INTERNATIONAL SEMINAR

Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

224

PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

Wiwik Wahyuni
Universitas Negeri Malang

Abstrak
Pendidikan memiliki fungsi yang hakiki dalam mempersiapkan sumber daya manusia,
tantangan yang dihadapi oleh Pendidikan Teknologi Kejuruan tidak semata-mata datang dari
sistem pendidikan secara internal. Terkait dengan era globalisasi menyebabkan persaingan
kerja semakin ketat. Minimnya lapangan kerja dan membanjirnya jumlah tenaga kerja serta
lapangan kerja yang tersedia kebanyakan tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan,
kondisi ini sering memicu timbulnya kejahatan yang sering meresahkan masysrakat. Oleh
sebab itu perlu diciptakan program pengembangan peningkatan mutu lulusan yang bertujuan
meningkatkan mutu lulusan agar masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan pasca studi tidak
lama, menciptakan perluasan kesempatan kerja, melalui penyebaran informasi dan pemetaan
lulusan, kesempatan berusaha pembinaan manajemen produktifitas, pemagangan, pelatihan
kelembagaan. Salah satu program yang dapat menyiapkan dan merekayasa arah perkembangan
masyarakat Indonesia masa depan ialah pendidikan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang
system Pendidikan nasional tahun 2003 pasal 15 yaitu “Pendidikan Kejuruan merupakan
pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
keahlian tertentu”. Bagi sekolah kejuruan Pendekatan konstruktivisme sangatlah penting
karena siswa belajar dalam lingkungan dan tempat kerja secara bersama-sama. Pada sekolah
kejuruan ada beberapa program yang dapat dilakukan sebagai penerapan pendekatan
pembelajaran konstruktivisme, diantaranya adalah Program Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
dan Teaching Factory (TF). . PSG merupakan suatu strategi untuk mendekatkan peserta didik
dengan dunia kerja, ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir
peserta didik. Pada saat ini arah masyarakat kita adalah masyarakat industry, masyarakat
industry adalah masyarakat yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjang oleh kemajuan
IPTEK dan kemudahan-kemudahan komunikasi. Suatu masayarakat industri modern perlu
ditunjang dengan suatu system pendidikan dan pelatihan yang terintegrasi antara dunia
pendidikan dengan DUDI agar memperoleh SDM yang berkualitas, berdaya saing tinggi dan
professional.

Keyword: Kebijakan Pendidikan, Pendidikan Kejuruan

Pendidikan memiliki fungsi yang hakiki dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang
akan menjadi aktor-aktor dalam menjalankan fungsi dari berbagai bidang kehidupan yang
bersangkutan. Berkaitan dengan fungsi tersebut, maka berjalannya system pendidikan tidak boleh
lepas dari perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan yang ada di masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka tantangan yang dihadapi oleh Pendidikan Teknologi
Kejuruan tidak semata-mata datang dari sistem pendidikan secara internal, bahkan yang lebih
banyak adalah tantangan eksternal atau tantangan yang datang dari luar sistem Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan. Tantangan masa depan bagi sistem pendidikan di Indonesia tidak semata-
mata menyangkut bagaimana meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan dan kejuruan secara
internal, namun juga menyangkut bagaimana meningkatkan kesesuaian pendidikan kejuruan
dengan bidang-bidang kehidupan yang lain.
Terkait dengan kondisi ekonomi nasional, dengan berkembangnya era globalisasi
menyebabkan persaingan semakin ketat, tajam dan suasana yang mudah meledak, apabila SDM
tidak siap untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi, ini akan sangat berbahaya bagi masa
depannya. Minimnya lapangan kerja dan membanjirnya jumlah tenaga kerja serta lapangan kerja
yang tersedia kebanyakan tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, kondisi ini
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

225

mengakibatkan timbulnya masalah sosial yaitu pengangguran yang sering memicu timbulnya
kejahatan yang sering meresahkan masyarakat.
Ironisnya tingginya jumlah calon tenaga kerja yang telah dicetak oleh beberapa lembaga
pendidikan dan pelatihan yang seringkali tidak sesuai dengan kualitas keterampilan yang tinggi,
akibatnya banyak tenaga kerja yang tidak diterima di dunia kerja. Oleh sebab itu perlu diciptakan
program pengembangan peningkatan mutu lulusan yang bertujuan meningkatkan mutu lulusan agar
masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan pasca studi tidak lama, menciptakan perluasan
kesempatan kerja, melalui penyebaran informasi dan pemetaan lulusan, kesempatan berusaha
pembinaan manajemen produktifitas, pemagangan, pelatihan kelembagaan.

