You are on page 1of 82

Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)

1

SEKOLAH ALKITAB MINI








PERNIKAHAN DAN KELUARGA
(Bagian 1)




BUKLET STUDI #6





Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan






Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
2
BAB 1
Hukum Pernikahan dan Keluarga

Beberapa tahun yang lalu di Amerika, seorang pria
mengalami kerusakan mesin pada mobil tuanya, sehingga ia
harus menepikan mobilnya ke sisi jalan. Beberapa saat
kemudian, seorang pria berpakaian rapi, yang mengendarai
sebuah mobil mewah, menghentikan mobilnya untuk
menolong pria yang mobilnya mogok. Pria itu keluar dari
mobilnya dan membuka kap mobil yang mogok. Mobil yang
mogok itu bermerek Ford, sebuah merek mobil terkenal di
Amerika. Pria yang berpakaian rapi itu mulai memeriksa
mesin dan tak lama kemudian ia berhasil memperbaikinya.
Pria pemilik mobil tua itu bertanya kepadanya, Bagaimana
Anda bisa sangat mengenal seluk-beluk mobil Ford? Pria
berpakaian rapi itu menjawab, Nama saya Henry Ford.
Sayalah yang menciptakan mobil ini, dan sayalah pemilik
perusahaan yang memproduksi mobil ini.
Seperti halnya kita mengharapkan seorang Henry Ford
dapat memberitahu kita bagaimana caranya memperbaiki
salah satu mobilnya, kita pun dapat mengharapkan Allah
memberitahu kita bagaimana caranya memperbaiki suatu
pernikahan, sebab Dialah yang menciptakan lembaga
pernikahan. Penyajian prinsip-prinsip pernikahan dan
keluarga yang Anda baca ini didasarkan pada Firman Tuhan.
Asumsinya adalah; oleh karena Allah adalah Pribadi yang
menciptakan pernikahan dan keluarga, maka Allah
merupakan Pribadi yang dapat memberitahu kita bagaimana
caranya memperbaiki suatu pernikahan yang sudah hancur.
Allah pun dapat memberitahu kita apa artinya sebuah
pernikahan, maksud dari sebuah pernikahan dan rancangan-
Nya bagi pernikahan dan keluarga.

Apa yang Yesus Ajarkan mengenai Pernikahan dan
Keluarga?
Sebagai murid Yesus Kristus, kita seharusnya memulai
setiap studi Alkitab dengan bertanya, Apa yang Yesus
ajarkan tentang hal ini? Ketika para ahli Taurat bertanya
kepada Yesus mengenai pernikahan dan perceraian, Ia
menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, Tidakkah kamu
baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula
menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? (Matius
19:4). Dengan kata lain, Yesus berkata, Jika engkau ingin
memahami pernikahan sebagaimana mestinya, engkau harus
kembali ke permulaan dan mempelajari pernikahan
sebagaimana yang Allah maksudkan.

Rancangan Allah bagi Pernikahan
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, ... Maka Allah menciptakan
manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
3
mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman
kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak;
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. (Kejadian 1:26-28)
Sepanjang terjadinya penciptaan, Allah melihat kepada
segala yang Ia ciptakan dan berkata, Semuanya baik.
Namun ketika Anda sampai di pasal 2, Anda menemukan
kata, tidak baik. Apanya yang tidak baik? Tidak baik kalau
manusia itu seorang diri saja. Lalu TUHAN Allah membuat
manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah
mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup
tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil
TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang
perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu
berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan
daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia
diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan
isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kejadian
2:21-24)
Allah melihat bahwa manusia hidup sendiri itu tidaklah
lengkap. Dalam bahasa Ibrani, kalimat itu memberi kesan,
Aku akan menjadikan seorang pelengkap untuknya. Itulah
yang dimaksud dengan kata isteri atau penolong yang
sepadan untuknya dalam bahasa Ibrani yaitu seorang
pelengkap. Sedari awal, Allah telah memberikan kepada kita
definisi/pembagian peran dalam pernikahan dan keluarga.
Seorang pria tidaklah lengkap tanpa seorang wanita.
Seorang wanita diciptakan untuk melengkapi seorang pria.
Kisah penciptaan diulang dalam pasal 2, dan diceritakan
kembali untuk ketiga kalinya dalam Kejadian 5:1-2, dengan
penekanan pada Allah yang menciptakan laki-laki dan
perempuan. Dalam Alkitab versi King James Version, jika
Anda perhatikan dalam Kejadian 5, Allah tidak memanggil
mereka dengan The Adamses, melainkan Adam. Karena
kata Adam berarti manusia, maka dengan kata lain, hal ini
mau mengajarkan kepada kita bahwa seorang laki-laki dan
seorang perempuan yang dipersatukan dalam Pernikahan
Kudus adalah satu manusia yang utuh. Inilah cara lain untuk
mengatakan bahwa dua orang tersebut diciptakan untuk
menjadi satu.

Individu, Pasangan dan Orang Tua
Apa yang kita lihat sejauh ini dalam Firman Tuhan
merupakan hukum kehidupan. Kita bisa menyebutnya
Hukum Pernikahan dan Keluarga. Agar rancangan ini
berlaku, maka Allah harus memiliki dua orang tua yang
memadai. Agar dua orang ini bisa menjadi orang tua yang
memadai, mereka harus memiliki hubungan yang memadai
sebagai pasangan. Dan untuk bisa memiliki hubungan yang
memadai sebagai pasangan, maka mereka haruslah menjadi
individu yang memadai.
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
4
Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, hubungan
sebagai pasangan yang Allah rancangkan bukanlah suatu
hubungan parasit dimana dua orang mencoba untuk saling
mengeruk keuntungan satu sama lain. Ataupun suatu
hubungan dimana yang satu menjadi parasit yang senantiasa
mengambil keuntungan dari pasangannya. Rancangan Allah
sedari semula hingga saat ini adalah dua pribadi utuh yang
saling membangun kehidupan satu sama lain dan yang
membangun suatu kehidupan bersama sebagaimana yang
Allah maksudkan saat Ia menciptakan laki-laki dan
perempuan. Prinsip ini tetap berlaku hari ini sebagaimana hal
itu berlaku pada saat penciptaan.
Namun demikian, rancangan Allah ini berada di bawah
serangan yang begitu hebat sekarang ini. Sebagai contoh,
rancangan tentang hubungan antara pria dan wanita yang
diterima saat ini adalah bahwa seorang wanita haruslah
membuktikan persamaan haknya dengan pria, dengan cara
melakukan segala sesuatu yang kaum pria lakukan.
Teorinya adalah jika wanita tidak memiliki peran dan fungsi
yang sama dengan pria, maka ia tidak setara dengan pria.
Sikap kebanggaan pria telah memproklamirkan
supremasi pria, sedangkan kaum feminis memproklamirkan
supremasi wanita dimana hubungan antara pria dan wanita
seolah-olah merupakan suatu pilihan yang harus
ditentukan/suatu situasi. Menurut rancangan Alkitabiah,
hubungan pria-wanita adalah hubungan dua orang yang
menjadi suatu kesatuan. Jika dua individu ini benar-benar
serupa, maka satu diantara mereka tidak ada gunanya.
Dengan sengaja, Allah menciptakan kita secara khusus
sebagai laki-laki dan secara khusus sebagai wanita karena
masing-masing merupakan pelengkap bagi yang lainnya.
Kebudayaan ditentukan untuk mengurangi perbedaan antar
jenis kelamin dengan membuat peranan dan fungsi yang
benar-benar sama bagi pria dan wanita. Namun, ada
perbedaan yang indah serta tujuan yang luar biasa dalam hal
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan.
Sebuah cara untuk mengilustrasikan hukum dasar
pernikahan dan keluarga ini adalah dengan menggambar
sebuah piramida yang terbagi menjadi tiga bagian. Pada
bagian terbawah, tertulis kata individu, pada bagian tengah
pasangan dan pada bagian atas orang tua.











Individu
Pasangan
Orang
tua
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
5
Untuk membangun sebuah piramida, Anda tidak dapat
memulainya dengan bagian teratas untuk menopang
piramida. Bukan pula rancangan Allah untuk mulai
membangun sebuah rumah tangga dengan dua orang tua
yang memadai tapi tidak memiliki hubungan sebagai
pasangan yang dikehendaki Allah. Selanjutnya, bukan pula
rancangan Allah untuk memiliki bagian tengah piramid tanpa
bagian terbawah. Dasar bagi suatu hubungan yang akan
menjadikan orang tua yang baik adalah adanya dua pribadi
yang memadai. Bagian terbawah piramida merupakan
pondasinya. Demikian juga, bagian terpenting dari sebuah
pernikahan adalah dua individu yang menjadikan pernikahan
itu ada.

Tempat untuk Memulainya
Terdapat empat area masalah dalam setiap pernikahan.
Dalam pernikahan John dan Maria, masalah nomor satunya
ada pada John. Area masalah nomor dua ada pada Maria.
Area masalah ketiga adalah John dan Maria dengan segala
masalah kecocokan mereka. Anak-anak dari John dan Maria
merupakan area masalah keempat dalam pernikahan
mereka.
Jika John memiliki 50 masalah, sedangkan Maria
memiliki 50 masalah, maka pernikahan mereka memiliki 100
masalah sebelum mereka sampai pada masalah yang
mereka miliki sebagai John dan Maria. Jika John
memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya, maka
ia harus memulainya dari area masalah nomor satu, yaitu
dirinya sendiri. Maria harus memulainya dari area masalah
nomor dua, yaitu dirinya sendiri. Jika Anda tidak dapat
mengakui ataupun menerima kenyataan bahwa Anda
merupakan bagian dari masalah, maka tidak ada satupun
penasehat pernikahan yang dapat menolong pernikahan
Anda. Namun, jika Anda menyelesaikan masalah dalam
kehidupan Anda pribadi, maka Anda telah menyelesaikan
begitu banyak masalah dalam hubungan sebagai pasangan.
Ijinkan saya menceritakan suatu kisah yang
mengilustrasikan hal ini: Ada seorang pria yang
berkonsultasi kepada seorang psikiater, dimana terdapat
selada di atas kepalanya dan tiga butir telur serta sepotong
daging panggang pada masing-masing telinganya. Sang
psikiater mempersilakannya masuk dan mempersilakannya
duduk. Pria ini duduk dengan sangat hati-hati agar telurnya
tidak jatuh. Dan sang psikiater bertanya, Apakah Anda mau
membicarakannya? Dan ia menjawab, Mau, dokter. Saya
ingin membicarakan tentang saudara saya. Ia benar-benar
bermasalah.
Para pendeta dan penasehat pernikahan bertemu
dengan orang-orang yang seperti demikian setiap harinya,
yaitu orang-orang yang tidak akan mengakui kemungkinan
bahwa mereka pun bisa saja merupakan bagian dari
masalah. Sebagaimana yang Yesus katakan, Ada balok di
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
6
matamu, namun engkau mencari-cari selumbar di mata
saudaramu. (Matius 7:3) Orang-orang yang ekstra kritis
sangat ahli dalam menyatakan kesalahan orang lain,
khususnya dalam rumah tangga dan pernikahan mereka.
Mereka menyalahkan orang lain dan tidak pernah terpikir
oleh mereka bahwa mereka pun merupakan bagian dari
masalah tersebut, meskipun nyata bagi setiap orang bahwa
justru orang-orang seperti inilah yang menjadi bagian
terbesar dari sebuah masalah.
Konseling pernikahan terbaik di dunia ini terdapat dalam
Alkitab. Di dalam buklet ini, kita akan melihat beberapa
nasehat pernikahan yang Alkitab berikan. Selagi kita
mempelajarinya, kita akan menemukan beberapa pola dan
prinsip. Pola yang paling sering adalah: setiap kali Alkitab
menyinggung tentang pernikahan, maka Alkitab memisahkan
dua orang pasangan sebagai individu yang terpisah. Lalu,
Alkitab akan menujukan kepada kaum pria tentang
perannya. Alkitab akan memberitahukan kaum pria tentang
apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam pernikahan.
Ketika Alkitab menujukan kepada kaum wanita, maka Alkitab
akan mengajarkan kaum wanita tentang tanggung jawabnya
dalam pernikahan.
Contohnya; I Petrus 3 dimulai dengan perkataan yang
ditujukan kepada wanita, khususnya wanita yang suaminya
tidak menaati Firman Tuhan. Sampai ayat yang keenam,
Petrus tidak berkata apapun kepada atau tentang para
suami. Sebaliknya, ia mengajarkan kepada para isteri
tentang berbagai hal, termasuk kesucian, cara berpakaian
dan kepatuhan. Petrus memberitahu para wanita untuk mulai
dengan area masalah nomor dua. Mereka harus minta
kepada Allah untuk menjadikan mereka sebagaimana yang
Allah inginkan dan yang Allah mau mereka lakukan dalam
pernikahan mereka.
Lalu, Petrus berbicara kepada para suami mengenai area
masalah nomor satu. Alkitab selalu membahas setiap
masalah secara realistis dan praktis. Alkitab bahkan
berbicara kepada anak-anak tentang peran dan tanggung
jawab mereka terhadap orang tua mereka. Alkitab selalu
bersifat realistis jika berbicara mengenai hal ini, sebab satu-
satunya hal yang dapat Anda ubah adalah pribadi yang
kepadanya Anda bertanggung jawab, yaitu diri Anda sendiri.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagi pasangan
menikah untuk mempelajari hal ini, namun pada akhirnya
anda akan menyadari dan berkata, Tidak ada yang dapat
saya perbuat tentang pasangan saya. Anda memang tidak
bisa. Pada kursi penghakiman Allah, Anda tidak akan
memberi jawab atas nama pasangan Anda di hadapan Allah.
Anda tidak akan bertanggung jawab untuk membela mereka.
Sebaliknya, Anda akan bertanggung jawab untuk satu
pribadi yang menjadi tanggung jawab Anda. Anda akan
bertanggung jawab untuk diri Anda sendiri. Anda bertindak
bijaksana bila Anda memulai pertanggungjawaban akhir itu
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
7
dengan mengambil tanggung jawab hari ini juga atas satu
pribadi yang bisa Anda kendalikan dalam pernikahan Anda.
Dalam sesi konseling dengan pasangan menikah, sang
pendeta seringkali tidak dapat bertemu dengan suami dan
isteri secara bersamaan karena ia akan berlaku seperti
seorang wasit yang melerai sebuah pertarungan. Ia
bertindak bijaksana bila ia hanya bertemu dengan masing-
masing pribadi. Setelah menolong tiap-tiap pribadi dengan
masalah mereka sendiri, sang pendeta dapat melanjutkan
dengan masalah kecocokan dan hubungan mereka dengan
pasangannya. Jika dia bukan seorang percaya namun ingin
mengenal Yesus Kristus, maka sudah menjadi prioritas bagi
sang pendeta untuk memimpin suami atau isteri tersebut
kepada keselamatan dan dalam suatu hubungan dengan
Allah melalui Kristus. Konseling pernikahan dapat menjadi
alat pengabaran injil yang efektif bagi para konselor rohani
atau pendeta.
Seorang suami diberitahu oleh pendetanya, Pernikahan
bukanlah urusan kontribusi 50%-50%, bukan juga dua
pribadi yang berkontribusi 100% bagi pasangannya masing-
masing. Pernikahan adalah dua pribadi yang 100% bagi
Tuhan. Suami tersebut pulang dan memberitahu isterinya,
Pendeta mengatakan, Pernikahan itu 100% berbanding nol.
Aku yang 100% dan kamu yang nol. Ada beberapa orang
yang mengalami kesulitan untuk memahami kenyataan
bahwa individu-individulah yang menjadi pondasi sebuah
piramida pernikahan. Disinilah masalah pernikahan dimulai
dan dari sinilah solusi terhadap masalah pernikahan harus
dimulai. Ketika mereka menerima kenyataan itu, mereka
harus menyadari bahwa pribadi yang pertama-tama harus
diubah adalah pribadi yang kepadanya mereka dapat
melakukan sesuatu - mereka harus memulainya dari diri
mereka sendiri.

Apa Arti Pernikahan bagi Allah
Jika Anda mempelajari studi tentang pernikahan dan
keluarga ini dengan suatu pertanyaan, Apa gunanya semua
ini bagi saya?, maka jawabannya adalah: banyak hal yang
bisa Anda dapatkan. Selain keselamatan, rumah tangga yang
bahagia adalah hal terindah di dunia ini. Namun jika Anda
sungguh-sungguh ingin mendapatkan perspektif Alkitabiah
untuk studi tentang pernikahan dan keluarga ini, yang
seharusnya Anda tanyakan adalah, Apa gunanya semua ini
bagi Allah? Apa artinya sebuah pernikahan bagi-Nya?
Mengapa Ia melembagakan pernikahan? Mengapa Allah
menciptakan laki-laki dan perempuan? Jawabannya adalah
bahwa Allah hendak memenuhi bumi ini dengan orang-orang
yang baik.
Mazmur 128 merupakan salah satu ekspresi terbaik dan
paling mendalam akan rancangan Allah ini. Berbahagialah
setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut
jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
8
jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah
keadaanmu! (Maz. 128:1-2) Beberapa orang lebih suka
untuk meletakkan titik setelah tiga kata pertama:
Berbahagialah setiap orang. Saat ini, ada banyak orang
yang mengajarkan ajaran universalisme dimana salah satu
ajarannya mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang
pengasih, dan semua orang diberkati-Nya. Namun Alkitab
tidak mengajarkan demikian. Mazmur ini adalah salah satu
mazmur tentang orang yang diberkati, yang merupakan
salah satu tema dalam kitab Mazmur. Mazmur dengan tema
ini mengajarkan bahwa berkat dari orang yang diberkati
tidak terjadi begitu saja atau secara kebetulan. Berkat itu
adalah ganjaran dari iman dan ketaatan kepada Allah.
Penekanan dari mazmur tentang orang yang diberkati ini
adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa Allah
memakai orang yang diberkati dan bagaimana orang yang
diberkati itu cocok dengan skenario Allah. Pemazmur
melanjutkan, Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur
yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas
pohon zaitun sekeliling mejamu ... Kiranya TUHAN
memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat
kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-
anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel.
(Mazmur 128:3,5-6)
Inilah gambaran bagaimana cara Allah bekerja di dalam
dunia ini. Ia bekerja melalui hukum pernikahan dan
keluarga. Ia menemukan laki-laki yang akan mempercayai-
Nya dan berjalan di jalan-Nya, dan Ia memberkati orang
tersebut itu. Ketika Allah membawa seorang wanita ke dalam
kehidupan orang tersebut dan memperlengkapinya, Ia
menjadikannya seorang ayah. Setelah kedua orang ini
menjadi pasangan, maka mereka membentuk sebuah
keluarga. Anak-anak mereka akan bersama-sama dengan
mereka selama kurang lebih 20 tahun, dibesarkan dan
dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan. Kesatuan
keluarga ini menjadi bagian dari Sion (komunitas rohani
pada masa Perjanjian Lama), lalu membawa pengaruh
kepada kota mereka (Yerusalem), lalu kepada bangsa
mereka (Israel) dan akhirnya kepada dunia.
Dalam Perjanjian Lama, kata Sion memiliki kesamaan
dengan konsep gereja pada masa Perjanjian Baru.
Bagaimana cara Allah bekerja di dunia? Para pengikut Kristus
cenderung berpikir bahwa Allah akan bekerja secara khusus
melalui gereja. Allah dan Kristus memang bekerja melalui
gereja, namun gereja terbentuk dari kesatuan-kesatuan
keluarga. Kesatuan paling mendasar di dunia ini adalah
keluarga. Allah memakai kesatuan keluarga untuk membawa
pengaruh kepada Sion (gereja). Ketika kesatuan-kesatuan
keluarga ini membentuk komunitas rohani, mereka
membawa pengaruh bagi kota mereka, bangsa dan pada
akhirnya bagi dunia. Nah, jika ada yang tidak beres dengan
dunia ini, juga pada bangsa dan kota Anda, dimanakah Anda
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
9
akan menemukan masalahnya dan mendapatkan jalan
keluarnya? Anda menujukan dan menyelesaikan masalahnya
pada tempat dimana Allah menempatkan orang-orang yang
sendiri dalam wadah keluarga. (Mazmur 68:6)
Beberapa tahun yang lalu, sebuah majalah berdedikasi
secara penuh untuk membahas tentang masalah anak-anak
dan kejahatan. Para ahli yang menulis artikel-artikel di
dalamnya menyelidiki berbagai kemungkinan yang berbeda.
Mungkinkah ini kesalahan pemerintah? Mungkinkah ini
kesalahan lembaga pendidikan? Atau apakah kebudayaan
yang menjadi masalahnya? Beberapa penulis bahkan
mempertanyakan peranan gereja, sinagoga dan mesjid.
Lembaga-lembaga ini bisa jadi tidak benar-benar melakukan
apa yang seharusnya mereka lakukan. Namun pada
akhirnya, semua ahli sosiologi, para hakim pengadilan anak
dan para pekerja sosial, yang turut memberi masukan bagi
artikel-artikel ini, sampai pada satu kesimpulan: Masalahnya
terletak pada keluarga.

Tanggung Jawab Pria
Menurut hukum Alkitab mengenai pernikahan dan
keluarga, tanggung jawab itu dimulai dari pria. Saat saya
merenungkan masalah-masalah dalam pernikahan dan
keluarga pada masa kini, saya percaya bahwa masalah
terbesarnya terletak pada para pria yang tidak mau
menerima tanggung jawab seturut apa yang Allah kehendaki
bagi seorang pria untuk menjadi kepala rumah tangganya
imam rohani bagi keluarganya. Menurut Mazmur 128, berkat
Allah di dunia ini dimulai ketika seorang laki-laki
mempercayai Allah dan berjalan di jalan-Nya. Ketika seorang
laki-laki hidup takut akan Tuhan dan berjalan di jalan-Nya,
maka Allah memiliki landasan dimana Ia dapat membangun
piramida keluarga-Nya. Allah dapat menanamkan hukum
pernikahan dan keluarga pada tempatnya karena Ia telah
menemukan seorang yang diberkati. Sekarang Allah dapat
mempersatukan laki-laki yang diberkati ini dengan seorang
wanita yang diberkati dan akhirnya mereka bisa memiliki
anak-anak yang diberkati. Sekarang Allah bisa memberikan
pengaruh kepada keluarga, gereja, kota, negara dan dunia.
Semuanya dimulai dari seorang laki-laki yang diberkati.
Kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya atas
pernikahan dan keluarga pada masa sekarang ini, telah
mengakibatkan generasi muda hidup tanpa satu pun figur
untuk diteladani. Ada banyak orang yang meminta saya
menjadi ayah mereka sebab mereka tidak memiliki seorang
ayah. Seorang laki-laki muda berperawakan besar yang telah
menikah selama beberapa tahun membuat janji dengan saya
dan berkata: Saya tidak ingin memiliki anak sampai saya
tahu bagaimana caranya menjadi seorang ayah. Bisakah
Anda menjadi ayah bagi saya untuk sementara waktu?
Dalam sesi konseling sebelum pernikahan, beberapa
pasangan berkata kepada saya, Kami ragu apakah bisa
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
10
memiliki pernikahan yang berhasil. Begitu banyak
pernikahan yang berakhir dengan perceraian, bahkan kami
belum pernah melihat satu pun pernikahan yang baik. Kedua
orang tua kami berpisah sehingga kami bahkan tidak pernah
tahu seperti apa pernikahan dan keluarga Kristiani itu.
Bagaimana kami bisa yakin bahwa kami dapat memiliki
sebuah pernikahan dan keluarga yang bahagia?
Jadi, bagaimana cara Anda membangun dan memelihara
sebuah rumah tangga yang bahagia? Salomo, orang paling
bijaksana yang pernah hidup, memakai salah satu kata
kesukaannya saat ia menulis Mazmur 127, Jikalau bukan
TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang
yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal
kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu
bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan
makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia
memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.
Kedua ayat ini merupakan sebuah otobiografi singkat
atau kata-kata hikmat dari kehidupan Salomo. Mazmur
singkat ini merupakan versi rangkuman dari khotbahnya
yang luar biasa, yaitu Pengkhotbah. Kata kesukaannya
dalam kedua rangkuman kisah tentang Allahnya ini adalah
kata kesia-siaan.
Salomo adalah contoh klasik seorang pekerja keras,
namun demikian ia mengatakan bahwa sangatlah mungkin
untuk bekerja dalam kesia-siaan. Pastilah Salomo
mengkhawatirkan banyak hal, namun disini ia memberitahu
kita bahwa menjadi kesia-siaan bagi kita untuk bangun pagi-
pagi, terjaga sampai larut malam dan makan roti yang
diperoleh dengan susah payah. Salomo pun mengatakan
bahwa sangatlah mungkin untuk membangun dalam kesia-
siaan. Salomo adalah seorang pembangun yang hebat. Ia
bukan hanya membangun sebuah Bait Allah; ia pun
membangun banyak kota dan taman serta istal kuda. Pada
suatu kali ia membangun sebuah dermaga kapal hanya
untuk pergi keluar dan menyampaikan salam pada seorang
ratu. Ia membangun tanpa ada habisnya.
Kita bisa saja kuatir dalam kesia-siaan karena kita
menguatirkan hal-hal yang salah. Kita bisa saja bekerja
dalam kesia-siaan sebab kita bekerja untuk hal-hal yang
salah. Kita bisa saja membangun dalam kesia-siaan sebab
kita membangun hal-hal yang salah.
Lalu Salomo mengubah topiknya kepada topik tentang
anak-anak. Apa hubungan perkataan Salomo sebelumnya
dengan anak-anak? Semuanya! Salomo menyadari bahwa ia
telah membangun segalanya kecuali kehidupan anak-
anaknya. Raja yang bijaksana ini berkata, Sesungguhnya,
anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan
buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak
panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada
masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat
penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
11
mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh
di pintu gerbang. (Mazmur 127:3-5)
Mazmur ini merupakan suatu aplikasi negatif yang luar
biasa akan hukum pernikahan dan keluarga. Salomo
mengatakan, Jangan lakukan apa yang telah kulakukan,
sebab aku telah bekerja dalam kesia-siaan dan telah
membangun dalam kesia-siaan serta kuatir dalam kesia-
siaan. Apa yang sesungguhnya perlu kau kuatirkan tentang
dirimu adalah anak-anakmu. Ia menyimpulkan Mazmur ini
dengan suatu kiasan mendalam, dimana ia mengatakan
bahwa bagi anak-anak, orang tua adalah ibarat busur bagi
anak panah. Seberapa besar intensitas dan ke mana arah
yang diambil anak-anak dalam kehidupannya masing-masing
tergantung pada seberapa besar intensitas dan kemana
busur itu melesatkan mereka.
Anak-anak kita adalah anak panah dan kita sebagai
orang tua adalah busur yang melesakkan anak-anak kita ke
dalam dunia. Saat kita menyadari akan tantangan yang
disodorkan kepada kita selaku orang tua, maka kita harus
kembali kepada dua ayat pembuka Mazmur 127 dan selalu
mengingat pernyataan bahwa kita tidak dapat membangun
sebuah keluarga kecuali Tuhan sendiri yang membangunnya.
Kiasan indah lainnya mengilustrasikan kebenaran bahwa
kita tidak dapat membangun sebuah pernikahan dan
keluarga, tetapi Allah sanggup. Menurut Salomo, Allah
memberikannya kepada yang Ia kasihi pada saat ia tidur.
Selama kita terjaga dan berusaha untuk menolong Allah
mengembalikan kekuatan pada tubuh kita, maka Allah tidak
dapat memulihkan kita secara fisik. Namun, ketika kita
menjadi pasif dan tertidur, maka Allah menjadi aktif dan
akan memulihkan tubuh kita yang lelah, begitu pula dengan
pikiran, emosi dan jiwa kita.

Pernikahan yang Berkualitas
Sebagaimana diilustrasikan oleh piramida, orang tua
yang berkualitas merupakan hasil dari pribadi-pribadi yang
kudus, yang telah memasuki suatu hubungan dengan
pasangannya sebagaimana yang Allah kehendaki. Agar
pernikahan bisa tetap kuat bertahan, dan agar orang tua
dapat membesarkan anak-anaknya secara efektif, maka
Allah harus menjadi sentral dalam hubungan pernikahan.
Kita tidak akan pernah bisa berperan sebagai pasangan dan
orang tua yang baik kecuali Allah menolong kita.
Hal ini jelas terlihat dalam Matius 19, ketika Yesus
ditanya tentang pernikahan dan perceraian. Ia mengakui
bahwa Musa memperbolehkan perceraian, namun hal itu
diperuntukkan sebagai perlindungan bagi para wanita yang
dibuang suaminya ke jalan. Pada masa itu, wanita tidak
memiliki hak. Mereka tidak mempunyai penyelesaian. Karena
rasa kasihannya kepada para wanita itu, Musa memberikan
suatu ketetapan tentang perceraian kepada bangsa Israel,
namun menurut Yesus, hal itu tidak pernah menjadi maksud
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
12
Allah. Sedari semula Allah tidak menghendaki adanya
perceraian.
Lalu kemudian, salah satu rasul (dan saya bayangkan itu
adalah Petrus) berkata, Jika demikian halnya hubungan
antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin (Matius
19:10).
Yesus menjawab, Tidak semua orang dapat mengerti
perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja (ayat 11).
Maksudnya adalah hanya mereka saja yang kepadanya Roh
Kudus menolong dan mengaruniakan pengertian, yang dapat
memahami dan menerapkan pengajaran ini. Yesus berkata,
tanpa pertolongan Allah, maka mustahil bagi seseorang
untuk bisa menjadi pasangan menikah yang memadai.
Salomo dan Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa tanpa
Allah, mustahil bagi kita untuk membangun rumah tangga
kita. Tanpa Dia, kita hanya akan bersusah payah dalam
kesia-siaan. Kita tidak dapat menjadi orang tua yang
memadai tanpa pertolongan Allah, dan kita tidak dapat
menjadi pasangan yang memadai tanpa pertolongan Allah.
Keseluruhan Alkitab mengajarkan bahwa kita tidak dapat
menjadi pribadi yang memadai tanpa pertolongan Allah
Menurut Yesus, apa yang dilahirkan dari daging, adalah
daging (Yohanes 3:6). Kedagingan merupakan sifat dasar
manusia yang tidak ditolong Allah. Yesus pun mengatakan
bahwa tanpa Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes
15:5).
Jika Anda ingin memiliki pernikahan yang berkenan
kepada Allah, yang dipersatukan oleh Allah, yang Allah
pelihara, yang akan memenuhi maksud Allah untuk
pernikahan dan keluarga, maka naikkan doa ini:
Ya Bapa di Sorga yang penuh kasih, berkatilah rumah
tangga ini. Berkatilah rumah kami dengan terang
kehadiran-Mu, kuatkan kami dengan kasih-Mu,
berkatilah setiap hubungan yang menjadikan rumah ini
sebagai rumah tangga.

