You are on page 1of 132

1

UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA



ANALISIS KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP
BENCANA ROB

STUDI KASUS KOTA SEMARANG




TESIS


DANANG INSITA PUTRA
1 2010 02 03 006


PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN BENCANA


JAKARTA
2012
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keamanan nasional merupakan perwujudan konsep keamanan
menyeluruh (comprehensif security) yang menempatkan keamanan
sebagai konsep multi-dimensi yang mengharuskan negara menyiapkan
beragam aktor keamanan untuk mengelolanya (IDSPS, 2008). Aktor- aktor
keamanan tersebut masing-masing memiliki fungsi dan tugas spesifik
untuk menangani dimensi keamanan yang spesifik pula. Keragaman
ancaman keamanan nasional kontemporer dan sifat dari penangkalan dan
serangan yang asimetris merupakan faktor utama kebutuhan akan
kerangka yang komprehensif tersebut. Pada awalnya pengertian
keamanan identik dengan dunia militer. Fenomena ini tampaknya sejalan
dengan dominasi pendekatan realis di dalam sistem internasional. Kondisi
ini terus berlangsung hingga puluhan tahun dan mencapai puncaknya
pada masa Perang Dingin dimana dunia terbagi ke dalam dua kutub
berbeda yang saling beroposisi di bawah dua negara adidaya, Amerika
Serikat (AS) dan Uni Soviet. Dengan berakhirnya Perang Dingin dan
menguatnya berbagai isu non-militer, pengertian keamanan mengalami
perubahan. Keamanan tidak lagi identik dengan isu-isu militer namun juga
isu-isu non- militer, seperti kemiskinan, Hak Asasi Manusia (HAM),
ketersediaan pangan dan lain-lain. Seiring perubahan tersebut, di dalam
pengertian keamanan lahir istilah Human Security (Keamanan Insani).
Salah satu pendekatan keamanan nasional adalah pendekatan
pembangunan berkelanjutan (sustainable human development).
Pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu
pendekatan yang menekankan pada ancaman non-militer atas human
security dan ancaman atas human survival yang berasal dari persoalan-
3
persoalan seperti, pertumbuhan populasi global, migrasi, jurang ekonomi
dan kesempatan, penyakit, degradasi lingkungan drug trafficking dan
terorisme.
Pendekatan pembangunan yang berkelanjutan adalah pendekatan
utama dalam perencanaan dan pembangunan kota, dikarenakan
pembangunan kota tidak dapat hanya berkutat pada pembangunan fisik
(infrastruktur) namun juga pembangunan manusia sebagai unsur
pembentuk kota. Pendekatan pembangunan kota yang berkelanjutan
menawarkan pandangan yang luas atas human security, yang juga
menekankan pada aspek distributif dari pembangunan dan fakta bahwa
banyak persoalan yang muncul berakar pada kesenjangan sosio-ekonomi
dan ketidakadilan sosial (Sariffuddin, 2009). Bagi pendekatan ini,
pembangunan dan keamanan harus berjalan seiring dan saling
melengkapi. Tanpa adanya keadilan sosial dan ekonomi akan sulit untuk
menciptakan keamanan dan stabilitas di tengah-tengah masyarakat.
Selain itu pendekatan ini tidak saja melihat keamanan sebagai sebuah
kondisi dimana tidak terjadinya gejolak sosial, namun juga keamanan
dipahami sebagai sebuah kondisi dimana individu dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya, bebas dari beragam ancaman dan hidup secara
manusiawi. Dengan kata lain, sebuah kondisi dikatakan aman jika seorang
individu dapat bersekolah, hidup sehat dan bebas dari serangan penyakit,
memiliki rumah layak huni, memiliki akses yang baik atas ekonomi dan lain
sebagainya tanpa memperhitungkan terjadi atau tidaknya gejolak sosial
jika seandainya kebutuhan-kebutuhan dasar di atas terpenuhi atau tidak
(Widodo, 2006).
Perkembangan suatu kota dipengaruhi antara lain oleh tingkat
pertumbuhan penduduknya yang berbanding lurus dengan kebutuhan
lahan di perkotaan tersebut. Oleh karena itu, tingkat kepadatan di kawasan
perkotaan cenderung lebih tinggi dari pada dikawasan rural karena tingkat
aktivitas penduduk di perkotaan yang cenderung lebih tinggi.
4
Perkembangan daerah urban mengubah lahan dengan tutupan vegetasi
menjadi permukaan yang kedap air dengan kapasitas penyimpanan air
yang kecil atau tidak ada sama sekali. Aktivitas yang paling dominan
terhadap penggunaan lahan adalah aktivitas permukiman. Aktivitas ini
memiliki tingkat kebutuhan lebih dari 50% dari total lahan yang ada,
sehingga sekarang banyak bermunculan kawasan pemukiman dengan
konsep vertikal untuk mengurangi permasalahan akan keterbatasan lahan
pemukiman.
Pemanfaatan ruang di perkotaan sudah sangat padat dan sarat
akan konflik kepentingan pemanfaatan lahan. Daya dukung lingkungan
seluruh wilayah pun telah terancam karena saat ini lebih dari 50 persen
wilayah perkotaan di Jawa diidentifikasi rawan krisis air (kekurangan air
atau rawan banjir) (Novitaningtyas, 2008). Bencana yang sering terjadi
akibat pemanfaatan lahan perkotaan adalah banjir. Banjir adalah bencana
akibat kesalahan manusia yang paling sering terjadi dan merata di
Indonesia. Dampaknya dapat terjadi dalam lingkup lokal (terjadi hanya di
satu kelurahan atau desa), atau dapat juga dalam lingkup yang lebih luas.
Bencana banjir merupakan kejadian alam yang dapat terjadi setiap saat
dan sering mengakibatkan kerugian jiwa, harta dan benda. Banjir dari
tinjauan ekologis merupakan peristiwa fisik yang terjadi di lingkungan
hidup manusia dan mempengaruhi kehidupan manusia (Khadiyanto,
1988). Banjir dapat terjadi karena hujan yang terus menerus dan saluran
tidak dapat menampung air sehingga meluap. Tetapi banjir dapat pula
disebabkan oleh pasang air laut yang masuk ke wilayah daratan, banjir
genangan ini biasa dikenal dengan rob.
Bencana rob adalah genangan air pada bagian daratan pantai yang
terjadi pada saat air laut pasang. Rob menggenangi bagian daratan pantai
atau tempat yang lebih rendah dari muka air laut pasang tinggi (high water
level). Perubahan tata guna lahan terutama di wilayah pantai dituding
merupakan salah satu sebab semakin luasnya cakupan rob yang masuk
5
ke daratan dalam satu dasawarsa terakhir, disamping sebab-sebab
alamiah lainnya. Perubahan tata guna lahan dimana dahulu di wilayah
pantai digunakan sebagai lahan tambak, rawa dan sawah yang secara
alami dapat menampung pasang air laut telah berubah menjadi lahan
permukiman, kawasan industri, dan pemanfatan lainnya. Perubahan
tersebut dengan menggunakan cara reklamasi atau menguruk tambak,
rawa dan sawah, sehingga air pasang laut tidak tertampung lagi. Air
tersebut kemudian menggenangi kawasan yang lebih rendah lainnya.
Secara umum dampak kenaikan air laut adalah tergenangnya dataran
rendah, meningkatnya erosi pantai dan menimbulkan interusi air laut ke
daratan. Untuk kawasan permukiman dampak tidak langsung dari naiknya
air laut adalah adanya perubahan kualitas air, turunnya produktifitas
pertanian serta perpindahan penduduk.
Bencana tersebut juga terjadi di Kota Semarang yang merupakan
ibukota Provinsi Jawa Tengah terutama di wilayah pesisir pantai utara.
Kota Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang mengalami
ancaman karena kenaikan air laut pasang (rob). Kota Semarang sebagai
salah satu kota metropolitan memiliki wilayah laut, dengan garis pantai
sepanjang ± 13.6 km, yang memanjang di bagian utara kota
(Sarbidi,2002). Wilayah pesisir Kota Semarang tersusun oleh aluvium
muda dengan kompresibilitas tanah yang tinggi sehingga mengalami
proses pemampatan secara lami akibat beban lapisan tanah di atasnya
dan gangguan dari aktivitas manusia, proses ini mempercepat terjadinya
penurunan muka tanah (Murdohardono, 2006). Selain itu beberapa
kawasan pesisirnya tiap tahun mengalami penurunan tanah mencapai 10
cm seperti di Kecamatan Genuk, Kecamatan Semarang Timur dan
Kecamatan Semarang Utara (Kodoatie dalam BBC Indonesia, 2007).
Kondisi ini memperluas daerah di Kota Semarang yang terkena bencana
rob.
6
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana ditetapkan untuk membangun sistem
penanggulangan bencana yang terencana, terkoordinasi dan menyeluruh
dengan tetap menghargai budaya lokal, membangun kemitraan publik dan
swasta, mendorong kesetiakawanan dan kedermawanan, serta
menciptakan perdamaian dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Lahirnya Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana
ini merubah paradigma penanggulangan bencana yang dulunya reaktif
menjadi preventif dengan menitikberatkan pada pengurangan risiko
bencana. Salah satu faktor penting yang harus dianalisis dalam upaya
pengurangan risiko bencana yakni penilaian kerentanan wilayah terhadap
bencana yang akan terjadi. Kerentanan ditujukan pada upaya
mengidentifikasi dampak terjadinya bencana berupa jatuhnya korban jiwa
maupun kerugian ekonomi dalam jangka pendek yang terdiri dari
hancurnya permukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta
bangunan lainnya, maupun kerugian ekonomi jangka panjang berupa
terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun kerusakan
sumber daya alam lainnya. Analisis kerentanan pada prinsipnya
merupakan potret wilayah yang= difokuskan pada kondisi fisik kawasan
dan dampak kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal (Diposaptono,2005).

1.2 Perumusan Masalah
Terjadinya bencana di suatu daerah secara tidak langsung memiliki
potensi untuk mengubah tatanan nilai-nilai sosial masyarakat. Untuk
mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak sosial akibat
terjadinya bencana di Kota Semarang dilihat dari perilaku adaptasi
masyarakat terhadap dalam merespon bencana banjir yang ada di
lingkungannya. Sesuai dengan model ’pressure – state – respond’, besar
dugaan bahwa kekuatan eksternal (pressure) sangat besar namun
kemampuan internal (state) tidak bisa meresponnya dengan baik. Kondisi
tersebut ditunjukkan oleh sangat padatnya permukiman, kumuh, dan
7
penurunan kualitas lingkungan hidup. Padahal, sebelumnya permukiman
tersebut merupakan permukiman nelayan yang bebas banjir dan rob dan
tidak ada permukiman illegal, namun sekarang memiliki kondisi sebaliknya.
Tingkat kerentanan di suatu wilayah menurut Bappenas (2006)
menjadi suatu hal penting untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya bencana karena kerentanan
memperlihatkan kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang
mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi
ancaman bahaya. Sehingga wilayah yang memiliki tingkat kerentanan
yang tinggi akan menjadi wilayah yang semakin rawan terhadap bencana.
Kerawanan wilayah pesisir terhadap bencana rob akan menimbulkan risiko
bagi masyarakat berupa gangguan aktivitas, kegelisahan, wabah penyakit,
kematian, pengungsian, kerusakan atau kehilangan harta.
Rob adalah banjir yang terjadi akibat pasang surut air laut
menggenangi lahan/kawasan yang lebih rendah dari permukaan air laut
rata-rata (mean sea level). Genangan rob dapat berlangsung berhari-hari,
bahkan satu minggu terus menerus dengan tinggi lama genangan
bervariasi Adanya gaya gravitasi dimana air akan mengalir ke daerah yang
paling rendah dan mengisi seluruh ruang yang ada pada bagian yang lebih
rendah (Ali, 2010). Fenomena alam inilah yang menyebabkan air laut
menggenangi beberapa tempat rendah pada kawasan pantai Kota
Semarang. Berbagai pemasalahan ekologis yang terjadi di Kota Semarang
tidak terlepas dari pertumbuhan dan perkembangan kota maupun dampak
perubahan alam global.
Kota Semarang sebagai wilayah penelitian mengalami
permasalahan fisik lingkungan seperti banjir, rob maupun penurunan muka
tanah (land subsidence). Prediksi pada beberapa tahun ke depan bahwa
beberapa bagian wilayah Pesisir Kota Semarang akan terendam air laut
8
akibat penurunan tanah tentu saja menciptakan kerentanan wilayah
tersebut, baik dari aspek sosial ekonomi hingga fisik lingkungannya.
Akibat dari rob ini mengakibatkan penurunan tanah yang cepat
sehingga masyarakat dari tahun-ketahun harus menaikkan rumahnya,
selain itu rob telah merusak sarana dan pra sarana umum, kerugian
material yang tidak sedikit. Rob yang terjadi di Kota Semarang
menyebabkan dampak-dampak negatif baik dalam aspek fisik, sosial,
ekonomi maupun lingkungan. Dampak fisik adalah kerusakan pada
sarana-sarana umum dan kantor-kantor pelayanan publik sedangkan
dampak sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental,
menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-
anak tidak dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktivitas kantor
pelayanan publik, kekurangan bahan pokok, energi, air bersih, dan
kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Adapun dampak ekonomi mencakup
kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi (orang tidak dapat pergi
kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas terhambat, dan lain-
lain). Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan
pencemar yang dibawa oleh rob) atau tumbuhan di sekitar sungai yang
rusak akibat terbawa rob (Ali, 2010).
Rob yang menggenangi permukiman dan pertokoan di Kota Lama
Semarang dalam jangka waktu yang lama telah mereduksi pertumbuhan
ekonomi di wilayah tersebut. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya
unit-unit ruko atau bangunan yang ditinggalkan. Kerugian lain yang
terbilang sangat besar adalah rusaknya jejak-jejak historis berupa
bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda sebagai situs budaya
yang harus dilindungi keutuhannya (Bakti, 2010)
9


GAMBAR 1.1


PETA SEBARAN ROB DAN AMBLESAN TANAH KOTA SEMARANG
Sumber: Kesbanglinmas Kota Semarang, 2010
10

Berdasarkan data dari Bappeda Kota Semarang, dapat diketahui
bahwa sampai dengan tahun 2010, bencana rob di Kota Semarang
menyebabkan kerugian harta benda dikarenakan rusaknya infrastruktur
dan tempat usaha warga. Kerugian mayoritas warga terutama di daerah
pesisir adalah penurunan pendapatan masyarakat dikarenakan tambak
yang terkena dampak rob sehingga tidak bisa digunakan sebagian
maupun rusak sama sekali. Fakta diatas juga diperkuat dengan data dari
LSM Bintari mengenai dampak rob di sektor petanian dan perikanan di
Kota Semarang tahun 2007 pada tabel 1.1, yang menunjukan bahwa
produksi perikanan darat/ tambak sejak tahun 1997 sampai dengan tahun
2006 mengalami penurunan yang signifikan.
Tabel 1.1
Perbandingan Jumlah Produksi Perikanan Darat/Tambak Tahun
1997 dan 2006
No. Jenis
Produksi
(ton) Selisih Juta (Rp) Selisih
2006 1997 2006 1997
1. Bandeng 251,8 839,5 -587,7 2.079.850 2.938.351 -858.501
2. Belanak 9,3 52,6 -43,3 73.800 268.908 -195.108
3. Udang 166,7 1.210,5 -1.043,8 5.440.725 12.102.267 -
6.661.542
4. Lainnya 29 262,9 -233,9 149.550 629.711 -480.161
Jumlah 456,8 4.326,5 -3.905,7 7.743.925 15.939.237
-
8.195.312
Sumber: LSM Bintari, 2007

Akibat lain dari rob yang paling mudah dikenali terlihat pada fisik
bangunan rumah penduduk di wilayah pesisir Kota Semarang. Akibat dari
rob, membuat pemilik rumah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk
terus-menerus meninggikan lantai bangunan dalam jangka waktu 1-3
tahun. Setiap 1-3 tahun, penduduk yang terkena dampak rob berarti harus
menyisihkan bukan saja biaya, namun juga waktu dan prioritas lain di
dalam rumah tangga tersebut.
Sampai dengan saat ini telah banyak penelitian-penelitian yang
telah dilakukan untuk mengetahui dampak kenaikan air laut dan upaya-
11
upaya penanganan yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang.
Kenyataan sampai sekarang rob masih saja terjadi dan masyarakat juga
masih tetap tinggal di daerah rob. Penelitian ini sangat penting dilakukan
sebagai salah satu upaya menyajikan ‘potret’ kerentanan masyarakat Kota
Semarang yang dapat digunakan sebagai landasan dalam memberikan
rekomendasi penanggulangan bencana, yang diakibatkan oleh bencana
rob. Merujuk pada model ‘pressure-release’ penelitian ini dilakukan untuk
‘memotret’ kondisi pressure sebagai landasan untuk menskenariokan
release.
Berdasarkan pada permasalahan tersebut, dapat dirumuskan
pertanyaan penelitian ”Bagaimanakah kerentanan masyarakat Kota
Semarang terhadap bencana banjir dan rob?”. Atas dasar pertanyaan
tersebut tentunya perlu suatu pengkajian analisis kerentanan masyarakat
terhadap ancaman bencana rob dengan tujuan sebagai upaya
pengurangan risiko bencana wilayah Kota Semarang demi menjaga
kelangsungan pembangunan berkelanjutannya.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah mengkaji kerentanan masyarakat
di Kota Semarang terhadap bencana banjir dan rob. Dari penelitian ini,
diharapkan dapat diketahui kondisi kerentanan wilayah terhadap bencana
serta alternatif strategi dalam mengatasi kerentanan bencana tersebut.
1.3.2 Tujuan Penelitian
Untuk mendukung maksud dari penelitian ini maka dirumuskan
beberapa tujuan yang perlu dilakukan dalam penelitian ini. Adapun tujuan
yang dapat diambil yaitu :
1.3.2.1 Mengidentifikasi karakteristik masyarakat Kota Semarang;
1.3.2.2 Mengidentifikasi wilayah rentan dan dampaknya;
12
1.3.2.3 Menganalisis kerentanan masyarakat terhadap bencana rob di
wilayah Kota Semarang;
1.3.2.4 Menentukan kategori kerentanan masyarakat terhadap bencana
rob di Kota Semarang;
1.3.2.5 Menyusun arahan dan rekomendasi dalam pengembangan Kota
Semarang berdasarkan kondisi kerentanan tersebut.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam studi ini dibedakan menjadi dua yaitu ruang
lingkup substansial yang berisi mengenai materi-materi yang akan dibahas
dalam studi ini, serta ruang lingkup wilayah yang menjelaskan batasan
wilayah studi yang menjadi obyek penelitian.
1.4.1 Lingkup Materi
Ruang lingkup ini secara umum terkait dengan lingkup substansial
yang akan dibahas dalam penelitian ini. Adapun pada pembahasan ini,
lingkup materi dalam penelitian ini dibatasi oleh beberapa hal, yaitu:
1.4.1.1 Pembangunan berkelanjutan yaitu paradigma pembangunan yang
muncul dikarenakan adanya krisis alam secara global baik di
negara maju maupun berkembang. Menurut WCED (1987),
pembangunan berkelanjutan adalah ’pembangunan yang dapat
memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus
mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam
memenuhi kebutuhannya sendiri’.
1.4.1.2 Pengurangan risiko bencana yaitu Kerangka kerja konseptual
yang terdiri dari elemen-elemen yang dipandang mempunyai
kemungkinan untuk meminimalkan kerentanan dan risiko bencana
di seluruh masyarakat, untuk menghindari (pencegahan) atau
membatasi (mitigasi dan kesiapsiagaan) dampak merugikan yang
ditimbulkan bahaya, dalam konteks luas pembangunan
13
berkelanjutan.Kerangka kerja pengurangan risiko bencana terdiri
dari bidang aksi sebagai berikut:
1.4.1.2.1 Kesadaran dan pengkajian risiko, termasuk analisis
bahaya dan analisis kerentanan/kapasitas;
1.4.1.2.2 Pengembangan pengetahuan, termasuk pendidikan,
pelatihan, penelitian dan informasi;
1.4.1.2.3 Komitmen publik dan kerangka kerja institusional,
termasuk aksi kelembagaaan, kebijakan, perundangan
dan komunitas;
1.4.1.2.4 Penerapan langkah-langkah, termasuk pengelolaan
lingkungan, perencanaan penggunaan lahan dan tata
kota, perlindungan fasilitas penting, penerapan sains dan
teknologi, kemitraan dan jejaring, dan instrumen
finansial;
1.4.1.2.5 Sistem peringatan dini termasuk peramalan, penyebaran
peringatan, tindakan-tindakan kesiapsiagaan dan
kapasitas untuk memberikan reaksi.

1.4.1.3 Analisis risiko bencana yaitu metodologi untuk menentukan sifat
dan cakupan risiko dengan melakukan analisis terhadap potensi
bahaya dan mengevaluasi kondisi-kondisi kerentanan yang ada
yang dapat menimbulkan suatu potensi ancaman atau kerugian
bagi penduduk, harta benda, penghidupan dan lingkungan tempat
mereka tergantung. Proses untuk melakukan suatu pengkajian
risiko didasarkan pada suatu tinjauan tentang ciri-ciri teknis
bahaya, seperti lokasi, intensitas, frekuensi dan probabilitas
mereka, serta pada analisis tentang dimensi fisik, sosial dan
ekonomi dari kerentanan dan keterpaparan, serta pertimbangan
khusus pada kapasitas penyesuaian (coping capacity) yang terkait
dengan skenario-skenario risiko (Triutomo, 2009).
14
1.4.1.4 Analisis Kerentanan yaitu suatu proses yang menghasilkan
pengertian akan jenis dan tingkat kerentanan dari manusia, harta
benda/hak milik dan lingkungan terhadap efek dari ancaman
tertentu pada waktu tertentu. Proses tersebut adalah
mengidentifikasi kondisi fisik, sosial dan ekonomi yang rawan
terhadap dampak suatu ancaman (CBDRM, 2004).

1.4.2 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup ini merupakan pembatasan wilayah studi yang akan
diamati berdasarkan kerawanan bencana tersebut. Pembatasan wilayah
studi ini didasarkan pada kondisi kerawanan di wilayah pesisir Kota
Semarang. Adapun ruang lingkup wilayah makro yakni wilayah pesisir
Kota Semarang yakni kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan
perairan Laut Jawa. Wilayah makro tersebut terdiri atas 6 kecamatan yaitu
mencakup Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan
Semarang Utara, Kecamatan Genuk, Kecamatan Semarang Timur, dan
Kecamatan Gayamsari.
1.5 Manfaat Penelitian
Studi ini akan menyajikan potret kondisi masyarakat di Kota
Semarang dan bentuk mitigasi dan kemampuan mereka dalam
menghadapi perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh bencana banjir
demi keberlanjutan kehidupannya. Pada prinsipnya, penelitian ini
merupakan salah satu tahap dalam proses penyesuaian penduduk agar
dapat berkelanjutan. Secara keilmuan, penelitian ini memiliki manfaat
sebagai’pembuktian’ bahwa masyarakat telah memiliki pola adaptasinya
sendiri dalam menghadapi bencana yang mungkin muncul di
lingkungannya. Disamping itu penelitian ini juga bisa membuktikan faktor-
faktor yang menyebabkan masyarakat dapat beradaptasi.
15

















GAMBAR 1.2
PETA BATAS
ADMINSITRASI KOTA SEMARANG
16
Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2011
17

Sedangkan dari aspek praktis, penelitian ini dapat memberikan
manfaat sebagai berikut:
1.5.1 Manfaat bagi Masyarakat Lokal
Hasil Penelitian ini diharapkan masyarakat akan mengetahui tentang
risiko bencana yang dapat terjadi di wilayahnya sehingga dapat
melakukan tindakan-tindakan yang bersifat preventif agar dapat
mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan oleh bencana tersebut.
Manfaat ini dapat disampaikan dengan perantara Pemerintah Kota
ketika bersosialisasi terhadap masyarakat ataupun masyarakat yang
mengetahui produk penelitian ini secara langsung.
1.5.2 Manfaat bagi Pemerintah Kota Semarang
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan
masukan bagi pemerintah Kota Semarang dalam perencanaan
berdasarkan pada risiko bencana. Adanya penelitian ini diharapkan
pula agar dapat meningkatkan peran aktif pemerintah Kota
Semarang dalam upaya mitigasi bencana di wilayahnya.