Sistem Pendidikan yang Diperlukan Masyarakat Masa Depan
Salah satu program yang dapat menyiapkan dan merekayasa arah perkembangan masyarakat
Indonesia masa depan ialah pendidikan, Tilaar (1994) malah PBB menganggap program
pendidikan merupakan salah satu dinamisator dalam pengembangan manusia.
Sebagai bagian dari system pendidikan nasional, Pendidikan Menengah Kejuruan merupakan
pendidikan pada jenjang menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan peserta didik
untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja, melihat
peluang kerja dan pengembangan diri di kemudian hari. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang
system Pendidikan nasional tahun 2003 pasal 15 yaitu “Pendidikan Kejuruan merupakan
pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
keahlian tertentu”
Tingginya angka pengangguran di Indonesia saat ini serta rendahnya angka siswa
melanjutkan ke perguruan tinggi merupakan beberapa masalah yang harus dipikirkan oleh
pengelola sekolah kejuruan, sehingga salah satu isu penting saat ini adalah mengembalikan fungsi
dan peran sekolah menengah kejuruan sabagai salah satu solusi menyiapkan lulusan yang memiliki
keterampilan yang dapat diserap bursa kerja dan dapat pula melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi.

Teori Konstruktivisme
Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey
(John W, 2008). Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan
membengun pengetahuan dan pemahaman. Konstruktivisme dikembangkan luas oleh Jean Piaget,
fokus dari teori Jean Piaget adalah perkembangan fikiran secara alami dari lahir sampai dewasa.
Paradigma kontruktivisme Piaget yang melandasi timbulnya strategi kognitif yang disebut teori
meta cognitive. Metacognitif merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa dalam mengatur
dan mengontrol proses berfikirnya, (Preisseisen, 1985: http://pusdiklatdepdiknas.net). Menurut
Preisseisen meta cognitive meliputi 4 jenis keterampilan, yaitu : keterampilan pemecahan masalah
(problemsolving), keterampilan pengambilan keputusan (decision making), keterampilan berfikir
kritis (critical thinking), dan keterampilan berfikir kreatif (creative thinking).

Implementasi Konstruktivisme pada Sekolah Menengah Kejuruan
Proses pembelajaran akan lebih bermakna jika pada akhir proses pembelajaran dapat secara
langsung memotivasi siswa untuk memahami selakigus membangun arti baru, dengan demikian
peran guru dalam pembelajaran konstruktivisme adalah menyediakan pengalaman belajar bagi
siswa, memberikan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa, menyediakan sarana yang
merangsang siswa berfikir secara produktif, serta memonitor dan mengevaluasi hasil belajar siswa.
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

226

Pendekatan konstruktivisme bagi sekolah kejuruan sangatlah penting karena siswa belajar
dalam lingkungan dan tempat kerja. Praktik kerja dalam sekolah kejuruan memang beresiko tinggi,
tetapi jika guru bertindak secara benar sebagai fasilitator dan pemandu, maka guru dapat
membantu siswa untuk belajar merekonstruksi pikiran mereka melalui suatu keadaan secara
bersama-sama. Aktivitas adalah salahsatu factor dalam konstruksi pengetahuan, dan keikutsertaan
siswa dalam seluruh aktivitas dan interaksi pembelajaran setiap hari merupakan kekuatan untuk
mengakses informasi dan keterampilan yang lebih tinggi. Bertambahnya pengalaman secara rutin
dan langsung dalam melakukan suatu pekerjaan akan memberikan kemampuan kepada siswa untuk
memecahkan masalah secara efektif, reflektif dan berkesinambungan.
Pada sekolah kejuruan ada beberapa program yang dapat dilakukan sebagai penerapan
pendekatan pembelajaran konstruktivisme, diantaranya adalah Program Pendidikan Sistem Ganda
(PSG) dan Teaching Factory (TF).
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada dasarnya adalah suatu bentuk penyelenggaraan
keahlian professional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di
sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di
dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian professional tertentu. PSG merupakan
suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja, ini adalah strategi proaktif yang
menuntut perubahan sikap dan pola pikir peserta didik.
Teaching Factory (TF) adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya,
sehingga dapat menjembatanii kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industry dan pengetahuan
di sekolah. Proses pendekatan pembelajaran dengan TF adalah perpaduan antara pendekatan
pembelajaran CBT (Competency Based Training) dan PBT (Production Based Training). CBT
memberikan penekanan pada apa yang dapat dilakukan peserta didik dari hasil belajar yang sudah
diperoleh baik pemahaman pengetahuan maupun keterampilan. PBT adalah suatu proses
pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur
dan standart kerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasikan barang dan jasa sesuai dengan
tuntutan pasar (konsumen). Kedua pendekatan pembelajaran tersebut di atas, memberikan
kesempatan pada peserta didik untuk mendapatkan pengalaman belajar langsung (magang).
Tilaar (1992) berpendapat bahwa masyarakat industri masa depan memberi peluang yang
besar bagi perkembangan peserta didik, namun dapat menjadi ancaman bagi pengembangan
masyarakat apabila masyarakat tidak dipersiapkan untuk hidup dan menghidupi mereka. Dalam
kaitan ini, dengan lahirnya UU No.2 Tahun 1989 tentang SISDIKNAS, kita telah mempunyai
acuan bersama pengembangan system pendidikan nasional untuk menghadapi masyarakat industry
masa depan, di dalam acuan tersebut diberi tempat yang luas bagi masyarakat untuk ikut
berpartisipasi.
Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang mengkaji sosok masyarakat Indonesia kedepan, di
dalam era pembangunan yaitu untuk menyiapkan lulusan agar dapat “survive” dalam dunia kerja
dan masyarakat industry yang:
1. Mementingkan kualitas.
2. Sangat mengutamakan persaingan untuk mencapai kualitas yang semakin meningkat untuk
mencapai yang terbaik (the search for exelence).
3. Meningkatnya kualitas hidup yang lebih merata denganterpenuhinya kebutuhan dasar.
4. Munculnya tata nilai baru seperti intelektualisme kreatif.


INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

227

Fungsi dan Peran SISDIKNAS dalam Menunjang Terwujudnya Masyarakat Industri Modern
Peningkatan
Mutu
Pendidikan
Poros – poros Transformasi Sosial Budaya di Abad XXI
Politik Ekonomi Manusia &
Masyarakat
Budaya Sains &
Teknologi
a. Pemerataan
Mutu
Akademik
1.Pemera
taan untuk
seluruh daerah
dan seluruh
lapisan masyara
kat

2.Desentralisasi
penyeleng gara-
an pendidikan
Pening
katan mutu
akade
mik untuk
pemba
ngunan
regional
1.Membina
manusia
menghargai nilai-
nilai unggul

2.Memotivasi
masyarakat
menghargai
kualitas
1.Meng
intensifkan
penghaya
tan pada
budaya
nasional
2.Mengem
bangkan sikap
kritis dan
terbuka
Meningkatkan
mutu
pendidikan
sains di semua
daerah
b.Peningkatan 1.Peningkatan
mutu yang
merata

2.Mening
katkan pendidik
an politik
generasi muda
Partisi
pasi dunia
Indus
tri dalam
pendidikan
dan pelatihan
1.Perhatian pada
pendidikan anak
berbakat

2.Mening
katkan
pendidikan
lingkungan dan
kependu-dukan
1.Mengem
bangkan
kebudayaan
daerah

2.Mengem
bangkan sikap
kerja keras dan
kritis
Memper
kenal kan dan
mema
hami kemaju
an sains dan
teknologi
untuk
kemanusiaan
2. Religio-
mental
1.Mening
katkan
pendidikan
agama dan moral

2.Pendidikan
agama dan moral
yang fungsional
Melahir
kan “Manu
sia Ekono
mi” yang
Pancasila
Mengintensifkan
pendidikan agama
dan moral dalam
masyarakat
Menggali nilai-
nilai religius
dan moral yang
luhur
Sikap positif
terhadap
hubung
an agama,
sains dan
teknologi
3.Ketenaga
kerjaan
Koordinasi
perencana
an sektoral dalam
pemasokan
kebutuhan tenaga
kerja
Menata
pendidikan
dan pelatih
an nasio
nal sebagai
pemasok
tenaga kerja
yang terampil
1.Mendorong
masyarakat
menghargai
kekaryaan dan
bukan diploma

2.Memasya
rakatkan budaya
kerja keras,
mandiri dan
produktif
Membudaya
kan tenaga
kerja yang
rajin,
berdisiplin &
berdedikasi
tinggi
Tenaga kerja
yang mengua
sai sains dan
teknologi
Sumber: Tilaar (1992)







INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

228

Poros-poros Transformasi Masyarakat Industri Modern
Globalisasi Struktur
Ekonomi
Budaya
Nasional
Manusia &
Masyarakat
IPTEK Informasi
1.Mutu
Pendidikan
(Kualitas)
-Mutu
pendidikan
yang merata.
Penguasaan
bahasa asing