Pulihkan kami sebagai individu, agar kami dapat
memiliki pernikahan yang utuh dan menjadi orang tua
yang bijaksana dan penuh kasih. Tunjukkanlah
bagaimana caranya kami memperoleh kasih karunia-Mu
sepanjang hari, setiap hari. Kami berdoa agar segala
yang kami lakukan dalam rumah tangga ini kami
lakukan dalam Kristus, oleh Kristus, dan demi Kristus.

Semoga kehidupan dan kuasa Kristus yang telah bangkit
dari antara orang mati, memampukan kami dan
mengendalikan kami sehingga kami menjadi duta Kristus
ketika kami keluar rumah, ketika masuk, dan terutama
ketika kami hidup bersama di dalam rumah ini.

Sebagaimana kehidupan, kasih, dan terang Kristus
dicerminkan di sini hari demi hari, jadikanlah rumah
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
13
tangga ini sebagai mercusuar yang akan mengarahkan
semua yang hidup di dalam rumah ini kepada Dia yang
mempersatukan rumah tangga ini melalui Roh-Nya dan
yang memelihara rumah tangga ini dengan kasih
karunia-Nya. Dalam nama Yesus, Bapa, berkatilah
rumah tangga ini, Amin.



BAB 2
Pernikahan yang Berkenan kepada Allah

Ada sebuah perikop dalam kitab Injil dimana kita dapat
menemukan secara jelas akan pengajaran Yesus mengenai
pernikahan dan perceraian. Saya telah menyinggung perikop
ini sebelumnya namun saya harus kembali lagi karena
perikop ini menunjukkan perkataan Musa yang dikutip oleh
Yesus serta memberikan kepada kita jawaban-jawaban
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terhadap pertanyaan,
Pernikahan seperti apa yang berkenan kepada Allah?
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk
mencobai Dia. Mereka bertanya: Apakah diperbolehkan
orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja? Jawab
Yesus: Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan
manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan
perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan
meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan
isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena
itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia.
Kata mereka kepada-Nya: Jika demikian, apakah
sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat
cerai jika orang menceraikan isterinya? Kata Yesus kepada
mereka: Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu
menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan
isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan
perempuan lain, ia berbuat zinah.
Murid-murid Yesus itu berkata kepada-Nya: Jika
demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih
baik jangan kawin. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka:
Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya
mereka yang dikaruniai saja. (Matius 19: 3-11)

Pernikahan Merupakan Ikatan yang Ditetapkan Allah
Dimensi pertama dari ketujuh dimensi hubungan ini,
sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam bab 1, adalah
bahwa ada ketetapan Allah atas hubungan antara seorang
laki-laki dan seorang perempuan. Dalam pasal penciptaan
Alkitab, kita melihat bahwa Sang Pencipta mempersatukan
seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam suatu
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
14
kesatuan. Yesus menjelaskan tentang pernikahan yang
berkenan kepada Allah saat Ia menyatakan, Karena itu, apa
yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia. Suatu pernikahan akan berkenan kepada Allah
saat kita dapat mengatakan bahwa Tuhanlah yang
mempersatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Tuntunan Allah haruslah menjadi dasar keputusan kita untuk
menikah.
Hubungan merupakan rancangan Allah sebab Allah
mengadakannya ketika Ia memberikan kepada kita
rancangan mengenai hubungan tersebut di dalam Firman-
Nya. Allah mempersatukan pasangan ini ketika Ia
menjadikan mereka sebagai satu daging, dan Yesus
mengatakan bahwa hanya Allah saja yang dapat
mempertahankan kebersamaan laki-laki dan perempuan ini.
Karena tiap-tiap pribadi membawa masalahnya masing-
masing ke dalam hubungan pernikahan, maka tantangannya
adalah agar kita melihat diri kita sendiri dalam pernikahan
kita; apa saja peranan, fungsi dan tanggung jawab yang
harus kita pikul. Kita harus mengetahui kontribusi apa yang
seharusnya kita berikan dalam pernikahan kita dan
merenungkan apakah kita telah memberikan kontribusi
tersebut atau belum. Sebaliknya, kita harus siap menerima
tanggung jawab dari masalah yang kita bawa ke dalam
pernikahan kita.

Pernikahan Merupakan Ikatan yang Permanen
Dari pengajaran Yesus dalam Matius 19, kita mengetahui
bahwa pernikahan haruslah menjadi suatu ikatan yang
permanen. Mengapa pernikahan harus menjadi ikatan yang
permanen? Jawabannya : Demi Kepentingan Anak-Anak.
Ingatkah Anda akan ilustrasi mengenai pernikahan yang
diberikan Salomo dalam Mazmur 127? Bagi anak-anak,
orang tua adalah ibarat busur bagi anak panah. Seberapa
besar intensitas dan ke mana arah yang diambil anak-anak
dalam kehidupannya masing-masing tergantung pada busur
yang melesatkan mereka. Seandainya Anda adalah Iblis dan
Anda ingin menghancurkan sebuah keluarga, apa yang akan
Anda lakukan? Tidakkah Anda akan memutuskan tali
busurnya? Tidakkah Anda akan merusak busurnya? Itulah
persisnya yang dilakukan oleh Iblis. Ia sibuk berusaha
menghancurkan banyak keluarga, dengan cara memotong
tali busurnya.
Hukum kehidupan yang ditetapkan Allah bagi pernikahan
dan keluarga merupakan salah satu hukum Allah yang tertua
dan yang terbaik dalam Alkitab, sebab hukum ini
menciptakan suatu rumah tangga yang secara otomatis
memberikan pembinaan selama kira-kira dua puluh tahun
bagi anak-anak sebelum mereka keluar dari rumah, terjun
ke masyarakat dan menghadapi kehidupan. Mereka
memerlukan pembinaan dan rasa aman itu. Jika Anda
memotong tali busurnya, jika suatu pernikahan berakhir,
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
15
maka Anda merampas pembinaan dan rasa aman anak-anak
Anda serta arah yang Allah maksudkan saat Ia menuliskan
hukum pernikahan dan keluarga dalam dua pasal pertama
Alkitab. Inilah salah satu masalah terbesar yang dimiliki
anak-anak saat ini. Seorang penasihat berusia 78 tahun
yang telah seumur hidup memberikan konseling bagi anak
remaja, mengatakan, Untuk pertama kalinya sepanjang
pengalaman konseling saya, pertanyaan terbesar yang
pernah ditanyakan anak-anak kepada saya adalah,
bagaimana caranya agar orang tua saya tidak bercerai?
Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa suatu
pernikahan adalah ikatan yang permanen. Anak-anak Anda
merasa tenteram selama pernikahan Anda aman, dan
mereka mengetahuinya secara naluriah. Jika Anda ingin
melihat pandangan penuh rasa takut pada anak Anda,
pandanglah wajah mereka saat Anda sedang bertengkar
hebat dengan pasangan Anda. Ketika mereka melihat ayah
dan ibu mereka bertengkar, mereka merasa tidak aman.
Sebaliknya, jika Anda ingin melihat kebahagiaan pada wajah
mereka, maka tunjukkanlah kasih sayang Anda; kecuplah
pasangan Anda di hadapan anak-anak Anda. Mungkin
mereka akan menggoda, namun jangan terkecoh. Mereka
senang melihat Anda berkecupan! Saat mereka melihat
kelembutan dan kasih sayang di antara Anda berdua, maka
mereka akan menganggap bahwa pernikahan Anda baik-baik
saja, dan hal itu memberi mereka rasa aman.
Terkadang, ada orang yang sudah dua atau tiga kali
menikah sebelum mereka beriman kepada Kristus. Ketika
mereka menjadi orang percaya, mereka sudah ada dalam
pernikahan lainnya dan memiliki anak-anak dari pernikahan
sebelumnya. Bagaimana caranya pengajaran Yesus tentang
pernikahan dan perceraian dapat diterapkan pada mereka?
Yesus selalu mengukuhkan hukum Allah melalui prisma
kasih Allah sebelum menerapkannya terhadap kehidupan
manusia. Perbedaan antara Yesus dengan para pemimpin
agama di zaman-Nya adalah bahwa Yesus tidak pernah
melupakan fakta bahwa segala hukum Allah ada karena
kasih Allah kepada manusia. Tujuan hukum Allah dalam
Alkitab adalah untuk mengekspresikan kasih Allah kepada
manusia. Allah menghendaki yang sebaik mungkin bagi kita.
Itulah sebabnya Allah memberikan Firman-Nya yang kudus
kepada kita. Allah tidak berusaha membuat kita tidak
bahagia dengan segala aturan-Nya. Allah menghendaki kita
bahagia dan setiap hukum Allah dalam Alkitab selalu ada
maksudnya, yang pada akhirnya adalah kesejahteraan
manusia itu sendiri karena Allah mengasihi manusia.
Orang Farisi dan para pemuka agama telah lupa akan
jiwa dari hukum Allah tersebut. Mereka senang jika
mendapati orang melakukan kesalahan dan melanggar
meskipun hanya satu bagian dari hukum Taurat. Namun,
Yesus tidak pernah lupa akan maksud Bapa-Nya saat Ia
memberikan hukum itu melalui Musa. Secara konsisten,
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
16
Yesus berfokus pada permasalahan, Mengapa Allah
memberikan hukum tersebut? Dalam hal apa hukum ini
mengekspresikan kasih Allah bagi manusia dan
kesejahteraannya?
Contohnya: maksud dari hukum pernikahan dan
keluarga adalah supaya kita memiliki rumah tangga yang
bahagia dan berpusat kepada Kristus. Kita membaca dalam
kisah penciptaan bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri
saja dan hal itu memotivasi Allah untuk menempatkan
orang-orang yang sendiri dalam wadah keluarga (Mazmur
68:6). Ia tidak menghendaki kita sendiri. (Untuk keterangan
lebih lanjut tentang subyek ini, bacalah bab 6 pada buklet
ini.)

Pernikahan merupakan Ikatan yang Eksklusif
Pernikahan itu bukan hanya ditetapkan oleh Allah dan
bersifat permanen, namun menurut Yesus dan Musa,
pernikahan itu haruslah menjadi ikatan atau hubungan yang
eksklusif. Kesatuan antara seorang laki-laki dan perempuan
bersifat eksklusif, setidaknya dalam dua hal. Musa menulis:
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan
ibunya... Yesus sependapat dengan Musa saat Ia
memberikan pernyataan-Nya tentang pernikahan dan
perceraian (Matius 19:5). Pernikahan tidak melibatkan orang
tua dari pasangan yang menikah. Hal ini tidak berarti bahwa
Anda tidak dapat lagi memiliki hubungan yang baik dengan
orang tua Anda setelah Anda menikah. Maksudnya adalah
bahwa Anda tidak akan tinggal di dalam rumah mereka lagi.
Dan jika Anda seorang wanita, maka ayah Anda tidak lagi
menjadi imam rohani Anda melainkan suami Anda.
Pernikahan pun bersifat eksklusif dalam hal keintiman.
Yesus mengajarkan bahwa pernikahan adalah ibarat sebuah
kontrak antara seorang pria dengan seorang wanita.
Persyaratan yang menjadi dasar dari kontrak ini adalah
eksklusifitas. Ketika eksklusifitas ini dilanggar, kontrak
pernikahannya dapat dianggap batal. Memang tidak harus
demikian, tetapi bisa jadi begitu. Allah tidak merancangkan
pernikahan dimana seseorang harus hidup bersama dengan
pasangannya yang tidak menginginkan ikatan yang eksklusif.
Allah tidak meminta Anda untuk melakukan hal tersebut. Jika
pasangan Anda tidak ingin hidup bersama Anda dalam ikatan
yang eksklusif, maka menurut Yesus, Anda dapat
menyatakan bahwa kontaknya batal sebab pernikahan
merupakan suatu ikatan yang eksklusif.
Suatu ketika seorang pria datang kepada saya. Ia
bekerja di sebuah hotel dekat laut, tidak jauh dari tempat di
mana saya menjadi pendeta. Ia berjumpa dengan seorang
wanita yang sedang berlibur pada saat itu, dan ia sangat
mencintai wanita itu. Mereka sempat melakukan hubungan
fisik sepanjang liburan itu. Ketika liburan berakhir, wanita itu
kembali kuliah, namun berjanji akan mengunjungi pria ini.
Akan tetapi ternyata, pada suatu akhir pekan, wanita ini
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
17
tidak datang berkunjung. Wanita ini hanya meneleponnya
dan berkata bahwa ia tidak akan datang berkunjung lagi.
Pria ini duduk di kantor saya dan menangis. Hatinya
remuk. Akhirnya, ia berkata kepada saya, Anda tahu,
seharusnya ada perlindungan bagi hubungan yang seperti
ini, dimana melibatkan perasaan yang begitu dalam dan
sangat intim. Ia tidak ingin menyerahkan semua
perasaannya pada suatu hubungan yang tidak pasti, yang
dapat putus hanya dengan selembar memo yang diselipkan
di bawah pintu atau sambungan telepon, atau bahkan tanpa
kabar berita lagi. Ia begitu siap mendengar bahwa ikatan
pernikahan yang dirancangkan Musa dan Yesus memberikan
jaminan yang sangat pasti, seperti yang telah ia gambarkan.
Allah tidak menghendaki Anda merasa tidak tenteram
dalan suatu ikatan seintim pernikahan. Itulah sebabnya
Yesus dan Musa menjadikan eksklusifitas sebagai
persyaratan kontrak sebuah pernikahan.



BAB 3
Tujuh Mata Rantai Kesatuan

Ada seorang Afrika yang percaya dan saleh, memahat
sebuah simbol indah yang menggambarkan hubungan atau
ikatan yang Allah maksudkan ketika Ia menciptakan
pasangan yang pertama dan menyatakan mereka sebagai
satu daging. Ketika orang Kristen yang berbakat ini
membuat patung pahatannya, ia mengilustrasikan tujuh cara
agar seorang suami dan isteri menjadi satu daging.
Pahatannya yang indah ini adalah sebuah pahatan
tentang seorang laki-laki dan seorang perempuan yang
diukir dari satu batang kayu. Keduanya dipersatukan oleh
sebuah rantai yang terdiri dari lima mata rantai rangkap.
Rantai yang mempersatukan keduanya ini disambungkan ke
sebuah mata rantai yang terdapat di atas kepala mereka
masing-masing. Setiap mata rantai ini mewakili sebuah
dimensi kesatuan yang Allah maksudkan untuk dimiliki
seorang suami dan isteri. Mata rantai yang terdapat di atas
kepala mereka menggambarkan hubungan spiritual/rohani
mereka masing-masing dengan Allah. Fakta bahwa semua
mata rantai disambungkan kepada dua mata rantai ini
menggambarkan fakta bahwa hubungan spiritual mereka
merupakan pondasi kesatuan mereka.
Mata rantai rangkap yang pertama mewakili komunikasi,
yang merupakan alat yang memungkinkan mereka untuk
mengembangkan dan menjaga kesatuan mereka. Mata
rantai berikutnya adalah kecocokan, yang menjadi bukti dari
kesatuan mereka. Yang di tengah dari kelima mata rantai ini
mewakili kasih, yang merupakan dinamika kesatuan mereka.
Mata rantai kasih ini diikuti oleh mata rantai pengertian,
yang menggambarkan pertumbuhan kesatuan mereka. Mata
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
18
rantai rangkap terakhir yang menjadikan mereka satu daging
adalah seks, yang merupakan ekspresi sukacita kesatuan
mereka. Fakta bahwa setiap mata rantai ini berupa mata
rantai ganda atau rangkap, menunjukkan realita bahwa
setiap dimensi kesatuan ini bersifat timbal balik, atau ada
tindakan memberi dan menerima diantara mereka. Jika Anda
menambahkan kelima mata rantai ini dengan mata rantai
yang dimiliki setiap patung di atas kepala mereka, maka
Anda mempunyai tujuh mata rantai kesatuan.
Siaran kami tentang pernikahan dan keluarga
didasarkan pada ketujuh dimensi pernikahan yang
digambarkan oleh ketujuh mata rantai yang membuat laki-
laki dan isterinya ini menjadi satu tubuh. Dalam dua edisi
buklet, saya akan memberikan kepada Anda ringkasan dari
apa yang sudah Anda dengar dari siaran program kami
mengenai hukum pernikahan dan keluarga.

Mata Rantai Spiritual
Para sarjana Alkitab meyakini bahwa Raja Salomo
sedang memberikan kita sebuah pengamatan mengenai
pernikahan saat ia mengatakan bahwa tali tiga lembar tak
mudah diputuskan (Pengkhotbah 4:12). Tali atau kabel tiga
helai sangat sulit diputuskan sebab ketiga helai itu saling
kait-mengait sehingga menjadi kuat sekali.
Saat Allah merancangkan kesatuan antara seorang pria
dan seorang wanita sebagai kesatuan yang ditetapkan Allah,
permanen dan eksklusif, yang Ia maksudkan adalah bahwa
mereka menjadi satu di antara mereka sendiri dan menjadi
satu dengan Pencipta mereka. Seperti itulah Allah
merancangkan pernikahan. Jika Anda mengunjungi batu-
batu nisan anak-anak Yahudi pada masa kini, Anda akan
menemukan sebuah kiasan indah tertulis diatasnya:
Terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup
pada TUHAN, Allahmu (I Samuel 25:29). Saat ini, kalimat
itu rasanya cocok ditujukan bagi setiap pernikahan yang
berkenan di hadapan Tuhan. Tali tiga lembar dalam kiasan
indah Salomo ini dapat menggambarkan pernikahan dua
orang percaya sebagai: suami, isteri dan Kristus.
Dalam perikop mengenai pernikahan yang ditulis oleh
Rasul Paulus, ia menganjurkan agar pasangan orang percaya
berpisah sementara waktu sehingga mereka memiliki
kesempatan untuk berdoa dan berpuasa. Yang
sesungguhnya Paulus bicarakan adalah mengenai hubungan
seksual pasangan menikah. Pertimbangannya jelas
menyatakan bahwa hubungan seksual dan kesatuan
pasangan menikah diperkuat oleh kesatuan spiritual mereka
dengan Pencipta mereka (I Korintus 7:3-5).
Kelak, saya akan membicarakan tentang kesatuan
secara fisik. Namun sekarang, saya hendak memberikan
beberapa pandangan tentang apa yang Paulus maksudkan
dalam perikop ini mengenai hubungan terintim dalam hidup
ini. Hubungan terintim dan paling pribadi dalam hidup Anda
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
19
bukanlah hubungan Anda dengan pasangan Anda, melainkan
hubungan Anda dengan Allah. Paulus mengajarkan bahwa
hubungan kita dengan Allah itu sifatnya intim, individual dan
pribadi.
Jika suatu pernikahan diperkuat dengan cara
memisahkan diri kita serta secara individual mendekat
kepada Allah, hal ini berarti bahwa kita masih terhubung
dengan Allah secara individual meskipun kita telah menjadi
pasangan menikah. Coba renungkan hal ini. Ketika kita
berdiri di hadapan Allah pada hari penghakiman, kita
bertanggung jawab kepada Allah atas diri kita sendiri, bukan
atas diri pasangan kita. Kita akan berdiri di hadapan Kursi
Penghakiman sebagai individu, bukan sebagai suami isteri.
Kuat atau lemahnya pernikahan dua orang percaya
tergantung pada kesatuan individual sang suami dan sang
isteri dengan Allahnya. Jika sang suami memiliki iman dan
hubungan yang kuat dengan Kristus, begitu pula dengan
isterinya, maka ketika mereka sedang bersama mereka
memiliki satu kesamaan, yaitu mereka memiliki dimensi
spiritual dalam pernikahan mereka yang akan sangat
memperkuat hubungan mereka satu dengan yang lain.
Jika seorang suami dan isteri memiliki saat teduh pribadi
untuk berdoa, membaca dan merenungkan Alkitab, maka hal
ini akan menolong mereka melewati masa-masa yang sulit.
Dari waktu ke waktu, bisa saja mereka menjadi kecewa
terhadap satu sama lain yang disebabkan oleh apa yang
telah mereka katakan atau lakukan. Akan tetapi, pada saat
mereka selesai bersaat teduh dengan Allah, maka mereka
berdamai dengan Allah dan dengan pasangan mereka. Saat
mereka berdua semakin dekat dengan Tuhan dari hari ke
hari, mereka akan mengalami suatu kedekatan yang
semakin bertumbuh dengan Allah dan dengan pasangannya.
Jika Anda merasa tidak dekat dengan pasangan Anda
sebagaimana yang Anda inginkan, maka mendekatlah
kepada Allah secara individual. Demikianlah maksud mata
rantai spiritual kesatuan dirancang untuk memperkuat suatu
pernikahan. Oleh karena masing-masing suami maupun
isteri memiliki mata rantai spiritualnya dengan Allah, maka
bisa saya katakan bahwa mata rantai spiritual ini merupakan
pondasi pernikahan yang telah Allah rancangkan dalam
Alkitab bagi kita.



BAB 4
Mata Rantai Komunikasi

Saat pasangan menikah menemui pendeta mereka atau
seorang penasehat pernikahan, biasanya salah satu masalah
pertama yang mereka fokuskan adalah masalah mereka
dalam berkomunikasi. Seringkali mereka memulai sebuah
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
20
sesi konseling dengan mengatakan, Diantara kami tidak ada
komunikasi. Kami tidak berkomunikasi.
Komunikasi adalah sebuah dimensi pernikahan yang
secara dinamis dapat menolong dua pribadi menjadi satu
daging sebab komunikasi merupakan alat yang
memungkinkan mereka untuk mengupayakan kesatuan
mereka. Sebagai orang percaya yang telah lahir baru, kita
memiliki kesatuan bersama Kristus. Kesatuan bersama sang
Juruselamat tidak dapat berjalan dengan sendirinya.
Kesatuan itu harus dijaga dan diperkuat. Itulah sebabnya
Anda harus meluangkan waktu setiap harinya bersama
Tuhan dalam doa dan pembacaan Alkitab. Dengan kata lain,
kita harus menjaga dan memperkuat hubungan kita dengan
Kristus melalui berkomunikasi dengan-Nya dalam doa serta
mendengar suara-Nya saat kita membuka Alkitab kita.
Hal yang sama juga berlaku dalam pernikahan. Kita
harus menjaga dan memperkuat hubungan kita. Komunikasi
merupakan alat yang dapat digunakan pasangan menikah
untuk memperkuat dan mempertahankan kesatuan mereka.
Bakteri berkembang biak dalam gelap, dan tidak bertahan
hidup dalam terang. Jika pasangan menikah tidak
berkomunikasi, maka bakteri akan berkembang biak di
antara mereka. Itulah mengapa Paulus menasehatkan untuk
menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan
(II Korintus 4:2). Atau dalam terjemahan Alkitab King James
Version tertulis meninggalkan segala ketidakjujuran yang
tersembunyi. Jika kita berlaku tidak jujur dan
menyembunyikan banyak perkara dari pasangan kita, maka
kita sedang memunculkan bakteri dalam kegelapan.
Komunikasi itu seumpama menyalakan lampu pada
hubungan kita. Saat kita berkomunikasi, maka sebagian
besar bakteri kita akan mati. Dengan komunikasi yang
baik, maka kita dapat menujukan apa yang tidak mati,
sebagai cahaya komunikasi kita untuk menjadi alat yang
memperkuat dan menjaga kesatuan kita.
Definisi kata komunikasi menurut kamus adalah
memberi dan menerima informasi, pesan serta ide-ide lewat
ucapan, gerak-gerik, atau sarana komunikasi lainnya.
Definisi ini menjelaskan beberapa hal berkenaan dengan
komunikasi. Pertama, tidak ada yang namanya tidak
berkomunikasi. Saat orang berkata, Kami tidak
berkomunikasi, hal itu tidak sepenuhnya benar. Kita
senantiasa berkomunikasi; pertanyaannya adalah dengan
cara apa dan bagaimana kita berkomunikasi? Dengan
berkata-kata? Dengan gerakan tubuh? Atau dengan cara
lainnya?
Definisi komunikasi ini juga menjelaskan bahwa ada dua
hal dalam komunikasi: memberi dan menerima. Seorang
wanita pernah berkata pada saya: Suami saya itu seolah-
olah tinggal di suatu pulau misterius dan saya telah
mengitari pulau tersebut selama 20 tahun dan tidak dapat
menemukan tempat untuk melabuhkan perahu saya.
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
21
Bayangkanlah Anda dan pasangan Anda berada di pulau
yang terpisah dan Anda hanya dapat berkomunikasi melalui
radio. Untuk berkomunikasi melalui radio, salah seorang dari
Anda harus menyalakan pemancarnya dan mengirim pesan,
lalu yang seorang lagi harus menyalakan alat penerimanya
dan menerima pesan tersebut. Terkadang, masalah
komunikasi dapat ditelusuri kepada fakta bahwa salah
seorang atau bahkan keduanya tidak menyalakan pemancar
mereka dan tidak mengirim pesan kepada yang lainnya. Dan
terkadang meskipun mereka telah mengirimkan pesan,
pesan mereka itu menjadi berubah arti dan membingungkan.
Kemudian, ada saatnya dimana masalah komunikasi dapat
ditelusuri kepada fakta bahwa salah seorang atau bahkan
keduanya tidak menyalakan alat penerima mereka, atau
meskipun mereka menyalakannya, alat penerima mereka
tersebut tidak disetel pada frekuensi yang benar.
Bagaimana pesan itu diterima sama pentingnya dengan
bagaimana pesan itu dikirim. Ketika seekor kura-kura keluar
dari cangkangnya dan Anda menginjaknya, maka kura-kura
itu akan menarik kepalanya ke dalam cangkang dan tidak
akan keluar untuk waktu yang lama. Manusia pun seperti itu.
Bayangkan bahwa Anda membagikan sesuatu yang sifatnya
sangat pribadi dengan pasangan Anda. Saat pesan itu tidak
diterima sebagaimana mestinya, Anda akan menarik diri
Anda masuk ke dalam cangkang dan kemungkinan Anda
tidak akan keluar untuk waktu yang lama.
Jika Anda tidak dapat berkomunikasi, berarti Anda tidak
memiliki alat untuk memperkuat dan mempertahankan
kesatuan Anda. Anda tidak bisa mengupayakan hubungan
Anda. Sangatlah mungkin untuk memperbaiki komunikasi
Anda secara dramatis sehingga Anda dapat memiliki alat
yang dapat menjaga pernikahan Anda.
Berbeda halnya dengan hubungan antara orang tua dan
anak, dimana semenjak saat kelahiran hubungan itu telah
ditakdirkan untuk terpisah kelak, maka hubungan pernikahan
justru mempersatukan dua orang. Pernikahan dirancang
seperti halnya sisi-sisi piramida yang saling menyatu.
Seorang suami dan isteri seharusnya semakin dekat dari
waktu ke waktu. Komunikasi menjadi alat yang
memungkinkan kita untuk melakukannya. Jika pasangan
menikah tidak memiliki komunikasi yang baik, berarti
mereka tidak memiliki alat yang telah Allah rancangkan
untuk memperlengkapi mereka dalam usaha memperbaiki
hubungan mereka.
Masalah komunikasi setidaknya ada dua. Yang pertama
adalah pertengkaran. Beberapa pasangan tidak dapat
berkomunikasi selama lima menit tanpa bertengkar
mengenai sesuatu hal. Masalah lainnya justru kebalikannya,
yaitu sikap mendiamkan. Keheningan tidak selalu berarti
bahwa Anda memiliki sebuah masalah komunikasi, tetapi
seringkali memang begitu. Setiap orang berbeda-beda.
Banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
22
keheningan. Bagi mereka, keheningan itu janggal. Namun,
ada juga tipe pendiam yang merasa tidak perlu berkata-
kata.
Salah seorang teman baik saya adalah orang paling
pendiam yang pernah saya kenal. Suatu kali, seorang wanita
berkata kepadanya, Anda tidak banyak bicara, ya? Teman
saya itu menjawab, Air yang dalam itu tenang, sedangkan
air yang dangkal itu bergejolak. Teman saya tidak
bermaksud kasar kepada wanita tersebut. Ia hanya
mengemukakan pendapatnya.
Jadi, kalau Anda menikah dengan salah seorang bertipe
pendiam, belum tentu Anda menghadapi masalah
komunikasi. Sesungguhnya, salah satu cara paling indah
untuk menciptakan kebersamaan adalah menjalin
hubungan/komuni, yang merupakan akar makna dari kata
komunikasi. Anda bisa merasa nyaman satu sama lain
sehingga Anda dapat menciptakan kebersamaan tanpa perlu
berbicara. Keheningan tidak selalu berarti ada masalah
komunikasi.
Bagaimanapun juga, sikap mendiamkan merupakan
bentuk komunikasi dan hal itu bisa berarti bahwa Anda
menghadapi masalah komunikasi. Kalau pasangan Anda
sengaja mendiamkan Anda, hal itu berarti bahwa Anda telah
mengecewakannya, sehingga ia memakai sikap diamnya
untuk berkomunikasi dengan Anda. Seorang wanita yang
sering didiamkan oleh suaminya mengatakan, Saya harus
benar-benar mendengarkan dengan saksama ketika ia tidak
berkata-kata, untuk mendengar apa yang sesungguhnya ia
sampaikan.
Kita berkomunikasi melalui perkataan, gerakan tubuh
dan cara lainnya. Cara lainnya itu bisa saja sikap diam,
piring yang dilempar, pintu yang dibanting serta tindakan
memukul pintu atau dinding. Pada sisi positifnya, senyuman,
rangkulan, pelukan ataupun tangisan juga merupakan
bentuk komunikasi. Anda lihat, tidak ada yang namanya
tidak berkomunikasi. Terkadang kita berkomunikasi melalui
gerakan tubuh ataupun cara lain tanpa memakai kata-kata,
namun cara-cara lain seperti itu merupakan komunikasi yang
bermakna. Francis dari Asisi pernah berkata, Dalam segala
hal, beritakanlah Kristus. Jika benar-benar dibutuhkan,
barulah gunakan perkataan. Komunikasi yang efektif, entah
itu positif maupun negatif, tidak selalu menuntut kata-kata.
Suatu ketika, ada seorang profesor komunikasi yang
masuk ke ruang kelas saya yang ketika itu sedang kacau.
Sang profesor pergi ke meja di depan kelas dan memukul
meja itu dengan telapak tangannya. Suaranya seperti suara
tembakan senjata, dan sambil memukul meja dengan
tangannya ia berteriak dengan suara keras, Saya
menginginkan kekacauan total. Para mahasiswa pun
langsung hening. Lalu sang profesor menjelaskan apa yang
baru saja didemonstrasikannya. Tujuh persen komunikasi
adalah perkataan yang diucapkan. Lima puluh lima persen
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
23
komunikasi adalah cara perkataan tersebut diucapkan. Dan
tiga puluh delapan persen komunikasi adalah bahasa tubuh
yang menyertai perkataan yang diucapkan. Sang profesor
mengatakan, Saya menginginkan kekacauan total. Bukan
perkataan tersebut yang menjadikan kelas hening melainkan
cara sang profesor mengucapkannya. Yang sesungguhnya
dimaksudkan sang profesor adalah, Saya menginginkan
ketenangan total, yang diperkuat oleh tindakannya
memukul meja dengan telapak tangannya.