18
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembangunan Berkelanjutan
2.1.1 Definisi Pembangunan Berkelanjutan
Paradigma pembangunan berkelanjutan muncul karena adanya
krisis alam secara global baik di negara maju maupun berkembang. Banyak
pandangan yang menyatakan bahwa masalah tersebut timbul karena
terjadi cara pandang yang keliru di masa terdahulu yaitu pemikiran tentang
antroposentrisme. Cara pandang ini mengedepankan kebutuhan manusia
dan memposisikan alam sebagai sebuah sumberdaya yang dapat
dieksploitasi secara besar-besaran karena alam memiliki kemampuan
memperbaiki dirinya. Pandangan ini menjadikan alam rusak, banyak
sumber daya yang tereksploitasi tanpa ada usaha pemulihan kembali.
Permasalahan lingkungan hidup akibat cara pandang antroposentrisme
telah melahirkan beberapa teori yang menentangnya yaitu ekosentrisme
dan biosentrisme. Pada intinya kedua teori ini mengedepankan alam
sebagai sebuah objek yang perlu dilestarikan dan diposisikan sejajar
dengan manusia.
Definisi tentang pembangunan berkelanjutan dapat bermacam-
macam tergantung interpretasi dan tujuan yang akan dicapai. Akan tetapi,
definisi yang dikemukakan oleh Komisi Dunia tentang Lingkungan Hidup
dan Pembangunan atau World Commision on Environmental and
Development = WCED (1987) sering dijadikan rujukan. Menurut komisi itu,
pembangunan berkelanjutan adalah ’pembangunan yang dapat memenuhi
kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengorbankan kemampuan
generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri’.
19
2.1.2 Hakekat Pembangunan Berkelanjutan
Apa hakekat pembangunan berkelanjutan sebenarnya? Hakekat itu
dapat kita turunkan dari definisi pembangunan itu sendiri. Pembangunan
dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan dasar
rakyat dengan lebih baik (Soemarwoto, 1983). Berdasarkan definisi
tersebut, hakekat pembangunan sebenarnya adalah pemenuhan
kebutuhan dan dalam konteks yang lebih riil adalah peningkatan
kesejahteraan yang baik. Ide sederhana dari pembangunan berkelanjutan
sendiri berdasarkan hakekatnya dapat dikatakan sebagai suatu usaha
untuk menjamin kesejahteraan generasi sekarang dan generasi selanjutnya.
Kesejahteraan menjadi inti dari pembangunan yang selama ini didengung-
dengungkan, karena pada dasarnya objek pembangunan itu sendiri adalah
manusia yang berperan sebagai penikmat sekaligus pelaksana
pembangunan. Jika kesejahteraan manusia terjamin maka besar
kemungkinan keberlanjutan lingkungan hidup akan terjamin begitupula
sebaliknya (Sariffuddin, 2010).
Pembangunan ditekankan pada tiga lingkup utama yaitu manusia
(people), ekonomi dan masyarakat. Namun dalam setiap pembahasannya
penekanan terhadap ekonomi lebih banyak dibahas terutama pada sektor
produktivitas yang memberikan lapangan kerja dan kekayaan. Aspek lain
yang dibahas adalah pembangunan manusia, dimana manusia sebagai inti
pembangunan yaitu menekankan pada kehidupan anak-anak (penyediaan
kesehatan dan lain-lain), pendidikan, harapan hidup, kesejahteraan,
keadilan (social equity) dan persamaan kesempatan (equal opportunity).
Lebih lanjut, pembahasan pembangunan berkelanjutan juga mengenai
sistem kelembagaan terkait dengan negara, wilayah, institusi dan yang
baru-baru ini adalah organisasi kemasyarakatan yang lebih dikenal dengan
modal sosial (social capital) (Edward, 1999, p. 25). Pemikiran tersebut
sesuai dengan pandangan bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari
20
pemikiran developmentalis yaitu lebih mengedepankan pemenuhan
kebutuhan secara ekonomi (Keraf, 2002).
Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep pembangunan
yang holistik tidak hanya menempatkan manusia sebagai satu-satunya
unsur yang bertanggungjawab tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan.
Kondisi internal menjadi modal dasar (Asset-based) yang mencerminkan
suatu kondisi masyarakat kota yang berinteraksi sesamanya, dengan
lingkungan hidup sebagai ruang dan sebagai penyedia kebutuhan dan
ekonomi sebagai suatu usaha/aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan
(Metter, 1999: 8). Sedangkan kebijakan berperan sebagai pedoman yang
mengarahkan kondisi masyarakat menuju suatu keberlanjutan secara
sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Sehingga keberlanjutan suatu kota
dipengaruhi oleh kondisi internal kota yang berperan sebagai modal dasar
(integrasi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup) dipengaruhi oleh
kebijakan sebagai pengatur kelangsungan aktivitas internal kota. Suatu
kota yang berkelanjutan mesti memiliki basis ekonomi yang kuat,
keseimbangan lingkungan yang terpelihara, keadilan sosial dan kekentalan
komunitas. Adapun prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai
berikut:

Tabel 1.1
Prinsip-Prinsip Pembangunan Kota Berkelanjutan
No Prinsip Dasar Kota yang tidak Berkelanjutan Kota yang berkelanjutan
1. Pertumbuhan
ekonomi
 Kompetisi, mengutamakan
industri besar, hanya aktivitas
bisnis tertentu yang
dikembangkan
 Peningkatan kemampuan
SDM kurang diperhatikan
 Terlalu banyak peraturan dan
birokrasi
 Tidak ada tax insentive bagi
pengelolaan pembangunan
yang berwawasan lingkungan
 Orientasi formalisme dan
fungsionalisme
 Kerjasama strategis dan
aneka industri dan bisnis

 SDM sangat diperhatikan

 Deregulasi dan
debirokratisasi

 Dirintis adanya tax insentive
bagi pengelolaan
pembangunan yang
berwawasan lingkungan
21
 Orientasi sistemik dan
humanisme
2. Keserasian
Lingkungan
 Penggunaan sumber-sumber
daya alam secara
berkelebihan;
 Pencemaran lingkungan;
 Tata guna lahan tunggal
 Kurang koordinasi dengan
sistem transportasi
 Taman-taman dan kawasan
lindung beralih fungsi
 Kepadatan tinggi tidak
terkendali
 Konservasi sumber daya
alam

 Pencegahan pencemaran
 Tata guna lahan campuran
 Koordinasi dengan sistem
transportasi
 Penciptaan taman-taman dan
kelestarian kawasan lindung
 Kepadatan tinggi dibatasi di
area-area tertentu saja
3. Kekentalan
Komunitas
 Disparitas yang meningkat
antar berbagai kelompok
pendapatan
 Kecenderungan
eksklusivisme
 Masyarakat patembayan
(Gessellschaft)
 Pengurangan kesenjangan
ekonomi

 Kebersamaan/ solidaritas
sosial
 Masyarakat paguyuban
(Gemeinschaft)
4. Pola Kemitraan  Kurang terjalin pola kemitraan
antar pemerintah, swasta dan
masyarakat
 Jalinan yang kuat antara
pemerintah, swasta dan
masyarakat
5. Peran Serta
Penduduk
 Peran serta penduduk sangat
terbatas
 Jalinan yang kuat antara
pemerintah, swasta, dan
masyarakat
6. Sistem
Pemerintahan
 Terlalu terpusat (sentralisasi)  Otonomi daerah
(desentralisasi)
Sumber: Research Triangle Institute, 1996 dalam Budiharjo, 1997

2.2. Manajemen bencana
Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah
manusia. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana
(free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktek mitigasi, seperti
mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain sebagainya.
Jonatan A. Lassa secara menarik mencoba menuliskan sejarah
penanggulangan bencana sejak jaman purbakala. Menurut Lassa (2004),
usaha pengurangan risiko bencana paling kuno dilakukan di Mesir, praktek
mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang
Early Warning System untuk kelaparan (famine) dan kesiap- siagaan
(preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh
tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan
22
sudah lahir pada tahun 2000 BC, sesuai keterangan kitab Kejadian, dan
tulisan-tulisan Yahudi Kuno.
Konsep manajemen bencana mengenai pencegahan (Prevention)
atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad ‘non-
peradababan’ selalu diceritakan ulang dalam ‘simbol-simbol’ seperti korban,
penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan
didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang. Tak heran mengapa kata
bencana (DISASTER) secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti
sesuatu yang tidak enak (unfavorable) dan ASTRO yang berarti bintang
(stars). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (peristiwa jatuhnya
bintang-bintang ke bumi) (Zebrowski, 1997 dalam Lassa, 2004).
2.2.1 Definisi bencana
Kamus Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Pusat Bahasa
Kementerian Pendidikan Nasional mengartikan bencana adalah sesuatu
yang menyebabkan (menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan.
Bencana juga dapat dipahami sebagai malapetaka atau kecelakaan.
Bencana juga dapat diartikan sebagai gangguan, godaan atau tipuan.
Bencana Alam diartikan sebagai kecelakaan yang disebabkan oleh alam
seperti gempa bumi, angin besar dan banjir. Dan bencana ekologis
diartikan sebagai bencana yang merusak keseimbangan lingkungan atau
sistem ekologi
Dalam UU No. 24 tahun 2007 Bencana (Disaster) didefinisikan
sebagai:
“suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,
baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis” (UU No. 24 /
2007).
23
Banyak definisi bencana lain yang dikeluarkan oleh berbagai
organisasi atau institusi; baik local maupun internasional. World Health
Organization menjelaskan dampak bencana terhadap kesehatan sebagai
berikut:
“A disaster is any occurrence that causes damage, ecological
disruption, loss of human life, or deterioration of health and health
services on a scale sufficient to warrant an extraordinary response
from outside the affected community or area;

“Bencana adalah kejadian yang menyebabkan kerusakan,
gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, atau kerusakan
pelayanan kesehatan dan kesehatan pada skala yang cukup untuk
menjamin respon yang luar biasa dari luar komunitas atau daerah
yang terkena dampak”. (WHO, 1995)

United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-
ISDR) menyusun suatu definisi standar tentang bencana yang
dimutakhirkan pada tanggal 31 Maret 2004, sebagai berikut:
“A serious disruption of the functioning of a community or a society
causing widespread human, material, economic or environmental
losses which exceed the ability of the affected community or society
to cope using its own resources” (ISDR, 2004)

“Suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat
sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan
manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang
melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasi
dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri”(ISDR, 2004)

Definisi standar internasional ini lebih lengkap. Rumusan ISDR
memposisikan kemampuan manusia atau komunitas untuk mengatasinya
dengan menggunakan sumber dayanya sendiri. Implikasi praktis dari
rumusan UNISDR kemudian adalah seberapapun besar ancaman bencana
yang ada, selama komunitas mampu mengatasinya secara mandiri dan
mampu memulihkan diri secara cepat, maka tak bisa dikatakan bencana.
24
De Guzman, konsultan Asian Disaster Reduction Center, dalam analisisnya
berjudul “Towards Total Disaster Risk Management Approach”
menyebutkan:
“Essentially, disasters are human-made. For a catastrophic event,
whether precipitated by natural phenomena or human activities,
assumes the state of a disaster when the community or society
affected fails to cope”
“Pada dasarnya, semua bencana pada hakekatnya adalah akibat
dari tindakan atau ketidakbertindakan manusia. Lebih jauh dia
menganalisis bahwa suatu peristiwa katastropik, baik yang
ditimbulkan oleh gejala alam ataupun diakibatkan oleh kegiatan
manusia, baru menjadi keadaan bencana ketika masyarakat yang
terkena tidak mampu untuk menanggulangi.” (Emmanuel M. de
Guzman, Towards Total Disaster Risk Management Approach,
2002).

2.2.2 Aspek dasar terjadinya suatu bencana
Mengacu kepada definisi UN-ISDR maka definisi bencana
mengandung tiga aspek dasar, meliputi: terjadinya peristiwa atau gangguan
yang mengancam dan merusak (hazard), peristiwa atau gangguan tersebut
mengancam kehidupan, penghidupan, dan fungsi dari masyarakat,
ancaman tersebut mengakibatkan korban dan melampaui kemampuan
masyarakat untuk mengatasi dengan sumber daya mereka. Bencana
(disaster) merupakan fenomena yang terjadi akibat kolektifitas atas
komponen bahaya (hazard) yang mempengaruhi kondisi alam dan
lingkungan, serta bagaimana tingkat kerentanan (vulnerability) dan
kemampuan (capacity) suatu komunitas dalam mengelola ancaman
(Departemen Komunikasi dan Informatika, Jurnal Dialog Kebijakan Publik,
Politik Bumi dan Manajemen Bencana, 2008): Pertama, Bahaya (hazard);
adalah suatu kondisi, secara alamiah maupun karena ulah manusia, yang
berpotensi menimbulkan kerusakan atau kerugian dan kehilangan jiwa
manusia. Bahaya berpotensi menimbulkan bencana, tetapi tidak semua
bahaya selalu menjadi bencana;
25
Kedua, kerentanan (Vulnerability); adalah sekumpulan kondisi dan
atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan)
yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan
penanggulangan bencana. Faktor kerentanan meliputi: Fisik: Kekuatan
bangunan struktur (rumah, jalan, jembatan) terhadap ancaman bencana;
Sosial: kondisi demografi (jenis kelamin, usia, kesehatan, gizi, perilaku
masyarakat) terhadap ancaman bencana; Ekonomi: Kemampuan finansial
masyarakat dalam menghadapi ancaman di wilayahnya; Lingkungan:
Tingkat ketersediaan/kelangkaan sumberdaya (lahan, air, udara) serta
kerusakan lingkungan yan terjadi.
Ketiga, kapasitas (Capacity); Adalah kekuatan dan potensi yang
dimiliki oleh perorangan, keluarga dan masyarakat yang membuat mereka
mampu mencegah, mengurangi, siap-siaga, menanggapi dengan cepat
atau segera pulih dari suatu kedaruratan dan bencana. Keempat, risiko
(Risk); adalah besarnya kerugian atau kemungkinan terjadi korban manusia,
kerusakan dan kerugian ekonomi yg disebabkan oleh bahaya tertentu di
suatu daerah pada suatu waktu tertentu.
Semakin tinggi nilai ancaman dan nilai kerentanan maka risiko
terjadinya bencana semakin tinggi. Untuk mengurangi risiko bencana perlu
melakukan peningkatan nilai kerentanan (vulnerability) menjadi kapasitas
(capacity) dengan melakukan penguatan kapasitas di dalam masyarakat
dalam mengelola lingkungan, mengenal ancaman, mengetahui dampak
yang dapat ditimbulkan oleh faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya
bencana. Hubungannya risiko bencana dalam Badan koordinasi Nasional
Penanggulangan Bencana (Bakornas PB), Pengenalan Karakteristik
Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia, edisi II (2007) dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Risiko = Bahaya x Kerentanan
Kemampuan

26
2.2.3 Perubahan Paradigma Disaster Management
Dalam beberapa tahun terakhir ini berkembang sebuah cara melihat
bencana. Bencana tidak lagi dilihat sebagai suatu kejadian tiba-tiba yang
tidak dapat diprediksi. Bencana dipandang sebagai sebuah fase dalam satu
siklus kehidupan normal manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi
keseluruhan kehidupan itu sendiri. Cara memandang ini disebut sebagai
Disaster Management (DM). Secara konseptual, ada beberapa definisi DM,
antara lain: sebagai perspektif penanganan bencana dimana pembangunan
(atau kegiatan normal) dipandang sebagai sebuah kondisi dan konteks
didalam mana bencana itu terjadi dan karenanya respon terhadap bencana
ditempatkan atau sebagai sebuah terminologi kolektif yang meliputi seluruh
aspek perencanaan untuk kesiapan dan mitigasi, maupun untuk
penanganan dampak pasca bencana (respon darurat).
Dalam definisi diatas, terlihat bahwa ada beberapa hal kunci yang
terkandung dalam perspektif DM yakni: keterkaitan bencana dengan
pembangunan. Perspektif ini memberikan perhatian yang berimbang
terhadap masalah-masalah dalam proses sebelum bencana terjadi maupun
pasca bencana. Sebelum bencana terjadi, kegiatan ditujukan untuk
menghindari bencana atau minimal mengurangi dampak buruk suatu
bencana. Setelah bencana terjadi atau dalam kondisi darurat, kegiatan
ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana).
Lebih penting lagi, perspektif DM berusaha untuk menganalisa dan
menitikberatkan pada keterkaitan antara dua tahap tersebut dalam konteks
kehidupan masyarakat.
Dengan demikian DM bergerak antara dua aliran utama kerja dalam
masyarakat, yakni pembangunan dan bantuan kemanusiaan.
Pembangunan misalnya, seringkali dianggap jalan untuk membebaskan
orang dari kemiskinan, sedangkan bantuan kemanusiaan dipandang
sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup seseorang atau sekelompok
27
orang yang tertimpa dampak suatu bencana. Sehingga terkesan adanya
pemisahan atau putusnya sebuah keterkaitan dialektis antara
pembangunan dengan bencana dan dampaknya.
Pemisahan ini dianggap tidak memadai lagi untuk perkembangan
konteks bencana dewasa ini, terutama untuk menilai dan merespon
bencana dan krisis yang berulang. Lebih sering tejadi, sebuah bencana,
bahkan yang disebut sebagai bencana alam sekalipun, merupakan dampak
dari suatu fenomena atau proses pembangunan itu sendiri, misalnya
masalah kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Harga dari
kerusakan yang terjadi karena bencana juga sudah terlalu besar (dari segi
keuangan, mutu hidup dan lingkungan serta emosi).
Dampak suatu bencana tertentu meningkatkan ancaman akan
terjadinya bencana berikutnya dan menurunkan kemampuan masyarakat
untuk bertahan dari dampak buruknya. Sehingga dari sisi internal,
masyarakat yang rentan terhadap bencana yang berulang dan ancaman
yang meningkat mengembangkan strategi hidupnya, untuk bertahan dalam
krisis terus menerus, dan bukan lagi untuk mencapai mutu kehidupan yang
lebih baik. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan taraf hidup
dengan kerja-kerja penanganan dampak bencana (respon darurat) tidak
dapat dipisahkan begitu saja. Upaya penanganan bencana yang lebih
dititikberatkan pada fase ketika tidak sedang terjadi bencana ini biasanya
disebut sebagai penanganan risiko bencana (Disaster Risk Management).
Dua perspektif yang berbeda, sebagai perbandingan antara paradigma
lama dan paradigma baru dalam penanganan bencana dapat dilihat pada
Tabel 2.1.



28
TABEL 2.1
PERSPEKTIF MANAJEMEN PENANGGULANGAN BENCANA
Perspektif Lama Perspektif Baru
Bencana dilihat sebagai kejadian yang
berdiri sendiri
Bencana merupakan bagian dari proses
pembangunan yang normal
Kurang menganalisa hubungan-
hubungan dengan kondisi masyarakat
pada keadaan normal
Analisa terhadap kondisi masyarakat
pada keadaan normal merupakan faktor
yang mendasar dalam mengenali
bencana
Dominasi solusi teknis, hukum, dan
berorientasi stabilisasi
Menekankan pada solusi yang merubah
struktur hubungan dalam masyarakat
yang menjadi penyebab masyarakat
lebih rentan terhadap bencana
Institusi yang terlibat dalam intervensi
sangat terpusat, dengan tingkat
partisipasi masyarakat “korban” sangat
rendah
Institusi yang terlibat tersebar, sehingga
masyarakat menjadi pemeran utama
dalam penyusunan strategi, dimana
masyarakat tidak dipandang sebagai
“korban” tapi sebagai “mitra”
Lembaga pelaksana kurang dapat
dipercaya dan kurang transparan kepada
masyarakat
Menekankan kepercayaan dan
transparasi dalam pelaksanaan
Intervensi dilakukan setelah terjadi
bencana
Mitigasi merupakan tujuan utama
Tujuan intervensi adalah
mengembalikan keadaan sebelum terjadi
bencana
Bencana dilihat sebagai kesempatan
untuk transformasi menuju kondisi yang
lebih baik
Sumber: CBDRM – FKPB, 2004
2.3 Pengurangan Risiko Bencana dan Analisis Risiko
Pengurangan risiko bencana (PRB) merupakan sebuah konsep
yang luas dan relatif baru. Ada beberapa definisi berbeda dari istilah ini
dalam literatur teknis, tetapi PRB secara umum dipahami sebagai
29
pengembangan dan penerapan secara luas dari kebijakan-kebijakan,
strategi-strategi dan praktik-praktik untuk meminimalkan kerentanan dan
risiko bencana di masyarakat. PRB adalah sebuah pendekatan sistematis
untuk mengidentifikasi, mengkaji dan mengurangi risiko- risiko bencana.
PRB bertujuan untuk mengurangi kerentanan-kerentanan sosial-ekonomi
terhadap bencana dan menangani bahaya-bahaya lingkungan maupun
bahaya-bahaya lain yang menimbulkan kerentanan.
2.3.1 Pengurangan Risiko Bencana
PRB merupakan tanggung jawab lembaga-lembaga yang bergerak
dalam bidang pembangunan maupun lembaga lembaga bantuan
kemanusiaan dan PRB harus menjadi bagian terpadu dari pekerjaan
organisasi semacam ini, bukan sekedar kegiatan tambahan atau kegiatan
terpisah yang dilakukan satu-dua kali saja. Oleh karenanya, upaya PRB
sangatlah luas. Dalam setiap sektor dari kerja pembangunan dan bantuan
kemanusiaan terdapat peluang untuk melaksanakan prakarsa-prakarsa
Pengurangan Risiko Bencana (Twigg, 2007).
Pertanyaan yang seringkali diajukan adalah “Apa itu risiko?”. Risiko
adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan /
aktivitas yang idlakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan
dan proyek konstruksi. Karena dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan
konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian (uncertainty). Faktor
ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada
suatu kegiatan. Para ahli mendefinisikan risiko antara lain William and
Heins (1985) mendefinisikan risiko sebagai suatu variasi dari hasil – hasil
yang dapat terjadi selama periode tertentu pada kondisi tertentu.
Sedangkan William Smith mendefinisikan risiko sebagai sebuah potensi
variasi sebuah hasil dan Siahaan (1995) menjelaskan risiko sebagai
kombinasi probabilita suatu kejadian dengan konsekuensi atau akibatnya.
30
Perbedaan pendapat mengenai difinisi risiko ini mungkin disebabkan
perbedaan bidang keilmuan para ahli tersebut diatas.

Gambar 2.x
Konsep Dasar Risiko
Sumber: GTZ, 2009

Secara umum diketahui bahwa risiko adalah hal-hal yang belum
terjadi, tapi bisa dipahami melalui ilmu pengetahuan maupun melalui
pengetahuan dari sejarah masa lalu. Trieschman, Gustavon, Hoyt, (2001)
mengemukakan beberapa macam risiko yaitu risiko statis dan risiko
dinamis dengan berdasarkan sejauh mana ketidakpastian berubah karena
perubahan waktu. Berdasarkan teori ini ada dua macam risiko yaitu:
Pertama, Risiko Statis. Yaitu risiko yang asalnya dari masyarakat yang
tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Risiko statis dapat
bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh risiko spekulasi statis:
Menjalankan bisnis dalam ekonomi stabil. Contoh risiko murni statis:
Ketidakpastian dari terjadinya sambaran petir, angin topan, dan kematian
secara acak (secara random). Dan kedua yaitu risiko dinamis, yaitu risiko
yang timbul karena terjadi perubahan dalam masyarakat. Risiko dinamis
31
dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh sumber risiko dinamis:
urbanisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan undang – undang
atau perubahan peraturan pemerintah.
Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat
bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa
kematian , luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehil angan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat
(Bakornas PB, 2007). Sebagaimana dijelaskan diatas mengenai bencana,
analisis risiko bencana merupakan gabungan dari analisis bahaya dan
analisis kerentanan bencana yang ada (Gambar 2.x).


Gambar 2.x
Konsep Dasar Risiko
Sumber: Working Concept Disaster Risk Management, GTZ, 2009
2.3.2 Analisis Risiko Bencana
Analisis Risiko bukanlah proses yang dilakukan hanya satu kali dan
bersifat statis, melainkan sebuah proses dinamis yang terus-menerus serta
menyesuaikan diri dengan kerentanan perubahan, bahaya dan risiko. Untuk
mengidentifikasi bahaya lebih efektif dilakukan secara partisipatif dengan
melibatkan kelompok masyarakat. Untuk menganalisis risiko serta
32
memperkirakan dan menilai kemungkinan terjadinya bencana dan potensi
kerusakan yang mungkin dari suatu bencana perlu mempertimbangkan
sejarah serta strategi adaptif masyarakat sekitar, seperti digambarkan pada
gambar 2.x .

Gambar 2.x
Masukan dan Keluaran dari Analisis Risiko
Sumber: Working Concept Disaster Risk Management, GTZ, 2009

Pengukuran analisis risiko dapat menggunakan matriks risiko
untuk menggabungkan variabel kemungkinan dan variabel dampak untuk
mendapatkan skor risiko. Skor risiko dapat digunakan untuk membantu
pengambilan keputusan dan membantu dalam menentukan tindakan apa
yang harus mengambil dalam keseluruhan risiko. Bagaimana skor risiko
berasal dapat dilihat dari matriks resiko sampel dan tabel skor risiko
ditunjukkan di bawah ini. Empat tingkat tingkat risiko atau skor ditampilkan
dalam matriks dan tabel yang terdapat di bawah.

