya langsing
ceking, akan tetapi dengan enteng sekali tampaknya ia
meraih tubuhnya Kwee In, buat kemudian dibawa
melesat dan masuk kedalam goa melewati air terjun.
Siapa penghuni dalam goa dibalik air terjun itu?
Entah berapa lama Kwee In tidak sadarkan diri, ketika
mendusin ia dapatkan dirinya berbaring diatas
pembaringan batu yang beralaskan kasur yang empuk
dan mengendus bau wangi menusuk hidungnja. Ia
celingukan mencari dari mana bau wangi itu keluar?
Matanya yang tajam melihat hawa wangi itu keluar dari
asap kayu yang dibakar tidak jauh dari pembaringan
diatas mana ia rebahkan dirinya.
Kayu apakah yang demikian wangi, entahlah?.
Kwee In coba gerakkan badannya, ternyata belum
dapat bergerak. Seluruh badannya dirasakan sangat
sakit, dadanya nyesak seakan-akan pernapasannya
macet kalau badannya bergerak. Ia tidak tahu, kenapa ia
sekarang berada dalam ruangan itu?
Perlahan-lahan ingatannya kumpul. Ia ingat ia telah
bertarung dengan tiga hweeshio dari Siauw-lim-sie dan
tiga imam dari Bu-tong-pay, dalam mana ia mengadu
Lwekang terakhir dengan kawanan kepala gundul itu dan
tubuhnya mental jauh, sejak itu ia tidak ingat pula akan
dirinya lagi.
Tempat apakah disitu? Ia menanya pada dirinya
sendiri, siapakah penghuninya? Apakah penghuni dari
tempat itu yang telah menolong dirinya?
Rupa-rupa pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.
Ia pusing memikirkannya. Ditambah pula dengan urusan
Eng Lian dan Bwee Hiang mengaduk dalam pikirannya,
membuat si bocah jadi linglung memikirkannya.
Pada saat itulah tiba-tiba tirai yang memisahkan
ruangan telah terbuka dan masuk seorang wanita cantik
mendekati pembaringannya.
“Oh, kau sudah sadar anak?" kata wanita cantik itu
dengan bersenyum manis.
Kwee In tidak menyahut, hanya mengawasi pada
wajah orang. Usianya wanita itu dikira paling-paling juga
tigapuluhan, namun wajahnya yang cantik mengingatkan
Kwee In kepada enci Hiangnya, yang ia tidak tahu
sekarang Bwee Hiang ada dimana?
Melihat Kwee In diam saja, wanita itu cendrungkan
badannya dan mengulur tangannya yang lunak halus
mengusap-usap jidatnya Kwee In. Dengusan dari
hidungnya wanita itu menyiarkan bau wangian, yang
membuat Kwee In berdebar hatinya.
“Kau siapa enci?" tanya Kwee In sementara ia
menikmati elusan-elusan mesra dari tangan si cantik,
yang mengingatkan ia kepada ibunya Lam-hay Mo Lie
ketika pertama kali ia berjumpa dengan ibunya itu.
“Anak, kau jangan banyak bicara dahulu. Badanmu
masih belum kuat, bila kau sudah pulih dua bagian saja
tenagamu, akan kuperkenalkan siapa aku," sahut si
cantik.
“Kau keliru, enci." kata Kwee In. “Aku sekarang pun
sudah sembuh, untuk apa mesti menunggu tempo
demikian lama, terangkanlah siapa sebenarnya enci?"
Wanita itu bersenyum manis, hingga Kwee In
terpesona.
“Anak, kau keliru memanggil aku enci," kata wanita
itu, seraya menarik sebuah bangku dan duduk didekat
Kwee In. Tangannya kembali diulur, mengusap-nsap jidat
dan pipinya Kwee In dengan perasaan sayang.
Kwee In merasa heran nampak kelakuan si wanita
cantik. Ia tidak kenal, baru saja untuk pertama kali ia
melinat wanita itu, namun, kelihatannya ia sangat
menyayangi dirinya seperti juga Lamhay Mo Lie
terhadapnya. Untuk Lamhay Mo Lie ia tidak heran, sebab
ia adalah ibunya sendiri. Tapi, wanita didepannya
sekarang ini, demikian ramah dan menunjukkan kasih
sayangnya, siapa gerangan si wanita cantik ini?
Kwee In anak nakal dan suka berkelakar, maka ia
berkata lagi: “Enci, kalau aku keliru memanggil enci,
bolehkah aku memanggil bibi?"
Wanita itu geleng kepala, wajahnya tetap bersenyum
manis.
Kwee In menjadi heran, usianya wanita didepannya itu
boleh dikata sebaya dengan ibunya (Lamhay Mo Lie),
kenapa ia keliru kalau memanggil bibi padanya?
“J adi, aku harus memanggil apa padamu?" tanya
Kwee In kepingin tahu.
“Popo...." sahut si wanita cantik, seraya perdengarkan
suara ketawa ngikiknya.
“Ah, enci kau berkelakar saja padaku," kata Kwee In
melengak heran.
“Itu memang panggilan yang paling tepat anak, sebab
kau adalah cucuku..."
Terbelalak matanya Kwee In mendengar perkataan
wanita itu. “Enci, kau jangan bergurau, katakanlah,
sebenarnya kau siapa?"
“Siapa yang bergurau denganmu? Aku memang
adalah kau punya popo..."
Popo artinya Nenek, jadi wanita itu adalah neneknya
Kwee In.
Kwee In termenung sejenak. Seingatnya belum pernah
ia mendengar ayah dan ibunya mengatakan bahwa ia
punya nenek. Mungkin ia tidak tahu, karena tinggal
bersama-sama orang tuanya itu tidak lama, ia sudah
balik ke Tong-hong-gay. Tidak keburu ayah dan ibunya
menceriterakan bahwa mereka masih mempunyai orang
tua.
Melihat Kwee In diam saja, wanita itu berkata pula:
“Anak In, kau tahu siapa aku?"
Kwee In tidak menyahut, hanya ia geleng-gelengkan
kepalanya.
“Anak In, aku adalah Thio Leng San, ibunya Kwee Cu
Gie..."
Kaget Kwee In badannya bergerak hendak bangkit,
tapi batal, karena seluruh tubuhnya dirasakan amat sakit.
Ia terpaksa tidur pula.
“Apakah kau tidak keliru memperkenalkan dirimu?"
Kwee In masih belum mau percaya.
Sebelum wanita itu menjawab, tiba-tiba tirai tadi
bergoyang dan kembali masuk seseorang. Kali ini adalah
seorang kakek kurus kering tapi gesit dan matanya
bersorot tajam sekali, menandakan Lweekangnya si
kakek sukar diukur.
Wanita itu bangkit dari duduknya menyambut kakek
tadi serta berkata: “Toako, anak In tidak percaya kalau
aku ini adalah neneknya."
Laki laki itu ketawa ngakak. Suaranya keras dan tajam
masuk kuping, hingga Kwee In kaget bukan main. “Hebat
Lweekangnya” ia membatin.
Setelah ketawa orang itu menghampiri pembaringan
Kwee In dan berkata: “Anak In, kau adalah cucu kami,
anaknya Kwee Cu Gie."
Kwee In masih belum percaya, ia kata, “Kalau kau jadi
Yayaku, aku dapat percaya, tapi ini enci menjadi Popoku,
benar-benar aku tidak percaya...."
Thio Leng San ketawa cekikikan, lagaknya masih
seperti gadis umur belasan saja. J usteru hal itu yang
bikin Kwee In tidak mau percaya.
“Anak In," kata si kakek pula. “Ia benar nenekmu. Kau
tidak percaya lantaran kelihatannya ia masih sangat
muda, tapi sebenarnya Popomu sudah berumur enam
puluh tahun lebih. Ia tampak masih demikian muda,
lantaran ia tempo hari kena makan buah ajaib yang
membikin dirinya jadi awet muda. Menurut mestinya,
keadaannya tidak lebih dari aku sekarang ini."
Kwee In berpikir. Ia ingat ibunya awet muda karena
minum obat, ia ingat dirinya makan buah J i-goat ko telah
memiliki Lwekang hebat. Sekarang mendengar si kakek
mengatakan neneknya makan buah awet muda, ia
percaya, maka seketika itu juga matanya berkaca kaca,
hingga membuat dua orang tua itu menjadi kaget.
Kiranya si kakek adalah Bian-ciang Kwee Eng Siang,
ayahnya Kwee Cu Gie. Si Tangan Lunak (Bian-ciang)
dengan isterinya Thio Leng San, waktu mudanya telah
malang-melintang dalam kalangan Kang-ouw dengan
julukan Hoay-siang Siang-hiap (Dua pendekar dari Hoay-
siang). Sepak teryangnya yang hebat menundukkan
orang-orang jahat menolong si lemah sangat terkenal
dan menjadi pujaan orang banyak.
Belakangan mereka telah menghilang dengan tiba-
tiba, tidak lagi terdengar kabar ceritanya, hingga orang
menduga mereka meninggal dunia, namun sebenarnya
mereka telah mengundurkan diri dari dunia ramai dan
menyepi di lembah Tong-hong-gay.
Mereka telah mendapat tempat dalam goa dibalik tirai
air terjun, yang cocok sekali dengan selera mereka.
Mereka ditemani oleh dua burung raksasa, ialah si
Rajawali Emas dengan isterinya, yang mereka rawat
sejak kecil dan setelah besar mereka telah mengabdi
kepada majikannya dengan sangat setia.
Si Rajawali Emas yang jinak pada Kwee In, adalah
piaraannya Kwee Eng Siang dan Thio Leng San. Mereka
kasi burung rajawalinya dipakai Kwee In oleh karena
kebaikannya si bocah yang telah menolong jiwanya si
Rajawali ketika kena panah beracun dari Siauw Cu Leng.
Eng Siang suruh burung raksasanya membalas budi
untuk kebaikannya orang dan si burung raksasa menurut
perintah majikannya. Ketika Kwee In dan Eng Lian
meninggalkan lembah, si burung raksasa juga sudah
balik pada majikannya dan berkumpul dengan isterinya.
Belakangan mendapat tahu bahwa Kwee In kembali, si
Rajawali juga telah disuruh oleh Eng Siang untuk
melayani si bocah pula. Tadinya Eng Siang dan Leng San
tidak kenali Kwee In adalah cucunya sendiri. Baru
mereka kenali ketika Kwee In kembali dengan wajah
aslinya yang mirip benar dengan Kwee Cu Gie, anaknya,
maka tak ragu-ragu pula dua orang tua itu menganggap
Kwee In adalah cucunya.
Bian-ciang Kwee Eng Siang pandai meramalkan
perkara-perkara yang sudah dan bakal datang.
Sudah banyak kali ia melihat Kwee In, namun ia tidak
mau unjukkan diri dan mengundang Kwee In kegoanya,
lantaran masih belum sampai temponya mereka ketemu
muka. Adalah hari itu, dimana Kwee In bertempur seru
dengan lawan-lawannya dimuka goanya, adalah hari
jodoh mereka bertemu satu dengan lain. Maka, melihat
Kwee In terluka, dengan lantas Leng San yang tidak
sabaran keluar goa dan menolong cucunya.
“Anak In, kau kenapa menangis?" menanya sang
nenek dengan penuh kasih sayang, seraya menyeka
matanya Kwee In yang berlinang-linang air mata dengan
tangannya.
“Popo, aku menangis bukan apa-apa. Aku menangis
karena kegirangan ketemu dengan Popo dan Yaya.
Entahlah ayah dan ibuku bagaimana girangnya mereka
kalau dapat jumpa dengan kalian dua orang tua," jawab
Kwee In ketawa gembira.
Kwee Eng Siang kembali perdengarkan suara ketawa
gelak-gelak. “Ayahmu tentu mengira aku dan Popo-mu
sudah meninggal dunia, sebab kami juga tidak
memberitahukan kepadanya keedamaian kami disini,"
berkata Kwee Eng Siang.
“Kenapa Yaya tidak memberitahukan ayah, kalian ada
disini?" tanya Kwee In heran.
“Anak In, manusia berkumpul dan berpisah sudah
ditetapkan oleh takdir. Untuk sementara belum sampai
pada temponya ayahmu boleh tahu aku dengan ibumu
ada disini. Sebab, manakala dipaksa bertemu, entah bagi
aku dan nenekmu atau bagi ayahmu akan menemui
malapetaka yang tidak enak. Inilah yang hendak aku
cegah..." Kwee Eng Siang setelah berkata telah
menghela napas beberapa kali.
Kwee In bingung, apa artinya yang dikatakan takdir
oleh Yayanya?
Sang nenek tahu apa yang dipikirkan cucunya, maka
ia berkata: “Anak In, manakala kau sudah pulih
kesehatanmu, nanti belajar ramalan pada Yayamu. Untuk
sekarang, kau jangan banyak tanya, kau harus menjaga
dirimu dan memulihkan kesehatanmu kembali. J angan
banyak bergerak dulu, cucu In."
“Popo, sebenarnya sudah berapa lama aku berada
disini?" tanya Kwee In
“Satu bulan kau terus-terusan pingsan, cucu...”
Terperanjat Kwee In mendengar dirinya sudah satu
bulan terus terusan pingsan.
“Cucu, kalau bukan aku dengan Yayamu nekad
menolong kau dari rengutan malaikat elmaut, rasanya
sekarang tinggal namanya saja”
Kembali Kwee In tergetar hatinya saking kaget, “Yaya
dan Popo, cucumu hanya membikin kalian susah saja..."
kata Kwee In dan matanya kembali berkaca-kaca
menangis.
Thio Leng San dan Kwee Eng Siuiig bergiliran
msnghibur cucunya.
Kwee In memang anak aneh, cepat sedih dan cepat
gembira, maka dalam tempo singkat mendapat hiburan
dari kedua orang tua itu, tampak wujahnya sudah
bergembira pula.
Pikirnya: “Sudah satu bulan aku dirawat oleh Yaya dan
Popo, entah bagaimana bingungnya enci Lian dan
bagaimana dengan nasibnya enci Hiang? Aku harus
lekas-lekas sembuh dan meninggalkan goa ini untuk
menjenguk enci Lian. Bersama enci Lian, aku mencari
enci Hiang."
“Untuk berapa lama pula aku harus rebah cara begini
dan sembuh dari sakit?" tanya Kwee In pada Poponya.
“Tergantung dari kekuatan Lweekang-mu. Yayamu
dan aku akan membantu memberi pulih Lweekang
padamu, pasti kau cepat sembuh,” sahut sang nenek
menghibur.
Kwee In terdiam. Sementara sang nenek keluar, Kwee
In merasakan tangannya dipegang oleh Kwee Eng Siang
dan diperiksa nadinya. Tiba-tiba Kwee In merasakan ada
aliran panas nyelusup masuk ke dalam tubuhnya dan
dengan gesit menjelajahi jalan darahnya.
Itulah Lwekang Kwee Eng Siang yang diam-diam
disalurkan kepada tubuh cucunya.
Kwee In merasakan nyaman sekali badannya dan
tenaganya tambah kuat.
Thio Leng San sebentar lagi sudah kembali dengan
semangkok bubur yang masih panas.
Melihat suaminya sedang menyalurkan Lwekangnya, ia
juga lalu gulung tangan bajunya dan memegang tangan
Kwee In yang sebelahnya pula. Segera Kwee In rasakan
nyelusup hawa dingin. Dalam tubuhnya sekarang ia
rasakan hawa panas dan dingin saling kejar membuka
pembuluh-pembuluh darahnya. Kwee In sekarang ini
tahu kalau Lweekang Yaya-nya berhawa panas, sedang
sang Popo berhawa dingin. Yang dan Im (Positif dan
Negatif) serentak menyembuhkan lukanya.
Kwee In rasakan enakan badannya dan napasnya juga
tidak sesesak tadi ketika ia baru saja siuman dari
pingsannya.
Kedua orang tua itu girang nampak Kwee In
bersenyum gembira.
Kapan mereka menarik pulang tangannya, Kwee Eng
Siang menanya “Bagaimana kau rasakan badanmu, cucu
In?"
“Enakan Yaya. Terima kasih atas pertolongan Yaya
dan Popo. Aku percaya dalam tempo singkat luka
parahku akan sembuh," berkata si bocah girang.
Thio Leng San mengambil bubur tadi, sementara
tubuhnya Kwee In telah diangkat bangun dan diduduki
oleh Kwee Eng Siang.
Dengan penuh kasih sayang Thio Leng San telah
menyuapi Kwee In.
Diam-diam Kwee In ketawa geli, kenapa ia yang
terkenal dengan julukan Hek-bin Sin-tong boleh
mengalami nasib yang demikian menyedihkan?
-oo0dw0oo-
Bab 23

DEMIKIAN, dengan pertolongan kakek dan neneknya,
dibantu dengan tenaga dalam sendiri yang perlahan-
lahan digunakan, Kwee In rasakan kesehatannya mulai
pulih setelah melewatkan waktu dua minggu sejak ia
siuman dari pingsannya.
Kwee Eng Siang dan isterinya kegirangan nampak
cucunya dapat ditolong.
Hanya tenaganya masih belum pulih semua, Kwee In
dapat menemani kakek dan neneknya kongkouw. Si
bocah senang mendengar kakek dan neneknya
menceritakan pengalamannya.
Dalam mengobrol itu tiba-tiba Kwee Eng Siang
kerutkan alisnya. Matanya menatap wajah cucunya
dengan tidak berkedip.
“Yaya, kau kenapa?" tanya Kwee In keheranan.
“Cucu In, diwajahmu kulihat ada cahaya kurang baik,"
sahut sang engkong menghela napas. “Setelah kau
keluar dari goa ini kau akan menemukan kejadian-
kejadian yang mengejutkan, yang tidak pernah kau alami
sebelumnya. Aku harap saja kau akan menghadapinya
dengan hati tabah, anak, sebab semua itu sudah maunya
Thian (Allah), kita manusia tidak bisa mencegahnya..."
Kwee In ketawa nyengir. Sebegitu jauh ia belum
pernah mengalami kekagetan menghadapi urusan apa
juga, maka ia ragu-ragu akan perkataan Yayanya.
“Yaya, pasti aku akan hadapi dengan hati tenang dan
tabah kejadian-kejadian yang mengejutkan seperti yang
Yaya maksudkan," sahut Kwee In gagah.
“Bagus, itulah yang Yaya dan Popomu harap, anak
In."
“Namun, apa Yaya dapat memberi sedikit keterangan
perkara yang mengejutkan itu supaja cucumu dapat
berjaga-jaga?"
“Cucu In, itu adalah rahasia alam. Yayamu tak dapat
memberi keterangan, hanya aku ingin menasehatkan kau
harus tenang dan tabah menghadapi kegoncangan hati,
sebab semua sudah maunya takdir. Inilah nasehat
Yayamu, harap cucu In perhatikan betul dalam
perjalanan hidupmu. Kalau kau menemukan kesulitan
apa-apa, ingatlah kepada nesehat Yayamu ini dan hatimu
akan menjadi tenang..."
“Cucu In, kau harus ingat nasehat Yayamu," Poponya
menimpali.
Kwee In unjuk ketawa njengirnya yang khas. “Yaya
dan Popo, terima kasih atas wejangan itu, pasti cucumu
akan perhatikan betul," Kwee In berjanji.
Kedua orang tua itu merasa senang hatinya,
diwajahnya menyungging senyuman. Selanjutnya Kwee
In menerima banyak nasehat dari mereka.
Lweekang Kwee In yang semula satu dengan lain
berlainan, ialah Lweekang yang ia dapatkan dari
keyakinannya sendiri sejak kecii dan Lweekang yang ia
dapatkan dari It-sin-keng, dengan petunjuk-petunjuk
Kwee Eng Siang dan isterinya, kini sudah dapat
dipersatukan dan Kwee In dapat menggunakannya
dengan leluasa. Sungguh menggirangkan sekali hatinya
si bocah, sebab Lweekang yang tergabung itu perlu
untuknya kalau satu waktu ia harus menghadapi pula
lawan-lawan berat dari Siauw-lim-sie dan Bu-tong pay.
“Cucu In," kata Kwee Eng Siang. “Kepandaianmu
sudah sangat tinggi. Untuk masa sekarang tidak ada
tokoh-toko silat yang dapat mengalahkanmu, meskipun
dengan beberapa orang mereka mengeroyok kau. Cuma
saja, kepandaianmu yang tinggi itu kau jangan gunakan
dijalan yang keliru, sebab ini sangat berbahaya dan tidak
ada orang yang dapat menundukkan kau. Ingatlah cucu
In, kau harus menjadi orang baik baik, membasmi
kejahatan, menolong orang kesusahan. Betulkah kau
mau berjanji, cucu?"
“Cucu suka berjanji!" jawab Kwee In kontan, tanpa
pakai pikir-pikir pula.
Kwee Eng Siang dan Thio Leng San ketawa
mendengar jawaban sang cucu.

Toat Beng Nia...
Diatas bukit pencabut nyawa (Toat-beng-nia) tampak
dua orang sedang berlatih silat.
Yang satu pemuda cakap tampan dan yang lainnya
wanita setengah tua, ialah Siang Niang Niang alias Tui-
hun Lolo, si nenek pengejar roh.
Kim Liong, pemuda itu, tampak mainkan silatnya
dengan bagus sekali. Ternyata anak muda itu mendapat
banyak kemajuan menjadi muridnya “Tok-gan Hek-liong
(si Naga Hitam Mata Satu), yang mendidiknya dengan
sungguh-sangguh.
Kini dengan munculnya Tui-hun Lolo dan mengajarkan
kepandaian kepadanya, ilmu silat anak muda itu tambah
hebat saja, diam-diam hatinya merasa girang.
Pikirnya, tidak malu ia nanti ketemu lagi dengan Bwee
Hiang, gadis yang menjadi pujaannya, sekalipun ia sudah
tahu bahwa pengharapannya hanya hampa karena si
gadis sudah ada yang punya. Ia masih mengharapkan
jatuhnya sang rembulan, maka ia tidak dapat melupakan
parasnya Bwee Hiang yang sangat menarik perhatiannya.
Hanya Bwee Hiang yang dapat membuat hatinya
bahagia. Ia membayangkan kebahagiaan hidupnya
dikemudian hari dengan si nona kosen, ia yakin bahwa si
nona bakal dijodohnya.
Melihat muridnya berlatih dengan ‘isterinya’ demikian
hebat kepandaiannya, si Naga Hitam bersenyum-senyum
girang. Pikirnya, dengan bantuan anak muda itu ia tidak
takut ada musuh datang mengganggu ketenteraman
hidupnya.
Kepandaian Tok-gan Hek-liong dan Tui-hun Lolo
dikombinasikan oleh si anak muda, membuat tiap-tiap
pukulan Kim Liong menjadi sangat berbahaya, dan bikin
Siang Niang Niang kewalahan.
Diam-diam ia memuji kepandaian Kim Liong. Anak
muda ini ”bukan saja wajahnya yang cakap, juga
kepandaian silatnya mungkin ia berlatih dua-tiga bulan
lagi si Naga Hitam dan aku sendiri dikalahkan olehnya..."'
Tiba-tiba, sedang mereka berlatih sengit, Tok-gan
Hek-liong bangkit dari duduknya dan menghampiri
mereka. “Stop, stop dulu, aku mau bicara."
Siang Niang Niang dan Kim Liong pada lompat
mundur.
“Ada apa kau menyetop kami berlatih, Toako?" tanya
Siang Niang Niang.
“Aku mau menemui seseorang, aku akan pergi dulu
dan sebentar malam mungkin aku kembali, kalian
teruskan saja berlatih..." jawab si Naga Hitam.
Kemudian sambil melambai-lambaikan tangannya yang
dibalas oleh Siang Niang Niang dan Kim Liong, si Naga
Hitam telah meninggalkan murid dan isterinya.
Dua orang itu, murid dan ibu guru, teruskan
latihannya ketika si Naga Hitam sudah tidak kelihatan
bayangannya. Banyak ibu guru itu telah memberi
petunjuk petunjuk kepada Kim Liong, hingga anak muda
itu merasa berhutang budi pada Subo.