Kesimpulan
Komunikasi bukan semata-mata apa yang dikatakan;
tetapi juga apa yang didengar. Komunikasi bukan semata-
mata apa yang dikatakan; tetapi juga apa yang diterima.
Komunikasi bukan semata-mata apa yang dikatakan; tetapi
juga apa yang dirasakan berdasarkan gerakan tubuh dan
cara lainnya. Komunikasi bukan semata-mata apa yang
dikatakan; komunikasi merupakan konsep total dari apa
yang disampaikan. Komunikasi bukan semata-mata apa yang
dikatakan; tetapi terkadang juga apa yang ingin didengar
oleh orang lain. Semuanya ini meninggalkan kesan total
bagi sang penerima dari apa yang telah disampaikan melalui
kata-kata, gerakan tubuh dan cara lainnya.



Masalah-Masalah Komunikasi
Sebagai seorang pendeta selama beberapa tahun, saya
pernah bertanya kepada banyak pasangan menikah,
Pernahkah kalian memiliki komunikasi yang baik? Hampir
semuanya menjawab Pernah. Lalu, saya memberi mereka
suatu tugas. Jika masalah mereka adalah bahwa mereka
tidak lagi saling bicara, maka saya meminta mereka
membuat sebuah daftar berisi semua alasan mengapa
mereka tidak lagi bicara dengan pasangan mereka. Jika
masalah mereka adalah bahwa mereka tidak dapat
berkomunikasi tanpa menjadi marah, maka saya meminta
mereka membuat suatu daftar berisi semua alasan mengapa
mereka menjadi marah saat berbicara dengan pasangan
mereka. Saya menyebut masalah-masalah ini sebagai
saklar pemutus komunikasi.
Selama bertahun-tahun, saya mengumpulkan daftar-
daftar tersebut dan mempelajarinya. Saya menemukan lebih
dari 20 masalah komunikasi umum yang muncul hampir di
setiap daftar-daftar ini. Berikut adalah beberapa contoh
masalah-masalah tersebut; perhatikan jika salah satu
diantaranya terasa tidak asing bagi Anda:
1. Tidak tertarik. Seorang isteri bercerita bahwa pada
suatu malam ia memberitahu suaminya, Bayi kita mulai
menghisap ibu jarinya hari ini. Dengan penuh semangat, ia
menceritakan tentang perkembangan bayi mereka, namun
sang suami tidak memperhatikannya. Sepertinya pikiran
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
24
sang suami masih berada di tempat kerjanya, atau sedang
membaca surat kabar. Tidak ada orang yang mau
berkomunikasi saat mereka menyadari bahwa ternyata
mereka hanya bicara pada diri sendiri saja. Lebih buruknya
lagi, tidak mendengarkan bisa diartikan sebagai sesuatu
yang lebih serius, yaitu tidak tertarik. Sikap sang suami itu
seolah-olah berkata kepada isterinya, Saya tidak tertarik
apapun tentangmu atau pun tentang anak kita. Menurut
sang isteri, sikap tidak tertarik suaminya itu mempunyai arti
bahwa ia tidak lagi mencintai isteri dan anaknya.
2. Tidak ada inisiatif. Ingatlah, komunikasi adalah
memberi dan menerima. Kalau yang seorang berpikir,
Selalu aku saja yang memberi. Ia tidak pernah memberikan
apa pun. Yang ia lakukan hanya menanggapi, jelas takkan
terjalin komunikasi. Komunikasi ibarat jembatan; sang suami
membangun setengahnya dan sang isteri membangun
setengahnya lagi. Kalau setiap kali hanya ada seorang
membangun keseluruhan jembatannya, maka mereka akan
menjadi putus asa dan tidak lagi berusaha berkomunikasi.
3. Pasangan yang suka berdebat dan bertengkar.
Salomo berkata bahwa isteri yang suka bertengkar serupa
dengan tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu
hujan (Amsal 27:15). Sebenarnya, pria dan wanita sama-
sama memiliki sifat suka bertengkar. Orang yang suka
bertengkar cenderung melawan atau menentang apapun
yang dikemukakan pasangan mereka. Jika Anda
mengemukakan ide baru, maka orang yang suka bertengkar
akan selalu menentangnya. Berkomunikasi dengan orang
yang suka bertengkar merupakan hal yang sangat sulit,
bahkan seringkali tampaknya mustahil.
4. Tidak menyadari kebutuhan pasangan Anda
untuk menyendiri. Jika pasangan Anda masih
membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri, maka hal itu tidak
ada sangkut pautnya dengan keintiman Anda berdua. Jangan
pernah merasa terancam dengan situasi yang demikian.
Ingatlah, meskipun dua orang telah menjadi satu dalam
suatu pernikahan, namun ada hal-hal praktis dimana kita
masih tetap dua orang yang terpisah.
5. Terkadang dalam suatu pernikahan, masalah
komunikasi disebabkan oleh masalah fisik, emosional
dan rohani, baik dari satu pribadi maupun keduanya.
Jika itu yang terjadi, tidak ada satu pun ilmu komunikasi
yang akan menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Solusi
atas masalah-masalah tersebut seringkali harus diselesaikan
di luar hubungan, baik secara rohani, fisik dan emosional.
6. Masalah kesehatan berdampak besar pada
komunikasi dan hubungan pasangan menikah.
Pertimbangkan selalu adanya kemungkinan bahwa masalah
fisik dapat menjadi akar penjelasan dari komunikasi yang
tidak berjalan baik. Hal ini khususnya terjadi bila orang yang
sangat sulit untuk diajak berkomunikasi, terkadang mau
diajak berkomunikasi. Masalah psikologi pun dapat
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
25
berdampak negatif pada komunikasi. Jika pasangan Anda
memiliki masalah emosional atau masalah kesehatan yang
serius, maka ia harus mencari pertolongan.

Solusi Alkitabiah
Terkadang, pokok masalahnya semata-mata adalah
karena mementingkan diri sendiri. Pasangan menikah tidak
berorientasi pada kepentingan pasangannya melainkan pada
kepentingannya sendiri. Itulah sebabnya sang suami tidak
tertarik. Itulah sebabnya sang suami tidak mendengarkan.
Saat masalahnya adalah keegoisan, maka solusinya adalah
sikap tidak mementingkan diri sendiri. Matius 7:12 yang
dikenal sebagai Aturan Emas adalah solusinya. Yesus
mengajarkan kita untuk merenungkan apa yang kita ingin
orang lain lakukan kepada kita, maka perbuatlah demikian
kepada mereka. Pengajaran Yesus yang luar biasa ini
sanggup mengubah komunikasi di antara pasangan menikah.
Setiap pribadi hendaknya mementingkan kepentingan
pasangannya dan secara tulus memiliki ketertarikan
terhadap apa yang sedang dialami pasangannya.
Banyak masalah komunikasi yang dapat diatasi dengan
cara memohon hikmat kepada Allah. Salah satu ayat favorit
saya adalah Yakobus 1:5, yaitu Apabila di antara kamu ada
yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya
kepada Allah. Sudah seharusnya kita berulang kali berdoa
kepada Allah dan menyatakan, Aku tidak tahu harus
berbuat apa. Aku membutuhkan hikmat yang tidak kumiliki.
Engkau berfirman agar kami memintanya, karena itu aku
meminta hikmat dari-Mu. Anda akan terkejut melihat
bagaimana Allah begitu murah hati memberikan hikmat
kepada umat-Nya saat mereka memohon hikmat kepada-
Nya. Oleh karena itu, saat ujian komunikasi Anda membawa
Anda kepada saat dimana Anda tidak tahu harus berbuat
apa, mintalah Allah untuk memberi Anda hikmat.

Bagaimana Cara Berkomunikasi Dengan Pribadi yang
Sukar
Dalam Alkitab, terdapat bagian Firman yang
menunjukkan kepada kita bagaimana caranya mengatasi
masalah-masalah komunikasi yang sulit. Dengarkan nasehat
Paulus kepada Timotius ini: Hindarilah soal-soal yang dicari-
cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-
soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang
hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah
terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan
dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka
melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan
kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka
sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan
demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas
dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada
kehendaknya (II Timotius 2:23-26).
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
26
Jika pasangan Anda termasuk pribadi yang sukar, ia
seolah-olah sedang ditawan oleh Iblis. Mereka berada di
dalam penjara bawah tanah Iblis dan Anda tidak dapat
mengeluarkan mereka dari sana. Hanya Allah yang dapat
melepaskan mereka.
Namun ada yang dapat Anda lakukan untuk
mempertahankan buah Roh. Ada tiga buah Roh yang
disebutkan dalam bagian Firman ini: kelemahlembutan,
kesabaran dan kemurahan. Bila Anda mempertahankan buah
Roh Kudus ini, maka hal itu akan membuat pintu tetap
terbuka bagi Allah untuk berkarya melalui Anda dan
menutup pintu bagi Iblis. Cara ini akan memberi Anda
kesempatan untuk didengar dan pada akhirnya
menyampaikan pada pasangan Anda kebenaran yang akan
membebaskannya. Secara tegas, Paulus memperingatkan
hamba Tuhan (yaitu Anda) untuk tidak bertengkar ataupun
berdebat, karena hal itu akan menutup pintu bagi Allah dan
membukakan pintu bagi Iblis.
Saat Anda menerapkan dengan sungguh-sungguh
anjuran Paulus dalam hal berkomunikasi dengan pribadi
yang sukar, ingatlah selalu kemungkinan bahwa bisa saja
Anda sendirilah pribadi yang sukar itu. Dalam Matius 7:5,
Yesus mengatakan, Keluarkanlah dahulu balok dari
matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk
mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. Jika
terdapat balok ataupun kayu pada mata kita, maka hal itu
dapat membutakan kita sehingga kita tidak akan menyadari
bahwa kita sendirilah pribadi yang sukar yang digambarkan
Paulus dalam bagian Firman ini.
Solusi alkitabiah lainnya, khususnya saat pasangan Anda
memiliki masalah fisik ataupun psikologi, adalah dengan
menaikkan doa yang Yesus naikkan di atas kayu salib: Ya
Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang
mereka perbuat (Lukas 23:34). Pikirkan: Di tengah-tengah
kematian-Nya yang menyakitkan dan mengerikan, Yesus
menaikkan doa bagi musuh-musuh-Nya. Jika Yesus saja
dapat berdoa demikian bagi para musuh-Nya, tidakkah Anda
dapat mendoakan hal yang sama bagi pasangan Anda? Jika
mereka tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka
lakukan disebabkan beberapa masalah psikologi maupun
kesehatan, maka hal itu dapat mengerjakan mujizat bagi
Anda untuk menaikkan doa yang Yesus naikkan bagi
pasangan Anda.

Komunikasi Keluarga
Jika Anda dan pasangan Anda memiliki anak, maka
faktor komunikasinya jauh lebih besar daripada hanya Anda
berdua. Sangatlah penting untuk mengenal beberapa
kombinasi komunikasi dalam keluarga Anda dan
meluangkan waktu untuk masing-masing kombinasi
tersebut. Contohnya, komunikasi antara suami dan isteri
merupakan komunikasi paling penting dalam sebuah
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
27
keluarga. Kombinasi lainnya adalah antara ayah dan ibu,
dimana saya suka menggambarkannya sebagai rapat
direksi. Jangan sampai Anda mencampuradukkan prioritas
komunikasi tersebut. Luangkan waktu untuk berkomunikasi
sebagai suami-isteri, dan pisahkan waktu untuk
berkomunikasi selaku orang tua.
Selain itu, sisanya adalah kombinasi-kombinasi
komunikasi antara orang tua dan anak. Sesekali, Anda harus
memprioritaskan waktu dan tempat untuk berkomunikasi
secara pribadi dengan masing-masing anak Anda, dan pada
waktu yang berbeda, luangkan waktu dan tempat untuk
berkomunikasi secara bersama sebagai suatu keluarga. Dan
jangan lupakan kebutuhan di antara kakak beradik untuk
berkomunikasi tanpa kehadiran orang tua mereka. Dalam
keluarga kami, saat saya bersama isteri mendengarkan
anak-anak kami saling berbincang-bincang satu sama lain,
kami menyebutnya suara kakak beradik, dan hal itu
menjadi musik tersendiri bagi telinga kami.

Siklus Kehidupan
Bayangkan sebuah kue yang dipotong tiga bagian. Lalu
bayangkan bahwa setiap bagiannya menggambarkan
sepertiga kehidupan Anda sebagai pasangan menikah yang
dikaruniai beberapa anak. Dalam siklus kehidupan yang
normal, kita menghabiskan sepertiga hidup kita dibesarkan
oleh orang tua kita, lalu sepertiga hidup kita berikutnya ialah
membesarkan anak-anak kita bersama dengan pasangan
kita, dan sepertiga yang terakhir berada di dalam sarang
yang kosong, yaitu saat anak-anak tidak lagi tinggal
bersama kita. Ini berarti bahwa kita menghabiskan dua per
tiga hidup ini bersama pasangan kita. Hubungan komunikasi
yang harus kita prioritaskan adalah komunikasi dengan
pasangan kita, karena hal ini akan terus berlanjut jauh
setelah anak-anak menjadi dewasa dan keluar dari rumah.
Alasan lain mengapa komunikasi ini harus menjadi prioritas
kita ialah karena semua bentuk komunikasi lainnya akan
rusak bila komunikasi antara suami dan isteri tidak berjalan
dengan baik.
Banyak orang tua membuat kesalahan dengan
menempatkan anak sebagai prioritas utama. Jika orang tua
mengabaikan hubungan antara mereka berdua, maka ketika
anak-anak tidak lagi tinggal bersama mereka, mereka akan
menyadari bahwa mereka tidak memiliki ikatan apapun.
Sungguh tragis bila pernikahan menjadi retak pada saat
yang demikian dikarenakan para ayah dan ibu lupa bahwa
mereka pun adalah suami dan isteri. Komunikasi menjadi
alat bagi Anda dimana Anda dapat memperkuat hubungan
terpenting dalam rumah tangga Anda.




Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
28
BAB 5
Mata Rantai Kecocokan

Kecocokan merupakan bukti kesatuan yang Allah
rancangkan bagi suami dan isteri. Konsep akan kecocokan
membuat orang berpikir ke arah kecocokan secara fisik atau
tergila-gila satu sama lain. Kecocokan fisik memang penting,
namun kecocokan bukan hanya berarti saling klop, hal itu
juga menyangkut masalah lainnya seperti, nilai-nilai hidup
kita. Apakah nilai-nilai hidup Anda berdua cocok? Dalam hal
inilah banyak pernikahan mengalami masalah. Terkadang,
banyak orang muda memutuskan untuk menikah tanpa
membicarakan akan kecocokan spiritual mereka. Dan setelah
mereka menikah, seringkali mereka mendapatkan bahwa
mereka tidak menemukan kecocokan dalam nilai-nilai hidup
mereka.
Contohnya, ketika seorang isteri yang berusia muda
hamil, suaminya memintanya untuk melakukan aborsi. Sang
isteri berkata, Saya tidak akan melakukannya. Aborsi
bertentangan dengan iman saya. Lalu tanggapan sang
suami, Apa hubungannya imanmu dengan masalah kita?
Kita tidak akan sanggup membiayai seorang bayi. Pokoknya
gugurkan anak itu! Akhirnya sang isteri diceraikan. Nilai
hidup lain yang seringkali membawa kepada perceraian pada
masa kini adalah dalam hal definisi peran suami dan isteri.
Sangat penting bagi pasangan suami isteri untuk sepakat
akan peran dan tanggung jawab apa yang akan ditanggung
dan apa yang diharapkan dari masing-masing pasangannya,
sebelum mereka berkomitmen untuk menikah.
Anda harus memiliki kesamaan nilai-nilai hidup dengan
orang yang Anda nikahi. Bila Anda berdua ada di dalam
Kristus, dan nilai-nilai hidup Anda didasarkan pada Firman
Tuhan, tebak apa yang akan Anda alami dari kecocokan
tersebut! Kecocokan spiritual Anda akan menjadi pondasi
bagi Anda menentukan peran dan tanggung jawab yang
harus Anda berdua penuhi dalam hubungan Anda. Pondasi
rohani Anda akan memperjelas pokok-pokok permasalahan
rohani dan moral, menentukan bagaimana Anda
menghabiskan waktu dan uang Anda, menentukan apa yang
Anda berdua inginkan bagi anak-anak Anda dan semua
aspek kehidupan Anda berdua.
Sejarah kata kecocokan kembali ke masa dimana orang
merasakan sesuatu tentang kehidupan. Kecocokan berasal
dari dua kata yang berarti bersama dan menderita.
Bertahun-tahun yang lalu, dua pribadi merasa cocok satu
sama lain untuk kemudian menikah saat mereka
memutuskan untuk menderita bersama. Hal itu seolah-olah
seperti suatu pendekatan yang negatif, namun itulah
kenyataan hidup. Hidup memang berat pada masa itu.
Pernahkah Anda mengunjungi pekuburan yang berada di
halaman gereja tua dan menyadari ada begitu banyak nisan
yang menandai kuburan anak-anak? Pada generasi lampau,
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
29
seringkali orang mempunyai keluarga besar. Salah satu
alasannya adalah karena mereka berpikir jika mereka
memiliki 10 anak, kemungkinan 5 dari anak-anak mereka
akan bertahan hidup.
Kecocokan merupakan satu diantara sekian banyak
alasan bahwa hubungan komunikasi yang terpenting dalam
sebuah keluarga adalah komunikasi antara suami dan isteri.
Seandainya Anda kehilangan seorang anak, Anda dapat
menanggung penderitaan bersama pasangan Anda. Namun
bila Anda kehilangan pasangan Anda, Anda akan
menanggung penderitaan itu sendirian. Saya telah
mendengar banyak pasangan menikah Kristen mengaminkan
kenyataan itu, bahwa saat hubungan mereka dengan Tuhan
dan pasangan mereka begitu dekat, mereka dapat mengatasi
segala kesukaran. Itulah kesimpulan pengertian terbaik dari
makna orisinil kata kecocokan.
Namun demikian, pada masa sekarang, penggunaan
umum untuk kata ini telah membawa kita kepada pengertian
baru, yaitu: dua orang yang merasa cocok satu sama lain.
Mereka memiliki sifat-sifat pribadi, nilai-nilai dan tujuan yang
sama dalam kehidupan. Setelah menikah, orang menemukan
bahwa ternyata setiap manusia memiliki berbagai kelebihan
dan kekurangan. Biasanya, kekurangan itu tidak muncul di
awal pernikahan. Namun setelah beberapa waktu, orang
menjadi sadar akan kenyataan bahwa mereka menghadapi
berbagai kelebihan dan kekurangan. Sayangnya, ketika
kenyataan yang sulit diterima itu muncul ke permukaan,
banyak pasangan menikah pada masa kini memutuskan,
Saya percaya bahwa kita tidak lagi saling cocok dan saya
telah menemukan orang lain dengan siapa saya merasa
cocok.
Perceraian dan perpisahan merupakan hal yang biasa
pada saat ini, sebab masyarakat mengatakan bahwa
ketidakcocokan adalah dasar untuk mengakhiri suatu
pernikahan. Bahkan, di berbagai kebudayaan, Anda dapat
menemukan berbagai alasan yang sah untuk bercerai.
Alkitab hanya mengijinkan satu alasan saja untuk bercerai,
dan alasan itu bukanlah ketidakcocokan, melainkan
perzinahan. Seperti yang telah saya pelajari, kontrak
pernikahan memiliki satu syarat dan syarat itu adalah
adanya eksklusifitas. Artinya bahwa Allah tidak menuntut
kita untuk bertahan dalam hubungan dengan seseorang yang
tidak mau hidup secara eksklusif dengan kita.

Penerimaan
Pemahaman kita akan kecocokan harus menyangkut
konsep penerimaan. Ada begitu banyak hal dalam
pernikahan yang harus Anda terima berkenaan dengan
pasangan Anda. Pasangan Anda tidak akan berubah. Banyak
orang bersikap naif; mereka berpikir bahwa begitu mereka
menikah, mereka dapat mengubah sifat pasangan mereka
yang tidak mereka sukai. Kesalahan ini terutama dilakukan
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
30
oleh wanita. Mereka begitu naif ketika berpikir, Setelah saya
menikah dengannya, saya akan membuatnya menjadi laki-
laki seperti yang saya idam-idamkan. Hal itu adalah
pemikiran yang tidak dewasa. Setelah menikah, laki-laki
akan menjadi pribadi yang sama dan ia tidak akan berubah.
Alkitab menganggap lucu orang yang berpikir bahwa
mereka bahkan bisa merubah diri mereka sendiri.
Contohnya, Yeremia bertanya, Dapatkah orang Etiopia
mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya?
Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang
membiasakan diri berbuat jahat (Yeremia 13:23). Alkitab
sangat realistis mengenai perubahan kita.
Namun Alkitab memang menyuruh kita untuk memenuhi
syarat tertentu, baru kemudian Allah dapat mengubah kita.
Jika Anda sungguh-sungguh ingin berubah, atau Anda
merasa yakin bahwa pasangan Anda harus berubah, maka
satu-satunya pengharapan bagi perubahan tersebut adalah
Anda berdua harus mengalami lahir baru. Dengan lahir baru,
Allah dapat mengubah kita dan menjadikan kita sebagai
ciptaan baru di dalam dan melalui Kristus (II Korintus 5:17).
Di luar hal itu, orang tidak dapat berubah. Sangatlah
tidak dewasa jika Anda berpikir bahwa Anda dapat
mengubah pasangan Anda, dan akan lebih tidak dewasa lagi
jika Anda berpikir bahwa berganti pasangan akan
menyelesaikan masalah Anda. Anda akan segera menyadari
bahwa Anda hanya sedang menyatukan diri Anda dengan
sekumpulan kelebihan dan kelemahan yang lain. Adalah hal
yang bijak bila Anda meminta Allah untuk memberi Anda
sikap untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan
pasangan Anda untuk selamanya.
Saat Anda memikirkan tentang kecocokan Anda sebagai
pasangan menikah, jangan berfokus pada hal-hal yang
negatif, atapun menitikberatkan pada ketidakcocokan. Sikap
negatif semacam itu dapat menghancurkan pernikahan.
Sebaliknya, fokuskan pada aspek-aspek positif dari
kecocokan di antara Anda berdua.
Seorang pria muda mengalami lahir baru saat ia berusia
19 tahun. Suatu ketika ia memberitahu pendetanya, yang
menuntunnya datang kepada Kristus, bahwa ia mengalami
kesulitan untuk mempertahankan kesucian seksual. Sang
pendeta memberinya nasehat yang baik. Ia berkata, Allah
telah menyiapkan seorang wanita bagimu dan itulah solusi
terakhir bagi perjuanganmu mempertahankan kesucian
seksual.
Orang yang baru percaya ini bertanya, Bagaimana saya
tahu bahwa saya telah bertemu dengan wanita yang tepat?
Maka pendeta itu menjawab, Dengarkan saya. Ambilah
selembar kertas dan buatlah garis lurus ke bawah di tengah-
tengahnya. Di kolom sebelah kiri, tuliskan semua kriteria
yang engkau inginkan dari seorang wanita, mungkin rohani,
pandai, cantik, dan sebagainya. Lalu di kolom sebelah kanan,
tepat di sebelah kolom yang berisi kualitas dan sifat baik
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
31
yang engkau inginkan dari seorang isteri, tuliskanlah kualitas
dan sifat baik apa yang dicari wanita dalam diri seorang pria.
Perhatikan daftar itu baik-baik dan tanyakan pada dirimu,
Apakah saya memenuhi syarat? Jika belum, maka kamu
tahu apa yang harus kamu lakukan sementara kamu berdoa
dan menantikan pasangan idealmu.
Jika Anda membuat daftar yang sama, Anda akan
mengenali pasangan Anda saat Anda melihatnya, sebab
Anda tahu apa yang Anda cari. Saya telah mengalaminya.
Saya membuat daftar itu dan mengingatnya. Ketika saya
berjumpa dengan isteri saya, saya bisa saja melamarnya
saat itu juga, namun saya menunggu sampai kencan kedua
karena saya tidak ingin ia berpikir bahwa saya adalah orang
yang nekat! Meskipun Anda tidak memiliki kedua daftar ini di
tangan Anda saat Anda berjumpa dengan pasangan Anda,
namun pada dasarnya, Anda mungkin telah melakukan hal
yang sama.
Setelah Anda menikah, tanyakan pada diri Anda,
Kualitas apa saja pada diri pasangan Anda, yang membuat
Anda tertarik padanya saat pertama kali bertemu, dan
membuat Anda memilihnya menjadi pasangan menikah
Anda? Terkadang orang sudah demikian lamanya menikah
sehingga mereka sudah lupa akan apa yang pada mulanya
membuat mereka tertarik dengan pasangan mereka. Apa
saja kualitas yang Anda cari? Berapa banyak kualitas
tersebut yang masih diperlihatkan pasangan Anda? Lalu
tanyakan diri Anda sendiri, Kualitas apa saja pada diri Anda,
yang membuat pasangan Anda tertarik kepada Anda? Berapa
banyak dari kualitas itu yang masih Anda perlihatkan?
Sekarang, buatlah daftar kualitas yang Anda kagumi dari
pasangan Anda, lalu buatlah daftar kualitas yang dikagumi
pasangan Anda dari diri Anda.
Pendeta Dick Woodward mempunyai batu besar
mengkilap yang digunakan sebagai pemberat besar. Batu itu
adalah pemberian anaknya. Diatas batu yang indah ini
tertulis pertanyaan: Kalau engkau tidak lagi dekat dengan
Allah seperti dulu dan di bawah batu itu terdapat
lanjutannya: siapa yang menjauh?
Sekarang, tanyakan hal yang sama pada Anda berdua.
Kalau Anda tidak lagi dekat dengan pasangan Anda, siapa
yang menjauh? Apakah Anda? Atau pasangan Anda? Jangan
pernah melupakan hal-hal yang sejak awal telah
mempersatukan Anda.