33


www.austrac.gov.au/elearning_aml..._14.html


www.austrac.gov.au/elearning_aml..._14.html

Untuk merumuskan rekomendasi yang implementif di tingkat
masyarakat dengan tujuan untuk untuk mengurangi kerentanan dan
meningkatkan kapasitas masyarakat, setiap analisis risiko yang disusun
harus dapat menampung semua anspirasi stakeholders, menggunakan
34
variabel yang terukur dan masuk akal, serta mengintegrasikannya dengan
rencana-rencana pembangunan wilayah.
2.3.3 Peran Masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana
Dalam manajemen tanggap darurat yang konvensional,
masyarakat dipandang lebih dari aspek ruang: kelompok-kelompok orang
yang tinggal di daerah yang sama atau tinggal berdekatan dengan risiko-
risiko yang sama. Pandangan ini mengabaikan dimensi-dimensi penting
lain dari ‘masyarakat’ yang berkaitan dengan kepentingan, nilai-nilai,
kegiatan-kegiatan dan struktur- struktur yang sama (Twigg, 2007).
Masyarakat merupakan sesuatu yang kompleks dan seringkali
tidak berbentuk satu kesatuan. Di antara orang-orang yang tinggal di suatu
daerah yang sama ada perbedaan- perbedaan dalam hal kekayaan, status
sosial dan pekerjaan, dan mungkin pula ada pembagian- pembagian lain
yang lebih serius di dalam masyarakat. Seseorang dapat menjadi anggota
beberapa masyarakat yang berbeda pada saat yang sama, terhubungkan
dengan masing-masing masyarakat ini oleh faktor-faktor berbeda seperti
tempat tinggal, pekerjaan, status ekonomi, gender, agama atau kesamaan
hobi. Masyarakat adalah sesuatu yang dinamis: orang dapat berkumpul
bersama untuk tujuan-tujuan tertentu yang sama dan berpisah kembali
segera setelah tujuan-tujuan ini tercapai.
Faktor-faktor ini menyebabkan sulit bagi kita untuk
mengidentifikasikan dengan jelas ‘masyarakat’ yang kita dampingi. Dari
perspektif bahaya, dimensi ruang merupakan suatu unsur yang mendasar
dalam mengidentifikasikan masyarakat yang menghadapi risiko, tetapi
kesamaan tempat tinggal ini harus dihubungkan dengan pemahaman akan
perbedaan-perbedaan, keterkaitan dan dinamika sosial- ekonomi di wilayah
berisiko tersebut, tidak hanya untuk mengidentifikasikan kelompok-
kelompok rentan tetapi juga untuk memahami berbagai faktor berbeda yang
35
turut menciptakan kerentanan. Usaha-usaha, layanan layanan dan
infrastruktur masyarakat juga harus turut dipertimbangkan.
John Twigg dalam papernya yang berjudul “Karakteristik
Masyarakat yang Tahan Bencana” juga menuliskan mengenai keberadaan
masyarakat yang sejatinya tidaklah terpisah dari lingkungannya. Tingkat
ketahanan masyarakat juga dipengaruhi oleh kapasitas di luar masyarakat
bersangkutan, terutama oleh layanan penanggulangan bencana tetapi juga
oleh layanan- layanan sosial dan administratif lainnya, oleh infrastruktur
publik dan jaringan hubungan-hubungan sosial- ekonomi dan politik dengan
dunia yang lebih luas. Sedikit banyak semua masyarakat praktis tergantung
pada penyedia layanan eksternal. Bagian ‘lingkungan yang mendukung’
dalam tabel-tabel pada catatan panduan ini mencoba mengidentifikasikan
beberapa dari pengaruh-pengaruh luar ini.
2.4 Kerentanan masyarakat
Keberadaan bencana pada dasarnya tidak diharapkan oleh pihak
manapun. Akan tetapi ketika bencana merupakan hal yang mungkin terjadi,
maka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan
kesigapan ketika terjadi bencana dan kesiapsiagaan ketika tidak atau
belum terjadi bencana. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa
bencana datang dengan tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. Model atau
perkiraan terhadap bencana susulan hanya dapat dilakukan bila pernah
terjadi kejadian sebelumnya. Dalam menghadapi ancaman bencana
tersebut, terdapat berbagai kelompok masyarakat dalam menanggapinya.
Di sebagian masyarakat terdapat kelompok yang menyikapi dengan
tindakan yang sesuai dengan prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.
Namun di sebagian lain terdapat kelompok masyarakat yang belum siap
dan sigap ketika terjadi bencana. Hal tersebut merupakan kerentanan di
mana kondisi masyarakat mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan
dalam menghadapi ancaman bencana (Sumekto).
36
2.4.1 Pengertian kerentanan dan analisis kerentanan
Kerentanan menurut terminologi UN-ISDR adalah kondisi-kondisi
yang ditentukan oleh faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan atau
proses-proses, yang meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap
dampak bahaya. Hal-hal yang menyebabkan suatu masyarakat hidup
dalam kondisi yang rentan antara lain dikarenakan ketidakpedulian
terhadap kerentanan, atau dengan kata lain tidak peduli atau kurang
pengetahuan akan adanya risiko-risiko bencana yang ada di sekitarnya.
Faktor yang lain yaitu adanya keterbatasan kepentingan, otoritas,
dan kemampuan untuk mengubah kondisi yang ada. Hal ini dapar dilihat
pada masyarakat yang hidup di bantaran sungai karena keterbatasan akses
terhadap sumber daya yang ada. Berdasarkan beberapa penelitian, hal-hal
yang menyebabkan masyarakat hidup di bantaran sungai lebih dominan
dikarenakan faktor ekonomi. Dengan kata lain bahwa, masyarakat yang
hidup di bantaran sungai terutama di kota-kota besar “terpaksa” atau
“dipaksa” tinggal disana. Kondisi ini pasti berbeda dengan kehidupan
masyarakat bantaran Sungai Barito maupun Batanghari yang benar-benar
merupakan budaya selama berabad-abad dikarenakan menggantungkan
hidupnya dari sungai. Faktor lain yang menyebabkan masyarakat terus-
menerus hidup dalam kondisi rentan yaitu kurangnya ataupun kadang-
kadang tidak ada pilihan alternatif yang lebih baik secara fisik, sosial,
ekonomi, dan politik.
2.4.2 Kerentanan dan Ketahanan terhadap bencana
Istilah ‘ketahanan’ dan ‘kerentanan’ adalah dua sisi dari satu mata
uang yang sama, tetapi keduanya adalah istilah yang relatif. Kita harus
mengkaji individu-individu, masyarakat-masyarakat dan sistem- sistem
mana yang rentan atau tahan terhadap bencana, dan sampai sejauh mana.
Seperti kerentanan, ketahanan juga kompleks dan memiliki banyak aspek.
Dibutuhkan berbagai segi atau lapisan ketahanan yang berbeda untuk
37
menangani beragam tekanan yang berbeda dengan tingkat keparahan
yang berbeda- beda pula.
Banyak upaya telah dilakukan untuk mendefinisikan ‘ketahanan’.
Berbagai macam definisi dan konsep akademis yang ada dapat
membingungkan. Agar operasional, lebih mudah bila kita bekerja dengan
definisi-definisi luas dan karakteristik-karakteristik yang umum dipahami.
Dengan pendekatan ini, sistem atau ketahanan masyarakat dapat dipahami
sebagai: kapasitas untuk menyerap tekanan atau kekuatan-kekuatan yang
menghancurkan, melalui perlawanan atau adaptasi; kapasitas untuk
mengelola, atau mempertahankan fungsi-fungsi dan struktur-struktur dasar
tertentu, selama kejadian- kejadian yang mendatangkan malapetaka;
kapasitas untuk memulihkan diri atau ‘melenting balik’ setelah suatu
kejadian (Twigg, 2007).
Ketahanan pada umumnya dipandang sebagai suatu konsep yang
lebih luas daripada ‘kapasitas’ karena konsep ini memiliki makna yang lebih
tinggi daripada sekedar perilaku, strategi-strategi dan langkah-langkah
pengurangan serta manajemen risiko tertentu yang biasa dipahami sebagai
kapasitas. Walaupun begitu, sulit untuk memisahkan antara konsep-konsep
ini dengan jelas. Dalam penggunaan sehari-hari, ‘kapasitas’ dan ‘kapasitas
bertahan’ seringkali memiliki arti yang sama dengan ‘ketahanan’. Fokus
pada ketahanan berarti memberikan penekanan yang lebih besar pada apa
yang dapat dilakukan oleh masyarakat bagi diri mereka sendiri dan pada
cara-cara untuk memperkuat kapasitas mereka, alih-alih memusatkan
perhatian pada kerentanan mereka terhadap bencana atau kebutuhan-
kebutuhan mereka dalam situasi darurat (Twigg, 2007).
2.4.3 Faktor-Faktor Kerentanan
Dalam menentukan faktor-faktor kerentanan, langkah pertama
yang perlu dilakukan yaitu melakukan pemetaan (maping) terhadap kondisi
wilayah penelitian. Pemetaan kerentanan adalah suatu proses yang
38
menghasilkan pengertian akan jenis dan tingkat kerentanan dari manusia,
harta benda dan lingkungan terhadap efek dari ancaman tertentu pada
waktu tertentu. Proses ini lebih pada mengidentifikasi kondisi fisik, sosial
dan ekonomi yang rawan terhadap dapak suatu ancaman. Suatu proses
partisipasi untuk mengidentifikasi unsur-unsur risiko pada setiap ancaman,
dan untuk menganalisa akar masalah adanya unsur-unsur risiko tersebut.
Pemetaan kerentanan adalah proses perkiraan kerentanan pada ancaman-
ancaman yang potensial dengan cara (1.) Mengidentifikasi unsur-unsur
risiko pada setiap type ancaman (2). Menganalisa akar masalah adanya
unsur-unsur risiko tersebut.
Beberapa aspek pada analisis kerentanan menurut Sumekto
(2006) yang ada di masyarakat, antara lain:
2.4.3.1 Kerentanan fisik.
Kerentanan fisik (infrastruktur) menggambarkan perkiraan tingkat
kerusakan terhadap fisik (infrastruktur) bila ada faktor berbahaya (hazard)
tertentu. Berbagai indikator yang merupakan sumber kerentanan fisik
adalah sebagai berikut: persentase kawasan terbangun; kepadatan
bangunan; persentase bangunan konstruksi darurat; jaringan listrik; rasio
panjang jalan; jaringan telekomunikasi; jaringan PDAM; dan jalan KA, maka
permukiman yang berada di kawasan bahaya alam (gempa bumi tektonik
dan kawasan banjir) dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat
rentan karena persentase kawasan terbangun, kepadatan bangunan,
sementara di lain pihak persentase jaringan listrik, rasio panjang jalan,
jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM masih rendah.
2.4.3.2 Kerentanan ekonomi.
Kerentanan ekonomi menggambarkan besarnya kerugian atau
rusaknya kegiatan ekonomi (proses ekonomi) yang terjadi bila terjadi
ancaman bahaya. Indikator yang dapat kita lihat menunjukkan tingginya
tingkat kerentanan ini misalnya adalah persentase rumah tangga yang
39
bekerja di sektor rentan (sektor jasa dan distribusi) dan persentase rumah
tangga miskin di daerah rentan bencana rob.
2.4.3.3 Kerentanan sosial.
Kerentanan sosial menunjukkan perkiraan tingkat kerentanan
terhadap keselamatan jiwa penduduk apabila ada bahaya. Dari beberapa
indikator antara lain kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk,
persentase penduduk usia tua-balita dan penduduk wanita, maka dapat
diketahui kawasan rawan bencana memiliki kerentanan sosial tertentu.
Belum lagi jika kita melihat kondisi sosial saat ini yang semakin rentan
terhadap bencana non-alam (man-made disasters), seperti rentannya
kondisi sosial masyarakat terhadap dampak bencana rob karena tingginya
angka pengangguran juga tekanan ekonomi.
2.4.3.4 Kerentanan lingkungan.
Kerentanan lingkungan menggambarkan kondisi suatu wilayah
yang rawan bencana. Kondisi geografis dan geologis suatu wilayah serta
data statistik kebencanaan merupakan indikator kebencanaan. Kota
Semarang termasuk salah satu wilayah yang memiliki kerentanan
lingkungan cukup tinggi. Indikasi suatu daerah merupakan lingkungan yang
rawan adalah dekat dengan sumber ancaman dengan kapasitas
masyarakat yang masih rendah dalam menghadapi bencana. Adanya
kerentanan masyarakat dan ancaman bencana menjadikan kapasitas
masyarakat mutlak untuk dikembangkan. Hal tersebut didasarkan pada
pemikiran bahwa bencana akan menjadi sebuah hal yang marjin ketika
masyarakat mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk mengantisipasi
dampaknya dengan baik. Semakin besar kemampuan masyarakat dalam
mengelola bencana maka akan semakin kecil dampak kerugian yang
ditimbulkannya. Hal seperti itulah yang dirintis dalam pengurangan risiko
bencana. Secara struktural penanggulangan bencana pada saat ini masih
bersifat sentralistik. Meskipun struktur kelembagaan seperti ini masih tetap
40
berlaku, namun seiring dengan adanya reformasi dan otonomi daerah hal
tersebut mulai bergeser dengan berubahnya paradigma politik dan
pemerintahan. Hal tersebut juga semakin bergeser sejalan dengan
menguatnya paradigma pengurangan risiko kebencanaan.
Pada buku Instruments and approaches in risk analysis faktor-
faktor kerentanan juga dibagi menjadi 4 (empat) faktor yaitu: fisik, ekonomi,
sosial, dan lingkungan dengan indikator-indikator yang bisa digunakan
sesuai dengan karakteristik wilayah penelitian (gambar 2.x).


Gambar 2.x
Masukan dan Keluaran dari Analisis Risiko
Sumber: Working Concept Disaster Risk Management, GTZ, 2009
41
Kategorisasi yang berbeda dari kerentanan oleh berbagai penulis
dapat membantu dalam pemahaman yang lebih baik kompleksitasnya
dapat dilihat pada tabel 2.x di bawah ini.
TABEL 2.X
KATEGORISASI KERENTANAN DARI BEBERAPA PENULIS
Sumber: Global Crisis Solutions


2.4.4 Kerentanan dari Perspektif Penataan Ruang
42
Kerentanan tersebut selalu terkait dengan konsteks ruang yang
sekiranya akan terkena dampak kerawanan yang terjadi (Miladan, 2009).
Definisi ruang berdasarkan pada UU No. 26 Tahun 2007 merupakan wadah
yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di
dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk
lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
Dalam undang-undang tersebut tertuang pula beberapa subtansi yang
bertujuan dalam peningkatan kapasitas fisik dan non fisik wilayah tersebut.
Adapun substansi tersebut tertuang dalam tata ruang yakni wujud struktur
ruang dan pola ruang.
Atas dasar tersebut maka dalam penentuan variabel kerentanan
suatu wilayah juga harus ada keterkaitannya dengan lingkup penataan
ruang secara komprehensif. Pada substansi Undang-Undang Penataan
Ruang No. 26 Tahun 2007 beberapa elemen yang dapat dikaitkan dengan
kerentanan bencana yakni elemen struktur ruang dan elemen pola ruang.
Elemen tersebut terkait dengan kondisi fisik wilayah, sedangkan untuk
kondisi sosial masyarakat yang terkait langsung dengan elemen
kerentanan bencana belum terjabarkan secara jelas di dalam undang-
undang tersebut (Miladan, 2009).
Adapun substansi yang perlu diperhatikan dalam penataan ruang
dihubungkan dengan kerentanan bencana yakni terkandung aspek fisik
yang meliputi susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial
ekonomi masyarakat serta aspek lingkungan meliputi kawasan lindung dan
budidaya di wilayah, dan aspek kawasan strategis wilayah. Sedangkan
aspek sosial dan ekonomi tidak secara detail menjabarkan aspek
kerentanan bencana. Atas dasar-dasar tersebut maka beberapa elemen
tata ruang berdasarkan prespektif Undang-Undang Penataan Ruang yang
dapat dikaitkan dengan kerentanan bencana adalah sebagai berikut ini:
43
Pertama, aspek fisik yang meliputi prasarana dasar dan fasilitas
perkotaan. Adapun variabel-variabel yang terkait dengan aspek diatas
meliputi prasarana dasar, misalnya jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan
air bersih, jaringan telekomunikasi, jaringan Persampahan, jaringan
drainase, dan lain-lain serta sarana/fasilitas umum, meliputi perdagangan
dan jasa, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Kedua, aspek lingkungan
yang terkait dengan keberadaan kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Adapun variabel-variabel terkait dengan kerentanan yakni: Kawasan
lindung, meliputi kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan
resapan air, kawasan sempadan pantai, dan lain-lain. Serta kawasan
budidaya, meliputi perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan,dan lain-
lain.

2.4.5 Analisis Kerentanan
Analisis kerentanan bencana sebagai satu proses dinamis,
berkelanjutan dari pihak- pihak (individu dan organisasi) yang mampu
menilai bahaya dan resiko yang mereka hadapi dan menentukan apa yang
seharusnya dilakukan terhadap bahaya dan resikonya. Pengkajian
kerentanan juga mencakup suatu sarana pengumpulan data yang
terstruktur yang diarahkan untuk pemahaman tingkat potensi ancaman,
kebutuhan, dan sumber daya yang dapat segera terpenuhi. Pengkajian
tersebut mencakup dua kategori informasi umum. Pertama, informasi
infrastruktur yang relatif statis yang memberikan dasar-dasar untuk
menentukan tingkat pembangunan, tipe-tipe keuntungan dan kerugian fisik
yang dihadapi oleh masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah dan
suatu peta bencana dari struktur yang tersedia, seperti: jalan dan rumah
sakit yang bermanfaat pada saat tanggap darurat. Kedua, mencakup data
sosio-ekonomi yang relatif dinamis yang menunjukkan sebab dan tingkat
kerentanan, perubahan demografi dan tipe-tipe aktivitas ekonomi.
44
Berdasarkan Kant (1994) dalam buku Kesiapan Bencana ada tiga
alasan utama mengapa penilaian (assessment) kerentanan itu begitu
penting bagi kesiapsiagaan bencana (disaster preparedness). Pertama,
penilaian kerentanan yang akurat berfungsi sebagai suatu sarana untuk
menginformasikan kepada para pembuat keputusan tentang kegunaan dari
pendekatan tingkat lokal dan nasional terhadap kesiapan bencana. Kedua,
para pembuat keputusan seharusnya sadar akan potensi-potensi bencana
di negara masing-masing. Sedangkan pada dimensi ancaman bencana dan
tingkat kesiapsiagaan atau ketidaksiapsiagaan perlu dipahami secara
penuh. Ketiga, pengkajian kerentanan harus berfungsi berdasarkan basis
yang bersifat berkelanjutan (sustainable habits) memonitor gejala-gejala
dari kondisi infrastruktur, sosio-ekonomi, dan fisik di negara-negara yang
rawan terhadap bencana. Dengan pemahaman ini, upaya awal untuk
mengembangkan suatu data dasar melalui pengkajian kerentanan harus
menjadi landasan bagi perawatan dan perbaikan media informasi penting
demi tujuan perencanaan pembangunan (Kent, 1994).
2.4.5 Klasifikasi Variabel Penelitian Kerentanan terhadap bencana rob
Rob adalah kejadian/fenomena alam dimana air laut masuk ke
wilayah daratan, terutama saat air laut mengalami pasang. Intrusi air laut
tersebut dapat melalui sungai, saluran drainase atau aliran bawah tanah.
Rob dapat muncul karena dinamika alam atau kegiatan manusia. Dinamika
alam yang dapat menyebabkan rob adalah adanya perubahan elevasi
pasang surut air laut. Sedangkan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia
misalnya dikarenakan oleh penyedotan air tanah yang berlebihan,
pengerukan alur pelayaran, reklamasi pantai, dan lain-lain (Wahyudi dkk,
2001).
Pada beberapa kawasan di wilayah pesisir yang rawan tergenang
akibat kenaikan permukaan air laut muncul berbagai kerentanan bencana
bagi masyarakat pesisir maupun lingkungan pesisir tersebut. Menurut
Harmoni dalam Miladan, 2010 beberapa permasalahan tersebut akan dapat
45
menimbulkan beberapa akibat antara lain: Pertama, Kerusakan
infrastruktur (jaringan listrik, jaringan telepon, jaringan PDAM, fasilitas
umum dan sebagainya) Bencana rob akibat kenaikan air laut akan merusak
infrastruktur yang ada di wilayah tersebut. Kerusakan tersebut terjadi
karena infrastruktur tersebut akan tergenang oleh air laut yang
menyebabkan kerusakan fisik pada infrastruktur yang ada. Kerusakan
infrastruktur tersebut tentunya akan menelan biaya yang cukup besar untuk
upaya perbaikannya maupun perawatan pasca bencana tersebut jika terjadi.
Adanya hal ini merupakan kerentanan-kerentanan fisik yang dapat
menghambat pengembangan wilayah pesisir yang berkelanjutan.
Kedua, Kerusakan kawasan-kawasan strategis. Pada wilayah
pesisir seringkali terdapat beberapa wilayah/kawasan yang memiliki peran
strategis dalam perkembangan maupun keberlanjutan wilayah pesisir
tersebut. Pada hal ini sebagai contoh yakni kawasan mangrove dan
kawasan terumbu karang. Jika terjadi bencana rob tersebut tentu saja
kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang akan terkena dampaknya
secara langsung. Kemungkinan besar akan terjadi kerusakan habitat-
habitat tersebut. Hal ini tentu saja akan dapat menyebabkan kerugian yang
cukup besar bagi keberlanjutan wilayah pesisir. Disisi lain kawasan
strategis yang lainnya yakni kawasan-kawasan yang memiliki nilai historis.
Pada umumnya kota-kota di Wilayah Pesisir Indonesia berkembang sejak
zaman kolonial sehingga banyak peninggalan sejarah yang berada di
wilayah pesisir. Melihat kondisi tersebut tentunya bencana tersebut dapat
pula mengancam kawasan-kawasan ini, sehingga akan mengakibatkan
terjadinya kerentanan lingkungan.
Ketiga, keterancaman masyarakat pesisir. Keterencaman
masyarakat pesisir ini dapat dilihat melalui dua aspek yakni kerentanan
kehilangan nyawa/timbulnya penyakit maupun kerentanan kehilangan aset-
aset harta benda yang dimiliki oleh mereka. Adapun kerentanan kehilangan
nyawa/timbulnya penyakit yang dapat mengancam kehidupan masyarakat
46
pesisir merupakan keterancaman yang paling utama. Jika bencana tersebut
benar terjadi maka masyarakat pesisir harus berfikir agar dapat berpindah
untuk menyelamatkan diri. Namun pada kenyataannya seringkali
masyarakat terkendala dalam menghadapi/mengantisipasi bencana
tersebut. Hal ini karena disebabkan oleh beberapa faktor seperti halnya
kemiskinan maupun nilai strategis dari wilayah pesisir sehingga masyarakat
enggan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Pada sisi lain, masyarakat
juga tidak ingin meninggalkan aset-aset harta benda (tanah, rumah maupun
lahan tempat bekerja/tempat usaha dan lain-lain) yang mereka miliki akibat
tergenang. Kehilangan aset-aset tersebut tentu saja akan menimbulkan
kesengsaraan dan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Analisis kerentanan dalam penelitian ini mencoba memotret tingkat
kemungkinan kerugian atau kerusakan pada suatu wilayah oleh suatu
bahaya/ancaman. Dalam hal ini spesifik bencana rob, yang dianggap
sebagai bahaya fisik yang langsung di tingkat lokal. Seringkali, persepsi
terhaap suatu peristiwa rob berbeda antara satu orang dengan yang lain,
maupun antar komunitas, tergantung pada sejauh mana orang yang
terkena, tingkat ekonomi, pendapatan dan properti, peran sosial, dan lain
sebagainya. Seringkali, terjadi sebuah peristiwa alam yang ekstrim
dianggap adalah bagian dari kehidupan normal bagi penduduk lokal yang
telah menjadi terbiasa dan menjelaskan peristiwa tersebut sebagai "takdir
Tuhan". Diperlukan langkah-langkah dalam analisis kerentanan yang
sesuai untuk dapat menganalisis persepsi yang berbeda dan faktor-faktor
yang mempengaruhi tersebut.

Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan ke masyarakat antara
lain adalah, berapa volume air akan menembus ke dalam rumah, dan
seberapa parah kerusakan yang diakibatkan hal itu? Bagaimana kerusakan
infrastruktur yang rusak akibat rob? Berapa banyak tambak maupun
47
pertanian yang rusak karena rob? Dan seberapa besar kerugian yang
disebabkan dari kerusakan tersebut? Serta akibat rob terhadap kondisi
perekonomian masyarakat setempat? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut
diatas bisa dirumuskan faktor-faktor yang dapat digunakan sebagai
indikator mengukur tingkat kerentanan masyarakat akibat dari rob di
wilayah penelitian.
Pada buku Instruments and Approaches in Risk Analysis secara
menarik dijelaskan mengenai langkah-langkah dalam studi dampak
mengukur elemen-elemen yang rentan terhadap bencana (Gambar 2.x).
Pada kajian dampak tersebut wilayah yang berwarna abu-abu berkaitan
dengan unsur-unsur fisik (kerentanan fisik). Dalam hal ini kerentanan sosial
diabaikan, karena dianggap bahwa kerusakan yang dominan dan dapat
dihitung dalam bentuk uang adalah kerusakan-kerusakan fisik, misalnya
kerusakan bangunan, rumah, jalan, jembatan, tambak, lahan pertanian,
serta sarana prasarana dasar).
Faktor-faktor kerentanan merupakan faktor yang mempengaruhi
kerentanan pada suatu kelompok populasi dan dasar hidup mereka atau
hasil dalam kerentanan. Untuk mengevaluasi kerentanan atau
memperkirakan tingkat kerentanan yang relevan, perlu untuk
mendefinisikan indikator. Indikator untuk menentukan kerentanan sangat
tergantung kuat pada lingkungan politik, sosial dan ekonomi regional dan
nasional. Inilah sebabnya mereka harus dikembangkan dari awal dalam
setiap konteks proyek baru. Selain itu, pengalaman telah menunjukkan
bahwa mengukur dan memperkirakan kerentanan pada skala yang berbeda
(lokal, nasional, daerah) melibatkan masalah dan tantangan yang berbeda-
beda pula, sehingga indikator juga dapat berbeda tergantung pada apakah
mereka ditetapkan untuk (lokal) mikro, meso atau tingkat makro. Dalam
pedoman ini, fokusnya adalah pada tingkat lokal dan meso (GTZ, 2011).
48

Gambar 2.x
Analisis Elemen-Elemen Kerentanan
Sumber: Working Concept Disaster Risk Management, GTZ, 2009
2.5 Kerangka Pikir Penelitian
Penanggulangan bencana tidak terlepas terhadap analisis tentang
risiko bencana yang ada. Risiko bencana sendiri merupakan hasil
perpaduan antara kerawanan bencana dan kerentanan bencana seperti
yang telah terjabarkan diatas. Berdasarkan definisi tersebut analisis
kerentanan bencana memiliki peran penting dalam penilaian risiko
bencana. Pada asumsi bahwa terdapat kerawanan yang tinggi pada suatu
wilayah namun kerentanan bencananya tergolong rendah karena
tidak/sedikit aktivitas yang ada di wilayah tersebut tentu saja risiko bencana
yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan dalam dilakukan suatu upaya
pengurangan risiko bencana
49


Gambar 2.6
Kerangka Pikir Penelitian
Sumber: Penyusun, 2012
50

Pada hal ini kerentanan terhadap bencana bersifat penilaian
terhadap dampak yang ditimbulkan dari suatu sumber bencana yang ada.
Kerentanan adalah suatu keadaan yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia
(hasil dari proses-proses fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan) yang
mengakibatkan peningkatan kerawanan masyarakat terhadap bahaya.
Oleh karena itu, penelitian ini mencoba mengkaji kerentanan masyarakat
terhadap bencana rob sebagai dasar merumuskan alternatif strategi
kebijakan. Skema kerangka pikir penelitian dapat dilhat pada Gambar 2.6.



