Setelah merasa cukup berlatih, maka Siang Niang
Niang mengajak Kim Liong pulang.
Dengan perasaan sangat gembira, anak muda itu
mengiyakan dan ikut ibu gurunya pulang. Sampai
dirumah, Kim Liong tidak tinggal diam, ia memasak nasi
dan menghangatkan hidangan yang sebentar sore akan
dihidangkan kepada guru dan ibu gurunya. Repot Kim
Liong dan ia benar-benar satu murid yang bisa bawa diri.
Segala keperluan gurunya ia tidak lalai menyediakannya
hal mana membikin Tok-gan Hek-liong sangat sayang
kepada Kim Liong dan anak muda itu tahu bahwa
gurunya sangat sayang padanya.
Setelah beres dengan kerjanya, tampak Kim Liong
duduk mengambil angin diserambi depan gubuknya
menantikan pulangnya sang Suhu.
Tiba tiba ia mendengar panggilah Subonya, cepat ia
masuk kedalam dan melihat sang ibu guru sedang
rebahan diatas dipan dengan pakaian istimewa, serba
tipis, menggiurkan sekali. Apalagi dikala sang Subo
menggeliat-geliat menggerakkan pinggulnya dan menarik
napas hingga dadanya bergerak, membuat Kim Liong
yang baru pernah menyaksikan hal itu menjadi berdiri
bengong.
“Liong-jie, kau kenapa berdiri bengong saja? Lekas
kemari, aku mau bicara dengan kau!” berkata Siang
Niang Niang.
Kim Liong datang menghampiri dengan dada
berdebar.
“Liong ji, kau duduk disitu!" sang Subo menyilahkan
muridnya ambil tempat duduk diatas bangku yang tidak
berjauhan letaknya dari dipan diatas mana ia berbaring.
Kim Liong menurut. Ia menanya, “Subo memanggil
aku ada urusan apa?"
“Hihihi..." Siang Niang Niang ketawa genit.
Kim Liong bingung melihat kelakuan sang ibu guru.
“Liong-ji" kata Siang Niang Niang pula. “Kau bigini
cakap, apa tidak kesepian tidur sendirian? Seharusnya
kau punya teman, supaya jangan kesepian tidur. Hii...
hi...”
Kim Liong tidak senang hatinya melihat sang Subo
demikian genit dan mengeluarkan kata-kata yang
melantur, tapi ia tidak berani mengatakan apa-apa.
Bagaimana putih dan halusnya kulit sang Subo dibalik
bajunya yang serba tipis, membuat Kim Liong tergetar
juga hatinya. Wajahnya sang Subo yang lesu dan
matanya redup-redup seperti mengantuk,
menggairahkan sekali. Seberapa bisa Kim Liong tekan
perasaannya yang bergejolak oleh karenanya.
“Liong ji," kata sang Subo pula ketika melihat anak
muda iiu diam saja bagai patung dan matanya
mengawasi kepada tubuhnya yang menggairahkan. “Asal
kau suka menuruti kemauanku, akan kuturunkan semua
kepandaianku padamu dan pasti kau akan menjagoi
kalangan persilatan..."
“Subo, aku biasanya menuruti kemauanmu, habis aku
harus menuruti apa lagi?" tanya Kim Liong, seperti tolol
mengartikan perkataannya sang ibu guru.
“Bukannya itu yang aku maksudkan, aku mau kau
menuruti kemauanku sekarang..."
“Aku harus bagaimana menuruti kemauan Subo?"
J engkel hatinya si wanita genit mendengar jawaban si
murid yang ketolol-tololan.
“Kau mari dekat sini duduknya...!" kata Siang Niang
Niang, seraya tangannya diulur dan menarik tangan Kim
Liong, hingga si pemuda terjerumuk dan jatuh memeluk
tubuh yang empuk menggiurkan itu.
Siaug Niang Niang merangkul kencang. “Liong-ji, masa
kau tak mengerti akan kemauanku? Oh, Liong-ji..."
keluhnya lirih.
“Subo, jangan, jangan begini, nanti Suhu pulang...
Subo lepaskan aku..." kata Kim Liong seraya berontak
dari pelukan si wanita genit.
Bau harum yang menusuk hidung dari tubuh yang
menggairahkan itu, serta tangannya Siang Niang Niang
yang nakal menjamah-jamah bagian yang
membangunkan nafsu, membuat Kim Liong jadi bimbang
hatinya.
“Anak tolol, kenapa harus melewatkan saat yang
baik?" kata si genit, seraya mencium mulutnya Kim
Liong, dan seketika itu gugurlah imannya Kim Liong, si
jejaka tampan.
Ia balas memeluk dan mencium Siang Niang Niang
tangannya menjamah ke bawah. Gemetar Kim Liong
merasa bendanya dijamah dan dipakai main.
“Liong-ji, Subomu akan bikin kau merasakan hidup
bahagia..."
“Subo, jangan...!" Kim Liong melarang dengan suara
lemah, ketika si genit menarik tali kolor celananya.
“ Liong-ji, kau tahu bahwa..." kata Siang Niang Niang,
tidak menghiraukan ratapan si pemuda yang mulai
menyesal atas perbuatannya.
“Bagus!" tiba-tiba terdengat suara lantang
membentak.
Dua mauusia itu kaget bukan main. Kim Liong lompat
menjauhkan diri dari Siang Niang Niang sambil
mengikatkan tali celananya, sedang si wanita genit yang
baru meloloskan pakaian bawahnya, juga melejit gesit
sekali dan tahu tahu sudah ada didepan orang yang
mendengus tadi
Sambil merapikan pakaiannya, Siang Niang Niang
mencaci maki orang itu, yang ternyata tiada lain adalah
Sim Liang.
“Suheng, kau benar-benar kurang ajar, berani kau
melarang kesenanganku?"
“Siauw-sumoay, kau jangan memikirkan sekarang
saja, kau harus ingat juga yang sudah-sudah. Bukankah
kau sudah berjanji, hanya kami berdua saja yang
memiliki dirimu?"
“Persetan sama janjiku itu. Suheng, lekas kau pergi!"
Sim Liang tahu kelemahannya Tui-hun Lolo. Maka
ketika dibentak, ia bukannya pergi, sebaliknya telah
merangkul wanita genit itu dan menghujani dengan
ciuman, kemudian meraih tubuhnya sang adik kecil
dalam perguruan itu, dibawa masuk ke kamarnya Tok-
gan Hek Liong.
Kim Liong berdiri bengong menyaksikan kejadian itu.
Ia hanya mendengar Siang Niang Niang berkata:
“Suheng, lepaskan aku...."
Sedang ia memikirkan apa yang terjadi dalam kamar
Suhunya, tiba tiba terdengar suara 'Crat!' dan lengan Kim
Liong yang kanan telah tertabas kutung.
Kaget bukan main si anak muda tiba-tiba ada orang
yang menabas kutung lengannya. Darah membanjir
keluar dari lengannya, hingga membikin badannya lemas.
Ia coba putar tubuhnya menghadapi orang yang
membokong tadi. Orang itu tiada lain adalah Sim Leng
yang ketawa nyengir kepadanya.
Bukan main marahnya Kim Liong, ia sembat
pedangnya dan menyerang Sim Leng dengan kalap, tapi
ia tidak bisa berbuat banyak, lantaran menggunakan
tangan kiri dan tenaganya keburu lemah oleh banyaknya
darah yang mengucur dari lengannja.
Akhirnya ia kena dirobohkan. “Hahaha....!" Sim Leng
tertawa gelak-gelak.
Si kakek tidak mau membunuh si anak muda,
sebaliknya, ia telah corat-coret wajahnya Kim Liong yang
cakap dengan senjata tajamnya. Sebentar saja wajah
yang tampan itu sudah rusak digores pergi datang dan
mengeluarkan banyak darah. Kim Liong sementara itu
sudah jatuh pingsan disiksa demikian kejam.
Setelah puas merusak muka orang, Sim Leng bangkit
dari jongkoknya dan ketawa gembira. Kemudian ia teriaki
kakaknya: “Toako, belum selesai?"
Berbareng dengan itu tampak Sim Liang keluar dari
kamar dan menghampiri adiknya. “Sute, lekas kau
masuk, jangan sampai ia keburu keluar!" kata Sim Liang.
“Suheng, kau lemparkan anak haram ini kebawah
jurang, supaya Niang Niang tidak mencarinya pula!"
pesan Sim Leng, sementara itu sudah mencelat ke pintu
kamar.
Ia lihat Siauw sumoaynya sedang merapikan
pakaiannya dengan rambut masih kusut.
Sim Leng meluap napsunya, ia merangkul Siauw-
sumoaynya dan direbahkan pula diatas pembaringan,
seraya bertubi-tubi menciumi dan tangannya
menggerayangi tubuh orang dengan tidak merasa puas.
“J i-suheng, aku sudah lemas..." kata Siang Niang
Niang seraya menyingkirkan tangannya Sim Leng yang
dengan kasar meloloskan pakaian sang Siauw-sumoay.
“Siauw sumoay, apa kau mau bikin J i-suhengmu
penasaran...?" sahut Sim Leng dan dengan beringas
menerkam adik kecil seperguruannya.
“Hihihi..." terdengar suara Siang Niang Niang tertawa
genit...
Sementara dua manusia itu bekerja didalam kamar,
Sim Liang bekerja untuk memindahkan tubuhnya Kim
Liong yang sedang pingsan. Dengan kejam ia
melemparkan pemuda itu kedalam jurang yang curam.
Pikirnya, kalau si pemuda tidak mati sekaligus, disambut
batu-batu tajam dibawah jurang itu, sedikitnya ia akan
mati dimakan beburonan hutan.
Puas hatinya si kakek. Setelah merapikan pakaiannya,
ia kembali kerumah, dimana ia lihat Sim Leng barusan
saja keluar dari kamar, disusul oleh Siang Niang Niang
yang rambutnya masih kusut. Ia tetap dalam pakaian
tipisnya yang menggiurkan, wajahnya cuma sangat lesi,
rupanya barusan obral tenaganya melawan dua musuh
berat.
Sambil ketawa-ketawa ia ambil tempat duduk didipan,
segera kedua suhengnya duduk dikedua sampingnya. Ia
diapit, begitulah memang kerjanya dua saudara she Sim
itu untuk merayu Siauw-sumoynya. Bergilir mereka
memeluki tubuh sang adik seperguruan dan menjamah
bagian-bagian yang mengelikan, sehingga sang Siauwsu-
moay ketawa cekikikan genit sekali. Ia sama sekali tidak
memikirkan Kim Liong, setelah ada dua orang itu yang
menggantikannya bersenang-senang.
Dalam keadaan gembira demikian, tiba-tiba mereka
dibikin terkejut mendengar suara ketawa terbahak-bahak
dipintu.
“Hahaha...!" demikian orang itu ketawa. “Aku kira
siapa, tidak tahunya Toa dan J i suhengnya yang sedang
menggembirakan adik seperguruannya. Sungguh mesum
kelakuan kalian! Niang Niang, aku benci kau melupakan
aku! Lekas kau juga keluar!"
Itulah Tok-gan Hek-liong yang datang. Ia barusan saja
pulang. Mendengar ada orang yang bercakap-cakap
dalam rumahnya, ia mengira Kim Liong muridnya, tidak
tahunya setelah ia mengintip, ia kenali Sim Liang dan
adiknya yang sedang merayu Siang Niang Niang yang
genit dan cekikikan ketawa.
Marah bukan main ia tatkala itu. Segera ia
perdengarkan ketawanya, disusul oleh caci makinya tadi.
Mereka kelihatan tidak takut diusir oleh Tok-gan Hek-
liong, malah bangkit dari duduknya pun tidak, mereka
bertiga masih merapatkan diri dengan acuh tak acuh
mengawasi pada si Naga Hitam yang sedang marah.
Siang Niang Niang kerutkan alisnya yang lentik
mendengar dirinya diusir oleh Tok-gan Hek-liong. Melihat
perubahan wajahnya sang adik seperguruan, dua kakek
itu girang, sebab menurut kebiasaan, asal si genit
mengerutkan alisnya ia marah dan belum sudah kalau
belum melampiaskan amarahnya.
“Kalian tuli!" bentak Tok-gan Hek-liong. “Lekas kalian
keluar dari rumahku, jangan sampai aku marah dan
berlaku tidak memandang kawan!"
“Hmm! Memandang kawan, memangnya kami ini
adalah kawanmu?" jengek Sim Leng.
“Liong-ji, Liong-jie! Dimana kau berada?" teriak si
Naga Hitam, meneriaki muridnya dan hendak
menegurnya sudah memberikan kesempatan orang main
gila dalam gubuknya. Tapi orang yang diteriaki tidak
perdengarkan jawaban apa apa.
“Kau berteriak setinggi langit, muridmu tak akan
muncul. Ia sekarang sudah dimakan binatang buas
dibawah jurang!" kata Sim Liang.
“Kau membunuh muridku?" bentak si Naga Hitam.
“Kalau benar, kau mau apa?" jawab Sim Liang berani.
Si Naga Hitam marah bukan main, lantas ia cabut
goloknya dan meneryang pada tiga orang yang sedang
enak-enak saja duduk.
Baharu ketika serangan mengancam, ketiga orang itu
pencarkan diri dan masing masing mengeluarkan
senjata. Siang Niang Niang gunakan pedang, sedang Sim
Liang dan adiknya menggunakan golok sebagai
genggamannya.
“Niang Niang, kau perempuan lacur, bagaimana juga
perbuatanmu tidak berubah menjadi baik-baik. Kau
berjanji akan melupakan pada Toa dan J i-suheng mu,
sekarang buktinya apa?"
“Hehe, kau mencaci aku? Dirimu sendiri macam apa?”
Niang Niang balas memaki.
Si Naga Hitam naik pitam, mana dapat dikendalikan
amarahnya. Segera ia ulangi serangannya pada Sim
Liang. Sim Leng yang menalangi menangkis, Sim Liang
membarengi dan akhirnya mereka bertempur seru.
Si Naga hitam mainkan goloknya dengan hebat sekali.
Dikeroyok oleh tiga orang lawan yang kepandaiannya
masing-masing bukannya rendah.
Siang Niang Niang, si genit waktu itu sama sekali tidak
ingat lagi akan cintanya si Naga Hitam, ia mencecar
dengan serangan-serangan yang mematikan.
Terang si Naga Hitam bukan tandingan mereka
bertiga.
Lagi beberapa jurus berjalan, segera kelihatan si Naga
Hitam sudah mandi keringat dan main mundur saja
diserang lawannya.
“Kena!" tiba-tiba Sim Liang berteriak, menyusul si
Naga Hitam roboh terkulai, rusuknya kena ditusuk
dengan goloknya Sim Liang.
Sim Leng tidak mau kasi hati lawannya, sebab seketika
itu juga ia telah kerjakan goloknya membabat leher
orang.
Siang Niang Niang memejamkan matanya merasa
ngeri atas kematiannya si Naga Hitam yang pernah
memberi kesenangan kepadanya.
Sebelum ia dapat berpikir apa-apa, tiba-tiba kedua
tangannya ditarik oleh Sim Liang dan Sim Leng.
Tubuhnya seperti melayang dibawa terbang oleh dua
kakek itu.