Area Kecocokan
Untuk menolong Anda melihat kembali akan daftar lama
berisi kecocokan Anda berdua, mari kita melihat beberapa
area kecocokan yang mendasar dan penting.
Yang pertama adalah kecocokan fisik. Dalam pernikahan
yang baik, selama hubungan fisik sesuai dengan yang Allah
telah rancangkan, maka bobotnya hanyalah 10 persen dari
hubungan tersebut. Namun, bila hubungan fisik tidak seperti
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
32
yang Allah telah rancangkan, maka bobotnya bisa menjadi
90 persen dari masalah yang ada. Demikianlah, banyak
pernikahan yang bubar karena ketidakcocokan fisik.
Seandainya Anda mengalami ketidakcocokan fisik, seberapa
jauh ketidakcocokan fisik tersebut akan teratasi, seandainya
Anda terpusat kepada pasangan Anda dan bukan kepada diri
sendiri, atau jika Anda menempatkan orang lain dan
kepuasan mereka sebagai pusat dari hubungan Anda?
Kecocokan mengandung dua nilai hidup. Nilai-nilai hidup
menurut kamus adalah Kualitas dalam berbagai hal yang
ditentukan oleh kita sebagai yang lebih penting atau kurang
penting, bermanfaat, menguntungkan sehingga dirasa begitu
diperlukan. Setiap orang memiliki nilai-nilai hidup, entah
apakah kita menyadarinya atau tidak. Begitu dua orang
menikah, inilah area dimana ketidakcocokan dapat terlihat
begitu jelas. Nilai-nilai hidup kita menentukan banyak hal,
seperti bagaimana kita akan menghabiskan waktu kita.
Pernahkah Anda mengalami konflik dengan pasangan Anda
karena masalah waktu?
Nilai-nilai hidup kita juga menentukan cara kita memakai
uang kita. Uang dan harta kepunyaan kita menggambarkan
bagaimana kita menginvestasikan waktu kita. Jadi, ketika
kita memakai uang kita, sedikit banyak menggambarkan
bagaimana kita menjalani kehidupan kita. Pernahkah Anda
dan pasangan Anda bertengkar karena masalah keuangan?
Ketika pasangan bertengkar tentang bagaimana mereka
akan memakai uang mereka, maka muncullah suatu
gambaran yang dapat menjadi tolak ukur yang akurat akan
kecocokan mereka.
Bagaimana Anda membesarkan anak-anak Anda
merupakan area lainnya yang menggambarkan nilai-nilai
hidup dan akan mengukur tingkat kecocokan Anda. Bersama
pasangan Anda, jawablah pertanyaan ini, Apa yang kita
inginkan bagi anak-anak kita? Pendidikan seperti apa yang
kita inginkan bagi mereka? Bagaimana cara kita
mendisiplinkan mereka? Jika antara suami dan isteri
memiliki perbedaan latar belakang, maka kemungkinan
besar mereka akan memiliki konflik saat mereka menjawab
pertanyaan itu secara bersama-sama.
Area kecocokan yang terakhir, yang begitu penting
akhir-akhir ini adalah definisi peran atau pembagian peran.
Bagaimana peran seorang suami dan ayah menurut Anda?
Bagaimana peran seorang istri dan ibu menurut Anda? Saat
Anda mendefinisikan peran-peran Anda, saya hendak
menanyakan dua hal kepada Anda: Apakah definisi peran
yang Anda miliki itu didasarkan dari kebudayaan atau
didasarkan pada Firman Tuhan? Bila definisi peran yang
Anda anut itu didasarkan pada kebudayaan, apakah hal itu
berjalan baik bagi pernikahan dan keluarga Anda?
Jika Anda percaya bahwa Allahlah yang menciptakan dan
merancangkan pernikahan, maka cara Anda mendefinisikan
peran dalam hubungan Anda haruslah didasarkan pada
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
33
Firman Tuhan. Ingatlah, alasan yang mendasari kita untuk
memulai studi tentang pernikahan dan keluarga ialah bahwa
pernikahan dan keluarga merupakan suatu hukum kehidupan
yang Allah tetapkan saat Ia menciptakan manusia; laki-laki
dan perempuan. Dalam Firman-Nya, Ia telah memberikan
suatu rancangan besar akan seperti apa fungsi pasangan dan
keluarga itu. Jika Anda mempercayai bahwa Alkitab adalah
Firman yang diilhami Allah, maka Anda harus membuka
Alkitab Anda untuk mencari tahu akan rancangan Allah bagi
definisi peran ini. Bila suami dan isteri sepakat untuk
menjalani peran mereka seperti yang Allah rancangkan,
maka hal itu akan menjadi potensi besar bagi kecocokan
mereka berdua.

Peranan menurut Alkitab
Pada saat ini, masalah definisi peran dalam pernikahan
seringkali memunculkan masalah lainnya, yang dapat kita
sebut sebagai argumentasi kebudayaan. Banyak orang
yang mengatakan bahwa beberapa bagian tertentu dalam
Alkitab tidak lagi relevan untuk masa kini disebabkan karena
pada saat Alkitab ditulis, kebudayaan yang ada berbeda.
Faktor kebudayaan ini menjadikan kebenaran yang diajarkan
dalam Alkitab seakan tidak berlaku lagi.
Memang benar bahwa ada beberapa bagian Alkitab yang
perlu ditafsirkan menurut kebudayaan yang berlaku, seperti
contohnya dalam I Korintus 11, dimana Paulus mengatakan
bahwa wanita yang berambut pendek sama saja dengan
mempromosikan dirinya sebagai wanita tuna susila. Berarti,
seorang wanita Kristiani seharusnya berambut panjang. Jika
tidak ada yang namanya kebiasaan dalam kebudayaan,
maka panjang pendeknya rambut wanita tidak menjadi
masalah.
Namun, beberapa bagian Alkitab itu lintas budaya,
artinya bagian-bagian Firman itu tidak boleh ditafsirkan
berdasarkan kebudayaan yang berlaku saat Firman itu
ditulis. Kebudayaan kitalah yang seharusnya ditafsirkan
berdasarkan Firman Tuhan. Firman Tuhan diberikan untuk
mengadakan kebudayaan yang kudus. Salah satunya adalah
dalam kitab Kejadian dimana Allah menjadikan wanita
sebagai penolong atau pelengkap bagi pria. Pria belum
lengkap tanpa wanita. Dan sebagai pelengkap, wanita pun
tidak akan lengkap tanpa pria. Pria dan wanita yang
dipersatukan dipanggil dengan sebutan Adam.
Tanpa seorang isteri, seorang pria hanyalah sebagian
dari bagaimana ia seharusnya. Tanpa seorang suami, wanita
pun belum lengkap. Namun Allah mempersatukan keduanya
dan mereka menjadi satu pribadi yang utuh. Itulah definisi
peran menurut Alkitab yang sifatnya lintas budaya (tidak
terpengaruh oleh konteks budaya).



Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
34
Model Pernikahan menurut Petrus
Bagian Firman lain yang bersifat lintas budaya terdapat
dalam I Petrus 3. Dalam pasal sebelumnya, Petrus
menyatakan bahwa sebelum kita menjadi orang percaya,
kita ini ibarat domba yang hilang. Namun sekarang kita
telah kembali kepada Gembala dan Pemelihara jiwa kita (I
Petrus 2:25).
Lalu, Petrus memulai pasal 3 dengan memberikan
beberapa nasihat kepada wanita yang suaminya tidak
menaati Firman Allah. Ia menulis: Demikian juga kamu, hai
isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di
antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga
tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya
(3:1). Kepada para suami, Petrus menulis: Demikian juga
kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu,
sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai
teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya
doamu jangan terhalang (3:7).
Kalimat kunci dalam ayat 1 dan 7 adalah Demikian juga
kamu, Apa maksudnya? Petrus merujuk kalimat itu
kepada kalimat, Gembala dan Pemelihara jiwamu. Dalam
surat-suratnya, baik Petrus maupun Paulus menyajikan
secara konsisten akan suatu model bagi hubungan suami
dan isteri. Model tersebut adalah Kristus dan Jemaat.
Petrus menunjuk pada Kristus dan jemaat-Nya serta
bertanya kepada para suami dan isteri, Apakah engkau
ingin melihat rancangan Allah bagi peran suami dan isteri
yang sifatnya lintas budaya? Maka lihatlah bagaimana Kristus
menggembalakan jemaat-Nya. Para suami, gembalakanlah
isterimu, sebagaimana Kristus adalah Gembala jemaat. Para
isteri, tahukah kamu akan peranmu sebagai isteri? Lihatlah
pada hubungan Kristus dan jemaat-Nya. Saat suamimu
menggembalakanmu, seolah-olah sebagai Kristus bagimu,
maka berlakulah sebagaimana jemaat berlaku kepada
Kristus dalam hubunganmu dengan suamimu.
Itulah inti dari apa yang ditulis Petrus. Pada dasarnya
Petrus menulis: Hai para isteri, biarkan suamimu berlaku
kepadamu seperti Kristus. Biarkan ia menggembalakanmu.
Biarkan ia mengasihimu sebagaimana Kristus mengasihi
jemaat-Nya. Itulah arti sebenarnya dari kata tunduk bagi
para isteri, yaitu membiarkan suami mereka untuk
menggembalakan mereka sebagaimana Kristus
menggembalakan jemaat.
Alasan mengapa kita tidak lagi melihat model seperti ini
lagi dalam pernikahan begitu banyak orang percaya adalah
karena wanita tidak mau tunduk pada penggembalaan suami
mereka, meskipun masalah itu nyata. Saat ini, hambatan
utama dari penerapan dan pelaksanaan model pernikahan ini
adalah bahwa para suami tidak mau berlaku seperti Kristus
bagi isteri mereka. Mereka tidak mau menjadi imam dalam
rumah tangga mereka. Mereka enggan menjalankan
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
35
tanggung jawab untuk memimpin dan menggembalakan
isteri dan keluarga mereka.

Model Pernikahan menurut Paulus
Dalam Efesus 5, Paulus mengemukakan suatu dasar bagi
definisi peran suami dan isteri yang masih berhubungan
dengan pengajaran Petrus. Dalam ayat 21, Paulus menulis,
Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam
takut akan Kristus. Perhatikan bahwa Paulus menghendaki
suatu sikap tunduk yang saling menguntungkan. Suami dan
isteri harus tunduk atau merendahkan diri satu sama lain
sebab sesungguhnya sifat dasar kita adalah terpusat pada
diri sendiri. Ketika beberapa orang percaya membaca bahwa
dua pribadi harus menjadi satu, maka selama bertahun-
tahun mereka bertanya-tanya, Siapa menjadi siapa? Untuk
membuat dua pribadi menjadi satu agar pernikahan bisa
berhasil, maka baik suami maupun isteri harus merendahkan
diri satu sama lain. Itulah inti dari kasih.
Paulus melanjutkan, Hai isteri, tunduklah kepada
suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala
isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang
menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat
tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami
dalam segala sesuatu (Efesus 5:22-24).
Jelas sekali bahwa Paulus melakukan hal yang sama
seperti yang dilakukan Petrus dalam nasihat pernikahannya.
Petrus dan Paulus sama-sama menyuguhkan paradigma
Kristus dan jemaat, dan keduanya menulis definisi peran
suami dan isteri dengan berpatokan pada Kristus dan jemaat
sebagai teladan. Pemakaian hubungan Kristus dan jemaat
sebagai teladan tidak ada sangkut pautnya dengan
kebudayaan Asia Kecil ataupun Roma. Rancangan bagi
pernikahan ini merombak kebudayaan yang begitu jahat dan
penuh dosa pada zaman mereka. Haruslah kita ingat bahwa
Yesus tidak pernah mengajarkan para rasul dan murid-
murid-Nya untuk menyelaraskan diri dengan nilai-nilai
kebudayaan mereka. Yesus menantang mereka untuk
merombak kebudayaan mereka.
Nah, tugas yang diberikan kepada para isteri dalam
nasihat pernikahan yang ditulis Paulus ini menuntut suatu
sikap kebajikan yang sifatnya supernatural. Namun tugas
yang diberikan kepada para suami menuntut hal yang lebih.
Para suami diperintahkan untuk mengasihi isteri mereka
sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah
menyerahkan diri-Nya baginya (Efesus 5:25). Seperti
Kristus mengasihi jemaat-Nya, maka dengan cara yang sama
pula seorang suami harus mengasihi isteri dan keluarganya.
Seperti Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi jemaatnya,
maka dengan cara yang sama pula seorang suami
diperintahkan untuk menyerahkan dirinya bagi isteri dan
keluarganya. Yesus memerintahkan para suami untuk
menjadi sama seperti Bapamu yang... adalah sempurna
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
36
(Matius 5:48). Kepada jemaat di Kolose, Paulus menuliskan
bahwa satu-satunya pengharapan kita ialah perbuatan ajaib
yaitu bahwa Kristus tinggal di dalam kita. Jika Kristus tinggal
di dalam kita, maka hal itu memungkinkan kita, bahkan
menjadikan kita secara alami menjadi seperti Kristus, pada
saat kita mengasihi dan menyerahkan hidup kita bagi
pasangan kita (Kolose 1:27).
Bagi para isteri, bila Anda memiliki seorang suami yang
mengasihi Anda dan anak-anak Anda sebagaimana Kristus
mengasihi Jemaat, masih sulitkah bagi Anda untuk
merelakan suami Anda menggembalakan Anda? Masih
sulitkah bagi Anda untuk merelakannya menjadi kepala
rumah tangga dan membiarkan suami Anda menjalankan
tanggung jawabnya untuk memimpin rumah tangga Anda?
Di lain pihak, tugas bagi seorang istri tampaknya tidak
terlalu sulit. Bagi para isteri, Petrus menulis, Biarlah suami
Anda menggembalakan Anda dan bersikaplah yang manis.
Itulah yang sesungguhnya dimaksud Petrus saat ia menulis,
Supaya jika ada di antara mereka... dimenangkan oleh
kelakuan isterinya. Berasal dari roh yang lemah lembut dan
tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Bersikap
manislah saat tunduk kepada suami Anda. Tetapi ada banyak
wanita yang tunduk secara lahiriah saja, namun di dalam
hatinya ia memberontak. Akan tetapi Petrus menulis,
Hendaklah engkau sungguh-sungguh merendahkan diri; dan
biarlah itu keluar dari dalam hatimu. Bersikaplah yang manis
dan jadilah tenang. Lakukan saja Firman Tuhan di hadapan
suamimu. Jika ada sesuatu yang menantang suamimu untuk
berdiri di tempatnya, maka hal itu adalah saat ia melihatmu
berdiri di tempatmu.
Ingatlah bahwa Petrus menujukan perkataan-perkataan
ini kepada para isteri yang suaminya tidak menaati Firman
Tuhan. Hal ini bisa berarti bahwa suami mereka bukanlah
orang percaya. Tapi bisa juga berarti bahwa suami mereka
adalah orang percaya namun ia tidak memperlakukan
isterinya sebagaimana Kristus terhadap Jemaat-Nya. Akan
ada saatnya dimana suami dan isteri harus menjalani
pernikahan sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus, Petrus
dan Paulus. Hendaknya kita mengingat bahwa Petrus
menujukan perkataan ini kepada para isteri yang suaminya
tidak berdiri di tempat dimana mereka seharusnya berada.

Kesimpulan
Pada intinya, Petrus mengajarkan kepada para isteri
untuk tidak memaksa, mengkhotbahi atau bahkan menarik
suami mereka kepada tempat dimana seharusnya mereka
berada. Hanya oleh anugerah Tuhan, mereka akan berada di
tempat mereka seharusnya berada. Petrus tidak mengatakan
kepada para isteri bahwa segala nasihatnya ini akan selalu
membawa kepada pertobatan atau perubahan sikap pada
suami mereka. Ia hanya menasihatkan bahwa bila ada hal
yang akan menyelesaikan masalah mereka, maka hal itu
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
37
adalah perilaku yang mereka tunjukkan kepada suami
mereka yang akan menantang suami mereka untuk berdiri di
tempat mereka yang sebenarnya.



BAB 6
Mata Rantai Kasih

Dimensi spiritual (rohani) merupakan pondasi dari
kesatuan yang Allah tetapkan bagi suami dan isteri.
Komunikasi merupakan alat yang dengannya pasangan
menikah dapat menguatkan dan menjaga kesatuan mereka.
Kecocokan merupakan bukti dari kesatuan mereka. Kasih
merupakan dinamika yang luar biasa dari kesatuan yang
Allah rancangkan saat Ia menetapkan dua pribadi untuk
menjadi satu daging.
Ada sebuah pertanyaan yang bagus untuk ditanyakan
pada diri para pasangan yang akan memasuki pernikahan:
Saat Anda menyatakan, Aku mengasihimu kepada
pasangan Anda, apa yang Anda maksudkan? Apakah maksud
Anda, Saya memiliki suatu kebutuhan dan dalam memenuhi
kebutuhan tersebut, engkau jauh lebih baik daripada
siapapun yang pernah saya jumpai? Saat Anda menyatakan,
Aku mengasihimu, apakah Anda benar-benar mengatakan
bahwa Aku membutuhkanmu? Jika itu merupakan
interpretasi Anda akan konsep kasih, maka Anda tidak
memiliki sudut pandang Alkitabiah akan pengertian kata
kasih.
Saat Anda menyatakan, Aku mengasihimu, apakah
yang Anda maksudkan, Keberadaanmu sama pentingnya
bagiku dengan keberadaanku sendiri? Jika ya, hal itu
memang lebih baik, namun tetap saja belum
menggambarkan kasih Kristus yang alkitabiah.
Masalah terbesar dalam pernikahan adalah sikap
mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, dinamika terbaik
dalam pernikahan adalah sikap yang tidak mementingkan
diri sendiri, yang berpusat pada kepentingan orang lain atau
kemampuan untuk menempatkan orang lain sebagai pusat
dan memikirkan bagaimana caraya Anda dapat memenuhi
kebutuhannya. Saat Anda menemukan definisi alkitabiah
tentang kasih, maka Anda akan melihat bahwa kasih yang
seperti kasih Kristus merupakan dinamika terbaik dalam
pernikahan sebab kasih Kristus memungkinkan kita untuk
secara tulus bersikap tidak egois.
Yesus berkata, Adalah lebih berbahagia memberi dari
pada menerima (Kis. 20:35b). Pernikahan dapat diubahkan
saat pengajaran Yesus ini diterapkan. Saat orang menikah,
kebanyakan dari mereka menjadi pengambil. Mereka
berusaha untuk saling mengambil satu sama lain untuk
memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Jika keduanya adalah
pengambil dan tidak satu pun yang menjadi pemberi,
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
38
maka tidak ada seorangpun yang akan mendapatkan apa-
apa. Namun, lihat bagaimana keadaan berubah saat
keduanya menyadari bahwa adalah lebih berbahagia
memberi daripada menerima!
Jika Anda belum belajar untuk mendahulukan
kepentingan orang lain, maka jangan memiliki anak. Sama
halnya dengan komitmen pernikahan yang harus dilandaskan
pada pimpinan Allah, maka pasangan orang percaya
sebaiknya tidak memiliki anak sampai Allah menuntun
mereka untuk menghadirkan anak-anak dalam pernikahan
mereka dan ke dalam dunia ini. Memiliki anak merupakan
tindakan paling tidak egois yang dapat dilakukan oleh
pasangan. Selama 20 sampai 25 tahun, orang tua harus
membesarkan anak mereka. Mereka harus memberi dan
memberi dan memberi, tanpa menerima balasan. Bila
keduanya merupakan orang tua yang baik, maka saat anak-
anak mereka meninggalkan rumah, anak-anak itu akan
menikah dan kemudian melakukan tindakan memberi
kepada keturunan mereka kelak. Ini merupakan perkara
yang menuntut sikap yang tidak mementingkan diri sendiri.
Saya adalah salah satu dari jenis orang yang mungkin
sudah tidak ada pada masa kini. Saya begitu diberkati
memiliki seorang ibu yang begitu saleh, yang meyakini
rancangan Allah atas pernikahan dan keluarga. Ibu saya
memiliki 11 anak. Suatu ketika saya bertanya kepadanya,
Seandainya ibu bisa mengulang dari awal lagi, apakah ibu
akan melahirkan kami semua lagi? Ia menjawab, Tentu, tapi
sebelumnya, Ibu akan memutuskan bahwa Ibu tidak akan
lagi mempunyai kehidupan Ibu sendiri. Mungkin terdengar
aneh bagi Anda bahwa ibu saya memilih untuk tidak memiliki
kehidupannya sendiri.
Salah satu hal yang mutlak dimiliki oleh generasi muda
abad ke-21 adalah hak mereka untuk memiliki kehidupan
sendiri dan menjalaninya. Itulah mengapa banyak wanita
merasa tersinggung dengan pemikiran bahwa mereka adalah
pelengkap bagi pria. Para pria pun tersinggung dengan
pemikiran bahwa mereka harus mengasihi isteri mereka
sebagaimana Kristus mengasihi dan menyerahkan diri-Nya
bagi jemaat-Nya. Bagaimana bisa Anda memiliki kehidupan
sendiri dan menjalaninya sesuai keinginan Anda, sedangkan
Anda masih harus memberi diri Anda bagi isteri dan keluarga
Anda? Jawabannya: Anda tidak akan bisa.
Banyak orang mengolok-olok Kristus, Orang lain Ia
selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia
selamatkan (Matius 27:42). Agar bisa mengasihi dengan
kasih Kristus, Anda harus mengorbankan kehidupanmu demi
mereka yang Anda kasihi. Ibu saya mengasihi suami dan
anak-anaknya dengan kasih Kristus. Itulah sebabnya ia tidak
memiliki kehidupannya sendiri. Namun, ia bahagia! Ia
menikah sangat lama dan tidak pernah sekalipun ia
membaca buku tentang pernikahan. Ia hanya membaca
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
39
Alkitab. Ia adalah seorang isteri dan ibu yang bahagia sebab
ia menemukan dinamika pernikahannya dalam Alkitabnya.
Gaya mengasihi yang ibu saya pilih sangat bertolak
belakang dengan sikap generasi saya. Begitu pula dengan
pernyataan Yesus: Tidak ada kasih yang lebih besar dari
pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13). Ataupun pengajaran
Yesus: Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya (Lukas 9:24). Seorang misionari yang
dibunuh karena imannya pernah menulis: Orang yang bijak
adalah orang yang memberikan apa yang tidak dapat
dipertahankannya untuk memperoleh apa yang tidak akan
bisa hilang. Mengorbankan hidup Anda untuk orang lain
sesungguhnya merupakan kasih yang terbesar. Itulah
tepatnya bentuk kasih yang Anda pelajari dalam definisi
peran bagi pria dan wanita yang dipersatukan dalam
pernikahan seperti yang telah ditetapkan dalam Alkitab.
Saya menyebut sifat kasih ini sebagai dinamika
kesatuan. Kesimpulannya: Hubungan spiritual yang dimiliki
pasangan dengan Kristus, baik secara pribadi maupun
bersama, merupakan pondasi dari kesatuan mereka;
komunikasi merupakan alat untuk menjaga kesatuan;
kecocokan merupakan bukti dari kesatuan, sedangkan kasih
merupakan dinamika yang mendorong kesatuan.


Jadi, apa itu kasih?
Apa yang Anda maksudkan saat Anda berkata pada
pasangan Anda, Aku mengasihimu? Sebagaimana saya
telah menanyakan pertanyaan itu pada kaum pria, saya
cukup terkejut bahwa ternyata kaum pria seringkali
menemui kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat,
atau bahkan tidak mampu menjelaskan apa yang mereka
kira tentang kasih. Yang sebenarnya terjadi adalah ketika
kita menikah pada usia muda, kita bahkan tidak tahu hal
pertama tentang kasih. Saat seorang pria muda berkata
kepada wanita muda yang cantik, Aku mengasihimu,
mungkin yang ia maksudkan adalah, Aku mengasihi dan
menginginkanmu. Jika itu yang seorang pria maksudkan
ketika ia mengatakan kepada mempelainya bahwa ia
mengasihinya, maka hal itu akan membuat isterinya tidak
tenteram, sebab di kemudian hari, mungkin saja suaminya
akan menemukan seseorang yang memenuhi kebutuhannya
itu dengan lebih baik daripada yang isterinya berikan.

Pasal Kasih dalam Alkitab
Ijinkan saya berbagi sesuatu dengan Anda yang saya
yakini sebagai pernyataan terbesar yang pernah ditulis
tentang kasih Allah dan Kristus. Hal itu tertulis dalam I
Korintus 13, suatu perikop yang mungkin tidak asing bagi
Anda. Kasih bukanlah subjek utama Paulus saat ia menulis
perkataan penuh inspirasi ini kepada jemaat Korintus.
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
40
Sesungguhnya ia sedang menulis tentang karunia-karunia
roh, dan dengan tujuan untuk menempatkan karunia-karunia
roh ini dalam cara pandang yang benar, maka Paulus
menulis perikop tentang kasih ini.

Kasih Dibandingkan (ayat 1-3)
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua
bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak
mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang
berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku
mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui
segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan
sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk
memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai
kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku
membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan
menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak
mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku (I
Korintus 13:1-3).
Dalam tiga ayat pertama pasal ini, Paulus menulis bahwa
kasih tidak terbandingkan dan tidak tergantikan. Pada
intinya ia menulis, Tidak satupun bagian diriku, tak satupun
yang kumiliki, tak satupun yang kulakukan dan tidak akan
pernah diriku, kepunyaanku ataupun tindakanku yang akan
menggantikan kasih dalam hidupku. Pada zaman Paulus,
mereka yang hidup dalam kebudayaan Yunani Korintus
dikenal karena kefasihan mereka dalam berpidato dan
perhatian mereka pada pendalaman intelektual, khususnya
filsafat. Orang-orang percaya di Korintus pun memandang
tinggi karunia-karunia roh, khususnya karunia berbahasa
Roh. Itulah sebabnya mengapa Paulus membandingkan kasih
dengan kefasihan, bahasa malaikat serta memiliki seluruh
pengetahuan, untuk memprioritaskan betapa tidak
tertandingi dan tidak tergantikannya kasih yang ia tulis ini.
Lalu, Paulus menyebutkan tentang karunia bernubuat,
yang nantinya ia sebut sebagai karunia roh terbesar (I
Korintus 14:1). Ia pun membandingkan kasih dengan iman
dan ia menutup pasal ini dengan menyatakan bahwa iman
merupakan salah satu dari tiga nilai kekekalan terbesar.
Sebagai misionari gereja terbesar yang pernah ada, kita tahu
benar betapa pentingnya iman bagi Paulus. Namun
demikian, ia menulis bahwa jika kita memiliki iman tanpa
memiliki kasih, maka kita sama sekali tidak berguna. Saat
Paulus membandingkan kasih dengan nilai-nilai yang
dijunjung tinggi oleh jemaat Korintus, ia menyimpulkan:
Tidak satupun dari hal-hal ini dapat menggantikan kasih
dalam hidupmu, oleh karena hakekat kasih itu sendiri.

Kasih diperbedakan (ayat 8-13)
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir;
bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab
pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
41
sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak
sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku
berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti
kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang
sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-
kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu
gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat
muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan
tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan
sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal
ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang
paling besar di antaranya ialah kasih (I Korintus 13:8-13).
Pada akhir pasal ini, Paulus membuat ringkasan
pembandingannya tentang kasih saat ia menyatakan kepada
kita bahwa ada tiga nilai kekal yang akan tetap ada, yaitu
pengharapan, iman dan kasih. Namun, ia menyimpulkan
bahwa nilai kekekalan yang terbesar adalah kasih.
Pengharapan merupakan nilai yang akan tetap ada karena
hal itu menuntun kepada iman (Ibr. 11:1). Iman merupakan
salah satu nilai yang akan tetap ada karena iman menuntun
kita kepada Allah. Namun saat kita menemukan kasih, kita
tidak menemukan sesuatu yang menuntun kita kepada
sesuatu yang membawa kita kepada Allah. Kita sendiri telah
menemukan Allah, sebab sifat kasih itu adalah Allah sendiri.
Itulah mengapa kasih tidak tergantikan dan tidak
terbandingkan. Sebab Allah adalah kasih. (I Yohanes 4:16)
Kasih Dikelompokkan (ayat 4-7)
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak
melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan
diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena
ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala
sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (I Kor. 13:4-7).
Dalam buku renungan klasiknya, Hal Terbesar di
Dunia, Henry Drummond menulis tentang ayat 4 sampai 7,
Dalam ayat-ayat ini, Roh Kudus menyatakan konsep kasih
Allah, melalui pikiran Paulus yang diilhami Roh Kudus,
sehingga keluarlah berbagai kebajikan. Lima belas
kebajikan menjadi fokus dalam keempat ayat I Korintus ini.
Bila Anda mempelajari kebajikan-kebajikan ini, berarti Anda
sedang mempelajari berbagai hal yang mewakili kasih Allah
dan sebuah analisa akan sifat Allah itu sendiri, sebab kita
diajarkan bahwa Allah adalah kasih (I Yohanes 4:16).
Sangat sulit untuk menggambarkan tentang Allah atau
kasih Allah itu. Dengan hikmat yang luar biasa dan inspirasi
Roh Kudus, Paulus memberitahu kita tentang bagaimana
sesungguhnya kasih Allah itu. Pada intinya ia berkata, Jika
engkau memiliki kasih yang kutulis ini, maka dengan cara
inilah engkau merasakan bahwa dirimu berhubungan dengan
orang lain yang dengannya engkau berbagi kehidupanmu.
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
42
Dalam suratnya yang lain, Paulus mengatakan bahwa sifat
kasih ini merupakan buah, tanda atau bukti bahwa Roh
Kudus tinggal di dalam kita (Galatia 5:22). Dalam keempat
ayat pasal ini, Paulus menempatkan kasih di bawah sebuah
mikroskop rohani.
Saya ingin menantang Anda untuk melakukan sesuatu.
Renungkan sungguh-sungguh akan kelima belas kebajikan
yang mengekspresikan kasih Allah ini. Selagi Anda
melakukannya, tempatkanlah pasangan Anda, anak-anak
Anda dan orang lain di pusat setiap kebajikan yang
mengekspresikan buah Roh hidup Anda. Orang memiliki
kemampuan yang luar biasa untuk memutarbalikkan bagian
Firman ini dan berpikir, Nah, beginilah seharusnya
pasanganku dan orang percaya lainnya mengasihi aku.
Bukan demikian maksudnya. Paulus mengatakan, beginilah
seharusnya engkau mengasihi pasanganmu dan orang lain.
Beberapa tahun yang lalu, saat anak pertama kami
berusia 2 tahun, dengan diam-diam saya mengamati saat ia
berada di dalam ruang anak-anak di gereja kami. Saya
cukup terkejut saat ia merampas sebuah mainan plastik dari
tangan seorang bayi dan berkata, Yesus mengajarkan
bahwa kita harus berbagi! Sudah jelas bahwa anak saya
tidak memahami arti sebenarnya dari kasih yang Paulus
gambarkan bagi kita dalam pasal ini. Orang dewasa lebih
pandai mengenai hal ini, namun seringkali kita pun
melakukan hal yang sama. Ketika kita mempelajari perikop
mengenai kasih ini, banyak dari kita berpikir, Beginilah
seharusnya pasanganku mengasihiku! Saat Anda belajar
tentang kebajikan yang mengekspresikan kasih Allah ini,
janganlah berpikir akan bagaimana seharusnya pasangan
Anda mengasihi Anda. Tetapi tanyakan pada diri Anda,
Apakah saya mengasihi pasangan saya dengan cara yang
demikian? Sekarang, mari kita mempelajari kebajikan ini
satu per satu:
Kasih itu sabar. Kata dalam bahasa Yunani yang Paulus
pergunakan disini memiliki arti bahwa kasih itu penuh belas
kasihan. Kasih tidak pernah membalas dendam. Kasih tidak
menuntut balas seandainya pun ada hak dan kesempatan
untuk itu.
Kasih itu tidak cemburu. Kata yang searti dengan kata
dalam bahasa Yunani yang Paulus pergunakan disini adalah
kata murah hati. Kata ini menggambarkan komitmen untuk
tidak mementingkan diri sendiri, suatu sikap mengutamakan
kepentingan orang lain. Apakah Anda sepenuhnya
berkomitmen bahwa Anda akan dengan rela memberikan
waktu Anda, energi Anda dan apapun yang diperlukan untuk
melihat bahwa segala kebutuhan dan keinginan pasangan
Anda terpenuhi? Itulah yang dimaksud dalam bahasa aslinya
yang diterjemahkan sebagai tidak cemburu.
Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kalimat ini menerjemahkan sebuah kata Yunani yang berarti
bahwa orang yang mengasihi tidak sesumbar. Ia tidak
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
43
merasa perlu mengesankan orang lain. Ia tidak akan
memiliki pikiran-pikiran akan betapa pentingnya ia sebab
kasih membuat seseorang menjadi rendah hati. Ia akan
menjadi kebalikan dari orang-orang yang angkuh dan arogan
di muka bumi ini.