BAB III
51
GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN METODE PENELITIAN

3.1. Kondisi Fisik Alam Kota Semarang
Kota Semarang terletak di kawasan pantai utara Pulau Jawa, yang
sangat pesat perkembangannya. Hal ini karena dipengaruhi kondisi bahwa
Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Kota ini terletak
antara garis 6o 50’ - 7o 10’ LS dan garis 109o 50’ - 110o 35’ BT, dan dalam
RTRW Kota Semarang, secara administratif dibatasi oleh: Sebelah Utara:
Laut Jawa; Sebelah Timur: Kabupaten Demak; Sebelah Selatan:
Kabupaten Semarang; dan Sebelah Barat: Kabupaten Kendal. Kota
Semarang memiliki topografi datar hingga berbukit (Gambar 2.2); topografi
datar berada di wilayah pantai dengan kemiringan lereng 0-2% dan elevasi
kurang dari 3.5 meter dari muka laut rata-rata (msl); sedangkan topografi
berbukit berada di sebelah selatan dari topografi datar dengan kemiringan
lereng 2-40% dan elevasi 90-200 meter msl.
Letak geografi Kota Semarang ini dalam koridor pembangunan
Jawa Tengah dan merupakan simpul empat pintu gerbang, yakni koridor
pantai Utara, koridor Selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten
Magelang, Surakarta yang dikenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor
Timur ke arah Kabupaten Demak/Grobogan dan Barat menuju Kabupaten
Kendal. Dalam perkembangan dan pertumbuhan Jawa Tengah, Semarang
sangat berperan, terutama dengan adanya pelabuhan, jaringan transport
darat (jalur kereta api dan jalan) serta transport udara yang merupakan
potensi bagi simpul transport Regional Jawa Tengah dan kota transit
Regional Jawa Tengah. Posisi lain yang tak kalah pentingnya adalah
kekuatan hubungan dengan luar Jawa, secara langsung sebagai pusat
wilayah nasional bagian tengah. (http://www.semarangkota.go.id).
52

Gambar 3.1
Posisi Kota Semarang terhadap daerah sekitarnya
Sumber: Google Earth, 2011 dan Citra Landsat ETM+, 2011

Elevasi topografi berada pada ketinggian antara 0,75 m sampai
sekitar 350 m diatas permukaan laut. Kondisi topografi menciptakan potensi
panorama yang indah dan ekosistem yang lebih beragam. Ketinggian 0.75-
90.5 termasuk dalam kawasan Pusat Kota Semarang (Dataran Rendah
Semarang Bagian Utara) yang di wakili oleh titik tinggi di Daerah Pantai
Pelabuhan Tanjung Mas, Simpang Lima, Candibaru. Sedangkan ketinggian
90.5-348 terletak pada daerah pinggir Kota Semarang, yang terbesar
disepanjang arah mata angin yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di
Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen dan Gunungpati
(Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2009/Draft Dokumen RTRW
Semarang 2010-2030). Adapun dari kondisi lereng wilayah Kota Semarang
dapat dilihat pada Peta Gambar 3.2
53

Gambar 3.2
Peta Kelerengan Kota Semarang
Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2011
54
3.1.1 Administrasi Kota Semarang
Kota Semarang secara adminitratif terbagai kedalam 16 kecamatan dan
177 kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah : 1. Kecamatan
Semarang Barat, 2. Kecamatan Semarang Timur, 3. Kecamatan Semarang
Tengah, 4. Kecamatan Semarang Utara, 5. Kecamatan Semarang Selatan, 6.
Kecamatan Candisari, 7. Kecamatan Gajahmungkur, 8. Kecamatan Gayamsari,
9. Kecamatan Pedurungan, 10. Kecamatan Genuk, 11. Kecamatan Tembalang,
12. Kecamatan Banyumanik, 13. Kecamatan Gunungpati, 14. Kecamatan Mijen,
15. Kecamatan Ngaliyan, 16. Kecamatan Tugu. Pembagian kecamatan di Kota
Semarang dapat dilihat pada gambar 3.3.
3.1.2 Sejarah Pertumbuhan Kota Semarang
Dalam sejarah pertumbuhan Kota Semarang pada awalnya berada di
wilayah pesisirnya yang berbatasan dengan Laut Jawa. Sejarah Semarang
berawal pada daerah pesisir yang bernama Bergota (Pragota/Plagota) dan
merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Sejarah Kota Semarang pada
masa kolonial digunakan sebagai pusat perdagangan dan basis militer oleh
Belanda. Secara umum awal mula dari pertumbuhan Kota Semarang
dipengaruhi fase pertumbuhan dan perkembangan wilayah pesisir Kota
Semarang.
Secara morfologi perkembangan fisik Kota Semarang mengalami
beberapa variasi bentuk morfologi lahan. Menurut Van Bemmelen, seorang ahli
geologi Belanda, mengemukakan bahwa garis Pantai Utara Pulau Jawa pada
jaman dahulu terletak beberapa kilometer menjorok ke daratan saat ini. Hal ini
juga berlaku di wilayah pesisir Kota Semarang seperti terlihat pada Gambar 3.4.
55

Gambar 3.3
Peta Wilayah Kota Semarang
Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2011
56
Kondisi ini terjadi karena adanya laju pengendapan lumpur yang
membuat endapan tanah baru bergerak dengan kecepatan 8m per tahun.
Pembentukan daratan tersebut sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum tahun
1695. Pada tahun 1478, garis pantai sudah sampai kawasan Imam Bonjol,
Gendingan, dan Jurnatan, kawasan endapan lumpur tersebut kelak disebut
sebagai Kota Bawah, sedangkan kawasan perbukitan Candi kelak disebut Kota
Atas (Budiman dalam Purwanto,2005).

Gambar 3.4
Kondisi Pantai Semarang pada Abad-10
Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2010

Adapun fase endapan tersebut menurut Purwanto (2005) dapat dirunut
sebagai berikut: Pertama, pada Tahun 900-an endapan lumpur tersebut berasal
dari Demak yang mengalir melalui sungai Kali Garang. Bentuk dari garis pantai
berada pada garis perbukitan Bergota merupakan garis pantai pada saat itu.
Kedua, Tahun 900 s/d 1500 merupakan masa permulaan endapan alluvial.
Endapan dimulai dari sedimentasi endapan lumpur dari daerah muara yang
57
berasal dari Kali Kreo, Kali Kripik dan Kali Garang. Kemudian fase
perkembangan yang ketiga, selain terjadi perubahan morfologi lahan tersebut,
sejarah wilayah pesisir Kota Semarang pada awalnya merupakan pelabuhan dan
di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, gugusan
tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Rata-rata kemajuan garis
pantai Kota Semarang dapat dilihat pada Tabel 3.1. Bagian Kota Semarang
Bawah yang dikenal sekarang ini dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut
diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke
Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada
tahun 1405 Masehi.

Gambar 3.4
Perkembangan Garis Pantai Semarang 1841 - 1991
Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2010

Awal perkembangan Kota Semarang berpusat di wilayah pesisirnya
pada muara kali Semarang berkembang ke arah daratan di sekitar pusat tersebut
dan memiliki arah perkembangan kota yang terpencar (urban sprawl). Kemudian
Tawang
G
a
r
is
p
a
n
t
a
i 1
8
4
7






Garis pan
tai 1
9
4
0
G
a
r
i
s
p
a
n
ta
i
1
9
9
1
581 m
93 Tahun
303 m
51 Tahun
0 0,45 0,9
U
L . A . U . T J . A . W . A
58
mulai berkembang di kawasan yang telah dibangun prasarana jalan pada zaman
Belanda yakni seperti halnya Jalan Pandanaran. Batas Kota Semarang mulai lagi
melebar sejak awal tahun 1950 pemukiman di Krobokan, Seroja, Pleburan, Jangli,
Mrican mulai berkembang pesat. Pusat perdagangan juga mulai bermunculan
seperti pasar Johar, Bulu, Dargo, Karangayu dan Pasar Langgar. Sarana
transportasi modern juga semakin lengkap dengan adanya stasiun Bubakan dan
juga daerah Srondol/Banyumanik berkembang menjadi pusat perdagangan,
industri dan pemukiman (Purwanto,2005).
TABEL 3.1
RATA-RATA KEMAJUAN GARIS PANTAI KOTA SEMARANG
Rentang Tahun Kemajuan Garis Pantai Rata-rata (tahun)
1695 – 1719 100 m 4,16 m
1719 – 1847 700 m 5,46 m
1847 – 1892 700 m 15,55 m
1892 – 1921 300 m 10,34 m
1921 – 1940 200 m 10,52 m
Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2010

Perkembangan Kota Semarang mulai berkembang menjadi suatu pusat
aktivitas dalam skala regional maupun nasional dengan adanya dukungan dari
jaringan jalan yang mulai dikembangkan di Kota Semarang. Hal ini karena
kecenderungan dari masyarakat untuk mendapatkan aksesibilitas yang mudah.
Dengan adanya pertumbuhan masyarakat di Kota Semarang membutuhkan
ruang-ruang yang digunakan sebagai kawasan pemukiman. Dalam hal ini
mulailah berkembang kawasan pemukiman yang ada di Kota Semarang. Pada
awalnya pemukiman di Kota Semarang terpusat di Kawasan pesisirnya (Miladan,
2010). Dengan tumbuhnya Kota Semarang mulai muncul berbagai
permasalahan degradasi lingkungan teruama di bagian utara yang berbatasan
langsung dengan Laut Jawa. Dalam hal ini terjadinya bencana rob maupun banjir
di Kota Semarang menjadikan kawasan pesisir Kota semarang tidak menjadi
59
prioritas dalam perkembangan pemukiman. Kondisi yang ada pada saat ini untuk
kawasan Kota Lama sebagai kawasan bangunan cagar budaya yang merupakan
aset Kota Semarang jika dilihat dari kondisi fisik lahannya sudah mengalami
degradasi lingkungan yang parah akibat rob maupun land subsidental
(penurunan muka tanah) serta penanganan yang salah.
Dengan semakin parahnya kerusakan lingkungan di daerah pesisir Kota
Semarang, maka pengembangan pemukiman mulai merambah kawasan selatan
Kota Semarang yang memiliki karakteristik topografi kondisi berbukit.
Pengembangan pemukiman yang mengarah ke kawasan selatan dipandang
sebagai inisiasi masyarakat untuk menghindari kerusakan lingkungan di
kawasan pesisir Kota Semarang. Sebenarnya dengan kondisi ini pula kurang
sesuai dengan adanya banyak pengembangan pemukiman di daerah perbukitan
Kota Semarang. Hal ini terkait dengan siklus ekologis/air yang ada di Kota
Semarang dimana arah alirannya dari kawasan perbukitan menuju kawasan
pesisir Kota Semarang. disamping itu, karakteristik tanah di Semarang bagian
selatan relatif labil dengan ditandai banyaknya bencana longsor. Dengan
semakin meningkatnya peruntukan lahan terbangun akan meningkatkan risiko
terjadinya bencana longsor (Gambar 3.5). Dengan berkurangnya daerah
resapan air di kawasan perbukitan Kota Semarang tentu saja memperparah
degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah pesisir Kota Semarang dengan
semakin meningkatnya kuantitas dan intensitas longsor, banjir dan rob di Kota
Semarang (Miladan, 2010).
3.1.3 Kondisi Geomorfologi Kota Semarang
Kondisi ini terkait dengan kondisi pembentukkan lahan di wilayah pesisir
Kota Semarang. Pada hal ini struktur tanah di wilayah pesisir tersebut
mempunyai kelandaian 0 - 2 % bertekstur halus, berpasir (lempung pasir) yang
mudah digali dan efektivitas tanah 9 cm ke atas. Struktur geologi wilayah tersebut
merupakan dataran rendah dengan struktur geologi berupa struktur batuan
endapan (alluvium) yang berasal dari endapan sungai sehingga mengandung
pasir dan lempung (RTRWP Kota Semarang, 2009).
60

61
62

Berdasarkan tingkat permeabilitasnya, wilayah pesisir tersebut terbagi
atas tingkat permeabilitas kedap (tidak permeabel), rendah, sedang dan tinggi.
Untuk memperjelas kondisi tersebut dapat dijabarkan pada Tabel 3.2 berikut ini.
TABEL 3.2
TINGKAT PERMEABILITAS KOTA SEMARANG
Tingkat
Permeabilitas
Nilai Permeabilitas
(liter/m
2
/hr)
Kecamatan
Tidak permeabel 0,04 – 87,5 Semarang Barat
Rendah 4 – 2,037 Tugu dan Genuk
Sedang 4,037 – 122,000 Genuk, Semarang Utara, Semarang Barat, dan
Tugu
Tinggi 8,149 – 203,735 -
Sumber: RTRWP Kota Semarang, 2010
3.1.4 Kondisi Klimatologi
Klimatologi merupakan keberadaan iklim yang ada di suatu wilayah.
Kondisi iklim terkait dengan rata-rata curah hujan, temperatur udara, kelembaban
udara, arah angin maupun kisaran rata-rata matahari. Kota Semarang memiliki
iklim tropis dengan dua jenis musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan
yang secara rata-rata berganti setiap kurang lebih 6 bulanan. Musim kemarau
terjadi pada kisaran Bulan Juni sampai November sedangkan hujan di Kota
Semarang turun pada Bulan Desember sampai Mei. Temperatur udara kota ini
berkisar antara 25,80 °C sampai dengan 29,30 °C, dengan kelembaban udara
rata-rata berkisar dari 62% sampai dengan 84%. Sedangkan curah hujan yang
terjadi di Kota Semarang antara 1500 mm per tahun sampai 3000 mm per tahun
dan sejak tahun 1963 sampai dengan 1995 curah hujan efektif konstan, yaitu
rata-rata 2398,76 mm per tahun.
Untuk arah angin sebagian besar bergerak dari arah tenggara menuju
barat laut, dengan kecepatan rata-rata berkisar antara 5,7 km/jam. Sedangkan
kisaran radiasi Matahari rata-rata Kota Semarang ialah 5-10,5 jam/hari dengan
63
penyinaran minimum rata-rata 5 jam/hari bila musim hujan. Radiasi sinar
Matahari maksimum 10,5 jam/hari (RTRW, 2009).
3.2 Kondisi Perekonomian Penduduk Kota Semarang
Kinerja kesejahteraan dan pemerataan ekonomi Kota Semarang selama
periode tahun 2005-2009 dapat dilihat dari indikator pertumbuhan PDRB,
laju inflasi, PDRB per kapita, dan angka kriminalitas yang tertangani.
Perkembangan kinerja pembangunan pada kesejahteraan dan pemerataan
ekonomi adalah sebagai berikut :
Pertama, Pertumbuhan PDRB yang merupakan indikator untuk
mengetahui kondisi perekonomian secara makro yang mencakup tingkat
pertumbuhan sektor- sektor ekonomi dan tingkat pertumbuhan ekonomi pada
suatu daerah. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Semarang atas dasar harga
berlaku selama periode 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang meningkat.
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku pada tahun 2005 sebesar Rp.
26.624.244,17 sampai dengan tahun 2009 mencapai sebesar Rp.
39.429.568.000,-.
TABEL 2.6
NILAI DAN KONTRIBUSI SEKTOR DALAM PDRB 2005 S.D. 2009

64

Sumber: BPS Kota Semarang, 2010
Dari tabel tersebut, kontribusi sektor usaha terbesar terhadap PDRB Kota
Semarang adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor Industri
Pengolahan dan sektor usaha bangunan. Pada tahun 2009 kontribusi masing-
masing sektor usaha tersebut adalah sebagai berikut : Perdagangan, Hotel dan
Restoran sebesar 29,86 %, industri pengolahan sebesar 24,52 %, dan sektor
bangunan sebesar 19,27%. Hal tersebut menggambarkan bahwa aktivitas
ekonomi masyarakat Kota Semarang didominasi oleh sektor perdagangan, hotel
dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor bangunan. Peningkatan Laju
Pertumbuhan PDRB berimplikasi terhadap kondisi perekonomian Kota
Semarang secara makro yang ditunjukan dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi
(LPE). LPE Kota Semarang periode 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang
positif.
Pada tahun 2005 tercatat sebesar 5,14%, kemudian meningkat sebesar
5,71 %, pada tahun 2006, 5,98 % pada tahun 2007, dan 6,03 % pada tahun 2008.
Sedangkan pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi kota Semarang tercatat
sebesar 5,47 %. Pertumbuhan ekonomi Kota Semarang terjadi penurunan pada
tahun 2009 sebesar 0,56 % dari 6,03 % pada tahun 2008 menjadi 5,47 % pada
tahun 2009. Penurunan ini lebih dipengaruhi adanya kondisi perekonomian
global seperti kebijakan pasar bebas (Asean-China Free Trade Area/ACFTA),
kenaikan BBM dan TDL.

65

GAMBAR 3.X
Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang
Sumber: BPS Kota Semarang, 2010
Kedua, Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan
kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh
terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Laju inflasi Kota Semarang selama
periode tahun 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Pada tahun
2005 sebesar 16,46 %, tahun 2006 sebesar 6,08 %, tahun 2007 mencapai
6,75 %, tahun 2008 sebesar 10,34 % dan tahun 2009 sebesar 3,19 %. Besaran
laju inflasi yang terjadi lebih diakibatkan pada permintaan masyarakat akan
bahan kebutuhan pokok.
2005 2006 2007 2008 2009
PDRB Kota Semarang 5.14 5.71 5.98 6.03 5.47
4.6
4.8
5
5.2
5.4
5.6
5.8
6
6.2
PDRB Kota Semarang
66

GAMBAR 3.X
Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang
Sumber: BPS Kota Semarang, 2010
Ketiga, kenaikan pendapatan per kapita. Selama periode tahun 2005-
2009 PDRB Perkapita Kota Semarang mengalami pertumbuhan yang positif.
PDRB Perkapita atas dasar harga berlaku, pada tahun 2005 sebesar Rp.
14.947.472,59 pada tahun 2006 sebesar Rp.17.067.350,89, pada tahun 2007
sebesar Rp.19.394.727,40, pada tahun 2008 sebesar Rp.21.352.860,09, dan
tahun 2009 sebesar Rp.23.889.579,87.
PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun 2000 dari tahun ke tahun
juga menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2005 sebesar Rp. 10.534.628,92,-,
pada tahun 2006 sebesar Rp.11.045.072,76,-, pada tahun 2007 sebesar
Rp.11.591.578,22, pada tahun 2008 sebesar Rp.11.897.251,91, dan pada
tahun 2009 sebesar Rp. 12.338.639,96.

16.46
6.08
6.75
10.34
3.19
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
2005 2006 2007 2008 2009
Laju Inflasi
Laju Inflasi
67

GAMBAR 3.X
Grafik Perkembangan PDRB atas dasar Harga Berlaku
Sumber: BPS Kota Semarang, 2010

Keempat adalah Indek Pembangunan Manusia. IPM merupakan salah
satu ukuran yang dapat digunakan untuk melihat upaya dan kinerja
pembangunan dengan dimensi yang lebih luas karena memperlihatkan kualitas
penduduk dalam hal kelangsungan hidup, intelektualias dan standar hidup layak.
IPM disusun dari tiga komponen yaitu lamanya hidup, yang diukur dengan
harapan hidup pada saat lahir ; tingkat pendidikan, diukur dengan kombinasi
antara melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah ; serta
tingkat kehidupan yang layak dengan ukuran pengeluaran perkapita (purchasing
power parity). Pada tahun 2009 IPM Kota Semarang telah mencapai skor 76,90,
angka tersebut menempati urutan kedua dibawah Kota Surakarta, namun masih
jauh diatas angka rata-rata Provinsi Jawa Tengah sebesar 72,10. Selengkapnya
IPM Kota Semarang dapat dilihat pada Grafik 3.x di bawah ini.
14,947,473
17,067,351
19,394,727
21,352,860
23,889,580
0
5,000,000
10,000,000
15,000,000
20,000,000
25,000,000
30,000,000
2005 2006 2007 2008 2009
PDRB perkapita
PDRB perkapita
68

GAMBAR 3.X
Grafik Perkembangan Indek Pembangunan Manusia Kota Semarang
Sumber: BPS Kota Semarang, 2010

3.3 Kondisi Sosial Kota Semarang
Jumlah Penduduk Kota Semarang pada tahun 2008 menurut Bappeda
dan BPS Kota Semarang adalah sebesar 1.481.640 jiwa, yang terdiri dari
735.457 penduduk laki-laki dan 746.183 penduduk perempuan (Tabel 2.4). Laju
pertumbuhan penduduk di Kota Semarang pada tahun 2008 adalah 1.85%.
Kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Semarang
Selatan sebesar 14.458 orang per km2, sedangkan yang paling kecil adalah
Kecamatan Mijen dan Kecamatan Tugu, sebesar 850 orang per km2, dapat
dilihat pada Tabel 2.5.


74
74.5
75
75.5
76
76.5
77
77.5
2005 2006 2007 2008 2009
A
x
i
s

T
i
t
l
e
Axis Title
IPM Kota Semarang
IPM Kota Semarang
69
Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Kota Semarang per Kecamatan Tahun 2010
Kecamatan
Banyaknya Penduduk
Laki-laki Perempuan Jumlah
Mijen 24.804 24.119 48.923
Gunungpati 32.720 32.745 65.465
Banyumanik 60.616 61.239 121.855
Gajah Mungkur 30.942 30.726 61.668
Semarang Selatan 42.839 42.752 85.591
Candisari 38.380 39.557 77.937
Tembalang 64.127 62.881 127.008
Pedurungan 81.242 82.320 163.562
Genuk 40.219 40.381 80.600
Gayamsari 35.010 35.772 70.782
Semarang Timur 40.047 41.700 81.747
Semarang Utara 61.366 65.399 126.765
Semarang Tengah 36.086 38.142 74.228
Semarang Barat 79.076 80.349 159.425
Tugu 13.449 13.527 26.976
Ngaliyan 54.543 54.574 109.117
Jumlah 735.466 746.183 1481.649
Sumber: BPS Kota Semarang, 2010
Tabel 3.5
Kepadatan Penduduk Kota Semarang 2010
Kelurahan Luas Wilayah (km)
Jumlah Rumah
Tangga
Jumlah Penduduk
Kepadatan
Penduduk
Mijen 57,55 13.212 125.212 850
Gunungpati 54,11 22.449 87.449 1.210
Banyumanik 25,69 33.646 127.646 4.743
Gajah Mungkur 9,07 14.599 30.599 6.799
Semarang Selatan 5,92 20.265 117.265 14.458
Candisari 6,54 16.498 76.498 11.917
Tembalang 44,20 35.920 99.92 2.873
Pedurungan 20,72 39.292 131.292 7.894
Genuk 27,39 20.338 86.33800 2.943
70
Gayamsari 6,18 16.471 40.471 11.453
Semarang Timur 7,70 22.189 99.189 10.616
Semarang Utara 10,97 28.727 135.727 11.556
Semarang Tengah 6,14 19.458 39.458 12.089
Semarang Barat 21,74 36.654 131.654 7.333
Tugu 31,78 6.896 115.896 849
Ngaliyan 37,99 27.306 163.306 2.872
Jumlah 373,69 373.920 1607.92 3.965
Sumber: BPS Kota Semarang, 2010

Pembangunan pada fokus kejahteraan sosial meliputi indikator angka
melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka
pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni, angka kelangsungan hidup
bayi, angka usia harapan hidup, persentase penduduk yang memiliki lahan, dan
rasio penduduk yang bekerja. Kinerja pembangunan kesejahteraan sosial Kota
Semarang periode 2005-2009 pada masing-masing indikator sebagai berikut :
Pertama yaitu aspek pendidikan masyarakat. Pembangunan pendidikan
pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sasarannya adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas melalui
peningkatan mutu pendidikan, perluasan dan pemerataan kesempatan
memperoleh pendidikan bagi semua masyarakat, tercapainya efektifitas dan
efisiensi penyelenggaraan pendidikan, serta tercukupinya sarana dan prasarana
pendidikan.