Kurikulum
yang relevan.
Kurikulum
mulok.
Menghargai
mutu &
prestasi.
Pendidikan
budaya (Nas
& Daerah).
Membudaya
kan kerja
keras &
disiplin.
Menggusur
sikap feodal
Manusia yang
berfikir
mandiri.
Sikap kritis &
terbuka
Prioritas
pendidi
Kan ilmu
dasar.
Pengua
saan IPTEK
yang merata.
Menguasai
&
mencerna
kan
informasi

2.Relevansi
Pendidikan
Pendidikan
lingkungan.
Pendidikan
kependuduk an
.
Menghargai
keunggulan.
Persaingan
sehat.

Kurikulum
mulok.
Desentralisa si
kurikulum.
Supply
tenaga- tenaga
terampil
Keterlibatan
dunia industry
dalam
pendidikan &
latihan
Meningkatk
an apresiasi
kebudayaan
Meningkatk
an
kreativitas
Cinta
kepada kerja
Pendidikan
moral &
agama yang
fungsional
Mening
katkan
Sadar IPTEK
dalam masya
rakat.
Tenaga kerja
yang me
nguasai
IPTEK.
Peman faatan
IPTEK bagi
pening- katan
iptek bagi pe
ningkat an
taraf hidup
Informasi
yang
berman faat
bagi
pengem
bangan
pribadi &
masya rakat
3.Identitas
Manusia
Pancasila
Mengem
bangkan
ketahanan
budaya
Identitas
nasional.
Kemam puan
memilih
unsure yang
positif dari
budaya asing
Menjadikan
disiplin
nasional
sebagai sikap
hidup
Manusia
mandiri
Memupuk
rasa toleransi
Sadar IPTEK
& bertaqwa
Peman
faatan
informasi
bagi
pengem ba
ngan
pribadi
Perencanaan dan Manajemen Pendidikan

Pada saat ini arah masyarakat kita adalah masyarakat industry, masyarakat industry adalah
masyarakat yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjang oleh kemajuan iptek dan kemudahan-
kemudahan komunikasi.Gerakan masyarakat yang terjadi akan akan menyebabkan perubahan-
perubahan struktural dalam tata kehidupan ekonomi dan sosial, juga perubahan fungsional dari
lembaga sosial yang ada. Penyesuaian-penyesuaian diperlukan dalam semua aspek kehidupan
masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai yang mendasari kehidupan, salahsatu nilai yang
semakin menonjol dalam kehidupan masa depan adalah “keterbukaan” hal tersebut juga diikuti
dengan sikap rasional atau rasionalisme. Sikap rasional merupakan kejernihan berpikir yang logis
dan multi dimensional.
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