Dua Dimensi Kasih Allah
Segala kebajikan ini memiliki dimensi lahiriah dan
batiniah. Secara lahiriah, kasih berlaku seperti ini sebab ada
realita batiniah yang menghasilkan ekspresi kasih lahiriah.
Kita melihatnya dalam ayat 5: Kasih tidak melakukan yang
tidak sopan. Secara lahiriah, kasih tidak melakukan hal
yang tidak pantas. Kasih berlaku sopan, hormat dan pantas
sebab secara batiniah, kasih tidak mencari keuntungannya
sendiri. Bersyukur untuk realita batiniah yang sama bahwa
kasih itu tidak mudah marah (ayat 5). Kasih tidak mudah
tersinggung, tidak mudah terprovokasi sebab kasih tidak
melakukan agendanya sendiri dan tidak memaksakan
kehendaknya sendiri. Sangat sulit untuk membuat marah
orang yang mengasihi dan mementingkan kepentingan orang
lain. Itulah ekspresi lahiriah dari suatu realita bahwa batin
mereka tidak dipenuhi dengan sikap egois, yang
mengutamakan diri sendiri, keangkuhan dan sikap yang
mengatakan pakai cara saya atau tidak sama sekali.
Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kata
yang Paulus pergunakan disini memiliki arti bahwa kasih
tidak menghitung-hitung kesalahan, ataupun mengingat-
ingat kesalahan orang yang kita kasihi. Apakah Anda
mengingat-ingat kesalahan pasangan Anda? Jika ya, maka
hal itu tidak berasal dari kasih Kristus dalam hati Anda.
Alasan mengapa secara lahiriah kasih tidak mengingat-ingat
kesalahan adalah karena secara batiniah kasih tidak
bersukacita karena ketidakadilan. Ini berarti bahwa orang
yang mengasihi tidak mensyukuri kegagalan orang yang
dikasihinya. Ketika orang yang dikasihinya gagal, ia turut
berduka. Ia tidak mau orang yang dikasihinya gagal. Bahkan
dalam hatinya, ia senang bila orang yang dikasihinya
berhasil. Itulah yang dimaksud bersukacita karena
kebenaran. Turut gembira ketika kebenaran berkuasa dalam
hidup orang yang dikasihi merupakan sebuah ekspresi kasih
Kristus.
Ayat 7 menyatakan bahwa kasih itu menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala
sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Ketika orang
yang dikasihi mengalami kegagalan, maka orang yang
mengasihi tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun.
Itulah yang dimaksud menutupi segala sesuatu. Kasih
memiliki keyakinan untuk melihat dan percaya akan potensi
orang yang dikasihi. Inilah yang membuat orang menjadi
jauh lebih baik.
Ketika saya masih remaja dengan potensi yang tidak
terlalu kelihatan, pendeta saya melakukan hal tersebut bagi
Buklet #6: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 1)
44
saya dan hal itu sangat berarti untuk saya. Ia selalu berkata,
Saya meyakini potensimu. Pada saat itu saya sendiri tidak
mempercayai potensi saya, dan saya tidak tahu siapa lagi
yang juga tidak mempercayai saya. Apa yang ia lakukan
sangat berarti bagi saya. Awalnya saya pikir ia bercanda,
namun ternyata ia sungguh-sungguh mengatakannya. Ia
benar-benar percaya pada saya. Ia percaya segala
sesuatu.
Karena kasih memiliki keyakinan untuk melihat potensi
orang lain, maka kasih mengharapkan segala sesuatu, yang
artinya bahwa dengan penuh sukacita, kasih menantikan
penggenapan akan apa yang dilihat dan diyakininya. Lalu,
sementara mempercayai dan menantikan akan penggenapan
dari apa yang dilihatnya pada diri orang yang dikasihi, kasih
itu sabar menanggung segala sesuatu. Apapun bentuknya.
Kata dalam bahasa Yunani yang dipakai dalam teks aslinya
memiliki arti tetap bertahan selagi mempercayai dan
menantikan. Semuanya ini diekspresikan secara lahiriah
sebab batin orang yang mengasihi telah dipenuhi oleh
keyakinan yang kudus. Keyakinan mereka bukan kepada
orang yang dikasihi, melainkan lebih kepada keyakinan pada
apa yang Allah sanggup lakukan di dalam, dengan dan
melalui orang yang dikasihi tersebut.
Akhirnya, Paulus meyakinkan kita bahwa kasih tidak
berkesudahan. Kita bisa gagal mengasihi, namun kasih
tidak akan pernah berkesudahan. Orang yang mengasihi
tahu bahwa kasihnya pasti akan mempengaruhi orang yang
dikasihinya pada akhirnya. Dengan kata lain, orang yang
mengasihi dapat berkata kepada yang dikasihinya, Apa pun
yang engkau ucapkan atau lakukan, takkan membuatku
berhenti mengasihimu, sebab aku mengasihimu dengan
kasih Kristus dan kasih itu tangguh. Ia menanggung segala
sesuatu.
Dengan mengingat kelima belas kebajikan ini,
pandanglah pasangan Anda dan tanyakan, Saat aku
mengatakan bahwa aku mengasihinya, apa sebenarnya
maksudku? Jika Roh Kudus ada di dalam Anda, maka Anda
akan memiliki kemampuan untuk mengasihi pasangan Anda
dengan segala kebajikan ini. Inilah dinamika yang Allah
tetapkan untuk menggerakkan kesatuan di antara dua orang
yang menikah, yang telah Allah rancangkan saat Ia
menjadikan manusia; laki-laki dan perempuan. Tanpa
dinamika ini, kesatuan Anda hanyalah penggalan dari inti
hukum pernikahan dan keluarga. Namun, bila oleh kasih
karunia Allah, Anda memiliki dinamika ini, maka kasih akan
menjadikan kesatuan Anda seturut dengan yang Allah
kehendaki.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

1

SEKOLAH ALKITAB MINI








PERNIKAHAN DAN KELUARGA
(Bagian 2)




BUKLET STUDI #7






Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan Ikatan Tujuh Rangkap Pernikahan




















Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

2

Tujuh Mata Rantai Kesatuan

Buklet ini adalah bagian kedua dari dua edisi buklet
berisi catatan-catatan, yang akan mengingatkan Anda akan
apa yang telah Anda dengar pada siaran kami mengenai
pernikahan dan keluarga. Bila Anda tidak memiliki buklet
yang pertama, cobalah untuk memperolehnya sebelum Anda
membaca buklet ini. Anda akan lebih memahami buklet yang
kedua ini setelah Anda membaca buklet yang pertama.
Agar Anda dapat memahami program-program siaran
kami serta isi kedua buklet ini, maka Anda harus mengetahui
sebuah ilustrasi yang menjadi kerangka studi kita ini.
Karenanya, saya akan kembali menggambarkan ilustrasi
yang terdapat dalam buklet saya yang pertama. Setelah
ilustrasi ini kembali digambarkan, saya akan melanjutkan
dengan kesimpulan buklet pertama.
Seorang percaya keturunan Afrika memahat sebuah
simbol indah yang menggambarkan suatu hubungan yang
Allah rancangkan saat Ia menciptakan pasangan manusia
pertama dan menyatakan mereka sebagai satu daging.
Melalui pahatan kayunya, orang percaya yang sangat
berbakat ini mengilustrasikan tujuh hal yang menjadikan
suami dan isteri sebagai satu daging.
Pahatan kayunya yang indah ini berbentuk seorang pria
dan seorang wanita. Keduanya disatukan oleh sebuah rantai
yang memiliki lima mata rantai rangkap. Rantai yang
menyatukan mereka ini disambungkan ke mata rantai yang
terdapat di atas masing-masing kepala mereka. Setiap mata
rantai ini mewakili dimensi kesatuan yang Allah tetapkan
bagi mereka. Mata rantai di atas kepala mereka mewakili
hubungan spiritual yang dimiliki masing-masing pribadi
dengan Allah. Fakta bahwa mata rantai lainnya disatukan
dengan kedua mata rantai di atas kepala ini menunjukkan
fakta bahwa hubungan spiritual mereka merupakan pondasi
dari semua dimensi kesatuan mereka.
Mata rantai rangkap pertama mewakili komunikasi, yang
merupakan alat yang memungkinkan mereka menguatkan
dan menjaga kesatuan mereka. Mata rantai berikutnya
adalah kecocokan, yang merupakan bukti dari kesatuan
mereka. Mata rantai yang di tengah mewakili kasih, yang
merupakan dinamika kesatuan mereka. Mata rantai kasih ini
diikuti oleh mata rantai pengertian, yang mewakili
pertumbuhan kesatuan mereka. Mata rantai rangkap terakhir
yang menjadikan mereka sebagai satu daging adalah seks,
yang merupakan ekspresi sukacita kesatuan mereka.
Fakta bahwa setiap mata rantai ini merupakan mata
rantai rangkap menggambarkan realita bahwa semua
dimensi kesatuan ini sifatnya timbal balik, atau melibatkan
tindakan memberi dan menerima di antara suami dan isteri.
Bila Anda menambahkan mata rantai di atas kepala mereka,
yang mewakili hubungan spiritual tiap-tiap pribadi dengan
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

3
Allah, kepada kelima mata rantai lainnya, maka Anda
mendapatkan tujuh mata rantai kesatuan.
Program siaran kami mengenai pernikahan dan keluarga
didasarkan pada ketujuh dimensi pernikahan yang
digambarkan melalui ketujuh mata rantai yang menjadikan
suami dan isteri sebagai satu daging. Dalam kedua buklet
ini, saya akan memberikan kepada Anda sebuah ringkasan
dari apa yang sudah Anda dengar dari program siaran kami
mengenai hukum Allah atas pernikahan dan keluarga.



BAB 1
Mata Rantai Pengertian

Saat memberikan konseling bagi pasangan menikah
sepanjang pelayanan pastoral saya, ada satu keluhan yang
berulang-ulang kali saya dengar: Suami saya tidak
memahami saya atau Isteri saya tidak memahami saya.
Tidak adanya saling pengertian itulah yang membuat para
pasangan bermasalah ini mendiskusikan pernikahan mereka
dengan pendeta mereka. Salah satu definisi pengertian
adalah Kesepakatan bersama yang meniadakan perbedaan-
perbedaan. Definisi lainnya adalah Pemahaman bersama
mengenai berbagai gagasan dan tujuan yang menuntun
kepada kepekaan dan simpati.
Rasul Petrus memerintahkan kepada para suami untuk
hidup bijaksana dengan isteri mereka, atau memahami isteri
mereka (I Petrus 3:7). Para suami, seberapa baik Anda
mengenal isteri Anda? Jika isteri Anda mengalami kecelakaan
mobil dan dokter memanggil Anda ke rumah sakit lalu
bertanya kepada Anda, dapatkah Anda memberikan kepada
rumah sakit mengenai sejarah lengkap kesehatan isteri
Anda? Jika isteri Anda mengalami gangguan emosional,
dapatkah Anda memberikan kepada petugas kesehatan
tentang sejarah lengkap sosial isteri Anda? Cukup adil bila
menanyakan hal yang sama kepada para isteri tentang
suami mereka. Seberapa baik Anda mengenal suami Anda?
Seberapa baik Anda berdua saling mengenal satu sama lain?
Apakah Anda saling memahami satu sama lain?
Seberapa pentingkah pengertian dalam sebuah
pernikahan? Seberapa pentingkah pengertian terhadap
kesatuan di antara suami dan isteri? Saya rasa kita tidak
terlalu berlebihan menekankan betapa pentingnya
pengertian itu, bila dua pribadi yang dipersatukan Allah
memang ingin mengalami apa yang Allah telah rancangkan
untuk mereka alami dalam pernikahan mereka. Jika
pasangan menikah, baik secara individu maupun bersama,
memiliki suatu hubungan dengan Allah, bila dalam hubungan
mereka satu sama lain, mereka begitu bersukacita untuk
mengekspresikan komunikasi, kecocokan, kasih dan saling
pengertian, maka keseluruhan mata rantai kesatuan ini akan
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

4
membawa perbedaan antara memiliki pengaturan hidup,
dengan hubungan pernikahan asli yang Allah rancangkan
saat Ia menjadikan manusia pertama; laki-laki dan
perempuan menjadi satu daging.
Saya memiliki pengalaman puluhan tahun dalam
pelayanan pekabaran injil untuk menjangkau kaum pria yang
memiliki nilai-nilai hidup sekuler. Dalam berbagai
kesempatan, saya mengatakan kepada mereka: Renungkan
segala hal yang isteri Anda lakukan untuk Anda. Bila Anda
cukup kaya, Anda akan sanggup membeli segala sesuatu.
Anda dapat membeli seks. Anda bahkan dapat menyewa
seorang ibu pengganti untuk melahirkan bayi bagi Anda, dan
seorang pengasuh untuk membesarkan mereka. Namun satu
hal yang tidak dapat Anda beli ialah hubungan yang Allah
rancangkan bagi seorang suami dan isterinya.
Sebagai orang-orang rohani, yang senantiasa mencari
pendekatan rohani dan alkitabiah mengenai pernikahan dan
keluarga, kita mengakui fakta bahwa Allah merancangkan
pernikahan sebagai suatu hubungan. Saat kita membangun
hubungan itu bersama-sama, maka saling memahami satu
sama lain haruslah menjadi salah satu dasar dari apa yang
kita bangun. Hubungan pribadi kita dengan Allah dan
pengaruhnya bagi pernikahan kita merupakan pondasi
kesatuan kita. Komunikasi merupakan alat yang dengannya
kita bisa menguatkan dan menjaga kesatuan kita. Kecocokan
merupakan bukti dari kesatuan kita. Kasih yang ilahi
merupakan dinamika yang menggerakkan kesatuan kita dan
saling memahami satu sama lain akan menghasilkan
pertumbuhan dari kesatuan kita. Bila kita saling memahami,
kita dapat membangun dan melihat bahwa hubungan kita
bertumbuh.
Puluhan tahun yang lalu, seorang psikolog
berkebangsaan Swiss yang juga seorang percaya, menulis
sebuah buku kecil yang luar biasa berjudul, To Understand
Each Other atau Agar Saling Memahami Satu Sama Lain.
Dalam bukunya yang luar biasa ini, Dr. Paul Tounier
mengatakan, bahwa untuk dapat saling memahami satu
sama lain, kita harus memiliki keinginan untuk saling
memahami; kita harus memiliki keberanian untuk benar-
benar berkomunikasi; kita harus memahami perbedaan di
antara jenis kelamin; kita harus memahami pentingnya masa
lalu, dan kita harus memiliki dimensi spiritual dalam
pernikahan kita.
Renungkan tentang resiko yang muncul akibat tidak
adanya pengertian satu sama lain. Saat ini, di berbagai
tempat di dunia, sedang terjadi wabah perceraian. Dalam
banyak kebudayaan dan dalam banyak pernikahan, sang
suami meninggalkan rumah untuk bekerja, sedangkan
isterinya menjalankan tanggung jawabnya di rumah
mengurus anak-anak. Sang suami, dengan berpakaian rapi
dan menarik di kantornya, bekerja berdampingan dengan
orang lain yang berbeda jenis kelamin yang juga berpakaian
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

5
rapi dan menarik. Terkadang, seorang pria dalam lingkungan
yang seperti ini, lebih banyak berkomunikasi dengan
sekretarisnya daripada dengan isterinya. Si pria tahu lebih
banyak tentang sekretarisnya, lebih banyak berbicara
dengannya dan lebih banyak menghabiskan waktu
dengannya. Maka tidaklah mengherankan bila sekretarisnya
ataupun wanita lain yang dengannya ia bekerja, mulai
mengambil tempat pertama dalam hidupnya, dan
pernikahannya pun berakhir dengan perceraian.
Ada juga jutaan pernikahan dimana suami dan isteri
sama-sama meninggalkan rumah di pagi hari untuk bekerja.
Jika pasangan menikah yang berkarir ini terlalu sibuk untuk
dapat mengupayakan hubungan mereka dan tidak adanya
saling pengertian satu sama lain, maka kehadiran orang lain
hanya tinggal menunggu waktu. Hal ini disebabkan setiap
orang memiliki kebutuhan mendalam untuk dipahami,
sehingga suatu saat, baik suami ataupun isteri, akan
bertemu dengan seseorang yang lebih peduli dengannya dan
memahami dirinya.
Saya mengenal seorang pria yang menjadi orang
percaya setelah bertahun-tahun hidup dalam dosa. Saya
berjumpa dengannya tiga kali seminggu selama tiga tahun
untuk pemuridan. Semakin saya mengenalnya, saya pun
menemukan banyak hal tentangnya. Sebelum ia datang
kepada Kristus, ia mempunyai reputasi tidur dengan semua
istri orang selain istrinya sendiri. Ia memang seorang pria
yang bertubuh besar, tampan dan menawan dan ia
mengklaim bahwa banyak wanita yang merayunya. Lalu ia
mengatakan begini: Setiap wanita yang dengannya saya
berselingkuh, tidak terlibat dengan saya karena mereka ingin
berhubungan seksual. Bukan itu yang mereka cari. Yang
sesungguhnya mereka inginkan adalah seseorang yang
dapat diajak berbicara. Mereka bilang kepada saya bahwa
suami mereka tidak pernah berbicara dengan mereka, dan
tidak memahami mereka. Karena itu, mereka berbicara
kepada saya dan mereka percaya bahwa saya memahami
mereka.
Kita pun mendengar kebalikan dari kisah yang sama.
Seorang suami yang tidak dimengerti oleh isterinya sangat
rentan terlibat dalam perselingkuhan. Sangat berbahaya bila
kita mengabaikan kebutuhan pasangan kita untuk
dimengerti. Dalam dunia olahraga, yang menjadi pertahanan
terbaik adalah serangan yang kuat. Pertahanan terbaik kita
agar pasangan kita tidak berpaling kepada orang lain ialah
dengan mengupayakan pertumbuhan kesatuan kita sebagai
pasangan. Hal terpenting dari dimensi pertumbuhan itu
berasal dari upaya kita untuk sebisa mungkin memahami
satu sama lain.

Merayakan Perbedaan Yang Ada
Di sinilah awal yang baik untuk mulai memahami
pasangan Anda, yaitu memahami adanya perbedaan antara
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

6
pria dan wanita. Terdapat perbedaan-perbedaan secara
biologis, fisik, intelektual, emosional dan spiritual antara pria
dan wanita. Pria dan wanita pun berbeda dalam hal cara
berpikir, bertindak, merasakan dan meresponi keadaan.
Bahkan, pria dan wanita beribadah dengan cara yang
berbeda.
Saya tidak akan pernah melupakan sebuah peristiwa
yang terjadi pada saya beberapa tahun yang lalu. Isteri dari
seorang dokter menemui saya. Ia seorang wanita yang
ramah, hidup dalam Tuhan, saleh, sangat aktif di gerejanya,
memimpin kelompok doa dan juga kegiatan lainnya.
Biasanya, saya berjumpa dengannya dalam urusan gereja.
Suaminya seorang dokter bedah yang hebat dan sangat
sukses. Akan tetapi dengan berlinang air mata, ia berkata,
Saya menguatirkan suami saya. Dia bukan orang yang
religius sama sekali. Saya katakan padanya, Kalau begitu
kita harus berdoa untuknya, sebab hanya Allah yang dapat
membuatnya menjadi orang yang religius.
Tiga bulan kemudian, saya diminta melayani seorang
jemaat wanita yang mengalami sakit kritis akibat penyakit
kandung kemih dan jantung. Kandung kemihnya harus
diambil, namun operasi itu sangat riskan karena jantungnya
yang lemah. Saya sedang berada di rumah sakit bersama
suaminya dan berbicara dengannya di sisi tempat tidur
isterinya saat dokter bedah yang tidak religius itu
mengajak saya berbicara di luar kamar. Ia berkata, Saya
benar-benar harus mengangkat kandung kemihnya namun
hal itu sangat beresiko. Rumah sakit ini memiliki sebuah
kapel kecil di lantai bawah. Bersediakah Anda berdoa di
kapel sampai saya mengutus perawat kepada Anda jika
masa kritis pasien ini sudah lewat? Saya menjawab, Tentu.
Dengan senang hati saya akan ke kapel dan berdoa.
Maka pergilah saya ke kapel dan berdoa. Pada pukul 11
pagi itu, saat saya sedang berdoa, saya mengalami suatu
pengalaman rohani tentang wanita tersebut dan saya tahu
bahwa Allah telah melakukan sesuatu. Kira-kira 15 menit
kemudian, seorang perawat mendatangi kapel dan berkata,
Menurut dokter, segalanya baik-baik saja. Kita telah melalui
masa kritis.
Setelah pembedahan, sebelum sang dokter berkata
apapun pada suami sang pasien, ia bergegas menghampiri
saya, menyalami saya dan berkata, Terima kasih banyak
atas doanya. Saya benar-benar berterima kasih. Sungguh
suatu mujizat bahwa kita bisa menjalani operasi ini.
Nah, inilah dokter yang isterinya berkata bahwa ia
bukanlah orang yang religius. Dalam perjumpaan saya
berikutnya dengan sang isteri, saya berkata, Saya rasa
Anda salah menduga. Suami Anda adalah orang yang
religius. Sang isteri menangis saat saya menceritakan apa
yang telah diperbuat suaminya. Dokter ini adalah seorang
yang rohani, namun ia tidak menunjukkan kerohaniannya
sebagaimana yang dilakukan sang isteri. Dan sikapnya itu
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

7
membuat isterinya menyangka bahwa ia tidak rohani sama
sekali. Hal ini pun menunjukkan bahwa sang isteri tidak
mengenal atau memahami suaminya dengan baik.
Bila kita mau memahami pasangan kita, kita harus
terlebih dulu memahami sejumlah perbedaan antar jenis
kelamin. Dua jenis kelamin yang berbeda memang dirancang
Allah untuk berbeda; perbedaan-perbedaan itulah yang
membuat Anda tertarik pada pasangan Anda dan yang
membuat Anda menarik bagi pasangan Anda. Seorang
wanita tertarik kepada seorang pria karena kelaki-lakiannya.
Seorang pria tertarik kepada wanita karena kewanitaannya.
Daripada diubah, perbedaan-perbedaan ini seharusnya
dirayakan. Sungguh menyedihkan bagi wanita bila dikatakan
bahwa jika mereka ingin berharga sebagai seorang wanita,
maka mereka harus meniru dan bersaing dengan peran dan
fungsi pria. Padahal, bukan itu yang membuat wanita
berharga; bahkan yang benar adalah kebalikannya. Sebagai
wanita, peran dan fungsi wanita itulah yang menjadikan
wanita berharga. Dan tentunya, hal yang sama juga terjadi
sebaliknya. Pria akan menemukan keberadaan mereka yang
sejati dengan cara menjalani peran dan fungsi mereka
sebagai pria sebagaimana yang Allah kehendaki.
Jika kita berdua sama persis, maka salah satu dari kita
tidak akan diperlukan. Allah menjadikan kita berbeda sebab,
sebagaimana yang kita pelajari dalam kisah penciptaan
dalam kitab Kejadian, perbedaan-perbedaan kita merupakan
pelengkap dan tambahan sampai di antara kita berdua
menjadi Adam yang utuh. [Allah menyebut mereka dengan
sebutan Adam, bukan Adam-Adam (Kejadian 5:1)]
Rancangan Allah bukanlah bagi salah satu dari mereka,
namun bagi keduanya sekaligus saat Allah membuat pria dan
wanita menjadi satu daging.

Pentingnya Masa Lalu
Setiap kita dibentuk oleh pengalaman hidup kita. Dalam
tahun-tahun hidup Anda sebelum bertemu dengan pasangan
Anda, baik Anda maupun pasangan Anda telah dibentuk
melalui berbagai keadaan dan pengaruh keluarga hingga
Anda menjadi pribadi tersendiri saat Anda berdua saling
bertemu. Bila Anda ingin saling memahami, maka yang
harus Anda lakukan adalah memahami pentingnya pengaruh
masa lalu yang menjadikan Anda seperti sekarang ini.
Ijinkan saya menceritakan sebuah ilustrasi pribadi.
Di akhir tahun 1960-an, isteri saya menderita sakit
parah. Bahkan, orang yang mengenal kami berdua pada saat
itu dan yang sekarang melihat kami, menyangka bahwa istri
saya akan menggunakan kursi roda. Pada suatu hari ketika
saya pulang, ia demam dan persendiannya bengkak. Saya
menjadi marah dan depresi. Saya bahkan menendang
tempat tidur! Tentu, itu adalah respon terakhir yang ia
harapkan dari suaminya. Saya benar-benar seorang suami
penolong! Akan tetapi di kemudian hari, kami merasa
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

8
terbantu untuk menengok ke belakang dan mencoba mencari
tahu mengapa respon saya seperti itu ketika ia sakit.
Ketika saya masih kecil, ibu saya jatuh sakit. Kami
semua 11 bersaudara, dan tidak lama setelah anak yang
bungsu lahir, ibu saya didiagnosa menderita kanker usus.
Setelah dioperasi besar dan 2 tahun menderita sakit parah,
akhirnya Tuhan memanggil pulang ibu saya. Sepanjang
masa itu, saya memperhatikan ayah saya. Di rumahnya
terdapat banyak anak dan seorang isteri yang sakit. Untuk
menjaga keutuhan keluarga kami, ia bekerja sebagai tukang
pos sepanjang hari dan mengemudi taksi di waktu malam.
Lalu, terlintas suatu pemikiran dalam benak saya:
Wanita bisanya hanya sakit dan meninggalkan Anda dengan
banyak anak. Ketika istri saya sakit, kami telah mempunyai
5 orang anak: 2 orang anak masih menggunakan popok dan
3 orang anak lainnya masih balita. Dan ketika saya pulang
hari itu dan menemukannya dalam keadaan menderita,
segala dampak dari ratusan jam menyaksikan ibu saya
meninggal dan melihat perjuangan ayah saya, membuat
saya merespon demikian. Mengingat apa yang telah terjadi,
tidaklah sulit untuk memahami mengapa saya menjadi
marah dan depresi ketika isteri saya jatuh sakit.
Adalah penting bagi isteri saya untuk memahami masa
lalu saya. Karena jika tidak demikian, tentunya ia sudah
mengajukan cerai! Sebaliknya, ia mengambil waktu untuk
memahami dari mana kemarahan dan depresi saya berasal.
Pada akhirnya, saya harus berkata pada diri saya sendiri,
Hei sadarlah, dia bukanlah ibumu. Dia adalah isterimu dan
ia membutuhkan pertolonganmu. Memahami segala
pengaruh masa lalu yang membentuk isteri saya menjadi
pribadi yang ada sekarang ini sangat membantu saya pada
saat-saat tertentu. Bila Anda ingin memahami orang yang
hidup bersama Anda, maka Anda harus menyadari
pentingnya masa lalu.