TABEL 2.7
71
Pembangunan Kesejahteraan Sosial Indikator Pendidikan
No. Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
1. Angka Melek Huruf 95,10 95,85 95,94 99,30 99,47
2. Rata Lama Sekolah 9,60 9,80 9,80 9,17 9,20
3. Angka Partisipasi Kasar
SD/MI 102,54 105,87 112,76 105,79 105,27
SLTP/MTs 89,94 97,14 103,12 89,21 114,19
SMA/SMK/MA 89,35 88,71 100,76 90,39 116,96
4. Angka Partisipasi Murni
SD/MI 86,64 89,6 88,36 89,21 89,68
SLTP/MTs 66,76 71,27 66,70 65,84 79,01
SMA/SMK/MA 62,76 63,84 88,80 62,71 79,97
5. Angka Pendidikan yang Ditamatkan 90,97% 89,90% 96,72% 96,51% 96,51%
6. Penduduk Tamat Sekolah 1.291.294 1.289.175 1.406.873 1.429.890 1.455.249
7. Jumlah Penduduk 1.419.478 1.434.025 1.454.594 1.481.640 1.507.826
Sumber: Diolah dari Dinas Pendidikan Kota Semarang, 2010

Beberapa keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dapat dilihat
dari Angka Melek Huruf (AMH), Rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Kasar
(APK), Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Pendidikan yang ditamatkan.
AMH adalah persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca
dan menulis huruf latin. AMH tahun 2005 sebesar 95,10 %, tahun 2006 sebesar
95,85 %, tahun 2007 sebesar 95,54 %, tahun 2008 sebesar 99,30 % dan sampai
dengan tahun 2009 angka melek huruf sebesar 99,47 %. Angka pendidikan yang
ditamatkan pada seluruh jenjang pendidikan baik SD, SLTP dan SLTA selama 5
tahun menunjukkan peningkatan dari 90,97% tahun 2005 menjadi 96,51%.
72
Kedua yaitu indikator kesehatan. Selama kurun waktu 5 tahun (2005-
2009) kondisi pembangunan Kesehatan menunjukkan perubahan yang fluktuatif,
hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator bidang kesehatan. Angka
kelangsungan hidup bayi selama 5 tahun menurun dari 98,08 % pada tahun 2005
menjadi 81,40 % tahun 2009. Demikian pula Angka persentase gizi buruk
mengalami peningkatan dari tahun 2005 sebesar 0,019 % menjadi 0,04 % tahun
2009.
TABEL 2.7
Pembangunan Kesejahteraan Sosial Indikator Kesehatan
No. Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
1. Angka Kelangsungan hidup /1000 kelahiran hidup 98,08 80,29 81,32 80,29 81,40
2. Angka usia harapan hidup 71,80 71,9 71,9 72 72,1
3. Persentase gizi buruk 0,019% 0,017% 0,04% 0,033% 0,04&
Sumber: Diolah dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2010

Penurunan angka kelengsungan hidup dan peningkatan angka gizi buruk
lebih disebabkan adanya penyakit bawaan dan wabah penyakit yang disebabkan
oleh vektor binatang seperti Demam Berdarah. Upaya pengembangan
paradigma hidup sehat harus menjadi perhatian utama agar wabah penyakit
menulular tidak terulang. Namun demikian secara keseluruhan Angka Usia
harapan Hidup Kota Semarang di Kota Semarang sebesar 72,1 jauh melebihi
angka harapan hidup nasional sebesar 69,0 tahun.
Indikator ketiga yaitu kemiskinan. Selama kurun waktu 5 tahun (2005-
2009) jumlah penduduk miskin mengalami pertumbuhan yang fluktuatif, jumlah
penduduk miskin tahun 2005- 2008 mengalami peningkatan peningkatan, tahun
2005 sebanyak 94.246 jiwa, tahun 2006 sebanyak 246.448 jiwa, tahun 2007
sebanyak 306.700 jiwa dan tahun 2008 sebanyak 491.747 jiwa, namun pada
tahun 2009 mengalami penurunan menjadi sebesar 398.009 jiwa. Begitu pula
73
ratio penduduk miskin terhadap jumlah penduduk kota Semarang semakin
meningkat selama 4 tahun terakhir (2005-2008), tahun 2007 sebesar 6,64%,
tahun 200617,19%, tahun 2007 sebesar 21,08%, tahun 2008 sebanyak 33,19%,
namun tahun 2009 menurun menjadi sebesar 26,41%. Berikut gambaran
perkembangan penduduk miskin kota Semarang selama 5 tahun (2005-2009) :
TABEL 2.8
Pembangunan Kesejahteraan Sosial Indikator Kemiskinan
Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Penduduk Miskin 94.246 246.448 306.700 491.747 398.009
Jumlah Penduduk 1.419.478 1.434.025 1.454.594 1.481.640 1.506.924
Rasio 6,64% 7,19% 21,08% 33,19% 26,41%
Sumber: Diolah dari Bappeda Kota Semarang, 2010

Penurunan jumlah dan rasio penduduk miskin sebesar 6,78% disebabkan
berbagai program penanggulangan kemiskinan di Kota Semarang semakin
menyentuh masyarakat miskin (tepat sasaran). Ketepatan tersebut didukung
oleh adanya identifikasi dan verifikasi berdasarkan indikator dan kriteria
kemiskinan yang disusun sesuai dengan kondisi lokalitas daerah yang semakin
mendekati kenyataan. Kedepan diperlukan upaya untuk melakukan unifikasi data
kemiskinan agar proses percepatan penanggulangan kemiskinan dapat
dilakukan dengan tepat. Optimalisasi peran masayarakat untuk turut serta dalam
menyalurkan program Corpotate Social Responsibility (CSR) perlu didorong
terus menerus.
Indikator keempat yaitu kepemilikan tanah. Berdasarkan sumber dari
Kantor Pertanahan Kota Semarang tahun 2010, persentase luas lahan
bersertifikat yang tercatat di Kota Semarang mencapai angka rasio 72,8 %,
sedangkan untuk rasio kepemilikan tanah mencapai 40,30. Dilihat dari jumlah
74
kepemilikan tanah yang mempunyai sertifikat, menggambarkan bahwa
kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib administrasi pertanahan yang
berarti kepemilikan sertifikat tanah sebagai legalitas atas tanah yang dimiliki
semakin menjadi penting.
Indikator kelima yaitu kesempatan kerja. Angka kesempatan kerja dapat
dihitung dari jumlah penduduk yang bekerja dibanding dengan angkatan kerja
dalam satu wilayah. Rasio penduduk yang bekerja mengalami peningkatan,
tahun 2005 sebesar 64,32 %, tahun 2006 sebesar 64,38%, tahun 2007 sebesar
88,61%, tahun 2008 sebesar 88,51%, namun pada tahun 2009 mengalami
penurunan sebesar 7,70% atau menjadi sebesar 81,44%. Penurunan ratio
penduduk yang bekerja lebih diakibatkan karena meningkatnya angkatan kerja
yang tidak seimbang dengan pertumbuhan lapangan kerja. Oleh karena itu
diperlukan upaya perluasan lapangan kerja sebagai upaya mengatasi
pengangguran. Berikut gambaran perkembangan ratio penduduk yang bekerja
selama 5 tahun (2005-2009) seperti tercantum dalam tabel dibawah ini :

TABEL 3.8
Aspek Kesejahteraan Sosial Indikator Penduduk Bekerja
Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Penduduk Bekerja 465.695 537.791 663.053 658.729 563.565
Angkatan Kerja 724.048 748.302 748.302 744.239 692.019
Rasio 64,32% 88,61% 88,61% 88,51% 81,44%
Sumber: Diolah dari Dinaskertrans Kota Semarang, 2010


3.4 Kondisi Fisik Buatan Kota Semarang
75
3.4.1 Kondisi Pekerjaan umum
Indikator pertama dalam aspek fisik buatan yaitu indikator pekerjaan
umum yang meliputi sarana dan prasarana penunjang kota, dapat dilihat pada
Tabel 3.9 di bawah ini.
TABEL 3.9
Aspek Fisik Buatan Indikator Pekerjaan Umum
Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Proporsi panjang jaringan
jalan dalam kondisi baik
44,87% 44,87% 61,02% 43,83% 44,01%
Rasio tempat ibadah per
satuan penduduk
1,96 2,03 2,05 2,11 2,16%
Persentase rumah tinggal
bersanitasi
30,25% 35% 38,89% 40,89% 45,85%
Rasio TPU per 1000
penduduk
412,72 408,50 402,7 395,40 388,77
Rasio TPS per satuan
penduduk
576,63 623,51 623,56 638,54 694,55
Rasio rumah layak huni 0,0024 0,0032 0,0047 0,0061 0,007
Rasio permukiman layak huni 0,105 0,125 0,186 0,210 0,256
Panjang jalan dilalui roda 4
(km)
2.762,62 2.762,62 2.771,54 2.778,29 2.778,29
Panjang jalan kota dalam
kondisi baik (>40 km/jam)
44,03% 44,03% 44,03% 42,93% 43,04%
Sempedan sungai yang
dipakai bangunan liar
40% 46% 49% 51% 52%
Drainase dalam kondisi baik 49% 52% 53% 55% 57%
Pembangunan talud sebagai
pencegah banjir
5 Ha 5 Ha 6 Ha 6 Ha 7 Ha
Luas irigasi dalam kondisi baik 45% 48% 49% 49% 65%
Persentase kawasan kumuh 1,5% 2% 2% 2,41% 1,66%
Sumber: Diolah dari Dinas PU Kota Semarang, 2010

76
Indikator kedua yaitu kinerja pembangunan pada pelayanan urusan
perumahan di Kota Semarang selama periode 2005-2009 dihitung dari
persentase jumlah rumah tangga yang telah menggunakan air bersih terhadap
jumlah seluruh rumah tangga. Pada tahun 2005 sebesar persentase jumlah
rumah tangga yang telah menggunakan air bersih sebesar 12,63% meningkat
menjadi 12,96% pada tahun 2009. Persentase jumlah rumah tangga yang
memiliki sanitasi terhadap jumlah rumah tangga tahun 2005 sebesar 30,25%
meningkat menjadi 48,85% pada tahun 2009. Persentase jumlah rumah tangga
yang menggunakan listrik terhadap jumlah rumah tangga tahun 2005 sebesar
89,24% meningkat menjadi 98,28% tahun 2009, jumlah rumah layak huni
terhadap jumlah rumah tahun 2005 sebesar 10,50% menjadi 25,60% pada tahun
2009.
TABEL 3.9
Aspek Fisik Buatan Indikator Perumahan
Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Persentase jumlah rumah
tangga pengguna air
bersih/jumlah seluruh rumah
tangga
12,63% 12,28% 12,74% 12,85% 12,96%
Persentase jumlah rumah
tangga bersanitasi/ jumlah
seluruh rumah tangga
30,25% 35% 38,89% 40,89% 48,85%
Persentase jumlah rumah
tangga pengguna listri/ jumlah
seluruh rumah tangga
89,24% 92,90% 97,7% 98% 98,28%
Persentase luas lingkungan
permukiman kumuh/luas
wilayah
1,5% 1,85% 2% 2,41% 1,66%
Persentase rumah layak
huni/jumlah seluruh rumah
10,50% 12,50% 18,60% 21% 25,60%
Sumber: Diolah dari Dinas Tata Kota & Perumahan Kota Semarang, 2010

77
Kondisi kualitas jalan terhadap panjang jalan selama 5 tahun terakhir
(2005-2009) menunjukkan perkembangan yang fluktuatif, ratio kondisi jalan
dalam keadaan baik terhadap jumlah panjang jalan tahun 2005 sebesar 44,87%,
tahun 2006 sebesar 44,87%, tahun 2007 sebesar 61,02%, tahun 2008 menurun
menjadi sebesar 43,83% , tahun 2009 sebesar 44,01%, perubahan kondisi
kualitas jalan ini dipengaruhi oleh iklim, dimana pada saat musim hujan banyak
terjadi genangan air. Selain itu juga akibat terjadinya rob khususnya di sepanjang
jalan daerah utara Kota Semarang.
Persentase rumah tinggal bersanitasi tahun 2005 sebesar 30,25%
menjadi 45,85% pada tahun 2009. Kondisi kinerja pembangunan Sanitasi selama
5 tahun (2005-2009) dapat dilihat dari presentase sanitasi rumah tinggal pada
tahun 2006 sebesar 30,25%, meningkat hingga mencapai 45,85%, pada tahun
2009. Rasio pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk tahun 2005
sebesar 576,63 menjadi 694,55 tahun 2009, rasio rumah layak huni tahun 2005
sebesar 0,0024 menjadi 0,0070 pada tahun 2009. Luas kawasan kumuh per luas
wilayah selama tahun 2005-2008 menagalami peningkatan dari sebesar 1,5 %
menjadi 2,41%, namun turun pada tahun 2009 sebesar 1,66 %. Peningkatan luas
kawasan kumuh lebih disebabkan oleh menurunnya kualitas lingkungan akibat
rob dan meningkatnya migrasi penduduk yang tidak berketrampilan dari
daerah/kota lain ke Kota Semarang, sedangkan penurunan 1,66% dipengaruhi
oleh adanya program pemugaran rumah kumuh.
Indikator ketiga yaitu penataan ruang Kota Semarang. Kinerja
pembangunan pelayanan urusan penataan ruang tahun 2005- 2009 dilihat dari
ratio luas ruang terbuka hijau terhadap luas wilayah ber Hak Pengelolaan Lahan
(HPL) dan atau Hak Guna Bangun. Pada Tahun 2005 mencapai sebesar 1,1 dan
mengalami penurunan menjadi 1,06 pada tahun 2009. Jumlah bangunan ber-
IMB pada tahun 2005 sebesar 49,73% meningkat menjadi 55,01% pada tahun
2009. Persentase tersebut terus meningkat secara signifikan hingga tahun 2009
sebesar 55,01 %. Hal ini menunjukan semakin tingginya kesadaran masyarakat
mematuhi regulasi pendirian bangunan dan semakin membaiknya pelayanan
78
yang diberikan pemerintah daerah. Namun demikian upaya peningkatan
kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan terhadap regulasi tataruang dan
bangunan perlu diibangi dengan pelayanan perijinan yang lebih baik. Berikut
gambaran perkembangan pembangunan pelayanan umum bidang penataan
ruang selama periode 2005-2009 sebagaimana tabel 3.10 berikut :
TABEL 3.10
Aspek Fisik Buatan Indikator Penataan Ruang
Uraian
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Luas ruang terbuka hijau/Luas
wilayah ber HPL / HGB
1,1 1,09 1,08 1,07 1,06
Jumlah bangunan ber IMB /
Jumlah Bangunan
49,73% 51,34% 52,62% 53,85% 55,01%
Sumber: Diolah dari Dinas Tata Kota & Perumahan Kota Semarang, 2010
Prioritas pengembangan wilayah Kota Semarang terbagi dalam empat
wilayah pengembangan dan masing-masing dibagi dalam beberapa bagian
wilayah kota, dan masing-masing bagian wilayah kota mempunyai skala prioritas
pengembangan. Prioritas pengembangan itu meliputi: perdagangan, perkantoran,
jasa, pendidikan, olahraga, transportasi, industri, pemukiman, pertanian, dan
pengembangan Kota Baru di wilayah Kecamatan Mijen.
Penggunaan lahan di wilayah pesisir Kota Semarang sangat bervariatif
namun secara garis besar dapat dibedakan menjadi penggunaan lahan sawah
dan lahan kering/non sawah. Pemanfaatan lahan sebagai tanah sawah seluas
602 Ha dan tanah kering seluas 110076,11 Ha. Kondisi ini memperkuat justifikasi
bahwa aktivitas perkotaan lebih dominan di wilayah pesisir Kota Semarang
karena sedikitnya luasan lahan sawah.


79
3.5 Ancaman Bencana di Kota Semarang
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kota Semarang, bencana dapat dikategorisasikan menurut waktu terjadinya,
bencana di Kota Semarang yang dikelompokkan menjadi: bencana periodik
(bencana yang terjadi secara berkala dan dapat diprediksi, seperti banjir rob,
kekeringan, KLB Demam berdarah) dan bencana sporadis (bencana yang terjadi
secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi, seperti tanah longsor, banjir bandang,
wabah, epidemi). Sumber data statistik kebencanaan di Kesatuan Bangsa dan
Perlindungan Masyarakat (Kesbang dan Linmas) terdapat ancaman bencana
yang meresahkan yaitu tanah longsor, kekeringan dan banjir. Selain itu, di Kota
Semarang juga terdapat ancaman berupa erosi, abrasi-sedimentasi, tsunami,
wabah Demam Berdarah, wabah flu burung, kegagalan teknologi (RAD, 2010).
3.5.1 Banjir
Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan karena peningkatan
volume air akibat hujan besar, luapan air sungai atau pecahnya bendungan.
Banjir juga dapat terjadi di daerah yang gersang dengan daya serap tanah
terhadap air yang buruk atau jumlah curah hujan melebihi kapasitas serapan air.
Seperti pada Gambar 3.7. Banjir di Kota Semarang mengancam daerah bawah
karena sebagai daerah hilir, dengan sendirinya merupakan daerah limpahan
debit air dari sungai yang melintas dan mengakibatkan terjadinya banjir pada
musim penghujan. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik kontur wilayah
berbukit dengan perbedaan ketinggian yang sangat curam sehingga curah hujan
yang terjadi di daerah hulu akan sangat cepat mengalir ke daerah hilir (BPBD
Kota Semarang, 2010).
Banjir di Kota Semarang terjadi disamping karena faktor alam juga karena
ulah tangan manusia, diantaranya karena banyaknya sampah yang dibuang
sembarangan ke dalam saluran air (selokan) dan sungai yang menyebabkan
selokan dan sungai menjadi tersumbat sehingga aliran air terhambat dan menjadi
meluap dan menggenang. Yang kedua, kurangnya daya serap tanah terhadap
air karena tanah telah tertutup oleh aspal jalan raya dan bangunan-bangunan
80
yang jelas tidak tembus air, sehingga air tidak mengalir dan hanya menggenang.
Faktor alam lainnya adalah karena curah hujan yang tinggi dan tanah tidak
mampu meresap air, sehingga luncuran air sangat deras dan tidak dapat
diserap/dialirkan dengan baik.
3.5.2 Tanah Longsor
Tanah Longsor adalah salah satu bencana alam yang paling merusak
pemukiman serta prasarana manusia di seluruh dunia setiap tahunnya. “Tanah
Longsor” merupakan istilah umum, yang mencakup berbagai corak gerakan
tanah, longsoran batu, jatuhan batu, yang meluncur ke bawah lantaran pengaruh
gaya tarik bumi (gravitasi). Meski bisa saja tanah longsor terjadi berantai dengan
gempa bumi,banjir dan letusan gunung api, namun tanah longsor secara lokal
dan terpisah banyak terjadi ketimbang bencana - bencana yang telah disebutkan
diatas. Bahkan dalam jangka waktu tertentu menyebabkan lebih banyak kerugian
dibanding bencana-bencana lain itu. Peristiwa tanah longsor yang terjadi di Kota
Semarang pada umumnya terdapat pada daerah dengan kondisi geologi yang
tidak stabil dan seringkali dipicu oleh terjadinya hujan deras yang melebihi titik
tertinggi. Tanah longsor biasanya menyebabkan terganggunya fungsi
infrastruktur umum seperti jalan (BPBD Kota Semarang, 2010).
3.5.3 Kekeringan
Perubahan iklim global berpengaruh terhadap kondisi iklim di Jawa
Tengah. Musim kemarau menjadi lebih panjang daripada musim hujan sehingga
menyebabkan kekeringan di daerah dengan cadangan air tanah yang minimum.
Sebagian besar daerah yang mengalami kekeringan terdapat di Semarang atas.
Dampak kekeringan adalah gagal panen, peningkatan kematian vegetasi,
percepatan pelapukan tanah dan peningkatan penyakit tropis seperti malaria dan
demam berdarah (BPBD Kota Semarang, 2010).
3.5.4 Angin Puting Beliung
81
Angin puting beliung, angin puyuh, angin ribut atau angin leysus
merupakan sebutan untuk angin kencang yang skala intensitasnya rendah (F0
dan F1). Angin putting beliung terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara
yang sangat ekstrim, biasanya terjadi pada musim hujan atau saat mendung,
sehingga terbentuk angin disertai putaran yang kencang dan berpotensi
menimbulkan kerusakan. Putaran angin yang kencang tersebut berbentuk
melingkar dengan radius antara 5 hingga 10 m dan kecepatan mencapai 20
hingga 30 knot. Angin putting beliung yang masuk kategori tornado lemah
mempunyai ciri bisa menyebabkan kematian kurang dari 5%, memiliki tenggang
waktu 1 sampai dengan 10 menit dengan kecepatan angin kurang dari 110 mph.
Berdasarkan data dari Badan Meterologi dan Geofisika yang dirangkum oleh
Badan Kesbang dan Linmas Kota Semarang, data yang berhasil dihimpun
tercatat bahwa bencana angin puting beliung ini tergolong baru dan sudah
merusak pohon, fasilitas umum dan rumah penduduk bahkan nyawa manusia.
3.2.5 Wabah, Epidemi, dan Kejadian Luar Biasa
Wabah adalah kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan
pada banyak orang. Epidemi adalah penyakit yang timbul sebagai kasus baru
pada suatu populasi tertentu manusia, dalam suatu periode waktu tertentu,
dengan laju yang melampaui laju "ekspektasi" (dugaan), yang didasarkan pada
pengalaman mutakhir. Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang
diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu
wabah penyakit (BPBD Kota Semarang, 2010).
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa adalah suatu kejadian dinyatakan
luar biasa jika ada unsur timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya
tidak ada atau tidak dikenal, peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-
menerus selama tiga kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam,
hari, minggu), peningkatan kejadian penyakit/kematian dua kali lipat atau lebih
dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun), dan
jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali li pat atau
82
lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan pada tahun sebelumnya
(BPBD Kota Semarang, 2010).
Berdasarkan laporan dari puskesmas pada tahun 2005 didapatkan
penyakit infeksi menular seksual sebesar 113 kasus. Sedangkan data cakupan
IMS dari Rumah Sakit pada tahun 2005 didapatkan 187 kasus yang terdiri atas :
Candidiasis 61 kasus, Candyloma Acuminata 23 kasus, Gonorrhea 57 kasus,
Herpes Genitalis 26 kasus, Herpes Simplex Virus 14 kasus, Siphilis 4 kasus dan
Trichoma Vaginalis 2 kasus. Data ini belum dapat menggambarkan seluruh
kasus IMS yang ada karena hanya 1 puskesmas yaitu Puskesmas Mangkang
dan 10 RS yang rutin melaporkan data tersebut.
Jumlah kasus HIV yang ditemukan tahun 2005 sebagian besar didapat
dari hasil skrining sero survei pada kelompok perilaku resiko tinggi sebanyak 773
orang (Wanita Penjaja Seks (WPS) langsung 520 orang, WPS tidak langsung 97
orang, Napi 129 orang, IDU 20 orang) dan laporan rumah sakit. Dari survei
tersebut ditemukan kasus HIV sebanyak 75 orang : 50 orang dari hasil VCT, 23
orang dari hasil sero survei dan 2 orang dari laporan Rumah Sakit. Jumlah ini
meningkat 55 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk kasus
AIDS sebanyak 11 kasus (3 orang meninggal), meningkat 4 orang dibandingkan
tahun sebelumnya. Untuk itu telah dilakukan upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular untuk mengurangi resiko penularan dan
penurunan kejadian sakit di masyarakat diantaranya melalui peran Komisi
Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan lembaga swadaya masyarakat
(LSM) tentang pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS. Selain itu juga,
melalui pendirian klinik VCT di beberapa Rumah Sakit seperti RSUP Karyadi,
RSUD Tugurejo, RSUD Kota Semarang dan RS Panti Wilasa Citarum. Dari hasil
skrining darah di PMI terhadap virus HIV selama tahun 2005 telah diperiksa
darah donor sejumlah 26.439 orang. Dari jumlah tersebut yang positif HIV/AIDS
sebanyak 9 (0,03%).
3.5.6 Kegagalan Teknologi
83
Pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi di Kota Semarang yang tidak
sebanding dengan perkembangan jalan menyebabkan kepadatan arus lalu lintas
di sejumlah ruas jalan. Pertumbuhan sepeda motor di Kota Semarang meningkat
47,86 persen dan mobil pribadi 181.46 persen.
Berdasarkan data Laboratorium Transportasi Jurusan Teknik Sipil
Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, pertumbuhan sepeda
motor pada September 2005 sebanyak 28.612 unit, sedangkan pada Maret 2007
sebanyak 42.305 unit. Hal ini menunjukkan dalam kurun waktu sekitar dua tahun
terjadi kenaikan jumlah sepeda motor sekitar 13.696 unit. Pertumbuhan ini
diimbangi dengan meningkatnya jumlah mobil pribadi, seperti sedan, station
wagon, dan jeep. Pada September 2005 ada 2.724 mobil dan pada Maret 2007
ada 7.667 mobil. Peningkatan itu cukup tinggi, yaitu 4.943 mobil. Pada tahun
2006, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 4.580
orang. Jumlah ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 4.700
jiwa. Meski demikian, hingga triwulan pertama 2007, terjadi kenaikan sebesar 0,4
persen. Berdasarkan jumlah korban ini, 70-80 persen disebabkan oleh sepeda
motor.

3.5.7 Abrasi
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan
arus laut yang bersifat merusak. Kerusakan garis pantai akibat abrasi dipacu oleh
terganggunya keseimbangan alam daerah pantai. Walaupun abrasi bisa
disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab
utama abrasi. Dampak abrasi adalah berkurangnya luas daratan di pantai dan
rusaknya aset wilayah yang bernilai tinggi seperti permukiman, kawasan wisata,
pertambakan maupun pelabuhan (BPBD Kota Semarang, 2010).
Kerusakan akibat abrasi di Kota Semarang paling besar terjadi di
Kecamatan Genuk dengan perkiraan dampak seluas 32 km
2
kemudian
Kecamatan Tugu dengan luasan 30 km
2
.

Untuk detail kerusakan akibat dari
abrasi dapat dilihat pada Tabel 3.7.
84
TABEL 3.7
PRODUK KERUSAKAN PANTAI AKIBAT ABRASI
No. Lokasi Dampak Panjang
Pantai
Abrasi Mangrove
Panjang
(km)
Luas (km
2
) Panjang
(km)
Luas (km
2
)
1 Kec. TUGU 3.5 2.25 30 1.5 2.25
2 Kec. SMG UTR 5.56 1 10 1 1
3 Kec. SMG BRT 8.94 0.5 20 0.5 0.3
4 Kec. GENUK 7.0 0.8 32 0.75 0.45
Sumber: BPBD Kota Semarang, 2010

3.5.8 Rob
Banjir pasang surut atau yang lebih dikenal dengan istilah rob merupakan
permasalahan yang sering terjadi pada daerah yang memiliki pantai yang landai
dan elevasi permukaan tanah yang tidak jauh lebih tinggi dari pasang laut
tertinggi. adalah banjir yang terjadi karena naiknya air laut dan menggenangi
daratan ketika air laut mengalami pasang. Pasang-surut air laut adalah faktor
utama yang menyebabkan banjir ini. Namun demikian, untuk kondisi atau tempat
tertentu, yaitu di daerah terbangun, banjir pasang surut ini terjadi menyusul
penurunan muka tanah yang terjadi di tempat tersebut. Banjir pasang-surut
terjadi karena air laut naik ketika pasang. Kenaikan air laut terjadi perlahan-lahan
sesuai dengan gerak pasang air laut. Ketinggian air banjir sesuai dengan
ketinggian air laut pasang. Selanjutnya genangan banjir ini bergerak turun ketika
air laut surut. Selain itu, waktu kedatangan dan ketinggian banjir ini berubah-ubah
mengikuti irama pasang-surut air laut. Demikian pula dengan luas daerah
genangan atau daerah-daerah yang akan tergenang pada suatu waktu tertentu
dapat diprediksi berdasarkan prediksi ketinggian air laut pasang.