Kim Liong sementara itu yang dilemparkan kedalam
jurang ternyata tidak mati.
Cabang-cabang dari pohon-pohon yang menolong
menahan meluncurnya tubuh si anak muda dan ketika
sampai dibawah ia hanya pingsan, memang ketika ia
dilemparkan sudah pingsan.
Berapa lama anak muda itu tak sadarkan diri, tahu-
tahu ketika siuman ia tertidur diatas sebuah bale-bale.
Tidak jauh darinya ada duduk seorang tua yang tengah
menundukkan kepalanya. Tidak lama kemudian orang
tua itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Kim
Liong. “Ooo, kau sudah siuman?" berkata orang tua itu
girang.
Kim Liong manggutkan kepalanya. Ia hendak bangkit
dari rebahnya, tapi tidak bisa, sebab seluruh badannya
dirasakan sangat sakit, lebih-lebih luka dilengannya yang
dikutungi Sim Leng terasa sakit sekali kalau ia geraki.
“Kau senasib denganku, anak muda," kata orang tua
itu lagi. “Lihat, tanganku juga kutung sebelah!" seraya ia
gulung tangan bajunya yang sebelah kanan, ternyata
tangannya orang tua itu memang kutung sampai
sikutnya.
Bedanya tidak seberapa, Kim Liong terkutung
disebelah atas sedikit dari sikutnya.
Kini Liong bersenyum getir melihat orang tua itu
memperlihatkan tangannya yang buntung. Ia menyahut:
“Memang kita satu nasib. Mengapa Lopek pun bisa
buntung tangannya? Tentu ada orang jahat yang telah
menganiaya Lopek."
Orang tua itu menghela napas, tidak menjawab. “Anak
muda. siapa namamu?” ia menanya pada Kim Liong
sesaat kemudian.
“Aku she Tan nama Kim Liong," sahut si anak muda.
“Bagaimana kau bisa jatuh kedalam jurang?"
“Aku dilemparkan orang jahat!"
“Kejam, memang orang jahat sangat kejam!" Kembali
orang tua itu memperdengarkan helaan napas.
“J adi Lopek yang menolong aku membawa kesini?"
tanya Kim Liong.
“Kau menebak separuhnya, anak muda."
“Apa maksudmu dengan perkataan menebak
separuhnya?”
“Orang lain yang membawa kau sampai depan rumah
dan aku yang membawa masuk!”
Kim Liong nyengir ketawa, karena nyengir ia rasakan
wajahnya nyeri bekas digores pergi datang oleh
senjatanya Sim Leng.
Kim Liong gemas pada si kakek yang merusak
wajahnya yang tampan.
Dalam omong-omong lebih jauh, Kim Liong kaget
orang tua itu mengaku bahwa ia bernama Oey Pek. Ia
lantas saja menanya. “Lopek tentu adalah Ceng Ie
Sianseng Oey Pek, bukan? Kau tentu kenalan dari guruku
Tok-gan Hek-liong Lauw Kin, bukan?"
“Ha...! Gurumu Tok-gan Hek-liong Lauw Kin?"
menanya orang tua itu kaget.
“Ya. guruku adalah sahabat atau saudara angkat dari
lopek."
Orang tua itu menghela napas panjang. “Anak muda,
kau tahu hanya kulitnya saja, persahabatanku dengan si
Naga Hitam. Memang tadinya aku mengira ia adalah
orang baik, maka aku sudah tolong ia dan menurunkan
juga sedikit kepandaian silatku, tapi belakangan aku
dapat kenyataan ia adalah seorang boceng dan telah
mencelakakan aku sampai aku tidak berani muncul lagi
dikalangan Kong-ouw. Ia sangat jahat, ah, aku tak dapat
melukiskan kejahatannya itu..."
Kim Liong terbelalak matanya mendengar perkataan
Oey Pek. Ia memang ada mencurigai keadaan sang guru
yang sebenarnya. Sekarang dengan tidak disangka-
sangka ia dapat mendengar dari Oey Pek, seorang yang
pernah menolong gurunya dan memberi pelajaran silat
yang berarti.
Ingin ia menanyakan hal itu lebih jauh, tapi ia tidak
berani melihat Oey Pek seperti berduka kelihatannya.
Demikian dengan pertolongan Oey Pek kira-kira
semiuggu lamanya Kim Liong sudah sembuh dari luka-
lukanya dan muiai pasang omong dengan tuan rumah.
Kepada Kim Liong ia menuturkan perhubungannya
dengan Tok-gan Hek-liong.
Ketika Oey Pek sudah menolong Lauw Kin dari
ancaman dua saudara she Sim, ia ajak Lauw Kin tinggal
bersama-sama. Dalam rumah, Oey Pek hanya tinggal
berdua dengan isterinya yang bernama Ceng Lian,
dengan Lauw Kin jadi mereka tinggal bertiga.
Ceng Lian tidak bisa silat dan perlakukan Lauw Kin
seperti saudara sendiri.
Dengan sungguh-sungguh Oey Pek telah memberi
pelajaran silat pada Lauw Kin, sehingga ia mahir dan
boleh diadukan dengan jago silat lain.
Perhubungan mereka makin akrab.
Ketika isterinya Ceng Lian melahirkan, Lauw Kin
memberi selamat pada Oey Pek dan mendoakan anaknya
lelaki nantinya akan menuruni kepandaian sang ayah
menjadi jago dalam kalangan persilatan.
Oey Pek girang mendapat pemberian selamat itu.
Belakangan Lauw Kin dengan mengandalkan
kepandaiannya telah melakukan pekerjaan kurang baik,
ialah melakukan pembegalan. Lantaran kepandaiannya
tidak rendah, maka saban kali pekerjaannya berhasil dan
membagi hasilnya kepada isterinya.
Oey Pek tidak senang dengan barang tak halal itu,
maka ia suka tegur isterinya dan larang sang isteri
menerima hadiah dari Lauw Kin yang didapat dari jalan
jahat.
Tapi Ceng Lian tidak gubris larangan sang suami, ia
tetap masih menerima hadiah-hadiah yang berharga dari
Lauw Kin.
Malah Sang isteri telah menyindir kepadanya, “Kau
bisa mengatakan orang melakukan kejahatan, apa kau
sendiri melakukan kebaikan? Apa hasilnya kau melakukan
kebaikan? Mendingan melakukan kejahatan seperti Lauw
Kin, sudah terang mendapat banyak hasil dan dapat
membikin isteri senang."
Oey Pek marah dijengeki isterinya, tapi ia sangat
sayang pada sang isteri, maka amarahnya itu ia telan
saja dan sejak itu ia tidak mau mengatakan apa-apa lagi
kalau sang isteri menerima hadiah dari Lauw Kin.
Berselang hampir dua tahun lahirnya anak yang
pertama, kembali Ceng Lian telah melahirkan anak, kali
ini adalah anak perempuan.
Girang bukan main Oey Pek mendapat hadiah anak
yang kedua itu.
Tadinya, sudah berjalan lima tahun ia menikah dengan
isterinya, tidak dikuruniakan anak, sekarang saling susul
ia mendapat anak, sungguh hatinya sangat girang.
Lahirlah anak kedua, Oey Pek lihat, Lauw Kin telah
memberi hadiah yang lebih hebat dari anaknya yang
pertama. Isteri Oey Pek kegirangan dan membanggakan
pemberian itu didepan sang Suami yang dikatakan tidak
punya kemampuan untuk membikin senang isterinya
Sampai sebegitu jauh Lauw Kin masih terus
menumpang dirumahnja Oey Pek.
Ia sebenarnya sudah kaya dengan hasil membegalnya,
tapi ia belum mau berlalu dari rumahnya si orang she
Oey, entahlah apa sebabnya?
Oey Pek tidak mengatakan apa-apa, malah ia senang
Lauw Kin menumpang terus dirumahnya, karena ada
orang yang lihat-lihat isteri dan anak anaknya manakala
ia dalam berpergian meninggalkan rumah sampai dua
tiga malam tidak pulang. Ia percaya Lauw Kin, yang
menjadi separuh murid darinya, melindungi rumah
tangganya dengan sungguh hati.
Pada suatu hari ia melihat Lauw Kin tidak pulang.
Ditunggu dua tiga hari, belum juga sahabat itu pulang,
hal mana membikin hatinya heran dan khawatir. Lebih-
lebih isterinya telah menangis dan menyuruh Oey Pek
mencarinya.
Oey Pek lain membikin penyelidikan, ternyata Lauw
Kin telah kena dijebak oleh kawanan berandal dari Coa-
san (gunung ular), yang dikepalai oleh tiga kepala be-
randal yang bernama Teng San, Teng Goat dan Kho Sun.
Oey Pek lain ceritakan hal ini kepada isterinya. Ceng
Lian menangis sesenggukkan. Ia berkata. “Engko Lauw
dengan kau sudah mengangkat saudara, susah senang
sama-sama, kenapa kau tega membiarkan adikmu
ditahan oleh kawanan berandal? Sungguh kau tidak
berguna menjadi manusia, apabila kau tidak menolong
engko Lauw. Lekas cari daya untuk melepaskan
kepadanya!"
Oey Pek yang menyayangi lsterinya, terang hatinya
tergerak oleh kata kata sang isteri. Ia menyahut,
“Baiklah, kau jangan menangis, aku nanti cari daya untuk
tolong Lauw-hiante. Aku nanti cari kawan untuk
membantu aku."
Ceng Lian girang hatinya. Ia ketawa mendengar
perkataan sang suami. “Kau adalah saudara yang setia.
Maka, kapan engko Lauw sudah dibebaskan, pasti ia
akan sangat berterima kasih kepadamu. Ia adalah orang
baik, lekas kau menolonginya!"
Ceng Ie Sianseng lantas mencari Kawan untuk
menyatroni kawanan berandal dari Coa-san. Ia sendiri
pergi kurang mantap hatinya, karena ia dengar kawanan
berandal itu kini berjumlah besar. Tiga kepalanya juga
bukan rendah kepandaiannya.
Beberapa kawannya Oey Pek tidak bersedia untuk
pergi kesana. Mereka jerih dengan keangkerannya Coa-
san. Maka Ceng Ie Sianseng hanya diantar oleh kawan
akrabnya saja yang bernama Leng Tong ia menyatroni
Coa san.
Dengan berani ia menemui Teng San dan dua
saudaranya.
“Saudara-saudara datang kemari ada urusan apa?”
tanya Teng San, ketika mereka berhadapan.
“Kedatangan kami adalah tentang urusan Lauw Kin
yang saudara sudah tahan beberapa hari disini. Aku
harap dengan mengingat pada persahabatan dalam
kalangan Kang-ouw, saudara suka melepaskan saudara
Lauw itu."
Teng San kerutkan keningnya. la menyahut: “Lauw Kin
si begal tunggal itu sangat kurang ajar, berani beroperasi
di wilayah kami, makanya kami tangkap untuk dikasi
hajaran. Bicara soal lain aku mau menemani saudara,
tapi bicara soal Lauw Kin, sebaiknya kita hentikan sampai
disini saja."
Oey Pek ketawa gelak-gelak. “Saudara Teng, kau
terlalu memandang rendah pada Ceng Ie Sianseng.
Dengan sikapmu ini apakah aku tak dapat jalan lain
untuk memerdekakan saudaraku itu? Kau jangan terlalu
memandang rendah padaku?”.
Teng San kaget juga Oey Pek menyebutkan
gelarannya. Memang Teng San dan dua sandaranya
sudah dengar perihal munculnya seorang muda yang
lihay dan memakai julukan Ceng Ie Sianseng, tuan
berbaju hijau.
Tapi, sebagai kepala berandal, ia harus membawa
keangkuhannya dan dapat menyembunyikan perasaan
kedernya, maka ia pun tertawa gelak-gelak dan berkata:
“Hahaha, aku kira siapa yang datang, tidak tahunya Ceng
Ie Sianseng? Bagus! Suatu pertemuan yang kebetulan
sekali. Memang sudah lama aku ingin belajar kenal
dengan Ceng Ie Sianseng"
“Sekarang juga kau belajar kenal dengan Ceng Ie
Sianseng!" bentak Oey Pek.
“Sret!”
Berbareng Oey Pek menghunus pedangnya, diikuti
oleh kawannya Leng Tong.
“Hahaha, Ceng Ie Sianseng mau unjuk
kegagahannya!” mengejek Teng San.
Teng Goat dan Kho Sun juga sudah siap dengan
senjata goloknya.
Teng San sendiri menggunakan sepasang senjata
bercagak tiga yang tengahnya panjang. Dalam ruangan
rapat yang luas lebar itu mereka berhadapan.
“Toa-cecu," tiba-tiba Leng Tong berkata. “Urusan ini
sebaiknya kita selesaikan dengan jalan damai saja, kita
tak usah bermusuhan."
“Maksud saudara Leng bagaimana dibereskannya?"
tanya Teng San.
“Aku maksudkan, kalau Cecu merasa dirugikan dengan
perbuatannya Lauw Kin, nanti Lauw Kin yang mengganti
kerugian itu, asal Cecu sudah membebaskan ia dari
tahanan. Dengan begitu kita damai dan tak perlu
meuggerakkan senjata."
“Maksud saudara Leng memang baik, tapi kerugian
yang disebabkan operasi Lauw Kin itu ditempat yang
termasuk wilayah kami adalah sangat besar, cara
bagaimana ia dapat menggantinya? Oleh sebab itu, tidak
ada jalan untuk berdamai, mari kita selesaikan dengan
senjata saja, supaya mendapat keputusan. Kalau kami
kalah, dengan senang kami akan memerdekakan dirinya
Lauw Kin, tapi kalau sebaliknya, kalian lekas enyah dari
sini dan jangan datang pula, baik urusan apa saja!"
Panas hatinya Oey Pek mendengar perkataan Teng
San. “Apakah kau kita aku takut denganmu?" bentaknya
nyaring.
“Apa kau kira Toa-cecu dari Coa-san takut
denganmu?" balas membentak Teng San.
Toa cecu artinya Kepala berandal kesatu.
Pertengkaran mulut itu segera disusul dengan
pertarungan senjata.
Oey Pek gesit dan lincah majukan pedangnya,
sebaliknya Teng San gagah sekali mainkan sepasang
kheknya. Ternyata mereka adalah tandingan yang
setimpal, seakan-akan dua harimau yang tengah
berkelahi hebat.
Namun berkat latihan yang sungguh-sungguh dan bisa
merawat diri, tampak Oey Pek lebih unggul dari
lawannya yang alpa berlatih dan banyak plesiran dengan
perempuan. Demikian, dengan perlahan-lahan Teng San
telah keteter oleh lawannya.
Melihat saudara tuanya terdesak, Teng Goat dan Kho
Sun sudah siap sedia untuk datang membantu. Dilain
pihak Leng Tong juga tidak tinggal diam, ia pasang mata
untuk bokongan dari kawan kawannya Teng San.
Pertandingan setelah berjalan dua puluh jurus, tegas
sekali bahwa Teng San sudah kedesak betul-betul oleh
lawannya. Segera ia kasi tanda supaya dua saudaranva
turun tangan membantu. Teng Goat dan Khu San lantas
menyerbu mengeroyok Oey Pek, namun Leng Tong juga
sudah menyerbu membantu kawannya. Dengan begitu
pertarungan suara senjata beradu berkali kali ramai
sekali. Ternyata Leng Tong kepandaiannya tidak dibawah
Oey Pek, maka pertemparan dua lawan tiga menjadi
berimbang.
Kawanan berandal berkelahi dengan tekad hendak
melakukan pembunuhan. sebaliknya Oey Pek dan Leng
Tong hanya bermaksud memenangkan pertandingan
untuk mendapat kemerdekaan Lauw Kiu yang ditahan
oleh mereka.
Tampak serangan-serangan dari Teng San dengan
kawan-kawannya sangat ganas dan mematikan. Untung
Oey Pek dan Leng Toan berkepandaian tinggi dan dapat
melayani dengan bagus.
Meskipun kawanan berandal merangsek seru dan
nekad, namun mereka tak dapat berbuat banyak
menghadapi perlawanan yang gigih dari Oey Pek dan
kawannya, akhirnya Oey Pek mengeluarkan tipuan
serangannya yang paling diandalkan ialah Yu kek-se-ie
atau 'Hujan perintis dilembah sunyi'. Pedangnya
berkelebatan menyilaukan pandangan, tahu-tahu
sepasang khek Teng San dan goloknya Teng Goat kena
dijatuhkan dengan sontekan pedang pada pergelangan
tangan.
Leng Tong dilain pihak juga sudah memenangkan
pertandingannya dengan membikin goloknya Kho Sun
terlepas dari cekalannya. Mereka hanya mendapat luka
sedikit saja pada pergelangan tangannya, tapi nyata
mereka telah dilucuti senjatanya dan dikalahkan dengan
mutlak oleh Oey Pek dan Leng Tong.
Meskipun sudah memenangkan pertandingan dengan
bagus sekali, Oey Pek tidak menjadi sombong dan
menekan lawannya yang sudah kalah, sebaliknya dengan
manis budi ia berkata: “Pertandingan sudah selesai,
harap sekalian Cecu suka memenuhi janji."
Teng San dan dua kawannya mengerti bahwa Oey Pek
minta Lauw Kin dikeluarkan.
Berat sebenarnya mereka memerdekakan Lauw Kin,
karena begal tunggal itu kepandaiannya tinggi dan
sering-sering merugikan mereka. Tapi, oleh karena
mereka sudah berjanji, apa boleh buat, Teng San
perintah orangnya untuk mengeluarkan Lauw Kin dari
tahanannya. Sementara menanti munculnya Lauw Kin,
Oey Pek dan Leng Tong dijamu oleh Teng San untuk
mengikat persahabatan. Dua jago pedang itu tidak
keberatan, lantaran itu perjamuan menjadi gembira
jalannya.
Ketika Lauw Kin muncul, ia juga diajak makan-makan
sekalian.
Girang hatinya Lauw Kin telah mendapat pertolongan
dari Oey Pek.
“Oey Toako, sungguh berat aku menerima budimu
yang sudah menolong diriku, semoga budimu ini
mendapat balasan yang setimpal dalam hidupmu!"
berkata Lauw Kin.
Lalu kepada Leng Tong ia berkata: “Leng-heng, kau
juga telah membantu aku mendapat kemerdekaan pula,
sungguh budimu sangat besar. Semoga aku si orang she
Lauw dapat membalasnya."
“Lauw-heng, kau jangan berkata begitu," sahut Leng
Tong. “Kita adalah orang sendiri, kau dapat kesusahan,
dengan senang aku bantu, sebaliknya, kalau aku
mendapat kesusahan, apakah kau senang tinggal peluk
tangan.
Lauw Kin ketawa gelak-gelak mendengar jawabannya
sang kawan.
Urusan yang utama sudah selesai, maka Oey Pek dan
kawan-kawannya mohon diri pada Teng San dan
saudara-saudaranya. Ketika mereka berpisahan, Teng
San memesan pada Lauw Kin: “Lauw-heng, apa yang kau
alami beberapa hari dalam tahanan sebagai pelajaran,
aku harap selanjutnya kau tidak melanggar wilayah kami
lagi, untuk mencegah timbulnya bentrokan diantara kita,
sukakah kau berjanji?"
Lauw Kin tidak menyahut, ia hanya ketawa nyengir.
Mendelu hatinya Teng San. Ia mengerti ketawa
nyengirnya Lauw Kin pertanda bahwa perkataannya tadi
tidak diacuhkan dan Lauw Kin kembali nanti akan
melanggar wilayahnya untuk mencari hasil.
Meskipun gusar dan gemas pada si orang she Lauw,
kepala berandal itu tak dapat berbuat apa-apa, kecuali
menarik napas panjang.
Ketika Oey Pek dan kawan kawan kembali dirumah,
disambut oleh Ceng Lian dengan ketawa-ketawa girang.
Ia menghaturkan selamat kepada Lauw Kin yang
sudah keluar dari tahanan kawanan berandal, ia memuji
Oey Pek (suaminya) yang dengan sungguh-sungguh
membantu kawan dan kepada Leng Tong, nyonya Oey
juga tidak lupa menghaturkan terima kasih atas
bantuannya.
Leng Tong heran. Ia tidak mengerti akan sikap Ceng
Lian yang repot mengucapkan terima kasih atas
kebebasannya Lauw Kin, sedang ia dengan Lauw Kin
hanya teman serumah saja. Seharusnya yang repot
mengucapkan terima kasih adalah Lauw Kin, bukannya ia
(Ceng Lian), hal mana membuat Leng Tong jadi buat
pikiran atas sikap Ceng Lian itu.
Oey Pek sendiri tidak perhatikan sikap isterinya yang
mencurigakan Leng Tong.
Ia malah memuji sang isteri sangat memperhatikan
kawan, suatu pribadi yang luhur.
Ceng Ie Sianseng memang sangat mencintai isterinya,
segala gerak geriknya dianggap benar saja. Tidak heran
kalau belakangan ia mendapat kisikan hal isterinya dari
Leng Tong telah membuatnya melengak dan tidak
percaya.
“Toako, aku bukannya hendak meretakkan kau suami
isteri” berkata Leng Tong. “Cuma saja, aku sebagai
kawanmu yang paling akrab, tidak rela melihat kau
dipermainkan. Hal ini kau mau usut atau tidak, itulah
terserah. Asal aku sudah mengisikannya padamu. Aku
lihat sikapnya Toa-so terhadap Lauw Kin sangat aneh."
Oey Pek ketawa. “Terima kasih, Hiante. Urusan itu
rupanya hanya kebetulan saja, aku tidak ingin urusan
rumah tangga menjadi kacau!" jawab Oey Pek, tampak
parasnya seperti kurang senang dan tidak lama pula ia
sudah meninggalkan Leng Tong.
Si orang she Leng hanya menarik napas panjang
melihat kelakuan Oey Pek.
Pada hari-hari berikutnya Oey Pek tak berkunjung pula
kerumahnya Leng Tong, itu pertanda bahwa si orang she
Oey tidak senang pada Leng Tong! Akan tetapi Leng
Tong tidak ambil perduli. ia yakin satu waktu
perkataannya akan menjadi nyata.
Oey Pek yang memang selalu repot dengan
pekerjaannya sebagai pendekar, sering-sering tidak
pulang kerumah dua-tiga malam. Pada sore itulah Oey
Pek berkata pada isterinya: “Adik Lian, mungkin
kepergianku kali ini mendapat halangan, maka kau
jangan cemas kalau dalam beberapa malam ini aku tidak
pulang. Aku sudah minta Lauw hiante untuk bantu
menjaga rumah tangga kita, maka kau jangan takut..."
“Toako, sebaiknya kau jangan pergi. Kalau kau lama-
lama diluaran rasanya hatiku tidak tentram, meskipun
ada Lauw-hiante yang membantu tilik-tilik rumah tangga
kita," sahut sang isteri yang menyatakan ketidak
senangnya sang suami pergi lama-lama.
“Urusan yang akan aku kerjakan ada sedikit
berbahaya, tapi itu untuk menolong orang susah, aku
tidak menyesal. Untuk sekali ini aku pergi minta tempo
beberapa malam, lain kali aku tidak akan mencari
kesulitan pula dan lebih senang aku diam dirumah
menemani kau dengan anak-anak..."
Oey Pek berkata sambil menowel pipinya sang isteri.
“Iiihh... genitnya masih juga belum hilang!" kata Ceng
Lian, seraya tangannya menangkis tangan nakal dari Oey
Pek.
Kedua suami isterinya itu ketawa ketawa gembira.
Ketika sang malam tiba, Ceng Lian dipembaringan
bernyanyi-nyanyi meniduri anak anaknya.
Yang besar tidur diranjang spesial, sedang yang kecil
tidur bersama sama ia, yang setelah pulas ia pindahkan
ke ranjang kecil untuk bayinya itu.
Setelah anak-anaknya pada tidur, tampak Ceng Lian
gelisah. Tidur salah dan bangunpun salah rupanya,
tarikan napasnya pun agak memburu, hingga kedua
buah dadanya yang bulat besar habis neteki oroknya tadi
bergerak naik turun.
Apa yang dipikirkan oleh Ceng Lian, entahlah?
“Tok! Tok! Tok!" tiba-tiba terdengar suara ketukan
pintu.
Ceng Lian lompat dari tempat tidurnya dan
menghampiri pintu. “Siapa?" ia menanya.
“Aku, Ceng Lian...” terdengar sahutan dari sebelah
luar.
Dengan tepat pintu dibuka. Seorang laki-laki
menerobos masuk yang segera dirangkul oleh Ceng Lian
dan diciumi. “Engko Kin, kau bikin aku sangat gelisah..."
kata Ceng Lian.
Laki-laki itu yang bukan lain Lauw Kin adanya, telah
balas dengan hangat pelukan Ceng Lian dan memondong
nyonya rumah lalu direbahkan diatas pembaringan.
“Ceng Lian, apa anak-anak kita sudah tidur semua?"
tanya Lauw Kin.
“Sudah, barusan saja mereka tidur," sahut Ceng Lian.
“Aku khawatir perhubungan kita lama-lama akan
diketahui oleh Oey toako. Maka pikiranku kepingin
pindah dari sini," menyatakan Lauw Kin.
“Kau pindah dari sini? J adi, kau mau tinggalkan aku?”
“Bukan tinggalkan kau, setempo tentu aku bikin
kunjungan manakala aku tahu Oey toako kebetulan tidak
ada dirumah."
“Perduli amat dengan Oey Pek. kalau tidak ada kau, ia
tidak punya anak!"
“Kau jangan kata begitu. Oey-toako sangat baik dan
sudah menolong aku."
“Hm! Menolong kau? Kalau tidak ada aku yang
mendesak ia supaya menolong kau, mana ia mau buang
tenaga untuk keluarkankan dari tahanan berandal Coa
san?"
Lauw Kin melengak. Ia pun sebenarnya merasa heran
Oey Pek demikian sudi menolongnya. Sedang
hubungannya belakangan ini ada sedikit retak karena
Oey Pek tidak menyetujui ia menjalankan pekerjaan
membegal. Kini ia baru tahu kalau Oey Pek menolong
dirinya lantaran desakan Ceng Lian.
“Ceng Lian, sungguh kau adalah isteriku yang baik”
kata Lauw Kin seraya merangkul dan memberikan
kecupan mesra.
“Engko Kin, kau jangan pindah,'' kata Ceng Lian.
“Kalau kau pindah nanti lebih lebih mencurigakan orang,
kalau kau datang kemari."
“Baiklah, sekarang bagaimana?"
“Sekarang... kau harus memberi aku puas..."
“Apa saban ketemu aku tidak membikin kepuasan?"
“Itu lain, selama ditahan kau membikin aku rindu
dan..."
“Baiklah manisku...” Lauw Kin menyetop kata-kata
Ceng Lian dengan menekan bibirnya dan tangannya yang
nakal mulai merayapi tubuhnya Ceng Lian, hingga si
nyonya menggeliat-geliat kegelian.
“Tanganmu nakal, bikin aku mati kegelian... Hihihi..."
si nyonya nyeleweng ketawa cekikikan.
Pada saat itulah terdengar pintu menjeblak ditendang
orang.
Dua manusia yang mau main sandiwara itu kaget
bukan main. Cepat pada mengenakan pakaiannya dan
turun dari pembaringan.
Belum sampai Lauw Kin melangkah jauh, didepannya
sudah berdiri Oey Pek.
Lauw Kin menjadi sangat ketakutan. Lebih-lebih Ceng
Lian, menggigil badannya dan tidak berani turun dari
pembaringan.
“Manusia-manusia hina, dua-dua maju terima binasa!"
bentak Oey Pek nyaring dengan penuh kegusaran.
Lauw Kin sudah lantas berlutut, sedang Ceng Lian
paksakan diri turun dari pembaringan dan turut Lauw Kin
berlutut didepan Oey Pek.
“Lauw Kin, kau ingat berapa kali aku sudah menolong
jiwamu?" tanya Oey Pek.
“Aku ingat Oey toako, dua kali kau sudah tolong
jiwaku."
“Kau sekarang pandai silat, apa itu dapat kau pelajari
sendiri?"
“Kau yang ajari dan aku terima budimu."
“Kau merasa terima budiku, kenapa kau membikin
kacau rumah tanggaku?"
“Oey toako, ampun, aku terima salah...''
“Ceng Lian, kau dari mana aku pungut sebagai
isteriku?" Oey Pek tanya isterinya.
“Aku asal anak orang miskin. Atas kebaikanmu aku
dijadikan isterimu."
“Bagus, kau masih ingat. Selama jadi isteriku, apa aku
perlakukan kau tidak baik?"
“Sama sekali tidak! Kau sangat baik, aku merasa
bahagia menjadi isterimu."
“Hahaha... Bahagia, tapi kenapa kau nyeleweng?"
“Aku turut kau sudah lima-enam tahun, belum juga
mendapat anak."
“Oo, jadi lantaran kepingin punya anak Kau
nyeleweng?”.
Ceng Lian tidak menjawab, ia tundukkan kepala
dengan air mata bercucuran.
“J awab, apa lantaran kepingin punya anak makanya
kau nyeleweng?"
Ceng Lian perlahan-lahan anggukkan kepala. “Itulah
sebabnya..." ia menyahut perlahan.
Tergetar hatinya Oey Pek. Kiranya, dua anaknya itu
bukan anak aslinya, mereka adalah anak-anaknya Lauw
Kin. Perasaan sayang pada kedua anaknya seketika itu
menjadi lumer seperti es batu yang kena panasnya
matahari. Ia menghela napas, hatinya pedih bukan main,
isterinya gara-gara kepingin punya anak telah
nyeleweng.
“Toako, kejadian sudah begini, aku harap kau
mengampuni kami orang yang berdosa..." meratap Ceng
Lian, seraya menubruk dan memeluk kakinya sang suami
sambil menangis sangat sedih, hingga hatinya Oey Pek
yang sedang gusar jadi mereda.
la ingat akan cintanya sang isteri diwaktu mereka baru
saja menikah. Mereka merasakan hidup bahagia dan
mengharapkan kedatangannya seorang putera atau
puteri. Tapi pengharapan hanya tinggal pengharapan
sampai mereka menikah lima-enam tahun, baik putera
maupun puteri tak kunjung datang.
Bagaimana girangnya Oey Pek tatkala tiba-tiba melihat
isterinya mengandung dan kemudian telah melahirkan
seorang anak laki-laki. Dua tahun kemudian kelahiran
seorang puteri pun telah menyusul, dirasakan oleh Oey
Pek hidupnya sangat bahagia sekali.
Tapi.... celaka tigabelas... anak-anaknya itu bukan
darah dagingnya, mereka dilahirkan dari perzinahan
dengan Lauw Kin, seorang yang ia pandang sebagai
saudaranya sendiri. Ia tidak nyana Lauw Kin bisa
membelakangi dirinya, Lauw Kin yang telah menerima
banyak budinya.
Apa yang ia harus perbuat sekarang?
Ia keraskan hatinya dan angkat pedangnya untuk
ditabaskan pada batang lehernya Lauw Kin yang tinggal
menunduk berlutut.
Pada saat itulah terdengar suara orok menangis,
disusul oleh menangisnya sang kakak yang terkaget oleh
suara ribut-ribut.
Pedang yang sudah tinggal ditabaskan pada batang
lehernya Lauw Kin, terhenti, kemudian dilemparkan.
“Sudahlah..." katanya menghela napas. “Lekas kalian
berlalu dari rumah ini, aku tidak ingin melihat wajah
kalian lagi. Bawa anak-anakmu sekalian..."
Oey Pek putar tubuhnya dan berlalu.
Lauw Kin tiba-tiba bergerak badannya dan menyerang
iga Oey Pek dengan totokan. Si orang she Oey tidak
mengira akan kejadian itu, tidak heran ia kena dibokong
dan jatuh terkulai. Cepat Lauw Kin mengambil pedang
Oey Pek yang barusan dilemparkan. Dengan senjata itu
ia menabas kutung lengannya Oey Pek.
Sungguh kejam sekali Lauw Kin. Ceng Lian mau
mencegah sudah tidak keburu, maka ia hanya bisa
menangis suaminya diperlakukan demikian kejam oleh si
orang she Lauw.
“Engko Kin, ia tidak bersalah, kenapa kau menabas
tangannya kutung?" kata Ceng Lian sambil menangis
sesenggukan.
“Ia sangat tinggi kepandaiannya, dengan hilangnya
tangan kanannya, ia tidak dapat memainkan pedangnya
pula."
“Tapi ia tidak berbuat kejam terhadap kita, kenapa
kau perlakukan ia demikian?"
“Ah, kau perempuan banyak mulut!"
“Aku bukannya banyak mulut, seharusnya kita bilang
terima kasih kepadanya tidak mengambil batok kepala
kita."
“Kau perempuan banyak mulut, memangnya kau
masih cinta padanya?"
Menyusul perkataannya, Lauw Kin tangannya
melayang menampar pipinya Ceng Lian hingga wanita itu
jatuh pingsan setelah mengeluarkan jeritan kesakitan.
Lauw Kin benar-benar kejam. Ia tidak menghiraukan
Ceng Lian, tapi ia lantas mendekati Oey Pek yang tidak
berkutik. Dengan beberapa kali tepukan pada jalan darah
yang penting, Lauw Kin telah memusnahkan ilmu silat
Oey Pek. Selanjutnya si orang she Oey tidak akan
menjadi jago pedang lagi yang kesohor dengan nama
Ceng Ie Sianseng.
Oey Pek jatuh pingsan dimusnahkan Lweekangnya.
Kemudian diwaktu siuman kembali ia melihat kesekitar
ruangan. Ia tidak dapatkan si ganas Lauw Kin, hanya
isterinya Ceng Lian menggeletak tidak jauh darinya da-
lam keadaan sudah jadi mayat.
Oey Pek rasakan ia sudah bebas dari totokan dan
dapat merangkak bangun.
J ago pedang yang bernasib malang itu menghampiri
Ceng Lian dan memeriksa, kiranya Ceng Lian telah mati
lantaran ditotok urat kematiannya.
“Sungguh kejam..." menggumam Oey Pek.
Ketika ia memeriksa ranjang kecil, kedua anaknya
sudah tidak ada ditempatnya lagi, mungkin telah dibawa
pergi oleh Lauw Kin.
Kejadian diatas telah menggemparkan dan menjadi
buah bibir penduduk kampung.
Leng Tong datang menghibur Oey Pek, yang sekarang
merasa telah menjadi nyata kisikannya sang sahabat baik
itu.
Merasa malu tinggal terus dalam kampungnya, maka
Oey Pek diam-diam sudah pindah mencari tempat yang
aman, ia mendapat tempat seperti yang sekarang ia ting-
gal.
Demikian penuturan Ceng Ie Sianseng kepada Kim
Liong.
Anak muda itu sangat tertarik dengan penuturan si
orang tua, beberapa kali ia menghela napas dan
menyesalkan perbuatannya sang guru, si Naga Hitam
alias Lauw Kin.
“Lopek, kenapa kau tidak melakuan pembalasan?"
tanya Kim Liong.
“Anak muda, kau ini seperti ngimpi saja, bukankah aku
sudah menjadi seorang cacat. Cara bagaimana aku dapat
membalas sakit hatiku?" sahut Oey Pek ketawa getir.
Kim Liong sadar kesalahannya. Ia minta maaf untuk
pertanyaannya tadi yang dikeluarkan tanpa dipikir dulu.
Kim Liong duduk termangu-mangu memikirkan
nasibnya.
“Anak muda, kau lagi melamun apa?'' tanya Oey Pek.
“Aku lagi memikirkan nasibku, Lopek? Aku punya
tangan kanan yang biasanya digunakan main pedang,
sekarang sudah kutung, cara bagaimiua aku dapat
menjagoi jago pedang pula? Mukaku yang dirusak aku
tidak pikirkan, hanya tanganku yang kanan,yang aku
ingin gunakan untuk membalas tak dapat aku pakai..."
Oey Pek ketawa menyeringai. “Itu soal mudah, anak
muda. Asal kau mau luluskan permintaanku, aku akan
berikan kepandaian menggunakan pedang dengan
tangan kiri," kata Oey Pek.
“Aku harus melakukan apa untukmu?” tanya Kim Liong
kepingin tahu.
“Aku minta kau bunuh gurumu si Naga Hitam itu, yang
kau sekarang tahu kejahatannya sampai dimana?" jawab
Oey Pek, wajahnya menunjukkan perasaan gemas.
Kim Liong terkejut dan tundukkan kepala mendapat
jawaban demikian.
Ia ingat akan kebaikannya sang guru waktu
mendidiknya, sebaliknya ja tidak bisa lupakan
kejahatannya yang begitu buas mencelakakan Oey Pek,
si Baju Hijau, yang tulen-tulen adalah penolongnya.
Ia mempertimbangkan pergi datang.
Napsunya untuk menjadi jago dalam kalangan Sungai
Telaga (Kang-ouw) meluap-luap sejak ia dikalahkan
mengadu Lweekang dengan Bwee Hiang. Ia ingin
menjagoi dalam kalangan persilatan, untuk menunjukkan
pada si nona cantik bahwa ia bukannya pemuda tidak
berguna. Terdorong oleh kemauan keras ini, maka Kim
Liong telah terima baik permintaan Oey Pek dan sejak
itulah ia diajari main pedang dengan tangan kiri.
Oey Pek sudah menciptakan Coat-ciang Kiam-hoat,
ilmu pedang tersendiri menggunakan tangan kiri.
Maksudnja kalau tenaga Lwekangnya pulih ia dapat
gunakan ilmu itu untuk menuntut balas pada si Naga
Hitam. Tapi sayang, setelah ia berusaha sekerasnya
tenaga dalamnya telah musnah sama sekali, hingga ia
putus asa dalam niatnya menuntut balas.
Tiba-tiba pada itu hari ia dapat menolong Kim Liong.
pemuda yang mempunyai tulang dan bakat baik,
kebetulan tangan kanannya juga kuntung, timbullah
dalam hatinya pengharapan dapat menggunakan
tenaganya si anak muda untuk membalaskan sakit
hatinya.
Ia tidak mengira kalau Kim Liong adalah muridnya si
Naga Hitam yang menjadi musuh besarnya itu. Ia pikir
manakala Kim Liong sudah dapat tahu riwayat
kejahatannya si Naga Hitam pasti ketarik akan
membunuhnya, maka ia sudah menceritakan riwayat
perhubungannya dengan Lauw Kin dan kemudian ia
menawarkan ilmu pedangnya ditukar dengan
pembunuhan atas dirinya si Naga Hitam.
Kim Liong memiliki bakat dan tulang-tulang yang baik
untuk menjadi ahli silat kelas wahid, maka tidak seberapa
sukar ia menerima kepandaian menggunakan dengan
tangan kiri. Dalam sedikit tempo saja ia sudah hapal dan
tinggal mematangkan dengan banyak berlatih dalam ilmu
pedang yang istimewa itu.
Kim Liong kegirangan setelah memahami ilmu pedang
Oey Pek.
Pada suatu hari ia pamitan dari Oey Pek untuk
mencari si Naga Hitam.
Tujuannya adalah balik keatas jurang dimana si Naga
Hitam bersembunyi.
Ketika ia sampai dirumah si Naga Hitam, ia tidak
dapatkan penghuninya, malah keadaan disitu sangat
kotor dan berantakan. Ia menemukan sesosok mayat
yang sudah jadi kerangka (jerangkong). Waktu ia periksa
dengan teliti, hatinya terkejut, karena itu adalah
kerangka dari tubuhnya si Naga Hitam. Ia kenali dari
sebelah matanya yang kiri meletos kedalam, si Naga
Hitam hanya menggunakan matanya yang kanan saja.
NB : Bab 24 dibuku asli memang tidak ada
-oo0dw0oo-

J ILID 9
Bab 25

TOK-GAN HEK-LIONG sudah mati. Hatinya Kim Liong
lega dan girang, sebab dengan kematian sang guru ia tak
usah dengan tangannya sendiri membunuh gurunya itu,
yang terhadap dirinya sendiri tidak membuat dosa apa
apa.
Untuk membikin Oey Pek merasa puas bahwa
musuhnya sudah tewas, maka Kim Liong balik lagi
kerumah Oey Pek dan mengajak si orang she Oey untuk
menyaksikan sendiri kerangka dari Tok-gan Hek-liong.
Untuk naik keatas jurang Oey Pek tidak bisa, maka ia
digendong oleh Kim Liong ke sana. Waktu menyaksikan
dan meyakinkan bahwa rangka itu adalah kerangka si
Naga Hitam, maka hatinya Oey Pek msajadi senang ada
orang yang menolong membalaskan sakit hatinya. Siapa
yang sudah membunuh si Naga Hitam, Oey Pek tidak
tahu, tapi yang terang ia kegirangan melihat musuhnya
sudah tiada dalam dunia ini.
Setelah Kim Liong antar balik Oey Pek kerumahnya
pula, ia mohon diri dari si Baju Hijau untuk merantau.
Oey Pek, sebagai orang yang berpengalaman, telah
memberi banyak nasehat kepada si pemuda supaya
menjaga dirinya baik-baik jangan kena ditipu oleh kawan
yang mulutnya manis tapi hatinya buruk. Dan
menganjurkan supaya anak muda itu meyakinkan terus
ilmu pedangnya sampai mahir betul. Ia percaya dengan
pedang ditangan kiri tidak kurang lihaynya dengan orang
yang memegang pedang ditangan kanan. Malah dalam
ilmu pedang tangan kirinya itu ada banyak jurus-jurus
istimewa yang membikin lawan kelabakan dan akhirnya
dibikin terjungkal.
Kim Liong mengucapkan banyak terima kasih atas
semua nasehat Oey Pek.

Co Ciang Kiam Hoat.