Kesakralan Individualitas
Allah menjadikan setiap kita berbeda-beda. Ia
membuang polanya setiap kali Ia menciptakan manusia.
Kata diri menurut kamus artinya keunikan, individualitas
masing-masing orang yang membedakannya dari orang
lain. Dari pengamatan saya sebagai seorang pendeta
selama bertahun-tahun, penjelasan utama dari
ketidakbahagiaan adalah realita bahwa orang tidak menjadi
siapa, apa dan tidak berada di tempat yang Allah telah
rancangkan bagi mereka. Suami dan isteri dapat saling
membantu untuk menemukan individualitas yang telah Allah
tentukan bagi mereka, begitu pula dengan kehendak Allah
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna
bagi hidup mereka (Roma 12:1-2).
Inilah faktor kunci pentingnya saling memahami dalam
pernikahan. Seseorang mengartikan pengertian sebagai
kesepakatan bersama yang meniadakan perbedaan-
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

9
perbedaan. Bukankah suatu definisi yang indah dari kata
pengertian? Definisi lainnya berkata, pemahaman bersama
mengenai berbagai gagasan dan tujuan yang menuntun
kepada kepekaan dan simpati. Maka untuk memahami
orang yang hidup bersama Anda, Anda harus memahami
perbedaan antara lawan jenis; Anda pun harus memahami
pentingnya masa lalu.
Untuk memahami pasangan Anda, Anda harus memiliki
keinginan memahami untuk memahami pasangan Anda. Ada
banyak pasangan menikah yang tidak mau menyediakan
waktu dan emosi yang diperlukan untuk memahami
pasangan mereka. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda
benar-benar ingin memahami teman hidup Anda? Jika ya,
simaklah beberapa saran ini.
Pertama, untuk memahami pasangan Anda, kita harus
menerapkan Aturan Emas. Yesus berkata, Segala sesuatu
yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,
perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh
hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 7:12) Inilah ayat
terbesar dalam Alkitab mengenai hubungan antar manusia.
Untuk menerapkan ajaran ini, para isteri harus bertanya
pada diri mereka sendiri, Bila saya menjadi seorang suami,
apa yang saya ingin agar isteri saya lakukan? Dan para
suami pun harus bertanya pada diri mereka sendiri, Bila
saya menjadi seorang isteri, apa yang saya ingin agar suami
saya lakukan? Hal ini bertentangan dengan sifat dasar kita
yang ingin dilayani, namun bila kita meminta kasih karunia
Allah, maka kita akan dapat terpusat pada pasangan kita dan
menerapkan Aturan Emas yang Yesus ajarkan selagi kita
berusaha untuk saling memahami.
Kedua, kita harus mendengarkan pasangan kita.
Mendengarkan adalah suatu seni, dan ada begitu banyak hal
yang belum kita ketahui dan yang harus kita pelajari tentang
hal mendengarkan. Seringkali suami dan isteri benar-benar
tidak mau saling mendengarkan. Saat mereka katakan
bahwa mereka sedang mendengarkan pasangan mereka,
yang sesungguhnya mereka maksudkan ialah, Saya sedang
berpikir tentang apa yang akan saya katakan untuk
membuatmu diam. Yesus berkata, Siapa bertelinga,
hendaklah ia mendengar! (Matius 11:15) Apakah Anda
benar-benar mendengarkan isteri atau suami Anda saat ia
berusaha berkomunikasi dengan Anda?
Injil Lukas mencatat sebuah kisah yang menggambarkan
kunjungan Yesus ke rumah seorang Farisi. Seorang wanita
masuk ke rumah tersebut dan ia menangis saat ia
mengetahui bahwa orang Farisi tersebut tidak membersihkan
kaki Yesus. Ini berarti sang orang Farisi tersebut tidak
menunjukkan keramahtamahan kepada Yesus. Wanita ini
membiarkan air matanya membasahi kaki Yesus, lalu ia
menyekanya dengan rambutnya. Orang Farisi ini berpikir,
Jika saja Ia tahu wanita seperti apa dia, maka Ia tidak akan
membiarkan hal ini terjadi.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

10
Akan tetapi, saat orang Farisi ini berpikir demikian,
Yesus menanyakan kepadanya sebuah pertanyaan penting,
Ia berkata, Simon, Engkau lihat perempuan ini? Ada begitu
banyak kata berbeda dalam bahasa Yunani yang merujuk
pada tindakan melihat. Pada kisah ini, kata yang Yesus
gunakan memiliki arti, Apakah engkau sungguh-sungguh
memahaminya? Atau, apa yang kau pahami saat engkau
melihat perempuan ini? Saya rasa ini adalah pertanyaan
yang baik bagi para suami. Apa yang Anda benar-benar lihat
dari wanita yang Anda nikahi? Apakah Anda sungguh-
sungguh mendengarkan isteri Anda saat ia berusaha
berkomunikasi dengan Anda?
Fransiskus dari Asisi adalah salah seorang tokoh panutan
saya. Saat ia belajar di seminari, hal itu menjadi berita besar
sebab ia berasal dari keluarga terpandang. Setelah mengikuti
segala pelatihan seminari (yang pada zaman itu berarti hidup
sebagai pengemis dengan pakaian compang-camping hanya
untuk membuktikan bahwa Anda telah meninggalkan dunia,
daging dan iblis), maka sesuai tradisi pada saat pentahbisan,
sang kandidat harus berkhotbah. Katedral dipenuhi dengan
jemaat yang ingin menyaksikan pentahbisan Fransiskus
sebab ia adalah seorang yang sangat terkenal sebelum ia
masuk biara. Saat ia bersiap untuk berkhotbah, dimana
semua orang menyangka bahwa khotbahnya akan menjadi
khotbah terbesar, ia hanya berkata, Allah tidak memanggil
saya untuk berkhotbah, melainkan untuk berbuat. Mari kita
berdoa. Lalu Fransiskus menaikkan doa ini:
Tuhan, jadikan kami alat perdamaian-Mu. Biarlah kami
menabur kasih dimana ada kebencian; mengampuni dimana
ada dendam; beriman dimana ada kebimbangan;
menimbulkan pengharapan dimana ada keputusasaan;
membawa terang dimana ada kegelapan; dan memberi
sukacita dimana ada dukacita. Ya Allah yang Mulia, biarlah
kami jangan mencari untuk dihibur melainkan untuk
menghibur; untuk dipahami, melainkan memahami; untuk
dicintai, melainkan untuk mencintai. Sebab di dalam
memberi, kami menerima; Di dalam mengampuni, kami
diampuni; dengan mati di dalam Kristus kami bangkit lagi,
untuk hidup yang kekal.
Inilah sebuah doa yang luar biasa dan perilaku yang
mengagumkan yang seharusnya kita terapkan saat
menghadapi tantangan untuk memahami pasangan kita
dalam pernikahan kita. Biarlah kami jangan mencari untuk
untuk dipahami, melainkan memahami. Kunci untuk
memahami orang yang hidup bersama Anda adalah
berpusatlah pada pasangan Anda. Untuk memahami
pasangan Anda, Anda harus mampu membaca di antara
kalimat dan mendengar di antara kata-kata kebutuhan
pasangan Anda.
Seperti halnya pengajaran Yesus, doa Fransiskus ini
menyampaikan sebuah konsep yang relatif sederhana.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

11
Namun kebenaran yang sederhana ini dapat menimbulkan
dampak yang besar saat Anda menerapkannya ke dalam
pernikahan Anda. Kebenarannya adalah, tempatkan
pasangan Anda di pusat dan janganlah terlalu kuatir tentang
dimengertinya diri Anda. Hal yang seharusnya Anda pikirkan
bukanlah bahwa pasangan Anda yang memahami Anda,
melainkan Anda dapat memahami pasangan Anda.
Pertanyaannya bukanlah apakah Anda sudah menerima
kasih, tapi apakah Anda sudah memberikan kasih.

Komunikasi Mendalam
Agar dapat memahami pasangan Anda, Anda harus
berkomunikasi pada tingkatan yang mendalam. Terdapat
beberapa tingkatan dalam komunikasi rumah tangga.
Pertama, tidak adanya komunikasi, yang merupakan
tingkatan yang dangkal dimana Anda dan pasangan Anda
tidak membicarakan sesuatu yang penting. Pada tingkatan
yang sedikit lebih mendalam, Anda dan pasangan Anda
membicarakan apa yang Anda berdua ketahui. Lebih dalam
lagi, Anda mulai berbagi tentang apa yang Anda pikirkan,
dan setelah itu tentang apa yang Anda rasakan. Pada
tingkatan komunikasi terdalam, Anda mulai membicarakan
tentang siapa diri Anda, apa yang Anda lakukan dan dimana
Anda dalam kehidupan Anda sekarang, sehubungan dengan
siapa, apa, dan dimana Anda seharusnya berada sesuai
dengan kehendak Allah yang Anda percayai.
Tentunya komunikasi pada tingkatan ini lebih dari
sekedar berkata tolong operkan garam atau tampaknya
hari ini akan hujan. Pada saat Anda berkomunikasi secara
mendalam, Anda sedang mempercayakan hati Anda kepada
pasangan Anda dan ia dapat melakukan apapun dengannya.
Pasangan Anda bisa meremasnya. Ia bisa membanting dan
menginjaknya. Mungkin hal terparah yang dapat ia lakukan
terhadap hati Anda ialah mengabaikannya.
Dalam sebuah sesi konseling, saya pernah mendengar
ucapan terburuk yang pernah dikatakan seseorang terhadap
pasangannya. Sang suami adalah seorang yang besar dan
tangguh. Sepanjang sesi konseling, isterinya terus saja
menanyakan kepadanya, Kamu anggap aku apa? Kamu
anggap aku apa? Pada akhirnya pria ini memandang kepada
isterinya dan menjawab, Hey, jangan gede rasa. Aku sama
sekali tidak memikirkan kamu. Kebalikan dari kasih
bukanlah kebencian, melainkan ketidakacuhan. Sang suami
tersebut sedang menyampaikan kebalikan dari kasih saat ia
mengucapkan perkataan tersebut kepada isterinya.
Ketika mempercayakan hati Anda kepada pasangan
Anda, Anda bisa saja terluka. Akan tetapi, Anda tidak akan
benar-benar saling memahami hingga Anda siap untuk ada
dalam posisi yang rentan. Berkomunikasi secara mendalam
artinya belajar untuk menangani konflik. Saat Anda
berkomunikasi secara mendalam, maka pasangan Anda tidak
akan selalu mengatakan apa yang Anda ingin dengar.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

12
Seorang pasangan yang baik, yang peduli akan pertumbuhan
Anda, akan mengatakan hal-hal yang perlu Anda dengar
meskipun mungkin Anda tidak ingin mendengarnya. Itulah
mengapa Dr. Tounier menuliskan sebuah bab mengenai
keberanian untuk berkomunikasi. Saat Anda mendengar
pasangan Anda mengatakan suatu hal yang perlu Anda
dengar dan Anda tidak mau mendengarnya, maka Anda bisa
menarik diri seperti halnya kura-kura yang masuk ke dalam
cangkangnya, atau Anda dapat belajar bagaimana caranya
menangani konflik yang muncul karena komunikasi yang
mendalam antara Anda berdua.

Mengatasi Kemarahan
Pasangan menikah yang berkomunikasi secara
mendalam juga harus belajar bagaimana caranya mengatasi
kemarahan. Orang yang paling kita kasihi memiliki kapasitas
terbesar untuk membuat kita marah. Amarah merupakan
emosi yang menarik. Apa pendapat Anda mengenai amarah
dalam kehidupan orang percaya? Apakah Anda yakin bahwa
Allah menghendaki agar pengikut Kristus yang dipenuhi Roh
Kudus menjadi marah? Apakah amarah merupakan emosi
yang dapat dimaklumi bagi seorang murid Yesus?
Dengarkanlah perkataan Paulus mengenai amarah dalam
kehidupan orang percaya:
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat
dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam
amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis
Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang
telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan
fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula
segala kejahatan. (Efesus 4:26-27, 30-31) Yakobus pun
memberikan penjelasan yang singkat dan terus terang
mengenai amarah saat ia menulis: Sebab amarah manusia
tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Yak. 1:20)

Perspektif Pribadi
Ketika saya baru menikah, meskipun saya orang
percaya, saya pun seorang pemarah. Saya berkata pada diri
saya bahwa itu adalah kemarahan yang benar, tapi tentu
saja hal itu tidak benar. Saya harus menyelidiki Firman
Tuhan untuk belajar tentang apa yang Allah ajarkan
mengenai amarah. Dalam satu kesempatan, saya pernah
meninju bagian atas radio sampai berlubang. Terlihat seperti
sebuah bom telah menghancurkan radio itu! Dua tahun
kemudian kami pindah dan istri saya membawa serta radio
rusak tersebut. Ia meletakkannya di rak dekat tempat tidur
kami hanya sekedar untuk mengingatkan saya. Saya sudah
berusaha menjelaskan kepadanya bahwa sesungguhnya saya
bukan marah terhadapnya. Saya telah dipermalukan seorang
bankir saat saya mengajukan pinjaman. Sesungguhnya saya
marah pada diri saya sendiri karena telah salah mengatur
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

13
keuangan kami, sehingga akhirnya saya meninju radio
tersebut.
Ada beberapa pertanyaan mengenai amarah yang harus
Anda tanyakan pada diri Anda sendiri. Mengapa Anda
marah? Kepada siapa Anda marah? Apa penyebab
kemarahan Anda? Apa sebenarnya sasaran kemarahan
Anda? Saat kita melampiaskan kemarahan kita kepada
seseorang, sangat jarang bahwa orang tersebutlah yang
menjadi penyebab dan sasaran sebenarnya kemarahan kita.
Seringkali kita marah kepada diri kita sendiri, seperti halnya
saya sendiri. Mungkin Anda marah kepada atasan Anda dan
Anda tidak dapat meninju mukanya, maka Anda merusakkan
suatu barang sesampainya Anda di rumah. Meskipun terlihat
bahwa seolah-olah Anda marah kepada isteri Anda dan isteri
Anda pun berpikir bahwa Anda marah terhadapnya, namun
sebenarnya Anda tidak marah terhadapnya. Anda pun
sebenarnya tidak marah terhadap atasan Anda. Sebenarnya
Anda marah terhadap diri Anda sendiri. Sangatlah penting
bagi Anda dan pasangan Anda untuk memahami penyebab
kemarahan Anda.
Dalam bagian Firman yang telah kita baca tadi, sudah
jelas bahwa Allah tidak menghendaki orang-orang percaya
yang dikendalikan Roh Kudus untuk menjadi marah. Dalam
Perjanjian Baru kita membaca: Apabila kamu menjadi
marah, janganlah kamu berbuat dosa. (Efesus 4:26)
Beberapa orang menekankan bagian pertama ayat ini
sebagai ayat pegangan dalam hidup mereka: Kamu menjadi
marah... Namun terjemahan yang lebih tepat adalah,
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat
dosa. Allah cukup realistis bahwa kita semua pasti sesekali
akan marah. Namun, pesan Alkitab bagi orang percaya yang
pemarah adalah, Janganlah amarah itu menuntun pada
dosa, dan janganlah matahari terbenam sebelum padam
amarahmu. Inti dari apa yang dikatakan Firman Tuhan
mengenai amarah kita ialah bahwa kita harus
menyingkirkan segala kegeraman dan kemarahan. (Efesus
4:26,31)
Saat saya menyadari bahwa Allah mengajarkan kepada
saya dalam Firman-Nya agar saya tidak menjadi marah, agar
saya menyingkirkannya, pertanyaan saya adalah,
Bagaimana caranya? Pertanyaan saya itu menuntun saya
kepada sebuah pasal dalam kitab Kejadian, yang bukan
hanya menjawab pertanyaan saya, tetapi yang juga
melepaskan saya dari kemarahan saya. Saya menyarankan
pasal ini kepada Anda bila Anda sedang bergumul dengan
masalah ini. Pasal ini merupakan salah satu kisah yang luar
biasa dan yang paling dikenal dalam Alkitab: Setelah
beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan
sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban
persembahan; Habel juga mempersembahkan korban
persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni
lemak-lemaknya; maka Tuhan mengindahkan Habel dan
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

14
korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban
persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain
menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman Tuhan
kepada Kain: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?
Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat
baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah
mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,
tetapi engkau harus berkuasa atasnya.
Kata Kain kepada Habel, adiknya: Marilah kita pergi ke
padang. Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain
memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman
TUHAN kepada Kain: Di mana Habel, adikmu itu?
Jawabnya: Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?
Firman-Nya: Apakah yang telah kauperbuat ini? (Kejadian
4:3-10)
Dalam drama sederhana ini, kita mendapatkan pelajaran
berharga tentang amarah. Di dalamnya ada dua pribadi,
Orang Yang Dapat Diterima (Habel) dan Orang Yang Tidak
Dapat Diterima (Kain). Mereka sama-sama memberikan
persembahan kepada Allah. Sesungguhnya hal itu
merupakan ide Kain pada mulanya. Ternyata Allah berkenan
terhadap Habel dan persembahan Habel namun tidak
berkenan kepada Kain maupun persembahan Kain. Saya
tidak yakin bahwa kita diberitahu hal apa dari persembahan
Kain itu yang membuatnya tidak diindahkan Tuhan. Kain
seorang petani, wajar kalau ia mempersembahkan hasil
tanahnya. Kisah ini menyatakan secara tidak langsung
bahwa ia tidak mempersembahkan yang terbaik dari hasil
tanahnya.
Habel adalah seorang gembala, maka ia
mempersembahkan seekor hewan. Banyak orang
mengatakan bahwa masalahnya terletak pada persembahan
Habel yang merupakan persembahan darah kurban dan
persembahan Kain tidak, namun sejauh ini dalam Alkitab,
tidak ada perintah apapun mengenai mempersembahkan
darah kurban. Saya rasa penekanannya lebih terletak pada
kedua orang ini dibandingkan pada persembahan mereka.
Salah satu dari kedua orang ini berkenan kepada Allah,
sehingga Allah menerima persembahannya. Orang yang satu
tidak berkenan kepada Allah, sehingga Allah tidak menerima
persembahannya.
Drama ini berlanjut; Orang Yang Dapat Diterima berjalan
bersama Orang Yang Tidak Dapat Diterima dan Orang Yang
Tidak Dapat Diterima memukulinya sampai mati. Setelahnya,
Allah mendatangi Kain dan bertanya padanya, Mengapa
hatimu panas? Mengapa mukamu muram? Dimana adikmu?
Apakah yang telah kau perbuat? Jika engkau berlaku benar,
bukankah engkau akan diterima? Tetapi jika engkau tidak
berbuat baik, amarah ini akan menjadi dosa yang akan
menghancurkanmu!
Inilah pelajaran berharga tentang amarah. Dalam kasus
radio itu, saya tidak marah kepada isteri saya. Saya marah
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

15
kepada diri saya sebab saya adalah Orang Yang Tidak Dapat
Diterima. Karena saya telah salah mengatur keuangan
kami, maka saya marah kepada diri saya sendiri. Allah
bertanya kepada saya, Mengapa engkau marah? Mengapa
engkau meninju radio kecil itu? Pelajaran besar yang saya
dapatkan adalah, Berdamailah dengan Allahmu. Belajarlah
mengelola keuanganmu dengan baik, sehingga engkau
diterima oleh dirimu sendiri, oleh Allah, dan oleh orang lain.
Apabila engkau tidak mengendalikan amarahmu dan
berusaha untuk dapat diterima, maka engkau akan terus
saja meninju radio atau memukul Habel-Habel lainnya dan
sikapmu itu akan menghancurkanmu!
Rasul Paulus memiliki pendapat lain mengenai hal ini
dalam kitab Efesus. Ia menulis, Siapa yang mengasihi
istrinya, mengasihi dirinya sendiri. (Efesus 5:28) Lihatlah,
seandainya saya mengasihi diri sendiri, tentu saya akan
mempunyai kapasitas untuk mengasihi isteri saya. Akan
tetapi, karena saya kecewa terhadap diri sendiri, maka saya
melampiaskan amarah saya kepada isteri saya.
Saat saya mencoba mengatasi masalah amarah saya,
terpikirkan oleh saya bahwa saya mengasihi isteri dan anak-
anak saya. Namun, saya tidak selalu menunjukkan kasih
saya kepada mereka, khususnya saat dimana saya tidak
mengasihi diri saya sendiri. Ketika saya kecewa terhadap
diri sendiri untuk alasan apapun, maka kapasitas saya untuk
menunjukkan kasih itu berkurang. Yang harus saya bangun
adalah rasa menghargai diri sendiri dan memandang diri
saya sebagaimana Allah memandang saya.
Dalam kitab Matius, seorang ahli Taurat menanyai
Yesus, Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum
Taurat? (Matius 22:36) Dan Yesus menjawab, Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan
kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada
kedua hukum itulah tergantung seluruh hukum Taurat dan
kitab para nabi. (Matius 22:37-40)
Dalam perikop ini, Yesus mengajarkan bahwa kita harus
menguasai tiga pandangan kehidupan untuk mendapatkan
apa yang Yesus gambarkan sebagai hidup yang kekal atau
hidup yang berkelimpahan. Kita harus memandang ke atas
dan menjadi sebagaimana seharusnya diri kita dalam
hubungan kita dengan Allah; kita harus memandang ke
dalam dan menjadi pribadi seperti yang Allah kehendaki;
serta kita harus memandang ke sekeliling dan melakukan
seperti apa yang Allah ajarkan dalam Firman-Nya tentang
hubungan kita dengan sesama. Yesus meringkas ketiga
pandangan tersebut dengan mengajarkan agar kita
memandang ke atas dan mengasihi Allah sepenuhnya. Kita
memandang ke dalam diri kita dan mengasihi diri kita
dengan benar. Kita memandang ke sekeliling kita, dan
mengasihi orang lain tanpa syarat.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

16
Mengasihi diri Anda sendiri tidak berarti bahwa Anda
berhenti menyembah setiap kali Anda melewati cermin.
Beberapa orang berpikir demikian. Namun salah seorang
teman saya, seorang mantan pecandu minuman dan obat-
obatan, menyimpulkannya demikian: Kasihi Allah dengan
sepenuhnya, kasihi diri sendiri dengan benar, dan kasihi
sesama tanpa syarat. Teman saya ini bertumbuh secara
rohani saat ia berhasil melakukan ketiga hal tersebut dan
sebagai hasilnya, ia tidak pernah mabuk lagi selama 17
tahun dan merupakan ketua majelis di gereja kami.
Ketika Paulus berkata, Siapa yang mengasihi istrinya,
mengasihi dirinya sendiri, ia sedang membukakan sebuah
rahasia kepada kita. Bila Anda tidak dapat mengasihi saat
Anda memandang ke dalam diri Anda sendiri, bila Anda
marah terhadap diri sendiri sampai kepada titik dimana Anda
memandang hina dan menghancurkan diri Anda sendiri,
maka Anda tidak akan rukun dengan siapapun, khususnya
pasangan Anda.
Bila Anda ingin berbagi hidup dengan seseorang dalam
sebuah ikatan pernikahan, maka Anda harus memahami
orang tersebut. Kita tidak dapat memisahkan pemahaman
kita antara satu dengan yang lain terhadap komunikasi kita
satu sama lain dan komunikasi kita dengan Allah.



Bagaimanakah Kita Dapat Memahami Satu Sama Lain?
Sesungguhnya kita tidak dapat mengerti diri kita
sepenuhnya, apalagi pasangan kita. Yeremia berkata,
Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu,
hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat
mengetahuinya? (Yeremia 17:9) Dalam ayat berikutnya,
suara Allah menjawab pertanyaan Yeremia tersebut. Aku,
TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin... (Yer.
17:10) Karena memang demikian adanya, maka seperti
halnya Daud, kita seharusnya memandang kepada Allah dan
berkata, Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah
aku dan kenallah pikiran-pikiranku. (Mazmur 139:23)
Berkomunikasi dengan Allah sesungguhnya merupakan satu-
satunya cara agar kita dapat memahami diri kita sendiri dan
mulai untuk saling mengerti satu sama lain dalam ikatan
pernikahan. Jika salah satu atau kedua pribadi dalam
pernikahan tidak memiliki komunikasi dengan Allah, maka
mereka tidak akan pernah dapat memahami satu sama lain
dengan baik.
Yakobus mengajarkan kepada kita: Tetapi apabila di
antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia
memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada
semua orang dengan murah hati dan dengan tidak
membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan
kepadanya. (Yakobus 1:5) Dengan kata lain, Anda bisa saja
tidak memahami pasangan Anda, tapi Allah memahaminya.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

17
Saat Anda menyadari bahwa Anda tidak sanggup memahami
pasangan Anda tanpa pertolongan Allah, mintalah kepada
Allah hikmat yang tidak Anda miliki itu.



BAB 2
Kompas Rohani

Kitab Kejadian merupakan sebuah kitab yang berisi
tentang berbagai permulaan. Itulah arti kata kejadian.
Dalam kitab Kejadian, Allah memberitahu kita mengenai
permulaan berbagai hal sebab Ia menghendaki agar kita
memahami berbagai hal tersebut sebagaimana yang Ia
rancangkan. Percakapan pertama yang terekam antara Allah
dan manusia terdapat dalam Kejadian 3, tepat setelah Adam
dan Hawa memakan buah yang dilarang oleh Pencipta
mereka untuk dimakan. Karena ketidaktaatan mereka,
mereka telah memperoleh pengetahuan tentang yang baik
dan yang jahat, sehingga mereka harus menyembunyikan
diri mereka karena perasaan bersalah dan malu.
Kita membaca bahwa Allah mengejar mahluk ciptaan-
Nya yang memberontak itu di taman, dan saat Ia
mendapatkan mereka, Ia bertanya kepada mereka. Bila sang
Pencipta bertanya pada mahluk ciptaan-Nya, hal itu bukan
karena Ia tidak mengetahui jawabannya. Tujuan Allah
bertanya adalah supaya manusia berpikir. Saya mendapati
pertanyaan-pertanyaan Allah ini seperti halnya sebuah
kompas rohani. Oleh karena strategi Alkitabiah dalam
mempertahankan sebuah pernikahan adalah dimulai dari dua
pribadi dalam pernikahan tersebut, maka saya ingin berbagi
kedelapan pertanyaan dalam Alkitab yang Allah tanyakan
kepada kita, yang dapat menolong kedua pribadi dalam
pernikahan untuk memahami diri mereka dan orang lain.
Perkataan-perkataan pertama Allah kepada manusia
yang jatuh dalam dosa ialah berupa pertanyaan-pertanyaan.
Pertanyaan-Nya yang pertama adalah, Dimanakah engkau?
(Kejadian 3:9) Pertanyaan ini mengandung pengertian,
Seharusnya engkau berada di suatu tempat dan engkau
tidak berada di sana. Jadi, dimanakah engkau? Inti
pertanyaan ini adalah Renungkan di mana Anda berada,
sebab Anda tidak berada di mana seharusnya Anda berada.
Adam menjawab, Ketika aku mendengar, bahwa
Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku
telanjang; sebab itu aku bersembunyi. (Kej. 3:10) Dengan
kata lain, Ketika aku mendengar suara-Mu, hal itu
membuatku takut. Saya tahu bahwa suara-Mu akan
mengekspos ketelanjanganku dan aku tidak ingin ketahuan.
Inilah gambaran yang sangat akurat akan sifat manusia,
baik di masa lalu maupun pada masa kini. Pernahkah Anda
memiliki keyakinan bahwa Anda seharusnya berada di suatu
tempat, dan Anda tidak berada disana? Renungkanlah bahwa
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

18
keyakinan Anda itu mungkin saja Allah yang sedang
bertanya kepada Anda, Dimanakah engkau? Mungkinkah
bahwa apa yang kita sebut krisis identitas sesungguhnya
adalah apa yang Allah beritahukan dalam Kejadian 3?
Apakah mungkin Allah menghendaki kita untuk mengerti,
sebagaimana yang terjadi dengan Adam dan Hawa, suatu
keajaiban bahwa Pencipta kita mengejar diri kita dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan kita, disebabkan
kita tidak berada di tempat yang Ia kehendaki?
Pertanyaan kedua yang Allah tanyakan adalah, Siapa
yang memberitahukannya kepadamu? Lebih spesifik lagi
pertanyaannya adalah, Siapakah yang memberitahukan
kepadamu, bahwa engkau telanjang? (Kej. 3:11) Kitab
Taurat menuliskan, Siapakah yang membuatmu mengetahui
hal itu? Pertanyaan kedua Allah ini membawa Adam dan
Hawa kembali ke saat dimana mereka makan dari pohon
yang terlarang itu. Saat mereka makan dari pohon yang
salah, kita membaca, Maka terbukalah mata mereka berdua
dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka
menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (Kej. 3:7)
Sekarang Allah bertanya, Saat engkau mengetahui
bahwa engkau telanjang, siapa yang membuatmu
mengetahui bahwa engkau telanjang? Jawabannya adalah
Allah mereka sendiri yang membuat mereka mengetahui
bahwa mereka telanjang sebab Ia mengasihi mereka.
Percakapan antara Allah dengan Adam dan Hawa ini
merupakan sebuah gambaran indah akan kasih Allah, pada
saat itu dan pada saat sekarang. Allahlah yang membukakan
mata mereka, sebab Ia menghendaki mahluk ciptaan-Nya
untuk mengerti apa yang telah mereka lakukan, dan agar
mereka melakukan sesuatu terhadap fakta bahwa mereka
tidak berada dimana seharusnya mereka berada. Allah
mengekspresikan kasih-Nya dengan cara yang sama kepada
kita saat ini.
Pertanyaan Allah yang ketiga dan keempat menuntun
mereka kepada pengakuan. Pertanyaan ketiga ialah,
Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang
engkau makan itu? (Kej. 3:11) Saya percaya bahwa pohon-
pohon ini adalah kiasan. Saya tidak mengatakan bahwa
kisah ini adalah mitos atau fiktif dan tidak bermakna. Sebuah
kiasan adalah cerita di mana orang, tempat, dan benda-
benda mempunyai makna yang lebih mendalam dan
biasanya bermakna rohani atau moral. Pernahkah Anda
melihat pohon pengetahuan? Pernahkah Anda melihat pohon
kehidupan? Pernahkah Anda melihat atau mendengar suara
berjalan? Itulah bahasa kiasan, akan tetapi Kebenaran
apakah yang mau diajarkan di sini?
Dalam kiasan pohon-pohon ini, sesungguhnya yang Allah
sampaikan adalah Aku menempatkanmu di dunia ini dan
Aku lebih mengetahui kebutuhanmu daripada dirimu sendiri.
Aku sanggup memenuhi segala kebutuhanmu melalui pohon-
pohon ini, kalau saja engkau memakan buahnya seturut apa
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