3.7 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan serangkaian langkah-langkah yang
digunakan dalam penelitian untuk mencapai tujuan penelitian. Metode pada
85
penelitian ini ini terbagi atas pendekatan studi dan metode pelaksanaan studi.
Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci tentang metode penelitian ini.
3.7.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini karena bersifat positivistik yang dibatasi oleh variabel -
variabel tertentu yang kemudian dicek pada kondisi lapangan. Variabel-variabel
penelitian sudah ditentukan sejak awal sehingga penelitian sudah memiliki
batasan dan ruang lingkup secara jelas. Pendekatan ini lebih menekankan pada
pembangunan pemahaman berdasarkan teori-teori/literatur-literatur yang sudah
ada. Latar belakang teori merupakan inti dari pendekatan ini. Pembuktian
tersebut dilakukan dengan cara menurunkan konsep-konsep pemikiran menjadi
parameter-parameter dan variabel-variabel secara operasional. Namun di sisi
lain, penelitian ini juga akan menjaring opini atau preferensi warga tentang
bencana rob. Kuat dugaan bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak sepenuhnya ideal
seperti teorinya. Penelitian ini dilakukan dengan realitas tunggal, konkrit, teramati,
dan dapat difragmentasi (Williams,1988). Pernyataan tersebut mendukung
penelitian ini karena melihat suatu bagian parsial dari sebuah fenomena bencana
rob. Pengamatan parsial ini mengenai dampak bencana rob terhadap
masyarakat yang dapat menyebabkan beberapa wilayah Kota Semarang
tergenang. Selain itu penelitian ini dilakukan secara objektifitas karena sudah
ditentukan dahulu variabel-variabel yang akan diuji di lapangan.
3.7.2 Proses Penelitian dan Alat Analisis
Proses penelitian berawal dari masalah dan ingin menjawab
permasalahan tersebut. Untuk memahami permasalahan dengan baik, maka
peneliti mempelajari teori Pengurangan Risiko Bencana dalam kaitannya dengan
analisis risiko dan analisis kerentanan sebagai dasar pemahamannya. Kemudian,
pemahaman literatur dibandingkan dengan studi sebelumnya. Perbandingan ini
menghasilkan beberapa permasalahan yang dirumuskan dalam sebuah
hipotesis yang ingin dibuktikan. Begitupula, rumusan masalah yang akan dijawab
86
melalui pertanyaan penelitian (research question). Adapun teknik analisis yang
digunakan adalah sebagai berikut:
Pertama, Teknik Analisis Deskriptif Kualitatif. Metode kualitatif secara
deskriptif maupun sebab-akibat digunakan dengan cara mendeskripsikan atau
menjelaskan secara mendalam tentang kondisi kerentanan masyarakat akibat
bencana rob. Meskipun teknik analisis ini bersifat kualitatif, namun tidak menjadi
teknik analisis dominan. Teknik ini digunakan untuk memahami lebih luas wilayah
studi dengan wawancara dan observasi. Sehingga teknik ini bukan untuk mencari
makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalam informasi tertentu.
Kedua,Teknik Analisis Deskriptif Kuantitatif. Analisis deskriptif kuantitatif
merupakan analisis yang bersifat kuantitatif karena menggunakan angka-angka
sebagai dasar melakukan analisis/ penilaian. Menurut Danim (2002), studi
deskriptif (descriptive research) dimaksudkan untuk menjelaskan suatu situasi
atau area populasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan akurat
serta dimaksudkan untuk memotret fenomena individual, situasi, atau kelompok
tertentu yang terjadi secara kekinian dan akurat.
Ketiga, Statistik Deskriptif Statistik adalah metode ilmiah untuk menyusun,
meringkas dan menyajikan dan menganalisa data sehingga dapat ditarik
kesimpulan yang benar dan dapat dibuat keputusan yang masuk akal
berdasarkan data tersebut. Teknik ini dilakukan pada penilaian aspek-aspek
kerentanan sehingga dapat dilakukan pembobotan aspek mana yang lebih kuat
terhadap kerentanan masyarakat terhadap bencana rob.
3.7.3 Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian merupakan suatu kesatuan sistem yang digunakan
untuk memecahkan masalah dalam penelitian. Tahapan dalam metode
penelitian ini secara garis besar terdiri dari tahap pengumpulan data, tahap
pengolahan, dan tahap analisis.
3.7.3.1 Tahap Pengumpulan Data
87
Pada tahap ini dengan mengumpulkan data-data sekunder dari instansi-
instansi terkait dan pengamatan langsung di lapangan sebagai penguatan data
sekunder yang tidak didapatkan. Adapun dalam hal ini teknik pengumpulan data
tersebut secara garis besar dapat dijabarkan berikut ini :
Pengumpulan data sekunder Pengumpulan data ini dapat dilakukan
sebelum melakukan survei primer. Pengumpulan data sekunder ini dengan
mengumpulkan data dari sumber–sumber sekunder berupa kajian teoritis
mengenai kerentanan bencana, data kerusakan akibat rob, maupun telaah
dokumen yang ada. Teknik pengumpulan data sekunder yang pertama yaitu
melalui kajian literatur ini bersifat data normatif yang merupakan batasan atau
teori yang terkait dengan mitigasi bencana dan analisis kerentanan bencana
terhadap bencana rob. Teknik berikutnya yaitu melalui survei instansi yang
dilakukan untuk mendapatkan data–data melalui instansi yang terkait dengan
penelitian ini. Instansi tersebut yakni diantaranya Bappeda, BPBD, DKP, Dinas
Tata Kota maupun BPS. Data-data yang dicari berupa fisik wilayah pesisir,
kondisi sosial ekonomi masyarakat, infrastruktur wilayah pesisir dan sebagainya.
Teknik berikutnya yaitu melalui telaah dokumen teknik yang terkait dengan
kerentanan bencana perubahan iklim. Dokumen tersebut dipahami berdasar
pada materi-materi yang dapat digunakan dalam penelitian. Dokumen tersebut
dapat berupa situs- situs di internet bertema penanggulangan bencana,
kerentanan serta bidang-bidang lain yang relevan terhadap penelitian ini.
Pengumpulan data primer, teknik ini dilakukan melalui survei primer
dengan melakukan observasi langsung di lapangan. Cara yang dapat dilakukan
ketika survei primer, yakni pertama, wawancara yang dilakukan guna melengkapi
data-data sekunder yang belum didapatkan. Wawancara (interview) adalah
situasi peran antar-pribadi bersemuka (face-to-face), ketika seseorang yakni
pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk
memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah studi, kepada
responden (Kerlinger, 2000). Adapun poin pertanyaannya yakni pemahaman
masyarakat tentang isu bencana rob, dampak akibat bencana rob, bentuk
88
kekerabatan yang telah/akan dilakukan dalam rangka penanganan bencana
tersebut, serta sikap masyarakat jika bencana tersebut terjadi.
Pengambilan sampelnya dengan menggunakan teknik sampel bertujuan
(purposive sampling). Teknik ini dilakukan dengan mengambil koresponden-
koresponden yang sekiranya mengetahui karakteristik populasi tersebut. Pada
penelitian ini walaupun sampel yang diambil sekiranya relatif kecil kuantitasnya
namun wawancara ditujukan pada stakeholders kunci (stakeholders masing-
masing kecamatan) yang sekiranya paham terhadap hal ini dengan
pertimbangan informasi signifikan dan ringkas. Pedoman/aturan yang digunakan
yakni jika sudah terjadi pengulangan informasi maka penarikan sampel sudah
bisa dihentikan. Sampel kunci berada pada stakeholders kecamatan dan
kelurahan yang daerahnya diprediksi terkena dampak tersebut dan tidak
menutup kemungkinan wawancara dilanjutkan melalui snowballing berdasarkan
arahan stakeholders tersebut. Dalam studi ini, setidaknya dilakukan wawancara
terhadap stakeholders kecamatan yang terkena dampak langsung akibat
bencana rob (Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan
Semarang Utara, Kecamatan Genuk, dan Kecamatan Gayamsari). Teknik yang
kedua yaitu melalui pengamatan langsung (direct observation). Cara ini
dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung kondisi fisik. Hal ini
dilengkapi kamera digital, lembar pengamatan, maupun alat tulis.
3.7.3.2 Tahap Pengolahan
Data yang telah didapat, selanjutnya direkapitulasi. Adapun langkah-
langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut ini: Pertama, tahap
pengelompokan data. Tahap ini merupakan pengolahan data dengan cara
mengelompokkan data sesuai analisis yang ingin dilakukan. Data yang didapat
secara garis besar dibagi menjadi 5 kategori kerentanan. Kedua, tahap verifikasi
data, tahapan ini bertujuan untuk mengetahui validitas data yang diperoleh dari
hasil survey. Verifikasi ini dilakukan terhadap data sekunder yang didapat. Data
sekunder tersebut dapat ditanyakan kepada informan maupun mengadakan
89
crosscheck di lapangan. Ketiga, tahap penyajian. Hasil olahan data yang
dilakukan perlu ditampilkan secara representatif dan informatif, tujuannya adalah
agar mudah dipahami dan dimengerti maksud yang disajikan.
3.7.3.3 Tahap Analisis
Pada penelitian ini, kerangka analisis disusun berdasarkan tujuan
penelitian yang sudah dirumuskan sebelumnya. Pada tahap awal, dilakukan
analisis kerentanan masyarakat dengan input 4 (empat) komponen kerentanan:
fisik, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Setiap komponen dinilai kemudian
disimpulkan kerentanannnya melalui prinsip progression of vulnerability.
Selanjutnya, tahap kedua adalah menggali preferensi masyarakat terhadap
empat komponen tersebut. Hal ini dilakukan untuk memahami makna kerentanan
dari masyarakat serta mengetahui seberapa besar dampak masing-masing
aspek ke dalam masyarakat. Terakhir, tahap ketiga adalah mendialogkan tahap
1 dan tahap 2 dengan prinsip progression of safety secara deskriptif kualitatif.
Kemudian, menyimpulkan alternatif strategi penanganan bencana rob di Kota
Semarang.
Untuk mencapai tujuan penelitian ini maka tahapan analisis yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
Pertama, Analisis Perkembangan Kerentanan Akibat Bencana Rob.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kerentanan masyarakat
berdasarkan empat aspek yaitu fisik, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Identifikasi
kondisi fisik bertujuan untuk menggambarkan perkiraan tingkat kerusakan
terhadap fisik (infrastruktur) bila ada faktor berbahaya (hazard) tertentu.
Identifikasi kondisi sosial bertujuan untuk menggambarkan perkiraan tingkat
kerentanan terhadap keselamatan jiwa penduduk apabila ada bahaya
berdasarkan indikator-indikator antara lain kepadatan penduduk, laju
pertumbuhan penduduk, persentase penduduk usia tua-balita dan penduduk
wanita. Identifikasi kondisi lingkungan menggambarkan kondisi suatu wilayah
yang rawan bencana dengan didasarkan pada kondisi geografis dan geologis
90
suatu wilayah serta data statistik kebencanaan merupakan indikator
kebencanaan. Kemudian yang terakhir identifikasi kondisi ekonomi
menggambarkan besarnya kerugian atau rusaknya kegiatan ekonomi (proses
ekonomi) yang terjadi bila terjadi ancaman bahaya. Indikator yang dapat kita lihat
menunjukkan tingginya tingkat kerentanan ini misalnya adalah persentase rumah
tangga yang bekerja di sektor rentan (sektor jasa dan distribusi) dan persentase
rumah tangga miskin di daerah rentan bencana rob.
Pada analisis ini menggunakan alat analisis Pressure and Release Model
(PAR). Model ini dikembangkan pertama kali oleh Blaikie dalam At Risk (1994),
yang kemudian digunakan secara luas oleh LSM-LSM, lembaga-lembaga
penangananan bencana serta lembaga-lembaga PBB. Di Indonesia, masih
sangat sedikit lembaga yang mengenal model ini. Paradigma penanggulangan
bencana yang ditawarkan disini adalah bahwa Bencana terjadi karena
pertemuan antara dua realitas: adanya ancaman/bahaya (hazard) dan
kerentanan (kondisi tidak aman atau tepatnya kerapuhan) pada sisi yang lain.
Fungsi matematisnya adalah fungsi perkalian yakni bahwa bila ada
ancaman atau Hazard tak peduli bersifat alamiah atau bersifat natural namun
kerentanan adalah nol (tidak ada komunitas yang rentan) maka tidak mungkin
ada bencana, dan sebaliknya bila ada kerentanan yang besar tetapi bila tidak
ada hazard (ancaman) maka juga tidak mungkin terjadi bencana. Tsunami,
Cyclone atau Banjir yang terhebat sekalipun tak mungkin menghancurkan
kehidupan manusia sepanjang kita mampu mereduksi atau bahkan
menghilangkan kerentanan alias kerapuhan.
Pengertian atau formulasi di atas agak sulit dimengerti karena seringkali
tidak terdapat komunitas yang memiliki kerentanan nol atau ancaman nol pada
waktu yang bersamaan. Yang terjadi adalah bahwa selalu ada ancaman dengan
tingkat kerentanan yang ada dan bervariasi pada waktu yang bersamaan. Oleh
karena itu pada umumnya orang terjatuh atau dengan mudahnya percaya pada
91
paradigma bencana yang melihat bencana hanya semata-mata alam, atau
cenderung berpikir parsial atau dikotomi bencana alam melawan manusia.
Dari argumentasi yang mau diangkat dalam model ini adalah bahwa tidak
ada yang namanya bencana alam, karena memang tidak ada bencana alam
(natural disasters). Yang ada hanyalah natural hazards (ancaman alam).
Ancaman atau Hazard ini akan menjadi bencana apabila ia sudah bertemu
dengan realitas yang namanya kondisi kerapuhan (unsafe condition). Dan yang
namanya kerapuhan bukanlah sesuatu yang “sudah ada dengan sendi rinya”
dalam masyarakat, tetapi karena susuatu yang terus- menerus diproduksi atau
direproduksi dalam proses yang masyarakat kenal sebagai pembangunan
(CBDRM, 2004). Yang harus diperhitungkan dalam menggunakan alat analisis
ini adalah dengan sangat mudah untuk menyalahkan Negara (akar masalahnya
bias anti Negara). Dimaklumi bahwa bukan hanya Negara dan pemodal saja
yang mampu menciptakan dan memelihara atau memproduksi kerentanan/
kerapuhan. Masyarakat dengan kebiasaan dan pola hidup tertentu dapat juga
menjadi akar masalah dalam kerentanan.

Analisis PAR memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hubungan
antara ancaman dengan kerentanan masyarakat yang menyebabkan bencana.
Model ini menekankan pada petingnya memperhatikan proses-proses dari aspek
fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang merupakan akar kerentanan dalam
masyarakat. Ide dari model ini adalah, sebuah penanganan bencana yang efektif
pada dasarnya merupakan pengurangan kerentanan menuju pada kondisi aman
terhadap ancaman bencana. Pilihan-pilihan pengurangan kerentanan bisa
beragam, sekali lagi berdasarkan dinamika ancaman dan kerentanan dalam
masyarakat itu (CBDRM, 2004).

92

Kondisi tidak aman (unsafe condition) merupakan gejala yang terlihat
langsung sebagai ’kerentanan’. Pendorong dinamis (dynamic pressure)
merupakan kondisi dalam masyarakat, baik yang inheren maupun yang
merupakan akibat dari pengaruh luar, yang menyebabkan sebuah kondisi tidak
aman menjadi lebih langgeng; atau dalam beberapa kasus merupakan penyebab
dari kondisi tidak aman itu sendiri. Akar masalah (root causes) merupakan faktor
penyebab, dimana secara langsung maupun tidak langsung menciptakan
pendorong dinamis, dan pada gilirannya menciptakan kondisi tidak aman.
Biasanya akar masalah ini terletak pada ideologi serta proses-proses sosio-
ekonomi politik.
Kedua, analisis preferensi masyarakat terhadap kerentanan akibat
bencana rob. Analisis ini merupakan bentuk preferensi masyarakat terhadap
kerentanan akibat bencana rob. Analisis ini dilakukan untuk menemukenali
sistem nilai masyarakat dalam mendefinisikan kerentanan dan bencana rob.
Tahap ini merupakan proses penggalian makna kerentanan dari masyarakat,
yaitu masyarakat mendefinisikan sendiri makna kerentanan berdasarkan lima
aspek yaitu: fisik, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Input data pada analisis ini
dari hasil wawancara dengan masyarakat. Pada saat wawancara, masyarakat
diberikan stimulas (pancingan) agar mereka mendefinisikan kerentanan. Tahap
ini sangat penting dilakukan karena preferensi mereka sangat menentukan
perilaku dan perlakuannya terhadap aspek-aspek kerentanan. Proses analisis
93
yang dilakukan berupa deskripsi preferensi masyarakat secara deskriptif kualitatif.
Output dari analisis ini berupa makna kerentanan dari masyarakat. Prinsip
penelitian fenomenologis lebih berperan pada analisis ini. Seperti pada analisis
kerentanan masyarakat (pendekatan objektif). Pada analisis preferensi
masyarakat terhadap kerentanan juga diperinci menurut setiap aspek.
Pada analisis preferensi masyarakat terhadap kerentanan, penilaian ini
menggunakan prinsip penilaian preferensi oleh Sariffuddin (2009) dan kemudian
dimodifikasi untuk penilaian kerentanan masyarakat yaitu didasarkan pada
jumlah responden yang menjawab. Setiap responden dinilai kerentanannya
berdasarkan aspek-aspek yang sudah dirumuskan diatas. Begitupula
preferensi/cara pandangnya terhadap kerentanan. Ilustrasi output analisis ini
tergambar pada tabel berikut:
TABEL 3.x
CONTOH PENILAIAN KERENTANAN MASYARAKAT AKIBAT BENCANA
ROB DARI PREFERENSI MASYARAKAT

Aspek Kerentanan Ketidakrentanan
ekonomi
Masyarakat tidak memiliki pekerjaan tetap,
bekerja tidak terstruktur dan tidak teratur
Warga memiliki pekerjaan tetap, bekerja
secara terstruktur dan teratur

80,00% 20,00%

80,00% 20,00%

100% 50% 50% 100%
Sumber: Sariffuddin, 2009
Keterangan:
Penilaian objektif kerentanan akibat bencana rob

Penilaian preferensi kerentanan akibat bencana rob




94
Penilaian aspek-aspek kerentanan diatas didasarkan pada penilaian
objektif dan subjektif. Penilaian objektif ditunjukkan oleh warna HIJAU yaitu
peneliti menilai langsung setiap responden menurut informasi dari dokumen dan
data sekunder lainnya. Kemudian, peneliti mengelompokkan ke dalam variabel
kerentanan dan ketidakrentanan. Variabel-variabel kerentanan menjadi rujukan
penilaian ini. Sedangkan, warna MERAH menunjukkan penilaian subjektif warga
(melalui preferensinya) terhadap kerentanan. Pada tahap ini peneliti hanya
merumuskan preferensi masyarakat terhadap kerentanan. Setiap responden
menilai dan mendefinisikan sendiri makna kerentanan di wilayahnya akibat dari
bencana rob. Adapun nilai persentase (20,00% & 80,00%) menunjukkan
penilaian responden yang menilai. Jumlah warga yang nilainya mengarah ke
kerentanan dijumlahkan dan kemudian dipersentasekan, begitupula sebaliknya.
Proses ini sangat penting dilakukan untuk memahami kerentanan masyarakat
akibat bencana rob dan sistem nilai yang berlaku. Melalui strategi ini diharapkan
dapat diketahui dampak bencana rob dan kerentanan masyarakat dari dua sudut
pandang yang berbeda.
Ketiga Analisis Perkembangan Keamanan masyarakat akibat bencana
rob. Analisis ini merupakan respon dari analisis perkembangan kerentanan yang
dibuat berdasarkan output dari kedua analisis sebelumnya yang juga
berdasarkan empat aspek yaitu fisik, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Kondisi
aman (safe condition) merupakan suatu cara pandang untuk mereduksi
kerentanan masyarakat akibat bencana rob. Reduksi pendorong dinamis
merupakan analisis untuk mengurangi kondisi rentan dalam masyarakat, baik
yang inheren maupun yang merupakan akibat dari pengaruh luar, yang
menyebabkan sebuah kondisi tidak aman akibat bencana rob. Tahapan
selanjutnya adalah menjawab akar masalah (root causes) yang merupakan
faktor penyebab utama kerentanan akibat bencana rob.
95



Pada proses analisis ini tidak terlepas dari penetapan aspek dan indikator-
indikator kerentanannya. Pengelompokkan dan pemilihan indikator kerentanan
dijabarkan dari sintesis beberapa elemen yang tertuang dalam beberapa teori
yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Berdasar pada beberapa
ketentuan/aturan/arahan yang termuat dalam berbagai hal tersebut serta
ketersediaan data di lapangan maka kerentanan bencana dapat dikategorikan
dalam 4 (empat) aspek, yaitu kerentanan fisik, kerentanan sosial, kerentanan
ekonomi, dan kerentanan lingkungan.

96
97
BAB IV
ANALISIS KERENTANAN MASYARAKAT KOTA
SEMARANG TERHADAP BENCANA ROB

Bab ini penyusun akan menganalisis akan kerentanan masyarakat,
makna kerentanan masyarakat dan kemampuannya untuk mendukung
ketahanan terhadap bencana rob. Pada bagian pertama (sub bab 4.1)
menjelaskan mengenai dampak dari bencana rob serta prediksi ke depannya.
Kemudian pada bagian kedua (sub bab 4.2) mengungkap tingkat dan
karakteristik kerentanan masyarakat. Kemudian, bagian ketiga (Sub bab 4.3)
membahas preferensi masyarakat mengenai kerentanan. Masyarakat
mendefinisikan sendiri makna kerentanan terhadap bencana rob. Dalam sub
bab ini akan terlihat cara pandang masyarakat yang akan mempengaruhi
setiap perilaku dan intervensi mereka terhadap kondisi lingkungan tempat
tinggal mereka. Pada bagian akhir (sub bab 4.4) menilai kemampuan
masyarakat untuk mendukung budaya aman terhadap bencana rob sesuai
dengan prinsip-prinsipnya.
4.1 Jangkanan dan Prediksi Kerusakan akibat bencana Rob
4.1.1 Jangkauan Bencana Rob
Banjir pasang (rob) ini terjadi karena pasang air laut yang relatif
lebih tinggi daripada ketinggian permukaan tanah di suatu kawasan.
Biasanya terjadi pada kawasan di sekitar pantai. Penurunan tanah disebabkan
empat hal, yaitu eksploitasi air tanah berlebihan, proses pemampatan lapisan
sedimen (yang terdiri dari batuan muda) ditambah pembebanan tinggi oleh
bangunan di atasnya serta pengaruh gaya tektonik. Dampak penurunan tanah
dapat dilihat adanya luasan genangan rob yang semakin besar.
Berdasarkan hasil survei lapangan dan Peta Hidrologi Kota Semarang
dari Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2010-2030 diperoleh data bahwa
beberapa wilayah pesisir Kota Semarang mengalami permasalahan intrusi air
laut/rob. Adapun penjabaran sebagai berikut ini (RTRWP Kota Semarang,
2009) yaitu Kecamatan Tugu yang merupakan daerah aliran sungai Kali
98
Mangkang, Kali Beringin, Kali Tambakromo dan Klai delik, bahaya luapan air
laut pada daerah tambak yang berdekatan dengan kawasan pantai. Pada
kecamatan ini produktivitas air kecil dengan jenis tanah aluvial. Dari hasil
pengukuran salinitas pada sumur penduduk di Desa Mangkang Kulon masih
tawar (salinitas 0 ppt), sehingga belum terjadi intrusi air laut.
Kecamatan Semarang Utara : Termasuk akuifer produktif dengan
penyebaran luasan mencapai 3–10 liter /detik (Kelurahan Tanjung Mas,
Bandarharjo dan Kuningan). Kondisi ini berpotensi mengakibatkan timbulnya
genangan air laut/rob, kedalaman air sumur rata-rata 3 – 10 meter, ketinggian
rata-rata 20– 60 cm lama genangan 2,5-7 jam, penetrasi air laut mencapai 11–
15 meter pada 3,5 km dari garis pantai dengan kedalaman air payau 1–10
meter. Kecamatan Gayamsari memiliki potensi air tanah tinggi dengan
penyebaran luasan mencapai 5–10 liter/detik. Kondisi ini berpotensi
mengakibatkan timbulnya genagan air laut/rob, kedalaman air sumur rata-rata
3–10 meter, ketinggian rata-rata 0,5–1 cm lama genangan 1–2 hari, dengan
demikian rawan terjedinya penetrasi air yang mengakibatkan intrusi air laut
pada daerah ini. Kecamatan Semarang Barat : Termasuk akuifer produktif
dengan penyebaran luasan mencapai 5 liter /detik. Kondisi ini berpotensi
mengakibatkan timbulnya genangan air laut/rob, kedalaman air sumur rata-rata
3–10 meter, ketinggian rata-rata 20–60 cm lama genangan 2,5-7 jam.
Sehingga rawan terjadinya penetrasi air yang berdampak pada intrusi air laut.
Kecamatan Genuk yang termasuk kawasan dengan akifer produktif sedang,
dengan penyebaran luas mencapai 5 liter/detik di Kelurahan Terboyo Wetan
dan Terboyo Kulon dan Kelurahan Trimulyo. Sangat berpotensi terjadinya
genangan rob dengan ketinggian mencapai 0,5–1 meter dengan lama
genangan 1–2 hari. Kawasan sepanjang Sungai Banjir Kanal Timur sumber air
berkurang akibat terjadiya pendangkalan dasar sungai akibat sedimentasi, dan
karena rendahnya derajat kemiringan sungai terhadap permukaan air laut
sehingga mengakibatkan air sungai meluap ke darat.
Kawasan permukiman yang berada di wilayah pesisir terancam
genangan sebagai akibat kenaikan muka air laut. Kawasan tersebut saat ini
dihuni hampir 300 ribu penduduk Kota Semarang. Diperkirakan total luasan
yang tergenang hampir 7.500 Hektar. Berikut ini adalah kelurahan- kelurahan
99
dan total luasan di setiap kecamatan yang tergenang akiabat banjir rob pada
Tabel 4.x.
Tabel 4.x
Daerah yang Tergenang Akibat Banjir Rob
Kecamatan Kelurahan
Area Tergenang
(km
2
)
Genuk Trimulyo, Terboyo Kulon 18,92
Tugu Mangkang Kulon, Mangunharjo, Jerakah,
Tugurejo
19,52
Semarang Utara Panggung Lor, Bandarharjo, Tanjung Emas 14,81
Semarang Barat Tawangsari, Tambakharjo 12,87
Gayamsari Tambak Rejo 2,57
Sumber: Setiadi dan Kunarso, 2009

4.1.2 Prediksi Dampak Bencana Rob
Berdasarkan peta kerawanan Diposaptono (2009), diketahui adanya
prediksi bahwa wilayah pesisir Kota Semarang yang tergenang setelah
kenaikan paras muka air laut dalam 20 tahun mendatang sebesar 16 cm yakni
seluas 2672,2 Ha. Sedangkan berdasarkan Miladan (2009) berdasarkan
interprestasi data SIG yang ada diketahui bahwa dari 6 Kecamatan Pesisir Kota
Semarang hanya 5 kecamatan yang diprediksikan sebagian wilayahnya akan
tergenang banjir dan rob akibat kenaikan permukaan air laut. Kecamatan-
kecamatan tersebut yakni Kecamatan Genuk, Kecamatan Gayamsari,
Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Utara, dan Kecamatan
Tugu. Sedangkan Kecamatan Semarang Timur yang juga termasuk pada
Kecamatan Pesisir Kota Semarang diprediksi pada 20 tahun mendatang belum
terjadi kerawanan tersebut. Dari kecamatan-kecamatan tersebut, tidak seluruh
wilayahnya tergenang namun hanya di beberapa kelurahan saja terutamanya
yang berada/berbatasan langsung dengan Laut Jawa (Miladan, 2009).