Ilmu pedang yang Kim Liong terima dari Oey Pek
dinamai 'Co-ciang-kiam-hoat' atau 'Ilmu Pedang Tangan
Kiri', Banyak jurusnya yang lihay dan bervariasi, tidak
heran kalau si anak muda sangat tekun meyakinkannya.
Dengan ilmu pedangnya yang hebat itu, sebenarnya
Kim Liong sudah boleh pulang dan menjagoi
dikampungnya sebagai pemimpin dari Ceng liong-pang,
tapi anak muda itu mau mencari pengalaman dalam
dunia Kang ouw dan ia mengambil keputusan untuk
merantau. Dengan pengharapan satu waktu ia dapat
berjumpa dengan Bwee Hiang, gadis yang ia buat pikiran
siang dan malam.
Kadang-kadang ia sangsi, dengan mukanya sekarang
sudah rusak, apakah Bwee Hiang ketarik olehnya,
meskipun ilmu pedangnya hebat?
Mengingat akan pepatah 'kalau jodoh masa kemana?'
ia tidak hilang harapan ketemu dengan gadis impiannya
itu.
Dalam perjalanan di pegunungan, tiba-tiba ia
dikagetkan oleh beberapa orang yang lari serabutan. Ia
heran, ia ingin menanya, tapi orang-orang itu
kelihaiannya sangat ketakutan dan tidak ada seorangpun
yang berhenti untuk ditanya.
Ia dengar satu diantaranya berkata, “Celaka, paman
Kim tentu dimakan. Bagaimana baiknya? Apa tidak lebih
baik kita kembali saja? Masa kita dengan banyak orang
tidak bisa mengeroyok seekor macan?"
“Kau ngomong seenaknya saja, macan itu sangat
besar dan mana kita mampu melayaninya. Apa kau lupa
kata pamaii Kim kemarin, bahwa si A Liong telah
diterkam mati olehnya dengan tidak meninggalkan
bekas?"
Demikian Kim Liong mendengar percakapan mereka
sembari lari ketakutan.
Sebentar lagi ada dua orang yang lari belakangan
telah meneriakinya: “Anak muda, lukas kau sembunyi
atau ikut kami lari. Macan itu sangat buas, aku takut kau
juga nanti dimakan seperti paman Kim..."
Kim Liong bimbang hatinya. Apa ia perlu turut lari?
Tanya dalam hati kecilnya.
Mengingat bahwa ada seorang tua yang menjadi
korbannya binatang buas, hati pendekarnya tergugah
dan ia bersemangat untuk melawan macan.
Mereka heran Kim Liong diam saja. Mereka kira tentu
Kim Liong tuli, makanya juga tidak meladeni peringatan
mereka.
Sebentar lagi berkesiur angin keras, itulah tanda sang
macan buas mendatangi.
Orang orang yang belum jauh lari merasa ngeri si
anak muda akan diterkam oleh binatang buas itu,
mereka pada naik kepohon, untuk menyaksikan si macan
akan mengumbar kebuasannya terhadap si anak muda
tuli itu.
Tidak lama, benar saja lompat keluar seekor macan
loreng yang besar badannya, panjangnya hampir tiga
meter.
Ia menggerang menakuti didepannya Kim Liong, yang
jadi kesima menghadapi si raja hutan untuk pertama kali.
Sambil menggerang dan mencakar-cakar wajahnya
sendiri, macan itu benar-benar menakutkan.
Hanya sejenak Kim Liong kesima melihat macan
demikian besar didepannya, tapi setelah itu bangun
semangatnya. Seperti kepada manusia, Kim Liong
berkata: “Macan kau mengganas membikin orang lari
ketakutan, apa-apaan perbuatanmu itu? Apa barusan kau
sudah makan manusia? Kau benar-benar buas!"
Orang orang yang berada diatas pohon melengak
mendengar si pemuda bicara dengan seekor macan
buas. Pikirnya, apa pemuda itu ingatannya kurang beres?
Macan itu heran melihat manusia tidak takut padanya.
Ia menggerang dan menubruk Kim Liong.
Anak muda itu berkelit, macan itu menubruk angin.
Panas hatinya sang macan, segera ia putar tubuhnya dan
menyerang Kim Liong pula, namun anak muda itu
melayani dengan tenang. Beberapa kali tubrukan sang
macan telah menubruk sasaran kosong, hingga sang
macan menjadi jengkel dan kecapean sendiri.
Ia mendekam mengaso dulu rupanya dan matanya
mencilak mengawasi kepada Kim Liong yang ketawa
nyengir kepadanya.
Orang-orang diatas pohon kagum akan kepandaian
Kim Liong dapat mempermainkan macan yang besar itu.
Mereka kepingin lihat bagaimana kesudahannya?
Kim Liong melihat macan itu mendekam saja seperti
sedang menghilangkan lelah, menjadi tidak sabaran dan
datang dekat mengganggu. Sang harimau beringas lagi.
ia menubruk dengan buasnya. Kim Liong kelit nyamping,
dari mana ia menjotos rusuknya si raja hutan hingga
mengerang kesakitan.
Ketika kembali macan itu menubruk, Kim Liong tidak
kasi hati, tangannya menampar keras pada kepalanya,
kontan kepala itu hancur dan berantakan isinya. Macan
itu jatuh dan tidak bangun iagi setelah berkelejotan.
Kim Liong berdiri terpaku, ia merasa gegetun dengan
kesudahan tampatannya tadi membuat kepala macan
hancur berantakan.
Sementara itu orang banyak sudah datang merubung.
“Anak muda kau sungguh hebat. Betul-betul hebat
pukulanmu!" memuji diantaranya orang banyak itu. Tapi
Kim Liong tidak menjadi bangga, malah merasa kasihan
kepada sang macan yang kepalanya hancur.
Sebetulnya ia tidak sengaja membikin hancur kepala
macan itu, ia menampar menurut sukanya, ia tidak tahu
reaksi Lweekangnya sudah sangat dahsyat.
Kim Liong dipuja puji oleh orang-orang itu, yang
ternyata hampir semuanya adalah pemburu.
Ia diundang untuk mengunjungi rumahnya kepala
rombongan pemburu itu yang bernama Lie Hun. Kim
Liong tidak keberatan, memang perjalanannya tidak
mempunyai tujuan.
Disana Kim Liong mendapat kehormatan sebagai tamu
istimewa.
Senang Kim Liong melihat kawanan pemburu itu
semuanya ramah tamah.
Menurut cerita mereka, ternyata macan itu bukannya
satu, tapi ada sepasang. Yang mati adalah
perempuannya, sedang yang lelakinya jauh lebih buas
dan sudah ada beberapa diantara pemburu itu yang
menjadi korban.
Selagi mereka omong-omong, ada beberapa orang
datang melapor bahwa paman Kim yang telah dimakan
macan, hanya ketinggalan pakaian dan sepasang kakinya
saja yang dagingnya sudah digerogoti oleh si binatang
buas.
Paman Kim adalah pamannya Lie Hun, tentu saja Lie
Hun sekeluarga menjadi sangat sedih atas kematian sang
paman.
“Dengan matinya sang macan betina, pasti yang
jantan akan mengamuk dan mengganggu keamanan
dalam kampung ini," berkata Lie Hun.
“Sampai demikian buas macan itu?" tanya Kim Liong.
“Macan jantan itu jarang keluar diwaktu siang.
Keluarnya diwaktu malam dan hebat sekali tenaganya,
beberapa jaring perangkap dapat ia bikin robek
seenaknya saja. Lantaran itu, berkali-kaii kena ketangkap
ia dapat meloloskan diri lagi."
“Kalau begitu macan itu tak boleh dibuat permainan!"
nyeletuk Kim Liong.
“Apa Tan heng tidak ada ingatan iseng-iseng
menghadapi macan jantan itu'' tanya Lie Hun ketawa, ia
memancing selera tamunya untuk turun tangan.
“Boleh juga," sahut Kim Liong ketawa.
Lie Hun kegirangan. Semua orang yang hadir pada
bersorak kegirangan mendengar kesanggupan Kim Liong.
Ada beberapa orang yang tawarkan diri untuk ikut serta,
tapi Kim Liong menolak, katanya lebih baik kalau ia kerja
sendiri asal dikasi tahu dimana tempatnya dapat bersua
dengan macan jantan itu.
Lie Hun dan kawan kawannya memberitahukan Kim
Liong dibagian-bagian mana suka lewat macan jantan itu
diwaktu malam. Kim Liong berjanji akan perhatikan
petunjuk itu dan sebentar malam ia akan pergi sendiri
kesana.
Diwaktu sorenya, Kim Liong dijamu dengan hidangan
serba lezat, katanya itu sebagai pemberian selamatan
kepada Kim Liong yang hendak menangkap macan buas.
Kim Liong tidak menampik makanan, ia sikat apa yang
bisa dimasukkan dalam perutnya sehingga tuan rumah
merasa senang melihat si anak muda tidak malu-malu.
Malamnya Kim Liong telah berangkat mencegat macan
jantan itu.
Ia tidak membawa balabantuan resminya, tapi dian-
diam Lie Hun suruh beberapa orangnya mengintip dari
kejauhan. Mereka disuruh menyiapkan senjata panah,
kalau melihat Kim Liong dalam bahaya dalam
pertempuran dengan macan buas itu, mereka boleh
bantu dengan menggunakan panahnya.
Lima orang jago panah mengikuti Kim Liong dengan
diam-diam.
Lama juga Kim Liong menantikan keluarnya sang
macan, sampai ia kekesalan dan ngantuk kepingin tidur.
J usteru ia sedang mencari tempat untuk rebahan, tiba-
tiba ia mendengar suara berkeresekan disusul dengan
lompatan dari seekor macan loreng seperti siang tadi,
malah ini ada lebih besaran badannya dan garang sekali.
Caranya meraung juga lebih keras dan membikin takut
orang.
Tapi Kim Liong tidak takut. Ia tidak kesima seperti tadi
siang. Rupanya tadi siang pengalaman yang membikin
hatinya menjadi tabah menghadapi macan besar.
Macan jantan itu sangat buas, sebab tanpa banyak
lagak lagi ketika melihat Kim Liong didepannya, sudah
lantas menerkam. Gesit macan itu, terkamannya
membikin orang gugup untuk berkelit. Tapi Kim Liong
tabah. Diterjang beberapa kali Kim Liong dapat
mengegos dengan bagus, hal mana membikin macan itu
menjadi gusar.
Setelah perdengarkan geramannya yang seram,
kembali ia menerjang. Sekali ini Kim Liong berkelit sambit
kerjakan kakinya menendang dari samping.
Tendangannya kena telak pada pinggulnya sang macan
hingga macan itu terlempar dan bergulingan pincang.
Lantaran merasa sakit pinggulnya. macan itu tidak
berani sembarangan menerkam pula, ia mendekam
sebentar untuk hilangkan sakit rupanya.
Pengalaman tadi siang, Kim Liong tidak mau ulangi
pula, ia mau menakluki sang macan dengan tidak
memukul remuk kepalanya.
Begitulah, ketika kembali macam itu menerkamnya, ia
kelit nyamping, dari mana ia enjot tubuhnya dan tahu-
tahu menclok diatas bebokongnya sang raja hutan.
Kaget bukan main macan itu, ia berlari-larian kencang
dan mengebas-ngebaskan badannya supaya
penunggangnya terpelanting jatuh, akan tetapi Kim Liong
terus nangkring dan ketawa berkakakan, sedang kedua
tangannya memegangi kencang pada lehernya si macan.
Binatang itu lari kencang serta berlompatan beberapa
kali dengan pengharapan Kim Liong jatuh terpelanting,
namun Kim Liong seperti lengket diatas bebokongnya,
malah kedua lututnya si anak muda menjepit makin
keras dan macan itu menjadi tidak berdaya, akhirnya ia
roboh sendirinya lantaran kecapean dan berat
ditunggangi Kim Liong.
Melihat binatang itu sudah habis tenaganya, Kim Liong
turun dan berdiri mengawasi sang macan dengan muka
berseri-seri puas. Girang ia dapat manakluki macan yang
demikian besar ukurannya dengan tidak membikin sang
macan mati karena pukulannya.
Selagi ia berdiri ketawa, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh
berkereseknya pula pepohonan.
Ia menduga datangnya macan lain, tapi ketika
kemudian muncul dari gerombolan yang berkeresekan,
ternyata bukannya macan, tapi orang-orangnya Lie Hun
yang semuanya membekal panah. Lega hatinya si anak
muda, menegur: “Kalian memangnya sudah lama
mengintip aku mempermainkan macan ini?"
“Ya, kami disuruh oleh pemimpin kami untuk
memperhatikan gerak-gerik Kongcu bertarung dengan
macan, manakala perlu pemimpin kata, kami harus turun
tangan untuk melindungi Kongcu."
“Bagus, kau tolong sampaikan pada pemimpinmu
ucapan terima kasihku...." berkata si anak muda.
Kemudlan angkat kakinya berlalu.
Tapi baru beberapa langkah, ia balik lagi dan berkata:
“Macan ini belum mati, kalian harus berhati-hati...”
“Kongcu mau kemana?" tanya salah satu diantaranya,
tapi Kim Liong tidak menjawab dan berjalan terus
meninggalkan mereka.
Melihat macan belum mati dan kalau dibiarkan
mengasoh, menanti kembali tenaganya, maka kawanan
pemburu itu sudah keluarkan tambang yang kuat dan
meringkusnya. Dua pasang kakinya macan itu diikat kuat
kemiidian digotong pulang. Sebelumnya supaya macan
iitu jangan sampui liar diperjalanan, mereka sudah
mencolok buta sepasang matanya dan mengepruk
kepalanya hingga pingsan.
Kim Liong tidak kembali ke kampungnya Lie Hun, ia
lewatkan sang malam dengan tidur diatas pohon. Pagi-
pagi, ia meneruskan perjalanannya. Senang ia bikin
perjalanan dipegunungan yang banyak mendapatkan
pemandangan indah. Ia pun mengharapkan sesuatu
yang tidak terduga-duga, ialah menemukan kegaiban
untuk kebaikan dirinya seperti yang banyak diceritakan
dalam buku buku yang ia pernah baca.
-oo0dw0oo-

Bab 26
PADA SUATU MALAM, ketika baru saja ia merapatkan
matanya hendak tidur diatas dahan pohon, tiba tiba ia
mendengar suara seruling menggema dimalam sunyi
demikian.
Dari mana bunyinya seruling itu datangnya? Kim Liong
menanya pada hati kecilnya.
Ia pasang kupingnya, lagu dari seruling itu makin lama
makin meresap dalam hatinya si anak muda, sehingga ia
terbangun dan perlahan-lahan turun dari pohonnya.
Kakinya tanpa disadari telah berjalan ke jurusan dari
mana seruling itu telah menggema. Setelah ia jalan
melewati beberapa tikungan itu, ia telah sampai pada
suatu bangunan indah yang tidak berpagar tembok
tinggi. Kim Liong dengan berindap-indap kakinya telah
memasuki pekarangan bangunan indah itu. Kapan ia
sampai dipekarangan belakang, ia menemukan suatu
kolam pohon teratai yang indah. Ditengah tengah kolam
ada dibangun pulau-pulauan kecil mungil. Untuk sampai
ke pulau-pulauan mungil itu orang harus menggunakan
perahu, makanya Kim Liong melihat di sekitarnya tidak
ada perahu.
Suara seruling yang merdu itu masih, menggema dan
keluarnya justeru dari pulau-pulauan kecil itu. Ia ingin
sampai di pulau-pulauan itu, untuk melihat siapa yang
meniup seruling demikian enak kedengarannya dan
meresap dalam hati.
Pikirnya, paling sedikit yang meniup seruling itu adalah
satu sastrawan yang mengasingkan diri dan menghibur
dirinya dengan meniup seruling diwaktu malam sunyi.
Melihat tidak ada barang yang dapat digunakan untuk
menyampiri pulau-pulauan itu, Kim Long menjadi nekad.
Ia banyak melatih ginkangnya disamping ilmu pedang
pada waktu belakangan ini, maka ia mau coba-coba
untuk menggunakan ginkang itu sekarang.
Lebih dahulu ia memandang lama pada itu beberapa
daun teratai yang mengambang.
Setelah mana, dengan ilmu entengi tubuh (ginkang) ia
enjot tubuhnya, dengan meminjam itu beberapa daun
teratai yang mengambang sebagai pijakannya, sebentar
saja Kim Liong sudah sampai di pulau-pulauan tadi.
Girang hatinya anak muda itu, karena dapat
kenyataan bahwa ginkangnya maju jauh.
Setelah berada dipalau-pulauan, tiba-tiba suara
seruling itu lenyap.
Kim Liong celingukan. Pulau pnlauan itu dibangun
indah dan mungil, siapa sampai disitu pasti hatinya
terbuka dan merasakan kebahagiaan.
Kini anak muda kita mencari-cari si peniup seruling.
Tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara ketawa ngikik dari
seorang wanita. Suara ketawa itu datangnya dari sebelah
kanannya ia berdiri, cepat anak muda itu enjot tubuhnya
melesat ke tempat tadi dimana kedengaran orang
kekikikan ketawa.
Sesosok bayangan tinggi langsing Kim Liong lihat
berkelebatan dan masuk ke dalam pulau-pulauan itu. Ia
menduga bayangan itu tentu adalah si nona yang tadi
kekikikan ketawa.
Cepat ia memburu masuk. Ia kaget dan hendak keluar
lagi melihat bayangan tadi yang tampak sadang duduk
membelakangi dirinya. Ia adalah satu gadis remaja,
dari usia paling paling juga enambelas tahun, kenapa ia
berada sendirian dipulau-pulauan pada malam sesunyi
itu?
Ia cepat putar tubuh mau keluar lagi, khawatir si nona
menegur akan kesembronoan dirinya main masuk tanpa
permisi. Tapi, sebelum ia melangkah, ia segera
meadengar suara empuk berkata: “Toako. Kenapa kau
hendak keluar lagi?”
Kim Liong jadi berdiri terpaku dipintu.
Gadis Itu membaliki tubuhnya dan kelihatan sekarang
wajahnya yang lonjong telur, alisnya lentik, kulitnya putih
dan kalau berseri pada kedua belah pipinya tampak
sujennya bermain dengan indahnya.
Kim Liong berdiri dengan tergugu memandang si gadis
bersenyum kearahnya.
Tidak pernah sebelumnya ia menemukan gadis
secantik itu, hingga bayangannya Bwee Hiang yang
selalu ada dikelopak matanya seakan-akan telah lenyap
tanpa bekas.
“Sungguh cantik ia...” Kim Liong menggumam.
“Kau juga tetap tampan meski wajahmu penuh
dengan goresan barang tajam..” terdengar si gadis
menyahut dengan tertawa riang.
Kim Liong terkejut si nona dapat mendengar
gumaman perlahan tadi. Lebih kaget lagi si nona
mengatakan wajahnya tetap tampan, meskipun penuh
dengan goresan barang tajam. Dari perkataannya itu,
pasti si nona tahu bahwa wajahnya mula-mula sangat
tampan.
Kim Liong hanya membalasi senyuman si gadis jelita.
“Toako, kau tak usah malu-malu, mari masuk!”
mengundang si gadis, seraya bangkit dari duduknya dan
menghampiri Kim Liong.
Si anak muda makin kagum melihat dandanan si nona
demikian mewah dan serasi benar warna pakaian yang
dikenakannya dengan keelokan wajahnya.
Kim Liong masih berdiri bengong dekat pintu.
Tiba-tiba saja ia kaget ketika si nona menarik
tangannya diajak masuk kedalam dan disilahkan duduk
diatas kursi panjang yang indah bikinannya.
Si gadis duduk didepannya dan ketawa manis.
“Toako, kenapa kau tidak bicara, apa memangnya kau
gagu?” tanya si gadis jenaka.
“Oh, ma’af, aku mengganggu Siocia,” sahut Kim Liong
gugup.
“Toako, jangan pakai banyak peradatan, panggil saja
nama kecilku Lin...”
Kim Liong anggukkan kepala. “Apa Siocia, eh, adik Lin
yang barusan meniup seruling?” tanya Kim Liong agak
gugup ia menghadapi gadis hartawan itu.
“Tidak salah, itulah aku yang meniupnya, kenapa?”
sahut Lin.
“Oh, sungguh merdu irama lagunya, sampai
semangatku terbetot kemari. Harap Sio... eh adik Lin
jangan marah aku datang mengganggu”
“Toako, kau bicara demikian gugup tidak keruan,
tenangkanlah hatimu, aku juga tidak akan menelannya,
kau jangan takut!” si Lin berkelakar dengan ketawa.
Mau tidak mau Kim Liong jadi ketawa ngakak.
“Nah, begitulah kalau jadi orang laki-laki!” kata Lin.
Kim Liong mulai hilang rasa kikuknya, ia berkata, “Adik
Lin, kau sungguh cantik. Siapa ayahmu yang terhormat?”
“Ayahku tidak ada disini,” sahutnya bersenyum manis.
“Ia hanya kadang-kadang saja datang menjenguk aku
disini.”
“Dan ibumu?” tanya pula Kim Liong kepingin tahu.
“Ibuku? Ibu tidak satu rumah dengan aku, ia punya
lain rumah sendiri.”
“Tempat begini luas dan indah, kenapa kau tinggal
sendirian?”
“ltu lebih menyenangkan, Toako. Untuk apa tinggal
nyampur dengan orang tua?”
“Ayahmu kau katakan hanya kadang-kadang saja
datang menjenguk, memang tinggalnya jauh dari sini?
Kasihan kau hanya dijenguk kadang-kadang saja oleh
ayahmu.”
Gadis cantik jelita itu ketawa, dua sujennya bermain
mempesonakan Kim Liong yang memandangnya dan
hatinya bergejolak tidak keruan.
Tampak ia bangun dan menuangi air teh, kemudian
disuguhkan pada Kim Liong.
Anak muda itu menyambuti sambil membilang banyak
terima kasih.
“Tahun ini ayahku tidak melihat aku, entahlah? Aku
harap lain tahun ia datang, aku rindu melihat ayah,” kata
si nona, seraya duduk lagi dikursinya.
“Ah, menjenguk puteri sendiri saja masa sampai
tahunan?”
“ltulah kebiasaan ayah, Toako.”
Kim Liong heran, tapi ia tidak menanya lebih jauh. Ia
alihkan pembicaraan: “Adik Lin, kau tinggal sendirian,
apa kau tidak takut?”
“Takut apa?” si jelita mesem menggiurkan.
“Takut, kalau ada orang jahat yang nyelonong masuk
dan mengganggu kau.”
“Hihihi...!” si gadis ketawa. “Orang jahat sudah
menyelonong masuk, apa yang mau dikatakan lagi? Ah,
Toako kau bergurau!”
Kim Lieng terbelalak matanya. Ia kaget, karena dirinya
dicap orang jahat yang nyelonong masuk. Ia penasaran,
katanya: “Adik Lin, aku bukannya orang jahat!”
“Kalau bukan orang jahat, apa? Tengah malam
menyatroni seorang gadis yang kesepian, kalau tidak
berniat jahat, apa?”
Kim Liong makin penasaran difitnah si gadis.
“Adik Lin, aku datang hanya ingin lihat siapa yang
menabuh seruling, bukannya bermaksud jahat atas
dirimu!” kata Kim Liong dengan penuh penasaran.
“Wah, Toako kelihatannya penasaran. Aku hanya
main-main saja, berkelakar, untuk apa kau bersungguh-
sungguh menganggap perkataanku barusan?” sahut si
gadis ketawa.
Seketika itu juga reda penasarannya si anak muda.
Diam diam dalam hatinya ia memaki: “Gadis nakal,
apakah cara begitu kau berkelakar? Hampir-hampir
perutku meledak lantaran tuduhanmu yang bukan-
bukan...”
Gadis itu menggeserkan kursinya mendekati Kim
Liong. Ia menanya: “Siapa namamu, Toako? Apa aku
boleh tahu?”
“Tentu saja boleh” sahut Kim Liong kontan. “Namaku
Kim Liong she Tan.”
“Bagus namamu, namaku Lin Lin. Biasanya ayah dan
ibu panggil aku Lin saja sejak kecil, makanya barusan
aku minta kau panggil nama kecilku saja.”
“Sungguh indah namamu, adik Lin. Pantas sekali
dengan wajahmu yang cantik!” memuji Kim Liong tanpa
disadari saking mengagumi kecantikan anak dara itu.
Lin Lm mengerlingkan matanya menusuk jantung Kim
Liong.
Anak muda itu bukannya hidung belang sebenarnya,
tapi entah kenapa berhadapan dengan Lin Lin ia agak
berani dan nekad.
“Toako, apa kau bisa memainkan kim?” tanya si dara
manis.
“Aku tidak pandai, tapi coba-coba saja,” sahut Kim
Liong.
Anak muda itu dirumahnya sering memainkan kim,
tabuan Tioaghoa yang sangat digemari oleh muda-mudi
yang suka seni musik.
Lin-Lin bangkit dari duduknya dan mengambil tabuan
yang dimaksud.
“Adik Lin, bagus amat kim ini” kata Kim Liong seraya
menyambuti barang yang diserahkan kepadanya.
Kemudian ia pentil-pentil, seakan-akan menyetemkan
senarnya.
“Kau menabuh kim dan aku meniup seruling,
bukankah itu bagus?” Lin Lin kata.
Kim Liong anggukkan kepala. Namun ia tidak melihat
Lin Lin yang ketawa manis kepadanya, karena saat itu
pikirannya sedang dipusatkan menyetem kimnya.
“Mari kita mainkan didepan,” mengajak Lin Lin.
Kim Liong menurut. Sebentar lagi tampak mereka
duduk diserambi depan rumah tidak berjauhan, hidung si
anak muda masih bisa saban saban kesambar bau harum
dari pakaiannya si gadis atau mungkin juga bau harum
itu keluar dari tubuhnya si cantik yang putih laksana salju
dibalik bajunya yang agak tipis.
Gerak-gerik si nona begitu lincah dan menarik hati,
membuat Kim Liong terpesona oleh karenanya. Kalau
dulu ia tidak suka mengenangkan cinta, kini ia
mengharapkan cinta. Dewi Asmara telah mengaduk da-
lam otaknya menghadapi gadis demikian cantik dan
mengoyahkan iman dari seorang pendeta.
“Toako, kau tunggu....” tiba-tiba si nona berkata,
ketika barusan saja ia duduk dan sekarang bangkit pula,
terus masuk kedalam.
Tidak lama ia keluar dengan satu nampan indah,
diatasnya ada sebotol arak dan hidangan yang menjadi
temannya.
“Toako, sebelum kita mulai memainkan tabuhan,
marilah kita keringkan dulu beberapa cawan arak dan
kuwe kuwe yang sederhana,” mengundang si gadis
dengan senyumnya yang memikat dan matanya
mengerling kearah Kim Liong.
Hatinya pemuda itu berdebaran. Ia seberapa bisa
menekan geloranya sang hati, ia tidak mau nanti
dikatakan kurang sopan terhadap si gadis yang baik hati
itu.
“Adik Lin, kau membawakan sendiri hidangan ini,
apakah kau tidak punya pembantu dirumah yang biasa
melayani tamu?” tanya Kim Liong.
“Pelayan ada, tapi semuanya sudah pada tidur,” jawab
si gadis. “Aku tidak mau ada pelayan diantara kita, maka
aku tidak membangunkannya. Mari kita coba dulu
araknya.”
Kim Liong menyambuti cawan arak yang disodorkan
kepadanya, Ketika ia dekati bibir cawan, ia segera ia
membaui arak yang sangat wangi dan menarik seleranya.
“Arak wangi, arak wangi...” Kim Liong memuji seraya
ketawa kegirangan.
“Toako, kau suka arak, itu baik sekali!” kata si gadis
ketawa. “Aku masih menyimpan beberapa botol lagi,
nanti, kalau sebotol ini habis diminum akan kuambilkan
lagi untuk Toako. Mari kita sekarang minum untuk
merayakan malam gembira ini...”
Kim Liong angkat cawannya dan berbareng dengan si
gadis, ia minum kering isinya.
Benar-benar itu arak bagus, meskipun arak sudah
melewati tenggorokannya, Kim Liong rasakan seperti
masih ada nyangkut dan menyiarkan hawa wangi.
Si nona kembali tuangi arak dalam cawan Kim Liong
yang kosong. “Minum, minumlah lagi Toako!”
mengundang si gadis.
Kim Liong lantas tenggak pula arak wangi itu, kembali
hatinya merasa senang dapat mcncicipi arak yang
sebagus itu.
J uga si gadis tidak mau ketinggalan dan dia minum
kering arak dari cawannya.
Sebentar lagi, tampak si nona bangkit dari duduknya
dan masuk kedalam. Tidak lama kemudian ia kembali
dengan membawa dua botol arak lagi.
Kim Liong gembira sekali. Ia memang biasa minum
arak, tapi belum pernah ia minum arak yang sewangi
malam itu.
“Adik Lin, kau baik sekali,” kata Kim Liong, ketika si
nona taruh botol arak diatas meja. “Dengan diantar oleh
arak yang demikian harum, benar-benar malam terang
bulan seperti sekarang ini menggembirakan hatiku...”
“Toako, syukur kalau kau dapat kegembiraan dengan
pertemuan kita yang pertama ini,” sahut si gadis, kembali
ia kasi lihat senyumannya yang tak dapat dilupakan oleh
si anak muda.
“Adik Lin, apa kita boleh mulai dengan tabuhan kita?”
tanya Kim Liong.
“Boleh, boleh. Silahkan Toako!” sahat si gadis
kegirangan.
Kim Liong mulai memetik kimnya dengan sebuah lagu
kesayangannya, yang ia namakan ’Bertemunya muda
mudi’. Lagu merdu dengan isinya mengharukan dan
meresap dalam hati.
Ternyata Kim Liong pandai sekali memetik kim,
suaranya mengalun jauh disana dalam malam sunyi
demikian. Lin Lin menikmati lagu kim yang dipetik Kim
Liong sembari memejamkan matanya yang halus.
Lagu yang dikumandangkan oleh kimnya Kim Liong itu
berisi sajak (kata-kata) sebagai berikut:

“Di Sana jauh di sana...
Ku jumpa seorang nona.
Hatiku menjadi bimbang,
Semangatku seperti terbang.
Apa itu gerangan cinta?
Membuat hatiku merana?”