19
yang Kurancangkan untuk memenuhi kebutuhanmu melalui
pohon-pohon ini.
Kita membaca bahwa Allah menanam pohon-pohon ini
dalam suatu urutan prioritas. (Kejadian 2:8-9) Pertama,
pohon-pohon tersebut dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan mata mereka. Dalam Alkitab, hal itu berarti
pikiran atau bagaimana Anda memandang segalanya. Pada
intinya Yesus berkata kepada kita, Jika matamu sehat,
maka keseluruhan tubuhmu akan diliputi dengan terang.
Namun, bila matamu (cara Anda memandang segalanya)
cacat, maka keseluruhan tubuhmu akan diliputi kegelapan.
(Matius 6:22-23) Cara kita memandang segalanya itu
penting. Menurut Yesus, bagaimana cara kita memandang
segalanya akan membuat perbedaan antara tubuh yang
diliputi dengan terang dan tubuh yang diliputi kegelapan.
Dalam kita Kejadian, secara kiasan Allah berkata,
Kebutuhan terbesarmu adalah agar Aku menunjukkan
kepadamu cara untuk memandang segalanya.
Allah berkata bahwa pohon-pohon dalam taman ini akan
memenuhi kebutuhan mereka akan makanan. Hal itu berarti
segala sesuatu yang dibutuhkan atau bahkan diinginkan
manusia. Secara kiasan, hal ini menyatakan apa yang Yesus
akan katakan berabad-abad kemudian: Manusia hidup
bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar
dari mulut Allah. (Matius 4:4) Bila dari mulanya kita
mengijinkan Allah menunjukkan kepada kita cara untuk
memandang segalanya, maka semua kebutuhan kita akan
terpenuhi melalui apa yang digambarkan pohon-pohon ini.
Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka telah
melanggar urutan prioritas pohon-pohon ini. Pertama-tama,
alasan mereka makan dari pohon terlarang adalah karena
pohon itu baik sebagai sumber makanan, barulah kemudian
karena pohon itu sedap dipandang (Kejadian 3:6).
Pelanggaran terhadap urutan prioritas yang Allah tentukan
ini pada akhirnya menuntun kepada pengusiran mereka dari
taman Eden. Bila kita menolak untuk diperintah dan dipimpin
oleh Firman Allah yang mengajarkan kepada kita bagaimana
caranya hidup bersama dan menjalin hubungan dengan
sesama, maka pelanggaran kita terhadap urutan prioritas
tersebut dapat membawa kepada penggunaan senjata nuklir,
dan bahkan kemungkinan besar bisa meningkatkan perang
nuklir dan pembinasaan manusia dari planet bumi ini.
Dalam kiasan yang mendalam ini, Allah berkata, Aku
menempatkan manusia di bumi ini dan Aku tidak
membiarkannya meraba-raba dalam kegelapan. Telah
Kuberikan Firman-Ku kepadanya, namun ketika ia
mendengar Suara-ku melalui Firman-Ku, maka Suara-ku itu
akan membuatnya tidak leluasa. Ia akan bersembunyi
darinya, sebab suara itu akan memunculkan
ketelanjangannya maupun kebutuhannya. Bila ia tidak
menerapkan Firman-Ku dalam apa yang dibutuhkannya,
maka sepanjang hidupnya akan dihabiskannya bersembunyi
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

20
dari-Ku dan dari kebenaran Firman-Ku. Saat Allah bertanya,
Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang
engkau makan itu?, pada dasarnya artinya adalah, Apakah
engkau sedang mencari jawaban di tempat yang keliru?
Mungkin Anda bertanya-tanya, Apa hubungannya
pertanyaan ini dengan pernikahan? Pertanyaan ini secara
langsung berkenaan dengan diskusi kita mengenai
pernikahan yang Alkitabiah. Ingatkah Anda, bahwa di awal
studi tentang pernikahan dan keluarga ini, saya telah
membuat pengamatan bahwa keempat area masalah dalam
setiap pernikahan adalah:
Area masalah nomor satu ialah suami;
Area masalah nomor dua ialah isteri;
Area masalah nomor tiga ialah suami dan isteri; dan
Area masalah nomor empat ialah anak-anak
Saya pun telah menegaskan bahwa untuk mengupayakan
pernikahan Anda maka haruslah dimulai dari dua pribadi
yang membentuk pernikahan tersebut, khususnya pribadi
yang kepadanya Anda dapat berbuat sesuatu, dan yang
menjadi tanggung jawab Anda itulah diri Anda sendiri.
Jawaban-jawaban yang tepat atas pertanyaan-
pertanyaan Kompas Rohani ini, dapat menolong suami dan
isteri untuk berada di mana mereka seharusnya berada
sebagai suatu pribadi, yang akan menambahkan kesehatan,
kekuatan dan stabilitas yang baik terhadap hubungan
mereka sebagai pasangan menikah.
Sebelum kita membahas pertanyaan berikutnya, saya
hendak menanyakan sebuah pertanyaan kepada Anda
berkenaan dengan pernikahan dan keluarga Anda. Apakah
petunjuk yang Anda dapatkan mengenai pernikahan Anda
berasal dari kebudayaan atau dari Firman Tuhan? Atau
dengan kata lain, Apakah Anda makan dari pohon yang
benar ataukah pohon yang keliru saat Anda mencari tahu
tentang rancangan bagi pernikahan Anda? Pertanyaan
lainnya adalah, Bila Anda mendapatkan rancangan tentang
pernikahan dari kebudayaan Anda, maka seberapa sehatkah
pernikahan dan keluarga Anda?
Mazmur 1 menggambarkan apa yang disebut Alkitab
sebagai Orang yang Diberkati. Kata diberkati berarti
berbahagia. Hal paling pertama yang kita ketahui tentang
orang yang berbahagia adalah bahwa ia menjadi orang yang
diberkati sebab ia tidak berjalan menurut nasihat orang
fasik (ayat 1). Apakah Anda berjalan menurut nasehat
orang fasik? Contohnya, ketika Anda memiliki masalah,
apakah Anda mencari pimpinan Allah dengan cara
menjumpai pendeta Anda atau pembimbing rohani di gereja
Anda, yaitu orang yang hidup di dalam Tuhan dan
mengetahui Firman Tuhan? Ataukah Anda malah menjumpai
seorang yang sekuler dan tidak hidup di dalam Tuhan?
Ketika saya mengikuti seminari, saya seringkali harus
mengambil pinjaman mahasiswa. Pada bank dimana kami
meminjam uang terdapat sebuah tanda kecil bertuliskan:
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

21
Kalau Anda memang pintar, mengapa Anda tidak kaya?
Sebagai mahasiswa seminari, kami merasa sudah
mengetahui segalanya! Akan tetapi, kalimat tersebut
sungguh menyentak kami. Mengapa kami demikian miskin
kalau memang kami demikian pintar?
Sebagian besar dari kita perlu merenungkan pertanyaan
yang serupa: Kalau kita memang pintar, mengapa kita tidak
bahagia? Mengapa kita tidak memiliki pernikahan dan
keluarga yang lebih bahagia? Mungkin kita memang tidak
memahami Alkitab dengan baik. Bila kita bahagia, dan kita
memiliki keluarga bahagia yang menjadi teladan, maka
dengan anugerah Allah, kita menjadi suami dan isteri yang
diberkati dan kita memiliki pernikahan dan keluarga yang
diberkati. Jika itu tidak kita alami, maka secara pribadi kita
perlu membuka Firman Tuhan dan mempersilahkan Allah
memberikan pertanyaan-pertanyaan ini kepada kita.
Pernikahan dan keluarga kita mungkin tidak diberkati
dikarenakan kita berjalan menurut nasihat orang fasik, di
saat kita seharusnya kembali kepada prinsip-prinsip dasar
pernikahan dan keluarga yang terdapat dalam Firman Tuhan.
Bila kita terus makan dari pohon yang keliru, maka
pernikahan dan keluarga kita tidak akan pernah diberkati
Allah.
Kembali kepada pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa
ini, maka pertanyaan keempat yang Allah tanyakan,
sekaligus menjelaskan pengakuan yang Allah dapatkan dari
Adam dan Hawa atas pertanyaan-Nya yang ketiga ialah,
Apa yang telah engkau perbuat? (Kejadian 3:13) Kata
mengaku dalam Alkitab adalah kata majemuk, yang
menggabungkan kata mengucapkan dan kesamaan. Arti
harafiahnya adalah mengucapkan hal yang sama dengan
yang Allah katakan tentang dosa kita atau sepakat dengan
Allah. Inilah yang Allah lakukan saat Ia bertanya kepada
Adam dan Hawa, Apa yang telah engkau perbuat? Ia tahu
secara pasti apa yang telah mereka lakukan, akan tetapi Ia
ingin mendengar mereka mengatakan apa yang telah
diketahui-Nya. Hal ini sama sekali bukan demi kepentingan
Allah, melainkan demi kepentingan mereka.
Saat kita mengakui dosa kita kepada Allah, kita tidak
sedang memberitahu Allah sesuatu yang Ia tidak ketahui.
Jika kita mengakui dosa kita, maka itu bukan demi
kepentingan Allah, melainkan demi keselamatan kita. Tidak
ada seorang pun yang sempurna dan tidak ada yang
namanya pernikahan yang sempurna. Baik secara pribadi
maupun secara bersama sebagai pasangan menikah, kita
perlu mempersilahkan Allah memberikan pertanyaan kepada
kita, Apa yang telah engkau perbuat? dan kemudian
mengucapkan hal yang sama dengan yang Allah katakan
mengenai apa yang telah kita lakukan. Kita memiliki janji
Allah bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia
kepada Firman-Nya dan akan mengampuni apa yang telah
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

22
kita lakukan dan apa yang tidak kita lakukan dalam
pernikahan kita (I Yohanes 1:9).
Tak lama kemudian dalam kitab Kejadian, kita
mendapatkan pertanyaan kelima, saat malaikat Tuhan
menemukan Hagar, hamba Abram dan Sarai yang melarikan
diri. Malaikat Tuhan bertanya kepadanya, Dari manakah
datangmu dan ke manakah pergimu? (Kejadian 16:8)
Saya tidak tahu apakah Anda benar-benar memikirkan
kehendak Allah bagi hidup dan pernikahan Anda, namun jika
memang demikian, maka ijinkan Allah sewaktu-waktu
menanyakan pertanyaan yang baik ini kepada Anda. Inilah
pertanyaan yang seharusnya kita persilahkan untuk Allah
tanyakan kepada kita pada hari-hari terakhir menutup tahun
yang lama sebelum kita memulai tahun yang baru. Dalam
konteks pernikahan kita, inilah pertanyaan yang baik untuk
membangun saat teduh kita bersama Allah pada saat kita
merayakan ulang tahun pernikahan kita.
Inti dari pertanyaan tersebut adalah bila kita tidak
mengalami perubahan, maka kita akan menuju ke tempat
kita berasal. Kita akan mengalami lebih banyak lagi hal-hal
yang serupa kecuali sesuatu terjadi. Pernahkah dalam
kehidupan Anda, Anda merasa tidak tahan memikirkan
tentang hal-hal yang sama yang terus terjadi?
Alkitab tidak pernah menuntut diri kita untuk berubah.
Alkitab mengajarkan kita untuk menghadapi situasi-situasi
tertentu dan mengijinkan Allah untuk mengubah diri kita.
Yesus mengatakan bahwa kita harus dilahirkan kembali
(Yohanes 3:3-5). Namun kita tidak pernah diajarkan untuk
melahirkan rohani kita sendiri. Kelahiran merupakan
pengalaman yang pasif. Kita dilahirkan pada hari dan tahun
tertentu. Kelahiran kita terjadi pada diri kita. Hal yang sama
berlaku pada kelahiran rohani kita. Kita dilahirkan kembali.
Kita berubah melalui pembaharuan pikiran kita (Roma 12:1-
2).
Pengikut Kristus yang telah lahir kembali adalah orang-
orang yang berubah. Mereka adalah orang-orang yang
mengalami perubahan dan mereka melangkah maju menuju
kepada kekekalan dimana mereka akan diubahkan
selamanya (II Korintus 5:17; 3:18; I Korintus 15:51). Fakta
bahwa kita dapat diubahkan mengartikan bahwa dalam
perjalanan hidup dan iman kita, kita tidak perlu lagi kembali
ke tempat dimana kita berasal. Masa lalu kita tidak
menjadikan kehidupan kita di masa sekarang dan masa
mendatang dapat diduga. Kita tidak perlu lagi hidup dengan
lebih banyak kesamaan-kesamaan setiap tahunnya. Jika
Anda tidak lagi sanggup memikirkan bahwa 10 tahun ke
depan akan sama saja dengan 10 tahun yang sudah Anda
jalani dalam pernikahan atau kehidupan Anda, maka katakan
hal itu kepada Allah dan mintalah Allah untuk mengadakan
perubahan-perubahan yang akan mengisi kehidupan Anda di
masa kini dan masa mendatang dengan pengharapan dan
rasa optimis yang tidak akan pernah padam.
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

23
Dalam kitab Kejadian, terdapat pertanyaan keenam yang
harus kita jawab di hadapan Allah, baik secara pribadi
maupun sebagai pasangan menikah. Pertanyaannya adalah,
Siapakah engkau? (Kejadian 27:18, 32). Dalam kisah
lainnya, pertanyaan ini ditanyakan kepada Yakub dan Esau.
Yakub berbohong dan Esau menangis dengan suara keras
saat kepada mereka ditanyakan, Siapakah engkau?
Pertanyaan ini ditanyakan beberapa kali dalam Alkitab.
Dalam Injil Yohanes 1, pertanyaan ini diajukan kepada
Yohanes Pembaptis, yang datang sebelum Kristus. Para
pemuka agama bertanya kepadanya, Siapakah engkau?
Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang
mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?
(Yohanes 1:22)
Yohanes menjawab dengan perkataan nabi Yesaya:
Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun:
Luruskanlah jalan Tuhan! (ayat 23). Itulah jawaban yang
sederhana dan jelas. Ia bisa menambahkan, Itulah siapa
aku, apa aku ini dan dimana aku. Mustahil bagiku untuk
melebihi daripada itu. Akupun tidak akan berpikir kurang
daripada itu. Aku menjadi pribadi dan berada dimana aku
seharusnya berada.
Yesus berkata bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang
terhebat yang pernah hidup. Apa yang hebat darinya?
Sederhana saja, ia menyadari siapa dirinya dan ia tahu
dirinya bukan orang lain. Ia menerima tanggung jawab atas
kemampuan yang Allah berikan, dan atas penugasannya
dalam rancangan Allah. Namun, ia pun menerima
keterbatasannya. Ia mengetahui jawaban yang tepat saat
ditanyakan kepadanya, Siapakah engkau?
Tahukah Anda siapakah diri Anda? Apa yang akan Anda
katakan tentang diri Anda? Saat dua pribadi menikah di
hadapan Allah dan mereka ingin membangun dan
menguatkan pernikahan mereka, mereka harus memulainya
dari diri mereka sendiri. Pernikahan mereka akan bahagia
dan terpenuhi sebagaimana pribadi mereka masing-masing
di hadapan Allah. Bila setiap pribadi dapat mengatakan apa
yang Yohanes Pembaptis katakan tentang dirinya, maka
mereka memiliki landasan yang kuat bagi pernikahan yang
baik dan keluarga yang bahagia.
Begitu Anda mendapati bahwa Allah suka mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada umat-Nya, maka Anda akan
melihat bahwa Allah melakukannya di sepanjang Perjanjian
Lama dan Baru. Yesus menanyakan 83 pertanyaan dalam
Injil Matius. Selagi Anda terus bertumbuh dalam perjalanan
Anda bersama Allah, ijinkan Allah menanyakan pertanyaan-
pertanyaan ini kepada Anda saat Anda membaca Alkitab
Anda.
Pertanyaan ketujuh adalah, Apakah engkau ini?
merupakan pertanyaan yang dinyatakan secara tidak
langsung dalam perkataan Rasul Paulus: Karena kasih
karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang (I
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

24
Korintus 15:10). Ia pun menulis kepada jemaat Korintus:
Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau
terima? Dan jika engkau memang menerimanya,
mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau
tidak menerimanya? (I Korintus 4:7) Siapa diri kita ini
berkaitan dengan kemampuan alami dan rohani kita,
karunia, talenta serta pekerjaan kita. Semuanya ini datang
dari Allah untuk memperlengkapi kita menjadi siapa, apa dan
berada di tempat yang Allah kehendaki bagi kita.
Perjanjian lama dimulai dengan pertanyaan Allah,
Dimanakah engkau? Perjanjian Baru dimulai dengan
pertanyaan orang majus, Dimanakah Dia? (Matius 2:2).
Injil Yohanes dimulai dengan Yesus yang menanyakan
pertanyaan kedelapan. Pertanyaannya adalah: Apakah yang
kau inginkan? atau Apakah yang engkau cari? (Yoh. 1:38)
Saat Yesus menanyakan pertanyaan kedelapan ini, Ia
mengajukan dua pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap
kita: Apakah kita mau untuk menjadi siapa, apa dan berada
di tempat yang Allah kehendaki bagi kita, dan seberapa
besar kita menginginkan jawaban yang tepat atas
pertanyaan-pertanyaan ini?

Sebuah Obsesi yang Besar
Kedelapan pertanyaan dalam Firman Tuhan ini
membawa kita pada sebuah kemutlakan realita rohani. Ada
suatu tempat yang Allah kehendaki bagi kita dalam
kehidupan ini. Ada pribadi yang Allah kehendaki bagi kita.
Ada sesuatu yang Allah kehendaki bagi kita dan ada sesuatu
yang Allah kehendaki untuk kita lakukan di dunia ini. Saat
Kristus yang telah bangkit dan hidup itu masuk dalam hidup
kita, maka seperti halnya Rasul Paulus, obsesi terbesar kita
seharusnya adalah untuk mengerti tujuan Allah menangkap
kita. Pertanyaan sehari-hari yang seharusnya kita tanyakan
padanya adalah, Tuhan, apa yang Engkau kehendaki untuk
aku lakukan? Satu-satunya tempat dimana kita bisa
menemukan kebahagiaan terdapat di dalam apa yang Paulus
sebut sebagai kehendak Allah yang baik, yang berkenan
kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2) Di dalam
kehendak Allah yang sempurna, kita menemukan
keberadaan kita, identitas kita dan panggilan khusus kita.

Kompas Rohani
Karena terdapat delapan arah dalam sebuah kompas,
maka saya menjadikan kedelapan pertanyaan ini sebagai
kompas rohani saya. Saya seringkali mengamatinya.
Pertanyaan-pertanyaannya tidak berubah, namun jawaban-
jawabannya selalu berubah. Selalu ada jawaban yang tepat
atas pertanyaan-pertanyaan ini, dan baik Anda maupun
pasangan Anda tidak akan merasa bahagia sampai Anda
menemukan jawabannya. Diskusikan pertanyaan-pertanyaan
tersebut dengan pasangan Anda, dan bagikan kepada
pasangan Anda apa yang Anda rasakan mengenai jawaban-
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

25
jawabannya bagi diri Anda sebagai orang percaya, juga bagi
pernikahan dan keluarga Anda.
Berdasarkan pengalaman selama 50 tahun memberikan
konseling bagi pasangan orang percaya, maka dapat saya
simpulkan bahwa jika seorang suami atau seorang isteri
merupakan pribadi yang tidak bahagia, maka hubungan
mereka pun akan menjadi tidak bahagia. Penyebab terbesar
dari ketidakbahagiaan di antara orang percaya ialah karena
mereka tidak memiliki jawaban yang tepat terhadap
pertanyaan-pertanyaan Allah yang luar biasa ini, begitu pula
terhadap pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Saya ingin menantang Anda sebagai pasangan menikah
untuk mengejar suatu tingkatan komunikasi mendalam
dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan ini di
hadapan Allah dan mendiskusikannya satu sama lain. Lalu,
dengarkan jawaban pasangan Anda dengan seksama. Jika
Anda melakukan hal ini, maka Anda akan terkejut dengan
apa yang Allah dapat lakukan dalam kehidupan Anda.
Sangatlah menyedihkan bila pasangan menikah
menjalani hidup dan tidak pernah memikirkan hal-hal ini.
Begitu banyak orang percaya yang menjalani kehidupan
penuh kegagalan dan mereka bahkan tidak menyadarinya.
Jika Anda tidak puas dengan kualitas kehidupan rohani Anda,
maka renungkan pertanyaan-pertanyaan ini dengan
sungguh-sungguh seolah-olah Allah sedang menanyakannya
satu per satu kepada Anda. Pertanyaan-pertanyaan serta
jawaban-jawaban ini dapat mengubah hidup Anda. Saat hal
itu terjadi pada seorang suami atau isteri, maka kepenuhan
pribadi mereka di dalam Kristus akan mengubahkan mereka
dan memberikan kehidupan dalam pernikahan mereka.


BAB 3
Ekspresi Sukacita Sebuah Kesatuan

Dalam kisah penciptaan di kitab Kejadian, kita membaca
bahwa Allah melihat segala sesuatu yang Ia ciptakan dan
berkata, Baik! Namun kemudian Ia menemukan sesuatu
yang tidak baik. Ia berkata, Tidak baik, kalau manusia itu
seorang diri saja. (Kejadian 2:18) Maka Allah menjadikan
seorang penolong bagi Adam dan keduanya menjadi satu
daging.
Hal pertama yang harus kita perhatikan tentang
hubungan seksual yang diciptakan Allah adalah bahwa Allah
memaksudkan seks untuk tujuan prokreasi atau
menghasilkan keturunan. Allah memerintahkan Adam dan
Hawa, Beranakcuculah dan bertambah banyak (Kejadian
1:28). Kita telah belajar bahwa pernikahan merupakan
rancangan Allah untuk memenuhi bumi dengan orang baik.
Ia tidak semata-mata ingin memenuhi bumi dengan
manusia, melainkan ingin memenuhinya dengan orang baik.
Agar hal itu terjadi, maka orang tua haruslah orang-orang
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

26
yang kuat dan dewasa. Mereka pun harus menjadi pasangan
yang kuat sehingga mereka bisa menjadi orang tua yang
kuat dan kemudian menghasilkan orang-orang yang kuat
melalui pernikahan dan keluarga mereka. Jadi sudah jelas
bahwa Allah menghendaki fungsi seks dalam konteks
pernikahan dan keluarga, dan Allah memaksudkan seks
untuk tujuan prokreasi.
Diluar tujuan prokreasi, Allah memaksudkan seks
sebagai suatu sarana ekspresi bagi pasangan menikah. Saat
pasangan menikah memiliki masalah seksual, maka sebelum
mereka memfokuskan pada detil masalah seksual mereka,
mereka harus terlebih dulu memeriksa kesatuan rohani
mereka. Mereka seharusnya merenungkan tentang
komunikasi mereka dan area lainnya dari kecocokan mereka.
Mereka seharusnya merenungkan akan kasih sejati yang
seperti kasih Kristus, dan berbagai hal yang menjadi bagian
dalam pengertian mereka satu sama lain. Barulah kemudian
mereka bisa membahas masalah seksual mereka.
Bukanlah rahasia bahwa seks, yang diciptakan Allah
untuk menjadi ekspresi sukacita dari kesatuan kita, bisa
menjadi hambatan terhadap kesatuan kita. Bila ekspresi
secara fisik dari kesatuan kita tersebut seturut dengan apa
yang dirancangkan Allah, maka kemungkinan hal itu hanya
mencakup 10 persen dalam hubungan tersebut. Namun bila
ekspresi kesatuan kita secara fisik tersebut tidak seturut
dengan apa yang dirancangkan Allah, maka hal tersebut bisa
mencakup 90 persen dari masalah yang ada. Banyak
pernikahan hancur karena seks, sebab ketika salah satu
pihak tidak terpuaskan, maka hanya masalah waktu saja
sebelum mereka bertemu seseorang yang akan memberikan
mereka kepuasan tersebut.
Ironisnya, apa yang Allah rancangkan sebagai sarana
ekspresi sukacita kesatuan kita dapat menjadi salah satu
hambatan terbesar terhadap kesatuan tersebut. Hanya iblis
yang dapat mengambil apa yang Allah rancangkan sebagai
ekspresi sukacita sebuah kesatuan dan mengubahnya
menjadi salah satu hambatan terbesar terhadap kesatuan
kita.
Saat seks mencakup 90 persen dari masalah yang ada
antara suami dan isteri, yang seharusnya menjadi
perenungan pertama mereka ialah: Apa yang mereka
ekspresikan saat mereka melakukan hubungan seks? Jika
tidak ada kesatuan rohani, tidak ada komunikasi, tidak ada
kasih, tidak ada pengertian, lalu apa yang dapat mereka
ekspresikan? Bila mereka tidak memiliki hubungan yang
mendalam, lalu bagaimana hubungan seksual mereka dapat
menjadi seperti apa yang Allah rancangkan? Bila mereka
tidak memiliki kesatuan yang sejati untuk diekspresikan,
maka hubungan seksual mereka sama saja dengan hewan
yang kawin.
Saat Anda melakukan kesatuan seksual, apakah Anda
berkomitmen sepenuhnya terhadap kepuasan pasangan
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

27
Anda? Komitmen seperti inilah yang menjadikan seks seturut
dengan apa yang dikehendaki Allah. Dengan kata lain, tanpa
mengkomunikasikan mata rantai kasih yang Allah
rancangkan bagi pernikahan mereka, maka mereka tidak
akan pernah mengalami hubungan seksual yang Allah
nyatakan sebagai hal yang sangat baik. Begitu pula,
tingkatan kesatuan rohani mereka akan menentukan kualitas
kesatuan fisik dalam pernikahan mereka.
Allah bukan hanya menghendaki seks untuk tujuan
prokreasi dan sebagai sarana ekspresi bagi pasangan
menikah, tetapi Ia pun menghendaki seks untuk
kesenangan. Saya tidak tahu asal-usulnya tapi banyak orang
percaya bahwa hal ini terjadi pada masa Kejayaan di Inggris.
Pada waktu yang lampau, orang Kristen beranggapan bahwa
kenikmatan seksual itu bukanlah sesuatu hal yang baik.
Menurut pandangan mereka, Allah tidak pernah ada
hubungannya dengan seks.
Tidak akan pernah cukup bagi saya untuk menekankan
betapa pentingnya menghilangkan anggapan yang tidak
alkitabiah tersebut. Saat pria dan wanita meyakini bahwa
seks bukanlah hal yang baik, bahkan merupakan hal yang
salah, maka mereka bisa menjadi impoten atau bersikap
dingin (frigid) dalam pernikahan. Seks itu sakral. Seks itu
kudus. Jangan pernah kita berpikir sebaliknya ataupun
memberikan kesan yang lain terhadap anak-anak kita.
Tentunya ini adalah sebuah tantangan. Jika Anda
menginginkan anak laki-laki dan perempuan Anda tetap
perawan saat mereka menikah, maka sangatlah sulit untuk
menyuruh mereka menahan diri tanpa memberikan kesan
kepada mereka bahwa ada yang salah dengan seks.
Dimulai dengan kisah penciptaan, Alkitab mengajarkan
bahwa seks itu baik. Sebagai contoh adalah Kidung Agung
yang merupakan salah satu kitab terindah dalam Alkitab.
Menurut saya, tujuan dicantumkannya kitab ini dalam dasar
Alkitab adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa seks
itu indah dan diciptakan oleh Allah. Adalah hal yang indah
memiliki hubungan seks seperti yang digambarkan dalam
kitab Kidung Agung. Di dalamnya pun terdapat kiasan. Kitab
ini menggambarkan kasih Kristus terhadap Gereja, dan Allah
Yehova terhadap Israel. Namun itu hanyalah penerapan
tambahan. Penerapan utama kitab ini ialah untuk
menunjukkan kepada kita bahwa seks itu baik.
Seks itu indah. Seks dirancangkan oleh Allah sebagai hal
yang kudus, sakral, baik dan sebagai ekspresi kasih penuh
sukacita antara pria dan wanita. Setiap konsep seks dalam
pernikahan yang tidak sesuai dengan gambaran tentang
kasih seksual tersebut, tidak berasal dari Allah melainkan
dari iblis.
Apa yang menjadi pengharapan dan sikap Anda
menyangkut kesatuan fisik dalam pernikahan ini? Ulangan
24:5 menuliskan suatu hukum Yahudi yang mengamanatkan
suatu periode khusus penuh kebahagian bagi pasangan yang
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

28
baru menikah: Apabila baru saja seseorang mengambil
isteri, janganlah ia keluar bersama-sama dengan tentara
maju berperang atau dibebankan sesuatu pekerjaan; satu
tahun lamanya ia harus dibebaskan untuk keperluan rumah
tangganya dan menyukakan hati perempuan yang telah
diambilnya menjadi isterinya.
Banyak ahli teologia mengatakan bahwa ungkapan
menyukakan hati memiliki arti bahwa sang suami
seharusnya membuat isterinya berbahagia secara seksual,
atau memberikan kenikmatan seksual kepada isterinya.
Dengan kata lain, hukum ini menghendaki bulan madu satu
tahun lamanya. Tidakkah menurut Anda itu merupakan
pernyataan akan sikap Allah mengenai seks?
Dalam Perjanjian Baru, terdapat tantangan untuk
menghormati pernikahan dan menjaga kesucian keintiman
seksual antara suami dan isteri. Hendaklah kamu semua
penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu
mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan
pezinah akan dihakimi Allah. (Ibrani 13:4) Disinilah Allah
menentang seks sambil lalu, sambil menegaskan bahwa
pernikahan adalah hal yang terhormat dan hubungan seksual
antara pasangan menikah merupakan hal kesucian sakral.
Anda pun akan diberkati dengan mempelajari I Korintus
7:1-7, Amsal 5:15-20 serta Kidung Agung. Perhatikan
bagian-bagian Firman ini, kemudian tanyakan pada diri Anda
apa yang seharusnya menjadi harapan dan sikap Anda
tentang seks. Menentukan sikap sangatlah penting dalam
hubungan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa organ
seks yang paling penting ialah otak kita.
Anda dapat menerapkan kiasan mengenai pohon dalam
Kejadian 3 yang telah saya gambarkan pada bab sebelumnya
dalam hal hubungan seksual. Anda diciptakan dengan
sebuah dorongan seksual, namun kebutuhan terbesar Anda
ialah meminta Allah untuk memenuhi kebutuhan mata Anda,
atau dengan kata lain untuk menunjukkan kepada Anda akan
maksud, tempat dan fungsi seks. Bila Anda mendahulukan
kebutuhan tersebut, maka Anda tidak akan kehilangan
segala hal yang Allah maksudkan saat Ia memberikan
kepada Anda dan pasangan Anda sarana untuk
mengekspresikan kasih Anda dengan penuh sukacita
terhadap satu sama lain. Jika Anda melakukan dengan cara
Allah, maka Anda akan mendapatkan segala kepuasan yang
terdapat di dalam seks. Namun, bila Anda mendahulukan
kepuasan dari dorongan seksual Anda, khususnya bila terjadi
di luar pernikahan, maka Anda akan membayar
konsekuensinya.
Melalui Firman Tuhan, Allah menunjukkan kepada kita
bagaimana seharusnya kita memandang segala sesuatu. Bila
kita mengijinkan Firman Allah untuk menunjukkan kepada
kita sikap dan pengharapan seperti apa yang harus kita
miliki terhadap seks, maka kita akan mendapati bahwa seks
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