Tabel 4.1
100
Prediksi Wilayah yang Tergenang Rob pada 2029
Kecamatan Kelurahan Luas
Genangan
% Tergenang
Tugu Mangkang Kulon 287,456 52,82
Mangunharjo 326,171 70,74
Mangkang Wetan 192,232 47,49
Randu Garut 291,243 61,04
Karang Anyar 230,103 55,79
Tugu Rejo 305,982 53,02
Jerakah 55,927 39,01
Semarang Utara Tanjung Mas 197,311 51,32
Bandarharjo 110,752 49,70
Panggung Lor 45,827 23,99
Semarang Barat Tawangsari 62,036 17,12
Tambakharjo 212,279 39,74
Genuk Terboyo Kulon 155,611 56,39
Trimulyo 127,983 38,60
Gayamsari Tambakrejo 2,754 3,63
Sumber: Miladan, 2009
Dilihat dari luasan masing-masing kecamatan, terdapat beberapa
kecamatan yang hampir sebagian dari wilayahnya tergenang. Khusus pada
Kecamatan Gayamsari karena kecamatan ini tidak berbatasan langsung
dengan Laut Jawa maka luasan yang diprediksi tergenang tidak terlalu luas
dibanding dengan kecamatan-kecamatan lainnya (Miladan, 2009). Pada
Kecamatan Gayamsari, genangan tersebut mengancam Desa Tambakrejo
seluas 3,754 Ha. Sedangkan kecamatan yang mengalami kerawanan paling
tinggi yakni Kecamatan Tugu dengan prediksi luasan genangan banjir dan rob
seluas 1689,113 Ha. Kecamatan ini diprediksi memiliki tingkat kerawanan
paling tinggi karena penggunaan lahan di bagian utara dari kecamatan i ni
didominasi oleh lahan pertambakan dan juga kondisi topografi yang lebih datar
dan landai dibandingkan dengan kecamatan- kecamatan lainnya. Pada
Kecamatan Tugu tidak terdapat lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 25%.
Adanya kondisi tersebut yang menyebabkan kerawanan kecamatan ini paling
tinggi dibandingkan dengan kecamatan- kecamatan lainnya. Selain Kecamatan
101
Tugu yang memiliki potensi kerawanan tinggi, pada Kecamatan Semarang
Utara dan Kecamatan Genuk kerawanan bencana tersebut perlu diperhatikan
secara seksama karena pada kecamatan- kecamatan ini banyak terdapat
pemusatan aktivitas penduduk yang utamanya sebagai kawasan pemukiman
(Miladan, 2009).
Berdasarkan data peta penggunaan lahan Kota Semarang , juga dapat
digunakan analisis overlay dengan peta sebaran rob juga bisa diketahui
prediksi peresentase penggunaan lahan yang akan terganggu dan hilang pada
tahun 2029. Dalam Miladan (2009), penulis secara menarik menggunakan
teknik overlay untuk mengetahui prediksi penggunaan lahan yang akan hilang
pada Tahun 2029 tersebut, maka dipastikan Kota Semarang maupun
masyarakat wilayah tersebut akan kehilangan aset-aset mereka jika tidak ada
strategi dalam mengatasi permasalahan tersebut. Dalam perkiraan tersebut,
lahan terluas yang akan hilang yakni kawasan industri seluas 893,24 Ha.
Penggunaan Lahan yang Akan Hilang Akibat Bencana Rob
pada Tahun 2029
No. Penggunaan Lahan Luas (ha)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12
13.
14.
15.
16.
17.
Bandara
Campuran (perdagangan, permukiman)
Industri
Instalasai pengolahan limbah
Konservasi
Penumpukan
Olahraga dan rekreasi
Pelabuhan laut
Pergudangan
Perkantoran
Permukiman
Pertanian lahan basah
PLTU
Pusat Pendaratan Ikan (PPI)
Jalan
Taman
Tambak
158.65
1,89
893,24
13,17
285,09
59,19
100,32
18,25
36,28
11,92
203,52
79,78
0,25
16,21
0,03
18,06
776,34

Total

2.672,21
Sumber: Miladan, 2009


Bakti (2010) juga melakukan prediksi mengenai dampak sebaran dan
kerusakan akibat bencana rob sapai dengan tahun 2030. Berdasarkan analisis
102
yang menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) didapatkan Apabila
Tahun 2000 luas wilayah genangan rob adalah sekitar ± 2.670 hektar dengan
volume air laut yang masuk mencapai sekitar 4.109.844 m
3
. Setelah terjadi
penurunan muka tanah selama 10 tahun, maka diperkirakan pada Tahun 2010
genangan Rob akan meluas hingga 3.438 hektar dengan volume genangan
sekitar 17.029.219 m
3
. Berdasarkan analisis diperkirakan pada Tahun 2030,
bila tanpa adanya usaha penanggulangan, maka rob akan merendam daratan
seluas 4.846 hektar dengan volume mencapai 59.110.917 m
3
.
Tabel 4.2
Prediksi Luasan dan Volume Genangan Rob di Kota Semarang
Tahun Luas (ha) Volume (m
3
)
2000
2010
2030
1.752
3.438
4.846
4.109.844
17.029.219
59.110.917
Sumber: Bakti, 2010

4.2 Analisis Kerentanan Masyarakat
Penilaian kerentanan masyarakat merujuk pada aspek-aspek
pembentuk kerentanan yang terdiri dari fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan.
Penilaian fisik lebih menitikberatkan pada penilaian kerentanan fisik buatan
yaitu kepadatan bangunan dan kondisi infrastruktur tergenang. Kemudian,
penilaian ekonomi yaitu pada tingkat kemiskinan dan kepemilikan lahan.
Penilaian aspek sosial dilakukan melalui indikator penduduk rentan dan
kepadatan penduduk. Selanjutnya, penilaian lingkungan dimaksudkan untuk
mengetahui kerentanan masyarakat dilihat dari indikator luasan hutan
mangrove dan kawasan fungsional di Kota Semarang.

4.2.1 Analisis Kerentanan Fisik
Analisis kerentanan fisik meliputi analisis mengenai kondisi fisik
terbangun di wilayah Kota Semarang yang dinilai rentan terhadap bencana rob.
103
Adapun beberapa indikator yang akan dianalisis dapat dijelaskan sebagai
berikut ini.
4.2.1.1 Kawasan Terbangun
Indikator pertama untuk menilai kerentanan fisik kawasan yaitu
persentase kawasan terbangun terutama di wilayah yang termasuk pesisir Kota
Semarang yang terletak di bagian utara. Pada analisis ini akan dilihat
berdasarkan data dari Bappeda dan BPS Kota Semarang. Berdasarkan data
dalam RDTRK Kota Semarang Tahun 2011 - 2031 dapat diketahui bahwa
jumlah bangunan yang tergenang adalah sebanyak 2.385 unit dan tersebut
tersebar di 5 kecamatan. Namun sebagian besar bangunan yang tergenang
tersebut berlokasi di Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Semarang
Barat. Berdasarkan data dari Bappeda Kota Semarang, sebagian besar
bangunan-bangunan tersebut dulunya relatif aman dari bencana rob. Dengan
kata lain bahwa kawasan tersebut sebagian besar adalah kawasan genangan
rob yang baru, artinya masih dalam jangka waktu 2 – 5 tahun terakhir.
TABEL 4.1
JUMLAH BANGUNAN YANG TERGENANG TAHUN 2009
Kecamatan Kelurahan Bangunan
Tergenang
Tugu Mangkang Kulon 157
Mangunharjo 240
Mangkang Wetan 373
Randu Garut 96
Karang Anyar 79
Tugu Rejo 77
Jerakah 10
Semarang Utara Tanjung Mas 1.038
Bandarharjo 50
Panggung Lor 28
Semarang Barat Tawangsari 123
Tambakharjo 49
Genuk Terboyo Kulon 13
Trimulyo 52
Gayamsari Tambakrejo 0
Sumber: Diolah dari Semarang dalam Angka 2009
104



Gambar 4.1
Grafik Jumlah Bangunan Tergenang Akibat Bencana Rob 2009
Sumber: Analisis Penyusun, 2012
Berdasarkan data yang didapat dari instansi terkait dapat diketahui
bahwa Kecamatan Semarang Utara merupakan kecamatan dengan jumlah
bangunan tergenang terbanyak. Kondisi geografis Kecamatan Semarang
Utara yang berbatasan langsung dengan laut. Kepadatan di Kecamatan
Semarang Utara relatif padat karena pada kecamatan ini merupakan kawasan
campuran pemukiman, industri, budaya, perdagangan maupun sarana
transportasi (pelabuhan). Pada kecamatan ini pula terdapat kelurahan yang
memiliki jumlah bangun tergenang terbanyak pula yakni Kelurahan Tanjung
Mas. Pada Kelurahan Tanjung Mas tersebut jumlah bangunan yang tergenang
terdapat 1.038 unit. Sedangkan kelurahan yang tidak memiliki kerentanan
bangunan berdasarkan data bangunan eksisting pada RDTRK Kota Semarang
Tahun 2011-2031 yakni terdapat di Kelurahan Terboyo Wetan dan Kelurahan
Tambakrejo. Pada Kelurahan Terboyo Wetan mayoritas merupakan kawasan
tambak. Sedangkan pada Kelurahan Tambakrejo, wilayah tergenang yang ada
1032
1116
172
65
0
0
200
400
600
800
1000
1200
Tugu Semarang
Utara
Semarang
Barat
Genuk Gayamsari
Kecamatan
Total Bangunan Tergenang
105
hanya sekitar 3,75 Ha dan keberadaannya saat ini diperuntukkan sebagai
lahan pertambakan/terbuka hijau.
Berdasarkan data diatas juga dapat diketahui persentase jumlah
bangunan yang tergenang dilihat dari total seluruh bangunan pada 5
kecamatan diatas. Dengan persentase terbesar yaitu di Kecamatan Tugu
dengan 22,60%. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.x di bawah.
Tabel 4.x
Anslisis Kerentanan Fisik Indikator Bangunan Tergenang
Kecamatan Jumlah Bangunan
Tergenang
Jumlah Total
Bangunan
Persentase (%)
Tugu 1.032 4.566 22,60
Semarang Utara 1.116 28.024 3,98
Semarang Barat 172 37.086 0,46
Genuk 65 13.845 0,47
Gayamsari 0 13.030 0,00
Sumber: Analisis Penyusun, 2012
Berdasarkan data yang didapat, dapat diketahui bahwa jumlah
bangunan yang tergenang semakin meningkat secara signifikan mulai dari
tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Pada tahun 2005, jumlah bangunan
yang tergenang hanya sekitar 1.006 bangunan dan tersebar di 5 kecamatan
dan pada 2009 bangunan yang tergenang menjadi 2.385 buah (Gambar 4.2).

Gambar 4.2
Jumlah Bangunan Tergenang di Kota Semarang 2005-2009

0
500
1000
1500
2000
2500
3000
2005 2006 2007 2008 2009
Bangunan Tergenang
106
Kondisi rumah sebenarnya dapat merepresentasikan karakter dan
kemampuan perekonomian penghuninya. Masyarakat yang mampu secara
finansial memiliki kondisi rumah yang lebih layak dibandingkan yang kurang
mampu. Namun kondisi bangunan juga seringkali berbanding lurus terbalik
dengan kepadatan bangunan kawasan. Semakin padat suatu kawasan, rata-
rata kondisi bangunan juga semakin buruk. Hal ini dikarenakan penduduk yang
mampu secara finansial akan memilih untuk menempati kawasan yang
“nyaman” artinya tidak terlalu padat dan lebih memiliki aksesibilitas yang lebih
baik. Kawasan yang terlalu padat juga memiliki kerentanan yang relatif tinggi,
terutama terkait bencana kebakaran yang sering terjadi karena hal-hal kecil,
seperti hubungan pendek arus listrik atau kompor meledak.
Ketinggian suatu rumah di wilayah pesisir Kota Semarang juga dapat
merepresentasikan kapasitas ekonomi rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh
kebutuhan rutin tiap minimal 5 tahun sekali untuk meninggikan rumah
dikarenakan bencana rob yang juga semakin sering dan semakin tinggi. Biaya
tanah urug saat ini adalah kurang lebih Rp. 135.000,- per colt (pick up). Minimal
1 rumah ukuran 6 m x 12 m membutuhkan 5 – 8 colt setiap 5 tahunnya
(Sariffuddin, 2009). Jika halaman dan jalan menuju rumah juga ditinggikan
paling sedikit ditambah 4 colt. Sehingga kebutuhan tanah urug setiap lima
tahun ada 12 colt atau seharga Rp. 1.620.000,-. Kebutuhan itu masih ditambah
semen untuk plester dan sebagainya sehingga menurut masyarakat
menghabiskan ± Rp. 5.000.000,- per lima tahun. Angka demikian termasuk
besar bagi masyarakat di pesisir Kota Semarang dikarenakan pendapatan
mereka yang rata-rata hanya sebagai buruh industri.
4.2.1.2 Kondisi Infrastruktur Dasar
Indikator kedua yaitu mengidentifikasi kondisi infrastruktur dasar di
daerah pesisir Kota Semarang yang rentan terhadap bencana rob. Infrastruktur
dasar yang dianalisis meliputi jalan, listrik, dan air bersih. Ketiga infrastruktur
dasar ini dipilih antara lain dikarenakan dianggap mewakili kebutuhan dasar
masyarakat, disamping itu terganggunya akses masyarakat terhadap jalan,
listrik, dan air bersih karena bencana rob akan mengganggu kesejahteraan
masyarakat secara umum.
107
Analisis infrastruktur dasar yang pertama adalah memperbandingkan
antara panjang jalan yang tergenang akibat bencana rob dengan panjang jalan
yang ada di wilayah tersebut yang dalam hal ini panjang jalan tiap kelurahan
yang ada. Jalan yang termasuk disini adalah jalan yang merupakan jalan
dengan perkerasan, tidak termasuk jalan lingkungan. Dengan perbandingan
tersebut nantinya dapat diketahui tingkat kerentanan prasarana jalan yang ada.

Tabel 4.2
Analisis Indikator Fisik Indikator Jalan
Kecamatan Kelurahan Panjang
Jalan (m)
Jalan
Tergenang (m)
%
Tugu Mangkang Kulon 29.636,70 1.493,77 5,04
Mangunharjo 25.376,24 4.307,37 16,97
Mangkang Wetan 30.938,84 3.718,48 12,02
Randu Garut 29.900,81 313,18 1,05
Karang Anyar 44.208,19 3.967,26 8,97
Tugu Rejo 34.895,31 385,40 1,10
Jerakah 20.211,16 4.691,58 23,21
Semarang
Utara
Tanjung Mas 114.734,81 40.540,66 35,33
Bandarharjo 57.258,88 16.952,85 29,61
Panggung Lor 79.853,77 4.890,79 6,12
Semarang
Barat
Tawangsari 117.488,06 15.305,43 13,03
Tambakharjo 45.432,84 2.360,58 5,20
Genuk Terboyo Kulon 20.161,72 3.589,20 17,80
Trimulyo 45.717,89 13.000,27 18,44
Gayamsari Tambakrejo 25.550,46 1.275,87 4,99
Sumber: Diolah dari Semarang dalam Angka 2009
Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa Kecamatan Semarang
Utara memiliki ruas jalan yang paling panjang terkena dampak bencana rob,
yaitu sepanjang 62.384,30 meter dari total panjang jalan 251.847,57 meter atau
sekitar 24,77%. Sebagian besar ruas jalan yang tergenang terletak di
Kelurahan Tanjung Mas yang merupakan jalan-jalan utama terutama untuk
kegiatan industri, perdagangan, dan distribusi barang ke pelabuhan yaitu
sepanjang 40.540,66 meter. Apabila dilihat dari persentase per kelurahan,
108
selain 2 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara yaitu Tanjung Mas dan
Bandarharjo, Kelurahan Tawangsari di Kecamatan Semarang Barat memberi
kontribusi terbesar terhadap panjang jalan tergenang secara keseluruhan.
Pada kelurahan-kelurahan ini lebih banyak tersedia akses prasarana jalan
karena pada kelurahan-kelurahan ini banyak terdapat lokasi industri,
pemukiman maupun fasilitas umum. Keberadaan lokasi dan aktivitas tersebut
tentunya membutuhkan kemudahan akses jalan.
Berdasarkan peta jaringan jalan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Semarang 2011 – 2031, kawasan utara Kota Semarang dilewati jalan
arteri primer patai utara jawa yang menghubungkan Kota Semarang dengan
kota-kota lain di Pulau Jawa, yaitu Kota Demak di bagian timur dan Kabupaten
Kendal di bagian barat. Arteri primer tersebut membelah Kota Semarang
melewati kecamatan-kecamatan yang memiliki kerentanan tinggi terhadap
bencana rob. Beberapa kali jalur tersebut tidak dapat dilalui dikarenakan rob,
terutama di Kecamatan Tugu dan Kecamatan Semarang Utara.


109

Analisis infrastruktur dasar yang kedua yaitu peresentase kerentanan
pengguna listrik PLN akibat bencana rob dengan didasarkan pada data dari
BPS Kota Semarang. Karena data untuk kerentanan pengguna listrik akibat
bencana rob tidak tersedia, penyusun mencoba membuat perhitungan
perkiraan dengan menggunakan data jumlah bangunan dan persentase
bangunan yang tergenang. Perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa
masing-masing bangunan memiliki jaringan listrik sendiri. Tentu pendekatan ini
memiliki kelemahan, namun penyusun mencoba meminimalisasikan
pendekatan di tingkat kecamatan, sehingga angka persentase diharapkan
dapat mendekati kenyataan di lapangan.
Tabel 4.x
Persentase Kerentanan Pengguna Listrik di Pesisir Kota Semarang
Kecamatan Pengguna Listrik
PLN
%
Bangunan
Tergenang
Pengguna
Listrik
Tergenang
Persentase
(%)
Tugu 3653 22,60 826 43,72
Semarang Utara 22.419 3,98 893 46,79
Semarang Barat 29.669 0,46 138 7,21
Genuk 11.076 0,47 52 2,73
Gayamsari 10.424 0,00 0 0,00
Sumber: Diolah dari Semarang dalam Angka 2009
Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa Kecamatan Semarang Utara
dan Kecamatan Semarang Barat merupakan pengguna sambungan listrik PLN
yang paling besar diantara kecamatan-kecamatan lainnya di wilayah pesisir
Kota Semarang. Namun dilihat dari persentase kerentanan terhadap bencana
rob secara total di Kota Semarang, Kecamatan Tugu memiliki persentase lebih
besar (43,72%) dibandingkan dengan Kecamatan Semarang Barat (7,21%).
Hal ini dikarenakan letak geografis Kecamatan Tugu yang hampir seluruhnya
terletak di bagian utara dan berbatasan langsung dengan laut.
110

Gambar 4.x
Analisis Jaringan Listrik Kota Semarang
Di sebelah utara Semarang juga terdapat pembangkit listrik tenaga gas
dan uap Tambak Lorok yang menopang suplai listrik di Jawa dan Bali. Sampai
sekarang, PLTUG Tambak Lorok relatif aman dari dampak bencana rob
dikarenakan letaknya yang relatif tinggi, namun dengan penurunan tanah dan
kenaikan air laut yang mengakibatkan semakin luasnya dampak rob, harus
diwaspadai kemungkinan PLTUG Tambak Lorok terendam rob. Pada sebelah
timur PLTUG Tambak Lorok, tepatnya di Kecamatan Genuk, membentang
Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang menyalurkan tenaga
listrik ke bagian lain Kota Semarang dan kota-kota lainnya. Di beberapa lokasi,
seperti misalnya Kelurahan Terboyo Kulon, saluran-saluran ini seringkali
terendam oleh rob, namun sampai sekarang belum ada kerugian yang
signifikan yang diakibatkan oleh rob, dikarenakan perawatan dilaksanakan rutin
oleh pihak PLN.
111
Analisis selanjutnya didasarkan pada kerentanan pada jaringan air
bersih PDAM yang ada pada wilayah tergenang berdasarkan data pada Tahun
2009. Analisis ini didasarkan bahwa jaringan PDAM akan memiliki kerentanan
terkait keberadaan air yang merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan
manusia. Berdasarkan survey di lapangan didapatkan bahwa wilayah pesisir
Kota Semarang merupakan wilayah yang rentan terhadap air bersih. Hal ini
seringkali terkait dengan keberadaan air tanah yang seringkali telah bercampur
dengan air laut karena terjadinya proses intrusi air laut ke lapisan tanah
sehingga tidak bisa lagi digunakan.
Kondisi seperti ini juga terjadi di Wilayah Pesisir Kota Semarang dimana
beberapa bagian kawasannya kondisi air tanahnya bercampur dengan air laut
(intrusi air laut/asin). Dengan adanya kondisi seperti ini tentunya penyediaan
jaringan air bersih yang dilayani oleh PDAM merupakan solusi untuk
mendapatkan akses air bersih di Wilayah Pesisir Kota Semarang. Berdasarkan
pada kondisi eksisting, diketahui bahwa masih banyak rumah tangga/penduduk
yang masih memanfaatkan air tanah sebagai sumber air bersih mereka. Hal ini
juga tentu saja memperparah kondisi instrusi air laut di wilayah pesisir tersebut.
Kondisi masyarakat yang masih menggunakan air tanah ini tentunya sangat
rentan terhadap kerawanan bencana kenaikan air laut dikarenakan penurunan
permukaan tanah. Jika wilayah tersebut tergenang tentunya akses terhadap
penggunaan air bersih yang berasal dari air tanah semakin rentan/terancam.
Hal ini berbeda jika banyak penduduk yang memanfaatkan jaringan perpipaan
PDAM tentu kerentanan itu dapat lebih rendah karena akses air bersih tersebut
masih dapat terpenuhi. Atas dasar tersebut maka penilaian kerentanan
jaringan PDAM ini dapat menjadi salah satu indikator kerentanan di Wilayah
Pesisir Kota Semarang.
Untuk mempermudah analisis kerentanan jaringan PDAM ini maka
digunakan analisis terhadap data pengguna jaringan PDAM di 5 kecamatan di
pesisir Kota Semarang. Pada penelitian ini pula, karena tidak ada data pasti
jumlah pengguna jaringan PDAM di wilayah tergenang maka perlu disusun
asumsi jumlah pengguna jaringan PDAM di wilayah tersebut. Asumsi ini
didasari pula karena wilayah tergenang tersebut, merupakan beberapa
kawasan dari kelurahan- kelurahan pesisir yang ada (tidak seluruh wilayah
112
administrasi masing-masing kelurahan tergenang). Pada proses analisis ini
karena lingkup data yang tersedia skala kecamatan maka perlu dilakukan
asumsi jumlah pengguna jaringan PDAM di wilayah tergenang melalui
perbandingan jumlah bangunan yang ada di wilayah rawan genangan tersebut
dengan jumlah bangunan di kecamatan masing-masing. Pendekatan ini dirasa
yang paling sesuai dalam penyusunan asumsi tersebut karena adanya
pemikiran bahwa tiap bangunan pasti membutuhkan air bersih untuk
kebutuhan sehari-hari penghuni/penduduknya. Atas dasar tersebut maka
jumlah pengguna jaringan PDAM di wilayah rawan genangan tersebut dapat
dihitung.
Tabel 4.x
Persentase Kerentanan Pengguna PDAM di Pesisir Kota Semarang
Kecamatan Pengguna
PDAM
Jumlah
KK
%
Bangunan
Tergenang
Jumlah
Pengguna PDAM
tergenang
Tugu 4.147 6.778 22,60 937
Semarang Utara 20.529 28.715 3,98 818
Semarang Barat 28.437 36.696 0,46 132
Genuk 14.133 19.619 0,47 66
Gayamsari 16.156 21.078 0,00 0
Sumber: Diolah dari Semarang dalam Angka 2009
Berdasarkan analisis diatas, dapat diketahui bahwa pengguna PDAM di
Kecamatan Tugu paling rentan terhadap bencana rob, dengan total genangan
sebanyak 937 pengguna air bersih PDAM terendam, sedangkan Kecamatan
Genuk dan Gayamsari masih relatif aman. Berdasarkan observasi di lapangan,
diketahui bahwa keengganan masyarakat menggunakan pasokan air bersih
dari PDAM dikarenakan aliran air PDAM yang tidak pasti (kadang hidup dan
lebih sering mati). Beberapa warga juga mengatakan bahwa lebih baik
menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari (mandi, cuci, kakus) dan
membeli untuk memasak dan air minum karena air PDAM tidak bisa diandalkan
oleh mereka.
4.2.2 Analisis Kerentanan Sosial
113
Analisis ini merupakan analisis terhadap kerentanan kondisi sosial
masyarakat terhadap bencana rob. Analisis ini dilakukan untuk memotret
kondisi sosial yang berpengaruh terhadap kerentanan masyarakat terhadap
bencana rob di Kota Semarang. Analisis ini didasarkan pada variabel-variabel
yang telah ditentukan dalam metodologi yakni variabel kepadatan
penduduk, ,jumlah penduduk rentan, dan organisasi kemasyarakatan dalam
penanggulangan bencana. Variabel kepadatan penduduk dipilih dikarenakan
kawasan yang memiliki kepadatan tinggi akan berbanding lurus dengan
kerentanan terhadap bencana. Bencana disini antara lain kebakaran maupun
penyakit akibat rob yang akan sangat cepat tersebar dikarenakan bangunan
yang sangat rapat antara satu dengan lainnya. Kemudian indikator penduduk
rentan, seperti wanita, balita, dan orang tua dikarenakan kelompok tersebut
relatif lebih rentan apabila terjadi bencana rob. Analisis-analisis tersebut untuk
lebih lengkapnya dijabarkan sebagaimana berikut.
4.2.2.1 Kepadatan Penduduk
Analisis ini merupakan analisis terhadap tingkat kepadatan penduduk
pada kawasan yang diprediksi akan tergenang akibat bencana rob di Wilayah
Pesisir Kota Semarang. Seperti halnya analisis sebelumnya, oleh karena data
kepadatan penduduk yang tersedia hanya dalam lingkup terkecil kecamatan,
maka kepadatan penduduk dalam analisis ini diasumsikan melalui
perbandingan antara jumlah bangunan yang ada di wilayah tergenang dengan
jumlah bangunan yang ada. Hasil persentase dari jumlah bangunan tersebut
kemudian dikalikan dengan jumlah penduduk kecamatan yang akan
menghasilkan jumlah penduduk di wilayah tergenang. Asumsi jumlah
penduduk tergenang tersebut kemudian dibagi dengan luas wilayah tergenang
pada masing-masing kecamatan. Berdasarkan dasar pemikiran tersebut maka
dapat dihasilkan tingkat kerentanan pada tiap-tiap kecamatan berdasarkan
kepadatan penduduk.