“Bagus, bagus...!” memuji si nona, seraya bertepuk
tangan, tatkala Kim Liong hentikan memetik kimnya.
“Toako, kau pandai benar memetik kim, sungguh senang
aku mendengarnya bila setiap malam dapat berduaan
dengan kau...”
“Adik Lin, kau berkelebihan memuji,” sahut Kim Liong
merendah.
Namun, diam-diam ia senang atas pujian si nona,
malah hatinya berdebaran mendengar Liu Lin
mengatakan ia senang sekali kalau tiap malam
mendengarkan lagunya itu dengan berduaan saja,
mereka berkumpul.
“Toako. Apa kau suka sekali lagi memainkan lagumu
tadi? Aku senang mendengarnya” memohon si gadis,
ketika Kim Liong sudah menghirup kering arak dalam
cawannya.
“Adik Lin, asal itu tidak membosankan kau, biarpun
kau suruh aku menabuh kim semalaman, aku tidak
keberatan,” kata Kim Liong ketawa.
“Sungguh kau adalah engkoku yang baik, Toako. Nah,
terimalah lagi secawan arak sebagai pengantar lagumu
yang akan diperdengarkan...” kata Lin Lin sambil kembali
menuangkan arak dalam cawan Kim Liong dan dihirup
kering oleh si anak muda.
Sebentar lagi menggema pula suaranya kim, kali ini
diiringi dengan suara Kim Liong yang menuangkan isi
hatinya dengan kata-kata:

“Di sana jauh di sana...
Senyumnya bikin aku menanya.
Apa kau tak menolaknya?
Bila aku memeluknya?
Dunia jadi kita punya
Bila kita memadu cinta”

“Sungguh indah, sungguh indah...” memuji Lin Lin
sambil bertepuk tangan.
Kim Liong hentikan memetik kimnya sambil
memandang kearah Lin Lin.
Si cantik menyambut tatapan pemuda itu dengan
senyuman memikat. Wajahnya yang cantik jelita tampak
memerah karena pengaruhnya arak, makin menonjol dan
mengairahkan dalam pandangan Kim Liong. Alisnya
yang. Lentik, dibawah mana bersemayam sepasang mata
yang tajam halus, membuat Kim Liong berdebaran
hatinya, kapan dilirik oleh si gadis. Pemuda itu tidak tahu
bagaimana ia harus berbuat menghadapi si cantik yang
membetot-betot ujantungnya itu.
Untuk menekan gelora hatinya, ia berkata: “Adik Lin,
aku sudah memenuhi permintaanmu memetik kim,
sekarang tinggal giliranmu, cobalah mainkan
serulingmu...”
Lin Lin ketawa. “Tentu, tentu, akan kusambut lagumu
tadi,” sahutnya.
Lin Lin lantas menyiapkan seruling kumalanya yang
indah dan segera ditempelkan pada bibirnya yang merah
delima. Bibir yang mungil itu seperti gemetar menyentuh
lobang seruling, diikuti oleh pandangan mata Kim Liong
yang tak berkedip.
Segera terdengar lagu seruling memecah kesunyian
malam.
Awan yang agak kegelap-gelapan berlalu-lalang dan
menutupi rembulan yang terang. Suasana sangat
menggembirakan bagi dua anak muda itu. Selama Lin Lin
meniup serulingnya, saban-saban ia melemparkan lirikan
aneh dan agak genit dalam pandangan Kim Liong.
Lagu yang dikumandangkan oleh Lin Lin adalah
lagunya Kim Liong tadi, hingga si anak muda menjadi
heran kenapa Lin Lin dapat melagukan lagu
kesenangannya itu?
Dalam lagu seruling itu ada mengandung sajak:

“Di sana jauh di sana...
Kulihat seorang pemuda.
Ia bersenyum kearahku,
Membuat berombak dadaku.
Ingin ’ku menanya padanya,
Apa ia ada yang punya?”

Kim Liong menikmati lagu itu dengan pikiran
melayang-layang jauh, ia merasa dirinya diayun-
ambingkan oleh buaian lagu dan sajak dari seruling si
nona.
“Sungguh indah kau meniup senilingmu, adik Lin!”
memuji Kim Liong, ketika si nona meletakkan
serulingnya.
“Laguku hanya meniru dari lagumu, apanya yang
bagus?” sahut si gadis ketawa.
“Adik Lin, kau bisa memainkan lagu itu, apakah
barusan saja kau mendengar dari aku, apa memang kau
juga memainkan lagu ‘Bertemunya muda-mudi!’?”
Si nona tidak menjawab. Hanya bersenyum saja dan
anggukkan kepala.
“Bagus, kalau begitu masih ada satu sajak lagi, apa
kau suka nyanyikan didepanku, adik Lin?” memohon Kim
Liong.
“Aku tidak keberatan, asal kau suka
mendengarkannya,” sahut si gadis ketawa.
“Tentu, tentu, tolonglah kau nyanyikan...” Kim Liong
seperti kebakaran jenggot memohon, hingga Lin Lin
menjadi ngikik.
Kim Liong menanti sajak berikut yang dinyanyikan si
gadis.
Ia tidak mengira suaranya si gadis demikian empuk
merayu ketika Lin Lin mem buka mulutnya menyanyikan
sajak terakhir dari lagu ‘bertemunya muda mudi’.
Kim Liong tampak berseri-seri gembira. Kadang-
kadang mengerutkan alisnya dan menarik napas
panjang. Sajak itu bunyinya seperti berikut:

“Di sana jauh di sana...
Itulah alam dunia
Pemuda dengan pemudi.
Wajar memadu kasih.
Didunia hanya kenangan,
Kenapa sia-siakan kesenangan?”

Suatu sajak yang mendebarkan hati pemuda yang
mendengarnya, apapula sajak itu dinyanyikan oleh
pemudi seperti Lin Lin yang hebat kecantikannya.
Kim Liong merasa gelisah tiba-tiba, waktu Lin Lin
hentikan menyanyinya.
“Adik Lin, suaramu sangat merdu, sungguh aku tidak
bosan mendengarnya...” memuji Kim Liong, seraya
menatap wajah si jelita.
Lin Lin hanya ketawa mesem dan membalas tatapan
Kim Liong.
Sepasang mata beradu pandangan, seperti berbicara,
keduanya lain menundukkan kepala dengan hati
berdebaran.
“Adik Lin, mari kita minum pula. Sebagai pemberian
selamat dariku” kata Kim Liong yang memecahkan
kesunyian.
Lin Lin bersenyum dikulum, tangannya yang halus
menyambuti cawan arak yang sudah terisi penuh, yang
disodorkan oleh Kim Liong.
Muda-mudi itu segera mengeringkan araknya, kembali
Kim Liong menuangi arak dalam cawan si gadis dan
minta Lin Lin minum lagi.
“Toako, ini adalah cawan yang terakhir, aku sudah
mabuk...” kata si gadis, matanya agak dipejamkan, tapi
arak dihirup kering dari cawannya dan dengan lesu si
gadis meletakkan cawan kosong diatas meja.
Kim Liong juga merasakan kepalanya sudah pusing.
Ia memandang pada Lin Lin yang tengah
menyandarkan badannya pada sandaran kursi, matanya
redup-redup ngantuk, bibirnya yang merah delima
seperti agak gemetar. Kadang-kadang ia seperti
bersenyum kearah Kim Liong.
Bergejolak hatinya si anak muda melihat
pemandangan itu semua.
“Aduh, panas...” kata si gadis, seperti yang ngelindur.
Menjusul Lin Lin telah membuka kancing bajunya dan
meloloskan pakaian atasnya.
“Aduuh... maak..!” Kim Liong mengeluh dalam hatinya,
melihat Lin Lin meloloskan pakaian atasnya dan hanya
kain sutera tipis saja yang membungkus kulitnya yang
putih halus, dadanya berombak naik turun hingga
sepasang bukitnya yang belum lama, tampak tegas sekali
ikut bergerak.
Suatu pemandangan yang membuat kalap lelaki rakus.
Kim Liong bukan lelaki rakus, ia tekan penasaran
bergejolak hatinya supaya jangan sampai melalukan
perbuatan tidak baik terhadap gadis yang masih suci
dalam keadaan mabuk itu. Untuk menghibur diri, terus-
terusan minum arak wangi yang menyenangkan
seleranya. Dalam keadaan mabuk ia ketawa terbahak-
bahak sendirian.
Botol pertama sudah habis diminum berdua, botol
kedua ditenggak habis dan botol yang ketiga, arak
tinggal sepertiganya. Kim Liong tidak mau meninggalkan
restan, ia sikat habis dan dimasukkan kedalam
tenggorokannya.
Sampai disitu ia rasakan perutnya seperti bergolak
kepanasan, arak wangi itu seperti menyelusuri seluruh
tubuhnya, menerobos sana dan nerobos sini, hingga Kim
Liong kebingungan takut minum arak beracun. Ia tahan
hawa panas yang bergolak dalam perutnya. Dengan
Lwekangnya ia menahan, tapi tenaga dalamnya tertolak
mundur oleh tenaga arak yang bergolak dalam perutnya.
“Toako, kau jangan habiskan arak itu, kalau minum
kebanyakan tenagamu nanti sangat hebat dan tidak ada
orang yang mengalahkan, itulah arak ‘Thay-lek-seng-ciu’
yang tidak sembarangan orang ada jodoh
meminumnya....”
Kim Liong terkejut, itulah suaranya Lin Lin. Tapi kapan
ia menoleh kearah si gadis, si nona masih memejamkan
matanya dengan pakaian atasnya masih terbentang.
Bingung Kim Liong, lantaran hawa panas yang
mengaduk dalam perutnya belum mau hilang.
Yang membuat ia heran, Lwekangnya dengan mudah
ditolak mundur oleh tenaga arak tadi, malah perlahan-
lahan rasanya tenaga dalamnya tertarik dan bergabung
jadi satu dengan tenaga arak tadi berkumpul di tantian
(perut).
Entah beberapa banyak peluh yang membasahi
tubuhnya, Kim Liong bergelisahan merasa tidak tahan
oleh bekerjanya arak yang bergolak dalam perutnya.
Seluruh badannya dirasakan sangat panas dan ingin ia
berkaok-kaok minta tolong kalau tidak malu kepada si
gadis yang tengah enak-enakan memejamkan matanya.
Dalam keadaan bergelisahan demikian, tiba tiba Kim
Liong mendengar suara Lin Lin lagi, katanya: “Toako, kau
terlalu banyak minum ‘Thay-lek-seng ciu’, itu karena kau
terlalu rakus, tanpa ada obatnya kau akan mati
konyol...!”
“Adik Lin, tolong kau kasi obatnya, tolong adik Lin, aku
bersumpah tidak berani lagi minum arak celaka itu...”
meratap Kim Liong ketakutan.
“Obatnya mudah saja...” sahut Lin Lin, tapi orangnya
masih memejamkan matanya, seperti sedang tidur,
hingga Kim Liong merasa heran.
“Adik Liu, apa obatnya? Sebutkan, aku nanti
mencarinya sampai dapat!’”
“Obatnya sudah ada, asal kau berani melakukannya.”
“Aku berani melakukannya, adik Lin...”
“Bagus. Kau tidak sampai mati konyol.”
“Mana obat itu, adik Lin?”
“Obat sudah didepan mata, kenapa kau tidak lekas-
lekas melakukannya?”
Kim Liong menjadi bingung. Ia mendekati Lin Lin, tapi
ia tidak lihat ada obat terletak didekat si gadis, sedang si
nona sendiri masih menyandarkan badannya pada
sandaran kursi seperti tidur. Ia heran, tapi tegas apa
yang ia dengar tadi Lin Lin katakan, maka ia menanya:
“Adik Lin mana obatnya?”
“Anak tolol, obat didepan mata masih mencari-carinya
lagi?”
Kim Liong betul betul tidak paham dengan kata-kata
Lin Lin.
Ia diam termenung-menung, sedang hawa panas terus
mengamuk dalam perutnya, hingga tak tahan ia kalau
tidak keluarkan rintihan. Ia merintih-rintih dan
memandangi parasnya si nona yang sangat elok. Bulu
matanya yang lentik panjang seperti menutupi sepasang
matanya yang dipejamkan. Mulutnya yang mungil
bersenyum kearahnya.
“Anak tolol. Kau masih mau tunggu apa lagi?”’ tiba-
tiba Lin Lin membuka mulutnya berkata, dan ini dapat
dilihat tegas oleh Kim Liong.
“Adik Lin, aku harus berbuat bagaimana?”
“Hawa panas harus dibrantas oleh hawa dingin, baru
berimbang, maka hawa dingin itu ada pada badanku, kau
masih mau tolol-tololan lagi?”
Kim Liong melengak heran. Perlahan-lahan ia mengerti
akan kata-kata si nona yang tidak tegas. Ia maklum,
karena si nona masih gadis. Kalau ia berkata blak-blakan
terang ia akan merasa malu. Meskipun sudah
delapanpuluh persen paham akan kata-kata si gadis, Kim
Liong masih ragu-ragu akan menjamah badan si gadis
yang demikian menggairahkan.
Tapi keinginan sembuh telah mendorong keragu-
raguannya. Perlahan-lahan ia dekati si gadis yang rebah
bersandar di kursi.
“Kau pondongaku dan rebahkan didipan sana, aku
nanti obati kau...” tiba-tiba Lin Lin berkata, tapi matanya
terus dipejamkan, hanya mulutnya saja yang bergerak.
Berdebar keias hatinya Kim Liong.
Ia sudah nekad kepingin sembuh sakitnya, maka
dengan tidak sangsi lagi ia meraih si gadis dari kursinya
dan dipindahkan diatas dipan.
Badannya si gadis dirasakan sangat dingin ketika
bsrsentuhan dengan badannya.
Kim Liong tidak menghiraukan itu, malah tiba-tiba Lin
Lin memeluknya waktu tubuhnya hendak diletakkan di
atas dipan, Kim Liong rasakan ada apa-apa yang aneh
merangsang napsunya, ia membalas memeluk dan dilain
detik... terjadilah pergumulan yang seru.
Terdengar dengusan saling susul seperti dua ekor
naga yang bertarung.
Setelah selesai bergumul, Lin Lin berkata: “Toako,
pertemuan kita adalah jodoh. Aku menyerahkan diriku
untuk mengobati hawa panas dalam tubuhmn, berarti
selesai tugasku. Aku harap, sesudahnya kau bisa bawa
dirimu baik-baik...”
“Memangnya kita akan berpisahan!” potong Kim Liong.
“J odoh kita hanya sampai disini...”
“Tidak, tidak, kau adalah penolongku dan akan kupuja
kau sebagai isteriku yang tercinta, akan kubawa kau
menemui ibu dan ayahku... Kita tak akan berpisahan
pula!” Kim Liong berkata seraya merangkul Lin Lin dan
menciuminya seperti orang kalap.
Lin Lin manda saja dipeluki dan diciumi Kim Liong,
sementara Kim Liong dalam melakukan perbuatannya itu
makin lama makin heran, karena badannya si gadis
sangat dingin, malah paling belakang seperti memeluk es
batu.
Tapi, lantaran cintanya yang besar pada Lin Liu yang
sudah menyembuhkan rasa panas dalam perutnya
dengan mengorbankan kehormatannya, ia tidak
perdulikan hawa dingin dari tubuhnja si cantik, ia terus
memeluk dan menciumi bertubi-tubi.
Cuaca perlahan-lahan telah menjadi terang.
Kim Liong masih memeluki Lin Lin. “Adik Lin. Hidupku
akan merana manakala kau tidak besertamu. Oh, adik
Lin...”
Ia kembali mencium si gadis, ia mencium...
mencium... hidungnya dirasakan sakit entah kenapa?
Kiranya yang diciumi olehnya adalah.... bongpay atau
batu nisan...
Kim Liong melejit bangun dengan sangat kaget.
Bangunan indah dengan pulau-pulauan nya yang
menarik hati, perabotan yang mewah didalamnya, kolam
pohon teratai yang daunnya dipakai pijakan untuk
mencapai pulau-pulauan, kini tidak tertampak disekeliling
Kim Liong. Hanya yang tertampak banyak kuburan.
Kiranya malam tadi ia telah tertidur, diatas kuburan itu
yang batu nisannya ia ciumi.
Kim Liong tidak ketakutan oleh karenanya, malah ia
memeriksa kuburan yang dia ciumi. Batu nisannya itu
adalah kuburan siapa?
Tampak pada batu nisan ada ditulis: “DISINI
BERISTIRAHAT CIA LIN LIN US1A 16 TAHUN, PUTERI
TUNGGAL DARI CIA TIKWAN.”
Kiranya Lin Lin itu adalah puteri tunggal dari pembesar
setempat.
Kim Liong duduk termenung-menung dekat kuburan
Lin Lin.
Ia lihat kuburan-kuburan kotor, banyak tumbuh
rumput alang-alang. Ia ingat Lin Lin ada berkata bahwa
ayahnya tahun yang lalu tidak menjenguknya, rupanya
sudah setahun lebih kuburan itu tidak dibersihkan karena
tidak ada yang datang. Gadis itu telah mengatakan
bahwa ibunya ada tinggal tidak berjauhan dengan
rumahnya, mungkin kuburan ibunya tidak jauh dengan
Lin Lin. Ketika Kim Liong selidiki, benar saja hanya
kealangan tiga kuburan terdapat kuburan ibunya Lin Lin.
Sementara itu Kim Liong rasakan badannya sangat
sehat dan enteng sekali.
Kim Liong kembali duduk dengan termangu-mangu
membayangkan kejadian yang ia alami.
Bagaimana gembiranya ia duduk berduaan memainkan
kim dan seruling dan menyanyi, masing-masing isi
hatinya melalui lagu ’Bertemunya muda mudi’. Sambil
tertawa-tawa gembira mereka mengeringkan arak ’Thay-
lek-seng-ciu’, kemudian mereka jadi mabuk dan si jelita
kepanasan membukai bajunya sehingga tertampak
tubuhnya yang menggiurkan. Bagaimana ia minum arak
berkelebihan dan jadi kepanasan perutnya dan
penyakitnya sembuh karena si gadis kasikan dirinya
digunakan sebagai obatnya.
Kim Liong tidak melupakan kebaikannya Lin Lin.
Bagaimana pengaruhnya Thay-lek seng-ciu, Kim Liong
tidak pikirkan. Ia hanya memikirkan kebaikannya Lin Lin
dan dengan tidak terasa ia jatuhkan diri berlutut didepan
kuburan si nona dan berkemak-kemik berkata: “Adik Lin.
Aku tidak melupakan kebaikanmu. Kita telah
berhubungan badan dalam dunia khajal, aku harap dilain
penitisan kita jumpa dan menjadi suami isteri. Harap
arwahmu ditempat baka merasa senang dengan kata
kata ini dan lain kali kapan aku lewat disini, pasti akan
menjenguk kuburanmu...”
Setelah itu, Kim Liong bangkit dari berlututnya.
Dengan perlahan ia menepuki batu nisan si gadis seraya
berkata: “Adik Lin selamat tinggal...”
Untuk kekagetannya Kim Liong lihat batu nisan yang
ditepuk perlahan tadi telah pecah berantakan. Ia sangsi
tenaganya demikian dahsyat, mungkin kalau batu nisan
itu yang sudah amoh hanya ditepuk pelahan saja
berantakan.
Dalam bingungnya tiba-tiba ia diserbu oleh lima orang
polisi.
“Hei, aku bukan orang jahat, kenapa kalian mau
tangkap aku?” kata Kim Liong seraya berkelit dari
serbuan kawanan polisi itu.
Kepala rombongan polisi yang berkumis melintang dan
tinggi besar membentak: “Kalau bukan orang jahat
kenapa kau menepuk hancur batu nisan Siocia?”
“Aku tidak bermaksud menghancurkan. Aku hanya
menepuk pelahan, boleh jadi batu nisan itu yang sudah
amoh!” jawab Kim Liong.
“Hm! Batu nisan sudah amoh? Kau periksa dan buka
matamu yang lebar, apa batu itu amoh? Dasar penjahat,
kau harus ditangkap dan dikasih hukuman...”
“Hei, ada apa ini ribut ribut. Siang Kiu, ada apa?” tiba-
tiba seorang dengan pakaian kebesaran muncul diantar
oleh tiga orang pelayan perempuan jaug membawa
rantang makanan, rupanya mau bersembahyang
dikuburan.
“Lapor pada Tayjin.” Kata Siang Kiu, “Orang muda ini
jahat betul, masa batu nisan Siocia ia pukul sampai han-
cur?”
Pembesar iiu, yang bukan lain Cia Tikwan, ayahnya Lin
Lin, lalu memeriksa batu nisan anaknya, memang juga
sudah hancur berantakan.
Cia Tikwan menjadi tidak senang. La memandang Kim
Liong dan membentak: “Kau siapa? Kau berani memukul
remuk batu nisan anakku, memangnya anakku punya
salah apa terhadapmu? Kau jangan sembarangan, apa
kau tidak lihat diatas batu nisan itu ada tulisan bahwa ini
adalah kuburan anakku?”
Cia Tikwan memandang tajam pada Kim Liong. Ia lihat
Kim Liong adalah satu anak muda yang ganteng
perawakannya, sayang mukanya dirusak oleh goresan
senjata tajam dan jadi jelek, sedang tangan kanannya
buntung kalau melihat lengan bajunya yang kosong. Ia
tidak mengerti, kenana anak muda ini menggempur batu
nisan anaknya? Apa ia memang kekasih anaknya dan
saking jengkel telah melampiaskan marahnya dengan
menggempur batu nisan Lin Lin?
“Tayjin,” kata Kim Liong, ia tidak berlutut, hanya
menyoja saja sebagai tanda hormat. “Apa yang terjadi
bukannya disengaja. Aku mengucapkan selamat tinggal
pada puteri Tayjin sambil menepuk pelahan pada batu
nisannya, tidak tahunya telah pecah berantakan. Aku
sedang pikir apa batu itu amoh, dengan tiba-tiba aku
diserbu oleh orang-orang Tayjin. Aku harap atas
kelancangan aku barusan Tayjin suka memberi ma’af!”
“Kau mengucapkan selamat tinggal pada anakku,
memangnya kau kenal?” tanya Cia Tikwan. Ia heran Kim
Liong mengatakan demikian.
“Ya, aku kenal dengan Siocia” sahut si anak muda
polos.
“Kau kenal dimana?” tanya pembesar.
“Aku kenal dengan Siocia dalam impian...”
“Apa kau sakit ingatan?”
“Tidak, aku tidak gila. Memang benar aku kenal
dengan Siocia dalam impian...”
“Siang Kiu!” Cia Tikwan teriaki orangnya. “Lekas
tangkap orang gila ini!”
Siang Kiu mengiyakan, lantas ajak kawan-kawannya
mengepung Kim Liong.
Anak muda kita tidak senang dirinya dikepung, maka
ia berkata: “Tayjin, apa kesalahanku mau ditangkap?”
“Kesalahanmu lantaran ngaco belo kenal dengan
anakku!”
Kim Liong bingung. Ia hendak menjelaskan kepada Cia
Tikwan tentang pertemuannya dengan Lin Lin akan
percuma saja, Cia Tikwan tentu tidak mau mengerti. Oleh
karena itu, untuk meloloskan diri kepaksa ia harus
bertempur dengan kawanan polisi itu.
Ia tidak berniat menumpahkan darah, ia hanya ingin
kawanan polisi itu tahu kelihayannya, maka ia hanya
menggunakan lengan bajunya yang kanan, yang kosong,
untuk menggebas mereka. Kim Liong pikir dengan
kebasan tangan baju sudah cukup bikin mereka mundur,
sebab tangan bajunya ada mengandung Lwekang.
Untuk kekagetannya, lima orang polisi itu ketika
dikebut oleh lengan bajunya telah mencelat jauh satu
persatu tubuhnya. Kira-kira sampai dua tombak jauhnya
dan mereka merangkak bangun dengan susah payah.
Kim Liong heran, kenapa tenaganya jadi begitu hebat?
Ia ingat sekarang, bahwa tenaganya hebat karena ia
minum arak sakti, ijalah ‘Thay-lek-seng-ciu’ dari Lin Lin.
Dari heran ia berbalik kegirangan. Melihat dahsyatnya
tenaga dalamnya sekarang, ia tidak berani lain kali
sembarangan menggunakannya, sebab bisa membikin
orang mampus.
Tikwan juga heran melihat dengan segebrakan saja
Kim Liong telah bikin terjungkal lima orangnya. Ia
berteriak dan minta Siang Kiu membekuk si anak muda
kembali.
“Tayjin, aku tidak bersalah dan kita juga tidak
bermusuhan, untuk apa dipaksakan untuk menangkap
aku? Batu nisan adik Lin yang pecah nanti aku suruh
orang perbaiki atau bikin yang baru.”
Cia Tikwan masih ngotot dan suruh orangnya
menyerbu Kim Liong.
Anak muda kita tidak senang orang tidak bisa dikasi
mengerti, maka ketika Siang Kiu mengirim jotosan ia
tidak berkelit, sebaliknya ia menyambuti kepalan orang.
Dengan tidak disengaja ia memencet tinju Siang Kiu,
seketika itu juga Siang Kiu berkaok-kaok kesakitan dan
tinjunya telah remuk hancur.
Kembali Kim Liong kaget atas kehebatan tenaganya.
Ia mendorong Siang Kiu perlahan, namun akibatnya
runyam untuk si kepala polisi, karena tubuhnya
terdorong melayang dan jatuh membentur tanah, hingga
ia rasakan sakit semaput.
Empat kawannya Siang Kiu meluruk seraya mencabut
goloknya masing-masing. Mereka kira dikeroyok dengan
golok, Kim Liong akan mudah ditangkap. Tampak Kim
Liong gunakan ginkangnya berkelebat, tahu-tahu empat
goloknya orang polisi itu sudah pindah tangan.
Kemudian dengan suara lantang, Kim Liong berkata:
“Tayjin, kalau kau masih penasaran, lihat tubuhmu akan
kubikin seperti ini!” menyusul satu persatu golok orang-
orang polisi itu dipatahkan oleh Kim Liong seenaknya
saja, dengan satu tangan kirinya, hingga matanya Cia
Tikwan terbelalak saking heran dan kagum.
Menyusul badannya menggigil ketakutan.
Kim Liong sementara itu tidak acuhkan si pembesar
yang salah paham, ia tinggalkan tempat itu tanpa pamit
lagi pada si pembesar yang ketakutan.
Cia Tikwau sebenarnya ingin memanggil balik Kim
Liong untuk ditanyakan persoalannya dengan puterinya,
tapi ia tidak berani buka suara, ia takut Kim Liong marah
membuat susah kepada dirinya.
“Mungkin juga pemuda itu tidak sengaja menggempur
batu nisan Siocia, Tayjin,” berkata Siang Kiu. “Lihat ini
tinjuku!” Siang Kiu sambil memperlihatkan tinjunya yang
sudah remuk tidak keruan.
Cia Tikwan geleng kepala. “Pemuda itu sangat besar
tenaganya,” kata Cia Tikwan setelah menghela napas.
“Golok kalian dengan satu tangan saja dipatahkan satu
demi satu, seperti juga senjata itu hanya terbikin dari
tanah lempung. Entahlah ia ada hubungan apa dengan
puteriku, sayang aku tidak keburu menanyakan lebih
jelas.”
“Kita terburu napsu,” kata Siang Kiu. “Kalau dilihat
begitu, pemuda itu tidak gila, pikirannya cukup sehat.
Perkenalannya dengan Siocia entah dengan cara
bagaimana, sungguh sayang Tayjin tak dapat
mengetahuinya...”
-oo0dw0oo-