229

Dunia masa depan adalah dunia yang cepat berubah dan agar dapat memanfaatkan dinamika
perubahan tersebut diperlukan persepsi yang cepat terhadap perubahan, mampu menganalisanya
demi keuntungan memperkaya kepribadian agar tidak hanyut dalam arus perubahan tersebut. Dunia
akademik mempunyai peran yang sangat strategic dalam menumbuhkembangkan kehidupan
demokrasi atau keterbukaan. Keterbukaan adalah kepedulian terhadap fakta kehidupan serta
keinginan untuk menatanya agar lebih baik.
Masalah yang menjadi polemik dalam masyarakat adalah apakah pendidikan itu “concern”
dengan masalah pembangunan yang memerlukan tenaga-tenaga yang inteligen dan terampil,
ataukah pendidikan itu khusus untuk menjadikan manusia hanya pintar saja. Sesungguhnya
pendidikan mempunyai dua tujuan sekaligus, yaitu sebagai suatu kegiatan social, pendidikan itu
ditujukan pada perwujudan nilai-nilai social atau cita-cita social, dan sekaligus sebagai realisasi diri
(self- realization) yaitu keinginan individu untuk mengembangkan potensi diri dalam rangka hidup
yang lebih baik bagi dirinya dan bagi sesamanya dalam masyarakat.
Mempersiapkan lulusan memasuki dunia industri modern/ dunia kerja memerlukan
kondisionalisasi persepsi masyarakat mengenai nilai kekaryaan dan bukan pada legitimasi
sertifikasi pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Dalam kaitan ini suatu kebijakan
perangsangnya harus disusun dengan memberi insentif yang memikat terhadap pendidikan
kekaryaan, antara jalur pendidikan formal dan jalur pelatihan harus mempunyai hubungan yang
berkesinambungan dan jangan dikotak-kotakkan secara formal, dengan kata lain antara dunia
pendidikan dengan dunia kerja haruslah berkesinambungan, dunia industry secara structural
dikaitkan dengan dunia pelatihan dan pendidikan secara langsung maupun tidak secara langsung.
Dunia industri harus secara langsung ikut serta bertanggung jawab terhadap pengembangan
mutu tenaga kerja yang mereka butuhkan, antaralain melalui lembaga pelatihan yang didirikan
secara mandiri atau bersama-sama, system magang atau program bersama lainnya antara
SISDIKNAS dan dunia industri. Suatu masayarakat industri modern perlu ditunjang oleh suatu
system pendidikan dan pelatihan yang terintegrasi, dengan demikian lulusan kurang bermanfaat
dari system pendidikan formal dapat diperkecil, yang jelas output dari system pendidikan formal
mempunyai kualifikasi siap latih, yang akan dilengkapi dengan program pelatihan nasional yang
akan mengahasilkan tenaga terampil siap pakai, untuk itu diperlukan suatu manajemen dan
pendidkan pelatihan nasional yang terintegrasi.
Secara umum masyarakat yang telah menyelesaikan pendidikan formal maupun non formal
(pelatihan keterampilan) membutuhkan dunia baru untuk dapat mengaktualisasikan apa yang telah
diperoleh selama dilembaga pendidikan dan pelatihan, disisi lain mereka juga membutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarganya.
Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan keahlian teoritis, konseptual dan moral,
sedangkan latihan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis pelaksanaan pekerjaan.
Pendidikan dan pelatiahan menurut Jan Bella dalam Malayu (1990) adalah sama dengan
pengembangan yaitu proses peningkatan keterampilan kerja baik teknis maupun manajerial.
Pendidkan berorientasi pada teori, dilakukan dalam kelas dan berlangsung lama biasanya untuk
menjawab pertanyaan “WHY”, sedangkan latihan berorientasi pada praktek dilakukan dilapangan
atau Work shop berlangsung singkat dan biasanya menjawab pertanyaan “HOW”
Manajemen Sumber Daya Manusia menurut Amstrong (1998) pada dasarnya ada 4 prinsip
dasar yaitu :
1. Sumber daya manusia adalah harta yang paling penting yang dimiliki suatu organisasi,
sedangkan manajemen yang efektif adalah kunci bagi keberhasilan organisasi tersebut.
INTERNATIONAL SEMINAR
Reformulating the Paradigm of Technical and Vocational Education

230

2. Keberhasilan mungkin tercapai jika peraturan, kebijakan dan prosedur yang bertalian dengan
manusia saling berhubungan dan memberikan sumbangan terhadap tercapainya tujuan yang
stratejik.
3. Kultur dan nilai perusahaan suatu organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur
tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pencapaian yang baik.
4. Manajemen sumber daya manusia berhubungan dengan integrasi menjadi semua anggota
organisasi tersebut terlibat dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Kesimpulan dari pendapat di atas tersebut adalah pengembangan sumber daya perlu
dilakukan oleh setiap instansi (organisasi), karana akan memberikan manfaat bagi intansi tersebut,
perusahaan SDM tersebut dan masyarakat sebagai konsumen. Upaya untuk mendapatkan SDM
yang berkualitas perlu dilatih dan ditingkatkan kualitasnya, agar menjadi tenaga kerja yang efektif,
efisien dan produktif. SDM yang berkualitas akan mampu berdaya saing dan professional.
Pendidikan dan pelatihan diperlukan dalam rangka untuk memperbaiki SDM dengan motto “ Hari
ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini, barang siapa yang
hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti celaka dan siapa yang hari ini sama dengan hari
kemarin berarti merugi.
Pelatihan dan pengembangan SDM sangat perlu dilakukan, karena dunia ini terus berputar
dan perkembangan ilmu pengetahuan terus melaju, bila kita tiadak mengejarnya maka kita akan
tertinggal

Daftar Rujukan
Tilaar, 1992, Manajemen Pendidikan Nasional, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Suryadi Ace, dkk, 1993, Analisis Kebijakan Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Schippers Uwe, dkk, 1994, Pendidikan Kejuruan Di Indonesia, Angkasa, Bandung
Wena Made, 1996, Pendidikan Sistem Ganda, Tarsito, Bandung
Balai latihan Kerja Instruktur & Pengembangan, 2009 , Analisis Kebutuhan Pelatihan, Dinas
Tenaga Kerja Prop. Jawa Timur, Surabaya
Departemen Tenaga Kerja RI, 2000, Manajemen Sarana Pelatihan, Jakarta

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.