Tabel 4.x
Analisis Kerentanan Sosial Indikator Kepadatan Penduduk
114
Kecamatan
Bangunan
Tergenang
(%)
Jumlah
Penduduk
(jiwa)
Jumlah
penduduk
tergenang
(jiwa)
Area
Tergenang
(km
2
)
Kepadatan
area
tergenang
(jiwa/km
2
)
Tugu
22.60 27.598 6.238
18,92
329.69
Semarang Utara
3.98 127.359 5.072
19,52
259.83
Semarang Barat
0.46 160.117 743
14,81
50.14
Genuk
0.47 83.106 390
12,87
30.32
Gayamsari
0.00 73.878 0
2.,7
0.00

Berdasarkan penilaian kerentanan dalam Tabel 4.x diketahui bahwa
kerentanan kepadatan penduduk yang tergolong tinggi terletak di kawasan
tergenang yang berada di Kecamatan Tugu, meskipun secara umum jumlah
penduduk di kecamatan tersebut tidak terlalu besar.


Penyusun juga mencoba melakukan analisis kepadatan penduduk
dengan menggunakan Peta Kepadatan Penduduk dari Bappeda Kota
Semarang. Berdasarkan analisis peta tersebut dapat diketahui bahwa yang
termasuk kriteria kepadatan tinggi adalah Kecamatan Semarang Utara. Hal ini
terjadi karena jumlah penduduknya cukup besar namun wilayah
administratifnya tidak terlalu luas. Selain itu pula, kondisi yang mendukung
terjadi kerentanan tinggi ini karena kenyataan yang ada bahwa sebaran
115
bangunan di kecamatan ini cukup padat yang berimplikasi terhadap banyaknya
penduduk yang mendiami di kawasan tergenang pada kelurahan ini.
Kecamatan Semarang Utara memiliki sebaran bangunan yang cukup padat
karena terdapat permukiman Puri Anjasmoro dan kawasan perumahan elite di
sekitar Pantai Marina.
4.2.1.1 Kelompok Rentan
Kriteria penduduk rentan pertama yang akan dianalisis yaitu penduduk
usia tua. Termasuk dalam kriteria tua disini menggunakan standar dari Badan
Pusat Statistik (BPS) yaitu umur 65 tahun ke atas. Pada analisis ini secara
konsep analisis sama seperti halnya penentuan kerentanan pada kepadatan
penduduk. Dalam analisis ini diperbandingkan antara jumlah penduduk usia
tua dan penduduk yang ada di wilayah tergenang sehingga menghasilkan
persentase penduduk usia tua di wilayah tersebut. Adapun asumsi yang ada
bahwa semakin persentase penduduk usia tua tersebut tentunya
kerentanannya akan lebih tinggi. Pada analisis ini juga didasarkan pada lingkup
wilayah administratif kecamatan. Hal ini karena data yang tersedia dalam
proses analisis ini berupa data penduduk usia tua di level kecamatan. Adapun
untuk jumlah penduduk usia tua yang ada di wilayah tergenang juga dilakukan
asumsi berdasarkan persentase bangunan yang tergenang seperti halnya
analisis-analisis sebelumnya.
Tabel 4.x
Analisis Kerentanan Sosial Indikator Penduduk Rentan Usia Tua
Kecamatan
Bangunan
Tergenang
(%)
Jumlah
pdd usia
tua (jiwa)
Jumlah pdd usia
tua di daerah
tergenang (jiwa)
Jml pdd wil
tergenang
(jiwa)
Penduduk
usia tua di
wil
tergenang
(%)
Tugu
22.60% 1.556 352
6.238
5.64%
Semarang Utara
3.98% 9.091 362
5.072
7.14%
Semarang Barat
0.46% 10.645 49
743
6.65%
Genuk
0.47% 3.845 18
390
4.63%
Gayamsari
0.00% 4.263 0
0
0.00%

116
Berdasarkan analisis kerentanan kelompok rentan usia tua yang telah
dijabarkan pada Tabel 4.x diketahui bahwa kerentanan penduduk usia tua yang
ada di wilayah rawan genangan tersebut yang paling rentan adalah di wilayah
Kecamatan Semarang Utara. Pada hasil analisis kerentanan tersebut
kerentanan rata-rata masih di bawah 10% sehingga belum ada kerentanan
penduduk usia tua pada kategori kerentanan tinggi. Kondisi ini didasarkan
bahwa jumlah penduduk usia tua di wilayah tergenang per kecamatan tersebut
tidak terlalu tinggi.
Analisis indikator penduduk rentan berikutnya yaitu analisis kerentanan
kelompok rentan wanita. Pada saat bencana alam, kaum perempuan termasuk
kelompok yang paling rentan terhadap berbagai dampak negatif yang
ditimbulkannya. Sebagai contoh, kurangnya fasilitas kesehatan di tempat-
tempat pengungsian dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan
reproduksi perempuan. Bagi mereka yang sedang hamil dan menyusui, tinggal
di pengungsian dengan makanan dan sanitari yang tidak memadahi bisa
membahayakan kesehatan sang ibu dan anak. Berbagai kebutuhan yang
dibutuhkan perempuan seperti pembalut, baju dalam, pakaian untuk beribadah,
pil kontrasepsi, dan sebagainya juga sulit didapatkan, mengingat bantuan
untuk korban bencana biasanya terfokus pada makanan dan pakaian. Contoh
lain adalah terbatasnya alat-alat untuk memasak di tempat pengungsian
menyebabkan kaum perempuan harus menghabiskan banyak waktu untuk
memasak sehingga mengurangi mobilitas mereka untuk mendapatkan akses
pekerjaan dan rumah (employment and housing access). Di tambah lagi,
peran perempuan dan lelaki dalam kultur tradisional di masyarakat yang
seolah-olah mendikte bahwa perempuan harus menjadi penjaga utama
(primary caretakers) untuk para korban bencana; seperti anak-anak, orang-
orang yang terluka dan lansia, menambah beban perempuan semakin berat.
Konsep analisis ini sama seperti penentuan kerentanan pada penduduk
usia tua. Analisis ini memperbandingkan antara jumlah penduduk wanita dan
penduduk yang ada di wilayah tergenang sehingga menghasilkan persentase
penduduk wanita di wilayah tersebut.
Tabel 4.x
117
Analisis Kerentanan Sosial Indikator Penduduk Rentan Wanita
Kecamatan
Bangunan
Tergenang
(%)
Jumlah
penduduk
wanita
Jumlah wanita
di daerah
tergenang
Jml pdd wil
tergenang
Penduduk
wanita di
wil
tergenang
(%)
Tugu
22.60% 11118 2513
6238
40.29%
Semarang Utara
3.98% 52474 2090
5072
41.20%
Semarang Barat
0.46% 64494 299
743
40.28%
Genuk
0.47% 33195 156
390
39.94%
Gayamsari
0.00% 29616 0
0
0.00%

Berdasarkan pada analisis kerentanan yang telah dijabarkan pada Tabel
4.x diatas diketahui bahwa kerentanan penduduk wanita yang ada di wilayah
rawan genangan tersebut yakni rata-rata pada kategori kerentanan tinggi
karena berada diatas 25%. Kondisi ini yang ada bahwa jumlah penduduk
wanita di wilayah tergenang tiap kelurahan tersebut hampir seimbang dengan
jumlah penduduk pria. Adanya hal tersebut yang menjadikan dasar kerentanan
ini tinggi. Selain kerentanan tinggi terdapat pula satu kecamatan yang termasuk
dalam kategori kerentanan rendah. Hal ini karena pada kawasan tergenang
pada Kecamatan Gayamsari tersebut tidak terdapat komposisi penduduk
wanita yang diperkuat dengan data tidak ada bangunan pada kawasan
tergenang di wilayah kecamatan tersebut.
Analisis selanjutnya untuk mengetahui indikator kerentanan sosial
indikator penduduk rentan yaitu melalui analisis kelompok rentan balita.
Konsep analisis ini sama seperti penentuan kerentanan pada penduduk usia
tua dan wanita. Dalam hal ini yang diperbandingkan yakni antara jumlah
penduduk balita dan penduduk yang ada di wilayah tergenang sehingga
menghasilkan persentase penduduk balita di wilayah tersebut. Pada analisis
ini juga didasarkan pada lingkup wilayah administratif kecamatan. Hal ini
karena data yang tersedia dalam proses analisis ini berupa data penduduk
anak-anak pada level kecamatan. Dengan adanya berbagai pemikiran tersebut,
analisis yang dilakukan hampir sama dengan analisis kerentanan penduduk
usia tua dan wanita.
118
Tabel 4.x
Analisis Kerentanan Sosial Indikator Penduduk Rentan Balita
Kecamatan
Bangunan
Tergenang
(%)
Jumlah
penduduk
balita
Jumlah
balita di
daerah
tergenang
Jml pdd wil
tergenang
Penduduk
balita di wil
tergenang
(jiwa)
Tugu
22.60% 993 224
6238
3.60%
Semarang Utara
3.98% 4159 166
5072
3.27%
Semarang Barat
0.46% 6263 29
743
3.91%
Genuk
0.47% 2890 14
390
3.48%
Gayamsari
0.00% 2820 0
0
0.00%

Berdasarkan pada analisis kerentanan yang telah dijabarkan pada Tabel
diatas diketahui bahwa kerentanan penduduk usia balita yang ada di wilayah
rawan genangan tersebut yakni kerentanan rendah karena masih di bawah
10%. Kondisi ini tentunya didasarkan bahwa jumlah penduduk usia balita di
wilayah tergenang tiap kecamatan tersebut tidak banyak jika dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang ada.
4.2.3 Analisis Kerentanan Ekonomi
Analisis ini merupakan analisis terhadap kerentanan kondisi ekonomi
masyarakat akibat bencana rob. Analisis ini dilakukan terhadap kondisi
ekonomi masyarakat terutama di wilayah pesisir Kota Semarang yang
berpengaruh terhadap kerentanan masyarakat ketika terjadi bencana rob.
Analisis ini didasarkan pada indikator kerentanan ekonomi yang telah
ditentukan yaitu indikator tingkat kemiskinan dan status kepemilikan lahan.
Indikator tingkat kemiskinan ini dipilih karena kondisi kemiskinan penduduk
akan berpengaruh pada cara pandang masyarakat serta pola adaptasi dan
mitigasi dalam menyikapi bencana rob yang akan terjadi. Sedangkan status
kepemilikan lahan sangat berpengaruh terhadap kepemilikan aset oleh
penduduk yang akan terancam hilang akibat bencana tersebut. Adanya
keterancaman aset ini tentunya berpengaruh terhadap kondisi ekonomi
masyarakat.
Pada analisis tingkat kemiskinan ini seperti halnya analisis-analisis
sebelumnya juga didasarkan pada persentase bangunan yang ada di wilayah
119
tergenang. Hal ini karena tidak ada data pasti jumlah penduduk miskin di
wilayah tergenang, sehingga penentuan jumlah tersebut dilakukan
berdasarkan pada sebaran bangunan yang ada. Dari sebaran tersebut
kemudian dikomparasikan dengan jumlah penduduk miskin di kecamatan yang
ada. Adanya ketersediaan data tersebut, tentunya penentuan penilaian
kerentanan juga didasarkan pada persentase penduduk miskin dengan jumlah
penduduk yang ada di wilayah tergenang pada level kecamatan.




Tabel 4.x
Analisis Kerentanan Ekonomi Indikator Tingkat Kemiskinan
Kecamatan
Bangunan
Tergenang
(%)
Jumlah
pdd
Jumlah
pdd
tergenang
Jumlah
pdd
miskin
Jumlah
pdd miskin
tergenang
Pdd miskin
tergenang
(%)
Tugu
22,60 27.598 6.238
4.930
1.114 17,86
Semarang Utara
3,98 127.359 5.072 16.517 658 12,97
Semarang Barat
046 160.117 743 16.540 77 10,33
Genuk
0,47 83.106 390 9.610 45 11,56
Gayamsari
0,00 73.878 0 7.652 0 0,00

Atas hasil penilaian kerentanan di atas diketahui bahwa tingkat
kerentanan penduduk miskin di Wilayah Pesisir Kota Semarang pada tingkatan
kerentanan sedang dikarenakan masih di bawah 25%. Hal ini dikarenakan
persentase penduduk miskin di wilayah rawan genangan kenaikan air laut pada
Tahun 2009 tidak terlalu besar dibandingkan jumlah penduduk secara
keseluruhan pada wilayah tersebut. Kerentanan tertinggi di Kecamatan Tugu
dengan persentase penduduk miskin tergenang sebesar 17,86% kemudian
Semarang Utara dengan 12,97%. Kemiskinan dan kerentanan akibat bencana
rob di Kota Semarang ibarat lingkaran setan yang sulit untuk diputuskan.
Sebagaimana kita ketahui wilayah pesisir merupakan daerah kantong-kantong
kemiskinan yang sudah sejak dulu ada. Disatu sisi bencana rob mengakibatkan
120
hidup masyarakat miskin akan semakin menderita, namun di sisi lain,
masyarakat tidak memiliki pilihan lain dikarenakan keterbatasan finansial yang
mereka miliki.
Indikator kerentanan aspek ekonomi berikutnya yaitu indikator
kepemilikan lahan yang tergenang akibat bencana rob di Kota Semarang. Pada
analisis ini diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap kerentanan status
kepemilikan lahan baik milik masyarakat dan swasta maupun pemerintah.
Pada analisis ini diasumsikan jika kepemilikan lahan yang dimiliki oleh
masyarakat tergolong tinggi/banyak maka tingkat kerentanan kepemilikan
lahan tersebut akan tergolong tinggi.
Kondisi ini didasarkan bahwa semakin banyak aset yang dimiliki oleh
masyarakat maupun swasta pada wilayah tergenang maka kerugian yang akan
dirasakan akan lebih besar dan juga dampak sosial ekonomi akan lebih besar
dibandingkan jika status kepemilikan lahannya milik pemerintah. Hal ini
dikarenakan fokus penelitian ini adalah mengukur kerentanan masyarakat
akibat bencana rob. Adapun status lahan yang dimiliki oleh pemerintah pada
wilayah tergenang tersebut meliputi kawasan bandar udara, Kawasan Instalasi
Pengolahan Limbah Cair (WWTP), kawasan olahraga dan rekreasi, kawasan
pelabuhan laut, kawasan perkantoran, kawasan PLTU Tambak Lorok,
Kawasan Pendaratan Ikan (PPI) dan taman-taman kota. Sedangkan kawasan
selain yang tersebut di atas, kepemilikannya merupakan milik masyarakat dan
swasta. Analisis ini juga dilakukan berdasarkan status lahan di kawasan
tergenang yang dibatasi oleh lingkup administratif kecamatan. Pembatasan
lingkup administratif kecamatan tersebut didasarkan pada ketersediaan data
serta untuk mempermudah penilaian kerentanan yang dilakukan.
Tabel 4.x
Analisis Kerentanan Ekonomi Indikator Kepemilikan Lahan
Kecamatan
Lahan
Tergenang
(km
2
)
Lahan milik
Pemerintah
(km
2
)
Non
Pemerintah
(km
2
)
Persentase
(%)
Tugu 18.92
3.66 15.26 80.63
Semarang Utara 19.52
3.78 15.74 74.84
Semarang Barat 14.81
2.87 11.94 41.51
Genuk 12.87
2.49 10.38 75.94
121
Gayamsari 2.57
0.50 2.07 41.50

Berdasarkan analisis dan penilaian yang dilakukan diketahui bahwa
pada wilayah pesisir Kota Semarang rata-rata status kepemilikan lahannya
memiliki tingkat kerentanan tinggi. Hal ini dikarenakan memang banyaknya
lahan yang dimiliki oleh pihak masyarakat maupun swasta pada wilayah yang
tergenang tersebut. Sedangkan untuk lahan yang memiliki kerentanan di
bawah 50% hanya berada di Kecamatan Semarang Barat dan Gayamsari. Hal
ini dikarenakan lahan yang dimiliki pemerintah cukup luas disamping luasan
bencana rob yang relatif tidak sebesar daerah-daerah lain. Pada Kecamatan
Seamrang Barat terdapat areal Bandara Ahmad Yani yang cukup luas,
kemudian Kawasan Olahraga dan Rekreasi Marina yang juga cukup luas.
Sedangkan pada Kecamatan Gayamsari, karena kawasan yang tergenang
tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan kecamatan lain dan pada kawasan
tergenang tersebut hanya terdapat sedikit lahan industri, lahan konservasi dan
prasarana jalan sehingga aset lahan yang dimiliki pemerintah juga relatif cukup
cukup besar.
4.1.4 Analisis Kerentanan Lingkungan
Pada analisis ini merupakan penilaian kerentanan terhadap kondisi
lingkungan yang ada akibat adanya bencana rob di Wilayah Pesisir Kota
Semarang. Pada analisis ini didasarkan antara lain terhadap indikator kawasan
hutan mangrove. Dari analisis indikator tersebut diharapakan dapat mengukur
tingkat kerentanan lingkungan akibat bencana rob di Kota Semarang.
Analisis kawasan hutan mangrove didasarkan pada keberadaan hutan
mangrove yang ada di Wilayah Pesisir Kota Semarang sebagai salah satu
barrier atau penghalang masuknya air pasang ke daratan. Pada analisis ini,
kerusakan hutan mangrove di wilayah pesisir dinilai sebagai salah satu bentuk
kerentanan yang akan mengakibatkan bencana rob. Berdasarkan data yang
didapat dari Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir (RTRWP) Kota Semarang
Tahun 2009-2028 diketahui bahwa pada Wilayah Pesisir Kota Semarang
terdapat beberapa sebaran Kawasan Hutan Mangrove seperti ditampilkan
pada Tabel 4.X di bawah ini.
122

Tabel 4.x
Analisis Kerentanan Lingkungan Indikator Luasan Mangrove
Kecamatan Luasan Mangrove (ha)
Tugu
31.63
Semarang Utara
14.62
Semarang Barat
0
Genuk
30.2
Gayamsari
17.08
Total 93.53



Panjang garis pantai Semarang adalah 25 km. Tebal ideal mangrove
untuk perlindungan pesisir adalah 100 meter, sehingga luas total ideal
mangrove untuk pesisir Kota Semarang adalah 250 hektar. Pada saat ini Kota
Semarang hanya memiliki 37% dari total luas ideal konservasi mangrove.
Dengan persentase tersebut, kenaikan SLR sebesar 21 cm (CC-ROM IPB,
2010) menyebabkan 40% lahan tambak saat ini akan tergenang. dengan total
123
kerugian sekitar 7.2 Milyar pertahun. Dengan pediksi yang lebih ekstrim dimana
SLR akan meningkat sebesar 38 cm (DKP, 2008), maka 75% lahan tambak
saat ini akan tergenang dengan total kerugian mencapai 13,2 Milyar pertahun.
Luas mangrove di Kota Semarang menunjukkan trend yang terus menurun.
Dalam 50 tahun yang akan datang diestimasikan bahwa Kota Semarang hanya
memiliki 18% dari total luas ideal konservasi mangrove yang disarankan. Atau
dengan kata lain luas konservasi mangrove turun setengah dari saat ini. Pada
situasi ini, kenaikan SLR sebesar 21 cm menyebabkan 50% lahan tambak saat
ini akan tergenang dengan total kerugian sekitar 9 Milyar pertahun. Dengan
pediksi yang lebih ekstrim dimana SLR akan meningkat sebesar 38 cm, maka
90% lahan tambak yang ada saat ini akan tergenang dengan total kerugian
sebesar 16,3 Milyar pertahun (DKP, 2008).
Indikator kedua yaitu indikator kawasan fungsional Kota Semarang.
Berdasarkan data dari tata guna lahan dan rencana pola ruang Kota Semarang
didapatkan bahwa di wilayah pesisir Kota Semarang terdapat kawasan-
kawasan fungsional yang memiliki nilai strategis baik dari sisi ekonomi maupun
historis.

124
Disamping itu pada bagian utara Kota Semarang terdapat sejumlah
kawasan industri, terutama di Kecamatan Genuk dan Kecamatan Tugu.
Berdasarkan proyeksi kenaikan muka air laut, kawasan industri tersebut juga
akan tergenang. Jenis industri ini terdiri dari berbagai macam, mulai dari
industri rumah tangga, industri kecil, sampai industri besar. Jika kawasan
industri ini tergenang maka akan mengakibatkan beberapa dampak,
diantaranya (Setiadi dan Kunarso, 2009): (1) aktivitas produksi yang ada akan
terhambat; (2) kegiatan ekspor-impor akan terganggu; (3) kawasan pesisir
tidak menarik lagi menarik sebagai lokasi berinvestasi; (4) berkurangnya
permintaan tenaga kerja di sektor industri; dan (5) menurunnya PAD Kota
Semarang.

Berdasarkan analisis diatas dapat disusun Proses Perkembangan
Kerentanan (progression of vulnerability) masyarakat akibat bencana rob yang
dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.x
Proses Perkembangan Kerentanan Masyarakat akibat Bencana Rob
Di Kota Semarang

Aspek Unsafe Condition Dynamic Pressure Root Cause
Fisik Kepadatan bangunan
yang relatif padat di
daerah pesisir.

Peningkatan jumlah
bangunan yang cukup
signifikan sejak tahun
2005
Laju urbanisasi sebagai
buruh industri
Menurunnya daya
dukung tanah

Kurangnya sosialisasi
penataan ruang
kawasan
Kurangnya lapangan
kerja di daerah
penyangga Kota
Semarang

Terputusnya akses jalan
arteri primer yang
menghubungkan Kota
Semarang dengan
daerah lain.

Tidak optimalnya fungsi
Terminal Terboyo
sebagai terminal antar
kota antar provinsi.
Terhambatnya akses
distribusi barang.

Konstruksi jalan yang
kurang adaptif terhadap
bencana rob


Ancaman kerusakan
jaringan listrik kawasan.
Terendamnya instalasi-
instalasi utama untuk
menyalurkan listrik
Kurangnya perencanaan
jaringan listrik jangka
panjang dengan
mempertimbangkan
ancaman rob
125
Minimnya pasokan air
bersih dari PDAM.
Kerusakan jaringan pipa
PDAM karena terendam
rob.
Kurangnya perencanaan
jaringan air bersih PDAM
jangka panjang dengan
mempertimbangkan
ancaman rob

Sosial Kepadatan penduduk di
Kecamatan Semarang
Utara yang relatif besar.
Peruntukan lahan
kecamatan Semarang
Utara yang mayoritas
diperuntukkan sebagai
permukiman.
Perencanaan Tata
Ruang Wilayah Kota
Semarang yang tidak
mempertimbangkan
aspek rob dan
penurunan daya dukung
tanah.
Kerentanan penduduk
rentan wanita di wilayah
studi rata-rata 40%.
Komposisi penduduk
wanita yang hampir
sama dengan penduduk
pria
Kurangnya sosialisasi
penguatan peran wanita
Ekonomi Persentase penduduk
miskin tergenang
tertinggi di Kecamatan
Tugu (17,86%) dan
Kecamatan Semarang
Utara (12,97%).
Banyakya kantong-
kantong kemiskinan di
wilayah pesisir.
Kurangnya akses
masyarakat miskin
kepada sumberdaya
memperparah
kerentanan terhadap
bencana rob.
Kurangnya pemberian
akses terutama modal
kepada masyarakat
miskin
Tingginya kerentanan
ekonomi dengan
indikator kepemilikan
lahan.
Sebagaian besar
Kepemilikan lahan yang
tergenang di wilayah
studi merupakan milik
pribadi/swasta
Tidak adanya penataan
kawasan pesisir dengan
pengaturan kepemilikan
lahan.
Lingkungan Rusaknya hutan
mangrove di pesisir Kota
Semarang.
Proyek reklamasi pantai
di utara Kota Semarang.
Kurangnya perencanaan
untuk rehabilitasi
mangrove Semarang.










126








3.6 Penilaian Bahaya yang Berisiko Tinggi
Penilaian resiko didasari dengan dua penilaian ancaman yaitu dengan
menilai probabiltas yaitu kemungkinan terjadinya bencana dan dampak
kerugian atau kerusakan ditimbulkan. Hasil penilaian kemudian diplot ke dalam
matriks pemilihan risiko. Berdasarkan Buku Pedoman Penilaian Risiko yang
disusun oleh BNPB dan UNDP disusun indikator sebagai berikut:
TABEL 3.X
SKALA PROBABILITAS
Angka Level Kemungkinan Spesifikasi Kejadian
5 Sangat pasti Hampir dipastikan 100% terjadi tahun depan
4 Hampir pasti 10-100% terjadi tahun depan atau sekali dalam 10
tahun mendatang
3 Mungkin 1-10% terjadi tahun depan atau sekali dalam 100

tahun
2 Kemungkinan Kecil Kurang dari sekali dalam 100 tahun
1 Tidak Pasti Sama sekali tidak terjadi
Sumber: UNDP, 2007
TABEL 3.X
SKALA DAMPAK
127
Angka Level Kemungkinan Spesifikasi Kejadian
5 Sangat parah Hampir dipastikan 100% wilayah hancur dan lumpuh
total
4 Parah 50 – 75% wilayah hancur/ lumpuh
3 Cukup parah 10-50% wilayah hancur
2 Ringan Kurang 10% wilayah yang terkena
1 Tidak parah Sama sekali tidak parah
Sumber: UNDP, 2007

Dikarenakan fokus penelitian ini untuk merumuskan kerentanan
masyarakat terhadap bencana rob, oleh karena itu dalam melihat preferensi
masyarakat terhadap bencana dilakukan di wilayah pesisir yang terkena
dampak rob, yaitu Kecamatan Genuk, Kecamatan Gayamsari, Kecamatan
Semarang Timur, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Barat,
dan Kecamatan Tugu dengan hasilnya adalah sebagai berikut:
TABEL 3.X
PENILAIAN BAHAYA
Jenis Ancaman Bahaya P D
Banjir 5 4
Longsor 4 3
Kekeringan 2 2
Rob 5 2
Angin Putting Beliung 1 2
Sumber: Hasil Olahan Penulis, 2012

Perhitungan diatas menggunakan angka rata-rata dengan metode
pembulatan untuk mendapatkan angka skoring tanpa angka di belakang koma.
Setelah didapatkan angka untuk skala kemungkinan dan skala kerusakan
dapat diploting ke dalam matrik sekala tingkat bahaya untuk medapatkan
gambaran mengenai tingkat bahaya di Kota Semarang berdasarkan preferensi
masyarakat.
128













129




















130
131
132