Bab 27
CIA TIKWAN
Cia Tiang Ek menjabat Tikwan (Kepala distrik) di
Hongkoan, satu distrik yang lumayan juga penduduknya,
terkenal sebagai pembesar yang jujur. Ia menikah dalam
usia tigapuluh tahun dengan seorang gadis dari usia
duapuluh tahun bernama Thio Im Nio. Dengan siapa, Cia
Tiang Ek dapat hidup akur dan beruntung. Setelah lima
tahun menikah, barulah suami isteri itu telah dikurniakan
anak seorang puteri yang mereka namakan Lin Lin.
Bagaimana girangnya Cia Tiang Ek dan isteri, itu tak
usah dikatakan lagi, mereka telah mengadakan
perjamuan makan-makan dan mengadakan sembahyang
Thian Allah sebagai pengucapan syukur mereka telah
dikurniakan anak yang mungil.
Lin Lin ternyata adalah anak yang rnembawa rejeki,
menurut anggapan orang tuanya, sebab sejak anak itu
dilahirkan, Cia Tiang Ek dari pangkat kecil terus menerus
dapat kenaikan pangkat sampai menjadi Tikwan dalam
distrik Hongkoan. Waktu itu usianya Lin Lin sudah masuk
empat belas tahun.
Dalam usia remaja demikian, kecantikannya Lin Lin
menonjol dan sangat dikagumi oleh penduduk Hongkoan.
Selain cantik, Lin Lin sangat lincah dan pintar sekali,
hingga sangat disayang oleh kedua orang tuanya.
Hidup beruntung Cia Tiang Ek dengan Thio Im Nio
ternyata tidak sampai dihari tua, ada halangan ditengah
jalan, ialah dengan munculnya seorang wanita lain.
Wanita itu bernama Tan Cui Gin, bekerja sebagai
pelayan dari nyonya rumah dan teman bermain Lin Lin,
sebab usianya dengan Lin Lin hanya kacek dua tahun,
ialah Cui Gin lebih tua ketika Lin Lin masuk usia empat
belas tahun.
Cui Gin asalnya anak orang susah. Cia Tikwan yang
telah menolong kebutuhan orang tuanya, dengan suka
rela telah menyerahkan Cui Gin untuk menjadi budaknya
Cia Tikwan. Tadinya Cia Tikwan menolak, tapi waktu
ayahnya Cui Gi membujuk bahwa Cui Gin adalah satu
anak baik dan baik sekali kalau menjadi pelayan Hujin
(nyonya). Cia Tikwan jadi ketarik dan membawa Cui Gin
pulang.
Cia Hujin atau nyonya Tikwan tadinya merasa muak
melihat Cui Gin, tapi setelah anak itu disuruh mandi dan
tukaran baju yang baik, ternyata parasnya boleh juga
dan menarik simpatinya nyonya Tikwan.
Waktu itu Cui Gin baru berumur empat belas tahun.
Memang ia adalah anak baik, bisa ambil-ambil hati
sang majikan, hingga nyonya Tikwan lama-lama
memandang ia sebagai anaknya sendiri saja dan dikasih
kebebasan buat ia bersolek dalam kamar Cia Hujin.
Dengan tambahnya usia dan pandai bersolek dalam
umur enam belas tahun tampak Cui Gin menonjol
kecantikannya dan tubuhnya mempunyai sex appeal
yang khas.
Melihat itu, Cia Hujin senang dan ingin memungut Cui
Gin itu sebagai anaknya asli sebagai encinya Lin Lin,
puteri tunggalnya.
“Cia koko," kata nyonya Tikwan pada suaminya, masih
ia tidak rubah panggilannya seperti permulaan ia menjadi
suami isteri. Itulah menandakan cinta yang kekal dari
suami isteri itu.
“Ada urusan apa, adik Im?" tanya sang suami dengan
suara mencintai.
“Sudah empat belas tahun sejak Lin Lin lahir, kita
belum mendapat kurnia anak lagi," sahut sang isteri
dengan suara gemetar.
“Oo, kau masih mengharapkan adiknya si Lin?" tanya
sang suami ketawa. “J angan kuatir, nanti ulang tahunnya
si Lin yang ke lima belas kau dapat lagi anak. Ha ha
ha...”
“Iiih orang tua genit!" kata sang isteri, seraya
meludah. Tapi hatinya diam-diam merasa girang atas
kata-katanya sang suami yang ia tahu suaminya
berkelakar.
“Habis, bukan kau mau anak lagi, adik Im?" goda sang
suami.
“Bukan itu maksudku," jawab sang isteri seraya deliki
suaminya.
“Kalau bukan itu, apa?" tanya Cia Tikwan heran.
“Aku pikir si Lin adalah puteri tunggal kita. Bagaimana
kalau kita tambah satu puteri lagi dan kita jadi punya dua
gadis jelita?"
“Adik Im. aku tidak mengerti dengan perkataanmu
ini?"
“Begini." sahut sang isteri. “Si Gin, anak itu baik, kau
lihat apa ia tidak cantik? Sekarang usianya sudah enam
belas tahun, kacek dua tahun dari si Lin yang sekarang
sudah empat belas tahun. Bagaimana kalau kita ambil ia
sebagai anak kita, sebagai encinya si Lin? Apa ini tidak
bagus?"
“Baik sih baik, cuma saja kalau anak orang dianggap
anak sendiri, rasanya aku tidak begitu setuju. Kau
tunggu saja, masa kita tidak punya anak lagi?"
“idiiih. orang ajak berdamai, malah jadi melantur?”
Cia Tikwan ketawa menyeringai. “Aku masih ada
harapan, aku bisa bikin anak lagi," kata Cia Tikwan
serius.
“Iiiihh. angotnya jadi. Tua-tua genit..." nyonya Tikwan
senyum dikulum.
Nyonya Tikwan yang maksudnya mendamaikan
memungut anak menjadi ngawur tiap perkataannya,
melihat suaminya dengan mendadak sontak jadi agresif,
kepaksa ia melayani dan terlupakanlah saat itu
mengambil Cui Gin jadi anak angkatnya, menjadi encinya
Lin Lin.
Hebat memang kalau Cia Tikwan sedang menerkam
mangsanya, sering Nyonya Tikwan kewalahan dan minta
damai.
Kiranya mereka bakan berdua saja bergumul, sebab
ada orang ketiga yang menonton.
Melalui renggangan pintu yang tidak tertutup rapat,
Cui Gin menyaksikan pergumulan hebat itu dengan hati
berdebaran dan kaki rasanya lemas.
Dasar masih anak-anak, Cui Gin kira tadinya dia orang
itu sedang berkelahi, ia sudah mau berteriak memanggil
Lin Lin, tapi urung ketika matanya tertumbuk pada
bagian bawah tubuh mereka yang bekerja keras dan tak
tertutup pakaian.
Mulai saat itulah hatinya si gadis cilik berdebaran dan
kakinya dirasakan lemas.
Melihat pertarungan sudah selesai, si gadis ketakutan
dan dengan berindap-indap ia menjauhkan diri. Ia takut
perbuatannya dipergoki oleh majikannya.
Bagi Cui Gin, satu gadis ciiik, belurn mempunyai
pikiran apa-apa terhadap hubungan sex, tapi setelah ia
menyaksikan adegan yang mendebarkan hati itu, jadi
buat pikiran dan setempo ia jadi gelisah dimalam hari.
Ia melamun ingin menjadi isterinya Tikwan, hidup
mewah dan segalanya tidak kekurangan. Kalau sampai ia
menjadi isterinya Tikwan, selain ia mencicipi apa yang ia
pernah lihat, ia juga dapat menolong kedua orang tuanya
yang hidup miskin. Ia bisa membiayai kedua orang tua
dan satu saudaranya yang masih kecil untuk hidup
senang, tidak lagi kedua orang tuanya itu terlunta-lunta
minta kasihannya orang.
Tapi apa daya? Ia hanya satu budak, mana ada
harganya untuk menjadi nyonya Tikwan? Kalau sampai
sekarang ia dapat mencicipi kesenangan dalam soal
pakaian dan makan, itu lantaran belas kasihannya
Nyonya Tikwan.
Hatinya bimbang tidak karuan. Cui Gin tidak
mendengar ketika dirinya dibicarakan oleh Nyonya
Tikwan untuk dijadikan anak angkatnya, sebab waktu ia
sampai dipintu kamar ia sudah lantas melihat adegan
yang mendebarkan itu.
Ia sebenarnya mau masuk ke dalam kamar dan
memanjakan Nyonya Tikwan mau menyuruh apa
padanya? Ia dapat kebebasan keluar masuk dalam kamar
Nyonya majikannya, lantaran Nyonya Tikwan sayang
kepadanya dan menganggap seperti anaknya sendiri.
Coba Cui Gin dengar tentang dirinya diusulkan oleh
Nyonya Tikwan untuk diangkat anak oleh Tikwan, pasti
tidak ada kejadian bencana dalam rumahnya Cia Tikwan
yang sampai sebegitu jauh sangat beruntung dan
hahagia.
Pada suatu sore Cui Gin dengar Nyonya berkata: “A
Gin, sebentar malam Loya kerja sampai larut malam
untuk menyelesaikan pekerjaannya yang banyak. Aku
tidak enak badan menemaninya, maka itu pergilah kau
yang temani Loya. Duduk jangan jauh-jauh dari pintu
kamar kerjanya, supaya Loya gampang memanggilnya
kalau ada keperluan apa-apa."
“Aku akan perhatikan pesanmu, Thay-thay," sahut Cui
Gin.
Menurut kebiasaan, kalau suaminya menyelesaikan
pekerjaan diwaktu malam, Cia Hujin yang menemani
suaminya, sembari bekerja mereka sembari kongkouw,
jadi tidak ngantuk. Cia Tikwan sangat gembira di temani
isterinja yang pandai ngobrol.
Apa mau pada sore itu, Cia Hujin rasakan kepalanya
nyelegot-nyelegot sakit, maka ia perintahkan pelayannya
untuk melayani Cia Tikwan menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika Cui Gin keluar dari kamar, berbareng Cia
Tikwan masuk dan menanyakan kesehatannya sang
isteri, apakah bisa sebentar malam menemani ia bekerja?
“Koko, kali ini benar-benar aku sakit. Kepalaku
dirasakan nyelegot-nyelegot, maka aku menyesal tak
dapat menemani kau untuk malam ini."
“Bagaimana kalau Lin Lin saja yang temani aku?"
tanya sang suami.
“Lin Lin jangan," sahut sang isteri. “Kalau koko
kerjanya sampai jauh malam, mana Lin Lin bisa tunggu?
Anak itu gampang pules, bukan kau jadi senang malah
jadi pusing akan mendengar dengkurnya anak itu."
Cia Tikwan ketawa gelak-gelak. “Biarlah kalau begitu,
aku sendirian juga tidak apa-apa."
“Kau tidak sendirian, sebab aku sudah pesan si A Gin
untuk melayani kau, koko! A Gin anaknya cekatan dan
pasti kau sering mendapat pelayanannya. Suruh saja ia
duduk nongkrong dekat pintu kamar kau kerja, menanti
perintahmu kalau perlu apa-apa"
Cia Tikwan kerutkan alisnya! “Apa ia juga bukan
tukang tidur?" tanyanya.
“Hihihi..." Nyonya Tikwan ketawa garing. “Percayalah,
kau tidak akan menyesal dilayani oleh anak itu. Ia sangat
gssit dan penurut, makanya juga aku ada ingatan untuk
mengambil ia sebagai anak angkat kita..."
“Ah, sudahlah, jangan sebut-sebut lagi soal angkat
anak. Satu kali kau sebut-sebut lagi soal mengangkat
anak, aku akan bikin kau susah bangun..."
“Idiiiih... genitnya jadi!" kata Nyonya Tikwan sembari
jebirkan bibirnya.
Cia Tikwan tidak berani ganggu isterinya seperti
biasanya, lantaran ia tahu isterinya sedang sakit ia hanya
merangkul dan memberi ciuman.
Nyonya Tikwan merasa beruntung sekali mendapat
suami yang demikian mencintai pada dirinya, meskipun
sudah ada umur masih galak saja kelihatannya.
Pikirnya, jarang orang bersuami isteri sudah hampir
duapuluh tahun masih menyala cintanya.
Cia Tikwan adalah satu lelaki kuat, yang menjadi
idaman tiap wanita, sang Nyonya memuji suaminya
dengan diam-diam.
“Selamat bekerja koko..." kata sang isteri, ketika Cia
Tikwan hendak meninggalkan kamarnya.
“Selamat beristirahat...." sambut Cia Tikwan ketawa.
Nyonya Tikwan kasi lirikan genit waktu suaminya
menghilang dibalik pintu.
Cia Tikwan memang satu pegawai negeri yang rajin.
Kalau hanyak kerjaan dalam kantor tidak segan-segan ia
bereskan dirumahnya. Ia bekerja kadang-kadang sampai
larut malam dan merasakan lelah sendirinya.
Ia tidak suka main perempuan, misalnya piara banyak
gundik seperti kawan-kawan sejabatnya yang lain. Ia
cukup dengan satu isterinya Im Nio, yang ia cintai dan
anggap ada tandingannya yang memuaskan. Im Nio
belum pernah menampik walaupun disembarangan
waktu Cia Tikwan membutuhkan pelayanan. Tambah usia
Im Nio tambah kencang dan padat tubuhnya, hingga
menggembirakan Cia Tikwan kalau sedang 'main-main'
dengannya.
Lantaran mendapat pelayanan yang cukup dari Im
Nio, Cia Tikwan tidak berpaling kepada lain perempuan.
Ia selalu tumplekkan perhatiannya kepada pekerjaannya
yang susun tindih, yang harus diselesaikan cepat-cepat
manakala ia tidak mau mendapat kritikan dari orang-
orang yang tersangkut perkaranya.
Dibawah pimpinan Cia Tikwan, distrik Hongkoan
mendapat kemajuan dan penduduknya merasakan
mereka telah mendapat perlindungan hukum yang adil.
Demikian, pada malam itu Cia Tikwan dengan tekun
telah bekerja dalam kamar kerjanya sendirian, tanpa
ditemani oleh isterinya sebagaimana kebiasaannya.
Ia tidak kurang semangat bekerjanya, meskipun tidak
ada Im Nio disampingnya.
Adalah pada saat pikirannya sedang dipusatkan pada
pekerjaannya, tiba-tiba Cia Tikwan agak kaget
mendengar pintu kamar dibuka. Ia menoleh sebentaran
dan melihat yang masuk adalah Cui Gin, pelayan ciliknya,
yang membawa nenampan di atasnya ada sepoci air teh
dan kuwe-kuwe untuk Cia Tikwan sarapan diwaktu lapar
malam.
“Loya, aku mewakili thaythay malam ini melayani
Loya," kata Cui Gin seraya meletakkan nenampannya
diatas meja.
“Akn tahu, Thaythay sudah mengatakan itu," sahut Cia
Tikwan, seraya meneruskan pula pekerjaannya dengan
tidak menoleh kepada si pelayan cilik.
Thaythay artinya Nyonya besar dan Loya sama dengan
Tuan besar.
“Air teh masih panas, apa aku boleh menuangkan
secangkir untuk Loya minum?”
“Ya, boleh kau tuangkan saja dan bawa kemari."
Cui Gin menuangkan air teh kedalam cangkir,
kemudian ia bawa dan letakkan diatas meja Cia Tikwan
bekerja. Sambil meletakkan cangkir, matanya si pelayan
cilik melirik pada sang majikan, namun Cia Tikwan tidak
perhatikan itu, karena perhatiannya melekat pada
pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
Cui Gin undurkan diri, tapi tidak keluar kamar, ia
berdiri dekat meja tadi ia meletakkan nenampannya.
Matanya berkeliaran memeriksa keadaan kamar kerja itu.
Ternyata ada cukup lebar, dimana selainnya ditaruh meja
bundar dengan tiga kursinya dan satu kursi panjang yang
beralaskan bahan empuk, sedikit kesebelah dalam ada
sebuah dipan muat dua orang tidur dengan spreinya
yang putih dan bantal-bantal yang sarungnya disulam
burung-burungan hong yang indah sekali. Ingin ia datang
lebih dekat pada dipan itu dan melihat sulaman indah
pada bantal-bantalnya. Tapi ia mana punya keberanian.
kalau tidak ingin disemprot oleh Cia Tikwan yang galak.
Banyak pigura indah, disampingnya dipasang
beberapa pot kembang, telah menghiasi kamar itu,
sehingga serba menarik hati.
Cui Gin bengong mengagumi keindahan kamar kerja
itu.
Cia Tikwan sementara itu telah menghirup air tehnya.
Ia rasakan segar teh panas masuk dalam perutnya,
kapan ia menoleh kebelakang menjadi kaget melihat Cui
Gin ada berdiri disitu tengah termangu-mangu
memandangi keindahan kamar.
Ia tidak menegur Cui Gin yang berdiri membelakangi
ia, sebaliknya hatinya geli melihat pelayan cilik itu
terheran-heran dengan keindahan perabotan yang
terdapat disitu.
Tiba-tiba matanya tertumbuk pada lehernya Cui Gin
yang jenjang bagus, rambutnya yang dikepang dua
seperti anak kecil, badannya kecil langsing, pinggulnya
kecil berisi tidak tepos. Untuk sejenak, Cia Tikwan
melupakan pekerjaannya dan menumplekkan
perhatiannya kepada tubuhnya si pelayan cilik yang kecil
mungil...
Mendadak Cui Gin putar tubuhnya, hingga Cia Tikwan
agak gugup juga mengembalikan kedudukannya seperti
yang sedang tekun bekerja. Cui Gin tidak tahu kalau
dirinya barusan dipandangi oleh majikannya dengan
mata tidak berkedip.
Ia melihat Cia Tikwan masih sedang bekerja keras.
Kini gilirannya si pelayan cilik yang mengagumi Cia
Tikwan. Ia lihat perawakan badannya Cia Tikwan tinggi
besar. Dalam usia pertengahan Cia Tikwan tampaknya
gagah dan kuat. Pikirnya, pantasan Nyonya Tikwan
hampir-hampir kewalahan melayani suaminya yang
demikian tinggi besar dan kuat.
Pada saat itu terbayang adegan menarik dikelopak
matanya. Ketika Cia Tikwan merangsek dengan napas
mendengus-dengus, ia lihat Nyonya Tikwan mainkan
tubuhnya. Dari pelan berubah cepat pantat Nyonya
Tikwan digeraki dengan napas memburu, hingga jadi
seru pergumulan mereka, akan kemudian terhenti
setelah mendapatkan kenikmatan dari perjuangannya. Ia
melihat keduanya masih saling peluk untuk beberapa
saat, sebelum mengenakan pakaiannya masing-masing.
Itu semua terbayang didepan matanya Cui Gin,
bayangan yang membikin ia ingin coba-coba mengambil
tempatnya Nyonya Tikwan. Tapi, apakah itu mungkin? Ia
hanya seorang budak, mana Cia Tikwan ambil perduli
terhadap dirinya? J uga, membayangkan besarnya badan
Cia Tikwan yang berlipat ganda darinya, ia merasa ngeri
kalau dirinya diperlakukan seperti Nyonya Tikwan yang
sudah berpengalaman.
Mengingat itu, ia jadi bergidik seram. Tapi ia merasa
telah ditakut-takuti oleh bayangannya sendiri. Ia diam-
diam ketawa geli, kemudian ia angkat kakinya bertindak
keluar dari kamar dengan pikiran bimbang.
Belum berapa lama ia duduk menanti, ia dipanggil
masuk oleh Cia Tikwan.
Cepat ia bangkit dan masuk kedalam, ia menanya:
“Loya panggil A Gin mau suruh apa?"
“Kau tuangi lagi air teh,” sahut Cia Tikwan tanpa
menoleh, ia tetap bekerja.
Cui Gin lalu ambil cangkir teh dari atas meja sang
majikan, kemudian diisinya dan dibawakan pula ke
mejanya Cia Tikwan.
Baru ia mau melangkah balik, ia berhenti mendengar
Cia Tikwan menanya : “Gin, apa kau tidak ngantuk?"
“A Gin masih belum ngantuk, juga mana boleh tidur
selagi melayani Loya," sahut Cui Gin.
“Bagus, kau anak baik," puji Cia Tikwan dengan tidak
menoleh sama sekali kepada Cui Gin, yang sangat
diharap-harap oleh pelayan cilik itu.
Cui Gin melihat Cia Tikwan dingin-dingin saja, ia
merasa kecewa, ia lantas melangkah lagi dan keluar dari
kamar.
Belum lama ia duduk kembali ia dipanggil kedalam.
“Loya man suruh A Gin apa lagi?” tanyanya.
“Kau tuangi pula teh untukku!" sahut Cia Tikwan.
Cui Gin heran, kenapa ia saban-saban dipanggil untuk
tuangi air teh? Ia tidak heran, kalau ini lama-lama sekali,
tapi ini justeru belum lama ia duduk sudah lantas
dipanggil, apa Cia Tikwan sangat haus makanya minum
saja?"
Tapi ia tidak berani menanyakan, ia turut perintah.
Ketika ia meletakkan cangkir diatas meja tulis sang
majikan, diam-diam ia menatap wajahnya sang majikan
yang sedang repot bekerja. Ia berdiri sejenak, kemudian
putar tubuhnya hendak berlalu.
“A Gin!" terdengar Cia Tikwan memanggil, hingga si
pelayan cilik hentikan tindakannya dan kembali
menghampiri majikannya. Kali ini Cui Gin berdebar
hatinya, melihat majikannya menatap padanya tidak
berkedip
“Ada apa, Loya?" tanya si pelayan cilik.
“A Gin, kau sekarang umur berapa?" tanya Cia Tikwan.
Heran Cui Gin majikannya menanyakan umur, tapi ia
lantas menyahut: “A Gin sudah masuk enambelas tahun
ini."
Cia Tikwan kerutkan alisnya. “Masih belum matan..."
Cia Tikwan menggumam
“Apanya yang belum matang?" tanya si pelayan cilik
heran.
Cia Tikwan menyeringai ketawa, hingga Cui Gin dari
takut-takut menjadi berani. Ia balas menatap wajah Cia
Tikwan yang memandang dirinya terus-terusan.
“A Gin, mari datang dekat!" kata Cia Tikwan
Cui Gin tidak berani menolak, ia majukan langkahnya.
Cia Tikwan suruh ia datang lebih dekat lagi, akhirnya
sampai tubuhnya menempel pada meja tulis Cia Tikwan,
dan lengannya menekan-nekan meja untuk mengalihkan
perasaan takutnya.
Cia Tikwan lihat gerak gerik si pelayan cilik yang
ketakutan.
“Kenapa kau A Gin, apa kau takut pada Loya?"
tanyanya, seraya ketawa menyeringai.
Cui Gin tundukkan kepalanya tidak menjawab.
“A Gin, kau jangan takut, Loya tidak akan apa-apakan
kau..." kata Cia Tikwan, tapi berbareng tangannya
menggerepe dan memegang tangan Cui Gin yang kecil
mungil.
Berdebar hatinya Cui Gin, namun ia biarkan tangannya
dipegang dan diusap-usap.
“A Gin, kau cantik hampir mengalahkan Lin Lin..."
memuji Cia Tikwan.
Cui Gin senang dipuji, apa lagi kecantikannya
dikatakan mengalahkan Lin Lin, puteri tunggal dari
pembesar itu yang disohorkan sangat cantik.
Tampak ia bersenyum manis, Cia Tikwan makin
ketarik hatinya. Pelan-pelan ia menarik tangan si pelayan
cilik kedekatnya. “A Gin, badanmu kecil seperti Lin Lin
dalam pangkuanku..."
Cui Gin kaget merasa dirinya dirangkul dan tubuhnya
diraih diduduki diatas pangkuannya Cia Tikwan. Ia coba
memberontak, tapi pelukannya si pembesar sangat kuat.
“A Gin, kau jangan berontak, Lin Lin juga sering duduk
dipangkuan seperti ini, bukankah kau merasa hangat?"
menghibur Cia Tikwan.
“Tapi A Gin bukan Lin Lin, kalau Thaythay lihat,
bukankah nanti jadi berabe?"
“Thaythay suruh kau wakili Thaythay, maka kau harus
menurut seperti kata Thaythay."
Terkejut Cui Gin mendengar perkataan itu. Apa
maksudnya si pembesar berkata demikian? Apakah si
pembesar maksudkan ia harus mewakili juga Thaythay
dalam menunaikan kewajibannya sebagai suami isteri?
Oh, hebat kalau sampai demikian.
Ia tabahkan hatinya dan menanya: “Loya, kau
maksudkan apa dengan kata-kata tadi?"
“Kau harus mewakili Thaythay seperti Thaythay
melayani aku."
“A Gin hanya disuruh melayani perintah Loya."
“Apa salahnya kalau aku perintah kau duduk
dipangkuanku?"
Kembali hatinya Cui Gin berdebaran.
“A Gin, badanmu begini kecil, apa kau sudah
matang...?" bisik Cia Tikwan, sementara tangannya
merayapi buah dadanya si pelayan cilik yang baru mentil.
Tarikan napas Cui Gin jadi lebih cepat dadanya
dijamah Cia Tikwan.
“Loya, kau jangan main-main begini, nanti Thaythay
pergoki aku dipukuli..." kata Cui Gin seraya singkirkan
tangan si pembesar ceriwis.
“Thaythay lagi sakit, mana ia datang kemari?"
sahutnya, membesarkan hati.
Cui Gin kewalahan menyingkirkan tangan Cia Tikwan
yang nakal dan dibiarkan saja merayapi tubuhnya. Tiba-
tiba dalam pikirannya timbul pikiran untuk mengangkat
dirinya menjadi Nyonya Tikwan, seraya pegangi tangan
Tikwan, ia berkata: “Loya, A Gin belum matang, tapi
bersedia menyerahkan diri, kalau Loya suka
mengabulkan pennintaan A Gin. Kalau tidak, jangan
harap Loya kesampaian maksud Loya untuk
mendapatkan diri A Gin. Biar mati A Gin akan
pertahankan diri A Gin..."
“A Gin, kau mau minta apa? Uang, barang perhiasan,
nanti akan kukasi padamu" janji Cia Tikwan, seraya
menciumi si pelayan kecil.
“Bukan itu, Loya." sahut Cui Gin. “A Gin mau, kau
ambil A Gin sebagai isterimu yang kedua apabila Loya
sudah ganggu diriku..."
Cia Tikwan terkejut, serentak saja tangannya yang
nakal berhenti bekerja. Matanya menatap pada wajah si
pelayan cilik yang bersenyum-senyum.
“A Gin... itu tak mungkin," berkata Cia Tikwan
kemudian.
“A Gin meskipun seorang budak. tidak nanti menjual
murah dirinya. Kalau tak mungkin, sudahlah...!" kata Cui
Gin seraya merontak dan melepaskan diri dari pangkuan
Cia Tikwan, sehingga si pembesar jadi melongo.
Napasnya yang barusan berkobar telah padam
seketika seperti disiram air es. “A Gin, kau menentang
kehendak Loya?" bentak Cia Tikwan.
Cui Gin bersenyum tawar. Entah dari mana ia
mendapat keberanian menghadapi majikannya yang
terkenal galak. “Lo-ya. A Gin sudah bicara." katanya. “A
Gin meskipun seorang budak, masih menghargakan
harga diri. Loya boleh menggunakan kekerasan, tapi
jangan menyesal kalau Loya hanya dapatkan mayat A
Gin..."
Cia Tikwan tidak mengira budak itu ada sangat hebat
kemauannya. Tadinya mengira dengan mudah saja ia
permainkan dirinya Cui Gin, seorang budak dari keluarga
miskin.
“A Gin, kau harus ingat," kata Cia Tikwan. “Kau
berasal dari keluarga miskin. Aku ambil kau dan disuruh
melayani Thaythay lantaran merasa kasihan! Kau disini
mendapat perlakuan seperti juga anaknya pembesar,
lantaran kami sayang padamu. Apakah ini pembalasanmu
meminta perkara yang bukan-bukan? Thaythay begitu
baik padamu, apa kau tega menjadi J i-hujin yang berani
menjadi saingannya?"
A Gin tertawa kecil. “Loya bisa bilang begitu, tapi apa
Loya tega setelah menodai si budak lantas menyia-
nyiakan begitu saja?"
Cia Tikwan bungkam. Memang maksudnya, setelah
menodai si pelayan cilik, ia tidak mau ambil perduli lagi.
maka kata-katanya Cui Gin telah mengetuk hati
nuraninya.
Cia Tikwan mengawasi si pelayan cilik yang berdiri
dengan rambut kusut, pakaiannya aduk-adukan, masih
belum dirapikan bekas barusan tangannya yang nakal
menyusup sana dan menyusup sini untuk mengobarkan
api berahi si pelayan cilik.
Tampak Cui Gin dalam berseri-serinya seperti lebih
cantik dari semula ia lihat. Darahnya Cia Tikwan yang
tadi membeku, mendadak menjadi panas lagi melihat Cui
Gin dalam pakaian dan rambut kusut menggairahkan.
Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Cui Gin, ia
coba mencekal tangan si pelayan cilik, tapi kena
dikibaskan. “Lo-ya, jangan kurang ajar! Lihat besok, apa
A Gin masih ada dirumah ini?"
“Kau mau kemana?" tanya Cia Tikwan gugup.
“Itu Loya tak usah tahu," jawab Cui Gin berani.
“A Gin, kau jangan tinggalkan aku..." kata Cia Tikwan
pelan.
“Hi hi hi...” Cui Gin tertawa, “Tidak mau ditinggalkan
mudah saja, asal Loya terima permintaan A Gin tadi."
“A Gin, soal ini kita nanti rundingkan lagi..." kata Cia
Tikwan, seraya menyergap si pelayan cilik yang tidak bisa
berkelit dan ia meronta-ronta sambil menggigit.
“A Gin, kau jangan begini, aku nanti luluskan
permintaanmu..." kata Cia Tikwan yang kewalahan
dengan berontaknya sang korban.
“Loya tidak bohong?" menegaskan Cui Gin, yang mulai
jinak mendengar perkataan majikannya.
“Kenapa aku harus mendustai kau A Gin..." Cia Tikwan
berkata, seraya meraih tubuhnya Cui Gin dan dibawa ke
kursi panjang dan kembali diduduki diatas pangkuannya.
“Loya, kau harus sumpah atas janjimu itu," kata Cui
Gin, ketika dengan bernafsu sang majikan merayapi pula
tubuhnya.
“Sumpah apa?" tanya Cia Tikwan kaget.
“Sumpah, bahwa Loya benar-benar akan mengangkat
aku menjadi J i-hujin."
Cia Tikwan kewalahan, maka dengan sembarangan
saja ia bersumpah, ia kata, kalau ia salah janji, biar isteri
dan puterinya (Lin Lin) nanti mati saling susul.
Cui Gin kelihatan puas mendengar itu. Secara genit
sekali ia melayani Cia Tikwan.
Melalui rintihan Cui Gin yang kesakitan, Cia Tikwan
telah melampiaskan napsunya.
Besoknya Cui Gin tidak masuk kerja karena pintu
gerbangnya bengkak semalam didobrak dengan paksa
oleh meriam Cia Tikwan. Sampai tiga hari ia tidak keluar-
keluar kamar, hingga Nyonya Tikwan khawatir akan
dirinya si pelayan cilik.
Nyonya Tikwan kira Cui Gin sakit kena masuk angin,
seperti dikatakan si pelayan, ialah sehabisnya jaga
malam melayani Cia Tikwan. Ketika ia menjenguk si
pelayan cilik di kamarnya, tampak Cai Gin wajahnya
sangat lesu dan pucat, seperti yang benar-benar sakit
kena masuk angin. Nyonya Tikwan mau suruh panggil
tabib, tapi Cui Gin mencegah, katanya: “Tak usah, besok
juga aku sudah masuk kerja melayani Thaythay. Hari ini
aku sudah baikan. Terima kasih atas Thaythay punya
perhatian...."
Benar saja besoknya Cui Gin sudah dapat menjalankan
tugasnya pula seperti biasa melayani Nyonya besarnya,
hanya wajahnya masih pucat dan lesu.
Cui Gin tidak mengira efeknya mewakili Thaythay ada
demikian hebat.
Tadinya ia ingin mainkan pinggulnya seperti yang
dilakukan oleh Nyonya Tikwan, namun, jangan pula ia
dapat menggerakkan pinggulnya, menahan rasa sakit
saja dari rangsekannya Cia Tikwan bikin ia hampir-
hampir jatuh pingsan.
Ia merasa ngeri untuk mengulangi, tapi pada lain
kesempatan kepaksa ia iringi pula kehendaknya Cia
Tikwan yang tak dapat ditolak. Lama-lama ia jadi biasa
dan sudah tidak ngeri-ngeri lagi untuk menghadapi Cia
Tikwan dalam pergumulan hebat.
Hari jalannya cepat, enam bulan sudah lewat sejak Cia
Tikwan mengganggu dirinya, kini Cui Gin menjadi
ketakutan melihat perutnya makin lama makin
membesar.
Segera juga rahasia perhubungannya dengan Cia
Tikwan telah diketahui oleh Im Nio, Nyonya Tikwan,
melalui perutnya yang membesar itu.
Ketika ditanya, Cui Gin mengaku terus terang, dirinya
telah diganggu oleh Cia Tikwan, hingga sang Nyonya jadi
kalap dan menggebuki Cui Gin setengah mati, ditendang
beberapa kali hingga Cui Gin meloso-loso dilantai dan
minta-minta ampun. Karena tendangan itu, si pelayan ci-
lik jadi keguguran kandungannya.
Mulai dari saat itulah keluarga Cia Tikwan yang sangat
bahagia itu menjadi retak.
Cui Gin yang dikirim pulang ke rumah orang tuanya
tidak jadi susah, lantaran diam-diam Cia Tikwan memberi
tunjangan dan ia dipiara terus, hingga hidupnya senang.
Malah Cui Gin disewakan sebuah rumah yang pantas,
dimana ia dengan dua orang tua dan adik laki-lakinya
tinggal. Si pelayan cilik ternyata bisa mengambil hati,
maka Cia Tikwan sangat sayang padanya. Sering
pembesar itu melewatkan waktu malamnya dalam rumah
Cui Gin, hingga Nyonya Tikwan jadi kesepian. Perlakuan
Cia Tikwan yang tawar terhadap dirinya, membuat
Nyonya Tikwan menjadi kesal, lama-lama ia sakit TBC
dan meninggal dunia. Kematian itu tidak mendukakan
bagi Cia Tikwan, sebab ia punya Cui Gin sebagai
gantinya. Sebaliknya bagi Lin Lin kematian ibunya
membuat ia sangat berduka dan siang malam menangis
saja.
Lewat dua bulan sejak kematian isterinya, Cia Tikwan
telah membawa pulang Cui Gin untuk menjadi isterinya
yang sah senagai gantinya Im Nio.
Cui Gin girang bukan main, maksudnya menjadi
Nyonya Tikwan telah kesampaian.
Cui Gin pintar, bukan saja Cia Tikwan sudah dapat
ditundukkan, juga Lin Lin ia baiki dan ambil hatinya,
hingga si jelita melupakan apa yang telah terjadi dengan
Cui Gin, yang mengkhianati ibunya.
Untuk sementara dalam rumah tangga Cia Tikwan
dapat dirasakan ketenangan dan kebahagiaan. Si
pembesar senang Cui Gin bisa membawa diri dan bergaul
rapat dengan anaknya. Ia harap keberuntungan rumah
tangganya itu akan berjalan demikian seterusnya.
Tapi sang nasib menghendaki lain.
Cia Tikwan punya sekretaris yang pintar, namanya Cia
Goan Kie.
-oo0dw0oo-