29
itu dirancangkan Allah untuk diekspresikan dalam sebuah
institusi pernikahan dan keluarga yang Allah jadikan.
Dimanakah Anda mendapatkan informasi mengenai
seks? Bila Anda mendapatkannya dari kebudayaan, maka
Anda tidak akan mendapatkan informasi yang akan
menolong menciptakan pernikahan yang bahagia serta
sebuah keluarga Kristiani. Lalu, dimana seharusnya Anda
mendapatkan pengetahuan mengenai seks? Dari para
pengajar? Dari dokter Anda? Dari pemerintah? Beberapa
orang mengatakan bahwa rumah tanggalah yang menjadi
tempat dimana peran seksualitas ditetapkan. Tetapi, siapa
yang akan menuntun orang-orang yang membangun rumah
tangga tersebut? Dimanakah pasangan menikah diberitahu
mengenai rancangan Allah tentang seks?
Saya berpendapat bahwa bila gereja tidak memberitahu
mereka, maka tidak seorang pun akan melakukannya dan
tidak juga orang lain. Sejujurnya, dimanakah Anda dapat
belajar mengenai tempat dan maksud seks yang benar bila
Anda tidak mempelajarinya di gereja? Pernikahan adalah
gagasan Allah, dan tertulis dalam Firman Tuhan. Hal yang
sama juga menyangkut tentang seks. Saat Anda membaca
Alkitab, contohnya Kidung Agung, Anda akan menyadari
bahwa Allah tidak berdiam diri mengenai seks. Maka para
pengkhotbah pun seharusnya jangan berdiam diri.
Seringkali saya berkata bahwa sebelum seseorang
mengkhotbahkan Kidung Agung, maka ia harus memiliki
uban terlebih dulu. Saat saya masih menjadi mahasiswa
teologia, ada seorang laki-laki tua dengan rambut beruban
yang membahas tentang seks dengan kami. Setelah ia
selesai mengajar, dimana pengajarannya itu sangat
informatif dan bermanfaat, saya bertanya padanya, Kapan
dorongan seks ini mulai mereda? Kapan gairah seks ini mulai
mereda? Ia tersenyum lebar sekali dan menjawab, Saya
sendiri tidak tahu. Ia sudah berusia 82 tahun! Jadi, Anda
tidak perlu menjadi muda untuk menikmati ekspresi sukacita
suatu kesatuan.
Hubungan seksual dirancangkan Allah untuk membawa
kepuasan seksual kepada suami dan isteri. Namun
berdasarkan hasil survey, ada begitu banyak wanita yang
tidak pernah mengalami kepuasan tersebut. Saya percaya
bahwa dua alasan utama dari ketidakpuasan tersebut adalah
sikap mementingkan diri sendiri dan ketidakpedulian para
suami.
Kelima belas kebajikan kasih yang diuraikan dalam I
Korintus 13 seperti yang sudah saya bahas dalam buklet
pertama dari kedua buklet ini seluruhnya itu bersifat
eksentrik. Kata eksentrik artinya memiliki pusat hidup
yang lain. Karena kita semua orang berdosa, maka pusat
hidup kita sebelum kita menjadi orang percaya ialah diri kita
sendiri. Namun, ketika kita lahir baru, pusat hidup kita ialah
Kristus, lalu kemudian barulah segala hal lain yang
bersinggungan dengan kehidupan kita. Saat kita menikah,
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

30
segala hal lain yang terpenting bagi kita ialah pasangan
kita. Agar kepuasan seksual dapat dialami oleh pria dan
wanita, maka sang suami haruslah berpusat kepada orang
lain sehingga dapat menjadi kekasih yang Allah kehendaki.
Hanya orang-orang yang mengubah pusat hidupnyalah
yang akan mengalami kepuasan dalam hubungan seksual
seperti yang Allah kehendaki. Ini berarti bahwa suami dan
isteri harus berkomunikasi. Sang suami mungkin menyangka
bahwa apa yang dilakukannya akan membuat istrinya leluasa
dan terpuaskan, padahal yang terjadi mungkin sebaliknya.
Sang isteri harus berbicara dengan suaminya, mengatakan
kepadanya, menyampaikan kepadanya apa yang ia inginkan
dan butuhkan. Ada beberapa orang yang memiliki
pengalaman seksual yang tidak menyenangkan di masa
lalunya, dan hal ini akan menyulitkan mereka untuk
mengalami kepuasan dalam hubungan seksual mereka. Hal-
hal seperti ini harus dikemukakan secara terbuka agar
membawa pemulihan batin, barulah sesudahnya akan diikuti
oleh kepuasan seksual.







BAB 4
Pasal Pernikahan dalam Alkitab

I Korintus 7 merupakan salah satu bagian Firman terbaik
mengenai keintiman pernikahan. Paulus membahas hal
tersebut saat meresponi pertanyaan dalam sebuah surat
yang ditanyakan kepadanya oleh Jemaat Korintus. Saat Anda
mempelajari jawaban Paulus, maka Anda dapat menduga
pertanyaan yang diajukan.
Dalam ayat 26 Paulus menulis, Aku berpendapat,
bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi
manusia untuk tetap dalam keadaannya. Apa yang
dimaksud dengan waktu darurat sekarang? Tampaknya yang
dimaksud adalah penganiayaan. Jemaat Kristen mula-mula
lebih banyak hidup di bawah penganiayaan, sehingga sangat
masuk akal apabila Anda sedang dalam penganiayaan,
dipenjara atau diumpankan kepada singa, maka adalah lebih
baik jika Anda tidak memiliki isteri dan anak-anak. Pada
beberapa generasi di berbagai kebudayaan, banyak
pasangan orang percaya yang harus menunda rencana
pernikahan mereka sampai perang berakhir.
Jemaat di Korintus menanyakan berbagai pertanyaan
kepada Paulus seperti, Apakah sebaiknya anak-anak muda
kami menikah saat ini, seperti halnya dalam keadaan
normal? Dan Paulus menjawab, Sebaiknya jangan.
Beberapa kali dalam pasal ini Paulus mengatakan,
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

31
sebaiknya tetap melajang dan yang ia maksudkan adalah
mengingat keadaan darurat yang sekarang. Lalu mereka
bertanya, Seandainya mereka memutuskan untuk tetap
melajang, apakah mereka boleh melakukan hubungan
jasmani? Dan pada intinya Paulus menulis, Tidak boleh.
Kalau engkau tidak akan menikah, kalau engkau tidak akan
melakukan hubungan ini secara seksual, maka janganlah
membakar dirimu dengan gairah seksual.
Paulus menulis bahwa, mengingat keadaan darurat
sekarang, maka akan lebih baik jika orang-orang muda ini
tidak menikah; dan jika mereka tidak menikah, mereka tidak
boleh melakukan interaksi seksual. Hal ini menjelaskan
pernyataan pembuka Paulus bahwa merupakan suatu hal
yang baik untuk tidak pernah menyentuh seorang wanita.
Suatu cara yang unik untuk memulai sebuah pasal tentang
pernikahan! Paulus menyarankan bahwa apabila mereka
tidak dapat mengendalikan nafsu mereka, maka sebaiknya
mereka menikah, sebab lebih baik menikah daripada
terbakar gairah seksual.
Bagaimana dengan mereka yang telah menikah? Apakah
sebaiknya mereka menjalin kehidupan seks yang normal?
Paulus menjawabnya dalam sebuah bagian Firman yang luar
biasa mengenai hubungan seksual antara dua orang
percaya: Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan
kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki
mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan
mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi
kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri
terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya
sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa
atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. Janganlah kamu
saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk
sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan
untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup
bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu,
karena kamu tidak tahan bertarak. Hal ini kukatakan
kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah. (I
Korintus 7:1-6)
Ini adalah sebuah karya konseling pernikahan yang luar
biasa yang membahas tentang kesatuan fisik pasangan
Kristiani. Beberapa pengamatan ringkas dari tulisan Paulus
mengenai ekspresi sukacita sebuah kesatuan dalam
hubungan pernikahan yang berkenan kepada Allah adalah:
Dorongan seksual memang kuat, akan tetapi pernikahan
cukup kuat untuk menahannya dan memberikan kehidupan
seks yang seimbang dan memuaskan, yang akan melindungi
pasangan dari berbagai godaan dalam kebudayaan yang
semakin merosot dimana Jemaat Korintus hidup.
Penekanan Paulus ialah bahwa suami harus berusaha
untuk memuaskan isterinya, begitu pula isteri harus
berusaha untuk memuaskan suaminya. Dengan kata lain,
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

32
sang suami harus berpusat kepada isteri dan sang isteri
harus berpusat kepada suami.
Pantang melakukan seks memang diijinkan, namun
hanya untuk sementara waktu dan dengan tujuan untuk
mendekatkan diri kepada Allah melalui doa dan puasa (sakit
kepala bukanlah alasan untuk berpantangan). Prinsip yang
penting di sini ialah bahwa hubungan mereka dengan Allah
tetaplah pribadi dan terpisah. Meskipun mereka berbagi
hubungan ini melalui berbagai cara, dan hubungan mereka
dengan Allah merupakan landasan kesatuan mereka, namun
mereka tidak diperintahkan untuk mendekatkan diri kepada
Allah secara bersama sebagai pasangan.
Gagasan akan mutualitas (kebersamaan) sangat
penting. Sebuah pertanyaan tentang seks yang seringkali
muncul dalam sesi konseling dengan orang yang sudah
menikah begitu lama ialah, Apakah ada hal tertentu yang
menyimpang atau salah? Menurut saya, jawabannya adalah
bahwa tidak ada yang salah antara sepasang suami isteri
selama hal itu bersifat saling menyenangkan kedua belah
pihak. Pertanyaan yang tepat bukanlah Apa yang benar?
melainkan Apa yang saling menguntungkan? Orang
menanyakan tentang seberapa sering berhubungan seksual,
tentang mana yang normal atau biasa. Pertimbangan yang
paling penting ialah mutualitas.
Perhatikan perkataan Paulus bahwa seks terdiri atas
pilihan. Merupakan sebuah keputusan untuk menyenangkan
atau melayani pasangan kita. Saat Anda berkomitmen untuk
mencintai seseorang, Anda membuat komitmen terhadap
hubungan fisik. Hal itu dirancangkan Allah agar menjadi
komitmen yang saling menguntungkan, berdasarkan
kemauan sendiri dan tidak bersyarat. Jika tiap pribadi
sungguh-sungguh berkomitmen untuk menyenangkan atau
memuaskan pasangannya, maka mereka memiliki kunci
yang akan membuat hubungan seksual itu berhasil.
Seringkali para suami mengeluh pada konselor, Isteri
saya tidak sedikitpun tertarik dengan seks. Apa yang dapat
saya lakukan untuk membuatnya tertarik? Keluhan yang
sama juga seringkali terdengar dari pihak sebaliknya:
Suami saya tidak sedikitpun tertarik dengan seks.
Ketidaktertarikan terhadap seks seringkali mengakibatkan
kurangnya mengutamakan kepentingan pasangannya baik di
satu pihak maupun keduanya.
Saya telah mengamati bahwa sangatlah penting bagi
pria untuk mengutamakan pasangannya dalam dimensi
pernikahan ini. Jika Anda seorang pria yang bergumul
dengan kurang tertariknya pasangan Anda dengan seks,
maka pastikan Anda memiliki pengetahuan seks yang baik.
Dari segala perbincangan mengenai seks di antara kaum
pria, banyak dari mereka yang mengabaikan anatomi
seksual seorang wanita. Apakah isteri Anda merasakan
kepuasan atau merasa nyaman saat Anda berhubungan
fisik? Jika ia jarang atau tidak pernah mengalaminya, saya
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

33
ingin menanyakan sesuatu kepada Anda: Jika Anda tidak
pernah mengalami klimaks, tidakkah hal itu berpengaruh
pada sikap Anda terhadap hubungan fisik dengan isteri
Anda? Saya rasa itu adalah pertanyaan yang cukup adil.
Aturan Emas sangat efektif disini. "Segala sesuatu yang
kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,
perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh
hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 7:12) Hal yang
menjadi tantangan dari Aturan Emas ialah menempatkan diri
Anda pada tempat orang lain. Misalkan Anda adalah
pasangan Anda yang tidak tertarik dengan hubungan fisik,
apa yang Anda ingin pasangan Anda lakukan? Bila Anda
menemukan jawabannya, lakukanlah, sebab itulah Aturan
Emas dari ekspresi penuh sukacita dari sebuah kesatuan.
Dalam surat Petrus dan Paulus telah dikatakan bahwa
panutan bagi sebuah pernikahan itu ialah Kristus dan Gereja-
Nya. Hal itu berarti penyatuan total dari dua pribadi yang
utuh, dan hal itu digambarkan dalam penyatuan antara
Kristus dan Mempelai-nya, yaitu Gereja. Itulah kesatuan
rohani/spiritual. Jadi, jika hubungan fisik mencakup sikap
kebersamaan dan tanpa syarat, maka kualitas rohani juga
harus ada dalam hubungan tersebut. Kualitas rohani itu
adalah tidak mementingkan diri sendiri, kasih Kristus yang
telah bangkit dan hidup, yang menempatkan orang lain
sebagai pusat hidup.

BAB 5
Tujuh Keajaiban Spiritual Dunia

Beberapa tahun yang lalu, saya menikmati makan siang
bersama seorang pria, dan ia mengatakan kepada saya
bahwa jemaatnya telah menjadikannya sebagai penatua dan
ketua majelis gereja. Lalu ia mengatakan, Bisakah Anda
bayangkan? Saya bahkan bukan orang Kristen!
Pria lainnya yang makan siang bersama kami berkata
kepadanya, Anda tidak akan menjadi pemimpin di gereja
pria ini seandainya Anda bukan orang Kristen. Ia menjawab,
Maka Andalah orang yang telah lama saya nantikan untuk
bertemu. Saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan. Apa
itu orang Kristen?
Setelah sekitar 5 menit saya berbicara, ia mengamati
arlojinya dan berkata, Saya bertanya sebentar kepada Anda
dan Anda memberitahu saya bagaimana cara membuat
arloji. Tidak bisakah Anda menjelaskan lebih jelas daripada
jawaban barusan atas pertanyaan saya yang sederhana ini?
Tuhan memakai orang tersebut untuk menunjukkan
kepada saya bahwa saya perlu mempersiapkan diri lebih baik
untuk menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya saya menulis
sebuah pamflet kecil yang saya sebut, Tujuh Keajaiban
Spiritual Dunia. Tujuan saya adalah untuk memberitahukan
kepada orang-orang sekuler apa yang perlu mereka ketahui
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

34
dan apa yang perlu mereka lakukan untuk mendapatkan
keselamatan.
Sebagaimana saya telah berbagi kepada Anda akan
pandangan alkitabiah mengenai pernikahan, maka terpikir
oleh saya bahwa segala sesuatu yang saya bagikan ini
adalah hal yang mustahil bagi Anda jika Anda bukan seorang
murid Yesus Kristus yang lahir baru. Yesus mengatakan
kepada kita bahwa kita tidak akan pernah menjadi pasangan
yang memadai tanpa pertolongan Allah. (Matius 19:3-11)
Salomo mengatakan bahwa kita tidak akan pernah menjadi
orang tua yang memadai tanpa pertolongan Allah. (Mazmur
127) Pesan keseluruhan Alkitab yang ditekankan Yesus ialah
bahwa kita tidak akan bisa menjadi pribadi yang memadai
tanpa pertolongan Allah. (Yohanes 3:6-7) Saya tidak dapat
menutup studi ini tanpa memberitahu Anda apa yang Anda
perlu tahu dan apa yang perlu Anda lakukan agar lahir baru.
Karenanya, saya menutupnya dengan Tujuh Keajaiban
Spiritual Dunia.
Keajaiban spiritual yang pertama adalah apa yang saya
sebut sebagai, rancangan terbesar di dunia. Jika Anda
melihat dunia ini melalui sebuah teleskop atau mikroskop,
mau tidak mau Anda akan terkesan dengan rancangan yang
Anda lihat. Akan tetapi, bagi Anda dan saya, rancangan yang
paling penting dan paling indah di dunia ini adalah rancangan
khusus Allah bagi setiap manusia yang dilahirkan ke dalam
dunia ini. (Roma 12:1-2; Mazmur 139: 16)
Setiap orang yang diciptakan Allah adalah unik dan
individual. Bukankah hal yang menakjubkan, bahwa ada
lebih dari 60 miliar jari di dunia ini dan dua di antaranya pun
tidak mempunyai sidik jari yang sama? Sekarang kita
memiliki peralatan elektronik yang canggih yang dapat
mengidentifikasikan Anda dari sidik suara Anda, sebab
tidak seorang pun yang memiliki suara persis seperti Anda.
Sekarang, dengan teknologi DNA, struktur fisik yang unik
dari setiap manusia di muka bumi ini dapat diidentifikasikan
dan dibuktikan di pengadilan hukum di seluruh dunia. Jika
keajaiban individualitas kita yang unik ini dapat dengan jelas
dibuktikan, masih sulitkah untuk mempercayai bahwa Allah,
yang menciptakan kita sebagai individu yang unik secara
fisik, memiliki rancangan yang khusus bagi setiap kehidupan
kita? Menurut Alkitab, Allah memang memiliki rancangan dan
rancangan itu merupakan salah satu keajaiban spiritual
dunia.
Anda mungkin bertanya-tanya, Jika Allah memiliki
sebuah rancangan bagi setiap kehidupan manusia, mengapa
manusia begitu tidak bahagia, dan mengapa dunia kita
dipenuhi dengan huru-hara, peperangan dan masalah-
masalah sosial yang pelik? Pertanyaan Anda terjawab oleh
keajaiban spiritual kedua dunia, yang saya sebut sebagai
perceraian terbesar di dunia. Perceraian sudah begitu
mewabah di berbagai kebudayaan pada masa kini, namun
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

35
perceraian terbesar di dunia ini ialah perceraian antara Allah
dengan manusia.
Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia
sebagai mahluk yang dapat memilih. Ia memberikan kuasa
kepada ciptaan-Nya ini untuk berkata kepada Penciptanya,
Engkau menciptakan aku dengan rancangan yang luar biasa
ini, namun saya tidak menginginkannya. Saya akan
menjalani hidup dengan cara saya. Alkitab mengatakan
bahwa inilah yang dikatakan setiap orang kepada Allah.
Alkitab menyebutnya dosa. Melalui pemberontakan dosa
mereka, manusia menceraikan dirinya dengan Allah dan
Allah membiarkan mereka melakukannya. Perceraian ini
adalah penyebab segala kekacauan yang kita lihat di dunia
pada masa sekarang. Fakta bahwa Allah menjadikan kita
dengan kemampuan untuk menceraikan diri kita dari-Nya
merupakan keajaiban spiritual dunia lainnya.
Saya menyebut keajaiban spiritual ketiga sebagai,
dilema terbesar di dunia. Sebagai akibat perceraian
terbesar di dunia, Allah menghadapi dilema yang sama
seperti yang sering kita hadapi sebagai orang tua. Kita
mengasihi anak-anak kita, dan ada kelakuan serta sikap
tertentu yang ingin kita lihat dalam kehidupan mereka.
Namun tragisnya, mereka melakukan hal-hal yang
mendukakan hati kita. Mereka justru menghancurkan hati
kita dengan hal-hal yang mereka lakukan. Ketika hal itu
terjadi, bagaimana seharusnya respon kita? Kita ingin
menunjukkan kasih kita bagi anak-anak kita, namun kita
tidak ingin menutup mata atas tindakan yang menyakitkan
ini. Itulah dilema yang dialami setiap orang tua.
Allah pun mengalami dilema yang sama (bukan berarti
Ia sungguh-sungguh pernah menghadapi sesuatu yang
dianggap-Nya sebagai masalah yang tidak terpecahkan). Ia
melihat bahwa mahluk ciptaan-Nya menceraikan diri mereka
dari Pencipta mereka dan melakukan hal-hal yang buruk
yang tidak pernah Ia kehendaki untuk mereka lakukan.
Dilema terbesar di dunia ini ialah dilema yang harus Allah
hadapi sepanjang hari dan malam dengan keluarga manusia.
Dilema terbesar di dunia ini terpecahkan dengan apa
yang kita dengar di keajaiban spiritual keempat: deklarasi
terbesar di dunia. Deklarasi terbesar di dunia bukanlah
dokumen pemerintahan. Deklarasi terbesar itu terdapat
dalam Alkitab, yang disebut sebagai Injil atau Kabar Baik
yaitu bahwa Allah mengutus Anak Tunggal-Nya ke dalam
dunia untuk mati di kayu salib bagi Anda dan saya. Saat
Allah melakukannya, Allah telah melakukan segala sesuatu
yang perlu dilakukan untuk memecahkan dilema terbesar
dan mendamaikan perceraian terbesar di dunia. Saat Anda
memahami deklarasi yang luar biasa ini, Anda akan
menyadari bahwa salib Yesus Kristus sesungguhnya
merupakan salah satu keajaiban spiritual dunia.
Hal ini membawa kepada keajaiban spiritual kelima,
yang saya sebut keputusan terbesar di dunia. Saat Yesus
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

36
ada di dunia, Ia terjaga semalaman untuk berbicang-bincang
dengan seorang rabi bernama Nikodemus. (Yohanes 3:1-21)
Pada intinya, Yesus berkata kepadanya, Aku akan disalibkan
sebab Akulah Anak Tunggal Allah, Akulah solusi Allah satu-
satunya atas masalah dosa dan Akulah Juruselamat satu-
satunya yang diutus Allah. Jika engkau mempercayainya,
maka engkau tidak akan dihukum. Namun jika engkau tidak
mempercayainya, engkau akan dihukum, bukan karena
dosamu, melainkan karena engkau tidak percaya pada-Ku.
Allah seolah-olah menawarkan kepada dunia suatu
kontrak yang menyelamatkan hidup. Yesus telah
menandatangani kontrak tersebut dengan darah-Nya, tapi
ada satu tempat di sana bagi Anda dan saya untuk
menandatanganinya dengan iman. Hal ini menjadikan
keputusan untuk mempercayai apa yang Yesus katakan
tentang Diri-Nya menjadi keputusan terbesar di dunia
serta salah satu keajaiban spiritual dunia. Fakta bahwa
sebuah keputusan yang kita buat dapat membuat perbedaan
antara hidup yang kekal dengan penghukuman, menjadikan
keputusan tersebut sebagai salah satu keajaiban spiritual
dunia.
Bagaimana Anda mengetahui saat Anda membuat
keputusan yang menentukan takdir kekekalan Anda? Dalam
Alkitab, kata dalam bahasa Yunani untuk percaya bukan
sekedar persetujuan intelektual. Bukan sekedar
menganggukkan kepala dan mengatakan, Saya percaya.
Saya pernah mendengar hal itu diilustrasikan demikian.
Seseorang merentangkan seutas tambang melintasi sebuah
air terjun yang sangat besar di Amerika. Ia mengendarai
sepeda di atas tambang yang kecil tersebut dan bolak-balik
dari satu sisi ke sisi lainnya. Orang-orang yang
menyaksikannya bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Pria ini
bertanya kepada mereka, Berapa banyak di antara Anda
yang percaya bahwa saya sanggup melakukannya lagi
dengan seseorang yang saya bonceng pada sepeda saya?
Beberapa orang mengangkat tangan mereka dan pria ini
menunjuk ke seorang pria yang mengangkat tangannya lalu
berkata, Silakan duduk pada stang sepeda saya. Akan
tetapi orang tersebut menjawab, Oh, jangan saya. Lalu
kata pengendara sepeda itu, Berarti Anda tidak percaya.
Kata Yunani untuk percaya pada intinya memiliki arti
naik ke atas stang sepeda tersebut. Jika Anda menderita
cacat dan rumah Anda terbakar, lalu jika seseorang
memasuki kamar tidur Anda dan mengatakan hendak
menggendong Anda keluar dari rumah yang terbakar, maka
Anda harus menyerahkan segenap bobot tubuh Anda kepada
sang penyelamat dan mempercayainya untuk menggendong
Anda dari rumah Anda yang terbakar. Seperti itulah salah
satu terjemahan Perjanjian Baru menerjemahkan kata
percaya dalam Yohanes 3:16 : Barangsiapa menyerahkan
segenap bebannya kepada Yesus tidak akan binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal. Anda disebut percaya
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

37
saat Anda sepenuhnya mempercayakan keselamatan Anda
kepada suatu dalil bahwa pernyataan Yesus sebagai Anak
Tunggal Allah, satu-satunya Solusi dan Juruselamat adalah
benar.
Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda sungguh-
sungguh percaya? Keajaiban spiritual keenam ialah apa yang
saya sebut, arah tujuan terbesar di dunia. Dalam Injil. Kita
membaca bahwa setiap kali seseorang berkata kepada
Yesus, Aku percaya pada-Mu, Ia mengucapkan 2 kata
kepada mereka. Kedua kata tersebut adalah: Ikutlah Aku.
Saat mereka mendengar perkataan tersebut, sadarlah
mereka bahwa untuk mengikut Dia, mereka harus berpaling
dari cara hidup mereka yang lama. Kebanyakan orang tidak
mau melakukannya, sehingga mereka tidak mengikut Dia.
Mereka mendapati bahwa mereka tidak sungguh-sungguh
percaya.
Namun demikian, ada kaum minoritas yang
berkomitmen bahwa mereka sungguh percaya dan mengikut
Dia. Mereka menyadari bahwa tujuan untuk mengikut Yesus
merupakan arah tujuan terbesar di dunia. Allah mengadakan
suatu perjanjian dengan mereka, yang pada intinya berkata,
Ikutlah Aku dan akan Kujadikan engkau. (Matius 4 :19)
Saat mereka berkomitmen untuk mengikut Ia, maka selagi
mereka mengikuti-Nya, Ia menjadikan mereka seperti yang
Ia kehendaki. 60 tahun kemudian, salah satu dari mereka
mendedikasikan kitab terakhir Alkitab kepada Yesus dengan
perkataan berikut, Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang
telah membuat kita menjadi suatu kerajaan dan menjadi
imam-imam... Bagi Rasul Yohanes, arah tujuan untuk
mengikut Yesus merupakan keajaiban spiritual dunia lainnya.
Saya menyebut keajaiban spiritual ketujuh sebagai
dinamika terbesar di dunia. Kita tidak sepenuhnya
memahami hal ini, namun Yesus mengajarkan bahwa saat
kita membuat keputusan untuk mengikut Dia, kita
mengalami suatu perubahan dinamis seperti sepenuhnya
dilahirkan kembali. Melalui suatu mujizat, Roh Kudus-Nya
berdiam di dalam tubuh Anda dan kita mengalami dinamika
terbesar di dunia. Kelahiran baru ini, dimana Kristus tinggal
di dalam kita, memberikan kuasa yang kita butuhkan untuk
mengikut Kristus.
Inilah ketujuh hal terindah yang saya ketahui.
Rancangan terbesar di dunia, perceraian terbesar di dunia,
dilema terbesar di dunia, deklarasi terbesar di dunia,
keputusan terbesar di dunia, arah tujuan terbesar di dunia
serta dinamika terbesar di dunia. Saya menyebutnya Tujuh
Keajaiban Spiritual Dunia.
Anda dapat membuat keputusan untuk bergerak ke arah
mengikut Yesus Kristus dan menerima dinamika untuk
dilahirkan kembali dari Kristus yang telah bangkit. Mujizat
kelahiran kembali dimulai dengan keputusan untuk sungguh-
sungguh percaya. Maukah Anda membuat keputusan itu
sekarang?
Buklet #7: Keluarga dan Pernikahan (Bagian 2)

38
Dengan mempercayai ketujuh keajaiban spiritual ini
akan memberikan kepada Anda landasan spiritual/rohani
yang memungkinkan pernikahan yang berkenan kepada
Allah terjadi pada Anda. Anda harus mengalami sendiri
anugerah yang menyelamatkan serta kasih Kristus secara
pribadi, sebelum Anda dapat mengaitkannya kepada
pasangan menikah Anda dalam kasih Kristus yang telah saya
gambarkan dalam studi ini. Tanpa landasan spiritual ini,
pernikahan Anda tidak akan pernah seperti yang Allah
rancangkan bagi pernikahan.
Doa dan kerinduan saya ialah kiranya Allah menolong
Anda menerapkan prinsip-prinsip ini ke dalam pernikahan
dan keluarga Anda, yang dimulai dengan keselamatan Anda
dan hubungan rohani pribadi Anda sendiri dengan Allah.