J ilid 10
BAB-28

GOAN KIE adalah seorang pemuda dari usia tiga
puluhan, parasnya cakap dan kelakuannya sopan santun,
hingga Cia Tikwan sayang padanya. Malah kalau bukan
satu she (Cia), Cia Tikwan ingin memungut Goan Kie
sebagai mantunya apabila Lin Liu sudah dewasa.
Sering dalam pekerjaan malam, Goan Kie bantu Cia
Tikwan, hingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan
beres.
Kebiasaan Cia Tikwan yang selalu suka ditorgkrongi
oleh isterinya manakala ia bekerja malam dalam
rumahnya, maka Cui Gin pun tidak dapat bebas dari
kewajibannya menemani suaminya. Cui Gin masih sangat
muda, baru umur delapan belas tahun, sebagai nyonya
muda belia demikian tentu saja segala-galanya memang
dari nyonya Tikwan dulu. Keinginannya Cia Tikwan dalam
hubungan sex dapat dipenuhkan dengan memuaskan,
hingga si pembesar benar-benar jatuh diselangkangan
sang nyonya muda yang cantik.
Sebagai isteri muda belia begitu, tentu kadang kadang
Cui Gin muak juga melayani suaminya yang kolot, ia
ingin melayani lelaki muda yang lebih menimbulkan
napsunya.
Pandangannya telah jatuh kepada Goan Kie yang
sering diajak kerja malam oleh suaminya. Mula-mula
Goan Kie menolak ajakannya si nyonya muda, tapi
belakangan Cui Gin terus merayu, hingga terjadilah
perhubungan rahasia diluar tahunya Cia Tikwan.
Cui Gin bersolek makin hebat setelah mendapatkan
hatinya Goan Kie. hingga kadang-kadang mengherankan
Cia Tikwan dan menanya: "A Gin, kau bersolek demikian
hebat, kecantikanmu tambah menonjol saja, aku
khawatir kau direbut orang..."
Cui Gin terkejut mendengar kata-kata Cia Tikwan,
seperti tahu hubungannya dengan Goan Kie, tapi ia licin,
dengan lagak yang manja ia jatuhkan diri dipelukan Cia
Tikwan dan menyawab: "Loya, kau jangan takut. A Gin
akan menjaga dan setia pada Loya sampai kita bersama
masuk kubur..."
Senang hatinya Cia Tikwan mendapat jawaban
demikian.
Sambil elus-elus rambutnya Cui Gin yang bagus, Cia
Tikwan kata lagi; "A Gin, memang aku tahu kau adalah
isteriku yang sangat setia..."
Cui Gin dengan lagak genit merangkul suaminya dan
menciuminya.
Sungguh bahagia Cia Tikwan rasakan pada saat
demikian.
Hubungan Cui Gin dengan Goan Kie, meskpiun mereka
coba tutup rapat, ternyata kelahuan juga. Siapa yang
pergoki?
Itulah Lin Lin pada suatu malam hendak menemui
ayahnya dalam kamar kerjanya, ia tidak ketemu
ayahnya, sebaliknya ia lihat Cui Gin. sedang dipeluki oleh
Goan Kie diatas kursi panjang. Pakaian atasnya Cui Gin
terbuka dan buah dadanya yang kanan sedang dihisap
oleh mulutnya Goan Kie, hingga si nyonya muda
mengeliat-geliat kegelian dan ketawa haha hihi. Goan Kie
sudah merangsek dan akan menelanjangi Cui Gin,
manakala tidak mendengar suara tindakan orang, ialah
Lin Liu yang sengaja telah mengeraskan tindakannya
supaya kedengaran oleh dua orang mesum itu.
Dukan main kagetnya Goan Kie dan Cui Gin, mereka
cepat-cepat bangun dan merapikan pula pakaiannya.
Mereka mengira tindakan itu Cia Tikwan adanya, tapi
besok-besoknya kenyataan tidak ada reaksi apa-apa dari
Cia Tikwan.
Cui Gin lantas menduga akan Lin Lin malam itu
mendatangi kamar kerja ayahnya. Dugaannya makin
jelas kapan ia ketemu Lin Lin, gadis itu seperti membenci
padanya dan kalau diajak bicara seperti acuh tak acuh.
Khawatir Lin Lin msngadukan urusannya kepada Cia
Tikwan, maka Cui Gin telah berdamai dengan
kekasihnya, bagaimana mereka harus mengambil
tindakan, supaya jangan sampai Cia Tikwan nanti ketahui
perhubungannya gara-gara Lin Lin.
Pikiran jahat telah mengaduk dalam benaknya dua
manusia binatang itu.
"Adik Gin, uatuk menutup rahasia kita sebaiknya kita
singkirkan saja jiwanya Lin Lin. Sebelumnya ia bikin
susah kita, kita dului, bukankah itu baik?"
Cui Gin terkejut. Ia menanya: "Apa kau mau
membunuh Lin Lin dengan tanganmu sendiri, engko
Kie?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Bukan, kita taruhi racun dimakanannya." jawab Goan
Kie.
"Ah, jalan itu nanti ada buntutnya. Ia mati mendadak,
apakah itu tidak mencurigakan? Kita nanti dapat susah
oleh karenanya."
Goan Kie kctawa gelak-gelak pelan.
"Adik Gin, bukan begitu kenyatannya. Kalau Lin Lin
sudah kena makan racun, ia tidak mati seketika, hanya ia
dapat sakit pelan~pelan dan dalam tempo satu minggu
barulah ia mati..."
"Apa ada racun yang begitu lambat bekerjanya?"
tanya Cui Gin cepat.
"Ya," sahut Goan Kie. "Itu racun istimewa, yang kita
harus beli dengan harga mahal."
"Belinya dimana?" tanya Cui Gin.
"Belinya pada seorang imam yang belum lama sampai
ketempat kita sini."
"Kau kenal pada imam itu?"
"Bukan saja kenal, malah ia adalah guru silatku."
"Oo, jadi engko Kie pandai siiat juga?"
"Sedikit-sedikit boleh juga. tapi buat menunduki adik
Gin tidak perlu silat... "
Cui Gin ketawa cekikikan sambil mencubit Goan Kie.
"Apa namanya imam gurumu itu?" tanya Cui Gin.
"Tiat Leng Tojin, kepandaiannya membuat racun
istimewa."
"Bagus. Aku tidak perduli mengeluarkan duit berapa,
asal pekerjaan kita selamat. Kau belilah obat racun itu,
engko Kie."
demikianlah, kedua manusia terkutuk itu kasak kusuk
lebih jauh.
Dasar nasibnya Lin Lin lagi sialan rupanya, ia mau
menemui ayahnya malah menemui adegan yang
membuat bulu kuduk-nya merinding. Ia adalah satu
gadis yang halus perasaannya dan tidak suka mengadu
biru, maka perbuatannya sang ibu tiri yang menyolok itu
tidak ia adukan kepada ayahnya. Hanya diam-diam ia
menyesalkan kelakuan ibunya itu,
Sejak itu hatinya tidak senang pada Cui Gin, maka
saban ketemu ia perlihatkan wajah yang kurang senang,
tapi untuk mana sang ibu tiri belagak pilon saja.
Pada suatu malam Lin Lin rasakan perutnya sakit.
Ia tadinya kira hanya sakit perut biasa saja, tapi lama-
lama dirasakan makin sakit hingga ia berkaok-kaok dan
membikin pelayannya jadi kebingungan. Segera Cia
Tikwan dipanggil. Melihat anaknya bergelisahan, ia juga
kebingungan. Ia lekas-lekas menyuruh orangnya untuk
memanggil tabib, tapi dicegah oleh Cui Gin yang datang
bersama Cia Tikwan kesitu.
"jangan buru-buru panggil tabib, biarkan saja dulu,
nanti kita lihat bagaimana? Rasanya Lin Lin kesalahan
makan, makanya dengan mendadak perutnya sakit," kata
Cui Gin, sedang hatinya ketakutan kalau Cia Tikwan
benar-benar memanggil tabib dan rahasianya bisa bocor.
Tapi ia percaya akan keterangannya sang kekasih,
katanya obat itu mulai unjukkan reaksinya dengan perut
kesakitan keras, tapi segera akan lenyap sakitnya,
kemudian racunnya menjalar melalui pembuluh-
pembuluh darah dan dalam tujuh hari si korban akan
mati karenanya.
Cia Tikwan menurut pikiran isterinya. Benar saja, tidak
lama kemudian Lin Lin sembuh sendirinya, ia tidak
gelisah iagi dengan sakit perutnya.
Melihat keadaan anaknya sudah reda dan mulai tidur.
maka Cia Tikwan ajak Cui Gin kembali kekantornya.
Untuk membikin suaminya melupakan anaknya yang
sakit barusan, Cui Gin telah ajak cia Tikwan bicara hal
lain, terutama hal hubungan sex yang si bekas pelayan
kecil tahu kegemarannya sang suami. Benar saja Cia
Tikwan yang napsunya masih menyala lupa akan Lin Lin
dan mencari hiburan dari istri mudanya yang sekarang
tidak merintih lagi malah sudah pandai mainkan
pinggulnya yang kecil.
Benar katanya Goan Kie, sejak sakit perut Lin Lin jadi
meroyan. Pernah dipanggilkan tabib, tapi sang tabib
tidak tahu penyakitnya Lin Lin penyakit apa dan kasi obat
sekenanya saja. jiwanya Lin Lin tidak ketolongan. Setelah
menderita sakit meroyan tujuh hari lamanya ia telah
menyusul roh ibunya ditempat baka.
Lin Lin meninggal dunia dalam usia enam belas tahun,
gadis remaja yang cantik lnar biasa dan menjadi idaman
setiap pria.
Setelah Lin Lin tidak ada, maka perbuatannya Cui Gin
dan Goan Kie lebih leluasa lagi, dapat mereka
mengelabui Cia Tikwan yang sudah kolot. Malahan, pada
wakru belakangan, setelah Lin Lin mati. jiwa Cia Tikwan
seperti terpukul dan tidak begitu gembira pula untuk
bermain cinta.
Ia selalu memikirkan kematian anaknya.
Baru sekarang ia memikirkan juga tentana kematian
isterinya, Im Nio.
Im Nio scbagai isteri tidak mengecewakan, baik
pelayanan sebagai isteri terhadap suami maupun dalam
pelayanan hubungan sex Im Nio harus diakui sebagai
wanita yang ideal dalam rumah tangga.
Kenapa ia sampai menterlantarkan isterinya itu oleh
karena gara-garanya Cui Gin. Kematian Im Nio karena
kesal melihat kelakuannya (Cia Tikwan) tidak benar. Kini,
puteri tunggalnya yang cantik telah mangkat menyusul
ibunya. Apa ia bisa hidup beruntung terus disampingnya
Cui Gin? Umurnya Cui Gin sangat jauh terpautnya.
manakala ia sudah loyo, tidak bisa memberikan kepuasan
lagi, apakali Cui Gin tidak nanti mencari gantinya? Inilah
yang Cia Tikwan buat pikiran.
Pada suatu malam, dimana Cia Tikwan sedang bekerja
dalam kamar kerjanya, Cui Gin telah berunding dengan
kekasihnya.
Cia Tikwan ternyata belakangan ini lebih suka tinggal
sendirian dalam kamar kerjanya, maka ia tidak suka
ditemani oleh isterinya maupun oleh Goan Kie,
sekretarisnya yang ia sangat sayangi. Saking sayangnya,
Cia Tikwan telah memperbolehkan Goan Kie untuk
tinggal sama-sama dalam rumah besarnya. Gerak-
geriknya leluasa, lantaran Cia Tikwan sangat percaya
kepadanya.
Ia tidak melihat tanda-tanda dari kekurangan ajaran
Goan Kie terhadap isterinya yang muda, juga sebaliknya,
Cui Gin kalau berhadapan dengan Goan Kie selalu unjuk
wajah serius sebagai nyonya Tikwan.
Itu semua mereka unjuk didepan Tikwan saja, untuk
menutupi kecurigaannya. Dibalik si Tikwan tolol itu
mereka boleh dikata hidup sebagai suami isteri.
Sungguh, dengan adanya dua makhluk itu, dalam
rumah tangga Cia Tikwan menjadi kotor.
Cui Gin dan Goan Kie telah berunding untuk
menyingkirkan jiwanya Cia Tikwan.
"Engko Kie, aku sebal sama si kolot itu yang bagaikan
patung belakangan ini. Entah kenapa ia, sebab dulu-
dulunya ia paling menyala," demikian Cui Gin berkata
pada Goan Kie.
Sang kekasih ketawa geli. Ia menyahut: "Ia sudah
padam, masih ada lampu lainyanya menyala, kenapa
adik Gin bolehnya muak kepada si kolot?"
"Lampu yang mana, engko Kie?" tanya Cui Gin
mesem.
"Apa lampunya Goan Kie kurang menyala?" Goan Kie
balik menanya.
Cui Gin ketawa cekikikan. "Aku ingin kita hidup berdua
lebih bebas lagi, bagaimana jalannya?"
Goan Kie kerutkan keningnya seperti berpikir.
"Apakah hidup kita sekarang kurang bebas?" tanyanya
kemudian.
"Tentu saja kurang bebas. Pertemuan kita dilakukan
dengan sembunyi-sembunyi, kalau diwaktu malam aku
seperti di siksa didekatnya si kolot yang sudah jadi
patung batu! Aku ingin selalu berdekatan dengan kau,
engko Kie..."
"Kalau kita pergi dari rumah ini apa nanti tidak dapat
kesukaran hidup kita ?" tanya Goan Kie yang
mengawatirkan hidupnya.
"Kenapa kau takut? Asal kita bisa singkirkan jiwanya si
kolot, semua hartanya akan jatuh padaku dan dengan
harta itu apa tidak cukup untuk kita hidup senang?"
Goan Kie menganggukkan kepalanya, akan tetapi ia
tidak menjawab.
"coba kau pikirkan jalan apa, supaya kita dapat
menyingkirkan ia untuk keberuntungan kita?" Cui Gin
minta advisnya sang kekasih.
"Tidak ada jalan lain dari pada kita pindahkan jiwanya
seperti dengan adik Lin Lin tempo hari, bagaimana, kau
setuju?" Goan Kie usul.
Cui Gin terkejut. Berbayang waktu itu ia mencampuri
makanan Lin Lin dengan racun yang ia dapat dari Tiat
Leng Tojin, gurunya Goan Kie.
"Aku setuju saja, asal itu untuk keberuntungan kita."
"Ya, dengan racun seperti yang kita kasi makan pada
Lin Lin, pasti si kolot akan melayang jiwanya tanpa orang
tahu ia sakit apa."
"Bagus," memuji Cui Gin. "Cuma, kalau Lin Lin itu
waktu tidak pergoki kita dan ia ambil sikap mendiami
padaku, aku sebenarnya tidak tega mengambil jiwanya."
"Sekarang bagaimana, apa kau tega melayangkan
jiwanya si kolot?"
"Terang aku tega, sebab itu adalah untuk
keberuntungan kita."
"Kalau si kolot masih menyala tentu kau tidak tega
menyingkirkannya, bukan?" Goan Kie menggodai Cui Gin.
"Ah. kau bisa saja menggodai orang.." sahut Cui Gin
seraya tangannya diulur menyubit pipi orang.
Goan Kie ketawa dan merangkul Cui Gin. ia
menciumnya dan dibalas dengan hangat oleh si pelayan
cilik yang sekarang sudah berubah menjadi 'ular yang
cantik.'
Mereka lakuan perundingan itu dalam kamar belakang,
kamar yang biasa mereka gunakan pertemuan manakala
Cia Tikwan sedang mengurus pekerjaannya diwaktu
malam.
Dalam kamar belakang itu, yang juga diperabotan
mewah, ada tersedia meja kursi dan dipan piranti Cia
Tikwan melepaskan lelahnya diwaktu puiang kerja.
Kamar itu ada memakai lubang-lubang angin yang
membuat orang yang berada didalamnya menjadi betah.
Sampai sebegitu jauh pertemuan mereka dikamar itu
tidak pernah dapat gangguan, sebab baliknya Cia Tikwan
kekamarnya habis kerja, selalu dipapak oleh Cui Gin.
Dengan begitu mereka tidak takut dipergoki oleh Cia
Tikwan.
Mereka tidak pernah mimpi sebelumnya, kalau malam
itu adalah malam penghabisan dari pertemuan mereka
dalam kamar itu.
Cia Tikwan pada saat itu sedang mendengarkan
pembicaraan mereka dengan badan menggigil menahan
gusar. Ia sebenarnya sudah ingin menggedor pintu dan
melabrak dua manusia binatang itu, namun
perbuatannya itu dicegah oleh seorang yang buntung
lengannya. yang bukan lain adalah Tan Ciang Tan Kim
Liong. si Tangan Tunggal.
Cara bagaimana Kim Liong dengan mendadak saja
bisa berada dengan tikwan?
Marilah kita mundur sebentar.
Kim Liong setelah meninggalkan kuburan Lin Lin,
hatinya penasaran akan kematian si jelita. Ia menduga
akan ada apa-apa dibalik kematiannya si nona yang mati
dalam usia remaja itu, maka ia lalu mencari keterangan
dan dapat keterangan yang mencurigakan, ialah si nona
mula-mulanya sakit perut dan lewat tujuh hari telah
meninggal.
Kim Liong lebih jauh menanyakan keterangan pula hal
rumah tangganya Cia tikwan, ia dapat keterangan
setelah istrinya meninggal, Cia Tikwan telah mengambil
Cui Gin sebagai istrinya. Umurnya Cui Gin ada sangat
muda, dulunya bekas lepayan nyonya Tikwan.
Peruntungannya Cui Gin sangat baik, dari pelayan bisa
menanjak menjadi nyonya Tikwan, demikian memuji
orang yang memberi keterangan pada Kim Liong.
Dari keterangan itu, Kim Liong lantas mengambil
putusan untuk melakukan penyelidikan dalam rumahnya
Tikwan. Tidak sukar ia melakuan pakerjaannya, karena
kepandaiannya Kim Liong sekarang hebat sekali!.
Tubuhnya enteng seperti daun, tenaganya kuat bagaikan
raksasa berkat minum Thay lek seng ciu pemberian Lin
Lin.
Sudah beberapa malam Kim Liong melakukan
penyelidikan, ia nonton juga adegan-adegan yang
menggiurkan antara Cui Gin dan Goan Kie. yang bila
menurut hatinya ia sudah kepingin membunuh dua
manusia itu, cuma saja ia masih belum dapat keterangan
tentang kematiannya Lin Lin
Belakangan dengan tegas ia dengar dua manusia
binatang itu timbulkan urusan kematian Lin Lin yang
dikasi racun oleh mereka, lantas saja Kim Liong sekarang
tahu siapa orangnya yang membunuh Lin Lin.
Untuk menunjukkan kepada Cia Tikwan kesalahnya
Goan Kie dan Cui Gin, malam itu ia perlihatkan diri dalam
kamar kerjanya Cia Tikwan.
Pembesar yang rajin itu menjadi kaget dengan tiba
tiba saja muncul Kim Liong didepannya. Ia kenali
pemuda itu adalah pemuda yang ia lihat di kuburan Lin
Lin yang ia sangka adalah satu pemuda sinting.
Kim Liong menjura dengan hormat, ketika melihat Cia
Tikwan kesima seperti duduk terpaku dikursinya.
"Harap Tayjin tidak jadi gusar, kedatanganku dengan
lancang ini," kata Kim Liong seraya ketawa nyengir.
"Anak muda. kau mau apa datang malam-malam
kemari?" tanya Cia Tikwan, setelah kagetnya hilang dan
melihat Kim Liong seperti tidak bermaksud jahat atas
kedatangannya.
"Tayjin, bukan hanya malam ini aku datang kemari,
tapi sudah beberapa malam."
"Beberapa malam? Ada urusan apa beberapa malam
kau datangi rumahkn?"
"Aku datang bukan bermaksud jahat, hanya ingin
membikin terang kematiannya adik Lin Lin yang sangat
mencurigakan."
"Lin Lin puteriku itu?" tanya Cia Tikwan kaget.
"Ya, adik Lin, puteri Tayjin yang matinya mengandung
penasaran."
Terbelalak heran matanya Cia Tikwan mendengar
perkataan Kim Liong.
"Apa kematiannya dibunuh, eh, aku maksudkan
diracuni orang jahat?"
"Ya, adik Lin mati karena diracuni orang jahat."
"Siapa orangnya yang berani meracuni anakku?"
"Orangnya dekat-dekat saja, cuma Tayjin seperti buta
matanya."
Cia Tikwan tidak senang mendengar matanya
dikatakan buta, tapi ia tidak berani banyak lagak didepan
Kim Liong yang ia tahu sangat lihay.
Wajahnya tidak berubah meskipun hatinya kurang
senang.
"Apa kau bisa unjukkan orangnya?" tanya si pembesar
negeri.
"Tentu, mari ikut aku," kata Kim Liong, seraya
bertindak keluar kamar.
Cia Tikwan mengikuti dari belakang dengan hati
berdebaran.
Ketika mereka jalan berendeng, Kim Liong membisiki
supaya Cia Tikwan jalan berindap indap, jangan
membuat suara, karena mereka bendak mencuri dengar
orang bicarakan rahasia didalam kamar.
Cia Tikwan anggukkan kepala. Demikian, Cia Tikwan
telah dibawa kekamar belakang peranti ia beristirahat.
Kim Liong suruh orang tua itu mendengarkan apa
yang orang percakapkan disebelah dalam dengan pesan
supaya Cia Tikwan tenang-tenang saja, jangan bikin
ribut.
Cia Tikwan pasang kuping, ia lantas kenali suaranya
Cui Gin dan Goan Kie yang sedang pasang omong.
Hatinya kaget dan mendelu, dirinya dimaki-maki oleh Cui
Gin sebagai patung, ia mencelos waktu mendengar Lin
Lin mati karena diracuni dan lebihan pula kagetnya
mendengar dirinya akan diracuni seperti Lin Lin tempo
hari.
Dalam panasnya sang hati. Cia Tikwan sudah tidak
sabaran dan unjuk gerakan ingin menerjang masuk, akan
tetapi Kim Liong mencegah dan membisiki kupingnya:
"Tayjin tidak malu memergoki isteri Tayjin dalam
keadaan telanjang dipeluki kekasihnya? Ini kurang baik,
maka kasikan aku yang tangkap mereka untuk
dihadapkan depan Tayjin, sedang Tayjin sendiri boleh
menunggu dikamar kerja Tayjin."
Cia Tikwan menurut. Ia balik tubuhnya dan berlalu
dengan tindakan pelan, hingga tidak mengganggu
mereka yang sedang merundingkan kematiannya Cia
Tikwan.
Ketika melihat si orang tua sudah lenyap, Kim Liong
mulai bekerja.
Kebetulan pintu tidak dikunci, maka dengan pelan Kim
Liong membuka. Baru saja pintu terbuka separuh, Kim
Liong ketawa geli melihat orang bergumul seperti ia
tempo hari dengan Lin Lin. Pemandangan demikian
sudah biasa baginya dalam beberapa malam ini ia
melakukan penyelidikan.
Tanpa diketahui oleh mereka yang sedang sengitnya
diatas dipan, Kim Liong jalan mendekati dan menotok
jalan darah Goan Kie, hingga pemuda itu lumpuh
tubuhnya tidak bergerak, mendekam diatas tubuh Cui
Gin, hingga Cui Gin heran, tiba-tiba saja partnernya
hentikan kerjanya dan mendekam tidak berkutik diatas
badannya.
"Hei, kenapa kau berhenti..?" tanya Cui Gin.
Sementara itu matanya melihat adanya Kim Liong, ia
jadi kaget dan mendoroug Goan Kie jatuh kelantai, cepat
ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kurang ajar, kau berani sembarangan masuk dalam
kamar orang?" Cui Gin memaki.
Ia muak melihat wajah Kim Liong yang jelek banyak
goresan senjata dan tangannya buntung, namun hatinya
tergetar dan membayangkan bencana atas dirinya
dengan kedatangaunya si buntung didepannya ini.
Kim Liong tidak menyawab, ia cenderungkan
badannya.
"Hei, kau mau apa?" bentak Cui Gin, yang mengira
orang akan maui dirinya.
menyusul badannya dirasakan lemas tak bertenaga. Ia
kena ditotok oleh Kim Liong.
Badannya Cui Gin dibungkus dengan selimut, lalu
dipanggul atas pundak kirinya, sedang Goan Kie dalam
keadaan telanjang ditenteng oleh Kim Liong dibawa
kekamar kerjanya Cia Tikwan yang sedang menanti
dengan tidak sabaran.
Dalam kamar kerja Cia Tikwan, Kim Liong rebahkan
Cui Gin diatas kursi panjang, sedang Goan Kie ia letakkan
diatas lantai.
"Tayjin, nah inilah dua manusianya yang membikin Lin
Lin mati penasaran..." Kata Kim Liong, setelah ia
meletakkan kedua bebannya itu.
Cia Tikwan bukan main gusarnya melihat dua manusia
yang tertangkap basah itu.
Ia menekan kegusarannya dan menanya pada Kim
Liong: "Anak muda, sebenarnya kau ini siapa? Kau sudah
begitu perlukan tempo untuk menyelidiki kematian
anakku!"
"Aku Tan Kim Liong, dengan adik Lin aku kenal baik."
"Dari mana kau mula-mula kenal dengan anakku?"
"Urusan ini panjang untuk diceritakan, hampir tak bisa
dipercaya, nanti akan kujelaskan pada Tayjin, sekarang
Tayjin urus dulu dua pembunuh ini, bagaimana Tayjin
akan mengawasi hukumannya?"
"baiklah Tan-enghiong," sahut Cia Tikwan.
Pembesar itu menghampiri Goan Kie yang rebah
dengan tidak berkutik, hanya matanya saja kedap kedip
mengawasi Cia Tikwan seperti motion pengampunan.
Melihat keadaan Goan Kie dalam pakaian Adam,
gusarnya Cia Tikwan bukan main. Ia dapat
membayangkan bagaimana orang muda itu telah
mempermainkan isterinya. Dengan satu tendangan keras
ia memaki: "Manusia boceng, apa kau tidak puas dengan
perlakuan yang menyayangi kau sebagai anak sendiri?
Kau berani bersekongkol hendak meracuni aku? Hm!
Sungguh besar nyalimu!"
Menyusul kembali Cia Tikwan menendang. hingga
Goan Kie bergulingan dengan meringis-ringis kesakitan,
halmana bukan membikin Cia Tikwan kasihan, malah ia
makin gusar.
"Tan-enghiong, coba kau buka totokannya, aku mau
mendengar pengakuannya?" Cia Tikwan berkata, seraya
menghampiri Cui Gin yang menggeletak di atas kursi
panjang. Dengan gemas ia menyambret selimut Cui Gin
dan ditariknya, sambil berkata: "Ini manusia hina, mana
ada harga berada diatas kursiku!"
Ngek! Cui Gin kena diinjak dan digulingkan dengan
kakinya, tubuh Cui Gin yang telanjang jatuh dilantai tidak
berkutik.
Matanya bercucuran air mata, seperti memohon
pengampunan suaminya.
Sementara itu Goan Kie sudah dibebaskan dari
totokan. Ia berlutut didepan Cia Tikwan dan mengaku
salah, ia mohon pembesar itu memberi kelonggaran
hukum kepadanya. Ia timpahkan segala kesalahan
kepada Cui Gin.
Ia berkata: "Aku ingat kebaikan Tayjin, aku menolak
ketika Thaythay memaksa mengajak main gila. tapi aku
seorang manusia biasa. tak tahan dengan rayuannya
yang saban saban mengiang ditelingaku, maka akhirnya
aku terjatuh juga dalam pengaruhnya. Aku sama sekali
tidak punya pikiran untuk mencelakai Sio-Cia, tapi
Thaythay yang mendesak untuk aku membeli racun dan
meracuni SioCia. Thaythay yang mencampuri racun itu
dalam makanannya SioCia..."
"Manusia hisal" memotong Cia Tikwan, kakinya
menyusul menendang kepalanya Goan Kie yang tengah
berlutut hingga bor-boran darah dan kepalanya si
manusia cabul dirasakan pusing tujuh keliling.
Ia menggeletak separuh pingsan.
"Tan-enghiong, tolong kau behaskan totokannya
perempuan hina ini," Cia Tikwan minta Kim Liong
membebaskan totokan Cui Gin.
Kim Liong menurut.
"Nah, apa sekarang katamu perempuan hina?" bentak
Cia Tikwan gemas.
Cui Gin malu melihat keadaan dirinya yang tak
berpakaian, maka ia sembat selimut tadi dan
dibungkuskan pada tubuhnya. Ia melirik pada Kim Liong,
yang ternyata sedang palingkan mukanya kelain arah,
rupanya ia tidak ingin menyaksikan tubuh yang kecil
montok menggiurkan dari Cui Gin itu.
Cui Gin kemudian merangkak dan memeluk kakinya
Cia Tikwan, katanya : "Loya, mohon Loya punya
kemurahan hati, ampunkan A Gin yang meracuni anak
Lin lantaran bujukannya si Goan Kie. Ia sangat jahat! A
Gin menyerahkan diri karena diancam olehnya, ia
mengancam akan membunuh A Gin kalau A Gin tidak
mau menuruti kemauannya. A Gin seorang perempuan
lemah, takut mati, maka akhirnya menyerah dibuat
permainan orang busuk itu. Maka, mohon Loya punya
murah hati supaya mengampuni A Gin."
"Hehe, perempuan busuk!" tertawa Cia Tikwan.
"Kenapa kau mau meracuni aku?"
"Itu adalah rencana dari si Goan Kie, Loya..."
"Bagus! Terang-terangan kau yang menelorkan
rencana pembunuhan atas diri-ku, sekarang kau
timpahkan kesalahan atas dirinya Goan Kie! Bagus,
bagus, perempuan cabul!"
menyusul kakinya Cia Tikwan bergerak dan Cui Gin
terlempar tiga meter bergulingan, hingga tubuhnya yang
kecil montok keluar dari bungkusan selimutnya.
Kembali Kim Liong telah pelengoskan mukanya kelain
arah melihat pemandangan itu.
Dengan menangis terisak isak dan gaya yang
mengasihani, Cui Gin merangkak dan menghampiri pula
Cia Tikwan. Kali ini tidak ia gunakan selimut menutupi
tubuhnya, ia bermaksud dengan tubuhnya yang montok
kecil itu coba ,eredakan amaarahnya sang suami yang
dikhinatinya. Hatinya Cia Tikwan memang tergetar
melihat pemandangan didepannya, berbayang saat-saat
pertama ia mencaplok perawannya si pelayan cilik, ia
menggeliat-geliat buah dadanya yang masih pentil
dihisap, gemetar dijamah bagiannya yang paling rahasia,
merintih rintih sewaktu pintu gerbang sedang ditembusi.
Bayangan semua membuat hatinya Cia Tikwan menjadi
lembek, kepalanya menunduk tatkala Cui Gin memeluk
kakinya minta ampun dan tersedu-sedu menangis.
Cia Tikwan jadi menghela nanas.
"Tan-enghiong." akhirnya ia berkata. "Apa kau dapat
menolongku?"
"Menolong apa, Tayjin?" lanjut Kim Liong.
"Tolong bawakan dua manusia hina ini kedalam
tahanan?" sahut Cia Tikwan.
Kim Liong mengiyakan. Ia kira mereka bakal
dijebloskan kedalam tahanan biasa, tidak tahunya Cia
Tikwan mempunyai tempat tahanan spesial untuk
menghukum orang orangnya sendiri yang bersalah.
Letaknya jauh dibelakang dari rumah besarnya.
Ketika mereka sudah rapi menjebloskan dua manusia
binatang itu kedalam tahanan, mereka kembali kedalam
rumah dan dalam kamar kerjanya Cia Tikwan.
Kim Liong telah diminta menutur halnya ia kenal
dengan Lin Lin.
Kim Liong tidak keberatan. Sambil menghirup teh
hangat yang disuguhi padanya, anak muda kita
menuturkan pertemuannya dengan Lin Lin dalam dunia
khayal. Bagaimana ia dan Lin Lin mainkan tabuhan kim
dan seruling dipulau pulauan rumahnya Lin Lin,
menyanyikan lagu "Bertemunya muda mudi" bergiliran,
kemudian minum arak dengan gembira sampai dua-
duanya mabuk. Namun tentang kejadian ia mabuk dan
perutnya seperti dibakar panas dan kemudian diobati
oleh Lin Lin dengan jalan bersetubuh dengan si gadis,
Kim Liong tidak ceritakan. Ia khawatir hal itu
menyinggung perasaan orang tua yang mencintai anak
tunggalnya itu.
Cia tikwan mendengarkan cerita Kim liong dengan
tidak memotong pembicaraan orang, maka si anak muda
dapat menuturkan pengalamannya dengan lancar.
Setelah habis menutur, tampak Cia Tikwan duduk
dengan termangu-mangu.
"Itu suatu kejadian yang hanya terjadi dalam
dongengannya..." berkata Cia tikwan sambil menarik
napas panjang.
"Itulah, aku juga pikir demikian. Namun memang aku
telah alami sendiri dan aku merasakan kefaedahannya
arak Thay Lek seng Ciu yang ku minum itu telah
membuat tenagaku luar biasa, jauh bedanya pada
sebelumnya aku minum arak mujijad itu." menerangkan
Kim liong..
Cia tikwan geleng-geleng kepala dan masih
meragukan keterangannya Kim Liong.
"Oleh karena pertemuan dengan adik Lin itu."
menyambung Kim liong, "aku meragukan kematiannya
itu terjadi dengan wajar, maka aku telah melakukan
penyelidikan dan akhirnya aku dapat menangkap orang-
orang yang bersalah dalam kematian adik Lin..."
Keragu-raguan Cia Tikwan lenyap ketiak mendengar
perkataan Kim Liong belakangan ini.
"Ya, anak Lin tentu tidak rela mati.." Cia Tekwan kata
sambil menghela napas.
"Ia meminjam tenaganya Tan enghiong untuk
menunjukkan padaku orang yang telah meracuni dirinya.
Sungguh aku harus membilang terima kasih atas
pertolongan Tan enghing yang telah membkin terang
duduknya perkara. Aku harap Tan enghiong suka
berdiam dalam rumahku beberapa hari, menunggu aku
nanti melakukan pemeriksaan dan memberi hukuman
kepada dua orang yang meracuni anakku itu."
"Aku sebenarnya dalam perjalanan merantu, aku ingin
meneruskan perjalananku setelah membereskan
urusannya adik Lin. tapi tidak apa, aku akan menantikan
keputusan pengadilan beberapa hari ini atas diri dua
penjahat itu. tapi aku tidak mau membikin susah Tayjin,
aku akan tetap menginap dalam rumah penginap yang
sekarang aku sewa, harap Tayjin tidak kecil hati,"
demikian kata Kim Liong merendah-
Cia Tikwan memaksa. tapi Kim Liong tetap tidak mau
tinggal dalam rumah si pembesar, sebab ia merasa kikuk
gerak geriknya tinggal disitu.
ooOdwOoo

BAB-29
TAN-CIANG TAN KIM LIONG..
Hati pemuda tangan tunggal itu merasa lega telah
menangkap dua pembunuh dan Lin Lin, nona yang telah
menjadi 'isterinya' dalam dunia khayal, ia yakin arwahnya
si jelita dialam baka merasa senang dan berterima kasih
atas pekerjaannya itu. Ia kembali kerumah
penginapannya dan dapat tidur nyenyak...
Pada keesokan harinya. ia mendapat undangan dari
Cia Tikwan.
Sampai dirumah pembesar distrik itu, ia sudah
disediakan sebuah meja panjang yang penuh dengan
makanan lezat dan sudah ada banyak orang yang duduk
bercakap-cakap.
Mereka itu adalah sanak familie dari Cia Tikwan dan
beberapa sahabat kenalannya yang paling akrab dengan
pembesar itu.
Kim Liong telah disambut dengan sangat hormat oleh
Cia Tikwan dan sanak familie-nya yang telah mendapat
kabar terlebih dahulu. bagaimana liehaynya si anak muda
yang telah menerangkan duduknya perkara pembunuhan
atas dirinya Lin Lin.
Perjamuan itu diadakan khusus untuk menghormat
Kim Liong, hingga si anak muda rada-rada kikuk
dibuatnya. Tapi kemudian ia sudah lincah lagi dan dapat
bercakap-cakap dengan beberapa orang yang ingin
berkenalan dengannya.
Sebelum perjamuan dimulai, Cia Tikwan telah angkat
bicara, menerangkan maksud diadakannya perjamuan
itu, ialah khusus untuk menghormat Kim Liong yang
telah berhasil membongkar rahasia pembunuhan atas diri
puterinya.
Dikisahkan dengan singkat hal pertemuannya Kim
Liong dengan Lin Lin dalam dunia khayal, yang
menyebabkan Kim Liong telah melakukan pengusutan hal
kematiannya Lin Lin. Pada akhirnya Cia Tikwan berkata:
"Tan enghiong, terimalah sedikit perjamuan ini sebagai
tanda terima kasih dari keluarga Cia atas bantuanmu
yang telah membongkar penasaran dari puteriku.
Semoga, selanjutnya kau diberkah selamat dan berhasil
dengan cita-citamu dalam perantauan..."
Kim Liong dengan singkat menyamhut pidato tuan
rumah, ia menghaturkan terima kasih atas doa restu dari
kepala distrik itu, Iapun mengucapknn selamat panjang
umur kepada Cia Tikwan dan halnya ia dipuji muluk-
muluk membongkar rahasia pembunuhan Lin Lin, ia
merendahkan diri, sehingga para hadirin senang
terkadap pemuda yang berkepandaian tmggi namun
tidak sombong.
Menurut keputusan, Cui Gin dan Goan Kie akan diadili
besok pagi.
Kim Liong senang hatinya, kalau perkaranya dua
jahanam itu diadili besok pagi. artinya ia tidak
membuang banyak tempo lagi untuk meneruskan
perjalanannya.
Namun, jalannya urusan tidak semudah yang
dipikirkan Kim Liong.
Pada esok paginya Kim Liong diminta datang
kerumahnya Cia Tikwan untuk melihat kejadian ngeri
disana. hatinya Kim Liong tidak enak. Ketika ia sampai
dirumah Cia Tikwan ia mendengar banyak orang yang
menangis.
"Ada apa? Kiranya Cia tikwan pagi itu kedapatan telah
menjadimayat diatas ranjangnya. Ia dibunuh orang jahat
yang masuk diam-diam kedalam kamar pembesar distrik
itu.
Kim Liong menyaksikan maytnya Cia Tikwan dengan
terharu. Ia sangat menyayangkan atas kematian
pembesar yang adil ini, ayahnya Lin Lin.
Tiba tiba Kim Liong ingat akan Cui Gin dan Goan Kie,
maka ia minta orangnya Cia Tikwan antar ia ketempat
tahanan. celaka, disana Kim Liong dibikin melongo, dua
orang busuk itu sudah tidak ada ditempatnya. Entah
sejak kapan mereka sudah kabur. Pasti mereka sudah
ditolong oleh penjahat yang telah membunuh mati Cia
Tikwan, pikir Kim Liong. Ia menyesal dua orang itu ia
tidak ia bunuh dengan tangannya sendiri saja. tak usah
Cia Tikwan campur tangan. Mungkin kalau kejadian
demikian, Cia Tikwan tidak sampai kerembet dan jiwanya
melayang dengan sia-sia.
Namun, kejadian sudah menjadi kenyataan. bagi Kim
Liong tidak ada lain jalan, ia harus mengusut kemana
kaburnya dua orang jahat itu dan membunuhnya. Lebih
baik pula kalau ia bisa ketemu dengan penjahat yang
telah membunuh mati Cia Tikwan. sekalian ia dapat
tolong balaskan sakit hatinya si pembesar distrik-
Pembunuhan atas dirinya Cia Tikwan telah
menggemparkan distrik Hongkoan.
Di mana mana kedapatan orang berkumpul pada
kasak-kusuk membicarakan halnya Cia Tikwan, ada yang
senang dan ada juga yang merasa sedih atas
kematiannya pembesar itu.
Kim Liong tidak mengacuhkan komentar orang,
hatinya memikirkan mencari cari Gin dan Goan Kie. ia
belum merasa puas kalau belum dapat membereskan
jiwanya dua orang itu, karena ia merasa seperti masih
hutang kepada Lin Lin.
Sudah setengah bulan lamanya ia lakakan
pengusutan, masih juga ia belum menemukan jejaknya
Tan Cin Gin dan Cia Goan Kie, apalagi pembunuhnya Cia
Tikwan.
pada suatu hari ia jalan kemalaman, ketambahan
ketimpah hujan, maka ia mampir dan minta meneduh
pada sebuah kuil yang letaknya diluar distrik Hongkoan.
Kuil itu rupanya jarang dikunjungi tamu, agak mesum
keadaannya, tapi penghuninya kawanan imam ada
banyak. Kim Liong merasa herran dengan keganjilan itu,
akan tetapi ia tidak mencari keterangan, ia pura pura
tolol dan mohon meneduh semalaman dalam kuil itu
karena ia kehujanan dan tak mungkin meneruskan
perjalanannya dengan hujan-hujanan.
Kim Liong dapat lihat merk kuil itu "Tong hong koan'
atau 'Kuil angin timur'.
Ada berapa imam muda yang menyambutnya, mereka
menolak permohonan Kim Liong numpang meneduh
dalam kuil itu, tapi belakangan ada imam setengah tua
dengan ramah menanya: "Sicu datang dari mana sampai
kemalaman diperjalanan?"
"Siaute dalam perjalanan palang sehabis menjenguk
familie jatuh sakit. tapi diperjalanan banyak sahabat yang
minta Siauwte mampir, jadi kemalaman dalam
perjalanan.
"Dimana rumah Sicu?" tanya si imam pula.
"Rumah Siauwte kira-kira dua puluh li jaraknya sampai
didistrik Hongkoan."
"Menurut peraturan. tidak biasa kami menerima
menginap tamu bukannya imam."
"S